BAB 6
ADAB SEORANG MUSLIM DALAM BEKERJA.
Seorang muslim hendaknya memiliki
adab dan prinsip yang baik di dalam bekerja dan mencari rezeki, hendaknya
mengikuti bimbingan yang telah diatur di dalam agama ini.
Ratangnya rezeki bukan karena cerdasnya
seseorang, karena kuat, karena waktu yang lama, akan tetapi menurut ketentuan
Allah subhanahu wa ta’ala, karena Allahlah yang mengatur rezki tersebut.
Allah ta’ala berfirman:
إِنَّ رَبَّكَ
يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا
بَصِيرًا.
“Sesungguhnya Rabbmu melapangkan
rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya. Sesungguhnya Dia Maha
Mengetahui lagi Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 30)
Oleh karena itu jangan sampai
seseorang di dalam bekerja mencari rezeki sampai melalaikan Allah ta’ala yang
mengatur rezeki tersebut, atau dengan cara yang keliru tanpa memperhatikan halal-haram,
karena hal semacam ini dapat memberi dampak yang buruk kepada diri sendiri dan keluarganya.
Adapun di antara adab seorang muslim
di dalam bekerja dan mencari rezeki sebagai berikut:
1. Hendaknya
bekerja dan mencari rezeki yang halal.
Hal ini karena merupakan perintah
Allah dan Rasul-Nya.
Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي
الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ
لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ.
“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik
yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.
Sungguh, setan itu musuhmu yang nyata.” (QS. Al-Baqarah[2]:168).
Allah
ta’ala juga berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ
طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ
تَعْبُدُونَ.
“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa
yang telah kami rezkikan kepadamu dan bersukurlah kepada Allah jika kamu hanya
menyembah kepada-Nya saja.”(QS. Al-Baqarah[2]:172)
إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا
مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى
الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ، وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ
وَقَعَ فِي الْحَرَامِ
“Sesungguhnya perkara yang halal
itu jelas dan perkara yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat
perkara-perkara yang samar (syubhat), yang tidak diketahui oleh banyak orang.
Barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat, berarti dia telah menjaga agama
dan kehormatannya. Barang siapa terjatuh ke dalam perkara syubhat, dia akan
terjatuh ke dalam perkara haram...” (HR. Bukhari 52, Muslim 1599)
2. Allah
telah mencatat rezeki kita sebelum kita lahir.
Allah
ta’ala berfirman:
وَلَا
تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ..
“Dan janganlah kamu membunuh
anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan
juga kepadamu..” (QS. Al-Isra' [17]: 31)
Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ
وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ
وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ.
“..Kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan
ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan empat kata, rezkinya,
ajalnya, celaka atau bahagia…” (HR. Bukhari 3208, Muslim 2643).
Ini menunjukkan kemurahan Allah ta’ala
kepada hamba-hamba-Nya, yang telah mencatat dan menetapkan rezeki bagi hambanya
sebelum ia dilahirkan ke dunia.
3. Hendaknya
meyakini Allah telah menyediakan rezeki kita dan keluarga kita.
Bahkan Allah memberi rezeki kepada
semua makhluk-Nya, baik manusia maupun binatang.
Allah ta’ala berfirman:
وَكَأَيِّنْ
مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا.
“Dan betapa banyak makhluk
bergerak yang tidak dapat mengurus rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi
rezeki kepadanya ...” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 60).
Allah ta’ala juga berfirman:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرض إِلا عَلَى الله رِزْقُهَا
وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ.
“Dan tidak ada suatu binatang melata
pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui
tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam
kitab yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz).” (QS. Hud[11]: 6).
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki
duduk di bawah pohon kurma. Kemudian dia terlentang dengan merebahkan
punggungnya. Tiba-tiba dia melihat burung pipit yang di mulutnya terdapat buah,
terbang dari pohon kurma yang berbuah ke pohon lain yang tidak berbuah. Dia
melihat burung tersebut melakukan ini berulang-ulang. Dia pun heran
terhadapnya. Dia berkata dalam hati, “Sungguh, saya akan memanjat pohon ini,
agar saya tahu apa yang terjadi.” Lalu dia memanjat pohon. Ternyata dia melihat
di dalam pelepah pohon kurma ada seekor ular buta yang membuka mulutnya.
