Senin, 09 Februari 2026

PUASA

 

BAB 6

Orang Yang Wajib Puasa Ramadhan.

 

1.  Orang-Orang Yang Wajib Berpuasa.

1) Muslim.

2) Baligh.

3) Berakal.

4) Sehat.

5) Mukim.

6) Bagi wanita hendaknya bersih dari haid dan nifas.

Adapun orang-orang yang belum menyatakan keislamanya atau masih kafir amalan mereka tidak diterima.

Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا.

“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila di datanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.” (QS. An-Nur [24]: 39)

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا.

“Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al Furqan [25]: 23).

Orang gila dan anak-anak belum diwajibkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَفِيْقَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ.

“Cacatan amal diangkat  dari tiga golongan, orang gila sampai ia sadar, orang tidur hingga ia bangun, dan anak kecil hingga ia baligh.” (HR. Abu Dawud 4401, Ibnu Hibban 143, dishahihkan syaikh al-Albani di dalam al-Irwaa’ 5/2).

Meskipun anak kecil belum diwajibkan puasa namun apa bila ikut berpuasa ia akan mendapatkan pahala, begitupula orang tuanya.

Dari Ibnu Abbas radhiallahuma, dia berkata:

رَفَعَتْ امْرَأَةٌ صَبِيًّا لَهَا فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ , أَلِهَذَا حَجٌّ ؟ قَالَ :  نَعَمْ وَلَكِ أَجْرٌ.

"Seorang wanita mengangkat seorang bocah, lalu berkata, 'Wahai Rasulullah, apakah anak ini dapat berhaji?' Beliau berkata, "Ya, dan bagimu pahala." (HR. Muslim 1336).

3.  Hukum Puasa Bagi Orang Sakit.

Allah ta’ala berfirman:

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا.

“Beberapa hari yang telah ditentukan, barang siapa diantara kalian yang sakit...” (QS. Al-Baqarah[2]:184).

Beberapa keadaaan orang yang sakit:

1) Orang Yang Sakit Ringan.

Seperti batuk, pilek, sakit gigi, sakit kepala ringan, luka ringan, hendaknya tetap berpuasa.

2) Sakit Yang Akan Bertambah Parah Jika Berpuasa.

Bila seseorang sakit dan semakin parah atau akan lambat kesembuhannya jika berpuasa, atau penyakit tersebut membuat penderitanya berat berpuasa. Hanya saja, tidak sampai pada tingkat membahayakan. Dalam kondisi seperti ini boleh berbuka, namun jika berpuasa, puasanya tetap sah.

3) Sakit Yang Membahayakan Dan Tidak Memungkinkan Sembuh.

Jika seseorang berpuasa, dengan puasanya itu membahayakan keselamatannya, hingga dapat mengantarkan kepada kematian, apa lagi dikuatkan larangan tersebut dari dokter, dalam kondisi seperti ini, tidak boleh berpuasa bahkan bisa haram hal ini berdasarkan firman Allah ta'ala :

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا.

"Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri sesungguhnya Allah maha penyayang terhadap kalian." (QS. An-Nisa[4]: 29).

Hal ini karena bisa membahayakan nyawa seseorang. (Lihat Fikih li Nisa’ Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Syayid Salim).

“Orang yang seperti ini hendaknya membayar fidyah. Seandainya ada kesembuhan maka tidak ada kewajiban lagi mengganti. Hal ini yang difatwakan oleh para ulama.” (Syaikh Muhammad al-’Utsaimin dalam asy-Syarhul Mumti’ 6/333-334, 347-349), al-Wadi’i, Syaikh al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil 4/22), dan Al-Lajnah ad-Da’imah dalam Fatawa al-Lajnah 10/160-161).

4.  Orang Yang Bepergian

Apa bila seseorang berpuasa sedang dalam berpergian atau perjalanan, hendaknya memperhatikan puasanya.

Allah ta’ala berfirman:

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَر.

“(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah[2]:184).

Namun jika ia tetap berpuasa selama dalam perjalanan, maka puasanya sah. Inilah pendapat mayoritas ulama dari generasi shahabat, tabi'in, empat imam madzhab dan selain mereka.

Manakah yang lebih utama dalam perjalanan, berpuasa atau berbuka?

Orang yang safar (bepergian) ada beberapa keadaan:

1) Jika Safarnya Berat Badanya Lemah, Tertinggal Dari Berbagai Macam Kebaikan Hendaknya Lebih Baik Berbuka.

2) Jika Safarnya Ringan Tidak Memberatkan Lebih Baik Tetap Berpuasa.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radiyallahu ‘anhu dia berkata:

كُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ، فَمِنَّا الصَّائِمُ وَمِنَّا الْمُفْطِرُ، فَلَا يَجِدُ الصَّائِمُ عَلَى الْمُفْطِرِ، وَلَا الْمُفْطِرُ عَلَى الصَّائِمِ، يَرَوْنَ أَنَّ مَنْ وَجَدَ قُوَّةً فَصَامَ، فَإِنَّ ذَلِكَ حَسَنٌ وَيَرَوْنَ أَنَّ مَنْ وَجَدَ ضَعْفًا، فَأَفْطَرَ فَإِنَّ ذَلِكَ حَسَنٌ.

“Kami pernah bepergian bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada bulan Ramadhan, ada diantara kami yang puasa dan ada pula yang berbuka, yang berpuasa tidak mencela yang berbuka dan yang berbuka tidak tidak mencela yang berpuasa.” (HR Muslim 1116, Shahih Ibnu Hibban 3558).

3) Jika Safarnya Berat Dan Membahayakan Jiwanya, Hendaknya Diutamakan Berbuka.

Sebagaimana tercantum dalam hadits Jabir yang menyatakan bahwa ketika sedang menempuh perjalanan untuk menaklukkan kota Makkah, Rasulullah terus berjalan hingga sampai daerah Kara' al-Ghumaim. Begitu pula rombongannya. Kemudian beliau meminta dibawakan sewadah air minum, lalu mengangkatnya hingga terlihat oleh semua orang dan mulai meminumnya setelah itu, ada yang melaporkan kepada beliau bahwa beberapa orang tetap berpuasa. Beliau berkata, "Mereka adalah orang yang durhaka (menyalahiku). Mereka adalah orang yang durhaka." (HR. Bukhari 1948, Muslim 1114).

Dalam riwayat yang lain Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تَصُومُوا فِي السَّفَرِ.

“Bukanlah sebuah kebaikan berpuasa ketika bersafar.” (HR. Muslim 1115, Abu Dawud 2407).

5.  Keringanan bagi orang tua, orang hamil dan menyusui.

Orang tua laki-laki maupun perempuan yang tidak kuat berpuasa dibolehkan meninggalkan puasa selama bulan Ramadhan dan tidak perlu mengqadhanya. Namun, ia harus memberi makan satu orang miskin setiap hari sejumlah (puasa) yang ditinggalkannya.

Allah ta’ala berfirman:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ.

“Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah[2]:184).

Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma berkaitan dengan ayat di atas:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ…قَالَ كَانَتْ رُخْصَةً لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ وَالْمَرْأَةِ الْكَبِيرَةِ وَهُمَا يُطِيقَانِ الصِّيَامَ أَنْ يُفْطِرَا وَيُطْعِمَا مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَالْحُبْلَى وَالْمُرْضِعُ إِذَا خَافَتَا أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا. وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهُ فِدْيَة طَعَامُ مِسْكِيْن

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (Al-Baqarah[2]: 184).

