Sabtu, 27 Desember 2025

HADITS KE 19 JAGALAH ALLAH.

 


HADITS KE 19

WASIAT RASULULLAH KEPADA IBNU ABBAS

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ يَوْمًا فَقَالَ : يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ : احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظِ اللَّهُ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ, وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ, رُفِعَتِ الْأَفْلَامُ وَحُقَّتِ الصُّحُفُ.

وَفِي رِوَايَةٍ غَيْرَ التِرْمِذِيُّ : احْفَظِ اللَّهَ تَحِدُهُ أَمَامَكَ, تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ فِي الرِّجَاءِ يَعْرِفُكَ فِي الشِّدَّةِ, وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَلَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ, وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ, وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ, وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا.

Dari Abdullah bin Abbas, ia berkata, "Suatu hari saya dibonceng di belakang Nabi, maka beliau bersabda, "Wahai bocah, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara. Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya Dia akan selalu berada di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah hanya kepada Allah. Jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan hanya kepada Allah. Ketahuilah jika suatu umat berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikit pun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali jika hal itu telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering." (HR. Tirmidzi dan beliau berkata, "Hadits ini hasan shahih" (HR. Tirmidzi 2516, Ahmad 1:293).

Dalam riwayat selain Tirmidzi disebutkan, "Jagalah Allah, pasti kamu mendapati-Nya di hadapanmu. Ingatlah Allah di waktu lapang (senang), niscaya Allah akan mengingatmu di waktu sempit (susah). Ketahuilah bahwa apa yang semestinya tidak menimpa kamu, maka hal itu tidak akan menimpamu, dan apa yang semestinya menimpamu tidak akan terhindar darimu. Ketahuilah, sesungguhnya kemenangan mengiringi kesabaran, dan jalan keluar itu bersama dengan kesulitan itu sendiri, dan kemudahan menyertai kesulitan yang ada.

Hadits ini mengandung wasiat agung dan kaidah umum untuk per-kara yang paling penting dalam agama. Sehingga, ada ulama berkata, "Aku merenungi hadits ini, aku sangat tercengang, hampir saja aku pingsan. Sungguh malang sekali orang yang tidak mengetahui dan memahami hadits ini."

Bagaimana Cara Hamba Menjaga Allah?

Sabda beliau, "Jagalah Allah..." maksudnya jagalah batasan-batasan Allah dengan melakukan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Maksud penjagaan itu dengan tetap senantiasa mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Adapun menjaga batas-batas Allah yaitu tidak melewati dan menabraknya, atau tidak melebihi batas-batas yang diizinkan. Siapa yang melakukan hal tersebut, maka ia termasuk orang yang menjaga batas-batas yang ditetapkan Allah yang Allah puji dalam kitab-Nya.

Allah ta'ala berfirman:

هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٌ مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبِ.

"Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-pera-turan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat." (Qaf [50]: 32-33).

Kata hafizh pada ayat di atas ditafsirkan dengan orang yang menjaga perintah-perintah Allah dan menjaga diri dari dosa-dosa dengan cara bertaubat.

1)   Menjaga Shalat.

Perintah Allah yang paling utama untuk dijaga adalah perkara shalat, Allah telah memerintahkan untuk menjaganya.

Allah ta'ala berfirman:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَوةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَنِتِينَ .

"Peliharalah segala shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk." (QS. Al-Baqarah [2] : 238)

Allah juga memuji mereka yang menjaganya. Dia berfirman:

وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ.

"Dan orang-orang yang memelihara shalatnya." (QS. Al-Ma'arij [70]:34).

Tentang hal ini pula Nabi bersabda, "Barangsiapa yang menjaganya (shalat), maka baginya ada janji di sisi Allah untuk memasukkan dirinya ke dalam jannah (surga).(HR. Ahmad, V: 315, 317; Abu Dawud, no. 1420; Nasa'i, 1: 230).

2)   Menjaga Kesucian Wudhu’.

Begitu pula thaharah (bersuci), sebab ia merupakan kunci shalat itu sendiri. Nabi bersabda:

لَا يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوْءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ.

"Tidak ada yang senantiasa menjaga wudhu kecuali mukmin." (HR. Ahmad, V: 276, 280, 282: Ibnu Majah, no. 277).

3)   Menjaga Sumpah.

Perkara lain yang harus dijaga adalah sumpah.

Allah Ta'ala berfirman:

وَاحْفَظُوا أَيْمَنَكُمْ.

"...Maka jagalah sumpah kalian..." (Al-Ma'idah [5]: 89)

Hal ini disebabkan sumpah sering terjadi pada manusia, dan kebanyakan mereka sering meremehkannya, mereka tidak menjaga dan menepatinya.

Termasuk pula dalam hal ini, menjaga kepala dan perut, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud secara marfu':

الاسْتِحْيَاءُ مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى.

 

"Malu kepada Allah dengan sebenarnya adalah engkau menjaga kepala berikut kandungan pemahamannya, dan perut beserta isinya. " (HR. Ahmad di dalan Musnadnya, 1:387: Tirmidzi, no. 2458).

4)   Menjaga Lisan dan Kemaluan.

