الرَّكِيزَةُ
الثَّالِثَةُ
كَثْرَةُ
الدُّعَاءِ
Memperbanyak doa
Penjelasan :
Doa adalah ibadah yang agung, Allah
ta’ala memerintahkan agar kita berdoa hanya kepada Allah ta’ala, baik doa
ibadah (sebagaimana ibadah yang kita lakukan) maupun doa masalah (permintaan)
ketika menghadapi masalah.
Allah ta’ala berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ
جَهَنَّمَ دَاخِرِين.
"Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku,
niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong
tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina."
(QS. Al-Mu'min [40]: 60).
Allah
ta’ala juga berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ
عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang
Aku, jawablah bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang
berdoa apabila dia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi segala
perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada
dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah[2]: 186).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ.
"Doa itu adalah ibadah." )HR. Tirmidzi 2969, Abu Dawud
1479, Ahmad 18432, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahih Abu Dawud 1329).
-------000--------
Syaikh berkata:
فَالدُّعَاءُ
لِلْأَبْنَاءِ يُعْتَبَرُ مِنْ أَهَمِّ الرَّكَائِزِ فِي صَلَاحِهِمْ
وَاسْتِقَامَتِهِمْ وَهٰذَا الدُّعَاءُ يَكُونُ
قَبْلَ مَجِيئِهِمْ وَبَعْدَهُ
Doa untuk anak-anak termasuk salah satu pilar
terpenting dalam kesalihan dan keteguhan mereka, dan doa ini dilakukan sebelum
mereka lahir dan setelahnya.
فَيَدْعُو
الْوَالِدَانِ أَنْ يَرْزُقَهُمَا اللَّهُ الذُّرِّيَّةَ الصَّالِحَةَ وَيَدْعُوَانِ أَيْضًا لِلْأَوْلَادِ بَعْدَ أَنْ
يَرْزُقَهُمَا اللَّهُ بِهِمْ.
Kedua orang tua berdoa agar Allah
menganugerahkan kepada mereka keturunan yang shalih, dan mereka juga mendoakan
anak-anak setelah Allah mengaruniakan mereka anak.
بِالْهِدَايَةِ
وَالصَّلَاحِ وَالِاسْتِقَامَةِ وَالثَّبَاتِ عَلَى الدِّيَانَةِ أُسْوَةً بِالْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ.
Agar mendapat hidayah, kesalihan, keteguhan,
dan ketetapan dalam beragama, sebagaimana teladan para nabi ‘alaihimus-salam.
فَإِنَّ
اللَّهَ أَخْبَرَنَا عَنْ خَلِيلِهِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنَّهُ
قَالَ :رَبِّ
هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ.
Sungguh Allah mengabarkan kepada kita tentang
kekasih-Nya, Ibrahim ‘alaihis-salam, bahwa beliau berkata: “Ya Rabbku,
anugerahilah aku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shalih.” (QS.
Ash-Shaffat[37]: 100).
Penjelasan:
Ibnu katsir berkata, “Yakni anak-anak yang taat sebagai ganti dari kaumnya
dan kaum kerabatnya yang telah ditinggalkannya.” Allah Subhanahu wa ta’ala
berfirman:
{فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ}
“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (Ash-Shaffat[37]:
101).
Anak ini adalah Nabi Ismail alaihi
wa sallam, karena sesungguhnya dia adalah anak pertamanya yang sebelum
kelahirannya, dia telah mendapat berita gembira mengenainya. (Tafsir Ibnu
Katsir, QS. Ash-Shaffat[37]: 101).
Beliau bersabar di dalam memohon agar di berikan
keturunan, kemudian Allah kabulkan setelah beliau berumur 86 tahun. (Qasas al-
Anbiyaa, Syaikh Salim bin Ied al-Hilali (kisah Ismail), Musnad al-Muwatha’ al-Jauhari 1/337).
Allah juga menyebutkan tentang doa nabi Ibrahim kepada
anaknya:
وَقَالَ
إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَيْضًارَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ
وَمِنْ ذُرِّيَّتِي.
