مُجْمَلُ أُصُولِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ
فِي
الْعَقِيدَةِ
د. نَاصِرُ بْنُ عَبْدِ الْكَرِيمِ الْعَقْلِ
دَارُ الْوَطَنِ لِلنَّشْرِ
الرِّيَاضُ – شَارِعُ الْعُلْيَا الْعَامُّ – ص.ب
٤٦٤٤٦٥٩ – ٤٦٢٦١٢٤
Dar al-Wathan untuk Penerbitan
Riyadh – Jalan al-‘Ulya al-‘Am
P.O. Box: 4644659 – 4626124
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang.
مُقَدِّمَةٌ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ,
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ.
Segala puji bagi Allah. Kami memuji-Nya, memohon
pertolongan kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan bertaubat kepada-Nya.
وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ
شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا, مَنْ
يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri
kami dan dari keburukan amal-amal kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh
Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang
disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ,
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak
disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa
Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
وَبَعْدُ:
Wa ba‘dua (adapun setelah itu).
هَذِهِ نُبْذَةٌ فِي أُصُولِ أَهْلِ السُّنَّةِ
وَالْجَمَاعَةِ فِي الْعَقِيدَةِ.
Ini adalah sebuah
ringkasan tentang pokok-pokok Ahlus Sunnah wal Jama‘ah dalam masalah akidah.
تَمَّ إِعْدَادُهَا وَنَشْرُهَا اسْتِجَابَةً
لِكَثِيرِينَ مِنَ الْقُرَّاءِ - طُلَّابِ الْعِلْمِ مِنْهُمْ وَالْعَامَّةِ -فِي ضَرُورَةِ عَرْضِ
أُصُولِ عَقِيدَةِ السَّلَفِ وَقَوَاعِدِهَا.
Telah disusun dan diterbitkan sebagai respons terhadap banyak
permintaan dari para pembaca —baik dari
kalangan penuntut ilmu maupun masyarakat umum—tentang perlunya pemaparan
pokok-pokok akidah salaf dan kaidah-kaidahnya.
بِعِبَارَةٍ مُوجَزَةٍ
وَأُسْلُوبٍ وَاضِحٍ, مَعَ الِالْتِزَامِ بِالْأَلْفَاظِ الشَّرْعِيَّةِ
الْمَأْثُورَةِ عَنِ الْأَئِمَّةِ قَدْرَ الْإِمْكَانِ.
Dengan ungkapan yang ringkas dan gaya bahasa
yang jelas, serta tetap berpegang pada lafadz-lafadz syar‘i yang diriwayatkan
dari para imam, sesuai kemampuan.
لِذٰلِكَ خَلَا الْبَحْثُ
مِنَ التَّفْصِيلَاتِ وَالتَّعَارِيفِ وَالْأَدِلَّةِ وَالْأَسْمَاءِ وَالنُّقُولِ
وَالْهَوَامِشِ الَّتِي قَدْ تَكُونُ ضَرُورِيَّةً أَحْيَانًا.
Oleh karena itu,
pembahasan ini sengaja dibuat tanpa rincian panjang, tanpa definisi,
dalil-dalil, penyebutan nama-nama, kutipan-kutipan, dan catatan kaki, yang
terkadang memang diperlukan.
فَإِنَّ الرَّغْبَةَ فِي تَحْقِيقِ هٰذَا
الْمَطْلَبِ فِي كُتَيِّبٍ خَفِيفِ الْمَحْمَلِ وَالْمَؤُونَةِ حَالَتْ دُونَ
ذٰلِكَ.
Karena sesungguhnya keinginan untuk mewujudkan hal itu dalam
sebuah buku kecil yang ringan dibawa dan tidak memberatkan telah menghalangi
terwujudnya hal tersebut.
وَلَعَلَّ هٰذَا الْبَحْثَ يَكُونُ نَوَاةَ
مُؤَلَّفٍ مُتَخَصِّصٍ يَسْتَوْفِي مَا نَقَصَ, وَيُلَبِّي
رَغْبَةَ الْمُسْتَزِيدِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ.
Mudah-mudahan kajian
ini dapat menjadi cikal bakal bagi sebuah karya ilmiah khusus yang lebih
lengkap, yang menyempurnakan kekurangan yang ada dan memenuhi keinginan para
pembaca yang ingin menambah wawasan, insya Allah.
هَذَا, وَقَدْ تَمَّ عَرْضُهُ عَلَى
كُلٍّ مِنْ:
Demikianlah,
dan sungguh naskah ini telah ditelaah oleh masing-masing dari:
فَضِيلَةِ الشَّيْخِ
عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ نَاصِرٍ الْبَرَّاكِ.
Yang mulia Syaikh
‘Abdurrahman bin Nashir al-Barrak.
وَفَضِيلَةِ الشَّيْخِ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْغُنَيْمَانِ.
Yang mulia Syaikh ‘Abdullah bin
Muhammad al-Ghunayman.
وَالدُّكْتُورِ حَمْزَةَ
بْنِ حُسَيْنٍ الْفَعْرِ.
Dr. Hamzah bin
Husain al-Fa‘r,
وَالدُّكْتُورِ سَفَرِ
بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحَوَالِيِّ.
Dr. Safar bin
‘Abdurrahman al-Hawali.
وَأَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يَجْعَلَ
عَمَلَنَا خَالِصًا لِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ.
Dan
aku memohon kepada Allah Ta‘ala agar menjadikan amal kami ini ikhlas
semata-mata karena wajah-Nya yang mulia.
وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى
الْمَبْعُوثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ, نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ, وَآلِهِ, وَصَحْبِهِ, وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ
الدِّينِ.
Semoga
Allah melimpahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepada utusan yang diutus
sebagai rahmat bagi seluruh alam, Nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga
beliau, para sahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan
baik hingga hari Kiamat.
كَتَبَهُ نَاصِرُ بْنُ عَبْدِ الْكَرِيمِ
الْعَقْلِ
فِي ٣ / ٩ / ١٤١١هـ
Ditulis
oleh: Nashir bin ‘Abd al-Karim al-‘Aql
pada tanggal 3 Ramadhan 1411 H Bertepatan
masehi (19 Maret 1991 M).
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama
Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
مُقَدِّمَةٌ
Pendahuluan
اَلْعَقِيدَةُ لُغَةً: مِنَ الْعَقْدِ وَالتَّوْثِيقِ
وَالْإِحْكَامِ وَالرَّبْطِ
بِقُوَّةٍ.
Akidah
secara bahasa: berasal dari kata al-‘aqd yang bermakna ikatan, pengokohan,
penguatan, dan pengikatan dengan kuat.
وَاصْطِلَاحًا: الْإِيمَانُ الْجَازِمُ الَّذِي
لَا يَتَطَرَّقُ إِلَيْهِ شَكٌّ لَدَى مُعْتَقِدِهِ.
Sedangkan
secara istilah: keyakinan yang pasti dan tegas, yang tidak dimasuki oleh
keraguan sedikit pun pada diri orang yang meyakininya.
فَالْعَقِيدَةُ الْإِسْلَامِيَّةُ تَعْنِي :الْإِيمَانَ
الْجَازِمَ بِاللَّهِ تَعَالَى وَمَا يَجِبُ لَهُ مِنَ التَّوْحِيدِ وَالطَّاعَةِ
وَبِمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْقَدَرِ وَسَائِرِ مَا ثَبَتَ مِنْ أُمُورِ الْغَيْبِ
وَالْأَخْبَارِ وَالْقَطْعِيَّاتِ عِلْمِيَّةً
كَانَتْ أَوْ عَمَلِيَّةً.
Maka
akidah Islam berarti: keyakinan yang pasti kepada Allah ta‘ala beserta segala
yang wajib bagi-Nya berupa tauhid dan ketaatan iman kepada para malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, takdir, serta seluruh perkara
lain yang telah ditetapkan kebenarannya, baik yang berkaitan dengan
urusan-urusan gaib, berita-berita (wahyu), maupun hal-hal yang bersifat pasti, baik
secara ilmiah maupun amaliah.
السَّلَفُ : هُمْ
صَدْرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَأَئِمَّةُ الْهُدَى
فِي الْقُرُونِ الثَّلَاثَةِ الْمُفَضَّلَةِ ,وَيُطْلَقُ عَلَى كُلِّ مَنْ
اقْتَدَى بِهَؤُلَاءِ وَسَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ فِي سَائِرِ الْعُصُورِ : سَلَفِيٌّ
نِسْبَةً إِلَيْهِمْ.
Salaf
adalah generasi terdahulu dari umat ini, yaitu para sahabat, para tabi‘in, dan
para imam petunjuk pada tiga generasi yang utama. Dan setiap orang yang
mengikuti mereka serta menempuh manhaj (jalan) mereka pada seluruh masa disebut
Salafi, sebagai bentuk penisbatan kepada mereka.
أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ: هُمْ مَنْ
كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا كَانَ عَلَيْهِ النَّبِيُّ وَأَصْحَابُهُ.
Ahlus
Sunnah wal Jama‘ah adalah orang-orang yang berada di atas apa yang dahulu
ditempuh oleh Nabi dan para sahabat beliau.
وَسُمُّوا أَهْلَ السُّنَّةِ :لِاسْتِمْسَاكِهِمْ
وَاتِّبَاعِهِمْ سُنَّةَ النَّبِيِّ ﷺ.
Mereka dinamakan Ahlus Sunnah karena
berpegang teguh dan mengikuti Sunnah Nabi ﷺ.
وَسُمُّوا الْجَمَاعَةَ :لِأَنَّهُمُ الَّذِينَ
اجْتَمَعُوا عَلَى الْحَقِّ وَلَمْ
يَتَفَرَّقُوا فِي الدِّينِ وَاجْتَمَعُوا عَلَى أَئِمَّةِ الْهُدَى وَلَمْ
يَخْرُجُوا عَلَيْهِمْ وَاتَّبَعُوا
مَا أَجْمَعَ عَلَيْهِ سَلَفُ الْأُمَّةِ.
Dan
mereka dinamakan al-Jama‘ah karena merekalah orang-orang yang bersatu di atas
kebenaran, tidak berpecah-belah dalam agama, bersatu di bawah para imam
petunjuk, tidak memberontak terhadap mereka, serta mengikuti apa yang telah
menjadi kesepakatan para salaf umat ini.
وَلَمَّا كَانُوا هُمُ الْمُتَّبِعِينَ لِسُنَّةِ
رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
الْمُقْتَفِينَ لِلْأَثَرِ سُمُّوا
أَهْلَ الْحَدِيثِ وَأَهْلَ الْأَثَرِ وَأَهْلَ
الِاتِّبَاع وَيُسَمَّوْنَ
الطَّائِفَةَ الْمَنْصُورَةَ وَالْفِرْقَةَ النَّاجِيَة.
Dan karena merekalah orang-orang
yang mengikuti Sunnah Rasulullah menelusuri jejak (atsar) beliau, maka mereka
disebut Ahlul Hadits, Ahlul Atsar, dan Ahlul Ittiba‘. Mereka juga disebut
ath-Tha’ifah al-Manshurah
(golongan yang ditolong) dan
al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat).
Pertama:
أَوَّلًا:
قَوَاعِدُ
وَأُصُولٌ
فِي مَنْهَجِ
التَّلَقِّي وَالِاسْتِدْلَالِ
Kaidah dan
Prinsip dalam Metode Pengambilan Ilmu dan Penetapan Dalil
١- مَصْدَرُ الْعَقِيدَةِ
هُوَ كِتَابُ اللَّهِ وَسُنَّةُ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
الصَّحِيحَةُ وَإِجْمَاعُ السَّلَفِ الصَّالِحِ.
1.Sumber
akidah adalah Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi
wa sallam yang
sahih, dan ijma‘ salafus shalih.
Penjelasan:
Wajibnya kita berpegang kepada Al Qur’an, Sunnah dan
Ijma’.
1. Berpegang kepada Kitab Allah (Al Qur’an).
Di antara dalilnya yaitu firman Allah ta’ala:
ذَلِكَ
الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ.
“Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya;
petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. Al Baqarah[2]: 2).
تِلْكَ آيَاتُ
الْكِتَابِ الْحَكِيمِ . هُدًى وَرَحْمَةً لِلْمُحْسِنِينَ.
“Inilah ayat-ayat Al Quran yang mengandung
hikmah, Menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat
kebaikan.” (QS. Luqman[31]: 2-3).
الر كِتَابٌ
أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ
بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ.
“Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang kami turunkan
kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya
terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha
Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim[14]: 1).
آمَنَ
الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ.
“Rasul telah
beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadaNya dari Tuhannya, demikian pula
orang-orang yang beriman.” (QS.Al Baqarah[2]:285).
2. Berpegang kepada Sunnah Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam (Al Hadits) .
Perintah
Allah agar kita taat kepada Rasulullah.
وَمَا
أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ.
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul melainkan untuk
ditaati dengan izin Allah..” (QS.An-Nisa[4]:64).
فَلَا
وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ
لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman
sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang
mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati
mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan
sepenuhnya.” (QS.An-Nisa[4]:65).
مَنْ يُطِعِ
الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ.
“Barang siapa mentaati Rasul (Muhammad) sesungguhnya
dia telah mentaati Allah.” (QS. An-Nisa[4]:80).
وَمَن يُطِعِ
ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
”Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka
sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab[33]:71).
Adapun dali dari hadits di antaranya sebagai berikut:
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنِّي قَدْ
تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللَّهِ
وَسُنَّتِي وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ.
“Aku telah tinggalkan pada kamu dua
perkara, kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab
Allah dan Sunnah Rasul-Nya sampai kalian bertemu denganku di telaga.” (HR. al-Hakim
di dalam mustadraknya no. 319, Disahihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam
Sahihul Jami’ no. 2937).
Dari
abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ
بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ
وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ.
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya,
tidaklah seorang pun dari umat ini baik Yahudi maupun Nasrani mendengar tentang
aku, kemudian ia meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada ajaran yang
aku bawa, melainkan ia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim No. 153, Ahmad No.
8203).
Allah mengancam orang-orang yang tidak mau taat kepada
Allah dan Rasul-Nya.
وَمَنْ
يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّحُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا
فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ.
“Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan
Rasul-Nya dan melanggar batas-batas hukum-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke
dalam api neraka, dia kekal di dalamnya dan dia akan mendapat azab yang
menghinakan.” (QS. An-Nisa [4]:14)
إِنَّ
الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ كُبِتُوا كَمَا كُبِتَ الَّذِينَ مِنْ
قَبْلِهِمْ.
“Sesungguhnya orang-orang yang menentang
Allah dan Rasul-Nya pasti mendapat kehinaan, sebagaimana orang-orang yang
sebelum mereka telah mendapat kehinaan.”(QS. Al-Mujadilah[58]: ayat 5).
3.
Ijma’ Para Sahabat.
Ijma’
para sahabat merupakan hujjah( dalil).
Allah
ta’ala berfirman:
كُنتُمْ
خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ
عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّه.
“Kamu adalah umat yang terbaik yang
dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang
munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran [3] : 110).
فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ
فَقَدِ اهْتَدَوْا.
“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman
kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk..” (QS. Al Baqarah [2]: 137).
خَيْرُ
النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ.
“Sebaik-baik generasi adalah generasiku,
kemudian generasi setelah mereka, kemudian setelah mereka lagi.” (HR.
al-Bukhari no. 2652, Muslim no. 2533. Dengan lafald dari al-Bukhari).
لاَ
تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا
بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ.
“Jangan kalian mencela para sahabatku,
seandainya salah seorang kalian menginfakkan emas sebesar Uhud tidak akan bisa
menyamai satu mud-nya mereka tidak juga setengahnya.”(HR. al-Bukhari no. 3673, Muslim no. 2540).
إنَّ اللَّهَ
لَا يَجْمَعُ هَذِهِ الْأُمَّةَ عَلَى ضَلَالَةٍ أَبَدًا.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umat ini
di atas kesesatan selamanya.” (HR. Ibnu Majah no. 3940, al-Hakim no. 201-202,
at- Tirmidzi no. 2269 dan diShahihkan syaikh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no.
1848, al-Misykah no. 173).
Allah
mengancam orang-orang yang menyelisihi jalan para sahabat.
Allah ta’ala berfirman:
وَمَنْ
يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ
سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ
مَصِيرًا.
“Dan barang siapa menentang Rasul
(Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan
jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah
dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan
Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa [4]: 115).
Ini merupakan pokok utama bagaimana seorang
mukmin di dalam mengambil sumber Aqidah di dalam memahami agama mereka, jika
mereka meninggalkan pemahaman ini (Al-Qur’an, Sunnah dan ijma’ para Sahabat)
sudah bisa dipastikan mereka pasti akan tersesat, dan mereka di ancam dengan
neraka sebagaimana ayat di atas.
Demikianlah semoga Allah menjaga kita dari
ketergelinciran dan kesesatan.
Sragen
10-01-2026.
Abu
Ibrahim Junaedi Abdullah.
٢- كُلُّ مَا
صَحَّ مِنْ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
وَجَبَ قَبُولُهُ وَإِنْ كَانَ آحَادًا.
2.Setiap yang sahih dari sunnah Rasulullah ﷺ wajib diterima,
meskipun berstatus hadis ahad.
٣- الْمَرْجِعُ
فِي فَهْمِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ هُوَ النُّصُوصُ الْمُبَيِّنَةُ لَهُمَا
وَفَهْمُ السَّلَفِ الصَّالِح وَمَنْ سَارَ
عَلَى مَنْهَجِهِمْ مِنَ الْأَئِمَّةِ وَلَا يُعَارَضُ مَا ثَبَتَ مِنْ ذَلِكَ
بِمُجَرَّدِ احْتِمَالَاتٍ لُغَوِيَّةٍ.
3. Rujukan dalam memahami Al-Qur’an dan Sunnah
adalah nash-nash yang saling menjelaskan, pemahaman salafus shalih, serta para
imam yang menempuh manhaj mereka. Tidak boleh menentang sesuatu yang telah
tetap dengan sekadar kemungkinan-kemungkinan bahasa.
٤- أُصُولُ
الدِّينِ كُلُّهَا قَدْ بَيَّنَهَا النَّبِيُّ ﷺ
وَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يُحْدِثَ شَيْئًا زَاعِمًا أَنَّهُ مِنَ الدِّينِ.
4.Seluruh pokok agama telah
dijelaskan oleh Nabi, dan tidak seorang pun berhak mengada-adakan sesuatu
dengan mengklaimnya sebagai bagian dari agama.
٥- التَّسْلِيمُ
لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ ﷺ
ظَاهِرًا وَبَاطِنًا فَلَا يُعَارَضُ شَيْءٌ مِنَ الْكِتَابِ أَوِ السُّنَّةِ الصَّحِيحَةِ
بِقِيَاسٍ وَلَا ذَوْقٍ وَلَا كَشْفٍ وَلَا قَوْلِ شَيْخٍ وَلَا إِمَامٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ.
5.Berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya baik
secara lahir maupun batin. Maka tidak boleh menentang sesuatu pun dari
Al-Qur’an atau Sunnah yang sahih dengan qiyas, perasaan (selera), klaim kasyaf,
pendapat seorang syaikh, imam, atau yang semisalnya.
٦- الْعَقْلُ الصَّرِيحُ مُوَافِقٌ
لِلنَّقْلِ الصَّحِيحِ وَلَا يَتَعَارَضُ قَطْعِيَّانِ مِنْهُمَا أَبَدًا وَعِنْدَ
تَوَهُّمِ التَّعَارُضِ يُقَدَّمُ النَّقْلُ.
6.Akal yang sehat dan jernih selaras dengan dalil yang sahih,
dan dua dalil yang sama-sama bersifat pasti tidak mungkin saling bertentangan
sama sekali. Jika terkesan ada pertentangan, maka yang didahulukan adalah dalil
naqli.
٧- يَجِبُ الِالْتِزَامُ بِالْأَلْفَاظِ
الشَّرْعِيَّةِ فِي الْعَقِيدَةِ وَتَجَنُّبُ الْأَلْفَاظِ الْبِدْعِيَّةِ
وَالْأَلْفَاظُ الْمُجْمَلَةُ الْمُحْتَمِلَةُ لِلْخَطَإِ وَالصَّوَابِ, يُسْتَفْسَرُ عَنْ مَعْنَاهَا فَمَا كَانَ حَقًّا, أُثْبِتَ بِلَفْظِهِ الشَّرْعِيِّ,
وَمَا كَانَ بَاطِلًا رُدَّ.
7.Wajib berpegang pada lafaz-lafaz syar‘i dalam masalah akidah dan
menjauhi lafadz-lafadz bid‘ah. Adapun lafadz-lafadz global yang mengandung
kemungkinan benar dan salah, maka ditafsirkan terlebih dahulu maksudnya: jika
maknanya benar, diterima dengan lafaz syar‘i, dan jika maknanya batil, maka
ditolak.
٨- الْعِصْمَةُ ثَابِتَةٌ لِلرَّسُولِ
وَالْأُمَّةُ فِي مَجْمُوعِهَا مَعْصُومَةٌ مِنَ الِاجْتِمَاعِ عَلَى ضَلَالَةٍ
وَأَمَّا آحَادُهَا فَلَا عِصْمَةَ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ. وَمَا اخْتُلِفَ فِيهِ
الْأَئِمَّةُ وَغَيْرُهُمْ فَمَرْجِعُهُ إِلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مَعَ
الِاعْتِذَارِ لِلْمُخْطِئِ مِنْ مُجْتَهِدِي الْأُمَّةِ.
8.Kemaksuman (terjaga dari kesalahan) ditetapkan
bagi Rasul. Adapun umat ini secara keseluruhan terjaga dari kesepakatan di atas
kesesatan. Namun individu-individu dari umat ini tidak ada yang ma‘shum(terjaga).
Perbedaan pendapat di kalangan para imam dan selain mereka maka kembali kepada
Al-qur’an dan Sunnah, disertai sikap memaafkan terhadap pejuang dari umat ini
yang keliru.
٩- فِي الْأُمَّةِ مُحَدَّثُونَ مُلْهَمُونَ, وَالرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ حَقٌّ وَهِيَ جُزْءٌ مِنَ النُّبُوَّةِ, وَالْفِرَاسَةُ الصَّادِقَةُ حَقٌّ.
وَهَذِهِ كَرَامَاتٌ وَمُبَشِّرَاتٌ ـ بِشَرْطِ مُوَافَقَتِهَا لِلشَّرْعِ ـ
وَلَيْسَتْ مَصْدَرًا لِلْعَقِيدَةِ وَلَا لِلتَّشْرِيعِ.
9.Di dalam umat ini terdapat orang-orang
yang diberi ilham, mimpi yang baik adalah benar dan merupakan bagian dari
kenabian, firasat yang benar juga merupakan kebenaran.Semua itu adalah kemuliaan
dan kabar gembira—dengan syarat sesuai dengan syariat—namun bukan menjadi
sumber akidah dan bukan pula sumber penetapan hukum syariat.
١٠- الْمِرَاءُ فِي الدِّينِ مَذْمُومٌ
وَالْمُجَادَلَةُ بِالْحُسْنَىٰ مَشْرُوعَةٌ .وَمَا صَحَّ
النَّهْيُ عَنِ الْخَوْضِ ,فِيهِ وَجَبَ امْتِثَالُ ذٰلِكَ.وَيَجِبُ
الْإِمْسَاكُ عَنِ الْخَوْضِ فِيمَا لَا عِلْمَ لِلْمُسْلِمِ بِهِ وَتَفْوِيضُ
عِلْمِ ذٰلِكَ إِلَىٰ عَالِمِهِ سُبْحَانَهُ.