Larangan-larangan Allah yang paling utama untuk dijaga adalah lisan dan kemaluan. Dalam hadits Abu Hurairah disebutkan, dari Nabi bahwa beliau bersabda:

مَنْ حَفِظَ مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ.

"Barangsiapa yang menjaga sesuatu di antara kedua tulang rahangnya (lisan) dan kedua kakinya (kemaluan), maka ia masuk jannah (surga). ( HR, Hakim di dalam Al-Mustadrak, IV: 357).

Allah memerintahkan untuk menjaga kemaluan dan memuji orang-orang yang menjaganya.

Allah ta'ala berfirman:

قُل لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ.

"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya'; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS. An-Nur [24]: 30).

Allah juga berfirman:

وَالْحَفِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ..

"...Laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya..." (QS. Al-

Ahzab [33]: 35).

Penjagaan Allah terhadap Hamba-Nya

Sabda beliau, "Niscaya Allah akan menjagamu." Maknanya, barangsiapa yang menjaga batasan-batasan Allah, menunaikan hak-hak-Nya, maka Allah akan menjaganya. Sebab, balasan itu sesuai dengan jenis amal.

Penjagaan Allah kepada hamba-Nya ada dua macam, yaitu:

Pertama, penjagaan Allah kepadanya dalam hal kemaslahatan dunianya, seperti penjagaan terhadap tubuh, anak, keluarga dan hartanya. Siapa yang menjaga Allah di waktu muda dan kuatnya, maka Allah akan menjaganya di waktu tua dan melemah kekuatannya, dan Allah akan me-nguatkan pendengaran, penglihatan, kekuatan, dan akalnya.

Terkadang Allah menjaga keturunan hamba-Nya lantaran keshalihannya setelah kematiannya. Sebagaimana firman-Nya,

وَكَانَ اَبُوْهُمَا صَالِحًا.

"...Sedang ayahnya adalah seorang yang shalih..." (QS. Al-Kahfi [18]: 82); kedua anak itu dijaga lantaran keshalihan ayahnya.

Sa'id bin Al-Musayyib berkata kepada anaknya, "Aku akan menambah shalatku untukmu, agar dengannya Allah menjagamu, kemudian ia mem-baca ayat ini."

Jika seorang hamba sibuk dengan ketaatan kepada Allah, niscaya Allah akan menjaganya ketika itu pula.

Sebagian salaf berkata, "Barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menjaga dirinya, dan barangsiapa tidak bertakwa maka Dia akan menelantarkannya, dan Allah tidak butuh padanya."

Di antara keajaiban penjagaan Allah atas orang yang menjaga-Nya adalah Allah menjadikan hewan-hewan yang biasa mengganggu ikut menjaga dirinya dari gangguan. Ini sebagaimana yang terjadi pada Safinah, mantan pembantu Nabi. Saat kendaraannya patah dan ia terdampar di sebuah pulau, kemudian ia melihat singa. Lalu sahabat tersebut berjalan bersama singa itu hingga menemukan jalan. Tatkala sudah sampai tujuan, singa tersebut meraung-raung layaknya mengucapkan kalimat perpisahan, dan kembali ke tempat semula.

Kebalikan dari ini adalah barangsiapa yang tidak menjaga Allah, maka Allah pun akan menelantarkannya, dan siapa pun yang paling ia harapkan manfaatnya pun akan mengganggu dan mencelakakannya, termasuk ke-luarga sendiri.

 

Seorang salaf mengatakan, "Sungguh aku telah berbuat maksiat ke-pada Allah, aku bisa mengetahui ini dari kelakuan pembantu dan hewan tungganganku."

 

Kedua, penjagaan Allah kepada hamba-Nya terhadap agama dan imannya. Ini merupakan penjagaan yang paling utama di antara dua ma-cam penjagaan ini.

 

Allah akan menjaga dalam kehidupannya dari perkara syubhat yang menyesatkan, dan dari syahwat yang haram, Allah juga akan menjaga aga-manya di saat hendak meninggal, sehingga Allah mewafatkannya di atas keimanan.

Allah hanya akan menjaga orang mukmin yang menjaga batasan-batasan-Nya, dan akan memagari antara dirinya dengan perkara yang dapat merusak agamanya dengan segala penjagaan, terkadang seorang hamba dapat merasakan penjagaan itu meskipun terkadang ia membenci hal itu.

Tentang firman Allah:

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ.

"...Ketahuilah sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya..." (QS. Al-Anfal [8]: 24)

Ibnu Abbas berkata, "Allah memagari antara orang mukmin dan ke-maksiatan yang dapat menjerumuskannya ke dalam neraka."

Cara Mendapatkan Ma'iyatullah (Kebersamaan Allah)

Sabda beliau, "Jagalah Allah, pasti kamu mendapati-Nya di hadapanmu". Maknanya, barangsiapa yang menjaga batasan-batasan Allah, menunaikan hak-hak-Nya, niscaya ia akan mendapati Allah bersama dengannya di setiap keadaannya, di mana pun berada Dia menjaganya dan menolongnya, membimbingnya dan meluruskannya.

Allah ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم تُحْسِنُونَ .

"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. An-Nahl [16]: 128).

Sedang ma'iyah (kebersamaan) yang khusus adalah sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah kepada Nabi Musa dan Harun, Allah Ta'ala berfirman:

قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى .

"Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat." (QS. Thaha [20]:46)

Begitu pula perkataan Nabi Musa:

قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ

"Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku." (QS. Asy-Syu'ara' [26]: 62).

Begitupula perkataan Nabi kepada Abu Bakar tatkala keduanya di dalam gua Tsaur, "Bagaimana menurutmu jika ada dua orang, maka Allah yang ketiganya? Janganlah bersedih sesungguhnya Allah bersama kita. "(HR. Bukhari, no. 3653; Muslim, VII: 108).

Realisasi Pengetahuan Hamba terhadap Rabbnya

Sabda beliau, "...Ingatlah Allah di waktu lapang (senang), niscaya Allah akan mengingatmu di waktu sempit (susah)." Maknanya sesungguhnya jika seorang hamba bertakwa kepada Allah, menjaga batasan-batasan-Nya dan

menunaikan hak-hak-Nya di waktu lapang, maka ia telah mengingat Allah. Jadi antara dirinya dengan Allah terdapat pengetahuan yang khusus, Allah akan mengingatnya di waktu susah, Allah akan menjaganya karena sikap ingatnya kepada Allah di waktu lapang, sehingga Allah menyelamatkannya di waktu susah ini lantaran pengetahuannya kepada Allah.

Pengetahuan secara khusus ini sebagai sebab kedekatan hamba kepada Rabbnya, kecintaan kepada-Nya, dan pengabulan doanya.

Barangsiapa yang bertakwa dan melakukan ketaatan untuk Allah di waktu lapangnya, maka Allah akan memperlakukannya dengan lemah lembut, dan menolongnya di waktu susahnya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata Rasulullah bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَحِيْبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالْكَرْبِ فَلْيُكْثِرِ الدُّعَاءَ فِي الرَّحَاءِ.

"Barangsiapa yang senang Allah mengabulkan doanya ketika dalam keadaan sempit dan kesusahan, hendaknya ia banyak berdoa ketika dalam keadaan lapang, " (HR. Tirmidzi, no. 3382).

Adh-Dhahak bin Qais berkata, "Ingatlah Allah di waktu luang, niscaya Dia (Allah) akan mengingat kalian di waktu susah. Dan, Nabi Yunus mengingat Allah ta'ala tatkala ia masuk ke dalam perut ikan hiu.

Allah ta'ala berfirman:

فَلَوْلَآ اَنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِيْنَ ۙ لَلَبِثَ فِيْ بَطْنِهٖٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَۚ

"Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampal hari berbangkit" (Ash-Shaffat [37]: 143-144).

Sedangkan Fir'aun adalah orang yang membangkang, lalai dari mengingat Allah. Tatkala ia tenggelam, ia berkata, "Aku beriman kepada Allah", maka tentang dirinya Allah ta'ala berfirman:

اٰۤلْـٰٔنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ.

"Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Yunus [10]: 91)

Persiapan Untuk Hari Akhir

Musibah terberat yang dihadapi seorang hamba di dunia adalah kematian, adapun setelahnya, maka akan lebih berat jika hamba tidak kembali kepada tempat yang baik. Maka wajib bagi seorang mukmin untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian dan perkara setelahnya di waktu sehat dengan ketakwaan dan amal-amal shalih.

Allah ta'ala berfirman:

يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ...

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hen-daklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)..." (QS. Al-Hasyr [59]:18)

Barangsiapa yang mengingat Allah di waktu sehat dan luangnya, dan ketika ia bersiap-siap untuk menemui Allah dengan kematian dan perkara setelahnya, maka Allah akan mengingatnya di waktu genting ini. Dia (Allah) akan bersamanya waktu itu, menjaganya, membantunya, mengurusnya, dan meneguhkannya di atas ketauhidan hingga ia menemui Allah dalam keadaan yang diridhai.

Namun barangsiapa yang lalai kepada Allah di waktu sehat dan luangnya, dan tidak bersiap-siap untuk menemui-Nya, maka Allah akan melupakannya di waktu genting ini, dalam arti Allah berpaling darinya dan menelantarkannya.

Jika kematian mendatangi seorang mukmin yang telah mempersiapkan dirinya, dan la berbaik sangka terhadap Rabbnya, maka ia akan mendapatkan kabar gembira dari Allah, ia senang dengan pertemuan dengan Allah dan Allah pun senang dengan pertemuannya, sedangkan orang fajir kebalikan dari ini semua.

Adam bin Abi lyas mengkhatamkan Al-Quran saat maut hendak menjemputnya, kemudian dia berkata, "Dengan kecintaanku pada-Mu, perlakukanlah aku dengan lemah lembut dalam menghadapi sakaratul maut ini, aku sungguh mendambakan kehadiran-Mu pada hari ini, aku sungguh sangat berharap padamu, la ilaha illallah." Kemudian ia meninggal dunia.

Perintah Untuk Meminta Hanya kepada Allah

Sabda beliau, "Jika kamu meminta, mintalah hanya kepada Allah; jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan hanya kepada Allah." Lafazh ini diambil dari firman Allah:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ .

"Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu pula kami meminta pertolongan." (Al-Fatihah [1] : 5)

Meminta kepada Allah yaitu doa dan kecintaan kepada-Nya. Lafazh ayat ini mengandung perintah untuk meminta hanya kepada Allah dan tidak meminta kepada selain-Nya, dan meminta tolong kepada-Nya, tidak kepada selain-Nya.

Adapun permintaan, maka Allah memerintahkan kita untuk meminta kepada-Nya:

وَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا.

"...Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya..." (An-Ni-sa' [4]:32)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu':

مَنْ لَا يَسْأَلُ اللَّهُ يَغْضَبْ عَلَيْهِ.

"Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya. "( HR. Ahmad, II: 442, 447, Tirmidzi, no. 3373, Ibnu Majah, no. 3827, dan Bukhari di dalam Al-Adabul Mufrad, no. 658).

Ada banyak hadits shahih tentang larangan meminta kepada manusia. Nabi pernah membaiat sejumlah sahabatnya untuk tidak meminta kepada manusia sedikitpun. Di antara mereka ada Abu Bakar Ash-Shiddiq, Abu Dzar dan Tsauban. Pernah seorang dari mereka terjatuh cemetinya atau cambuk untanya, ia tidak meminta tolong orang lain untuk mengambilkannya.

Dan, tidak ada yang kuasa untuk menyingkirkan marabahaya dan mendatangkan kemanfaatan selain Allah. Dia berfirman:

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ.

"Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah meng-hendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karu-nia-Nya..." (QS. Yunus [10]: 107)

Allah ta'ala mencintai orang yang meminta dan berharap kepada-Nya untuk memenuhi kebutuhannya, dan terus menerus meminta dan berdoa, dan Dia akan murka kepada orang yang tidak meminta kepada-Nya. Sedangkan makhluk kebalikannya, ia tidak suka jika terus dimintai, dan suka jika tidak dimintai, dikarenakan kelemahan, kefakiran dan rasa butuhnya.

Hamba Butuh Pertolongan Allah

Adapun mengapa meminta pertolongan kepada Allah saja tidak pada selain-Nya, karena hamba tidak mampu untuk dengan sendirinya mengambil manfaat dan menolak marabahaya, tidak ada yang dapat membantunya untuk mendapatkan maslahat agama dan dunianya kecuali Allah. Barangsiapa yang ditolong Allah maka dialah orang yang tertolong  dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka dialah orang yang tidak tertolong. Ini merupakan realisasi makna ucapan "la haula wa la quwwata illa billah", makna lafazh ini adalah tidak ada kemampuan dan kekuatan bagi hamba untuk bergerak kecuali dengan bersandar kepada Allah, ini adalah lafazh yang agung, dan termasuk perbendaharaan jannah.

Barangsiapa yang tidak meminta tolong kepada Allah, dan meminta tolong kepada selain-Nya, maka Allah akan menggantungkannya (menyerahkannya) kepada sesuatu itu, jadilah ia orang hina.

Terdahulunya Pencatatan Seluruh Takdir

Sabda beliau, "Pena telah diangkat dan lembaran telah kering." Ini merupakan kiasan akan terdahulunya penulisan semua takdir dan paripurna sejak jaman lampau. Ini merupakan kiasan terbaik dan sempurna. Al-Quran dan sunnah-sunnah shahih telah menunjukkan akan makna ini. Allah Ta'ala berfirman:

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أن تبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ .

"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) se belum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (QS. Al-Hadid [57]: 22).

Rasulullah bersabda:

ان الله كتب مقادير الخلائق قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ.

"Allah telah menentukan takdir segala sesuatu, lima puluh ribu tabun sebelum menciptakan langit dan bumi. (HR. Muslim, no. 2653. 185) HR. Muslim, no. 2648).

Dari Jabir, ia berkata, "Suatu ketika seorang laki-laki (Suraqah bin Malik) datang kepada Rasulullah lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah hakikat amalan hari ini? Apakah karena pena yang telah kering (takdir yang telah ditetapkan) dan takdir yang pasti berlaku, ataukah karena urusan mendatang?" Rasulullah menjawab, "Tidak, tapi karena pena yang telah kering dan takdir yang mesti berlaku." Suraqah bin Malik bertanya lagi, "Lalu untuk apa kita beramal?" Beliau menjawab, "Beramallah, karena masing-masing akan dimudahkan menjalani takdirnya, "

Kelemahan Makhluk dan Ketidakmampuannya

Sabda beliau, "Ketahuilah jika suatu umat berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu."

 

Maknanya, apa pun yang menimpa hamba terkait urusan dunianya baik hal itu membahayakan atau bermanfaat, semuanya telah ditetapkan baginya. Tidak ada yang menimpa hamba kecuali telah dituliskan baginya dalam kitab Lauh Mahfuzh, meski seluruh makhluk berupaya kuat untuk menolak bahaya darinya atau memberi manfaat padanya. Al-Quran telah menunjukkan makna seperti ini:

قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَنَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ .

"Katakanlah, 'Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal."(QS. At-Taubah [9]: 51)

Ketahuilah bahwa semua wasiat Nabi dalam hadits bab ini ber-pusar pada urusan pokok ini. Apa saja yang disebutkan sebelum dan se-sudahnya adalah cabangnya.

