Kamis, 29 Januari 2026

KEUTAMAAN ANAK SHALIH DI DUNIA DAN AKHIRAT.

 



KEUTAMAAN ANAK SHALIH DI DUNIA

Semua orang tua berharap memiliki anak yang shalih dan shalihah, meskipun takbiat dan perangai orang tua tidak baik, hal ini karena fitrah manusia mencintai kebaikan, ingin diperlakukan dengan baik, terlebih di masa tuanya, karena mereka meyakini hal semacam ini umumnya akan di lakukan pada anak-anak yang shalih dan shalihah.

Adapun di antara keutamaan anak shalih dan shalihah di dunia yaitu:

1.   Anak Shalih Akan Menyejukkan Hati Orang Tua.

Anak-anak shalih menjadi pelipur hati bagi orang-orang tuanya, hal ini tidak bisa di dapatkan dengan harta yang dimiliki, karena harta hanyalah benda, sedangkan dirinya adalah manusia yang memiliki perasaan yang bisa membedakan baik dan buruk orang di sekitarnya.

Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al Furqan[24] : 74).

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: يَعْنُونَ مَنْ يَعْمَلُ بِالطَّاعَةِ فتقرُّ بِهِ أَعْيُنُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

Berkata Ibnu Abbas, “ Yakni barang siapa beramal ketaatan sehingga mereka menjadi penyejuk mata (orang tua) di dunia dan akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Furqan[25]:74).

2.   Anak Shalih Akan Bertutur Kata Yang Baik Kepada Orang Tuanya.

Allah memerintahkan bertutur kata yang baik kepada manusia, terlebih kepada orang tuannya.

Allah ta’ala berfirman:

 

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا.

“Dan ucapkanlah kepada manusia perkataan yang baik.” (QS. Al Baqarah[2]:83).

قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى..

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan menyakiti (perasaan penerima)...

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al Israa’ [17]: 23).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari 6018, Muslim 47).

3.   Anak Shalih Akan Bersyukur Kepada Kedua Orang Tuanya.

Dirinya akan menyadari bagaimanapun keadaan orang tua mereka merupakan sebab keberadaan dirinya.

Allah ta’ala berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Lukman [31]:14).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya:

أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ قَالَ: الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ قَالَ: ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ قَالَ: ثُمَّ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ.

“Amalan apakah yang di cintai Allah?” Beliau bersabda: “Shalat pada waktunya” “Kemudian apa” “Berbakti kepada orang tua” “Kemudian apa” “Jihad di jalan Allah.” (HR. Muslim 85, Ahmad 3998).

4.   Anak Shalih Akan Mentaatinya Orang Tua Selama Tidak Maksiat Dan Memiliki Kemampuan.

Allah ta’ala berfirman:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا.

"Dan jika keduanya memaksamu mempersekutukan sesuatu dengan-Ku yang tidak ada pengetahuanmu tentang Aku maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik.” (QS. Lukman [31]: 15).

Asbaabun nuzul ayat ini berkaitan dengan Sa’ad bin Abi Waqas dan ibunya Hamnah. Yang meminta Sa’ad untuk kembali kepada agama jahiliyah namun beliau enggan. (Lihat tafsir Ibnu katsir QS. Luqman[31]15).

لاَ طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ.

 

“Tidak ada kewajiban untuk taat (kepada seseorang) dalam perkara maksiat kepada Allah, Kewajiban taat hanya pada hal yang ma’ruf (kebaikan).”(HR. Bukhari 7257, Muslim 1480, Abu Dawud 2625, Ahmad 724).

Umar radhiyallahu ‘anhu berkata Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Uwais:

..لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ, لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأَبَرَّهُ, فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ, فَأَتَى أُوَيْسًا فَقَالَ: اسْتَغْفِرْ لِي....

“Ia memiliki seorang ibu dan ia sangat berbakti kepadanya. Seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Maka jika engkau mampu agar ia memohonkan ampun untukmu, lakukanlah. Lalu ia pun mendatangi Uwais dan berkata: ‘Mohonkanlah ampun untukku….’” (HR. Muslim 2542).

5.   Anak Shalih Akan Berusaha Mencari Keridhan Orang Tua.

Hal itu karena anak shalih mengetahui bahwa Allah mengulang-ulang ayatnya di dalam Al-Qur’an dan menyandingkan hak orang tua dengan hak-Nya.

Allah ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا.

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua,.” (QS. An-Nisa [4]:36).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ.

“Ridha Rabb tergantung ridha orang tua, dan murka Allah tergantung murka orang tua”. (HR. Tirmidzi 1899 dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Ash-Shahihah 516).

Dari Abu Sa’id al-Khudri dia berkata:

أَنَّ رَجُلًا هَاجَرَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْيَمَنِ فَقَالَ: هَلْ لَكَ أَحَدٌ بِالْيَمَنِ، قَالَ: أَبَوَايَ، قَالَ: أَذِنَا لَكَ, قَالَ: لَا، قَالَ: ارْجِعْ إِلَيْهِمَا فَاسْتَأْذِنْهُمَا، فَإِنْ أَذِنَا لَكَ فَجَاهِدْ، وَإِلَّا فَبِرَّهُمَا.

“Seseorang berhijrah menemui Nabi shallallahu alaihi wa sallam dari Yaman. Maka beliau (Nabi shallallahu alaihi wa sallam) bertanya, ‘Apakah engkau memiliki kerabat di Yaman?” Dia menjawab, ‘Kedua orang tuaku.” Maka beliau berkata, “Apakah keduanya telah mengizinkan kamu?” Beliau berkata, “Tidak.” Maka Nabi shallalllahu alaihi wa sallam bersabda, “Kembalilah kepada keduanya, jika keduanya mengizinkan, maka berjihadlah, jika tidak, maka berbaktilah kepada keduanya.” (HR. Abu Dawud 2530, Al-Baihaqi 17831, Ibnu Hibban 422, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahih Abu Dawud 2283).

Dalam sebuah riwayat yang lain disebutkan:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَأْذَنَهُ فِي الجِهَادِ, فَقَالَ: أَحَيٌّ وَالِدَاكَ ,قَالَ: نَعَمْ, قَالَ: فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ.

“Seseorang datang, seraya berkata, “Wahai Rasulullah, saya datang ke sini untuk ikut berjihad bersama anda. Saya datang ke sini dalam keadaan kedua orang tua saya menangis.” Maka beliau bersabda, “Kembali lagi temui kedua orang tuamu, buatlah mereka tertawa, sebagaimana engkau membuat mereka menangis.” (HR. Bukhari 3004, Muslim 2549, Abbu Dawud 2529, Ahmad 7062).

6.   Anak Shalih Akan Mendahulukan Kepentingan Orang Tua Setelah Allah Dan Rasul-Nya.

Allah ta’ala berfirman:

وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ لَا تَعْبُدُوْنَ اِلَّا اللّٰهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا.

“(Ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuatbaiklah kepada kedua orang tua.” (QS.Al-Baqarah[2]:83).

 

Ibnu Katsir berkata: “Hak Allah subhanahu wa ta’ala yang mengharuskan agar Dia semata yang disembah, tiada sekutu bagi-Nya; setelah itu baru hak makhluk, dan yang paling di­kuatkan untuk ditunaikan ialah hak kedua orang tua. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala selalu membarengi hak kedua orang tua dengan hak-Nya.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Baqarah[2]:83).

Sebagaimana disebutkan imam Bukhari di dalam shahihnya, kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua.

Salah satu dari mereka berdoa: “Ya Allah, dahulu saya memiliki kedua orang tua yang sudah renta. Saya tidak memberi minuman di malam hari untuk keluarga saya atau hewan ternak saya, sebelum saya memberi minuman untuk keduanya. Suatu saat saya ada keperluan hingga pulang larut dan belum sempat saya beri minum. Maka saya buatkan minuman untuk mereka, namun ternyata saya dapatkan mereka telah tertidur. Saya tidak ingin memberikan minum kepada keluarga dan hewan ternak saya sebelum saya memberikan minum untuk keduanya, maka saya tunggu mereka bangun dari tidur sambil memegangi wadah minuman tersebut. Saya pun tidak ingin membangunkan keduanya, sementara anak-anak saya menangis-nangis kelaparan dan memegangi kaki saya. Begitu seterusnya hingga terbit fajar. Kemudian terbit fajar, lalu aku membangunkan keduanya dan memberinya minum. 

“Ya Allah, jika aku melakukan hal itu karena mengharap wajah-Mu, lepaskanlah kami dari batu ini.” Lalu batu itu bergeser sedikit, namun mereka belum dapat keluar darinya. (HR. al-Bukhari 2272).

7.   Anak Shalih Akan Merendahkan Dirinya Di hadapan Orang Tuannya.

Hendaknya mendoakan orang tua karena Allah ta’ala mengajarkan demikian.

Allah ta’ala berfirman:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ...

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan..." (QS. Al Israa’ [17]: 24).

8.   Anak Shalih Akan Mengingatkan Orang Tua Pada Kebaikan dan Menjauhkan Orang Tua Dari Keburukan.

Mereka akan senantiasa mengingatkan kebaikan untuk orang tuanya dan memperingatkan agar menjahui perbuatan dosa, hal ini sebagaimana dilakukan Khalilurrahman yaitu Nabi Ibrahim alaihissalam kepada kedua orang tuanya.

Allah ta’ala berfirman:

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا. 

“(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, "Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?” (QS. Maryam[19]:42)

يٰٓاَبَتِ اِنِّيْٓ اَخَافُ اَنْ يَّمَسَّكَ عَذَابٌ مِّنَ الرَّحْمٰنِ فَتَكُوْنَ لِلشَّيْطٰنِ وَلِيًّا.

”Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzab dari Allah Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaithan” (QS. Maryam[19]: 45).

9.   Anak Shalih Selalu Menyambung Silaturrahmi Dengan Orang Tuanya.

Terkadang pemutusan silaturrahmi muncul dari orang tuanya, hal itu di karenakan orang tua jahil atau orang tua sakit hati terhadap anaknya karena telah di sakiti.

Namun demikian anak shalih akan memohon maaf dan tetap menyambung silaturrahmi terhadap orang tuannya.

Allah ta’ala berfirman:

وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ.

“Dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Baqarah[2]:27).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.

“Siapa yang suka dilapangkan rezkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. al-Bukhari 5985, Muslim 2557 Abu Dawud 1693).

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا.

"Silaturahmi bukanlah yang saling membalas kebaikan, akan tetapi seseorang yang berusaha menyambung hubungan persaudaraannya meskipun diputus hubungan persaudaraan dengan dirinya." (HR. Bukhari 5991, Abu Daud 1697, Tirmidzi 1908).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ يَعْنِي قَاطِعَ رَحِمٍ.

“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan, yaitu memutuskan silaturahmi.” (HR. Bukhari 5984 Muslim 2556).

 

Menyambung silaturrahmi terhadap orang tua lebih utama dibandingkan kepada siapapun.

10.                     Anak Shalih Juga Tetap Menyambung Kerabat Orang Tua dan Orang Yang Dekat Dengan Orang Tuanya.

Ditanyakan kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.

يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا.

“Wahai Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah masih ada cara berbakti kepada kedua orang tuaku setelah keduanya meninggal?” Beliau sallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Ya, dengan mendoakannya, memintakan ampun untuknya, melaksanakan janjinya (wasiat), menyambung silaturahmi yang tidak bisa disambung kecuali melalui jalan mereka berdua, dan memuliakan teman-temannya.” (HR Abu Dawud 5142 tetapi hadits ini didha’ifkan syaikh al-Albani).

Namun ada hadits yang shahih diriwayatkan imam Muslim.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi bersabda:

أَبَرُّ الْبِرِّ أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ وُدَّ أَبِيهِ.

"Sesungguhnya sebaik-baik kebajikan adalah seseorang menyambung tali persaudaraan dengan orang-orang yang dicintai ayahnya." ( HR. Muslim 2552, Thabrani 7997).

11.                     Anak Shalih Takut Tidak Masuk Surga Karena Durhaka Kepada Kedua Orang Tua.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: رَغِمَ اَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ اَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ اَنْفُ قِيْلَ: مَنْ يَارَسُوْلَ اللهِ قَالَ: مَنْ اَدْرَكَ اَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِاَحَدُهُمَااَوْكِلَيْهِمَافَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ.

“Dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: celaka, celaka, Dia celaka, Lalu beliau ditanya orang, Siapakah yang celaka, ya Rasulullah? Jawab Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, Siapa yang mendapati kedua orang tuanya (dalam usia lanjut), atau salah satu dari keduanya, tetapi dia tidak memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Muslim 2551).

الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ .

“Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Sia-siakanlah (sehingga kalian masuk neraka), atau jagalah orang tua kalian (jika kalian menginginkan masuk pintu surga tersebut).” (HR. Tirmidzi 1900, Ibnu Majah 3663, Ibnu Hibban 425, di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam As-Shahihah 914).

12.                     Anak Shalih Takut Dengan Murka Orang Tua Serta Doa Keburukan Dari Orang Tuanya.

Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ.

“Ridha Rabb tergantung ridha orang tua, dan murka Allah tergantung murka orang tua”. (HR. Tirmidzi 1899 dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Ash-Shahihah 516).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ.

“Ada tiga do’a yang mustajab, tidak ada keraguan tentang hal itu; do’a orang tua (untuk anaknya), do’a musafir, dan do’a orang terdzalimi.” (HR. Abu Daud dan Ahmad, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْبَغْيِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ.

“Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya oleh Allah dari pada perbuatan melampaui batas dan memutus silaturahmi.”( HR. Abu Daud 4902, Tirmidzi 2511, dan Ibnu Majah 4211, Di shahih Syaikh al-Albani di dalam as-Shahihah 915).

Demikianlah di antara keutamaan anak shalih di dunia.

 

-----000-----

 

  

BAB 2

KEUTAMAAN ANAK SHALIH DI AKHIRAT

Anak shalih bukan hanya menyejukkan mata orang tua di dunia saja, akan tetapi akan memberikan kebaikan-kebaikan yang sangat banyak di akhirat.

Adapun di antara yang akan didapatkan orang tua yaitu:

1.   Orang Tua Akan Mendapatkan Surga Bilamana Bersabar Kehilangan Anaknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ الْمُؤْمِنِ قَالَ اللَّهُ لِلْمَلَائِكَةِ: قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي قَالُوا: نَعَمْ.قَالَ: قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ قَالُوا: نَعَمْ.قَالَ: فَمَا قَالَ, قَالُوا: اسْتَرْجَعَ وَحَمِدَكَ.قَالَ: أَبَنُوا لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ,وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ.

Apabila anak seorang hamba yang beriman meninggal dunia, Allah berfirman kepada para malaikat: “Apakah kalian telah mencabut anak hamba-Ku?” Mereka menjawab: “Ya.” Allah berfirman: “Apakah kalian telah mencabut buah hatinya?” Mereka menjawab: “Ya.” Allah berfirman: “Lalu apa yang ia ucapkan?” Mereka menjawab: “Ia mengucapkan istirja’ dan memuji-Mu.” Maka Allah berfirman: “Bangunkanlah untuknya sebuah rumah di surga, dan namailah rumah itu Baitul Hamd (Rumah Pujian).” (HR. Tirmidzi 1021, shahih Ibnu Hibban 2948, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam As-Shahihah 1408).

Demikian pula seseorang yang menafkahi anak-anak perempuannya dia akan menjadi dinding dari neraka bagi orang tuanya yang beriman.

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir dia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ، وَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ، وَكَسَاهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ، كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ.

“Barangsiapa memiliki tiga orang anak perempuan, lalu dia bersabar dalam menghadapinya serta memberikan pakaian kepadanya dari hasil usahanya, maka anak-anak itu akan menjadi dinding pemisah baginya dari siksa Neraka.” (HR. al-Bukhari dalam kitab al-Adaabul Mufrad 76, Tirmidzi 1916, Ahmad 8425 dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Ash-Shahihah 294, 1027).

2.   Anak Shalih Menjadikan Pahala Tetap Mengalir Bagi Orang Tuanya.

Karena kebaikan yang dilakukan orang tua dulu maka dia pun mendapatkan balasan kebaikan pula.

Allah ta’ala berfirman:

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

“Dan tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).”  (QS. ar-Raḥman [55]: 60).

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى.

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (QS. An-Najm[53]: 39).

Yaitu sebagaimana tidak dibebankan kepadanya dosa orang lain, maka demikian pula dia tidak memperoleh pahala kecuali dari apa yang diupayakan oleh dirinya sendiri. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Annajm[53]:39).

Adapun anak bagian dari usaha orang tua, sebagaimana Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan:

إِنَّ مِنْ أَطْيَبِ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ.

“Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua.” (HR. Abu Daud 3528, Baihaqi 15743, Ibnu Majah 2290, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam shahih Ibnu Majah 2137).

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.

"Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan kepadanya." (HR. Muslim 1631, Tirmidzi 1376).

Betapa besarnya pahala seseorang apabila mendidik anaknya menjadi anak shalih dan shalihah, kemudian anak-anak tersebut beradakwah dan mengajarkan kebaikan, begitu pula memiliki anak-anak lagi dan demikian seterusnya, sehingga pahala orang tua mengalir sangat banyak, inilah asset yang tak bisa dibandingkan dengan harta karena mereka memberi manfaat kepada manusia.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan:

خَيْرُ الناسِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. tabrani di dalam al-Mu’jam al-Awasath 6/52, Dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam shahihul jami’ 3289, Ash-Shahihah 427).

3.   Anak Shalih Akan Dikumpulkan Kelak Di Akhirat Bersama keluarganya.

Di dunia mereka setiap saat akan mendatangi jika dipanggil, akan menemani jika dibutuhkan, begitu pula di akhirat akan bersama-sama dengan orang tuannya.

Allah ta’ala berfirman:

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ.

“(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya.” (QS. Ar-Ra‘du[13]: 23)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Allah menghimpunkan mereka bersama kekasih-kekasih mereka di dalam surga, yaitu bapak-bapak mereka, keluarga mereka, dan anak-anak mereka yang layak untuk masuk surga dari kalangan kaum mukmin, agar hati mereka senang. (tafsir Ibnu Katsir, QS. Ar-Ra‘du[13]:

4.   Anak Shalih Akan Meninggikan Derajat Orang Tuanya Di Surga.

Anak shalih mengangkat derajat orang tuannya yang rendah pada derajat yang tinggi, hal ini sebagaimana di jelaskan Ibnu Katsir di dalam menafsirkan (QS. Ar-Ra‘du[13]: 23) di atas.

“Allah mengangkat derajat orang yang berkedudukan rendah (dari keluarganya yang beriman) ke tingkat kedudukan yang tinggi sebagai anugerah dari-Nya dan kebajikan-Nya, tanpa mengurangi derajat ketinggian seseorang dari kedudukannya. Hal ini sama dengan yang diungkapkan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شِيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ.

“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur[52]: 21). (tafsir Ibnu Katsir, QS. Ar-Ra‘du[13]: 23).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ: أَنَّى هَذَا فَيُقَالُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ.

“Sungguh seorang akan ditinggikan derajatnya di surga, maka dia bertanya, ‘Bagaimana aku bisa mencapai semua ini? Maka dikatakan padanya: (Ini semua) disebabkan istigfar (permohonan ampun kepada Allah yang selalu diucapkan oleh) anakmu untukmu.(HR. Ibnu Majah 3660, dishahihkan Syaikh al-Albani 1598).

5.   Anak Shalih Akan Selalu Mendoakan Kepada Orang Tuanya.

Allah ta’ala berfirman:

وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan ucapkanlah, "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka kedua­nya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (Al-Isra[17]: 24).

Ibnu Katsir berkata, “Doakanlah keduanya dengan doa ini bilamana keduanya telah meninggal dunia.”(Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Isra [17]:24).

Namun bagi orang yang meninggal dalam keadaan musyrik tidak boleh di doakan.

Oleh karena itu Ibnu Abbas mengatakan bahwa kemudian Allah menurunkan firman-Nya:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى.

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik sekalipun mereka adalah kerabat.” (At-Taubah: 113), hingga akhir ayat. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Isra [17]:24).

Demikian besarnya keutamaan anak shalih baik di dunia dan di akhirat, semoga Allah memberikan kepada kita anak-anak yang shalih, aamiin.

 

-----000-----


KEUTAMAAN ANAK SHALIH DI DUNIA DAN AKHIRAT.

  KEUTAMAAN ANAK SHALIH DI DUNIA Semua orang tua berharap memiliki anak yang shalih dan shalihah, meskipun takbiat dan perangai orang tua ...