Sedangkan burung pipit menjatuhkan buah di mulut ular tersebut. Dia pun merasa
takjub dengan kejadian ini dan berkata, “Maha Benar Allah yang telah berfirman:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرض إِلا عَلَى الله رِزْقُهَا…
“Dan tidak satu pun makhluk bergerak
(bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.” (QS. Hud: 6)
Diceritakan bahwa Ibnu Absyadz
an-Nahwi suatu hari sedang berada di atap Masjid Jami Mesir. Dia makan suatu
makanan. Di sisinya terdapat banyak orang. Lalu seekor kucing mendatangi
mereka. Lantas mereka memberikan sesuap makanan kepada kucing tersebut. Kucing
itu pun mengambil dengan mulutnya dan pergi meninggalkan mereka. Kemudian
kucing tersebut kembali lagi, lalu mereka melemparkan kepadanya makanan lain.
Lantas kucing itu pun melakukan hal yang sama sampai berulang-ulang. Setiap
kali mereka melemparkan makanan, kucing itu mengambilnya, lalu pergi, kemudian
kembali lagi seketika. Sehingga, mereka merasa heran dengan kucing tersebut.
Mereka yakin bahwa makanan semisal itu tidak mungkin dimakan si kucing
sendirian karena terlalu banyak.
Ketika mereka penasaran dengan
kejadian tersebut, maka mereka mengikuti kucing. Ternyata mereka mendapatinya
naik ke atas dinding di atap Masjid Jami, kemudian ia turun ke tempat yang
searah dengannya di antara reruntuhan. Ternyata di dalamnya terdapat kucing
lain yang buta. Semua makanan yang diambil si kucing dibawa kepada kucing yang
buta tersebut dan diletakkan di hadapannya, lalu kucing buta memakannya. (Sumber:
Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka
Arafah Cetakan 1).
4. Kewajiban
kita bersungguh-sungguh dalam berusaha.
Allah
ta’ala berfirman:
فَإِذَا
قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ.
“Apabila shalat telah
dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah.” (QS.
Al-Jumu'ah [62]: 10).
Kebanyakan ahli tafsir di
antaranya As-Sadi, megatakan, “carilah karunia Allah.” yaitu “carilah rezeki.”
(Tafsir As-Sa’di, QS. Al-Jum’ah [62]:10)
Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ
تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ ، تَغدُوْ خِمَاصًا ،
وتَرُوْحُ بِطَانًا .
“Seandainya kalian bertawakkal kepada
Allah dengan sungguh-sungguh tawakkal kepada-Nya, niscaya kalian akan diberikan
rizki oleh Allah sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung. Pagi hari
burung tersebut keluar dalam keadaan lapar dan di sore hari dalam keadaan
kenyang.” (HR Ahmad 205, Tirmidzi 2344, Ibnu Majah 4164, dishahihkan Syaikh
al-Albani di dalam Silsilah Al Hadist As Sahihah 310).
5. Bertakwa
akan memudahkan seseorang di dalam mencari rezki.
Allah ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ
حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ.
“Barang siapa bertaqwa kepada Allah,
Allah akan memberinya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tidak
disangka-sangka. (QS. At-Thalaq[65]:2-3).
Sebaliknya maksiat akan menjadikan
rezeki seseorang tersendat.
Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ
بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ.
“Sesungguhnya seseorang
benar-benar dapat terhalang dari rezekinya karena dosa yang dilakukannya.” (HR.
Ahmad 22386, Ibnu Hibban 872, dihasankan
Syaikh al-Albani di dalam as-Shahihah 154).
6. Allah
akan mencukupi orang yang bertawakal.
Allah ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ
حَسْبُهُ.
“Dan barang siapa bertawakal kepada
Allah, Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Thalaq [65]:3).
Akan tetapi tawakal yang benar
dilakukan setelah seseorang berusaha, sebagaimana hadits burung yang
diriwayatkan Ahmad, Tirmidzi dan lainnya.
Dahulu Rasulullah para sahabat juga
berusaha, ada yang berdagang, ada yang bercocok tanam, dan lainya, ini
menunjukkan mereka juga berusaha.
7. Meyakini
bahwasanya rezeki akan mendatangi pemiliknya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ هَرَبَ مِنْ رِزْقِهِ كَمَا يَهْرُبُ مِنَ
الْمَوْتِ لَأَدْرَكَهُ رِزْقُهُ كَمَا يُدْرِكُهُ الْمَوْتُ
“Seandainya anak Adam lari
dari rezekinya sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan
mendatanginya sebagaimana kematian mendatanginya.” (HR. Abu Na’im di dalam Hilyah
Auliya 7/90 , dishahihkan Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah: 952).
8. Banyak
sedikitnya rezeki bukan ukuran kecintaan Allah ta’ala.
Allah ta’ala berfirman:
فَأَمَّا
الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ
رَبِّي أَكْرَمَنِ .
وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ. كَلَّا…
“Adapun
manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya
kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku” dan adapun bila
Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku
menghinakanku,
Sekali-kali tidak!...“ (QS. Al-Fajr [89]:15-17).
Allah ta’ala juga
berfirman:
وَلَوْ
بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ
يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ.
“Dan sekiranya Allah melapangkan
rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di
bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha
Teliti terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya, Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura [42]:
27)
Ibnu Katsir rahimahulah berkata:
Yakni Allah
memberi mereka sebagian dari rezeki yang dikehendaki-Nya untuk kebaikan mereka
sendiri, Dia Maha Mengetahui tentang hal tersebut. Untuk itu Dia menjadikan
kaya orang yang berhak menjadi kaya, dan menjadikan fakir orang yang berhak
menjadi fakir.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Asy-Syura [42]:27).
Oleh karena itu
Allah ta’ala berfirman:
وَاللَّهُ
يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS.
Al-Baqarah [2]: 216).
Rasullullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam, justru mengkuatirkan apabila dunia dibuka bagi
umatnya, Beliau bersabda:
مَا الْفَقْرَ أَخْشَى
عَلَيْكُمْ، وَلَكِنِّي أَخْشَى أنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا
بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا،
فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُم.
“Bukan kemiskinan yang aku
khawatirkan menimpa kalian, melainkan aku khawatir dunia dibentangkan kepada
kalian, sebagaimana dibentangkan terhadap orang-orang yang sebelum kalian, lalu
kalian berlomba-lomba meraihnya. Kemudian dunia itu membinasakan kalian
sebagaimana dia telah membinasakan mereka.” (HR. Bukhari 4015 Muslim 2961).
9. Banyak
dan sedikitnya harta adalah ujian dari Allah ta’ala.
Hendaknya seseorang
memahami bahwasanya rezeki banyak maupun sedikit adalah ujian dari Allah
ta’ala.
Allah ta’ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ
وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ
الصَّابِرِينَ.
“Dan Kami pasti akan menguji kamu
dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.
Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS.
Al-Baqarah[2]:155).
Bahkan apabila harta yang banyak tidak digunakan di
dalam ketaatan bisa jadi hal itu adalah istidraj dari Allah, (yaitu ditarik
kedalam kebinasaan ranpa di sadari).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِذَا
رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ
مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ.
”Bila kamu
melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya,
padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa
hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.”
(HR. Ahmad 4: 145. Di dhahihkan Syaikh al-Albani di dalam as-shahihah
414).
10.
Seseorang tidak akan mati kecuali rezekinya
telah di sempurnakan.
Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَأَنَّ الرُّوحَ الْأَمِينَ نَفَثَ فِي رُوعِيَ أَنَّهُ لَنْ
تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا, فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا فِي
الطَّلَبِ, وَلَا يَحْمِلَنَّكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ تَطْلُبُوهُ
بِمَعَاصِي اللهِ, فَإِنَّهُ لَا يُدْرَكُ مَا عِنْدَ اللهِ إِلَّا بِطَاعَتِهِ.
“Dan sungguh Ar-Ruhul Amin
(Malaikat Jibril yang terpercaya) telah menyampaikan kepadaku bahwa tidak akan
mati satu jiwa sampai ia menyempurnakan rezekinya, maka bertakwalah kepada
Allah dan perbaguslah dalam mencari rezki, dan sekali-kali janganlah lambatnya
rezeki menjadikan kalian mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah, karena
sesungguhnya tidak akan diraih apa yang ada di sisi Allah kecuali dengan
menaati-Nya.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8/166, Baihaqi 9891, Musnad Ibnu Abi
Syaibah 8: 129, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami’ 2085).
Demikianlah
semoga bermanfaat, aamiin.
-----000-----
Sragen
17-10-2026.
Junaedi
Abdullah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar