Senin, 26 Oktober 2026

BAB 7 SOAL 3. MEMINTA DOA KEPADA ORANG YANG MASIH HIDUP.

 

BAB 7

SOAL 3.

MEMINTA DOA KEPADA ORANG YANG MASIH HIDUP.

 

س ٣ - هَلْ يَجُوزُ طَلَبُ الدُّعَاءِ مِنَ الْأَحْيَاءِ؟

soal 3: Apakah diperbolehkan meminta doa kepada orang-orang yang masih hidup?

ج ٣ - يَجُوزُ طَلَبُ الدُّعَاءِ مِنَ الْأَحْيَاءِ لَا الْأَمْوَاتِ

Jawaban: Diperbolehkan meminta doa kepada orang-orang yang masih hidup, bukan kepada orang-orang yang telah meninggal dunia.

قَالَ تَعَالَى يُخَاطِبُ الرَّسُولَ حَيًّا:

Allah Ta’ala berfirman, ketika berbicara kepada Rasul-Nya semasa beliau masih hidup:

وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. سُورَةُ مُحَمَّدٍ: ١٩

“Mohonlah ampunan untuk dosamu serta untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad [47]: 19)

وَفِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ الَّذِي رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ: أَنَّ رَجُلًا ضَرِيرَ الْبَصَرِ أَتَى النَّبِيَّ ﷺ، فَقَالَ: ادْعُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَنِي.

Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi disebutkan bahwa seorang laki-laki yang mengalami kebutaan mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Berdoalah kepada Allah agar Dia memberikan kesembuhan kepadaku.”

 

-----000-----

 

Penjelasan

 

1.   Bolehnya meminta doa kepada orang yang masih hidup

Meminta doa kepada orang yang masih hidup diperbolehkan dalam Islam, baik meminta didoakan agar mendapatkan ampunan, kesembuhan, hujan, maupun kebaikan lainnya, selama perkara yang diminta sesuai dengan syariat. Hal ini berdasarkan dalil Al-Qur’an, Sunnah, dan amalan para sahabat.

Allah ta’ala berfirman:

وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Mohonlah ampunan untuk dosamu serta untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad [47]: 19)

Ayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan memohonkan ampunan bagi kaum mukminin dan mukminat.

2.   Dalil-dalil yang membolehkan hal itu.

 

1)  Anak-anak Nabi Ya’qub meminta agar ayah mereka memohonkan ampunan kepada Allah atas dosa mereka.

Allah ta’ala berfirman:

قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ . قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Mereka berkata, ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampunan bagi dosa-dosa kami. Sesungguhnya kami benar-benar telah berbuat salah.’ Dia (Ya’qub) berkata, ‘Aku akan memohonkan ampunan bagi kalian kepada Rabbku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Yusuf [12]: 97–98)

2)  Bani Israil meminta Nabi Musa agar berdoa kepada Allah untuk memperoleh makanan yang mereka inginkan.

Allah ta’ala berfirman:

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ لَنْ نَصْبِرَ عَلَىٰ طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا.

“Dan ingatlah ketika kalian berkata, ‘Wahai Musa, kami tidak tahan dengan satu macam makanan saja. Maka berdoalah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia mengeluarkan bagi kami apa yang ditumbuhkan bumi, berupa sayur-mayur, mentimun, gandum, kacang adas, dan bawang merah...” (QS. Al-Baqarah [2]:61).

3)  Para pengikut setia Nabi Isa meminta agar beliau berdoa kepada Allah supaya diturunkan hidangan dari langit.

Allah ta’ala berfirman:

إِذْ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَنْ يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ

“(Ingatlah) ketika para pengikut setia berkata, ‘Wahai Isa putra Maryam, sanggupkah Rabbmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?’” (QS. Al-Ma’idah [5]: 112)

Nabi Isa kemudian berdoa:

اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ.

“Ya Allah, Rabb kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit yang akan menjadi hari raya bagi kami, bagi orang-orang yang sekarang bersama kami maupun yang datang setelah kami, dan menjadi tanda dari-Mu. Berilah kami rezeki, dan Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 114)

4)  Seorang laki-laki yang buta meminta Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa agar Allah memberikan kesembuhan kepadanya.

“Dari ‘Utsman bin Hunain, bahwa seorang laki-laki yang buta datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia menyembuhkanku.’ Beliau bersabda:

إِنْ شِئْتَ دَعَوْتُ لَكَ، وَإِنْ شِئْتَ صَبَرْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ. قَالَ: فَادْعُهُ, فَأَمَرَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ فَيُحْسِنَ وُضُوءَهُ، وَيُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ، وَيَدْعُوَ بِهَذَا الدُّعَاءِ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، يَا مُحَمَّدُ، إِنِّي تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِي هَذِهِ لِتُقْضَى، اللَّهُمَّ فَشَفِّعْهُ فِيَّ.

 ‘Jika engkau mau, aku akan mendoakanmu; dan jika engkau mau, engkau bersabar, karena itu lebih baik bagimu.’ Orang itu berkata, ‘Doakanlah beliau.’ Maka Nabi memerintahkannya untuk berwudu dan menyempurnakan wudunya, kemudian shalat dua rakaat dan berdoa dengan doa ini: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan perantaraan Nabi-Mu Muhammad, Nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap kepada Rabbku dengan perantaraanmu dalam kebutuhanku ini agar dikabulkan. Ya Allah, terimalah syafaatnya untukku.’” (HR. Tirmidzi 3578, Ahmad 17240, Nasai 1385, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam shahih at-Tawasulu  anwauhu wa ahkamuhu 75).

5)  Umar bin al-Khaththab meminta Uwais al-Qarani agar memohonkan ampunan kepada Allah untuk dirinya.

Dari Usair bin Jabir, ia berkata, “Dahulu, setiap kali rombongan orang-orang dari Yaman datang kepada Umar bin al-Khaththab, ia selalu bertanya kepada mereka:

أَفِيكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ؟ حَتَّى أَتَى عَلَى أُوَيْسٍ فَقَالَ: أَنْتَ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَكَانَ بِكَ بَرَصٌ فَبَرَأْتَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: لَكَ وَالِدَةٌ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «يَأْتِي عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ، مِنْ مُرَادٍ، ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ، كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ، لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأَبَرَّهُ، فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ» فَاسْتَغْفِرْ لِي، فَاسْتَغْفَرَ لَهُ


“Apakah di antara kalian ada Uwais bin Amir?” Hingga akhirnya Umar bertemu dengan Uwais, lalu berkata, “Apakah engkau Uwais bin Amir?” Ia menjawab, “Ya.”

Umar bertanya, “Apakah engkau berasal dari suku Murad, kemudian dari Qaran?” Ia menjawab, “Ya.”

Umar bertanya lagi, “Apakah dahulu engkau menderita penyakit belang, lalu sembuh darinya kecuali sebesar satu dirham?” Ia menjawab, “Ya.”

Umar bertanya, “Apakah engkau masih memiliki ibu?” Ia menjawab, “Ya.”

Umar kemudian berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Akan datang kepada kalian Uwais bin Amir bersama rombongan orang-orang dari Yaman. Ia berasal dari suku Murad, kemudian dari Qaran. Dahulu ia menderita penyakit belang, lalu sembuh darinya kecuali sebesar satu dirham. Ia memiliki seorang ibu dan sangat berbakti kepadanya. Seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan memenuhi sumpahnya. Jika engkau mampu meminta kepadanya agar memohonkan ampunan kepada Allah untukmu, maka lakukanlah.’

Maka Umar berkata kepada Uwais, ‘Mohonkanlah ampunan kepada Allah untukku.’ Lalu Uwais pun memohonkan ampunan kepada Allah untuk Umar.” (HR. Muslim 2542, al-Bazar 342)

6)  Ketika terjadi kekeringan, Umar bin al-Khaththab meminta al-Abbas bin Abdul Muththalib agar berdoa memohon hujan kepada Allah.

Dari Anas bin Malik, bahwa Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, dahulu apabila mereka mengalami kekeringan, ia meminta Abbas bin Abdul Muththalib agar berdoa memohon hujan. Umar berkata:

اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا، وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا.

“Ya Allah, dahulu kami bertawasul kepada-Mu dengan Nabi kami, lalu Engkau menurunkan hujan kepada kami. Sekarang kami bertawasul kepada-Mu dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami.” Anas berkata, “Maka mereka pun diberi hujan.” (HR. Bukhari  1010, al-Bagawi 1165).

3.   Bolehnya meminta doa kepada orang yang lebih utama atau tidak lebih utama.

Sebagaimana hadits Umar yang mendatangi Uwais.

4.   Larangan keras meminta doa kepada orang yang telah meninggal.

Larangan keras ini mencakup siapapun, baik kuburan para nabi, wali, atau kyai.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَىٰ.

“Sesungguhnya engkau tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar...” (QS. An-Naml [27]: 80).

وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ.

“Dan engkau tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang berada di dalam kubur dapat mendengar.” (QS. Fatir [35]: 22).

إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ

“Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu, dan sekiranya mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu.” (QS. Fatir [35]: 14).

Dari Atha’ bin Yasar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ. اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ.

“Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan kuburanku sebagai sesembahan selain Allah yang disembah. Sungguh, sangat keras kemurkaan Allah terhadap kaum yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah).” (HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ 750, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam al-Misykah 62).

Hal semacam ini bisa menjadikan seseorang terjerumus kedalam syirik besar.

5.   Tidak diperkenankan memintakan doa atau mendoakan dalam perkara dosa dan maksiat.

Meskipun kita dibolehkan meminta doa atau pertolongan kepada orang lain, namun tidak di perbolehkan meminta atau mendoakan di dalam perkara doa atau maksiat.

Allah ta’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 2).

Ketika fatkhul Makkah banyak sahabat yang baru masuk Islam, tidak selang beberapa lama kemudian orang-orang berangkat perang menuju Hunain, kemudian mereka melewati pohon milik orang kafir sehingga mereka meminta untuk dibuatkan Dzatu Anwath seperti mereka.

يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ. فَقَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى .

“Ya Rasulullah, Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka (orang musyrik) memiliki Dzatu Anwath.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Subhanallah! ini sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Musa.” (HR. Ahmad 21900, Tirmidzi 2180, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam dzilalul Jannah 76. Adapun Dzatu an-wath adalah pohon yang dipakai menggantungkan pedang orang-orang musyrik).

Misalnya seseorang meminta agar di beri zimat kekebalan, menghendaki istri atau suami orang lain, menghendaki harta orang lain pindah kepadanya, kehamilan seeorang pindah kepada dirinya, menghendaki kematian seseorang dan lain sebagainya.

6.   Keutamaan mendoakan sesama muslim di luar sepengetahuannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ .

“Doa seorang muslim untuk saudaranya sesama muslim tanpa sepengetahuannya mustajab (dikabulkan). Di dekat kepalanya ada malaikat yang ditugaskan. Setiap kali ia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat yang ditugaskan itu berkata, ‘Aamiin, dan semoga engkau mendapatkan yang semisalnya.”(HR. Bukhari al-Adabu al-Mufrad 625, Muslim 2733, Ahmad 27559).

Hadits ini menunjukkan keutamaan mendoakan saudara sesama muslim tanpa sepengetahunnya, karena itu hendaknya kita tidak hanya memintanya didoakan, tetapi juga mendoakan orang lain.

7.   Mana yang lebih utama: meminta doa kepada orang lain atau berdoa sendiri?

Pada dasarnya, meminta orang yang masih hidup agar mendoakan kita diperbolehkan. Namun, membiasakan diri berdoa langsung kepada Allah, menyandarkan hati kepada-Nya, dan tidak bergantung kepada doa orang lain merupakan sikap yang lebih sempurna dalam tawakal.

Di antara dalilnya sebagai berikut:

1)   Banyak ayat dan hadits yang memerintahkan agar langsung berdoa kepada Allah ta’ala.

Oleh Allah Ta’ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Rabb kalian berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan doa kalian.” (QS. Ghafir [40]: 60).

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي..

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku...” (QS. Al-Baqarah [2]: 186)

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada anak paman beliau yaitu Ibnu Abbas.

يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ.

“Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untaian kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi 2516, di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam shahih Tirmidzi 2043).

2)   Orang yang berdoa langsung kepada Allah lebih mencocoki kebutuhan dirinya.

Allah ta’ala berfirman:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ.

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf [7]: 55)

Allah juga berfirman:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ...

“Siapakah yang memperkenankan doa orang yang berada dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, menghilangkan kesusahan...” (QS. An-Naml [27]: 62).

Dengan seseorang berdoa langsung kepada Allah akan lebih tepat apa yang dibutuhkan.

 

Ayat ini mendorong setiap muslim untuk berdoa langsung kepada Allah. Meminta doa kepada orang lain tidak dilarang, tetapi jangan sampai seseorang lebih mengandalkan doa orang lain daripada berdoa sendiri.

3)   Para sahabat yang berbaiat untuk tidak meminta-minta kepada manusia.

Meminta kepada orang lain bisa berupa materi maupun doa.

Dari Auf bin Malik al-Asyja‘i, beliau berkata, “Kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berjumlah sembilan, delapan, atau tujuh orang. Beliau bersabda, ‘Tidakkah kalian berbaiat kepada Rasulullah?’ Kami mengulurkan tangan dan berkata, ‘Kami telah berbaiat kepadamu, wahai Rasulullah. Lalu, untuk apa kami berbaiat lagi?’ Beliau bersabda:

عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَتُطِيعُوا - وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً - وَلَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا» فَلَقَدْ رَأَيْتُ بَعْضَ أُولَئِكَ النَّفَرِ يَسْقُطُ سَوْطُ أَحَدِهِمْ، فَمَا يَسْأَلُ أَحَدًا يُنَاوِلُهُ إِيَّاهُ

Beliau menjawab, ‘Agar kalian beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, menegakkan salat lima waktu, menaati (Allah dan Rasul-Nya)’, kemudian beliau mengucapkan suatu kalimat dengan suara pelan, ‘dan tidak meminta sesuatu pun kepada manusia.’

Sungguh, aku pernah melihat sebagian orang dari rombongan tersebut. Ketika cambuk salah seorang dari mereka jatuh, ia tidak meminta siapa pun untuk mengambilkan dan menyerahkannya kepadanya.”(HR. Muslim 1043, Abu Dawud 1642, Ibnu Majah 2867).

Hadits ini menunjukkan keutamaan menjaga kehormatan diri tidak meminta-minta dan membiasakan diri bergantung kepada Allah ta’ala.

4)  Keutamaan orang yang bertawakal dan tidak meminta ruqyah kepada orang lain

Dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ, قَالُوا: وَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: هُمُ الَّذِينَ لَا يَكْتَوُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

 “Ada 70.000 orang dari umatku yang akan masuk surga tanpa hisab.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang tidak berobat dengan kay (besi panas), tidak meminta ruqyah, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (HR. Bukhari 6472 Muslim 218  lafad Muslim).

5)  Berdoa adalah ibadah yang agung.

Memperbanyak doa kepada Allah akan menjadikan Allah mencintainya.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖ

“Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir [40]:60).

Bahkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan hal itu:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ.

“Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi 2969, Abu Dawud 1479, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam shahih Ibnu Hibban 890)

Apabila seseorang sering berdoa bebrarti dia sering beribadah dan mendekat kepada Allah, hal ini tidak tidak didapatkan bilamana yang berdoa orang lain.

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

-----000-----

 

Sragen 26-10-2026

Abu Ibrahim Junaedi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Sabtu, 24 Oktober 2026

MENGENALI BAHAYA BID’AH DALAM AGAMA.

 

MENGENALI BAHAYA BID’AH DALAM AGAMA.

Bid’ah di dalam agama tak ubahnya penyakit ganas yang menyerang pada organ tubuh seseorang, demikian pula bid’ah menjadikan kerusakan pada agama seseorang.

Allah ta’ala berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan.” (QS. Al-Mulk [67]: 2).

Yakni yang terbaik amalnya, seperti yang dikatakan oleh Muhammad ibnu Ajlan, bahwa dalam hal ini Allah tidak mengungkapkannya dengan kalimat lebih banyak amalnya. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Mulk [67]:2).

Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلَّا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ.

“Tidak ada sesuatu pun yang dapat mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, melainkan semuanya telah dijelaskan kepada kalian.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir 1647,Syaikh Al-Albani menilai sanadnya sahih dalam ash-Shahihah 1803).

Wajib bagi kita mengenali penyakit ganas bid’ah yang dapat merusak agama kita.

1.   Pengertian bid’ah.

Dafinisi bid’ah secara bahasa yaitu: mengadakan satu perkara tanpa ada contoh sebelumnya. (Al Mu’jam Al Wasith, 1/91).

Hal ini sebagaimana di sebutkan Allah ta’ala di dalam firman-Nya:

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ.

“Dialah Allah Pencipta langit dan bumi.” (Al-Baqarah [2]: 117).

Adapun definisi bid’ah secara istilah apa yang tulis oleh Imam Asy Syatibi dalam kitabnya Al I’tisham. Beliau mengatakan, bid’ah yaitu:

عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ للهِ سُبْحَانَهُ.

“Sebuah ungkapan pada tatacara di dalam beragama yang dibuat-buat menyerupai syari’at (yang tidak ada dasarnya), dimaksudkan melakukan hal itu untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah ta’ala.” (Al-I’tisam hal 31-32, Imam Asy-Syatibi).

2.   Bid’ah ditinjau dari asalnya.

Bid’ah ditinjau dari asalnya ada dua:

1)      Bid’ah hakikiah. Yaitu perbuatan (amalan) yang tidak memiliki sandaran dalil syar'i sama sekali, baik dari Al-Qur’an, Sunnah maupun ijma’, secara global maupun secara terperinci.

Disebut bid'ah hakikiyah, sebab perkara tersebut adalah perkara (amalan) yang baru sama sekali tanpa ada contoh sebelumnya.

 

2)      Bid'ah idhafiyah. ialah bid'ah yang mempunyai dalil, tetapi dalil tersebut tidak bisa dijadikan sandaran.

Dilihat dari adanya dalil, bid'ah itu seperti layaknya Sunnah, karena sama-sama mempunyai dalil. Akan tetapi, karena dalil tersebut tidak bisa dijadikan sandaran maka ia sama dengan bid'ah hakikiyah yang bersandar kepada syubhat bukan kepada dalil, atau bahkan tidak bersandar kepada sesuatu apapun. (Al-I’tisam, Imam Asy-Syatibi).

3.   Bahaya bid’ah.

Apa saja bahayanya bid’ah tersebut.

1)  Tidak memenuhi syarat diterimanya amal.

Syarat diterimanya amal ada 2:

Pertama Ikhlas.

Allah ta’ala berfirman:

ومَا أُمِرُوْا إِلاَّلِيَعْبُدُاللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…”(QS. Al-Bayyinah[98] : 5).

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ.

“Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar [39]:2).

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا.

“Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi[18]:110).

Kedua Ittiba’ (mengikuti sunnah Rasulullah)

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 31).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا، وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ.

“Hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Dawud, 4607; At-Tirmidzi, 2676. Hadis ini dinilai sahih).

2)  Bid’ah Adalah Bentuk Penentangan Kepada Allah Dan Rasul-Nya.

Allah dan Rasul-Nya memerintahkan agar berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah, akan tetapi para pelaku bid’ah tidak mau mentaati.

Allah ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ.

“ Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ululamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. “ (QS. An-Nisa’[4]:59).

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا.

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr [59]: 7).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ.

“Apa yang aku larang kalian darinya, maka jauhilah. Dan apa yang aku perintahkan kepada kalian, maka lakukanlah semampu kalian. Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah banyaknya pertanyaan mereka dan perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka.” (HR. Bukhari 7288 dan Muslim 1337)

3)  Memalsukan Ajaran Atau Amalan Selain Islam Kedalam Ajaran Islam.

Sehingga ajaran atau amalan ini tertolak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ,  وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ .

“Barang siapa yang membuat perkara baru dalam urusan agama yang tidak ada perintah dari kami maka tertolak.” Dalam riwayat Muslim, “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka tertolak.” (HR. Bukhari 2697, Muslim 1718).

4)  Ahli Bid’ah Kelak Akan di Jauhkan Dari Telaga Rasulullah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الحَوْضِ، وَلَيُرْفَعَنَّ مَعِي رِجَالٌ مِنْكُمْ ثُمَّ لَيُخْتَلَجُنَّ دُونِي، فَأَقُولُ: يَا رَبِّ أَصْحَابِي، فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ.

“Aku menunggu kalian di telaga. Sungguh ditampakkan kepadaku beberapa orang diantara kalian, kemudian dia singkirkan dariku. Lalu aku mengatakan, “Ya Rabbi, itu adalah sahabatku.” Kemudian dikatakan kepadaku, “Kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat setelah kamu meninggal.” (HR. Bukhari 6576, Muslim 2297).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, rasulullah mengadukan hal itu:

إِنَّهُمْ مِنِّى . فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى.

“(Wahai Tuhanku) Mereka betul-betul pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sebenarnya engkau tidak mengetahui bahwa mereka telah mengganti ajaranmu setelahmu.” Kemudian aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku.” (HR. Bukhari 7051).

5)  Ahli Bid’ah telah menolak kesempurnaan Islam.

Allah ta’ala berfirman:

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ..

 

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu...”  (QS. Al-Maidah [5]:3).

6)  Ahli Bid’ah tak ubahnya menganggap Rasulullah berhianat kerasulannya.

Allah ta’ala berfirman:

فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ.

“Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. As-Syu’ara [26]:216).

 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ، وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ.

“Sesungguhnya  tidak ada seorang nabi pun sebelumku kecuali wajib atasnya menunjukkan kepada umatnya kebaikan yang ia ketahui dan mengingatkan mereka kejelekan yang ia ketahui.” (HR. Muslim 1844, Ahmad 6793, Sunan Ibnu Majah 3956).

Al-Imam Malik rahimahullah berkata:

مَنِ ابْتَدَعَ فِي الْإِسْلَامِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً، زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَانَ الرِّسَالَةَ، لِأَنَّ اللَّهَ يَقُولُ: {الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ} [المائدة: 3]، فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِينًا، فَلَا يَكُونُ الْيَوْمَ دِينًا.

“Barangsiapa berbuat bid’ah dalam Islam yang ia anggap sebagai bid’ah hasanah, maka ia telah menuduh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah mengkhianati tugas kerasulan, karena Allah ta’ala berfirman, “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu…” (Al-Maidah[5]:3). Sehingga apa yang hari itu bukan ajaran agama, maka pada hari ini juga bukan ajaran agama.” (Al-I’tisham lisy Syaathibi rahimahullah, 1/65-66).

7)  Ahli bid’ah telah rugi di dunia dan di akhirat.

Amalan bid’ah hakekatnya merupakan tipu daya iblis yang ingin memeras umur (waktu), harta, tenaga dan pikiran mereka, bahkan sampai-sampai terkadang harus menjual  sesuatu yang mereka cintai agar mereka selamat dari gunjingan orang lain.

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا.

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (QS. Al Kahfi [18]: 103-104).

8)  Bid’ah lebih dicintai iblis dari pada maksiat.

Allah ta’ala berfirman:

وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.

