Pernahkah kita merenungkan
apa tujuan syari’at atau perintah puasa ini..?
Sebelum kita menjawab
pertanyaan di atas kiranya sedikit kita mengetahui sifat diantara sifat-sifat
Allah yaitu Ar-Rahman dan Ar-Rahim (maha pengasih dan maha penyayang.
Allah ta’ala berfirman:
بِسْمِ اللّٰهِ
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
(Al-Fatihah[1]:1).
Allah melarang seseorang menganiyaya dirinya
sendiri.
وَلَا
تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ.
“Dan janganlah kamu menjatuhkan
dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.“ (QS. Al Baqarah[2]: 195).
وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ
بِكُمْ رَحِيمًا.
“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian,
sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada kalian.” (QS. An-Nisa[4]:29).
Bahkan Allah lebih sayang kepada kita dibandingkan seorang ibu kepada
anaknya.
Dari
Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
قَدِمَ عَلَى
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْيٌ، فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ
السَّبْيِ قَدْ تَحْلُبُ ثَدْيَهَا تَسْقِي، إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي
السَّبْيِ أَخَذَتْهُ، فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ، فَقَالَ لَنَا
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَتَرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةً
وَلَدَهَا فِي النَّارِ. قُلْنَا: لَا، وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ
لَا تَطْرَحَهُ، فَقَالَ: لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا.
“Didatangkan kepada Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam para tawanan perang. Tiba-tiba ada seorang wanita
dari kalangan tawanan itu yang air susunya memancar (karena mencari anaknya).
Setiap kali ia menemukan seorang bayi di antara tawanan, ia mengambilnya, lalu
mendekapnya ke perutnya dan menyusuinya.
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam berkata kepada kami:
‘Menurut kalian, apakah wanita ini
akan melemparkan anaknya ke dalam neraka?’
Kami menjawab: ‘Tidak, demi Allah,
sementara ia mampu untuk tidak melemparkannya.’
Beliau bersabda: ‘Sungguh Allah
lebih penyayang kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita ini kepada anaknya.’”
(HR. Bukhari 5999, Muslim
Muslim 2754).
Dari
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ
مِائَةَ رَحْمَةٍ، أَنْزَلَ مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الْجِنِّ
وَالْإِنْسِ وَالْبَهَائِمِ وَالْهَوَامِّ، فَبِهَا يَتَعَاطَفُونَ، وَبِهَا
يَتَرَاحَمُونَ، وَبِهَا تَعْطِفُ الْوَحْشُ عَلَى وَلَدِهَا، وَأَخَّرَ اللَّهُ
تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً، يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
“Sesungguhnya
Allah memiliki seratus rahmat. Dia menurunkan satu rahmat di antara jin,
manusia, binatang dan hewan melata. Dengan rahmat itu mereka saling menyayangi
dan saling berkasih sayang. Dengan rahmat itu pula binatang buas menyayangi
anaknya. Dan Allah menangguhkan sembilan puluh sembilan rahmat untuk merahmati
hamba-hamba-Nya pada hari kiamat.” (HR. Muslim 2752,
Ahmad 9609).
Dari sini kita mengetahui bahwa Allah
menyeru berpuasa hanya kepada orang beriman saja, karena Allah menyayangi
kepada orang beriman.
Allah ta’ala berfirman:
وَكَانَ
بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا.
“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang
beriman.” (QS. Al-Ahzab[33]: 43)
1. Kenapa
Allah melarang makan, minum jima’ dan lainnya pada saat kita berpusa..?
Jawabanya: Dengan puasa
itu Allah menginginkan agar orang beriman tidak
menjadi (abdul butun) budak perut.
Allah ta’ala berfirman:
كُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا
يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ
“Makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya
Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf [7]:31).
Ibnu Katsir
rahimahullah menjelaskan tafsir ayat ini:
قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: جَمَعَ اللَّهُ الطِّبَّ كُلَّهُ فِي نِصْفِ
آيَةٍ: وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا.
“Sebagian
salaf berkata bahwa Allah telah mengumpulkan semua ilmu kedokteran pada
setengah ayat ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-A’raf [7]:31).
Dari Al-Miqdam bin Ma'dikarib raḍiyallahu
'anhu secara marfu' dia berkata, aku mendengan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ. بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ
أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ
وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ.
"Tidaklah manusia
memenuhi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam itu
beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika memang harus
melebihi itu, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan
sepertiga untuk nafasnya." (HR Tirmidzi 2380 Ibnu Majah 3349, dishahihkan
Syaikh al Abani di dalam Ash Shahihah 2265).
Imam
Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan bahaya kekenyangan karena penuhnya perut
dengan makanan, beliau berkata:
مَا
شَبِعْتُ مُنْذُ سِتَّ عَشْرَةَ سَنَةً إِلَّا شَبْعَةٌ أَطْرَحُهَا. قَالَ أَبُو
مُحَمَّدٍ: يَعْنِي فَطَرَحْتُهَا لِأَنَّ الشِّبَعَ يُثْقِلُ الْبَدَنَ
وَيُقَسِّي الْقَلْبَ وَيُزِيلُ الْفِطْنَةَ وَيَجْلِبُ النَّوْمَ، وَيُضْعِفُ
صَاحِبَهُ عَنِ الْعِبَادَةَ.
“ Aku tidak pernah kekenyangan
semenjak 16 tahun kecuali sekali, aku segera mengosongkannya, Beliau juga
berkata: Kekenyangan membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras,
mengurangi kecerdasan, mudah mengantuk dan lemah untuk beribadah.” (Hilyah Auliya’
wa Thabaqatul Ashfiya’, Oleh Abu Nu’aim bin ‘Abdillah).
2.
Kenapa Allah
melarang jima’ saat berpuasa ..?
Jawabanya, karena
Allah menginginkan orang beriman
tidak menjadi budak nafsunya, meskipun di waktu lain hal itu dapat menjadi
sarana pahala.
Dalam hadits Qudhsi Allah ta’ala sebutkan dari
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
يَتْرُكُ
طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي.
“…Ia meninggalkan makanannya,
minumannya, dan syahwatnya karena Aku.” (HR. Bukhari 1894, Ahmad 9112, Ibnu Abi Syaibah 8894).
Tidak sebagaimana orang-orang kafir.
Allah ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا
يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى
لَهُمْ.
“Dan orang-orang yang kafir itu
bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya hewan ternak; dan
neraka adalah tempat tinggal bagi mereka.” (QS. Muhammad
[47]:12).
3. Kenapa
Allah melarang orang berpuasa berbuat sia-sia, berbuat jahil dan kerkata berdusta
…?
Sebagaimana disebutkan dalam hadits
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
ألصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ.
“Puasa adalah tameng janganlah berkata kotor dan
jangan berbuat bodoh...” (HR. al-Bukhari 1894).
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ.
“Barangsiapa yang tidak
meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak
butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. al-Bukhari 1903).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
رُبَّ
صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ
مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ.
“Betapa banyak orang yang
berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar
dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah 1690, an-Nasa’i 3236, dishahihkan Syaikh al
Albani dalam Shahih at-Targib wa-at Tarhib 1083).
Jawaban pertama: Jika perbuatan sia-sia
teriak-teriak berbuat jahil saja tidak boleh lebih dari itu tentu lebih utama
untuk dilarang seperti berjudi, berzina, menipu, korupsi, mencuri, membunuh dan
lain sebagainya.
Jawaban kedua: Karena Allah menghendaki kebaikan
dan keadilan terhadap sesama orang beriman secara khusus dan kepada manusia
secara umum sehingga semua bentuk keburukan Allah larang.
Sebaliknya kita diperintahkan
Allah agar melakukan berbagai kebaikan kepada manusia.
Allah ta’ala berfirman:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا.
“Dan
bertutur katalah yang baik kepada manusia,” (QS. Al-Baqarah[2]: 83).
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
اِتَّقِ
اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا،
وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.
“Bertaqwalah kepada Allah di mana
saja engkau berada dan iringilah perbuatan dosa (kesalahan)
dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan dan pergaulilah
manusia dengan akhlaq yang baik.” (HR. Ahmad 21354, at-Tirmidzi 1987,
dihasankan Syaikh al-Albani di dalam Al-Misykah 5083).
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا.
“Orang mukmin yang paling
sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya, dan yang paling baik di
antara kamu sekalian adalah yang paling baik akhlaqnya terhadap
isteri-isterinya.” (HR. Ahmad 7402, at-Tirmidzi 1162, Abu Dawud 4682 dihasankan
oleh Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 284).
Al-Hasan al-Bashri mengatakan bahwa akhlak yang baik
terhadap mahluk berputar pada tiga perkara, yaitu:
كَفُّ اْلأَذَى ، وَبَذْلُ النَّدَى، وَطَلاَقَةُ الْوَجْهِ.
Menahan dari gangguan (Kafful Adzzaa), suka membantu, berbuat baik (Badzlun
Nada), wajah yang berseri-seri (Thalaqatul Wajh). Syarah Riyadhush
Shalihin Syaikh Muhammad bin Shalih
al-Utsaimin, II/387).
4. Kenapa
Allah membatasi kesenangan orang beriman di dunia ini.
Jawab: Karena Allah
mengingatkan orang beriman agar sadar bahwa kehidupan hakiki mereka di akhirat
sedangkan dunia ini hanyalah sarana lintasan bukan tujuan.
Allah ta’ala berfirman:
وَمَا
الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS.
Al-Imran [3]: 185).
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ
وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ
وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ
فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ
وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا
مَتَاعُ الْغُرُورِ.
"Ketahuilah,
bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang
melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan
tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya
mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat
warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang
keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak
lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid[57]:20).
قَالَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا لَوْ
أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.
Allah berfirman,
"Kalian tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau
kalian sesungguhnya mengetahui.” (QS. Al-Mukminun[23]:114).
Dari
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
"Dunia
itu adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir."(HR.
Muslim 2956)
Dari
Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ
بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ.
"Seandainya
dunia ini bernilai di sisi Allah seperti sayap nyamuk, niscaya Dia tidak akan
memberikan seteguk air pun kepada orang kafir." (HR. Tirmidzi 2320, Ibnu
Majah 4110, dishahihkan syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 940).
Oleh karena itu Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ.
“Jadilah engkau di dunia ini seperti
orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (HR.
Al-Bukhari 6416, Tirmidzi 3296).
Dari
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا قَدِ ارْتَحَلَتْ مُدْبِرَةً، وَإِنَّ
الْآخِرَةَ قَدِ ارْتَحَلَتْ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ،
فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ، وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا،
فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابٌ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلٌ
"Dunia
akan pergi menjauh, dan akhirat akan mendekat. Masing-masing memiliki anak.
Jadilah anak akhirat, jangan menjadi anak dunia. Karena hari ini (dunia) adalah
tempat beramal tanpa hisab, sedangkan besok (akhirat) adalah tempat hisab tanpa
amal."
(HR. Ahmad 16553, Hakim 7913)
1. Pembagian
manusia dalam menyikapi dunia
1) Orang kafir.
Orang kafir, mereka
tidak lagi memperhatikan batasan-batasan dunia, merek mencurahkan seluruh
waktunya untuk dunia.
Allah ta’ala berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا
يُبْخَسُونَ .
أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا
صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.
“Barang siapa yang menghendaki
kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan
pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan
dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka,
dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan
sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS.Hud[11]:15-16).
Allah akan membalas
mereka di akhirat dengan neraka.
فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ
اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ
وَهُمْ كَافِرُونَ.
Maka janganlah harta
benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki
dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam
kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam
keadaan kafir.” (QS. Attaubah[9]:55).
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي
لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا
وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ.
“Dan jangan
sekali-kali orang-orang kafir itu mengira bahwa tenggang waktu yang Kami
berikan kepada mereka lebih baik baginya. Sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan
kepada mereka hanyalah agar dosa mereka semakin bertambah; dan mereka akan
mendapat azab yang menghinakan.” (QS. Ali-Imran[3]:178).
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ
مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُولَئِكَ لَهُمْ
عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ.
“Sungguh, orang-orang yang kafir dan mati dalam kekafiran,
tidak akan diterima (tebusan) dari seseorang di antara mereka sekalipun (berupa)
emas sepenuh bumi, sekiranya dia hendak menebus diri dengannya. Mereka itulah
orang-orang yang mendapat azab yang pedih dan tidak memperoleh penolong.” (QS.
Al Imran[3]:91).
2) Orang islam yang berlebih-lebihan kecintaannya terhadap
dunia.
Mereka menyia-nyiakan
kewajiban dan memburu dunia sehingga mereka dzalim terhadap dirinya dan orang
lain.
Allah ta’ala
berfirman:
يَا
قَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ
دَارُ الْقَرَارِ.
“Hai kaumku, sesungguhnya
kehidupan ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah
negeri yang kekal. (Ghafir[40]:39).
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا
عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا
أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ.
“Maka
ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun
membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira
dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara
tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.” ( QS. Al-An’am[6]:44).
Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى
يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ
فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ.
”Bila
kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya,
padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa
hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.”
(HR. Ahmad 4: 145. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan
dengan dilihat dari jalur lain).
3) Mereka mengetahui hakekat dunia, dan mengambil
secukupnya saja.
Mereka
mengejar akhirat namun tidak melupakan dunia.
Allah ta’ala berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا
تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا .
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah
kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu
dari (kenikmatan) duniawi .”( QS. Al Qashash [28]:77).
Rasulullah sallallahu ‘alaihi w sallam bersabda:
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ
اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ
مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ،
جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَأَتَتْهُ
الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ .
“Barangsiapa yang (menjadikan)
dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan
menjadikan kemiskinan dalam pandangannya, dan dunia tidak datang kecuali apa
yang Allah telah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat
niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan
hatinya merasa cukup, dan dunia akan datang dalam keadaan merendah.(HR. IBnu
Majah 4105, dishahihkan Syaikh al-Bani di dalam as-Shahihah 950).
وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا
مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَى
بِالسَّبَّابَةِ – فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ.
“Demi Allah, tidaklah dunia ini bagi akhirat melainkan seperti jari
tangan salah seorang dari kalian yang
ini -Yahya
(perowi) mengisyaratkan dengan jari telunjuk- yang dicelupkan ke dalam air laut, maka
lihatlah air yang kembali.” (HR. Muslim 7376).
Orang berakal mengejar akhirat.
Oleh karena itu banyak para ulama
mereka bersikap wara’ dan zuhud, wara’ meninggalkan apa yang berbahaya di
alhirat, sedang zuhud meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat di akhirat.
Malik
bin Dinar berkata:
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا مِنْ ذَهَبٍ يَفْنَى ، وَالآخِرَةُ
مِنْ خَزَفٍ يَبْقَى لَكَانَ الوَاجِبُ أَنْ يُؤْثِرَ خَزَفٍ يَبْقَى عَلَى ذَهَبٍ
يَفْنَى ، فَكَيْفَ وَالآخِرَةُ مِنْ ذَهَبِ يَبْقَى ، وَالدُّنْيَا مِنْ خَزَفٍ
يَفْنَى.؟
“Seandainya dunia adalah
emas yang akan fana, dan akhirat adalah tembikar yang kekal abadi, maka tentu
saja seseorang wajib memilih sesuatu yang kekal abadi (yaitu tembikar) daripada
emas yang nanti akan fana. Padahal sejatinya akhirat adalah emas yang kekal
abadi dan dunia adalah tembikar yang nantinya fana.” (Lihat Fathul Qodir, Imam
Asy-Syaukani, 5:567-568)
Demikianlah semoga bermanfaat.
-----000-----
Sragen 27-03-2025
Junaedi Abdullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar