MEMBERSIHKAN
HATI DI HARI RAYA IDUL FITRI .
Hati
merupakan cerminan bagi seorang muslim, Allah meletakkannya di dalam jasad,
namun apa yang keluar dari lisan seseorang dapat menggambarkan cerminan hati
seseorang, karena lisan tak ubahnya seperti teko yang mengeluarkan apa yang ada
di dalamnya.
Di
dunia orang yang bersih hatinya akan merasakan lapangan dadanya, tenang,
tentram dan damai, di mana semua itu sebuah nikmat yang sangat besar.
Allah
ta’ala berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ
فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ.
Katakanlah:
"Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka
bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang
mereka kumpulkan." (QS. YUnus [10]:58).
Adapun
diakhirat Allah ta’ala sebutkan tentang hati bersih.
Allah
ta’ala berfirman:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ . إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ.
"(Yaitu) pada hari
ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak. Kecuali, orang yang menghadap
Allah dengan hati yang bersih. (QS. Asy- Syu’ara [26]:88-89).
Allah ta’ala juga
berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ
زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا٠
"Sungguh beruntung
orang yang menyucikannya (jiwa itu) dan sungguh rugi orang yang
mengotorinya." (QS. As-Syams [91]:9-10).
Allah
ta’ala melihat hati-hati kita bukan jasad dan hartanya.
Dari Abu Hurairah, Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ
اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى
قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ.
“Sesungguhnya Allah tidak
memperhatikan rupa dan harta kalian. Akan tetapi yang Allah lihat adalah hati
dan amal kalian” (HR. Muslim 2564).
Sebaliknya orang yang
hatinya sakit, hidupnya akan susah, sempit, galau, depresi dan tidak jarang
yang mengalami stress.
Adapun penyakit hati yang berbahaya
bagi seseorang di dunia dan akhirat yaitu:
1.
Syirik
Allah ta’ala
melarang keras kesyirikan:
إِنَّ
اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ
يَشَاءُ.
“Sesungguhnya
Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni semua dosa yang
selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.(QS. An Nisaa[4]:48).
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ
وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ
الْبَرِيَّةِ.
“Sesungguhnya
orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan
masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah
seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah[98]:6).
إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ
بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ.
"Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah
haramkan surga baginya, dan tempatnya adalah neraka."(QS. Al-Ma’idah [5]: 72)
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
“Dan Sesungguhnya
telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika
kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu
termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Az Zumar[39]:65).
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.
“Seandainya
mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang Telah
mereka kerjakan.” (QS Al An’am[6]:88).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ
وَقُلْتُ أَنَا وَمَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّة.
“Barang siapa
mati dalam keadaan menyekutukan Allah dia akan masuk kedalam neraka, barang
siapa mati tidak menyekutukan Allah dia akan masuk kedalam syurga.” (HR.
Bukhari 4227, Muslim 92).
Sebaliknya jika
penduduk negri beriman dan bertakwa, Allah kan berikan keberkahan.
Allah ta’ala berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى
آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ
وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ.
“Jikalau penduduk kota-kota beriman dan
bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan
bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka
disebabkan perbuatannya.” (QS Al A’raf[7]:97).
2.
Bid’ah.
Allah ta’ala berfirman:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ
وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا.
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu
maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS.
Al-Hasyr [59]: 7).
Ibnu Katsir mengatakan: “Yakni apa
pun yang diperintahkan oleh Rasul kepada kalian, maka kerjakanlah; dan apa pun
yang dilarang olehnya, maka tinggalkanlah. Karena sesungguhnya yang
diperintahkan oleh Rasul itu hanyalah kebaikan belaka, dan sesungguhnya yang
dilarang olehnya hanyalah keburukan belaka.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Hasyr
[59]: 7).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا
مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ, وفي
رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ .
“Barang siapa yang membuat perkara
baru dalam urusan agama yang tidak ada perintah dari kami maka tertolak.” Dalam
riwayat Muslim, “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada
perintahnya dari kami, maka tertolak.” (HR. Bukhari 2697, Muslim 1718).
فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.
“Karena setiap perkara yang baru
(yang diada-adakan dalam perkara agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah
sesat.” (HR. Ahmad 17144, Ibnu Majah 42, Abu Dawud 4607 dishahihkan Syaikh
al-Albani di dalam as-Shahihah 937).
Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu
‘anhuma berkata:
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ , وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً.
“Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun
manusia menganggapnya baik.” (Syarah I’tiqad Ahli Sunnah wal Jama’ah 126. Abul
Qasim Al-Lalikai).
3.
Riya'
(pamer)
Penyakit riya adalah penyakit yang sangat
berbahaya, dimana pelakunya tidak menyadari amal perbuatannya bisa hangus tak
tersisa karena pelaku riya’ akan terus memamerkan amalnya agar dipuji,
disanjung dan mendapatkan kedudukan di hati manusia. Dia tidak akan mendapat
ganjaran kebaikan dari Allah, dan tidak pula dari orang-orang yang memujinya,
karena yang berhak memberi balasan hanya Allah saja.
Allah
ta’ala berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا
نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ. أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي
الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا
يَعْمَلُونَ.
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami
berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan
mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh
(sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan terhapuslah di sana apa yang telah
mereka usahakan (di dunia) dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan
. (QS. Hud[11]:15-16).
Ibnu Katsir menyebutkan,
Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang suka riya (pamer dalam
amalnya), maka pahala mereka diberikan di dunia ini.” Mujahid dan lain-lainnya
mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang suka
riya. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Hud [11]:15-16).
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
إِنَّ
أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ الرِّيَاءُ
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan
atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’.” (HR Ahmad 23630, Tabrani 4301, di
shahihkan Syaikh al-Albani di dalam Ash-Shahiihah 951).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hadits Qudsi :
أَنَا أَغْنَى
الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ , مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِيْ
غَيْرِيْ , تَرَكْتُهُ وَ شِرْكَهُ.
“Aku adalah sekutu yang Maha Cukup, sangat menolak perbuatan
syirik. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang dicampuri dengan perbuatan
syirik kepadaKu, maka Aku tinggalkan dia dan (Aku tidak terima) amal
kesyirikannya” (HR Muslim 2985 dan Ibnu Majah 4202).
Kebiasaan
pamer ini banyak sekali:
· Pamer
harta.
· Pamer
keluarga yang sukses.
· Pamer
amalan.
· Pamer
pasangan.
Tanda orang yang riya
yaitu:
1)Kalau
beribadah sendiri malas, tapi kalau bersama-sama orang banyak dibagus-baguskan.
Ibnu Qudamah al Maqdisi
rahimahullah (wafat tahun 689 H) menjelaskan dalam kitabnya, Mukhtashar
Minhajul Qashidin, hlm. 288: “Adakalanya seseorang berada di tengah orang-orang
yang tekun beribadah. Ia melakukan shalat hampir sebagian besar malam karena kebiasaan
mereka adalah bangun malam. Dia pun mengikuti mereka melaksanakan shalat dan
puasa. Andaikata mereka tidak melaksanakan shalat malam, maka iapun tidak
tergugah untuk melakukan kegiatan itu. Mungkin ada yang menganggap bahwa
kegiatan orang itu termasuk riya’, padahal tidak demikian sebenarnya, bahkan
hal itu perlu dirinci. Setiap orang mukmin tentunya ingin banyak beribadah
kepada Allah, tetapi kadang-kadang ada satu dua hal yang menghambat atau yang
melalaikannya.
2)Bersemangat
apabila dipuji, kecewa dan berhenti jika dicela.
3)Sibuk
mencari keridhan manusia tidak mencari keridhan Allah.
4)Mencampuradukkan
kebaikan dengan kebatilan agar semua orang menerima.
5)Hatinya
sempit apabila yang dibanggakan belum diketahui manusia.
Orang yang pertama dimasukkan kedalam
neraka adalah orang-orang yang beramal mulia dan sangat besar.
Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia
berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ
يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ
فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ:
قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ
ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى
وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ
وَقَرَأَ اْلقُرْآنَ فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ:
فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ
فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ:
عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ
أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ
وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ
بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ:
مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ
فِيْهَا لَكَ, قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ
فَقَدْ قِيْلَ, ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي
النَّارِ.
“Sesungguhnya manusia pertama yang
diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia
didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan
di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah
yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang
semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : ‘Engkau
dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang
demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan
(malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu
dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang
yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan
dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya.
Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan
kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya,
serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau
dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan
engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca al
Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian
diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam
neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki
dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya
kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah
bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia
menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang
Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’
Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya
dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan
(tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas
mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.” (HR. Muslim 1905).
Demikianlah bahayanya riya.
4.
Hasad, iri,
dengki.
Hasad, iri, dengki adalah
penyakit hati yang sangat berbahaya.
Pengertian hasad yaitu:
الحَسَدُ
هُوَ تَمَنَّى زَوَالَ النِّعْمَةِ عَنْ صَاحِبِهَا
“Hasad adalah menginginkan
hilangnya nikmat yang ada pada orang lain.” (At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil
Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 720)
Hasad menurut Ibnu Taimiyah
adalah,
الْحَسَدَ
هُوَ الْبُغْضُ وَالْكَرَاهَةُ لِمَا يَرَاهُ مِنْ حُسْنِ حَالِ الْمَحْسُودِ
“Hasad adalah membenci dan
tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad.” (Majmu’ah
Al-Fatawa, 10:111).
Hasad, iri, dengki
merupakan sifat orang-orang yahudi.
Allah ta’ala berfirman:
وَدَّ
كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ
كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ
الْحَقُّ ۖ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّـهُ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ
اللَّـهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
“Banyak dari kalangan ahli kitab
yang menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah
kamu beriman, karena dengki (yang timbul) dari diri mereka sendiri, setelah
nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai
Allah mendatangkan perintahNya. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah[2]:
109).
Dari Abu
Hurairah berkata, Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَحَاسَدُوْا
، وَلاَ تَنَاجَشُوْا ، وَلاَ تَبَاغَضُوْا ، وَلاَ تَدَابَرُوْا ، وَلاَ يَبِعْ
بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا ،
اَلْـمُسْلِمُ أَخُوْ الْـمُسْلِمِ ، لاَ يَظْلِمُهُ ، وَلاَ يَخْذُلُهُ ، وَلاَ
يَحْقِرُهُ ، اَلتَّقْوَى هٰهُنَا ، وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ،
بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْـمُسْلِمَ ، كُلُّ
الْـمُسْلِمِ عَلَى الْـمُسْلِمِ حَرَامٌ ، دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ.
“Kalian jangan saling
mendengki, jangan saling najasy (menaikkan barang agar orang lain terpancing,
padahal tidak ingin membeli), jangan saling membenci, jangan saling
membelakangi ! Janganlah sebagian kalian membeli barang yang sedang ditawar
orang lain, dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allâh yang bersaudara.
Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka ia tidak boleh
menzhaliminya, menelantarkannya, dan menghinakannya. Takwa itu disini –beliau
memberi isyarat ke dadanya tiga kali-. Cukuplah keburukan bagi seseorang jika
ia menghina saudaranya yang Muslim. Setiap orang Muslim, haram darahnya,
hartanya, dan kehormatannya atas muslim lainnya.” (HR. Muslim 2564, Ahmad 7727 Abu
Dawud 2205).
Perlu di ketahui hasad adalah penyakit hati yang
menyiksa pelakunya, sangat tercela dan bertentangan dengan akhlaq yang mulia.
Adapun cara untuk menghilangkan tersebut:
1) mengingat tujuan hidup kita yaitu untuk ibadah,
bukan saling berbanyak harta, bersaing dan kedudukan.
2) kalau seandainya yang kita hasadti orang yang berharta dan mulia
dalam agama, bknkah hartanya merupakan sebaik baik harta yg memberi manfaat
bagi kaum muslimin termasuk kita?. Knp kita harus hasad pd orang mulia seperti
ini.
3) seandainya yg kita hasadti seorang muslim kaya tapi fasiq,
ketahuilah bahwasanya dia akan di susahkan dengan hisabnya, dan di siksa dengan
di setrika di punggung punggung mereka dgn harta mereka lantaran tidak
menunaikan haknya, knp kita hasad pd orang yg akan mendapatkan siksaan.
4) seandainya yg kita hasadti orang kafir yg banyak hartanya ketahuilah dia
tidak lama tinggal di dunaia dan segera meninggalkan hartanya, tinggallah siksa
neraka selama lamanya, untuk apa kita hasad pd orang yang akan dibakar di
neraka...?
5) hendaknya kita mengingat kl kita hasad
tidak akan bisa merubah kenikmatan yg Allah berikan pada orang yg kita hasad.
6) kl kita hasad pada seseorang kita sama
saja menyangkal Allah, seakan berkata" knp engkau beri dia knp tidak
kepadaku." Padahal blm tentu nikmat yg di terima orang yg di hasadti lebih
besar dari yg diterima, seperti besarnya nikmat islam, iman, mengenal sunnah
dan lain lain, yg mn ini lebih mulia dari pada harta dan kedudukan.
7) kalau kita hasad pada seseorang kita juga mau menerima apapun yg
terjadi pada yg kita hasadti, baik kesushan yg panjang, dan memungkinkan taqdir
yg menyedihkan, tentu kita tdk mau.
8) hasad diantara sifat yahudi yg Allah cela bacalah kitabmu. Qs Al
Baqarah (2): 109.
9) hasad sebuah penyakit, jk kita telah mengetahui knp harus di
pelihara, tentu ini sangat bertentangan dengan akal sehat.
10) tatkala kita sulit untuk menghilangkan sifat buruk ini
ketahuilah hati kita diantara jemari Allah, kita memohon kpd Allah agar di
jauhkan dari sifat buruk ini.
5. Sombong.
Sombong
merupakan sifat iblis yang berakhir terusir dari surga.
Allah
ta’ala berfirman:
وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ
فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ
الْكٰفِرِيْنَ.
“(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat,
“Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka, mereka pun sujud, kecuali Iblis.) Ia
menolaknya dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir.” (QS.
Al-Baqarah[2]:34).
Allah ta’ala berfirman:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ
لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ
مُخْتَالٍ فَخُورٍ.
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari
manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan
angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi
membanggakan diri.” (QS. Luqman[31]: 18).
Perlu diketahui bahwa inti dari sifat
sombong itu adalah menolak kebenaran serta meremehkan orang lain. Baik
berkaitan dengan urusan agama dan dunia, yang berkaitan dengan agama yaitu,
ilmu dan amal perbuatan. Sedangkan yang berkaitan dengan dunia yaitu, keturunan
(nasab), kecantikan, kekuatan, harta, dan banyak teman.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ
مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ
الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ
اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.
"Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam
hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi. Ada seseorang yang bertanya,
'Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?' Beliau
menjawab, 'Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah
menolak kebenaran dan meremehkan orang lain." (HR. Muslim 91, Tirmidzi
1999, Ibnu Majah 59).
An Nawawi rahimahullah berkata, “Hadist ini
berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia,
merendahkan mereka, serta menolak kebenaran” (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi,
II/163).
Demikianlah
semoga bermanfaat. Aamiin.
Sragen
15-03-2025
Abu
Ibrahim Junaedi Abdullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar