Jumat, 29 Oktober 2021

BANTAHAN SUBHAT BID'AH I Bag. 1


Seiring dengan berjalannya waktu, jauhnya masa kenabian, sedikitnya ilmu, banyaknya para penyeru kesesatan yang mengajak kepada bid’ah dan penyimpangan, begitu pula merebaknya orang islam mengikuti orang-orang kafir, baik dalam masalah adat kebiasaan sehari-hari maupun ritual keagamaan mereka, sehingga mejadikan orang islam sendiri banyak yang tidak lagi bisa membedakan mana yang masih jernih, murni dari sumbernya dan mana yang sudah di kotori dan bercampur kotoran.


Definisi Bid'ah secara Bahasa: adalah sesuatu yang baru, tanpa contoh sebelumnya.

Seperti firman Allah ta’ala:

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ.

 

”Allah Pencipta langit dan bumi” QS. Al-Baqarah[2]:117.

 

Adapun menurut istilah yaitu suatu cara dalam beragama yang di buat-buat yang menyerupai syariat dimaksudkan melakukan hal itu untuk berlebih-lebihan di dalam ibadah kepada Allah. (Lihat Al i'tisham oleh imam Asy-Syatibi)

 

Hukum bid’ah di dalam beragama adalah haram, dan bisa membawa pelakunya kepada kefasikan dan kekafiran.

 

Bid’ah juga telah banyak menjurus ke berbagai lini di dalam agama ini, terutama di dalam aqidah dan juga ibadah.

 

Syariat ini sudah sempurna, mudah, meringankan, jelas, terang benderang sebagimana Allah ta'ala sebutkan:



الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا.

 

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” (Al-Maaidah[5]: 3)

 

Begitu pula Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah bersabda:

 

تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ.

 

“Aku tinggalkan kalian dalam keadaan terang-benderang, siangnya seperti malamnya. Tidak ada yang berpaling dari keadaan tersebut kecuali ia pasti celaka.” (HR. Ahmad 4/126 di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam as-Shahihah 2/648)

 

Namun apa yang telah jelas dan terang benderang ini masih terasa gelap bagi orang yang di sesatkan Allah, menjadikan kebingungan bagi pelaku bid'ah, sehingga mereka memeras otaknya untuk menciptakan bid'ah-bid'ah yang bisa di terima oleh masyarakat dan di benarkan oleh orang awam, oleh karena itu mereka terus-menerus mencari apa yang dianggap bisa medukung dan membenarkan pendapatnya.

 

Sebagai bentuk nasehat kepada umat, kita akan jelaskan subhat-subhat tersebut in syaa Allah.

 

Di antara subhat ahli bid'ah:

 

1. Pelaku bid'ah menganggap baik perbuatan bid'ahnya tersebut.


Jawab:


Kalau pelaku bid’ah mau jujur mereka akan mengakui bahwa akal manusia itu terbatas, dia tidak mengetahui mana yang membawa kebaikan dan mana yang membawa keburukan kecuali butuh bimbingan wahyu, seandainya mereka mengatakan saya tahu hal ini adalah baik tanpa membutuhkan wahyu berarti dirinya telah menjadikan akalnya sebagai tuhan sebagaimana firman Allah ta’ala:

 

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ.

''Maka, pernahkah kamu melihat orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.'' (QS Al-Jatsiyah [45]:23)

 

Untuk mengatakan ini baik ini buruk, ini berpahala, ini dosa, ini halal ini haram butuh bimbingan wahyu bukan ranahnya akal, oleh karena itu Allah ta’ala berfirman:

 

وَلاَ تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللهِ الْكَذِبَ.

 

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadapa apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah”. (QS. An-Nahl [16]: 116)


Dahulu ada tiga orang yang mendatangi umul mukminin dan bertanya tentang ibadah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

قَالَ أَحَدُهُمْ: أَمَّا أَنَا فَأُصَلِّيْ اللَّيْلَ أَبَداً، وَقَالَ الْآخَرُ: وَأَنَا أَصُوْمُ الدَّهْرَ أَبَداً وَلَا أُفْطِرُ، وَقَالَ الْآخَرُ: وَأَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَداً فَجَاءَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ، فَقَالَ: أَنْتُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا ؟ أَمَا وَاللهِ إِنِّيْ لَأَخْشَاكُمْ لِلهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّيْ أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ.


”Salah seorang dari mereka mengatakan, “Adapun saya, maka saya akan shalat malam selama-lamanya.” Lalu orang yang lainnya berkata, “Adapun saya, maka sungguh saya akan puasa terus menerus tanpa berbuka.” Kemudian yang lainnya lagi berkata, “Sedangkan saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan menikah selamanya.”

 

Kemudian, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka, seraya bersabda, “Benarkah kalian yang telah berkata begini dan begitu? Demi Allah,sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling taqwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka (tidak puasa), aku shalat (malam) dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.” ( HR. Bukhari 5063 muslim 1401)

 

Mereka para sahabat sebaik-baik umat, sebelum mendapat teguran dari Rasulullah sallallhu ‘alaihi wa sallam mereka menganggap apa yang akan di lakukan itu merupakan kebaikan akan tetapi itu bukan kebaikan menurut Rasulullah dan keliru sehingga membutuhkan bimbingan wahyu dari nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, akankah orang yang mebuat bid’ah sekarang berkata, apa yang kita lakukan sekarang lebih baik dari tiga orang tersebut….?

 

Kalau pelaku bid’ah sekarang berkata, yang kita lakukan ini dzikir kepada Allah, membaca Al-Qur’an mana jeleknya…?

Mereka bisa mengaca yang di lakukan sahabat tersebut, mereka itu shalat… mana jeleknya…?


Ataukah mereka berkata, “ Kalau yang kita lakukan ini pasti benarnya.”

 

Alangkah beraninya mereka, memastikan sesuatu yang tidak mereka ketahui hakekatnya.


Kalau mereka jujur mereka telah mengikuti hawa nafsunya, orang seperti ini hendaknya segera bertaubat kepada Allah ta'ala.



Demikianlah semoga bermanfaat. In syaa Allah bersambung.





                                      ---------00000--------



Sragen 30-10-2021.

Junaedi Abdullah.



 

Kamis, 14 Oktober 2021

SEBAB KEMUNDURAN UMAT dan JALAN MENUJU KEJAYAAN.



SEBAB KEMUNDURAN UMAT.


Sebagaimana kita telah saksikan bersama apa yang menimpa kaum muslimin secara umum, berupa kemunduran dari berbagai lini kehidupan, baik dari sisi ekonomi, teknologi dan kewibawaan, bagaimana kaum muslimin banyak menderita, ada yang terusir, terjajah, terbunuh, sampai keberadaan mereka tak diakui di negaranya.

Meskipun jumlah mereka banyak namun tidak menjadikan musuh takut, hal ini persis yang di sebutkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam:

Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ ثَوْبَانَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا، فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ.

“Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti makanan yang di perebutkan di tempatnya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih yang mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa takut dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shallallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 4297 Amad 22397 di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam As-Shahihah 958)

Berbagai macam penelitian dilakukan untuk mengetahui sebab dari kemunduran umat islam ini, berbagai teori dipaparkan kemudian diambil kesimpulan.

Namun sungguh di sayangkan   hampir semua teori didasari dari akal dan realita semata, mereka lupa yang mereka perjuangkan adalah islam, yang seharusnya dengan cara islam pulalah untuk menyelesaikan masalah ini.

Sebuah kisah ketika Umar Ibnul khatab sampai di Syam, menjumpai tentaranya dan masyarakatnya dalam keadaaan mengalungkan sepatunya dan menuntun ontanya, seseorang berkata kepadanya:

يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ تَلْقَاكَ الْجُنُودُ وَبَطَارِقَةُ الشَّامِ وَأَنْتَ عَلَى حَالِكَ هَذَا؟ فَقَالَ عُمَرُ: إِنَّا قَوْمٌ أَعَزَّنَا اللَّهُ بِالْإِسْلَامِ، فَلَنْ نَبْتَغِيَ الْعِزَّةَ بِغَيْرِهِ.

“Wahai Amirul mu’minin, apakah engkau akan menjumpai tentara dan masyarakat Syam dalam keadaan seperti ini?” Umar menjawab, “ Kita satu kaum yang di muliakan Allah dengan islam, kita tidak membutuhkan kemuliaan selainnya.” (HR. Hakim di dalam Mustadrak ‘ala Shahihain 208, dia berkata Shahih dan di setujui oleh Adz-Dzahabi)

Dari ayat-ayat dan hadits di atas kita ketahui bahwa pemberi kemuliaan hanyalah Allah, dan hanya bisa di dapat dengan mentaatinya bukan memaksiatinya.

Ketika kita berpaling dari islam, kita tidak semakin mulia tetapi semakin hina, itulah kenyataan yang telah terjadi.

Contoh dalam sejarah sebuah kisah nyata yang bisa kita petik hikmahnya yaitu pada perang Badar, tatkala mereka  merealisasikan kecintaan, ketaatan, ketundukannya kepada Allah dan Rasul-Nya mereka meraih kemenangan gilang gemilang, kebalikan  dari pada itu ketika terjadi perang Uhud, mereka telah di atur sedemikian rupa oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda kepada para pemanah:

” Lindungilah arah belakang kami, jika kalian melihat kami di bunuhi janganlah menolong kami dan jika kalian melihat kami mendapatkan rapasan perang maka kalian jangan ikut bersama kami.” (HR. Ahmad, Tabrani, dan Hakim lihat Fatul Bary 7/350)

Pada putaran pertama kaum muslimin bisa memukul mereka mundur, para pemanah lupa akan wasiat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka melihat ghanimah berserakan dan akhirnya mereka turun dari tempatnya meskipun Abdullah bin jubair bin Nu’aman telah mengingatkannya dampaknya luar biasa, orang kafir memutar dan memerangi kaum muslimin dari belakang sehingga kondisi kaum muslimin semakin kacau balau sampai-sampai orang muslim berperang dengan orang muslim, terjadilah apa yang terjadi hingga kaum muslimin terbunuh 70 orang.

Apakah kita menyadari apa penyebabnya…?

Selain semua itu telah di taqdirkan Allah ta’ala agar kaum muslimin di kemudian hari mengambil hikmahnya, dan di Antara hikmahnya yang sangat besar penyebab kekalahan yaitu penyelisihannya para pemanah terhadap wasiat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bukankah kita ingin umat islam menang…?

Kita menghendaki kemenangan tapi kita masa bodoh terhadap umat islam…!

Mayoritas kaum muslimin mereka menjauhi ilmu….!

Mereka mengadu domba di antara saudara mereka sendiri.

Berapa banyak mereka yang masih terjerumus kedalam kesyirikan kebid’ahan dan juga riba.

Lihatlah kaum muslimin mereka mengagumi musuh-musuh mereka yaitu orang-orang kafir!

Bahkan orang-orang islam menggandrungi dan mengikuti langkah-langkah orang-orang kafir, kita bisa saksikan….!

Orang kafir berdoa sambil bernyanyi-nyanyi, orang islam mengikuti.

Orang kafir memperingati kelahiran nabinya, orang islam mengikuti.

Orang kafir melakukan ulang tahun anak dan keluarga mereka, orang islam mengikuti.

Orang kafir mengenakan pakaian modis, orang islam mengikutinya.

Sampai orang kafir menggerakkan ekonomi mereka dengan riba, orang islam mengikuti.

Persis seperti apa yang di sabdakan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ فَمَنْ؟

“Sungguh, kalian akan mengikuti langkah orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta. Kalaupun mereka menempuh jalur lubang dhabb (binatang sejenis biawak), niscaya kalian akan menempuhnya.” Kami mengatakan, “Ya Rasulullah, apakah jalan orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Bukhari 3456 dan Muslim 2669 dari sahabat Abu Sa’id al- Khudri radhiyallahu ‘anhu)

 

Bagaimana mungkin penyelisihan sedemikian banyak akan dapat membawa kepada kejayaan umat…

Tidakkah kita umat islam ingat perkataan Umar di atas…!

“Sungguh Allah telah memuliakan kita dengan islam, barang siapa mencari kemuliaan dengan selain islam Allah akan menghinakannya.”

Ketahuilah kehinaan, kerendahan, kekalahan ini akan terus berlanjut sepanjang masa karena ini merupakan sunatullah.

Hal ini telah di kabarkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam:

 إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ.

“Apabila kalian telah berjual beli dengan cara Al-‘Inah dan kalian telah ridho dengan perkebunan dan kalian telah mengambil ekor-ekor sapi dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian suatu kehinaan yang (Allah) tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud 3462 dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam As-Shahihah 11).

Penyabab kehinaan diantaranya, kaum muslimin terjerumus kedalam riba, sibuk dengan dunia, meninggalkan jihad, adapun jihad yang paling utama ketika tidak terjadi peperangan yaitu jihad  memerangi kebodohan yang ada pada diri sendiri sebagaimana perkataan Ibnul Qayim, karena kebodohan merupakan sumber bencana dunia dan akhirat, penyebab datangnya musibah, penyebab kekalahan, penyebab kaum muslimin mudur, penyebab kehinaan, dan mereka senantiasa terus hina sampai mereka kembali kepada ajaran agama yang mulia ini….!

Sampai mereka mau kembali kepada ajaran islam…..!

JALAN MENUJU KEJAYAAN

Kalau kita mengetahui sebab-sebab kemunduran umat islam, hendaknya kita juga mempelajari bagaimana jalan untuk menuju kemuliaan.

Kejayaan dan kemuliaan hanya milik Allah dan Rasul-Nya, Allah ta’ala berfirman:

Allah ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ.

“Kemuliaan itu hanyalah milik Allah, rasul-Nya dan orang-orang beriman, hanya saja orang-orang munafik tidaklah mengetahui hal tersebut.” (Al Munafiqun[63]:8)

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ.

“Maka barangisiapa yang menghendaki kemuliaan, maka kemuliaan yang dicarinya itu hanyalah milik Allah. Karena itu, hendaknya ia mencarinya dengan banyak-banyak mengucapkan perkataan-perkataan baik dan melakukan amalan-amalan shaleh. Karena sesungguhnya perkataan-perkataan baik dan amalan-amalan shaleh tersebut akan naik kepada Allah.” (QS. Fatir[35]:10)

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ.

“Sebaik-baik manusia adalah di masaku, kemudian sesudah mereka, kemudian yang setelahnya.” (HR. Bukhari 3651 Muslim 2533)

Manusia-manusia terbaik ada pada masa Rasulullah hendaknya kita mengikuti mereka, baik di dalam aqidah, ibadah, muamalah.

 

Kesimpulan penyebab kemunduruan umat islam:

 1. mereka meninggalkan ajaran agama mereka.

 2. Mereka terjerumus kedalam riba, sibuk dengan dunia serta meninggalkan jihad.

 3. Mereka meninggalkan sejarah kejayaan kaum muslimin.

 4. Mereka mengagumi dan mengikuti cara-cara orang kafir.

 5. Mereka terkena penyakit al wahn yaitu cinta dunia dan takut mati.

 Adapun jalan menuju kejayaan:

 1. Hendaknya kaum muslimin kembali dan mempelajari agamanya.

 2. Hedaknya kaum muslimin tidak disibukkan dunia lupa akhirat

 3. Hendaknya kaum muslimin tidak melupakan sejarah kejayaan islam.

 4. Hendaknya kaum muslimin tidak menjadikan dunia sebagai tujuannya.

 5. Hendaknya kaum muslimin mengaplikasikan agama dan tauhid mereka pada kehidupan sehari-hari mereka.

Sedikit ini semoga bisa memberi bermanfaat bagi penulis dan kaum muslimin. Aamiin.

 

--------00000-------

 

 

Sragen 15-10-2021.

Al faqir ilallah Abu Ibrahim junaedi Abdullah

 

Rabu, 13 Oktober 2021

BEKAL-BEKAL MENGHADAPI FITNAH.


Hasil gambar untuk gambar fitnah










 BEKAL-BEKAL MENGHADAPI FITNAH.

 

Tidak diragukan bahwa kita hidup di akhir zaman, di mana fitnah merajalela, di mana-mana setiap saat tak pernah berhenti dan menggenai kepada siapa saja.

Allah ta’ala berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ . وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ.

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?.”  “Sungguh, Kami benar-benar telah menguji orang-orang sebelum mereka. Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui para pendusta.” (QS. Al-Ankabut[29]:2-3).

Meskipun di zaman kita ini banyak fitnah sebagaimana dikatakan imam Syafi’i, kita tidak boleh mencela zaman:

 نَعِيبُ زَمَانَنَا وَالْعَيْبُ فِينَا.

Kita mencela zaman kita, padahal aib itu ada pada diri kita.

وَمَا لِزَمَانِنَا عَيْبٌ سِوَانَا.

Dan zaman kita tidaklah tercela, kecuali karena kita sendiri.

وَنَهْجُو ذَا الزَّمَانِ بِغَيْرِ ذَنْبٍ.

Dan kita mencela zaman tanpa dosa darinya.

وَلَوْ نَطَقَ الزَّمَانُ لَنَا هَجَانَا.

Seandainya zaman bisa berbicara, niscaya ia akan mencela kita. (Al-Muḥammadun Minasy-Syu‘ara’ wa Asy‘arihim  1/140, Jamaluddin Abu al-Ḥasan ‘Ali bin Yusuf al-Qifṭi (wafat 646 H).

Rasulullah juga melarang hal itu, sebagaimana diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ: وَأَنَا الدَّهْرُ بِيَدِي الأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ.

"Anak Adam telah menyakiti-Ku (yaitu) mencela masa, padahal Akulah (Pengatur) masa. Di tangan-Ku segala urusan. Akulah yang menggilir antara siang dan malam." (HR. Bukhari 4826 dan Muslim  2246).

Kita membekali diri bukan berarti kita bisa terlepas dari fitnah, tetapi tidak lain agar kita bisa bersikap bagaimana di dalam menghadapi fitnah agar sesuai dengan tuntunan syari’at ini, sehingga kita menghadap Allah dengan mendapatkan keridhaan-Nya sebagaimana firman Allah ta’ala:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ . ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً . فَادْخُلِي فِي عِبَادِي . وَادْخُلِي جَنَّتِي.

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr  [89]:27-30).

Memahami pengertian fitnah.

Memahami pengertian fitnah akan menjadikan kita tahu apa saja bentuk fitnah-fitnah tersebut.

Fitnah secara bahasa:

الْفِتْنَةُ: وَهُوَ إِدْخَالُ الذَّهَبِ النَّارَ لِتَظْهَرَ جَوْدَتُهُ مِنْ رَدَاءَتِهِ.

Memasukkan emas ke dalam api agar tampak mana yang baik (murni) dan mana yang buruk (palsu).  (Ra’i‘ul-Bayan Tafsir Ayat al-Aḥkam 1/220, Muhammad ‘Ali ash-Shabuni).

Adapun kalimat fitnah secara syar’i di dalam Al Qur’an memiliki banyak arti, di antaranya:

1)  Syirik, seperti:

Adapun yang dimaksudkan fitnah di dalam firman Allah ta’ala:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ.

“Dan perangilah mereka itu sehingga tidak ada fitnah dan agama hanya bagi Allah semata.” (QS. Al-Baqarah[2]:193).

Yaitu kemusyrikan sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Baqarah[2]:193).

2)  Azab.

ذُوقُوا فِتْنَتَكُمْ هَذَا الَّذِي كُنتُم بِهِ تَسْتَعْجِلُونَ.

"Rasakanlah azabmu itu. Inilah azab yang dulu kamu minta untuk disegerakan." (Ad Dzariyat [51]:14).

3)  Cobaan.

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ.

“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mu'min laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (QS. Al-Buruj [85]:10).

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ.

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS Al Anfal[8]:28).

Adapun bekal untuk menghadapi berbagai macam bentuk fitnah di antaranya sebagai berikut:

 

1.   Memohon Perlindungan Kepada Allah Dari Fitnah.

Semua kebaikan hanya milik Allah oleh karena itu hendaknya memohon kepada Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman:

 وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ.

“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir (Al-Mu’minun)[40]:60).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنْ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

“Berlindunglah kalian kepada Allah dari segala fitnah, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi.” (HR. Muslim 2867, Thabrani di dalam al-Mu’jam 4784).

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.

“Ya Allah, yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku dalam ketaatan kepadaMu.” (HR. Muslim 119).

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ , وَمِنْ عَذَابِ اَلْقَبْرِ , وَمِنْ فِتْنَةِ اَلْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ , وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ اَلْمَسِيحِ اَلدَّجَّالِ.

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari adzab Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari keburukan fitnah Masih Dajjal." (HR Bukhari 1377, Muslim 588, Abu Dawud 984).

 

2.   Menuntut Ilmu.

Orang yang ingin terhindar dari fitnah, wajib baginya untuk menuntut ilmu, karena ilmu ibarat mata bagi jasad, yang berfungsi mengambil manfaat, dan menghindari apa yang membahayakan, oleh karena itu Allah memerintahkan dan memuji orang-orang yang menuntut ilmu.

Allah ta’ala berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ.

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang orang yang di beri ilmu dengan beberapa derajat.” ( QS Al-Mujadilah[58]:11)

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ.

“Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar[39:9).

اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤا.

“Hanya saja yang takut kepada Allah dari sekian hamba-Nya adalah ulama.” (QS. Fatir[35]:28).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dishahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah  224)

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ.

“ Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah akan memberikan kefaqihan (pemahaman) agama baginya.“ (HR. Bukhari 71, 3116, Muslim 1037)

Hendaknya mempelajari ilmu yang berkaitan dengan usul iman (pokok-pokok keimanan), yaitu rukun iman yang enam, kita bisa mengambil pelajaran bagaimana fitnah-fitnah yang terjadi pada permulaan umat ini, fitnah khuarij, fitnah nabi-nabi palsu, fitnah Qadariah dan Jabariah, fitnah kesalahan di dalam memahami asma’ wa sifat Allah , fitnah huluqul Qur’an.

Mempelajari tentang rukun islam yang benar: dimulai dari  wudhu, shalat, zakat (karena ini di lakukan setiap waktu), begitu pula puasa dan haji jika telah mampu, karena berbagai macam fitnah kebid’ahan banyak yang disusupkan di dalam ibadah.

Berkaitan dengan muamalah  seperti: pinjam-meminjam, jual beli dan lain-lain, berapa banyak fitnah  yang muncul dalam masalah ini, di mana orang tidak lagi memperhatikan tentang halal dan haram.

Orang yang berilmu dengan ijin Allah ta’ala akan mampu menyingkap hakekat sesuatu tersebut, dan ini sangat di butuhkan sekali terutama pada zaman sekarang ini, sehingga kita bisa membedakan mana benar dan mana yang salah.

3.   Senantiasa Menjaga Keimanannya.

Hendaknya seseorang senantiasa menjaga dan menyirami ruhnya dengan keimanan, baik mendengarkan kajian, membaca Al Qur’an, hadits, sejarah para sahabat, dan kisah-kisah yang menggugah jiwanya, tidak berdiam diri, membiarkan dirinya lemah, sementara fitnah berputar dahsyat dan menyeret siapa saja yang lemah keimananannya.

Apabila seseorang terjatuh dalam kemaksiatan hendaknya segera bangkit agar tidak terseret kepada tempat yang lebih dalam sehingga dirinya binasa oleh kemaksiatan-kemaksiatannya.

 Allah ta’ala berfirman:


وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ, وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ.

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengumpuni dosa selain dari Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahui.” (QS Al-Imran [3]:135).

Orang yang waspada tidak sama dengan orang yang terlena, sehingga ketika muncul fitnah maka keimanan yang benar ini akan menjadi perisai bagi dirinya.

Banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah bagaimana kisah ashabul kahfi, kisah nabi Ibrahim alaihi sallam, kisah ashabul uhdud (orang-orang yang di bakar di parit), Abu Muslim al-Khaulani dan sangat banyak lagi, karena kejujuran imannya kepada Allah ta’ala, Allah memberikan keselamatan kepada mereka dari berbagai macam fitnah tersebut.

Demikian pula ketika munculnya Dajjal, orang yang tulus keimanannya akan diselematkan.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang dajjal:

إِنَّ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مَكْتُوبٌ كَ فَ رَ، يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ مِنْ أُمِّيٍّ وَكَاتِبٍ - يَعْنِي الدَّجَّالَ.

“Sesungguhnya diantara kedua matanya tertulis ka fa ra’ yang akan di baca setiap mu’min dari umatku yakni dajjal.” (HR Ibnu Hibban 6794, dan di shahihkan syaikh Al Bani As Shahihah 2457).

4.   Bersegera di Dalam Beramal Shalih.

Tak seorangpun yang mengetahui bagaimana akhir kehidupannya, begitupula fitnah yang terus melanda, oleh karena itu hendaknya bersegera untuk beramal shalih.

Allah ta’ala berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran[3]: 133).

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ.

“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang-orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthafifin [83]:26).

 Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا.

“Bersegeralah beramal sebelum munculnya fitnah yang datang bagaikan potongan-potongan malam yang gelap, seseorang dipagi harinya beriman dan disorenya telah menjadi kafir, atau sorenya masih beriman dan pagi harinya telah menjadi kafir, menjual agamanya dengan gemerlap dunia. “ (HR. Muslim 118, Tirmidzi 2195, Ahmad 8016).

5.   Beramar Ma’ruf Dan Nahi Mngkar.

Allah ta’ala berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً.

“Dan takutlah fitnah(bencana) yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim diantara kalian saja secara khusus.” (QS.Al-Anfal [8]:25).

Abu Bakar berkata :  “Hai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini, tetapi kalian menempatkan pengertiannya bukan pada tempat yang sebenarnya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ.

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk..” (QS Al-Amaidah[5]:105).

Dan sesungguhnya aku (Abu Bakar radiallahu ‘anhu)  pernah mendengar Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya manusia itu apabila melihat perkara munkar; lalu mereka tidak mencegahnya, maka dalam waktu yang dekat Allah ta’ala akan menurunkan siksa-Nya kepada mereka semua.”  (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Maidah[5]:105).

 Zainab bnti Jahsyi bertanya kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ: أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ, قَالَ: نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الخَبَثُ.

“Apakah kami akan binasa sementara orang-orang shalih masih ada di antara kami?” Beliau menjawab, “Benar, apabila kemaksiatan telah merajalela.” (HR Bukhari 3346, Muslim 2880).

 مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ, فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ, فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ, وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ.

“Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia mencegah dengan tangannya, sekiranya dia tidak mampu, maka dengan lisannya, dan sekiranya dia tidak mampu (juga), maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah keimanan.” (HR Muslim 49, Ahmad 11876, Ibnu Majah 4013).

Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

فَلَا بُدَّ مِنْ هَذِهِ الثَّلَاثَةِ: الْعِلْمُ؛ وَالرِّفْقُ؛ وَالصَّبْرُ؛ الْعِلْمُ قَبْلَ الْأَمْرِ وَالنَّهْيُ؛ وَالرِّفْقُ مَعَهُ وَالصَّبْرُ بَعْدَهُ.

Hendaknya (orang yang amal ma’ruf nahi mungkar) harus ada tiga hal ini:

Ilmu, Kelembutan dan kesabaran. Ilmu sebelum melakukan amar ma’ruf nahi munkar, kelembutan saat melakukannya, dan kesabaran setelahnya." (Majmu’ Fatawa 28/137).

Berilmu agar kita mengetahui dengan benar bahwa hal itu benar-benar mungkar, melakukan dengan lemah lembut, karena hawa nafsu berat untuk tunduk kepada kebenaran apa lagi caranya yang kasar dan srampangan, agar bersabar jangan sampai setelah amal ma’ruf nahi mungkar dirinya justru tidak sabar dan jatuh di dalam kemungkaran.

6.   Memegang Sunnah Dengan Kuat.

Al Irbadh bin Sariah radhiallahuanhu berkata:

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ, فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا, فَقَالَ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami pada suatu hari, kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasihat yang sangat menyentuh. Air mata menetes karena nasihat itu dan hati pun menjadi takut karenanya. Lalu seseorang berkata: “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasihat dari orang yang hendak berpisah, maka apakah yang engkau wasiatkan kepada kami?” Beliau pun bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, dan mendengar serta taat (kepada pemimpin), meskipun ia seorang budak Habasyi. Sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk dan lurus. Berpeganglah teguh dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Berhati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara baru (dalam agama), karena setiap perkara baru adalah bid‘ah, dan setiap bid‘ah adalah kesesatan.”  (HR. Abu Dawud 4607, Ad-Darimi 96, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam al-Irwa’ 2455).

Imam Malik rahimahullah berkata:

السُّنَّةُ سَفِينَةُ نُوحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ.

 “Sunnah itu bagaikan bahtera Nuh, barang siapa yang menaikinya dia akan selamat barang siapa yang tertinggal maka akan tenggelam” (Majmu’ Fatawa 4/57, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah).

Fitnah bid’ah telah merebak di mana-mana barang siapa ingin selamat hendaknya berpegang dengan Sunnah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya.

Allah ta’ala berfirman mengancam orang-orang yang menyelisihi Rasul-Nya sallallahu ‘alaihi wa sallam:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ.

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An Nur[24]:63).

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Maksud menyelisihi perintah Rasulullah sallallahu ‘alahi wa sallamjalannya, manhajnya, thariqahnya, sunnahnya, dan syariatnya,  Maka dari itu, semua ucapan dan perbuatan wajib ditimbang dengan ucapan dan perbuatan beliau sallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila sesuai dengan ucapan dan perbuatan beliau, diterima, dan apabila berbeda atau menyelisihinya, tertolak dan kembali kepada pengucap dan pelakunya, siapa pun dia.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. An-Nur[24]: 63).

 

7.   Menjauhi Dai-Dai Yang Sesat.

Diantara kemuliaan generasi awal umat ini selain mengajarkan kebaikan juga menjelaskan keburukan agar tidak terjerumus di dalam kesesatan, Dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyalahu ‘anhu beliau berkata :  

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ أِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرِّ فَجَاءَنَااللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرِّ قَالَ نَعَمْ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرِ قَالَ نَعَمْ وَفِيْهِ دَخَنٌ قَلْتُ وَمَادَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَسْتَنُّوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِي وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرِّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا قثلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ فَمَاتَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ فَقُلْتُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلُ تِلكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

 “Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan, sedangkaan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena kuatir hal itu menimpaku” Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, dahulu kami berada dalam keadaan jahiliyah dan keburukan lalu Allah mendatangkan kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini akan datang keburukan?”
Beliau berkata : “Ya” Aku bertanya : “Apakah setelah keburukan ini akan datang kebaikan?” Beliau menjawab : “Ya, tetapi didalamnya ada asap”.
Aku bertanya : “Apa asapnya itu ?” Beliau menjawab : “Suatu kaum yang mengambil tuntunan selain dari tuntunanku, dan mengambil petunjuk kepada selain petunjukku. Engkau akan mengenal mereka dan engkau akan mengingkarinya” Aku bertanya : “Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan lagi ?” Beliau menjawab :”Ya, (akan muncul) para dai-dai yang menyeru ke neraka jahannam, barangsiapa yang mengikuti seruannya, mereka akan menjerumuskannya ke dalam neraka”
Aku bertanya : “Ya Rasulullah, sebutkan cirri-ciri mereka kepada kami ?”
Beliau menjawab : “ Suatu kaum yang kulit-kulit mereka seperti kulit kita, dan berbicara dengan bahasa kita.” Aku bertanya: “Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku mendapatkan keadaan seperti ini” Beliau menjawab : “Peganglah erat-erat jama’ah kaum muslimin dan imam mereka.” Aku bertanya : “Bagaimana jika tidak ada imam dan jama’ah kaum muslimin?” Beliau menjawab :”Tinggalkan semua kelompok-kelompok itu, walaupun engkau menggigit akar pohon hingga ajal mendatangimu.” (HR. Bukhari 3606, 7084, Muslim 1847).

 

8.   Hendaknya Bersikap Tenang Tidak Tergesa-Gesa.

Fitnah menjadikan suasana kemelut, seakan seperti angin puting beliung berputar dahsyat dan menarik siapa saja yang tidak punya akar yang kuat, orang-orang yang tidak punya ilmu akan tergesa-gesa dan akhirnya mudah terseret dan larut kedalam fitnah, karena memang manusia itu diciptakan memiliki sifat tergesa-gesa.

Allah ta’ala berfirman:

خُلِقَ الْإِنْسَانُ مِنْ عَجَلٍ.

“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa.”  (Al-Anbiyaa’ [21] :37).

Di saat seperti itu dibutuhkan ketenangan, sehingga mudah mengetahui hakekat sesuatu. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

التَّأَنِّي مِنَ اللهِ, وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ.

“Ketenangan datangnya dari Allah, sedangkan tergesa-gesa datangnya dari setan.” (HR. Thabrani 2358, Baihaqi 3244,  Syaikh al-Albani menghasankan di dalam Ash-Shahihah 1795).

سَتَكُونُ فِتَنٌ القَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ القَائِمِ, وَالقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ المَاشِي, وَالمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي, مَنْ تَشَرَّفَ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ, فَمَنْ وَجَدَ مِنْهَا مَلْجَأً, أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ.

“Kelak akan ada fitnah-fitnah dimana di dalamnya orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik daripada yang berusaha (dalam fitnah). Siapa yang menghadapi kekacauan tersebut maka hendaknya dia menghindarinya dan siapa yang mendapati tempat kembali atau tempat berlindung darinya maka hendaknya dia berlindung.” (HR. Al-Bukhari 3601, 7081, Muslim 2886).

سَتَكُوْنُ فِتَنٌ وَفِرْقَةٌ فَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَاكْسِرْ سَيِفَكَ وَاتَّخِذْ سَيْفاً مِنْ خَشَبٍ.

“Kelak akan ada banyak kekacauan dan perpecahan. Jika sudah seperti itu maka patahkanlah pedangmu dan pakailah pedang dari kayu.” (HR. Ahmad 20622, di hasankan Syaikh al-Arnaut di dalam Ibnu Majah 3960).

 

9.   Tabayyun (Menganalisa Setiap Berita Yang Sampai).

Setiap muslim hendaknya mencari kejelasan setiap informasi, baik masalah pribadi ataupun menyangkut kepentingan umum.

Allah ta’ala telah memberikan tuntunannya di dalam kitab suci-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti…” (QS. Al-Hujurat [49]: 6).

Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan kroscek terhadap berita dari orang fasik. Karena boleh jadi berita yang tersebar adalah berita dusta atau keliru.”

 

10.                     Kembali Kepada Ulama.

Ulama merupakan orang yang paling memahami fitnah, mereka menelaah berita-berita  di dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga luas pengetahuannya dan berhati-hati di dalam sikapnya, mereka akan segera memahami tanda-tanda penyimpangan yang terjadi, karena tanda-tanda fitnah tidak akan jauh berbeda sebagaimana sebuah ungkapan:

مَا أَشْبَهَ الْيَوْمَ بِالْبَارِحَةِ

"Alangkah persisnya hari ini dengan kemarin" (Al-Mushannaf fi al-Hadis wa al- Atsar 35508, Ibnu Abi Syaibah).

Dari ‘Amr bin Yahya, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata:

كُنَّا جُلُوسًا بِالْمَسْجِدِ قَبْلَ أَنْ يَأْتِيَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ فَجَاءَ أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ فَقَالَ: أَخْرَجَ عَلَيْكُمْ عَبْدُ اللَّهِ بَعْدُ قُلْنَا: لَا فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى جَاءَ عَبْدُ اللَّهِ فَقَامَ إِلَيْهِ أَبُو مُوسَى فَقَالَ: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ آنِفًا أَمْرًا أَنْكَرْتُهُ وَلَمْ أَرَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا خَيْرًا . قَالَ: فَمَا هُوَ قَالَ: إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ قَالَ: رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوسًا وَفِي كُلِّ حَلْقَةٍ رَجُلٌ وَفِي أَيْدِيهِمْ حَصًى فَيَقُولُ: كَبِّرُوا مِائَةً فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً فَيَقُولُ: هَلِّلُوا مِائَةً فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً وَيَقُولُ: سَبِّحُوا مِائَةً فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً .  قَالَ: فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ, قَالَ: مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ أَوْ أَمْرِكَ . قَالَ: أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ شَيْءٌ, ثُمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلَقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ فَقَالَ: مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ قَالُوا: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًى نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ . قَالَ: فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ! هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ .  قَالُوا: وَاللهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ . قَالَ: وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ.

"Kami sedang duduk di masjid sebelum Abdullah bin Mas‘ud datang kepada kami. Lalu datanglah Abu Musa Al-Asy‘ari seraya berkata: 'Apakah Abdullah bin Mas‘ud sudah keluar menemui kalian?' Kami menjawab: 'Belum.' Lalu ia pun duduk bersama kami hingga datanglah Abdullah bin Mas‘ud.

Maka Abu Musa Al-Asy‘ari berdiri dan berkata kepadanya: 'Wahai Abu Abdurrahman, aku tadi melihat sesuatu di masjid yang aku ingkari, namun alhamdulillah aku tidak melihat selain kebaikan.'

Abdullah berkata: 'Apakah itu?' Abu Musa menjawab: 'Kalau engkau hidup, pasti engkau akan melihatnya.' Lalu ia berkata: 'Aku melihat di masjid suatu kaum yang duduk dalam lingkaran-lingkaran, di setiap lingkaran ada seseorang memimpin mereka, di tangan mereka ada kerikil. Orang itu berkata: "Bertakbirlah seratus kali!" Maka mereka bertakbir seratus kali. Lalu ia berkata: "Bertasbihlah seratus kali!" Maka mereka bertasbih seratus kali. Lalu ia berkata: "Bertahlillah seratus kali!" Maka mereka bertahlil seratus kali.' Abdullah bin Mas‘ud berkata: 'Apa yang kamu katakan kepada mereka?' Abu Musa menjawab: 'Aku tidak mengatakan apa-apa, aku menunggumu untuk mengetahui pendapatmu atau perintahmu.' Lalu Abdullah bin Mas‘ud berkata: 'Mengapa engkau tidak memerintahkan mereka untuk menghitung dosa-dosa mereka saja, dan aku jamin pahala mereka tidak akan hilang sedikit pun?' Kemudian kami pun berangkat bersama beliau hingga sampai ke salah satu halaqah itu. Abdullah bin Mas‘ud berdiri di hadapan mereka dan berkata: 'Apa ini yang aku lihat sedang kalian lakukan?' Mereka menjawab: 'Wahai Abu Abdurrahman, ini hanyalah kerikil-kerikil yang kami gunakan untuk menghitung takbir, tahlil, dan tasbih.' Beliau berkata: 'Hitunglah saja dosa-dosa kalian, aku jamin tidak ada dari kebaikan kalian yang akan hilang. Celakalah kalian wahai umat Muhammad, alangkah cepat kalian menuju kebinasaan! Para sahabat Nabi kalian masih banyak yang hidup, baju beliau belum usang, bejana-bejana beliau belum pecah. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh kalian berada di atas ajaran yang lebih baik dari ajaran Muhammad atau kalian adalah pembuka pintu kesesatan!'

Mereka berkata: 'Demi Allah wahai Abu Abdurrahman, kami tidak menginginkan kecuali kebaikan. Beliau berkata: 'Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan namun tidak mendapatkannya. (HR. Ad-Darimi 210).

Dari Bisyr bin Amru, dia berkata:

شَيَّعْنَا ابْنَ مَسْعُودٍ حِينَ خَرَجَ , فَنَزَلَ فِي طَرِيقِ الْقَادِسِيَّةِ فَدَخَلَ بُسْتَانًا , فَقَضَى الْحَاجَةَ ثُمَّ تَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى جَوْرَبَيْهِ ثُمَّ خَرَجَ وَإِنَّ لِحْيَتَهُ لَيَقْطُرُ مِنْهَا الْمَاءُ , فَقُلْنَا لَهُ: اعْهَدْ إِلَيْنَا فَإِنَّ النَّاسَ قَدْ وَقَعُوا فِي الْفِتَنِ وَلَا نَدْرِي هَلْ نَلْقَاكَ أَمْ لَا , قَالَ: اتَّقُوا اللَّهَ وَاصْبِرُوا حَتَّى يَسْتَرِيحَ بَرٌّ أَوْ يُسْتَرَاحَ مِنْ فَاجِرٍ , وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ عَلَى ضَلَالَةٍ.

“Kami mengikuti Ibnu Mas’ud, tatkala dia keluar menuju Qadisiyah,lantas dia masuk ke kebun menunaikan hajatnya, dia berwhudu dan mengusap di atas kaos kakinya, kemudian dia keluar sementara tetesan air wudhu membasahi janggutnya. Kami berkata: berikanlah pada kami wasiat, sebab manusia telah terjebak dalam fitnah dan kami tidak tau apakah bisa bertemu kembali denganmu atau tidak. Beliau berkata: bertakwalah pada Allah dan bersabarlah hingga orang-orang yang baik akan beristirahat(wafat) dari orang jahat atau manusia di istirahatkan dari mereka (dengan mematikan orang yang fasiq), dan hendaklah kalian mengkuti jama’ah sebab Allah tidak akan mengumpulkan ummat Muhammad di atas kesesatan.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 37192 dishahihkan Syaik al-Albani di dalam Dzilalul Jannah 85).

Demikianlah bekal menghadapi fitnah ini, semoga Allah ta’ala menyelamatkan kita semua dari berbagai fitnah. Aamiin

 

 

 -----000-----

 

 

Sragen 13-05-2023

Di susun oleh Abu Ibrahim Junaedi.

 


BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.

  BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.     س ١ - بِمَاذَا نَتَوَسَّلُ إِلَى اللَّهِ؟ Soal 1 : Dengan apa kita bertawassul...