BAB 7
SOAL 1.
TAWASSUL
DAN MEMINTA SYAFAAT.
س ١ - بِمَاذَا نَتَوَسَّلُ إِلَى اللَّهِ؟
Soal 1 : Dengan apa kita bertawassul kepada Allah?
ج 1 - التَّوَسُّلُ مِنْهُ : جَائِزٌ وَمَمْنُوعٌ
Jawaban: Tawassul ada yang diperbolehkan dan ada yang
dilarang.
التَّوَسُّلُ الْجَائِزُ وَالْمَطْلُوبُ هُوَ:
Tawassul yang diperbolehkan dan dianjurkan adalah:
١ التَّوَسُّلُ
بِأَسْمَاءِ اللَّهِ وَصِفَاتِهِ
Bertawassul dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah.
٢ وَالتَّوَسُّلُ
بِالْعَمَلِ الصَّالِحِ.
Dan bertawassul dengan amal saleh.
قال الله تعالى:
Allah ta’ala berfirman:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا.
“Dan Allah memiliki
nama-nama yang indah, maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama tersebut.”
Dalil: QS. Al-A'raf [7]: 180.
وقال تعالى:
Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا
إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ.
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan
carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya.” (QS. Al-Ma'idah
[5]: 35).
أَي تَقَرَّبُوا إِلَيْهِ بِطَاعَتِهِ وَالْعَمَلِ بِمَا
يُرْضِيهِ ذَكَرَهُ ابْنُ كَثِيرٍ نَقْلًا عَنْ قَتَادَةَ.
Maksudnya, mendekatkan diri kepada-Nya dengan menaati-Nya dan
melakukan amalan yang Dia ridhai. (Hal ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dengan
menukil dari Qatadah).
وقال ﷺ:
أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku memohon
kepada-Mu dengan setiap nama yang menjadi milik-Mu.” (Hadis sahih, diriwayatkan
oleh Ahmad).
وقال ﷺ
لِلصَّحَابِيِّ الَّذِي سَأَلَهُ مُرَافَقَتَهُ الْجَنَّةَ وقال له: أَعِنِّي
عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seorang
sahabat yang meminta agar dapat menemani beliau di surga, beliau bersabda
kepadanya: “Bantulah aku untuk dirimu dengan memperbanyak sujud.”
أَيِ الصَّلَاةِ وَهِيَ مِنَ الْعَمَلِ الصَّالِحِ.
Maksudnya adalah shalat, dan shalat termasuk amal saleh. (HR.
Muslim).
وَيَجُوزُ التَّوَسُّلُ بِحُبِّنَا وَحُبِّ اللَّهِ
لِلرَّسُولِ وَالأَوْلِيَاءِ.
Bertawassul dengan kecintaan kita dan kecintaan Allah kepada
Rasul dan para wali diperbolehkan. (Untuk mengetahui lebih banyak perincian dan
dalil-dalil mengenai pembahasan ini, silakan merujuk kepada risalah “Tawassul,
Hukum-Hukumnya dan Jenis-Jenisnya”, Syaikh al-Albani).
وَكَقِصَّةِ أَصْحَابِ الْغَارِ الَّذِينَ تَوَسَّلُوا
بِأَعْمَالِهِمُ الصَّالِحَةِ فَفَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُمْ.
Seperti kisah tiga orang yang terperangkap di dalam gua, yang
bertawassul kepada Allah dengan amal-amal saleh mereka, lalu Allah memberikan
jalan keluar bagi mereka.
Hadis tentang tiga orang yang masuk ke dalam gua dan tertutup
oleh batu besar. Masing-masing berdoa kepada Allah dengan menyebut amal saleh
yang pernah dilakukannya, hingga batu tersebut bergeser dan akhirnya mereka
dapat keluar. (HR. Bukhari dan Muslim).
التَّوَسُّلُ الْمَمْنُوعُ: وَهُوَ دُعَاءُ الْأَمْوَاتِ،
وَطَلَبُ الْحَاجَاتِ مِنْهُمْ كَمَا هُوَ وَاقِعُ الْيَوْمَ، وَهُوَ شِرْكٌ
أَكْبَرُ.
Adapun tawassul yang dilarang adalah berdoa kepada
orang-orang yang telah meninggal dan meminta berbagai kebutuhan kepada mereka,
sebagaimana yang terjadi pada zaman sekarang. Perbuatan tersebut merupakan
syirik besar.
لِقَوْلِهِ تَعَالَى:
Allah ta’ala berfirman:
وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا
يَضُرُّكَ، فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ.
“Dan janganlah engkau
berdoa kepada selain Allah yang tidak dapat memberi manfaat kepadamu dan tidak
pula dapat memberi mudarat kepadamu. Jika engkau melakukan hal itu, maka
sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Yunus [10]:106)
Yang dimaksud dengan “orang-orang yang zalim” dalam ayat ini
adalah orang-orang musyrik, sebagaimana disebutkan dalam penjelasan yang
dikutip dalam teks.
أَمَّا التَّوَسُّلُ بِجَاهِ الرَّسُولِ كَقَوْلِكَ: يَا
رَبِّ بِجَاهِ مُحَمَّدٍ اشْفِنِي فَهَذَا بِدْعَةٌ، لِأَنَّ الصَّحَابَةَ لَمْ
يَفْعَلُوهُ.
Adapun bertawassul dengan kedudukan Rasul, seperti ucapanmu,
“Wahai Rabbku, dengan kedudukan Muhammad, sembuhkanlah aku,” maka ini merupakan
bid'ah, karena para sahabat tidak melakukannya.
وَلِأَنَّ عُمَرَ تَوَسَّلَ بِالْعَبَّاسِ حَيًّا
بِدُعَائِهِ، وَلَمْ يَتَوَسَّلْ بِالرَّسُولِ ﷺ.
Dan karena Umar bertawassul dengan Al-Abbas ketika beliau
masih hidup, yaitu dengan doanya, dan Umar tidak bertawassul dengan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ketika terjadi kekeringan, Umar bin Al-Khattab meminta
Al-Abbas bin Abdul Muththalib agar berdoa kepada Allah untuk meminta hujan. (HR.
Bukhari).
وَهَذَا التَّوَسُّلُ قَدْ يُؤَدِّي لِلشِّرْكِ، وَذَلِكَ
إِذَا دَعَاهُ بَعْدَ مَوْتِهِ، وَهُوَ اعْتَقَدَ أَنَّ اللَّهَ مُحْتَاجٌ
لِوَاسِطَةِ بَشَرٍ كَالْأَمِيرِ وَالْحَاكِمِ، لِأَنَّهُ شَبَّهَ الْخَالِقَ
بِالْمَخْلُوقِ.
Tawassul seperti ini dapat mengantarkan kepada syirik, yaitu
apabila seseorang berdoa kepadanya setelah kematiannya, dan ia meyakini bahwa
Allah membutuhkan perantara manusia, seperti seorang pemimpin atau penguasa.
Sebab, dengan keyakinan tersebut ia menyerupakan Al-Khaliq (Sang Pencipta)
dengan makhluk.
-----000-----
Penjelasan:
Pengertian tawasul.
Tawassul adalah
mengambil sarana (wasilah) agar doa atau ibadahnya dapat diterima dan
dikabulkan.
Al-wasilah menurut
bahasa berarti segala hal yang dapat menyampaikan dan mendekatkan kepada
sesuatu. Bentuk jamaknya adalah wasaa-il. (An-Nihayah fil Gharibil Hadiit wal Atsar, 5: 185, karya
Ibnul Atsir).
Menurut istilah syari’at, al-wasilah yang
diperintahkan dalam Al-Qur’an adalah segala hal yang dapat mendekatkan
seseorang kepada Allah Ta’ala, yaitu berupa amal ketaatan
yang disyariatkan. (Tafsir Ath-Thabari, 4: 567 dan Tafsir Ibnu Katsir, 3: 103)
Oleh karena itu Allah ta’ala berfirman:
Allah ta’ala berfirman:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ
وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu
kepada Allah dan carilah wasilah (sebab) untuk semakin dekat kepadaNya, dan
berjihadlah di jalan Allah, agar kalian menjadi orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 35)
Sufyan Ats-Tsauri meriwayatkan dari Thalhah, dari
Atha', dari Ibnu 'Abbas, bahwa kata-kata "cara apapun untuk
mendekatiNya". (QS. Al-Maidah [5]:35).
Pembagian tawasul.
Tawasul terbagi menjadi 3:
1. Tawasul yang disyari’atkan.
Adapun tawasul yang disyari’atkan yaitu:
1) Tawasul dengan nama-nama Allah.
Allah ta’ala berfirman:
وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ
بِهَا.
“Allah
memiliki Asmaulhusna (nama-nama yang terbaik). Maka, bermohonlah kepada-Nya
dengan menyebut (Asmaulhusna) itu.” (QS.
Al-A’raf[7]:180).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ
بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ.
"Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan
berdiri sendiri, dengan rahmat-Mu aku mohon perlindungan." (HR. Tirmidzi
3254, di dahasankan Syaikh al-Albani di dalam as-Shahih 2457).
أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ
لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ
أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ.
“(Ya Allah) aku memohon
kepada-Mu dengan setiap nama-Mu, yang Engkau gunakan untuk diri-Mu, atau yang
Engkau turunkan di dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah
seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan untuk diri-Mu dalam ilmu gaib
di sisi-Mu.” (HR. Imam Ahmad 3712, Ibnu Hibban 2372, dishahihkan syaikh
al-Albani di dalam ash-Shahihah 199).
2) Tawasul dengan keimanan.
Allah ta’ala berfirman:
رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا
يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا ۚ رَبَّنَا فَاغْفِرْ
لَنَا ذُنُوبَنَا.
“Ya Rabb kami, sesungguhnya
kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu), ‘Berimanlah kamu
kepada Rabbmu‘; maka kami pun beriman. Ya
Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami.” (Ali Imran [3]: 193).
Dan Firman-Nya,
إِنَّهُ كَانَ فَرِيقٌ مِنْ عِبَادِي
يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا.
“Sesungguhnya ada segolongan
dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), ‘Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka
ampunilah kami dan berilah kami rahmat’.”
(Al-Mukminun [23]: 109).
3) Tawasul dengan amal shalih.
Allah ta’ala berfirman.
وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ
اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ ۚ
(Ingatlah) Ayyub ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku)
sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha
Penyayang dari semua yang penyayang.” (QS. Al-Anbiya [21]:83).
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ
مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوْا المَبِيتَ إِلَى غَارٍ، فَدَخَلُوهُ فَانْحَدَرَتْ
صَخْرَةٌ مِنَ الجَبَلِ، فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الغَارَ، فَقَالُوا: إِنَّهُ لاَ
يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلَّا أَنْ تَدْعُوا اللَّهَ بِصَالِحِ
أَعْمَالِكُمْ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ: اللَّهُمَّ كَانَ لِي أَبَوَانِ
شَيْخَانِ كَبِيرَانِ، وَكُنْتُ لاَ أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلًا، وَلاَ مَالًا
فَنَأَى بِي فِي طَلَبِ شَيْءٍ يَوْمًا، فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا،
فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا، فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ وَكَرِهْتُ أَنْ
أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلًا أَوْ مَالًا، فَلَبِثْتُ وَالقَدَحُ عَلَى يَدَيَّ،
أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الفَجْرُ، فَاسْتَيْقَظَا، فَشَرِبَا
غَبُوقَهُمَا، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ،
فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ، فَانْفَرَجَتْ
شَيْئًا لاَ يَسْتَطِيعُونَ الخُرُوجَ "، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " وَقَالَ الآخَرُ: اللَّهُمَّ كَانَتْ لِي بِنْتُ
عَمٍّ، كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيَّ، فَأَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا،
فَامْتَنَعَتْ مِنِّي حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ،
فَجَاءَتْنِي، فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمِائَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّيَ
بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِهَا، فَفَعَلَتْ حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا،
قَالَتْ: لاَ أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الخَاتَمَ إِلَّا بِحَقِّهِ، فَتَحَرَّجْتُ
مِنَ الوُقُوعِ عَلَيْهَا، فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهِيَ أَحَبُّ النَّاسِ
إِلَيَّ، وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِي أَعْطَيْتُهَا، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ
فَعَلْتُ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ، فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ، فَانْفَرَجَتِ
الصَّخْرَةُ غَيْرَ أَنَّهُمْ لاَ يَسْتَطِيعُونَ الخُرُوجَ مِنْهَا "، قَالَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " وَقَالَ الثَّالِثُ:
اللَّهُمَّ إِنِّي اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ، فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ غَيْرَ
رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذِي لَهُ وَذَهَبَ، فَثَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى
كَثُرَتْ مِنْهُ الأَمْوَالُ، فَجَاءَنِي بَعْدَ حِينٍ فَقَالَ: يَا عَبْدَ
اللَّهِ أَدِّ إِلَيَّ أَجْرِي، فَقُلْتُ لَهُ: كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ
مِنَ الإِبِلِ وَالبَقَرِ وَالغَنَمِ وَالرَّقِيقِ، فَقَالَ: يَا عَبْدَ اللَّهِ
لاَ تَسْتَهْزِئُ بِي، فَقُلْتُ: إِنِّي لاَ أَسْتَهْزِئُ بِكَ، فَأَخَذَهُ
كُلَّهُ، فَاسْتَاقَهُ، فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتُ
فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ، فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ،
فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ، فَخَرَجُوا يَمْشُونَ.
“Dahulu
ada tiga orang dari umat sebelum kalian melakukan perjalanan. Ketika malam
tiba, mereka berteduh di sebuah gua. Mereka pun masuk ke dalamnya. Tiba-tiba
sebuah batu besar dari gunung jatuh dan menutup pintu gua sehingga mereka
terkurung di dalamnya.
Mereka
berkata, ‘Sesungguhnya tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dari batu ini
kecuali kalian berdoa kepada Allah dengan menyebut amal-amal shalih kalian.’
Salah
seorang dari mereka berkata, ‘Ya Allah, aku memiliki kedua orang tua yang sudah
lanjut usia. Aku tidak pernah memberikan minuman kepada keluarga maupun hamba
sahayaku sebelum memberikan minuman kepada kedua orang tuaku. Pada suatu hari
aku pergi jauh untuk mencari sesuatu. Ketika aku pulang, ternyata keduanya
telah tidur. Aku pun memerah susu untuk mereka, tetapi aku mendapati keduanya
sedang tidur. Aku tidak suka memberikan minuman kepada keluarga maupun hartaku
sebelum mereka. Maka aku tetap menunggu dengan membawa wadah susu di kedua
tanganku hingga fajar menyingsing. Kemudian keduanya bangun dan meminum susu
tersebut.
Ya
Allah, jika aku melakukan hal itu semata-mata untuk mengharapkan wajah-Mu, maka
bukakanlah bagi kami jalan keluar dari kesulitan yang kami alami karena batu
ini.’
Maka
batu itu bergeser sedikit, tetapi mereka belum dapat keluar.
Orang
kedua berkata, ‘Ya Allah, aku memiliki seorang putri paman yang sangat aku
cintai. Aku menginginkannya, tetapi ia menolak keinginanku. Hingga pada suatu
tahun ia mengalami kesulitan hidup, lalu ia datang kepadaku. Aku memberinya 120
dinar dengan syarat ia menyerahkan dirinya kepadaku. Ia menyetujuinya. Ketika
aku telah mampu menguasainya, ia berkata, “Aku tidak mengizinkanmu membuka
cincin kecuali dengan cara yang benar.” Maka aku merasa takut kepada Allah
untuk melakukan perbuatan tersebut. Aku pun meninggalkannya, padahal ia adalah
orang yang paling aku cintai. Aku juga meninggalkan emas yang telah kuberikan
kepadanya.
Ya
Allah, jika aku melakukan hal itu semata-mata untuk mengharapkan wajah-Mu, maka
bukakanlah bagi kami jalan keluar dari kesulitan yang kami alami.’
Maka
batu itu bergeser lagi, tetapi mereka masih belum dapat keluar.
Orang
ketiga berkata, ‘Ya Allah, aku pernah mempekerjakan beberapa orang. Aku telah
memberikan upah mereka semua kecuali seorang yang pergi meninggalkan upahnya.
Aku kemudian mengembangkan upahnya hingga menjadi harta yang banyak. Setelah
beberapa waktu, orang itu datang kepadaku dan berkata, “Wahai hamba Allah,
berikanlah kepadaku upahku.”
Aku
berkata kepadanya, “Semua yang engkau lihat berupa unta, sapi, kambing, dan
para pekerja, semuanya adalah hasil dari upahmu.”
Ia
berkata, “Wahai hamba Allah, janganlah engkau mempermainkanku.”
Aku
berkata, “Aku tidak mempermainkanmu.”
Kemudian
ia mengambil seluruh harta tersebut dan menggiringnya, tanpa meninggalkan
sedikit pun.
Ya
Allah, jika aku melakukan hal itu semata-mata untuk mengharapkan wajah-Mu, maka
bukakanlah bagi kami jalan keluar dari kesulitan yang kami alami.’
Maka
batu itu bergeser dan akhirnya mereka dapat keluar dari gua dalam keadaan
berjalan.” (HR. Bukhari 2272, Muslim 2743 dengan lafad Bukhari).
4) Tawasul dengan pengakuan dosa-dosanya.
Taubatnya Nabi Adam dan Hawa.
Allah ta’ala berfirman:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا
وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
“Keduanya berkata, ‘Ya Rabb kami, kami telah menzalimi
diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami,
niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf [7]: 23).
Nabi Yunus.
Allah ta’ala berfirman:
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ.
“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain
Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS.
Al-Anbiya’ [21]: 87).
Nabi Musa
Allah ta’ala berfirman:
رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي.
“Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku,
maka ampunilah aku.” (QS. Al-Qashash [28]: 16).
5) Tawasul dengan orang shalih.
Allah ta’ala berfirman:
وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ
جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا
اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا.
“Dan
sungguh, sekiranya mereka ketika menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad),
lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka,
niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS.
An-Nisa’ [4]: 64).
قَالُوا
يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ .
قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي ۖ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Mereka berkata, ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun untuk
dosa-dosa kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’ Dia
(Ya‘qub) berkata, ‘Aku akan memohonkan ampun untuk kalian kepada Rabbku.
Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Yusuf
[12]: 97–98).
“Dari ‘Utsman bin Hunain, bahwa seorang laki-laki yang buta datang
kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah,
berdoalah kepada Allah agar Dia menyembuhkanku.’ Beliau bersabda,
إِنْ شِئْتَ دَعَوْتُ لَكَ، وَإِنْ شِئْتَ
صَبَرْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ. قَالَ: فَادْعُهُ, فَأَمَرَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ فَيُحْسِنَ
وُضُوءَهُ، وَيُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ، وَيَدْعُوَ بِهَذَا الدُّعَاءِ: اللَّهُمَّ
إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ
الرَّحْمَةِ، يَا مُحَمَّدُ، إِنِّي تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِي
هَذِهِ لِتُقْضَى، اللَّهُمَّ فَشَفِّعْهُ فِيَّ.
‘Jika engkau mau, aku akan
mendoakanmu; dan jika engkau mau, engkau bersabar, karena itu lebih baik
bagimu.’ Orang itu berkata, ‘Doakanlah beliau.’ Maka Nabi memerintahkannya
untuk berwudu dan menyempurnakan wudunya, kemudian shalat dua rakaat dan berdoa
dengan doa ini: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap
kepada-Mu dengan perantaraan Nabi-Mu Muhammad, Nabi pembawa rahmat. Wahai
Muhammad, sesungguhnya aku menghadap kepada Rabbku dengan perantaraanmu dalam
kebutuhanku ini agar dikabulkan. Ya Allah, terimalah syafaatnya untukku.’” (HR.
At-Tirmidzi 17240, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam kitab at-Tawasul 69).
Dari Ibnu Abbas dia berkata:
أَلاَ
أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ؟ قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: هَذِهِ
المَرْأَةُ السَّوْدَاءُ، أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَقَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ، وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي، قَالَ: «إِنْ
شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ
يُعَافِيَكِ» فَقَالَتْ: أَصْبِرُ، فَقَالَتْ: إِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ
لِي أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ، فَدَعَا لَهَا.
“Apakah
kamu mau aku tunjukkan kepadamu seorang wanita dari penghuni surga?” Aku
menjawab, “Ya, tentu.” Ia berkata, “Inilah wanita berkulit hitam tersebut. Ia
datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Sesungguhnya aku
terkena penyakit ayan dan ketika kambuh auratku tersingkap. Maka berdoalah
kepada Allah untukku.’
Beliau
bersabda, ‘Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga. Dan jika engkau
mau, aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu.’
Wanita
itu berkata, ‘Aku akan bersabar.’ Kemudian ia berkata, ‘Sesungguhnya ketika
penyakitku kambuh auratku tersingkap. Maka berdoalah kepada Allah agar auratku
tidak tersingkap.’ Maka beliau pun mendoakannya.” (HR. Bukhari 5652, Muslim
2576).
2. Tawasil yang bid’ah.
Di antara bentuk tawasul yang
bid’ah adalah bertawasul kepada Allah dengan kedudukan, kehormatan, atau hak
seseorang yang saleh, seperti mengatakan: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu
dengan kedudukan Nabi-Mu.” Bentuk tawasul seperti ini tidak terdapat dalil yang
sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat.
Adapun hadits ini adalah hadits palsu . sebagaimana
dijelaskan syaikh DR. Shalih bin Faurzan al-Fauzan dalam kitab beliau Kitab
Tauhid.
3. Tawasul yang Syirik.
Yaitu meminta kepada orang yang sudah meninggal baik
kepada para Nabi, Wali dan orang-orang shalih.
Allah ta’ala berfirman:
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ
إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ
وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ
“Mereka
yang diseru itu, mereka sendiri mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada
Rabb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat, mereka mengharapkan
rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 57).
Demikianlah semoga bermanfaat.
-----000-----
Sragen
21-09-2026
Abu
Ibrahim Junaedi.