"Dan Syetan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan." (QS. Al-An'am: 43)

Yaitu kemusyrikan, keingkaran, dan perbuatan-perbuatan maksiat. (Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-An’am [6]:43).

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ. وَاِنَّهُمْ لَيَصُدُّوْنَهُمْ عَنِ السَّبِيْلِ وَيَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ.

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sungguh, mereka (setan-setan itu) benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar, sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (QS. Az-Zukhruf [35]: 36-37).

Yakni orang ini yang berpaling dari kebenaran, Kami adakan baginya setan-setan yang menyesatkan dirinya dan menunjukkan kepadanya jalan ke neraka Jahim.(Tafsir Ibnu Katsir QS Az-Zuhruf [43]: 36-37).

9)  Ahli bid’ah Pelaku bid’ah seakan telah mensejajarkan dirinya dengan Tuhan.

Pelaku bid’ah seharusnya taat dan tunduk kepada Allah dengan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun justru sebaliknya mereka membuat-buat ajaran baru dalam agama ini, menbuat dzikir-dzikir baru, shalawat baru, dan ibadah-ibadah yang baru dengan mengatasnamakan agama, seakan dirinya sejajar dengan Tuhan.

Allah ta’ala berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ.

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syuura [42] : 21).

Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata: “Barangsiapa yang menganggap baik (suatu bid’ah) maka dia telah membuat syariat.”

مَن اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ

“Barangsiapa yang menganggap baik sesuatu (menurut pendapatnya), sesungguhnya ia telah membuat syari’at” (Al-Jami’us Shahih Lissunnani wal Masanid 5:34, Shuhaib ‘Abdul Jabbar).

10)                    Bid’ah Adalah Kesesatan Yang Pelakunya Sulit Untuk Bertaubat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

“Karena setiap perkara yang baru (yang diada-adakan dalam perkara agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Ahmad 17144, Ibnu Majah 42, Abu Dawud 4607 dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam as-Shahihah 937).

Dahulu ada orang yang berkumpul bertasbih, bertahmid, bertakbir, bertahlil dan dipimpin satu orang kemudian Ibnu Mas’ide mendatangi orang tersebut, maka mereka berkata, “kami tidak menghendaki kecuali kebaikan,” kemudian Ibnu Mas’ud berkata:

كَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

"Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, tetapi tidak mendapatkannya."

Oleh karena itu Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata:

الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ، الْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا، وَالْبِدْعَةُ لَا يُتَابُ مِنْهَا.

Bid’ah lebih dicintai oleh Iblis daripada maksiat. Hal ini karena perbuatan maksiat (pelakunya) bertaubat darinya sedangkan bid’ah (pelakunya) tidak mau bertaubat (karena tidak merasa bersalah). (Syu’abul Iman 9009, Baihaqi).

4.   Contoh-contoh bid’ah

Bid’ah dalam agama sangat banyak sekali jumlahnya, diantaranya:

Ritual anak sebelum kelahirannya (mitoni), ritual kematian, perayaan-perayaan seperti maulid dll, tahun baru islam, menghidupkan malam nisfi Sa’ban dll, shalawatan yang dilakukan bersama-sama dan yang tidak ada dasarnya seperti barjanji dll, dzikir-dzikir yang tidak ada dasarnya dan dilakukan beramai-ramai, beribadah sambil berjoget, dan masih banyak lagi.

5.   Sebab sebab munculnya bid’ah.

1)  Jahil terhadap agama.

2)  Mengikuti hawa nafsu.

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

------000-----

 

Sragen 23-10-2026

Abu Ibrahim Junaedi.

 

 

MUJMAL USUL AHLI SUNNAH BAB 2 NO 7 IMAN KEPADA HARI AKHIR (1) KEMATIAN DAN ALAM BARZAH

  MUJMAL USUL AHLI SUNNAH WAL JAMA’AH BAB 2 NO 7 IMAN KEPADA HARI AKHIR   ٨ -   الإِيمَانُ بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَكُلِّ مَا صَحَّ فِ...