PUASA MELATIH ZUHUD TERHADAP DUNIA
Allah subhanahu wa ta’ala dengan
kelembutannya memperbaiki keadaan kita, urusan kita, jasmani maupun rahani,
demikian pula dengan puasa Allah melatih kita zuhud.
Puasa melatih kita meninggalkan
dari apa yang kita miliki, kita kuasai, baik berupa makanan, minuman, syahwat
dan lainnya.
Hal itu tidak lain agar manusia
tidak menghamba terhadap perutnya.
Allah ta’ala berfirman:
كُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا
تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ
“Makan serta minumlah, tetapi janganlah
berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS.
Al-A’raf [7]:31).
Ibnu Katsir rahimahullah
menjelaskan tafsir ayat ini:
قَالَ
بَعْضُ السَّلَفِ: جَمَعَ اللَّهُ الطِّبَّ كُلَّهُ فِي نِصْفِ آيَةٍ: وَكُلُوا
وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا.
“Sebagian salaf berkata bahwa
Allah telah mengumpulkan semua ilmu kedokteran pada setengah ayat ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-A’raf
[7]:31).
Dari Al-Miqdam bin Ma'dikarib raḍiyallahu
'anhu secara marfu' dia berkata, aku mendengan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
مَا
مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ. بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ
يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ
لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ.
"Tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih
buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap yang dapat
menegakkan tulang punggungnya. Jika memang harus melebihi itu, maka sepertiga
untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk
nafasnya." (HR Tirmidzi 2380 Ibnu Majah 3349, dishahihkan Syaikh al Abani
di dalam Ash Shahihah 2265).
Tidak sebagaimana orang-orang kafir.
Allah
ta’ala menggambarkan dengan berfirman:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ
وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ.
“Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di
dunia) dan mereka makan seperti makannya hewan ternak; dan neraka adalah tempat
tinggal bagi mereka.” (QS. Muhammad [47]:12).
Dari ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda:
الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ،
وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ.
“Orang mukmin makan dengan satu usus (lambung), sedangkan
orang kafir makan dengan tujuh usus (lambung).(HR. Bukhari 5397, Muslim 2061).
Allah ta’ala juga melarang kita berbuat mubadzir:
وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا .
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ
لِرَبِّهِ كَفُورًا.
“Janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara
boros." "Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah
saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada
Tuhannya." (QS. Al-Isra’[17]:26-27).
Agar manusia meninggalkan
berbagai perkataan kotor, keji, dusta yang dengan keburukan tersebut manusia
saling menipu, memakan harta diantara mereka dengan cara yang batil, mengejar
pangkat sehingga satu sama lain saling menjatuhkan.
Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ
بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ
“Wahai
orang-orang yang beriman! Janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan cara yang batil, kecuali dengan perdagangan yang terjadi
atas dasar saling ridha di antara kalian.” (QS. An-Nisa’[4]:29).
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا
إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ
وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan
janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang batil, dan
janganlah kalian menyuapkannya kepada para hakim agar kalian dapat memakan
sebagian harta orang lain dengan dosa, padahal kalian mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah[2]: 188)
Puasa juga mengendalikan dari
perbudakan nafsu seksualnya.
Berapa banyak manusia yang mereka terfitnah dengan
wanita, demikian pula wanita yang terfitnah dengan laki-laki.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ.
“Aku tidak meninggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki
daripada wanita.” (HR. Bukhari 5096, Muslim 2740).
Semua ini Allah kumpulkan dalam satu ayat yang jelas,
dengan firman-Nya:
زُيِّنَ
لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ
الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ
وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ
عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ.
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia
kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta
yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan
sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat
kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran[3]: 14).
Banyak sekali ayat dan hadits
mengingatkan kita akan dunia yang fana ini, demikian pula ucapan para ulama:
1. Dunia Ini
Hanya Sebentar.
Allah ta’ala berfirman:
قَالَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا
قَلِيلًا لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.
Allah berfirman, "Kalian tidak
tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kalian sesungguhnya
mengetahui.” (QS. Al-Mukminun[23]:114).
كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ
ضُحَاهَا
“Pada
hari mereka melihat hari kiamat itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) kecuali hanya pada
waktu sore atau pagi hari saja.” (QS. An-Nazi’at [79]:49)
Dari
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ
أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً، ثُمَّ
يُقَالُ: يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ
قَطُّ؟ فَيَقُولُ: لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ . وَيُؤْتَى
بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ
صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ، فَيُقَالُ لَهُ: يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا
قَطُّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ؟ فَيَقُولُ: لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ، مَا
مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ.
“Pada
hari kiamat didatangkan orang yang paling hidup mewah di dunia dari kalangan penghuni neraka,
lalu ia dicelupkan sekali ke dalam neraka. Kemudian dikatakan kepadanya:
‘Wahai
anak Adam, apakah engkau pernah melihat kebaikan sama sekali? Apakah pernah
engkau merasakan kenikmatan?’
Ia
menjawab: ‘Tidak, demi Allah wahai Rabbku, aku tidak pernah merasakan
kenikmatan sama sekali.’
Kemudian
didatangkan orang yang
paling sengsara hidupnya di dunia dari kalangan penghuni surga,
lalu ia dicelupkan sekali ke dalam surga. Lalu dikatakan kepadanya:
‘Wahai
anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kesengsaraan? Apakah pernah engkau
mengalami kesulitan?’
Ia
menjawab: ‘Tidak, demi Allah wahai Rabbku, aku tidak pernah merasakan
kesengsaraan sama sekali dan tidak pernah melihat kesulitan.” (HR. Muslim 2807,
Ahmad 13112).
2. Dunia Hanyalah
Sedikit Jika Dibandingkan Akhirat.
Allah ta’ala berfirman:
قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ
خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى.
“Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu
lebih baik bagi orang-orang bertakwa". (QS. An-Nisa' [4]: 77).
Dari Sahl bin
Sa’d radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا
سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ.
"Seandainya
dunia ini bernilai di sisi Allah seperti sayap nyamuk, niscaya Dia tidak akan
memberikan seteguk air pun kepada orang kafir." (HR. Tirmidzi 2320, Ibnu
Majah 4110, dishahihkan syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 940).
وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ
مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ –
فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ.
“Demi Allah, tidaklah dunia ini bagi akhirat melainkan
seperti jari tangan salah seorang dari kalian yang ini -Yahya (perowi) mengisyaratkan
dengan jari telunjuk- yang
dicelupkan ke dalam
air laut, maka lihatlah air yang kembali.” (HR. Muslim
7376).
3. Dunia Hanyalah
Kesenangan Yang Melalaikan.
Allah ta’ala berfirman:
وَمَا
الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS.
Al-Imran [3]: 185).
4. Dunia Penjara
Bagi Orang Beriman.
Dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
"Dunia
itu adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir."(HR.
Muslim 2956)
5. Rendahnya Dunia
Di Sisi Allah ta’ala.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ
الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا
وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ .
“Dunia itu terlaknat dan segala yang
terkandung di dalamnya pun terlaknat, kecuali orang yang berdzikir kepada
Allah, yang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang ‘alim atau penuntut ilmu
syar’i.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah. Dalam Shahihul Jami’, Syaikh Al Albani mengatakan hadits
ini hasan).
6. Dunia Akan
Segera Sirna.
Allah ta’ala berfirman:
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ.
“Telah dekat hari kiamat, dan bulan pun telah
terbelah.” (QS. Al-Qamar [54]:1).
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا
فَانٍۖ
“Semua
yang ada di atasnya (bumi) itu akan binasa.” (QS. Ar-Rahman [55]:26).
Ayat
ini memberikan gambaran jelas tentang kefanaan kehidupan dunia, di mana segala
sesuatu yang kita lihat, rasakan, dan miliki saat ini hanyalah sementara.
7. Larangan Mencintai Dunia Dan Menjadikannya Tujuan.
Allah juga menyebutkan bagaimana
keadaan orang-orang kafir yang mereka lebih mementingkan dunia daripada akhirat Allah
ta’ala berfirman:
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا . وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ
وَأَبْقَى.
"Sedangkan kalian lebih memilih kehidupan dunia,
padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal". (QS. Al-A'la [87]: 16 – 17).
Sedangkan orang-orang beriman banyak
sekali yang mengikuti pola fikir orang-orang kafir di dalam hidupnya.
Rasulullah sallallahu ‘alaihi w sallam bersabda:
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللَّهُ
عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ
الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ، جَمَعَ
اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا
وَهِيَ رَاغِمَةٌ .
“Barangsiapa
yang (menjadikan) dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan mencerai-beraikan
urusannya dan menjadikan kemiskinan dalam pandangannya, dan dunia tidak datang
kecuali apa yang Allah telah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang
(menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan
urusannya, menjadikan hatinya merasa cukup, dan dunia akan datang dalam keadaan
merendah.(HR. Ibnu Majah 4105, dishahihkan Syaikh al-Bani di dalam as-Shahihah
950).
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata,
مُحِبُّ الدُّنْيَا لَا يَنْفَكُّ مِنْ ثَلَاثٍ : هَمٌّ
لَازِمٌ ، وَتَعَبٌ دَائِمٌ ، وَحَسْرَةٌ لَا تَنْقَضِى.
Pecinta
dunia tidak akan terlepas dari tiga hal : kesedihan (kegelisahan) yang
terus-menerus; kecapekan (keletihan) yang berkelanjutan; dan penyesalan yang
tidak pernah berhenti.
8. Anjuran Agar Zuhud Terhadap Dunia.
Zuhud bukan berarti meninggalkan harta kekayaan dan hidup
miskin tidak, tetapi zuhud adalah meniggalkan apa yang tidak memberi manfaat di
akhirat.
Pengertian Zuhud
terhadap Dunia Menurut Para Salaf
Zuhud terhadap sesuatu maknanya berpaling darinya karena
keremehan dan kehinaannya, serta tidak ada ambisi untuk mendapatkannya. Sebagaimana
perkataan syai'un zahid, artinya sesuatu yang nilainya sedikit lagi hina.
Yunus bin Maisarah berkata, "Zuhud terhadap dunia
bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan juga menyia-nyiakan harta. Akan
tetapi zuhud terhadap dunia adalah engkau begitu yakin terhadap apa yang ada di
tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. (mukhtasar Jami’ul Ulum wal Hikam,
Ibnu Rajab al-Hambali).
Allah menyebut ucapan orang shalih yang menghasung akhirat.
Allah ta’ala berfirman:
يَا قَوْمِ
إِنَّمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ
الْقَرَارِ.
“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah
kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (Ghafir[40]:39).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam juga bersabda:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ
غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ.
“Jadilah engkau di dunia ini
seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).”
(HR. Al-Bukhari 6416, Tirmidzi 3296).
Dari Sahl bin Sa'ad As-Sa'idi,
ia menuturkan, "Seseorang mendatangi Rasulullah, dan berkata:
يَا رَسُوْلَ اللهِ، دُلَّنِي عَلَى
عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللَّهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ ، فَقَالَ اِزْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللَّهُ،
وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ
"Wahai Rasulullah, tunjukkan
kepadaku suatu amalan yang jika aku kerjakan, Allah dan manusia akan
mencintaiku." Maka beliau bersabda, "Zuhudlah terhadap dunia, maka
engkau akan dicintai Allah, dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia
maka engkau akan dicintai manusia." (An-Nawawi berkata, "Hadits ini
hasan", diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya dengan sanad hasan)(HR.
Ibnu Majah no. 4102, at-Thabrani no. 5972, Hakim IV: 313, dishahihkan Syaikh
al-Albani di dalam ash-Shahihah 944).
Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا قَدِ ارْتَحَلَتْ مُدْبِرَةً، وَإِنَّ الْآخِرَةَ قَدِ
ارْتَحَلَتْ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ
أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ، وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ
الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابٌ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلٌ
"Dunia
akan pergi menjauh, dan akhirat akan mendekat. Masing-masing memiliki anak.
Jadilah anak akhirat, jangan menjadi anak dunia. Karena hari ini (dunia) adalah
tempat beramal tanpa hisab, sedangkan besok (akhirat) adalah tempat hisab tanpa
amal."
(HR. Ahmad 16553, Hakim 7913)
Malik bin Dinar berkata:
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا مِنْ ذَهَبٍ
يَفْنَى ، وَالآخِرَةُ مِنْ خَزَفٍ يَبْقَى لَكَانَ الوَاجِبُ أَنْ يُؤْثِرَ
خَزَفٍ يَبْقَى عَلَى ذَهَبٍ يَفْنَى ، فَكَيْفَ وَالآخِرَةُ مِنْ ذَهَبِ يَبْقَى
، وَالدُّنْيَا مِنْ خَزَفٍ يَفْنَى.؟
“Seandainya dunia adalah emas
yang akan fana, dan akhirat adalah tembikar yang kekal abadi, maka tentu saja
seseorang wajib memilih sesuatu yang kekal abadi (yaitu tembikar) daripada emas
yang nanti akan fana. Padahal sejatinya akhirat adalah emas yang kekal abadi
dan dunia adalah tembikar yang nantinya fana.” (Lihat Fathul Qodir, Imam
Asy-Syaukani, 5:567-568)
Ibnu Mas'ud pernah berkata kepada sebagian sahabatnya, "Kalian
lebih banyak berpuasa, mengerjakan shalat, dan lebih banyak berjihad
dibandingkan para sahabat Rasulullah, tapi mereka lebih baik (lebih utama di
sisi Allah) daripada kalian." Ada yang bertanya, "Kenapa bisa begitu,
wahal Abu Abdirrahman?" Ibnu Mas'ud berkata, "Karena mereka lebih
zuhud dalam (kehidupan) dunia dan lebih cinta kepada akhirat dibanding
kalian." (mukhtasar Jami’ul Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab al-Hambali).
9. Meskipun Demikian Larangan Seseorang Meminta-Minta.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ سَأَلَ
النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ
أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ
“Barang
siapa meminta harta manusia untuk memperbanyak (harta) maka sebenarnya ia meminta bara api, maka
silakan ia meminta sedikit atau memperbanyaknya.” ( HR.
Abul
‘Abbas As Siroj, ia berkata bahwa ia mendengar Ibrahim bin Basyar, ia berkata
bahwa ‘Ali bin Fudhail berkata, ia berkata bahwa ayahnya (Fudhail bin ‘Iyadh)
berkata pada Ibnul Mubarok,
أَنْتَ تَأْمُرُنَا بِالزُّهْدِ وَالتَّقَلُّلِ
وَالْبُلْغَةِ، وَنَرَاكَ تَأْتِي بِالْبَضَائِعِ، كَيْفَ ذَا؟
“Engkau
memerintahkan kami untuk zuhud, sederhana dalam harta, hidup yang sepadan
(tidak kurang tidak lebih). Namun kami melihat engkau memiliki banyak harta.
Mengapa bisa begitu?”
Ibnul Mubarak mengatakan:
يَا أَبَا عَلِيٍّ، إِنَّمَا أَفْعَلُ ذَا لِأَصُونَ وَجْهِي، وَأُكْرِمَ
عِرْضِي، وَأَسْتَعِينَ بِهِ عَلَى طَاعَةِ رَبِّي.
“Wahai Abu ‘Ali (yaitu Fudhail bin
‘Iyadh). Sesungguhnya hidupku seperti ini hanya untuk menjaga wajahku dari ‘aib
(meminta-minta). Juga aku bekerja untuk memuliakan kehormatanku. Aku pun
bekerja agar bisa membantuku untuk taat pada Rabbku”. (Siyar A’lam
An Nubala, Adz Dzahabi,
8/387, Mawqi’ Ya’sub).
10.
Kemurahan
Allah Ta’ala Menjamin Hambanya.
Allah memiliki sifat Ar-Rahman
dan Ar-Rahim (maha pengasih dan maha penyayang.
Allah melarang kita
membinasakan diri kita dengan dunia ini dan meninggalkan akhirat yang penuh
kenikmatan.
Allah melarang seseorang menganiyaya dirinya sendiri.
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ.
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.“
(QS. Al Baqarah[2]: 195).
وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ
اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا.
“Dan janganlah kalian membunuh diri
kalian, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada kalian.” (QS.
An-Nisa[4]:29).
Bahkan Allah lebih sayang kepada kita dibandingkan
seorang ibu kepada anaknya.
Dari Umar bin
Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
قَدِمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْيٌ،
فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْيِ قَدْ تَحْلُبُ ثَدْيَهَا تَسْقِي، إِذَا
وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ أَخَذَتْهُ، فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا
وَأَرْضَعَتْهُ، فَقَالَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
أَتَرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ. قُلْنَا: لَا، وَهِيَ تَقْدِرُ
عَلَى أَنْ لَا تَطْرَحَهُ، فَقَالَ: لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ
بِوَلَدِهَا.
“Didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
para tawanan perang. Tiba-tiba ada seorang wanita dari kalangan tawanan itu
yang air susunya memancar (karena mencari anaknya). Setiap kali ia menemukan
seorang bayi di antara tawanan, ia mengambilnya, lalu mendekapnya ke perutnya
dan menyusuinya.
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada
kami:
‘Menurut kalian, apakah wanita ini akan melemparkan
anaknya ke dalam neraka?’
Kami menjawab: ‘Tidak, demi Allah, sementara ia mampu
untuk tidak melemparkannya.’
Beliau bersabda: ‘Sungguh Allah lebih penyayang kepada
hamba-hamba-Nya daripada wanita ini kepada anaknya.’” (HR. Bukhari 5999, Muslim Muslim 2754).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ، أَنْزَلَ مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ
الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالْبَهَائِمِ وَالْهَوَامِّ، فَبِهَا يَتَعَاطَفُونَ،
وَبِهَا يَتَرَاحَمُونَ، وَبِهَا تَعْطِفُ الْوَحْشُ عَلَى وَلَدِهَا، وَأَخَّرَ
اللَّهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً، يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ.
“Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Dia
menurunkan satu rahmat di antara jin, manusia, binatang dan hewan melata.
Dengan rahmat itu mereka saling menyayangi dan saling berkasih sayang. Dengan
rahmat itu pula binatang buas menyayangi anaknya. Dan Allah menangguhkan
sembilan puluh sembilan rahmat untuk merahmati hamba-hamba-Nya pada hari
kiamat.” (HR. Muslim 2752,
Ahmad 9609).
Dari sini kita mengetahui bahwa Allah menyeru berpuasa hanya kepada orang
beriman saja, karena Allah menyayangi kepada orang beriman.
Allah ta’ala berfirman:
وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا.
“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang
beriman.”(QS. Al-Ahzab[33]: 43)
demikianlah sekelumit tulisan
ini semoga bermanfaat.
-----000-----
Sragen 08-03-2026.
Abu Ibrahim Junaedi.