Jika seorang hamba mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali yang telah ditetapkan Allah baginya, baik berupa kebaikan atau keburukan, manfaat atau bahaya; dan bahwa upaya makhluk seluruhnya terkadang berbeda dengan yang ditakdirkan lagi tidak bermanfaat sama sekali, ketika itu ia akan menyadari Allah saja Dzat yang menimpakan bahaya dan manfaat, memberi dan mencegah. Maka hal ini mengharuskannya untuk mengesakan-Nya dalam hal takut, pengharapan, kecintaan, permohonan, menghinakan diri dan berdoa, mengedepankan ketaatan kepada-Nya dibanding kepada makhluk seluruhnya. Hendaknya ia takut akan murka-Nya meski dengan itu membuat marah seluruh manusia, mengesakan-Nya dalam meminta pertolongan, memohon, keikhlasan berdoa kepada-Nya di saat terdesak atau pun lapang.

Keutamaan Sifat Sabar

Dalam satu hadits disebutkan:

وَاعْلَمْ أَنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيرًا

Ketahuilah bahwa dalam kesabaran terhadap hal yang engkau benci terdapat kebaikan yang banyak." (HR. Ahmad 2803).

Maknanya, segala bentuk musibah yang menimpa hamba dan telah ditetapkan baginya, jika ia bersabar atasnya, maka dalam kesabaran itu terdapat kebaikan yang banyak.

Keyakinan dalam hati terhadap gadha' yang lewat dan takdir yang telah lalu, membantu hamba untuk bersikap ridha terhadap musibah yang menimpa dirinya.

Berikut ini dua derajat seorang mukmin terhadap gadha dan qadar dalam menghadapi berbagai musibah, yaitu:

Pertama, hamba ridha dengan musibah itu, ini merupakan derajat yang sangat tinggi.

Allah ta'ala berfirman:

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِنُ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ.

"Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. At-Taghabun [64]: 11).

Tentang ayat ini Alqamah berkata, "Itu adalah musibah yang menimpa seseorang dan ia mengetahui bahwa hal itu datang dari Allah, maka ia menerima dan ridha terhadapnya."

Nabi mengucapkan dalam doanya:

أَسْأَلُكَ الرَّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ.

"Aku memohon kepadamu keridhaan setelah qadha.” ( HR. Nasai no. 1305, Ibnu Hibban no. 1971).

Di antara yang dapat mendorong seorang mukmin untuk ridha terhadap ketetapan-Nya adalah realisasi keimanannya akan makna sabda Nabi:

لا يَقْضِي اللَّهُ لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ كَانَ خَيْرًا لَهُ إِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ كَانَ خَيْرًا لَهُ وَلَيْسَ ذَلِكَ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ.

"Tidaklah Allah menetapkan suatu ketetapan bagi seorang mukmin kecuali hal itu baik untuknya. Bila mendapat kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya, hal ini tidak terdapat kecuali pada seorang mukmin. (187) HR. Muslim, no. 2999).

Ibnu Mas'ud berkata, "Sesungguhnya Allah dengan keadilan dan kebijakan-Nya menjadikan kegembiraan dan kebahagiaan di dalam keyakinan dan keridhaan, begitupula menjadikan kegundahan dan kesedihan dalam keragu-raguan dan kemurkaan. Maka barangsiapa sampai pada derajat ini, maka kehidupannya berada dalam kenikmatan dan kebahagiaan."

Abdul Wahid bin Zaid berkata:

"Keridhaan merupakan pintu menuju Allah yang sangat besar, dan surga dunia serta tempat peristirahatan orang-orang yang senantiasa beribadah."

Tingkatan kedua, bersabar terhadap cobaan, tingkatan ini bagi mereka yang belum mampu untuk ridha terhadap qadha' (ketetapan). Ridha terhadap ketetapan merupakan keutamaan dan hukumnya sunnah, se-dangkan bersabar terhadapnya hukumnya wajib bagi setiap mukmin.

Perbedaan antara ridha dan sabar dalam hal ini adalah:

Sabar yaitu menahan diri dan mengekangnya dari marah terhadap musibah yang diiringi adanya penderitaan dan mengharapkan hilangnya hal itu, serta menahan anggota badan dari melakukan perbuatan yang timbul dari keluh-kesahnya.

Sedangkan ridha adalah kelapangan dada dan keluasan hati terhadap ketetapan Alah, dan tidak mengharap agar rasa sakit tersebut hilang, meskipun ia merasakan rasa sakit, namun ridha mampu meringankan rasa tersebut, sebab hangatnya keyakinan dan makrifat telah menyentuh kalbunya, jika keridhaan semakin kuat, kadang rasa sakit bisa hilang secara total.

Kemenangan Bersama dengan Kesabaran, Jalan Keluar Bersama dengan Kesusahan.

Sabda beliau, "...Ketahuilah sesungguhnya kemenangan menyertai kesabaran..." Hadits ini sesuai dengan firman Allah:

قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَقُوا اللَّهِ كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ .

 

"...Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, 'Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat men-galahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar'." (QS. Al-Baqarah [2]: 249).

Ayat ini berkenaan dengan jihad terhadap musuh yang nampak, yaitu jihad kepada orang-orang kafir, dan jihad terhadap musuh yang tidak nampak yaitu jihad terhadap hawa nafsu. Keduanya merupakan jihad yang paling besar, sebagaimana Nabi bersabda:

الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي اللَّهِ.

