Jumat, 06 November 2026

BIMBINGAN AQIDAH DAN IBADAH UNTUK MASYARAKAT bab 1-7

 



BIMBINGAN AQIDAH DAN IBADAH UNTUK MASYARAKAT

 

BAB 1
MENGENAL MANHAJ YANG BENAR
(Metode Memahami Agama Islam Yang Benar)

 

 

1.  Meyakini Agama Islam Telah Sempurna.

Agama islam adalah agama yang telah sempurna, di mana di dalamnya telah diajarkan bagaimana tata cara beribadah kepada Allah ta’ala, bermuamalah sesama manusia, menjahui apa yang terlarang dan membahayakan manusia baik di dunia dan akhirat, begitu pula mengajarkan berbagai macam hal dari apa yang menjadi hajad hidup manusia, Allah ta’ala telah menjelaskan kesempurnaan agama islam ini di dalam firman-Nya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا.

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” (QS. Al-Maidah [5]: 3).

Dari Thariq bin Syihab, ia berkata, “Ada seorang Yahudi yang datang kepada ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu, lalu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya kalian membaca sebuah ayat dalam kitab kalian. Jika ayat tersebut diturunkan kepada kami, orang-orang Yahudi, niscaya kami akan menjadikan hari itu (hari turunnya ayat itu) sebagai hari raya.” ‘Umar  radhiyallahu 'anhu bertanya,  “Ayat yang mana?”. Orang Yahudi itu berkata, “Yaitu firman-Nya”:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا.

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” (QS. Al-Maidah[5]: 3).

Maka ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya aku telah mengetahui hari dan tempat ketika ayat itu turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ayat itu diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di ‘Arafah pada hari Jum’at.” (Tafsir Ibnu Katsir (QS. Al Maidah[5]: 3).

Ini menunjukkan bahwasanya orang Yahudi saja mereka memahami hal itu, sungguh mengherankan banyak kaum muslimin yang tidak memahami hal ini (kesempurnaan Islam).

Allah ta’ala berfirman:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu sebagai kalimat yang benar dan adil.” (Al-An'am [6]: 115).

Firman Allah: “wa tammat kalimatu Rabbika shidqaw wa ‘adlan.” “Telah sempurna kalimat dari Rabbmu, sebagai kalimat yang benar dan adil.” Qatadah berkata: “Yaitu benar dalam firman-Nya, dan adil dalam putusan Nya.”

Laa mubaddila likalimaatihi “Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya.” “Maksudnya, tidak ada seorang pun yang dapat menolak putusan Allah ta’ala, di dunia maupun di akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir (QS. Al-An’am [6]: 115).

Adapun dari hadits, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ.

“Aku tinggalkan kalian dalam keadaan terang-benderang, siangnya seperti malamnya. Tidak ada yang berpaling dari keadaan tersebut kecuali ia pasti celaka.” (HR. Ahmad no. 17142 Ibnu Majah no. 43, ath-Thabrani no. 619 dan disahihkan Syaikh al-Albani di Shahihul Jami’ no. 4369).

Dari Abu Dzar radiyallahu’anhu berkata:

تَرَكْنَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ إِلَّا وَهُوَ يُذَكِّرُنَا مِنْهُ عِلْمًا قَالَ: فَقَالَ: صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ ويُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلَّا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ.

“Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat meninggalkan kami dan tidaklah ada burung yang mengepak-ngepakkan kedua sayapnya di udara kecuali beliau telah menyebutkan kepada kami ilmunya.” Dia berkata, Rasulullah sallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak tersisa suatu (amalan) pun yang dapat mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali sudah dijelaskan semuanya kepada kalian.” (HR. Ahmad no. 21439, ath-Thabrani dalam al Mu’jamul Kabir no. 1647, disahihkan Syaikh al-AlBani di dalam ash-Shahihah no. 1803).

Dari Salman Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

قِيلَ لَهُ: قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ قَالَ: فَقَالَ: أَجَلْ.

“Orang-orang musyrik telah bertanya kepada kami, ‘Sesungguhnya Nabi kalian sudah mengajarkan kalian segala sesuatu sampai (diajarkan pula adab) buang air besar!’ Maka, Salman radhiyallahu anhu menjawab, ‘Ya’. ” (HR. Muslim no. 262, at-Tirmidzi no. 16).

Dari ayat dan hadis tersebut telah kita maklumi, islam adalah agama yang sempurna, mengajarkan segala sesuatu yang akan membawa kebaikan dunia dan akhirat sehingga tidak memerlukan tambahan dalam perkara-perkara agama ini, Oleh karena itu Allah ta’ala telah mewahyukan kepada Rasul-Nya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan kepada kita, kewajiban kita menerima, mengimani dan mengamalkannya, tanpa menambahi dan menguranginnya.

2.  Wajibnya Berpegang Teguh Dengan Al-Qur’an Dan Sunnah.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ  فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ  ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا.  

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisaa [4]: 59).

Menurut Mujahid rahimahullah dan juga lainnya, beliau mengatakan: “Segala sesuatu yang diperselisihkan di antara manusia menyangkut masalah pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, hendaknya perselisihan mengenai hal itu dikembalikan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. An-Nisa[4]:59).

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ.

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah..” (QS.An-Nisa[4]:64).

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS.An-Nisa[4]:65).

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ.

"Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan kami patuh.’ Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS An-Nur [24]: 51).

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ.

“Barang siapa mentaati Rasul (Muhammad) sesungguhnya dia telah mentaati Allah.” (QS. An-Nisa[4]:80).

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

”Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab[33]:71).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ.

“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara, kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya sampai kalian bertemu denganku di telaga.” (HR. al-Hakim di dalam mustadraknya no. 319, disahihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam Sahihul Jami’ no. 2937).

Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, tidak mau taat kepada Allah dan rasul-Nya, akan menemui kehinaan di dunia dan kelak akhirat.

وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّحُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ.

“Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar batas-batas hukum-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, dia kekal di dalamnya dan dia akan mendapat azab yang menghinakan.” (QS. An-Nisa [4]:14)

إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ كُبِتُوا كَمَا كُبِتَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ.

“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya pasti mendapat kehinaan, sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan.”(QS. Al-Mujadilah[58]: ayat 5).

3.  Memahami Besarnya Keutamaan Para Sahabat.

Sesungguhnya Allah ta’ala menjadikan para sahabat layaknya Bintang-bintang dilangit, mereka adalah manusia-manusia yang terbaik yang menemani Rasul-Nya, dan sebagai manusia yang akan diikuti generasi setelahnya.

Kita bisa membaca bagaimana sejarah mencatat manusia-manusia yang sangat mulia ini.

4.  Ketabahan Para Sahabat Dalam Mempertahankan Aqidah.

Ketika Rasulullah mendakwahkan Islam secara terang-terangan sebagian mereka orang-orang yang lemah menerima seruan Islam sehingga mereka menghadapi berbagai cobaan dan siksaan dari orang-orang kafir, ada yang dicambuk, diseret di padang pasir, di rendam di dalam air, ditindih batu dan bahkan ditombak hingga meninggal dunia. Namun mereka tidak goyah dalam memegang aqidah mereka, kekejaman orang-orang kafir terhadap para sahabat sampai membekaskan luka-luka di tubuh-tubuh mereka.

5.  Hijrah Para Sahabat untuk  Menyelamatkan Agamanya.

Beratnya tekanan orang-orang kafir tersebut membawa mereka rela meninggalkan kampung halaman yang mereka cintai dan berjalan menyusuri lembah, menyebrang lautan hingga menempuh ribuan kilo meter dengan kendaraan yang sederhana menuju negri Habasyah (Ethiopia) yang belum tahu bagaimana keadaan di sana. Semua dilakukan karena untuk menyelamatkan aqidahnya.

Hijrah pertama tahun ke-5 dari kenabian menuju ke Habasyah. Rombongan ini terdiri dari 12 orang laki-laki dan 4 orang wanita. Kemudian hijrah kedua terdiri dari 83 muhajirin dan 19 muhajirah (kaum wanita). (Ar-Rahiqul Makhtum, Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, terbitan Darul Haq).

 Begitu pula Suhaib ar-Rumy, rela memberikan hartanya ketika orang-orang musyrik menghadang saat hijrahnya, semua itu tidak lain ingin menyelamatkan aqidahnya kemudian Allah menurunkan firman-Nya:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ.

“Di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari rida Allah. Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah[2]:207).

Menurut Ibnu Abbas, Anas, Sa'id ibnu al- Musayyab, Abu Usman an-Nahdi, Ikrimah, dan sejumlah ulama lainnya, ayat ini diturunkan berkenaan dengan Suhaib ibnu Sinan ar-Rumi. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Baqarah [2]:207)

Demikianlah mereka lebih mencintai aqidah mereka meskipun harus kehilangan harta.

6.  Kecintaan Para Sahabat Kepada Rasulullah.

Para sahabat sangat mencintai Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kecintaan Abu Bakar Shidiq. Beliau sampai meneteskan air mata bahagia ketika diminta menemani hijrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah ta’ala menyebutkan hal itu:

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا.

"Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sungguh Allah telah menolongnya ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah) sedang dia salah satu dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya: 'Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita'." (QS. At-Taubah[9]: 40).

Kecintaan Umar bin Khatab kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Dari ‘Abdullah bin Hisyam berkata, Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau memegang tangan Umar bin Khaṭṭab, lalu ‘Umar berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا مِنْ نَفْسِي, فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ, فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: فَإِنَّهُ الْآنَ وَاللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي, فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْآنَ يَا عُمَرُ.

“Wahai Rasulullah, engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku sendiri.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak begitu (wahai Umar), demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah sempurna imanmu sampai aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Umar berkata: “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sekarang (sempurnalah imanmu), wahai ‘Umar.” (HR. al-Bukhari No. 6632, Ahmad No. 22503, ath-Tabrani No. 317)

Kecintaan Utsman bin Afwan, beliau sampai menikahi dua putri Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum.

Kecintaan Ali bin Abi Thalib.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَأُعْطِيَنَّ هَذِهِ الرَّايَةَ رَجُلًا يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ يَفْتَحُ اللهُ عَلَى يَدَيْهِ, قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ: مَا أَحْبَبْتُ الْإِمَارَةَ إِلَّا يَوْمَئِذٍ, قَالَ فَتَسَاوَرْتُ لَهَا رَجَاءَ أَنْ أُدْعَى لَهَا, قَالَ فَدَعَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهَا.

"Sungguh, aku akan memberikan panji ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memberi kemenangan melalui tangannya." Umar bin Khaṭṭab raḍiyallahu 'anhu berkata, "Tidak pernah aku menginginkan sebuah kepemimpinan kecuali pada hari itu. Sehingga aku pun menampakkan wajahku dengan harapan agar aku dipanggil untuk menerima panji itu." Ternyata Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam memanggil Ali bin Abi Talib. (HR. al-Bukhari 4210, Muslim 2405).

Mus’ab bin Umair, Khubaib bin Adi, Usamah bin Zaid dan semua para sahabat.

7.  Keberanian Para Sahabat.

Keberanian para sahabat dapat dilihat kisahnya pada perang Badar yang diawali dengan perang tanding.

Ketika dua pasukan bertemu pasukan kaum Muslimin dan orang-orang kafir mereka berseru lantang untuk mengajak perang tanding.

Seorang laki-laki sombong dari Bani Makhzum bernama al-Aswad bin ‘Abdul Asad. Ia dikenal keras kepala, bengis, dan pembenci Islam. Saat itu, dengan penuh kesombongan ia bersumpah:

“Aku bersumpah kepada Allah, aku akan meminum air telaga (sumur) kaum Muslimin itu, atau aku akan merusaknya, atau aku akan mati di sekitarnya!”

Sebelum ia sampai, Hamzah menebasnya dan akhirnya terbunuh di dekat telaga.

Kemudian tiga orang tokoh-tokoh Quraisy maju ke tengah gelanggang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bangkitlah wahai Hamzah!, Bangkitlah wahai ‘Ali!, Bangkitlah, wahai ‘Ubaidah bin al-
Ḥarith!”

Hamzah bin ‘Abdul Muththalib  paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Ali bin Abi Ṭalib sepupu dan menantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ubaidah bin al-Ḥarith.

Pertarungan sengitpun terjadi, Hamzah melawan Syaibah, tidak lama Hamzah menebas Syaibah hingga tewas. Ali melawan al-Walid, Ali berhasil membunuh al-Walid dengan mudah, Ubaidah melawan ‘Utbah keduanya bertarung sengit, saling melukai. Kemudian Hamzah dan Ali menyongsong Utbah dan membunuhnya dan menggendong Ubaidah.

Juga kisah dua pemuda belia ketika terjadi perang Badar, mereka adalah Muadz bin Amr bin Jamuh dan Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhuma.

Abdurrahman bin 'Auf mengisahkan:

"Aku berada di dalam barisan pasukan saat perang Badar berkecamuk. Tiba-tiba di sebelah kanan dan kiriku ada dua anak muda yang masih belia. Seakan aku tidak percaya atas keberadaan mereka di situ. Lalu salah seorang di antara keduanya berkata secara rahasia kepadaku agar tidak diketahui oleh temannya, 'Wahai paman! Tunjukkan padaku, mana Abu Jahal!."

Lalu aku berkata, 'Wahai anak saudaraku! Apa yang akan kamu lakukan?' Dia menjawab, “Aku diberitahu bahwa dia mencaci-maki Rasulullah, Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika aku melihatnya, maka dia tidak akan luput dari incaranku hingga ada yang mati terlebih dahulu di antara kami.”

Akhirnya keduannya membunuh Abu Jahal tersebut. (Diringkas dari Ar-Rahiqul Makhtum, Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, terbitan Darul Haq).

8.  Kedermawanan Para Sahabat.

Seperti kisah Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan saat kaum muslimin membutuhkan sumur, yang di waktu itu dimiliki oleh orang Yahudi, sehingga sahabat Utsman bin Affan  membeli  sumur Raumah milik Yahudi.

أَنَّ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حِينَ حُوصِرَ أَشْرَفَ عَلَيْهِمْ وَقَالَ: أَنْشُدُكُمُ اللَّهَ وَلَا أَنْشُدُ إِلَّا أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, أَلَسْتُمْ تَعْلَمُونَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ حَفَرَ رُومَةَ فَلَهُ الْجَنَّةُ, فَحَفَرْتُهَا أَلَسْتُمْ تَعْلَمُونَ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ جَهَّزَ جَيْشَ الْعُسْرَةِ فَلَهُ الْجَنَّةُ فَجَهَّزْتُهُمْ.

“Ketika Utsman radhiyallahu ‘anhu dikepung, beliau menghadap kepada mereka dan berkata, ‘Aku meminta kalian bersumpah demi Allah, dan aku tidak meminta kecuali kepada para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukankah kalian mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa membeli sumur Rumah, maka baginya surga”? Maka akulah yang membelinya. Bukankah kalian mengetahui bahwa beliau bersabda, “Barang siapa mempersiapkan Jaisyul ‘Usrah, maka baginya surga”? Maka akulah yang mempersiapkan mereka.” (HR. al-Bukhari no 2778, at-Tirmidzi no 3703).

Dari ‘abdurrahman bin Samrah dia berkata:

جَاءَ عُثْمَانُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَلْفِ دِينَارٍ حِينَ جَهَّزَ جَيْشَ الْعُسْرَةِ, فَفَرَّغَهَا عُثْمَانُ فِي حِجْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَلِّبُهَا وَيَقُولُ: مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ هَذَا الْيَوْمِ قَالَهَا مِرَارًا.

“Utsman datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa seribu dinar ketika beliau mempersiapkan Jaisyul ‘Usrah. Utsman menuangkannya ke pangkuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian membolak-balikkan uang tersebut seraya bersabda, ‘Tidak akan membahayakan Utsman apa yang dia lakukan setelah hari ini.’” Beliau mengucapkannya berulang kali. (HR. al-Hakim no. 4553, at-Tirmidzi no. 3701, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam al-Misykah no. 6964).

 Abu Bakar, Umar, Ustman, dan sahabat lainnya terutama menjelang perang tabuk dan masih banyak sekali kisah-kisah yang mengharukan tentang kedermawanan mereka.

9.  Kemuliaan Akhlak Para Sahabat.

Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan hal ini dengan firman-Nya:

كَمَآ اَرْسَلْنَا فِيْكُمْ رَسُوْلًا مِّنْكُمْ يَتْلُوْا عَلَيْكُمْ اٰيٰتِنَا وَيُزَكِّيْكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَۗ

“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Nabi Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah[2]:151).

Setelah mereka mendapat pengajaran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam     mereka memiliki akhlak yang sangat mulia.

Begitu mengharukan kisah persaudaraan orang-orang Muhajirin dengan orang-orang Anshar, kisah mereka ketika mendapatkan sedekah dan membagikan kepada saudara-saudaranya, kisah orang anshar yang disebut Allah ta’ala di dalam (Surat Al Hasyr [59]: 9).

وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ .

“Mereka mengutamakan(saudaranya Muhajirin)  daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al Hasyr [59]: 9).

Demikian pula kisah pada perang Yarmuk, al-Harits bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amr, di mana akhir kehidupan mereka lebih mementingkan saudaranya dari pada diri mereka sendiri.

10.             Para Sahabat Adalah Orang-Orang Yang Adil.

Keadilan para sahabat ini Allah sebutkan di dalam firman-Nya:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا.

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (para sahabat) umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas kalian.” (QS. Al-Baqarah[2]: 143).

     Umat ini kelak akan menjadi saksi bagi umat yang lain sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُدْعَى نُوحٌ يَوْمَ القِيَامَةِ فَيَقُولُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ: هَلْ بَلَّغْتَ ,فَيَقُولُ: نَعَمْ, فَيُقَالُ لِأُمَّتِهِ: هَلْ بَلَّغَكُمْ ,فَيَقُولُونَ: مَا أَتَانَا مِنْ نَذِيرٍ, فَيَقُولُ: مَنْ يَشْهَدُ لَكَ, فَيَقُولُ: مُحَمَّدٌ وَأُمَّتُهُ, فَتَشْهَدُونَ أَنَّهُ قَدْ بَلَّغَ: وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا, فَذَلِكَ قَوْلُهُ جَلَّ ذِكْرُهُ: وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا, وَالوَسَطُ: العَدْلُ.

Pada hari kiamat nanti, Nabi Nuh dipanggil oleh Allah. Lalu Nabi Nuh menjawab: “Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah.” Allah bertanya: “Apakah engkau sudah menyampaikan risalah kepada kaummu?”
Nabi Nuh menjawab: “Sudah.”  Kemudian Allah bertanya kepada kaumnya: “Apakah Nuh sudah menyampaikan risalah kepada kalian?” Mereka menjawab: “Tidak, tidak ada yang memberi peringatan kepada kami.” Allah berkata kepada Nuh: “Siapa yang bisa menjadi saksi untukmu?” Nuh menjawab: “Muhammad dan umatnya.” Maka umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam akan bersaksi bahwa Nabi Nuh benar-benar sudah menyampaikan risalah. Inilah maksud firman Allah dalam Al-Qur’an:

"Agar kalian (umat Islam) menjadi saksi atas manusia, dan Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas kalian." (QS. Al-Baqarah [2]: 143). Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan: “Yang dimaksud umat pertengahan (wasath) itu adalah umat yang adil.” (HR. al-Bukhari no. 4487(.

Para sahabat dikenal manusia yang sangat adil, jujur, dan penyayang.

11.             Larangan Mencela Para Sahabat.

Larangan keras mencela para sahabat. Abu Sa’id Al Khudri radiyallahu’anhu berkata, Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ.

“Jangan kalian mencela para sahabatku, seandainya salah seorang kalian menginfakkan emas sebesar Uhud tidak akan bisa menyamai satu mud-nya mereka tidak juga setengahnya.” (HR. al-Bukhari  no. 3673, Muslim no. 2540).

12.             Pujian Allah kepada para sahabat.

Banyak sekali ayat yang memuji para sahabat di dalam Al Qur’an.

Allah ta’ala firman:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّه.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran [3] : 110).

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ ۖ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah [2]: 137).

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat ini dalam kitab tafsirnya , “Maka jika mereka beriman”, yaitu orang-orang kafir dari Ahlul Kitab dan selain mereka, “seperti apa yang kalian telah beriman kepadanya”, wahai kaum mukminin, dengan keimanan kepada seluruh kitab Allah dan Rasul-Nya tanpa membedakan seorang pun dari mereka, “sungguh mereka telah mendapat petunjuk”, yakni mereka telah berada tepat di atas kebenaran dan mendapatkan petunjuk kepadanya.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al Baqarah [2]: 137).

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا.

“Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al Fath [48]: 18)

Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَدْخُلُ النَّارَ أَحَدٌ مِمَّنْ بَايَعَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ.

“Tidak akan masuk neraka orang-orang yang berbaiat di bawah pohon.” (HR. Abu Dawud no. 4653, at-Tirmidzi no. 3860, beliau berkata: hasan shahih. Syaikh al-Albani menshahihkan dalam Shahihul Jami’ no. 7680).

Dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ.

“Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka, kemudian setelah mereka lagi.” (HR. al-Bukhari no. 2652, Muslim no. 2533. Dengan lafald dari al-Bukhari).

13.             Mendoakan Para Sahabat.

Allah ta’ala mengajarkan kepada kita bagaimana kita bersikap dengan para sahabat.

Allah  ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَآءُوا مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ

“Dan orang-orang yang datang setelah mereka (para sahabat), mereka berdoa: ‘Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Al-Ḥasyr [59]: 10).

Tidak diragukan lagi pujian di dalam ayat dan hadits di atas tidak lain adalah untuk para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang merupakan khitab (yang diajak bicara) dalam ayat tersebut, karena orang yang beriman di waktu itu belum ada yang lain selain para sahabat.

14.             Kewajiban Mengikuti Para Sahabat.

Setelah kita mengetahui keutamaan para sahabat, pujian Allah kepada mereka, maka kewajiban kita beragama sebagaimana cara beragamanya para sahabat tersebut, (inilah yang dikenal dengan manhaj), karena ini merupakan perintahkan Allah dan juga Rasul-Nya.

Allah ta’ala berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ.

“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka (dalam melaksanakan) kebaikan, Allah ridha kepada mereka; dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang di dalamnya terdapat sungai-sungai yang mengalir. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah [9]: 100).

Ayat ini membagi generasi yang baik hanya menjadi dua generasi:

Generasi pertama yaitu dari generasi para sahabat, Muhajirin dan Anshar, yang mana hal ini tidak mungkin bisa kita capai.

Generasi kedua adalah orang-orang setelahnya yang mengikuti mereka para sahabat dengan sebaik-baiknya, kita memohon kepada Allah agar memasukkan kita termasuk pengikut Rasulullah dan para sahabat  dengan sebaik-baiknya sebagaimana ayat di atas.

Adapun dalil dari hadits yang mewajibkan mengikuti para sahabat sebagai berikut:

Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظًةً وَجِلَتْ مِنْهَا القُلُوْبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا العُيُوْنُ فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ كَأَنَّهَا مَوْعِظَةً مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا قَالَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَي اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang membuat hati menjadi bergetar dan mata kami menangis, maka kami berkata, “Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah wasiat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah wasiat kepada kami.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun kalian dipimpin seorang budak. Sungguh, orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin al-mahdiyyin (yang lurus dan mendapatkan petunjuk). Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, jauhilah setiap perkara yang diada-adakan, karena setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607, at-Tirmidzi no. 2676. Disahihkan syaikh al-Albani dalam sahihul jami’ no. 2549).

15.             Jalan Kebenaran Hanya Satu.

Dari ibnu Mas’ud radiallahu ‘anhu beliau berkata:

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ و عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ, وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada setan yang mengajak kepada jalan itu,’  kemudian beliau membaca:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ.

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya” (QS. Al-An’am[6]:153) (HR. Ahmad no. 4142, Abu Dawud no. 241, dihasankan syaikh al-Albani di dalam Adh-Dhilal no. 16-17).

 

Dari ‘Auf bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ  قِيلَ: يَا رَسُولَ

اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ: الْجَمَاعَةُ.

“Orang-orang Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, satu (golongan) masuk Surga dan tujuh puluh di Neraka. Dan Nasrani terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, yang tujuh puluh satu golongan di Neraka dan yang satu di Surga. Dan demi Yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, ummatku benar-benar akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, yang satu di Surga, dan yang tujuh puluh dua golongan di Neraka,’ Ditanyakan kepada beliau, ‘Siapakah mereka (satu golongan yang masuk Surga itu) wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Al-Jama’ah’.” (HR. Ibnu majah No. 3992, Abu Dawud No. 4956, ath-Thabrani di dalam al-Mu’jam al-Kabir No. 129, di hasankan Syaikh al-Albani di dalam Shahih Ibnu Majah No. 3992, di shahihkan di dalam as-Shahihah No. 1492).

Dalam riwayat yang lain Beliau ditanya:

قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي.

“Siapakah yang selamat itu ya Rasulullah..?” Beliau menjawab, “Apa yang aku dan para sahabatku berjalan di atasnya” (HR. at-Tirmidzi No. 2641,  dihasankan Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah No. 1348, al-Misykah No. 171).

Pada ayat dan hadits di atas merupakan dalil tentang wajibnya umat ini mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga para sahabatnya, begitu pula jalan kebenaran hanyalah satu.

16.             Ancaman Bagi Orang-Orang Yang Menyelisishi Para Sahabat.

Allah akan mengadzab orang-orang yang meninggalkan cara beragamanya para sahabat dengan Neraka.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ

جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا.

“Dan barang siapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa [4]: 115).

Para sahabat Secara individu (person) bukanlah manusia yang maksum (bebas dari salah), akan tetapi apa yang telah ditaqrir (didiamkan dan disetujui) Rasulullah shallallahu a’laihi wa sallam terhadap sahabat merupakan dalil kebenaran yang harus diikuti, begitu pula apa yang telah menjadi kesepakatan para sahabat (ijma’ mereka) adalah merupakan kebenaran.

Dari sahabat Annas radhiyallahu‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ اللَّهَ لَا يَجْمَعُ هَذِهِ الْأُمَّةَ عَلَى ضَلَالَةٍ أَبَدًا.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umat ini di atas kesesatan selamanya.” (HR. Ibnu Majah no. 3940, al-Hakim no. 201-202, at- Tirmidzi no. 2269 dan diShahihkan syaikh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no. 1848, al-Misykah no. 173).

Oleh karena itu ijtihad para sahabat, ada yang dibenarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ada yang dilarang. Sehingga pandangan orang-orang tentang bolehnya seseorang membuat revisi, kreasi, inovasi, ataupun tatacara baru di dalam agama Islam dengan dalih para sahabat juga melakukannya, kemudian dibenarkan Rasulullah sallallahu ‘alaih wa sallam, pandangan seperti ini hendaknya di luruskan dan ditempatkan secara proporsional  agar kita bisa bersikap adil dalam menilai suatu perkara.

Anggapan ini didasari oleh beberapa kisah dari apa yang dilakukan para sahabat di antaranya:

 Bilal selalu menjalankan shalat setelah wudhu. (HR. al-Bukhari no. 1149).

 Sahabat yang shalat dengan bacaan “wal hamdulillahi hamdan katsiran tayyiban mubarakan fiih” (HR. Muslim no. 600, Abu Dawud no. 774, Ibnu Hibban no. 845).

 

Sahabat yang shalat tidak pernah meninggalkan surat Al-Ikhlas. Ada yang mengatakan bernama Qatadah bin Nu’man. (HR. al-Bukhari no. 774, at-Tirmidzi no. 2901).

Sahabat yang meruqyah dengan membaca Al Fatihah. (HR. al-Bukhari no. 5736, Muslim no. 2201).

Sebagaimana Rasulullah mentaqrir (mendiamkan dan menyetujui) para sahabat, namun beliau  juga meluruskan dan bahkan melarang mereka yang keliru.

Oleh karena itu hendaknya seseorang berbuat adil, tidak mengikuti hawa nafsunya dengan hanya menukil dari apa yang didiamkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa allam saja, tapi hendaknya juga menukil apa yang diluruskan dan bahkan dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kisah para sahabat yang diluruskan bahkan dilarang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut:

 Tiga sahabat yang mendatangi umul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anh dan bertanya tentang ibadah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. al-Bukhari no. 5063, Muslim no. 1401).

 Larangan menyembelih Kurban sebelum shalat id. (HR. al-Bukhari no. 7400, Muslim no. 985).  Larangan Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam menyerupai suatu kaum. (HR. Abu Dawud no. 4031 di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam Irwa’ul Ghalil no. 2384).

 Nadzar yang terlarang seperti kesyirikan, menyakiti badan atau hal-hal yang sia-sia. (HR al-Bukhari no. 6700).

Larangan mengkhususkan puasa pada hari jum’at saja.

Dari abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ.

“Janganlah salah seorang di antara kalian berpuasa pada hari Jum’at kecuali jika ia berpuasa pula pada hari sebelum atau sesudahnya.” (HR. al-Bukhari no. 1849, Muslim no. 1929).

Meminta dibuatkan sesembahan seperti Dzatu anwath, hal ini sebagaimana bani Israil meminta dibuatkan anak sapi, (QS. Al A’raf [7]: 138).

Ketika fatkhul Makkah banyak sahabat yang baru masuk Islam, tidak selang beberapa lama kemudian orang-orang berangkat perang menuju Hunain, kemudian mereka melewati pohon milik orang kafir sehingga mereka meminta untuk dibuatkan Dzatu Anwath seperti mereka.

يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ. فَقَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى .

“Ya Rasulullah, Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka (orang musyrik) memiliki Dzatu Anwath.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Subhanallah! ini sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Musa.” (HR. Ahmad no. 21900, at-Tirmidzi no. 2180, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam dzilalul Jannah no. 76. Adapun Dzatu an-wath adalah pohon yang dipakai menggantungkan pedang orang-orang musyrik).

Para sahabat adalah manusia pilihan yang hidup dinaungi oleh wahyu, dimana wahyu turun kepada mereka siang maupun malam yang akan membenarkan atau meluruskan mereka apabila keliru melalui Rasul-Nya.

Dari ayat dan hadits di atas jelas menunjukkan bahwa tidak ada yang dapat menjamin keselamatan agama seseorang menuju kepada Allah ta’ala kecuali mengikuti Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya radhiyallahu ‘ahum ajma’iin.

 

 

-----000-----

 

 

BAB 2
LARANGAN TA’ASHUB
(Fanatisme kepada selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

 

Dahulu, umat ini fanatik terhadap madzhab, mereka tidak mau menikahkan anaknya kecuali semadzhab dengan mereka, tidak mau shalat di belakang orang yang tidak semadzhab dengan mereka. Ternyata sisa-sisa keadaan seperti ini masih bisa kita saksikan. Sebagian kaum muslimin tidak mau shalat di masjid selain kelompoknya, tidak mau memberi salam kepada selain kelompoknya. Hal semacam ini dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَمُرَّ الرَّجُلُ بِالْمَسْجِدِ لَا يُصَلِّي فِيهِ رَكْعَتَيْنِ, وَأَنْ لَا يُسَلِّمَ إِلَّا عَلَى مَنْ يَعْرِفُهُ .

“Di antara tanda-tanda (dekatnya) hari kiamat adalah seseorang melewati masjid yang tidak pernah dia shalat di sana dua rekaat, lalu dia hanya mengucapkan salam kepada orang yang dia kenali saja.” (HR. ath-Tabrani no. 9489, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami’ no. 5896, lihat juga Fathul Bari 11: 25).

Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Mengucapkan salam kepada orang yang tidak dikenal merupakan tanda ikhlas dalam beramal kepada Allah ta’ala, tanda tawadhu’ (rendahnya

 hati seseorang), dan menyebarkan salam merupakan syi’ar dari umat ini.” (Lihat Fathul Bari 11: 25)

Fenomena fanatik kelompok ini salah satu kebiasaan jahiliyah, yang mana Allah ta’ala telah melarang hal ini. Allah ta’ala menyebutkan di dalam Al-Qur’an :

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ.

“Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Rum [30]: 31)

Keadaan yang sangat memprihatinkan bagaimana kaum muslimin tercabik-cabik oleh musuh mereka baik dari dalam maupun dari luar, mereka dibuat saling bermusuhan satu sama lain. Satu golongan berpakaian warna ini dan segolongan lain berpakaian warna itu, seakan musuh yang harus diperangi, tidak lagi mendasari perbuatan yang dilakukan tersebut dari agama, padahal sikap fanatisme golongan ini muncul dari musuh-musuh islam, mereka sengaja menciptakan cara-cara yang selalu bertentangan dengan Islam, mereka menghendaki kaum muslimin selalu bertengkar satu sama lain, mereka tidak sadar kalau mereka sedang diadu domba oleh musuh-musuh mereka, inilah kenyataan yang menimpa kaum Muslimin saat ini.

Padahal Allah ta’ala memerintahkan agar kaum muslimin bersatu di atas syari’at Islam.

Allah ta’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang  yang bersaudara.” (QS. Al-Imran [3]: 103)

Untuk menghilangkan atau memperkecil perselisihan hendaknya kita kembali kepada kitab Allah dan Sunnah Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam dengan pemahaman para sahabat, menjauhkan fanatisme kepada selain Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, siapapun dia, betapapun memiliki pengikut yang banyak dan kedudukan yang tinggi, baik berupa organisasi, yayasan, golongan, atau terhadap individu, seperti kepada kyai, ustadz, habib, maupun kepada seorang guru, tanpa mengurangi sedikitpun rasa hormat kita kepada mereka, karena mereka turut andil di dalam menegakkan agama Allah, namun bagaimanapun juga kebenaran lebih kita cintai, dan kesalahan harus kita tinggalkan, tak seorangpun dari kita yang bisa lepas dari kesalahan.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ.

“Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat.” (HR. at-Tirmidzi no. 2499, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami’ no. 4515)

Hendaknya kita tidak membeda-bedakan suku, warna kulit maupun daerah, sebaliknya kita harus menerima dan mengikuti kebenaran dari mana saja datangnya, karena kebenaran itu lebih mahal dari emas, lebih mulia dari permata, selagi mencocoki Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya hendaknya kita terima, kita harus mendahulukan Rasulullah dibandingkan selain Beliau, karena Rasulullah terjaga dari kesalahan sedangkan yang lain tidak.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى . إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى.

“Dan tidaklah dia (Nabi Muhammad) berbicara menurut hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.” (QS. An-Najm[53]: 3-4)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

يُوْشِكُ أَنْ تَنْزِلَ عَلَيكْم حِجَارَةٌ مِنَ السَّمَاءِ, أَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ وَتَقُوْلُوْنَ: قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Hampir saja kalian akan dihujani batu dari langit. Aku katakan: Rasulullah bersabda demikian lantas kalian membantah dengan mengatakan: Tapi Abu Bakar dan Umar berkata demikian.” (Zadul ma’ad 2/195, Syarah Sunan Ibnu Majah 2/3, Syaikh Abdul ‘Aziz bin  Abdullah bin Abdurrahman ar-Rajihi).

Imam Ahmad rahimahullah berkata:

عَجِبْتُ لِقَوْمٍ عَرَفُوا الإِسْنَادَ وَصِحَّتَهُ وَيَذْهَبُوْنَ إِلَى رَأْيِ سُفْيَانَ, وَاَللَّهُ تَعَالَى يَقُوْلُ: فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ . أَتَدْرِي مَا الفِتْنَةُ الفِتْنَةُ الشِّرْكُ, لَعَلَّهُ إِذَا رَدَّ بَعْضَ قَوْلِهِ أَنْ يَقَعَ فِي قَلْبِهِ شَيْءٌ مِنَ الزَّيْغِ فَيَهْلَكَ.

“Sungguh aku heran pada satu kaum, mereka mengetahui sanat dan keshahihannya, akan tetapi mereka mengambil pendapat Sufyan! sedang Allah ta’ala berfirman: “Maka, hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur[24]:63), “Apakah kau tahu apa itu fitnah..? fitnah itu kesyirikan, bisa jadi seseorang menolak sebagian dari perkataan-Nya, terbetik didalam hatinya sesuatu berupa penyimpangan kemudian membinasakannya.” (Di keluarkan oleh Ibnu Batthah di dalam al-Ibanatul Kubra 97, Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin 63/253).

Para imam madzhab mereka juga melarang ta’ashub (fanatik) dengan dirinya, dan memerintahkan agar mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, di antara ucapan mereka sebagai berikut:

Imam Abu Hanifah rahimahullah beliau berkata:

إِذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي. إِذَا قُلْتُ قَوْلاً يُخَالِفُ كِتَابَ الله تعالى وَخَبَرَ الرَّسولِ صلى الله عليه وسلم فَاتْرُكُوا قَولِي.

“Apabila hadits itu sahih, maka itulah madzhabku,” Beliau juga berkata, “Apabila aku berkata menyelisihi kitab Allah, dan Sunnah Rasulullah, maka tinggalkanlah ucapanku.” (Sifat shalat Nabi, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Ibnu Abidin di dalam Al-Hasyiah 1/63).

Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata:

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُخْطِىءُ وأُصِيبُ فانْظُرُوا في رَأْيِي فَكُلّ مَا وَافَقَ الكتابَ والسُّنَّةَ فخُذُوا بِهِ وكلّ مَا

لَمْ يُوَافِقِ الكتابَ والسُّنَّةَ فَاتْرُكُوهُ.

“Sesungguhnya aku tidak lain adalah manusia, terkadang salah dan terkadang benar maka perhatikanlah pendapatku setiap apa yang mencocoki Al-Kitab dan Sunnah ambillah dan setiap apa yang tidak sesuai Al-kitab dan Sunnah maka tinggalkanlah.” (Sifat shalat Nabi, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani).

Imam Syafi’i rahimahullah berkata:

إِذَا وَجَدْتُّمْ فِي كِتَابِي خِلَافَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدَعُوا مَا قُلْتُ.

“Apabila kalian menjumpai di dalam kitabku menyelisihi Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ucapkanlah Sunnah Rasulullah dan tinggalkanlah ucapanku.”(Sifat shalat Nabi, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, al-Khatib di dalam Al Ikhtijaju bi Syafii 8/2).

Beliau rahimahullah juga mengatakan:

أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَتْ لَهُ سُنَّةٌ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ.

“Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sebuah sunnah (ajaran) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu karena mengikuti pendapat siapa pun.” (I'lamul muwaqi'in 2:282).

Imam Ahmad rahimahullah berkata: 

مَنْ رَدَّ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ عَلَى شَفَا هَلَكَةٍ.

“Barang siapa menolak hadist rasulullah shallallahu alaihi wa sallam maka dia berada di tepi kebinasaan.” (Sifat shalat Nabi, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani).

Demikianlah ucapan para imam, mereka mengajak kepada Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak mengajak kepada pendapatnya atau madzhabnya.

Bandingkan dengan para tokoh-tokoh organisasi yang menyimpang sekarang, mereka berdakwah untuk memperkaya dirinya yaitu mendapatkan setoran dari mad’unya (orang yang didakwahi), cari kursi jabatan, menanamkan fanatiK kepada kelompoknya saja, memaknai  Al-Qur’an dan hadist sesuai dengan kepentingan dan hawa nafsunya, bahkan tak segan-segan mengkafirkan orang yang di luar kelompoknya, dan menganggap di luar kelompoknya islamanya tidak syah, menakut-nakuti mereka agar mau berbai’at dan bergabung dengan jama’ahnya jika tidak, mereka akan mati dan dianggap matinya seperti bangkai jahiliyah dan tetap di atas kekafiran, semua ini tidaklah benar, ini adalah sikapnya orang-orang khuarij, (takfiri) suka mengkafirkan orang lain selain kelompoknya wal iyaadzubillah.

Bentuk-bentuk penyimpangan seperti .,ini laku keras pada umat ini, hal ini tidak lain karena jauhnya umat islam dari tuntunan agama yang benar, sehingga mereka mudah untuk dibodohi, diadu domba baik dari dalam maupun dari luar, dari dalam yaitu orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya, adapun dari luar yaitu kalangan orang-orang kafir, munafik, orang-orang musyrik.

 

-----000-----

 

 

BAB 3
PENGERTIAN AQIDAH

 

Aqidah berasal dari kata العقد  (al ‘aqdu) yang artinya “mengikat sesuatu.” “Saya beri’tiqad seperti ini”, maksudnya, “saya mengikat hati saya terhadap hal tersebut”. Semakna dengan itu sebagaimana orang yang mengatakan “saya meyakininya dengan kuat.”

Adapun aqidah secara syar’i yaitu: Beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta beriman terhadap takdir yang baik ataupun yang buruk, sebagaimana hal Ini juga di sebut rukun iman. (Aqidah Tauhid, oleh Syaikh DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan).

 

Kuatnya aqidah yang melekat di hati seseorang sehingga akan diperjuangkan, baik Aqidah itu benar maupun salah, sebagaimana orang musyrik yang mati dalam peperangan, begitu pula para sahabat yang mempertahankan aqidahnya.

Dahulu Abu Jahal berdoa kepada Allah menjelang perang badar karena merasa benar aqidahnya.

اللهُمَّ أَقْطَعَنَا الرَّحِمَ وَآتَانَا بِمَا لَا يُعْرَفُ فَأَحْنِهِ الْغَدَاةَ فَكَانَ الْمُسْتَفْتِحَ.

“Ya Allah, (dia) orang yang memutuskan tali silaturahmi di antara kami(dimaksudkan nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam) dan yang membawa ajaran aneh yang tidak kami kenal, maka binasakanlah dia esok hari.” (HR. Ahmad no. 23661, Ibnu Abi Syaibah 14/359-360, Tafsir at-Tabhari 9/208, dihasankan oleh Syaikh al-Arnauth  di dalam kitab al-Jami’ ash-Shahih lis-Sunan wal Masanid 14/415).

Ini diabadikan Allah ta’ala di dalam Al Qur’an:

إِنْ تَسْتَفْتِحُوا فَقَدْ جَاءَكُمْ الْفَتْحُ وَإِنْ تَنتَهُوا فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَإِنْ تَعُودُوا نَعُدْ وَلَنْ تُغْنِيَ عَنكُمْ فِئَتُكُمْ شَيْئاً وَلَوْ كَثُرَتْ وَأَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ.

“Jika kamu (orang-orang musyrik) meminta keputusan, maka sesungguhnya keputusan telah datang kepadamu dan jika kamu berhenti, maka itulah yang lebih baik bagimu; dan jika kamu kembali niscaya Kami kembali (memberi pertolongan kepadanya); dan pasukanmu tidak akan dapat menolak sesuatu bahaya sedikit pun darimu, biarpun jumlahnya (pasukan) banyak. Sungguh, Allah beserta orang-orang beriman.” (QS. Al-Anfal [8]: 19).

Bisa saja badan seseorang mati dan hancur, namun ruhnya justru merasa bebas dan merdeka karena mampu menyelamatkan aqidahnya. Oleh karena itu peran hati ini sangat besar jika di bandingkan jasad. Puncak dari kesengsaraan jasad adalah kematian, namun ruh akan tetap hidup dan dikembalikan kepada jasadnya untuk dimintai pertanggung jawabannya.

Dari sini kita mengetahui syari’at ini terbagi menjadi dua:

I’tiqadiyah, yaitu yang berkaitan dengan amal batin, seperti keyakian terhadap rububiyah Allah, dan apa saja yang tertuang di dalam rukun iman begitu pula raja’ khauf dan tawakal.

Berkaitan dengan amal lahiriyah seperti berdoa, shalat, zakat, puasa, dan juga haji. Ini juga di sebut dengan far’iyah (cabang). (Dinukil dari “Aqidah Tauhid” Syaikh DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan).

 

 

-----000-----

 

BAB 4
PENGERTIAN AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH.

 

Ahlussunnah terdiri dari dua suku kata yaitu ’ahlu’ yang berarti keluarga, pemilik atau orang yang melazimkan sesuatu.

Sunnah secara bahasa yaitu, jalan yang dilalui, yang baik ataupun yang buruk.

Adapun Sunnah secara syar’i adalah petunjuk Rasulullah dan para sahabat yang berjalan di atasnya.

Al-jama’ah secara bahasa adalah berkumpulnya sesuatu. Sebagaimana orang yang mengatakan “Aku telah menggumpulkan sesuatu dengan sekali pengumpulan.”

Adapun Al-Jama’ah secara syar’i yaitu, pendahulu umat ini dari kalangan sahabat, tabi’in dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat. (Bayanu Aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah wa Luzumu Ittibaauha, Syaikh Dr. Said bin Ali al-Qahthani).

 

 

-----000-----

 

BAB 5
SIAPAKAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH.

 

Ahlussunnah wal jama’ah adalah mereka yang berada di atas petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya, mereka yang senantiasa berpegang dengan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Mereka adalah para sahabat, tabi’in, para imam pembawa petunjuk, dan siapa pun yang selalu itiba’ (mengikuti) sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan jauh dari perkara baru dalam agama (bid’ah), di mana pun mereka berada, dan kapan pun waktunya. Mereka selalu ada dan akan ditolong oleh Allah sampai datangnya kiamat. (Lihat “Mujmal usul Ahlussunnah wal Jama’ah fil Aqidah” Dr. Nasir ‘Abdul Karim al-Aql).

Hal ini sesuai dengan firman Allah ta’ala:

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ.

“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka (dalam melaksanakan) kebaikan, Allah ridha kepada mereka; dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang di dalamnya terdapat sungai-sungai yang mengalir. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah [9]: 100).

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan akan terjadi perpecahan Rasulullah juga menjelaskan yang selamat Adalah satu maka sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ, قَالَ: الْجَمَاعَةُ.

Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah mereka satu golongan yang masuk Surga itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Al-Jama’ah.” (HR. Ibnu Majah no. 3992, Ibnu Hibban No. 6247, di shahihkan syaikh al-Albani di dalam Ash-Shahihah No. 1492).

Dalam riwayat yang lain Rasulullah shallallahu a’laihi wa sallam bersabda:

كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً, قَالُوْا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ, قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ.

“Semua masuk neraka kecuali satu.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Siapa saja yang meniti di atas jalanku dan para sahabatku.” (HARI. At-Tirmidzi No. 2641. Di hasankan oleh syaikh al-Albani di dalam Ash-Shahihah no. 203).

Sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ’anhu, menjelaskan kepada kita tentang Al Jama’ah:

الْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَلَوْ كُنْتَ وَحْدَكَ.

“Al Jama’ah adalah siapa saja yang sesuai dengan kebenaran walaupun engkau sendiri.” (Dikeluarkan oleh Al-Lallikai di dalam Syarhu Usuli I’tiqadi Ahli Sunnah 1/109, Al Hafizh At Thabrani di dalam Musnadnya 1/220 di shahihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam Al-Miskah 1/61).

Imam Asy Syathibi rahimahullah berkata:

وَحَاصِلُهُ أَنَّ الجَمَاعَةَ رَاجِعَةٌ إِلَى الإِجْتِمَاعِ عَلَى الإِمَامِ المُوَافِقِ لِكِتَابِ اللهِ وَالسُّنَّةِ , وَذَلِكَ ظَاهِر ٌفِيْ أَنَّ الإِجْتِمَاعَ عَلَى غَيْرِ سُنَّةٍ خَارِجٌ عَنِ الجَمَاعَةِ المَذْكُوْرَةِ فِيْ الأَحَادِيْثِ المَذْكُوْرَةِ.

“Kesimpulannya, Al-Jama’ah adalah bersatunya umat pada imam yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah. Dan jelas bahwa persatuan yang tidak sesuai sunnah tidak disebut Al Jama’ah yang disebut dalam hadits-hadits.”(Al I’tisham 2/260-265).

Hendaknya bagi orang yang menghendaki kebenaran, agar senantiasa menimbang amalan ibadahnya dengan apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan para sahabatnya, jika mereka (para sahabat) tidak mengamalkan, yang selamat adalah dengan meninggalkannya.

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu dia berkata, Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْمَدِينَةَ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا.

“Sesungguhnya keimanan akan kembali ke Madinah sebagaimana ular yang masuk ke dalam lobangnya.” (HR. Ahmad 7846, Ibnu Hibban 3729 dan di shahihkan syaikh al-Albani di dalam As-Shahihah 3073).

Terjadi ikhtilaf di antara para ulama di dalam menafsirkan hadits ini.

Pendapat pertama, hadits ini hanya berlaku di zaman Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in.  Ketika muncul kesesatan, mereka pergi ke kota Madinah untuk bertanya kepada para Sahabat.

Pendapat yang kedua, bahwa hadits ini berlaku pada setiap zaman, sampai zaman kita sekarang ini.

Al-Qurtubi rahimahullah berkata, “Itu merupakan peringatan benarnya madzhab penduduk Madinah dan keselamatan mereka dari bid’ah, dan amalan mereka merupakan hujah sebagaimana ucapan Imam Malik.” (Al-Ihsan fi Taqribi Shahihi Ibnu Hibban).

 

-----000----

 

 

 

 

BAB 6
SUMBER AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH.

 

Ahlussunnah Wal Jama’ah berjalan di atas dasar yang jelas, baik dari sisi aqidah, ibadah dan akhlak mereka. Dimana aqidah adalah perkara yang sangat menentukan keselamatan dunia dan akhirat seseorang, sehingga tidak boleh mengambil aqidah dari sesuatu yang tidak jelas, seperti mengambil aqidah dari kisah mahabharata (perwayangan), mimpi, tinggalan nenek moyang, atau dongeng yang penuh dengan kurafat, kekufuran dan kesyirikan.

Oleh karena itu aqidah harus di ambil dari sumber yang murni yaitu dari Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih dan apa yang disepakati oleh para sahabat. (Silakan lihat kitab “Mujmal Usul Ahlussunnah wal jama’ah fil aqidah” Dr. Nashir Ibn Abdul karim Al ‘Aql)

Kaum muslimin hendaknya membersihkan aqidah mereka dari selain Al Qur’an dan Sunnah, serta ijma’ para sahabat.

Al Qur’an dan Sunnah merupakan sumber pokok yang tidak ada keraguan padanya, Allah ta’ala berfirman:

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ.

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 2)

Allah ta’ala berfirman:

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ.

“Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadaNya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman.“(QS. Al-Baqarah [2]: 285)

تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ . هُدًى وَرَحْمَةً لِلْمُحْسِنِينَ.

“Inilah ayat-ayat Al Quran yang mengandung hikmah,  Menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Luqman [31]: 2-3)

الۤرٰ,كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ .

“Alif laam raa. (Ini adalah) Kitab yang kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim [14]: 1)

ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُمْتَرِينَ.

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al Baqarah [2]: 147)

 

Aqidah tidak di ambil dari keyakinan tinggalan nenek moyang, oleh karena itu Allah  ta’ala membantah orang-orang yang mengambil nenek moyang mereka sebagai panutan apa yang mereka tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah, Allah ta’ala berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ .

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?." (QS. Al-Baqarah[2]: 170)

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ .

“Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". “Apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (QS. Al-Maidah [5]: 104)

Adapun Dalil dari hadits, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ.

“Aku telah tinggalkan pada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Keduanya tidak akan terpisah sehingga bertemu denganku di telaga.”(HR. Al-Hakim 319, di dalam “Al-Mustadrak ‘ala Shahihain” Hadis ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam Sahihul Jami’ 2937).

Dalam hadits yang dikenal dengan hadits Jibril yang panjang Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan sumber aqidah kaum muslimin.

Dari Umar radhiyallahuanhu dia berkata

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ  قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ.

“Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorang pun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam) seraya berkata: “Ya Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam?” Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi berhaji jika mampu”. Kemudian dia berkata: “Anda benar”. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Lalu beliau bersabda: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk”. Kemudian dia berkata: “Anda benar“. Kemudian dia berkata lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”. Lalu beliau bersabda: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihat-Nya maka Dia melihat engkau”. Kemudian dia berkata: “Beritahukan kepadaku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. beliau bersabda: “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya”. Dia berkata: “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya”. beliau bersabda: “Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan tidak berpakaian, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya”. Kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “Tahukah engkau siapa yang bertanya?” Aku berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau bersabda: “Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian mengajarkan agama kalian.” (HR. Muslim 8).

Ibnu Rajab berkata : “Hadits ini merupakan hadits yang agung mencakup seluruh penjelasan agama, karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di akhir hadits : “Sesungguhnya ia adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan tentang agama kalian,” setelah menjelaskan kedudukan Islam, kedudukan Iman, dan kedudukan Ihsan, dan menjadikan semua itu agama.” (Jamiul ‘ulum wal hikam, Ibnu Rajab Al-Hambali hadits no. 2).

Ibnu Daqiqil ‘Ied berkata, “Hadits ini seakan menjadi induk bagi Sunnah, sebagaimana Al-Fatihah dinamakan Ummul Qur’an karena ia mencakup seluruh nilai-nilai yang ada di dalam Al-Qur’an.” (Lihat syarah “Hadis Arba’in” Ibnu Daqiqil ‘id ).

Hadits ini juga menjelaskan tentang sendi-sendi agama dan tingkatannya, yaitu Islam, iman, dan ihsan, yang mana terdapat di dalamnya amalan lahiriyah, batiniyah dan juga akhlak, yang semua itu merupakan sumber aqidah bagi kaum muslimin sebagaimana yang menjadi pembahasan utama di dalam buku ini.

 

-----000-----

 

 

 

 

 

 

BAB 7
RUKUN ISLAM

 

Rukun Islam ada lima.

Rukun Yang Pertama: Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat

أشْهَدُ أن لاإِله إِلاَّالله وَأَشهَدُأَنَّ مُحَمَّدًارَسُولُ الله.

“Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah, dan Aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah.”

Pengakuan seorang hamba bahwa Allah adalah pencipta, pengatur, dan pemberi rezki.

Allah ta’ala pencipta segala sesuatu, Allah ta’ala berfirman-Nya:

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ.

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar[39]:62)      

إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ.

