Sabtu, 04 April 2026

PRINSIP AQIDAH AHLUSSUNNAH, MUJMAL USUL 2-3.

 PRINSIP AQIDAH AHLUSSUNNAH, MUJMAL USUL 2-3.




- كُلُّ مَا صَحَّ مِنْ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ وَجَبَ قَبُولُهُ وَإِنْ كَانَ آحَادًا.

 2. Setiap yang sahih dari sunnah Rasulullah wajib diterima, meskipun berstatus hadis ahad.

1)   Pengertian hadits ahad.

Secara bahasa adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi saja. Adapun secara istilah, ialah mencakup seluruh hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir. Oleh karena itu hadits ahad dalam definisi ini lebih luas dan mencakup kategori:

a)   Hadits masyhur, hadits yang diriwayatkan oleh tiga perawi dalam tiap thabaqat (generasi perawi), atau lebih dari tiga selama tidak mencapai derajat bilangan perawi mutawatir.

b)  Hadits aziz, hadits yaitu diriwayatkan oleh dua orang perawi dalam tiap thabaqat.

c)    Hadits gharib, hadits yaitu diriwayatkan oleh satu orang perawi.

Maka suatu anggapan yang keliru dari sebagian orang yang mendefinisikan hadits ahad sebagai hadits gharib saja. (Syaikh Dr. Mahmud Thahhan, Taisir Musthalah Al Hadith).

Sebagian orang mereka meninggalkan hadits shahih dengan alasan hadits tersebut ahad, terutama masalah aqidah.

2)   Sikap Ahlus Sunnah terhadap hadits ahad.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah mereka menetapkan bahwa: Hadits ahad apa bila diketahui shahih wajib diterima, baik dalam masalah hukum maupun masalah aqidah.

Sebagian ulama membuat Syarat-syarat seperti Abu Hanifah dalam menerima hadis ahad ada 8 syarat:

1)   Tidak bertentangan dengan sunnah yang masyhur, baik berupa perbuatan maupun ucapan.

2)   Tidak bertentangan dengan praktik yang diwariskan di antara para sahabat dan tabi'in di mana pun.

3)   Tidak bertentangan dengan keumuman Al-Qur’an atau makna zahirnya; karena Al-Qur’an bersifat qath’i sehingga didahulukan atas yang zhanni.

4)   Perawi hadis harus seorang yang faqih apabila hadis tersebut bertentangan dengan qiyas yang jelas; karena perawi yang bukan faqih kemungkinan meriwayatkan secara makna sehingga bisa terjadi kesalahan.

5)   Tidak berkaitan dengan perkara yang umum terjadi (umum al-balwa), seperti hudud dan kafarat yang dapat gugur karena adanya syubhat; sebab kebiasaan menunjukkan bahwa perkara seperti ini didengar oleh banyak orang, bukan hanya satu, sehingga semestinya masyhur dan diterima umat.

6)   Tidak ada celaan dari ulama salaf terhadap hadis tersebut, dan tidak ada seorang pun dari kalangan sahabat yang berselisih meninggalkan berhujah dengan hadis itu.

7)   Perawi tidak mengamalkan sesuatu yang bertentangan dengan riwayatnya sendiri; seperti hadis Abu Hurairah tentang mencuci bejana yang dijilat anjing sebanyak tujuh kali, yang bertentangan dengan fatwa Abu Hurairah, sehingga Abu Hanifah tidak mengamalkannya.

8)   Perawi tidak sendirian dalam menambahkan lafaz pada matan atau sanad, kecuali jika ia adalah perawi yang terpercaya; karena beramal dengan riwayat perawi tsiqah lebih hati-hati dalam agama Allah Ta’ala. (Minhaj al-muḥadditsin fi al-qarn al-awwal al-hijri ḥatta ‘aṣrina al-ḥaḍir 1/230. ‘Ali ‘Abd al-Basiṭ Mazaid).

3. Contoh hadits ahad masalah aqidah: Hadits berlindung dari siksa kubur

Hadits tentang berlindung dari siksa kubur adalah hadits shahih, di antaranya doa berlindung dari siksa kubur:

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ.

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal." (HR. Muslim 588, at-Tirmidzi 3494, Abu Dawud 1542).

Dari 'Abdullah bin 'Umar radliyallahu 'anhuma bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَإِنَّهُ يُعْرَضُ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ فَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ.

"Jika seorang dari kalian meninggal dunia maka akan ditampakkan kepadanya tempat tinggalnya setiap pagi dan petang hari. Jika dia termasuk penduduk surga, maka akan melihat tempat tinggalnya sebagai penduduk surga dan jika dia termasuk penduduk neraka, maka akan melihat tempat tinggalnya sebagai penduduk neraka.” (HR. al-Bukhari 3001).

Bahkan hadits tentang siksa kubur itu banyak sekali, sampai sebagian ulama menyatakan mendekati mutawatir.

Hadits-hadits ini bersesuaian dengan firman Allah ta’ala, Allah ta’ala berfirman:

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ.

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang. Dan pada hari terjadinya kiamat (dikatakan kepada malaikat): "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” (QS.  Al Mu’min [40]: 46).

Hadits tentang hukum.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

كُنْتُ أَسْقِي أَبَا طَلْحَةَ الأَنْصَارِيَّ، وَأَبَا عُبَيْدَةَ بْنَ الجَرَّاحِ، وَأُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ شَرَابًا مِنْ فَضِيخٍ - وَهُوَ تَمْرٌ -، فَجَاءَهُمْ آتٍ فَقَالَ: إِنَّ الخَمْرَ قَدْ حُرِّمَتْ، فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ: يَا أَنَسُ، قُمْ إِلَى هَذِهِ الجِرَارِ فَاكْسِرْهَا، قَالَ أَنَسٌ: فَقُمْتُ إِلَى مِهْرَاسٍ لَنَا فَضَرَبْتُهَا بِأَسْفَلِهِ حَتَّى انْكَسَرَتْ.

‘Aku pernah menuangkan minuman kepada Abu Thalhah al-Anshari, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah, dan Ubay bin Ka‘b berupa minuman dari fadhikh (yaitu perasan kurma). Lalu datang seseorang kepada mereka dan berkata: “Sesungguhnya khamr telah diharamkan.” Maka Abu Thalhah berkata: “Wahai Anas, bangkitlah menuju tempayan-tempayan ini dan pecahkanlah.” Anas berkata: “Lalu aku berdiri menuju sebuah batu lesung milik kami, kemudian aku memukul tempayan-tempayan itu dengan bagian bawahnya hingga pecah.” (HR. al-Bukhari 7253).

Komentar Mustafa Al-Bugha:

Seseorang yang datang membawa berita. Disebutkan dalam Fath al-Bari: di antara riwayat lain disebutkan, “Demi Allah, mereka tidak menanyakannya (lebih lanjut) dan tidak pula meninjaunya kembali setelah mendengar kabar dari orang tersebut.” Ini menjadi hujjah (dalil) yang kuat tentang diterimanya berita dari satu orang (khabar ahad), karena mereka menetapkan dengannya penghapusan (nasakh) sesuatu yang sebelumnya dibolehkan, hingga mereka langsung mengharamkannya dan mengamalkannya.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma:

بَيْنَمَا النَّاسُ بِقُبَاءٍ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ، إِذْ جَاءَهُمْ آتٍ فَقَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أُنْزِلَ عَلَيْهِ اللَّيْلَةَ قُرْآنٌ، وَقَدْ أُمِرَ أَنْ يَسْتَقْبِلَ الْكَعْبَةَ، فَاسْتَقْبِلُوهَا، وَكَانَتْ وُجُوهُهُمْ إِلَى الشَّامِ، فَاسْتَدَارُوا إِلَى الْكَعْبَةِ

“Ketika orang-orang sedang shalat Subuh di Quba, datang seseorang lalu berkata: “Sesungguhnya tadi malam telah turun Al-Qur’an kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau diperintahkan untuk menghadap Ka’bah, maka menghadaplah kalian ke sana.” (HR. al- Bukhari 403, Muslim 526).

4. Kesalahan dalam syubhat tersebut.

Orang yang menolak hadits ahad dalam aqidah biasanya terpengaruh pemikiran: Mu'tazilah, dan lainnya.  Mereka mengatakan: “Aqidah harus pakai dalil yang pasti (qat’i), bukan hadits ahad.”

Jawabannya:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus satu orang sahabat (Mu’adz bin Jabal) untuk menyampaikan aqidah  ke Yaman, mereka menerima.

Para sahabat menerima berita dari satu orang tanpa menolaknya.

Adapun orang yang menolak hadits ahad  mereka berdalil dengan firman Allah ta’ala:

إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ.

“Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan” (QS. Al An’aam [6]: 116).

Tentu pendalilan seperti ini tidak benar.

5. Dampak berbahaya jika menolak hadits ahad.

Kalau prinsip ini diterima, maka akan banyak hal aqidah yang ditolak, seperti:

Siksa kubur, nikmat kubur, syafaat, tanda-tanda kiamat dan lain-lain.

Padahal semua itu datang dalam hadits-hadits shahih, Rasulullah dan para sahabatnya meyakini dan mengamalkannya.

٣- الْمَرْجِعُ فِي فَهْمِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ هُوَ النُّصُوصُ الْمُبَيِّنَةُ لَهُمَا وَفَهْمُ السَّلَفِ الصَّالِح وَمَنْ سَارَ عَلَى مَنْهَجِهِمْ مِنَ الْأَئِمَّةِ وَلَا يُعَارَضُ مَا ثَبَتَ مِنْ ذَلِكَ بِمُجَرَّدِ احْتِمَالَاتٍ لُغَوِيَّةٍ.

3. Rujukan dalam memahami Al-Qur’an dan Sunnah adalah nash-nash yang saling menjelaskan, pemahaman salafus shalih, serta para imam yang mengikuti manhaj mereka. Tidak boleh menentang dalil yang sudah jelas dengan sekadar kemungkinan bahasa.

Al-Qur’an ayat satu dengan lainnya saling menguatkan, hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, sahabat menerima dan mendakwahkannya.

Tak ada pertentangan ayat satu dengan lainnya.

Allah ta’ala berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا.

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”(QS. An-Nisa[4]:82).

Oleh karena memahami Al-Qur’an dengan menggunakan kaedah-kaedah sebagaimana yang telah dijelaskan para ulama.

 

1)  Al Qur’an hendaknya ditafsirkan dengan Al Qur’an.

Karena Allah ta’ala lebih mengetahui maksud dari perkatannya. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ.

“Ingatlah wali-wali Allah tidak ada rasa takut dan tidak bersedih hati.” (QS. Yunus[10]:62)

Kemudian Allah jelaskan wali Allah dengan ayat berikutnya.

الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ.

“Yaitu mereka yang beriman dan senantiasa bertakwa.” QS. Yunus[10]:63.

Firman Allah ta’ala:

وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ.

“Apakah kamu tahu apa yang datang di malam hari itu..?” (QS. At Tariq[86]:2).

النَّجْمُ الثَّاقِبُ.

“(yaitu) bintang yang berisinar tajam.” (QS. At Tariq[86]:3)

2)  Al Qur’an ditafsirkan dengan hadits Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah paling mengetahui dibandingkan manusia yang lain.

Seperti firman Allah ta’ala:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ.

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (QS. Yunus[10]:26.)


“Dan tambahannya”, Yakni berupa keistimewaan untuk dapat melihat wajah Allah yang mulia. Dalam hadist yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim.

Firman Allah ta’ala:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ..

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi..” (QS. Al Anfal[8]:60)

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kekuatan tersebut dengan sabda-Nya:

أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ، أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ، أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ.

“Ketahuilah kekuatan itu terletak pada lemparan, Beliau mengulang tiga kali. (HR. Muslim 1917, Abu Dawud 2514).

3)  Al Qur’an dijelaskan dengan perkataan Sahabat.

Karena Al Qur’an turun dengan bahasa mereka, turun pada masa mereka, oleh karena itu Ibnu Abbas berargumen dengan hal ini kepada orang-orang khuarij, beliau berkata.” Al Qur’an turun kepada sahabat dan tak seorangpun dari kalian sahabat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Contoh yang di tafsirkan sahabat seperti firman Allah ta’ala:

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا.

“Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. An Nisa[4]:43)

أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

“Atau kalian telah menyentuh wanita, lalu kalian tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (suci); lalu usaplah wajah kalian dan tangan kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Maidah[5]: 6).

 

Ibnu Abbas berkata, “Menyentuh wanita maksudnya adalah berjima’.” (Sebagaimana di riwayatkan oleh ‘Abdur Razaq 1/134, Fatul Bari 227/8).

 

4)  Al Qur’an di tafsirkan dengan penjelasan tabi’in.

Tabi’in mereka adalah murid para sahabat, mereka mengambil tafsir dari para sahabat, tabi’in sebaik-baik manusia setelah sahabat, mereka lebih selamat dari hawa nafsu dibandingkan orang-orang setelahnya.

5)  Al Qur’an dilihat dari sisi bahasa.

Apakah memiliki maknanya secara syar’i atau lughawi.

Contoh secara maknawi, sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ.

“Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan (jenazah) seorang pun yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik.”(QS. At Taubah[9]:84)

Adapun secara lughawi (bahasa) seperti firman Allah ta’ala:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ.

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka.” (QS. At Taubah[9]:103)

“wa shalli” di sini maksudnya adalah mendoakan. (Lihat “Usul fii Tafsir” Syaikh Muhammad Shalih Al ‘Utsaimin).

 

 

-----000-----

Sragen 04-4-2026

Abu Ibrahim Junaedi.


Jumat, 20 Maret 2026

MENGGAPAI KEBAHAGIAAN YANG KEKAL ABADI.

 


MENGGAPAI KEBAHAGIAAN YANG KEKAL ABADI.

 

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ . يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.   أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral Muslimin rahimani wa rahimakumullah.

Gema takbir, tahmid dan tahlil berkumandang di mana-mana.

Marilah kita bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat kepada kita, baik nikmat Islam, iman dan sunnah.

Jama’ah shalat Id rahimani wa rahimakumullah.

 

Setelah kita menjalankan puasa satu bulan penuh ada beberapa hal yang sudah semestinya kita perhatikan dengan sungguh-sungguh yaitu:

1.  Hendaknya Kita Menjaga Kebaikan Yang Biasa Kita Lakukan.

Hal ini bisa dicapai dengan:

1) Terus menerus di dalam menuntut ilmu.

Allah ta’ala berfirman:

اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ.

“Allah (pemberi) cahaya (pada) langit dan bumi.” (QS. An-Nur[24]:35).

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.” (QS. An-Nur[24]: 35), Yakni Pemberi petunjuk kepada penduduk langit dan bumi. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. An-Nur[24]:35).

Allah ta’ala banyak memuji ilmu dan orang-orang berilmu di dalam Al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ.

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang orang yang di beri ilmu dengan beberapa derajat.” ( QS Al-Mujadilah[58]:11)

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah. Dishahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah  224)

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ.

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah akan memberikan kefaqihan (pemahaman) agama baginya. “ (HR. Bukhari 71, 3116, Muslim 1037).

Tentu ilmu yang diharapkan adalah ilmu yang dapat menjadikan pelakunya takut kepada Allah ta’ala:

Allah ta’ala berfirman:

اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤا.

“Hanya saja yang takut kepada Allah dari sekian hamba-Nya adalah ulama.” (QS. Fatir[35]:28).

Imam Ahmad rahimahullah berkata:

أصلُ العلمِ الخشيةُ اللّٰهَ

“Asal (hakikat) ilmu adalah rasa takut kepada Allah.” (Hilyah Thalibil Ilmi, Bakar bin Abdullah Abu Zaid hal 11)

2.  Senantiasa Menghiasi Diri Dengan Akhlak Mulia.

Hal ini sebagaimana kita lakukan di saat kita berpuasa.

Allah ta’ala berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam [68]: 4)

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).

Begitu besar keutamaan akhlaq, diantaranya sebagaimana disebutkan Rasulullah sallallahu ‘alaaihi wa sallam:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا .

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya, dan yang paling baik di antara kamu sekalian adalah yang paling baik akhlaqnya terhadap isteri-isterinya.” (HR. Ahmad 7402, Tirmidzi 1162, Abu Dawud 4682 dihasan oleh syaikh al-Albani di dalam Ash-Shahihah 284).

Akhlaq yang baik merupakan pemberat timbangan kelak pada hari kiamat.

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ. 

"Tidak ada sesuatupun yang lebih berat dalam timbangan (amalan) seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlaq yang mulia." (HR. Tirmidzi 2002, di hasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Ash-Shahihah 876).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke surga, maka beliau bersabda:

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ  تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ. وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ  الْفَمُ وَالْفَرْجُ.

“Takwa kepada Allah dan bagusnya akhlak.” Dan beliau ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke neraka, maka beliau bersabda: “mulut dan farji (kemaluan).” (HR Tirmidzi 2004, Abu Dawud 2596, Ibnu Majah 4246. Dihasankan syaikh al-Albani, Lihat As-Shahihah 977)

3.  Hendaknya Menunaikan Hak Yang Menjadi Kewajiban Kita.

1) Hak kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Bahwasanya setiap nikmat yang kita dapatkan tidak lain dan tidak bukan datangnya dari Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ..

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka itu datangnya dari Allah.” (Qs. An Nahl [16]: 53).

Dan setiap keburukan yang menimpa kita tidak ada yang menyelamatkan kita dari keburukan tersebut kecuali Allah.

وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗٓ اِلَّا هُوَ ۗوَاِنْ يَّمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

“Jika Allah menimpakan kemudaratan kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia; dan jika Dia memberikan kebaikan kepadamu, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(QS. Al-An’am [6]: 17).

Allah memiliki hak yang paling agung yang harus kita tunaikan, sebelum yang lain, hak Allah yang paling utama yaitu mentauhidkan-Nya dan tidak menyekutukan dengan sesuatu apapun.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ.

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ.

“Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu." (QS. An Nahl [16]: 36).

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ.

“Dan kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku." (QS. Al Anbiyaa’ [21]: 25).

Dosa yang paling besar disisi Allah adalah syirik.

Allah ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki.“ (QS. An-Nisa’ [4]:48,116).

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ.

“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, Maka Sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim." (QS Yunus[10]:106).

Kesyirikan menghapuskan amal ibadah seseorang.

Allah ta’ala brfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar [39]: 65)

Dari Mu‘adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Aku pernah dibonceng oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seekor keledai yang bernama ‘Ufair. Lalu beliau bersabda:

يَا مُعَاذُ، هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ، وَمَا حَقُّ العِبَادِ عَلَى اللَّهِ؟، قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى العِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ العِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئً.

“Wahai Mu‘adz, tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-hamba-Nya dan apa hak hamba atas Allah?” Aku menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (HR. Bukhari 2856, Muslim 30).

مَنْ مَاتَ لاَيُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ.

“Barang siapa mati tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun niscaya akan masuk kedalam syurga.” (HR. Muslim 93).

2) Hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Konsekuensi dari syahadat Muhammad Rasulullah mencakup empat hal yaitu :

تَصْدِيقُهُ فِيمَا أَخْبَرَ، وَطَاعَتُهُ فِيمَا أَمَرَ، وَاجْتِنَابُهُ فِيمَا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا بِمَا شَرَعَ.

Membenarkan apa yang dikabarkan, mentaati apa yang diperintahkan, menjahui apa yang dilarang dan di peringatkan, dan tidak beribadah kecuali apa yang disyari’atkan. " (Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah" oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin).

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ.

Katakanlah, "Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian." (QS. Ali Imran [3]:31).

 كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى»، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: «مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى.

 “Seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, siapa yang enggan?” Beliau bersabda: “Barang siapa yang taat kepadaku maka ia masuk surga, dan barang siapa yang durhaka kepadaku maka sungguh ia telah enggan.” (HR. Bukhari 7280).

3) Hak kedua orang tua.

Orang tua kita memiliki hak yang besar terhadap kita.

Allah ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا.

“Dan hendaklah kamu beribadah hanya kepada Allah dan janganlah mempersekutukan dengan sesuatu apapun juga dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibu bapak,” (QS. An Nisaa’ [4]: 36)

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya:

أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: ثُمَّ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ.

“Amalan apakah yang di cintai Allah?” Beliau bersabda: “Shalat pada waktunya” “Kemudian apa” “Berbakti kepada orang tua” “Kemudian apa” “Jihad di jalan Allah.” (HR. Ahmad 3998, Muslim 85).

Adapun di antara:

1.  Berkata lemah lembut.

Allah ta’ala berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا .

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah satu di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia. (QS. Al isra’[17]:23).

2.  Menghormati orang tua.

Allah ta’ala berfirman:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil.” (QS. Al isra’[17]:23-24).

3.  Bersyukur kepada Allah dan kepada kedua orang tua.

Allah ta’ala berfirman.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Lukman [31]:14).

4.  Memperhatikan kebutuhan orang tua.

Dari tenaganya, mungkin membutuhkan dirinya.

Dari tempat tinggalnya, layak atau tidak.

Dari merawat kesehatannya, mebutuhkan pengobatan atau tidak.

Dari keperluannya sehari-hari.

Dari kedekatannya, mungkin membutuhkan kehadirannya.

Ini semua masuk dalam firman Allah ta’ala:

وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا.

“Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik.” (QS. Lukman [31]: 15).

5.  Mencari keridhan Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رَغِمَ اَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ اَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ اَنْفُ قِيْلَ: مَنْ يَارَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ اَدْرَكَ اَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِاَحَدُهُمَااَوْكِلَيْهِمَافَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ.

“Dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: celaka, celaka, Dia celaka, Lalu beliau ditanya orang, Siapakah yang celaka, ya Rasulullah? Jawab Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, Siapa yang mendapati kedua orang tuanya (dalam usia lanjut), atau salah satu dari keduanya, tetapi dia tidak memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Muslim 2551).

رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ.

“Ridha Rabb tergantung ridha orang tua, dan murka Allah tergantung murka orang tua”. (HR. Tirmidzi 1899 dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Ash-Shahihah 516).

Meskipun demikian kita tidak boleh mentaati di dalam kemaksiatan.

Allah ta’ala berfirman:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا.

"Dan jika keduanya memaksamu mempersekutukan sesuatu dengan-Ku yang tidak ada pengetahuanmu tentang Aku maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik.” (QS. Lukman [31]: 15).

4) Hak kerabat

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl [16]: 90)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رزقِهِ وَأَنْ يُنْسَأ لَهُ فِي أثَرِه فَلْيَصِلْ رَحِمَه.

“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari 5985, Muslim 2557, Abu Dawud 1693).

Hakekat menunaikan hak dan menyambung silaturrahmi yaitu sebagaimana disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا.

"Silaturahmi bukanlah yang saling membalas kebaikan, akan tetapi seseorang yang berusaha menyambung hubungan persaudaraannya meskipun diputus hubungan persaudaraan dengan dirinya." (HR. Bukhari 5991, Abu Daud 1697, Tirmidzi 1908).

5) Hak suami

6) Hak istri

7) Hak anak

8) Hak tetangga.

 

4.  Kenikmatan dunia itu hanya sebentar, sedikit, sedangkan akhirat kekal selamanya.

1) Dunia hanya sesaat.

Allah ta’ala berfirman:

قَالَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.

Allah berfirman, "Kalian tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kalian sesungguh mengetahui.” (QS. Al-Mukminun[23]:114).

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا

“Pada hari mereka melihat hari kiamat itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) kecuali hanya pada waktu sore atau pagi hari saja.” (QS. An-Nazi’at [79]:49)

2) Dunia Hanyalah Sedikit Jika Dibandingkan Akhirat.

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى.

“Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang bertakwa". (QS. An-Nisa' [4]: 77).

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ.

"Seandainya dunia ini bernilai di sisi Allah seperti sayap nyamuk, niscaya Dia tidak akan memberikan seteguk air pun kepada orang kafir." (HR. Tirmidzi 2320, Ibnu Majah 4110, dishahihkan syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 940).

وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ – فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ.

“Demi Allah, tidaklah dunia ini bagi akhirat melainkan seperti jari tangan salah seorang dari kalian yang ini  -Yahya (perowi) mengisyaratkan dengan jari telunjuk- yang dicelupkan ke dalam air laut, maka lihatlah air yang kembali.” (HR. Muslim 7376).

3) Dunia Hanyalah Kesenangan Yang Melalaikan.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Al-Imran [3]: 185).

4) Dunia Penjara Bagi Orang Beriman.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

"Dunia itu adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir."(HR. Muslim 2956)

5) Dunia Rendah Di Sisi Allah ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ .

“Dunia itu terlaknat dan segala yang terkandung di dalamnya pun terlaknat, kecuali orang yang berdzikir kepada Allah, yang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang ‘alim atau penuntut ilmu syar’i.” (HR. Tirmidzi 2322, Ibnu Majah 4112. Dishahihkan syaikh al-Albani di dalam shahih at-Targhib wa Tarhib 3244).

5.  Wasiat bagi para wanita.

Agar mereka bertakwa kepada Allah, bersyukur kepada suami-suami mereka.

Allah ta’ala berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ .

"Sesungguh­nya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian; dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]:7).

Hendaknya menyadari suami adalah pemimpin keluarga.

Allah ta’ala berfirman:

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ .

“Laki-laki (suami) adalah penanggung jawab atas para perempuan (istri).” (QS. An-Nisa[4]:34).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ.

“Apabila seorang isteri mengerjakan shalat yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk Surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya.” (HR. Ahmad 1661, Ibnu Hibban 4163, dishahihkan   Syaikh al-Albani, di dalam Shahihul Jami’ 660).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ ِلأَحَدٍ َلأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا.

Seandainya aku dibolehkan  seseorang bersujud kepada orang lain, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya.” (HR.Tirmidzi 1159 Ibnu Majah 1853, di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam al-Irwaa’1998).

Melihat orang yang di bawah kita (didalam masalah harta).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ.

"Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang berikan kepadamu" (HR Bukhari 6490 Muslim 2963).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan hakekat orang yang kaya:

 

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Tidaklah kaya itu diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Akan tetapi yang dikatakan kaya adalah hati yang selalu merasa cukup. (HR. Bukhari 6446 Muslim 1051).

أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ  قَالَ: يَكْفُرْنَ العَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ.

“Diperlihatkan kepadaku neraka dan aku dapati kebanyakan penghuninya adalah para wanita yang ingkar. Rasul ‘alaihish shalatu wassalam ditanya: “Apakah mereka ingkar kepada Allah ? Nabi bersabda: “Mereka ingkar kepada suaminya dan ingkar kepada kebaikan suaminya. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang mereka (istri-istrimu) selama satu tahun, kemuadian wanita tersebut melihat satu kejelekan darimu, maka ia akan berkata: “Aku tak pernah melihat engkau berbuat baik sedikitpun”( HR. Bukhari 1052, Muslim 907).

Demikianlah semoga bermanfaat aamiin.

 

-----000-----

Sragen 20-03-2026

Abu Ibrahim Junaedi Abdullah.

PRINSIP AQIDAH AHLUSSUNNAH, MUJMAL USUL 2-3.

 PRINSIP AQIDAH AHLUSSUNNAH, MUJMAL USUL 2-3. - كُلُّ مَا صَحَّ مِنْ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَجَبَ قَبُولُهُ وَإِنْ كَانَ آحَادًا .  ...