10. Perdebatan (al-mira’) dalam urusan agama
adalah tercela, sedangkan berdialog dan berdiskusi dengan cara yang baik yaitu
(Berdebat) yang disyariatkan adalah yang dilakukan dengan cara yang baik.Adapun
perkara-perkara yang terdapat larangan yang sahih untuk memperdebatkannya, maka
wajib mematuhi larangan tersebut. Dan wajib menahan diri dari membahas
perkara-perkara yang tidak diketahui ilmunya oleh seorang muslim, serta
menyerahkan pengetahuan tentangnya kepada Yang Maha Mengetahui, Subhanahu wa
ta‘ala.
١١- يَجِبُ الِالْتِزَامُ بِمَنْهَجِ
الْوَحْيِ فِي الرَّدِّ كَمَا يَجِبُ فِي الِاعْتِقَادِ وَالتَّقْرِيرِ فَلَا
تُرَدُّ الْبِدْعَةُ بِبِدْعَةٍ وَلَا يُقَابَلُ التَّفْرِيطُ بِالْغُلُوِّ وَلَا
الْعَكْسُ.
11.Wajib berpegang pada manhaj wahyu dalam melakukan bantahan,
sebagaimana wajib berpegang padanya dalam berakidah dan menetap
kan prinsip. Maka tidak boleh membantah bid‘ah dengan bid‘ah, dan
tidak boleh menghadapi sikap meremehkan (tafrith) dengan sikap berlebih-lebihan
(ghuluw), dan sebaliknya.
١٢- كُلُّ مُحْدَثَةٍ فِي الدِّينِ بِدْعَةٌ وَكُلُّ
بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.
12. Setiap perkara baru dalam agama adalah bid‘ah, setiap bid‘ah
adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.
ثَانِيًا :
التَّوْحِيدُ الْعِلْمِيُّ الِاعْتِقَادِيُّ
Kedua:
Tauhid Ilmiah I‘tiqadi (Keyakinan/Akidah)
١ -الْأَصْلُ فِي
أَسْمَاءِ اللَّهِ وَصِفَاتِهِ: إِثْبَاتُ مَا أَثْبَتَهُ اللَّهُ لِنَفْسِهِ أَوْ
أَثْبَتَهُ لَهُ رَسُولُهُ ﷺ مِنْ غَيْرِ تَمْثِيلٍ وَلَا تَكْيِيفٍ وَنَفْيُ مَا نَفَاهُ اللَّهُ عَنْ
نَفْسِهِ أَوْ نَفَاهُ عَنْهُ رَسُولُهُ ﷺ مِنْ غَيْرِ تَحْرِيفٍ
وَلَا تَعْطِيلٍ كَمَا قَالَ تَعَالَىٰ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾ مَعَ الْإِيمَانِ بِمَعَانِي
أَلْفَاظِ النُّصُوصِ وَمَا دَلَّتْ عَلَيْهِ.
1.Pokok dasar dalam nama-nama dan
sifat-sifat Allah adalah:
menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya,
atau yang ditetapkan oleh Rasul-Nya untuk-Nya, tanpa menyerupai(tamtsil) dan
tanpa menanyakan bagaimana hakikatnya (takyif), serta meniadakan apa yang Allah
tiadakan dari diri-Nya, atau yang ditiadakan oleh Rasul-Nya dari-Nya,
tanpa merubah makna(tahrif) dan tanpa
meniadakan(ta‘thil), sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan
Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Dengan tetap beriman kepada makna lafadz-lafadz
nash nash dan apa yang ditunjukkannya.
٢- التَّمْثِيلُ وَالتَّعْطِيلُ فِي
أَسْمَاءِ اللَّهِ وَصِفَاتِهِ كُفْرٌ. أَمَّا التَّحْرِيفُ الَّذِي يُسَمِّيهِ
أَهْلُ الْبِدَعِ تَأْوِيلًا فَمِنْهُ مَا هُوَ كُفْرٌ كَتَأْوِيلَاتِ
الْبَاطِنِيَّةِ وَمِنْهُ, مَا هُوَ بِدْعَةٌ ضَلَالَةٌ كَتَأْوِيلَاتِ نُفَاةِ الصِّفَاتِ, وَمِنْهُ مَا يَقَعُ خَطَأً.
2.Menyerupakan
dan meniadakan dalam nama-nama dan
sifat-sifat Allah adalah kekufuran.
Adapun
tahrif (perubahan makna) yang oleh ahli bid‘ah dinamakan ta’wil, maka:
*sebagian
darinya adalah kekufuran, seperti ta’wil-ta’wil kaum bathiniyyah,
* sebagian
lagi merupakan bid‘ah yang sesat, seperti ta’wil-ta’wil orang-orang yang meniadakan
sifat-sifat Allah,
* dan
sebagian lainnya terjadi karena kesalahan (tidak disengaja).
٣ -وَحْدَةُ
الْوُجُودِ وَاعْتِقَادُ حُلُولِ اللَّهِ تَعَالَىٰ فِي شَيْءٍ مِنْ
مَخْلُوقَاتِهِ أَوِ اتِّحَادِهِ بِهِ كُلُّ ذٰلِكَ كُفْرٌ مُخْرِجٌ مِنَ
الْمِلَّةِ.
3.Paham kesatuan wujud, dan yakin bahwa Allah
ta‘ala menyatu (hulul) dalam salah satu makhluk-Nya, atau bersatu
(ittihad)dengannya, semuanya adalah kekufuran yang mengeluarkan dari agama
(Islam).
٤- الْإِيمَانُ بِالْمَلَائِكَةِ الْكِرَامِ
إِجْمَالًا. وَأَمَّا تَفْصِيلًا, فَبِمَا صَحَّ بِهِ الدَّلِيلُ,
مِنْ أَسْمَائِهِمْ, وَصِفَاتِهِمْ, وَأَعْمَالِهِمْ, بِحَسَبِ عِلْمِ الْمُكَلَّفِ.
4.Beriman
kepada para malaikat yang mulia secara global (ijmali).Adapun secara terperinci
(tafsili), maka beriman kepada apa yang ditetapkan oleh dalil yang sahih,
berupa nama-nama mereka, sifat-sifat mereka, dan tugas-tugas mereka, sesuai
dengan pengetahuan orang yang dibebani syariat (mukallaf).
ه- الْإِيمَانُ بِالْكُتُبِ الْمُنَزَّلَةِ جَمِيعِهَا وَأَنَّ
الْقُرْآنَ الْكَرِيمَ الْمُجِيرَ أَفْضَلُهَا وَنَاسِخُهَا وَأَنَّ مَا
قَبْلَهُ. طَرَأَ عَلَيْهِ التَّحْرِيفُ وَأَنَّهُ لِذٰلِكَ يَجِبُ
اتِّبَاعُهُ دُونَ مَا سَبَقَهُ.
5.Beriman kepada seluruh kitab yang diturunkan
oleh Allah, dan bahwa Al-qur’an Al-Karim yang menjaga (muhaymin) adalah yang
paling utama di antara semuanya serta menghapus (menasakh) kitab-kitab sebelumnya.
Kitab-kitab sebelum Al-qur’an telah mengalami perubahan dan perubahan (tahrif),
oleh karena itu wajib mengikuti Al-qur’an saja, bukan kitab-kitab yang
sebelumnya.
٦ -الْإِيمَانُ
بِأَنْبِيَاءِ اللَّهِ وَرُسُلِهِ ـ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ ـ
وَأَنَّهُمْ أَفْضَلُ مِمَّنْ سِوَاهُمْ مِنَ الْبَشَرِ وَمَنْ زَعَمَ غَيْرَ
ذٰلِكَ فَقَدْ كَفَرَ.
وَمَا صَحَّ فِيهِ الدَّلِيلُ بِعَيْنِهِ مِنْهُمْ,
وَجَبَ الْإِيمَانُ بِهِ مُعَيَّنًا, وَيَجِبُ الْإِيمَانُ بِسَائِرِهِمْ إِجْمَالًا. وَأَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَفْضَلُهُمْ وَآخِرُهُمْ وَأَنَّ اللَّهَ أَرْسَلَهُ لِلنَّاسِ جَمِيعًا.
6.Beriman kepada para nabi dan rasul Allah —
semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada mereka — dan bahwa mereka lebih
utama daripada seluruh manusia lainnya. Barang siapa menganggap selain mereka
lebih utama, maka ia telah kafir. Nabi dan rasul yang disebutkan secara jelas
oleh dalil yang sahih, maka wajib diimani secara khusus (satu per satu). Adapun
yang lainnya,wajib diimani secara global (ijmali). Dan bahwa Muhammad ﷺ adalah yang paling utama di antara mereka,
dan terakhir, serta Allah mengutus beliau kepada seluruh manusia.
٧- الإِيمَانُ بِانْقِطَاعِ الْوَحْيِ بَعْدَ
مُحَمَّدٍ ﷺ وَأَنَّهُ خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ.
وَمَنْ اعْتَقَدَ خِلَافَ ذٰلِكَ كَفَرَ.
7.Beriman bahwa wahyu telah terputus setelah
Muhammad ﷺ, dan bahwa beliau adalah penutup para nabi
dan rasul. Barang siapa meyakini selain itu, maka ia kafir.
٨- الإِيمَانُ بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَكُلِّ
مَا صَحَّ فِيهِ مِنَ الْأَخْبَارِ وَبِمَا يَتَقَدَّمُهُ مِنَ الْعَلَامَاتِ
وَالْأَشْرَاطِ.
8.Beriman kepada hari akhir, dan kepada segala
berita yang sahih tentangnya, serta tanda-tanda dan peristiwa-peristiwa yang
mendahuluinya.
٩ - الإِيمَانُ بِالْقَدَرِخَيْرِهِ وَشَرِّهِ مِنَ
اللَّهِ تَعَالَى وَذٰلِكَ: بِالْإِيمَانِ بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى عَلِمَ مَا
يَكُونُ قَبْلَ أَنْ يَكُونَ وَكَتَبَ ذٰلِكَ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ. وَأَنَّ مَا شَاءَ اللَّهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ
فَلَا يَكُونُ إِلَّا مَا يَشَاءُ وَاللَّهُ تَعَالَى عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
وَهُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ.
9. Beriman kepada takdir, baik dan buruknya
berasal dari Allah ta‘ala. Yaitu dengan beriman bahwa Allah ta‘ala telah
mengetahui segala sesuatu sebelum terjadi, dan telah menuliskannya di Lauhul
Mahfuzh. Apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa yang tidak Allah kehendaki
tidak akan terjadi, maka tidak ada sesuatu pun yang terjadi kecuali dengan
kehendak-Nya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, Pencipta segala sesuatu,
dan berbuat sesuai dengan apa yang Allah kehendaki.
١٠- الإِيمَانُ بِمَا
صَحَّ الدَّلِيلُ عَلَيْهِ مِنَ الْغَيْبِيَّاتِ كَالْعَرْشِ وَالْكُرْسِيِّ, وَالْجَنَّةِ وَالنَّارِ,
وَنَعِيمِ الْقَبْرِ وَعَذَابِهِ, وَالصِّرَاطِ وَالْمِيزَانِ,
وَغَيْرِهَا, دُونَ تَأْوِيلِ شَيْءٍ مِنْ ذٰلِكَ.
10.Beriman kepada perkara-perkara gaib yang
ditetapkan oleh dalil yang sahih, seperti ‘Arsy dan Kursi, surga dan neraka,
kenikmatan dan azab kubur, shirath dan mizan, serta yang lainnya, tanpa
menakwilkan sedikit pun dari perkara-perkara tersebut.
١١- الإِيمَانُ
بِشَفَاعَةِ النَّبِيِّ ﷺ, وَشَفَاعَةِ الْأَنْبِيَاءِ, وَالْمَلَائِكَةِ, وَالصَّالِحِينَ, وَغَيْرِهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, كَمَا جَاءَ تَفْصِيلُهُ فِي الْأَدِلَّةِ الصَّحِيحَةِ.
11.Beriman kepada syafa‘at Nabi ﷺ, syafa‘at para nabi, para malaikat,
orang-orang saleh, dan selain mereka pada hari kiamat, sebagaimana perinciannya
disebutkan dalam dalil-dalil yang sahih.
١٢- رُؤْيَةُ
الْمُؤْمِنِينَ لِرَبِّهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ,
فِي الْجَنَّةِ وَفِي الْمَحْشَرِ, حَقٌّ وَمَنْ أَنْكَرَهَا أَوْ أَوَّلَهَا,
فَهُوَ زَائِغٌ ضَالٌّ. وَهِيَ لَنْ تَقَعَ لِأَحَدٍ فِي الدُّنْيَا.
12.Orang-orang beriman akan melihat Rabb
mereka pada hari kiamat, di surga dan di padang mahsyar, hal itu adalah
kebenaran. Barang siapa mengingkarinya atau menakwilkannya, maka ia menyimpang
dan sesat. Dan hal itu tidak akan terjadi bagi siapa pun di dunia.
١٣- كَرَامَاتُ
الْأَوْلِيَاءِ وَالصَّالِحِينَ حَقٌّ. وَلَيْسَ كُلُّ أَمْرٍ خَارِقٍ لِلْعَادَةِ
كَرَامَةً, بَلْ قَدْ يَكُونُ اسْتِدْرَاجًا. وَقَدْ يَكُونُ مِنْ تَأْثِيرِ
الشَّيَاطِينِ وَالْمُبْطِلِينَ وَالْمِعْيَارُ فِي ذٰلِكَ مُوَافَقَةُ الْكِتَابِ
وَالسُّنَّةِ أَوْ عَدَمُهَا.
13.Memuliakan para wali wali
dan orang-orang shalih adalah benar. Namun tidak setiap kejadian luar biasa
(khariqul ‘adah) merupakan kemuliaan, bisa jadi itu istidraj. Bisa pula berasal
dari pengaruh setan atau orang-orang yang batil.Dan tolak ukur dalam hal ini
adalah kesesuaiannya dengan Al-qur’an dan Sunnah, atau tidak.
١٤- الْمُؤْمِنُونَ كُلُّهُمْ أَوْلِيَاءُ الرَّحْمَنِ وَكُلُّ مُؤْمِنٍ فِيهِ مِنَ الْوِلَايَةِ
بِقَدْرِ إِيمَانِهِ.
14.Seluruh orang beriman adalah wali-wali Allah
Yang Maha Pengasih, dan setiap orang beriman memiliki derajat kewalian sesuai
dengan kadar imannya.
ثَالِثًا:
التَّوْحِيدُ
الْإِرَادِيُّ الطَّلَبِيُّ (تَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ)
Ketiga:
Tauhid Iradi
Thalabi(Tauhid Uluhiyyah / Tauhid Ibadah)
١ -اللَّهُ تَعَالَى
وَاحِدٌ أَحَدٌ لَا شَرِيكَ لَهُ فِي رُبُوبِيَّتِهِ وَأُلُوهِيَّتِهِ وَأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ
وَهُوَ رَبُّ الْعَالَمِينَ الْمُسْتَحِقُّ وَحْدَهُ لِجَمِيعِ أَنْوَاعِ
الْعِبَادَةِ.
1.
Allah ta‘ala adalah Maha Esa lagi Maha
Tunggal, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, serta
nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Allahlah Rabb seluruh alam, dan yang berhak
satu-satunya atas seluruh jenis ibadah.
٢ -صَرْفُ شَيْءٍ مِنْ أَنْوَاعِ الْعِبَادَةِ
كَالْدُّعَاءِ وَالاسْتِغَاثَةِ وَالاسْتِعَانَةِ وَالنَّذْرِ وَالذَّبْحِ
وَالتَّوَكُّلِ وَالْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ وَالْحُبِّ وَنَحْوِهَا لِغَيْرِ اللَّهِ
تَعَالَى شِرْكٌ أَيًّا كَانَ الْمَقْصُودُ بِذٰلِكَ مَلَكًا مُقَرَّبًا أَوْ نَبِيًّا مُرْسَلًا أَوْ عَبْدًا صَالِحًا
أَوْ غَيْرَهُمْ.
2.Mengarahkan salah satu bentuk ibadah seperti
doa, meminta pertolongan (istighatsah), memohon bantuan (isti‘anah), bernadzar,
menyembelih, bertawakal, takut, berharap, cinta, dan semisalnya kepada selain
Allah ta‘ala adalah perbuatan syirik, siapa pun yang dituju dengan ibadah
tersebut, baik malaikat yang dekat (kepada Allah), nabi yang diutus, hamba yang
shalih, maupun selain mereka.
٣- مِنْ أُصُولِ الْعِبَادَةِ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى
يُعْبَدُ بِالْحُبِّ وَالْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ جَمِيعًا.
وَعِبَادَتُهُ بِبَعْضِهَا دُونَ بَعْضٍ ضَلالٌ. قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: مَنْ عَبَدَ
اللَّهَ بِالْحُبِّ وَحْدَهُ فَهُوَ زَنْدِيقٌ, وَمَنْ عَبَدَهُ بِالْخَوْفِ وَحْدَهُ فَهُوَ حَرُّورِيٌّ, وَمَنْ عَبَدَهُ بِالرَّجَاءِ وَحْدَهُ فَهُوَ مُرْجِئٌ.
3.Termasuk pokok-pokok ibadah adalah bahwa Allah
ta‘ala harus disembah dengan rasa cinta, takut, dan berharap secara bersamaan.
Menyembah-Nya hanya dengan sebagian dari ketiganya tanpa yang lain adalah
kesesatan. Sebagian ulama berkata: “Barang siapa menyembah Allah hanya dengan
cinta, maka ia zindik, barang siapa menyembah-Nya hanya dengan rasa takut, maka
ia Haruri, dan barang siapa menyembah-Nya hanya dengan harapan, maka ia
Murji’.”
٤- التَّسْلِيمُ وَالرِّضَا وَالطَّاعَةُ
الْمُطْلَقَةُ لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ وَالْإِيمَانُ بِاللَّهِ تَعَالَى حَكَمًا
مِنَ الْإِيمَانِ بِهِ رَبًّا وَإِلَهًا فَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي حُكْمِهِ
وَأَمْرِهِ. وَتَشْرِيعُ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَالتَّحَاكُمُ إِلَى
الطَّاغُوتِ وَاتِّبَاعُ غَيْرِ شَرِيعَةِ مُحَمَّدٍ ﷺ وَتَبْدِيلُ شَيْءٍ
مِنْهَا كُفْرٌ وَمَنْ زَعَمَ أَنَّ أَحَدًا يَسَعُهُ الْخُرُوجُ عَنْهَا فَقَدْ كَفَرَ.
4.Berserah diri, ridha, dan ketaatan mutlak
kepada Allah dan Rasul-Nya, serta beriman bahwa Allah ta‘ala sebagai Penetap
hukum merupakan bagian dari iman kepada-Nya sebagai Rabb dan Ilah. Maka tidak
ada sekutu bagi-Nya dalam hukum dan perintah-Nya.Mensyariatkan sesuatu yang
tidak Allah izinkan, berhukum kepada thaghut, mengikuti selain syariat Muhammad
ﷺ, dan mengganti sebagian darinya adalah
kekafiran. Barang siapa mengklaim bahwa ada seseorang yang dibolehkan keluar
dari syariat tersebut, maka sungguh ia telah kafir.
ه- الْحُكْمُ بِغَيْرِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ كُفْرٌ أَكْبَرُ وَقَدْ يَكُونُ
كُفْرًا دُونَ كُفْرٍ.
5.Hukum
dengan selain apa yang Allah turunkan adalah kekufuran paling besar, dan bisa
pula berupa kekufuran di bawah kekufuran (tidak sampai kufur besar).
فَالأَوَّلُ الْتِزَامُ شَرْعِ غَيْرِ شَرْعِ اللَّهِ أَوْ تَجْوِيزُ الْحُكْمِ بِهِ. وَالثَّانِي
الْعُدُولُ عَنْ شَرْعِ اللَّهِ فِي وَاقِعَةٍ مُعَيَّنَةٍ لِهَوًى مَعَ
الِالْتِزَامِ بِشَرْعِ اللَّهِ.
Yang
pertama adalah berkomitmen kepada syariat selain syariat Allah, atau menganggap
boleh berhukum dengannya.Dan yang kedua adalah menyimpang dari syariat Allah
pada suatu kasus tertentu karena hawa nafsu, sementara tetap berkomitmen kepada
syariat Allah.
٦ -تَقْسِيمُ الدِّينِ
إِلَى حَقِيقَةٍ يَتَمَيَّزُ بِهَا الْخَاصَّةُ,
وَشَرِيعَةٍ تَلْزَمُ الْعَامَّةَ دُونَ الْخَاصَّةِ,
وَفَصْلُ السِّيَاسَةِ أَوْ غَيْرِهَا عَنِ الدِّينِ بَاطِلٌ .بَلْ كُلُّ مَا
خَالَفَ الشَّرِيعَةَ مِنْ حَقِيقَةٍ أَوْ سِيَاسَةٍ أَوْ غَيْرِهَا, فَهُوَ إِمَّا كُفْرٌ وَإِمَّا ضَلَالٌ بِحَسَبِ دَرَجَتِهِ.
6.Pembagian
agama menjadi hakikat yang hanya dikhususkan bagi kalangan tertentu, dan
syariat yang diwajibkan bagi orang awam namun tidak bagi kalangan khusus, serta
memisahkan politik atau selainnya dari agama adalah batil. Bahkan setiap hal baik
berupa hakikat, atau politik, atau selainnya yang menyelisihi syariat, maka ia
antara dua kemungkinan: kekufuran atau kesesatan, sesuai dengan tingkatannya.
٧- لَا يَعْلَمُ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ
وَاعْتِقَادُ أَنَّ أَحَدًا غَيْرَ اللَّهِ يَعْلَمُ الْغَيْبَ كُفْرٌ مَعَ
الْإِيمَانِ بِأَنَّ اللَّهَ يُطْلِعُ بَعْضَ رُسُلِهِ عَلَى شَيْءٍ مِنَ
الْغَيْبِ.
7.Tidak ada yang mengetahui perkara gaib
kecuali Allah semata.Keyakinan bahwa ada selain Allah yang mengetahui perkara
gaib adalah kekufuran, dengan tetap beriman bahwa Allah memperlihatkan kepada
sebagian rasul-Nya sebagian dari perkara gaib.
٨- اعْتِقَادُ صِدْقِ الْمُنَجِّمِينَ
وَالْكُهَّانِ كُفْرٌ وَإِتْيَانُهُمْ وَالذَّهَابُ إِلَيْهِمْ كَبِيرَةٌ.
8.Meyakini kebenaran para ahli bintang dan para dukun adalah
kekufuran, sedangkan mendatangi dan pergi kepada mereka merupakan dosa besar.
٩ -الْوَسِيلَةُ
الْمَأْمُورُ بِهَا فِي الْقُرْآنِ هِيَ مَا يُقَرِّبُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى
مِنَ الطَّاعَاتِ الْمَشْرُوعَةِ. وَالتَّوَسُّلُ ثَلَاثَةُ أَنْوَاعٍ:
أ – مَشْرُوعٌ: وَهُوَ التَّوَسُّلُ إِلَى اللَّهِ
تَعَالَى بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ أَوْ بِعَمَلٍ صَالِحٍ مِنَ الْمُتَوَسِّلِ أَوْ
بِدُعَاءِ الْحَيِّ الصَّالِحِ.
ب – بِدْعِيٌّ: وَهُوَ التَّوَسُّلُ إِلَى اللَّهِ
تَعَالَى بِمَا لَمْ يَرِدْ فِي الشَّرْعِ كَالتَّوَسُّلِ بِذَوَاتِ الْأَنْبِيَاءِ
وَالصَّالِحِينَ أَوْ جَاهِهِمْ أَوْ حَقِّهِمْ أَوْ حُرْمَتِهِمْ وَنَحْوِ ذَلِكَ.
ج – شِرْكِيٌّ: وَهُوَ اتِّخَاذُ الْأَمْوَاتِ
وَسَائِطَ فِي الْعِبَادَةِ وَدُعَاؤُهُمْ وَطَلَبُ الْحَوَائِجِ مِنْهُمْ وَالِاسْتِعَانَةُ
بِهِمْ وَنَحْوُ ذَلِكَ.
9.Wasilah yang
diperintahkan dalam Al-qur’an adalah segala sesuatu yang dapat mendekatkan
kepada Allah Ta‘ala berupa ketaatan- ketaatan yang disyariatkan. Tawassul
terbagi menjadi tiga macam:
a. Tawassul yang
disyariatkan, yaitu bertawassul kepada Allah ta‘ala dengan nama-nama dan
sifat-sifat-Nya, atau dengan amal shalih dari orang yang bertawassul, atau
dengan doa orang shalih yang masih hidup.
b. Tawassul bid‘ah, yaitu
bertawassul kepada Allah ta‘ala dengan sesuatu yang tidak datang keterangannya
dalam syariat, seperti bertawassul dengan dzat para nabi dan orang-orang shalih,
atau dengan kedudukan mereka, hak mereka, kehormatan mereka, dan semisalnya.
c. Tawassul syirik, yaitu
menjadikan orang-orang yang telah meninggal sebagai perantara dalam ibadah,
berdoa kepada mereka, meminta kebutuhan kepada mereka, serta memohon
pertolongan kepada mereka, dan yang semisalnya.
١٠ -الْبَرَكَةُ مِنَ
اللَّهِ تَعَالَى يَخْتَصُّ بَعْضَ خَلْقِهِ بِمَا يَشَاءُ مِنْهَا فَلَا تَثْبُتُ
فِي شَيْءٍ إِلَّا بِدَلِيلٍ.وَهِيَ تَعْنِي كَثْرَةَ الْخَيْرِ
وَزِيَادَتَهُ, أَوْ ثُبُوتَهُ وَلُزُومَهُ.
وَهِيَ فِي الزَّمَانِ: كَلَيْلَةِ الْقَدْرِ
وَفِي الْمَكَانِ: كَالْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَةِ.
وَفِي الْأَشْيَاءِ: كَمَاءِ زَمْزَمَ.
وَفِي الْأَعْمَالِ: فَكُلُّ عَمَلٍ صَالِحٍ مُبَارَكٌ.
وَفِي الْأَشْخَاصِ: كَذَوَاتِ الْأَنْبِيَاءِ ,وَلَا يَجُوزُ
التَّبَرُّكُ بِالْأَشْخَاصِ – لَا بِذَوَاتِهِمْ
وَلَا آثَارِهِمْ – إِلَّا بِذَاتِ النَّبِيِّ
ﷺ وَآثَارِهِ إِذْ لَمْ يَرِدِ الدَّلِيلُ إِلَّا
بِهَا, وَقَدِ انْقَطَعَ ذَلِكَ بِمَوْتِهِ ﷺ وَذَهَابِ آثَارِهِ.
10.Keberkahan berasal dari Allah ta‘ala yang mengkhususkan
sebagian makhluk-Nya dengan keberkahan sesuai dengan kehendak-Nya. Keberkahan
tidak dapat ditetapkan pada sesuatu apa pun kecuali dengan dalil.Makna
keberkahan adalah banyaknya kebaikan dan bertambahnya, atau tetap dan
terus-menerusnya kebaikan tersebut.Keberkahan terdapat pada waktu: seperti
Lailatul Qadar.
pada tempat: seperti tiga masjid (Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid
Al-Aqsha).
pada benda: seperti air Zamzam.
pada amal: karena setiap amal shalih adalah amal yang diberkahi.
dan pada pribadi: seperti dzat para nabi.Tidak boleh bertabarruk (mengharap
berkah) kepada individu baik pada dzat mereka maupun peninggalan mereka kecuali
pada dzat Nabi ﷺ dan peninggalan
beliau. Hal itu karena dalil hanya menetapkannya pada beliau, dan hal tersebut
telah terputus dengan wafatnya beliau ﷺ
serta hilangnya peninggalan-peninggalan beliau.
١١ -التَّبَرُّكُ مِنَ الْأُمُورِ التَّوْقِيفِيَّةِ فَلَا يَجُوزُ التَّبَرُّكُ إِلَّا بِمَا وَرَدَ
بِهِ الدَّلِيلُ.
11.Tabarruk
(mengharap keberkahan) termasuk perkara yang bersifat tauqifi (harus
berdasarkan dalil), maka tidak boleh bertabarruk kecuali dengan sesuatu yang
telah ditetapkan oleh dalil.
١٢ -أَفْعَالُ النَّاسِ
عِنْدَ الْقُبُورِ وَزِيَارَتِهَا ثَلَاثَةُ أَنْوَاعٍ:
الأَوَّلُ: مَشْرُوعٌ وَهُوَ زِيَارَةُ الْقُبُورِ لِتَذَكُّرِ
الْآخِرَةِ وَلِلسَّلَامِ عَلَى أَهْلِهَا وَالدُّعَاءِ لَهُمْ.
الثَّانِي: بِدْعِيٌّ يُنَافِي كَمَالَ التَّوْحِيدِ وَهُوَ وَسِيلَةٌ
مِنْ وَسَائِلِ الشِّرْكِ وَهُوَ قَصْدُ عِبَادَةِ اللَّهِ تَعَالَى
وَالتَّقَرُّبِ إِلَيْهِ عِنْدَ الْقُبُورِ أَوْ قَصْدُ التَّبَرُّكِ بِهَا أَوْ
إِهْدَاءُ الثَّوَابِ عِنْدَهَا وَالْبِنَاءُ عَلَيْهَا وَتَخْصِيصُهَا
وَإِسْرَاجُهَا وَاتِّخَاذُهَا مَسَاجِدَ وَشَدُّ الرِّحَالِ إِلَيْهَا وَنَحْوُ
ذَلِكَ مِمَّا ثَبَتَ النَّهْيُ عَنْهُ أَوْ مِمَّا لَا أَصْلَ لَهُ فِي الشَّرْعِ.
الثَّالِثُ: شِرْكِيٌّ يُنَافِي التَّوْحِيدَ وَهُوَ صَرْفُ
شَيْءٍ مِنْ أَنْوَاعِ الْعِبَادَةِ لِصَاحِبِ الْقَبْرِكَدُعَائِهِ مِنْ دُونِ
اللَّهِ وَالِاسْتِعَانَةِ وَالِاسْتِغَاثَةِ بِهِ وَالطَّوَافِ وَالذَّبْحِ
وَالنَّذْرِ لَهُ وَنَحْوِ ذَلِكَ.
12.Perbuatan manusia di sisi kuburan dan dalam
mengunjunginya
terbagi menjadi tiga macam:
Pertama: yang disyariatkan, yaitu berziarah kubur
untuk mengingat akhirat, memberi salam kepada para penghuninya, dan mendoakan
mereka.
Kedua: yang bid‘ah, yang meniadakakan
kesempurnaan tauhid dan merupakan salah satu sarana menuju kesyirikan, yaitu
bertujuan beribadah kepada Allah ta‘ala dan mendekatkan diri kepada-Nya di sisi
kuburan, atau bertujuan mencari berkah darinya, atau menghadiahkan pahala di
sisinya, membangun bangunan di atasnya, mengkhususkannya, menyalakan lampu
padanya, menjadikannya sebagai masjid, melakukan perjalanan khusus ke sana, dan
semisalnya baik yang telah ada larangan terhadapnya maupun yang tidak memiliki
dasar dalam syariat.
Ketiga: perbuatan yang bersifat syirik, yang meniadakan
tauhid, yaitu memalingkan salah satu bentuk ibadah kepada penghuni kubur,
seperti berdoa kepadanya selain kepada Allah, meminta pertolongan dan
perlindungan kepadanya, melakukan thawaf, menyembelih, dan bernadzar untuknya,
serta perbuatan-perbuatan sejenis.
١٣ -الْوَسَائِلُ لَهَا
حُكْمُ الْمَقَاصِدِ. وَكُلُّ ذَرِيعَةٍ إِلَى الشِّرْكِ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ أَوِ
الِابْتِدَاعِ فِي الدِّينِ يَجِبُ سَدُّهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ فِي
الدِّينِ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.
13.Perantara perantara memiliki
hukum yang sama dengan tujuan. Setiap perantara yang mengantarkan kepada
kesyirikan dalam beribadah kepada Allah atau kepada perbuatan bid‘ah dalam
agama wajib ditutup. Karena setiap perkara baru dalam agama adalah bid‘ah, dan
setiap bid‘ah adalah kesesatan.
رَابِعًا:
الإِيمَانُ
KEEMPAT:
IMAN
١ -الإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ. فَهُوَ: قَوْلُ الْقَلْبِ,
وَاللِّسَانِ, وَعَمَلُ الْقَلْبِ وَاللِّسَان,ِ وَالْجَوَارِحِ.
فَقَوْلُ الْقَلْبِ: اعْتِقَادُهُ وَتَصْدِيقُهُ.
وَقَوْلُ اللِّسَانِ: إِقْرَارُهُ.
وَعَمَلُ الْقَلْبِ: تَسْلِيمُهُ وَإِخْلَاصُهُ وَإِذْعَانُهُ وَحُبُّهُ
وَإِرَادَتُهُ لِلْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ.
وَعَمَلُ الْجَوَارِحِ: فِعْلُ الْمَأْمُورَاتِ وَتَرْكُ الْمَنْهِيَّاتِ.
1.Iman adalah ucapan dan perbuatan: ia bertambah
dan berkurang. Iman mencakup ucapan hati dan lisan, serta amalan hati, lisan,
dan anggota badan.Ucapan hati adalah keyakinan dan pembenarannya.
Ucapan lisan adalah pengakuannya.
Amalan hati adalah kepasrahan, keikhlasan, ketundukan, kecintaan, dan
kehendaknya terhadap amal-amal shalih.
Sedangkan amalan anggota badan adalah melaksanakan perintah-perintah dan
meninggalkan larangan-larangan.
٢ -مَنْ أَخْرَجَ
الْعَمَلَ عَنِ الْإِيمَانِ فَهُوَ مُرْجِئٌ ,وَمَنْ أَدْخَلَ
فِيهِ مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ مُبْتَدِعٌ.
2.Barang siapa mengeluarkan
amal dari iman, maka ia adalah murji’ah, dan barang siapa memasukkan ke dalam
iman sesuatu yang bukan bagian darinya, maka ia adalah pelaku bid‘ah.
٣- مَنْ لَمْ يُقِرَّ بِالشَّهَادَتَيْنِ لَا
يَثْبُتُ لَهُ اسْمُ الْإِيمَانِ وَلَا حُكْمُهُ لَا فِي الدُّنْيَا وَلَا فِي
الْآخِرَةِ
3.Barang siapa tidak
mengakui dua kalimat syahadat, maka tidak ditetapkan baginya nama iman dan
tidak pula hukumnya, baik di dunia maupun di akhirat.
٤- الْإِسْلَامُ وَالْإِيمَانُ اسْمَانِ شَرْعِيَّانِ
بَيْنَهُمَا عُمُومٌ وَخُصُوصٌ مِنْ وَجْهٍ وَيُسَمَّى أَهْلُ الْقِبْلَةِ
مُسْلِمِينَ.
4.Islam dan iman adalah dua
istilah syar‘i, keduanya memiliki hubungan umum dan khusus dari satu sisi. Dan
orang-orang yang menghadap kiblat disebut sebagai kaum muslimin.
ه -مُرْتَكِبُ الْكَبِيرَةِ لَا يَخْرُجُ
مِنَ الْإِيمَانِ, فَهُوَ فِي الدُّنْيَا مُؤْمِنٌ نَاقِصُ
الْإِيمَانِ, وَفِي الْآخِرَةِ تَحْتَ مَشِيئَةِ اللَّهِ إِنْ شَاءَ غَفَرَ
لَهُ وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ, وَالْمُوَحِّدُونَ كُلُّهُمْ مَصِيرُهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ
وَإِنْ عُذِّبَ مِنْهُمْ بِالنَّارِ مَنْ عُذِّبَ, وَلَا يُخَلَّدُ أَحَدٌ مِنْهُمْ فِيهَا قَطُّ.
5.Pelaku
dosa besar tidak keluar dari iman, di dunia ia adalah seorang mukmin dengan
iman yang berkurang, dan di akhirat ia berada di bawah kehendak Allah jika
Allah menghendaki Dia mengampuninya, dan jika Allah menghendaki maka Allah
mengadzabnya.Dan seluruh orang-orang yang bertauhid, tempat kembali mereka menuju
surga.Dan meskipun ada di antara mereka yang diazab di neraka, tidak ada
seorang pun dari mereka yang akan kekal di dalamnya selama-lamanya.
٦ -لَا يَجُوزُ
الْقَطْعُ لِمُعَيَّنٍ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ بِالْجَنَّةِ أَوِ النَّارِ إِلَّا
مَنْ ثَبَتَ النَّصُّ فِي حَقِّهِ.
6. Tidak boleh memastikan
secara tegas seseorang tertentu dari kalangan Ahli qiblat masuk surga atau
neraka, kecuali orang yang telah ditetapkan nash tentangnya.
٧ -الْكُفْرُ فِي الْأَلْفَاظِ
الشَّرْعِيَّةِ قِسْمَانِ: أَكْبَرُ مُخْرِجٌ مِنَ الْمِلَّةِ وَأَصْغَرُ غَيْرُ مُخْرِجٍ مِنَ الْمِلَّةِ
وَيُسَمَّى أَحْيَانًا بِالْكُفْرِ الْعَمَلِيِّ.
7. Kekufuran dalam istilah
syariat terbagi menjadi dua: kufur besar yang mengeluarkan dari agama, dan
kufur kecil yang tidak mengeluarkan dari agama, yang terkadang disebut sebagai
kufur perbuatan.
٨ -التَّكْفِيرُ مِنَ
الْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الَّتِي مَرْدُّهَا إِلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فَلَا يَجُوزُ تَكْفِيرُ مُسْلِمٍ بِقَوْلٍ أَوْ
فِعْلٍ مَا لَمْ يَدُلَّ دَلِيلٌ شَرْعِيٌّ عَلَى ذَلِكَ وَلَا يَلْزَمُ
مِنْ إِطْلَاقِ حُكْمِ الْكُفْرِ عَلَى قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ ثُبُوتُ مُوجِبِهِ فِي
حَقِّ الْمُعَيَّنِ إِلَّا إِذَا تَحَقَّقَتِ الشُّرُوطُ وَانْتَفَتِ
الْمَوَانِعُ. وَالتَّكْفِيرُ مِنْ أَخْطَرِ الْأَحْكَامِ فَيَجِبُ
التَّثَبُّتُ وَالْحَذَرُ مِنْ تَكْفِيرِ الْمُسْلِمِ.
8. Pengkafiran (takfir) termasuk hukum-hukum
syariat yang kembali kepada Al-qur’an dan Sunnah. Maka tidak boleh mengkafirkan
seorang Muslim dengan ucapan atau perbuatan, kecuali ada dalil syar‘i yang
menunjukkan hal tersebut. Dan tidak otomatis penetapan hukum kufur atas suatu
ucapan atau perbuatan menjadikan hukum itu berlaku pada individu tertentu,
kecuali setelah terpenuhi syarat-syaratnya dan hilang penghalang-penghalangnya.
Takfir merupakan salah satu hukum yang paling berbahaya, sehingga wajib
bersikap hati-hati dan penuh kehati-hatian dalam mengkafirkan seorang muslim.
خَامِسًا:
الْقُرْآنُ وَالْكَلَامُ
Kelima:
Al-qur’an dan Kalam (sifat berbicara Allah)
١ -الْقُرْآنُ كَلَامُ
اللَّهِ (حُرُوفُهُ وَمَعَانِيهِ) مُنَزَّلٌ غَيْرُ مَخْلُوقٍ مِنْهُ بَدَأَ وَإِلَيْهِ
يَعُودُ وَهُوَ مُعْجِزٌ دَالٌّ عَلَى صِدْقِ مَنْ جَاءَ بِهِ ﷺ وَمَحْفُوظٌ إِلَى
يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
1.Al-qur’an adalah kalam Allah—huruf dan
maknanya—diturunkan dan tidak diciptakan, dari-Nya bermula dan kepada-Nya
kembali. Ia bersifat mukjizat yang menunjukkan kebenaran orang yang membawanya,
yaitu Nabi ﷺ, dan terjaga hingga Hari Kiamat.
٢ -اللَّهُ تَعَالَى
يَتَكَلَّمُ بِمَا شَاءَ مَتَى شَاءَ كَيْفَ شَاءَ وَكَلَامُهُ تَعَالَى حَقِيقَةٌ
بِحَرْفٍ وَصَوْتٍ وَالْكَيْفِيَّةُ لَا نَعْلَمُهَا وَلَا نَخُوضُ فِيهَا.
2.Allah ta‘ala berbicara dengan apa yang di kehendaki,
kapan di kehendaki, dan bagaimana menghendaki. Kalam Allah adalah hakikat,
dengan huruf dan suara, adapun bagaimana hakikatnya, kita tidak mengetahuinya
dan tidak membahasnya.
٣ -الْقَوْلُ بِأَنَّ كَلَامَ اللَّهِ مَعْنًى
نَفْسِيٌّ أَوْ أَنَّ الْقُرْآنَ حِكَايَةٌ أَوْ عِبَارَةٌ أَوْ مَجَازٌ أَوْ فَيْضٌ وَمَا
أَشْبَهَ ذَلِكَ ضَلَالٌ وَزَيْغٌ وَقَدْ يَكُونُ كُفْرًا.
3.Pernyataan bahwa kalam
Allah hanyalah makna batin (makna dalam jiwa), atau bahwa Al-Qur’an hanyalah
hikayat, ungkapan, majas, atau pancaran (emanasi), dan semisalnya adalah
kesesatan dan penyimpangan, dan bisa sampai pada kekufuran.
٤ -مَنْ أَنْكَرَ
شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ أَوِ ادَّعَى فِيهِ النُّقْصَانَ أَوِ الزِّيَادَةَ أَوِ
التَّحْرِيفَ فَهُوَ كَافِرٌ.
4.Barang siapa mengingkari
sesuatu dari Al-qur’an, atau mengklaim adanya pengurangan, penambahan, atau
perubahan (tahrif) padanya, maka ia kafir.
ه- الْقُرْآنُ يَجِبُ أَنْ يُفَسَّرَ بِمَا هُوَ
مَعْلُومٌ مِنْ مَنْهَجِ السَّلَفِ وَلَا يَجُوزُ تَفْسِيرُهُ بِالرَّأْيِ
الْمُجَرَّدِ فَإِنَّهُ مِنَ الْقَوْلِ عَلَى اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ.
وَتَأْوِيلُهُ بِتَأْوِيلَاتِ الْبَاطِنِيَّةِ وَأَمْثَالِهَا كُفْرٌ
5.Al-qur’an wajib
ditafsirkan sesuai dengan metode yang dikenal dari manhaj para salaf. Tidak
boleh menafsirkannya dengan pendapat semata, karena itu termasuk berkata atas
nama Allah tanpa ilmu. Menakwilkannya dengan takwil-takwil batiniyah dan yang
semisalnya adalah kekufuran.
سَادِسًا :
الْقَدَرُ
KEENAM:
TAKDIR
١- مِنْ أَرْكَانِ الْإِيمَانِ الْإِيمَانُ بِالْقَدَرِ, خَيْرِهِ وَشَرِّهِ,
مِنَ اللَّهِ تَعَالَى, وَيَشْمَلُ :
الْإِيمَانَ بِكُلِّ نُصُوصِ الْقَدَرِ
وَمَرَاتِبِهِ:
)الْعِلْمِ وَالْكِتَابَةِ وَالْمَشِيئَةِ
وَالْخَلْقِ (
وَأَنَّهُ تَعَالَى لَا رَادَّ لِقَضَائِهِ
وَلَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ.
1.Termasuk rukun iman
adalah beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk, semuanya dari Allah ta‘ala.
Iman kepada takdir mencakup iman terhadap seluruh nash tentang takdir dan
tingkatan-tingkatannya, yaitu: ilmu, pencatatan, kehendak, dan penciptaan.
Serta meyakini bahwa Allah ta‘ala tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya
dan tidak ada yang dapat membatalkan keputusan-Nya.
٢ -الْإِرَادَةُ
وَالْأَمْرُ الْوَارِدَانِ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ نَوْعَانِ :
أ - إِرَادَةٌ
كَوْنِيَّةٌ قَدَرِيَّةٌ (بِمَعْنَى الْمَشِيئَةِ) وَأَمْرٌ كَوْنِيٌّ قَدَرِيٌّ.
ب - إِرَادَةٌ
شَرْعِيَّةٌ (لَازِمُهَا الْمَحَبَّةُ) وَأَمْرٌ شَرْعِيٌّ.
وَلِلْمَخْلُوقِ إِرَادَةٌ وَمَشِيئَةٌ وَلَكِنَّهَا تَابِعَةٌ
لِإِرَادَةِ الْخَالِقِ وَمَشِيئَتِهِ.
2.Kehendak dan perintah yang terdapat dalam Al-kitab
dan Sunnah ada dua macam:
Pertama: kehendak kauni qadari (yakni kehendak atau masyi’ah), serta perintah
kauni qadari.
Kedua: kehendak syar‘i (yang konsekuensinya adalah kecintaan), serta perintah
syar‘i.
Makhluk memiliki kehendak dan kemauan, namun kehendak dan kemauan tersebut
mengikuti kehendak dan kemauan Sang Pencipta.
٣ -هِدَايَةُ الْعِبَادِ وَإِضْلَالُهُمْ
بِيَدِ اللَّهِ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَاهُ اللَّهُ فَضْلًاوَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ
عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ عَدْلًا.
3.Petunjuk dan kesesatan
para hamba berada di tangan Allah. Di antara mereka ada yang diberi petunjuk
oleh Allah sebagai karunia, dan di antara mereka ada yang ditetapkan atasnya
kesesatan sebagai bentuk keadilan.
٤ -الْعِبَادُ وَأَفْعَالُهُمْ مِنْ
مَخْلُوقَاتِ اللَّهِ تَعَالَى الَّذِي لَا خَالِقَ سِوَاهُ فَاللَّهُ
خَالِقٌ لِأَفْعَالِ الْعِبَادِ وَهُمْ فَاعِلُونَ لَهَا عَلَى الْحَقِيقَةِ.
4.Para hamba dan perbuatan-perbuatan mereka
termasuk makhluk Allah ta‘ala, yang tidak ada pencipta selain Allah. Maka Allah
adalah Pencipta untuk perbuatan para hamba, dan mereka benar-benar melakukan
perbuatan tersebut secara nyata.
ه- إِثْبَاتُ
الْحِكْمَةِ فِي أَفْعَالِ اللَّهِ تَعَالَى وَإِثْبَاتُ تَأْثِيرِ الْأَسْبَابِ
بِمَشِيئَةِ اللَّهِ تَعَالَى.
5.Menetapkan adanya hikmah dalam
perbuatan-perbuatan Allah ta‘ala, serta menetapkan bahwa sebab-sebab memiliki
pengaruh dengan kehendak Allah ta’ala.
٦ -الْآجَالُ مَكْتُوبَةٌ وَالْأَرْزَاقُ مَقْسُومَةٌ وَالسَّعَادَةُ وَالشَّقَاوَةُ مَكْتُوبَتَانِ عَلَى النَّاسِ قَبْلَ خَلْقِهِمْ.
6.Ajal-ajal telah ditetapkan, rezeki-rezeki telah
dibagikan, dan kebahagiaan serta kesengsaraan telah dituliskan atas manusia
sebelum mereka diciptakan.
٧ -الِاحْتِجَاجُ بِالْقَدَرِ يَكُونُ عَلَى الْمَصَائِبِ وَالْآلَامِ وَلَا يَجُوزُ الِاحْتِجَاجُ بِهِ عَلَى الْمَعَايِبِ وَالْآثَامِ بَلْ تَجِبُ التَّوْبَةُ مِنْهَا وَيُلَامُ فَاعِلُهَا.
7.Berdalil dengan takdir
dibenarkan dalam perkara musibah dan penderitaan, namun tidak boleh dijadikan
dalil dalam perkara aib dan dosa. Bahkan wajib bertaubat darinya, dan pelakunya
patut dicela.
٨ -الِانْقِطَاعُ
إِلَى الْأَسْبَابِ شِرْكٌ فِي التَّوْحِيدِ
وَالْإِعْرَاضُ عَنِ الْأَسْبَابِ بِالْكُلِّيَّةِ قَدْحٌ فِي الشَّرْعِ
وَنَفْيُ تَأْثِيرِ الْأَسْبَابِ مُخَالِفٌ لِلشَّرْعِ وَالْعَقْل
وَالتَّوَكُّلُ لَا يُنَافِي الْأَخْذَ بِالْأَسْبَابِ.
8.Bergantung sepenuhnya kepada sebab-sebab
merupakan kesyirikan dalam tauhid.
Berpaling dari sebab-sebab secara total adalah celaan terhadap syariat.
Meniadakan pengaruh sebab-sebab bertentangan dengan syariat dan akal.
Dan tawakal tidaklah bertentangan dengan mengambil sebab-sebab.
سَابِعًا :
الْجَمَاعَةُ وَالْإِمَامَةُ
Persatuan umat (di atas kebenaran) dan kepemimpinan
١ -الْجَمَاعَةُ – فِي هَذَا الْبَابِ
– هُمْ أَصْحَابُ النَّبِيِّ وَالتَّابِعُونَ
لَهُمْ بِإِحْسَانٍ الْمُتَمَسِّكُونَ بِآثَارِهِمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ
الْفِرْقَةُ النَّاجِيَةُ.
وَكُلُّ مَنْ الْتَزَمَ بِمَنْهَجِهِمْ فَهُوَ مِنَ الْجَمَاعَةِ وَإِنْ
أَخْطَأَ فِي بَعْضِ الْجُزْئِيَّاتِ.
1.Yang dimaksud dengan jamaah dalam
pembahasan ini adalah para sahabat Nabi, para tabi‘in yang mengikuti mereka
dengan baik, yang berpegang teguh pada jejak-jejak mereka hingga hari Kiamat.
Merekalah golongan yang selamat. Setiap orang yang berkomitmen dengan manhaj
mereka termasuk bagian dari jamaah, meskipun ia keliru dalam sebagian perkara
cabang.
٢ -لَا يَجُوزُ
التَّفَرُّقُ فِي الدِّينِ وَلَا الْفِتْنَةُ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ وَيَجِبُ
رَدُّ مَا اخْتَلَفَ فِيهِ الْمُسْلِمُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ
رَسُولِهِ وَمَا كَانَ عَلَيْهِ السَّلَفُ الصَّالِحُ.
2.Tidak boleh berpecah
belah dalam agama dan tidak boleh menimbulkan fitnah di tengah kaum muslimin.
Wajib mengembalikan perkara yang diperselisihkan kepada Kitab Allah, Sunnah
Rasul-Nya, dan apa yang telah ditempuh oleh para salaf saleh.
٣ -مَنْ خَرَجَ عَنِ الْجَمَاعَةِ وَجَبَ نُصْحُهُ
وَدَعْوَتُهُ وَمُجَادَلَتُهُ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ وَإِقَامَةُ الْحُجَّةِ
عَلَيْهِ فَإِنْ تَابَ وَإِلَّا عُوقِبَ بِمَا يَسْتَحِقُّ شَرْعًا.
3.Barang siapa keluar dari
jamaah, maka wajib dinasihati, diajak, didiskusikan dengan cara yang terbaik,
dan menegakkan dalil atasnya. Jika ia bertaubat maka diterima, jika tidak maka
ia dikenai sanksi sesuai ketentuan syariat.
٤ -إِنَّمَا يَجِبُ
حَمْلُ النَّاسِ عَلَى الْجُمَلِ الثَّابِتَةِ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ وَلَا يَجُوزُ امْتِحَانُ عَامَّةِ
الْمُسْلِمِينَ بِالْأُمُورِ الدَّقِيقَةِ وَالْمَعَانِي الْعَمِيقَةِ.
4.Yang wajib adalah membawa
manusia kepada prinsip-prinsip pokok yang telah tetap berdasarkan Al-qur’an,
Sunnah, dan ijma‘. Tidak boleh menguji kaum muslimin awam dengan
perkara-perkara yang rumit dan makna-makna yang mendalam.
٥ -الْأَصْلُ فِي
جَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ سَلَامَةُ الْقَصْدِ وَالْمُعْتَقَدِ حَتَّى يَظْهَرَ
خِلَافُ ذَلِكَ وَالْأَصْلُ حَمْلُ كَلَامِهِمْ عَلَى الْمَحْمَلِ الْحَسَنِ
وَمَنْ ظَهَرَ عِنَادُهُ وَسُوءُ قَصْدِهِ فَلَا يَجُوزُ تَكَلُّفُ
التَّأْوِيلَاتِ لَهُ.
5.Hukum asal seluruh kaum muslimin adalah baiknya
niat dan akidah mereka hingga tampak kebalikannya. Hukum asal ucapan mereka
dibawa kepada makna yang baik. Adapun orang yang tampak keras kepala dan buruk
niatnya, maka tidak boleh memaksakan penakwilan-penakwilan untuknya.
٦ -فِرَقُ أَهْلِ
الْقِبْلَةِ الْخَارِجَةُ عَنِ السُّنَّةِ مُتَوَعَّدُونَ بِالْهَلَاكِ وَالنَّار, وَحُكْمُهُمْ حُكْمُ عَامَّةِ أَهْلِ الْوَعِيدِ إِلَّا مَنْ
كَانَ مِنْهُمْ كَافِرًا فِي الْبَاطِنِ.
وَالْفِرَقُ الْخَارِجَةُ عَنِ الْإِسْلَامِ كُفَّارٌ فِي الْجُمْلَةِ
وَحُكْمُهُمْ حُكْمُ الْمُرْتَدِّينَ.
6.Kelompok-kelompok dari
Ahli qiblat yang menyelisihi Sunnah terancam dengan kebinasaan dan neraka.
Hukum mereka seperti hukum umum pelaku ancaman, kecuali orang yang kafir secara
batin. Adapun kelompok-kelompok yang keluar dari Islam, maka mereka kafir
secara umum dan hukumnya adalah hukum orang-orang murtad.
٧ -الْجُمُعَةُ وَالْجَمَاعَةُ مِنْ أَعْظَمِ
شَعَائِرِ الْإِسْلَامِ الظَّاهِرَةِ وَالصَّلَاةُ خَلْفَ مَسْتُورِ الْحَالِ مِنَ
الْمُسْلِمِينَ صَحِيحَةٌ وَتَرْكُهَا بِدَعْوَى
جَهَالَةِ حَالِهِ بِدْعَةٌ.
7.Shalat Jumat dan shalat berjamaah termasuk
syiar Islam yang paling agung dan tampak. Shalat di belakang imam muslim yang
tidak diketahui keadaannya adalah sah. Meninggalkannya dengan alasan tidak
mengetahui keadaannya merupakan bid‘ah.
٨ -لَا تَجُوزُ
الصَّلَاةُ خَلْفَ مَنْ يُظْهِرُ الْبِدْعَةَ أَوِ الْفُجُورَ مَعَ إِمْكَانِهَا
خَلْفَ غَيْرِهِ وَإِنْ وَقَعَتْ صَحَّتْ وَيَأْثَمُ فَاعِلُهَا إِلَّا إِذَا
قَصَدَ دَفْعَ مَفْسَدَةٍ أَعْظَمَ.
فَإِنْ لَمْ يُوجَدْ إِلَّا مِثْلُهُ أَوْ شَرٌّ مِنْهُ جَازَتْ خَلْفَهُ
وَلَا يَجُوزُ تَرْكُهَا.
وَمَنْ حُكِمَ بِكُفْرِهِ فَلَا تَصِحُّ الصَّلَاةُ خَلْفَهُ.
8.Tidak boleh shalat di
belakang orang yang menampakkan bid‘ah atau kefasikan jika memungkinkan shalat
di belakang selainnya. Jika tetap dilakukan maka shalatnya sah, namun pelakunya
berdosa kecuali jika bertujuan menolak kerusakan yang lebih besar. Jika tidak
didapati kecuali imam semisalnya atau yang lebih buruk, maka boleh shalat di
belakangnya dan tidak boleh meninggalkannya. Adapun orang yang diputuskan
kafir, maka tidak sah shalat di belakangnya.
٩ -الْإِمَامَةُ
الْكُبْرَى تَثْبُتُ بِإِجْمَاعِ الْأُمَّةِ أَوْ بِبَيْعَةِ ذَوِي الْحَلِّ
وَالْعَقْدِ مِنْهُمْ وَمَنْ تَغَلَّبَ حَتَّى اجْتَمَعَتْ عَلَيْهِ الْكَلِمَةُ
وَجَبَتْ طَاعَتُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَمَنَاصَحَت وَحَرُمَ الْخُرُوجُ عَلَيْهِ
إِلَّا إِذَا ظَهَرَ مِنْهُ كُفْرٌ بَوَاحٌ فِيهِ مِنَ اللَّهِ بُرْهَانٌ.
9.kepemimpinan tertinggi ditetapkan dengan ijma‘
umat atau baiat orang-orang yang memiliki otoritas. Siapa yang berkuasa hingga
manusia sepakat atas kepemimpinannya, maka wajib ditaati dalam perkara yang
ma‘ruf dan dinasihati. Haram memberontak terhadapnya kecuali jika tampak darinya
kekufuran yang nyata dengan bukti dari Allah.
١٠ -الصَّلَاةُ
وَالْحَجُّ وَالْجِهَادُ وَاجِبَةٌ مَعَ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَإِنْ جَارُوا.
10.Shalat, haji, dan jihad
tetap wajib dilakukan bersama para pemimpin kaum muslimin meskipun mereka
berbuat dzalim.
١١ -يَحْرُمُ
الْقِتَالُ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ عَلَى الدُّنْيَا أَوِ الْحَمِيَّةِ
الْجَاهِلِيَّةِ وَهُوَ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ.وَإِنَّمَا يَجُوزُ
قِتَالُ أَهْلِ الْبِدْعَةِ وَالْبَغْيِ وَأَشْبَاهِهِمْ إِذَا لَمْ يُمْكِنْ
دَفْعُهُمْ بِأَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ وَقَدْ يَجِبُ بِحَسَبِ الْمَصْلَحَةِ
وَالْحَالِ.
11.Haram hukumnya berperang
antar kaum muslimin demi dunia atau fanatisme jahiliah, dan itu termasuk dosa
yang paling besar. Diperbolehkan memerangi ahli bid‘ah, pemberontak, dan
semisal mereka apabila tidak dapat dicegah dengan cara yang lebih ringan,
bahkan bisa menjadi wajib sesuai dengan maslahat dan kondisi.
١٢ -الصَّحَابَةُ
الْكِرَامُ كُلُّهُمْ عُدُولٌ وَهُمْ أَفْضَلُ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَالشَّهَادَةُ
لَهُمْ بِالْإِيمَانِ وَالْفَضْلِ أَصْلٌ قَطْعِيٌّ مَعْلُومٌ مِنَ الدِّينِ
بِالضَّرُورَةِ.
وَمَحَبَّتُهُمْ دِينٌ وَإِيمَانٌ وَبُغْضُهُمْ
كُفْرٌ وَنِفَاقٌ مَعَ الْكَفِّ عَمَّا شَجَرَ بَيْنَهُمْ وَتَرْكِ الْخَوْضِ
فِيهِ بِمَا يَقْدَحُ فِي قَدْرِهِمْ.
وَأَفْضَلُهُمْ أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ ثُمَّ عَلِيٌّ
وَهُمْ الْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ وَتَثْبُتُ خِلَافَةُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ
حَسَبَ تَرْتِيبِهِمْ.
12.Seluruh sahabat yang mulia adalah orang-orang
yang adil dan mereka adalah umat terbaik. Kesaksian bahwa mereka beriman dan
utama merupakan prinsip pasti yang diketahui secara darurat dalam agama.
Mencintai mereka adalah agama dan iman, membenci mereka adalah kekufuran dan
kemunafikan. Wajib menahan diri dari perselisihan yang terjadi di antara mereka
dan meninggalkan pembahasan yang mencela kedudukan mereka. Yang paling utama di
antara mereka adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali.
Mereka adalah para khalifah yang mendapat petunjuk, dan kekhalifahan
masing-masing sah sesuai urutan mereka.
١٣ -وَمِنَ الدِّينِ مَحَبَّةُ آلِ بَيْتِ رَسُولِ
اللَّهِ ﷺ وَتَوَلِّيهِمْ وَتَعْظِيمُ قَدْرِ أَزْوَاجِهِ
أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَعْرِفَةُ فَضْلِهِنَّ وَمَحَبَّةُ أَئِمَّةِ
السَّلَفِ وَعُلَمَاءِ السُّنَّةِ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ وَمُجَانَبَةُ
أَهْلِ الْبِدَعِ وَالْأَهْوَاءِ.
13.Termasuk ajaran agama
adalah mencintai keluarga Rasulullah ﷺ,
loyal kepada mereka, mengagungkan kedudukan istri-istri beliau sebagai Ummul
Mukminin, mengetahui keutamaan mereka, mencintai para imam salaf, ulama Ahlus
Sunnah, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, serta menjauhi ahli
bid‘ah dan hawa nafsu.
١٤ - الْجِهَادُ فِي
سَبِيلِ اللَّهِ ذِرْوَةُ سَنَامِ الْإِسْلَامِ وَهُوَ مَاضٍ إِلَى قِيَامِ
السَّاعَةِ.
14.Jihad di jalan Allah adalah puncak ajaran
Islam, dan ia akan terus berlangsung hingga hari Kiamat.
١٥ -الْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ
الْمُنْكَرِ مِنْ أَعْظَمِ شَعَائِرِ الْإِسْلَامِ وَمِنْ أَسْبَابِ حِفْظِ
جَمَاعَتِهِ وَهُمَا يَجِبَانِ بِحَسَبِ الطَّاقَةِ
وَالْمَصْلَحَةُ مُعْتَبَرَةٌ فِي ذَلِكَ.
15.Amar ma‘ruf dan nahi
munkar termasuk syiar Islam yang paling agung dan merupakan sebab terjaganya
persatuan umat. Keduanya wajib dilakukan sesuai kemampuan, dan pertimbangan
maslahat sangat diperhatikan di dalamnya.
أَهَمُّ خَصَائِصِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ وَسِمَاتِهِمْ
Karakteristik dan ciri-ciri terpenting Ahlus Sunnah wal Jama‘ah
أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ هُمُ الْفِرْقَةُ النَّاجِيَةُ
وَالطَّائِفَةُ الْمَنْصُورَةُ. وَهُمْ عَلَى تَفَاوُتِهِمْ فِيمَا بَيْنَهُمْ
لَهُمْ خَصَائِصُ وَسِمَاتٌ تُـمَيِّزُهُمْ عَنْ غَيْرِهِمْ مِنْهَا:
Ahlus Sunnah wal Jama‘ah
adalah golongan yang selamat dan kelompok yang ditolong. Meskipun terdapat
perbedaan tingkatan di antara mereka, mereka memiliki karakteristik dan
ciri-ciri yang membedakan mereka dari selain mereka, di antaranya:
١- الِاهْتِمَامُ بِكِتَابِ اللَّهِ: حِفْظًا
وَتِلَاوَةً وَتَفْسِيرًا.
وَالِاهْتِمَامُ بِالْحَدِيثِ: مَعْرِفَةً وَفَهْمًا وَتَمْيِيزًا
لِصَحِيحِهِ مِنْ سَقِيمِهِ (لِأَنَّهُمَا مَصْدَرَا التَّلَقِّي) مَعَ اقْتِرَانِ
الْعِلْمِ بِالْعَمَلِ.
1.Perhatian yang besar
terhadap Kitab Allah: dengan menghafalnya, membacanya, dan menafsirkannya.Serta perhatian terhadap hadits: dengan
mempelajarinya, memahaminya, dan membedakan yang sahih dari yang lemah (karena
keduanya merupakan sumber pengambilan ajaran), disertai dengan mengamalkan ilmu
tersebut.
٢ -الدُّخُولُ فِي
الدِّينِ كُلِّهِ, وَالْإِيمَانُ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ,
فَيُؤْمِنُونَ بِنُصُوصِ الْوَعْدِ, وَنُصُوصِ الْوَعِيدِ, وَبِنُصُوصِ الْإِثْبَاتِ,
وَنُصُوصِ التَّنْزِيهِ وَيَجْمَعُونَ بَيْنَ الْإِيمَانِ
بِقَدَرِ اللَّهِ, وَإِثْبَاتِ إِرَادَةِ الْعَبْدِ,
وَمَشِيئَتِهِ, وَفِعْلِهِ,كَمَا يَجْمَعُونَ بَيْنَ الْعِلْمِ
وَالْعِبَادَةِ, وَبَيْنَ الْقُوَّةِ وَالرَّحْمَةِ,
وَبَيْنَ الْعَمَلِ بِالْأَسْبَابِ وَالزُّهْدِ.
2.Masuk ke dalam agama secara menyeluruh dan
beriman kepada seluruh isi Kitab, maka mereka beriman
kepada nash-nash janji, nash-nash ancaman, nash-nash penetapan sifat, dan
nash-nash penyucian Allah (dari kekurangan), dan mereka
menggabungkan antara iman kepada takdir Allah dengan penetapan kehendak,
keinginan, dan perbuatan hamba, sebagaimana mereka
juga menggabungkan antara ilmu dan ibadah, antara kekuatan dan kasih sayang,
serta antara beramal dengan sebab-sebab dan bersikap zuhud.
٣ -الِاتِّبَاعُ
وَتَرْكُ الِابْتِدَاعِ وَالِاجْتِمَاعُ وَنَبْذُ الْفُرْقَةِ وَالِاخْتِلَافِ فِي
الدِّينِ.
3.Mengikuti tuntunan (syariat), meninggalkan
perbuatan bid‘ah, menjaga persatuan, serta menolak perpecahan dan perselisihan
dalam agama.
٤ -الِاقْتِدَاءُ
وَالِاهْتِدَاءُ بِأَئِمَّةِ الْهُدَى الْعُدُولِ الْمُقْتَدَى بِهِمْ فِي
الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ وَالدَّعْوَةِ الصَّحَابَةُ
وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَمُجَانَبَةُ مَنْ خَالَفَ سَبِيلَهُمْ.
4.Meneladani dan mengambil petunjuk dari para
imam petunjuk yang adil, yang dijadikan panutan dalam ilmu, amal, dan dakwah yaitu
para sahabat dan orang-orang yang berjalan di atas manhaj mereka serta menjauhi
orang-orang yang menyelisihi jalan mereka.
٥ -التَّوَسُّطُ, فَهُمْ فِي الِاعْتِقَادِ وَسَطٌ بَيْنَ فِرَقِ الْغُلُوِّ
وَفِرَقِ التَّفْرِيطِ, وَهُمْ فِي الْأَعْمَالِ وَالسُّلُوكِ وَسَطٌ بَيْنَ
الْمُفْرِطِينَ وَالْمُفَرِّطِينَ.
5.Sikap pertengahan, dalam akidah mereka berada
di tengah antara golongan yang berlebih-lebihan dan golongan yang meremehkan,
dan dalam amal serta perilaku mereka juga berada di tengah antara yang
melampaui batas dan yang lalai.
٦ -الْحِرْصُ عَلَى
جَمْعِ كَلِمَةِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى الْحَقِّ,
وَتَوْحِيدِ صُفُوفِهِمْ عَلَى التَّوْحِيدِ وَالِاتِّبَاعِ,
وَإِبْعَادِ كُلِّ أَسْبَابِ النِّزَاعِ وَالْخِلَافِ بَيْنَهُمْ.
وَمِنْ هُنَا لَا يَتَمَيَّزُونَ عَلَى الْأُمَّةِ فِي أُصُولِ الدِّينِ
بِاسْمٍ سِوَى السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ وَلَا يُوَالُونَ وَلَا يُعَادُونَ عَلَى
رَابِطَةٍ سِوَى الْإِسْلَامِ وَالسُّنَّةِ.
6.Bersungguh-sungguh untuk menyatukan kaum
muslimin di atas kebenaran, mempersatukan barisan mereka di atas tauhid dan
ittiba‘, serta menjauhkan seluruh sebab perselisihan dan perpecahan di antara
mereka.
Oleh karena itu, mereka tidak membedakan diri
dari umat dalam pokok-pokok agama dengan nama selain “Sunnah dan Jama‘ah”, dan
mereka tidak berloyalitas maupun memusuhi kecuali atas dasar Islam dan Sunnah.
٧ -الدَّعْوَةُ إِلَى
اللَّهِ,وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ
عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْجِهَادُ وَإِحْيَاءُ السُّنَّةِ وَالْعَمَلُ لِتَجْدِيدِ
الدِّينِ وَإِقَامَةُ شَرْعِ اللَّهِ وَحُكْمِهِ فِي كُلِّ صَغِيرَةٍ وَكَبِيرَةٍ.
7.Berdakwah kepada Allah,
memerintahkan yang ma‘ruf dan melarang yang mungkar, berjihad, menghidupkan
sunnah, berusaha untuk memperbarui agama, serta menegakkan syariat dan hukum
Allah dalam setiap perkara, baik yang kecil maupun yang besar.
٨ -الْإِنْصَافُ
وَالْعَدْلُ فَهُمْ يُرَاعُونَ حَقَّ اللَّهِ تَعَالَى لَا حَقَّ النَّفْسِ أَوِ
الطَّائِفَةِ وَلِهَذَا لَا يَغْلُونَ فِي مُوَالٍ وَلَا يَجُورُونَ عَلَى مُعَادٍ
وَلَا يَغْمِطُونَ ذَا فَضْلٍ فَضْلَهُ أَيًّا كَانَ.
8.Sikap objektif dan adil, mereka memperhatikan
hak Allah ta‘ala, bukan kepentingan diri atau golongan. Oleh karena itu, mereka
tidak berlebih-lebihan dalam loyalitas, tidak zalim dalam permusuhan, dan tidak
mengingkari keutamaan orang yang memiliki keutamaan, siapa pun dia.
٩ -التَّوَافُقُ فِي
الْأَفْهَامِ وَالتَّشَابُهُ فِي الْمَوَاقِفِ رَغْمَ تَبَاعُدِ الْأَقْطَارِ
وَالْأَعْصَارِ وَهَذَا مِنْ ثَمَرَاتِ وَحْدَةِ الْمَصْدَرِ وَالتَّلَقِّي.
9.Keselarasan dalam
pemahaman dan keserupaan dalam sikap, meskipun berjauhan tempat dan berbeda
zaman, dan hal ini merupakan buah dari kesatuan sumber dan metode pengambilan
ajaran.
١٠ -الْإِحْسَانُ
وَالرَّحْمَةُ وَحُسْنُ الْخُلُقِ مَعَ النَّاسِ كَافَّةً.
10.Berbuat baik, menebarkan
kasih sayang, dan berakhlak mulia kepada seluruh manusia.
١١ -النَّصِيحَةُ
لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ.
11.Memberikan nasihat yang tulus karna Allah,
kepada Kitab-Nya, kepada Rasul-Nya, kepada para pemimpin kaum muslimin, dan
kepada seluruh kaum muslimin.
١٢ -الِاهْتِمَامُ
بِأُمُورِ الْمُسْلِمِينَ وَنُصْرَتُهُمْ وَأَدَاءُ حُقُوقِهِمْ وَكَفُّ الْأَذَى
عَنْهُمْ.
12.Memberi perhatian
terhadap urusan kaum muslimin, menolong mereka, menunaikan hak-hak mereka,
serta menahan diri dari menyakiti mereka.
انْتَهَى بِحَمْدِ اللَّهِ.
Selesai dengan segala puji bagi Allah.
وَأَخِيرًا: أَرْجُو مِنْ كُلِّ مَنْ يَجِدُ خَطَأً أَوْ لَدَيْهِ
مُلَاحَظَةٌ أَنْ يَبْعَثَ بِهَا إِلَى:
الرِّيَاضِ ١١٤٩٤ ص. ب ١٧٩٩٩.
Terakhir, saya berharap
kepada siapa saja yang menemukan kesalahan atau memiliki catatan, agar
mengirimkannya ke:
Riyadh 11494, Kotak Pos 17999.
مُجْمَلُ أُصُولِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ
فِي
الْعَقِيدَةِ
د. نَاصِرُ بْنُ عَبْدِ الْكَرِيمِ الْعَقْلِ
دَارُ الْوَطَنِ لِلنَّشْرِ
الرِّيَاضُ – شَارِعُ الْعُلْيَا الْعَامُّ – ص.ب
٤٦٤٤٦٥٩ – ٤٦٢٦١٢٤
Garis Besar Pokok-Pokok Ahlus Sunnah wal Jama‘ah
dalam Akidah
Dr. Nashir bin ‘Abd al-Karim al-‘Aql
Dar al-Wathan untuk Penerbitan
Riyadh – Jalan al-‘Ulya al-‘Am
P.O. Box: 4644659 – 4626124
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang.
مُقَدِّمَةٌ
Pendahuluan
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ,
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ.
Segala puji bagi Allah. Kami memuji-Nya, memohon
pertolongan kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan bertaubat kepada-Nya.
وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ
شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا, مَنْ
يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri
kami dan dari keburukan amal-amal kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh
Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang
disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ,
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak
disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa
Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
وَبَعْدُ:
Wa ba‘dua (adapun setelah itu).
هَذِهِ نُبْذَةٌ فِي أُصُولِ أَهْلِ السُّنَّةِ
وَالْجَمَاعَةِ فِي الْعَقِيدَةِ.
Ini adalah sebuah
ringkasan tentang pokok-pokok Ahlus Sunnah wal Jama‘ah dalam masalah akidah.
تَمَّ إِعْدَادُهَا وَنَشْرُهَا اسْتِجَابَةً
لِكَثِيرِينَ مِنَ الْقُرَّاءِ - طُلَّابِ الْعِلْمِ مِنْهُمْ وَالْعَامَّةِ -فِي ضَرُورَةِ عَرْضِ
أُصُولِ عَقِيدَةِ السَّلَفِ وَقَوَاعِدِهَا.
Telah disusun dan diterbitkan sebagai respons terhadap banyak
permintaan dari para pembaca —baik dari
kalangan penuntut ilmu maupun masyarakat umum—tentang perlunya pemaparan
pokok-pokok akidah salaf dan kaidah-kaidahnya.
بِعِبَارَةٍ مُوجَزَةٍ
وَأُسْلُوبٍ وَاضِحٍ, مَعَ الِالْتِزَامِ بِالْأَلْفَاظِ الشَّرْعِيَّةِ
الْمَأْثُورَةِ عَنِ الْأَئِمَّةِ قَدْرَ الْإِمْكَانِ.
Dengan ungkapan yang ringkas dan gaya bahasa
yang jelas, serta tetap berpegang pada lafadz-lafadz syar‘i yang diriwayatkan
dari para imam, sesuai kemampuan.
لِذٰلِكَ خَلَا الْبَحْثُ
مِنَ التَّفْصِيلَاتِ وَالتَّعَارِيفِ وَالْأَدِلَّةِ وَالْأَسْمَاءِ وَالنُّقُولِ
وَالْهَوَامِشِ الَّتِي قَدْ تَكُونُ ضَرُورِيَّةً أَحْيَانًا.
Oleh karena itu,
pembahasan ini sengaja dibuat tanpa rincian panjang, tanpa definisi,
dalil-dalil, penyebutan nama-nama, kutipan-kutipan, dan catatan kaki, yang
terkadang memang diperlukan.
فَإِنَّ الرَّغْبَةَ فِي تَحْقِيقِ هٰذَا
الْمَطْلَبِ فِي كُتَيِّبٍ خَفِيفِ الْمَحْمَلِ وَالْمَؤُونَةِ حَالَتْ دُونَ
ذٰلِكَ.
Karena sesungguhnya keinginan untuk mewujudkan hal itu dalam
sebuah buku kecil yang ringan dibawa dan tidak memberatkan telah menghalangi
terwujudnya hal tersebut.
وَلَعَلَّ هٰذَا الْبَحْثَ يَكُونُ نَوَاةَ
مُؤَلَّفٍ مُتَخَصِّصٍ يَسْتَوْفِي مَا نَقَصَ, وَيُلَبِّي
رَغْبَةَ الْمُسْتَزِيدِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ.
Mudah-mudahan kajian
ini dapat menjadi cikal bakal bagi sebuah karya ilmiah khusus yang lebih
lengkap, yang menyempurnakan kekurangan yang ada dan memenuhi keinginan para
pembaca yang ingin menambah wawasan, insya Allah.
هَذَا, وَقَدْ تَمَّ عَرْضُهُ عَلَى
كُلٍّ مِنْ:
Demikianlah,
dan sungguh naskah ini telah ditelaah oleh masing-masing dari:
فَضِيلَةِ الشَّيْخِ
عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ نَاصِرٍ الْبَرَّاكِ,
Yang mulia Syaikh
‘Abdurrahman bin Nashir al-Barrak,
وَفَضِيلَةِ الشَّيْخِ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْغُنَيْمَانِ.
Yang mulia Syaikh ‘Abdullah bin
Muhammad al-Ghunayman.
وَالدُّكْتُورِ حَمْزَةَ
بْنِ حُسَيْنٍ الْفَعْرِ.
Dr. Hamzah bin
Husain al-Fa‘r,
وَالدُّكْتُورِ سَفَرِ
بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحَوَالِيِّ.
Dr. Safar bin
‘Abdurrahman al-Hawali.
وَأَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يَجْعَلَ
عَمَلَنَا خَالِصًا لِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ.
Dan
aku memohon kepada Allah Ta‘ala agar menjadikan amal kami ini ikhlas
semata-mata karena wajah-Nya yang mulia.
وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى
الْمَبْعُوثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ, نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ, وَآلِهِ, وَصَحْبِهِ, وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ
الدِّينِ.
Semoga
Allah melimpahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepada utusan yang diutus
sebagai rahmat bagi seluruh alam, Nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga
beliau, para sahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan
baik hingga hari Kiamat.
كَتَبَهُ نَاصِرُ بْنُ عَبْدِ الْكَرِيمِ
الْعَقْلِ
فِي ٣ / ٩ / ١٤١١هـ
Ditulis
oleh: Nashir bin ‘Abd al-Karim al-‘Aql
pada tanggal 3 Ramadhan 1411 H Bertepatan
masehi (19 Maret 1991 M).
![]()
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama
Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
مُقَدِّمَةٌ
Pendahuluan
اَلْعَقِيدَةُ لُغَةً: مِنَ الْعَقْدِ وَالتَّوْثِيقِ
وَالْإِحْكَامِ وَالرَّبْطِ
بِقُوَّةٍ.
Akidah
secara bahasa: berasal dari kata al-‘aqd yang bermakna ikatan, pengokohan,
penguatan, dan pengikatan dengan kuat.
وَاصْطِلَاحًا: الْإِيمَانُ الْجَازِمُ الَّذِي
لَا يَتَطَرَّقُ إِلَيْهِ شَكٌّ لَدَى مُعْتَقِدِهِ.
Sedangkan
secara istilah: keyakinan yang pasti dan tegas, yang tidak dimasuki oleh
keraguan sedikit pun pada diri orang yang meyakininya.
فَالْعَقِيدَةُ الْإِسْلَامِيَّةُ تَعْنِي :الْإِيمَانَ
الْجَازِمَ بِاللَّهِ تَعَالَى وَمَا يَجِبُ لَهُ مِنَ التَّوْحِيدِ وَالطَّاعَةِ
وَبِمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْقَدَرِ وَسَائِرِ مَا ثَبَتَ مِنْ أُمُورِ الْغَيْبِ
وَالْأَخْبَارِ وَالْقَطْعِيَّاتِ عِلْمِيَّةً
كَانَتْ أَوْ عَمَلِيَّةً.
Maka
akidah Islam berarti: keyakinan yang pasti kepada Allah ta‘ala beserta segala
yang wajib bagi-Nya berupa tauhid dan ketaatan iman kepada para malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, takdir, serta seluruh perkara
lain yang telah ditetapkan kebenarannya, baik yang berkaitan dengan
urusan-urusan gaib, berita-berita (wahyu), maupun hal-hal yang bersifat pasti, baik
secara ilmiah maupun amaliah.
السَّلَفُ : هُمْ
صَدْرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَأَئِمَّةُ الْهُدَى
فِي الْقُرُونِ الثَّلَاثَةِ الْمُفَضَّلَةِ ,وَيُطْلَقُ عَلَى كُلِّ مَنْ
اقْتَدَى بِهَؤُلَاءِ وَسَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ فِي سَائِرِ الْعُصُورِ : سَلَفِيٌّ
نِسْبَةً إِلَيْهِمْ.
Salaf
adalah generasi terdahulu dari umat ini, yaitu para sahabat, para tabi‘in, dan
para imam petunjuk pada tiga generasi yang utama. Dan setiap orang yang
mengikuti mereka serta menempuh manhaj (jalan) mereka pada seluruh masa disebut
Salafi, sebagai bentuk penisbatan kepada mereka.
أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ: هُمْ مَنْ
كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا كَانَ عَلَيْهِ النَّبِيُّ وَأَصْحَابُهُ.
Ahlus
Sunnah wal Jama‘ah adalah orang-orang yang berada di atas apa yang dahulu
ditempuh oleh Nabi dan para sahabat beliau.
وَسُمُّوا أَهْلَ السُّنَّةِ :لِاسْتِمْسَاكِهِمْ
وَاتِّبَاعِهِمْ سُنَّةَ النَّبِيِّ ﷺ.
Mereka dinamakan Ahlus Sunnah karena
berpegang teguh dan mengikuti Sunnah Nabi ﷺ.
وَسُمُّوا الْجَمَاعَةَ :لِأَنَّهُمُ الَّذِينَ
اجْتَمَعُوا عَلَى الْحَقِّ وَلَمْ
يَتَفَرَّقُوا فِي الدِّينِ وَاجْتَمَعُوا عَلَى أَئِمَّةِ الْهُدَى وَلَمْ
يَخْرُجُوا عَلَيْهِمْ وَاتَّبَعُوا
مَا أَجْمَعَ عَلَيْهِ سَلَفُ الْأُمَّةِ.
Dan
mereka dinamakan al-Jama‘ah karena merekalah orang-orang yang bersatu di atas
kebenaran, tidak berpecah-belah dalam agama, bersatu di bawah para imam
petunjuk, tidak memberontak terhadap mereka, serta mengikuti apa yang telah
menjadi kesepakatan para salaf umat ini.
وَلَمَّا كَانُوا هُمُ الْمُتَّبِعِينَ لِسُنَّةِ
رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
الْمُقْتَفِينَ لِلْأَثَرِ سُمُّوا
أَهْلَ الْحَدِيثِ وَأَهْلَ الْأَثَرِ وَأَهْلَ
الِاتِّبَاع وَيُسَمَّوْنَ
الطَّائِفَةَ الْمَنْصُورَةَ وَالْفِرْقَةَ النَّاجِيَة.
Dan karena merekalah orang-orang
yang mengikuti Sunnah Rasulullah menelusuri jejak (atsar) beliau, maka mereka
disebut Ahlul Hadits, Ahlul Atsar, dan Ahlul Ittiba‘. Mereka juga disebut
ath-Tha’ifah al-Manshurah
(golongan yang ditolong) dan
al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat).
![]()
Pertama:
أَوَّلًا:
قَوَاعِدُ
وَأُصُولٌ
فِي مَنْهَجِ
التَّلَقِّي وَالِاسْتِدْلَالِ
Kaidah dan
Prinsip dalam Metode Pengambilan Ilmu dan Penetapan Dalil
١- مَصْدَرُ الْعَقِيدَةِ
هُوَ كِتَابُ اللَّهِ وَسُنَّةُ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
الصَّحِيحَةُ وَإِجْمَاعُ السَّلَفِ الصَّالِحِ.
1.Sumber
akidah adalah Kitab Allah (Al-Qur’an), Sunnah Rasul-Nya yang sahih, dan ijma‘ salafus shalih.
٢- كُلُّ مَا
صَحَّ مِنْ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
وَجَبَ قَبُولُهُ وَإِنْ كَانَ آحَادًا.
2.Setiap yang sahih dari sunnah Rasulullah ﷺ wajib diterima,
meskipun berstatus hadis ahad.
٣- الْمَرْجِعُ
فِي فَهْمِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ هُوَ النُّصُوصُ الْمُبَيِّنَةُ لَهُمَا
وَفَهْمُ السَّلَفِ الصَّالِح وَمَنْ سَارَ
عَلَى مَنْهَجِهِمْ مِنَ الْأَئِمَّةِ وَلَا يُعَارَضُ مَا ثَبَتَ مِنْ ذَلِكَ
بِمُجَرَّدِ احْتِمَالَاتٍ لُغَوِيَّةٍ.
3. Rujukan dalam memahami Al-Qur’an dan Sunnah
adalah nash-nash yang saling menjelaskan, pemahaman salafus shalih, serta para
imam yang menempuh manhaj mereka. Tidak boleh menentang sesuatu yang telah
tetap dengan sekadar kemungkinan-kemungkinan bahasa.
٤- أُصُولُ
الدِّينِ كُلُّهَا قَدْ بَيَّنَهَا النَّبِيُّ ﷺ
وَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يُحْدِثَ شَيْئًا زَاعِمًا أَنَّهُ مِنَ الدِّينِ.
4.Seluruh pokok agama telah
dijelaskan oleh Nabi, dan tidak seorang pun berhak mengada-adakan sesuatu
dengan mengklaimnya sebagai bagian dari agama.
٥- التَّسْلِيمُ
لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ ﷺ
ظَاهِرًا وَبَاطِنًا فَلَا يُعَارَضُ شَيْءٌ مِنَ الْكِتَابِ أَوِ السُّنَّةِ الصَّحِيحَةِ
بِقِيَاسٍ وَلَا ذَوْقٍ وَلَا كَشْفٍ وَلَا قَوْلِ شَيْخٍ وَلَا إِمَامٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ.
5.Berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya baik
secara lahir maupun batin. Maka tidak boleh menentang sesuatu pun dari
Al-Qur’an atau Sunnah yang sahih dengan qiyas, perasaan (selera), klaim kasyaf,
pendapat seorang syaikh, imam, atau yang semisalnya.
٦- الْعَقْلُ الصَّرِيحُ مُوَافِقٌ
لِلنَّقْلِ الصَّحِيحِ وَلَا يَتَعَارَضُ قَطْعِيَّانِ مِنْهُمَا أَبَدًا وَعِنْدَ
تَوَهُّمِ التَّعَارُضِ يُقَدَّمُ النَّقْلُ.
6.Akal yang sehat dan jernih selaras dengan dalil yang sahih,
dan dua dalil yang sama-sama bersifat pasti tidak mungkin saling bertentangan
sama sekali. Jika terkesan ada pertentangan, maka yang didahulukan adalah dalil
naqli.
٧- يَجِبُ الِالْتِزَامُ بِالْأَلْفَاظِ
الشَّرْعِيَّةِ فِي الْعَقِيدَةِ وَتَجَنُّبُ الْأَلْفَاظِ الْبِدْعِيَّةِ
وَالْأَلْفَاظُ الْمُجْمَلَةُ الْمُحْتَمِلَةُ لِلْخَطَإِ وَالصَّوَابِ, يُسْتَفْسَرُ عَنْ مَعْنَاهَا فَمَا كَانَ حَقًّا, أُثْبِتَ بِلَفْظِهِ الشَّرْعِيِّ,
وَمَا كَانَ بَاطِلًا رُدَّ.
7.Wajib berpegang pada lafaz-lafaz syar‘i dalam masalah akidah dan
menjauhi lafadz-lafadz bid‘ah. Adapun lafadz-lafadz global yang mengandung
kemungkinan benar dan salah, maka ditafsirkan terlebih dahulu maksudnya: jika
maknanya benar, diterima dengan lafaz syar‘i, dan jika maknanya batil, maka
ditolak.
٨- الْعِصْمَةُ ثَابِتَةٌ لِلرَّسُولِ
وَالْأُمَّةُ فِي مَجْمُوعِهَا مَعْصُومَةٌ مِنَ الِاجْتِمَاعِ عَلَى ضَلَالَةٍ
وَأَمَّا آحَادُهَا فَلَا عِصْمَةَ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ. وَمَا اخْتُلِفَ فِيهِ
الْأَئِمَّةُ وَغَيْرُهُمْ فَمَرْجِعُهُ إِلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مَعَ
الِاعْتِذَارِ لِلْمُخْطِئِ مِنْ مُجْتَهِدِي الْأُمَّةِ.
8.Kemaksuman (terjaga dari kesalahan) ditetapkan
bagi Rasul. Adapun umat ini secara keseluruhan terjaga dari kesepakatan di atas
kesesatan. Namun individu-individu dari umat ini tidak ada yang ma‘shum(terjaga).
Perbedaan pendapat di kalangan para imam dan selain mereka maka kembali kepada
Al-qur’an dan Sunnah, disertai sikap memaafkan terhadap pejuang dari umat ini
yang keliru.
٩- فِي الْأُمَّةِ مُحَدَّثُونَ مُلْهَمُونَ, وَالرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ حَقٌّ وَهِيَ جُزْءٌ مِنَ النُّبُوَّةِ, وَالْفِرَاسَةُ الصَّادِقَةُ حَقٌّ.
وَهَذِهِ كَرَامَاتٌ وَمُبَشِّرَاتٌ ـ بِشَرْطِ مُوَافَقَتِهَا لِلشَّرْعِ ـ
وَلَيْسَتْ مَصْدَرًا لِلْعَقِيدَةِ وَلَا لِلتَّشْرِيعِ.
9.Di dalam umat ini terdapat orang-orang
yang diberi ilham, mimpi yang baik adalah benar dan merupakan bagian dari
kenabian, firasat yang benar juga merupakan kebenaran.Semua itu adalah kemuliaan
dan kabar gembira—dengan syarat sesuai dengan syariat—namun bukan menjadi
sumber akidah dan bukan pula sumber penetapan hukum syariat.
١٠- الْمِرَاءُ فِي الدِّينِ مَذْمُومٌ
وَالْمُجَادَلَةُ بِالْحُسْنَىٰ مَشْرُوعَةٌ .وَمَا صَحَّ
النَّهْيُ عَنِ الْخَوْضِ ,فِيهِ وَجَبَ امْتِثَالُ ذٰلِكَ.وَيَجِبُ
الْإِمْسَاكُ عَنِ الْخَوْضِ فِيمَا لَا عِلْمَ لِلْمُسْلِمِ بِهِ وَتَفْوِيضُ
عِلْمِ ذٰلِكَ إِلَىٰ عَالِمِهِ سُبْحَانَهُ.
10. Perdebatan (al-mira’) dalam urusan agama
adalah tercela, sedangkan berdialog dan berdiskusi dengan cara yang baik yaitu
(Berdebat) yang disyariatkan adalah yang dilakukan dengan cara yang baik.Adapun
perkara-perkara yang terdapat larangan yang sahih untuk memperdebatkannya, maka
wajib mematuhi larangan tersebut. Dan wajib menahan diri dari membahas
perkara-perkara yang tidak diketahui ilmunya oleh seorang muslim, serta
menyerahkan pengetahuan tentangnya kepada Yang Maha Mengetahui, Subhanahu wa
ta‘ala.
١١- يَجِبُ الِالْتِزَامُ بِمَنْهَجِ
الْوَحْيِ فِي الرَّدِّ كَمَا يَجِبُ فِي الِاعْتِقَادِ وَالتَّقْرِيرِ فَلَا
تُرَدُّ الْبِدْعَةُ بِبِدْعَةٍ وَلَا يُقَابَلُ التَّفْرِيطُ بِالْغُلُوِّ وَلَا
الْعَكْسُ.
11.Wajib berpegang pada manhaj wahyu dalam melakukan bantahan,
sebagaimana wajib berpegang padanya dalam berakidah dan menetap
kan prinsip. Maka tidak boleh membantah bid‘ah dengan bid‘ah, dan
tidak boleh menghadapi sikap meremehkan (tafrith) dengan sikap berlebih-lebihan
(ghuluw), dan sebaliknya.
١٢- كُلُّ مُحْدَثَةٍ فِي الدِّينِ بِدْعَةٌ وَكُلُّ
بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.
12. Setiap perkara baru dalam agama adalah bid‘ah, setiap bid‘ah
adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.
ثَانِيًا :
التَّوْحِيدُ الْعِلْمِيُّ الِاعْتِقَادِيُّ
Kedua:
Tauhid Ilmiah I‘tiqadi (Keyakinan/Akidah)
١ -الْأَصْلُ فِي
أَسْمَاءِ اللَّهِ وَصِفَاتِهِ: إِثْبَاتُ مَا أَثْبَتَهُ اللَّهُ لِنَفْسِهِ أَوْ
أَثْبَتَهُ لَهُ رَسُولُهُ ﷺ مِنْ غَيْرِ تَمْثِيلٍ وَلَا تَكْيِيفٍ وَنَفْيُ مَا نَفَاهُ اللَّهُ عَنْ
نَفْسِهِ أَوْ نَفَاهُ عَنْهُ رَسُولُهُ ﷺ مِنْ غَيْرِ تَحْرِيفٍ
وَلَا تَعْطِيلٍ كَمَا قَالَ تَعَالَىٰ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾ مَعَ الْإِيمَانِ بِمَعَانِي
أَلْفَاظِ النُّصُوصِ وَمَا دَلَّتْ عَلَيْهِ.
1.Pokok dasar dalam nama-nama dan
sifat-sifat Allah adalah:
menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya,
atau yang ditetapkan oleh Rasul-Nya untuk-Nya, tanpa menyerupai(tamtsil) dan
tanpa menanyakan bagaimana hakikatnya (takyif), serta meniadakan apa yang Allah
tiadakan dari diri-Nya, atau yang ditiadakan oleh Rasul-Nya dari-Nya,
tanpa merubah makna(tahrif) dan tanpa
meniadakan(ta‘thil), sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan
Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Dengan tetap beriman kepada makna lafadz-lafadz
nash nash dan apa yang ditunjukkannya.
٢- التَّمْثِيلُ وَالتَّعْطِيلُ فِي
أَسْمَاءِ اللَّهِ وَصِفَاتِهِ كُفْرٌ. أَمَّا التَّحْرِيفُ الَّذِي يُسَمِّيهِ
أَهْلُ الْبِدَعِ تَأْوِيلًا فَمِنْهُ مَا هُوَ كُفْرٌ كَتَأْوِيلَاتِ
الْبَاطِنِيَّةِ وَمِنْهُ, مَا هُوَ بِدْعَةٌ ضَلَالَةٌ كَتَأْوِيلَاتِ نُفَاةِ الصِّفَاتِ, وَمِنْهُ مَا يَقَعُ خَطَأً.
2.Menyerupakan
dan meniadakan dalam nama-nama dan
sifat-sifat Allah adalah kekufuran.
Adapun
tahrif (perubahan makna) yang oleh ahli bid‘ah dinamakan ta’wil, maka:
*sebagian
darinya adalah kekufuran, seperti ta’wil-ta’wil kaum bathiniyyah,
* sebagian
lagi merupakan bid‘ah yang sesat, seperti ta’wil-ta’wil orang-orang yang meniadakan
sifat-sifat Allah,
* dan
sebagian lainnya terjadi karena kesalahan (tidak disengaja).
٣ -وَحْدَةُ
الْوُجُودِ وَاعْتِقَادُ حُلُولِ اللَّهِ تَعَالَىٰ فِي شَيْءٍ مِنْ
مَخْلُوقَاتِهِ أَوِ اتِّحَادِهِ بِهِ كُلُّ ذٰلِكَ كُفْرٌ مُخْرِجٌ مِنَ
الْمِلَّةِ.
3.Paham kesatuan wujud, dan yakin bahwa Allah
ta‘ala menyatu (hulul) dalam salah satu makhluk-Nya, atau bersatu
(ittihad)dengannya, semuanya adalah kekufuran yang mengeluarkan dari agama
(Islam).
٤- الْإِيمَانُ بِالْمَلَائِكَةِ الْكِرَامِ
إِجْمَالًا. وَأَمَّا تَفْصِيلًا, فَبِمَا صَحَّ بِهِ الدَّلِيلُ,
مِنْ أَسْمَائِهِمْ, وَصِفَاتِهِمْ, وَأَعْمَالِهِمْ, بِحَسَبِ عِلْمِ الْمُكَلَّفِ.
4.Beriman
kepada para malaikat yang mulia secara global (ijmali).Adapun secara terperinci
(tafsili), maka beriman kepada apa yang ditetapkan oleh dalil yang sahih,
berupa nama-nama mereka, sifat-sifat mereka, dan tugas-tugas mereka, sesuai
dengan pengetahuan orang yang dibebani syariat (mukallaf).
ه- الْإِيمَانُ بِالْكُتُبِ الْمُنَزَّلَةِ جَمِيعِهَا وَأَنَّ
الْقُرْآنَ الْكَرِيمَ الْمُجِيرَ أَفْضَلُهَا وَنَاسِخُهَا وَأَنَّ مَا
قَبْلَهُ. طَرَأَ عَلَيْهِ التَّحْرِيفُ وَأَنَّهُ لِذٰلِكَ يَجِبُ
اتِّبَاعُهُ دُونَ مَا سَبَقَهُ.
5.Beriman kepada seluruh kitab yang diturunkan
oleh Allah, dan bahwa Al-qur’an Al-Karim yang menjaga (muhaymin) adalah yang
paling utama di antara semuanya serta menghapus (menasakh) kitab-kitab sebelumnya.
Kitab-kitab sebelum Al-qur’an telah mengalami perubahan dan perubahan (tahrif),
oleh karena itu wajib mengikuti Al-qur’an saja, bukan kitab-kitab yang
sebelumnya.
٦ -الْإِيمَانُ
بِأَنْبِيَاءِ اللَّهِ وَرُسُلِهِ ـ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ ـ
وَأَنَّهُمْ أَفْضَلُ مِمَّنْ سِوَاهُمْ مِنَ الْبَشَرِ وَمَنْ زَعَمَ غَيْرَ
ذٰلِكَ فَقَدْ كَفَرَ.
وَمَا صَحَّ فِيهِ الدَّلِيلُ بِعَيْنِهِ مِنْهُمْ,
وَجَبَ الْإِيمَانُ بِهِ مُعَيَّنًا, وَيَجِبُ الْإِيمَانُ بِسَائِرِهِمْ إِجْمَالًا. وَأَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَفْضَلُهُمْ وَآخِرُهُمْ وَأَنَّ اللَّهَ أَرْسَلَهُ لِلنَّاسِ جَمِيعًا.
6.Beriman kepada para nabi dan rasul Allah —
semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada mereka — dan bahwa mereka lebih
utama daripada seluruh manusia lainnya. Barang siapa menganggap selain mereka
lebih utama, maka ia telah kafir. Nabi dan rasul yang disebutkan secara jelas
oleh dalil yang sahih, maka wajib diimani secara khusus (satu per satu). Adapun
yang lainnya,wajib diimani secara global (ijmali). Dan bahwa Muhammad ﷺ adalah yang paling utama di antara mereka,
dan terakhir, serta Allah mengutus beliau kepada seluruh manusia.
٧- الإِيمَانُ بِانْقِطَاعِ الْوَحْيِ بَعْدَ
مُحَمَّدٍ ﷺ وَأَنَّهُ خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ.
وَمَنْ اعْتَقَدَ خِلَافَ ذٰلِكَ كَفَرَ.
7.Beriman bahwa wahyu telah terputus setelah
Muhammad ﷺ, dan bahwa beliau adalah penutup para nabi
dan rasul. Barang siapa meyakini selain itu, maka ia kafir.
٨- الإِيمَانُ بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَكُلِّ
مَا صَحَّ فِيهِ مِنَ الْأَخْبَارِ وَبِمَا يَتَقَدَّمُهُ مِنَ الْعَلَامَاتِ
وَالْأَشْرَاطِ.
8.Beriman kepada hari akhir, dan kepada segala
berita yang sahih tentangnya, serta tanda-tanda dan peristiwa-peristiwa yang
mendahuluinya.
٩ - الإِيمَانُ بِالْقَدَرِخَيْرِهِ وَشَرِّهِ مِنَ
اللَّهِ تَعَالَى وَذٰلِكَ: بِالْإِيمَانِ بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى عَلِمَ مَا
يَكُونُ قَبْلَ أَنْ يَكُونَ وَكَتَبَ ذٰلِكَ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ. وَأَنَّ مَا شَاءَ اللَّهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ
فَلَا يَكُونُ إِلَّا مَا يَشَاءُ وَاللَّهُ تَعَالَى عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
وَهُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ.
9. Beriman kepada takdir, baik dan buruknya
berasal dari Allah ta‘ala. Yaitu dengan beriman bahwa Allah ta‘ala telah
mengetahui segala sesuatu sebelum terjadi, dan telah menuliskannya di Lauhul
Mahfuzh. Apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa yang tidak Allah kehendaki
tidak akan terjadi, maka tidak ada sesuatu pun yang terjadi kecuali dengan
kehendak-Nya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, Pencipta segala sesuatu,
dan berbuat sesuai dengan apa yang Allah kehendaki.
١٠- الإِيمَانُ بِمَا
صَحَّ الدَّلِيلُ عَلَيْهِ مِنَ الْغَيْبِيَّاتِ كَالْعَرْشِ وَالْكُرْسِيِّ, وَالْجَنَّةِ وَالنَّارِ,
وَنَعِيمِ الْقَبْرِ وَعَذَابِهِ, وَالصِّرَاطِ وَالْمِيزَانِ,
وَغَيْرِهَا, دُونَ تَأْوِيلِ شَيْءٍ مِنْ ذٰلِكَ.
10.Beriman kepada perkara-perkara gaib yang
ditetapkan oleh dalil yang sahih, seperti ‘Arsy dan Kursi, surga dan neraka,
kenikmatan dan azab kubur, shirath dan mizan, serta yang lainnya, tanpa
menakwilkan sedikit pun dari perkara-perkara tersebut.
١١- الإِيمَانُ
بِشَفَاعَةِ النَّبِيِّ ﷺ, وَشَفَاعَةِ الْأَنْبِيَاءِ, وَالْمَلَائِكَةِ, وَالصَّالِحِينَ, وَغَيْرِهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, كَمَا جَاءَ تَفْصِيلُهُ فِي الْأَدِلَّةِ الصَّحِيحَةِ.
11.Beriman kepada syafa‘at Nabi ﷺ, syafa‘at para nabi, para malaikat,
orang-orang saleh, dan selain mereka pada hari kiamat, sebagaimana perinciannya
disebutkan dalam dalil-dalil yang sahih.
١٢- رُؤْيَةُ
الْمُؤْمِنِينَ لِرَبِّهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ,
فِي الْجَنَّةِ وَفِي الْمَحْشَرِ, حَقٌّ وَمَنْ أَنْكَرَهَا أَوْ أَوَّلَهَا,
فَهُوَ زَائِغٌ ضَالٌّ. وَهِيَ لَنْ تَقَعَ لِأَحَدٍ فِي الدُّنْيَا.
12.Orang-orang beriman akan melihat Rabb
mereka pada hari kiamat, di surga dan di padang mahsyar, hal itu adalah
kebenaran. Barang siapa mengingkarinya atau menakwilkannya, maka ia menyimpang
dan sesat. Dan hal itu tidak akan terjadi bagi siapa pun di dunia.
١٣- كَرَامَاتُ
الْأَوْلِيَاءِ وَالصَّالِحِينَ حَقٌّ. وَلَيْسَ كُلُّ أَمْرٍ خَارِقٍ لِلْعَادَةِ
كَرَامَةً, بَلْ قَدْ يَكُونُ اسْتِدْرَاجًا. وَقَدْ يَكُونُ مِنْ تَأْثِيرِ
الشَّيَاطِينِ وَالْمُبْطِلِينَ وَالْمِعْيَارُ فِي ذٰلِكَ مُوَافَقَةُ الْكِتَابِ
وَالسُّنَّةِ أَوْ عَدَمُهَا.
13.Memuliakan para wali wali
dan orang-orang shalih adalah benar. Namun tidak setiap kejadian luar biasa
(khariqul ‘adah) merupakan kemuliaan, bisa jadi itu istidraj. Bisa pula berasal
dari pengaruh setan atau orang-orang yang batil.Dan tolak ukur dalam hal ini
adalah kesesuaiannya dengan Al-qur’an dan Sunnah, atau tidak.
١٤- الْمُؤْمِنُونَ كُلُّهُمْ أَوْلِيَاءُ الرَّحْمَنِ وَكُلُّ مُؤْمِنٍ فِيهِ مِنَ الْوِلَايَةِ
بِقَدْرِ إِيمَانِهِ.
14.Seluruh orang beriman adalah wali-wali Allah
Yang Maha Pengasih, dan setiap orang beriman memiliki derajat kewalian sesuai
dengan kadar imannya.
ثَالِثًا:
التَّوْحِيدُ
الْإِرَادِيُّ الطَّلَبِيُّ (تَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ)
Ketiga:
Tauhid Iradi
Thalabi(Tauhid Uluhiyyah / Tauhid Ibadah)
١ -اللَّهُ تَعَالَى
وَاحِدٌ أَحَدٌ لَا شَرِيكَ لَهُ فِي رُبُوبِيَّتِهِ وَأُلُوهِيَّتِهِ وَأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ
وَهُوَ رَبُّ الْعَالَمِينَ الْمُسْتَحِقُّ وَحْدَهُ لِجَمِيعِ أَنْوَاعِ
الْعِبَادَةِ.
1.
Allah ta‘ala adalah Maha Esa lagi Maha
Tunggal, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, serta
nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Allahlah Rabb seluruh alam, dan yang berhak
satu-satunya atas seluruh jenis ibadah.
٢ -صَرْفُ شَيْءٍ مِنْ أَنْوَاعِ الْعِبَادَةِ
كَالْدُّعَاءِ وَالاسْتِغَاثَةِ وَالاسْتِعَانَةِ وَالنَّذْرِ وَالذَّبْحِ
وَالتَّوَكُّلِ وَالْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ وَالْحُبِّ وَنَحْوِهَا لِغَيْرِ اللَّهِ
تَعَالَى شِرْكٌ أَيًّا كَانَ الْمَقْصُودُ بِذٰلِكَ مَلَكًا مُقَرَّبًا أَوْ نَبِيًّا مُرْسَلًا أَوْ عَبْدًا صَالِحًا
أَوْ غَيْرَهُمْ.
2.Mengarahkan salah satu bentuk ibadah seperti
doa, meminta pertolongan (istighatsah), memohon bantuan (isti‘anah), bernadzar,
menyembelih, bertawakal, takut, berharap, cinta, dan semisalnya kepada selain
Allah ta‘ala adalah perbuatan syirik, siapa pun yang dituju dengan ibadah
tersebut, baik malaikat yang dekat (kepada Allah), nabi yang diutus, hamba yang
shalih, maupun selain mereka.
٣- مِنْ أُصُولِ الْعِبَادَةِ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى
يُعْبَدُ بِالْحُبِّ وَالْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ جَمِيعًا.
وَعِبَادَتُهُ بِبَعْضِهَا دُونَ بَعْضٍ ضَلالٌ. قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: مَنْ عَبَدَ
اللَّهَ بِالْحُبِّ وَحْدَهُ فَهُوَ زَنْدِيقٌ, وَمَنْ عَبَدَهُ بِالْخَوْفِ وَحْدَهُ فَهُوَ حَرُّورِيٌّ, وَمَنْ عَبَدَهُ بِالرَّجَاءِ وَحْدَهُ فَهُوَ مُرْجِئٌ.
3.Termasuk pokok-pokok ibadah adalah bahwa Allah
ta‘ala harus disembah dengan rasa cinta, takut, dan berharap secara bersamaan.
Menyembah-Nya hanya dengan sebagian dari ketiganya tanpa yang lain adalah
kesesatan. Sebagian ulama berkata: “Barang siapa menyembah Allah hanya dengan
cinta, maka ia zindik, barang siapa menyembah-Nya hanya dengan rasa takut, maka
ia Haruri, dan barang siapa menyembah-Nya hanya dengan harapan, maka ia
Murji’.”
٤- التَّسْلِيمُ وَالرِّضَا وَالطَّاعَةُ
الْمُطْلَقَةُ لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ وَالْإِيمَانُ بِاللَّهِ تَعَالَى حَكَمًا
مِنَ الْإِيمَانِ بِهِ رَبًّا وَإِلَهًا فَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي حُكْمِهِ
وَأَمْرِهِ. وَتَشْرِيعُ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَالتَّحَاكُمُ إِلَى
الطَّاغُوتِ وَاتِّبَاعُ غَيْرِ شَرِيعَةِ مُحَمَّدٍ ﷺ وَتَبْدِيلُ شَيْءٍ
مِنْهَا كُفْرٌ وَمَنْ زَعَمَ أَنَّ أَحَدًا يَسَعُهُ الْخُرُوجُ عَنْهَا فَقَدْ كَفَرَ.
4.Berserah diri, ridha, dan ketaatan mutlak
kepada Allah dan Rasul-Nya, serta beriman bahwa Allah ta‘ala sebagai Penetap
hukum merupakan bagian dari iman kepada-Nya sebagai Rabb dan Ilah. Maka tidak
ada sekutu bagi-Nya dalam hukum dan perintah-Nya.Mensyariatkan sesuatu yang
tidak Allah izinkan, berhukum kepada thaghut, mengikuti selain syariat Muhammad
ﷺ, dan mengganti sebagian darinya adalah
kekafiran. Barang siapa mengklaim bahwa ada seseorang yang dibolehkan keluar
dari syariat tersebut, maka sungguh ia telah kafir.
ه- الْحُكْمُ بِغَيْرِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ كُفْرٌ أَكْبَرُ وَقَدْ يَكُونُ
كُفْرًا دُونَ كُفْرٍ.
5.Hukum
dengan selain apa yang Allah turunkan adalah kekufuran paling besar, dan bisa
pula berupa kekufuran di bawah kekufuran (tidak sampai kufur besar).
فَالأَوَّلُ الْتِزَامُ شَرْعِ غَيْرِ شَرْعِ اللَّهِ أَوْ تَجْوِيزُ الْحُكْمِ بِهِ. وَالثَّانِي
الْعُدُولُ عَنْ شَرْعِ اللَّهِ فِي وَاقِعَةٍ مُعَيَّنَةٍ لِهَوًى مَعَ
الِالْتِزَامِ بِشَرْعِ اللَّهِ.
Yang
pertama adalah berkomitmen kepada syariat selain syariat Allah, atau menganggap
boleh berhukum dengannya.Dan yang kedua adalah menyimpang dari syariat Allah
pada suatu kasus tertentu karena hawa nafsu, sementara tetap berkomitmen kepada
syariat Allah.
٦ -تَقْسِيمُ الدِّينِ
إِلَى حَقِيقَةٍ يَتَمَيَّزُ بِهَا الْخَاصَّةُ,
وَشَرِيعَةٍ تَلْزَمُ الْعَامَّةَ دُونَ الْخَاصَّةِ,
وَفَصْلُ السِّيَاسَةِ أَوْ غَيْرِهَا عَنِ الدِّينِ بَاطِلٌ .بَلْ كُلُّ مَا
خَالَفَ الشَّرِيعَةَ مِنْ حَقِيقَةٍ أَوْ سِيَاسَةٍ أَوْ غَيْرِهَا, فَهُوَ إِمَّا كُفْرٌ وَإِمَّا ضَلَالٌ بِحَسَبِ دَرَجَتِهِ.
6.Pembagian
agama menjadi hakikat yang hanya dikhususkan bagi kalangan tertentu, dan
syariat yang diwajibkan bagi orang awam namun tidak bagi kalangan khusus, serta
memisahkan politik atau selainnya dari agama adalah batil. Bahkan setiap hal baik
berupa hakikat, atau politik, atau selainnya yang menyelisihi syariat, maka ia
antara dua kemungkinan: kekufuran atau kesesatan, sesuai dengan tingkatannya.
٧- لَا يَعْلَمُ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ
وَاعْتِقَادُ أَنَّ أَحَدًا غَيْرَ اللَّهِ يَعْلَمُ الْغَيْبَ كُفْرٌ مَعَ
الْإِيمَانِ بِأَنَّ اللَّهَ يُطْلِعُ بَعْضَ رُسُلِهِ عَلَى شَيْءٍ مِنَ
الْغَيْبِ.
7.Tidak ada yang mengetahui perkara gaib
kecuali Allah semata.Keyakinan bahwa ada selain Allah yang mengetahui perkara
gaib adalah kekufuran, dengan tetap beriman bahwa Allah memperlihatkan kepada
sebagian rasul-Nya sebagian dari perkara gaib.
٨- اعْتِقَادُ صِدْقِ الْمُنَجِّمِينَ
وَالْكُهَّانِ كُفْرٌ وَإِتْيَانُهُمْ وَالذَّهَابُ إِلَيْهِمْ كَبِيرَةٌ.
8.Meyakini kebenaran para ahli bintang dan para dukun adalah
kekufuran, sedangkan mendatangi dan pergi kepada mereka merupakan dosa besar.
٩ -الْوَسِيلَةُ
الْمَأْمُورُ بِهَا فِي الْقُرْآنِ هِيَ مَا يُقَرِّبُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى
مِنَ الطَّاعَاتِ الْمَشْرُوعَةِ. وَالتَّوَسُّلُ ثَلَاثَةُ أَنْوَاعٍ:
أ – مَشْرُوعٌ: وَهُوَ التَّوَسُّلُ إِلَى اللَّهِ
تَعَالَى بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ أَوْ بِعَمَلٍ صَالِحٍ مِنَ الْمُتَوَسِّلِ أَوْ
بِدُعَاءِ الْحَيِّ الصَّالِحِ.
ب – بِدْعِيٌّ: وَهُوَ التَّوَسُّلُ إِلَى اللَّهِ
تَعَالَى بِمَا لَمْ يَرِدْ فِي الشَّرْعِ كَالتَّوَسُّلِ بِذَوَاتِ الْأَنْبِيَاءِ
وَالصَّالِحِينَ أَوْ جَاهِهِمْ أَوْ حَقِّهِمْ أَوْ حُرْمَتِهِمْ وَنَحْوِ ذَلِكَ.
ج – شِرْكِيٌّ: وَهُوَ اتِّخَاذُ الْأَمْوَاتِ
وَسَائِطَ فِي الْعِبَادَةِ وَدُعَاؤُهُمْ وَطَلَبُ الْحَوَائِجِ مِنْهُمْ وَالِاسْتِعَانَةُ
بِهِمْ وَنَحْوُ ذَلِكَ.
9.Wasilah yang
diperintahkan dalam Al-qur’an adalah segala sesuatu yang dapat mendekatkan
kepada Allah Ta‘ala berupa ketaatan- ketaatan yang disyariatkan. Tawassul
terbagi menjadi tiga macam:
a. Tawassul yang
disyariatkan, yaitu bertawassul kepada Allah ta‘ala dengan nama-nama dan
sifat-sifat-Nya, atau dengan amal shalih dari orang yang bertawassul, atau
dengan doa orang shalih yang masih hidup.
b. Tawassul bid‘ah, yaitu
bertawassul kepada Allah ta‘ala dengan sesuatu yang tidak datang keterangannya
dalam syariat, seperti bertawassul dengan dzat para nabi dan orang-orang shalih,
atau dengan kedudukan mereka, hak mereka, kehormatan mereka, dan semisalnya.
c. Tawassul syirik, yaitu
menjadikan orang-orang yang telah meninggal sebagai perantara dalam ibadah,
berdoa kepada mereka, meminta kebutuhan kepada mereka, serta memohon
pertolongan kepada mereka, dan yang semisalnya.
١٠ -الْبَرَكَةُ مِنَ
اللَّهِ تَعَالَى يَخْتَصُّ بَعْضَ خَلْقِهِ بِمَا يَشَاءُ مِنْهَا فَلَا تَثْبُتُ
فِي شَيْءٍ إِلَّا بِدَلِيلٍ.وَهِيَ تَعْنِي كَثْرَةَ الْخَيْرِ
وَزِيَادَتَهُ, أَوْ ثُبُوتَهُ وَلُزُومَهُ.
وَهِيَ فِي الزَّمَانِ: كَلَيْلَةِ الْقَدْرِ
وَفِي الْمَكَانِ: كَالْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَةِ.
وَفِي الْأَشْيَاءِ: كَمَاءِ زَمْزَمَ.
وَفِي الْأَعْمَالِ: فَكُلُّ عَمَلٍ صَالِحٍ مُبَارَكٌ.
وَفِي الْأَشْخَاصِ: كَذَوَاتِ الْأَنْبِيَاءِ ,وَلَا يَجُوزُ
التَّبَرُّكُ بِالْأَشْخَاصِ – لَا بِذَوَاتِهِمْ
وَلَا آثَارِهِمْ – إِلَّا بِذَاتِ النَّبِيِّ
ﷺ وَآثَارِهِ إِذْ لَمْ يَرِدِ الدَّلِيلُ إِلَّا
بِهَا, وَقَدِ انْقَطَعَ ذَلِكَ بِمَوْتِهِ ﷺ وَذَهَابِ آثَارِهِ.
10.Keberkahan berasal dari Allah ta‘ala yang mengkhususkan
sebagian makhluk-Nya dengan keberkahan sesuai dengan kehendak-Nya. Keberkahan
tidak dapat ditetapkan pada sesuatu apa pun kecuali dengan dalil.Makna
keberkahan adalah banyaknya kebaikan dan bertambahnya, atau tetap dan
terus-menerusnya kebaikan tersebut.Keberkahan terdapat pada waktu: seperti
Lailatul Qadar.
pada tempat: seperti tiga masjid (Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid
Al-Aqsha).
pada benda: seperti air Zamzam.
pada amal: karena setiap amal shalih adalah amal yang diberkahi.
dan pada pribadi: seperti dzat para nabi.Tidak boleh bertabarruk (mengharap
berkah) kepada individu baik pada dzat mereka maupun peninggalan mereka kecuali
pada dzat Nabi ﷺ dan peninggalan
beliau. Hal itu karena dalil hanya menetapkannya pada beliau, dan hal tersebut
telah terputus dengan wafatnya beliau ﷺ
serta hilangnya peninggalan-peninggalan beliau.
١١ -التَّبَرُّكُ مِنَ الْأُمُورِ التَّوْقِيفِيَّةِ فَلَا يَجُوزُ التَّبَرُّكُ إِلَّا بِمَا وَرَدَ
بِهِ الدَّلِيلُ.
11.Tabarruk
(mengharap keberkahan) termasuk perkara yang bersifat tauqifi (harus
berdasarkan dalil), maka tidak boleh bertabarruk kecuali dengan sesuatu yang
telah ditetapkan oleh dalil.
١٢ -أَفْعَالُ النَّاسِ
عِنْدَ الْقُبُورِ وَزِيَارَتِهَا ثَلَاثَةُ أَنْوَاعٍ:
الأَوَّلُ: مَشْرُوعٌ وَهُوَ زِيَارَةُ الْقُبُورِ لِتَذَكُّرِ
الْآخِرَةِ وَلِلسَّلَامِ عَلَى أَهْلِهَا وَالدُّعَاءِ لَهُمْ.
الثَّانِي: بِدْعِيٌّ يُنَافِي كَمَالَ التَّوْحِيدِ وَهُوَ وَسِيلَةٌ
مِنْ وَسَائِلِ الشِّرْكِ وَهُوَ قَصْدُ عِبَادَةِ اللَّهِ تَعَالَى
وَالتَّقَرُّبِ إِلَيْهِ عِنْدَ الْقُبُورِ أَوْ قَصْدُ التَّبَرُّكِ بِهَا أَوْ
إِهْدَاءُ الثَّوَابِ عِنْدَهَا وَالْبِنَاءُ عَلَيْهَا وَتَخْصِيصُهَا
وَإِسْرَاجُهَا وَاتِّخَاذُهَا مَسَاجِدَ وَشَدُّ الرِّحَالِ إِلَيْهَا وَنَحْوُ
ذَلِكَ مِمَّا ثَبَتَ النَّهْيُ عَنْهُ أَوْ مِمَّا لَا أَصْلَ لَهُ فِي الشَّرْعِ.
الثَّالِثُ: شِرْكِيٌّ يُنَافِي التَّوْحِيدَ وَهُوَ صَرْفُ
شَيْءٍ مِنْ أَنْوَاعِ الْعِبَادَةِ لِصَاحِبِ الْقَبْرِكَدُعَائِهِ مِنْ دُونِ
اللَّهِ وَالِاسْتِعَانَةِ وَالِاسْتِغَاثَةِ بِهِ وَالطَّوَافِ وَالذَّبْحِ
وَالنَّذْرِ لَهُ وَنَحْوِ ذَلِكَ.
12.Perbuatan manusia di sisi kuburan dan dalam
mengunjunginya
terbagi menjadi tiga macam:
Pertama: yang disyariatkan, yaitu berziarah kubur
untuk mengingat akhirat, memberi salam kepada para penghuninya, dan mendoakan
mereka.
Kedua: yang bid‘ah, yang meniadakakan
kesempurnaan tauhid dan merupakan salah satu sarana menuju kesyirikan, yaitu
bertujuan beribadah kepada Allah ta‘ala dan mendekatkan diri kepada-Nya di sisi
kuburan, atau bertujuan mencari berkah darinya, atau menghadiahkan pahala di
sisinya, membangun bangunan di atasnya, mengkhususkannya, menyalakan lampu
padanya, menjadikannya sebagai masjid, melakukan perjalanan khusus ke sana, dan
semisalnya baik yang telah ada larangan terhadapnya maupun yang tidak memiliki
dasar dalam syariat.
Ketiga: perbuatan yang bersifat syirik, yang meniadakan
tauhid, yaitu memalingkan salah satu bentuk ibadah kepada penghuni kubur,
seperti berdoa kepadanya selain kepada Allah, meminta pertolongan dan
perlindungan kepadanya, melakukan thawaf, menyembelih, dan bernadzar untuknya,
serta perbuatan-perbuatan sejenis.
١٣ -الْوَسَائِلُ لَهَا
حُكْمُ الْمَقَاصِدِ. وَكُلُّ ذَرِيعَةٍ إِلَى الشِّرْكِ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ أَوِ
الِابْتِدَاعِ فِي الدِّينِ يَجِبُ سَدُّهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ فِي
الدِّينِ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.
13.Perantara perantara memiliki
hukum yang sama dengan tujuan. Setiap perantara yang mengantarkan kepada
kesyirikan dalam beribadah kepada Allah atau kepada perbuatan bid‘ah dalam
agama wajib ditutup. Karena setiap perkara baru dalam agama adalah bid‘ah, dan
setiap bid‘ah adalah kesesatan.
رَابِعًا:
الإِيمَانُ
KEEMPAT:
IMAN
١ -الإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ. فَهُوَ: قَوْلُ الْقَلْبِ,
وَاللِّسَانِ, وَعَمَلُ الْقَلْبِ وَاللِّسَان,ِ وَالْجَوَارِحِ.
فَقَوْلُ الْقَلْبِ: اعْتِقَادُهُ وَتَصْدِيقُهُ.
وَقَوْلُ اللِّسَانِ: إِقْرَارُهُ.
وَعَمَلُ الْقَلْبِ: تَسْلِيمُهُ وَإِخْلَاصُهُ وَإِذْعَانُهُ وَحُبُّهُ
وَإِرَادَتُهُ لِلْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ.
وَعَمَلُ الْجَوَارِحِ: فِعْلُ الْمَأْمُورَاتِ وَتَرْكُ الْمَنْهِيَّاتِ.
1.Iman adalah ucapan dan perbuatan: ia bertambah
dan berkurang. Iman mencakup ucapan hati dan lisan, serta amalan hati, lisan,
dan anggota badan.Ucapan hati adalah keyakinan dan pembenarannya.
Ucapan lisan adalah pengakuannya.
Amalan hati adalah kepasrahan, keikhlasan, ketundukan, kecintaan, dan
kehendaknya terhadap amal-amal shalih.
Sedangkan amalan anggota badan adalah melaksanakan perintah-perintah dan
meninggalkan larangan-larangan.
٢ -مَنْ أَخْرَجَ
الْعَمَلَ عَنِ الْإِيمَانِ فَهُوَ مُرْجِئٌ ,وَمَنْ أَدْخَلَ
فِيهِ مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ مُبْتَدِعٌ.
2.Barang siapa mengeluarkan
amal dari iman, maka ia adalah murji’ah, dan barang siapa memasukkan ke dalam
iman sesuatu yang bukan bagian darinya, maka ia adalah pelaku bid‘ah.
٣- مَنْ لَمْ يُقِرَّ بِالشَّهَادَتَيْنِ لَا
يَثْبُتُ لَهُ اسْمُ الْإِيمَانِ وَلَا حُكْمُهُ لَا فِي الدُّنْيَا وَلَا فِي
الْآخِرَةِ
3.Barang siapa tidak
mengakui dua kalimat syahadat, maka tidak ditetapkan baginya nama iman dan
tidak pula hukumnya, baik di dunia maupun di akhirat.
٤- الْإِسْلَامُ وَالْإِيمَانُ اسْمَانِ شَرْعِيَّانِ
بَيْنَهُمَا عُمُومٌ وَخُصُوصٌ مِنْ وَجْهٍ وَيُسَمَّى أَهْلُ الْقِبْلَةِ
مُسْلِمِينَ.
4.Islam dan iman adalah dua
istilah syar‘i, keduanya memiliki hubungan umum dan khusus dari satu sisi. Dan
orang-orang yang menghadap kiblat disebut sebagai kaum muslimin.
ه -مُرْتَكِبُ الْكَبِيرَةِ لَا يَخْرُجُ
مِنَ الْإِيمَانِ, فَهُوَ فِي الدُّنْيَا مُؤْمِنٌ نَاقِصُ
الْإِيمَانِ, وَفِي الْآخِرَةِ تَحْتَ مَشِيئَةِ اللَّهِ إِنْ شَاءَ غَفَرَ
لَهُ وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ, وَالْمُوَحِّدُونَ كُلُّهُمْ مَصِيرُهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ
وَإِنْ عُذِّبَ مِنْهُمْ بِالنَّارِ مَنْ عُذِّبَ, وَلَا يُخَلَّدُ أَحَدٌ مِنْهُمْ فِيهَا قَطُّ.
5.Pelaku
dosa besar tidak keluar dari iman, di dunia ia adalah seorang mukmin dengan
iman yang berkurang, dan di akhirat ia berada di bawah kehendak Allah jika
Allah menghendaki Dia mengampuninya, dan jika Allah menghendaki maka Allah
mengadzabnya.Dan seluruh orang-orang yang bertauhid, tempat kembali mereka menuju
surga.Dan meskipun ada di antara mereka yang diazab di neraka, tidak ada
seorang pun dari mereka yang akan kekal di dalamnya selama-lamanya.
٦ -لَا يَجُوزُ
الْقَطْعُ لِمُعَيَّنٍ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ بِالْجَنَّةِ أَوِ النَّارِ إِلَّا
مَنْ ثَبَتَ النَّصُّ فِي حَقِّهِ.
6. Tidak boleh memastikan
secara tegas seseorang tertentu dari kalangan Ahli qiblat masuk surga atau
neraka, kecuali orang yang telah ditetapkan nash tentangnya.
٧ -الْكُفْرُ فِي الْأَلْفَاظِ
الشَّرْعِيَّةِ قِسْمَانِ: أَكْبَرُ مُخْرِجٌ مِنَ الْمِلَّةِ وَأَصْغَرُ غَيْرُ مُخْرِجٍ مِنَ الْمِلَّةِ
وَيُسَمَّى أَحْيَانًا بِالْكُفْرِ الْعَمَلِيِّ.
7. Kekufuran dalam istilah
syariat terbagi menjadi dua: kufur besar yang mengeluarkan dari agama, dan
kufur kecil yang tidak mengeluarkan dari agama, yang terkadang disebut sebagai
kufur perbuatan.
٨ -التَّكْفِيرُ مِنَ
الْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الَّتِي مَرْدُّهَا إِلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فَلَا يَجُوزُ تَكْفِيرُ مُسْلِمٍ بِقَوْلٍ أَوْ
فِعْلٍ مَا لَمْ يَدُلَّ دَلِيلٌ شَرْعِيٌّ عَلَى ذَلِكَ وَلَا يَلْزَمُ
مِنْ إِطْلَاقِ حُكْمِ الْكُفْرِ عَلَى قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ ثُبُوتُ مُوجِبِهِ فِي
حَقِّ الْمُعَيَّنِ إِلَّا إِذَا تَحَقَّقَتِ الشُّرُوطُ وَانْتَفَتِ
الْمَوَانِعُ. وَالتَّكْفِيرُ مِنْ أَخْطَرِ الْأَحْكَامِ فَيَجِبُ
التَّثَبُّتُ وَالْحَذَرُ مِنْ تَكْفِيرِ الْمُسْلِمِ.
8. Pengkafiran (takfir) termasuk hukum-hukum
syariat yang kembali kepada Al-qur’an dan Sunnah. Maka tidak boleh mengkafirkan
seorang Muslim dengan ucapan atau perbuatan, kecuali ada dalil syar‘i yang
menunjukkan hal tersebut. Dan tidak otomatis penetapan hukum kufur atas suatu
ucapan atau perbuatan menjadikan hukum itu berlaku pada individu tertentu,
kecuali setelah terpenuhi syarat-syaratnya dan hilang penghalang-penghalangnya.
Takfir merupakan salah satu hukum yang paling berbahaya, sehingga wajib
bersikap hati-hati dan penuh kehati-hatian dalam mengkafirkan seorang muslim.
خَامِسًا:
الْقُرْآنُ وَالْكَلَامُ
Kelima:
Al-qur’an dan Kalam (sifat berbicara Allah)
١ -الْقُرْآنُ كَلَامُ
اللَّهِ (حُرُوفُهُ وَمَعَانِيهِ) مُنَزَّلٌ غَيْرُ مَخْلُوقٍ مِنْهُ بَدَأَ وَإِلَيْهِ
يَعُودُ وَهُوَ مُعْجِزٌ دَالٌّ عَلَى صِدْقِ مَنْ جَاءَ بِهِ ﷺ وَمَحْفُوظٌ إِلَى
يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
1.Al-qur’an adalah kalam Allah—huruf dan
maknanya—diturunkan dan tidak diciptakan, dari-Nya bermula dan kepada-Nya
kembali. Ia bersifat mukjizat yang menunjukkan kebenaran orang yang membawanya,
yaitu Nabi ﷺ, dan terjaga hingga Hari Kiamat.
٢ -اللَّهُ تَعَالَى
يَتَكَلَّمُ بِمَا شَاءَ مَتَى شَاءَ كَيْفَ شَاءَ وَكَلَامُهُ تَعَالَى حَقِيقَةٌ
بِحَرْفٍ وَصَوْتٍ وَالْكَيْفِيَّةُ لَا نَعْلَمُهَا وَلَا نَخُوضُ فِيهَا.
2.Allah ta‘ala berbicara dengan apa yang di kehendaki,
kapan di kehendaki, dan bagaimana menghendaki. Kalam Allah adalah hakikat,
dengan huruf dan suara, adapun bagaimana hakikatnya, kita tidak mengetahuinya
dan tidak membahasnya.
٣ -الْقَوْلُ بِأَنَّ كَلَامَ اللَّهِ مَعْنًى
نَفْسِيٌّ أَوْ أَنَّ الْقُرْآنَ حِكَايَةٌ أَوْ عِبَارَةٌ أَوْ مَجَازٌ أَوْ فَيْضٌ وَمَا
أَشْبَهَ ذَلِكَ ضَلَالٌ وَزَيْغٌ وَقَدْ يَكُونُ كُفْرًا.
3.Pernyataan bahwa kalam
Allah hanyalah makna batin (makna dalam jiwa), atau bahwa Al-Qur’an hanyalah
hikayat, ungkapan, majas, atau pancaran (emanasi), dan semisalnya adalah
kesesatan dan penyimpangan, dan bisa sampai pada kekufuran.
٤ -مَنْ أَنْكَرَ
شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ أَوِ ادَّعَى فِيهِ النُّقْصَانَ أَوِ الزِّيَادَةَ أَوِ
التَّحْرِيفَ فَهُوَ كَافِرٌ.
4.Barang siapa mengingkari
sesuatu dari Al-qur’an, atau mengklaim adanya pengurangan, penambahan, atau
perubahan (tahrif) padanya, maka ia kafir.
ه- الْقُرْآنُ يَجِبُ أَنْ يُفَسَّرَ بِمَا هُوَ
مَعْلُومٌ مِنْ مَنْهَجِ السَّلَفِ وَلَا يَجُوزُ تَفْسِيرُهُ بِالرَّأْيِ
الْمُجَرَّدِ فَإِنَّهُ مِنَ الْقَوْلِ عَلَى اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ.
وَتَأْوِيلُهُ بِتَأْوِيلَاتِ الْبَاطِنِيَّةِ وَأَمْثَالِهَا كُفْرٌ
5.Al-qur’an wajib
ditafsirkan sesuai dengan metode yang dikenal dari manhaj para salaf. Tidak
boleh menafsirkannya dengan pendapat semata, karena itu termasuk berkata atas
nama Allah tanpa ilmu. Menakwilkannya dengan takwil-takwil batiniyah dan yang
semisalnya adalah kekufuran.
سَادِسًا :
الْقَدَرُ
KEENAM:
TAKDIR
١- مِنْ أَرْكَانِ الْإِيمَانِ الْإِيمَانُ بِالْقَدَرِ, خَيْرِهِ وَشَرِّهِ,
مِنَ اللَّهِ تَعَالَى, وَيَشْمَلُ :
الْإِيمَانَ بِكُلِّ نُصُوصِ الْقَدَرِ
وَمَرَاتِبِهِ:
)الْعِلْمِ وَالْكِتَابَةِ وَالْمَشِيئَةِ
وَالْخَلْقِ (
وَأَنَّهُ تَعَالَى لَا رَادَّ لِقَضَائِهِ
وَلَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ.
1.Termasuk rukun iman
adalah beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk, semuanya dari Allah ta‘ala.
Iman kepada takdir mencakup iman terhadap seluruh nash tentang takdir dan
tingkatan-tingkatannya, yaitu: ilmu, pencatatan, kehendak, dan penciptaan.
Serta meyakini bahwa Allah ta‘ala tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya
dan tidak ada yang dapat membatalkan keputusan-Nya.
٢ -الْإِرَادَةُ
وَالْأَمْرُ الْوَارِدَانِ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ نَوْعَانِ :
أ - إِرَادَةٌ
كَوْنِيَّةٌ قَدَرِيَّةٌ (بِمَعْنَى الْمَشِيئَةِ) وَأَمْرٌ كَوْنِيٌّ قَدَرِيٌّ.
ب - إِرَادَةٌ
شَرْعِيَّةٌ (لَازِمُهَا الْمَحَبَّةُ) وَأَمْرٌ شَرْعِيٌّ.
وَلِلْمَخْلُوقِ إِرَادَةٌ وَمَشِيئَةٌ وَلَكِنَّهَا تَابِعَةٌ
لِإِرَادَةِ الْخَالِقِ وَمَشِيئَتِهِ.
2.Kehendak dan perintah yang terdapat dalam Al-kitab
dan Sunnah ada dua macam:
Pertama: kehendak kauni qadari (yakni kehendak atau masyi’ah), serta perintah
kauni qadari.
Kedua: kehendak syar‘i (yang konsekuensinya adalah kecintaan), serta perintah
syar‘i.
Makhluk memiliki kehendak dan kemauan, namun kehendak dan kemauan tersebut
mengikuti kehendak dan kemauan Sang Pencipta.
٣ -هِدَايَةُ الْعِبَادِ وَإِضْلَالُهُمْ
بِيَدِ اللَّهِ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَاهُ اللَّهُ فَضْلًاوَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ
عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ عَدْلًا.
3.Petunjuk dan kesesatan
para hamba berada di tangan Allah. Di antara mereka ada yang diberi petunjuk
oleh Allah sebagai karunia, dan di antara mereka ada yang ditetapkan atasnya
kesesatan sebagai bentuk keadilan.
٤ -الْعِبَادُ وَأَفْعَالُهُمْ مِنْ
مَخْلُوقَاتِ اللَّهِ تَعَالَى الَّذِي لَا خَالِقَ سِوَاهُ فَاللَّهُ
خَالِقٌ لِأَفْعَالِ الْعِبَادِ وَهُمْ فَاعِلُونَ لَهَا عَلَى الْحَقِيقَةِ.
4.Para hamba dan perbuatan-perbuatan mereka
termasuk makhluk Allah ta‘ala, yang tidak ada pencipta selain Allah. Maka Allah
adalah Pencipta untuk perbuatan para hamba, dan mereka benar-benar melakukan
perbuatan tersebut secara nyata.
ه- إِثْبَاتُ
الْحِكْمَةِ فِي أَفْعَالِ اللَّهِ تَعَالَى وَإِثْبَاتُ تَأْثِيرِ الْأَسْبَابِ
بِمَشِيئَةِ اللَّهِ تَعَالَى.
5.Menetapkan adanya hikmah dalam
perbuatan-perbuatan Allah ta‘ala, serta menetapkan bahwa sebab-sebab memiliki
pengaruh dengan kehendak Allah ta’ala.
٦ -الْآجَالُ مَكْتُوبَةٌ وَالْأَرْزَاقُ مَقْسُومَةٌ وَالسَّعَادَةُ وَالشَّقَاوَةُ مَكْتُوبَتَانِ عَلَى النَّاسِ قَبْلَ خَلْقِهِمْ.
6.Ajal-ajal telah ditetapkan, rezeki-rezeki telah
dibagikan, dan kebahagiaan serta kesengsaraan telah dituliskan atas manusia
sebelum mereka diciptakan.
٧ -الِاحْتِجَاجُ بِالْقَدَرِ يَكُونُ عَلَى الْمَصَائِبِ وَالْآلَامِ وَلَا يَجُوزُ الِاحْتِجَاجُ بِهِ عَلَى الْمَعَايِبِ وَالْآثَامِ بَلْ تَجِبُ التَّوْبَةُ مِنْهَا وَيُلَامُ فَاعِلُهَا.
7.Berdalil dengan takdir
dibenarkan dalam perkara musibah dan penderitaan, namun tidak boleh dijadikan
dalil dalam perkara aib dan dosa. Bahkan wajib bertaubat darinya, dan pelakunya
patut dicela.
٨ -الِانْقِطَاعُ
إِلَى الْأَسْبَابِ شِرْكٌ فِي التَّوْحِيدِ
وَالْإِعْرَاضُ عَنِ الْأَسْبَابِ بِالْكُلِّيَّةِ قَدْحٌ فِي الشَّرْعِ
وَنَفْيُ تَأْثِيرِ الْأَسْبَابِ مُخَالِفٌ لِلشَّرْعِ وَالْعَقْل
وَالتَّوَكُّلُ لَا يُنَافِي الْأَخْذَ بِالْأَسْبَابِ.
8.Bergantung sepenuhnya kepada sebab-sebab
merupakan kesyirikan dalam tauhid.
Berpaling dari sebab-sebab secara total adalah celaan terhadap syariat.
Meniadakan pengaruh sebab-sebab bertentangan dengan syariat dan akal.