Dan Ibrahim alaihis-salam juga berkata:Ya
Rabbku, jadikanlah aku orang yang mendirikan shalat, dan (juga) dari
keturunanku. (QS. Ibrahim[14]: 40).
------000-----
Syaikh berkata:
وَقَالَ
زَكَرِيَّا عَلَيْهِ السَّلَامُ ,رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ
ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ.
Dan Zakariyya ‘aihis-salam berkata: “Ya
Rabbku, anugerahilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya
Engkau Maha Mendengar doa. (QS. Ali ‘Imran[3]: 38).
------000-----
Penjelasan:
Nabi Zakaria juga diuji Allah tidak memiliki keturunan
sampai rambut beliau memutih, kemudian Allah kabulkan doanya.
Allah ta’ala berfirman:
قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ
شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا .
Dia (Zakaria) berkata, “Wahai
Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah, kepalaku telah dipenuhi uban, dan
aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku.
وَإِنِّي خِفْتُ
الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ
لَدُنْكَ وَلِيًّا . يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ
رَضِيًّا.
“Sesungguhnya aku khawatir
terhadap keluargaku sepeninggalku, sedangkan istriku adalah seorang yang
mandul. Anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu. (Seorang anak) yang akan
mewarisi aku dan keluarga Ya‘qub serta jadikanlah dia, wahai Tuhanku, seorang yang
diridai.”
يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ
نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا .
(Allah berfirman,) “Wahai Zakaria,
Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki yang bernama
Yahya yang nama itu tidak pernah Kami berikan sebelumnya.”
قَالَ رَبِّ أَنَّى
يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ
الْكِبَرِ عِتِيًّا .
Dia (Zakaria) berkata, “Wahai
Tuhanku, bagaimana (mungkin) aku akan mempunyai anak, sedangkan istriku seorang
yang mandul dan sungguh aku sudah mencapai usia yang sangat tua?”
قَالَ كَذَلِكَ قَالَ
رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا.
Dia (Allah) berfirman)
”Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, ”Hal itu mudah bagi-Ku; sungguh, engkau telah
Aku ciptakan sebelum itu, padahal (pada waktu itu) engkau belum berwujud sama
sekali.”
قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِي آيَةً قَالَ آيَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ
النَّاسَ ثَلَاثَ لَيَالٍ سَوِيًّا.
Dia (Zakaria) berkata,
“Wahai Tuhanku, berilah aku suatu tanda, (Allah) berfirman, “Tandanya bagimu
ialah bahwa engkau tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama (tiga hari)
tiga malam, padahal engkau sehat.” (QS. Maryam [19]:4-10).
------000------
Syaikh berkata:
وَمِنْ
دُعَاءِ عِبَادِ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ امْتَدَحَهُمْ رَبُّ الْعَالَمِينَ قَوْلُهُمْ :رَبَّنَا
هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ ۖ وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا .
Termasuk doa hamba-hamba ar-Raḥman yang dipuji
oleh Rabb semesta alam adalah ucapan mereka: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah
kepada kami dari istri-istri dan keturunan kami penyejuk mata, dan jadikanlah
kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan[25]: 74).
------000-----
Penjelasan:
قَالَ
ابْنُ عَبَّاسٍ: يَعْنُونَ مَنْ يَعْمَلُ بِالطَّاعَةِ فتقرُّ بِهِ أَعْيُنُهُمْ
فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
Berkata Ibnu
Abbas, “ Yakni barang siapa beramal ketaatan sehingga mereka menjadi penyejuk
mata (orang tua) di dunia dan akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir QS.
Al-Furqan[25]:74).
Ikrimah
mengatakan, mereka tidak bermaksud agar beroleh keturunan yang tampan, tidak
pula yang cantik, tetapi mereka menginginkan keturunan yang taat.” (Tafsir Ibnu
Katsir QS. Al-Furqan[25]:74).
Karena anak
shalih memiliki keutamaan yang sangat besar:
1) Akan menyejukkan
hati orang tua.
2) Bertutur kata lemah lembut.
3) Mentaatinya
selama tidak diperintah maksiat.
4) Mengingatkan
kebaikan kepada orang tua
5) Mendahulukan
orang tua setelah Allah dan Rasul-Nya.
6) Bersyukur
kepada orang tua.
7) Mendoakan
orang tua.
8) Meninggikan
derajat orang tua.
9) Senantiasa
mengalirkan pahala jariah.
10)
Anak shalih tetap menyambung silaturrahmi
meskipun orang tua sudah meninggal.. dan banyak lagi keutamaan anak shalih.
------000------
Syaikh berkata:
وَمِنْ
نِعَمِ اللَّهِ وَكَرَمِهِ أَنَّهُ جَعَلَ دَعْوَةَ الْوَالِدِ لِأَوْلَادِهِ
مُسْتَجَابَةً لَا تُرَدُّ كَمَا ثَبَتَ عَنْ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ:
Di antara nikmat Allah dan karunia-Nya adalah
bahwa doa orang tua untuk anaknya itu mustajab, tidak tertolak, sebagaimana
telah shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau
bersabda:
ثَلَاثُ
دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ.
Tiga doa yang pasti dikabulkan, tidak
diragukan padanya:Doa orang tua, doa musafir, dan doa orang yang dizalimi. (HR.
Muslim no. 3009).
------000------
Penjelasan:
Adapun pengabulan doa sebagaimana disebutkan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو
بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ
بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ, وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي
الْآخِرَةِ, وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ
السُّوءِ مِثْلَهَا " قَالُوا: إِذًا نُكْثِرُ,
قَالَ: اللَّهُ أَكْثَرُ.
“Tidaklah seorang muslim
berdoa yang tidak mengandung dosa dan tidak bertujuan memutuskan
silaturahmi, melainkan Allah ta’ala akan mengabulkannya dengan tiga cara; Allah
akan mengabulkan doanya segera. Allah akan menyimpan (menjadikannya pahala)
baginya di akhirat kelak. Allah akan hindarkan darinya kejelekan yang semisal.
Mereka (para sahabat) berkata: “Kalau begitu, kami akan memperbanyak berdoa.”
Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata: “Allah akan banyak
mengabulkan doa-doa kalian.” (HR. Ahmad 11133, di
shahihkan syaikh al-Albani di dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib 1632).
Contoh doa-doa kepada anak yang lain.
1) Kisah sembuhnya imam
Bukhari dari kebutaan.
Imam Bukhari ini Lahir di Bukhara,
Uzbekistan, dia adalah ahli hadits termasyhur sepanjang masa. Tetapi, ulama
yang hafal puluhan ribu hadis beserta detail sanadnya ini pernah mengalami
kebutaan sewaktu kecil.
Hal ini menjadikan ibundanya begitu
sedih melihat kondisi Bukhari kecil. Ibunda Imam Bukhari tiada henti berdoa untuk memohon
kesembuhan putranya. Allah akhirnya mengabulkan doanya.
Pada suatu malam, ibunda
imam Bukhari bermimpi melihat nabi Ibrahim yang berkata, “Hai Fulanah, sungguh
Allah telah mengembalikan penglihatan putramu karena seringnya engkau berdoa.”
Pagi harinya, ibunda imam Bukhari menyaksikan bahwa penglihatan putranya telah
kembali normal. ( Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam
an-Nubala )
2) Kisah Dr. Ikhsan seorang ahli bedah dan pesawat
yang rusak.
Seorang dokter Ahli Bedah
terkenal bernama Dr. Ishan tergesa-gesa menuju airport. Beliau berencana akan
menghadiri seminar dunia dalam bidang kedokteran, yang akan membahas penemuan
terbesarnya di bidang kedokteran.
Setelah perjalanan pesawat sekitar 1 jam, tiba-tiba diumumkan bahwa pesawat
mengalami gangguan dan harus mendarat di airport terdekat. Beliau mendatangi
ruangan penerangan dan berkata: “Saya ini dokter spesial, tiap menit nyawa
manusia bergantung pada saya, dan sekarang kalian meminta saya menunggu pesawat
diperbaiki dalam 16 jam?”
Pegawai menjawab: “Wahai dokter, jika Anda terburu-buru Anda bisa menyewa
mobil, tujuan Anda tidak jauh lagi dari sini, kira-kira dengan mobil 3 jam
tiba.”
Dr. Ishan setuju dengan usul pegawai tersebut dan menyewa mobil. Baru berjalan
5 menit, tiba-tiba cuaca mendung, disusul dengan hujan besar disertai petir
yang mengakibatkan jarak pandang sangat pendek.
Setelah berlalu hampir 2 jam, mereka tersadar mereka tersesat dan terasa
kelelahan. Terlihat sebuah rumah kecil tidak jauh dari hadapannya, dihampirilah
rumah tersebut dan mengetuk pintunya. Terdengar suara seorang wanita tua:
“Silahkan masuk, siapa ya?” Terbukalah pintunya.
Dia masuk dan meminta kepada ibu tersebut untuk istirahat duduk dan mau
meminjam teleponnya. Ibu itu tersenyum dan berkata: “Telepon apa Nak? Apa Anda
tidak sadar ada di mana? Di sini tidak ada listrik, apalagi telepon. Namun
demikian, masuklah silahkan duduk saja dulu istirahat, sebentar saya buatkan
teh dan sedikit makanan untuk menyegarkan dan mengembalikan kekuatan Anda.”
Dr. Ishan mengucapkan terima kasih kepada ibu itu, lalu memakan hidangan.
Sementara ibu itu sholat dan berdoa serta perlahan-lahan mendekati seorang anak
kecil yang terbaring tak bergerak di atas kasur di sisi ibu tersebut, dan dia
terlihat gelisah diantara tiap sholat. Ibu tersebut melanjutkan sholatnya
dengan do’a yang panjang.
Dokter mendatanginya dan
berkata: “Demi Allah, Anda telah membuat saya kagum dengan keramahan Anda dan
kemuliaan akhlak Anda, semoga Allah menjawab do’a-do’a Anda.”
Berkata ibu itu: “Nak, Anda ini
adalah ibnu sabil yang sudah diwasiatkan Allah untuk dibantu. Sedangkan
do’a-do’a saya sudah dijawab Allah semuanya, kecuali satu.”
Bertanya Dr. Ishan: “Apa itu
do’anya?” Ibu itu berkata: “Anak ini adalah cucu saya, dia yatim piatu. Dia
menderita sakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter dokter yang ada di
sini. Mereka berkata kepada saya ada seorang dokter ahli bedah yang akan mampu
menyembuhkannya; katanya namanya Dr. Ishan, akan tetapi dia tinggal jauh dari
sini, yang tidak memungkinkan saya membawa anak ini ke sana, dan saya khawatir
terjadi apa-apa di jalan. Makanya saya berdo’a kepada Allah agar
memudahkannya.”
Menangislah Dr. Ishan dan berkata
sambil terisak: “Allahu Akbar, laa haula wala quwwata illa billah. Demi Allah,
sungguh do’a ibu telah membuat pesawat rusak dan harus diperbaiki lama serta
membuat hujan petir dan menyesatkan kami, hanya untuk mengantarkan saya ke ibu
secara cepat dan tepat. Saya-lah Dr. Ishan Bu, sungguh Allah subhanahu wa
ta'ala telah menciptakan sebab seperti ini kepada hamba-Nya yang mu'min dengan
do’a. Ini adalah perintah Allah kepada saya untuk mengobati anak ini.”
Jangan pernah berhenti berdo’a sampai Allah menjawabnya. (Dikutip dari group Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia)
------000-----
Syaikh berkata:
وَمِمَّا يَنْبَغِي التَّنْبِيهُ
عَلَيْهِ فِي هٰذَا الْمَقَامِ أَيْضًا :أَنَّهُ
عَلَى الْوَالِدَيْنِ أَنْ يَحْذَرَا مِنَ الدُّعَاءِ عَلَى أَوْلَادِهِمَا
بِالشَّرِّ.