Beliau berkata, “Ayat ini memberikan keringanan kepada orang tua renta, baik laki maupun perempuan, apabila merasa berat berpuasa dia boleh berbuka dan memberi makan satu orang miskin setiap hari sebanyak yang ditinggalkan. Wanita mengandung dan menyusui kalau keduanya khawatir juga boleh berbuka dan (sebagai gantinya) memberi makan (orang miskin setiap hari sejumlah hari yang ditinggalkan).” (HR. Abu Dawud 2318, Al-Muntaqa Ibnul Jarud 381, al-Baihaqi 1351, lihat Irwa’ syaikh al-Albani, 4/18).

6.  Begitu pula bagi orang yang hamil dan menyusui.

Adapun orang yang hamil dan menyusui tidak wajib berpuasa dan cukub membayar fidyah, sebagaimana diterangkan dalil di atas.

Kesimpulannya, sebab-sebab yang membolehkan tidak puasa ada empat, safar, sakit, haid dan nifas, kuatir celaka, seperti orang hamil dan menyusui. (Fikih Muyassar).

 


BAB 7

Rukun Puasa

1.    Niat

Hendaknya ikhlas di dalam menjalankan puasa.

Allah ta’ala berfirman:

ومَا أُمِرُوْا إِلاَّلِيَعْبُدُاللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…”(QS. Al-Bayyinah[98] : 5).

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ.

“Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar [39]:2).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.” (HR. Bukhari 1, 6689, Muslim 1907).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ العَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصاً وَ ابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ.

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menerima amal perbuatan, kecuali yang ikhlas dan dimaksudkan (dengan amal perbuatan itu) mencari wajah Allah. (HR. Nasa’i 3140, Dihasankan Syaikh Al Albani di dalam ash-Shahihah 52).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الفَجْرِ، فَلَا صِيَامَ لَهُ .

“Barangsiapa yang belum berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. at-Tirmidzi 730, Abu Dawud 2454, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam Shahih Abu Dawud 2118).

Adapun tempat niat di dalam hati.

Imam An-Nawawi rahmahullah mengatakan:

وَمَحَلُّ النِّيَّةِ الْقَلْبُ وَلَا يُشْتَرَطُ نُطْقُ اللِّسَانِ بِلَا خِلَافٍ.

“Tempat niat di dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dengan lisan tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab 6/289).

Beliau juga mengatakan:

لَا يَصِحُّ الصَّوْمُ إِلَّا بِالنِّيَّةِ، وَمَحَلُّهَا الْقَلْبُ. وَلَا يُشْتَرَطُ النُّطْقُ بِلَا خِلَافٍ.

“Tidak sah puasa kecuali dengan niat, dan tempatnya adalah hati. Dan tidak disyaratkan harus diucapkan, tanpa ada perselisihan ulama…” (Raudhatu at-Thalibin wa ‘Amdatul muftiin, 2/350).

Hal ini bisa kita tanyakan dalam hati kita, apabila seseorang lupa kemudian makan dan minum hal itu tidak membatalkan puasanya, sebaliknya meskipun lisannya berkali-kali mengatakan lupa namun hatinya menyengaja, tetap juga membatalkan puasa, demikianlah tempat niat itu di dalam hati bukan di lisan.

2.    Menahan diri dari apa yang membatalkan puasa semenjak fajar matahari sampai terbenam matahari.

Allah ta’ala berfirman:

وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِ.

“Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. “ (QS. Al-Baqarah [2]:187).

 

BAB 8

Adab-Adab Berpuasa.

 

Adab-adab berpuasa yaitu:

1.   Makan Sahur

Hendaknya sahur terlebih dahulu karena ini barakah meskipun seteguk air.

Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً.

“Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.” (HR. al-Bukhari 1923, Muslim 1095, at-Tirmidzi 708, an-Nasai 2470).

Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَسَحَّرُوا وَلَوْ بِجُرْعَةِ مَاءٍ.

“Makan sahurlah kalian meski hanya dengan seteguk air.” )Shahih Ibni Hibban 884, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam Adz-Dzaifah 1405).

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ.

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur. )HR. at-Tabrani al-Mu’jam al-Ausath 6434, Shahih Ibnu Hibban 3467, dihasankan Syaikh al-Albani at-Ta’liqu ar-Raghib 2/92).

2.   Mengakhirkan sahur.

Hendaknya mengakhirkan makan sahurnya, karena hal ini termasuk yang disunnahkan.

Dari Anas, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ. قُلْتُ: كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسُّحُورِ؟ قَالَ: قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً.

“Kami makan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau berdiri menuju shalat. Aku bertanya: Berapa jarak waktu antara adzan dan sahur? Ia menjawab: Sekira-kira jaraknya seperti bacaan lima puluh ayat Al-Qur’an.” (HR. al-Bukhari 1921, Muslim 1097).

Jika adzan telah terdengar dan makanan atau minuman masih di tangannya, maka boleh ia memakan atau meminumnya, berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَاْلإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلاَ يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ.

“Barangsiapa di antara kalian yang mendengar adzan (Shubuh) dan bejana (makanan) masih di tangannya, maka janganlah ia menaruhnya sebelum ia menyelesaikan makannya.” (HR. Ahmad 9474, Abu Dawud 9474,  dihasankan Syaikh al-Albani di dalam Shahih wa dha’if Sunan Abu Dawud 2350).

3.   Meninggalkan  Perkataan Dan Perbuatan Yang Buruk.

Rasulullah sallallahu ‘alaihhi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت.

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. al-Bukhari  6018, Muslim 47).

وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ.

“Seorang penyeru menyeru, ‘Wahai yang mengharapkan kebaikan, bersegeralah (kepada ketaatan). Wahai para pelaku maksiat, berhentilah.” (HR. at-Tirmidzi 682, an-Nasai 2108 dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami’ 5832).

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ.

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. al-Bukhari 1903).

ألصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ،وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ.

“Puasa adalah tameng janganlah berkata kotor dan jangan berbuat bodoh, jika seseorang mengajak berkelahi atau mencelamu maka katakanlah aku sedang puasa dua kali.” (HR. al-Bukhari 1894).

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ.

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah  1690, an-Nasa’i 3236, dishahihkan Syaikh al Albani dalam Shahih at-Targib wa-at Tarhib 1083).

4.   Menyegerakan Berbuka (Ta’-Jil)

Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَزَالُ النّاَسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ.

“Umat manusia akan tetap baik selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” (HR. al-Bukhari 1957, Muslim 1098, at-Tirmidzi 699).

5.   Berbuka Puasa Dengan Kurma Atau Air Putih.

Diriwayatkan dari Anas, dia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَمَرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa dengan beberapa ruthab (kurma segar) sebelum mengerjakan shalat. Jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan beberapa tamr (kurma kering). Jika tidak ada tamr, beliau meminum beberapa teguk air. (HR. Ahmad 12676, Abu Dawud 2356, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam al-Irwa’ 922).

6.   Berdo’a ketika berbuka puasa dengan do’a yang terdapat dalam hadits berikut ini

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berbuka puasa selalu membaca:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ.

“Telah hilang rasa haus dan telah basah urat-urat, serta telah ditetapkan pahala, insya Allah.” (HR. Abu Dawud 2357, al-Baihaqi 1390, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam al-Irwa’ 920). (Lihat pula kitab al-Wajiz, Syaikh ‘Abdul Azhim bin Badawi al Khalafi).

 


Bab 9

Pembatal-Pembatal Puasa.

 

Pembatal-pembatal puasa yaitu:

1)    Makan.

2)    Minum.

Allah ta’ala berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ.

“Dan makan minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”(QS. Al-Baqarah[2]:187).

Kecuali keduanya dilakukan dalam keadaan lupa.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ, فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ, فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ, فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اَللَّهُ وَسَقَاهُ.

“Barangsiapa yang lupa sedang ia dalam keadaan puasa lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan puasanya karena Allah yang memberi ia makan dan minum.” (HR. al-Bukhari 1933, Muslim 1155).

3)    Muntah Dengan Sengaja.

Apabila seseorang tidak sengaja muntah hal itu tidaklah membatalkan puasanya.

مَنْ ذَرَعَهُ قَىْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ.

“Barangsiapa tidak sengaja muntah sedangkan dia dalam keadaan puasa, maka tidak ada qadha’ baginya. Namun apabila dia muntah (dengan sengaja), maka wajib baginya membayar qadha’.” (HR. Abu Daud 2380 Ibnu Majah1676; Tirmidzi 720. Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

4)    Haid.

Rasulullullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ.

“Bukankah jika wanita itu haid ia tidak shalat dan tidak puasa?” (HR. al-Bukhari 304 dan Muslim79).

5)    Nifas.

6)    Merokok.

7)    Menghirup Kokain, Heroin, Sabu, Narkoba Maupun Sejenisnya.

8)    Infuse Pengganti Makanan.

9)    Keluar Mani Dengan Sengaja.

10)          Jima’, Dengan Membayar Kafarah.

Dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata:

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ قَالَ مَا لَكَ قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا قَالَ لا قَالَ فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لا فَقَالَ فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا قَالَ لا قَالَ فَمَكَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ وَالْعَرَقُ الْمِكْتَلُ قَالَ أَيْنَ السَّائِلُ فَقَالَ أَنَا قَالَ خُذْهَا فَتَصَدَّقْ بِهِ فَقَالَ الرَّجُلُ أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لابَتَيْهَا يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ .

"Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seseorang, lalu dia berkata, 'Wahai Rasulullah, celakalah saya.' Beliau berkata, 'Ada apa denganmu?' dia berkata, 'Aku telah menggauli isteriku dalam keadaan puasa.' Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 'Apakah engkau memiliki budak yang engkau merdekakan?' Dia berkata, 'Tidak.' Lalu beliau berkata, 'Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut.' Dia berkata, 'Tidak.' Lalu beliau berkata, 'Apakah engkau dapat memberi makan 60 orang miskin?' Dia berkata, 'Tidak.' Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam dia bebera saat. Ketika kami adalam keadaan demikian, ada yang membawakan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam sekerangjan korma. Lalu dia berkata, 'Mana yang bertanya tadi?' Dia berkata, 'Saya.' Beliau berkata, 'Ambillah ini dan bersedekahlah dengannya.' Orang itu berkata, 'Kepada orang yang lebih fakir dariku ya Rasulullah, demi Allah, tidak ada keluarga di antara dua gunung ini, maksudnya dua perkampungan, yang lebih miskin dari keluarga saya.' Nabi shallallahu alaihi wa salalm tertawa hingga tampak gigi gerahamnya. Kemudian beliau berkata, 'Berilah makan keluargamu." (HR. Bukhari 1936, Muslim 1111).

11)          Masuknya Sesuatu Yang Menetap Di Lambung Dengan Sengaja.

12)          Hilang Ingatan, Baik Pingsan, Disebabkan Bius (Seharian), Atau Tiba-Tiba Gila.

13)          Cuci Darah.

14)          Murtad.

15)          Sebagian Ulama Menyebutkan, Niat Berbuka. (Fikih Muyassar).

 

BAB 10

Hal-hal yang dibolehkan orang berpuasa

 

1.  Berhubungan Badan Dimalam Hari.

Seperti bolehnya berhubungan di malam Ramadhan.

Allah ta’ala berfirman:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ.

“Dihalalkan bagi kalian pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kalian; mereka itu adalah pakaian bagi kalian, dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kalian tidak dapat menahan nafsu kalian.” (QS. Al-Baqarah[2]:187).

2.  Junub Di Waktu Subuh.

Dari (umul mukminin) Aisyah dan Ummu Salamah radhiallahu ‘anhuma, mereka menceritakan:

يُدْرِكُهُ الفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ، وَيَصُومُ.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki waktu subuh, sementara beliau sedang junub karena berhubungan dengan istrinya. Kemudian beliau mandi dan berpuasa.” (HR. al-Bukhari 1926 dan at-Tirmudzi 779).

3.  Bercumbu Dengan Pasangannya Selain Bersenggama.

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan:

كان رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ، وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ، وَلَكِنَّهُ أَمْلَكُكُمْ لِإِرْبِهِ.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium dan bercumbu dengan istrinya ketika puasa, namun beliau adalah orang yang paling kuat menahan nafsunya.” (HR. Muslim 1106, Ahmad 24154).

4.  Boleh Mandi Atau Sekedar Menyiram Kepala Agar Dingin.

Dari Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:

لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِالْعَرْجِ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ الْمَاءَ وَهُوَ صَائِمٌ مِنَ الْعَطَشِ أَوْ مِنَ الْحَرِّ.

“Sungguh, aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Al ‘Aroj mengguyur kepalanya -karena keadaan yang sangat haus atau sangat terik- dengan air sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa. ” (HR. Abu Daud 2366, al-Baihaqi 8261, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam al-Misykah 2011).

5.  Berkumur.

6.  Tetes Mata, Gosok Gigi, Suntik Insulin Dan Lainnya.

7.  Donor Darah Atau Hijamah, Selagi Tidak Menjadikan Lemah.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ أَ .

"Batallah puasa orang yang membekam dan dibekam." (HR. Abu Dawud 2369, Ahmad 15828, Ibnu Majah 1679, Tirmidzi 774, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahih Abu Dawud 2074).

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْتَجَمَ وَهُوَ مُحْرِمٌ، وَاحْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dalam keadaan berihram dan berpuasa.” (HR. al-Bukhari 1938).

سُئِلَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَكُنْتُمْ تَكْرَهُونَ الحِجَامَةَ لِلصَّائِمِ؟ قَالَ: لاَ، إِلَّا مِنْ أَجْلِ الضَّعْفِ.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ditanya, “Apakah kalian tidak menyukai berbekam bagi orang yang berpuasa?” Beliau berkata, “Tidak, kecuali jika bisa menyebabkan lemah.”(HR. al-Bukhari 1940).

Menurut jumhur ulama berbekam tidaklah membatalkan puasa, meskipun madzhab Hambali mengatakan batal.

8.  Mencicipi Masakan.

9.  Makan Dan Minum Tanpa Sengaja.

10.Muntah Tidak Sengaja.

11.Endoskpi, memasukkan alat tubuh.

Endoskopi tidak membatalkan puasa, karena endoskopi tidak membuat benda asing menetap di dalam tubuh. 

          Demikianlah uraian ringkas ini, bagi yang menghendaki lebih luas bisa membuka kitab-kitab fikih, semoga Allah memudahkan kita untuk melaksanakan kebaikan. Aamiin.

AMALAN YANG DIANJURAN DI BULAN RAMADHAN.

 Bab 11

Shalat Kiyamul Lail Dan Kiyamur Ramadhan (Tarwih).

 

Asalnya shalat tarwih adalah kiyamul lail yang dilakukan Rasullah selama tiga malam berturut-turut, namun beliau kuatir jika hal itu akan di wajibkan bagi umatnya sehingga beliaupun berhenti.

Ketika masa kekhalifahan Umar bin khatab kekuatiran itu telah hilang karena wahyu telah terputus, maka khalifah Umar bin Khatab melakukannya.

Allah ta’ala berfirman:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا.

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’ [17]:79).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarwih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari 37, Muslim 759).

Shalat sunnah malam hari dan siang hari asalnya satu kali salam setiap dua rakaat. Berdasarkan keterangan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah shalat malam itu?” Beliau menjawab:

مَثْنىَ مَثْنىَ فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ.

“Dua rakaat-dua rakaat, apabila kamu khawatir mendapati subuh, maka hendaklah kamu shalat witir satu rakaat.”(HR. Bukhari 1137, Muslim 749).

Dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma yang lain dikatakan:

صَلَاةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى.

“Shalat malam hari dan siang hari itu dua rakaat-dua rakaat.” (HR. Ahmad 4791, Ibnu Majah 1319, Abu Dawud 1295, dishahihkan didalam Shahih Abu Dawud 1172).

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ.

“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Tirmidzi 806, Ibnu Majah 1327, Nasai 1605, Dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Al Irwa’ 447). 

Yang dimaksud kiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh An Nawawi. (Syarh Muslim, 3/101).

Yang dimaksud kiyam Ramadhan adalah menghidupkan malamnya dengan ‘ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. (ta’liq Musthafa al-Bagha’ pada Shahih Bukhari 1904-1905).

   

Bab 12

Dianjurkan memperbanyak sedekah.

Allah ta’ala berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ.

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas dan Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah[2]:161).

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ.

“Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Ahmad 7206, Muslim 2588).

Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau bertambah kedermawanannya di bulan Ramadlan ketika bertemu dengan malaikat Jibril, dan Jibril menemui beliau di setiap malam bulan Ramadhan untuk mengulang bacaan Al-Qur’an.” (HR. Al Bukhari 3220, Ahmad 2616).

Memberi buka orang yang berpuasa memiliki pahala seperti orang yang berpuasa.

Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

 مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، إِلَّا أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ.

“Barangsiapa yang memberi buka orang puasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun.” (HR. Ahmad 17033, Tirmizi 807, Ibnu Majah, 1746, dishahihkan syaikh al-Albani di dalam shahih Al-Jami’, 6415).

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ.

“Infakkanlah sebagian dari apa yang Aku berikan kepada kalian, sebelum kematian mendatangi kalian, kemudian dia berkata: “Ya Rab, andai Engkau menunda ajalku sedikit saja, agar aku bisa bersedekah dan aku menjadi orang shaleh.” (QS. Al Munafiqun[63]: 10).

Allah ta’ala memerintahkan kepada kita agar bersedekah dengan harta yang kita cintai.

Allah ta’ala berfirman:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ.

“Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan, sampai kalian infakkan apa yang kalian cintai.” (QS. Ali Imran[3]: 92).

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العِبَادُ فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.

“Setiap datang waktu pagi, ada dua malaikat yang turun dan keduanya berdoa. Malaikat pertama memohon kepada Allah, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang memberi nafkah’, sementara malaikat satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikan kehancuran bagi orang yang pelit.’ (HR. Bukhari 1442 Muslim 1010).

 Sebagian orang-orang shalih dahulu berkata: “Kalau sekiranya saya mengundang sepuluh dari teman-temanku, kemudian memberikan makanan yang disukainya. Itu lebih saya sukai dibandingkan dengan memerdekakan sepuluh budak dari anak Ismail.

Dahulu banyak dari kalangan Sebagian orang-orang shalih dahulu lebih mendahulukan memberi buka puasa sementara dia masih dalam kondisi berpuasa. Di antaranya Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Dawud At-Thai, Malik bin Dinar dan Ahmad bin Hanbal dan lainnya. Bahkan Abdullah bin Umar tidak berbuka melainkan bersama orang-orang yatim dan orang miskin karena mengetahui keluarganya menolak kedatangan mereka. (Kaifa na’isyu Ramadhan, Syaikh Abdullah As-Shalih).

 

 


PUASA

  BAB 6 Orang Yang Wajib Puasa Ramadhan.   1.    Orang-Orang Yang Wajib Berpuasa. 1) Muslim. 2) Baligh. 3) Berakal. 4) Sehat...