BAB
4
MACAM-MACAM
SYIRIK BESAR.
SOAL:
20
BAHAYA
SYIRIK BESAR
س ٢٠ - مَا هِيَ ضَرَرُ الشِّرْكِ
الأَكْبَرِ ؟
Soal 20 Apa bahaya
syirik akbar?
ج ٢٠ - الشَّرْكُ الأَكْبَرُ
يُسَبِّبُ الْخُلُوْدَ فِي النَّار .
Jawab: Syirik akbar menyebabkan pelakunya kekal di
dalam neraka.
قال الله تعالى:
Allah Ta'ala berfirman:
{إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ
اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ
أَنْصَارِ} سورة المائدة : ۷۲
"Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Allah,
maka sungguh Allah telah mengharamkan surga baginya. Tempat tinggalnya ialah
neraka, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim."
(QS. Al-Ma'idah: 72).
وقال ﷺ :
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
(وَمَنْ لَقِيَ اللهُ يُشْرِكْ بِهِ شَيْئًا
دَخَلَ النَّار)
"Barang
siapa bertemu dengan Allah dalam keadaan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa
pun, maka ia akan masuk neraka."
(HR. Muslim)
-----000-----
Penjelasan:
Bahaya
dan keburukan yang di timbulkan oleh Syirik besar sangat banyak sekali, di
antaranya:
1.
Dosa Kemusyrikan Tidak
Diampuni Allah Apabila Tidak Bertaubat Sebelum Meninggal Dunia.
Allah ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ
وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ.
“Sesungguhnya
Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang
selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.(QS. An
Nisaa[4]:48, 116).
Ibnu Katsir berkata: “Orang-orang
kafir Ahli Kitab dan orang-orang musyrik yang menentang kitab-kitab Allah yang
diturunkan dan menentang para rasul yang diutus-Nya. Bahwa mereka kelak di hari
kiamat dimasukkan ke dalam neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya untuk
selama-lamanya.” (Tafsir
Ibnu Katsir, QS. Al-Bayyinah [98]: 6)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda:
مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ
النَّارَ وَقُلْتُ أَنَا وَمَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ
الْجَنَّة.
“Barang
siapa mati dalam keadaan menyekutukan Allah dia akan masuk kedalam neraka,
barang siapa mati tidak menyekutukan Allah dia akan masuk kedalam
syurga.” (HR. Bukhari 4227, Muslim 92)
2.
Apabila Mati Dalam Keadaan
Musyrik Pelakunya Akan Kekal Di Dalam Neraka.
Allah
ta’ala berfirman:
اِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ
اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۗوَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ
اَنْصَارٍ.
“Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah,
maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya ialah neraka.
Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” (Aq. Al-Maidah [5]:72).
إِنَّ
الَّذِينَ كَفَرُوا وَظَلَمُوا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا
لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيقًا . إِلَّا طَرِيقَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا
أَبَدًا ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا .
"Sesungguhnya
orang-orang yang kafir dan berbuat zalim, Allah tidak akan mengampuni mereka
dan tidak pula memberi mereka petunjuk kepada suatu jalan, kecuali jalan menuju
Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.." (QS. An-Nisa'[4]:
168–169)
3.
Kemusyrikan Menghapuskan Pahala
Amal Kebaikan Seseorang.
Allah ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ
قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ
الْخَاسِرِينَ.
“Dan
Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu.
"Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan
tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Az Zumar[39]:65).
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا
يَعْمَلُونَ.
“Seandainya
mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang Telah
mereka kerjakan.” (QS Al An’am[6]:88).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda:
أَنَا
أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِيَ
غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
"Aku adalah Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang
siapa mengerjakan suatu amalan lalu ia mempersekutukan Aku dengan selain-Ku di
dalamnya, maka Aku tinggalkan dia beserta kesyirikannya." (HR. Muslim 2985)
4.
Kemusyrikan Sumber Petaka
di Dunia Sebelum Di Akhirat.
Umat-umat terdahulu mereka
di hancurkan karena mereka menyukutukan dengan Allah ta’ala, demikian pula
berbagai bencana saat ini terjadi tidak lain karena manusia banyak
menyekutukan Allah.
Allah ta’ala berfirman:
أَلَمْ
يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ
وَقَوْمِ إِبْرَاهِيمَ وَأَصْحَابِ مَدْيَنَ وَالْمُؤْتَفِكَاتِ ۚ أَتَتْهُمْ
رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا
أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ.
"Belumkah
sampai kepada mereka berita tentang orang-orang sebelum mereka, yaitu kaum Nuh,
'Ad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan negeri-negeri yang dibalikkan?
Rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan bukti-bukti yang nyata.
Allah tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka
sendiri."(QS. At-Taubah[9]: 70).
وَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ
حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ
الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ
وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ.
"Masing-masing mereka Kami siksa karena dosanya.
Di antara mereka ada yang Kami kirimi angin yang membawa batu-batu, ada yang
ditimpa suara keras, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang
Kami tenggelamkan. Allah tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang
menzalimi diri mereka sendiri." (QS. Al-'Ankabut: 40)
Sebaliknya jika mereka
beriman dan bertakwa Allah akan turunkan kepada mereka keberkahan dari langit
dan dari bumi.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا
لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا
فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ.
“Jikalau
penduduk kota-kota beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada
mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami)
itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al A’raf[7]:97).
Dari
Abu Hurairah radiallahu ‘anhu Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:
اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقَاتِ، قَالُوا: يَا
رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ
النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ
مَالِ اليَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ المُحْصَنَاتِ
المُؤْمِنَاتِ الغَافِلاَتِ.
“Jauhilah tujuh perkara
yang membinasakan. Mereka (sahabat) berkata: “Wahai Rasulullah apakah tujuh
perkara yang membinasakan itu?” Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah, sihir,
membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan haq, memakan harta anak
yatim, memakan riba’, lari dari medan perang (jihad), menuduh berzina wanita
baik-baik lagi beriman serta tidak tahu menahu (dengan zina tersebut).” (HR.
Bukhari 2766, Muslim 86).
5.
Orang Yang Menyekutukan Allah
Adalah Seburuk-Buruk Mahluk di Sisi Allah Dan Telah Sesat Sejauh-Jauhnya.
Allah ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ
وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ
الْبَرِيَّةِ.
“Sesungguhnya
orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan
masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah
seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah[98]:6).
Pelaku kemusyrikan akan
disesatkan Allah dengan kesesatan yang jauh, mereka senantiasa di hadapkan
dengan kebingungan, karena tidak memiliki sandaran yang kuat, dari situlah
syaitan akan membisikan berbagai macam rayuan dan tipuan untuk
menyengsarakannya.
وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا
بَعِيدًا.
“Barangsiapa
yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah
tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisa’[4]: 116).
وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ
لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ. وَاِنَّهُمْ لَيَصُدُّوْنَهُمْ
عَنِ السَّبِيْلِ وَيَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ.
“Barangsiapa
yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan
baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang
selalu menyertainya. Dan sungguh, mereka (setan-setan itu) benar-benar
menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar, sedang mereka menyangka bahwa
mereka mendapat petunjuk.” (QS. Az-Zukhruf[43]: 37).
6.
Kemusyrikan Akan Memutuskan
Dan Menghentikan Berbagai Kebaikan.
Sebagaimana kita ketahui
orang musyrik tidak boleh di nikahi, tidak boleh di shalatkan, tidak mewariskan
atau menerima waris, tidak halal sembelihannya, dapat memutuskan hubungan suami
istri, begitu pula banyak aktivitas berhenti seperti pambangunan,
rencana pernikahan, bepergian semua berhenti karena keyakinan syirik dan
menganggap harinya sial atau bulan keramat.
Allah
ta’ala berfirman:
وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ
وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا
تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ
مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ .
“Dan janganlah kamu
menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita
budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.
Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin)
sebelum mereka beriman..” (QS Al Baqarah [2]: 221).
Allah ta’ala menafikan
anggapan sial muncul karena apa yang diyakini oleh orang-orang musyrik
tersebut.
قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا
لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ . قَالُوا
طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ.
Mereka menjawab:
"Sesungguhnya kami bernasib malang Karena kamu, Sesungguhnya jika kamu
tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti
akan mendapat siksa yang pedih dari kami". Utusan-utusan itu berkata:
"Kemalangan kamu adalah Karena kamu sendiri. apakah jika kamu diberi
peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui
batas". (QS. Yaasiin[36]18-19).
Sebenarnya berhala-berhala
yang mereka sembah, keyakinan yang mereka buat-buat sama sekali tidak
membahayakan mereka sebagaimana hal itu telah di buktikan nabi Ibrahim ‘alaihi
sallam.
وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا
تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ
سُلْطَانًا.
”Dan bagaimana mungkin aku
takut kepada sesembahan yang kalian persekutukan (dengan Allah), padahal kamu
tidak takut mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak
pernah menurunkan hujjah (keterangan).” (QS Al-An’am[6]: 81).
Kemudian nabi Ibrahim
menghancurkan berhala-berhala itu.
وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ
أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ .فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ
لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ . قَالُوا مَنْ فَعَلَ هَذَا
بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ . قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى
يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ . قَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَى
أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ . قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ
هَذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ . قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ
هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ . فَرَجَعُوا إِلَى
أَنْفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الظَّالِمُونَ . ثُمَّ
نُكِسُوا عَلَى رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَؤُلَاءِ
يَنْطِقُونَ. قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ
شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ . أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ
دُونِ اللَّهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ . قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا
آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ . قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي
بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ.
“Demi Allah, Sesungguhnya
Aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi
meninggalkannya.” Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu
hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang
lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: “Siapakah
yang melakukan perbuatan Ini terhadap tuhan-tuhan kami, Sesungguhnya dia
termasuk orang-orang yang zalim.” Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang
pemuda yang mencela berhala-berhala Ini yang bernama Ibrahim.” Mereka berkata:
“Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar
mereka menyaksikan.” Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan
Ini terhadap tuhan-tuhan kami, Hai Ibrahim?” Ibrahim menjawab: “Sebenarnya
patung yang besar Itulah yang melakukannya, Maka tanyakanlah kepada berhala
itu, jika mereka dapat berbicara.” Maka mereka Telah kembali kepada kesadaran
dan lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang
menganiaya (diri sendiri).” Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu
berkata): ”Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) Telah mengetahui bahwa
berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.” Ibrahim berkata: “Maka mengapakah
kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun
dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?” “. Ah (celakalah)
kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?”
Mereka berkata: "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar
hendak bertinda.” Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi
keselamatanlah bagi Ibrahim.” (QS Al Anbiyaa[21]: 57-69).
Ini
menunjukkan apa yang di puja selain Allah ta’ala sama sekali tidak mampu
membela dirinya dan juga tidak bisa membalas ketika di hancurkan atau di
hinakan, hal semakna juga di lakukan oleh Khalid bin Walid ketika menghancurkan
‘uzza yang di agungkan orang kafir Qurayis dan juga sa’ad bin Ziyad
Al Asyihali terhadap berhala Munat, yang terletak di Al Musyalal, Qudaid.
