Senin, 27 Juli 2026

BAB 4 MACAM-MACAM SYIRIK BESAR. SOAL: 20 BAHAYA SYIRIK BESAR

 


BAB 4

MACAM-MACAM SYIRIK BESAR.

SOAL: 20

BAHAYA SYIRIK BESAR

س ٢٠ - مَا هِيَ ضَرَرُ الشِّرْكِ الأَكْبَرِ ؟

Soal 20 Apa bahaya syirik akbar?

ج ٢٠ - الشَّرْكُ الأَكْبَرُ يُسَبِّبُ الْخُلُوْدَ فِي النَّار .

Jawab: Syirik akbar menyebabkan pelakunya kekal di dalam neraka.

قال الله تعالى:

Allah Ta'ala berfirman:

 {إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارِ} سورة المائدة : ۷۲

"Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah telah mengharamkan surga baginya. Tempat tinggalnya ialah neraka, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim."
(QS. Al-Ma'idah: 72).

وقال ﷺ :

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(وَمَنْ لَقِيَ اللهُ يُشْرِكْ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّار)

"Barang siapa bertemu dengan Allah dalam keadaan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, maka ia akan masuk neraka."
(HR. Muslim)

-----000-----

 

Penjelasan:

Bahaya dan keburukan yang di timbulkan oleh Syirik besar sangat banyak sekali, di antaranya:

 

1.   Dosa Kemusyrikan Tidak Diampuni Allah Apabila Tidak Bertaubat Sebelum Meninggal Dunia.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.(QS. An Nisaa[4]:48, 116).

Ibnu Katsir berkata: “Orang-orang kafir Ahli Kitab dan orang-orang musyrik yang menentang kitab-kitab Allah yang diturunkan dan menentang para rasul yang diutus-Nya. Bahwa mereka kelak di hari kiamat dimasukkan ke dalam neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Bayyinah [98]: 6)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ وَقُلْتُ أَنَا وَمَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّة.

“Barang siapa mati dalam keadaan menyekutukan Allah dia akan masuk kedalam neraka, barang siapa mati tidak menyekutukan Allah dia akan masuk kedalam syurga.” (HR. Bukhari 4227, Muslim 92)

2.   Apabila Mati Dalam Keadaan Musyrik Pelakunya Akan Kekal Di Dalam Neraka.

Allah ta’ala berfirman:

اِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۗوَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ.

“Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya ialah neraka. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” (Aq. Al-Maidah [5]:72).

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَظَلَمُوا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيقًا . إِلَّا طَرِيقَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا .

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan berbuat zalim, Allah tidak akan mengampuni mereka dan tidak pula memberi mereka petunjuk kepada suatu jalan, kecuali jalan menuju Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.." (QS. An-Nisa'[4]: 168–169)

3.   Kemusyrikan Menghapuskan Pahala Amal Kebaikan Seseorang.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

“Dan Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Az Zumar[39]:65).

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang Telah mereka kerjakan.” (QS Al An’am[6]:88).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِيَ غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

"Aku adalah Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa mengerjakan suatu amalan lalu ia mempersekutukan Aku dengan selain-Ku di dalamnya, maka Aku tinggalkan dia beserta kesyirikannya." (HR. Muslim 2985)

4.   Kemusyrikan Sumber  Petaka di Dunia Sebelum Di Akhirat.

Umat-umat terdahulu mereka di hancurkan karena mereka menyukutukan dengan Allah ta’ala, demikian pula berbagai bencana saat ini terjadi  tidak lain karena manusia banyak menyekutukan Allah.

Allah ta’ala berfirman:

أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَقَوْمِ إِبْرَاهِيمَ وَأَصْحَابِ مَدْيَنَ وَالْمُؤْتَفِكَاتِ ۚ أَتَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ.

"Belumkah sampai kepada mereka berita tentang orang-orang sebelum mereka, yaitu kaum Nuh, 'Ad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan negeri-negeri yang dibalikkan? Rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan bukti-bukti yang nyata. Allah tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri."(QS. At-Taubah[9]: 70).

وَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ.

"Masing-masing mereka Kami siksa karena dosanya. Di antara mereka ada yang Kami kirimi angin yang membawa batu-batu, ada yang ditimpa suara keras, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan. Allah tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri." (QS. Al-'Ankabut: 40)

Sebaliknya jika mereka beriman dan bertakwa Allah akan turunkan kepada mereka keberkahan dari langit dan dari bumi.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ.

“Jikalau penduduk kota-kota beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al A’raf[7]:97).

 

 Dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقَاتِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ اليَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ المُحْصَنَاتِ المُؤْمِنَاتِ الغَافِلاَتِ.

“Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan. Mereka (sahabat) berkata: “Wahai Rasulullah apakah tujuh perkara yang membinasakan itu?” Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan haq, memakan harta anak yatim, memakan riba’, lari dari medan perang (jihad), menuduh berzina wanita baik-baik lagi beriman serta tidak tahu menahu (dengan zina tersebut).” (HR. Bukhari 2766, Muslim 86).

5.   Orang Yang Menyekutukan Allah Adalah Seburuk-Buruk Mahluk di Sisi Allah Dan Telah Sesat Sejauh-Jauhnya.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah[98]:6).

Pelaku kemusyrikan akan disesatkan Allah dengan kesesatan yang jauh, mereka senantiasa di hadapkan dengan kebingungan, karena tidak memiliki sandaran yang kuat, dari situlah syaitan akan membisikan berbagai macam rayuan dan tipuan untuk menyengsarakannya.

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا.

“Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisa’[4]: 116).

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ.  وَاِنَّهُمْ لَيَصُدُّوْنَهُمْ عَنِ السَّبِيْلِ وَيَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ.

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sungguh, mereka (setan-setan itu) benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar, sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (QS. Az-Zukhruf[43]: 37).

6.   Kemusyrikan Akan Memutuskan Dan Menghentikan Berbagai Kebaikan.

Sebagaimana kita ketahui orang musyrik tidak boleh di nikahi, tidak boleh di shalatkan, tidak mewariskan atau menerima waris, tidak halal sembelihannya, dapat memutuskan hubungan suami istri, begitu pula banyak aktivitas berhenti seperti  pambangunan, rencana pernikahan, bepergian semua berhenti karena keyakinan syirik dan menganggap harinya sial atau bulan keramat.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ .

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman..” (QS Al Baqarah [2]: 221).

Allah ta’ala menafikan anggapan sial muncul karena apa yang diyakini oleh orang-orang musyrik tersebut.

قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ . قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ.

Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami bernasib malang Karena kamu, Sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami". Utusan-utusan itu berkata: "Kemalangan kamu adalah Karena kamu sendiri. apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas". (QS. Yaasiin[36]18-19).

Sebenarnya berhala-berhala yang mereka sembah, keyakinan yang mereka buat-buat sama sekali tidak membahayakan mereka sebagaimana hal itu telah di buktikan nabi Ibrahim ‘alaihi sallam.

 

وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا.

”Dan bagaimana mungkin aku takut kepada sesembahan yang kalian persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak pernah menurunkan hujjah (keterangan).” (QS Al-An’am[6]: 81).

Kemudian nabi Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu.

وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ .فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ . قَالُوا مَنْ فَعَلَ هَذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ . قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ . قَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ . قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ . قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ . فَرَجَعُوا إِلَى أَنْفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الظَّالِمُونَ . ثُمَّ نُكِسُوا عَلَى رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَؤُلَاءِ يَنْطِقُونَ. قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ . أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ . قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ . قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ.

“Demi Allah, Sesungguhnya Aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.”   Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: “Siapakah yang melakukan perbuatan Ini terhadap tuhan-tuhan kami, Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim.” Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala Ini yang bernama Ibrahim.” Mereka berkata: “Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.” Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan Ini terhadap tuhan-tuhan kami, Hai Ibrahim?” Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar Itulah yang melakukannya, Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.” Maka mereka Telah kembali kepada kesadaran dan lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).” Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): ”Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) Telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.” Ibrahim berkata: “Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?” “.  Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?” Mereka berkata: "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertinda.” Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (QS Al Anbiyaa[21]: 57-69).

Ini menunjukkan apa yang di puja selain Allah ta’ala sama sekali tidak mampu membela dirinya dan juga tidak bisa membalas ketika di hancurkan atau di hinakan, hal semakna juga di lakukan oleh Khalid bin Walid ketika menghancurkan ‘uzza yang di agungkan orang kafir Qurayis  dan juga sa’ad bin Ziyad Al Asyihali terhadap berhala Munat, yang terletak di Al Musyalal, Qudaid.

Dari Abu Al-Thufail, beliau bercerita:

لمَاَّ فَتَحَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَمَّ مَكَّةَ بَعَثَ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيْدِ إِلَى نخَلْةَ ٍوَكَانَتْ بِهَا الْعُزَّى فَأَتَاهَا خَالِدٌ وَكَانَتْ عَلَى ثَلَاثِ سَمُرَاتٍ فَقَطَعَ السَّمُرَاتِ وَهَدَمَ الْبَيْتَ الَّذِي كَانَ عَلَيْهَا ثُمَّ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ ارْجِعْ فَإِنَّكَ لَمْ تَصْنَعْ شَيْئًا فَرَجَعَ خَالِدٌ فَلَمَّا أَبْصَرَتْ بِهِ السدنة وَهُمْ حجبتها أَمْعَنُوْا فِي الْجَبَلِ وَهُمْ يَقُوْلُوْنَ يَا عُزَّى فَأَتَاهَا خَالِدٌ فَإِذَا هِيَ امْرَأَةٌ عُرْيَانَةٌ ناَشِرَةُ شَعْرِهَا تَحْتَفِنُ التُّرَابَ عَلَى رَأْسِهَا فَعَمَمَهَا بِالسَّيْفِ حَتَّى قَتَلَهَا ثُمَّ رَجَعَ إِلَى النَّبِيِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ تِلْكَ العُزَّى.

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menaklukkan kota Mekah, beliau mengutus Khalid bin al Walid ke daerah Nakhlah, tempat keberadaan berhala ‘Uzza. Akhirnya Khalid mendatangi ‘Uzza, dan ternyata ‘Uzza adalah tiga buah pohon Samurah. Khalid pun lantas menebang ketiga buah pohon tersebut. Ketiga buah pohon tersebut terletak di dalam sebuah rumah. Khalid pun menghancurkan bangunan rumah tersebut. Setelah itu Khalid menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan melaporkan apa yang telah dia kerjakan. Komentar Nabi, ‘Kembalilah karena engkau belum berbuat apa-apa.’ Akhirnya kembali. Tatkala para juru kunci ‘Uzza melihat kedatangan Khalid, mereka menatap ke arah gunung yang ada di dekat lokasi sambil berteriak, “Wahai ‘Uzza. Wahai ‘Uzza.” Khalid akhirnya mendatangi puncak gunung, ternyata ‘Uzza itu berbentuk perempuan telanjang yang mengurai rambutnya. Dia ketika itu sedang menuangkan debu ke atas kepalanya dengan menggunakan kedua telapak tangannya. Khalid pun menyabetkan pedang ke arah jin perempuan ‘Uzza sehingga berhasil membunuhnya. Setelah itu Khalid kembali menemui Nabi dan melaporkan apa yang telah dia kerjakan. Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Nah, itu baru ‘Uzza.” HR. An-Nasa’i, Sunan Kubra , jilid 6 /11547 ini juga di sebutkan di  “Ar-Rahiqul Makhtum”  Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri.

Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dia berkata, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ.

"Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak dibenarkan beranggapan sial, tidak dibenarkan pula beranggapan nasib malang karena burung, juga tidak dibenarkan beranggapan sial di bulan Shafar.” (HR. Bukhari 5757, Muslim 2220).

زَادَ مُسلِمُ: وَلاَ نَوْءَ وَلاَ غُوْلَ.

Imam Muslim menambahkan “Tidak ada bintang dan tidak ada ghul (hantu).”

اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ.

“Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik dan setiap orang pasti terbetik dalam hatinya. Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepadaNya.” (HR. Bukhari di dalam Adabul Mufrad 909, Tirmidzi 1614).

7.   Membuang harta secara sia-sia (Tabdir).

Perbuatan tabdir salah satu perbuatan yang amat disukai oleh syaitan.

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ.

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isra’[17]: 26-27).

Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan:

التَّبْذِيرُ: الْإِنْفَاقُ فِي غَيْرِ حَقٍّ. وَكَذَا قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ.

 وَقَالَ مُجَاهِدٌ: لَوْ أَنْفَقَ إِنْسَانٌ مَالَهُ كُلَّهُ فِي الْحَقِّ، لَمْ يَكُنْ مُبَذِّرًا، وَلَوْ أَنْفَقَ مُدًّا فِي غَيْرِ حَقِّهِ كَانَ تَبْذِيرًا. وَقَالَ قَتَادَةُ: التَّبْذِيرُ: النَّفَقَةُ . فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ تَعَالَى، وَفِي غَيْرِ الْحَقِّ وَفِي الْفَسَادِ.

“Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.” Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Namun jika seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).”

Qatadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, QS Al Isra’[17]:26-27).

8.   Ketakutan di dalam hatinya sehingga melemahkan jiwa dan raga.

Pelaku kemusyrikan akan senantiasa di hantui rasa cemas, kekuatiran, dan ketakutan.

Allah ta’ala menyebutkan di dalam firmanNya:

سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ.

“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan kete­rangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim.” (QS. Ali Imran[3]: 151).


Ketakutan seperti takut kematian, musibah, melanggar aturan yang di buat nenek moyang atau berbagai macam gangguan yang di sebabkan manusia ataupun jin, seperti lupa tidak membawa zimat, merasa kurang di dalam memberikan sesaji, dan lain-lain, rasa ketakutan inilah yang akan selalu memenuhi pikiran orang-orang musyrik, sehingga  sanggat menyiksa di dalam hidupnya, begitu pula rasa takut terhadap musuh-musuhnya,  sebagaimana hal ini terjadi kepada kaum musyrikin pada waktu perang Badar, melihat jumlah kaum muslimin seakan-akan berlipat ganda.

Allah ta’ala berfirman:

قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَى كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ ..

“Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka..” (QS. Al Imran [3]:13).

9.   Menimbulkankan perpecahan bagi manusia.

Kemusyrikan sumber perpecahan bagi manusia, karena setiap orang  akan mengikuti hawa nafsunya.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ.

“Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”  (QS. Arrum[30]:31).

10.                     Kemusyrikan sangat merendahkan akal dan kedudukan manusia.

Manusia di beri kedudukan tinggi untuk memberdayakan alam ini termasuk binatang-binatang yang ada agar di manfaatkan bukan sebaliknya menyembah dan mengagungkannya.

Allah ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ.

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan dia Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS Al Baqarah[2]:29).

Inilah diantara bahaya kemusyrikan yang mengancam pelakunya di dunia dan akhirat, meskipun demikian Allah mengampuni semua dosa seandainya manusia sebenar-benar bertaubat kepada Allah,  baik itu dosa syirik maupun dosa besar lainnya.

Meskipun demikian apa bila pelaku kesyirikan bertobat kepada Allah ta’ala niscaya akan diampuni Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ يَاعِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لاَتَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيم.

Katakanlah: ”Hai hamba-hamba-Ku yang meĀlampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah.Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Az-Zumar[39]:53).

 Demikianlah semoga bermanfaat.

 

 

-----000-----

 

Sragen 27-07-2026

Abu Ibrahim Junaedi

 

 

Sabtu, 25 Juli 2026

MENDIDIK ANAK SESUAI SYARIAT Panduan Orang Tua dalam Mendidik Anak

 


MENDIDIK ANAK SESUAI SYARIAT

Panduan Orang Tua dalam Mendidik Anak

DAFTAR ISI

Muqaddimah (Pengantar)

Bab 1: Kedudukan Anak dan Tanggung Jawab Orang Tua

Bab 2: Kelembutan Sebagai Landasan Utama Mendidik

Bab 3: Keteladanan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Mengasihi Anak

Bab 4: Kapan dan Bagaimana Orang Tua Boleh Bersikap Tegas?


 

MUQADDIMAH (PENGANTAR)

الْمُقَدِّمَةُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ،

Segala puji hanya milik Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampunan kepada-Nya, dan berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kita serta keburukan amal-amal kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Barang siapa disesatkan oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat. Amma ba'du.

Di antara nikmat Allah yang paling besar setelah nikmat Islam dan iman adalah dikaruniai keturunan yang shalih. Anak merupakan penyejuk mata (qurrata 'ayun), penerus pahala amal saleh setelah kita wafat, sekaligus amanah yang sangat besar yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Banyak orang tua mengaku mencintai anak-anak mereka, namun tidak sedikit yang keliru dalam mengekspresikan rasa cinta tersebut:

Ada yang mendidik dengan Keras: Menganggap mendidik harus selalu dengan bentakan, suara keras, pencelaan, bahkan pukulan karena mengira itulah cara agar anak disiplin.

Ada juga yang membiarkan: Menuruti seluruh keinginan anak atas dalih kasih sayang, sehingga anak tidak memiliki kendali diri dan tumbuh menjadi pribadi yang rusak.

Islam datang membawa petunjuk yang seimbang (wasathiyah). Jika kita membuka sirah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kita mendapati beliau adalah manusia paling lembut, penuh kasih sayang, namun juga tegas pada tempatnya.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا ﴾

Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang sangat baik bagi orang yang mengharap Allah dan hari Akhir serta banyak mengingat Allah (QS. Al-Ahzab[33]: 21).

Sedikit tulisan ini disusun untuk membantu para orang tua memahami kaidah utama pengasuhan Islam: menjadikan kelembutan sebagai pintu utama dan ketegasan sebagai benteng penyelamat.

 

BAB 1: KEDUDUKAN ANAK DAN TANGGUNG JAWAB ORANG TUA

1.   Anak Adalah Amanah Utama

Pendidikan anak bukanlah sekadar tugas sampingan, melainkan kewajiban syar'i untuk menyelamatkan mereka dari kebinasaan dunia dan akhirat. Allah Ta'ala berfirman:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَالَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim[66]: 6).

Penjelasan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu:

عَلِّمُوهُمْ وَأَدِّبُوهُمْ .

Ajarilah mereka ilmu agama dan didiklah mereka dengan adab yang baik.

Qatadah mengatakan bahwa engkau perintahkan mereka untuk taat kepada Allah dan engkau cegah mereka dari perbuatan durhaka terhadap­Nya. Dan hendaklah engkau tegakkan terhadap mereka perintah Allah dan engkau anjurkan mereka untuk mengerjakannya serta engkau bantu mereka untuk mengamalkannya. Dan apabila engkau melihat di kalangan mereka terdapat suatu perbuatan maksiat terhadap Allah, maka engkau harus cegah mereka darinya dan engkau larang mereka melakukannya.(Tafsir Ibnu Katsir, QS. At-Tahrim [66]:6).

2.   Bahaya Mengabaikan Pendidikan Anak

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

فَمن أهمل تَعْلِيم وَلَده مَا يَنْفَعهُ وَتَركه سدى فقد أَسَاءَ إِلَيْهِ غَايَة الْإِسَاءَة وَأكْثر الْأَوْلَاد إِنَّمَا جَاءَ فسادهم من قبل الْآبَاء وإهمالهم لَهُم وَترك تعليمهم فَرَائض الدّين وسننه فأضاعوهم صغَارًا فَلم ينتفعوا بِأَنْفسِهِم وَلم ينفعوا آبَاءَهُم كبارًا كَمَا عَاتب بَعضهم وَلَده على العقوق فَقَالَ يَا أَبَت إِنَّك عققتني صَغِيرا فعققتك كَبِيرا وأضعتني وليدا فأضعتك شَيخا

"Barang siapa mengabaikan pendidikan anaknya dalam perkara yang bermanfaat baginya dan membiarkannya terlantar, maka sungguh ia telah berbuat seburuk-buruk perlakuan terhadap anaknya. Kebanyakan kerusakan yang menimpa anak-anak berasal dari orang tua mereka, karena mereka mengabaikan anak-anaknya, tidak mengajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya. Akibatnya, mereka menyia-nyiakan anak-anak itu sejak kecil. Maka ketika dewasa, anak-anak itu tidak memberikan manfaat bagi diri mereka sendiri dan tidak pula bermanfaat bagi orang tua mereka. Sebagaimana seorang ayah pernah mencela anaknya karena durhaka, lalu sang anak berkata, 'Wahai Ayahku, engkau telah mendurhakaiku ketika aku masih kecil, maka aku pun mendurhakaimu ketika engkau telah tua. Engkau telah menyia-nyiakanku ketika aku masih kecil, maka aku pun menyia-nyiakanmu ketika engkau telah lanjut usia.'" (Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, karya Ibnul Qayyim1/229)

BAB 2

KELEMBUTAN SEBAGAI LANDASAN UTAMA MENDIDIK

Hukum asal dalam pengasuhan menurut Islam adalah kelembutan (ar-rifq). Hati anak-anak diciptakan dalam keadaan lemah dan subur; ia lebih cepat disentuh dengan kasih sayang daripada kekerasan.

Diantara pentingnya orang tua bersikap lemah lembut yaitu:

1.   Kelembutan Adalah Akhlak yang Dicintai Allah

Allah Memuji Kelembutan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

﴿ فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ﴾

Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekelilingmu (QS. Ali 'Imran[3]: 159).

Jika orang dewasa para sahabat saja sebaik-baik generasi perlu diperlakukan dengan lemah lembut, terlebih anak kecil tentu lebih berhak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ.

“Sayangilah orang-orang yang ada di bumi, maka kamu akan di sayangi Dzat yang ada di atas langi.” (HR. Tirmidzi no 1924, Baihaqi no. 17905, Dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Ash Shahihah no. 925).

 

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ، وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ.

Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan. Allah memberikan karena kelembutan sesuatu yang tidak Dia berikan karena kekerasan dan tidak pula karena selainnya (HR. Muslim no. 2593).

Dalam riwayat yang lain dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata:

اسْتَأْذَنَ رَهْطٌ مِنَ الْيَهُودِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالُوا: السَّامُ عَلَيْكَ، فَقُلْتُ: بَلْ عَلَيْكُمُ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ، فَقَالَ: يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ. قُلْتُ: أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟, قَالَ: قَدْ قُلْتُ: وَعَلَيْكُمْ.

"Sekelompok orang Yahudi meminta izin menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu mereka mengucapkan, 'As-samu 'alaika (semoga kematian menimpamu).' Aku pun berkata, 'Bahkan semoga kematian dan laknat menimpa kalian.' Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan.' Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mendengar apa yang mereka ucapkan?' Beliau menjawab, 'Aku telah menjawab mereka dengan mengatakan: Wa 'alaikum (dan atas kalian juga).” (HR. Al-Bukhari no. 6024 dan Muslim no. 2165)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan:

هَذِهِ الْأَحَادِيثِ فَضْلُ الرِّفْقِ وَالْحَثُّ عَلَى التَّخَلُّقِ وَذَمُّ الْعُنْفِ وَالرِّفْقُ سَبَبُ كُلِّ خَيْرٍ.

Hadits ini menjelaskan bahwa kelembutan merupakan sebab datangnya seluruh kebaikan (Syarh Shahih Muslim, 16/145).

2.   Kelembutan Adalah Cara Efektif Menyampaikan Nasihat

Al-Qur'an mengajarkan betapa agungnya pengaruh kelembutan melalui dalil-dalil berikut:

Perintah kepada nabi Musa dan Harun ‘alaihima salam Berkata Lembut kepada Fir'aun:

﴿ فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى ﴾

Maka berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut. Mudah-mudahan ia sadar atau takut (QS. Thaha [20] : 44).

As-Sa'di rahimahullah berkata:

أَيْ سَهْلًا لَطِيفًا، بِرِفْقٍ وَلِينٍ وَأَدَبٍ فِي اللَّفْظِ، مِنْ دُونِ فُحْشٍ وَلَا صَلَفٍ، وَلَا غِلْظَةٍ فِي الْمَقَالِ، وَلَا فَظَاظَةٍ فِي الْأَفْعَالِ.

"Yakni, dengan perkataan yang mudah, lembut, penuh kelembutan, santun, dan beradab dalam ucapan; tanpa kata-kata yang keji, tanpa kesombongan, tanpa kekasaran dalam berbicara, dan tanpa sikap kasar dalam perbuatan." (Tafsir Taisir Al-Karim Ar-Raḥman fī Tafsir Kalam Al-Mannan, QS. Thaha [20] : 44).

Hal ini karena tidaklah setiap jiwa mudah dalam menerima kebenaran, bahkan kebanyakan manusia berat menerima, bagaimana lagi jika dengan cara yang kasar dan kaku tentu lebih sulit lagi demikian pula dengan anak-anak.

3.   Kelembutan Orang Tua Kebaikan Kebaikan Yang Allah Kehendaki.

Allah membukakan kemudahan pengasuhan melalui kelembutan lisan dan sikap yang tidak bisa dicapai dengan ancaman.

Dari Aisyah bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إذاَ أرَادَ الله بأِهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أدْخَلَ عَلَيْهِمُ الرِّفْقَ .

“Jika Allah menghendaki suatu keluarga kebaikan maka Allah memasukkan kepada mereka sikap lemah lembut.” (HR. Al-Baihaqi no. 6140, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami no. 303).

Seseorang akan terhalangi dari kebaikan manakala dia tidak memiliki sifat kelembutan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ .

"Barang siapa dihalangi dari kelembutan, maka ia telah dihalangi dari kebaikan." (HR. Muslim no. 2592, Abu Dawud 4809).

Demikian pentingnya orang tua harus menerapkan di dalam mendidik anaknya dengan cara yang lemah lembut.

BAB 3

KETELADANAN RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM DALAM MENGASIHI ANAK

Sebagian orang mengira bahwa seorang ayah harus selalu berwajah galak agar berwibawa. Namun, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam—pemimpin umat dan panglima perang—justru menampilkan kasih sayang yang besar kepada anak-anak, di antaranya dalil berikut ini:

1.   Menyapa dan Menghargai Perasaan Anak

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu bercerita bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sering bercanda dengan adiknya yang kecil:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ يُخَالِطُنَا، حَتَّى يَقُولَ لِأَخٍ لِي صَغِيرٍ: يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ.؟

Rasulullah sering bergaul dengan kami, hingga beliau pernah bersabda kepada adik kecilku: Wahai Abu 'Umair, bagaimana burung kecilmu? (HR. Al-Bukhari no. 6129, Tirmidzi 1989, Abu Dawud 4969).

Pentingnya orang tua menghibur dan menghargai perasaan anak kecil.

2.   Mengungkapkan Kasih Sayang Secara Fisik

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mencium cucunya Hasan bin Ali. Ketika Al-Aqra' bin Habis merasa heran karena tak pernah mencium 10 anaknya, Nabi bersabda:

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ.

Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi (HR. Al-Bukhari no. 5997, Muslim no. 2318, Tirmidzi no. 1911, Abu Dawud no.  5218).

3.   Memperhatikan Anak Kecil Meskipun Dalam Keadaan Shalat.

Bolehnya menggendong anak kecil meskipun sedang shalat.

Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلِأَبِي الْعَاصِ بْنِ الرَّبِيعِ، فَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا، وَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا.

Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat sambil menggendong Umamah binti Zainab, putri Zainab binti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dari suaminya Abul 'Ash bin Ar-Rabi'. Apabila beliau berdiri, beliau menggendongnya, dan apabila beliau sujud, beliau meletakkannya. (HR. Al-Bukhari no. 516 dan Muslim no. 543, Abu Dawud no. 917)

Memperlama Sujud karena ada anak kecil.

Dari Syaddad bin Al-Had radhiyallahu 'anhu, beliau berkata "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar mengimami kami pada salah satu shalat sore (Ashar atau Isya) sambil menggendong Hasan atau Husain. Beliau meletakkannya, kemudian bertakbir memulai shalat. Di tengah shalat beliau melakukan satu sujud yang sangat lama. Aku mengangkat kepalaku, ternyata anak kecil itu sedang berada di atas punggung Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau sujud. Maka aku kembali bersujud. Setelah shalat selesai, para sahabat berkata, 'Wahai Rasulullah, engkau melakukan satu sujud yang sangat lama.' Beliau bersabda:

كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ، وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي، فَكَرِهْتُ أَنْ أُعْجِلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ.

'Tidaklah demikian. Akan tetapi anakku ini menaiki punggungku, maka aku tidak suka tergesa-gesa menurunkannya hingga ia selesai dengan keinginannya.(HR. Ahmad no. 695, An-Nasa'i no. 731, At-Tabrani 7107 dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud 923).

Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي لَأَقُومُ فِي الصَّلَاةِ أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي، كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ.

"Sesungguhnya aku berdiri dalam shalat dengan maksud ingin memanjangkannya. Lalu aku mendengar tangisan seorang bayi, maka aku meringankan shalatku karena aku tidak ingin memberatkan ibunya."(HR. Al-Bukhari no. 707, Ahmad no. 22602, Abu Dawud no. 789, )

4.   Tidak Diperkenankan Menggunakan Fisik Untuk Melampiaskan Emosi

Aisyah radhiyallahu 'anha menegaskan:

مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً، وَلَا خَادِمًا، إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللهِ .

Rasulullah tidak pernah memukul sesuatu pun dengan tangan beliau, tidak pula seorang perempuan dan tidak pula seorang pembantu, kecuali ketika berjihad di jalan Allah (HR. Muslim no. 2328).

 

BAB 4

KAPAN DAN BAGAIMANA ORANG TUA BOLEH BERSIKAP TEGAS?

Islam adalah agama yang seimbang (wasathiyah). Mendidik tanpa kelembutan melahirkan kekerasan, namun mendidik tanpa ketegasan melahirkan pemanjaan yang merusak, menjadikan anak tidak memiliki rasa tanggung jawab.

Ketegasan bukan kekasaran, melainkan wujud perlindungan dan penegakan batas hukum.

1. Kondisi Orang Tua Wajib dan Boleh Bersikap Tegas

1)  Menyangkut Ibadah Utama (Shalat)

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا، وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ.

Perintahkan anak-anakmu untuk melaksanakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah (dengan pukulan ketegasan/mendidik) mereka karena meninggalkannya ketika mereka berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur di antara mereka (HR. Abu Dawud no. 495, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami’ no. 5868).

Fikih Hadits: Ada jenjang bertahap (tadarruj) selama 3 tahun sebelum tindakan tegas diberlakukan.

2)  Menjaga Anak dari Harta Haram dan Kemungkaran

Saat Hasan bin Ali mengambil sebutir kurma zakat dan memasukkannya ke mulut, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menegurnya dengan tegas seketika:

أَخَذَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ تَمْرَةً مِنْ تَمْرِ الصَّدَقَةِ، فَجَعَلَهَا فِي فِيهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كِخْ كِخْ، ارْمِ بِهَا، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّا لَا نَأْكُلُ الصَّدَقَةَ.؟

Hasan bin Ali mengambil sebutir kurma dari kurma sedekah (zakat) lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (dengan tegas): Kikh! Kikh! (keluarkanlah!), buang kurma itu! Tidakkah engkau tahu bahwa kita (keluarga Nabi) tidak boleh memakan harta sedekah? (HR. Al-Bukhari no. 1491, Muslim no. 1069).

3)  Saat Anak Membangkang atau Rusak Adabnya

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

عَلِّقُوا السَّوْطَ حَيْثُ يَرَاهُ أَهْلُ الْبَيْتِ، فَإِنَّهُ أَدَبٌ لَهُمْ.

Gantungkanlah cambuk di tempat yang dapat dilihat oleh penghuni rumah, karena hal itu merupakan ajaran adab bagi mereka (HR. Ath-Thabrani No. 10669 dihasankan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami’ no. 4022).

Hadits ini adalah simbol kewibawaan dan adanya batasan aturan di rumah.

4)  Saat Perilaku Anak Membahayakan Diri atau Orang Lain

Apa bila anak memegang atau melakukan sesuatu yang dapat membahayakan dirinya atau orang lain hendaknya orang tua bersikap tegas dan menghentikan.

Berdasarkan kaidah fikih:

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ .

Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain (HR. Ibn Majah no. 2340, di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami’ no.7517).

2.   Aturan Syariat dalam Memberikan Hukuman dan Ketegasan

Jika ketegasan membutuhkan bentuk teguran fisik (adh-dharb) atau hukuman disiplin, wajib memenuhi kaidah syariat berikut:

Kaidah-Kaidah Penting dalam Memberikan Hukuman kepada Anak

1. Niat Mendidik (Ta'dīb), Bukan Melampiaskan Emosi

Hukuman yang diberikan kepada anak harus dilandasi niat untuk mendidik, memperbaiki perilaku, dan mengarahkan kepada kebaikan, bukan sebagai pelampiasan kemarahan atau emosi orang tua.

2. Dilakukan Secara Bertahap (At-Tadarruj)

Syariat mengajarkan agar pendidikan dan hukuman dilakukan secara bertahap. Dimulai dengan memberikan nasihat dan penjelasan, kemudian teguran, selanjutnya hajr (mendiamkan apabila bermanfaat), dan apabila diperlukan barulah diberikan hukuman yang ringan sesuai tuntunan syariat.

3. Dilarang Memukul Wajah

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا ضَرَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْتَنِبِ الْوَجْهَ

"Apabila salah seorang di antara kalian memukul, hendaklah ia menghindari wajah." (HR. Ahmad no. 7323).

Hadits ini menunjukkan bahwa wajah merupakan bagian tubuh yang dimuliakan sehingga tidak boleh dijadikan sasaran pukulan.

4. Tidak Boleh Menimbulkan Luka atau Cedera

Apabila syariat membolehkan hukuman fisik dalam kondisi tertentu, maka hukuman tersebut tidak boleh menyebabkan memar, luka, pendarahan, patah tulang, atau bahaya lainnya. Para ulama menyebutnya dengan istilah:

ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ

"Pukulan yang tidak menyakitkan dan tidak menimbulkan cedera."

5. Memperhatikan Batas Usia Anak

Anak yang belum mencapai usia sepuluh tahun tidak boleh diberikan hukuman fisik

Dengan demikian, hukuman fisik bukanlah metode yang diterapkan kepada anak di bawah usia sepuluh tahun. Sebelum usia tersebut, pendidikan hendaknya lebih ditekankan melalui keteladanan, nasihat, pembiasaan, kasih sayang, dan kelembutan.

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

-----000-----

 

Sragen 25-07-2026

Abu Ibrahim Junaedi.

 


BAB 4 MACAM-MACAM SYIRIK BESAR. SOAL: 20 BAHAYA SYIRIK BESAR

  BAB 4 MACAM-MACAM SYIRIK BESAR. SOAL: 20 BAHAYA SYIRIK BESAR س ٢٠ - مَا هِيَ ضَرَرُ الشِّرْكِ الأَكْبَرِ ؟ Soal 20 Apa bahaya sy...