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Al-A’raf : 54)

Allah ta’ala pengatur alam semesta.

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ.

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa`at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”. (QS. Yunus[10]: 3)

Allah ta’ala pemberi rezki:

 

tidak ada ilah atau sesembahan yang berhaq di sembah selain Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ.

 “Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi?.” (QS. Fathir[35]: 3)

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ.

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah.” (QS. Saba’[34]: 24)

 

Hendaknya mengakui Allah adalah Rab (pencipta, pengatur, dan pemberi rezki) bagi alam semesta, karena orang musyrik juga mengakui hal hal ini.

Allah ta’ala berfirman:

 

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ.

“Katakanlah: Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab: Allah. Maka katakanlah Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?. (QS. Yunus [10] : 31)

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ.

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: Allah, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS. Az Zukhruf [43] : 87)

 

Setelah mereka mengakui Allah pencipta pengatur dan pemberi rezki, hendaknya mereka juga mengakui bahwa Allah satu-satunya Dzat yang berhak disembah., disinilah orang-orang musyrik dahulu mengingkari, selain mereka beribadah sesuai agama yang di tinggalkan nabi Ibrahim alaihi wa sallam, mereka juga menyembah berhala-berhala yang ada di ka’bah yang tidak kurang dari 360 berhala.

Oleh karena itu menjelaskan masalah ini sangat penting, di mana banyak kaum muslimin saat ini tidak memahami hal ini.

Dua kalimat sahadat diatas masing-masing memiliki konsekwensi yang harus di ketahui dan diamalkan oleh siapa saja yang telah mengikrarkannya, dan telah mendapatkan beban syariat.

Adapun makna Kalimat la ilaha illallah adalah: لاَ مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلاَّ الله (tidak ada sesembahan yang berhaq disembah kecuali Allah)

Seandainya kalimat لاإِله إِلاَّالله hanya diartikan tidak ada Tuhan selain Allah, maka hal itu masih bisa disalah pahami dengan pemahaman lain yang keliru. Kesalahan tersebut bisa saja sebagai berikut:

Tidak ada Tuhan selain Allah, tidak ada Tuhan-Tuhan yang di sembah manusia semua itu tidak lain itu adalah Tuhan.

Tidak ada Tuhan selain Allah, tidak ada yang nampak apapun di dunia ini tidak lain adalah Tuhan, dari sinilah bermulanya keyakinan khulul (Tuhan menjadi satu atau menitis kepada makhluk).

Tidak ada Tuhan selain Allah, bisa diartikan menolak adanya sesembahan yang banyak disembah oleh orang-orang musyrik dahulu dan juga orang-orang sekarang, padahal kenyataannya yang dianggap sesembahan tersebut sangat banyak ini realita.

Adapun makna yang benar yaitu, tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, makna ini tidak menolak bahwa di dunia ini banyak sesembahan, hanya saja sesembahan semua itu tidak benar, tidak memiliki hak, adapun yang hanya berhaq disembah adalah Allah semata.

Rukun لاإِله إِلاَّالله  ada dua yaitu:

An-nafyu : mengingkari dan meniadakan berbagai macam bentuk sesembahan selain Allah.

Al-Isbat : menetapkan hanya Allah satu-satunya sesembahan yang berhak disembah.

Adapun Syarat لا إِله إِلاَّ الله ada tujuh yaitu:

Berilmu.

Allah ta’ala berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ .

“Ketahuilah, bahwasanya tidak ada Ilaah (sesembahan yang haq) kecuali Allah…” (QS. Muhammad [47]: 19).

إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ.

“Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa'at ialah) orang yang bersaksi dengan hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya).” (QS. Az-Zukhruf [43]: 86).

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ.

“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar [39]: 9).

Yakin.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ .

“Hanyalah orang-orang yang beriman itu adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian tidak ragu-ragu  dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 15)

Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَمَنْ لَقِيتَ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطَ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ، فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ.

“Barangsiapa yang engkau temui di balik penghalang ini, yang bersyahadat laa ilaaha illallah, dan hatinya yakin terhadap hal itu, maka berilah kabar gembira baginya berupa surga.” (HR. Muslim 31).

Qabul (menerima).

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ .وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ.

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri dan mereka berkata: "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?" (QS. Ash-Shaffat [37]: 35-36)

Inqiyad (tunduk dan patuh).

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى.

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.” (QS. Luqman [31]: 22).

As-Shidq (jujur).

Allah ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ. يُخَادِعُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ. فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ.

“Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 8-10)

Ikhlas.

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 5)

فَإِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ الله.

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi siapa saja yang mengucapkan “la ilaha illallah”, dengan berharap wajah Allah dari ucapannya tersebut.” (HR Bukhari 425, Muslim 33).

Cinta.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ.

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al Baqarah [2]:165)

Makna Syahadat Muhammad Rasullullah:

تَصْدِيقُهُ فِيمَا أَخْبَرَ

Membenarkan apa yang beliau beritakan.

طَاعَتُهُ فِيمَا أَمَرَ

Menaati apa yang beliau perintahkan.

اجْتِنَابُ مَا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ

Menjahui apa yang dicegah beliau dan dilarang.

وَأَنْ لاَ يُعْبَدَ اللهُ إِلاَّ بِمَا شَرَعَ.

Dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang beliau syariatkan.

Rukun syahadat Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rukun ini ada dua:

‘Abduhu. Meyakini bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba Allah. Rukun ini menafikan sifat ifrath (berlebih-lebihan) terhadap Beliau.

Wa Rasuluhu. Meyakini bahwa Rasulullah shallallahu a’laihi wa sallam adalah orang yang benar-benar diutus Allah ta’ala. Rukun ini menafikan sifat tafrith (meremehkan) pada hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat “Kitab tauhid” Syaikh Dr. Shalih Bin Fauzan al-Fauzan).

Allah ta’ala perintahkan agar taat kepada beliau shallallahu alaihi wa sallam, diantara firman Allah ta’ala:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ.

“Barang siapa taat kepada Rasul, sungguh dia telah taat kepada Allah.” (QS. An-Nisa [4]: 80)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا .

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar mengimani Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-nisa [4]: 59)

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ.

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr [59]: 7)

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ  رَدٌّ .مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

“Barang siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan (berasal) darinya, maka dia tertolak.”  “Barangsiapa mengerjakan sesuatu amal yg tidak ada contohnya dari urusan kami maka ia tertolak.” (HR. Bukhari 2697 Muslim 1718)

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ.

“Apa yang telah kularang kalian darinya, maka jauhilah. Dan apa yang kuperintah kepada kalian, maka laksanakanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari 7288. Muslim 1337)

Allah ta’ala mengancam orang-orang yang menyelisihi Rasul-Nya.

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ.

“Hendaknya takutlah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya bahwa mereka akan ditimpa fitnah atau azab yang pedih.” (QS. An-Nur [24]: 63)

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى.

“Setiap umatku akan masuk ke dalam surga kecuali yang enggan. Mereka para sahabat bertanya, “Siapa yang enggan?” Beliau berkata, “Barangsiapa mentaatiku dia masuk ke dalam surga, dan barangsiapa bermaksiat padaku maka dia telah enggan.”(HR. Bukhari 7280, Ahmad 8714)

Dan Allah telah menguji kita apakah kita lebih suka mengikuti Rasul-Nya, atau selainnya:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ.

Katakanlah, "Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian," Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Imran [3]: 31)

Dan tak ada panutan yang lebih mulia dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ulama ahli tafsir menyebutkan bahwasanya ayat ini merupakan ayat ujian.

 

-----000-----

Sragen 07-11-2026

Abu Ibrahim Junaedi

 

 

BIMBINGAN AQIDAH DAN IBADAH UNTUK MASYARAKAT bab 1-7

  BIMBINGAN AQIDAH DAN IBADAH UNTUK MASYARAKAT   BAB 1 MENGENAL MANHAJ YANG BENAR (Metode Memahami Agama Islam Yang Benar)     1...