Perlu juga diingatkan dalam hal ini: bahwa kedua orang tua harus
berhati-hati dari mendoakan keburukan atas anak-anaknya.
لَا سِيَّمَا فِي حَالِ الْغَضَبِ,فَلَا يَتَعَجَّلَا بِالدُّعَاءِ عَلَى
أَوْلَادِهِمَا, فَتُسْتَجَابَ دَعْوَتُهُمَا
ثُمَّ يَنْدَمَانِ بَعْدَ ذٰلِكَ النَّدَامَةَ الشَّدِيدَةَ.
Terutama saat sedang marah, jangan tergesa-gesa mendoakan
keburukan, karena bisa jadi doanya dikabulkan lalu mereka menyesal dengan
sangat dalam setelahnya.
فَقَدْ حَذَّرَنَا رَسُولُنَا
الْكَرِيمُ مِنْ ذٰلِكَ فَقَالَ:
لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ.
Sungguh Nabi kita yang mulia telah memperingatkan dari hal ini.
Beliau bersabda: “Janganlah kalian mendoakan keburukan atas diri kalian, jangan
pula atas anak-anak kalian.
وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لَا
تُوَافِقُوا مِنَ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبَ لَكُمْ.
Dan jangan atas harta kalian. Jangan sampai doa itu bertepatan
dengan waktu yang Allah kabulkan permintaan, lalu Allah mengabulkan (keburukan)
untuk kalian.” (Diriwayatkan oleh Muslim di dalam shahihnya no. 3009).
وَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ :وَيَدْعُ
الْإِنسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ ۖ وَكَانَ الْإِنسَانُ عَجُولًا.
Allah ‘Azza wa jalla berfirman: “Dan manusia berdoa untuk
keburukan sebagaimana dia berdoa untuk kebaikan. Dan manusia itu bersifat
tergesa-gesa.” (QS. Al-Isra’[17]: 11)
قَالَ قَتَادَةُ رَحِمَهُ اللَّهُ :يَدْعُو
عَلَى مَالِهِ فَيَلْعَنُ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَلَوِ اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ
لَأَهْلَكَهُ.
Qatadah rahimahullah berkata: “Seseorang mendoakan keburukan atas
hartanya; ia melaknat hartanya dan anaknya. Seandainya Allah mengabulkannya,
niscaya mereka semua binasa.” (Jami‘ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an oleh
ath-Thabari (14/513).
وَقَالَ الْعَلَّامَةُ عَبْدُ
الرَّحْمَٰنِ السَّعْدِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ:وَهٰذَا
مِنْ جَهْلِ الْإِنسَانِ وَعَجَلَتِهِ.
Al-‘Allamah ‘Abdur-Rahman as-Sa‘di rahimahullah berkata:Ini adalah
bentuk kebodohan dan ketergesaan manusia.
حَيْثُ يَدْعُو عَلَى نَفْسِهِ
وَأَوْلَادِهِ وَمَالِهِ بِالشَّرِّ عِنْدَ الْغَضَبِ وَيُبَادِرُ
بِذٰلِكَ الدُّعَاءَ كَمَا يُبَادِرُ بِالدُّعَاءِ فِي الْخَيْرِ.
di mana ia mendoakan keburukan atas dirinya, anak-anaknya, dan
hartanya saat marah, ia terburu-buru dengan doa buruk itu sebagaimana ia
terburu-buru dalam doa kebaikan. (Taysir
al-Karim ar-Raḥman, hal. 454).
------000------
Penjelasan:
Tidak
boleh mendoakan keburukan kepada anak istri dan hart kita, seperti berkata, sial,
kurang ajar, anak nakal, menyesal melahirkan kamu dan lainnya.
------000------
Sumber
kitab: 10 pilar mendidik anak, syaikh DR. Abdurrazaq bin Abdul Mukhsin Al-Badr.
Alih
Bahasa dan tambahan, Abu Ibrahim Junaedi Abdullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar