RIYA DAN BAHAYANYA
Oleh Al-Ustadz
Yazid bin Abdul Qadir Jawas حفظه الله
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّم يَقُوْلُ : إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ
الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ
فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى
اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ,
فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ
النَّارِ, وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ اْلقُرْآنَ
فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ
فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ
اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ:
عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ
أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ
وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ
بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ:
مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ
فِيْهَا لَكَ, قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ
فَقَدْ قِيْلَ, ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي
النَّارِ. رواه مسلم (1905) وغيره
Dari Abi
Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada
hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan
diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu
ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau
lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata
karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta!
Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah
yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar
menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam
neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan
mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan
kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah
menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan
kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya,
serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau
dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan
engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca al
Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian
diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam
neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki
dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya
kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah
bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia
menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang
Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’
Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya
dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan
(tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas
mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’”
TAKHRIJ HADITS
Hadits ini
diriwayatkan oleh :
1. Muslim,
Kitabul Imarah, bab Man Qaatala lir Riya’ was Sum’ah Istahaqqannar (VI/47) atau
(III/1513-1514 no. 1905).
2. An Nasa-i,
Kitabul Jihad bab Man Qaatala liyuqala : Fulan Jari’, Sunan Nasa-i (VI/23-24),
Ahmad dalam Musnad-nya (II/322) dan Baihaqi (IX/168).
BAHAYA RIYA[1]
Di dalam al
Qur`an dan as Sunah banyak sekali ancaman tentang bahaya riya’. Riya’ termasuk
kedurhakaan hati yang sangat berbahaya terhadap diri, amal, masyarakat dan
umat. Dan ia juga termasuk dosa besar yang merusak. Di antara bahaya riya’
adalah sebagai berikut :
1. Riya’ Lebih
Berbahaya Bagi Kaum Muslimin Daripada Fitnah Masiih Ad Dajjal.
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ
أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِيْ مِنَ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ قَالَ قُلْنَا بَلَى
فَقَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُوْمَ الرَّجُلُ يُصَلِّيْ فَيُزَيِّنُ
صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ
“Maukah aku
kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih tersembunyi di sisiku atas kalian
daripada Masih ad Dajjal?” Dia berkata,”Kami mau,” maka Rasulullah berkata,
yaitu syirkul khafi; yaitu seseorang shalat, lalu menghiasi (memperindah)
shalatnya, karena ada orang yang memperhatikan shalatnya”. [HR Ibnu Majah, no.
4204, dari hadits Abu Sa’id al Khudri. Hadits ini hasan-Shahih at Targhib wat
Tarhib, no. 30]
2. Riya’ Lebih
Sangat Merusak Daripada Serigala Menyergap Domba
مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ
فِيْ غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَ الشَّرَفِ
لِدِيْنِهِ
“Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa salalm bersabda : “Tidaklah dua ekor serigala yang lapar
dan dilepaskan di tengah sekumpulan domba lebih merusak daripada ketamakan
seorang kepada harta dan kedudukan bagi agamanya”. [HSR Ahmad, III/456;
Tirmidzi, no. 2376; Darimi, II/304, dan yang lainnya dari Ka’ab bin Malik].
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan rusaknya agama seorang
muslim karena tamaknya kepada harta, kemuliaan, pangkat dan kedudukan. Semua
ini menggerakkan riya’ di dalam diri seseorang.
3. Amal Shalih
Akan Hilang Pengaruh Baiknya Dan Tujuannya Yang Besar Bila Disertai Riya’.
Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman :
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ ﴿٤﴾ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ
سَاهُونَ﴿٥﴾الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ﴿٦﴾وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
“Maka celakalah
bagi orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
orang-orang yang berbuat riya’ dan mencegah (menolong dengan) barang yang
berguna”. [al Ma’uun/107:4-7]
Orang yang
berbuat riya’ dan tidak mau menolong orang lain, karena shalat mereka tidak
mempunyai pengaruh dalam hati mereka, sehingga mencegah kebaikan dari
hamba-hamba Allah. Mereka hanyalah menunaikan gerakan-gerakan shalat dan
memperindahnya, karena semua mata memandangnya, padahal hati mereka tidak
memahami, tidak tahu hakikatnya dan tidak mengagungkan Allah. Karena itu,
shalat mereka tidak berpengaruh terhadap hati dan amal. Riya’ menjadikan amal
itu kosong tidak ada nilainya.
4. Riya’ Akan
Menghapus Dan Membatalkan Amal Shalih.
Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ
بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا
يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ
عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ
عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ
الْكَافِرِينَ
Baca Juga
Wajib Berlaku Baik Dalam Segala Hal
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu
dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang
yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan tidak beriman kepada
Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di
atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadikan ia
bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang
mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunujuk kepada orang-orang kafir”.
[Al-Baqarah/2:264].
Hati yang
tertutup riya’ ibarat batu licin yang tertutup tanah. Orang yang berbuat riya’
tidak akan membuahkan kebaikan, bahkan ia telah berbuat dosa yang akan dia
peroleh akibatnya pada hari Kiamat. Riya’ menghapuskan amal shalih, dan
seseorang tidak mendapatkan apa-apa karenanya di akhirat nanti dari amal-amal
yang pernah ia lakukan di dunia. Sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ
عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ الرِّيَاءُ ، يَقُوْلُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
إِذَا جَزَى النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ : اذْهَبُوْا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ
تُرَاؤُوْنَ فِيْ الدُّنْيَا ، فَانْظُرُوْا هَلْ تَجِدُوْنَ عِنْدَهُمْ جَزاَءً ؟!
“Sesungguhnya
yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’. Allah
akan mengatakan kepada mereka pada hari Kiamat tatkala memberikan balasan atas
amal-amal manusia “Pergilah kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ kepada
mereka di dunia. Apakah kalian akan mendapat balasan dari sisi mereka?” [HR
Ahmad, V/428-429 dan al Baghawi dalam Syarhus Sunnah, XIV/324, no. 4135 dari
Mahmud bin Labid. Lihat Silsilah Ahaadits Shahiihah, no. 951]
Pelaku riya’
akan memamerkan amalnya agar dipuji, disanjung dan mendapatkan kedudukan di
hati manusia. Dia tidak akan mendapat ganjaran kebaikan dari Allah, dan tidak
pula dari orang-orang yang memujinya, karena yang berhak memberi balasan hanya
Allah saja. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hadits Qudsi :
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ
الشِّرْكِ ، مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِيْ غَيْرِيْ ، تَرَكْتُهُ وَ
شِرْكَهُ
“Aku adalah
sekutu yang Maha Cukup, sangat menolak perbuatan syirik. Barangsiapa yang
mengerjakan suatu amal yang dicampuri dengan perbuatan syirik kepadaKu, maka
Aku tinggalkan dia dan (Aku tidak terima) amal kesyirikannya” [HR Muslim, no.
2985 dan Ibnu Majah, no. 4202 dari sahabat Abu Hurairah)]
5. Riya’ Adalah
Syirik Khafi (Tersembunyi).
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ
أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِيْ مِنَ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ ، قَالَ قُلْنَا بَلَى
، فَقَالَ : الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُوْمَ الرَّجُلُ يُصَلِّيْ فَيُزَيِّنُ
صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ
“Maukah aku
kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih tersembunyi di sisiku atas kalian
daripada Masih ad Dajjal?” Dia berkata,“Kami mau,” maka Rasulullah berkata,
yaitu syirkul khafi; yaitu seseorang shalat, lalu ia menghiasi (memperindah)
shalatnya, karena ada orang yang memperhatikan shalatnya”.[HR Ibnu Majah, no.
4204, dari hadits Abu Sa’id al Khudri, hadits ini hasan-Shahih Ibnu Majah, no.
3389]
6. Riya’
Mewariskan Kehinaan Dan Kerendahan.
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
مَنْ سَمَّعَ النَّاسَ بِعَمَلِهِ ،
سَمَّعَ اللهُ بِهِ مَسَامِعَ خَلْقِهِ ، وَصَغَّرَهُ وَحَقَّرَهُ
“Barangsiapa
memperdengarkan amalnya kepada orang lain (agar orang tahu amalnya), maka Allah
akan menyiarkan aibnya di telinga-telinga hambaNya, Allah rendahkan dia dan
menghinakannya”. [HR Thabrani dalam al Mu’jamul Kabiir; al Baihaqi dan Ahmad,
no. 6509. Dishahihkan oleh Ahmad Muhammad Syakir. Lihat Shahiih at Targhiib wat
Tarhiib, I/117, no. 25].
7. Pelaku Riya’
Tidak Akan Mendapatkan Ganjaran Di Akhirat.
Dari Ubay bin
Ka’ab, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بَشِّرْ هَذِهِ الأُمَّةَ
بِالسَّنَاءِ وَالرِّفْعَةِ ، وَالدِّيْنِ ، وَ النَّصْرِ ، وَ التَّمْكِيْنِ فِي
الأَرْضِ ، فَمَنْ عَمِلَ مِنْهُمْ عَمَلَ الأَخِرَةِ لِلدُّنْيَا ، لَمْ يَكُنْ
لَهُ فِي الأَخِرَةِ نَصِيْبٌ
“Sampaikan
kabar gembira kepada umat ini dengan keluhuran, kedudukan yang tinggi
(keunggulan), agama, pertolongan dan kekuasaan di muka bumi. Barangsiapa di
antara mereka melakukan amal akhirat untuk dunia, maka dia tidak akan
mendapatkan bagian di akhirat”. [HR Ahmad, V/134; dan Hakim, IV/318. Shahih,
lihat Shahih Jami’ush Shaghiir, no. 2825]
8. Riya’ Akan
Menambah Kesesatan Seseorang.
Allah Subhanahu
wa Ta’ala Ta’ala berfirman :
يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ
آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ﴿٩﴾فِي
قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
“Mereka hendak
menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri
mereka sendiri sedangkan mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit,
lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan
mereka berdusta”. [al Baqarah/2:9-10].
9. Riya’
Merupakan Sebab Kekalahan Ummat Islam.
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذِهِ
الأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَ صَلاَتِهِمْ , وَ إِخْلاَصِهِمْ
“Sesungguhnya
Allah akan menolong umat ini dengan orang-orang yang lemah, yaitu dengan doa,
shalat, dan keikhlasan mereka” [HSR an Nasa-i, VI/45, dari Mush’ab bin Sa’ad
bin Abi Waqqash][2]
Ikhlas karena
Allah menjadi sebab ditolongnya umat ini dari musuh-musuh mereka. Allah
melarang kita keluar berperang dengan sombong dan riya’, karena hal ini akan
membawa kepada kekalahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ خَرَجُوا
مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَرِئَاءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ
اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ.
“Dan janganlah
kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh
dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan
Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan”. [Al-Anfaal/8:47].
BEBERAPA
PERKARA YANG TIDAK TERMASUK RIYA’
Ada beberapa
perkara yang disangka oleh sebagian orang sebagai perbuatan riya’, padahal
sesungguhnya tidak demikian. Perkara-perkara tersebut adalah.
1. Pujian
Manusia Atas Seorang Hamba Atas Amal Baik Yang Ia Lakukan Tetapi Bukan
Tujuannya Ingin Dipuji.
Apabila
seseorang mengamalkan sesuatu perbuatan dengan ikhlas dan sampai selesai amal
itu pun dilakukan dengan ikhlas, kemudian ada yang mengetahui amal tersebut
lalu memujinya, namun ia tidak menghendaki yang demikian itu, maka hal itu
tidak termasuk riya’. Seperti dalam hadits Abu Dzar:
Baca Juga
Kesyirikan Kaumnya Nabi Yusuf
عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ ، قَالَ : قِيْلَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم :
أَرَأَيْتَ الرَّجُلَ يَعْمَلُ الْعَمَلَ مِنَ الْخَيْرِ ، وَ يَحْمَدُهُ النَّاسُ
عَلَيْهِ ؟ قَالَ: تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ
Dari Abu Dzar
Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Ya Rasulullah, bagaimana pendapat engkau
tentang seseorang yang mengerjakan satu amal kebaikan, lalu orang memujinya?”
Beliau menjawab,”Itu merupakan kabar gembira bagi orang mukmin yang diberikan
lebih dahulu di dunia.” [HSR Muslim, 2642; Ibnu Majah, no. 4225 dan Ahmad,
V/156, 157; dari sahabat Abu Dzar].
Namun ia tidak
berlaku ‘ujub, dan tidak pula sengaja agar orang mengetahui kebaikannya.
2. Giatnya
Seorang Hamba Dalam Berbuat Kebaikan Ketika Ada Orang Yang Melihatnya Dan
Ketika Menemani Orang-Orang Yang Ikhlas Dan Orang Shalih.
Ibnu Qudamah al
Maqdisi rahimahullah (wafat tahun 689 H) menjelaskan dalam kitabnya, Mukhtashar
Minhajul Qashidin, hlm. 288: “Adakalanya seseorang berada di tengah orang-orang
yang tekun beribadah. Ia melakukan shalat hampir sebagian besar malam karena kebiasaan
mereka adalah bangun malam. Dia pun mengikuti mereka melaksanakan shalat dan
puasa. Andaikata mereka tidak melaksanakan shalat malam, maka iapun tidak
tergugah untuk melakukan kegiatan itu. Mungkin ada yang menganggap bahwa
kegiatan orang itu termasuk riya’, padahal tidak demikian sebenarnya, bahkan
hal itu perlu dirinci. Setiap orang mukmin tentunya ingin banyak beribadah
kepada Allah, tetapi kadang-kadang ada satu dua hal yang menghambat atau yang
melalaikannya. Maka boleh jadi dengan melihat orang lain yang aktif dalam
melakukan kegiatan ibadah, membuatnya mampu menyingkirkan hambatan dan
kelalaian itu. Bila seseorang berada di rumahnya, lebih mudah baginya untuk
tidur di atas kasur yang empuk dan bercumbu dengan istrinya. Tetapi bila dia
berada di tempat yang jauh, ia tidak disibukkan oleh hal-hal itu. Kemudian ada
beberapa faktor pendorong yang membangkitkannya untuk berbuat kebajikan, di
antaranya keberadaannya di tengah orang yang beribadah atau disaksikan oleh
mereka. Boleh jadi dia merasa berat berpuasa ketika berada di rumah, karena di
dalamnya ada banyak makanan. Dalam keadaaan seperti itu, setan terus menggoda
untuk menghalanginya dari ketaatan sambil berkata ‘jika engkau berbuat di luar
kebiasannmu, berarti engkau adalah orang yang berbuat riya’,’ maka dia tidak
boleh memperdulikan bisikan setan ini. Dia harus melihat pada tujuan batinnya
dan jangan sekali-sekali ia menoleh kepada bisikan setan”.
3.
Menyembunyikan Dosa
Wajib bagi
seorang mukmin atas mukmin lainnya, apabila berbuat suatu kesalahan, hendaklah
ia tutupi dan jangan ia tampakkan dosanya. Kemudian ia wajib segera bertobat
kepada Allah. Karena, menceritakan maksiat yang telah terlanjur dilakukan,
berarti menyiarkan kekejian di antara kaum mukminin dan akan membuat dia
meremehkan batas-batas Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ
تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي
الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya
orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu disiarkan di
kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di
akhirat. Dan Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”. [An-Nuur/24:19].
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
كُلُّ أُمَّتِيْ مُعَافىً إِلاَّ
الْمُجَاهِرِيْنَ ، وَ إِنَّ مِنَ الْمُجَاهِرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ
بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَ قَدْ سَتَرَهُ اللهُ فَيَقُوْلَ : يَا
فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كذَا وَ كَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ
وَ يُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ
“Setiap umatku
akan dimaafkan, kecuali orang-orang yang terang-terangan. Sesungguhnya termasuk
terang-terangan ialah, jika seseorang melakukan suatu amal (dosa) pada malam
hari, kemudian pagi harinya ia bercerita. Padahal pada malamnya Allah sudah
menutupi dosanya. Ia katakana, hai Fulan, tadi malam aku berbuat begini dan
begitu, padahal malam itu Allah sudah menutupi dosanya, namun pagi harinya ia
justru menyingkap tutupan Allah pada dirinya”. [HSR Bukhari, no. 6069 dan
Muslim, no. 2990 dari Abu Hurairah].
4. Mengenakan
Pakaian Indah Dan Bagus
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ
فِيْ قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ ،قَالَ رَجُلٌ : إِنَّ الرَّجُلَ
يُحِبُّ أَنْ يَكُوْنَ ثَوْبُهُ حَسَناً وَ نَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ : إِنَّ
اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَ غَمْطُ
النَّاسِ
“Tidak akan
masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat dzarrah (biji
atom)”. Seseorang berkata: “Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang menyukai
pakaiannya bagus dan sandalnya bagus,” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata,”Sesungguhnya Allah indah dan menyukai keindahan; sombong adalah
menolak kebenaran dan meremehkan manusia”. [HR Muslim, no. 91; Abu Dawud, no.
4091; at Tirmidzi, no. 1999 dan al Baghawi, no. 3587 dari hadits Abdullah bin
Mas’ud].
5. Menampakkan
Syiar-Syiar Agama Islam
Di dalam Islam
ada beberapa ibadah yang tidak mungkin disembunyikan dalam pelaksanaannya,
seperti haji, umrah, shalat Jum’at, shalat berjama’ah yang lima waktu dan
lainnya.
Seorang muslim
tidak dikatakan berbuat riya’, bila ia menampakkan amal-amal ini. Karena
termasuk amal-amal yang wajib ditampakkan dan dimasyhurkan serta
melaksanakannya adalah termasuk syiar-syiar Islam. Orang yang meninggalkannya
akan terkena celaan dan kutukan. Akan tetapi, jika amal-amal ibadah sunnah,
hendaknya disembunyikan, karena tidak tercela bagi orang yang meninggalkannya.
Tetapi jika ia menampakkan amal itu dengan tujuan supaya orang lain mengikuti
sunnah itu, maka hal itu adalah baik. Sesungguhnya yang dikatakan riya’, yaitu
apabila tujuannya menampakkan amal tersebut supaya dilihat, dipuji dan
disanjung manusia.
----000-----
Referensi :
https://almanhaj.or.id/11969-bahaya-riya-2.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar