SYARAH KITAB
TAUHID
BAB 16 TENTANG MALAIKAT.
Firman Allah
Ta'ala:
حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَنْ
قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا الْحَقَّ ۖ وَهُوَ
الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ.
"Sehingga
apabila rasa takut telah dihilangkan dari hati mereka, mereka berkata, 'Apakah
yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?' Mereka menjawab, 'Kebenaran.' Dan Dialah
Yang Mahatinggi lagi Mahabesar." (QS. Saba'[34]: 23)
Bab ini tepat
apabila diberi judul: "Bab tentang orang yang menggantungkan harapan
kepada para malaikat." Sebab, kaum musyrikin dahulu bergantung kepada para
malaikat dengan keyakinan bahwa mereka akan memberikan syafaat bagi mereka di
sisi Allah.
Kaitan ayat
ini dengan tauhid adalah bahwa apabila Allah semata yang memiliki keagungan dan
kebesaran yang mutlak, maka hanya Dia yang berhak diibadahi. Karena itu, tidak
boleh menjadikan siapa pun sebagai perantara antara hamba dengan Allah, baik
malaikat yang paling dekat kepada-Nya maupun nabi yang diutus.
Firman Allah
Ta'ala:
﴿حَتَّىٰ
إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ﴾
"Hingga apabila telah dihilangkan rasa takut dari hati
mereka..." (QS. Saba'[34]: 23)
Rangkaian
lengkap ayat tersebut adalah firman Allah Ta'ala:
﴿قُلِ
ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ
ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ
وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا
لِمَنْ أَذِنَ لَهُ ۚ حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا
قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا الْحَقَّ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ﴾
"Katakanlah,
'Serulah mereka yang kalian anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Mereka tidak
memiliki kekuasaan sebesar zarrah pun di langit maupun di bumi. Mereka juga
tidak mempunyai bagian sedikit pun dalam penciptaan keduanya, dan tidak ada
seorang pun di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Syafaat di
sisi-Nya tidaklah berguna kecuali bagi orang yang telah Dia izinkan. Sehingga
apabila rasa takut telah dihilangkan dari hati mereka, mereka berkata, 'Apakah
yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?' Mereka menjawab, 'Kebenaran.' Dan Dialah
Yang Mahatinggi lagi Mahabesar." (QS. Saba'[34]: 22–23)
Dalam bab ini
terdapat penjelasan mengenai keadaan para malaikat di hadapan Rabb mereka.
Mereka dipenuhi rasa takut dan pengagungan kepada Allah. Oleh sebab itu, tidak
benar menggantungkan harapan kepada mereka selain kepada Allah dengan alasan
mengharapkan syafaat.
Sebagaimana
firman Allah Ta'ala tentang para malaikat:
﴿وَقَالُوا
اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۚ بَلْ عِبَادٌ مُّكْرَمُونَ لَا
يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ
أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ وَهُمْ
مِّنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ وَمَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَٰهٌ مِّنْ
دُونِهِ فَذَٰلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ﴾
"Mereka
berkata, 'Yang Maha Pengasih mempunyai anak.' Mahasuci Dia! Sebenarnya mereka
(para malaikat) adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka tidak mendahului-Nya
dalam berbicara dan mereka hanya mengerjakan apa yang Dia perintahkan. Dia
mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka.
Mereka tidak memberi syafaat kecuali kepada orang yang diridhai-Nya, dan mereka
sendiri selalu diliputi rasa takut kepada-Nya. Barang siapa di antara mereka
berkata, 'Sesungguhnya aku adalah tuhan selain Dia,' maka orang itu akan Kami
balas dengan Jahanam. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang
zalim." (QS. Al-Anbiya'[21]: 26–29)
Firman Allah
Ta'ala:
﴿وَمَنْ
يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَٰهٌ مِّنْ دُونِهِ فَذَٰلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ ۚ
كَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ﴾
"Barang
siapa di antara mereka berkata, 'Sesungguhnya aku adalah Tuhan selain Dia,'
maka orang itu akan Kami balas dengan Jahanam. Demikianlah Kami memberi balasan
kepada orang-orang yang zalim." (QS. Al-Anbiya'[21]: 29)
Perhatikanlah
keterkaitan antara syafaat dan rasa takut (khasy-yah) kepada Allah, niscaya
engkau akan melihat kesesuaiannya dengan ayat dan hadis yang disebutkan dalam
bab ini. Dengan demikian, akan tampak bagimu maksud penulis dalam membawakan
kedua dalil tersebut.
