Senin, 10 Agustus 2026

HUD AQIDATAKA BAB 6 SYAIRIK KECIL SOAL : 1 BENTUK-BENTUK SYIRIK KECIL

  




BAB 6

SYAIRIK KECIL

SOAL : 1

BENTUK-BENTUK SYIRIK KECIL

س ١ - مَا هُوَ الشَّرْكُ الأَصْغَرُ؟

Soal : Apa yang dimaksud dengan syirik kecil?

ج ١ - الشَّرْكُ الأَصْغَرُ هُوَ الرِّيَاءُ.

Jawab : Syirik kecil adalah riya.

قَالَ تَعَالَى:

Allah ta‘ala berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia mengerjakan amal saleh dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahf: 110)

وَقَالَ ﷺ:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ: الرِّيَاءُ

“Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya.” (Hadis sahih, diriwayatkan oleh Ahmad).

وَمِنَ الشِّرْكِ الأَصْغَرِ قَوْلُ الرَّجُلِ:

Di antara bentuk syirik kecil adalah ucapan seseorang:

لَوْلَا اللَّهُ وَفُلَانٌ

“Kalau bukan karena Allah dan si fulan.”

وَقَوْلُهُ:

Dan ucapannya:

مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ

“Apa yang Allah kehendaki dan apa yang engkau kehendaki.”

قَالَ ﷺ:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَقُولُوا: مَا شَاءَ اللَّهُ وَشَاءَ فُلَانٌ، وَلَكِنْ قُولُوا: مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ شَاءَ فُلَانٌ

“Janganlah kalian mengatakan: ‘Apa yang Allah kehendaki dan yang dikehendaki si fulan.’ Akan tetapi, katakanlah: ‘Apa yang Allah kehendaki, kemudian yang dikehendaki si fulan.” (Hadis sahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud).

-----000-----

Penjelasan :

Allah memerintahkan agar kita selalu ikhlas dalam beramal, sebaliknya betapapun banyaknya amal seseorang apa bila tidak ikhlas amal tersebut akan hilang, oleh karena itu penting sekali pembahasan masalah ini.

1.   Pentingnya ikhlas dalam beramal.

Ikhlas merupakan sumber kebaikan di dunia dan di akhirat, dimana seseorang tidak beramal kecuali karena Allah semata demiikian pula hendaknya ittiba’ yaitu mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, karena dengan berpatokan ikhlas dan ittiba’ ini menjadikan seseorang terbimbing.

Allah ta’ala berfirman:

ومَا أُمِرُوْا إِلاَّلِيَعْبُدُاللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…”(QS. Al-Bayyinah[98] : 5).

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ.

“Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar [39]:2).

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا.

“Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS. Alkahfi [18]:110).

Yakni dengan mengerjakan amal yang semata-mata hanya karena Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Demikianlah syarat utama dari amal yang diterima oleh Allah ta’ala, yaitu harus ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan syariat yang telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Kahfi [17]:110).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ, وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.

“Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.” (HR al-Bukhari 1, 6689, Muslim 1907).

2.   Hukum syirik kecil.

Ulama sepakat bahwa perbuatan syirik kecil tidak menyebabkan seseorang keluar dari islam. Berbeda dengan syirik besar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari islam, hanya saja mereka berbeda pendapat, apakah dosa syirik kecil diampuni atau tidak.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni jika Dia disekutukan, dan Dia mengampuni dosa di bawah itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki.” (QS. an-Nisa: 48).

Ayat ini berbicara mengenai dosa syirik. Dan ulama berbeda pendapat dalam memahami ayat ini.

Pertama, bahwa dosa syirik tidak akan diampuni oleh Allah. Baik syirik besar maupun syirik kecil, baik syirik yang kelihatan maupun syirik yang samar. Karena ayat di atas menegaskan bahwa Allah tidak mengampuni dosa syirik dan redaksi ayat itu bersifat umum, mencakup semua bentuk syirik.

Ini merupakan pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau mengatakan,

وَقَدْ يُقَالُ: الشِّرْكُ لَا يُغْفَرُ مِنْهُ شَيْءٌ، لَا أَكْبَرُ وَلَا أَصْغَرُ، عَلَى مُقْتَضَى عُمُومِ الْقُرْآنِ، وَإِنْ كَانَ صَاحِبُ الشِّرْكِ الْأَصْغَرِ يَمُوتُ مُسْلِمًا، لَكِنَّ شِرْكَهُ لَا يُغْفَرُ لَهُ، بَلْ يُعَاقَبُ عَلَيْهِ، وَإِنْ دَخَلَ بَعْدَ ذَلِكَ الْجَنَّةَ.

“Dan terkadang dikatakan: Syirik tidak diampuni sedikit pun, baik syirik besar maupun syirik kecil, berdasarkan keumuman Al-Qur’an. Meskipun orang yang melakukan syirik kecil meninggal dalam keadaan Muslim, tetapi syiriknya tidak diampuni. Bahkan ia akan dihukum karena perbuatan syirik tersebut, meskipun setelah itu ia masuk surga.” (ar-Rad ala al-Bakri, 1/301).

Kedua, dosa syirik kecil bisa diampuni Allah

Ini merupakan pendapat yang diisyaratkan oleh Ibnul Qayim.

Dalam Ightsatul Lahafan, Ibnul Qayim menjelaskan,

فَأَمَّا نَجَاسَةُ الشِّرْكِ فَهِيَ نَوْعَانِ: نَجَاسَةٌ مُغَلَّظَةٌ وَنَجَاسَةٌ مُخَفَّفَةٌ .  فَالْمُغَلَّظَةُ: الشِّرْكُ الْأَكْبَرُ الَّذِي لَا يَغْفِرُهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ  .وَالْمُخَفَّفَةُ: الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ كَيَسِيرِ الرِّيَاءِ وَالتَّصَنُّعِ لِلْمَخْلُوقِ وَالْحَلِفِ بِهِ وَخَوْفِهِ وَرَجَائِهِ..

