Sabtu, 21 Juni 2025

SEBAB-SEBAB ADANYA PEMIMPIN YANG DZALIM.

 



SEBAB-SEBAB PARA PEMIMPIN YANG DZALIM

 

Pemimpin dzalim tidaklah datang dan ada dengan sendirinya, namun ada sebab-sebab yang menyebabkan suatu kaum dipimpin pemimpin dzalim.

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ. قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ.

“Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak menggunakan petunjuk dengan petunjukku dan tidak pula melaksanakan sunnahku, Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia.“ (HR. Muslim 1847, al-Baihaqi Sunan Kubra 16617).

Diantara sebab tersebut yaitu:

1.  Banyaknya kedzaliman yang terjadi pada masyarakat.

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ.

"Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang zalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang telah mereka usahakan." (QS. Al-An‘am [6]: 129).

Qatadah berkata:

وَإِنَّمَا يُوَلِّي اللَّهُ النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ.

"Sesungguhnya Allah memberikan kekuasaan kepada manusia sesuai dengan amal perbuatan mereka." (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-An’am[6]:129).

Lihatlah bagaimana kerusakan yang terjadi pada masyarakat, baik dari kalangan orang-orang alimnya sampai awamnya.

2.  Dipimpin seorang wanita.

Allah ta’ala berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita). (QS. An-Nisa’[4]:34).

Abu Bakrah berkata:

لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ، قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى، قَالَ: لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً .

“Tatkala ada berita sampai kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bahwa bangsa Persia mengangkat putri Kisro (gelar raja Persia dahulu) menjadi raja, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam lantas bersabda, ” Suatu kaum itu tidak akan bahagia apabila mereka menyerahkan kepemimpinan mereka kepada wanita”. ” (HR. Bukhari 4425)

Dari hadits ini, para ulama bersepakat bahwa syarat al imam al a’zham (kepala negara atau presiden) haruslah laki-laki. (Lihat Adhwa’ul Bayan, 3/34, Asy Syamilah)

Al Baghawiy mengatakan: “Para ulama sepakat bahwa wanita tidak boleh jadi pemimpin dan juga hakim. Alasannya, karena pemimpin harus memimpin jihad. Begitu juga seorang pemimpin negara haruslah menyelesaikan urusan kaum muslimin.” (Bab ”Terlarangnya Wanita Sebagai Pemimpin”Syarhus Sunnah [10/77]).

3.  Mengurangi takaran dan timbangan.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallambersabda,

وَ مَا لَمْ يُطَفِّفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِجَوْرِ السُّلْطَانِ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَالسِّنِينَ.

Tidaklah orang-orang mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan kezhaliman penguasa,  kehidupan yang susah, dan paceklik. (HR. Ibnu Majah 4019, di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 309).

 

4.  Tidak berhukum  dengan hukum Allah dan Rasul-Nya.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallambersabda:

 وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيْدٌ.

"Dan tidaklah para pemimpin mereka berhukum dengan Kitab Allah, serta mereka memilih-milih (hanya mengambil sebagian) dari apa yang telah Allah turunkan, melainkan Allah akan menjadikan permusuhan, pertikaian, dan kekuatan (untuk saling menghancurkan) di antara mereka sendiri." (HR. Ibnu Majah 4019, di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 309).

 

 

 

Solusinya yaitu:

1.  Memperbaiki diri dan keluarga kita.

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka." (QS. Ar-Ra'd: 11)

2.  Mempelajari ilmu dan Mengajarkan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا تَبَايَعْتُم بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُم أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُم بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُم الْجِهَادَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ.

"Jika kalian berjual beli dengan ‘inah (riba terselubung), kalian pegang ekor sapi (sibuk bertani), kalian ridha dengan pertanian (meninggalkan jihad), dan kalian tinggalkan jihad di jalan Allah, maka Allah timpakan kehinaan kepada kalian, tidak akan dicabut sampai kalian kembali kepada agama kalian."(HR. Abu Dawud 3462, Baihaqi 10703, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 11).

3.  Amal ma’ruf nahi mungkar.

Allah ta’ala berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran[3]:104).

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ.

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar..”(QS. Ali Imran[3]:110).

4. menasehati pemimpin dengan cara yang benar.

Cara menasihati penguasa tidak sama dengan umumnya masyarakat.

Dari Abu Ruqayyah Tamim Ad-Dari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الدِّينُ النَّصيحةُ، الدِّينُ النَّصيحةُ، الدِّينُ النَّصيحةُ، قُلنا: لمَن يا رسول الله؟ قال: للهِ ولكتابِهِ ولرسولِهِ، ولأئمَّةِ المسلمينَ وعامَّتِهم.

Agama itu adalah nasihat. Agama itu adalah nasihat. Agama itu adalah nasihat.” Kata Tamim, “Kami bertanya, ‘Nasihat untuk siapa, wahai Rasulullah’? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin kaum muslimin, dan kaum muslimin secara umum’. (HR. Muslim)

 

Dan lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita tentang cara mengingkari kemungkaran penguasa. Beliau sampaikan pada sabda beliau berikut,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ، فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً، وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ، فَيَخْلُوَ بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ

Barang siapa yang ingin menasihati para penguasa dengan suatu urusan, maka jangan dengan terang-terangan. Akan tetapi, pegang tangannya, berduaanlah. Apabila nasihatnya diterima, maka itulah yang diharapkan. Apabila tidak diterima, maka anda telah menyampaikan haknya. (HR. Ahmad no. 15369, disahihkan oleh Al-Albani di kitab Fi Dzilalil Jannah no. 1096)

5. Bersabar dan taubat

Hal ini karena hakekatnya ini adalah musibah, dan musibah hendaknya disikapi dengan sabar dan taubat kepada Allah.

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

 

-----000-----

 

Sragen 10-07-2026.

Junaedi Abdullah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MUJMAL USUL BAB1 No. 11. BERSIKAP PERTENGAHAN DALAM MEMBANTAH

  MUJMAL USUL BAB1 No. 11. BERSIKAP PERTENGAHAN DALAM MEMBANTAH   - يَجِبُ الِالْتِزَامُ بِمَنْهَجِ الْوَحْيِ فِي الرَّدِّ كَمَا يَجِ...