MENDIDIK ANAK SESUAI
SYARIAT
Panduan
Orang Tua dalam Mendidik Anak
DAFTAR ISI
Muqaddimah (Pengantar)
Bab 1: Kedudukan Anak dan
Tanggung Jawab Orang Tua
Bab 2: Kelembutan Sebagai
Landasan Utama Mendidik
Bab 3: Keteladanan Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Mengasihi Anak
Bab 4: Kapan dan Bagaimana Orang
Tua Boleh Bersikap Tegas?
MUQADDIMAH
(PENGANTAR)
الْمُقَدِّمَةُ
إِنَّ
الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ
بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ
يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ،
Segala puji hanya milik Allah.
Kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampunan kepada-Nya,
dan berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kita serta keburukan
amal-amal kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada seorang
pun yang dapat menyesatkannya. Barang siapa disesatkan oleh Allah, maka tidak
ada seorang pun yang mampu memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada
sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tidak ada sekutu
bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga
Allah melimpahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, keluarga
beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik
hingga hari Kiamat. Amma ba'du.
Di antara nikmat Allah yang
paling besar setelah nikmat Islam dan iman adalah dikaruniai keturunan yang
shalih. Anak merupakan penyejuk mata (qurrata 'ayun), penerus pahala amal saleh
setelah kita wafat, sekaligus amanah yang sangat besar yang akan dimintai
pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Banyak orang tua mengaku
mencintai anak-anak mereka, namun tidak sedikit yang keliru dalam
mengekspresikan rasa cinta tersebut:
Ada yang mendidik dengan Keras:
Menganggap mendidik harus selalu dengan bentakan, suara keras, pencelaan,
bahkan pukulan karena mengira itulah cara agar anak disiplin.
Ada juga yang membiarkan:
Menuruti seluruh keinginan anak atas dalih kasih sayang, sehingga anak tidak
memiliki kendali diri dan tumbuh menjadi pribadi yang rusak.
Islam datang membawa petunjuk
yang seimbang (wasathiyah). Jika kita membuka sirah Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam, kita mendapati beliau adalah manusia paling lembut, penuh
kasih sayang, namun juga tegas pada tempatnya.
Allah Ta'ala berfirman:
﴿ لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا ﴾
Sungguh, telah ada pada diri
Rasulullah teladan yang sangat baik bagi orang yang mengharap Allah dan hari
Akhir serta banyak mengingat Allah (QS. Al-Ahzab[33]: 21).
Sedikit tulisan ini disusun untuk
membantu para orang tua memahami kaidah utama pengasuhan Islam: menjadikan
kelembutan sebagai pintu utama dan ketegasan sebagai benteng penyelamat.
BAB 1: KEDUDUKAN ANAK DAN
TANGGUNG JAWAB ORANG TUA
1. Anak Adalah Amanah Utama
Pendidikan anak bukanlah sekadar
tugas sampingan, melainkan kewajiban syar'i untuk menyelamatkan mereka dari
kebinasaan dunia dan akhirat. Allah Ta'ala berfirman:
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ
نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَالَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ
شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman!
Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah
manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim[66]: 6).
Penjelasan Ali bin Abi Thalib
radhiyallahu 'anhu:
عَلِّمُوهُمْ
وَأَدِّبُوهُمْ .
Ajarilah mereka ilmu agama dan
didiklah mereka dengan adab yang baik.
Qatadah mengatakan bahwa
engkau perintahkan mereka untuk taat kepada Allah dan engkau cegah mereka dari
perbuatan durhaka terhadapNya. Dan hendaklah engkau tegakkan terhadap mereka
perintah Allah dan engkau anjurkan mereka untuk mengerjakannya serta engkau
bantu mereka untuk mengamalkannya. Dan apabila engkau melihat di kalangan
mereka terdapat suatu perbuatan maksiat terhadap Allah, maka engkau harus cegah
mereka darinya dan engkau larang mereka melakukannya.(Tafsir
Ibnu Katsir, QS. At-Tahrim [66]:6).