"Mujahid adalah orang yang berjihad terhadap dirinya sendiri dalam (ketaatan kepada) Allah.” (HR. Ahmad, VI: 20, 22: Tirmidzi, no. 1621).

Abdullah bin Umar berkata kepada orang yang bertanya kepadanya tentang jihad, "Mulailah dari dirimu dengan berjihad kepadanya, dan memeranginya."

Sabda beliau, "...Sesungguhnya jalan keluar itu bersama dengan kesulitan itu sendiri..."

Berapa banyak Allah menceritakan kisah-kisah tentang jalan keluar dari kesulitan yang dialami nabi-nabi-Nya. Seperti, selamatnya Nabi Nuh dan pengikutnya di kapal, selamatnya Nabi Ibrahim dari api, selamatnya Nabi Musa dan kaumnya dari laut. kisah Nabi Yunus dan Ayyub, kisah selamatnya Nabi Muhammad dari musuh-musuhnya, seperti saat di gua, saat perang Ahzab, dan pada peristiwa lainnya.

"Dan kemudahan menyertai kesulitan yang ada." Lafazh ini diambil dari firman Allah Ta'ala:

سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرِ يُسْرًا.

"...Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan." (QS. Ath-Thalaq [65]: 7).

Begitu pula firman Allah:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا .

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesung-guhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Asy-Syarh [94]: 5-6).

Rahasia di balik kebersamaan jalan keluar dengan kesusahan dan kemudahan dengan kesulitan adalah jika kesusahan telah menghimpit, membesar dan menghimpit diri seorang hamba, ia akan merasa adanya rasa putus asa untuk meminta dari makhluk, ia hanya mampu untuk menggantungkan dirinya kepada Allah saja. Inilah hakekat tawakkal kepada Allah, dan sebab yang paling besar untuk meminta hal-hal yang di-butuhkan, karena Allah akan memcukupkan kebutuhan orang yang ber-tawakkal kepadanya, sebagaimana firman Allah Ta'ala :

... وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ .

"...Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (QS. Ath-Thalaq [65]: 3).

Fudhail bin 'lyadh berkata, "Demi Allah, kalau engkau berputus asa dari semua makhluk, hingga tidak ada apa pun yang engkau harapkan dari mereka, maka Allah akan memberikan kepadamu semua yang kamu ingin-kan."

Selain itu, seorang mukmin jika menganggap jalan keluar datang ter-lambat, dan berputus asa setelah banyak-banyak berdoa, dan tidak ada tan-da-tanda dikabulkannya doa, maka ia akan menyadari kekurangan diri, dan berkata kepada dirinya sendiri, "Sesungguhnya aku diberi melalui dirimu, kalau engkau baik, maka permohonanku pasti dikabulkan."

Celaan terhadap diri semacam ini lebih disukai oleh Allah daripada berbagai ketaatan, sebab hal tersebut menyebabkan hamba menjadi insyaf dan pasrah kepada Allah dan merasa bahwa ia pantas menerima musibah, dan doanya tidak pantas dikabulkan, karena itulah pengabulan doa dan jalan keluar akan segera datang, sebab Allah sangat menyayangi orang-orang yang memasrahkan dirinya karena-Nya.

 

-----000-----

 

Sumber:Mukhtashar Jami'ul Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab al-Hambali

Ditulis ulang oleh Abu Ibrahim Junaedi Abdullah.

 

 

 

 

 


Senin, 22 Desember 2025

BAB 4 MACAM-MACAM SYIRIK BESAR. SOAL: 14-15 HUKUM PERDUKUNAN

 


BAB 4

MACAM-MACAM SYIRIK BESAR.

SOAL: 14-15

HUKUM PERDUKUNAN.

 

س ١٤ - هَلْ نُصَدِّقُ الْعَرَّافَ وَالْكَاهِنَ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ ؟

Soal Jawab 14: Apakah kita boleh mempercayai tukang ramal dan dukun dalam masalah yang ghaib?

ج ١٤ - لا نُصَدِّقُهُمَا .

Jawab: Kita tidak boleh mempercayai.

لِقَوْلِهِ تَعَالَى:   

Karena Allah ta’ala berfirman:

 }قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللهُ } سورة النمل : ٦٥

"Katakanlah, "Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah'." (Surat An-Naml ayat 65)

وقال ﷺ:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

( مَنْ أَتَى عَرَّافًا، أَوْ كَاهِنًا ، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ , فَقَدْ كَفَرَ بِمَ أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ) صحيح رواه أحمد

"Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, kemudian dia mempercayai mereka dalam ucapan mereka (dalam perkara ghaib), berarti ia telah mengingkari apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhamad." (Hadits shahih riwayat Ahmad  425, diShahihkan Syaikh al-Albani di dalam al-Misykah 4559).

س ۱۵ - هَلْ يَعْلَمُ الغَيْبَ أَحَدٌ ؟

Soal jawab 15: Apakah seseorang dapat mengetahui perkara yang ghaib?

ج ١٥ - لَا يَعْلَمُ الغَيْبَ أَحَدٌ ، إِلَّا مَنْ أَطْلَعَهُ اللَّهُ مِنْ الرُّسُلِ.

Jawab: Tidak ada seseorang pun yang dapat mengetahui perkara ghaib melainkan sebagian dari para rasul yang Allah tampakkan hal itu kepadanya.

