Sabtu, 17 Oktober 2026

ADAB SEORANG MUSLIM DALAM BEKERJA DAN MENCARI REZEKI.

 




BAB 6

ADAB SEORANG MUSLIM DALAM BEKERJA.

 

Seorang muslim hendaknya memiliki adab dan prinsip yang baik di dalam bekerja dan mencari rezeki, hendaknya mengikuti bimbingan yang telah diatur di dalam agama ini.

Ratangnya rezeki bukan karena cerdasnya seseorang, karena kuat, karena waktu yang lama, akan tetapi menurut ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala, karena Allahlah yang mengatur rezki tersebut.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا.

“Sesungguhnya Rabbmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 30)

Oleh karena itu jangan sampai seseorang di dalam bekerja mencari rezeki sampai melalaikan Allah ta’ala yang mengatur rezeki tersebut, atau dengan cara yang keliru tanpa memperhatikan halal-haram, karena hal semacam ini dapat memberi dampak yang buruk kepada diri sendiri dan keluarganya.

Adapun di antara adab seorang muslim di dalam bekerja dan mencari rezeki sebagai berikut:

1.   Hendaknya bekerja dan mencari rezeki yang halal.

Hal ini karena merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ.

“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuhmu yang nyata.” (QS. Al-Baqarah[2]:168).

Allah ta’ala juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang telah kami rezkikan kepadamu dan bersukurlah kepada Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya saja.”(QS. Al-Baqarah[2]:172)

إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ، وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ

“Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas dan perkara yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang samar (syubhat), yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat, berarti dia telah menjaga agama dan kehormatannya. Barang siapa terjatuh ke dalam perkara syubhat, dia akan terjatuh ke dalam perkara haram...” (HR. Bukhari 52, Muslim 1599)

2.   Allah telah mencatat rezeki kita sebelum kita lahir.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ..

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu..” (QS. Al-Isra' [17]: 31)

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ.

 “..Kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan empat kata, rezkinya, ajalnya, celaka atau bahagia…” (HR. Bukhari 3208,  Muslim 2643).

Ini menunjukkan kemurahan Allah ta’ala kepada hamba-hamba-Nya, yang telah mencatat dan menetapkan rezeki bagi hambanya sebelum ia dilahirkan ke dunia.

3.   Hendaknya meyakini Allah telah menyediakan rezeki kita dan keluarga kita.

Bahkan Allah memberi rezeki kepada semua makhluk-Nya, baik manusia maupun binatang.

Allah ta’ala berfirman:

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا.

“Dan betapa banyak makhluk bergerak yang tidak dapat mengurus rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya ...” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 60).

Allah ta’ala juga berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرض إِلا عَلَى الله رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ.

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz).” (QS. Hud[11]: 6).

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki duduk di bawah pohon kurma. Kemudian dia terlentang dengan merebahkan punggungnya. Tiba-tiba dia melihat burung pipit yang di mulutnya terdapat buah, terbang dari pohon kurma yang berbuah ke pohon lain yang tidak berbuah. Dia melihat burung tersebut melakukan ini berulang-ulang. Dia pun heran terhadapnya. Dia berkata dalam hati, “Sungguh, saya akan memanjat pohon ini, agar saya tahu apa yang terjadi.” Lalu dia memanjat pohon. Ternyata dia melihat di dalam pelepah pohon kurma ada seekor ular buta yang membuka mulutnya. Sedangkan burung pipit menjatuhkan buah di mulut ular tersebut. Dia pun merasa takjub dengan kejadian ini dan berkata, “Maha Benar Allah yang telah berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرض إِلا عَلَى الله رِزْقُهَا…

“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.” (QS. Hud: 6)

Diceritakan bahwa Ibnu Absyadz an-Nahwi suatu hari sedang berada di atap Masjid Jami Mesir. Dia makan suatu makanan. Di sisinya terdapat banyak orang. Lalu seekor kucing mendatangi mereka. Lantas mereka memberikan sesuap makanan kepada kucing tersebut. Kucing itu pun mengambil dengan mulutnya dan pergi meninggalkan mereka. Kemudian kucing tersebut kembali lagi, lalu mereka melemparkan kepadanya makanan lain. Lantas kucing itu pun melakukan hal yang sama sampai berulang-ulang. Setiap kali mereka melemparkan makanan, kucing itu mengambilnya, lalu pergi, kemudian kembali lagi seketika. Sehingga, mereka merasa heran dengan kucing tersebut. Mereka yakin bahwa makanan semisal itu tidak mungkin dimakan si kucing sendirian karena terlalu banyak.

Ketika mereka penasaran dengan kejadian tersebut, maka mereka mengikuti kucing. Ternyata mereka mendapatinya naik ke atas dinding di atap Masjid Jami, kemudian ia turun ke tempat yang searah dengannya di antara reruntuhan. Ternyata di dalamnya terdapat kucing lain yang buta. Semua makanan yang diambil si kucing dibawa kepada kucing yang buta tersebut dan diletakkan di hadapannya, lalu kucing buta memakannya. (Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1).

4.   Kewajiban kita bersungguh-sungguh dalam berusaha.

Allah ta’ala berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ.

“Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah.” (QS. Al-Jumu'ah [62]: 10).

Kebanyakan ahli tafsir di antaranya As-Sadi, megatakan, “carilah karunia Allah.” yaitu “carilah rezeki.” (Tafsir As-Sa’di, QS. Al-Jum’ah [62]:10)

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ ، تَغدُوْ خِمَاصًا ، وتَرُوْحُ بِطَانًا .

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sungguh-sungguh tawakkal kepada-Nya, niscaya kalian akan diberikan rizki oleh Allah sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung. Pagi hari burung tersebut keluar dalam keadaan lapar dan di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR Ahmad 205, Tirmidzi 2344, Ibnu Majah 4164, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Silsilah Al Hadist As Sahihah 310).

5.   Bertakwa akan memudahkan seseorang di dalam mencari rezki.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ.

“Barang siapa bertaqwa kepada Allah, Allah akan memberinya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangka. (QS. At-Thalaq[65]:2-3).

Sebaliknya maksiat akan menjadikan rezeki seseorang tersendat.

Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ.

“Sesungguhnya seseorang benar-benar dapat terhalang dari rezekinya karena dosa yang dilakukannya.” (HR. Ahmad 22386, Ibnu Hibban 872,  dihasankan Syaikh al-Albani di dalam as-Shahihah 154).

6.   Allah akan mencukupi orang yang bertawakal.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ.

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Thalaq [65]:3).

Akan tetapi tawakal yang benar dilakukan setelah seseorang berusaha, sebagaimana hadits burung yang diriwayatkan Ahmad, Tirmidzi dan lainnya.

Dahulu Rasulullah para sahabat juga berusaha, ada yang berdagang, ada yang bercocok tanam, dan lainya, ini menunjukkan mereka juga berusaha.

7.   Meyakini bahwasanya rezeki akan mendatangi pemiliknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ هَرَبَ مِنْ رِزْقِهِ كَمَا يَهْرُبُ مِنَ الْمَوْتِ لَأَدْرَكَهُ رِزْقُهُ كَمَا يُدْرِكُهُ الْمَوْتُ

 “Seandainya anak Adam lari dari rezekinya sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan mendatanginya sebagaimana kematian mendatanginya.” (HR. Abu Na’im di dalam Hilyah Auliya 7/90 , dishahihkan Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah: 952).

8.   Banyak sedikitnya rezeki bukan ukuran kecintaan Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman:

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ . وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ. كَلَّا…

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku” dan adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku, Sekali-kali tidak!...“ (QS. Al-Fajr [89]:15-17).

Allah ta’ala juga berfirman:

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ.

“Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Teliti terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya, Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura [42]: 27)

Ibnu Katsir rahimahulah berkata:

Yakni Allah memberi mereka sebagian dari rezeki yang dikehendaki-Nya untuk kebaikan mereka sendiri, Dia Maha Mengetahui tentang hal tersebut. Untuk itu Dia menjadikan kaya orang yang berhak menjadi kaya, dan menjadikan fakir orang yang berhak menjadi fakir.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Asy-Syura [42]:27).

Oleh karena itu Allah ta’ala berfirman:

وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216).

Rasullullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, justru mengkuatirkan apabila dunia dibuka bagi umatnya, Beliau bersabda:

مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنِّي أَخْشَى أنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُم.

“Bukan kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian, melainkan aku khawatir dunia dibentangkan kepada kalian, sebagaimana dibentangkan terhadap orang-orang yang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba meraihnya. Kemudian dunia itu membinasakan kalian sebagaimana dia telah membinasakan mereka.” (HR. Bukhari 4015 Muslim 2961).

9.   Banyak dan sedikitnya harta adalah ujian dari Allah ta’ala.

Hendaknya seseorang memahami bahwasanya rezeki banyak maupun sedikit adalah ujian dari Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ.

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah[2]:155).

Bahkan apabila harta yang banyak tidak digunakan di dalam ketaatan bisa jadi hal itu adalah istidraj dari Allah, (yaitu ditarik kedalam kebinasaan ranpa di sadari).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ.

”Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Di dhahihkan Syaikh al-Albani di dalam as-shahihah 414).

10.                     Seseorang tidak akan mati kecuali rezekinya telah di sempurnakan.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَأَنَّ الرُّوحَ الْأَمِينَ نَفَثَ فِي رُوعِيَ أَنَّهُ لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا, فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ, وَلَا يَحْمِلَنَّكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ تَطْلُبُوهُ بِمَعَاصِي اللهِ, فَإِنَّهُ لَا يُدْرَكُ مَا عِنْدَ اللهِ إِلَّا بِطَاعَتِهِ.

“Dan sungguh Ar-Ruhul Amin (Malaikat Jibril yang terpercaya) telah menyampaikan kepadaku bahwa tidak akan mati satu jiwa sampai ia menyempurnakan rezekinya, maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari rezki, dan sekali-kali janganlah lambatnya rezeki menjadikan kalian mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah, karena sesungguhnya tidak akan diraih apa yang ada di sisi Allah kecuali dengan menaati-Nya.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8/166, Baihaqi 9891, Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami’ 2085).

 

Demikianlah semoga bermanfaat, aamiin.

 

-----000-----

 

Sragen 17-10-2026.

Junaedi Abdullah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ADAB SEORANG MUSLIM DALAM BEKERJA DAN MENCARI REZEKI.

  BAB 6 ADAB SEORANG MUSLIM DALAM BEKERJA.   Seorang muslim hendaknya memiliki adab dan prinsip yang baik di dalam bekerja dan mencari rez...