Jumat, 25 September 2026

KEUTAMAAN SAHABAT YANG BAIK DAN BAHAYA SAHABAT YANG BURUK.




KEUTAMAAN SAHABAT YANG BAIK DAN BAHAYA SAHABAT YANG BURUK.

 

Persahabatan memiliki pengaruh yang besar di dalam kehidupan kita, oleh karena itu Allah ta’ala memerintahkan agar kita senantiasa bersahabat yang baik, karena hal itu bukan hanya berdampak di dunia namun juga berdampak kelak di akhirat sebagaimana penjelasan berikut ini:

Perintah Allah agar bersahabat dengan orang-orang yang baik.

Allah ta’ala berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا.

“Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia...” (QS. Al-Kahfi [18]:28).

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.

“Seseorang itu mengikuti agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan teman dekat.” (HR. Abu Dawud 4833, Tirmidzi 2378. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Shahihu Al-Jami’ 3545).

Adapun keutamaan teman yang baik.

1.   Bersahabat orang shalih bentuk ketaatan kepada Allah.

Tidaklah seseorang mentaati Allah kecuali akan beruntung.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah memperoleh kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab [33]: 71)

Sedangkan Allah ta’ala memerintahkan kepada kita agar bersama orang-orang yang baik.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ.

“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At-Taubah[9]:119).

2.   Sahabat yang baik akan mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan dari keburukan.

Allah ta’ala berfirman:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ...

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar.” (QS. At-Taubah [9]: 71).

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah kalian tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 2).

Ketika Abu Bakar masuk Islam beliau bersemangat dalam mengajak orang-orang kedalam Islam, di antara yang masuk Islam lantaran Abu Bakar yaitu Utsman bin Affwan, az-Zubair bin al-Awam, Abdurrahman bin Auf, Sa’at bin Abi Waqas, Thalhah bin Ubaidillah, 8 orang ini yang kelak menjadi tokoh-tokoh Islam. (Arrahiqul Makhtum, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri).

3.   Sahabat yang baik tidak akan mengolok-olok dan selalu menjaga kehormatannya.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ .

“Janganlah sebuah kaum menghina kaum yang lain, bisa jadi yang dihina lebih baik dari mereka (yang menghina).” (QS. Al-Hujurat[49]: 11).

Nabi shallallahu’alaihi wasallam juga bersabda:

 

إِنَّ دِمَاءَكُمْ  وَأَمْوَالَكُمْ  وَأَعْرَاضَكُمْ  عَلَيْكُمْ حَرَامٌ.

“….Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian haram.(HR. Bukhari 67, Muslim 1218, Ahmad 18966, Abu Dawud 1905).

بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ.

“Cukuplah seseorang dikatakan buruk tatkala dia merendahkan (menghina) sesama muslim.” (HR Muslim 2564, Ahmad 8103, Abu Dawud 4882).

4.   Sahabat yang baik tidak akan menggunjing di belakangnya.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ.

“Janganlah kalian saling mencari-cari kesalahan diantara kalian dan janganlah saling mengghibah diantara kalian, adakah salah seorang di antara kalian mau memakan daging saudaranya yang telah mati, tentulah jijik kepadanya.” (QS. Al-Hujurat[49]: 12).

Dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَتَدْرُونَ مَا اَلْغِيبَةُ قَالُوا: اَللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ: أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ  قَالَ: إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اِغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَقَدْ بَهَتَّهُ.

“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para shahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Rasulullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Engkau menyebutkan tentang saudaramu apa yang tidak dia sukai untuk disebutkan.” Maka dikatakan kepada Nabi: “Seandainya yang aku ucapkan tentang sadaraku itu benar adanya, bagaimana menurut engkau, wahai Rasulullāh?” Kata Rasulullah: “Kalau apa yang engkau ucapkan tentang saudaramu itu benar maka itulah ghibah, kalau ternyata yang engkau ucapkan itu tidak benar maka engkau telah berdusta atas dirinya.” (HR Muslim 2589).

5.   Sahabat baik tidak akan berprangsangka yang buruk kepada sahabatnya.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (QS. Al-Hujurat[49]: 12).

Nabi shallallahu’alaihi wasallam juga bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ

“Jauhilah prasangka, karena prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta” (HR. Bukhari 5143, Muslim 2563).

6.   Sahabat yang baik akan memberi manfaat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“Perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk yang buruk adalah seperti pembawa minyak wangi dan pandai besi. Pembawa minyak wangi bisa jadi memberimu minyak wangi, atau kamu membeli darinya, atau kamu mendapatkan aroma yang harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi ia membakar pakaianmu, atau kamu mendapatkan bau yang tidak sedap darinya.” (HR. Bukhari 5534,  Muslim 2628).

7.   Sahabat yang baik akan menjadikan menentramkan hati.

Ibrahim al-Khawwash rahimahullah berkata:

دَوَاءُ الْقَلْبِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ، وَخَلَاءُ الْبَطْنِ، وَقِيَامُ اللَّيْلِ، وَالتَّضَرُّعُ عِنْدَ السَّحَرِ، وَمُجَالَسَةُ الصَّالِحِيْنَ.

“Penawar hati itu ada lima: membaca al-Qur’an dengan tadabbur (perenungan), kosongnya perut, qiyamul lail (shalat malam), berdoa di waktu sahar (waktu akhir malam sebelum Shubuh), dan duduk bersama orang-orang shalih.” (Al-Adzkar karya Al-Imam an-Nawawi, hal. 107, Tahqiq: Syu’aib al-Arnauth).

Ibnul Qayyim berkata prihal gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:

وَعَلِمَ اللَّهُ مَا رَأَيْت أَحَدًا أَطْيَبُ عَيْشًا مِنْهُ قَطُّ مَعَ مَا كَانَ فِيهِ مِنْ ضِيقِ الْعَيْشِ وَخَلَاقِ الرَّفَاهِيَةِ وَالنَّعِيمِ بَلْ ضِدِّهَا مَعَ مَا كَانَ فِيهِ مِنْ الْحَبْسِ وَالتَّهْدِيدِ وَالْإِرْجَافِ وَهُوَ مَعَ ذَلِكَ أَطْيَبُ النَّاسِ عَيْشًا وَأَشْرَحُهُمْ صَدْرًا، وَأَقْوَاهُمْ قَلْبًا وَأَسَرُّهُمْ نَفْسًا تَلُوحُ نَضِرَةُ النَّعِيمِ عَلَى وَجْهِهِ قَالَ: وَكُنَّا إذَا اشْتَدَّ بِنَا الْخَوْفُ وَسَاءَتْ مِنَّا الظُّنُونُ وَضَاقَتْ بِنَا الْأَرْضُ أَتَيْنَاهُ فَمَا هُوَ إلَّا أَنْ نَرَاهُ وَنَسْمَعَ كَلَامَهُ فَيَذْهَبَ ذَلِكَ كُلُّهُ، وَيَنْقَلِبَ انْشِرَاحًا وَقُوَّةً وَيَقِينًا وَطُمَأْنِينَةً

“Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih baik kehidupannya daripada beliau, meskipun beliau berada dalam kesempitan hidup, jauh dari kemewahan dan kenikmatan, bahkan sebaliknya. Beliau juga mengalami penjara, ancaman dan berbagai tekanan. Namun demikian, beliau termasuk orang yang paling baik kehidupannya, paling lapang dadanya, paling kuat hatinya dan paling bahagia jiwanya. Terpancar dari wajahnya cahaya kenikmatan.

Dan apabila kami diliputi rasa takut, muncul prasangka-prasangka buruk pada diri kami, dan bumi terasa sempit bagi kami, kami mendatanginya. Begitu kami melihat beliau dan mendengar perkataannya, semua kegelisahan itu pun hilang dan berubah menjadi kelapangan, kekuatan, keyakinan dan ketenteraman.” (Al-Wabilush Shayyib 1/48, Ibnul Qayyim al-Jauziyyah).

8.   Sahabat yang baik tidak akan mencelakainya.

Hal ini karena mengetahui besarnya dosa membunuh maupun mencelakai sahabatnya.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا.

“Barang siapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, dia kekal di dalamnya, Allah murka kepadanya, melaknatnya, dan menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisa [4]: 93)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :  لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

“Hilangnya dunia lebih ringan bagi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim.” (HR. At-Tirmidzi 1395, An-Nasa’i 3987, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami’ 5077).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سِبَابُ المُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ.

“Mencela seorang muslim adalah kefasikan (dosa besar), dan memerangi mereka adalah kekafiran.” (HR. Bukhari 48, Muslim 64, Abu Dawud 256,  Tirmidzi 2636).

9.   Sahabat yang baik berusaha membantu kesulitan yang di hadapi.

Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ.

“Barang siapa menghilangkan satu kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan dunia, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan dari berbagai kesulitan pada hari Kiamat. Barang siapa memudahkan orang yang sedang mengalami kesulitan, niscaya Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim 2699, Ahmad 7427, Tirmidzi 1425).

10.  Sahabat yang baik akan mendoakan kebaikan dan memintakan syafaat di akhirat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ، كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ، وَلَكَ بِمِثْلٍ.

“Doa seorang Muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah doa yang mustajab. Di sisi kepalanya terdapat malaikat yang ditugaskan. Setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat yang ditugaskan itu berkata: ‘Amin, dan bagimu juga seperti itu.” (HR. Muslim 2733, Ahmad 27559)

قَالَ لْحَارِثَ بْنَ سُرَيْجٍ النَّقَّالَ يَقُولُ: سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ يَقُولُ: أَنَا أَدْعُو اللَّهَ لِلشَّافِعِيِّ أَخُصُّهُ بِهِ.

Al Harits bin Suraij berkata, aku mendengar Yahya bis Sa’id berkata, “Aku senatiasa berdo’a pada Allah untuk Imam Syafi’i, aku khususkan do’a untuknya.”(Ma’rifatu As-Sunan wal Atsar 372).

Ahmad bin Hambal berkata: "Sungguh aku mendoakan untuk Syafi'i dalam salatku selama 40 tahun. (Minhaj al-Muhahadzdzitsin fil Qur’an, ‘Ali ‘Abdul Basith Mazid 1/238).

Sahabat akan memohonkan syafaat bagi sahabatnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِذَا رَأَوْا أَنَّهُمْ نَجَوْا فِي إِخْوَانِهِمْ، يَقُولُونَ: رَبَّنَا إِخْوَانُنَا، كَانُوا يُصَلُّونَ مَعَنَا، وَيَصُومُونَ مَعَنَا، وَيَعْمَلُونَ مَعَنَا، فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: اذْهَبُوا، فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ دِينَارٍ مِنْ إِيمَانٍ فَأَخْرِجُوهُ.

“Ketika mereka melihat bahwa mereka telah selamat, mereka berkata tentang saudara-saudara mereka: ‘Wahai Rabb kami, saudara-saudara kami dahulu shalat bersama kami, berpuasa bersama kami, dan beramal bersama kami.’ Maka Allah Ta'ala berfirman: ‘Pergilah kalian. Barang siapa yang kalian dapati di dalam hatinya keimanan seberat satu dinar, keluarkanlah dia.” (HR. Bukhari 7439, Ahmad 11898, Ibnu Majah 60).

Adapun di antara bahaya berteman dengan orang yang buruk agamanya:

1.   Bersahabat dengan orang yang buruk agamanya bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ.

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain dari orang-orang mukmin...(QS. An-Nisa [4]:144).

إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ كُبِتُوا كَمَا كُبِتَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ.

“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya akan mendapat kehinaan, sebagaimana orang-orang sebelum mereka telah mendapat kehinaan..” (QS. Al-Mujadilah [58]: 5)

إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَٰئِكَ فِي الْأَذَلِّينَ.

“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang hina.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 20).

2.   Sahabat buruk akan mengajak kepada keburukan.

Allah ta’ala berfirman:

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ.

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah dari sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada kemungkaran dan mencegah dari yang makruf...” (QS. At-Taubah [9]: 67)

3.   Sahabat yang buruk agamanya akan mengolok-olok.

Terkadang mereka mengolok olok agama kita.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main.’ Katakanlah, ‘Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?’” (QS. At-Taubah [9]: 65)

لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ...

“Janganlah kalian meminta maaf, sungguh kalian telah kafir setelah beriman...” (QS. At-Taubah [9]: 66).

4.   Sahabat yang buruk akan menggunjing di belakang.

5.   Sahabat yang buruk akan berprasangka yang buruk.

6.   Sahabat yang  buruk akan meberikan madharat.

7.   Sahabat yang suka menyakitkan hati.

8.   Sahabat yang buruk dapat mencelakai.

Sebagaimana banyak terjadi.

9.   Sahabat yang buruk suka mempersulit urusan.

10. Sahabat yang buruk jadi penyesalan kelak diakhirat.

Lihatlah bagaimana Abu Thalib masuk ke neraka salah satu sebabnya beesahabat dengan Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayah.

لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ، وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ المُغِيرَةِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي طَالِبٍ: " يَا عَمِّ، قُلْ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ " فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ: يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ؟ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ، وَيَعُودَانِ بِتِلْكَ المَقَالَةِ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ: هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ، وَأَبَى أَنْ يَقُولَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ.

“Ketika kematian mendatangi Abu Thalib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepadanya. Beliau mendapati di sisi Abu Thalib Abu Jahal bin Hisyam dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Thalib, ‘Wahai pamanku, ucapkanlah: Laa ilaaha illallah, sebuah kalimat yang dengannya aku akan bersaksi untukmu di hadapan Allah.’

Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata, ‘Wahai Abu Thalib, apakah engkau akan meninggalkan agama Abdul Muthalib?’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menawarkan kalimat tersebut kepadanya, sedangkan keduanya terus mengulangi perkataan itu, hingga ucapan terakhir Abu Thalib kepada mereka adalah, ‘Dia tetap berada di atas agama Abdul Muthalib.’ Dan ia menolak mengucapkan: Laa ilaaha illallah.” (HR. Bukhari 1360, Muslim 24, Ahmad 23674).

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ.

“Orang-orang yang saling mencintai pada hari itu sebagian mereka menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 67)

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

 

-----000-----

Sragen 26-9-2026.

Abu Ibrahim Junaedi.

 


Kamis, 24 September 2026

BIMBINGAN MANHAJ, AQIDAH DAN IBADAH PRIBADI DAN MASYARAKAT. (1)


BIMBINGAN MANHAJ, AQIDAH DAN IBADAH PRIBADI DAN MASYARAKAT (1).


Mukadimah

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا , يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

أَمَّا بَعْد

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

      Dewasa ini tak ada perkara yang lebih mendesak untuk diketahui kaum muslimin dibandingkan perkara bagaimana memahami manhaj (cara beragama), aqidah dan ibadah yang benar, karena di setiap saat perkara ini senantiasa diperlukan dan diamalkan.

Allah ta’ala berfirman:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.

“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah! Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am [6]: 153).

     Seiring jauhnya zaman dari masa kenabian,  hal yang menyedihkan yaitu kejahilan semakin merajalela, sehingga apabila dijumpai seseorang yang berkomitmen di dalam beragama (berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Sunnah) seakan menjadi sesuatu yang asing. Padahal mereka mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dalam manhaj, aqidah dan juga ibadah.

      Hal semacam ini telah dikabarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ.

“Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana awalnya. Maka berbahagialah orang-orang yang asing.”[1]

Demikian pula aqidah merupakan perkara yang wajib diketahui oleh setiap orang yang sudah mendapat beban syariat (mukallaf). Yang merupakan pondasi bagi sebuah bangunan, akar yang kuatbagi pohon, sehingga tak ada bangunan yang bisa berdiri dengan kokoh tanpa adanya pondasi, tak ada pohon yang bisa tegak dengan kuat tanpa adanya akar yang kuat demikian pula tidak akan diterima betapa pun besar amal seseorang kecuali dengan di dasari aqidah yang benar.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An‘am [6]: 88)

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar [39]: 65)

مَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ لَا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلَى شَيْءٍ ذَلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ.

“Perumpamaan orang-orang yang kufur kepada Tuhannya, perbuatan mereka seperti abu yang ditiup oleh angin kencang pada saat badai. Mereka tidak kuasa (memperoleh manfaat) sama sekali dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (QS. Ibrahim [14]: 18)

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا.

“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila di datanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.” (QS. An-Nur [24]: 39).

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا.

“Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al Furqan [25]: 23)

وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ.

“Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang gugur sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 217)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya berkata:

“Allah mengabarkan bahwa kaum musyrikin tersebut tidak akan mendapat apapun dari amal mereka. Mereka mengira bahwa amal itu akan menyelamatkan mereka. Itu karena mereka kehilangan syarat syar’i untuk diterimanya amal, yaitu ikhlas dan mengikuti syariat Allah.”[2]

Adapun dalil dari hadits, Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ’anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللهِ ابْنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ  قَالَ: لَايَنْفَعُهُ إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا: رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ .

“Wahai Rasulullah, Ibnu Jud’an itu di masa Jahiliyyah biasa menyambung silaturrahim, memberi makan orang miskin, apakah itu akan bermanfaat untuknya?” Rasulullah menjawab, “Tidak wahai Aisyah, karena dia lum pernah sehari pun mengucapkan, “Tuhanku, ampuni kesalahanku di hari pembalasan.”[3]

Imam An-Nawawi memberi penjelasan tentang hadits ini dengan menukil perkataan al-Qadhi bin Iyadh, ia berkata, “Telah terjadi ijmak bahwa amal orang kafir itu tidak berguna bagi mereka dan mereka tidak diganjar pahala karena kafir, baik berupa kenikmatan maupun keringanan hukuman. Hanya saja sebagian mereka lebih pedih siksanya dibanding yang lain

tergantung kejahatan yang telah mereka lakukan.”[4]

Semua ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa mempelajari manhaj, aqidah dan ibadah yang benar merupakan kewajiban yang sangat mendesak dan perkara yang sangat agung, sehingga dapat menyelamatkan seseorang dari azab dan kekekalan di neraka.

Semoga apa yang sedikit ini kelak bisa menjadi pemberat amal kebaikan saya, orang tua saya, guru-guru saya dan siapapun kaum muslimin yang mengambil manfaat dari tulisan ini serta orang-orang yang turut menyebarkannya, pada hari segala sesuatu tidak lagi bermanfaat kecuali iman dan amal shalih. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

 

-----000-----

 

 

Sragen 10-09-2025.

Abu Ibrahim, Junaedi Abdullah.

 



[1] (HR. Muslim no. 145, Ibnu Majah no. 3986, lafad Muslim).

[2] (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Furqan [25]: 23)

[3] (HR. Muslim 214, Ahmad 24621).

[4] (Syarh Shahih Muslim oleh an-Nawawi 3/87).

 


KEUTAMAAN SAHABAT YANG BAIK DAN BAHAYA SAHABAT YANG BURUK.

KEUTAMAAN SAHABAT YANG BAIK DAN BAHAYA SAHABAT YANG BURUK.   Persahabatan memiliki pengaruh yang besar di dalam kehidupan kita, oleh kar...