Rabu, 29 April 2026

RUJUKAN ALQURAN DAN SUNNAH PEMAHAMAN SALAF.

 RUJUKAN ALQURAN DAN SUNNAH PEMAHAMAN SALAF.

٣- الْمَرْجِعُ فِي فَهْمِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ هُوَ النُّصُوصُ الْمُبَيِّنَةُ لَهُمَا وَفَهْمُ السَّلَفِ الصَّالِح وَمَنْ سَارَ عَلَى مَنْهَجِهِمْ مِنَ الْأَئِمَّةِ وَلَا يُعَارَضُ مَا ثَبَتَ مِنْ ذَلِكَ بِمُجَرَّدِ احْتِمَالَاتٍ لُغَوِيَّةٍ.

3. Rujukan dalam memahami Al-Qur’an dan Sunnah adalah nash-nash yang saling menjelaskan, pemahaman salafus shalih, serta para imam yang mengikuti manhaj mereka. Tidak boleh menentang dalil yang sudah jelas dengan sekadar kemungkinan bahasa.

Al-Qur’an merupakan sumber kebenaran, keadilan, kedamaian, tak ada kebengkokan, tak ada pertentangan ayat satu dengan lainnya saling menguatkan, hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan Al-Qur’an, sahabat menerima dan mendakwahkannya.

Allah ta’ala berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا.

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”(QS. An-Nisa[4]:82).

عَنْ المِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " أَلَا هَلْ عَسَى رَجُلٌ يَبْلُغُهُ الحَدِيثُ عَنِّي وَهُوَ مُتَّكِئٌ عَلَى أَرِيكَتِهِ، فَيَقُولُ: بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ كِتَابُ اللَّهِ، فَمَا وَجَدْنَا فِيهِ حَلَالًا اسْتَحْلَلْنَاهُ. وَمَا وَجَدْنَا فِيهِ حَرَامًا حَرَّمْنَاهُ، وَإِنَّ مَا حَرَّمَ رَسُولُ اللَّهِ كَمَا حَرَّمَ اللَّهُ ": "هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الوَجْهِ"

Dari sahabat Al-Miqdam ibn Ma'di Karib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah, boleh jadi ada seseorang yang sampai kepadanya hadits dariku, sementara ia sedang bersandar di atas dipannya, lalu ia berkata: ‘Cukuplah antara kami dan kalian Kitab Allah. Apa yang kami dapati di dalamnya halal, kami halalkan. Dan apa yang kami dapati di dalamnya haram, kami haramkan.’ Padahal sesungguhnya apa yang diharamkan oleh Rasulullah itu sama seperti apa yang diharamkan oleh Allah.” (HR. at-Tirmidzi 8, Abu Dawud 4604 dishahihkan Syaikh al-Albani).

1)  Tidak semua orang yang membawakan dalil Al-Qur’an dan Sunnah itu benar.

Hal ini sebagaimana diceritakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya:

إِنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمٌ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ رَطْبًا، لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ.

“Sesungguhnya akan keluar dari keturunan (atau golongan) orang ini suatu kaum. Mereka membaca Kitab Allah dengan lancar (fasih), namun tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat keluar dari sasarannya.” (HR. al-Bukhari 4351, Muslim 1068).

سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِي آخِرِ الزَّمَانِ، أَحْدَاثُ الأَسْنَانِ، سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ البَرِيَّةِ، لاَ يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ، كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ، فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Akan muncul suatu kaum pada akhir zaman, mereka masih muda usianya dan lemah akalnya. Mereka mengucapkan perkataan yang terbaik dari manusia. Iman mereka tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat keluar dari sasarannya. Maka di mana saja kalian menemui mereka, bunuhlah mereka. Sesungguhnya dalam membunuh mereka terdapat pahala bagi orang yang membunuh mereka pada hari kiamat.” (HR. al-Bukhari 6930, Muslim 1064, at-Tirmidzi 2188).

Sebagian orang-orang thariqat mereka meninggalkan shalat, hal ini karena mereka salah dalam memahami dalil, yaitu firman Allah ta’ala:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ .ࣖࣖ

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kepastian (kematian).” (Al-Hijr [15]:99).

Sebagai dalilnya ialah firman Ailah subhanahu wa ta’ala dalam ayat lain ketika menceritakan perihal ahli neraka. Disebutkan bahwa mereka mengatakan:

لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ. وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ. وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ. وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ. حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ.

Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian. (Al-Muddatstsir[74]: 43-47).

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. masuk ke tempat Usman ibnu Maz'un yang telah Meninggal dunia, lalu Ummul Ala berkata, "Semoga rahmat Allah terlimpahkan kepadamu, hai Abus Sa'ib (nama julukan Usman ibnu Maz'un). Kesaksianku terhadapmu menyatakan bahwa sesungguhnya Allah telah memuliakanmu." Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. bersabda, "Apakah yang membuatmu mengetahui bahwa Allah telah memuliakannya?" Ummul Ala berkata, "Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, wahai Rasulullah. Maka siapa lagikah yang mau memberikan kesaksian (untuknya)?" Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bersabda:

أَمَّا هُوَ فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِينُ، وَإِنِّي لَأَرْجُو لَهُ الْخَيْرَ"

“ Adapun dia, sesungguhnya dia telah kedatangan hal yang meyakinkan (yakni kematian), dan sesungguhnya saya benar-benar memohon kebaikan (untuknya).” (HR. al-Bukhari 7018) (lihat Tafsir Ibnu Katsir Al-Hijr[15]:99).

Penyimpangan orang yang meninggalkan shalat.

Shalat pertama kali di hisab.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُ  عَزَّ وَجَلَّ : اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ، فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ تَكُونُ سَائِرُ أعْمَالِهِ عَلَى هَذَا.

“Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan sukses. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman, “Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.” Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.”(HR. Tirmidzi 413, An-Nasai’I 466, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam Ash-Sahihah 1358).

Shalat pembeda iman dan kafir.

Imam Ahmad dan yang lainnya, berdasarkan zhahir sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاةِ.

"Sesungguhnya pembeda antara seseorang (muslim) dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat." (HR. Muslim 82, Tirmidzi 2620).

الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ.

"Perjanjian (pembeda) antara kami dan mereka adalah shalat, maka siapa yang meninggalkannya, sungguh ia telah kafir. "(HR. Ahmad 22937, Tirmidzi 2621, Ibnu Majah 1079, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Al Miskah 574).

Orang yang mewajibkan berbaiat, mereka juga berdalil:

يَوْمَ نَدْعُوا كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ.

“(Ingatlah) pada hari Kami memanggil setiap manusia dengan imam mereka.”(QS. Al-Isra[17]: 71).

Dari ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: (Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap-tiap umat dengan pemimpinnya. (Al-Isra: 71) Bahwa yang dimaksud dengan pemimpinnya ialah kitab amal perbuatan mereka.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Abul Aliyah, Al-Hasan, Ad-Dahhak; dan pendapat inilah yang paling kuat, karena dalam ayat yang lain disebutkan:

وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ.

Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata. (QS.Yasin[36]: 12)

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ.

Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalam­nya. (Al-Kahfi[18]: 49)

Kalaupun ada yang menafsirkan imam maka bukan keharusan untuk berbaiat.

2)  Melihat dalil-dalil global dan yang terperinci.

Kadang dalil suatu tempat disebutkan secara global dan di tempat lain secara rinci.

Orang-orang yang mengingkari sunnah mereka hanya berpatokan kepada Al-Qur’an saja tanpa menggunakan Sunnah dengan alasan hadits telah banyak yang palsu.

Orang seperti ini sudah pasti tergelincir dari pemahaman yang benar.

Hal ini karena banyaknya ayat Al-Qur’an yang sifatnya global dan membutuhkan rincian dari Sunnah.

Misal:

Ayat tentang shalat dan zakat.

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ

“Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.”

 

Ayat tentang puasa.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."(QS.Al-Baqarah[2]:83.

Cara puasa yang benar serta pembatal-pembatalnya tetap merujuk kepada hadits.

Oleh karena memahami Al-Qur’an dengan menggunakan kaedah-kaedah sebagaimana yang telah dijelaskan para ulama.

 

1)  Mengkhususkan yang umum.

 

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ


“Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu…” (QS. An-Nisa [4]: 11).

لَا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلَا الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ.


“Seorang muslim tidak mewarisi orang kafir, dan orang kafir tidak mewarisi orang muslim.” (HR. al-Bukhari 6764, Muslim 1614).

Hadits tentang lihyah selisihi majusi.

 

2)   Dalilnya sudah di mansuh atau belum.

Ayat tentang khamer...

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendekati shalat dalam keadaan mabuk.” (QS. An-Nisa[4]:43)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji (dan) termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah [5]:90).

Ayat tentang musik.

 

 

 

1)  Al Qur’an hendaknya ditafsirkan dengan Al Qur’an.

Karena Allah ta’ala lebih mengetahui maksud dari perkatannya. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ.

“Ingatlah wali-wali Allah tidak ada rasa takut dan tidak bersedih hati.” (QS. Yunus[10]:62)

Kemudian Allah jelaskan wali Allah dengan ayat berikutnya.

الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ.

“Yaitu mereka yang beriman dan senantiasa bertakwa.” QS. Yunus[10]:63.

Firman Allah ta’ala:

وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ.

“Apakah kamu tahu apa yang datang di malam hari itu..?” (QS. At Tariq[86]:2).

النَّجْمُ الثَّاقِبُ.

“(yaitu) bintang yang berisinar tajam.” (QS. At Tariq[86]:3).

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ  .صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ.

Bimbinglah kami ke jalan yang lurus.  (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat. (QS. Al-Fatihah [1]:6-7).

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا

“Siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nabi Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (akan dikumpulkan) bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa[4]:69).

2)  Al Qur’an ditafsirkan dengan hadits Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah paling mengetahui dibandingkan manusia yang lain.

Seperti firman Allah ta’ala:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ.

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (QS. Yunus[10]:26.)


“Dan tambahannya”, Yakni berupa keistimewaan untuk dapat melihat wajah Allah yang mulia. (HR. Ahmad 18941, Muslim 181, Abu Dawud 1411).

Firman Allah ta’ala:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ..

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi..” (QS. Al Anfal[8]:60)

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kekuatan tersebut dengan sabda-Nya:

أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ، أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ، أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ.

“Ketahuilah kekuatan itu terletak pada lemparan, Beliau mengulang tiga kali. (HR. Muslim 1917, Abu Dawud 2514).

3)  Al Qur’an dijelaskan dengan perkataan Sahabat.

Karena Al Qur’an turun dengan bahasa mereka, turun pada masa mereka, oleh karena itu Ibnu Abbas berargumen dengan hal ini kepada orang-orang khuarij, beliau berkata.” Al Qur’an turun kepada sahabat dan tak seorangpun dari kalian sahabat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Contoh yang di tafsirkan sahabat seperti firman Allah ta’ala:

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا.

“Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. An Nisa[4]:43)

أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

“Atau kalian telah menyentuh wanita, lalu kalian tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (suci); lalu usaplah wajah kalian dan tangan kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Maidah[5]: 6).

 

Ibnu Abbas berkata, “Menyentuh wanita maksudnya adalah berjima’.” (Sebagaimana di riwayatkan oleh ‘Abdur Razaq 1/134, Fatul Bari 227/8).

 

4)  Al Qur’an di tafsirkan dengan penjelasan tabi’in.

Tabi’in mereka adalah murid para sahabat, mereka mengambil tafsir dari para sahabat, tabi’in sebaik-baik manusia setelah sahabat, mereka lebih selamat dari hawa nafsu dibandingkan orang-orang setelahnya.

5)  Al Qur’an dilihat dari sisi bahasa.

Apakah memiliki maknanya secara syar’i atau lughawi.

Contoh secara maknawi, sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ.

“Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan (jenazah) seorang pun yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik.”(QS. At Taubah[9]:84)

Adapun secara lughawi (bahasa) seperti firman Allah ta’ala:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ.

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka.” (QS. At Taubah[9]:103)

“wa shalli” di sini maksudnya adalah mendoakan. (Lihat “Usul fii Tafsir” Syaikh Muhammad Shalih Al ‘Utsaimin).

 

 

-----000-----

Sragen 04-4-2026

Abu Ibrahim Junaedi.

Minggu, 26 April 2026

BAB 4 MACAM-MACAM SYIRIK BESAR. SOAL: 19 MENEPIS WAS-WAS SETAN, SIAPA YANG MENCIPTAKAN ALLAH

 


HUD AQIDATAKA BAB 4 SOAL 19 

س ١٩ - كَيْفَ تَرُدُّ سُوَالَ الشَّيْطَانِ : مَنْ خَلَقَ اللَّهُ.

Soal: Bagaimana kita menepis bisikan syetan dengan adanya pertanyaan, "Siapa yang menciptakan Allah?"

ج ١٩ - إِذَا وَسْوَسَ الشَّيْطَانُ لِأَحَدِكُمْ هذَا السُّوَالَ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ.

Jawab: Apabila syetan membisik-bisikkan pertanyaan ini kepada salah seorang di antara kalian, maka berlindunglah kepada Allah (membaca ta'awudz).

قَالَ تَعَالَى: وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ . سورة فصلت : ٣٦

Allah ta’ala telah berfirman: "Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu

gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Surat Fushshilat ayat :36).

وَعَلَّمَنَا الرَّسُوْلُ أَنْ تَرُدُّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ وَتَقُوْلُ :

Nabi telah mengajari kita untuk menepis segala makar setan, agar kita mengucapkan :

آمَنْتُ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ , اللَّهُ أَحَدٌ , اللَّهُ الصَّمَدُ , لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ , وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ, ثُمَّ لْيَثْقُلْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاثًا وَلْيَسْتَعِذْ مِنَ الشَّيْطَانِ , وَلْيَنْتَهِ , فَإِنَّ ذَلِكَ يَذْهَبُ عَنْهُ.

“Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, Allah Yang Maha Esa, Allah tempat bergantung segala makhluk, Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.” Kemudian hendaklah ia meludah ringan ke sebelah kirinya sebanyak tiga kali, memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, dan berhenti dari perbuatan itu, karena sesungguhnya yang demikian itu akan menghilangkan gangguan darinya. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Abu Dawud).

-----000-----

Penjelasan:

1.   Setan Telah Bersumpah Untuk Menyesatkan Manusia.

Allah ta’ala mengabarkan kepada kita dengan firman-Nya:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ . 

(Iblis) menjawab, “Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Shad [38]:82-83).

Setan adalah musuh yang nyata sebagaimana Allah ingatkan kepada kita.

Allah ta’ala berfirman:

وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ اِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوْۤءِ وَالْفَحْشَاۤءِ وَاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ.

“Dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata. Sesungguhnya (setan) hanya menyuruh kamu untuk berbuat jahat dan keji serta mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah[2]:168-169).

 

2.   Setan Mampu Berjalan Di Peredaran Darah Manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersanda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ، وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يُلْقِيَ فِي أَنْفُسِكُمَا شَيْئًا.

“Sesungguhnya setan berjalan dalam diri manusia sebagaimana mengalirnya darah. Dan aku khawatir setan akan melemparkan sesuatu (keraguan atau prasangka buruk) ke dalam hati kalian berdua.” (HR. al-Bukhari 2038, 2174).

 

3.   Setan Selalu Mengoda Manusia Dalam Keadaan Apapun.

Allah ta’ala berfirman:

قَالَ فَبِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ثُمَّ لَاٰتِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَاۤىِٕلِهِمْۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ

Ia (Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian, pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf[7]:16-17).

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:  “Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka mereka.” maksudnya, saya akan meragukan mereka terhadap urusan akhirat mereka. “Dan dari belakang mereka.”  Yaitu saya akan membuat mereka menyukai duniawi mereka. “Dan dari kanan mereka.” Maksudnya, saya akan mengaburkan mereka terhadap urusan agama mereka. “Dan dari kiri mereka.”  Yakni saya akan membuat mereka tergiur kepada kemaksiatan. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-A’raf [7]:16-17).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ لِابْنِ آدَمَ بِأَطْرُقِهِ

“Sesungguhnya setan menghadang anak Adam di setiap jalan-jalannya.” (HR. Ahmad 15958, An-Nasai 3134, At-Tabrani 6558, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahih al-Jami’ 1465).

Dari Jabir radhiallahu anhu dia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الشَّيطَانَ يَحضُرُ أَحَدَكُم عِندَ كُلِّ شَيْءٍ مِن شَأنِهِ.

“Sesungguhnya setan selalu hadir di sisi seseorang dalam setiap urusannya.” (HR. Muslim 2033)

Setan Hadir Dalam Setiap Urusan Manusia.

1)  Setan Hadir Saat Manusia Tidur.

Setan akan mengikat tiga ikatan tiga ikatan, masing masing bertulis malam masih panjang.

عْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ، فَارْقُدْ فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ، انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ.

Setan mengikat pada tengkuk kepala salah seorang dari kalian ketika ia tidur dengan tiga ikatan. Pada setiap ikatan ia memukul dan membisikkan: “Malam masih panjang bagimu, maka tidurlah.” Apabila ia terbangun lalu mengingat Allah, maka terlepaslah satu ikatan. Apabila ia berwudhu, maka terlepaslah satu ikatan. Apabila ia shalat, maka terlepaslah seluruh ikatannya. Maka ia pun memasuki pagi hari dalam keadaan bersemangat, jiwanya baik dan lapang. Namun jika tidak, ia memasuki pagi hari dalam keadaan jiwanya buruk dan malas. (HR. al-Bukhari 1142, Muslim 776)

2)  Setan Menggoda Saat Beribadah. 

Setan lebih keras menggoda manusia saat manusia shalat dan ibadah lainnya agar manusia lalai.

Oleh karena itu Rasulullah perintahkan untuk berlindung.

أَعُوذُ بِالله السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْخِهِ، وَنَفْثِهِ.

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari gangguan setan yang terkutuk, dari gangguan kerasnya yang menjerumuskan pada kegilaan, dari hembusan kesombongannya, dan dari bisikan-bisikan batilnya berupa syair dan tipu daya.” (HR. Ahmad 11473, at-Tirmidzi 242, Abu Dawud 775, Baihaqi 2349, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Sifat Shalat 94-95).

Dari Utsman bin Abil ‘Ash radhiyallahu’anhu ia berkata:

يا رَسولَ اللهِ، إنَّ الشَّيْطَانَ قدْ حَالَ بَيْنِي وبيْنَ صَلَاتي وَقِرَاءَتي يَلْبِسُهَا عَلَيَّ، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: ذَاكَ شيطَانٌ يُقَالُ له خَنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ باللَّهِ منه، وَاتْفِلْ علَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا قالَ: فَفَعَلْتُ ذلكَ فأذْهَبَهُ اللَّهُ عَنِّي

“Wahai Rasulullah, setan telah menghalangi antara aku dan shalatku serta mengacaukan bacaanku. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “itu adalah setan yang disebut dengan Khanzab. Jika engkau merasakan sesuatu (gangguan) maka bacalah ta’awwudz dan meniuplah ke kiri 3x”. Utsman mengatakan: “aku pun melakukan itu, dan Allah pun menghilangkan was-was setan dariku” (HR. Muslim 2203, ).

3)  Setan Menanamkan permusuhan di antara manusia.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ

“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat” (QS. Al Maidah[5]: 91).

Sulaiman bin Shurad radhiyallahu ‘anhu berkata, “Pada suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam sedang dua orang lelaki sedang saling mengeluarkan kata-kata kotor satu dan lainnya. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ, لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ

“Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya jika sekiranya ia mau membaca, ‘A’udzubillahi minas-syaitani’ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan), niscaya hilang kemarahan yang dialaminya.” (HR Bukhari 3282, 6048, Muslim 2610).

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ.

 "Sesungguhnya setan sudah putus asa akan disembah oleh orang-orang yang salat di Jazirah Arab, akan tetapi ia masih berharap bisa mengadu domba di antara mereka."  [Sahih Muslim - 2812]

Imam an-Nawawi Rahimahullah berkata: “Maknanya, setan merasa putus asa untuk membuat penduduk jazirah Arab bisa menyembahnya. Akan tetapi dia tetap berusaha untuk mengadu domba di antara mereka dengan berbagai pertikaian, permusuhan, peperangan, fitnah dan yang lainnya.” (Lihat Syarah Shahih Muslim 17/157 dan Kitab Khas 'Ishul' Arab 33-34).

4)  Setan Menggoda Kepada Suami Istri Agar Mereka Bertengkar Dan Bercerai.

Dari Jabir berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ نِعْمَ أَنْتَ. قَالَ الْأَعْمَشُ أُرَاهُ قَالَ فَيَلْتَزِمُهُ.

 “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air lalu mengirim bala tentaranya (untuk menggoda manusia dan menyesatkan mereka). Yang kedudukannya paling dekat dengan Iblis adalah yang paling besar godaannya (dalam menyesatkan manusia). Salah satu diantara mereka datang lalu berkata, ‘Aku telah melakukan ini dan itu,’ (maksudnya menyuruh membunuh, mencuri dan minum khamar, misalnya). Iblis pun menjawab, ‘Kau tidak melakukan apa pun.’ Hingga datanglah salah satu setan dan berkata kepada Iblis, ‘Aku tidak meninggalkan fulan hingga aku memisahkan antara dia dengan istrinya dan menjadikannya menceraikan istrinya.’ Nabi bersabda, “Kemudian iblis mendekatkan setan itu kepada dirinya dan berkata, “Ya, engkau telah melakukannya.” Al A’masy menyebutkan dalam riwayatnya, “Iblis berkata, ‘Tetaplah (menggodanya).” (HR. Muslim2813,  Ahmad 14377).

5)  Setan Menanamkan Keragu-Raguan Dan Was-Was Dalam Keimanannya.

Allah ta’ala berfirman:

قَالَ تَعَالَى: وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ .

"Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Fushshilat [41]:36).

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ.

“Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf [7]: 200).

Nabi telah mengajari kita untuk menepis segala makar setan, agar kita mengucapkan :

آمَنْتُ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ , اللَّهُ أَحَدٌ , اللَّهُ الصَّمَدُ , لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ , وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ, ثُمَّ لْيَثْقُلْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاثًا وَلْيَسْتَعِذْ مِنَ الشَّيْطَانِ , وَلْيَنْتَهِ , فَإِنَّ ذَلِكَ يَذْهَبُ عَنْهُ.

“Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, Allah Yang Maha Esa, Allah tempat bergantung segala makhluk, Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.” Kemudian hendaklah ia meludah ringan ke sebelah kirinya sebanyak tiga kali, memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, dan berhenti dari perbuatan itu, karena sesungguhnya yang demikian itu akan menghilangkan gangguan darinya. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Abu Dawud).

6)  Setan Memberikan Janji-Janji Dusta.

Allah ta’ala berfirman:

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيْهِمْۗ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطٰنُ اِلَّا غُرُوْرًا.

“Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka..” (QS. An-Nisaa[4]: 120-121).

7)  Setan menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan.

Allah ta’ala berfirman:

ٱلشَّيۡطَـٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلۡفَقۡرَ وَيَأۡمُرُكُم بِٱلۡفَحۡشَآءِ ۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغۡفِرَةٗ مِّنۡهُ وَفَضۡلٗا ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ.

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan untukmu ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah[2]: 268).

8)  Setan Menyesatkan Manusia Saat Sakaratul Maut.

Setan tetap berupaya menggoda manusia di detik-detik terakhir kehidupannya (sakaratul maut) agar meninggal dalam keadaan su'ul khatimah.

Abdullah bin Ahmad bin Hambal berkata, ‘Aku menyaksikan wafatnya ayahku; Ahmad. Aku memegang kain untuk mengikat jenggotnya. Dia menyadarinya kemudian dia bangun seraya berkata dengan mengisyaratkan, ‘tidak, sesudah ini, tidak, sesudah ini!!’ Dia melakukan hal itu berkali-kali. Maka aku bertanya kepadanya, ‘Wahai ayahku, apa yang tampak olehmu?’ Beliau berkata, ‘Sesungguhnya setan berdiri di hadapan kakiku dan mengigit jari jemarinya seraya berkata, ‘Wahai Ahmad, engkau telah lari dariku.’ Sedangkan aku berkata, ‘Tidak sesudah ini. Tidak (aku tidak ikut engkau) hingga aku mati.” (At-Tazkirah 30, al-Qurthubi).

 

8.   Tahapan Iblis Menjerumuskan Manusia.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata di dalam kitab,  Ighatsat al-Lahfan, Iblis menjerumuskan manusia dengan 7 perkara:

الأُولَى: الشِّرْكُ بِاللَّهِ.

Yang pertama: syirik kepada Allah.

الثَّانِيَةُ: الْبِدْعَةُ.

Yang kedua: bid‘ah.

الثَّالِثَةُ: الْكَبَائِرُ.

Yang ketiga: dosa-dosa besar.

الرَّابِعَةُ: الصَّغَائِرُ.

Yang keempat: dosa-dosa kecil.

الْخَامِسَةُ: أَنْ يَشْغَلَهُ بِالْمُبَاحَاتِ عَمَّا هُوَ أَوْلَى مِنْهَا.

Yang kelima: menyibukkan seorang hamba dengan perkara-perkara mubah sehingga melalaikannya dari yang lebih utama.

السَّادِسَةُ: أَنْ يَشْغَلَهُ بِالْمَفْضُولِ عَنِ الْفَاضِلِ.

Yang keenam: menyibukkan seorang hamba dengan yang kurang utama sehingga meninggalkan yang lebih utama.

السَّابِعَةُ: تَسْلِيطُ جُنُودِهِ مِنَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ.

Yang ketujuh: mengerahkan bala tentaranya dari kalangan manusia dan jin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا غَضِبَ الرَّجُلُ فَقَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ سَكَنَ غَضَبُهُ

Jika seseorang dalam keadaan marah, lantas ia ucapkan, ‘A’udzu billah (Aku meminta perlindungan kepada Allah), maka redamlah marahnya.” (Disebutkan di dalam Al-Jami’us As-Shahih Lis-Sunnani wal Masanid, Suhaib ‘Abdul Jabbar juz 8, hal 467, di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah 1376).

9.   Tipudaya Setan Lemah.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا.

“Karena Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (QS. An Nisaa[4]:76).

10.                     Sunnah Melawan Syaitan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ عِفْرِيتًا مِنَ الجِنِّ تَفَلَّتَ عَلَيَّ البَارِحَةَ - أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا - لِيَقْطَعَ عَلَيَّ الصَّلاَةَ، فَأَمْكَنَنِي اللَّهُ مِنْهُ، فَأَرَدْتُ أَنْ أَرْبِطَهُ إِلَى سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي المَسْجِدِ حَتَّى تُصْبِحُوا وَتَنْظُرُوا إِلَيْهِ كُلُّكُمْ، فَذَكَرْتُ قَوْلَ أَخِي سُلَيْمَانَ: رَبِّ هَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي "، قَالَ رَوْحٌ: «فَرَدَّهُ خَاسِئًا

“Sesungguhnya seorang ifrit dari kalangan jin mendatangiku tadi malam — atau beliau mengucapkan kalimat yang semakna — dengan tujuan mengganggu dan memutus shalatku. Maka Allah memberiku kemampuan untuk menguasainya. Aku pun berniat mengikatnya pada salah satu tiang masjid agar kalian semua dapat melihatnya pada pagi hari. Namun aku teringat perkataan saudaraku Sulaiman: ‘Wahai Rabb-ku, anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun setelahku. Perawi Ruh berkata: “Maka beliau pun melepaskannya dalam keadaan hina.” (HR. al-Bukhari 461, Ahmad 7965).

Demikianlah semoga kita terlindungi dari bahaya setan aamiin.

 

-----000-----

 

Sragen 03-02-2025

Abu Ibrahim Junaedi Abdullah.

RUJUKAN ALQURAN DAN SUNNAH PEMAHAMAN SALAF.

 RUJUKAN ALQURAN DAN SUNNAH PEMAHAMAN SALAF. ٣ - الْمَرْجِعُ فِي فَهْمِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ هُوَ النُّصُوصُ الْمُبَيِّنَةُ لَهُمَا وَفَ...