Senin, 09 Februari 2026

BAB 4 MACAM-MACAM SYIRIK BESAR. SOAL: 19 MENEPIS WAS-WAS SETAN, SIAPA YANG MENCIPTAKAN ALLAH

 

BAB 4

MACAM-MACAM SYIRIK BESAR.

SOAL: 19

MENEPIS WAS-WAS SETAN, SIAPA YANG MENCIPTAKAN ALLAH

 

س ١٩ - كَيْفَ تَرُدُّ سُوَالَ الشَّيْطَانِ : مَنْ خَلَقَ اللَّهُ.

Soal: Bagaimana kita menepis bisikan syetan dengan adanya pertanyaan, "Siapa yang menciptakan Allah?"

ج ١٩ - إِذَا وَسْوَسَ الشَّيْطَانُ لِأَحَدِكُمْ هذَا السُّوَالَ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ.

Jawab: Apabila syetan membisik-bisikkan pertanyaan ini kepada salah seorang di antara kalian, maka berlindunglah kepada Allah (membaca ta'awudz).

قَالَ تَعَالَى: وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ . سورة فصلت : ٣٦

Allah ta’ala telah berfirman: "Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu

gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Surat Fushshilat ayat :36).

 

وَعَلَّمَنَا الرَّسُوْلُ أَنْ تَرُدُّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ وَتَقُوْلُ :

Nabi telah mengajari kita untuk menepis segala makar setan, agar kita mengucapkan :

آمَنْتُ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ , اللَّهُ أَحَدٌ , اللَّهُ الصَّمَدُ , لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ , وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ, ثُمَّ لْيَثْقُلْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاثًا وَلْيَسْتَعِذْ مِنَ الشَّيْطَانِ , وَلْيَنْتَهِ , فَإِنَّ ذَلِكَ يَذْهَبُ عَنْهُ.

“Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, Allah Yang Maha Esa, Allah tempat bergantung segala makhluk, Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.” Kemudian hendaklah ia meludah ringan ke sebelah kirinya sebanyak tiga kali, memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, dan berhenti dari perbuatan itu, karena sesungguhnya yang demikian itu akan menghilangkan gangguan darinya. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Abu Dawud).

-----000-----

Penjelasan:

1.   Setan telah bersumpah untuk menyesatkan manusia.

Allah ta’ala mengabarkan kepada kita dengan firman-Nya:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ . 

(Iblis) menjawab, “Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Shad [38]:82-83).

Setan adalah musuh yang nyata sebagaimana Allah ingatkan kepada kita.

Allah ta’ala berfirman:

وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ اِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوْۤءِ وَالْفَحْشَاۤءِ وَاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ.

“Dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata. Sesungguhnya (setan) hanya menyuruh kamu untuk berbuat jahat dan keji serta mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah[2]:168-169).

2.   Setan Selalu Mengoda Manusia Dalam Keadaan Apapun.

Allah ta’ala berfirman:

قَالَ فَبِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ثُمَّ لَاٰتِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَاۤىِٕلِهِمْۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ

Ia (Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian, pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf[7]:16-17).

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:  “Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka mereka.” maksudnya, saya akan meragukan mereka terhadap urusan akhirat mereka. “Dan dari belakang mereka.”  Yaitu saya akan membuat mereka menyukai duniawi mereka. “Dan dari kanan mereka.” Maksudnya, saya akan mengaburkan mereka terhadap urusan agama mereka. “Dan dari kiri mereka.”  Yakni saya akan membuat mereka tergiur kepada kemaksiatan. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-A’raf [7]:16-17).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ لِابْنِ آدَمَ بِأَطْرُقِهِ

“Sesungguhnya setan menghadang anak Adam di setiap jalan-jalannya.(HR. Ahmad 15958, An-Nasai 3134, At-Tabrani 6558, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahih al-Jami’ 1465).

Dari Jabir radhiallahu anhu dia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الشَّيطَانَ يَحضُرُ أَحَدَكُم عِندَ كُلِّ شَيْءٍ مِن شَأنِهِ.

“Sesungguhnya setan selalu hadir di sisi seseorang dalam setiap urusannya.” [HR. Muslim, no. 2033]

Setan Hadir Dalam Setiap Urusan Manusia.

1)  Setan Hadir Saat Manusia Tidur.

Setan akan mengikat tiga ikatan tiga ikatan, masing masing bertulis malam masih panjang.

عْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ، فَارْقُدْ فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ، انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ.

Setan mengikat pada tengkuk kepala salah seorang dari kalian ketika ia tidur dengan tiga ikatan. Pada setiap ikatan ia memukul dan membisikkan: “Malam masih panjang bagimu, maka tidurlah.” Apabila ia terbangun lalu mengingat Allah, maka terlepaslah satu ikatan. Apabila ia berwudhu, maka terlepaslah satu ikatan. Apabila ia shalat, maka terlepaslah seluruh ikatannya. Maka ia pun memasuki pagi hari dalam keadaan bersemangat, jiwanya baik dan lapang. Namun jika tidak, ia memasuki pagi hari dalam keadaan jiwanya buruk dan malas. (HR. al-Bukhari 1142, Muslim 776)

2)  Setan Menggoda Saat Beribadah. 

Setan lebih keras menggoda manusia saat manusia shalat dan ibadah lainnya agar manusia lalai.

Oleh karena itu Rasulullah perintahkan untuk berlindung.

أَعُوذُ بِالله السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْخِهِ، وَنَفْثِهِ.

Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari gangguan setan yang terkutuk, dari gangguan kerasnya yang menjerumuskan pada kegilaan, dari hembusan kesombongannya, dan dari bisikan-bisikan batilnya berupa syair dan tipu daya. (HR. Ahmad 11473, at-Tirmidzi 242, Abu Dawud 775, Baihaqi 2349, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Sifat Shalat 94-95).

Dari Utsman bin Abil ‘Ash radhiyallahu’anhu ia berkata:

يا رَسولَ اللهِ، إنَّ الشَّيْطَانَ قدْ حَالَ بَيْنِي وبيْنَ صَلَاتي وَقِرَاءَتي يَلْبِسُهَا عَلَيَّ، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: ذَاكَ شيطَانٌ يُقَالُ له خَنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ باللَّهِ منه، وَاتْفِلْ علَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا قالَ: فَفَعَلْتُ ذلكَ فأذْهَبَهُ اللَّهُ عَنِّي

Wahai Rasulullah, setan telah menghalangi antara aku dan shalatku serta mengacaukan bacaanku. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “itu adalah setan yang disebut dengan Khanzab. Jika engkau merasakan sesuatu (gangguan) maka bacalah ta’awwudz dan meniuplah ke kiri 3x”. Utsman mengatakan: “aku pun melakukan itu, dan Allah pun menghilangkan was-was setan dariku” (HR. Muslim 2203, ).

3)  Setan Menyesatkan Saat Sakaratul Maut.

Setan tetap berupaya menggoda manusia di detik-detik terakhir kehidupannya (sakaratul maut) agar meninggal dalam keadaan su'ul khatimah.

Abdullah bin Ahmad bin Hambal berkata, ‘Aku menyaksikan wafatnya ayahku; Ahmad. Aku memegang kain untuk mengikat jenggotnya. Dia menyadarinya kemudian dia bangun seraya berkata dengan mengisyaratkan, ‘tidak, sesudah ini, tidak, sesudah ini!!’ Dia melakukan hal itu berkali-kali. Maka aku bertanya kepadanya, ‘Wahai ayahku, apa yang tampak olehmu?’ Beliau berkata, ‘Sesungguhnya setan berdiri di hadapan kakiku dan mengigit jari jemarinya seraya berkata, ‘Wahai Ahmad, engkau telah lari dariku.’ Sedangkan aku berkata, ‘Tidak sesudah ini. Tidak (aku tidak ikut engkau) hingga aku mati.” (At-Tazkirah 30, al-Qurthubi).

4)  Setan Menanamkan permusuhan di antara manusia.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ

Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat” (QS. Al Maidah[5]: 91).

Sulaiman bin Shurad radhiyallahu ‘anhu berkata, “Pada suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam sedang dua orang lelaki sedang saling mengeluarkan kata-kata kotor satu dan lainnya. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ, لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ

“Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya jika sekiranya ia mau membaca, ‘A’udzubillahi minas-syaitani’ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan), niscaya hilang kemarahan yang dialaminya.” (HR Bukhari 3282, 6048, Muslim 2610).

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ.

 "Sesungguhnya setan sudah putus asa akan disembah oleh orang-orang yang salat di Jazirah Arab, akan tetapi ia masih berharap bisa mengadu domba di antara mereka."  [Sahih Muslim - 2812]

Imam an-Nawawi Rahimahullah berkata: “Maknanya, setan merasa putus asa untuk membuat penduduk jazirah Arab bisa menyembahnya. Akan tetapi dia tetap berusaha untuk mengadu domba di antara mereka dengan berbagai pertikaian, permusuhan, peperangan, fitnah dan yang lainnya.” (Lihat Syarah Shahih Muslim 17/157 dan Kitab Khas 'Ishul' Arab 33-34).

5)  Setan Menggoda Kepada Suami Istri Agar Mereka Bertengkar Dan Bercerai.

Dari Jabir berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ نِعْمَ أَنْتَ. قَالَ الْأَعْمَشُ أُرَاهُ قَالَ فَيَلْتَزِمُهُ.

 “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air lalu mengirim bala tentaranya (untuk menggoda manusia dan menyesatkan mereka). Yang kedudukannya paling dekat dengan Iblis adalah yang paling besar godaannya (dalam menyesatkan manusia). Salah satu diantara mereka datang lalu berkata, ‘Aku telah melakukan ini dan itu,’ (maksudnya menyuruh membunuh, mencuri dan minum khamar, misalnya). Iblis pun menjawab, ‘Kau tidak melakukan apa pun.’ Hingga datanglah salah satu setan dan berkata kepada Iblis, ‘Aku tidak meninggalkan fulan hingga aku memisahkan antara dia dengan istrinya dan menjadikannya menceraikan istrinya.’ Nabi bersabda, “Kemudian iblis mendekatkan setan itu kepada dirinya dan berkata, “Ya, engkau telah melakukannya.” Al A’masy menyebutkan dalam riwayatnya, “Iblis berkata, ‘Tetaplah (menggodanya).” (HR. Muslim2813,  Ahmad 14377).

6)  Setan Menanamkan Keragu-Raguan Dan Was-Was Dalam Keimanannya.

Allah ta’ala berfirman:

قَالَ تَعَالَى: وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ .

"Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Fushshilat [41]:36).

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ.

“Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf [7]: 200).

Nabi telah mengajari kita untuk menepis segala makar setan, agar kita mengucapkan :

آمَنْتُ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ , اللَّهُ أَحَدٌ , اللَّهُ الصَّمَدُ , لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ , وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ, ثُمَّ لْيَثْقُلْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاثًا وَلْيَسْتَعِذْ مِنَ الشَّيْطَانِ , وَلْيَنْتَهِ , فَإِنَّ ذَلِكَ يَذْهَبُ عَنْهُ.

“Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, Allah Yang Maha Esa, Allah tempat bergantung segala makhluk, Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.” Kemudian hendaklah ia meludah ringan ke sebelah kirinya sebanyak tiga kali, memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, dan berhenti dari perbuatan itu, karena sesungguhnya yang demikian itu akan menghilangkan gangguan darinya. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Abu Dawud).

7)  Setan Memberikan Janji-Janji Dusta.

Allah ta’ala berfirman:

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيْهِمْۗ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطٰنُ اِلَّا غُرُوْرًا.

“Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka..” (QS. An-Nisaa[4]: 120-121).

8)  Setan mampu berjalan di peredaran darah manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersanda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ، وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يُلْقِيَ فِي أَنْفُسِكُمَا شَيْئًا.

“Sesungguhnya setan berjalan dalam diri manusia sebagaimana mengalirnya darah. Dan aku khawatir setan akan melemparkan sesuatu (keraguan atau prasangka buruk) ke dalam hati kalian berdua.” (HR. al-Bukhari 2038, 2174).

Dan masih banyak lagi.

3.   Tahapan Iblis Menjerumuskan Manusia.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata di dalam kitab,  Ighatsat al-Lahfan, Iblis menjerumuskan manusia dengan 7 perkara:

الأُولَى: الشِّرْكُ بِاللَّهِ.

Yang pertama: syirik kepada Allah.

الثَّانِيَةُ: الْبِدْعَةُ.

Yang kedua: bid‘ah.

الثَّالِثَةُ: الْكَبَائِرُ.

Yang ketiga: dosa-dosa besar.

الرَّابِعَةُ: الصَّغَائِرُ.

Yang keempat: dosa-dosa kecil.

الْخَامِسَةُ: أَنْ يَشْغَلَهُ بِالْمُبَاحَاتِ عَمَّا هُوَ أَوْلَى مِنْهَا.

Yang kelima: menyibukkan seorang hamba dengan perkara-perkara mubah sehingga melalaikannya dari yang lebih utama.

السَّادِسَةُ: أَنْ يَشْغَلَهُ بِالْمَفْضُولِ عَنِ الْفَاضِلِ.

Yang keenam: menyibukkan seorang hamba dengan yang kurang utama sehingga meninggalkan yang lebih utama.

السَّابِعَةُ: تَسْلِيطُ جُنُودِهِ مِنَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ.

Yang ketujuh: mengerahkan bala tentaranya dari kalangan manusia dan jin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا غَضِبَ الرَّجُلُ فَقَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ سَكَنَ غَضَبُهُ

Jika seseorang dalam keadaan marah, lantas ia ucapkan, ‘A’udzu billah (Aku meminta perlindungan kepada Allah), maka redamlah marahnya.” (Disebutkan di dalam Al-Jami’us As-Shahih Lis-Sunnani wal Masanid, Suhaib ‘Abdul Jabbar juz 8, hal 467, di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah 1376).

4.   Tipudaya Setan Lemah.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا.

“Karena Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (QS. An Nisaa[4]:76).

5.   Sunnah Melawan Syaitan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ عِفْرِيتًا مِنَ الجِنِّ تَفَلَّتَ عَلَيَّ البَارِحَةَ - أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا - لِيَقْطَعَ عَلَيَّ الصَّلاَةَ، فَأَمْكَنَنِي اللَّهُ مِنْهُ، فَأَرَدْتُ أَنْ أَرْبِطَهُ إِلَى سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي المَسْجِدِ حَتَّى تُصْبِحُوا وَتَنْظُرُوا إِلَيْهِ كُلُّكُمْ، فَذَكَرْتُ قَوْلَ أَخِي سُلَيْمَانَ: رَبِّ هَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي "، قَالَ رَوْحٌ: «فَرَدَّهُ خَاسِئًا

“Sesungguhnya seorang ifrit dari kalangan jin mendatangiku tadi malam — atau beliau mengucapkan kalimat yang semakna — dengan tujuan mengganggu dan memutus shalatku. Maka Allah memberiku kemampuan untuk menguasainya. Aku pun berniat mengikatnya pada salah satu tiang masjid agar kalian semua dapat melihatnya pada pagi hari. Namun aku teringat perkataan saudaraku Sulaiman: ‘Wahai Rabb-ku, anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun setelahku. Perawi Ruh berkata: “Maka beliau pun melepaskannya dalam keadaan hina.” (HR. al-Bukhari 461, Ahmad 7965).

Demikianlah semoga kita terlindungi dari bahaya setan aamiin.

 

-----000-----

 

Sragen 03-02-2025

Abu Ibrahim Junaedi Abdullah.

PUASA

 

BAB 6

Orang Yang Wajib Puasa Ramadhan.

 

1.  Orang-Orang Yang Wajib Berpuasa.

1) Muslim.

2) Baligh.

3) Berakal.

4) Sehat.

5) Mukim.

6) Bagi wanita hendaknya bersih dari haid dan nifas.

Adapun orang-orang yang belum menyatakan keislamanya atau masih kafir amalan mereka tidak diterima.

Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا.

“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila di datanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.” (QS. An-Nur [24]: 39)

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا.

“Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al Furqan [25]: 23).

Orang gila dan anak-anak belum diwajibkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَفِيْقَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ.

“Cacatan amal diangkat  dari tiga golongan, orang gila sampai ia sadar, orang tidur hingga ia bangun, dan anak kecil hingga ia baligh.” (HR. Abu Dawud 4401, Ibnu Hibban 143, dishahihkan syaikh al-Albani di dalam al-Irwaa’ 5/2).

Meskipun anak kecil belum diwajibkan puasa namun apa bila ikut berpuasa ia akan mendapatkan pahala, begitupula orang tuanya.

Dari Ibnu Abbas radhiallahuma, dia berkata:

رَفَعَتْ امْرَأَةٌ صَبِيًّا لَهَا فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ , أَلِهَذَا حَجٌّ ؟ قَالَ :  نَعَمْ وَلَكِ أَجْرٌ.

"Seorang wanita mengangkat seorang bocah, lalu berkata, 'Wahai Rasulullah, apakah anak ini dapat berhaji?' Beliau berkata, "Ya, dan bagimu pahala." (HR. Muslim 1336).

3.  Hukum Puasa Bagi Orang Sakit.

Allah ta’ala berfirman:

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا.

“Beberapa hari yang telah ditentukan, barang siapa diantara kalian yang sakit...” (QS. Al-Baqarah[2]:184).

Beberapa keadaaan orang yang sakit:

1) Orang Yang Sakit Ringan.

Seperti batuk, pilek, sakit gigi, sakit kepala ringan, luka ringan, hendaknya tetap berpuasa.

2) Sakit Yang Akan Bertambah Parah Jika Berpuasa.

Bila seseorang sakit dan semakin parah atau akan lambat kesembuhannya jika berpuasa, atau penyakit tersebut membuat penderitanya berat berpuasa. Hanya saja, tidak sampai pada tingkat membahayakan. Dalam kondisi seperti ini boleh berbuka, namun jika berpuasa, puasanya tetap sah.

3) Sakit Yang Membahayakan Dan Tidak Memungkinkan Sembuh.

Jika seseorang berpuasa, dengan puasanya itu membahayakan keselamatannya, hingga dapat mengantarkan kepada kematian, apa lagi dikuatkan larangan tersebut dari dokter, dalam kondisi seperti ini, tidak boleh berpuasa bahkan bisa haram hal ini berdasarkan firman Allah ta'ala :

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا.

"Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri sesungguhnya Allah maha penyayang terhadap kalian." (QS. An-Nisa[4]: 29).

Hal ini karena bisa membahayakan nyawa seseorang. (Lihat Fikih li Nisa’ Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Syayid Salim).

“Orang yang seperti ini hendaknya membayar fidyah. Seandainya ada kesembuhan maka tidak ada kewajiban lagi mengganti. Hal ini yang difatwakan oleh para ulama.” (Syaikh Muhammad al-’Utsaimin dalam asy-Syarhul Mumti’ 6/333-334, 347-349), al-Wadi’i, Syaikh al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil 4/22), dan Al-Lajnah ad-Da’imah dalam Fatawa al-Lajnah 10/160-161).

4.  Orang Yang Bepergian

Apa bila seseorang berpuasa sedang dalam berpergian atau perjalanan, hendaknya memperhatikan puasanya.

Allah ta’ala berfirman:

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَر.

“(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah[2]:184).

Namun jika ia tetap berpuasa selama dalam perjalanan, maka puasanya sah. Inilah pendapat mayoritas ulama dari generasi shahabat, tabi'in, empat imam madzhab dan selain mereka.

Manakah yang lebih utama dalam perjalanan, berpuasa atau berbuka?

Orang yang safar (bepergian) ada beberapa keadaan:

1) Jika Safarnya Berat Badanya Lemah, Tertinggal Dari Berbagai Macam Kebaikan Hendaknya Lebih Baik Berbuka.

2) Jika Safarnya Ringan Tidak Memberatkan Lebih Baik Tetap Berpuasa.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radiyallahu ‘anhu dia berkata:

كُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ، فَمِنَّا الصَّائِمُ وَمِنَّا الْمُفْطِرُ، فَلَا يَجِدُ الصَّائِمُ عَلَى الْمُفْطِرِ، وَلَا الْمُفْطِرُ عَلَى الصَّائِمِ، يَرَوْنَ أَنَّ مَنْ وَجَدَ قُوَّةً فَصَامَ، فَإِنَّ ذَلِكَ حَسَنٌ وَيَرَوْنَ أَنَّ مَنْ وَجَدَ ضَعْفًا، فَأَفْطَرَ فَإِنَّ ذَلِكَ حَسَنٌ.

“Kami pernah bepergian bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada bulan Ramadhan, ada diantara kami yang puasa dan ada pula yang berbuka, yang berpuasa tidak mencela yang berbuka dan yang berbuka tidak tidak mencela yang berpuasa.” (HR Muslim 1116, Shahih Ibnu Hibban 3558).

3) Jika Safarnya Berat Dan Membahayakan Jiwanya, Hendaknya Diutamakan Berbuka.

Sebagaimana tercantum dalam hadits Jabir yang menyatakan bahwa ketika sedang menempuh perjalanan untuk menaklukkan kota Makkah, Rasulullah terus berjalan hingga sampai daerah Kara' al-Ghumaim. Begitu pula rombongannya. Kemudian beliau meminta dibawakan sewadah air minum, lalu mengangkatnya hingga terlihat oleh semua orang dan mulai meminumnya setelah itu, ada yang melaporkan kepada beliau bahwa beberapa orang tetap berpuasa. Beliau berkata, "Mereka adalah orang yang durhaka (menyalahiku). Mereka adalah orang yang durhaka." (HR. Bukhari 1948, Muslim 1114).

Dalam riwayat yang lain Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تَصُومُوا فِي السَّفَرِ.

“Bukanlah sebuah kebaikan berpuasa ketika bersafar.” (HR. Muslim 1115, Abu Dawud 2407).

5.  Keringanan bagi orang tua, orang hamil dan menyusui.

Orang tua laki-laki maupun perempuan yang tidak kuat berpuasa dibolehkan meninggalkan puasa selama bulan Ramadhan dan tidak perlu mengqadhanya. Namun, ia harus memberi makan satu orang miskin setiap hari sejumlah (puasa) yang ditinggalkannya.

Allah ta’ala berfirman:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ.

“Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah[2]:184).

Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma berkaitan dengan ayat di atas:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ…قَالَ كَانَتْ رُخْصَةً لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ وَالْمَرْأَةِ الْكَبِيرَةِ وَهُمَا يُطِيقَانِ الصِّيَامَ أَنْ يُفْطِرَا وَيُطْعِمَا مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَالْحُبْلَى وَالْمُرْضِعُ إِذَا خَافَتَا أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا. وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهُ فِدْيَة طَعَامُ مِسْكِيْن

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (Al-Baqarah[2]: 184).

Beliau berkata, “Ayat ini memberikan keringanan kepada orang tua renta, baik laki maupun perempuan, apabila merasa berat berpuasa dia boleh berbuka dan memberi makan satu orang miskin setiap hari sebanyak yang ditinggalkan. Wanita mengandung dan menyusui kalau keduanya khawatir juga boleh berbuka dan (sebagai gantinya) memberi makan (orang miskin setiap hari sejumlah hari yang ditinggalkan).” (HR. Abu Dawud 2318, Al-Muntaqa Ibnul Jarud 381, al-Baihaqi 1351, lihat Irwa’ syaikh al-Albani, 4/18).

6.  Begitu pula bagi orang yang hamil dan menyusui.

Adapun orang yang hamil dan menyusui tidak wajib berpuasa dan cukub membayar fidyah, sebagaimana diterangkan dalil di atas.

Kesimpulannya, sebab-sebab yang membolehkan tidak puasa ada empat, safar, sakit, haid dan nifas, kuatir celaka, seperti orang hamil dan menyusui. (Fikih Muyassar).

 


BAB 7

Rukun Puasa

1.    Niat

Hendaknya ikhlas di dalam menjalankan puasa.

Allah ta’ala berfirman:

ومَا أُمِرُوْا إِلاَّلِيَعْبُدُاللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…”(QS. Al-Bayyinah[98] : 5).

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ.

“Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar [39]:2).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.” (HR. Bukhari 1, 6689, Muslim 1907).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ العَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصاً وَ ابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ.

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menerima amal perbuatan, kecuali yang ikhlas dan dimaksudkan (dengan amal perbuatan itu) mencari wajah Allah. (HR. Nasa’i 3140, Dihasankan Syaikh Al Albani di dalam ash-Shahihah 52).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الفَجْرِ، فَلَا صِيَامَ لَهُ .

“Barangsiapa yang belum berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. at-Tirmidzi 730, Abu Dawud 2454, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam Shahih Abu Dawud 2118).

Adapun tempat niat di dalam hati.

Imam An-Nawawi rahmahullah mengatakan:

وَمَحَلُّ النِّيَّةِ الْقَلْبُ وَلَا يُشْتَرَطُ نُطْقُ اللِّسَانِ بِلَا خِلَافٍ.

“Tempat niat di dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dengan lisan tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab 6/289).

Beliau juga mengatakan:

لَا يَصِحُّ الصَّوْمُ إِلَّا بِالنِّيَّةِ، وَمَحَلُّهَا الْقَلْبُ. وَلَا يُشْتَرَطُ النُّطْقُ بِلَا خِلَافٍ.

“Tidak sah puasa kecuali dengan niat, dan tempatnya adalah hati. Dan tidak disyaratkan harus diucapkan, tanpa ada perselisihan ulama…” (Raudhatu at-Thalibin wa ‘Amdatul muftiin, 2/350).

Hal ini bisa kita tanyakan dalam hati kita, apabila seseorang lupa kemudian makan dan minum hal itu tidak membatalkan puasanya, sebaliknya meskipun lisannya berkali-kali mengatakan lupa namun hatinya menyengaja, tetap juga membatalkan puasa, demikianlah tempat niat itu di dalam hati bukan di lisan.

2.    Menahan diri dari apa yang membatalkan puasa semenjak fajar matahari sampai terbenam matahari.

Allah ta’ala berfirman:

وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِ.

“Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. “ (QS. Al-Baqarah [2]:187).

 

BAB 8

Adab-Adab Berpuasa.

 

Adab-adab berpuasa yaitu:

1.   Makan Sahur

Hendaknya sahur terlebih dahulu karena ini barakah meskipun seteguk air.

Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً.

“Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.” (HR. al-Bukhari 1923, Muslim 1095, at-Tirmidzi 708, an-Nasai 2470).

Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَسَحَّرُوا وَلَوْ بِجُرْعَةِ مَاءٍ.

“Makan sahurlah kalian meski hanya dengan seteguk air.” )Shahih Ibni Hibban 884, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam Adz-Dzaifah 1405).

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ.

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur. )HR. at-Tabrani al-Mu’jam al-Ausath 6434, Shahih Ibnu Hibban 3467, dihasankan Syaikh al-Albani at-Ta’liqu ar-Raghib 2/92).

2.   Mengakhirkan sahur.

Hendaknya mengakhirkan makan sahurnya, karena hal ini termasuk yang disunnahkan.

Dari Anas, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ. قُلْتُ: كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسُّحُورِ؟ قَالَ: قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً.

“Kami makan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau berdiri menuju shalat. Aku bertanya: Berapa jarak waktu antara adzan dan sahur? Ia menjawab: Sekira-kira jaraknya seperti bacaan lima puluh ayat Al-Qur’an.” (HR. al-Bukhari 1921, Muslim 1097).

Jika adzan telah terdengar dan makanan atau minuman masih di tangannya, maka boleh ia memakan atau meminumnya, berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَاْلإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلاَ يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ.

“Barangsiapa di antara kalian yang mendengar adzan (Shubuh) dan bejana (makanan) masih di tangannya, maka janganlah ia menaruhnya sebelum ia menyelesaikan makannya.” (HR. Ahmad 9474, Abu Dawud 9474,  dihasankan Syaikh al-Albani di dalam Shahih wa dha’if Sunan Abu Dawud 2350).

3.   Meninggalkan  Perkataan Dan Perbuatan Yang Buruk.

Rasulullah sallallahu ‘alaihhi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت.

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. al-Bukhari  6018, Muslim 47).

وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ.

“Seorang penyeru menyeru, ‘Wahai yang mengharapkan kebaikan, bersegeralah (kepada ketaatan). Wahai para pelaku maksiat, berhentilah.” (HR. at-Tirmidzi 682, an-Nasai 2108 dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami’ 5832).

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ.

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. al-Bukhari 1903).

ألصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ،وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ.

“Puasa adalah tameng janganlah berkata kotor dan jangan berbuat bodoh, jika seseorang mengajak berkelahi atau mencelamu maka katakanlah aku sedang puasa dua kali.” (HR. al-Bukhari 1894).

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ.

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah  1690, an-Nasa’i 3236, dishahihkan Syaikh al Albani dalam Shahih at-Targib wa-at Tarhib 1083).

4.   Menyegerakan Berbuka (Ta’-Jil)

Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَزَالُ النّاَسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ.

“Umat manusia akan tetap baik selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” (HR. al-Bukhari 1957, Muslim 1098, at-Tirmidzi 699).

5.   Berbuka Puasa Dengan Kurma Atau Air Putih.

Diriwayatkan dari Anas, dia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَمَرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa dengan beberapa ruthab (kurma segar) sebelum mengerjakan shalat. Jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan beberapa tamr (kurma kering). Jika tidak ada tamr, beliau meminum beberapa teguk air. (HR. Ahmad 12676, Abu Dawud 2356, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam al-Irwa’ 922).

6.   Berdo’a ketika berbuka puasa dengan do’a yang terdapat dalam hadits berikut ini

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berbuka puasa selalu membaca:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ.

“Telah hilang rasa haus dan telah basah urat-urat, serta telah ditetapkan pahala, insya Allah.” (HR. Abu Dawud 2357, al-Baihaqi 1390, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam al-Irwa’ 920). (Lihat pula kitab al-Wajiz, Syaikh ‘Abdul Azhim bin Badawi al Khalafi).

 


Bab 9

Pembatal-Pembatal Puasa.

 

Pembatal-pembatal puasa yaitu:

1)    Makan.

2)    Minum.

Allah ta’ala berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ.

“Dan makan minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”(QS. Al-Baqarah[2]:187).

Kecuali keduanya dilakukan dalam keadaan lupa.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ, فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ, فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ, فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اَللَّهُ وَسَقَاهُ.

“Barangsiapa yang lupa sedang ia dalam keadaan puasa lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan puasanya karena Allah yang memberi ia makan dan minum.” (HR. al-Bukhari 1933, Muslim 1155).

3)    Muntah Dengan Sengaja.

Apabila seseorang tidak sengaja muntah hal itu tidaklah membatalkan puasanya.

مَنْ ذَرَعَهُ قَىْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ.

“Barangsiapa tidak sengaja muntah sedangkan dia dalam keadaan puasa, maka tidak ada qadha’ baginya. Namun apabila dia muntah (dengan sengaja), maka wajib baginya membayar qadha’.” (HR. Abu Daud 2380 Ibnu Majah1676; Tirmidzi 720. Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

4)    Haid.

Rasulullullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ.

“Bukankah jika wanita itu haid ia tidak shalat dan tidak puasa?” (HR. al-Bukhari 304 dan Muslim79).

5)    Nifas.

6)    Merokok.

7)    Menghirup Kokain, Heroin, Sabu, Narkoba Maupun Sejenisnya.

8)    Infuse Pengganti Makanan.

9)    Keluar Mani Dengan Sengaja.

10)          Jima’, Dengan Membayar Kafarah.

Dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata:

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ قَالَ مَا لَكَ قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا قَالَ لا قَالَ فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لا فَقَالَ فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا قَالَ لا قَالَ فَمَكَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ وَالْعَرَقُ الْمِكْتَلُ قَالَ أَيْنَ السَّائِلُ فَقَالَ أَنَا قَالَ خُذْهَا فَتَصَدَّقْ بِهِ فَقَالَ الرَّجُلُ أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لابَتَيْهَا يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ .

"Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seseorang, lalu dia berkata, 'Wahai Rasulullah, celakalah saya.' Beliau berkata, 'Ada apa denganmu?' dia berkata, 'Aku telah menggauli isteriku dalam keadaan puasa.' Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 'Apakah engkau memiliki budak yang engkau merdekakan?' Dia berkata, 'Tidak.' Lalu beliau berkata, 'Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut.' Dia berkata, 'Tidak.' Lalu beliau berkata, 'Apakah engkau dapat memberi makan 60 orang miskin?' Dia berkata, 'Tidak.' Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam dia bebera saat. Ketika kami adalam keadaan demikian, ada yang membawakan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam sekerangjan korma. Lalu dia berkata, 'Mana yang bertanya tadi?' Dia berkata, 'Saya.' Beliau berkata, 'Ambillah ini dan bersedekahlah dengannya.' Orang itu berkata, 'Kepada orang yang lebih fakir dariku ya Rasulullah, demi Allah, tidak ada keluarga di antara dua gunung ini, maksudnya dua perkampungan, yang lebih miskin dari keluarga saya.' Nabi shallallahu alaihi wa salalm tertawa hingga tampak gigi gerahamnya. Kemudian beliau berkata, 'Berilah makan keluargamu." (HR. Bukhari 1936, Muslim 1111).

11)          Masuknya Sesuatu Yang Menetap Di Lambung Dengan Sengaja.

12)          Hilang Ingatan, Baik Pingsan, Disebabkan Bius (Seharian), Atau Tiba-Tiba Gila.

13)          Cuci Darah.

14)          Murtad.

15)          Sebagian Ulama Menyebutkan, Niat Berbuka. (Fikih Muyassar).

 

BAB 10

Hal-hal yang dibolehkan orang berpuasa

 

1.  Berhubungan Badan Dimalam Hari.

Seperti bolehnya berhubungan di malam Ramadhan.

Allah ta’ala berfirman:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ.

“Dihalalkan bagi kalian pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kalian; mereka itu adalah pakaian bagi kalian, dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kalian tidak dapat menahan nafsu kalian.” (QS. Al-Baqarah[2]:187).

2.  Junub Di Waktu Subuh.

Dari (umul mukminin) Aisyah dan Ummu Salamah radhiallahu ‘anhuma, mereka menceritakan:

يُدْرِكُهُ الفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ، وَيَصُومُ.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki waktu subuh, sementara beliau sedang junub karena berhubungan dengan istrinya. Kemudian beliau mandi dan berpuasa.” (HR. al-Bukhari 1926 dan at-Tirmudzi 779).

3.  Bercumbu Dengan Pasangannya Selain Bersenggama.

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan:

كان رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ، وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ، وَلَكِنَّهُ أَمْلَكُكُمْ لِإِرْبِهِ.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium dan bercumbu dengan istrinya ketika puasa, namun beliau adalah orang yang paling kuat menahan nafsunya.” (HR. Muslim 1106, Ahmad 24154).

4.  Boleh Mandi Atau Sekedar Menyiram Kepala Agar Dingin.

Dari Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:

لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِالْعَرْجِ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ الْمَاءَ وَهُوَ صَائِمٌ مِنَ الْعَطَشِ أَوْ مِنَ الْحَرِّ.

“Sungguh, aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Al ‘Aroj mengguyur kepalanya -karena keadaan yang sangat haus atau sangat terik- dengan air sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa. ” (HR. Abu Daud 2366, al-Baihaqi 8261, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam al-Misykah 2011).

5.  Berkumur.

6.  Tetes Mata, Gosok Gigi, Suntik Insulin Dan Lainnya.

7.  Donor Darah Atau Hijamah, Selagi Tidak Menjadikan Lemah.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ أَ .

"Batallah puasa orang yang membekam dan dibekam." (HR. Abu Dawud 2369, Ahmad 15828, Ibnu Majah 1679, Tirmidzi 774, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahih Abu Dawud 2074).

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْتَجَمَ وَهُوَ مُحْرِمٌ، وَاحْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dalam keadaan berihram dan berpuasa.” (HR. al-Bukhari 1938).

سُئِلَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَكُنْتُمْ تَكْرَهُونَ الحِجَامَةَ لِلصَّائِمِ؟ قَالَ: لاَ، إِلَّا مِنْ أَجْلِ الضَّعْفِ.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ditanya, “Apakah kalian tidak menyukai berbekam bagi orang yang berpuasa?” Beliau berkata, “Tidak, kecuali jika bisa menyebabkan lemah.”(HR. al-Bukhari 1940).

Menurut jumhur ulama berbekam tidaklah membatalkan puasa, meskipun madzhab Hambali mengatakan batal.

8.  Mencicipi Masakan.

9.  Makan Dan Minum Tanpa Sengaja.

10.Muntah Tidak Sengaja.

11.Endoskpi, memasukkan alat tubuh.

Endoskopi tidak membatalkan puasa, karena endoskopi tidak membuat benda asing menetap di dalam tubuh. 

          Demikianlah uraian ringkas ini, bagi yang menghendaki lebih luas bisa membuka kitab-kitab fikih, semoga Allah memudahkan kita untuk melaksanakan kebaikan. Aamiin.

AMALAN YANG DIANJURAN DI BULAN RAMADHAN.

 Bab 11

Shalat Kiyamul Lail Dan Kiyamur Ramadhan (Tarwih).

 

Asalnya shalat tarwih adalah kiyamul lail yang dilakukan Rasullah selama tiga malam berturut-turut, namun beliau kuatir jika hal itu akan di wajibkan bagi umatnya sehingga beliaupun berhenti.

Ketika masa kekhalifahan Umar bin khatab kekuatiran itu telah hilang karena wahyu telah terputus, maka khalifah Umar bin Khatab melakukannya.

Allah ta’ala berfirman:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا.

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’ [17]:79).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarwih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari 37, Muslim 759).

Shalat sunnah malam hari dan siang hari asalnya satu kali salam setiap dua rakaat. Berdasarkan keterangan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah shalat malam itu?” Beliau menjawab:

مَثْنىَ مَثْنىَ فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ.

“Dua rakaat-dua rakaat, apabila kamu khawatir mendapati subuh, maka hendaklah kamu shalat witir satu rakaat.”(HR. Bukhari 1137, Muslim 749).

Dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma yang lain dikatakan:

صَلَاةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى.

“Shalat malam hari dan siang hari itu dua rakaat-dua rakaat.” (HR. Ahmad 4791, Ibnu Majah 1319, Abu Dawud 1295, dishahihkan didalam Shahih Abu Dawud 1172).

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ.

“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Tirmidzi 806, Ibnu Majah 1327, Nasai 1605, Dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Al Irwa’ 447). 

Yang dimaksud kiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh An Nawawi. (Syarh Muslim, 3/101).

Yang dimaksud kiyam Ramadhan adalah menghidupkan malamnya dengan ‘ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. (ta’liq Musthafa al-Bagha’ pada Shahih Bukhari 1904-1905).

   

Bab 12

Dianjurkan memperbanyak sedekah.

Allah ta’ala berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ.

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas dan Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah[2]:161).

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ.

“Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Ahmad 7206, Muslim 2588).

Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau bertambah kedermawanannya di bulan Ramadlan ketika bertemu dengan malaikat Jibril, dan Jibril menemui beliau di setiap malam bulan Ramadhan untuk mengulang bacaan Al-Qur’an.” (HR. Al Bukhari 3220, Ahmad 2616).

Memberi buka orang yang berpuasa memiliki pahala seperti orang yang berpuasa.

Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

 مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، إِلَّا أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ.

“Barangsiapa yang memberi buka orang puasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun.” (HR. Ahmad 17033, Tirmizi 807, Ibnu Majah, 1746, dishahihkan syaikh al-Albani di dalam shahih Al-Jami’, 6415).

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ.

“Infakkanlah sebagian dari apa yang Aku berikan kepada kalian, sebelum kematian mendatangi kalian, kemudian dia berkata: “Ya Rab, andai Engkau menunda ajalku sedikit saja, agar aku bisa bersedekah dan aku menjadi orang shaleh.” (QS. Al Munafiqun[63]: 10).

Allah ta’ala memerintahkan kepada kita agar bersedekah dengan harta yang kita cintai.

Allah ta’ala berfirman:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ.

“Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan, sampai kalian infakkan apa yang kalian cintai.” (QS. Ali Imran[3]: 92).

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العِبَادُ فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.

“Setiap datang waktu pagi, ada dua malaikat yang turun dan keduanya berdoa. Malaikat pertama memohon kepada Allah, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang memberi nafkah’, sementara malaikat satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikan kehancuran bagi orang yang pelit.’ (HR. Bukhari 1442 Muslim 1010).

 Sebagian orang-orang shalih dahulu berkata: “Kalau sekiranya saya mengundang sepuluh dari teman-temanku, kemudian memberikan makanan yang disukainya. Itu lebih saya sukai dibandingkan dengan memerdekakan sepuluh budak dari anak Ismail.

Dahulu banyak dari kalangan Sebagian orang-orang shalih dahulu lebih mendahulukan memberi buka puasa sementara dia masih dalam kondisi berpuasa. Di antaranya Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Dawud At-Thai, Malik bin Dinar dan Ahmad bin Hanbal dan lainnya. Bahkan Abdullah bin Umar tidak berbuka melainkan bersama orang-orang yatim dan orang miskin karena mengetahui keluarganya menolak kedatangan mereka. (Kaifa na’isyu Ramadhan, Syaikh Abdullah As-Shalih).

 

 


BAB 4 MACAM-MACAM SYIRIK BESAR. SOAL: 19 MENEPIS WAS-WAS SETAN, SIAPA YANG MENCIPTAKAN ALLAH

  BAB 4 MACAM-MACAM SYIRIK BESAR. SOAL: 19 MENEPIS WAS-WAS SETAN, SIAPA YANG MENCIPTAKAN ALLAH   س ١٩ - كَيْفَ تَرُدُّ سُوَالَ الش...