قَالَ تَعَالَى :

Allah ta’ala berfirman:

عَلِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا .

"(Dia adalah Rabb) Yang Maha Mengetahui yang ghaib, Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya." (Surat Al-Jin ayat 26).

وقال ﷺ:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَعْلَمُ الْغَيْبَ إِلَّا الله

"Tidak ada yang dapat mengetahui perkara yang ghaib melainkan Allah." (Hadits hasan riwayat Thabrani, (Bukhari 7380).

 

-----000-----

1.   Pengertian dukun (al-kuhan, al ’Arraf).

Dukun orang-orang yang mengabarkan urusan ghaib yang akan terjadi di waktu yang akan datang dengan meminta bantuan setan(Jin). (Syarah Kitab Tauhid, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan).

Al-Baghawi berkata, "Al-'Arraf (orang pintar) ialah orang yang mengklaim mengetahui dengan menggunakan isyarat-isyarat untuk menunjukkan barang curian atau tempat barang hilang atau semacamnya. Adapula yang mengatakan, 'Dia adalah kahin (dukun), padahal kahin adalah orang yang memberitahukan tentang perkara-perkara yang akan terjadi di masa mendatang.’ Ada pula yang mengatakan, Yaitu orang yang memberitahukan apa yang tersimpan dalam hati seseorang."

Menurut Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah, "Al-'Arraf adalah sebut-an untuk tukang ramal, tukang nujum, peramal nasib dan yang sebangsanya, yang menyatakan tahu tentang perkara-perkara (yang wlak diketahui oleh orang lain) dengan cara-cara tersebut." (Kitab Tauhid Bab Dukun, Tukang Ramal Dan Sejenisnya).

Ada beberapa istilah yang memiliki konotasi dengan perdukunan. Terkadang istilah tersebut dipakai untuk makna yang sama, namun sering kali dipakai dalam makna berbeda. Istilah tersebut ialah: kahin (dukun), ‘arraf (peramal), munajjim (ahli nujum menganggap bintang dan sejenisnya memeliki pengaruh), sahir (ahli sihir).

2.   Kenapa perdukunan menjamur.

 

Kebiasaan pergi kedukun telah lama terjadi, semenjak zaman jahiliyyah.

Disebutkan dalam sebuah atsar dari Mu’awiyah bin Hakam Radhiyallahu anhu, ia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

يَا رَسُولَ اللَّهِ أُمُورًا كُنَّا نَصْنَعُهَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ كُنَّا نَأْتِى الْكُهَّانَ. قَالَ فَلاَ تَأْتُوا الْكُهَّانَ.

 “Ada beberapa hal yang biasa kami lakukan pada masa jahiliyah, kami terbiasa datang ke dukun?” Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  “Jangan kalian datang ke dukun.” (HR. Muslim 537, al-Muwata’ 737).

Para dukun, para normal mereka mengelabuhi masyarakat dengan nama-nama yang disamarkan, seperti orang pintar, pengobatan alternatif, para normal, orang tua, tabib, dan lain sebagainya.

Masyarakat banyak yang tertipu dengan nama samaran  tersebut, meskipun ada juga yang terang-terangan menyebut dirinya dukun.

Mereka berduyun-duyun rela antri untuk datang, baik yang sehat maupun yang sakit, miskin maupun kaya, sukses maupun gagal atau baru buka usaha, berpangkat maupun orang biasa, dari para pejabat sampai rakyat jelata, bahkan orang yang dianggap berilmu sampai orang awamnya.

Mau pangakat naik pergi kedukun, menjaga wibawa pergi kedukun, mau hajatan pergi kedukun, mau buka usaha pergi kedukun, kehilangan barang pergi kedukun, bersaing dagangan pergi kedukun, ingin memiliki aura  pergi kedukun, sampai berselisih dengan keluarga mereka juga pergi kedukun, seakan akan dukun adalah solusi yang tepat.

Hal ini terjadi karena dangkalnya pengetahuan masyarakat terhadap agama.

3.   Para dukun adalah orang-orang yang suka berdusta.

1)  Dusta dalam penampilan.

Banyak diantara mereka yang berdusta dalam penampilan.

Seseorang yang menampakkan pakaian kyai, ustadz ataupun orang shalih, namun apabila tatacara dan praktek yang dipakai adalah dukun maka mereka adalah dukun, karena hakekatnya itulah yang dihitung.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ . تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ . يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ.

“Maukah Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta.” (QS. Asy-Syu’araa[26]: 221-223).

2)  Dusta dalam perkataan dan perbuatan.

Mereka mengaku mengetahui perkara ghaib, padahal hanya Allah saja yang mengetahui perkara tersebut.

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللهُ .

"Katakanlah, "Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah'." (QS. An-Naml [27]: 65).

وَعِنْدَهٗ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ اِلَّا هُوَۗ .

“Kunci-kunci semua yang ghaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia..” (QS. Al-An’am[6]:59).

عٰلِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلٰى غَيْبِهٖٓ اَحَدًاۙ اِلَّا مَنِ ارْتَضٰى مِنْ رَّسُوْلٍ.

“Dia mengetahui yang ghaib. Lalu, Dia tidak memperlihatkan yang ghaib itu kepada siapa pun, Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya...” (QS. Al-Jin[72]: 26-27).

Perkara ghaib adalah semua perkara yang Allah tidak memberitahukan kepada kita, meliputi peristiwa lampau, peristiwa yang akan datang, surga, Neraka, di langit, di bumi, di laut dan di mana pun tempat.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha berkata, orang-orang bertanya kepada Rasullullah sallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perdukunan beliau berkata:

لَيْسَ بِشَيْء, فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَا أَحْيَانًا بِشَيْءٍ فَيَكُونُ حَقًّا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تِلْكَ الكَلِمَةُ مِنَ الحَقِّ يَخْطَفُهَا مِنَ الجِنِّيِّ فَيَقُرُّهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ فَيَخْلِطُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ.

“(Para dukun itu) tidak ada apa-apanya, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dukun-dukun itu biasa menuturkan kepada kami lantas kami jumpai bahwa apa yang mereka katakan itu benar.” Maka Nabi menjawab, “Itu adalah ucapan benar yang dicuri dengar oleh jin (syaitan) kemudian dia bisikkan ke telinga walinya (dukun) dan dia pun menambahkan dengan seratus kedustaan di dalamnya.” (HR. Bukhari 5762, Muslim 2228).

Dalam riwayat lain:

Dari Aisyah, bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَنْزِلُ فِي الْعَنَانِ وَهُوَ السَّحَابُ فَتَذْكُرُ الْأَمْرَ قُضِيَ فِي السَّمَاءِ فَتَسْتَرِقُ الشَّيَاطِينُ السَّمْعَ فَتَسْمَعُهُ فَتُوحِيهِ إِلَى الْكُهَّانِ فَيَكْذِبُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ.

“Sesungguhnya malaikat turun ke awan, mereka menceritakan tentang urusan yang telah diputuskan Allah di langit. Kemudian setan-setan mencuri dengar lalu mereka mendengar urusan tersebut, setelah itu mereka sampaikan kepada para dukun. Mereka mencampurinya dengan seratus kebohongan dari diri mereka sendiri.” (HR. Bukhari 3210).

Para dukun mereka banyak menipu manusia, sekalipun sedang kesusahan dan yang sedang mendapat musibah, mereka memeras pasiennya dengan mengatasnamakan jasa, jasa pengobatan, pelaris, wibawa, kecantikan, pagar diri, kekuatan, pengasihan, tolak bala dan lain-lain.

4.   Larangan pergi kedukun, para normal dan sejenisnya.

Para dukun mendasari ucapan dan perbuatannya dari jin-jin yang suka berbohong, sehingga dukun juga suka berbohong, oleh karena itu orang-orang beriman dilarang keras pergi kedukun.

Allah ta’ala memberitahukan hal itu dengan firman-Nya:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا.

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada laki-laki dari kalangan jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesesatan.” (QS. Al-Jin[72]:6).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً.

“Barang siapa mendatangi dukun atau peramal, maka tidak diterima shalatnya 40 hari.”  (HR.Muslim 2230, Ahmad 16638, Thabrani, Mu’jam al-Ausath 1453).

Imam Nawawi rahimahullah berkata:

فَمَعْنَاهُ أَنَّهُ لَا ثَوَابَ لَهُ فِيهَا وَإِنْ كَانَتْ مُجْزِئَةً فِي سُقُوطِ الْفَرْضِ عَنْهُ وَلَا يَحْتَاجُ مَعَهَا إِلَى إِعَادَةٍ.

“Maka maknanya adalah bahwa tidak ada pahala baginya dalam amalan itu, meskipun amalan tersebut sah dan mencukupi dalam menggugurkan kewajiban darinya, sehingga tidak perlu diulang..” (Syarah Imam Nawawi pada Shahih Muslim, hadits 2230)

5.   Membenarkan omongan dukun atau paranormal bisa menjadikan kekafiran.

Hal ini karena dukun, para normal mereka meminta bantuan kepada setan-setan atau jin kemudian memerintahkan kepada pasiennya agar melakukan perbuatan-perbuatan syirik.

Seperti menyembelih ayam hitam mulus untuk diberikan sebagai sasesji mengucapakan kalimat kufur, yaitu meminta kepada satu tempat atau kepada jin agar dikabulkan doanya, dan lain-lainnya.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ.

 “Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal lalu memercayai apa yang dia katakana, maka dia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.” (HR. Ahmad 9536, Tirmidzi 135, Ibnu Majah 639, Abu Daud 3904, Disahihkan syaikh al-Albani di dalam Ash-Shahihah 3387).

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab memberikan faedah pada hadits di atas diantaranya: “ (Barangsiapa) mempercayainya (dukun atau para normal) adalah kufur. (Kitab Tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab).

Meskipun dalam hal ini ulama berbeda pendapat, apakah kufur asgar atau kufur akbar, maka selayaknya kita menjauhi perbuatan-perbuatan yang bisa membawa dosa besar maupun kekufuran.

Demikianlah semoga bermanfaat. Aamiin.

 

-----000-----

 

Sragen 23-12-2025

Abu Ibrahim Junaedi Abdullah.

RIYA DAN BAHAYANYA

  RIYA DAN BAHAYANYA   Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas  حفظه الله   عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ   قَالَ: ...