2. Bahaya Mengabaikan Pendidikan Anak
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
فَمن أهمل تَعْلِيم وَلَده مَا
يَنْفَعهُ وَتَركه سدى فقد أَسَاءَ إِلَيْهِ غَايَة الْإِسَاءَة وَأكْثر
الْأَوْلَاد إِنَّمَا جَاءَ فسادهم من قبل الْآبَاء وإهمالهم لَهُم وَترك تعليمهم
فَرَائض الدّين وسننه فأضاعوهم صغَارًا فَلم ينتفعوا بِأَنْفسِهِم وَلم ينفعوا
آبَاءَهُم كبارًا كَمَا عَاتب بَعضهم وَلَده على العقوق فَقَالَ يَا أَبَت إِنَّك
عققتني صَغِيرا فعققتك كَبِيرا وأضعتني وليدا فأضعتك شَيخا
"Barang siapa mengabaikan pendidikan
anaknya dalam perkara yang bermanfaat baginya dan membiarkannya terlantar, maka
sungguh ia telah berbuat seburuk-buruk perlakuan terhadap anaknya. Kebanyakan
kerusakan yang menimpa anak-anak berasal dari orang tua mereka, karena mereka
mengabaikan anak-anaknya, tidak mengajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban
agama dan sunnah-sunnahnya. Akibatnya, mereka menyia-nyiakan anak-anak itu
sejak kecil. Maka ketika dewasa, anak-anak itu tidak memberikan manfaat bagi
diri mereka sendiri dan tidak pula bermanfaat bagi orang tua mereka.
Sebagaimana seorang ayah pernah mencela anaknya karena durhaka, lalu sang anak
berkata, 'Wahai Ayahku, engkau telah mendurhakaiku ketika aku masih kecil, maka
aku pun mendurhakaimu ketika engkau telah tua. Engkau telah menyia-nyiakanku
ketika aku masih kecil, maka aku pun menyia-nyiakanmu ketika engkau telah
lanjut usia.'" (Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud,
karya Ibnul Qayyim1/229)
BAB
2
KELEMBUTAN
SEBAGAI LANDASAN UTAMA MENDIDIK
Hukum asal dalam pengasuhan
menurut Islam adalah kelembutan (ar-rifq). Hati anak-anak diciptakan dalam
keadaan lemah dan subur; ia lebih cepat disentuh dengan kasih sayang daripada
kekerasan.
Diantara pentingnya orang tua
bersikap lemah lembut yaitu:
1. Kelembutan Adalah Akhlak yang Dicintai Allah
Allah Memuji Kelembutan Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam:
﴿ فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ
فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ﴾
Maka berkat rahmat dari Allah
engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras
lagi berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekelilingmu (QS. Ali
'Imran[3]: 159).
Jika orang dewasa para sahabat
saja sebaik-baik generasi perlu diperlakukan dengan lemah lembut, terlebih anak
kecil tentu lebih berhak.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ.
“Sayangilah orang-orang yang
ada di bumi, maka kamu akan di sayangi Dzat yang ada di atas langi.” (HR. Tirmidzi
no 1924, Baihaqi no. 17905, Dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Ash Shahihah no.
925).
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ
رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ، وَمَا لَا
يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ.
Sesungguhnya Allah Maha Lembut
dan mencintai kelembutan. Allah memberikan karena kelembutan sesuatu yang tidak
Dia berikan karena kekerasan dan tidak pula karena selainnya (HR. Muslim no.
2593).
Dalam
riwayat yang lain dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata:
اسْتَأْذَنَ
رَهْطٌ مِنَ الْيَهُودِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
فَقَالُوا: السَّامُ عَلَيْكَ، فَقُلْتُ: بَلْ عَلَيْكُمُ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ،
فَقَالَ: يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ
كُلِّهِ. قُلْتُ: أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟, قَالَ: قَدْ قُلْتُ: وَعَلَيْكُمْ.
"Sekelompok orang Yahudi meminta izin menemui Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu mereka mengucapkan, 'As-samu 'alaika
(semoga kematian menimpamu).' Aku pun berkata, 'Bahkan semoga kematian dan
laknat menimpa kalian.' Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
'Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam
segala urusan.' Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mendengar apa
yang mereka ucapkan?' Beliau menjawab, 'Aku telah menjawab mereka dengan
mengatakan: Wa 'alaikum (dan atas kalian juga).” (HR. Al-Bukhari no. 6024 dan
Muslim no. 2165)
Imam An-Nawawi rahimahullah
menjelaskan:
هَذِهِ الْأَحَادِيثِ فَضْلُ الرِّفْقِ
وَالْحَثُّ عَلَى التَّخَلُّقِ وَذَمُّ الْعُنْفِ وَالرِّفْقُ سَبَبُ كُلِّ خَيْرٍ.
Hadits ini menjelaskan bahwa
kelembutan merupakan sebab datangnya seluruh kebaikan (Syarh Shahih Muslim,
16/145).
2. Kelembutan Adalah Cara Efektif Menyampaikan Nasihat
Al-Qur'an mengajarkan betapa
agungnya pengaruh kelembutan melalui dalil-dalil berikut:
Perintah kepada nabi Musa dan
Harun ‘alaihima salam Berkata Lembut kepada Fir'aun:
﴿ فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ
يَخْشَى ﴾
Maka berbicaralah kalian berdua
kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut. Mudah-mudahan ia sadar atau takut
(QS. Thaha [20] : 44).
As-Sa'di rahimahullah berkata:
أَيْ سَهْلًا لَطِيفًا، بِرِفْقٍ
وَلِينٍ وَأَدَبٍ فِي اللَّفْظِ، مِنْ دُونِ فُحْشٍ وَلَا صَلَفٍ، وَلَا غِلْظَةٍ
فِي الْمَقَالِ، وَلَا فَظَاظَةٍ فِي الْأَفْعَالِ.
"Yakni, dengan perkataan yang mudah, lembut, penuh
kelembutan, santun, dan beradab dalam ucapan; tanpa kata-kata yang keji, tanpa
kesombongan, tanpa kekasaran dalam berbicara, dan tanpa sikap kasar dalam
perbuatan." (Tafsir Taisir Al-Karim Ar-Raḥman
fī Tafsir Kalam Al-Mannan, QS. Thaha [20] : 44).
Hal ini karena tidaklah setiap jiwa mudah dalam menerima kebenaran,
bahkan kebanyakan manusia berat menerima, bagaimana lagi jika dengan cara yang
kasar dan kaku tentu lebih sulit lagi demikian pula dengan anak-anak.
3. Kelembutan Orang Tua Kebaikan Kebaikan Yang Allah Kehendaki.
Allah membukakan kemudahan
pengasuhan melalui kelembutan lisan dan sikap yang tidak bisa dicapai dengan
ancaman.
Dari Aisyah bahwa
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إذاَ أرَادَ الله بأِهْلِ بَيْتٍ
خَيْرًا أدْخَلَ عَلَيْهِمُ الرِّفْقَ .
“Jika Allah menghendaki suatu keluarga
kebaikan maka Allah memasukkan kepada mereka sikap lemah lembut.” (HR. Al-Baihaqi
no. 6140, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami no. 303).
Seseorang akan terhalangi dari
kebaikan manakala dia tidak memiliki sifat kelembutan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ .
"Barang siapa dihalangi dari kelembutan, maka ia
telah dihalangi dari kebaikan." (HR.
Muslim no. 2592, Abu Dawud 4809).
Demikian pentingnya orang tua
harus menerapkan di dalam mendidik anaknya dengan cara yang lemah lembut.
BAB
3
KETELADANAN
RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM DALAM MENGASIHI ANAK
Sebagian orang mengira bahwa
seorang ayah harus selalu berwajah galak agar berwibawa. Namun, Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam—pemimpin umat dan panglima perang—justru
menampilkan kasih sayang yang besar kepada anak-anak, di antaranya dalil
berikut ini:
1. Menyapa dan Menghargai Perasaan Anak
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu
bercerita bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sering bercanda dengan
adiknya yang kecil:
كَانَ رَسُولُ
اللَّهِ يُخَالِطُنَا، حَتَّى يَقُولَ لِأَخٍ لِي صَغِيرٍ: يَا أَبَا عُمَيْرٍ،
مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ.؟
Rasulullah sering bergaul dengan
kami, hingga beliau pernah bersabda kepada adik kecilku: Wahai Abu 'Umair,
bagaimana burung kecilmu? (HR. Al-Bukhari no. 6129, Tirmidzi 1989, Abu Dawud
4969).
Pentingnya orang tua menghibur
dan menghargai perasaan anak kecil.
2. Mengungkapkan Kasih Sayang Secara Fisik
Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam mencium cucunya Hasan bin Ali. Ketika Al-Aqra' bin Habis merasa heran
karena tak pernah mencium 10 anaknya, Nabi bersabda:
مَنْ لَا
يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ.
Barang siapa tidak menyayangi,
maka ia tidak akan disayangi (HR. Al-Bukhari no. 5997, Muslim no. 2318, Tirmidzi no. 1911, Abu Dawud no. 5218).
3. Memperhatikan Anak Kecil Meskipun Dalam Keadaan Shalat.
Bolehnya
menggendong anak kecil meskipun sedang shalat.
Dari
Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي
وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلِأَبِي الْعَاصِ بْنِ الرَّبِيعِ، فَإِذَا قَامَ
حَمَلَهَا، وَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا.
Dari
Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam pernah shalat sambil menggendong Umamah binti Zainab, putri Zainab
binti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dari suaminya Abul 'Ash bin
Ar-Rabi'. Apabila beliau berdiri, beliau menggendongnya, dan apabila beliau
sujud, beliau meletakkannya. (HR. Al-Bukhari no. 516 dan Muslim no. 543, Abu Dawud no. 917)
Memperlama Sujud karena ada anak
kecil.
Dari
Syaddad bin Al-Had radhiyallahu 'anhu, beliau berkata "Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam keluar mengimami kami pada salah satu shalat sore
(Ashar atau Isya) sambil menggendong Hasan atau Husain. Beliau meletakkannya,
kemudian bertakbir memulai shalat. Di tengah shalat beliau melakukan satu sujud
yang sangat lama. Aku mengangkat kepalaku, ternyata anak kecil itu sedang
berada di atas punggung Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau
sujud. Maka aku kembali bersujud. Setelah shalat selesai, para sahabat berkata,
'Wahai Rasulullah, engkau melakukan satu sujud yang sangat lama.' Beliau
bersabda:
كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ، وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي، فَكَرِهْتُ
أَنْ أُعْجِلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ.
'Tidaklah demikian. Akan tetapi anakku ini
menaiki punggungku, maka aku tidak suka tergesa-gesa menurunkannya hingga ia
selesai dengan keinginannya.” (HR. Ahmad no. 695, An-Nasa'i no. 731, At-Tabrani 7107 dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud 923).
Dari
Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:
إِنِّي لَأَقُومُ فِي الصَّلَاةِ أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا،
فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي، كَرَاهِيَةَ أَنْ
أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ.
"Sesungguhnya aku berdiri dalam shalat dengan maksud
ingin memanjangkannya. Lalu aku mendengar tangisan seorang bayi, maka aku
meringankan shalatku karena aku tidak ingin memberatkan ibunya."(HR. Al-Bukhari no. 707, Ahmad no. 22602, Abu Dawud no. 789, )
4. Tidak Diperkenankan Menggunakan Fisik Untuk Melampiaskan Emosi
Aisyah radhiyallahu 'anha
menegaskan:
مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً، وَلَا خَادِمًا،
إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللهِ .
Rasulullah tidak pernah memukul
sesuatu pun dengan tangan beliau, tidak pula seorang perempuan dan tidak pula
seorang pembantu, kecuali ketika berjihad di jalan Allah (HR. Muslim no. 2328).
BAB
4
KAPAN
DAN BAGAIMANA ORANG TUA BOLEH BERSIKAP TEGAS?
Islam adalah agama yang seimbang
(wasathiyah). Mendidik tanpa kelembutan melahirkan kekerasan, namun mendidik
tanpa ketegasan melahirkan pemanjaan yang merusak, menjadikan anak tidak
memiliki rasa tanggung jawab.
Ketegasan bukan kekasaran,
melainkan wujud perlindungan dan penegakan batas hukum.
1. Kondisi Orang Tua Wajib dan
Boleh Bersikap Tegas
1) Menyangkut Ibadah Utama (Shalat)
Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ
وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا، وَهُمْ أَبْنَاءُ
عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ.
Perintahkan anak-anakmu untuk
melaksanakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah (dengan
pukulan ketegasan/mendidik) mereka karena meninggalkannya ketika mereka berusia
sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur di antara mereka (HR. Abu Dawud
no. 495, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami’ no. 5868).
Fikih Hadits: Ada jenjang
bertahap (tadarruj) selama 3 tahun sebelum tindakan tegas diberlakukan.
2) Menjaga Anak dari Harta Haram dan Kemungkaran
Saat Hasan bin Ali mengambil
sebutir kurma zakat dan memasukkannya ke mulut, Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam menegurnya dengan tegas seketika:
أَخَذَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ تَمْرَةً
مِنْ تَمْرِ الصَّدَقَةِ، فَجَعَلَهَا فِي فِيهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كِخْ كِخْ، ارْمِ بِهَا، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّا لَا
نَأْكُلُ الصَّدَقَةَ.؟
Hasan bin Ali mengambil sebutir
kurma dari kurma sedekah (zakat) lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Maka
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (dengan tegas): Kikh! Kikh! (keluarkanlah!),
buang kurma itu! Tidakkah engkau tahu bahwa kita (keluarga Nabi) tidak boleh
memakan harta sedekah? (HR. Al-Bukhari no. 1491, Muslim no. 1069).
3) Saat Anak Membangkang atau Rusak Adabnya
Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:
عَلِّقُوا
السَّوْطَ حَيْثُ يَرَاهُ أَهْلُ الْبَيْتِ، فَإِنَّهُ أَدَبٌ لَهُمْ.
Gantungkanlah cambuk di tempat
yang dapat dilihat oleh penghuni rumah, karena hal itu merupakan ajaran adab
bagi mereka (HR. Ath-Thabrani No. 10669 dihasankan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu
al-Jami’ no. 4022).
Hadits ini adalah simbol
kewibawaan dan adanya batasan aturan di rumah.
4) Saat Perilaku Anak Membahayakan Diri atau Orang Lain
Apa bila anak memegang atau
melakukan sesuatu yang dapat membahayakan dirinya atau orang lain hendaknya
orang tua bersikap tegas dan menghentikan.
Berdasarkan kaidah fikih:
لاَ ضَرَرَ
وَلاَ ضِرَارَ .
Tidak boleh membahayakan diri
sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain (HR. Ibn Majah no. 2340, di
shahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami’ no.7517).
2. Aturan Syariat dalam Memberikan Hukuman dan Ketegasan
Jika ketegasan membutuhkan bentuk
teguran fisik (adh-dharb) atau hukuman disiplin, wajib memenuhi kaidah syariat
berikut:
Kaidah-Kaidah Penting dalam Memberikan Hukuman kepada Anak
1. Niat Mendidik (Ta'dīb), Bukan Melampiaskan Emosi
Hukuman yang diberikan kepada anak harus dilandasi
niat untuk mendidik, memperbaiki perilaku, dan mengarahkan kepada kebaikan,
bukan sebagai pelampiasan kemarahan atau emosi orang tua.
2. Dilakukan Secara Bertahap (At-Tadarruj)
Syariat mengajarkan agar pendidikan dan hukuman
dilakukan secara bertahap. Dimulai dengan memberikan nasihat dan penjelasan,
kemudian teguran, selanjutnya hajr (mendiamkan apabila bermanfaat), dan apabila
diperlukan barulah diberikan hukuman yang ringan sesuai tuntunan syariat.
3. Dilarang Memukul Wajah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا ضَرَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْتَنِبِ الْوَجْهَ
"Apabila salah seorang di antara kalian memukul,
hendaklah ia menghindari wajah." (HR. Ahmad no. 7323).
Hadits ini menunjukkan bahwa wajah merupakan bagian
tubuh yang dimuliakan sehingga tidak boleh dijadikan sasaran pukulan.
4. Tidak Boleh Menimbulkan Luka atau Cedera
Apabila syariat membolehkan hukuman fisik dalam
kondisi tertentu, maka hukuman tersebut tidak boleh menyebabkan memar, luka,
pendarahan, patah tulang, atau bahaya lainnya. Para ulama menyebutnya dengan
istilah:
ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ
"Pukulan yang tidak menyakitkan dan tidak
menimbulkan cedera."
5. Memperhatikan Batas Usia Anak
Anak yang belum mencapai usia sepuluh tahun tidak
boleh diberikan hukuman fisik
Dengan demikian, hukuman fisik bukanlah metode yang
diterapkan kepada anak di bawah usia sepuluh tahun. Sebelum usia tersebut,
pendidikan hendaknya lebih ditekankan melalui keteladanan, nasihat, pembiasaan,
kasih sayang, dan kelembutan.
Demikianlah semoga bermanfaat.
-----000-----
Sragen 25-07-2026
Abu Ibrahim Junaedi.