MUJMAL USUL AHLISUNNAH WAL JAMA'AH. BAB 1 NO 5
٥- التَّسْلِيمُ
لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ ﷺ
ظَاهِرًا وَبَاطِنًا فَلَا يُعَارَضُ شَيْءٌ مِنَ الْكِتَابِ أَوِ السُّنَّةِ الصَّحِيحَةِ
بِقِيَاسٍ وَلَا ذَوْقٍ وَلَا كَشْفٍ وَلَا قَوْلِ شَيْخٍ وَلَا إِمَامٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ.
5.Berserah diri kepada Allah dan
Rasul-Nya baik secara lahir maupun batin. Maka tidak boleh menentang sesuatu
pun dari Al-Qur’an atau Sunnah yang sahih dengan qiyas, perasaan (selera),
klaim kasyaf, pendapat seorang syaikh, imam, atau yang semisalnya.
Penjelasan:
1.
Seorang
muslim hendaknya berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya baik secara lahir dan
batin.
Allah ta’ala berfirman:
فَلَا
وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ
لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman
sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang
mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati
mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan
sepenuhnya.” (QS.An-Nisa[4]:65).
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ
أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ
وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
“Tidaklah pantas bagi laki-laki mukmin dan tidak pula
bagi perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu
ketetapan, lalu mereka masih mempunyai pilihan yang lain dalam urusan mereka.
Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia telah tersesat
dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahzab[33]: 36).
Meskipun ayat ini sebab turunnya
berkaitan dengan Zainab binti Jahsy dengan Zaid ibnu
Harisah radhiyallahu ‘anhu namun, kaedah
menyebutkan:
العِبْرَةُ بِعُمُومِ اللَّفْظِ لَا بِخُصُوصِ السَّبَبِ.
“Yang menjadi patokan adalah keumuman lafaz, bukan
kekhususan sebab.”
Dari
abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ
بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ
وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ.
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya,
tidaklah seorang pun dari umat ini baik Yahudi maupun Nasrani mendengar tentang
aku, kemudian ia meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada ajaran yang
aku bawa, melainkan ia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim No. 153, Ahmad
No. 8203).
2.
Orang-orang
yang berserah diri akan mendapatkan keberuntungan.
Allah berfirman:
وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا
عَظِيْمًا.
“Siapa
yang menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia menang dengan kemenangan yang
besar.” (QS. Al-Ahzab[33]:71).
Ketika
perang Badar kubra para sahabat mengikuti petunjuk Rasulullah, mereka
mendapatkan kemenangan yang besar.
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ
فَاسْتَجابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُرْدِفِينَ-
إلى قوله- إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
(Ingatlah) ketika kalian memohon pertolongan kepada Tuhan kalian, lalu
diperkenankan-Nya bagi kalian, "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala
bantuan kepada kalian dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut."
(QS. Al-Anfal [8]: 9).
3.
Berserah diri terhadap Allah dan Rasul-Nya mencakup
perintah dan larangan.
Seperti yang terjadi pada pada perang Badar dan Uhud, Allah ta’ala
berfirman:
اَلَّذِيْنَ
اسْتَجَابُوْا لِلّٰهِ وَالرَّسُوْلِ مِنْۢ بَعْدِ مَآ اَصَابَهُمُ الْقَرْحُ ۖ
لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا اَجْرٌ عَظِيْمٌۚ اَلَّذِيْنَ قَالَ
لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ
اِيْمَانًاۖ وَّقَالُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ فَانْقَلَبُوْا
بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوْۤءٌۙ وَّاتَّبَعُوْا
رِضْوَانَ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ ذُوْ فَضْلٍ عَظِيْمٍ
(yaitu)
orang-orang yang memenuhi (seruan) Allah dan Rasul setelah mereka menderita
luka-luka (dalam Perang Uhud). Orang-orang yang berbuat kebaikan dan bertakwa
di antara mereka akan mendapat pahala yang sangat besar, (yaitu) mereka yang (ketika ada) orang-orang
mengatakan kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan
(pasukan) untuk (menyerang) kamu. Oleh karena itu, takutlah kepada mereka,”
ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab,
“Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” Mereka
kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah. Mereka tidak ditimpa suatu
bencana dan mereka mengikuti (jalan) rida Allah. Allah mempunyai karunia yang
besar.” (QS. Al-Imran[3]:172-174).
Kisah
nabi Musa alaihi sallam ketika dikejar Fir’aun.
Allah
ta’ala berfirman:
فَلَمَّا
تَرٰۤءَا الْجَمْعٰنِ قَالَ اَصْحٰبُ مُوْسٰٓى اِنَّا لَمُدْرَكُوْنَ ۚ قَالَ
كَلَّا ۗاِنَّ مَعِيَ رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ فَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنِ
اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْبَحْرَۗ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ
الْعَظِيْمِ ۚ وَاَزْلَفْنَا ثَمَّ الْاٰخَرِيْنَ ۚ
“Ketika
kedua golongan itu saling melihat, para pengikut Musa berkata, “Sesungguhnya
kita benar-benar akan tersusul.” Dia
(Musa) berkata, “Tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia akan menunjukiku.” Lalu,
Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah laut dengan tongkatmu itu.” Maka,
terbelahlah (laut itu) dan setiap belahan seperti gunung yang sangat besar.”
(QS. As-Syu’ara [26]:61-63).
4.
Berserah diri kepada Allah secara lahir dan
batin.
Apa
bila seseorang menampakkan secara lahir kebaikannya saja sementara hatinya
menyimpan permusuhan maka ini adalah sifat orang munafik.
Allah
ta’ala berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ
مَنْ يَّقُوْلُ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَبِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَمَا هُمْ
بِمُؤْمِنِيْنَۘ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۚ وَمَا
يَخْدَعُوْنَ اِلَّآ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَۗ فِيْ قُلُوْبِهِمْ
مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۢ ەۙ بِمَا
كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ.
“Di
antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari Akhir,”
padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang mukmin. Mereka menipu
Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri
tanpa mereka sadari. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah
penyakitnya dan mereka mendapat azab yang sangat pedih karena mereka selalu
berdusta.” (QS. Al-Baqarah [2]:8-10).
Adapun
jika seseorang menerima secara batin namun lahirnya tidak mau tunduk dan
melaksanakan perintah Allah maka mereka sebagaimana Abu Thalib, tidak
menjadikan dirinya Islam.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ
اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلاَ صُوَرِكُـمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى
قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ.
“Sesungguhnya
Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta-harta kalian, akan tetapi
Allah melihat kepada hati-hati kalian dan amal-amal kalian.”(HR. Muslim 2564).
5. Pembangkangan kepada Allah dan
Rasul-Nya akan membawa kepada keburukan dunia maupun akhirat.
Hal
ini sebagaimana di lakukan umat terdahulu dan sebagian sahabat tatkala terjadi
perang Uhud.
Allah
ta’ala berfirman:
اَوَلَمَّآ اَصَابَتْكُمْ مُّصِيْبَةٌ قَدْ اَصَبْتُمْ
مِّثْلَيْهَاۙ قُلْتُمْ اَنّٰى هٰذَا ۗ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اَنْفُسِكُمْ ۗ
اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Apakah
ketika kamu ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud), padahal kamu telah
memperoleh (kenikmatan) dua kali lipatnya (pada Perang Badar), kamu berkata,
“Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu
sendiri.” Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS.
Al-Imran[3]:165).
إِنَّ
الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ كُبِتُوا كَمَا كُبِتَ الَّذِينَ مِنْ
قَبْلِهِمْ.
“Sesungguhnya orang-orang yang menentang
Allah dan Rasul-Nya pasti mendapat kehinaan, sebagaimana orang-orang yang
sebelum mereka telah mendapat kehinaan.”(QS. Al-Mujadilah[58]: ayat 5).
وَمَنْ
يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ
سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ
مَصِيرًا.
“Dan barang siapa menentang Rasul
(Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan
jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah
dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan Jahannam
itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa [4]: 115).
6. Tidak mempertentangkan
Al-Qur’an dan Sunnah dengan kiyas.
Seperti ucapan masyhur:
لاَ قِيَاسَ مَعَ النَّصِّ.
“Tidak ada qiyas apabila sudah
ada nash (dalil yang tegas).”
7. Tidak mempertentangkan
Al-Qur’an dan Sunnah dengan perasaan.
Seperti hadits lalat pada minuman,
Nabi Musa memukul Malaikat Maut, membersihkan tangan setelah tidur, ayat
tentang warisan, poligami dll.
8. Tidak mempertentangkan
Al-Qur’an dan Sunnah dengan pengakuan dapat menyingkap takbir ghaib.
9. Tidak mempertentangkan
Al-Qur’an dan Sunnah dengan pendapat seorang syaikh atau imam.
10.
Tidak mempertentangkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan
adat-istiadat ataupun organisasi dll.
Semoga bermanfaat.
-----000-----
Sragen 20-05-2026
Abu Ibrahim Junaedi.