TERJADINYA PERANG UHUD.
UPAYA PARA WANITA QURAISY DALAM MEMBANGKITKAN SEMANGAT
Para wanita Quraisy menunaikan tugas mereka dalam pepe-rangan
di bawah komando Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan. Mereka berkeliling di
tengah-tengah barisan memukul rebana, mem-bakar semangat kaum pria, memotivasi
mereka untuk berperang, membangkitkan dendam kesumat para pahlawan dan
menggerakkan emosi pasukan. Terkadang mereka memotivasi para pembawa
panji-panji dengan berkata, "Wahai Bani Abdud Dar, wahai pelindung pasukan
belakang, pukullah (lawan) dengan semua senjata tajam." Terkadang pula
mereka membakar semangat kaumnya dengan men-dendangkan;
Jika kalian maju kami akan memeluk Dan kami akan bentangkan
kasur Jika kalian mundur kami akan berpisah Dengan perpisahan tanpa ada rasa
cinta
KORBAN PERTAMA PEPERANGAN
Kedua pasukan sudah mendekat dan kedua kelompok sudah
merapat, tahapan-tahapan perang telah dimulai, pemicu pertempuran pertama
adalah pembawa panji orang-orang musyrik, Thalhah bin Abu Thalhah al-Abdari, ia
adalah salah seorang prajurit Quraisy yang sangat pemberani, pasukan Islam
menjulukinya mesin perang, ia keluar dengan menunggang seokor onta, ia
menantang duel, orang-orang tidak mau menghadapinya karena keberaniannya yang
luar biasa, tetapi az Zubair maju menghadapinya tanpa memberinya
kesempatan dan langsung menikamnya bagaikan singa, hingga ia
berada di atas ontanya kemudian ia menjerembabkan onta itu ke bumi, lalu
melemparkannya dari atas onta dan menyembelihnya dengan pedangnya.
Nabi melihat perkelahian yang menarik ini, maka beliau
bertakbir dan diikuti oleh pasukan Islam, lalu beliau memuji az-Zubair, dan
berkata tentang kedudukannya, "Sesungguhnya setiap Nabi punya Hawari
(pengikut setia) dan Hawariku adalah Az Zubair."( 1 Disebut oleh penulis
as-Sirah al-Halabiyah, II/18).
Kedahsyatan Perang Di Sekitar Panji Kaum musyrikin Dan
Pembantaian Terhadap Para Pembawanya
Kemudian menyalalah api peperangan, pertempuran antara kedua
pasukan menghebat di setiap titik medan peperangan, dan kedahsyatan peperangan
terkonsentrasi di sekitar panji pasukan musyrikin. Banu Abdud Dar silih
berganti membawa panji itu setelah terbunuhnya komandan mereka Thalhah bin Abu
Thalhah, panji itu lalu dibawa oleh saudaranya Abu Syaibah Utsman bin Abu
Thalhah, lalu maju untuk bertempur sambil berkata,
"Sesungguhnya atas para pembawa panji ada kewajiban untuk
menjulangkan pohon atau menumbangkannya."
Hamzah bin Abdul Muththalib langsung menyerangnya dan menebas
pundaknya dengan tebasan yang memisahkan tangan dari pundaknya, hingga tebasan
itu sampai di pusarnya dan terurailah paru-parunya.
Kemudian panji itu diambil alih oleh Abu Said bin Abu
Thalhah, lalu Sa'ad bin Abi Waqqas memanahnya dengan anak panah hingga mengenai
tenggorokkannya, maka ia menjulurkan lidahnya dan mati seketika, ada yang
mengatakan: Yang benar Abu Sa'ad keluar menan-tang duel, maka Ali bin Abu
Thalib maju menantangnya, selanjutnya mereka berdua terlibat dalam perkelahian,
hingga akhirnya Ali mem-babatnya dan membunuhnya.
Kemudian panji beralih kepada Musafi' bin Abi Thalhah, Maka
ia dipanah oleh Ashim bin Tsabit bin Abu al-Aqlah hingga membuat-nya tewas,
setelah itu panji tersebut diambil alih oleh saudaranya Kilab bin Thalhah bin
Abu Thalhah, lalu ia diserang oleh az-Zubair bin al-Awwam, diperangai hingga
akhirnya dibunuh, lalu panji itu berpindah ke tangan saudara mereka berdua
al-Jallas bin Thalhah bin Abu Thalhah, maka ia ditikam oleh Thalhah bin
Ubaidillah hingga
membuatnya tewas, namun ada pula yang mengatakan bahwa dia
dipanah oleh Ashim bin Tsabit bin Abi al-Aqlah hingga membuatnya tewas.
Keenam orang itu berasal dari satu rumah, rumah Abu Thalhah
Abdullah bin Ustman bin Abdud Dar, mereka semua terbunuh di sekitar panji
pasukan musyrikin. Selanjutnya panji berpindah tangan kepada Arthah bin
Syarahbil dari Bani Abdud Dar, hingga akhirnya ia dibunuh oleh Ali bin Abu
Thalib, ada pula yang mengatakan; oleh Hamzah bin Abdul Muththalib, setelah itu
panji dibawa oleh Syuraih bin Qaridh, lalu ia juga dibunuh oleh Qazman -
seorang munafik yang berperang bersama orang-orang Islam karena masalah kehor-matan
bukan karena Islam- lalu ia dipegang oleh Abu Zaid Amr bin Abdu Manaf al-Abdari
dan ia juga dibunuh oleh Qazman kemudian ia dibawa oleh anak Syarahbil bin
Hasyim al-Abdari dan ia juga dibunuh oleh Qazman.
Kesepuluh orang pembawa panji yang berasal dari Bani Abdud
Dar tersebut mati semua, tidak tersisa seorang pun dari mereka yang membawanya,
maka budak hitam mereka-bernama Shawab- maju membawa panji itu dengan
menampakkan keberanian dan keteguhan yang melebihi keberanian dan keteguhan
tuan-tuannya para pembawa panji yang telah terbunuh sebelumnya, ia berperang
hingga terpotong tangannya maka ia mengapit panji itu dengan dada dan lehernya,
supaya ia tidak jatuh, hingga akhirnya ia terbunuh, ia berkata, "Ya Allah!
Apakah Engkau mengampuni?"
Setelah budak ini -Shawab- mati panji itu jatuh ke tanah, dan
tidak ada seorang pun yang mengambilnya, sehingga ia tetap tergeletak.
PEPERANGAN DI TITIK-TITIK YANG LAIN
Ketika kedahsyatan perang berpusat di sekitar panji pasukan
musyrikin, Saat itu pertempuran yang mengerikan pun terjadi di seluruh
titik-titik peperangan. Ruh iman menyelimuti seluruh pasukan Islam, mereka
menyerbu di tengah-tengah pasukan musyrikin laksana Aliran banjir bandang yang
menjebol bendungan-bendungan, sambil mereka berkata, "Bunuhlah
bunuhlah." Itulah slogan mereka pada waktu perang Uhud.
Abu Dujanah maju dengan pengikat kepalanya yang merah itu, ia
membawa pedang Rasulullah bertekad memenuhi haknya, lalu bertempur hingga masuk
ke dalam tengah-tengah pasukan, setiap kali ia bertemu orang musyrik pasti ia
membunuhnya ia memporak-porandakan barisan lawan. Az-Zubair bin al-Awwam
berkata, "Aku
merasakan kekecewaan dalam diriku ketika aku meminta pedang
dari Rasulullah namun beliau tidak memberikannya padaku, tapi memberikannya
pada Abu Dujanah aku berkata pada diriku sendiri, "Aku adalah putra
Shafiyah bibi beliau dan dari suku Quraisy, aku telah menghadap kepadanya,
meminta pedang itu darinya sebelum Abu Dujanah memintanya, lalu beliau
memberikannya padanya dan meninggalkanku, demi Allah! aku akan melihat apa yang
akan diperbuat oleh Abu Dujanah? Lalu aku membuntutinya, ia mengelu-arkan ikat
kepalanya yang merah, kemudian mengikatkannya di kepala, orang-orang Anshar
berkata, "Abu Dujanah telah menge-luarkan ikat kepala kematian, lalu ia
maju sambil berkata,
"Akulah orang yang telah diambil janji oleh kekasihku
ketika kami di kaki gunung di bawah pohon korma
Agar untuk selamanya tidak berada di barisan belakang, aku
membabat musuh dengan pedang Allah dan Rasul-Nya."
Setelah itu setiap kali berpapasan dengan seseorang ia pasti
membunuhnya, kala itu di pasukan musyrikin ada seseorang yang tidak mendapati
prajurit kami yang terluka kecuali pasti dibunuh-nya, kemudian Abu Dujanah dan
orang musyrik tersebut saling mendekat, aku berdoa pada pada Allah untuk
mempertemukan mereka, dan merekapun bertemu, dua sabetan mereka tidak kena
sasaran, lalu orang musyrik itu membabat Abu Dujanah dan Abu Dujanah berlindung
di perisainya hingga dapat menahan pedangnya lalu giliran Abu Dujanah
membabatnya dan berhasil membunuh-nya."
Kemudian Abu Dujanah semakin dalam masuk ketengah-tengah
barisan lawan, hingga ia tiba di hadapan komandan kaum wanita Quraisy sedang
dia tidak mengetahuinya. Abu Dujanah berkata, "Aku melihat seseorang yang
menikami pasukan dengan membabi-buta, maka aku pun mencegatanya, namun ketika
aku akan memu-kulkan pedangku, ternyata ia adalah seorang wanita, maka aku
memuliakan pedang Rasulullah dengan tidak menebaskannya pada wanita."
Wanita itu tidak lain adalah Hindun binti Uthbah. Az-Zubair
bin al-Awwam berkata, "Aku melihat Abu Dujanah telah mengang-kat pedangnya
digaris rambut yang ada di kepala Hindun binti Uthbah lalu ia menariknya dari
Hindun, maka aku berkata, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui (mengapa
dia mengurungkannya,
selangkangannya, ia berjalan ke arahku tetapi ia tersungkur,
aku meninggalkannya dan juga tombakku hingga akhirnya dia tewas, lalu aku
mendatanginya lagi dan mengambil tombakku kemudian aku kembali ke tenda dan
duduk di dalamnya, karena aku tidak punya kepentingan dengan orang lain, aku
membunuhnya hanya karena ingin dimerdekakan, maka ketika aku tiba di Mekkah aku
dimerdekakan." ( Lihat Fatimal Bariy, VII/346).
PENGUASAAN MEDAN
Meski kerugian besar telah menimpa pasukan Islam karena
terbunuhnnya singa Allah dan singa Rasul-Nya Hamzah bin Abdul Muththalib,
pasukan Islam tetap menguasai seluruh medan pepe-rangan. Pada hari itu Abu
Bakar, Umar bin al-Khaththab, Ali bin Abu Thalib, az-Zubair bin al-Awwam,
Mush'ab bin Umair, Thalhah bin Ubaidillah, Abdullah bin Jahsy, Saad bin Mu'adz,
Saad bin Ubadah, Sa'ad bin ar-Rabi', Anas bin an-Nadhr dan orang-orang yang
semisal mereka menggempur lawan dengan gempuran yang memporak po-randakan keteguhan
mereka dan mengobrak-abrik kekuatan mereka.
DARI PELUKAN SEORANG WANITA BERPINDAH KE ADU PEDANG DAN
PERISAI KULIT
Di antara kesatria yang terjun pada hari itu adalah Handhalah
-orang yang dimandikan oleh malaikat-, dia adalah Handhalah bin Abu Amir
-sedang Abu Amir ini adalah ar-Rahib yang dijuluki si fasik di atas-. Handhalah
adalah orang yang baru saja menikah, maka ketika ia mendengar panggilan untuk
berperang-padahal ia sedang bersama istrinya- segera ia melepaskan diri dari
pelukannya dan langsung bangkit pergi berjihad. Ketika ia bertemu pasukan
musyri-kin di medan pertempuran, ia menerobos barisan musuh, hingga sampai di
hadapan komandan pasukan musyrikin Abu Sufyan Shahkr bin Harb, ia hampir saja
membunuhnya andai saja Allah tidak meng-anugerahkan syahadah kepadanya, ia
telah berhasil mengalahkan Abu Sufyan, maka tatkala ia telah berada di atasnya
dan menguasai-nya ia terlihat oleh Syaddad bin al Aswad maka ia memukulnya
hingga tewas.
PERAN PASUKAN PEMANAH DI PEPERANGAN
Kelompok yang ditunjuk oleh Rasulullah untuk mengambil posisi
di Jabal ar-Rumah (gunung para pemanah, penj) mempunyai
andil besar dalam mengontrol arus serangan untuk kepentingan
pasukan Islam. Pasukan berkuda Mekkah di bawah pimpinan Khalid bin al-Walid
yang dibantu oleh Abu Amir si fasik telah menyerang tiga kali, untuk
mengahancurkan sayap pasukan Islam sebelah kiri, dengan tujuan menyusup ke
bagian belakang pasukan Islam, untuk membuat kekacauan dan kebingungan di
barisan mereka dan menimpakan atas mereka kekalahan telak, tetapi para pemanah
itu menghujani mereka dengan anak panah hingga gagallah ketiga serangan mereka.(Ibnu
Hisyam, 1/75).
KEKALAHAN MENIMPA PASUKAN MUSYRIKIN
Begitulah kobaran perang yang sengit itu berlangsung, pasukan
Islam yang kecil itu tetap menguasai seluruh medan, hingga melemah-lah
keteguhan para kesatria pasukan musyrikin dan barisan mereka mulai bercerai
berai dari arah kanan, kiri, depan dan belakang, seolah-olah tiga ribu orang
musyrik sedang menghadapi tigapuluh ribu Muslim, bukan melawan beberapa ratus
Muslim. Memang pasukan Islam menjelma dalam gambaran keberanian dan keyakinan
yang luar biasa.
Setelah pasukan Quraisy mengerahkan semua tenaganya untuk
menghadang serangan pasukan Islam, mereka pun merasakan lemah dan frustasi
serta hilanglah semangat mereka -hingga tidak satu pun dari mereka yang berani
mendekati panji mereka yang telah jatuh setelah terbunuhnya Shawab dan
membawanya supaya pertempuran berlangsung di sekitarnya- mereka mulai mundur
dan melarikan diri sambil melupakan apa yang mereka ucapkan di dalam diri
mereka, berupa balas dendam, menuntut balas dan pengembalian kemuliaan, kehormatan
dan kejayaan.
Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian Allah menurunkan
pertolongan-Nya kepada pasukan Islam, dan memenuhi janji-Nya pada mereka,
mereka membabat pasukan musuh dengan pedang-pedang hingga berhasil mengusir
mereka dari perkemahan mereka dan kekalahan tidak diragukan lagi. Abdullah bin
az-Zubair meriwayatkan dari bapaknya, bahwa ayahnya berkata, "Demi Allah
aku telah melihat gelang kaki Hindun binti Uthbah dan teman-teman wanitanya
karena berlarian tunggang langgang dan hampir saja mereka tertangkap.( Ibid).
KESALAHAN FATAL PARA PEMANAH
Ketika pasukan Islam yang sedikit itu untuk kedua kalinya
mencatat kemenangan besar atas Mekkah, suatu kemenangan yang tidak kalah
mengesankannya dari pada kemenangan yang mereka peroleh di medan Badar,
terjadilah kesalahan fatal dari mayoritas pasukan pemanah, hingga membalikan
total keadaan dan menyebab-kan kerugian besar pada pasukan Islam, bahkan hampir
saja menjadi penyebab terbunuhnya Nabi. Hal ini benar-benar telah memberi-kan
kesan buruk bagi kredibilitas dan kewibawaan yang telah mereka nikmati setelah
perang Badar.
Telah kita sebutkan di atas teks perintah-perintah tegas yang
Rasulullah berikan kepada pasukan pemanah itu, agar mereka tetap di tempat
mereka di gunung dalam situasi apa pun, baik menang atau pun kalah, tetapi,
meski ada perintah-perintah yang demikian kerasnya, ketika mereka melihat
pasukan Islam sedang mengumpulkan ghanimah (harta rampasan perang musuh), ego
mereka yang cinta dunia menang, sebagian berkata kepada yang lain,
"Ghanimah, gharimah, para sahabat kalian telah menang, apa lagi yang kalian
tunggu?." Adapun komandan mereka Abdullah bin Jubair, ia benar-benar telah
mengingatkan mereka akan perintah-perintah Rasulullah, dia berkata,
"Apakah kalian lupa pesan Rasulullah kepada kalian?."
Tetapi mayoritas pasukan tidak peduli sama sekali akan
peringatan ini, mereka berkata, "Demi Allah, kami akan bergabung dengan
mereka, sehingga kami akan memperoleh harta rampasan perang." Kemudian
empat puluh prajurit atau lebih dari pasukan pemanah itu meninggalkan posisi
mereka di bukit dan bergabung dengan mayoritas pasukan untuk ikut bersama
mereka mengumpul-kan ghanimah. Dengan Demikian bagian belakang pasukan Islam
tidak terlindungi, karena pasukan pemanah itu tidak tersisa kecuali Ibnu Jubair
dan sembilan anak buahnya atau kurang dari itu, mereka
tetap pada posisi mereka, bertekad untuk tetap di sana hingga
diizinkan bubar.
KHALID BIN AL-WALID MEMBUAT STRATEGI PENGEPUNGAN PASUKAN
ISLAM
Khalid bin al-Walid memanfaatkan kesempatan emas ini, ia
berputar dengan sangat cepat, hingga sampai di belakang pasukan Islam, tidak
berapa lama kemudian ia pun membantai Abdullah bin Jubair dan anak buahnya lalu
menyerbu pasukan Islam dari arah belakang mereka. Pasukan berkuda nak buah
Khalid bin al-Walid berteriak, sehingga pasukan musyrikin yang kalah itu tahu
adanya perkembangan baru, maka mereka berbalik ke arah pasukan Islam. Salah
seorang wanita mereka Amrah binti Alqamah al-Haritsiyah-berlari dengan cepat
dan mengangkat panji pasukan musyrikin yang tergeletak di tanah, sehingga
orang-orang musyrik berkumpul di sekelilingnya dan mengerumuninya, sebagian
mereka memanggil sebagian yang lain hingga mereka berkumpul untuk menyerang
pasukan Islam, dan bersiap tegar menghadapi pertempuran, sehingga pasukan Islam
terkepung dari depan dan belakang, terjepit di tengah-tengah medan pertempuran.
SIKAP KSATRIA RASULULLAH MENGHADAPI TAKTIK PENGEPUNGAN
Pada waktu itu Rasulullah bersama sekelompok kecil, yaitu
sembilan orang sahabatnya di bagian belakang pasukan Islam,2 beliau sedang
mengawasi mereka yang sedang membunuh dan mengejar pasukan musyrikin, ketika
secara tiba-tiba mereka diserang oleh pasukan berkuda Khalid. Di hadapan beliau
ada dua pilihan, yang pertama beliau menyelamatkan diri dengan cepat -bersama
sembilan sahabatnya ke tempat perlindungan yang aman dan membiarkan pasukannya
yang terkepung menuju takdirnya yang tertulis, sedang yang kedua mempertaruhkan
nyawanya dan menyeru para sahabatnya agar berkumpul di sekitarnya kemudian
bersama mereka membentuk front yang kuat untuk beliau gunakan membuka jalan ke
arah bukit-bukit Uhud bagi para pasukannya yang terkepung.
Di sana tampaklah kejeniusan Rasulullah, dan keberanian-nya
yang tiada tanding, beliau mengeraskan suaranya memanggil para sahabatnya,
"Wahai hamba-hamba Allah." Beliau tahu bahwa
Disebutkan dalam Shahih Muslim, II/107; bahwa Nabi pada
perang Uhud berada ber-sama tujah orang Anshar dan dua orang dari Quraisy.
Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah (artianya),
"Sedang Rasul yang berada di antara kawan-katoenmu yang lain memanggil
kamu." (Ali Imran: 153).
orang-orang musyrikin akan mendengar suara beliau sebelum
didengar oleh orang-orang Islam, tetapi beliau memanggil dan menyeru mereka
dengan mempertaruhkan jiwanya pada situasi yang genting ini.
Benar saja, pasukan musyrikin mengetahui keberadaan beliau,
maka mereka pun merangsek ke arahnya, sebelum kaum Muslimin sampai kepada
beliau.
Perselisihan Pasukan Islam Dalam Bersikap
Keadaan sekelompok pasukan Islam setelah mereka berada dalam
pengepungan, menjadi kehilangan akal sehat, mereka tidak memikirkan kecuali
diri mereka sendiri, mereka memilih melarikan diri dan meninggalkan medan
pertempuran, mereka tidak tahu hikmah apa di balik ini semua. Di antara
kelompok ini ada yang lari ke arah Madinah dan masuk ke dalamnya, sebagian
lainnya lari ke atas gunung dan sebagian yang lain berlari ke arah pasukan
musyrik sehingga mereka bercampur dengan mereka, kedua pasukan berbaur dan tidak
dapat dibedakan sehingga terjadilah pembunuhan antar sesama prajurit Islam.
Al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah, ia berkata, "Pada perang Uhud pasukan
musyrik kalah telak, maka iblis berteriak, "Wahai hamba-hamba Allah,
lihatlah ke belakang kalian -wapadalah serangan dari belakang kalian- maka
barisan depan pun berbalik ke arah belakang, mereka dan barisan belakang
akhirnya saling bunuh, Hudzaifah sadar, ia melihat ia berhadapan dengan
bapaknya al-Yaman, maka ia berkata, "Wahai para hamba Allah! Bapakku, bapakku."
Aisyah berkata, "Demi Allah mereka tidak mau berhenti hingga akhirnya
mereka membunuhnya." Maka Hudzaifah berkata, "Mudah-mudahan Allah
mengampuni kalian." Urwah berkata, "Demi Allah! dalam diri Hudzaifah
senantiasa ada kebaikan hingga ia menemui Allah.” (Shahih al-Bukhariy, 1/539,
Fathul Bariy, VII/351, 362, 363. Selain al-Bukhari menyebutkan bahwa Rasulullah
ingin membayar diyah (ganti rugi) atas terbunuhnya bapaknya, Hudzaifah me
menjawab, "Aku bersedekah dengan diyahnya untuk orang-orang Islam"
hal itu menambah kebaikan Hudzaifah di sisi Nabi. Lihat Mukhtashar
Siraturrasul: Syaikh Abdullah An Najdi, h.236).
Dalam kelompok ini terjadi kekalutan yang tidak terpekirakan,
mereka dikuasai oleh kekacauan, banyak dari mereka yang bingung, tidak
mengetahui ke mana harus bergerak. Ketika mereka dalam situasi seperti itu,
tiba-tiba mereka mendengar teriakan seseorang, "Sesungguhnya Muhammad
telah terbunuh," maka lenyaplah sisa kesadaran mereka dan runtuhlah
semangat juang mereka, atau hampir
runtuh di dalam diri kebanyakan anggota kelompok itu, maka
sebagian dari mereka berhenti berperang, melemparkan senjata-senjatanya dengan
pasrah, dan sebagian yang lain berpikir untuk menghubungi Abdullah bin
Ubay-gembong kaum munafik- agar ia dapat meminta jaminan keamanan untuk mereka
kepada Abu Sufyan.
Anas bin an-Nadhir melewati mereka dalam keadaan mereka telah
melemparkan senjata, ia berkata, "Apa yang kalian tunggu?", Mereka
menjawab, "Rasulullah terbunuh." Ia bertanya, "Apa yang akan
kalian lakukan sepeninggal beliau?, bangkit dan matilah seperti kematian
Rasulullah, kemudian ia berkata, "Ya Allah, aku memohon maaf kepadamu atas
apa yang mereka -orang-orang Islam perbuat-aku berlepas diri kepadamu atas apa
yang mereka -orang-orang musyrik lakukan-." Kemudian ia maju dan bertemu
dengan Sa'ad bin Mu'adz, ia bertanya, "Mau ke mana wahai Abu Amir? Anas
men-jawab, "Aku mencium bau surga wahai Sa'ad! Aku mendapatinya ada di
balik Uhud." Kemudian ia pergi dan memerangi pasukan musyrikin hingga
gugur, ia tidak dikenali kecuali setelah dikenali oleh saudara perempuannya
selesai perang- melalui jari jemarinya, sementara di badannya ada delapan puluh
lebih luka, baik karena tusukan tombak, sabetan pedang dan hunjaman anak panah.(
Záhel Mu'ad, II/93, 96. Shahih al-Bukhariy, 11/579).
Tsabit bin ad-Dahdah menyeru kaumnya dan berkata, "Wahai
kaum Anshar! Jika Muhammad telah terbunuh, maka sesungguhnya Allah hidup tidak
mati, peranglah demi agama kalian, karena sesungguhnya Allah akan memenangkan
dan menolong kalian," maka bangkitlah berapa orang dari kalangan Anshar,
lalu ia dan para sahabatnya menyerang pasukan berkuda Khalid, ia terus
memerangi mereka hingga akhirnya dibunuh oleh Khalid dengan tombak dan terbunuh
pula sahabat-sahabatnya. (As-Sirah al-Halabiyah, 11/22)
Seorang dari kalangan Muhajirin melewati seorang dari
kalangan Anshar yang sedang berlumuran darah, ia berkata, "Wahai fulan,
apakah engkau merasa bahwa Muhammad telah gugur?" Orang Anshar itu
menjawab, "Jika Muhammad telah mati ia telah menyam-paikan risalah, maka
berperanglah kalian demi agama kalian."(Zádul Ma'Ad, II/%).
Dengan jiwa patriotisme dan motivasi seperti ini pulihlah
semangat juang para prajurit Islam dan kembalilah kesadaran dan akal sehat
mereka, mereka meninggalkan pemikiran tentang menye-rah atau menghubungi
Abdullah bin Ubay mereka mengambil lagi
senjata mereka, menyerbu barisan pasukan musyrik dan berupaya
menerobos jalan menuju posisi komandan, mereka telah mendengar bahwa berita
tentang terbunuhnya Nabi adalah berita bohong dan palsu, hal itu menambah
kekuatan yang ada pada diri mereka, mereka pun berhasil lolos dari kepungan dan
berhasil berkumpul di seputar tempat yang kokoh setelah bertempur dengan sengit
dan berperang dengan keberanian luar biasa.
Di sana ada kelompok ketiga yang tidak mempedulikan apaun
kecuali Rasulullah 堀 kelompok ini telah pergi mendekati
Rasulullah ketika taktik pengepungan baru saja dilaksanakan, di barisan depan
kelompok ini Abu Bakar ash Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, Ali bin Abi Thalib
dan lainnya. Mereka sebelumnya ada di barisan depan para penyerang, tetapi
ketika merasa bahaya mengancam diri Nabi yang mulia mereka pindah ke barisan
depan tentara yang bertahan.
KEDAHSYATAN PERTEMPURAN DI SEKITAR RASULULLAH
Ketika kelompok-kelompok itu menghadapi taktik pengepungan
dan terjepit di tengah-tengah pasukan musyrikin, pertempuran sengit terjadi di
sekitar Rasulullah Telah kita sebutkan di atas bahwa pasukan musyrikin ketika
memulai taktik pengepungan, tidak ada yang bersama Rasulullah kecuali sembilan
orang, maka ketika beliau memanggil orang-orang Islam, "Mendekatlah
kemari, aku Rasu-lullah," orang-orang musyrik mendengar suara beliau, maka
mereka merangsek ke arah beliau dan menyerangnya dengan segala kekuatan mereka,
mereka mengepung beliau sebelum satu pun dari pasukan Islam kembali mendekati
beliau, maka terjadilah pertempuran sengit antara orang-orang musyrik dan
kesembilan sahabat itu, di dalamnya tampaklah ungkapan cinta, pengorbanan,
patriotisme dan kepahla-wanan yang tiada tara.
Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa
Rasu-lullah pada perang Uhud terpisah dari pasukan bersama tujuh orang dari
kalangan Anshar dan dua orang dari suku Quraisy, maka ketika pasukan musyrik
menyerang beliau, beliau berkata, "Siapa yang mau membela kami dari
serangan mereka, maka baginya surga? Atau dia menjadi temanku di surga?."
Maka majulah salah seorang dari Anshar dan bertempur hingga gugur, kemudian
mereka menyerang beliau lagi, beliau berkata, "Siapa yang mau membela kami
dari dengan mereka maka baginya surga? Atau dia menjadi temanku di surga?"
Maka majulah seorang dari Anshar, selanjutnya bertempur hingga gugur, begitulahseterusnya
hingga gugurlah ketujuh orang tersebut, maka Rasulullah berkata kepada kedua
sahabatnya-yang dari Quraisy- "Alangkah tulusnya sahabat-sahabat
kita."( Shahih Muslim bab Ghazwah Uhud, II/107).
Prajurit terakhir dari ketujuh orang itu adalah Imarah bin
Yazid bin as-Sakan, bertempur hingga ia penuh dengan luka dan gugur. (Sesaat
kemudian datanglah sekelompok prajurit Islam ke arah Nabi, mereka men-jauhkan
orang-orang kafir itu dari dekat Imarah dan mendekatkannya pada Rasulullah
beliau membantalinya dengan kakinya, ia pun mati dalam keadaan pipinya di atas kaki
Rasulullah Ibnu Hisyam, 1/81. 3 Shahih al-Bukhariy, 1/527; II/571).
SAAT-SAAT PALING SULIT DALAM KEHIDUPAN RASULULLAH
Setelah gugurnya Ibnu as-Sakan Rasulullah hanya tinggal
bersama dua orang Quraisy. Dalam Shahih al-Bukhariy dan Muslim dari Abu Utsman,
ia berkata, "Tidak tersisa bersama Nabi ﷺ pada salah satu pertempuran-pertempuran tersebut kecuali
Thalhah bin Ubaidillah dan Sa'ad bin Abu Waqqash, itu adalah saat paling sulit
dalam kehidupan Rasulullah dan kesempatan emas bagi pasukan musyrikin, mereka
tidak menunggu lama untuk memanfaatkan kesem-patan itu, mereka memfokuskan
serangan pada Nabi dan sangat berambisi membunuh beliau, beliau dilempar batu
oleh Uthbah bin Abu Waqqash dan mengenai lambungnya, gigi seri beliau sebelah
kanan bagian bawah juga terkena, dan bibir bawahnya juga terluka, Abdullah bin
Syihab az-Zuhri maju ke depan beliau dan melukai beliau di dahinya. Kemudian
datanglah prajurit penunggang kuda yang sombong, Abdullah bin Qam'ah, ia
membabat pundak Nabi dengan pedang dengan babatan yang keras, karena sabetan
itu beliau mengeluh kesakitan lebih dari sebulan, tetapi sabetan itu tidak
merobek dua baju besi beliau, lalu ia memukul dengan keras bagian atas pipi
beliau seperti pukulan pertama, hingga dua lingkaran gelang topi besi Nabi
masuk ke pipi beliau, "Rasakan pukulan ini, aku Ibnu Qam'ah."
Rasulullah berkata sambil mengusap darah dari wajahnya, "Semoga Allah
menghinakan dirimu."
Dalam Shahih al-Bukhariy disebutkan bahwa gigi seri Nabi ﷺ patah, kepalanya terluka dan darah mengalir darinya, kemudian
beliau berkata, "Bagaimana mungkin suatu kaum akan
beruntung sedang mereka melukai wajah Nabi mereka?, dan mematahkan gigi serinya
sedang Jia menyeru mereka kepada Allah", maka Allah menurunkan ayat:
لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٍ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ
أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ
"Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka
itu, atau Allah menerima taubat mereka atau mengazab mereka, karena
sesungguh-mya mereka itu orang-orang yang zhalim." ( Shukh al-Bukhariy
11/582 dan Shahih Muslim, 11/108. (Ali Imran: 128)).
Dalam riwayat ath-Thabarani disebutkan bahwa beliau pada hari
itu berkata, "Kemarahan Allah menjadi jadi atas suatu kaum yang membuat
berdarah wajah Rasul-Nya, kemudian diam sebentar lalu berkata, "Ya Allah,
ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui." (FB VII/373)
Dalam Shahih Muslim beliau berkata, "Wahai Tuhanku,
ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak tahu." (Shahih Muslim
bab Gharwah Uhud, II/108).
Dalam kitab asy-Syifa'
karangan al-Qadhi Iyadh, beliau berkata, "Ya Allah, berilah petunjuk pada
kaumku karena mereka tidak tahu."
Tidak diragukan lagi bahwa pasukan musyrikin ingin
meng-habisi Rasulullah hanya saja dua orang Quraisy, Sa'ad bin Abi Waqqash dan
Thalhah bin Ubaidillah melakukan sikap kepahla-wanan yang tiada tara, dan
bertempur dengan keberanian yang tiada duanya, sehingga mereka tidak memberi
peluang bagi pasukan musyrikin untuk merealisasikan tujuannya padahal mereka
hanya berdua saja, namun keduanya merupakan pemanah Arab yang ulung, maka
keduanya pun memanahi lawan hingga mengusir sekelompok orang-orang musyrik dari
dekat Rasulullah
Adapun Sa'ad bin Abi Waqqash, maka Rasulullah ikut membukakan
sarung anak panahnya untuknya, dan berkata, "Panahlah, ibu Bapakku."
Hal yang menunjukkan kemampuannya yang luar biasa, adalah bahwa Nabi tidak
menggabungkan bapak ibunya dengan siapa pun selain Sa'ad.s
Tentang Thalhah bin Ubaidillah, Imam an-Nasa'i telah
meriwa-yatkan dari Jabir bin Abdillah kisah pengepungan kaum musyrikin terhadap
Nabi yang kala itu bersama sekelompok orang-orang Anshar, berkata Jabir,
"Kaum musyrikin berhasil mendekati Rasu- lullah maka beliau berkata,
"Siapa yang menghadapi mereka?", Berkata Thalhah, "Aku",
kemudian Jabir mengisahkan tentang maju-nya orang-orang Anshar (menghadapi
lawan) hingga akhirnya mereka gugur satu persatu, sama seperti yang kita sebutkan
di atas dari riwayat Imam Muslim. Tatkala orang-orang Anshar gugur keseluruhan,
Thalhah pun maju mengahadapi musuh. Jabir berkata, "Kemudian Thalhah
bertempur bagaikan sebelas orang hingga akhirnya tangan-nya terkena bacokan dan
jari-jemarinya putus, dia pun berkata, "Aduh!" Maka berkatalah Nabi,
"Andai engkau mengatakan bismillah, niscaya para malaikat mengangkatmu dan
orang-orang akan melihat." berkata Jabir, "Kemudian Allah mengusir
orang-orang musyrik."1 Sedangkan pada riwayat al-Hakim di dalam al-Iklil
disebutkan, bahwa Thalhah pada perang Uhud tersebut terluka sebanyak tiga puluh
sembilan atau tiga puluh lima tikaman sedang jari-jemarinya putus, yaitu jari
telunjuk dan jari tengah. 2
Al-Bukhari meriwayatkan dari Qais bin Abi Hazim, ia berkata,
"Aku melihat tangan Thalhah terpotong, dengan tangan itu ia melin-dungi
Nabi pada perang Uhud. 3
At-Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ pada hari itu berkata tentang Thalhah, "Barangsiapa ingin
melihat seorang syahid yang berjalan di atas bumi, maka hendaknya melihat
Thalhah bin Ubaidillah."4
Abu Dawud Ath Thayalisi meriwayatkan dari Aisyah, ia
berka-ta, "Abu Bakar jika ingat perang Uhud berkata, "Hari itu
semuanya pertempuran Thalhah."s
Abu Bakar juga bersenandung tentangnya,
"Wahai Thalhah bin Ubaidillah, sungguh engkau berhak
masuk surga dan duduk di atas mutiara yang indah."6
Dalam situasi mendebarkan dan saat yang sulit itu, Allah
me-nurunkan pertolongan-Nya secara ghaib, disebutkan di dalam Shahih
al-Bukhariy dan Muslim dari Sa'ad, ia berkata, "Aku melihat Rasulullah
pada perang Uhud, ditemani dua orang yang berperang mem-belanya, mereka memakai
baju berwarna putih, mereka berperang dengan sangat gagah. Aku tidak pernah
melihatnya baik sebelum atau sesudah perang." Dan dalam riwayat lainnya
disebutkan, "Mereka adalah Jibril dan Mikail."1
Awal Berhimpunnya Para Sahabat Di Sekitar Rasulullah
Rentetan peristiwa di atas terjadi dengan sangat cepat dalam
waktu yang sangat singkat, terbukti, para sahabat pilihan Nabi-yang berada di
barisan depan pasukan Islam ketika peperangan- hampir tidak tahu perkembangan
situasi atau mendengar suara beliau sehingga dengan demikian mereka segera
mendekat kepada beliau, agar tidak menimpanya apa yang tidak merea kehendaki,
mereka baru mencapai posisi beliau ketika beliau telah menderita luka-luka -dan
empat orang Anshar telah terbunuh, prajurit ketujuh telah terluka parah sedang
Sa'ad dan Thalhah berjuang mati-matian- ketika telah tiba di dekat beliau
mereka membuat pagar dari tubuh sedangkan senjata mereka di sekitar beliau,
mereka sangat serius dalam melin-dungi beliau dari gempuran musuh dan menangkis
serangan mereka. Orang pertama yang kembali ke dekat beliau adalah sahabat
setianya, Abu Bakar Ash Shiddiq.
Ibnu Hibban dalam Shahihnya meriwayatkan dari Aisyah, ia
berkata, "Abu Bakar Ash Shiddiq berkata, "Ketika terjadi perang Uhud
seluruh prajurit lari meninggalkan Nabi, aku adalah orang pertama yang kembali
mendekati Nabi aku melihat di depan beliau ada seorang pria yang membela dan
melindungi beliau, aku berkata dalam hati, "Semoga engkau Thalhah, bapak
dan ibuku menjadi tebusanmu, hal itu aku katakan karena terlewat dariku
beberapa peristiwa. Aku berkata dalam hati, "Jika dia adalah pria dari
kaumku tentu lebih aku suka)², tidak beberapa lama Abu Ubaidah bin al-Jarrah
menyusulku, ia berlari cepat seperti seekor burung, hingga dapat menyusulku,
maka kami bergegas ke arah Nabi ternyata di hadapan beliau Thalhah terkapar,
Nabi ﷺ bersabda, "Tolonglah
saudara kalian, ia berhak mendapatkan surga." Nabi ﷺ telah terkena panah di tulang pipinya hingga dua keping
lingkaran topi besinya masuk ke dalamnya. Maka aku pun maju untuk mencabut
keduanya dari pipi Nabi. Namun Abu Ubaidah berkata, "Aku me mintamu dengan
nama Allah wahai Abu Bakar! Biarkanlah aku yang mengambilnya. Abu Bakar
melanjutkan, "Kemudian Abu Ubaidah mengambil dengan mulutnya, lalu ia
menggerak-gerakkannya dengan pelan takut menyakiti Rasulullah kemudian ia
mencabut anak panahnya dengan mulutnya maka tanggallah gigi seri Abu Ubaidah.
Abu Bakar melanjutkan, "Lalu aku maju kembali untuk
mengambil yang satu lagi, tetapi Abu Ubaidah berkata lagi, 'Aku memohon
kepadamu dengan nama Allah wahai Abu Bakar biarlah aku yang mencabutnya. Abu
Bakar berkata lagi, "Kemudian dia mengambil nya dengan menggerakkannya
hingga ia dapat mencabutnya, maka bergeraklah gigi seri Abu Ubaidah yang lain,
kemudian Rasulullah bersabda, "Tolonglah saudaramu, ia telah berhak
mendapatkan surga." Abu Bakar berkata lagi, "Maka kami mendekati
tubuh Thalhah untuk mengobatinya, ia telah terkena belasan tikaman', (ini juga
menunjuk-kan sejauh mana kecakapan Thalhah pada hari itu dalam pertempuran dan
peperangan).
Pada saat-saat yang genting tersebut di sekitar Nabi telah
berkumpul sekelompok orang yang terdiri dari pahlawan Islam, di antara mereka
adalah Abu Dujanah, Mush'ab bin Umair, Ali bin Abu Thalib, Sahal bin Hanif,
Malik bin Sinan, bapak Abu Said al-Khudri, serta Ummu Ammarah Nasibah binti
Ka'ab al-Maziniah, Qatadah bin an-Nu'man, Umar bin al-Khaththab, Hathib bin Abu
Balta'ah, dan Abu Thalhah.
MENGUATNYA TEKANAN PASUKAN QURAISY
Sebagaimana jumlah pasukan musyrik bertambah setiap saat,
maka tentu saja menguat pula serangan mereka dan bertambahlah tekanan mereka
terhadap pasukan Islam, hingga Rasulullah jatuh di salah satu lubang yang
dipergunakan Abu Amin si fasik untuk menjebak beliau dan terkelupaslah lutut
beliau maka, Ali menarik beliau dengan tangannya lalu beliau digandeng oleh
Thalhah bin Ubaidillah hingga dapat berdiri tegak. Nafi' bin Jubair berkata,
"Aku mendengar seorang dari kaum Muhajirin berkata, "Aku terlibat
dalam perang Uhud, aku melihat anak panah datang dari berbagai arah, dan
Rasulullah ada di tengah medan peperangan, semua anak panah meleset dari
beliau. Pada hari itu aku melihat Abdullah bin Syihab ar-Zuhri berkata,
"Tunjukkan kepadaku di mana Muhammad. aku tidak selamat jika ia selamat,
padahal Rasulullah ada di sam-pangnya, tidak ada seorang pun bersamanya, lalu
beliau melewatinya, maka ia pun dicaci oleh Shafwan karena ketidaktahuannya
akan keberadaan Rasulullah ia berkata, "Demi Allah, aku tidak melihat-nya,
aku bersumpah atas nama Allah bahwa ia benar-benar terlindungi dari incaran
kita, kemudian kami berempat pergi berjanji dan sepakat untuk membunuhnya,
namun ternyata kami tidak bisa mewujudkannya.
-----000-----
Disadur dari
Arrahikul makhtum Syaikh Syafiyurrahman al-Mubarak Fury.
Ditulis
ulang oleh Abu Ibrahim Junaedi.
