Kamis, 26 Februari 2026

JAGA PUASA KITA AGAR TIDAK BERKURANG PAHALANYA. (SERI 1)

 


JAGA PUASA KITA  BERPUASA  AGAR PAHALA TIDAK BERKURANG.

(SERI 1)

Puasa merupakan ibadah yang agung, di mana seseorang diwajibkan menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasanya. Demikian pula, ia harus menahan diri dari perkara-perkara yang dapat merusak atau mengurangi pahala puasanya.

Sangat disayangkan, dewasa ini sebagian orang yang berpuasa tidak lagi menghiraukan hal-hal yang dapat merusak puasa tersebut. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh ketidaktahuan atau bahkan karena kesengajaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ.

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah, Nasa’i 3236, di shahihkan Syaikh al Albani dalam Shahih at-Targib wa-at Tarhib 1083).

Ulasan singkat ini semoga dapat mengingatkan kaum Muslimin dari hal-hal yang dapat merusak pahala di saat berpuasa. Di antaranya sebagai berikut:

1.  Berkata dan berbuat dusta.

Allah ta’ala melarang orang berdusta dan memerintahkan agar kita bersikap jujur.

Allah ta’ala berfiman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًاي.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar..” (QS.Al-Ahzab[33] : 70-71).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah[9]:119).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berdusta terlebih lagi ketika berpuasa:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ.

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. al-Bukhari No. 1903).

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ, وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ, وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ صِدِّيقًا, وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ, وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ, وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ كَذَّابًا .

“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, sedangkan kebaikan akan membawa kedalam surga, tidaklah seseorang selalu jujur hingga dicatat seorang yang jujur, sesungguhnya dusta membawa kepada kefajiran, sesungguhnya kefajiran akan membawa kedalam neraka, tidaklah seseorang berkata dusta hingga di catat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. al-Bukhari No. 6094, Muslim No. 2607).

2.  Perbuatan rafats (perbuatan yang mengarah kepada syahwat (seksual).

Kata الرَّفَثُ (ar-rafats) secara bahasa berarti perkataan yang mengandung unsur jima’ (hubungan suami-istri), ucapan yang menjurus kepada syahwat, atau pembicaraan kotor yang berkaitan dengan seksual.

Allah ta’ala berfirman:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

“Dihalalkan bagi kalian pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kalian; mereka itu adalah pakaian bagi kalian, dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka..” (QS. Al-Baqarah [2]: 187).

Ar-Rafas, dalam ayat ini artinya bersetubuh. Demikianlah menurut Ibnu Abbas, Ata, Mujahid, Sa'id ibnu Jubair dan lainnya. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Baqarah [2] :187).

Rasulullah sallallhu a’lai wa sallam bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ.

“Puasa adalah tameng janganlah berkata kotor dan jangan berbuat bodoh, jika seseorang mengajak berkelahi atau mencelamu maka katakanlah aku sedang puasa dua kali.” (HR. al-Bukhari No. 1894).

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ.

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rafats.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadraknya No. 1570, shahih Ibnu Huzaimah No. 1996, dishahih Syaikh al-Albani di dalam shahih at-Targib wa at-Tarhib No. 5376).

Rasulullah melarang orang yang berpuasa melakukan rafas, (perpuatan yang mengarah kepada seksual), hal ini mencakup berkata-kata, membaca, mendengarkan, melihat.

Demikian pula pasangan suami istri yang menceritakan tentang hubungan dengan pasangannya merupakan larangan syari’at.

Dari Abu Sa’id al Khudri radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

Di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah lelaki yang mencumbui istri dan istrinya juga mencumbui suaminya, kemudian lelaki tersebut menyebarkan rahasianya itu.” (HR. Muslim No. 1437, al-Baihaqi No. 113, ad-Darimi No. 268).

3.  Melihat aurat lawan jenis yang tidak halal.

Banyak orang yang berpuasa dengan mengatasnamakan menghibur diri mereka menonton televisi, sinetron, film ada pula yang nongkrong untuk sekedar cuci mata dengan alasan ngabu burit.

Allah ta’ala berfirman kepada para laki-laki:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ .

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya..”  (QS. An-Nur[24]:30).

وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ.

“Katakanlah kepada para perempuan yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya..” (QS. An-Nur[24]:31).

وَالْحَفِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ..

"Laki-laki dan Perempuan yang memelihara kehormatannya."(QS. Al Ahzab [33]: 35).

يَعْلَمُ خَاۤىِٕنَةَ الْاَعْيُنِ وَمَا تُخْفِى الصُّدُوْرُ.

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi di dalam dada. (QS. Gafir[40]: 19).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا.

“Kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengarkan, lidah zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, dan kaki zinanya adalah melangkah.“  (HR. Muslim No. 2657, Ahmad No. 8932).

Adapun orang yang berpacaran dan bersentuhan dengan lawan jenis yang tidak halal baginya, meskipun sekadar bersalaman, maka ini termasuk larangan yang keras dalam syariat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لِأَنْ يُطْعَنَ فِيْ رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمَخِيْطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ.

“Sesungguhnya andai kepala seseorang kalian ditusuk dengan jarum yang terbuat dari besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR.at-Tabrani No. 486, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah No. 226).

4.  Tidak bersabar dan mudah marah tanpa alasan yang benar.

Banyak orang yang berpuasa mereka tidak menyadari bahwa dirinya sedang berpuasa dan dituntut agar bersabar.

Sabar secara bahasa diambil dari kata al-habsu yang artinya menahan.

Adapun secara istilah Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah menahan nafsu di dalam ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah.” (Syarhu Al-Ushulu Tsalatsah hal 22-23).

Ada kesabaran yang sifatnya ikhtiyari (dapat diusahakan).

Ada juga sabar yang sifatnya idhthirari (tidak dapat ditolak). (Tazkiyatun Nafs, DR. Ahmad Farid).

Allah ta’ala memerintahkan kita agar kita bersabar dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran [3] : 200).

Allah ta’ala perintahkan kita agar menahan marah.

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ.

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memberi maaf kepada orang lain, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al Baqarah[2]:134).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ.

“Puasa adalah tameng janganlah berkata kotor dan jangan berbuat bodoh, jika seseorang mengajak berkelahi atau mencelamu maka katakanlah aku sedang puasa dua kali.” (HR. al-Bukhari No. 1894).

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.

“Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR al-Bukhari No. 5763 Muslim No. 2609).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ.

“Barangsiapa menahan amarahnya padahal dia mampu untuk melampiaskannya maka Allah Azza wa Jalla akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari Kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari.”  (HR Ahmad No. 15637, Abu Daud No. 4777, at-Tirmidzi No. 2493 di hasankan syaikh al-Albani di dalam al-Misykah 5088).

5.  Mendengarkan musik dan nyanyian, karaoke dan sejenisnya.

Orang yang berpuasa seringkali menghibur dirinya dengan mendengarkan musik  dan nyanyian yang terlarang, begitu pula menghibur diri dengan berkaraoke.

Allah ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْتَرِيْ لَهْوَ الْحَدِيْثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِغَيْرِ عِلْمٍۖ وَّيَتَّخِذَهَا هُزُوًاۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ

“Di antara manusia ada orang yang membeli percakapan kosong untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikannya olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Lukman [31] : 6).

Abdullah ibnu Mas'ud saat ditanya mengenai makna firman Allah ta’ala: “ Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah.” (QS. Luqman [6] : 6). Maka Ibnu Mas'ud menjawab bahwa yang dimaksud adalah nyanyian. Demi Allah yang tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Dia. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Lukman [31] : 6).

Asbabul ayat tersebut diriwayatkan dari Abu Umamah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَبِيعُوا القَيْنَاتِ وَلَا تَشْتَرُوهُنَّ وَلَا تُعَلِّمُوهُنَّ، وَلَا خَيْرَ فِي تِجَارَةٍ فِيهِنَّ وَثَمَنُهُنَّ حَرَامٌ.

“Janganlah kalian menjual budak perempuan penyanyi, jangan membeli mereka, dan jangan pula mengajarkan mereka (bernyanyi). Tidak ada kebaikan dalam perdagangan terhadap mereka, dan harga (hasil jualan) mereka adalah haram.” (HR. at-Tirmidzi No. 1282, 3195, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam Sunan Ibnu Majah No. 2168). Kemudian turunlah ayat di atas. (lihat HR. at-Tirmidzi No. 1282).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ.

“Sungguh akan ada dari kalangan umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutra, khamr, dan alat-alat musik.” (HR. al-Bukhari No. 5590).

Dzahir hadits di atas menunjukkan haramnya alat-alat musik. Hal ini karena “menghalalkan” atau “menganggap halal” tentu tidak akan terjadi kecuali pada hal-hal yang pada asalnya diharamkan. Dan benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena kita jumpai orang-orang saat ini yang menganggap alat-alat musik itu halal.

Adapun yang dibolehkan di dalam syari’at ini sangat terbatas yaitu apa yang terbuat dari kulit (duff).

Duff (الدُّفّ): umumnya adalah alat tabuh yang terbuat dari kayu berbentuk bundar yang dilapisi kulit pada salah satu sisinya tanpa ada logam yang dapat mengeluarkan suara gemrincing.

Disebutkan dalam sebuah atsar, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: Bahwa Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu masuk menemuinya, sementara di sisinya ada dua budak perempuan pada hari-hari Mina yang sedang menabuh duff dan memukulnya. Sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang menutupi dirinya dengan kainnya. Lalu Abu Bakar membentak keduanya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka wajahnya dan bersabda:  

دَعْهُمَا يَا أَبَا بَكْرٍ، فَإِنَّهَا أَيَّامُ عِيدٍ، وَتِلْكَ الأَيَّامُ أَيَّامُ مِنًى.

“Biarkan keduanya wahai Abu Bakar, karena itu adalah hari-hari ‘Id, dan hari-hari itu adalah hari-hari Mina.” (HR. al-Bukhari no. 987, Muslim no. 892(.

Hadits lain dari Muhammad bin Hatib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَصْلُ مَا بَيْنَ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ الدُّفُّ وَالصَّوْتُ فِي النِّكَاحِ.

“Pembeda antara yang halal dan yang haram (dalam pernikahan) adalah duff dan suara (pengumuman) pada pernikahan.” (HR. Ahmad No. 14551, Ibnu Majah no. 1896, 15451, an-Nasai No. 3369, dihasan syaikh al-Albani di dalam al-Irwa’ No. 1994).

Adapun jika orang yang berpuasa ingin menghibur diri maka hendaknya dari apa yang di ridhai Allah ta’ala seperti mendengarkan ceramah-ceramah, murattal sehingga semakin kuat imannya.

6.  Mengghibah orang lain.

Banyak orang yang berpuasa mereka menahan tidak makan dan minum tapi tidak tahan dengan membicarakan saudaranya yang tidak ada.

Allah melarang mengghibah saudaranya sesama beriman.

وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ.

“Janganlah kalian saling mencari-cari kesalahan di antara kalian dan janganlah saling mengghibah diantara kalian, adakah salah seorang di antara kalian mau memakan daging saudaranya yang telah mati, tentulah jijik kepadanya.” (QS. Al-Hujurat [49] : 12).

Dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَتَدْرُونَ مَا اَلْغِيبَةُ قَالُوا: اَللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ: أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ  قَالَ: إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اِغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَقَدْ بَهَتَّهُ.

“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para shahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Engkau menyebutkan tentang saudaramu apa yang tidak dia sukai untuk disebutkan.” Maka dikatakan kepada Nabi: “Seandainya yang aku ucapkan tentang sadaraku itu benar adanya, bagaimana menurut engkau, wahai Rasulullah?” Kata Rasulullah: “Kalau apa yang engkau ucapkan tentang saudaramu itu benar maka itulah ghibah, kalau ternyata yang engkau ucapkan itu tidak benar maka engkau telah berdusta atas dirinya.” (HR. Muslim No. 2589).

7.  Berlebih-lebihan di dalam makan dan minum.

Betapa banyakanya di bulan puasa saudara-saudara kita yang berlebih-lebihan di dalam makan dan minum, mereka menghabiskan waktunya berjam-jam di dapur, membuat makanan, dari makanan berat hingga yang ringan, dari yang manis dan juga asin, mereka memposting untuk di ketahui orang lain, padahal banyak di belahan dunia saudara-saudara kita yang kelaparan, yang lebih menyedihkan makanan-makanan tersebut banyak yang berakhir di tempat sampah.

Allah ta’ala berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ.

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (QS. Al-A’raf [7]: 31)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tafsir ayat ini.

قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: جَمَعَ اللَّهُ الطِّبَّ كُلَّهُ فِي نِصْفِ آيَةٍ: وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا.

“Sebagian salaf berkata bahwa Allah telah mengumpulkan semua ilmu kedokteran pada setengah ayat ini.”

Dari Al-Miqdam bin Ma'dikarib raḍiyallahu 'anhu secara marfu' dia berkata, aku mendengan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ. بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ.

"Tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika memang harus melebihi itu, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya." (HR at-Tirmidzi No.2380, Ibnu Majah No. 3349, dishahihkan Syaikh al Abani di dalam Ash Shahihah No. 2265).

Imam asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan bahaya kekenyangan karena penuhnya perut dengan makanan, beliau berkata:

مَا شَبِعْتُ مُنْذُ سِتَّ عَشْرَةَ سَنَةً إِلَّا شَبْعَةٌ أَطْرَحُهَا. قَالَ أَبُو مُحَمَّدٍ: يَعْنِي فَطَرَحْتُهَا لِأَنَّ الشِّبَعَ يُثْقِلُ الْبَدَنَ وَيُقَسِّي الْقَلْبَ وَيُزِيلُ الْفِطْنَةَ وَيَجْلِبُ النَّوْمَ، وَيُضْعِفُ صَاحِبَهُ عَنِ الْعِبَادَةَ.

“Aku tidak pernah kekenyangan semenjak 16 tahun kecuali sekali, aku segera mengosongkannya, Beliau juga berkata: Kekenyangan membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, mengurangi kecerdasan, mudah mengantuk dan lemah untuk beribadah.” (Hilyah Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’, Oleh Abu Nu’aim bin ‘Abdillah).

8.  Bersikap pelit, bilamana diberi kelonggaran rezki.

Banyak saudara-saudara kita mereka berdikap pelit terhadap saudaranya, padahal rezki melimpah.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُم.


“Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya mengira bahwa itu baik bagi mereka. Sebenarnya itu buruk bagi mereka.” (QS. Ali Imran [3] : 180).

وَمَنْ يَّبْخَلْ فَاِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَّفْسِهٖ.

“Dan barang siapa yang kikir sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri.” (QS. Muhammad [47] : 38).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau bertambah kedermawanannya di bulan Ramadlan ketika bertemu dengan malaikat Jibril.”  (HR. al-Bukhari No. 3220, Ahmad No. 2616).

Orang yang puasa merasakan lapar dan dahaga, sehingga menumbuhkan rasa belas kasih kepada sesama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ.

“Sayangilah penduduk bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.”  (HR. Abu Dawud No. 4941, dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani di dalam shahihu al-Jami’ No. 3522).

9.  Mengolok-olok, mencela dan merendahkan orang lain.

Banyak orang yang berpuasa mereka mampu menahan makan minum dan lainnya namun tidak dapat menahan lisannya dari umpatan, mengejek menghina, dan merendahkan orang lain.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ .

“Janganlah sebuah kaum menghina kaum yang lain, bisa jadi yang dihina lebih baik dari mereka (yang menghina).” (QS. Al-Hujurat[49]: 11).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سِبَابُ المُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ.

“Mencela seorang muslim adalah kefasikan (dosa besar), dan memerangi mereka adalah kekafiran.” (HR. al-Bukhari No.48, Muslim No. 64, Abu Dawud No. 256,  Tirmidzi No. 2636).

Dahulu ada pelaku dosa besar di zaman Rasulullah, kemudian ada sahabat yang melaknatnya, maka Rasulullah Shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَلْعَنُوهُ، فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ إِنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ.

“Janganlah kamu mengutuknya, sesungguhnya ia (masih tetap) mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (HR. al-Bukhari No. 6780).

10.                   Bersikap sombong.

Banyak orang yang berpuasa mereka bersikap cuek sesama saudaranya, bahkan yang paling parah mereka bersikap sombong.

Hal ini tentu tidak sesuai dengan tujuan puasa di mana di antaranya mendidik akhlak seseorang:

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ.

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman[31]: 18).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.

"Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi. Ada seseorang yang bertanya, 'Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?' Beliau menjawab, 'Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain." (HR. Muslim No. 91, at-Tirmidzi No. 1999, Ibnu Majah No. 59).

Allah memerintahkan kepada kita agar menghormati saudara kita, tawadhu.

Allah ta’ala berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ.

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali-Imran[3]:159).

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ.

“Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. ” (QS. Al Hijr[13]: 88).

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

 

-----000-----

 

 

Sragen 28-03-2026

Abu Ibrahim Junaedi Abdullah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JAGA PUASA KITA AGAR TIDAK BERKURANG PAHALANYA. (SERI 1)

  JAGA PUASA KITA  BERPUASA  AGAR PAHALA TIDAK BERKURANG. (SERI 1) Puasa merupakan ibadah yang agung, di mana seseorang diwajibkan menah...