Konteks ayat
sebelumnya menunjukkan bahwa tidak ada syafaat kecuali dengan izin Allah
Ta'ala. Karena kaum musyrikin meyakini bahwa para malaikat adalah anak-anak
perempuan Allah—Mahasuci Allah dari anggapan tersebut—dan mereka memohon
syafaat kepada para malaikat, maka sangat tepat Allah menjelaskan keadaan para
malaikat di hadapan-Nya. Hal itu menjadi penjelasan tentang keadaan makhluk
yang tidak mampu menciptakan apa pun di hadapan Dzat Yang Maha Pencipta.
Al-Hafizh
Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menafsirkan Surah An-Najm:
Firman Allah
Ta'ala:
﴿وَكَمْ مِنْ
مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنْ بَعْدِ
أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى﴾
"Betapa
banyak malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna, kecuali
setelah Allah mengizinkan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridhai." (QS.
An-Najm [53]: 26)
Ayat ini
semakna dengan firman Allah Ta'ala:
﴿مَنْ ذَا
الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ﴾
"Siapakah
yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya?" (QS. Al-Baqarah[2]:
255)
dan
firman-Nya:
﴿وَلَا
تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ﴾
"Syafaat
di sisi-Nya tidaklah berguna kecuali bagi orang yang telah Dia beri izin."
(QS. Saba'[34]: 23)
Jika demikian
keadaan para malaikat yang sangat dekat dengan Allah, maka bagaimana mungkin, kalian
mengharapkan syafaat dari berhala-berhala dan tandingan-tandingan selain Allah?
Padahal Allah tidak pernah mensyariatkan penyembahannya, tidak pula
mengizinkannya. Bahkan Allah telah melarangnya melalui lisan seluruh rasul-Nya
dan menurunkan seluruh kitab-Nya untuk melarang perbuatan tersebut.
Pingsannya
para malaikat ketika Allah Ta'ala mewahyukan suatu perintah menunjukkan betapa
dalam pengenalan mereka kepada Allah. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin
besar pula rasa takutnya kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:
﴿إِنَّمَا
يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ﴾
"Sesungguhnya
yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.
Sungguh, Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Fathir[35]: 28)
Firman Allah
Ta'ala:
﴿قَالُوا الْحَقَّ﴾
"Mereka
menjawab, 'Kebenaran.'
Yang dimaksud
dengan "al-haqq" (kebenaran) di sini adalah sifat bagi kalam (firman)
Allah Ta'ala, dan kalam Allah terbagi menjadi dua macam.
Sebagaimana
firman Allah Ta'ala:
﴿وَتَمَّتْ
كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ ۚ وَهُوَ
السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾
"Telah
sempurnalah kalimat Tuhanmu dengan penuh kebenaran dan keadilan. Tidak ada yang
dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui." (QS. Al-An'am[6]: 115)
Al-Hafizh
Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya:
"Maksudnya,
benar dalam seluruh berita yang dikabarkan-Nya, dan adil dalam seluruh perintah
serta larangan-Nya."
Namun, ucapan
para malaikat:
﴿قَالُوا الْحَقَّ﴾
"Mereka
menjawab, 'Kebenaran.'"
bukan berarti
mereka tidak saling bertanya tentang apa yang telah Allah firmankan. Hal ini
dijelaskan dalam salah satu riwayat:
"Kemudian
para malaikat yang berada di dekat para pemikul 'Arsy berkata kepada para
pemikul 'Arsy, 'Apakah yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?' Lalu para
pemikul 'Arsy mengabarkan kepada mereka apa yang telah Allah firmankan. Setelah
itu, para penghuni setiap langit saling bertanya satu sama lain hingga berita
tersebut sampai kepada para penghuni langit dunia." (HR. Muslim no. 2229)
Sabda Nabi ﷺ:
كَسِلْسِلَةٍ عَلَى صَفْوَانٍ
"Seperti
rantai yang dijatuhkan di atas batu yang licin."
Yang dimaksud
dengan الصفوان (ash-shafwān) adalah batu yang licin dan
keras. Apabila rantai dijatuhkan di atasnya, akan terdengar suara yang sangat
keras.
Yang dimaksud
dalam hadis ini bukanlah menyerupakan suara Allah dengan suara makhluk, tetapi
menggambarkan dahsyatnya rasa takut yang memenuhi hati para malaikat ketika
mereka mendengar firman Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala:
﴿لَيْسَ
كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾
"Tidak
ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Melihat." (QS. Asy-Syura [42]: 11)
Karena itu
Nabi ﷺ bersabda:
يَنْفُذُهُمْ ذَلِكَ.
"Suara
itu menembus mereka."
Kata النفوذ
(an-nufūdz) berarti masuk atau menembus ke dalam sesuatu. Seperti ungkapan:
"Anak panah menembus sasaran," yakni masuk ke dalamnya. Maksudnya,
suara tersebut sangat dahsyat hingga benar-benar menembus dan memengaruhi hati
para malaikat.
Sebagian
ulama berpendapat bahwa suara yang dimaksud di sini adalah suara gemuruh
langit. Namun, pendapat pertama lebih kuat, yaitu bahwa yang dimaksud adalah
suara firman Allah ketika Dia berbicara.
Imam
Al-Bukhari rahimahullah berkata dalam kitab Khalqu Af'al al-'Ibad:
"Sesungguhnya
Allah berbicara dengan suara yang dapat didengar oleh yang jauh sebagaimana
didengar oleh yang dekat. Sifat seperti ini tidak dimiliki oleh siapa pun
selain Allah Yang Mahamulia."
Dalam hal ini
terdapat dalil bahwa suara Allah tidak menyerupai suara makhluk. Sebab, suara
Allah Yang Mahamulia terdengar oleh yang jauh sebagaimana terdengar oleh yang
dekat, dan para malaikat jatuh pingsan karena mendengar suara-Nya.
Imam
Al-Bukhari rahimahullah membuat bab dalam kitab Shahih-nya dengan judul:
"Bab
firman Allah Ta'ala:
﴿وَلَا
تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ ۚ حَتَّىٰ إِذَا
فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا الْحَقَّ ۖ
وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ﴾
'Syafaat di
sisi-Nya tidaklah berguna kecuali bagi orang yang telah Dia izinkan. Sehingga
apabila rasa takut telah dihilangkan dari hati mereka, mereka berkata,
"Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab,
"Kebenaran." Dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.' (QS. Saba'[34]:
23)
Al-Bukhari
tidak mengatakan, "Apa yang telah diciptakan oleh Tuhan kalian?"
tetapi beliau membawakan lafaz ayat, "Apa yang telah difirmankan oleh
Tuhan kalian?" Hal ini menunjukkan penetapan sifat kalam (berbicara) bagi
Allah.
Allah Ta'ala
juga berfirman:
﴿مَنْ ذَا
الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ﴾
"Siapakah
yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya?" (QS. Al-Baqarah[2]:
255)
Masruq
meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu:
"Apabila
Allah berbicara dengan wahyu, penduduk langit mendengar sesuatu. Setelah rasa
takut hilang dari hati mereka dan suara itu telah reda, mereka mengetahui bahwa
yang disampaikan itu adalah kebenaran. Lalu mereka saling memanggil, 'Apakah
yang telah difirmankan oleh Tuhan kalian?' Mereka menjawab, 'Kebenaran.'"
Diriwayatkan
pula dari Jabir, dari Abdullah bin Unais radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku
mendengar Nabi ﷺ bersabda:
"Allah
akan mengumpulkan seluruh hamba, kemudian memanggil mereka dengan suara yang
didengar oleh orang yang jauh sebagaimana didengar oleh orang yang dekat:
'Akulah Raja, Akulah Yang Maha Menghisab (Ad-Dayyān).'"
Kāhin (الكاهن)
adalah orang yang mengaku mengetahui perkara-perkara gaib di masa depan atau
mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati manusia.
Perkataan
penulis:
"(Sufyan
menggambarkannya dengan telapak tangannya)."
Maksudnya,
Sufyan bin 'Uyainah memperagakan bagaimana setan-setan saling bertumpuk,
sebagian berada di atas sebagian yang lain, ketika mencuri berita dari langit.
Sufyan yang
dimaksud adalah Sufyan bin 'Uyainah Abu Muhammad Al-Hilali Al-Kufi (wafat tahun
198 H).
Hal ini
dengan jelas menunjukkan bahwa tujuan penyebutan hadis tersebut adalah
menetapkan sifat kalam (berbicara) bagi Allah Ta'ala secara hakiki, sebagai
bantahan terhadap golongan Mu'aththilah yang menolak atau menyelewengkan
sifat-sifat Allah. Adapun pembahasan lebih rinci tentang masalah ini akan
datang pada bab tersendiri, insya Allah.
Penjelasan
Dalam hadis
ini terdapat dalil tentang penetapan sifat irādah (kehendak) bagi Allah Ta'ala.
Iradah Allah
terbagi menjadi dua:
Iradah
syar'iyyah (kehendak syariat).
Iradah
kauniyyah (kehendak kauniyah/takdir).
Perbedaan
keduanya adalah:
a. Ditinjau
dari sisi kecintaan Allah:
Iradah
syar'iyyah berkaitan dengan perkara yang dicintai dan diridhai Allah.
Iradah
kauniyyah bisa berkaitan dengan sesuatu yang dicintai Allah, dan bisa pula
dengan sesuatu yang tidak dicintai-Nya, namun Allah tetap menghendakinya
terjadi sebagai bagian dari hikmah-Nya.
b. Ditinjau
dari sisi terjadinya:
Iradah
syar'iyyah bisa terlaksana dan bisa pula tidak terlaksana, karena manusia
diberi pilihan untuk menaati atau mendurhakai.
Iradah
kauniyyah pasti terjadi dan tidak mungkin gagal, karena segala sesuatu yang
Allah kehendaki secara takdir pasti terjadi.
Kedua macam
kehendak tersebut sama-sama mengandung hikmah Allah.
Contoh iradah
kauniyyah adalah firman Allah Ta'ala:
﴿فَعَّالٌ
لِّمَا يُرِيدُ﴾
"Dia
Maha Berbuat terhadap apa yang Dia kehendaki."
(QS.
Al-Buruj: 16)
Iradah
kauniyyah sama maknanya dengan masyi'ah (kehendak Allah dalam takdir). Apa yang
Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan
terjadi.
Contoh iradah
syar'iyyah adalah firman Allah Ta'ala:
﴿وَاللَّهُ
يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ﴾
"Allah
menghendaki untuk menerima tobat kalian."
(QS.
An-Nisa': 27)
Bintang-bintang
dijadikan sebagai alat untuk melempari setan-setan. Ketika Nabi Muhammad ﷺ
diutus, pelemparan terhadap setan menjadi lebih sering dan lebih dahsyat
daripada sebelumnya.
Dari Ibnu
'Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata:
Rasulullah ﷺ
sedang duduk bersama beberapa sahabatnya. Tiba-tiba melintas sebuah bintang
besar sehingga langit menjadi terang. Beliau bertanya:
"Apa
yang biasa kalian katakan pada masa jahiliah ketika melihat kejadian seperti
ini?"
Mereka
menjawab:
"Kami
dahulu mengatakan bahwa seorang tokoh besar telah lahir atau seorang tokoh
besar telah meninggal."
Ma'mar bin
Rasyid berkata:
Aku bertanya
kepada Az-Zuhri, "Apakah pada masa jahiliah juga terjadi pelemparan dengan
bintang-bintang?"
Beliau
menjawab:
"Ya,
tetapi pelemparannya menjadi lebih dahsyat ketika Nabi ﷺ
diutus."
Lalu
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya
bintang-bintang itu tidak dilemparkan karena kematian seseorang ataupun karena
kelahirannya. Akan tetapi, apabila Rabb kita Tabāraka wa Ta'ālā menetapkan
suatu urusan..."
Kemudian
beliau menyebutkan hadis tersebut hingga selesai.
Wahyu (الوحي)
secara bahasa adalah penyampaian suatu informasi dengan cepat dan secara
tersembunyi. Adapun dalam istilah syariat, wahyu adalah pemberitahuan Allah
kepada para nabi-Nya dengan cara yang dikehendaki-Nya.
1. Para
malaikat memiliki rasa takut kepada Allah Ta'ala.
Sebagaimana
firman Allah Ta'ala:
> ﴿يَخَافُونَ
رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ﴾
"Mereka
takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka, dan mereka melaksanakan apa saja
yang diperintahkan kepada mereka."
(QS. An-Nahl:
50)
2. Ayat ini
menetapkan bahwa para malaikat memiliki hati, dan dengan hati itulah mereka
memahami serta menyadari.
3. Ayat ini
juga menunjukkan bahwa para malaikat adalah makhluk yang memiliki jasad, bukan
sekadar kekuatan atau makna abstrak.
4. Menetapkan
sifat kalam (berbicara) bagi Allah Ta'ala, dan bahwa Allah berbicara kapan saja
Dia kehendaki.
5. Keputusan
Allah terjadi dengan firman-Nya, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
> ﴿إِذَا
قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ﴾
"Apabila
Dia menetapkan sesuatu, Dia hanya berfirman kepadanya, 'Jadilah!', maka jadilah
ia."
(QS. Ali
'Imran: 47)
6. Allah
Subhanahu wa Ta'ala membiarkan sebagian jin mencapai langit sebagai ujian dan
cobaan bagi manusia. Mereka mencuri sebagian berita dari langit, lalu
menyampaikannya kepada para dukun. Allah telah menjelaskan hal ini kepada
hamba-hamba-Nya agar mereka tidak tertipu oleh para dukun dan para pendusta
yang mengaku mengetahui perkara gaib.
Catatan
Sebagian ahli
tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dalam ayat ﴿حَتَّىٰ
إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ﴾ adalah orang-orang kafir, bukan para
malaikat. Namun pendapat ini tertolak karena bertentangan dengan hadis sahih
yang telah disebutkan sebelumnya.
Ayat ini juga
membantah keyakinan sebagian orang non-Muslim yang menganggap malaikat hanyalah
simbol kekuatan kebaikan dalam jiwa atau sekadar makna abstrak. Yang benar,
malaikat adalah makhluk Allah yang nyata dan memiliki jasad sesuai dengan
hakikat yang Allah ciptakan.
Demikian pula
ayat ini membantah kelompok Mu'aththilah, yang menolak sifat kalam Allah atau
mengatakan bahwa kalam Allah hanyalah makna yang ada dalam diri-Nya, atau bahwa
Allah hanya menciptakan ucapan pada makhluk tanpa berbicara secara hakiki. Yang
benar adalah bahwa Allah benar-benar berbicara dengan cara yang sesuai dengan
keagungan-Nya, tanpa menyerupai makhluk.
Allah
membiarkan hal tersebut terjadi agar manusia diuji, namun pada saat yang sama
Allah juga menjelaskan hakikatnya sehingga tidak timbul kesamaran bagi mereka.
Milik Allah-lah hikmah yang sempurna dan mendalam.
Sebagaimana
firman Allah Ta'ala:
> ﴿وَلَقَدْ
جَعَلْنَا فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَزَيَّنَّاهَا لِلنَّاظِرِينَ
وَحَفِظْنَاهَا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ إِلَّا مَنِ اسْتَرَقَ السَّمْعَ
فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ مُّبِينٌ﴾
"Sungguh,
Kami telah menjadikan gugusan-gugusan bintang di langit dan menghiasinya bagi
orang-orang yang memandangnya. Dan Kami menjaganya dari setiap setan yang
terkutuk. Kecuali setan yang mencuri pendengaran, maka ia dikejar oleh semburan
api yang terang."
(QS. Al-Hijr:
16–18)
Nabi ﷺ
juga telah menjelaskan perkara ini dalam banyak hadis. Di antaranya adalah
hadis pada bab ini, yaitu sabda beliau:
>
"...Maka manusia membenarkan dukun itu karena satu kalimat yang
didengarnya dari langit."
Artinya,
setan berhasil mencuri satu berita yang benar dari langit, lalu menyampaikannya
kepada dukun. Setelah itu dukun mencampurkannya dengan banyak kebohongan.
Karena satu berita itu ternyata benar, sebagian orang tertipu lalu membenarkan
seluruh perkataan dukun tersebut.
Faedah
1. Menetapkan
sifat al-'Uluw (Mahatinggi) bagi Allah Ta'ala, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
> «إِذَا
قَضَى اللَّهُ الْأَمْرَ فِي السَّمَاءِ»
"Apabila
Allah menetapkan suatu urusan di langit..."
Hadis ini
menunjukkan bahwa Allah Mahatinggi di atas seluruh makhluk-Nya, sesuai dengan
keagungan-Nya, tanpa menyerupai makhluk.
2.
Menunjukkan besarnya kesungguhan setan dalam menyesatkan manusia. Mereka rela
menghadapi berbagai bahaya, bahkan dikejar oleh semburan api (syihab), demi
memperoleh sedikit berita yang kemudian digunakan untuk menipu manusia melalui
para dukun dan tukang ramal.
Catatan:
Al-Alusi rahimahullah menjelaskan bahwa penjagaan langit dari pencurian berita
gaib merupakan bagian dari hikmah Allah dalam menguji hamba-hamba-Nya. Allah
dapat menghalangi setan sama sekali dari naik ke langit, namun Dia menjadikan
peristiwa itu sebagai ujian agar tampak siapa yang beriman kepada wahyu dan
siapa yang mengikuti para pendusta.
Sekian semoga
bermanfaat.
-----000-----
Sumber at-Taudhih
ar-Rasyid Abu Abdillah Huldun
Dinukil oleh
Abu Ibrahim Junaedi dengan beberapa ringkasan.