SEBAB-SEBAB
PARA PEMIMPIN YANG DZALIM
Pemimpin
dzalim tidaklah datang dan ada dengan sendirinya, namun ada sebab-sebab yang
menyebabkan suatu kaum dipimpin pemimpin dzalim.
Dari Hudzaifah bin Al-Yaman
radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَكُونُ
بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى
وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ
إِنْسٍ. قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ
قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ
فَاسْمَعْ وَأَطِعْ.
“Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang
tidak menggunakan petunjuk dengan petunjukku dan tidak pula melaksanakan
sunnahku, Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya
adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia.“ (HR. Muslim 1847,
al-Baihaqi Sunan Kubra 16617).
Diantara
sebab tersebut yaitu:
1. Banyaknya kedzaliman yang terjadi pada masyarakat.
وَكَذَٰلِكَ
نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ.
"Dan
demikianlah Kami jadikan sebagian orang zalim itu menjadi pemimpin bagi
sebagian yang lain disebabkan apa yang telah mereka usahakan." (QS.
Al-An‘am [6]: 129).
Qatadah
berkata:
وَإِنَّمَا
يُوَلِّي اللَّهُ النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ.
"Sesungguhnya
Allah memberikan kekuasaan kepada manusia sesuai dengan amal perbuatan
mereka." (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-An’am[6]:129).
Lihatlah
bagaimana kerusakan yang terjadi pada masyarakat, baik dari kalangan
orang-orang alimnya sampai awamnya.
2. Dipimpin seorang wanita.
Allah
ta’ala berfirman:
الرِّجَالُ
قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ.
Kaum
laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah
melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita).
(QS. An-Nisa’[4]:34).
Abu
Bakrah berkata:
لَمَّا
بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ،
قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى، قَالَ: لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا
أَمْرَهُمُ امْرَأَةً .
“Tatkala
ada berita sampai kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bahwa bangsa Persia
mengangkat putri Kisro (gelar raja Persia dahulu) menjadi raja, beliau
shallallahu ’alaihi wa sallam lantas bersabda, ” Suatu kaum itu tidak akan
bahagia apabila mereka menyerahkan kepemimpinan mereka kepada wanita”. ” (HR.
Bukhari 4425)
Dari
hadits ini, para ulama bersepakat bahwa syarat al imam al a’zham (kepala negara
atau presiden) haruslah laki-laki. (Lihat Adhwa’ul Bayan, 3/34, Asy Syamilah)
Al
Baghawiy mengatakan: “Para ulama sepakat bahwa wanita tidak boleh jadi pemimpin
dan juga hakim. Alasannya, karena pemimpin harus memimpin jihad. Begitu juga
seorang pemimpin negara haruslah menyelesaikan urusan kaum muslimin.” (Bab
”Terlarangnya Wanita Sebagai Pemimpin”Syarhus Sunnah [10/77]).
3. Mengurangi takaran dan timbangan.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallambersabda,
وَ
مَا لَمْ يُطَفِّفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِجَوْرِ
السُّلْطَانِ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَالسِّنِينَ.
Tidaklah
orang-orang mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa
dengan kezhaliman penguasa, kehidupan yang susah, dan paceklik. (HR. Ibnu
Majah 4019, di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 309).
4. Tidak
berhukum dengan hukum Allah dan Rasul-Nya.
Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallambersabda:
وَمَا
لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ
اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيْدٌ.
"Dan
tidaklah para pemimpin mereka berhukum dengan Kitab Allah, serta mereka
memilih-milih (hanya mengambil sebagian) dari apa yang telah Allah turunkan,
melainkan Allah akan menjadikan permusuhan, pertikaian, dan kekuatan (untuk
saling menghancurkan) di antara mereka sendiri." (HR. Ibnu Majah 4019, di
shahihkan Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 309).
Solusinya
yaitu:
1. Memperbaiki
diri dan keluarga kita.
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ
اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
"Sesungguhnya Allah tidak akan
mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri
mereka." (QS. Ar-Ra'd: 11)
2. Mempelajari
ilmu dan Mengajarkan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
إِذَا تَبَايَعْتُم بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُم أَذْنَابَ
الْبَقَرِ وَرَضِيتُم بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُم الْجِهَادَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى
دِينِكُمْ.
"Jika
kalian berjual beli dengan ‘inah (riba terselubung), kalian pegang ekor sapi
(sibuk bertani), kalian ridha dengan pertanian (meninggalkan jihad), dan kalian
tinggalkan jihad di jalan Allah, maka Allah timpakan kehinaan kepada kalian,
tidak akan dicabut sampai kalian kembali kepada agama kalian."(HR. Abu
Dawud 3462, Baihaqi 10703, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah
11).
3. Amal ma’ruf nahi mungkar.
Allah ta’ala berfirman:
وَلْتَكُنْ
مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ
وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ.
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang
menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang
munkar merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran[3]:104).
كُنْتُمْ
خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ
عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ.
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan
untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari
yang munkar..”(QS. Ali Imran[3]:110).
4. menasehati pemimpin dengan cara yang benar.
Cara menasihati penguasa tidak sama
dengan umumnya masyarakat.
Dari Abu Ruqayyah Tamim Ad-Dari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
الدِّينُ النَّصيحةُ، الدِّينُ النَّصيحةُ، الدِّينُ النَّصيحةُ،
قُلنا: لمَن يا رسول الله؟ قال: للهِ ولكتابِهِ ولرسولِهِ، ولأئمَّةِ المسلمينَ
وعامَّتِهم.
“Agama itu adalah nasihat.
Agama itu adalah nasihat. Agama itu adalah nasihat.” Kata Tamim, “Kami
bertanya, ‘Nasihat untuk siapa, wahai Rasulullah’? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
‘Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin kaum
muslimin, dan kaum muslimin secara umum’.” (HR. Muslim)
Dan lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam telah mengajarkan kepada kita tentang cara mengingkari kemungkaran
penguasa. Beliau sampaikan pada sabda beliau berikut,
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ، فَلَا يُبْدِ لَهُ
عَلَانِيَةً، وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ، فَيَخْلُوَ بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ
مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ
“Barang siapa yang ingin
menasihati para penguasa dengan suatu urusan, maka jangan dengan
terang-terangan. Akan tetapi, pegang tangannya, berduaanlah. Apabila nasihatnya
diterima, maka itulah yang diharapkan. Apabila tidak diterima, maka anda telah
menyampaikan haknya.” (HR. Ahmad no. 15369, disahihkan oleh
Al-Albani di kitab Fi Dzilalil Jannah no. 1096)
5. Bersabar dan taubat
Hal ini karena hakekatnya ini adalah
musibah, dan musibah hendaknya disikapi dengan sabar dan taubat kepada Allah.
Demikianlah
semoga bermanfaat.
-----000-----
Sragen 10-07-2026.
Junaedi
Abdullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar