BIMBINGAN AQIDAH DAN IBADAH
UNTUK MASYARAKAT
BAB 1
MENGENAL MANHAJ YANG BENAR
(Metode Memahami Agama Islam Yang Benar)
1.
Meyakini
Agama Islam Telah Sempurna.
Agama islam adalah agama yang telah
sempurna, di mana di dalamnya telah diajarkan bagaimana tata cara beribadah
kepada Allah ta’ala, bermuamalah sesama manusia, menjahui apa yang terlarang
dan membahayakan manusia baik di dunia dan akhirat, begitu pula mengajarkan
berbagai macam hal dari apa yang menjadi hajad hidup manusia, Allah ta’ala
telah menjelaskan kesempurnaan agama islam ini di dalam firman-Nya:
الْيَوْمَ
أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ
الْإِسْلَامَ دِينًا.
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu,
dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai
agama bagimu …” (QS. Al-Maidah [5]: 3).
Dari Thariq bin Syihab, ia berkata,
“Ada seorang Yahudi yang datang kepada ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu,
lalu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya kalian membaca sebuah ayat
dalam kitab kalian. Jika ayat tersebut diturunkan kepada kami, orang-orang
Yahudi, niscaya kami akan menjadikan hari itu (hari turunnya ayat itu) sebagai
hari raya.” ‘Umar radhiyallahu 'anhu
bertanya, “Ayat yang mana?”. Orang
Yahudi itu berkata, “Yaitu firman-Nya”:
الْيَوْمَ
أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ
الْإِسْلَامَ دِينًا.
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu,
dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai
agama bagimu …” (QS. Al-Maidah[5]: 3).
Maka ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu
berkata, “Sesungguhnya aku telah mengetahui hari dan tempat ketika ayat itu
turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ayat itu diturunkan
kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di ‘Arafah pada hari Jum’at.” (Tafsir Ibnu Katsir
(QS. Al Maidah[5]: 3).
Ini menunjukkan bahwasanya orang
Yahudi saja mereka memahami hal itu, sungguh mengherankan banyak kaum muslimin
yang tidak memahami hal ini (kesempurnaan Islam).
Allah ta’ala berfirman:
وَتَمَّتْ
كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ
السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu sebagai kalimat
yang benar dan adil.” (Al-An'am [6]: 115).
Firman Allah: “wa tammat kalimatu Rabbika
shidqaw wa ‘adlan.” “Telah sempurna kalimat dari Rabbmu, sebagai kalimat yang
benar dan adil.” Qatadah berkata: “Yaitu benar dalam firman-Nya, dan adil dalam
putusan Nya.”
Laa mubaddila likalimaatihi “Tidak
ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya.” “Maksudnya, tidak ada
seorang pun yang dapat menolak putusan Allah ta’ala, di dunia maupun di
akhirat.”
(Tafsir Ibnu Katsir (QS. Al-An’am [6]: 115).
Adapun dari hadits, Rasulullah
shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
قَدْ
تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا
بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ.
“Aku tinggalkan kalian dalam keadaan terang-benderang,
siangnya seperti malamnya. Tidak ada yang berpaling dari keadaan tersebut
kecuali ia pasti celaka.” (HR. Ahmad no. 17142 Ibnu Majah no. 43, ath-Thabrani
no. 619 dan disahihkan Syaikh al-Albani di Shahihul Jami’ no. 4369).
Dari Abu Dzar radiyallahu’anhu
berkata:
تَرَكْنَا
رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ
جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ إِلَّا وَهُوَ يُذَكِّرُنَا مِنْهُ عِلْمًا قَالَ:
فَقَالَ: صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ
الْجَنَّةِ ويُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلَّا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ.
“Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat
meninggalkan kami dan tidaklah ada burung yang mengepak-ngepakkan kedua
sayapnya di udara kecuali beliau telah menyebutkan kepada kami ilmunya.” Dia
berkata, Rasulullah sallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak tersisa suatu
(amalan) pun yang dapat mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka,
kecuali sudah dijelaskan semuanya kepada kalian.” (HR. Ahmad no. 21439, ath-Thabrani
dalam al Mu’jamul Kabir no. 1647, disahihkan Syaikh al-AlBani di dalam ash-Shahihah
no. 1803).
Dari Salman Radhiyallahu anhu,
beliau berkata:
قِيلَ
لَهُ: قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ شَيْءٍ
حَتَّى الْخِرَاءَةَ قَالَ: فَقَالَ: أَجَلْ.
“Orang-orang musyrik telah bertanya kepada kami,
‘Sesungguhnya Nabi kalian sudah mengajarkan kalian segala sesuatu sampai
(diajarkan pula adab) buang air besar!’ Maka, Salman radhiyallahu anhu
menjawab, ‘Ya’. ” (HR.
Muslim no. 262, at-Tirmidzi no. 16).
Dari
ayat dan hadis tersebut telah kita maklumi, islam adalah agama yang sempurna,
mengajarkan segala sesuatu yang akan membawa kebaikan dunia dan akhirat
sehingga tidak memerlukan tambahan dalam perkara-perkara agama ini, Oleh karena
itu Allah ta’ala telah mewahyukan kepada Rasul-Nya, dan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam telah menyampaikan kepada kita, kewajiban kita menerima,
mengimani dan mengamalkannya, tanpa menambahi dan menguranginnya.
2.
Wajibnya
Berpegang Teguh Dengan Al-Qur’an Dan Sunnah.
Allah ta’ala berfirman:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي
الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ
وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَٰلِكَ
خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا.
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan
taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu
berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al
Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan
hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya.” (QS. An-Nisaa [4]: 59).
Menurut Mujahid rahimahullah dan
juga lainnya, beliau mengatakan: “Segala sesuatu yang diperselisihkan di antara
manusia menyangkut masalah pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, hendaknya
perselisihan mengenai hal itu dikembalikan kepada Kitabullah dan Sunnah
Rasulullah.” (Tafsir
Ibnu Katsir, QS. An-Nisa[4]:59).
وَمَا
أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ.
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul melainkan untuk
ditaati dengan izin Allah..” (QS.An-Nisa[4]:64).
فَلَا
وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ
لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum
mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka
perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka
terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
(QS.An-Nisa[4]:65).
إِنَّمَا
كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ
بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ.
"Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila
mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di
antara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan kami patuh.’ Mereka itulah
orang-orang yang beruntung.” (QS An-Nur [24]: 51).
مَنْ
يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ.
“Barang siapa mentaati Rasul (Muhammad) sesungguhnya
dia telah mentaati Allah.” (QS. An-Nisa[4]:80).
وَمَن
يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيمًا.
”Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka
sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab[33]:71).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
إِنِّي
قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللَّهِ
وَسُنَّتِي وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ.
“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara, kamu
tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan
Sunnah Rasul-Nya sampai kalian bertemu denganku di telaga.” (HR. al-Hakim di dalam
mustadraknya no. 319, disahihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam Sahihul Jami’ no.
2937).
Sesungguhnya orang-orang yang
menentang Allah dan Rasul-Nya, tidak mau taat kepada Allah dan rasul-Nya, akan
menemui kehinaan di dunia dan kelak akhirat.
وَمَنْ
يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّحُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا
فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ.
“Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan
melanggar batas-batas hukum-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api
neraka, dia kekal di dalamnya dan dia akan mendapat azab yang menghinakan.”
(QS. An-Nisa [4]:14)
إِنَّ
الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ كُبِتُوا كَمَا كُبِتَ الَّذِينَ مِنْ
قَبْلِهِمْ.
“Sesungguhnya
orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya pasti mendapat kehinaan,
sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan.”(QS.
Al-Mujadilah[58]: ayat 5).
3.
Memahami Besarnya
Keutamaan Para Sahabat.
Sesungguhnya Allah ta’ala
menjadikan para sahabat layaknya Bintang-bintang dilangit, mereka adalah manusia-manusia
yang terbaik yang menemani Rasul-Nya, dan sebagai manusia yang akan diikuti
generasi setelahnya.
Kita bisa membaca bagaimana sejarah
mencatat manusia-manusia yang sangat mulia ini.
4.
Ketabahan
Para Sahabat Dalam Mempertahankan Aqidah.
Ketika
Rasulullah mendakwahkan Islam secara terang-terangan sebagian mereka
orang-orang yang lemah menerima seruan Islam sehingga mereka menghadapi
berbagai cobaan dan siksaan dari orang-orang kafir, ada yang dicambuk, diseret
di padang pasir, di rendam di dalam air, ditindih batu dan bahkan ditombak hingga
meninggal dunia. Namun mereka tidak goyah dalam memegang aqidah mereka, kekejaman
orang-orang kafir terhadap para sahabat sampai membekaskan luka-luka di tubuh-tubuh
mereka.
5.
Hijrah
Para Sahabat untuk Menyelamatkan Agamanya.
Beratnya tekanan orang-orang kafir
tersebut membawa mereka rela meninggalkan kampung halaman yang mereka cintai
dan berjalan menyusuri lembah, menyebrang lautan hingga menempuh ribuan kilo
meter dengan kendaraan yang sederhana menuju negri Habasyah (Ethiopia) yang
belum tahu bagaimana keadaan di sana. Semua dilakukan karena untuk
menyelamatkan aqidahnya.
Hijrah pertama tahun ke-5 dari
kenabian menuju ke Habasyah. Rombongan ini terdiri dari 12 orang laki-laki dan
4 orang wanita. Kemudian hijrah kedua terdiri dari 83 muhajirin dan 19
muhajirah (kaum wanita). (Ar-Rahiqul Makhtum, Syaikh Shafiyyur-Rahman
Al-Mubarakfury, terbitan Darul Haq).
Begitu pula Suhaib ar-Rumy, rela memberikan
hartanya ketika orang-orang musyrik menghadang saat hijrahnya, semua itu tidak
lain ingin menyelamatkan aqidahnya kemudian Allah menurunkan firman-Nya:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ
رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ.
“Di
antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari rida Allah.
Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah[2]:207).
Menurut Ibnu Abbas, Anas, Sa'id ibnu al- Musayyab, Abu Usman an-Nahdi,
Ikrimah, dan sejumlah ulama lainnya, ayat ini diturunkan berkenaan dengan
Suhaib ibnu Sinan ar-Rumi. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Baqarah [2]:207)
Demikianlah mereka lebih mencintai
aqidah mereka meskipun harus kehilangan harta.
6.
Kecintaan
Para Sahabat Kepada Rasulullah.
Para sahabat sangat mencintai Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kecintaan Abu Bakar Shidiq.
Beliau sampai meneteskan air mata bahagia ketika diminta menemani hijrah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah ta’ala menyebutkan hal itu:
إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا
ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ
إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا.
"Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sungguh Allah telah
menolongnya ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah) sedang dia salah
satu dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada
sahabatnya: 'Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita'."
(QS. At-Taubah[9]: 40).
Kecintaan Umar bin Khatab kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari ‘Abdullah bin Hisyam berkata,
Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau memegang tangan
Umar bin Khaṭṭab, lalu ‘Umar berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا مِنْ
نَفْسِي,
فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ
حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ, فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: فَإِنَّهُ الْآنَ وَاللَّهِ
لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي, فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
الْآنَ يَا عُمَرُ.
“Wahai Rasulullah, engkau lebih aku cintai dari
segala sesuatu kecuali diriku sendiri.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Tidak begitu (wahai Umar), demi Allah yang jiwaku berada di
tangan-Nya, tidaklah sempurna imanmu sampai aku lebih engkau cintai daripada
dirimu sendiri.” Umar berkata: “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai
daripada diriku sendiri.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sekarang
(sempurnalah imanmu), wahai ‘Umar.” (HR. al-Bukhari No. 6632, Ahmad No. 22503, ath-Tabrani
No. 317)
Kecintaan
Utsman bin Afwan,
beliau sampai menikahi dua putri Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum.
Kecintaan Ali bin Abi Thalib.
Dari
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
لَأُعْطِيَنَّ
هَذِهِ الرَّايَةَ رَجُلًا يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ يَفْتَحُ اللهُ عَلَى يَدَيْهِ, قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ:
مَا أَحْبَبْتُ الْإِمَارَةَ إِلَّا يَوْمَئِذٍ, قَالَ فَتَسَاوَرْتُ لَهَا رَجَاءَ أَنْ أُدْعَى
لَهَا, قَالَ فَدَعَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيَّ بْنَ
أَبِي طَالِبٍ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهَا.
"Sungguh, aku akan memberikan panji ini
kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memberi
kemenangan melalui tangannya." Umar bin Khaṭṭab raḍiyallahu 'anhu berkata, "Tidak
pernah aku menginginkan sebuah kepemimpinan kecuali pada hari itu. Sehingga aku
pun menampakkan wajahku dengan harapan agar aku dipanggil untuk menerima panji
itu." Ternyata Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam memanggil Ali
bin Abi Talib. (HR.
al-Bukhari 4210, Muslim 2405).
Mus’ab
bin Umair, Khubaib bin Adi, Usamah bin Zaid dan semua para sahabat.
7.
Keberanian
Para Sahabat.
Keberanian para sahabat dapat
dilihat kisahnya pada perang Badar yang diawali dengan perang tanding.
Ketika dua pasukan bertemu pasukan
kaum Muslimin dan orang-orang kafir mereka berseru lantang untuk mengajak
perang tanding.
Seorang laki-laki sombong dari Bani Makhzum
bernama al-Aswad bin ‘Abdul Asad. Ia dikenal keras kepala, bengis, dan pembenci
Islam. Saat itu, dengan penuh kesombongan ia bersumpah:
“Aku bersumpah kepada Allah, aku akan meminum air
telaga (sumur) kaum Muslimin itu, atau aku akan merusaknya, atau aku akan mati
di sekitarnya!”
Sebelum ia sampai, Hamzah menebasnya dan akhirnya
terbunuh di dekat telaga.
Kemudian tiga orang tokoh-tokoh Quraisy maju ke tengah
gelanggang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
“Bangkitlah wahai Hamzah!, Bangkitlah wahai ‘Ali!, Bangkitlah, wahai ‘Ubaidah
bin al-Ḥarith!”
Hamzah bin ‘Abdul Muththalib paman Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam ‘Ali bin Abi Ṭalib
sepupu dan menantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ubaidah
bin al-Ḥarith.
Pertarungan sengitpun terjadi, Hamzah melawan Syaibah,
tidak lama Hamzah menebas Syaibah hingga tewas. Ali melawan al-Walid, Ali
berhasil membunuh al-Walid dengan mudah, Ubaidah melawan ‘Utbah keduanya
bertarung sengit, saling melukai. Kemudian Hamzah dan Ali menyongsong Utbah dan
membunuhnya dan menggendong Ubaidah.
Juga
kisah dua pemuda belia ketika terjadi perang Badar, mereka adalah Muadz bin Amr
bin Jamuh dan Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhuma.
Abdurrahman bin 'Auf mengisahkan:
"Aku berada di dalam barisan
pasukan saat perang Badar berkecamuk. Tiba-tiba di sebelah kanan dan kiriku ada
dua anak muda yang masih belia. Seakan aku tidak percaya atas keberadaan mereka
di situ. Lalu salah seorang di antara keduanya berkata secara rahasia kepadaku
agar tidak diketahui oleh temannya, 'Wahai paman! Tunjukkan padaku, mana Abu
Jahal!."
Lalu aku berkata, 'Wahai anak
saudaraku! Apa yang akan kamu lakukan?' Dia menjawab, “Aku diberitahu bahwa dia
mencaci-maki Rasulullah, Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika aku
melihatnya, maka dia tidak akan luput dari incaranku hingga ada yang mati
terlebih dahulu di antara kami.”
Akhirnya
keduannya membunuh Abu Jahal tersebut. (Diringkas dari Ar-Rahiqul Makhtum, Syaikh
Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, terbitan Darul Haq).
8.
Kedermawanan
Para Sahabat.
Seperti
kisah Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan saat kaum muslimin membutuhkan sumur,
yang di waktu itu dimiliki oleh orang Yahudi, sehingga sahabat Utsman bin
Affan membeli sumur Raumah milik Yahudi.
أَنَّ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حِينَ حُوصِرَ أَشْرَفَ عَلَيْهِمْ
وَقَالَ: أَنْشُدُكُمُ اللَّهَ وَلَا أَنْشُدُ إِلَّا أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, أَلَسْتُمْ تَعْلَمُونَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ: مَنْ حَفَرَ رُومَةَ فَلَهُ الْجَنَّةُ, فَحَفَرْتُهَا أَلَسْتُمْ تَعْلَمُونَ أَنَّهُ قَالَ:
مَنْ جَهَّزَ جَيْشَ الْعُسْرَةِ فَلَهُ الْجَنَّةُ فَجَهَّزْتُهُمْ.
“Ketika Utsman radhiyallahu ‘anhu dikepung,
beliau menghadap kepada mereka dan berkata, ‘Aku meminta kalian bersumpah demi
Allah, dan aku tidak meminta kecuali kepada para sahabat Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. Bukankah kalian mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa membeli sumur Rumah, maka baginya
surga”? Maka akulah yang membelinya. Bukankah kalian mengetahui bahwa beliau
bersabda, “Barang siapa mempersiapkan Jaisyul ‘Usrah, maka baginya surga”? Maka
akulah yang mempersiapkan mereka.” (HR. al-Bukhari no 2778, at-Tirmidzi no
3703).
Dari ‘abdurrahman bin Samrah dia berkata:
جَاءَ عُثْمَانُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَلْفِ
دِينَارٍ حِينَ جَهَّزَ جَيْشَ الْعُسْرَةِ, فَفَرَّغَهَا عُثْمَانُ فِي حِجْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ,
فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَلِّبُهَا وَيَقُولُ: مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ
بَعْدَ هَذَا الْيَوْمِ قَالَهَا مِرَارًا.
“Utsman datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam membawa seribu dinar ketika beliau mempersiapkan Jaisyul ‘Usrah. Utsman
menuangkannya ke pangkuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam kemudian membolak-balikkan uang tersebut seraya bersabda,
‘Tidak akan membahayakan Utsman apa yang dia lakukan setelah hari ini.’” Beliau
mengucapkannya berulang kali. (HR. al-Hakim no. 4553, at-Tirmidzi no. 3701, dihasankan
Syaikh al-Albani di dalam al-Misykah no. 6964).
Abu Bakar, Umar, Ustman, dan sahabat lainnya terutama
menjelang perang tabuk dan masih banyak sekali kisah-kisah yang mengharukan
tentang kedermawanan mereka.
9.
Kemuliaan
Akhlak Para Sahabat.
Allah subhanahu wa ta’ala
menyebutkan hal ini dengan firman-Nya:
كَمَآ
اَرْسَلْنَا فِيْكُمْ رَسُوْلًا مِّنْكُمْ يَتْلُوْا عَلَيْكُمْ اٰيٰتِنَا
وَيُزَكِّيْكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَّا
لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَۗ
“Sebagaimana
Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Nabi Muhammad) dari (kalangan) kamu
yang membacakan kepadamu ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan
kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (sunnah), serta mengajarkan apa yang
belum kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah[2]:151).
Setelah
mereka mendapat pengajaran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka memiliki akhlak yang sangat mulia.
Begitu mengharukan kisah
persaudaraan orang-orang Muhajirin dengan orang-orang Anshar, kisah mereka
ketika mendapatkan sedekah dan membagikan kepada saudara-saudaranya, kisah
orang anshar yang disebut Allah ta’ala di dalam (Surat Al Hasyr [59]: 9).
وَيُؤْثِرُوْنَ
عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ
نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ .
“Mereka mengutamakan(saudaranya Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai
keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran itulah
orang-orang yang beruntung.” (QS. Al Hasyr [59]: 9).
Demikian pula kisah pada perang
Yarmuk, al-Harits bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amr, di mana
akhir kehidupan mereka lebih mementingkan saudaranya dari pada diri mereka
sendiri.
10.
Para Sahabat
Adalah Orang-Orang Yang Adil.
Keadilan para sahabat ini Allah
sebutkan di dalam firman-Nya:
وَكَذَلِكَ
جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ
الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا.
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian
(para sahabat) umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas
(perbuatan) manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas kalian.” (QS.
Al-Baqarah[2]: 143).
Umat ini
kelak akan menjadi saksi bagi umat yang lain sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih dari sahabat
Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
يُدْعَى نُوحٌ يَوْمَ
القِيَامَةِ فَيَقُولُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ: هَلْ
بَلَّغْتَ ,فَيَقُولُ:
نَعَمْ, فَيُقَالُ لِأُمَّتِهِ: هَلْ بَلَّغَكُمْ ,فَيَقُولُونَ: مَا أَتَانَا مِنْ
نَذِيرٍ, فَيَقُولُ: مَنْ يَشْهَدُ لَكَ, فَيَقُولُ: مُحَمَّدٌ وَأُمَّتُهُ, فَتَشْهَدُونَ أَنَّهُ قَدْ بَلَّغَ:
وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا, فَذَلِكَ قَوْلُهُ جَلَّ ذِكْرُهُ: وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ
أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ
عَلَيْكُمْ شَهِيدًا, وَالوَسَطُ: العَدْلُ.
Pada hari kiamat nanti, Nabi Nuh dipanggil oleh Allah. Lalu Nabi Nuh
menjawab: “Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah.” Allah bertanya: “Apakah
engkau sudah menyampaikan risalah kepada kaummu?”
Nabi Nuh menjawab: “Sudah.” Kemudian
Allah bertanya kepada kaumnya: “Apakah Nuh sudah menyampaikan risalah kepada
kalian?” Mereka menjawab: “Tidak, tidak ada yang memberi peringatan kepada
kami.” Allah berkata kepada Nuh: “Siapa yang bisa menjadi saksi untukmu?” Nuh
menjawab: “Muhammad dan umatnya.” Maka umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wa sallam akan bersaksi bahwa Nabi Nuh benar-benar sudah menyampaikan risalah.
Inilah maksud firman Allah dalam Al-Qur’an:
"Agar kalian (umat Islam) menjadi saksi atas manusia, dan Rasul
(Muhammad) menjadi saksi atas kalian." (QS. Al-Baqarah [2]: 143). Lalu
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan: “Yang dimaksud umat
pertengahan (wasath) itu adalah umat yang adil.” (HR.
al-Bukhari no. 4487(.
Para sahabat dikenal manusia yang sangat adil,
jujur, dan penyayang.
11.
Larangan
Mencela Para Sahabat.
Larangan keras mencela para
sahabat. Abu Sa’id Al Khudri radiyallahu’anhu berkata, Nabi sallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda:
لاَ
تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا
بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ.
“Jangan kalian mencela para sahabatku, seandainya
salah seorang kalian menginfakkan emas sebesar Uhud tidak akan bisa menyamai
satu mud-nya mereka tidak juga setengahnya.” (HR. al-Bukhari no. 3673, Muslim no. 2540).
12.
Pujian
Allah kepada para sahabat.
Banyak sekali ayat yang memuji para
sahabat di dalam Al Qur’an.
Allah ta’ala firman:
كُنتُمْ
خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ
عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّه.
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk
manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan
beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran [3] : 110).
فَإِنْ
آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا
فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ ۖ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ
الْعَلِيمُ.
“Maka
jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh
mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka
berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari
mereka. Dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah
[2]: 137).
Berkata
Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat ini dalam kitab tafsirnya , “Maka
jika mereka beriman”, yaitu orang-orang kafir dari Ahlul Kitab dan selain
mereka, “seperti apa yang kalian telah beriman kepadanya”, wahai kaum mukminin,
dengan keimanan kepada seluruh kitab Allah dan Rasul-Nya tanpa membedakan
seorang pun dari mereka, “sungguh mereka telah mendapat petunjuk”, yakni mereka
telah berada tepat di atas kebenaran dan mendapatkan petunjuk kepadanya.” (Tafsir Ibnu Katsir,
QS. Al Baqarah [2]: 137).
لَقَدْ
رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ
فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ
عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا.
“Sungguh,
Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu
(Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu
Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan
yang dekat.” (QS. Al Fath [48]: 18)
Dari
Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
لَا
يَدْخُلُ النَّارَ أَحَدٌ مِمَّنْ بَايَعَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ.
“Tidak akan masuk neraka orang-orang yang berbaiat di
bawah pohon.” (HR.
Abu Dawud no. 4653, at-Tirmidzi no. 3860, beliau berkata: hasan shahih. Syaikh
al-Albani menshahihkan dalam Shahihul Jami’ no. 7680).
Dari sahabat Ibnu Mas’ud
radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُ
النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ.
“Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian
generasi setelah mereka, kemudian setelah mereka lagi.” (HR. al-Bukhari no. 2652,
Muslim no. 2533. Dengan lafald dari al-Bukhari).
13.
Mendoakan
Para Sahabat.
Allah ta’ala mengajarkan kepada
kita bagaimana kita bersikap dengan para sahabat.
Allah ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ جَآءُوا مِنۢ بَعْدِهِمْ
يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا
غِلّٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ
“Dan orang-orang yang datang setelah
mereka (para sahabat), mereka berdoa: ‘Ya Rabb kami, ampunilah kami dan
saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman, dan janganlah Engkau
jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” (QS.
Al-Ḥasyr [59]: 10).
Tidak
diragukan lagi pujian di dalam ayat dan hadits di atas tidak lain adalah untuk
para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang merupakan khitab
(yang diajak bicara) dalam ayat tersebut, karena orang yang beriman di waktu
itu belum ada yang lain selain para sahabat.
14.
Kewajiban
Mengikuti Para Sahabat.
Setelah
kita mengetahui keutamaan para sahabat, pujian Allah kepada mereka, maka
kewajiban kita beragama sebagaimana cara beragamanya para sahabat tersebut, (inilah
yang dikenal dengan manhaj), karena ini merupakan perintahkan Allah dan juga
Rasul-Nya.
Allah ta’ala berfirman:
وَالسَّابِقُونَ
الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم
بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ
تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ
الْعَظِيمُ.
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk
Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang
mengikuti mereka (dalam melaksanakan) kebaikan, Allah ridha kepada mereka; dan
Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang di dalamnya terdapat
sungai-sungai yang mengalir. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah
kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah [9]: 100).
Ayat ini membagi generasi yang baik
hanya menjadi dua generasi:
Generasi pertama yaitu dari
generasi para sahabat, Muhajirin dan Anshar, yang mana hal ini tidak mungkin
bisa kita capai.
Generasi kedua adalah orang-orang
setelahnya yang mengikuti mereka para sahabat dengan sebaik-baiknya, kita
memohon kepada Allah agar memasukkan kita termasuk pengikut Rasulullah dan para
sahabat dengan sebaik-baiknya
sebagaimana ayat di atas.
Adapun dalil dari hadits yang
mewajibkan mengikuti para sahabat sebagai berikut:
Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin
Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
وَعَظَنَا
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظًةً وَجِلَتْ
مِنْهَا القُلُوْبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا العُيُوْنُ فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ
كَأَنَّهَا مَوْعِظَةً مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا قَالَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ
عَزَّ وَ جَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَي اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ
بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا
عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ
بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.
“Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat
yang membuat hati menjadi bergetar dan mata kami menangis, maka kami berkata,
“Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah wasiat dari orang yang akan berpisah,
maka berikanlah wasiat kepada kami.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar
dan taat meskipun kalian dipimpin seorang budak. Sungguh, orang yang hidup di
antara kalian sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh
karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan Sunnah
Khulafaur Rasyidin al-mahdiyyin (yang lurus dan mendapatkan petunjuk). Gigitlah
sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, jauhilah setiap perkara yang
diada-adakan, karena setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607,
at-Tirmidzi no. 2676. Disahihkan syaikh al-Albani dalam sahihul jami’ no. 2549).
15.
Jalan
Kebenaran Hanya Satu.
Dari
ibnu Mas’ud radiallahu ‘anhu beliau berkata:
خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ
ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ
و عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ, وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا
فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ.
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat
sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian
beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu
bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada setan
yang mengajak kepada jalan itu,’ kemudian beliau membaca:
وَأَنَّ
هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ
فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ.
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang
lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain),
karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya” (QS.
Al-An’am[6]:153) (HR. Ahmad no. 4142, Abu Dawud no. 241, dihasankan syaikh
al-Albani di dalam Adh-Dhilal no. 16-17).
Dari ‘Auf bin Malik, ia berkata:
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
افْتَرَقَتِ
الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ
وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ
فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ
وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي
النَّارِ قِيلَ: يَا رَسُولَ
اللَّهِ
مَنْ هُمْ قَالَ: الْجَمَاعَةُ.
“Orang-orang Yahudi terpecah menjadi tujuh
puluh satu golongan, satu (golongan) masuk Surga dan tujuh puluh di Neraka. Dan
Nasrani terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, yang tujuh puluh satu
golongan di Neraka dan yang satu di Surga. Dan demi Yang jiwa Muhammad berada
di Tangan-Nya, ummatku benar-benar akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga
golongan, yang satu di Surga, dan yang tujuh puluh dua golongan di Neraka,’
Ditanyakan kepada beliau, ‘Siapakah mereka (satu golongan yang masuk Surga itu)
wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Al-Jama’ah’.” (HR. Ibnu majah No. 3992,
Abu Dawud No. 4956, ath-Thabrani di dalam al-Mu’jam al-Kabir No. 129, di hasankan
Syaikh al-Albani di dalam Shahih Ibnu Majah No. 3992, di shahihkan di dalam as-Shahihah
No. 1492).
Dalam riwayat yang lain Beliau ditanya:
قَالُوا:
وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي.
“Siapakah yang selamat itu ya Rasulullah..?” Beliau
menjawab, “Apa yang aku dan para sahabatku berjalan di atasnya” (HR. at-Tirmidzi No.
2641, dihasankan Syaikh
al-Albani di dalam ash-Shahihah No. 1348, al-Misykah No. 171).
Pada
ayat dan hadits di atas merupakan dalil tentang wajibnya umat ini mengikuti
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga para sahabatnya, begitu pula
jalan kebenaran hanyalah satu.
16.
Ancaman
Bagi Orang-Orang Yang Menyelisishi Para Sahabat.
Allah akan mengadzab orang-orang
yang meninggalkan cara beragamanya para sahabat dengan Neraka.
Allah ta’ala berfirman:
وَمَنْ
يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ
سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ
جَهَنَّمَ
وَسَاءَتْ مَصِيرًا.
“Dan barang siapa menentang Rasul (Muhammad) setelah
jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang
mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan
Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan Jahannam itu seburuk-buruk
tempat kembali.” (QS. An-Nisaa [4]: 115).
Para sahabat Secara individu
(person) bukanlah manusia yang maksum (bebas dari salah), akan tetapi apa yang
telah ditaqrir (didiamkan dan disetujui) Rasulullah shallallahu a’laihi wa
sallam terhadap sahabat merupakan dalil kebenaran yang harus diikuti, begitu
pula apa yang telah menjadi kesepakatan para sahabat (ijma’ mereka) adalah
merupakan kebenaran.
Dari sahabat Annas radhiyallahu‘anhu
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إنَّ
اللَّهَ لَا يَجْمَعُ هَذِهِ الْأُمَّةَ عَلَى ضَلَالَةٍ أَبَدًا.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umat ini
di atas kesesatan selamanya.” (HR. Ibnu Majah no. 3940, al-Hakim no. 201-202, at-
Tirmidzi no. 2269 dan diShahihkan syaikh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no. 1848,
al-Misykah no. 173).
Oleh karena itu ijtihad para
sahabat, ada yang dibenarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ada
yang dilarang. Sehingga pandangan orang-orang tentang bolehnya seseorang
membuat revisi, kreasi, inovasi, ataupun tatacara baru di dalam agama Islam
dengan dalih para sahabat juga melakukannya, kemudian dibenarkan Rasulullah
sallallahu ‘alaih wa sallam, pandangan seperti ini hendaknya di luruskan dan
ditempatkan secara proporsional agar
kita bisa bersikap adil dalam menilai suatu perkara.
Anggapan ini didasari oleh beberapa
kisah dari apa yang dilakukan para sahabat di antaranya:
Bilal selalu menjalankan shalat setelah wudhu. (HR. al-Bukhari no.
1149).
Sahabat yang shalat dengan bacaan “wal hamdulillahi
hamdan katsiran tayyiban mubarakan fiih” (HR. Muslim no. 600, Abu Dawud no.
774, Ibnu Hibban no. 845).
Sahabat yang shalat tidak pernah meninggalkan surat Al-Ikhlas.
Ada yang mengatakan bernama Qatadah bin Nu’man. (HR. al-Bukhari no. 774, at-Tirmidzi no.
2901).
Sahabat yang meruqyah dengan
membaca Al Fatihah. (HR.
al-Bukhari no. 5736, Muslim no. 2201).
Sebagaimana Rasulullah mentaqrir
(mendiamkan dan menyetujui) para sahabat, namun beliau juga meluruskan dan bahkan melarang mereka
yang keliru.
Oleh karena itu hendaknya seseorang
berbuat adil, tidak mengikuti hawa nafsunya dengan hanya menukil dari apa yang
didiamkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa allam saja, tapi hendaknya juga
menukil apa yang diluruskan dan bahkan dilarang oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Kisah para sahabat yang diluruskan
bahkan dilarang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai
berikut:
Tiga sahabat yang mendatangi umul mukminin Aisyah
radhiyallahu ‘anh dan bertanya tentang ibadah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa
sallam.
(HR.
al-Bukhari no. 5063, Muslim no. 1401).
Larangan menyembelih Kurban sebelum shalat id. (HR. al-Bukhari no.
7400, Muslim no. 985). Larangan Rasulullah sallallahu ’alaihi wa
sallam menyerupai suatu kaum. (HR. Abu Dawud no. 4031 di shahihkan Syaikh al-Albani di
dalam Irwa’ul Ghalil no. 2384).
Nadzar yang terlarang seperti kesyirikan,
menyakiti badan atau hal-hal yang sia-sia. (HR al-Bukhari no. 6700).
Larangan mengkhususkan puasa pada
hari jum’at saja.
Dari abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu, ia berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
لا
يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ.
“Janganlah salah seorang di antara kalian berpuasa
pada hari Jum’at kecuali jika ia berpuasa pula pada hari sebelum atau
sesudahnya.” (HR.
al-Bukhari no. 1849, Muslim no. 1929).
Meminta dibuatkan sesembahan
seperti Dzatu anwath, hal ini sebagaimana bani Israil meminta dibuatkan anak
sapi, (QS. Al A’raf [7]: 138).
Ketika fatkhul Makkah banyak
sahabat yang baru masuk Islam, tidak selang beberapa lama kemudian orang-orang
berangkat perang menuju Hunain, kemudian mereka melewati pohon milik orang
kafir sehingga mereka meminta untuk dibuatkan Dzatu Anwath seperti mereka.
يَا
رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ. فَقَالَ النَّبِىُّ صلى
الله عليه وسلم سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ
مُوسَى .
“Ya Rasulullah, Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath
(tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka (orang musyrik) memiliki
Dzatu Anwath.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Subhanallah!
ini sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Musa.” (HR. Ahmad no. 21900,
at-Tirmidzi no. 2180, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam dzilalul Jannah no.
76. Adapun Dzatu an-wath adalah pohon yang dipakai menggantungkan pedang
orang-orang musyrik).
Para sahabat adalah manusia pilihan
yang hidup dinaungi oleh wahyu, dimana wahyu turun kepada mereka siang maupun
malam yang akan membenarkan atau meluruskan mereka apabila keliru melalui
Rasul-Nya.
Dari ayat dan hadits di atas jelas
menunjukkan bahwa tidak ada yang dapat menjamin keselamatan agama seseorang
menuju kepada Allah ta’ala kecuali mengikuti Rasulullah shallallahu ’alaihi wa
sallam dan juga para sahabatnya radhiyallahu ‘ahum ajma’iin.
-----000-----
BAB 2
LARANGAN TA’ASHUB
(Fanatisme kepada selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).
Dahulu, umat ini fanatik terhadap
madzhab, mereka tidak mau menikahkan anaknya kecuali semadzhab dengan mereka,
tidak mau shalat di belakang orang yang tidak semadzhab dengan mereka. Ternyata
sisa-sisa keadaan seperti ini masih bisa kita saksikan. Sebagian kaum muslimin
tidak mau shalat di masjid selain kelompoknya, tidak mau memberi salam kepada
selain kelompoknya. Hal semacam ini dilarang oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
مِنْ
أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَمُرَّ الرَّجُلُ بِالْمَسْجِدِ لَا يُصَلِّي فِيهِ
رَكْعَتَيْنِ, وَأَنْ لَا يُسَلِّمَ إِلَّا عَلَى مَنْ
يَعْرِفُهُ .
“Di antara tanda-tanda (dekatnya) hari kiamat adalah
seseorang melewati masjid yang tidak pernah dia shalat di sana dua rekaat, lalu
dia hanya mengucapkan salam kepada orang yang dia kenali saja.” (HR. ath-Tabrani no. 9489,
dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami’ no. 5896, lihat juga
Fathul Bari 11: 25).
Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,
“Mengucapkan salam kepada orang yang tidak dikenal merupakan tanda ikhlas dalam
beramal kepada Allah ta’ala, tanda tawadhu’ (rendahnya
hati seseorang), dan menyebarkan salam
merupakan syi’ar dari umat ini.” (Lihat Fathul Bari 11: 25)
Fenomena fanatik kelompok ini salah
satu kebiasaan jahiliyah, yang mana Allah ta’ala telah melarang hal ini. Allah
ta’ala menyebutkan di dalam Al-Qur’an :
وَلَا
تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ
حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ.
“Janganlah kamu termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan
mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa
yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Rum [30]: 31)
Keadaan yang sangat memprihatinkan
bagaimana kaum muslimin tercabik-cabik oleh musuh mereka baik dari dalam maupun
dari luar, mereka dibuat saling bermusuhan satu sama lain. Satu golongan
berpakaian warna ini dan segolongan lain berpakaian warna itu, seakan musuh
yang harus diperangi, tidak lagi mendasari perbuatan yang dilakukan tersebut
dari agama, padahal sikap fanatisme golongan ini muncul dari musuh-musuh islam,
mereka sengaja menciptakan cara-cara yang selalu bertentangan dengan Islam, mereka
menghendaki kaum muslimin selalu bertengkar satu sama lain, mereka tidak sadar
kalau mereka sedang diadu domba oleh musuh-musuh mereka, inilah kenyataan yang
menimpa kaum Muslimin saat ini.
Padahal Allah ta’ala memerintahkan
agar kaum muslimin bersatu di atas syari’at Islam.
Allah ta’ala berfirman:
وَاعْتَصِمُوا
بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ
إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ
إِخْوَانًا.
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama)
Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah
kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah
mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah
orang-orang yang bersaudara.” (QS. Al-Imran [3]: 103)
Untuk menghilangkan atau
memperkecil perselisihan hendaknya kita kembali kepada kitab Allah dan Sunnah
Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam dengan pemahaman para sahabat,
menjauhkan fanatisme kepada selain Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam,
siapapun dia, betapapun memiliki pengikut yang banyak dan kedudukan yang
tinggi, baik berupa organisasi, yayasan, golongan, atau terhadap individu,
seperti kepada kyai, ustadz, habib, maupun kepada seorang guru, tanpa
mengurangi sedikitpun rasa hormat kita kepada mereka, karena mereka turut andil
di dalam menegakkan agama Allah, namun bagaimanapun juga kebenaran lebih kita
cintai, dan kesalahan harus kita tinggalkan, tak seorangpun dari kita yang bisa
lepas dari kesalahan.
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
كُلُّ
ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ.
“Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya
orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat.” (HR. at-Tirmidzi no. 2499,
dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami’ no. 4515)
Hendaknya kita tidak
membeda-bedakan suku, warna kulit maupun daerah, sebaliknya kita harus menerima
dan mengikuti kebenaran dari mana saja datangnya, karena kebenaran itu lebih
mahal dari emas, lebih mulia dari permata, selagi mencocoki Kitabullah dan Sunnah
Rasul-Nya hendaknya kita terima, kita harus mendahulukan Rasulullah
dibandingkan selain Beliau, karena Rasulullah terjaga dari kesalahan sedangkan
yang lain tidak.
Allah ta’ala berfirman:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى . إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى.
“Dan tidaklah dia (Nabi Muhammad) berbicara menurut hawa nafsunya.
Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.” (QS. An-Najm[53]: 3-4)
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma
berkata:
يُوْشِكُ
أَنْ تَنْزِلَ عَلَيكْم حِجَارَةٌ
مِنَ السَّمَاءِ, أَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ وَتَقُوْلُوْنَ: قَالَ أَبُوْ
بَكْرٍ وَعُمَرُ.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:
“Hampir saja kalian akan dihujani batu dari langit. Aku katakan: Rasulullah
bersabda demikian lantas kalian membantah dengan mengatakan: Tapi Abu Bakar dan
Umar berkata demikian.” (Zadul
ma’ad 2/195, Syarah Sunan Ibnu Majah 2/3, Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman ar-Rajihi).
Imam Ahmad rahimahullah berkata:
عَجِبْتُ
لِقَوْمٍ عَرَفُوا الإِسْنَادَ وَصِحَّتَهُ وَيَذْهَبُوْنَ إِلَى رَأْيِ سُفْيَانَ, وَاَللَّهُ تَعَالَى يَقُوْلُ: فَلْيَحْذَرِ
الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ
يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ . أَتَدْرِي مَا الفِتْنَةُ
الفِتْنَةُ الشِّرْكُ, لَعَلَّهُ إِذَا رَدَّ بَعْضَ قَوْلِهِ أَنْ يَقَعَ فِي قَلْبِهِ شَيْءٌ مِنَ الزَّيْغِ فَيَهْلَكَ.
“Sungguh aku heran pada satu kaum,
mereka mengetahui sanat dan keshahihannya, akan tetapi mereka mengambil
pendapat Sufyan! sedang Allah ta’ala berfirman: “Maka, hendaklah orang-orang
yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab
yang pedih.” (QS. An-Nur[24]:63), “Apakah kau tahu apa itu fitnah..? fitnah itu
kesyirikan, bisa jadi seseorang menolak sebagian dari perkataan-Nya, terbetik
didalam hatinya sesuatu berupa penyimpangan kemudian membinasakannya.”
(Di
keluarkan oleh Ibnu Batthah di dalam al-Ibanatul Kubra 97, Fatawa Syaikh Ibnu
Jibrin 63/253).
Para imam madzhab mereka juga
melarang ta’ashub (fanatik) dengan dirinya, dan memerintahkan agar mengikuti
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, di antara ucapan mereka sebagai
berikut:
Imam Abu Hanifah rahimahullah
beliau berkata:
إِذَا
صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي. إِذَا
قُلْتُ قَوْلاً يُخَالِفُ كِتَابَ الله تعالى وَخَبَرَ الرَّسولِ صلى الله عليه وسلم
فَاتْرُكُوا قَولِي.
“Apabila hadits itu sahih, maka itulah madzhabku,”
Beliau juga berkata, “Apabila aku berkata menyelisihi kitab Allah, dan Sunnah
Rasulullah, maka tinggalkanlah ucapanku.” (Sifat shalat Nabi, oleh Syaikh Muhammad
Nashiruddin al-Albani, Ibnu Abidin di dalam Al-Hasyiah 1/63).
Imam Malik bin Anas rahimahullah
berkata:
إِنَّمَا
أَنَا بَشَرٌ أُخْطِىءُ وأُصِيبُ فانْظُرُوا في رَأْيِي فَكُلّ مَا وَافَقَ
الكتابَ والسُّنَّةَ فخُذُوا بِهِ وكلّ مَا
لَمْ
يُوَافِقِ الكتابَ والسُّنَّةَ فَاتْرُكُوهُ.
“Sesungguhnya aku tidak lain adalah manusia, terkadang
salah dan terkadang benar maka perhatikanlah pendapatku setiap apa yang
mencocoki Al-Kitab dan Sunnah ambillah dan setiap apa yang tidak sesuai
Al-kitab dan Sunnah maka tinggalkanlah.” (Sifat shalat Nabi,
oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani).
Imam Syafi’i rahimahullah berkata:
إِذَا
وَجَدْتُّمْ فِي كِتَابِي خِلَافَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَدَعُوا مَا قُلْتُ.
“Apabila kalian menjumpai di dalam kitabku menyelisihi
Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ucapkanlah Sunnah Rasulullah dan
tinggalkanlah ucapanku.”(Sifat
shalat Nabi, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, al-Khatib di dalam Al
Ikhtijaju bi Syafii 8/2).
Beliau rahimahullah juga
mengatakan:
أَجْمَعَ
الْمُسْلِمُونَ عَلَى أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَتْ لَهُ سُنَّةٌ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ.
“Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang telah
jelas baginya sebuah sunnah (ajaran) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
maka tak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu karena mengikuti pendapat
siapa pun.” (I'lamul
muwaqi'in 2:282).
Imam Ahmad rahimahullah
berkata:
مَنْ
رَدَّ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ عَلَى
شَفَا هَلَكَةٍ.
“Barang siapa menolak hadist rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam maka dia berada di tepi kebinasaan.” (Sifat shalat Nabi,
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani).
Demikianlah ucapan para imam,
mereka mengajak kepada Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak
mengajak kepada pendapatnya atau madzhabnya.
Bandingkan dengan para tokoh-tokoh organisasi
yang menyimpang sekarang, mereka berdakwah untuk memperkaya dirinya yaitu mendapatkan
setoran dari mad’unya (orang yang didakwahi), cari kursi jabatan, menanamkan
fanatiK kepada kelompoknya saja, memaknai
Al-Qur’an dan hadist sesuai dengan kepentingan dan hawa nafsunya, bahkan
tak segan-segan mengkafirkan orang yang di luar kelompoknya, dan menganggap di
luar kelompoknya islamanya tidak syah, menakut-nakuti mereka agar mau berbai’at
dan bergabung dengan jama’ahnya jika tidak, mereka akan mati dan dianggap matinya
seperti bangkai jahiliyah dan tetap di atas kekafiran, semua ini tidaklah
benar, ini adalah sikapnya orang-orang khuarij, (takfiri) suka mengkafirkan
orang lain selain kelompoknya wal iyaadzubillah.
Bentuk-bentuk penyimpangan seperti
.,ini laku keras pada umat ini, hal ini tidak lain karena jauhnya umat islam
dari tuntunan agama yang benar, sehingga mereka mudah untuk dibodohi, diadu
domba baik dari dalam maupun dari luar, dari dalam yaitu orang-orang yang
mengikuti hawa nafsunya, adapun dari luar yaitu kalangan orang-orang kafir,
munafik, orang-orang musyrik.
-----000-----
Aqidah berasal dari kata العقد (al
‘aqdu) yang artinya “mengikat sesuatu.” “Saya beri’tiqad seperti ini”,
maksudnya, “saya mengikat hati saya terhadap hal tersebut”. Semakna dengan itu
sebagaimana orang yang mengatakan “saya meyakininya dengan kuat.”
Adapun aqidah secara syar’i yaitu: Beriman kepada Allah,
Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta
beriman terhadap takdir yang baik ataupun yang buruk, sebagaimana hal Ini juga
di sebut rukun iman. (Aqidah Tauhid, oleh
Syaikh DR. Shalih
bin Fauzan al-Fauzan).
Kuatnya aqidah yang melekat di hati
seseorang sehingga akan diperjuangkan, baik Aqidah itu benar maupun salah,
sebagaimana orang musyrik yang mati dalam peperangan, begitu pula para sahabat
yang mempertahankan aqidahnya.
Dahulu Abu Jahal berdoa kepada
Allah menjelang perang badar karena merasa benar aqidahnya.
اللهُمَّ
أَقْطَعَنَا الرَّحِمَ وَآتَانَا بِمَا لَا يُعْرَفُ فَأَحْنِهِ الْغَدَاةَ
فَكَانَ الْمُسْتَفْتِحَ.
“Ya Allah, (dia) orang yang memutuskan tali
silaturahmi di antara kami(dimaksudkan nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa
sallam) dan yang membawa ajaran aneh yang tidak kami kenal, maka binasakanlah
dia esok hari.” (HR.
Ahmad no. 23661, Ibnu Abi Syaibah 14/359-360, Tafsir at-Tabhari 9/208, dihasankan
oleh Syaikh al-Arnauth di
dalam kitab al-Jami’ ash-Shahih lis-Sunan wal Masanid 14/415).
Ini diabadikan Allah ta’ala di
dalam Al Qur’an:
إِنْ
تَسْتَفْتِحُوا فَقَدْ جَاءَكُمْ الْفَتْحُ وَإِنْ تَنتَهُوا فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ
وَإِنْ تَعُودُوا نَعُدْ وَلَنْ تُغْنِيَ عَنكُمْ فِئَتُكُمْ شَيْئاً وَلَوْ
كَثُرَتْ وَأَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ.
“Jika kamu (orang-orang musyrik) meminta keputusan,
maka sesungguhnya keputusan telah datang kepadamu dan jika kamu berhenti, maka
itulah yang lebih baik bagimu; dan jika kamu kembali niscaya Kami kembali
(memberi pertolongan kepadanya); dan pasukanmu tidak akan dapat menolak sesuatu
bahaya sedikit pun darimu, biarpun jumlahnya (pasukan) banyak. Sungguh, Allah
beserta orang-orang beriman.” (QS. Al-Anfal [8]: 19).
Bisa saja badan seseorang mati dan
hancur, namun ruhnya justru merasa bebas dan merdeka karena mampu menyelamatkan
aqidahnya. Oleh karena itu peran hati ini sangat besar jika di bandingkan
jasad. Puncak dari kesengsaraan jasad adalah kematian, namun ruh akan tetap
hidup dan dikembalikan kepada jasadnya untuk dimintai pertanggung jawabannya.
Dari sini kita mengetahui syari’at
ini terbagi menjadi dua:
I’tiqadiyah, yaitu yang berkaitan
dengan amal batin, seperti keyakian terhadap rububiyah Allah, dan apa saja yang
tertuang di dalam rukun iman begitu pula raja’ khauf dan tawakal.
Berkaitan dengan amal lahiriyah
seperti berdoa, shalat, zakat, puasa, dan juga haji. Ini juga di sebut dengan
far’iyah (cabang). (Dinukil
dari “Aqidah Tauhid” Syaikh DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan).
-----000-----
BAB 4
PENGERTIAN AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH.
Ahlussunnah terdiri dari dua suku
kata yaitu ’ahlu’ yang berarti keluarga, pemilik atau orang yang melazimkan
sesuatu.
Sunnah secara bahasa yaitu, jalan
yang dilalui, yang baik ataupun yang buruk.
Adapun Sunnah secara syar’i adalah
petunjuk Rasulullah dan para sahabat yang berjalan di atasnya.
Al-jama’ah secara bahasa adalah
berkumpulnya sesuatu. Sebagaimana orang yang mengatakan “Aku telah
menggumpulkan sesuatu dengan sekali pengumpulan.”
Adapun Al-Jama’ah secara syar’i
yaitu, pendahulu umat ini dari kalangan sahabat, tabi’in dan siapa saja yang
mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat. (Bayanu Aqidah
Ahlissunnah wal Jama’ah wa Luzumu Ittibaauha, Syaikh Dr. Said bin Ali al-Qahthani).
-----000-----
BAB 5
SIAPAKAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH.
Ahlussunnah wal jama’ah adalah
mereka yang berada di atas petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan para
sahabatnya, mereka yang senantiasa berpegang dengan sunnah Nabi shallallahu
alaihi wa sallam.
Mereka adalah para sahabat,
tabi’in, para imam pembawa petunjuk, dan siapa pun yang selalu itiba’
(mengikuti) sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan jauh dari
perkara baru dalam agama (bid’ah), di mana pun mereka berada, dan kapan pun
waktunya. Mereka selalu ada dan akan ditolong oleh Allah sampai datangnya
kiamat.
(Lihat
“Mujmal usul Ahlussunnah wal Jama’ah fil Aqidah” Dr. Nasir ‘Abdul Karim
al-Aql).
Hal ini sesuai dengan firman Allah
ta’ala:
وَالسَّابِقُونَ
الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم
بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ
تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ
الْعَظِيمُ.
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk
Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang
mengikuti mereka (dalam melaksanakan) kebaikan, Allah ridha kepada mereka; dan
Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang di dalamnya terdapat
sungai-sungai yang mengalir. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah
kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah [9]: 100).
Ketika Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam menyebutkan akan terjadi perpecahan Rasulullah juga
menjelaskan yang selamat Adalah satu maka sahabat bertanya kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ, قَالَ: الْجَمَاعَةُ.
Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah mereka satu
golongan yang masuk Surga itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Al-Jama’ah.” (HR. Ibnu Majah no. 3992,
Ibnu Hibban No. 6247, di shahihkan syaikh al-Albani di dalam Ash-Shahihah No. 1492).
Dalam riwayat yang lain Rasulullah
shallallahu a’laihi wa sallam bersabda:
كُلُّهُمْ
فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً, قَالُوْا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ, قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ.
“Semua masuk neraka kecuali satu.” Para sahabat
bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Siapa saja yang
meniti di atas jalanku dan para sahabatku.” (HARI. At-Tirmidzi No. 2641.
Di hasankan oleh syaikh al-Albani di dalam Ash-Shahihah no. 203).
Sahabat Abdullah bin Mas’ud
Radhiallahu ’anhu, menjelaskan kepada kita tentang Al Jama’ah:
الْجَمَاعَةُ
مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَلَوْ كُنْتَ وَحْدَكَ.
“Al Jama’ah adalah siapa saja yang sesuai dengan
kebenaran walaupun engkau sendiri.” (Dikeluarkan oleh Al-Lallikai di dalam Syarhu
Usuli I’tiqadi Ahli Sunnah 1/109, Al Hafizh At Thabrani di dalam Musnadnya
1/220 di shahihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam Al-Miskah 1/61).
Imam Asy Syathibi rahimahullah
berkata:
وَحَاصِلُهُ
أَنَّ الجَمَاعَةَ رَاجِعَةٌ إِلَى الإِجْتِمَاعِ عَلَى الإِمَامِ المُوَافِقِ
لِكِتَابِ اللهِ وَالسُّنَّةِ , وَذَلِكَ ظَاهِر ٌفِيْ أَنَّ الإِجْتِمَاعَ عَلَى غَيْرِ سُنَّةٍ
خَارِجٌ عَنِ الجَمَاعَةِ المَذْكُوْرَةِ
فِيْ الأَحَادِيْثِ المَذْكُوْرَةِ.
“Kesimpulannya, Al-Jama’ah adalah bersatunya umat pada
imam yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah. Dan jelas bahwa persatuan yang
tidak sesuai sunnah tidak disebut Al Jama’ah yang disebut dalam hadits-hadits.”(Al
I’tisham 2/260-265).
Hendaknya bagi orang yang
menghendaki kebenaran, agar senantiasa menimbang amalan ibadahnya dengan apa
yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan para sahabatnya, jika
mereka (para sahabat) tidak mengamalkan, yang selamat adalah dengan
meninggalkannya.
Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu
dia berkata, Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ
الْإِيمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْمَدِينَةَ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى
جُحْرِهَا.
“Sesungguhnya keimanan akan kembali ke Madinah
sebagaimana ular yang masuk ke dalam lobangnya.” (HR. Ahmad 7846, Ibnu
Hibban 3729 dan di shahihkan syaikh al-Albani di dalam As-Shahihah 3073).
Terjadi ikhtilaf di antara para
ulama di dalam menafsirkan hadits ini.
Pendapat pertama,
hadits ini hanya berlaku di zaman Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in. Ketika muncul kesesatan, mereka pergi ke kota
Madinah untuk bertanya kepada para Sahabat.
Pendapat yang kedua,
bahwa hadits ini berlaku pada setiap zaman, sampai zaman kita sekarang ini.
Al-Qurtubi rahimahullah berkata,
“Itu merupakan peringatan benarnya madzhab penduduk Madinah dan keselamatan
mereka dari bid’ah, dan amalan mereka merupakan hujah sebagaimana ucapan Imam
Malik.”
(Al-Ihsan
fi Taqribi Shahihi Ibnu Hibban).
-----000----
BAB 6
SUMBER AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH.
Ahlussunnah Wal Jama’ah berjalan di
atas dasar yang jelas, baik dari sisi aqidah, ibadah dan akhlak mereka. Dimana
aqidah adalah perkara yang sangat menentukan keselamatan dunia dan akhirat
seseorang, sehingga tidak boleh mengambil aqidah dari sesuatu yang tidak jelas,
seperti mengambil aqidah dari kisah mahabharata (perwayangan), mimpi, tinggalan
nenek moyang, atau dongeng yang penuh dengan kurafat, kekufuran dan kesyirikan.
Oleh karena itu aqidah harus di ambil dari sumber yang
murni yaitu dari Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih dan apa yang disepakati oleh
para sahabat.
(Silakan
lihat kitab “Mujmal Usul Ahlussunnah wal jama’ah fil aqidah” Dr. Nashir Ibn
Abdul karim Al ‘Aql)
Kaum muslimin hendaknya
membersihkan aqidah mereka dari selain Al Qur’an dan Sunnah, serta ijma’ para
sahabat.
Al Qur’an dan Sunnah merupakan
sumber pokok yang tidak ada keraguan padanya, Allah ta’ala berfirman:
ذَلِكَ
الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ.
“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya;
petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 2)
Allah ta’ala berfirman:
آمَنَ
الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ.
“Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan
kepadaNya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman.“(QS.
Al-Baqarah [2]: 285)
تِلْكَ
آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ . هُدًى وَرَحْمَةً لِلْمُحْسِنِينَ.
“Inilah ayat-ayat Al Quran yang mengandung
hikmah, Menjadi petunjuk dan rahmat bagi
orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Luqman [31]: 2-3)
الۤرٰ,كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ
لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى
صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ .
“Alif laam raa. (Ini adalah) Kitab yang kami turunkan
kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya
terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha
Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim [14]: 1)
ٱلْحَقُّ
مِن رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُمْتَرِينَ.
“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan
sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al Baqarah [2]: 147)
Aqidah tidak di ambil dari
keyakinan tinggalan nenek moyang, oleh karena itu Allah ta’ala membantah orang-orang yang mengambil
nenek moyang mereka sebagai panutan apa yang mereka tidak sesuai dengan Al
Qur’an dan Sunnah, Allah ta’ala berfirman:
وَإِذَا
قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا
أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ
شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ .
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah
apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi
kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang
kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang
mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?."
(QS. Al-Baqarah[2]: 170)
وَإِذَا
قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا
حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا
يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ .
“Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah
mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". mereka menjawab:
"Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami
mengerjakannya". “Apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka
walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula)
mendapat petunjuk?” (QS. Al-Maidah [5]: 104)
Adapun Dalil dari hadits, Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنِّي
قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللَّهِ
وَسُنَّتِي وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ.
“Aku telah tinggalkan pada kalian dua perkara, kalian
tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan
Sunnah Rasul-Nya. Keduanya tidak akan terpisah sehingga bertemu denganku di
telaga.”(HR.
Al-Hakim 319, di dalam “Al-Mustadrak ‘ala Shahihain” Hadis ini dishahihkan oleh
Syaikh al-Albani di dalam Sahihul Jami’ 2937).
Dalam hadits yang dikenal dengan
hadits Jibril yang panjang Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan
sumber aqidah kaum muslimin.
Dari Umar radhiyallahuanhu dia
berkata
عَنْ
عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ
رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ
عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ
يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ
إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ
وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ
اْلإِسْلاَمِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ
أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ
وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ
اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ
قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ
وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.
قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ
كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ:
فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ
السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ
رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ
يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا ثُمَّ
قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ
قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ
أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ.
“Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu
’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang
mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak
padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorang pun diantara kami
yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan
kedua lututnya kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam) seraya
berkata: “Ya Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam?” Rasulullah Shallallahu
’alaihi wasallam bersabda: “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada
sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah
utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan
pergi berhaji jika mampu”. Kemudian dia berkata: “Anda benar”. Kami semua
heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi:
“Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Lalu beliau bersabda: “Engkau beriman
kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari
akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk”. Kemudian
dia berkata: “Anda benar“. Kemudian dia berkata lagi: “Beritahukan
kepadaku tentang ihsan”. Lalu beliau bersabda: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada
Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihat-Nya maka Dia
melihat engkau”. Kemudian dia berkata: “Beritahukan kepadaku tentang hari
kiamat (kapan kejadiannya)”. beliau bersabda: “Yang ditanya tidak lebih tahu
dari yang bertanya”. Dia berkata: “Beritahukan kepadaku tentang
tanda-tandanya”. beliau bersabda: “Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan
jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan tidak berpakaian, miskin dan
penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya”. Kemudian
orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah)
bertanya: “Tahukah engkau siapa yang bertanya?” Aku berkata: “Allah dan
Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau bersabda: “Dia adalah Jibril yang datang
kepada kalian mengajarkan agama kalian.” (HR. Muslim 8).
Ibnu Rajab berkata : “Hadits ini
merupakan hadits yang agung mencakup seluruh penjelasan agama, karenanya, Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di akhir hadits : “Sesungguhnya ia
adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan tentang agama kalian,” setelah
menjelaskan kedudukan Islam, kedudukan Iman, dan kedudukan Ihsan, dan
menjadikan semua itu agama.” (Jamiul ‘ulum wal hikam, Ibnu Rajab Al-Hambali hadits no. 2).
Ibnu Daqiqil ‘Ied berkata, “Hadits
ini seakan menjadi induk bagi Sunnah, sebagaimana Al-Fatihah dinamakan Ummul
Qur’an karena ia mencakup seluruh nilai-nilai yang ada di dalam Al-Qur’an.” (Lihat syarah “Hadis
Arba’in” Ibnu Daqiqil ‘id ).
Hadits ini juga menjelaskan tentang
sendi-sendi agama dan tingkatannya, yaitu Islam, iman, dan ihsan, yang mana
terdapat di dalamnya amalan lahiriyah, batiniyah dan juga akhlak, yang semua
itu merupakan sumber aqidah bagi kaum muslimin sebagaimana yang menjadi
pembahasan utama di dalam buku ini.
-----000-----
Rukun Islam ada lima.
Rukun Yang
Pertama: Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat
أشْهَدُ
أن لاإِله إِلاَّالله وَأَشهَدُأَنَّ مُحَمَّدًارَسُولُ الله.
“Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak
disembah dengan benar melainkan Allah, dan Aku bersaksi bahwasanya Muhammad
adalah utusan Allah.”
Pengakuan seorang hamba bahwa Allah
adalah pencipta, pengatur, dan pemberi rezki.
Allah ta’ala pencipta segala
sesuatu, Allah ta’ala berfirman-Nya:
اللَّهُ
خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ.
“Allah menciptakan segala sesuatu
dan Dia memelihara segala sesuatu.” (QS.
Az-Zumar[39]:62)
إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ
أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ
عَلَى ٱلْعَرْشِ.
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah
Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia
bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Al-A’raf : 54)
Allah ta’ala pengatur alam semesta.
إِنَّ
رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ
ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ.
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah
Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam
di atas `Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi
syafa`at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan
kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”. (QS.
Yunus[10]: 3)
Allah ta’ala pemberi rezki:
tidak ada ilah atau sesembahan yang
berhaq di sembah selain Allah ta’ala:
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ
غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ.
“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah
kepadamu. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu
dari langit dan bumi?.” (QS. Fathir[35]: 3)
قُلْ
مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ.
“Katakanlah: “Siapakah yang memberi
rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah.” (QS.
Saba’[34]: 24)
Hendaknya mengakui Allah adalah Rab
(pencipta, pengatur, dan pemberi rezki) bagi alam semesta, karena orang musyrik
juga mengakui hal hal ini.
Allah ta’ala berfirman:
قُلْ
مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ
وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ
مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا
تَتَّقُونَ.
“Katakanlah: Siapakah yang memberi
rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan)
pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari
yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur
segala urusan? Maka mereka akan menjawab: Allah. Maka katakanlah Mengapa kamu
tidak bertakwa kepada-Nya)?. (QS. Yunus [10] : 31)
وَلَئِنْ
سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ.
“Dan sungguh jika kamu bertanya
kepada mereka: Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab:
Allah, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS.
Az Zukhruf [43] : 87)
Setelah mereka mengakui Allah
pencipta pengatur dan pemberi rezki, hendaknya mereka juga mengakui bahwa Allah
satu-satunya Dzat yang berhak disembah., disinilah orang-orang musyrik dahulu
mengingkari, selain mereka beribadah sesuai agama yang di tinggalkan nabi
Ibrahim alaihi wa sallam, mereka juga menyembah berhala-berhala yang ada di
ka’bah yang tidak kurang dari 360 berhala.
Oleh karena itu menjelaskan masalah
ini sangat penting, di mana banyak kaum muslimin saat ini tidak memahami hal
ini.
Dua kalimat sahadat diatas
masing-masing memiliki konsekwensi yang harus di ketahui dan diamalkan oleh
siapa saja yang telah mengikrarkannya, dan telah mendapatkan beban syariat.
Adapun makna Kalimat la ilaha
illallah adalah: لاَ مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلاَّ
الله (tidak ada
sesembahan yang berhaq disembah kecuali Allah)
Seandainya kalimat لاإِله إِلاَّالله hanya
diartikan tidak ada Tuhan selain Allah, maka hal itu masih bisa disalah pahami
dengan pemahaman lain yang keliru. Kesalahan tersebut bisa saja sebagai
berikut:
Tidak ada Tuhan selain Allah, tidak
ada Tuhan-Tuhan yang di sembah manusia semua itu tidak lain itu adalah Tuhan.
Tidak ada Tuhan selain Allah, tidak
ada yang nampak apapun di dunia ini tidak lain adalah Tuhan, dari sinilah
bermulanya keyakinan khulul (Tuhan menjadi satu atau menitis kepada makhluk).
Tidak ada Tuhan selain Allah, bisa
diartikan menolak adanya sesembahan yang banyak disembah oleh orang-orang
musyrik dahulu dan juga orang-orang sekarang, padahal kenyataannya yang
dianggap sesembahan tersebut sangat banyak ini realita.
Adapun makna yang benar yaitu,
tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, makna ini tidak menolak bahwa di
dunia ini banyak sesembahan, hanya saja sesembahan semua itu tidak benar, tidak
memiliki hak, adapun yang hanya berhaq disembah adalah Allah semata.
Rukun لاإِله
إِلاَّالله ada
dua yaitu:
An-nafyu : mengingkari dan
meniadakan berbagai macam bentuk sesembahan selain Allah.
Al-Isbat : menetapkan hanya Allah
satu-satunya sesembahan yang berhak disembah.
Adapun Syarat لا إِله إِلاَّ الله ada tujuh
yaitu:
Berilmu.
Allah ta’ala berfirman:
فَاعْلَمْ
أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ .
“Ketahuilah, bahwasanya tidak ada
Ilaah (sesembahan yang haq) kecuali Allah…” (QS. Muhammad [47]: 19).
إِلَّا
مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ.
“Akan tetapi (orang yang dapat
memberi syafa'at ialah) orang yang bersaksi dengan hak (tauhid) dan mereka
meyakini(nya).” (QS. Az-Zukhruf [43]: 86).
قُلْ
هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا
يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ.
“Katakanlah: “Adakah sama
orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS.
Az-Zumar [39]: 9).
Yakin.
Allah ta’ala berfirman:
إِنَّمَا
الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا
وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ
الصَّادِقُونَ .
“Hanyalah orang-orang yang beriman
itu adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian tidak
ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah.
Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 15)
Dari sahabat Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَمَنْ
لَقِيتَ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطَ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ، فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ.
“Barangsiapa yang engkau temui di
balik penghalang ini, yang bersyahadat laa ilaaha illallah, dan hatinya yakin
terhadap hal itu, maka berilah kabar gembira baginya berupa surga.” (HR. Muslim 31).
Qabul (menerima).
إِنَّهُمْ
كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ .وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو
آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ.
“Sesungguhnya mereka dahulu apabila
dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang
berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri dan mereka berkata:
"Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena
seorang penyair gila?" (QS. Ash-Shaffat [37]: 35-36)
Inqiyad (tunduk dan patuh).
وَمَنْ
يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ
بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى.
“Dan barangsiapa yang menyerahkan
dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya
ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.” (QS. Luqman [31]: 22).
As-Shidq (jujur).
Allah ta’ala berfirman:
وَمِنَ
النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم
بِمُؤْمِنِينَ. يُخَادِعُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا
وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ. فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ
عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ.
“Di antara manusia ada yang
mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian”, padahal mereka itu
sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan
orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri
sedang mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 8-10)
Ikhlas.
وَمَا
أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ.
“Padahal mereka tidak disuruh
kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama dengan lurus.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 5)
فَإِنَّ
اللهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ يَبْتَغِي
بِذَلِكَ وَجْهَ الله.
“Sesungguhnya Allah telah
mengharamkan neraka bagi siapa saja yang mengucapkan “la ilaha illallah”,
dengan berharap wajah Allah dari ucapannya tersebut.” (HR Bukhari 425, Muslim
33).
Cinta.
وَمِنَ
النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ
اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ.
“Dan di antara manusia ada
orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka
mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang
beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al Baqarah [2]:165)
Makna Syahadat Muhammad
Rasullullah:
تَصْدِيقُهُ
فِيمَا أَخْبَرَ
Membenarkan apa yang beliau
beritakan.
طَاعَتُهُ
فِيمَا أَمَرَ
Menaati apa yang beliau
perintahkan.
اجْتِنَابُ
مَا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ
Menjahui apa yang dicegah beliau
dan dilarang.
وَأَنْ
لاَ يُعْبَدَ اللهُ إِلاَّ بِمَا شَرَعَ.
Dan tidak beribadah kepada Allah
kecuali dengan apa yang beliau syariatkan.
Rukun syahadat Muhammad Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Rukun ini ada dua:
‘Abduhu. Meyakini bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba Allah. Rukun ini menafikan sifat
ifrath (berlebih-lebihan) terhadap Beliau.
Wa Rasuluhu. Meyakini bahwa
Rasulullah shallallahu a’laihi wa sallam adalah orang yang benar-benar diutus
Allah ta’ala. Rukun ini menafikan sifat tafrith (meremehkan) pada hak
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat “Kitab tauhid” Syaikh Dr. Shalih Bin
Fauzan al-Fauzan).
Allah ta’ala perintahkan agar taat
kepada beliau shallallahu alaihi wa sallam, diantara firman Allah ta’ala:
مَنْ
يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ.
“Barang siapa taat kepada Rasul,
sungguh dia telah taat kepada Allah.” (QS. An-Nisa [4]: 80)
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي
الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ
وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ
خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا .
“Hai orang-orang yang beriman,
taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian
jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada
Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar mengimani Allah
dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik
akibatnya.” (QS. An-nisa [4]: 59)
وَمَا
آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا
اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ.
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu,
maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al
Hasyr [59]: 7)
مَنْ
أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ .مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ
أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.
“Barang siapa yang mengada-ada
dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan (berasal) darinya, maka dia
tertolak.” “Barangsiapa mengerjakan
sesuatu amal yg tidak ada contohnya dari urusan kami maka ia tertolak.” (HR. Bukhari 2697
Muslim 1718)
مَا
نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا
اسْتَطَعْتُمْ.
“Apa yang telah kularang kalian
darinya, maka jauhilah. Dan apa yang kuperintah kepada kalian, maka
laksanakanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari 7288. Muslim 1337)
Allah ta’ala mengancam orang-orang
yang menyelisihi Rasul-Nya.
فَلْيَحْذَرِ
الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ
عَذَابٌ أَلِيمٌ.
“Hendaknya takutlah orang-orang
yang menyalahi perintah Rasul-Nya bahwa mereka akan ditimpa fitnah atau azab
yang pedih.” (QS. An-Nur [24]: 63)
كُلُّ
أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى.
قَالُوا: يَا
رَسُولَ اللهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ
أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى.
“Setiap umatku akan masuk ke dalam
surga kecuali yang enggan. Mereka para sahabat bertanya, “Siapa yang enggan?”
Beliau berkata, “Barangsiapa mentaatiku dia masuk ke dalam surga, dan
barangsiapa bermaksiat padaku maka dia telah enggan.”(HR. Bukhari 7280,
Ahmad 8714)
Dan Allah telah menguji kita apakah
kita lebih suka mengikuti Rasul-Nya, atau selainnya:
قُلْ
إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ.
Katakanlah, "Jika kalian
(benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosa kalian," Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al-Imran [3]: 31)
Dan tak ada panutan yang lebih
mulia dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ulama ahli tafsir menyebutkan
bahwasanya ayat ini merupakan ayat ujian.
-----000-----
Sragen 07-11-2026
Abu Ibrahim Junaedi