Dari Abu Al-Thufail,
beliau bercerita:
لمَاَّ فَتَحَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَ سَلَمَّ مَكَّةَ بَعَثَ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيْدِ إِلَى نخَلْةَ
ٍوَكَانَتْ بِهَا الْعُزَّى فَأَتَاهَا خَالِدٌ وَكَانَتْ عَلَى ثَلَاثِ سَمُرَاتٍ
فَقَطَعَ السَّمُرَاتِ وَهَدَمَ الْبَيْتَ الَّذِي كَانَ عَلَيْهَا ثُمَّ أَتَى
النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ ارْجِعْ
فَإِنَّكَ لَمْ تَصْنَعْ شَيْئًا فَرَجَعَ خَالِدٌ فَلَمَّا أَبْصَرَتْ بِهِ
السدنة وَهُمْ حجبتها أَمْعَنُوْا فِي الْجَبَلِ وَهُمْ يَقُوْلُوْنَ يَا عُزَّى
فَأَتَاهَا خَالِدٌ فَإِذَا هِيَ امْرَأَةٌ عُرْيَانَةٌ ناَشِرَةُ شَعْرِهَا
تَحْتَفِنُ التُّرَابَ عَلَى رَأْسِهَا فَعَمَمَهَا بِالسَّيْفِ حَتَّى قَتَلَهَا
ثُمَّ رَجَعَ إِلَى النَّبِيِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ
فَقَالَ تِلْكَ العُزَّى.
“Ketika Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam menaklukkan kota Mekah, beliau mengutus Khalid bin
al Walid ke daerah Nakhlah, tempat keberadaan berhala ‘Uzza. Akhirnya Khalid
mendatangi ‘Uzza, dan ternyata ‘Uzza adalah tiga buah pohon Samurah. Khalid pun
lantas menebang ketiga buah pohon tersebut. Ketiga buah pohon tersebut terletak
di dalam sebuah rumah. Khalid pun menghancurkan bangunan rumah tersebut.
Setelah itu Khalid menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan melaporkan
apa yang telah dia kerjakan. Komentar Nabi, ‘Kembalilah karena engkau belum
berbuat apa-apa.’ Akhirnya kembali. Tatkala para juru kunci ‘Uzza melihat
kedatangan Khalid, mereka menatap ke arah gunung yang ada di dekat lokasi
sambil berteriak, “Wahai ‘Uzza. Wahai ‘Uzza.” Khalid akhirnya mendatangi puncak
gunung, ternyata ‘Uzza itu berbentuk perempuan telanjang yang mengurai
rambutnya. Dia ketika itu sedang menuangkan debu ke atas kepalanya dengan
menggunakan kedua telapak tangannya. Khalid pun menyabetkan pedang ke arah jin
perempuan ‘Uzza sehingga berhasil membunuhnya. Setelah itu Khalid kembali
menemui Nabi dan melaporkan apa yang telah dia kerjakan. Nabi sallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Nah, itu baru ‘Uzza.” HR. An-Nasa’i, Sunan Kubra ,
jilid 6 /11547 ini juga di sebutkan di “Ar-Rahiqul Makhtum”
Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri.
Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu
dia berkata, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ
عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ.
"Tidak dibenarkan menganggap penyakit
menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak dibenarkan beranggapan
sial, tidak dibenarkan pula beranggapan nasib malang karena burung, juga tidak
dibenarkan beranggapan sial di bulan Shafar.” (HR. Bukhari 5757, Muslim 2220).
زَادَ مُسلِمُ: وَلاَ نَوْءَ وَلاَ غُوْلَ.
Imam Muslim menambahkan “Tidak
ada bintang dan tidak ada ghul (hantu).”
اَلطِّيَرَةُ
شِرْكٌ اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ
اللهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ.
“Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik,
thiyarah itu syirik dan setiap orang pasti terbetik dalam hatinya. Hanya saja
Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepadaNya.” (HR. Bukhari di dalam
Adabul Mufrad 909, Tirmidzi 1614).
7.
Membuang harta secara
sia-sia (Tabdir).
Perbuatan
tabdir salah satu perbuatan yang amat disukai oleh syaitan.
وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ
الشَّيَاطِينِ.
“Dan janganlah kamu
menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu
adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isra’[17]: 26-27).
Ibnu
Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan:
التَّبْذِيرُ: الْإِنْفَاقُ فِي غَيْرِ حَقٍّ.
وَكَذَا قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ.
وَقَالَ مُجَاهِدٌ: لَوْ أَنْفَقَ إِنْسَانٌ
مَالَهُ كُلَّهُ فِي الْحَقِّ، لَمْ يَكُنْ مُبَذِّرًا، وَلَوْ أَنْفَقَ مُدًّا
فِي غَيْرِ حَقِّهِ كَانَ تَبْذِيرًا. وَقَالَ
قَتَادَةُ: التَّبْذِيرُ: النَّفَقَةُ . فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ
تَعَالَى، وَفِي غَيْرِ الْحَقِّ وَفِي الْفَسَادِ.
“Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada
jalan yang benar.” Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan
seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan).
Namun jika seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada
jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).”
Qatadah mengatakan, “Yang
namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat
pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.” (Tafsir
Al Qur’an Al ‘Azhim, QS Al Isra’[17]:26-27).
8.
Ketakutan di dalam hatinya
sehingga melemahkan jiwa dan raga.
Pelaku kemusyrikan akan
senantiasa di hantui rasa cemas, kekuatiran, dan ketakutan.
Allah
ta’ala menyebutkan di dalam firmanNya:
سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا
أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ
وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ.
“Akan
Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka
menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan
tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk
tempat tinggal orang-orang yang zalim.” (QS. Ali Imran[3]: 151).
Ketakutan seperti takut kematian, musibah, melanggar aturan yang di buat nenek
moyang atau berbagai macam gangguan yang di sebabkan manusia ataupun jin,
seperti lupa tidak membawa zimat, merasa kurang di dalam memberikan sesaji, dan
lain-lain, rasa ketakutan inilah yang akan selalu memenuhi pikiran orang-orang
musyrik, sehingga sanggat menyiksa di dalam hidupnya, begitu pula
rasa takut terhadap musuh-musuhnya, sebagaimana hal ini terjadi
kepada kaum musyrikin pada waktu perang Badar, melihat jumlah kaum muslimin
seakan-akan berlipat ganda.
Allah ta’ala berfirman:
قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ
الْتَقَتَا فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَى كَافِرَةٌ
يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ ..
“Sesungguhnya telah ada
tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan
berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata
kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka..” (QS.
Al Imran [3]:13).
9.
Menimbulkankan perpecahan
bagi manusia.
Kemusyrikan sumber
perpecahan bagi manusia, karena setiap orang akan mengikuti hawa
nafsunya.
Allah
ta’ala berfirman:
وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. مِنَ
الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا
لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ.
“Janganlah kamu termasuk
orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang
memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap
golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS.
Arrum[30]:31).
10.
Kemusyrikan sangat
merendahkan akal dan kedudukan manusia.
Manusia di beri kedudukan
tinggi untuk memberdayakan alam ini termasuk binatang-binatang yang ada agar di
manfaatkan bukan sebaliknya menyembah dan mengagungkannya.
Allah ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ
جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ
بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ.
“Dia-lah
Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak
(menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan dia Maha mengetahui
segala sesuatu.” (QS Al Baqarah[2]:29).
Inilah
diantara bahaya kemusyrikan yang mengancam pelakunya di dunia dan akhirat,
meskipun demikian Allah mengampuni semua dosa seandainya manusia sebenar-benar
bertaubat kepada Allah, baik itu dosa syirik maupun dosa besar
lainnya.
Meskipun demikian apa bila
pelaku kesyirikan bertobat kepada Allah ta’ala niscaya akan diampuni Allah ta’ala.
Allah ta’ala berfirman:
قُلْ يَاعِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى
أَنفُسِهِمْ لاَتَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ
جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيم.
Katakanlah: ”Hai
hamba-hamba-Ku yang meĀlampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah
kamu terputus asa dari rahmat Allah.Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa
semuanya.Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS
Az-Zumar[39]:53).
Demikianlah semoga bermanfaat.
-----000-----
Sragen 27-07-2026
Abu Ibrahim Junaedi