Dan tawakal tidaklah bertentangan dengan mengambil sebab-sebab.
سَابِعًا :
الْجَمَاعَةُ وَالْإِمَامَةُ
Persatuan umat (di atas kebenaran) dan kepemimpinan
١ -الْجَمَاعَةُ – فِي هَذَا الْبَابِ
– هُمْ أَصْحَابُ النَّبِيِّ وَالتَّابِعُونَ
لَهُمْ بِإِحْسَانٍ الْمُتَمَسِّكُونَ بِآثَارِهِمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ
الْفِرْقَةُ النَّاجِيَةُ.
وَكُلُّ مَنْ الْتَزَمَ بِمَنْهَجِهِمْ فَهُوَ مِنَ الْجَمَاعَةِ وَإِنْ
أَخْطَأَ فِي بَعْضِ الْجُزْئِيَّاتِ.
1.Yang dimaksud dengan jamaah dalam
pembahasan ini adalah para sahabat Nabi, para tabi‘in yang mengikuti mereka
dengan baik, yang berpegang teguh pada jejak-jejak mereka hingga hari Kiamat.
Merekalah golongan yang selamat. Setiap orang yang berkomitmen dengan manhaj
mereka termasuk bagian dari jamaah, meskipun ia keliru dalam sebagian perkara
cabang.
٢ -لَا يَجُوزُ
التَّفَرُّقُ فِي الدِّينِ وَلَا الْفِتْنَةُ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ وَيَجِبُ
رَدُّ مَا اخْتَلَفَ فِيهِ الْمُسْلِمُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ
رَسُولِهِ وَمَا كَانَ عَلَيْهِ السَّلَفُ الصَّالِحُ.
2.Tidak boleh berpecah
belah dalam agama dan tidak boleh menimbulkan fitnah di tengah kaum muslimin.
Wajib mengembalikan perkara yang diperselisihkan kepada Kitab Allah, Sunnah
Rasul-Nya, dan apa yang telah ditempuh oleh para salaf saleh.
٣ -مَنْ خَرَجَ عَنِ الْجَمَاعَةِ وَجَبَ نُصْحُهُ
وَدَعْوَتُهُ وَمُجَادَلَتُهُ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ وَإِقَامَةُ الْحُجَّةِ
عَلَيْهِ فَإِنْ تَابَ وَإِلَّا عُوقِبَ بِمَا يَسْتَحِقُّ شَرْعًا.
3.Barang siapa keluar dari
jamaah, maka wajib dinasihati, diajak, didiskusikan dengan cara yang terbaik,
dan menegakkan dalil atasnya. Jika ia bertaubat maka diterima, jika tidak maka
ia dikenai sanksi sesuai ketentuan syariat.
٤ -إِنَّمَا يَجِبُ
حَمْلُ النَّاسِ عَلَى الْجُمَلِ الثَّابِتَةِ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ وَلَا يَجُوزُ امْتِحَانُ عَامَّةِ
الْمُسْلِمِينَ بِالْأُمُورِ الدَّقِيقَةِ وَالْمَعَانِي الْعَمِيقَةِ.
4.Yang wajib adalah membawa
manusia kepada prinsip-prinsip pokok yang telah tetap berdasarkan Al-qur’an,
Sunnah, dan ijma‘. Tidak boleh menguji kaum muslimin awam dengan
perkara-perkara yang rumit dan makna-makna yang mendalam.
٥ -الْأَصْلُ فِي
جَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ سَلَامَةُ الْقَصْدِ وَالْمُعْتَقَدِ حَتَّى يَظْهَرَ
خِلَافُ ذَلِكَ وَالْأَصْلُ حَمْلُ كَلَامِهِمْ عَلَى الْمَحْمَلِ الْحَسَنِ
وَمَنْ ظَهَرَ عِنَادُهُ وَسُوءُ قَصْدِهِ فَلَا يَجُوزُ تَكَلُّفُ
التَّأْوِيلَاتِ لَهُ.
5.Hukum asal seluruh kaum muslimin adalah baiknya
niat dan akidah mereka hingga tampak kebalikannya. Hukum asal ucapan mereka
dibawa kepada makna yang baik. Adapun orang yang tampak keras kepala dan buruk
niatnya, maka tidak boleh memaksakan penakwilan-penakwilan untuknya.
٦ -فِرَقُ أَهْلِ
الْقِبْلَةِ الْخَارِجَةُ عَنِ السُّنَّةِ مُتَوَعَّدُونَ بِالْهَلَاكِ وَالنَّار, وَحُكْمُهُمْ حُكْمُ عَامَّةِ أَهْلِ الْوَعِيدِ إِلَّا مَنْ
كَانَ مِنْهُمْ كَافِرًا فِي الْبَاطِنِ.
وَالْفِرَقُ الْخَارِجَةُ عَنِ الْإِسْلَامِ كُفَّارٌ فِي الْجُمْلَةِ
وَحُكْمُهُمْ حُكْمُ الْمُرْتَدِّينَ.
6.Kelompok-kelompok dari
Ahli qiblat yang menyelisihi Sunnah terancam dengan kebinasaan dan neraka.
Hukum mereka seperti hukum umum pelaku ancaman, kecuali orang yang kafir secara
batin. Adapun kelompok-kelompok yang keluar dari Islam, maka mereka kafir
secara umum dan hukumnya adalah hukum orang-orang murtad.
٧ -الْجُمُعَةُ وَالْجَمَاعَةُ مِنْ أَعْظَمِ
شَعَائِرِ الْإِسْلَامِ الظَّاهِرَةِ وَالصَّلَاةُ خَلْفَ مَسْتُورِ الْحَالِ مِنَ
الْمُسْلِمِينَ صَحِيحَةٌ وَتَرْكُهَا بِدَعْوَى
جَهَالَةِ حَالِهِ بِدْعَةٌ.
7.Shalat Jumat dan shalat berjamaah termasuk
syiar Islam yang paling agung dan tampak. Shalat di belakang imam muslim yang
tidak diketahui keadaannya adalah sah. Meninggalkannya dengan alasan tidak
mengetahui keadaannya merupakan bid‘ah.
٨ -لَا تَجُوزُ
الصَّلَاةُ خَلْفَ مَنْ يُظْهِرُ الْبِدْعَةَ أَوِ الْفُجُورَ مَعَ إِمْكَانِهَا
خَلْفَ غَيْرِهِ وَإِنْ وَقَعَتْ صَحَّتْ وَيَأْثَمُ فَاعِلُهَا إِلَّا إِذَا
قَصَدَ دَفْعَ مَفْسَدَةٍ أَعْظَمَ.
فَإِنْ لَمْ يُوجَدْ إِلَّا مِثْلُهُ أَوْ شَرٌّ مِنْهُ جَازَتْ خَلْفَهُ
وَلَا يَجُوزُ تَرْكُهَا.
وَمَنْ حُكِمَ بِكُفْرِهِ فَلَا تَصِحُّ الصَّلَاةُ خَلْفَهُ.
8.Tidak boleh shalat di
belakang orang yang menampakkan bid‘ah atau kefasikan jika memungkinkan shalat
di belakang selainnya. Jika tetap dilakukan maka shalatnya sah, namun pelakunya
berdosa kecuali jika bertujuan menolak kerusakan yang lebih besar. Jika tidak
didapati kecuali imam semisalnya atau yang lebih buruk, maka boleh shalat di
belakangnya dan tidak boleh meninggalkannya. Adapun orang yang diputuskan
kafir, maka tidak sah shalat di belakangnya.
٩ -الْإِمَامَةُ
الْكُبْرَى تَثْبُتُ بِإِجْمَاعِ الْأُمَّةِ أَوْ بِبَيْعَةِ ذَوِي الْحَلِّ
وَالْعَقْدِ مِنْهُمْ وَمَنْ تَغَلَّبَ حَتَّى اجْتَمَعَتْ عَلَيْهِ الْكَلِمَةُ
وَجَبَتْ طَاعَتُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَمَنَاصَحَت وَحَرُمَ الْخُرُوجُ عَلَيْهِ
إِلَّا إِذَا ظَهَرَ مِنْهُ كُفْرٌ بَوَاحٌ فِيهِ مِنَ اللَّهِ بُرْهَانٌ.
9.kepemimpinan tertinggi ditetapkan dengan ijma‘
umat atau baiat orang-orang yang memiliki otoritas. Siapa yang berkuasa hingga
manusia sepakat atas kepemimpinannya, maka wajib ditaati dalam perkara yang
ma‘ruf dan dinasihati. Haram memberontak terhadapnya kecuali jika tampak darinya
kekufuran yang nyata dengan bukti dari Allah.
١٠ -الصَّلَاةُ
وَالْحَجُّ وَالْجِهَادُ وَاجِبَةٌ مَعَ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَإِنْ جَارُوا.
10.Shalat, haji, dan jihad
tetap wajib dilakukan bersama para pemimpin kaum muslimin meskipun mereka
berbuat dzalim.
١١ -يَحْرُمُ
الْقِتَالُ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ عَلَى الدُّنْيَا أَوِ الْحَمِيَّةِ
الْجَاهِلِيَّةِ وَهُوَ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ.وَإِنَّمَا يَجُوزُ
قِتَالُ أَهْلِ الْبِدْعَةِ وَالْبَغْيِ وَأَشْبَاهِهِمْ إِذَا لَمْ يُمْكِنْ
دَفْعُهُمْ بِأَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ وَقَدْ يَجِبُ بِحَسَبِ الْمَصْلَحَةِ
وَالْحَالِ.
11.Haram hukumnya berperang
antar kaum muslimin demi dunia atau fanatisme jahiliah, dan itu termasuk dosa
yang paling besar. Diperbolehkan memerangi ahli bid‘ah, pemberontak, dan
semisal mereka apabila tidak dapat dicegah dengan cara yang lebih ringan,
bahkan bisa menjadi wajib sesuai dengan maslahat dan kondisi.
١٢ -الصَّحَابَةُ
الْكِرَامُ كُلُّهُمْ عُدُولٌ وَهُمْ أَفْضَلُ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَالشَّهَادَةُ
لَهُمْ بِالْإِيمَانِ وَالْفَضْلِ أَصْلٌ قَطْعِيٌّ مَعْلُومٌ مِنَ الدِّينِ
بِالضَّرُورَةِ.
وَمَحَبَّتُهُمْ دِينٌ وَإِيمَانٌ وَبُغْضُهُمْ
كُفْرٌ وَنِفَاقٌ مَعَ الْكَفِّ عَمَّا شَجَرَ بَيْنَهُمْ وَتَرْكِ الْخَوْضِ
فِيهِ بِمَا يَقْدَحُ فِي قَدْرِهِمْ.
وَأَفْضَلُهُمْ أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ ثُمَّ عَلِيٌّ
وَهُمْ الْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ وَتَثْبُتُ خِلَافَةُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ
حَسَبَ تَرْتِيبِهِمْ.
12.Seluruh sahabat yang mulia adalah orang-orang
yang adil dan mereka adalah umat terbaik. Kesaksian bahwa mereka beriman dan
utama merupakan prinsip pasti yang diketahui secara darurat dalam agama.
Mencintai mereka adalah agama dan iman, membenci mereka adalah kekufuran dan
kemunafikan. Wajib menahan diri dari perselisihan yang terjadi di antara mereka
dan meninggalkan pembahasan yang mencela kedudukan mereka. Yang paling utama di
antara mereka adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali.
Mereka adalah para khalifah yang mendapat petunjuk, dan kekhalifahan
masing-masing sah sesuai urutan mereka.
١٣ -وَمِنَ الدِّينِ مَحَبَّةُ آلِ بَيْتِ رَسُولِ
اللَّهِ ﷺ وَتَوَلِّيهِمْ وَتَعْظِيمُ قَدْرِ أَزْوَاجِهِ
أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَعْرِفَةُ فَضْلِهِنَّ وَمَحَبَّةُ أَئِمَّةِ
السَّلَفِ وَعُلَمَاءِ السُّنَّةِ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ وَمُجَانَبَةُ
أَهْلِ الْبِدَعِ وَالْأَهْوَاءِ.
13.Termasuk ajaran agama
adalah mencintai keluarga Rasulullah ﷺ,
loyal kepada mereka, mengagungkan kedudukan istri-istri beliau sebagai Ummul
Mukminin, mengetahui keutamaan mereka, mencintai para imam salaf, ulama Ahlus
Sunnah, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, serta menjauhi ahli
bid‘ah dan hawa nafsu.
١٤ - الْجِهَادُ فِي
سَبِيلِ اللَّهِ ذِرْوَةُ سَنَامِ الْإِسْلَامِ وَهُوَ مَاضٍ إِلَى قِيَامِ
السَّاعَةِ.
14.Jihad di jalan Allah adalah puncak ajaran
Islam, dan ia akan terus berlangsung hingga hari Kiamat.
١٥ -الْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ
الْمُنْكَرِ مِنْ أَعْظَمِ شَعَائِرِ الْإِسْلَامِ وَمِنْ أَسْبَابِ حِفْظِ
جَمَاعَتِهِ وَهُمَا يَجِبَانِ بِحَسَبِ الطَّاقَةِ
وَالْمَصْلَحَةُ مُعْتَبَرَةٌ فِي ذَلِكَ.
15.Amar ma‘ruf dan nahi
munkar termasuk syiar Islam yang paling agung dan merupakan sebab terjaganya
persatuan umat. Keduanya wajib dilakukan sesuai kemampuan, dan pertimbangan
maslahat sangat diperhatikan di dalamnya.
أَهَمُّ خَصَائِصِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ وَسِمَاتِهِمْ
Karakteristik dan ciri-ciri terpenting Ahlus Sunnah wal Jama‘ah
أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ هُمُ الْفِرْقَةُ النَّاجِيَةُ
وَالطَّائِفَةُ الْمَنْصُورَةُ. وَهُمْ عَلَى تَفَاوُتِهِمْ فِيمَا بَيْنَهُمْ
لَهُمْ خَصَائِصُ وَسِمَاتٌ تُـمَيِّزُهُمْ عَنْ غَيْرِهِمْ مِنْهَا:
Ahlus Sunnah wal Jama‘ah
adalah golongan yang selamat dan kelompok yang ditolong. Meskipun terdapat
perbedaan tingkatan di antara mereka, mereka memiliki karakteristik dan
ciri-ciri yang membedakan mereka dari selain mereka, di antaranya:
١- الِاهْتِمَامُ بِكِتَابِ اللَّهِ: حِفْظًا
وَتِلَاوَةً وَتَفْسِيرًا.
وَالِاهْتِمَامُ بِالْحَدِيثِ: مَعْرِفَةً وَفَهْمًا وَتَمْيِيزًا
لِصَحِيحِهِ مِنْ سَقِيمِهِ (لِأَنَّهُمَا مَصْدَرَا التَّلَقِّي) مَعَ اقْتِرَانِ
الْعِلْمِ بِالْعَمَلِ.
1.Perhatian yang besar
terhadap Kitab Allah: dengan menghafalnya, membacanya, dan menafsirkannya.Serta perhatian terhadap hadits: dengan
mempelajarinya, memahaminya, dan membedakan yang sahih dari yang lemah (karena
keduanya merupakan sumber pengambilan ajaran), disertai dengan mengamalkan ilmu
tersebut.
٢ -الدُّخُولُ فِي
الدِّينِ كُلِّهِ, وَالْإِيمَانُ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ,
فَيُؤْمِنُونَ بِنُصُوصِ الْوَعْدِ, وَنُصُوصِ الْوَعِيدِ, وَبِنُصُوصِ الْإِثْبَاتِ,
وَنُصُوصِ التَّنْزِيهِ وَيَجْمَعُونَ بَيْنَ الْإِيمَانِ
بِقَدَرِ اللَّهِ, وَإِثْبَاتِ إِرَادَةِ الْعَبْدِ,
وَمَشِيئَتِهِ, وَفِعْلِهِ,كَمَا يَجْمَعُونَ بَيْنَ الْعِلْمِ
وَالْعِبَادَةِ, وَبَيْنَ الْقُوَّةِ وَالرَّحْمَةِ,
وَبَيْنَ الْعَمَلِ بِالْأَسْبَابِ وَالزُّهْدِ.
2.Masuk ke dalam agama secara menyeluruh dan
beriman kepada seluruh isi Kitab, maka mereka beriman
kepada nash-nash janji, nash-nash ancaman, nash-nash penetapan sifat, dan
nash-nash penyucian Allah (dari kekurangan), dan mereka
menggabungkan antara iman kepada takdir Allah dengan penetapan kehendak,
keinginan, dan perbuatan hamba, sebagaimana mereka
juga menggabungkan antara ilmu dan ibadah, antara kekuatan dan kasih sayang,
serta antara beramal dengan sebab-sebab dan bersikap zuhud.
٣ -الِاتِّبَاعُ
وَتَرْكُ الِابْتِدَاعِ وَالِاجْتِمَاعُ وَنَبْذُ الْفُرْقَةِ وَالِاخْتِلَافِ فِي
الدِّينِ.
3.Mengikuti tuntunan (syariat), meninggalkan
perbuatan bid‘ah, menjaga persatuan, serta menolak perpecahan dan perselisihan
dalam agama.
٤ -الِاقْتِدَاءُ
وَالِاهْتِدَاءُ بِأَئِمَّةِ الْهُدَى الْعُدُولِ الْمُقْتَدَى بِهِمْ فِي
الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ وَالدَّعْوَةِ الصَّحَابَةُ
وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَمُجَانَبَةُ مَنْ خَالَفَ سَبِيلَهُمْ.
4.Meneladani dan mengambil petunjuk dari para
imam petunjuk yang adil, yang dijadikan panutan dalam ilmu, amal, dan dakwah yaitu
para sahabat dan orang-orang yang berjalan di atas manhaj mereka serta menjauhi
orang-orang yang menyelisihi jalan mereka.
٥ -التَّوَسُّطُ, فَهُمْ فِي الِاعْتِقَادِ وَسَطٌ بَيْنَ فِرَقِ الْغُلُوِّ
وَفِرَقِ التَّفْرِيطِ, وَهُمْ فِي الْأَعْمَالِ وَالسُّلُوكِ وَسَطٌ بَيْنَ
الْمُفْرِطِينَ وَالْمُفَرِّطِينَ.
5.Sikap pertengahan, dalam akidah mereka berada
di tengah antara golongan yang berlebih-lebihan dan golongan yang meremehkan,
dan dalam amal serta perilaku mereka juga berada di tengah antara yang
melampaui batas dan yang lalai.
٦ -الْحِرْصُ عَلَى
جَمْعِ كَلِمَةِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى الْحَقِّ,
وَتَوْحِيدِ صُفُوفِهِمْ عَلَى التَّوْحِيدِ وَالِاتِّبَاعِ,
وَإِبْعَادِ كُلِّ أَسْبَابِ النِّزَاعِ وَالْخِلَافِ بَيْنَهُمْ.
وَمِنْ هُنَا لَا يَتَمَيَّزُونَ عَلَى الْأُمَّةِ فِي أُصُولِ الدِّينِ
بِاسْمٍ سِوَى السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ وَلَا يُوَالُونَ وَلَا يُعَادُونَ عَلَى
رَابِطَةٍ سِوَى الْإِسْلَامِ وَالسُّنَّةِ.
6.Bersungguh-sungguh untuk menyatukan kaum
muslimin di atas kebenaran, mempersatukan barisan mereka di atas tauhid dan
ittiba‘, serta menjauhkan seluruh sebab perselisihan dan perpecahan di antara
mereka.
Oleh karena itu, mereka tidak membedakan diri
dari umat dalam pokok-pokok agama dengan nama selain “Sunnah dan Jama‘ah”, dan
mereka tidak berloyalitas maupun memusuhi kecuali atas dasar Islam dan Sunnah.
٧ -الدَّعْوَةُ إِلَى
اللَّهِ,وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ
عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْجِهَادُ وَإِحْيَاءُ السُّنَّةِ وَالْعَمَلُ لِتَجْدِيدِ
الدِّينِ وَإِقَامَةُ شَرْعِ اللَّهِ وَحُكْمِهِ فِي كُلِّ صَغِيرَةٍ وَكَبِيرَةٍ.
7.Berdakwah kepada Allah,
memerintahkan yang ma‘ruf dan melarang yang mungkar, berjihad, menghidupkan
sunnah, berusaha untuk memperbarui agama, serta menegakkan syariat dan hukum
Allah dalam setiap perkara, baik yang kecil maupun yang besar.
٨ -الْإِنْصَافُ
وَالْعَدْلُ فَهُمْ يُرَاعُونَ حَقَّ اللَّهِ تَعَالَى لَا حَقَّ النَّفْسِ أَوِ
الطَّائِفَةِ وَلِهَذَا لَا يَغْلُونَ فِي مُوَالٍ وَلَا يَجُورُونَ عَلَى مُعَادٍ
وَلَا يَغْمِطُونَ ذَا فَضْلٍ فَضْلَهُ أَيًّا كَانَ.
8.Sikap objektif dan adil, mereka memperhatikan
hak Allah ta‘ala, bukan kepentingan diri atau golongan. Oleh karena itu, mereka
tidak berlebih-lebihan dalam loyalitas, tidak zalim dalam permusuhan, dan tidak
mengingkari keutamaan orang yang memiliki keutamaan, siapa pun dia.
٩ -التَّوَافُقُ فِي
الْأَفْهَامِ وَالتَّشَابُهُ فِي الْمَوَاقِفِ رَغْمَ تَبَاعُدِ الْأَقْطَارِ
وَالْأَعْصَارِ وَهَذَا مِنْ ثَمَرَاتِ وَحْدَةِ الْمَصْدَرِ وَالتَّلَقِّي.
9.Keselarasan dalam
pemahaman dan keserupaan dalam sikap, meskipun berjauhan tempat dan berbeda
zaman, dan hal ini merupakan buah dari kesatuan sumber dan metode pengambilan
ajaran.
١٠ -الْإِحْسَانُ
وَالرَّحْمَةُ وَحُسْنُ الْخُلُقِ مَعَ النَّاسِ كَافَّةً.
10.Berbuat baik, menebarkan
kasih sayang, dan berakhlak mulia kepada seluruh manusia.
١١ -النَّصِيحَةُ
لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ.
11.Memberikan nasihat yang tulus karna Allah,
kepada Kitab-Nya, kepada Rasul-Nya, kepada para pemimpin kaum muslimin, dan
kepada seluruh kaum muslimin.
١٢ -الِاهْتِمَامُ
بِأُمُورِ الْمُسْلِمِينَ وَنُصْرَتُهُمْ وَأَدَاءُ حُقُوقِهِمْ وَكَفُّ الْأَذَى
عَنْهُمْ.
12.Memberi perhatian
terhadap urusan kaum muslimin, menolong mereka, menunaikan hak-hak mereka,
serta menahan diri dari menyakiti mereka.
انْتَهَى بِحَمْدِ اللَّهِ.
Selesai dengan segala puji bagi Allah.
وَأَخِيرًا: أَرْجُو مِنْ كُلِّ مَنْ يَجِدُ خَطَأً أَوْ لَدَيْهِ
مُلَاحَظَةٌ أَنْ يَبْعَثَ بِهَا إِلَى:
الرِّيَاضِ ١١٤٩٤ ص. ب ١٧٩٩٩.
Terakhir, saya berharap
kepada siapa saja yang menemukan kesalahan atau memiliki catatan, agar
mengirimkannya ke:
Riyadh 11494, Kotak Pos 17999.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar