MUJMAL USUL BAB 1 NO 8.
٨- الْعِصْمَةُ ثَابِتَةٌ لِلرَّسُولِ
وَالْأُمَّةُ فِي مَجْمُوعِهَا مَعْصُومَةٌ مِنَ الِاجْتِمَاعِ عَلَى ضَلَالَةٍ
وَأَمَّا آحَادُهَا فَلَا عِصْمَةَ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ. وَمَا اخْتُلِفَ فِيهِ
الْأَئِمَّةُ وَغَيْرُهُمْ فَمَرْجِعُهُ إِلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مَعَ
الِاعْتِذَارِ لِلْمُخْطِئِ مِنْ مُجْتَهِدِي الْأُمَّةِ.
8.Kemaksuman (terjaga dari kesalahan) ditetapkan
bagi Rasul. Adapun umat ini secara keseluruhan terjaga dari kesepakatan di atas
kesesatan. Namun individu-individu dari umat ini tidak ada yang
ma‘shum(terjaga). Perbedaan pendapat di kalangan para imam dan selain mereka
maka kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, disertai sikap memaafkan terhadap
pejuang dari umat ini yang keliru.
Penjelasan:
1.
Semua Nabi Dan Rasul
Mereka Adalah Maksum, Meskipun Mereka Memiliki Kesalahan.
Adapun yang dimaksud maksum yaitu:
1.
Maksum dari kesalahan menyampaikan
risalah.
2.
Maksum dari dosa-dosa besar.
3.
Maksum dari dosa-dosa kecil yang
dilakukan terus-menerus.
Sebagaimana nabi Adam telah memakan buah di
Surga.
Allah ta’ala berfirman:
وَقُلْنَا
يٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ
شِئْتُمَاۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ
فَاَزَلَّهُمَا الشَّيْطٰنُ عَنْهَا فَاَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيْهِ ۖ
وَقُلْنَا اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۚ وَلَكُمْ فِى الْاَرْضِ
مُسْتَقَرٌّ وَّمَتَاعٌ اِلٰى حِيْنٍ
Kami
berfirman, “Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, makanlah
dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu, dan janganlah kamu
dekati pohon ini, sehingga kamu termasuk orang-orang zalim!, Lalu, setan
menggelincirkan keduanya darinya sehingga keduanya dikeluarkan dari segala
kenikmatan ketika keduanya ada di sana (surga). Kami berfirman, “Turunlah kamu!
Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain serta bagi kamu ada tempat tinggal
dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Al-Baqarah
[2]:35-36).
Allah
berfirman tentang nabi Hud:
وَنَادٰى نُوْحٌ رَّبَّهٗ فَقَالَ رَبِّ اِنَّ ابْنِيْ مِنْ
اَهْلِيْۚ وَاِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَاَنْتَ اَحْكَمُ الْحٰكِمِيْنَ قَالَ
يٰنُوْحُ اِنَّهٗ لَيْسَ مِنْ اَهْلِكَ ۚاِنَّهٗ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا
تَسْـَٔلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنِّيْٓ اَعِظُكَ اَنْ تَكُوْنَ مِنَ
الْجٰهِلِيْنَ. قَالَ رَبِّ اِنِّيْٓ اَعُوْذُ بِكَ اَنْ
اَسْـَٔلَكَ مَا لَيْسَ لِيْ بِهٖ عِلْمٌ ۗوَاِلَّا تَغْفِرْ لِيْ وَتَرْحَمْنِيْٓ
اَكُنْ مِّنَ الْخٰسِرِيْنَ
Nuh
memohon kepada Tuhannya seraya berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah
termasuk keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah
hakim yang paling adil.” Dia (Allah) berfirman, “Wahai Nuh, sesungguhnya dia
bukanlah termasuk keluargamu karena perbuatannya sungguh tidak baik. Oleh
karena itu, janganlah engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau
ketahui (hakikatnya). Sesungguhnya Aku menasihatimu agar engkau tidak termasuk
orang-orang bodoh.” (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung
kepada-Mu untuk memohon sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau
Engkau tidak mengampuniku dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya
aku termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Hud [11]:45-47).
Allah
ta’ala berfirman tentang nabi Musa:
فَوَكَزَهُ مُوسَىٰ فَقَضَىٰ عَلَيْهِ ۖ قَالَ هَٰذَا مِنْ عَمَلِ
الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُّبِينٌ قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ
نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي ۖ فَغَفَرَ لَهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
"Lalu Musa meninjunya, maka matilah orang itu.
Musa berkata, 'Ini termasuk perbuatan setan. Sungguh, setan adalah musuh yang
menyesatkan lagi nyata.' Musa berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah
menzalimi diriku, maka ampunilah aku.' Lalu Allah mengampuninya. Sesungguhnya
Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Qasas[28]: 15–16).
Nabi Yunus alaihi salam.
Allah ta’ala berfirman:
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوتِ إِذْ نَادَىٰ
وَهُوَ مَكْظُومٌ.
"Maka bersabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu dan
janganlah engkau seperti orang yang berada di dalam ikan (Yunus), ketika ia
berdoa sedang ia penuh dengan kesedihan." (QS. Al-Qalam [68]:48).
وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ
فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي
كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ.
"Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia
pergi dalam keadaan marah, lalu ia mengira bahwa Kami tidak akan menyempitkan
(menguji) dirinya. Kemudian ia berdoa dalam kegelapan, 'Tidak ada sesembahan
yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk
orang-orang yang zalim.”(QS. Al-Anbiya [21]:87).
Allah ta’ala juga berfirman tentang Nabi
Muhammad:
عَبَسَ
وَتَوَلّٰىٓۙ اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ
اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ
"Dia (Nabi Muhammad) berwajah masam dan
berpaling, karena seorang tunanetra (Abdullah bin Ummi Maktum) telah datang
kepadanya. Tahukah engkau (Nabi Muhammad) boleh jadi dia ingin menyucikan
dirinya (dari dosa) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran sehingga pengajaran
itu bermanfaat baginya?.” (QS. ‘Abasa [80]:1-4).
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ ۖ تَبْتَغِي
مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang
Allah halalkan bagimu, karena engkau hendak mencari keridaan istri-istrimu? Dan
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. At-Tahrim [66]: 1)
Perkataan para ulama.
فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عَصَمَ رُسُلَهُ؛ لِأَنَّهُمْ أُمَنَاءُ
وَحْيِهِ إِلَى عِبَادِهِ، وَجَعَلَهُمْ قُدْوَةً لِمَنْ آمَنَ بِهِمْ
وَاتَّبَعَهُمْ مِنْ خَلْقِهِ، فَالْحِكْمَةُ تَقْتَضِي أَنْ يَكُونُوا
مَعْصُومِينَ،
"Sesungguhnya
Allah 'Azza wa Jalla telah menjaga para rasul-Nya, karena mereka adalah para
pemegang amanah wahyu-Nya yang disampaikan kepada hamba-hamba-Nya. Allah juga
menjadikan mereka sebagai teladan bagi siapa saja yang beriman kepada mereka
dan mengikuti mereka dari kalangan makhluk-Nya. Hikmah Allah menuntut agar mereka bersifat ma'shum
(terjaga). (Lajnatu al-Fatwa bi asy-Syabakah al-Islamiyyah 1/1306).
أَجْمَعَ أَهْلُ الْمِلَلِ وَالشَّرَائِعِ عَلَى عِصْمَةِ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ
تَعَمُّدِ الْكَذِبِ فِيمَا دَلَّ عَلَى صِدْقِهِمْ فِيهِ،.
"Seluruh penganut agama-agama dan syariat-syariat
telah bersepakat bahwa para nabi ma'shum (terpelihara) dari perbuatan sengaja
berdusta dalam perkara-perkara yang menjadi bukti kebenaran mereka." ) Da‘watu
ar-Rusuli ‘Alaihimus Salam Ahmad Ahmad Ghulusy 1/545).
2.
Umat Secara Keseluruhan Terjaga Dari
Kesalahan.
Allah
ta’ala berfirman:
وَكَذَلِكَ
جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ
الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا.
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (para sahabat)
umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia,
dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas kalian.” (QS. Al-Baqarah[2]: 143).
وَمَنْ يُّشَاقِقِ
الرَّسُوْلَ مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدٰى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ
سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهٖ مَا تَوَلّٰى وَنُصْلِهٖ جَهَنَّمَۗ
وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًا.
”Siapa yang menentang Rasul (Nabi Muhammad) setelah jelas
kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami
biarkan dalam kesesatannya dan akan Kami masukkan ke dalam (neraka) Jahanam.
Itu seburuk-buruk tempat kembali.” ( QS. An-Nisa [4]:115).
Imam Syafi’i berkata, menyelisihi jalan kaum mukminin yaitu ijma’ kaum
muslimin.
Dari sahabat Annas radhiyallahu‘anhu Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
إنَّ اللَّهَ لَا
يَجْمَعُ هَذِهِ الْأُمَّةَ عَلَى ضَلَالَةٍ أَبَدًا.
“Sesungguhnya
Allah tidak akan mengumpulkan umat ini di atas kesesatan selamanya.” (HR. Ibnu
Majah 3940, al-Hakim 201-202, at- Tirmidzi 2269 dan diShahihkan syaikh
al-Albani di dalam Shahihul Jami’ 1848, al-Misykah 173).
Seperti
ijma’nya Allah di atas Arsy, haramnya musik, dan lain-lain.
3. Tidak Ada Individu Yang Maksum Setelah
Para Nabi Dan Rasul.
Adapun orang-orang yang mengeklaim maksum imam
mereka yaitu:
1) Orang-orang syi’ah.
Salah satu ajaran utama dalam teologi Syiah Imamiyah adalah
keyakinan bahwa para imam dari keturunan Ali bin Abi Thalib memiliki sifat ma’shum, yaitu terjaga dari dosa, kesalahan, dan
kekeliruan dalam menyampaikan ajaran agama. Dalam pandangan Syiah, kemaksuman
ini tidak hanya dimiliki oleh para nabi, tetapi juga oleh para imam yang mereka.
Maksum (ma’shum) berarti seseorang yang dijaga oleh
Allah dari:
·
dosa besar
maupun kecil
·
kesalahan
dalam memahami agama
·
kekeliruan
dalam memimpin umat
Karena dianggap ma’shum, para imam Syi’ah diyakini:
·
tidak mungkin
salah dalam fatwa
·
tidak mungkin
berdosa
·
selalu benar
dalam penafsiran agama
Dengan demikian, perkataan dan perbuatan para imam
dianggap memiliki otoritas sangat tinggi dalam ajaran Syiah.
Mereka berdalil dengan firman Allah ta’ala:
اِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ
لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًاۚ
“Sesungguhnya
Allah hanya hendak menghilangkan dosa darimu, wahai ahlulbait dan membersihkan
kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab [33]:33).
Ulama telah membantah hal ini karena ayat ini
berkaitan dengan para istri Nabi sebagaimana di permulaan ayat:
وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ
وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْاُوْلٰى وَاَقِمْنَ الصَّلٰوةَ
وَاٰتِيْنَ الزَّكٰوةَ وَاَطِعْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ.
“Tetaplah (tinggal) di rumah-rumahmu dan
janganlah berhias (dan bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu.
Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, serta taatilah Allah dan Rasul-Nya. (QS.
Al-Ahzab [33]:33).
2) Orang-orang sufi.
Mereka mengatakan para wali mereka mahfud
(terjaga).
Semua ini tidak benar karena Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
كُلُّ بَنِي
آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.
“Setiap anak
Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah
yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi 2499, disahihkan Syaikh al-Albani
di dalam al-Targib 3139).
1.
Demikian Pula Orang-Orang Yang Melarang
Bermadzhab Lebih Dari Satu
Hal
ini sama saja meyakini bahwa kebenaran semua ada di madzhabnya, di mana hal ini
tidak mungkin, kalau seandainya mereka berpendapat adakalanya kebenaran itu ada
di madzhab lain maka bukankah kita diperintahkan untuk mengikuti kebenaran di
manapun berada.
2.
Konsekwensi Pengakuan Kemaksuman Kepada Para Nabi
Dan Rasul.
Sebagaimana
panutan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Yaitu meneladani beliau.
Allah
ta’ala berfirman:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ
يُّوْحٰىۙ
“Dan
(Rasulullah) tidak pula berucap berdasarkan hawa nafsu(-nya). Ia (Al-Qur’an itu) tidak lain, kecuali wahyu
yang disampaikan (kepadanya).” (QS. An-Najm [53]: 3-4).
Demikianlah
semoga bermanfaat.
Sragen
07-07-2026
Abu
Ibrahim Junaedi.