Najis syirik ada 2: najis mughalathah (berat) dan najis mukhaffafah (ringan). Najis mughalathah adalah syirik besar, yang tidak akan diampuni Allah Ta’ala. Karena Allah tidak akan mengampuni jika Dia disekutukan. Sedangkan najis mukhaffafah adalah syirik kecil, seperti riya yang kecil, berpura-pura baik di hadapan makhluk, atau bersumpah atas nama makhluk, atau takut serta berharap kepada makhluk. (Ightsatul Lahafan, hlm. 59).

3.   Bahaya syirik kecil.

1.   Diancam dengan neraka.

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ اْلقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ, قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ, ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ.

“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.” (HR. Muslim 1905).

2.   Lebih berbahaya dari Dajjal.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِيْ مِنَ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ قَالَ قُلْنَا بَلَى فَقَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُوْمَ الرَّجُلُ يُصَلِّيْ فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

“Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih tersembunyi di sisiku atas kalian daripada Masih ad Dajjal?” Dia berkata,”Kami mau,” maka Rasulullah berkata, yaitu syirkul khafi; yaitu seseorang shalat, lalu menghiasi (memperindah) shalatnya, karena ada orang yang memperhatikan shalatnya”. (HR Ibnu Majah 4204, dihasankan syaikh al-Albani di dalam at Targhib wat Tarhib 30)

3.   Menghapuskan amal yang dia lakukan saat itu.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadikan ia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunujuk kepada orang-orang kafir”. (QS. Al-Baqarah[2]:264).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ " قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ، يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ: اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً.

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’. Allah akan mengatakan kepada mereka pada hari Kiamat tatkala memberikan balasan atas amal-amal manusia “Pergilah kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ kepada mereka di dunia. Apakah kalian akan mendapat balasan dari sisi mereka?” )HR Ahmad 23630  Thabrani 4301, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 951).

Di dalam hadits qudsi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah ta’ala berfirman:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ ، مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِيْ غَيْرِيْ ، تَرَكْتُهُ وَ شِرْكَهُ

“Aku adalah sekutu yang Maha Cukup, sangat menolak perbuatan syirik. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang dicampuri dengan perbuatan syirik kepadaKu, maka Aku tinggalkan dia dan (Aku tidak terima) amal kesyirikannya” (HR Muslim 2985 dan Ibnu Majah 4202).

Adapun sontoh-contohnya syirik kecil :

Mengamalkan amalan akhirat untuk mendapatkan dunia, seperti riya.

Bersumpah kepada selain Allah.

Mengatakan atas kehendak Allah dan kehendakmu.

Mengatakan kalau bukan karena Allah dan kamu.

4.   Ketaatan ketika seseorang bersama orang shalih tidak bisa disebut riya.

Ibnu Qudamah al Maqdisi rahimahullah berkata:

“Adakalanya seseorang berada di tengah orang-orang yang tekun beribadah. Ia melakukan shalat hampir sebagian besar malam karena kebiasaan mereka adalah bangun malam. Dia pun mengikuti mereka melaksanakan shalat dan puasa. Andaikata mereka tidak melaksanakan shalat malam, maka iapun tidak tergugah untuk melakukan kegiatan itu. Mungkin ada yang menganggap bahwa kegiatan orang itu termasuk riya’, padahal tidak demikian sebenarnya, bahkan hal itu perlu dirinci. Setiap orang mukmin tentunya ingin banyak beribadah kepada Allah, tetapi kadang-kadang ada satu dua hal yang menghambat atau yang melalaikannya. Maka boleh jadi dengan melihat orang lain yang aktif dalam melakukan kegiatan ibadah, membuatnya mampu menyingkirkan hambatan dan kelalaian itu. Bila seseorang berada di rumahnya, lebih mudah baginya untuk tidur di atas kasur yang empuk dan bercumbu dengan istrinya. Tetapi bila dia berada di tempat yang jauh, ia tidak disibukkan oleh hal-hal itu.” (Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm. 288).

5.   Tidak boleh meninggalkan amal dengan alasan takut riya’

Seorang muslim tidak boleh meninggalkan amalan hanya takut riya atau disebut riya terlebih amalan yang dilakukan bersama-sama, seperti menuntut ilmu, shalat berjama’ah, haji, dan lainnya. Amal ini termasuk amal-amal yang wajib ditampakkan dan melaksanakannya adalah termasuk syiar-syiar Islam.

Allah ta’ala berfirman:

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ

“Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah [2]:43).

Orang yang meninggalkannya akan terkena celaan. Akan tetapi, jika amal-amal ibadah sunnah, hendaknya disembunyikan, karena tidak tercela bagi orang yang meninggalkannya. Tetapi jika ia menampakkan amal itu dengan tujuan supaya orang lain mengikuti sunnah itu, maka hal itu adalah baik. Sesungguhnya yang dikatakan riya’, yaitu apabila tujuannya menampakkan amal tersebut supaya dilihat, dipuji dan disanjung manusia.

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

 

-----000-----

 

Sragen 08-08-2026

Abu Ibrahim Junaedi Abdullah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HUD AQIDATAKA BAB 6 SYAIRIK KECIL SOAL : 1 BENTUK-BENTUK SYIRIK KECIL

   BAB 6 SYAIRIK KECIL SOAL : 1 BENTUK-BENTUK SYIRIK KECIL س ١ - مَا هُوَ الشَّرْكُ الأَصْغَرُ؟ Soal : Apa yang dimaksud dengan sy...