Mukadimah
إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ,
وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ
أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ
لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ
اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا
رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي
تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيمًا.
أَمَّا بَعْدُ
Tidak
diragukan lagi, puasa merupakan rukun islam yang ke lima, di mana dengan
kelembutan Allah ta’ala, Allah selalu memperbaiki keadaan hamba-hambanya, baik
jasmani maupun rahani, baik hubungannya kepada Allah ta’ala maupun dengan
sesama manusia, inilah rahasia diantara hikmah pusa yang tidak banyak diketahui
oleh manusia.
Semoga
amal sedikit ini bermanfaat bagi penulis di kemudian hari yang tidak lagi
berguna harta dan anak-anak kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang
selamat. Aamiin.
Sragen
11-02-2025
Junaedi
Abdullah.
BAB
1
Bersiap
menyambut datangnya bulan Ramadhan.
Bulan
Ramadhan adalah bulan yang ditunggu-tunggu oleh semua orang yang beriman, oleh
karena itu selayaknya kita juga mencurahkan perhatian kita untuk dapat
beribadah dengan semaksimal mungkin di bulan itu.
Hal-hal yang perlu untuk kita lakukan yaitu:
1. Bergembira
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam
memberikan Kabar gembira mengenai datangnya Ramadhan sebagaimana dalam
hadits berikut:
ﻗَﺪْ
ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ،
“Telah datang kepada kalian
Ramadhan, bulan yang diberkahi.” (HR. Ahmad 8991, Nasai 2106,
dishahih oleh Syaikh al-Arna’uth dalam Takhrijul Musnad 8991, Syaikh al-Albani
didalam Al-Misykah 1962).
Imam Nawawi berkata, “Asal makna
keberkahan ialah kebaikan yang banyak dan abadi.” (Syarah Shahih Muslim oleh
Nawawi, 1/225).
ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ
ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ
ﻓِﻴﻪِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ
ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ.
Allah
mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya.
Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya
terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang
dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR. Ahmad 8991, Nasai 2106, dishahih oleh Syaikh
al-Arna’uth dalam Takhrijul Musnad 8991, Syaikh al-Albani di dalam Al-Misykah
1962).
Dahulu
para sahabat dan tabi’in berdoa.
اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـي
رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِي مُتَقَبَّلاً.
“Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadan,
dan antarkanlah Ramadan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan
Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264).
Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid berkata, tidak
ada riwayat yang shahih yang sampai kepada nabi, akan tetapi banyak
diriwayatkan dari orang-orang shalih terdahulu yang berdoa demikian.
Begitu
pula doa di bawah ini yang telah masyhur di masyarakat, tetapi haditsnya lemah.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ
وَبَارِكْ لَنَا فِى رَمَضَانَ.
“Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan
Sya’ban, serta berkahilah kami di bulan Ramadan, (HR. Ahmad 2346, Syaikh
Al-Arnauth menyatakan dha’if disebutkan di dalam Musnad Al-Maudu’ Al-Jami’i
lilkitab Al-‘Asyara, Suhaib ‘abdul Jabar).
Adapun hadits barang siapa gembira dengan
datangnya Ramadhan diharamkan jasadnya di neraka sebagaimana berikut ini:
ﻣَﻦْ
ﻓَﺮِﺡَ ﺑِﺪُﺧُﻮﻝِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺟَﺴَﺪَﻩُ ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟﻨِّﻴْﺮَﺍﻥِ.
“Barangsiapa
bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan
jasadnya masuk neraka. (Nash riwayat ini disebutkan di kitab Durrat An-Nasihin)
namun tidak dijumpai di dalam kitab-kitab hadits, sehingga para ulama
menyebutkan bahwa hadits ini adalah hadits palsu.
2. Mempelajari hukum-hukum seputar
Ramadhan.
Menuntut ilmu merupakan kewajiban umat Islam,
termasuk di bulan Ramadhan, karena dapat membantu mencapai tujuan puasa,
yaitu ketaqwaan.
Allah
ta’ala berfirman:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ.
“Maka
ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan
mohonlah ampunan atas dosamu.”(QS. Muhammad[47]:19).
قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ
يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ.
“Katakanlah,
“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?” (QS. Az-Zumar[39:9).
Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى
كُلِّ مُسْلِمٍ.
“Menuntut ilmu
itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah 224. Dishahih oleh Syaikh
al-Albani di dalam Shahihu al-Jami’ 3913).
مَنْ
يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ.
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan
baginya maka Allah akan memberikan kefaqihan (pemahaman) agama
baginya. “(HR. Bukhari 71, 3116, Muslim 1037).
Diantaranya apa saja yang disyariatkan di bulan
ramadhan, pada siapa saja orang yang diwajibkan dan dibolehkan berbuka, apa
saja yang dibolehkan saat berpuasa, apa saja yang dapat merusak puasa, dan
lain-lain.
Demikianlah pentingnya pengetahuan tentang puasa.
3. Tidak berpuasa di pertengahan
Sya’ban kecuali yang biasa puasa.
Orang-orang yang memiliki hutang puasa dikarenakan
sakit, safar atau lainnya hendaknya segera ditunaikan.
Allah
ta’ala berfirman:
أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ
مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ.
“(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di
antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib
mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang
lain.” (QS. Al-Baqarah[2]:184).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ، فَلَا
تَصُومُوا.
“Kalau telah memasuki pertengahan Sya’ban, maka
janganlah kalian berpuasa.” (HR. Tirmidzi 738, Abu Dawud 2337, dishahihkan
Syaikh al-Albani di dalam Shahihu Al-Jami’ 397).
Hadits ini menunjukkan larangan berpuasa setelah
pertengahan Sya’ban, yaitu dimulai dari hari keenam belas. Akan tetapi
telah ada (dalil) yang menunjukkan dibolehkannya berpuasa dan inilah pendapat
yang kuat. Begitu pula dikecualikan jika seseorang ingin melaksanakan puasa
wajib, seperti puasa kafarah, nadzar atau qadha’ puasa Ramadhan, ini termasuk
juga dibolehkan dan tidak termasuk dalam larangan hadits di atas.
Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Teman-teman kami
(semazhab) mengatakan, tidak sah berpuasa pada hari syak (ragu-ragu) menjelang
Ramadhan tanpa ada perbedaan pendapat. Maka, kalau dia berpuasa untuk qadha,
nazar atau kaffarat (tebusan) maka puasanya sah. Sebab kalau dibolehkan
berpuasa sunnah karena suatu sebab, maka (puasa) wajib lebih utama. Karena
kalau dia mempunyai tanggungan qadha sehari saja dari Ramadhan, maka hal itu
merupakan suatu keharusan baginya, karena waktu qadhanya sudah sempit.” (Al-Majmu,
6/399).
Rasulullaah
sallallahu alaihi wa sallam bersabda:
لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ
يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا، فَلْيَصُمْهُ .
“Janganlah kalian mendahului bulan Ramadan dengan
berpuasa sehari atau dua hari, melainkan seseorang yang (terbiasa) berpuasa,
maka berpuasalah.” (HR. Bukhari 1914, Muslim 1082).
Hikmah larangan ini Allahu a’lam, supaya bisa
membedakan antara amalan wajib (puasa Ramadhan) dan amalan sunnah, juga
bersemangat melaksanakan awal puasa Ramadhan.
-----000-----
BAB 2
Menandai
Masuknya Bulan Ramadhan.
Bulan Ramadhan
merupakan bulan yang dipilih Allah ta’ala, memiliki banyak keutamaan yang
besar, menjadikan kegembiraan bagi kaum muslimin, namun sangat disayangkan,
sebagian kaum muslimin di jaman kita ini, tibanya bulan Ramadhan justru menjadi
ajang perselisihan dan perpecahan sehingga menjauhkan dari kegembiraan.
Padahal hukum masalah ini telah diamalkan semenjak
dahulu hingga sekarang, telah jelas dan terang benderang sebagaimana terangnya
siang hari.
Hal ini sebagaimana kita ketahui, diantaranya:
1. Al-Qur’an
dan Sunnah telah menetapkan permulaan puasa.
Inilah
pedoman utama seorang muslim.
Allah
ta’ala berfirman:
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ
فَلْيَصُمْهُ..
“Karena
itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan
itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al-Baqarah[2]:185).
Ibnu
Katsir rahimahullah berkata, ”Ini merupakan suatu keharusan bagi orang yang
menyaksikan hilal masuk bulan Ramadan, yakni dia dalam keadaan mukim di
negerinya ketika bulan Ramadan datang, sedangkan tubuhnya dalam keadaan sehat,
maka dia harus mengerjakan puasa.” (Tafsir Ibnu Katsir QS. [2]:185).
Di
dalam tafsir ini kita mengetahui bagaimana mereka tidak meninggalkan ru’yatul
hilal (melihat bulan).
Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا
لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ
ثَلاَثِينَ.
“Berpuasalah
kalian karena melihatnya, berbukalah kalian karena melihatnya dan sembelihlah
kurban karena melihatnya pula, apabila tidak nampak oleh kalian, sempurnakanlah
menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhari 1909, Muslim 1081).
Hadits
ini menjelaskan bahwa untuk mengetahui masuknya bulan Ramadhan dengan dua cara
yaitu:
Pertama melihat
hilal.
Kedua menggenapkan
bulan sya’ban menjadi tiga puluh hari bila bulan terhalangi.
Dengan
demikian puasa dapat dilakukan bersama-sama, sebagaimana disabdakan Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam :
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ
وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ.
“Puasa itu ditetapkan tatkala
mayoritas kalian berpuasa, idul fithri ditetapkan tatkala mayoritas kalian
beridul fithri, dan idul adha ditetapkan tatkala mayoritas kalian beridul
adha.” (HR. Tirmidzi 697 dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Ash-Shahihah
224).
Dalil
yang memperkuat hal ini adalah hadits Ibnu Umar. la berkata:
تَرَاءَى النَّاسُ الْهِلَالَ،
فَرَأَيْتُهُ، فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَصَامَ، وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ.
"Orang-orang
mengamati hilal, ternyata aku melihatnya, Maka aku sampaikan hal itu kepada
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, mendengar berita tersebut, beliau
mulai berpuasa (keeseokan harinya) dan memerintahkan semua orang untuk
mengikutinya berpuasa." ( HR. Ibnu Hibban 3447, Abu Dawud 2342,
dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Al-Irwa’ 908).
Orang
yang memulai ramadhan dengan hisab berdalil dengan firman Allah ta’ala:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ
ضِيَآءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ
وَالْحِسَابَ مَاخَلَقَ اللهُ ذَلِكَ إِلاَّ بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ اْلأَيَاتِ
لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ.
“Dia-lah
yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya
manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu
mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang
demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya)
kepada orang-orang yang mengetahui.” (QS.Yunus[10]: 5).
Jawaban
terhadap masalah ini sebagai berikut:
1) Allah ta’ala maha mengetahui segala
sesuatu.
Apa yang sedang terjadi, apa yang
belum terjadi, dan apa yang akan terjadi seandainya hal itu terjadi, termasuk
syari’at puasa ini Allah telah tentukan sebagaimana yang tertera di dalam
Al-Qur’an.
Allah
ta’ala berfirman:
وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا
تَعْلَمُونَ.
“Allah
mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah[2]:216).
2) Al-Qur’an ayat satu dengan lainnya
saling menguatkan dan selamanya tidak akan bertabrakan.
Allah
ta’ala berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ
وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا.
“Maka
apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan
dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di
dalamnya.”(QS. An-Nisa[4]:82).
Ibnu
Katsir berkata: “Al-Qur’an tidak ada pertentangan hal itu menunjukkan bahwa
Al-Qur’an datangnya dari sisi Allah ta’ala.”(Tafsir Ibnu Katsir, QS.
An-Nisa[4]:82).
3) Tidak ada pertentangan Al-Qur’an
dengan Hadits yang shahih.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam untusan Allah, tidak akan mungkin yang diutus
menyelisihi Allah yang telah mengutus.
Allah
ta’ala berfirman:
وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ
الْأَقَاوِيلِ . لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ . ثُمَّ
لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ.
“Seandainya
dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya
benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami
potong urat tali jantungnya.” (QS. Al-Haqah[69]:44-46).
4) Penjelasan wajibnya melihat hilal.
Seandainya
kita buka kitab-kitab para ulama, baik kitab fikih maupun tafsir, para
ulama telah menjelaskan bagaimana seharusnya kita di dalam menetapkan masuknya
bulan Ramadhan.
Seperti di dalam kitab Bulugul
Maram, yang tulis oleh al-Hafidh Ibnu Hajar al-‘Asqalani beserta
syarah-syarahnya diantaranya kitab Subulus Salam oleh Imam Ash-Shan’ani.
Mulakhas Fikhiyah oleh Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Shahhih Fikih
Sunnah oleh Abu Malik Kamal Ibnu As-Syayid Salim, bahkan beliau berkata,
“Mengetahui bulan(masuknya Ramadhan) dengan ru’yah (melihat) bukan dengan
hisab.”
Syaikh
‘Abdul Azhim bin Badawi Al Khalafi berkata di dalam kitab Al-Wajiz, “Wajibnya
puasa Ramadhan dengan melihat hilal.”
Islam
tidak menolak kemajuan jaman, adapun menentukan hisab dan pembuatan jadwal
shalat semua itu sebagai alat bantu, bukan yang pokok, kemudian meninggalkan Al
Qur’an dan Sunnah yang merupakan sumber kebenaran.
5) Hendaknya kita menjaga persatuan
kaum muslimin.
Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ.
“Hai orang-orang yang beriman,
taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. (QS.
An-Nisaa [4]: 59)
Ibnu
Katsir rahmahullah berkata:
فَهَذِهِ أَوَامِرٌ بِطَاعَةِ
الْعُلَمَاءِ وَالْأُمَرَاءِ.
“Ayat ini memerintahkan agar
mentaati ulama’ dan umara’ (pemimpin atau pemerintah).(Tafsir ibnu Katsir, QS. An
Nisa[4]:59).
Imam
Nawawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan ulil amri adalah
orang-orang yang Allah wajibkan untuk ditaati, dari kalangan para penguasa dan
pemimpin umat. Inilah pendapat mayoritas ulama terdahulu dan sekarang dari
kalangan ahli tafsir, fikih, dan yang lainnya.” (Syarh Shahih Muslim,
12/222).
Seperti
di dalam kitab, Aqidatu As-Salaf Ash-Habul Hadits, oleh Imam Ash-Shabuni,
beliau berkata, “Shalat jum’at, dua shalat id, dan yang lainnya dari shalat
shalat yang ada dilakukan di belakang setiap imam (pemimpin) kaum muslim yang
baik maupun yang buruk.” (Aqidatu As-Salaf Ash-Habul Hadits)
Syaikh
DR. Nashir ibnu ‘Abdul Karim Al-Aql di dalam kiabnya, Mujmal Usul Ahli Sunnah
Wal Jama’ah fil Aqidah. Beliau rahimahullah berkata:
الصَّلَاةُ وَالْحَجُّ وَالْجِهَادُ وَاجِبَةٌ مَعَ أَئِمَّةِ
الْمُسْلِمِينَ وَإِنْ جَارُوا
“Shalat
(jama’ah, Jum’at, Id), haji, dan Jihad wajib bersama dengan pemimpin kaum
muslimin meskipun mereka sewenang-wenang (dzalim).” ( Mujmal Usul Ahli Sunnah Wal Jama’ah fil Aqidah).
Imam Ibnu
Rajab Al-Hanbali rahmahullah berkata:
وَقَالَ الْحَسَنُ فِي الْأُمَرَاءِ
هُمْ يَلُونَ مِنْ أُمُورِنَا خَمْسًا: الجُمُعَةَ وَالْجَمَاعَةَ وَالْعِيدَ
وَالنُّغُورَ وَالْحُدُودَ، وَاللَّهِ مَا يَسْتَقِيمُ الدِّينُ إِلَّا كِيمْ،
وَإِنْ جَارُوا وَظَلَمُوا.
"(Imam) Al-Hasan Al-Bashri berkata tentang umara'
(para pemimpin kaum muslimin): Mereka mengurusi lima urusan kita: shalat
jum'at, shalat jama'ah, shalat 'ied, menjaga perbatasan, dan melaksanakan
hudud. Demi Allah, agama tidak akan tegak kecuali dengan mereka, walaupun
mereka menyimpang dan zhalim." (Jami'ul Ulum wal Hikam, 2/117).
Demikianlah
wahai saudara-saudaraku, perlu kita ingat bahwa islam ini telah sempurna
meskipun tanpa adanya kemajuan jaman ini, Semoga saudara-saudaraku bisa
memahami hal ini dan kembali ruju’ serta turut andil dalam menyatukan umat ini.
Aamiin.
-----000-----
BAB
3
Kewajiban
puasa.
Puasa
diwajibkan oleh Allah ta’ala, RasulNya dan ijma’ kaum muslimin.
Allah
ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون.
“Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah[2]:183).
Perhatikanlah
ayat ini secara seksama, dimana di dalamnya terdapat sebuah rahasia yang
tersembunyi yaitu Allah menyeru hanya kepada orang-orang yang beriman, sehingga
nyatalah orang-orang yang mengaku islam di KTPnya, iman di lisan saja, mereka
tidak dapat menyembunyikan hati mereka, sehingga terkuaklah benar tidaknya iman
seseorang dengan syariat puasa ini.
Dari
Abu ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa ia mendengar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بُنِيَ
اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ
مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ
الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ.
“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi
bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah dan bersaksi bahwa
Muhammad adalah hamba dan utusan Allah; menunaikan shalat; menunaikan zakat;
menunaikan haji ke Baitullah; dan berpuasa Ramadhan.” (HR. Bukhari 8,
Muslim 5).
مَنْ
صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan
atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu
akan diampuni.” (HR. Bukhari 38, Muslim 760).
Meninggalkan berpuasa merupakan dosa besar.
Abu Umamah menuturkan bahwa beliau mendengar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بَيْنَا
أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِي رَجُلَانِ فَأَخَذَا بِضَبْعِيَّ , فَأَتَيَا بِي
جَبَلًا وَعْرًا , فَقَالَا لِيَ: اصْعَدْ، فَقُلْتُ: إِنِّي لَا أُطِيقُهُ ,
فَقَالَا: إِنَّا سَنُسَهِّلُهُ لَكَ، فَصَعِدْتُ، حَتَّى إِذَا كُنْتُ فِي
سَوَاءِ الْجَبَلِ، إِذَا أَنَا بِأَصْوَاتٍ شَدِيدَةٍ , فَقُلْتُ: مَا هَذِهِ
الْأَصْوَاتُ؟ قَالُوا: هَذَا عُوَاءُ أَهْلِ النَّارِ، ثُمَّ انْطُلِقَ بِي،
فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ، مُشَقَّقَةٌ
أَشْدَاقُهُمْ، تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا , قَالَ: قُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ؟
قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ.
”Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang
laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal.
Keduanya berkata, ”Naiklah”. Lalu kukatakan, ”Sesungguhnya aku tidak mampu.”
Kemudian keduanya berkata,”Kami akan memudahkanmu”. Maka aku pun menaikinya
sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang sangat
keras. Lalu aku bertanya, ”Suara apa itu?” Mereka menjawab, ”Itu adalah
suara jeritan para penghuni neraka.” Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku
sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit
mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah. Kemudian
aku (Abu Umamah) bertanya, ”Siapakah mereka itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ”Mereka adalah
orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktunya.” (HR.
Baihaqi sunan Al-Kubra 8006, Tabrani dalam Al-Mu’jamul Al-Kabir 7667,
dishahihkan al-Albani di dalam At-Ta’liqu Ar-Ragib 2/72).
Imam
Ad-Dzahabi berkata, “Para ulama sepakat menghukumi pelaku orang yang tidak
puasa lebih buruk dari pezina dan peminum khamer, karena mereka menyerupai
orang-orang zindiq atau munafiq.” (Imam Adzahabi di dalam al-Kabaair).
-----000-----
BAB
4
Keutamaan
orang yang berpuasa.
Puasa memiliki keutamaan yang
besar, diantaranya:
1. Salah
satu pendidikan besar untuk meraih ketakwaan.
Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون.
“Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah[2]:183).
2. Dilipat
gandakan pahala orang yang berpuasa.
Rasulullah
sallallahu ‘alai wa sallam bersabda:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ،
الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ، قَالَ اللهُ عَزَّ
وَجَلَّ: إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ
شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي, لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ:
فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ.
“Setiap
amal anak adam akan dilipatkan baginya sepuluh kebaikan sampai tuju ratus kali
lipat “Telah berkata Allah ‘Aza wajalla, kecuali puasa, karena itu
untukku, dan aku yang akan membalasnya,Dia meninggalkan syahwat, makannya
karena Aku, orang berpuasa memiliki dua kesenangan, senang di saat berbuka dan
senang di saat berjumpa Rabnya. ” (HR. Muslim 1151, Ibnu Majah 3823,
Ibnu Khuzdaimah 1897).
Syaikh
Sahalih Al-Fauzan berkata, “Ketaatan yang dilakukan pada waktu atau tempat
yang memiliki keutamaan menyebabkan amalan tersebut
berlipat-lipat.” (Fatwa Syaikh Shalih Al-Fauzan dari kitab Al Muntaqa
Min Fatawa Asy Syaikh al Fauzan).
3. Disediakan pintu surga.
Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ فِي الجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ
لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ القِيَامَةِ، لاَ
يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائِمُونَ؟ فَيَقُومُونَ
لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ
يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ.
“Sesungguhnya
di surga itu ada pintu yang disebut ar-Rayyan, orang-orang yang berpuasa akan
masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak
akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang
berpuasa?” kemudian mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya.
Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan
setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya.“ (HR. Bukhari 1896, Muslim 1152).
4. Diampuni
dosa-dosanya.
Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا
وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
“Barang
siapa berpuasa pada bulan Ramadhan dengan didasari iman dan mengharapkan pahala
dari Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari 38,
Muslim 760).
5. Dijauhkan
wajahnya dari api neraka.
Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ
اللَّهِ، بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا.
"Barang siapa yang berpuasa
sehari dengan niat fisabilillah -yakni semata-mata menuju kepada ketaatan
kepada Allah-, melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya -yakni dirinya- karena
puasanya tadi, sejauh perjalanan tujuh puluh tahun dari neraka." (HR.
Bukhari 2840, Muslim 1153).
Dan masih banyak keutamaan yang lain.
-----000-----
BAB
5
Hikmah
disyari’atkannya puasa.
Puasa
memiliki hikmah yang sangat besar, apa bila seseorang melakukan sesuai dengan
syari’at dan adab-adabnya akan menjadikan seseorang bertaqwa sebagaimana tujuan
puasa itu sendiri.
Diantara
hikmahnya:
1. Memisahkan antara keimanan dan kemunafikan.
Menanamkan
kesungguhan di dalam sebuah keyakinan, sehingga orang yang ragu terhadap islam
baik itu kalangan munafiq ataupun pelaku dosa besar akan tersisihkan dalam
masalah puasa, oleh karena itu ayat puasa menyeru hanya bagi orang yang
beriman, sebagaimana telah kita singgung di atas.
2. Mendidik rasa kemanusiaan.
Yang
namanya kabar selamanya tidak sama dengan kenyataan, apabila seseorang
mendapatkan kabar adanya orang yang kelaparan, sesaat seseorang akan merasa
kasihan, namun setelah dirinya sendiri merasakan lapar dan dahaga, tahulah
mereka bagaimana rasanya orang kekurangan dan kelaparan, sehingga dengan itu
mereka saling mengasihani dan menyayangi satu sama lain, inilah diantara yang
dikehendaki syari’at.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ارْحَمُوا
مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ.
“Sayangilah
penduduk bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR. Tirmidzi 1924, Abu Dawud 4941, dinyatakan
shahih oleh syaikh al-Albani di dalam shahihu al-Jami’ 3522).
3. Mendidik
kesabaran.
Mendidik sifat sabar di dalam menahan emosi dan
mengendalikan hawa nafsu.
Allah
ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ.
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan
salat sebagai penolong kalian, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang
sabar.” (QS. Al-Baqarah[2]:153).
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ
وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ.
“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu.” (QS.
Al-Baqarah[2]:45).
Pengertian sabar menurut suatu pendapat yang dimaksud
adalah puasa, sebagaimana yang dikatakan oleh Mujahid. Al-Qurtubi dan
lain-lainnya mengatakan, “Karena itulah maka bulan Ramadan dinamakan
"bulan sabar." (tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Baqarah[2]:45-46).
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ
وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ.
“Dan
orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali-Imran[3]:134).
Rasulullah sallallhu a’lai wa sallam bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ.
“Puasa adalah tameng janganlah berkata kotor dan
jangan berbuat bodoh, jika seseorang mengajak berkelahi atau mencelamu maka
katakanlah aku sedang puasa dua kali.” (HR. Bukhari 1894).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ،
إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.
“Bukanlah orang kuat (yang
sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan
(perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu
mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR Bukhari 5763, Muslim 2609).
مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ
عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ.
“Barangsiapa menahan amarahnya padahal dia mampu untuk melampiaskannya maka
Allah Azza wa Jalla akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari Kiamat di
hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allâh membiarkannya memilih
bidadari.” (HR Abu Daud 4777 Tirmidzi 2493 di hasankan syaikh al-Albani).
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ
الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ.
“Orang yang kuat bukanlah yang
pandai bergulat, sungguh orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya
ketika marah.” (Bukhari 6114, Muslim 2609).
4. Melatih
kejujuran.
Puasa
melatih kejujuran, dimana Rasulullah sallallahu ‘alaihhi wa sallam bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ.
“Barangsiapa
yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka
Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari
1903).
5. Meninggalkan
perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat.
Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ
وَالشُّرْبِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ.
“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja.
Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu (tidak
bermanfaat) dan rofats. (perkataan yang tidak senonoh).” (HR. Ibnu Majah
dan Hakim. Syaikh al Albani berkata shahih di dalam Shahih at-Targib wa
at-Tarhib 1082).
رُبَّ
صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ
مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ.
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak
mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR.
Ibnu Majah, Nasa’i 3236, di shahihkan Syaikh al Albani dalam Shahih at-Targib
wa-at Tarhib 1083).
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت.
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir
maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”(HR.
Bukhari 6018, Muslim 47).
وَيُنَادِي
مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ.
“Seorang penyeru menyeru, ‘Wahai
yang mengharapkan kebaikan, bersegeralah (kepada ketaatan). Wahai para pelaku
maksiat, berhentilah.” (HR. Tirmidzi 682, Nasai 2108 dishahihkan
Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami’ 5832).
6. Memanamkan sifat dermawan.
Puasa akan menumbuhkan kedermawanan, Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam sangat dermawan, Beliau semakin dermawan bila di
bulan Ramadhan.
Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma
berkata:
كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ
أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ .
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah
orang yang paling dermawan.” (HR. Ahmad 2616, Al Bukhari 3220).
7. Mendidik
ketenangan dalam jiwa.
Orang yang berpuasa jiwanya akan
lebih tenang, setiap langkah dan ucapanya selalu ditimbang dengan ilmu, hal ini
dikarenakan tidak ingin puasanya rusak, sehingga tidak gegabah dan tidak
terburu-buru , karena sifat asal manusia suka terburu-buru.
Allah ta’ala berfirman:
خُلِقَ
الْإِنْسَانُ مِنْ عَجَلٍ.
“Manusia telah dijadikan (bertabiat)
tergesa-gesa..”(QS. Al-Anbiya’[21]: 37).
وَكَانَ
الْإِنْسَانُ عَجُولًا.
“Dan manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS.
Al-Isra’[17]: 11).
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
التَّأَنِّي مِن الله والعَجَلَةُ
مِنَ الشَّيْطانِ .
“Sikap
Hati-hati itu dari Allah, sedangkan sikap tergesa-gesa itu dari syaithan.” (HR.
Thabrani 2358, Baihaqi 4058, di Shahihkan syaikh al-Albani di dalam Shahihu
Al-Jami’ 3011).
8. Menyehatkan badan.
Lambung dan usus manusia akan terus menerus bekerja,
dengan adanya puasa akan mengistirahatkan dan juga membersihkan (detoksifikasi)
bagi tubuh dari perbagai kolestrol jahat, hal ini diakui oleh para kalangan
ahli kedokteran.
Allah
ta’ala berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا
تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ.
“Makan
dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (QS. Al-A’raf [7]: 31).
Ibnu
Katsir rahimahullah menjelaskan tafsir ayat ini:
قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: جَمَعَ
اللَّهُ الطِّبَّ كُلَّهُ فِي نِصْفِ آيَةٍ: وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا.
“Sebagian
salaf berkata bahwa Allah telah mengumpulkan semua ilmu kedokteran pada
setengah ayat ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-A’raf [7]:31).
Dari Al-Miqdam bin Ma'dikarib
raḍiyallahu 'anhu secara marfu' dia berkata, aku mendengan Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا
مِنْ بَطْنٍ. بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا
مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ.
"Tidaklah manusia memenuhi
wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap
yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika memang harus melebihi itu, maka
sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk
nafasnya." (HR Tirmidzi 2380 Ibnu Majah 3349, dishahihkan Syaikh al Abani
di dalam Ash Shahihah 2265).
Imam
Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan bahaya kekenyangan karena penuhnya perut
dengan makanan, beliau berkata:
مَا شَبِعْتُ مُنْذُ سِتَّ عَشْرَةَ
سَنَةً إِلَّا شَبْعَةٌ أَطْرَحُهَا. قَالَ أَبُو مُحَمَّدٍ: يَعْنِي
فَطَرَحْتُهَا لِأَنَّ الشِّبَعَ يُثْقِلُ الْبَدَنَ وَيُقَسِّي الْقَلْبَ
وَيُزِيلُ الْفِطْنَةَ وَيَجْلِبُ النَّوْمَ، وَيُضْعِفُ صَاحِبَهُ عَنِ
الْعِبَادَةَ.
“
Aku tidak pernah kekenyangan semenjak 16 tahun kecuali sekali, aku segera
mengosongkannya, Beliau juga berkata: Kekenyangan membuat badan menjadi berat,
hati menjadi keras, mengurangi kecerdasan, mudah mengantuk dan lemah untuk
beribadah.” (Hilyah Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’, Oleh Abu Nu’aim bin
‘Abdillah).
9. Membersihkan dosa-dosa.
Allah ta’ala berfirman:
إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ
عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا.
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara
dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus
kesalahan-kesalahanmu dan akan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia
(surga).” (QS. An-Nisa[4]:31).
Para ulama menyebutkan bahwa diampuninya dosa-dosa
yang kecil setelah diiringi dengan bertaubat dari dosa-dosa yang besar,
demikian pula puasa-puasa yang menyebutkan keutamaan dihapusnya dosa setahun
maupun dua tahun, tetap diiringi dengan bertaubat dari dosa besar tersebut,
diantaranya apa yang disebutkan oleh syaikhul islam Ibnu Taimiyah. (Fatawa Misriyah, 1/254).
Oleh karena itu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِر.
“Antara shalat lima waktu, antara shalat jumat satu ke
shalat jumat berikutnya, dan antara puasa ramadhan ke puasa ramadhan berikutnya
adalah penghapus untuk dosa di antara keduanya, apabila dia menjauhi dosa-dosa
besar.” (HR. Muslim 857).
10. Mensucikan jiwa dan raganya.
Inilah yang menjadi tujuan syari’at puasa, agar
menjadi orang yang suci lahir dan batin, karena orang yang benar-benar menjaga
puasanya akan menjadi orang yang bertakwa, suci lahir dan batinnya.
Allah ta’ala berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا.
“Sesungguhnya
beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan Sesungguhnya merugilah orang
yang mengotorinya.” (QS. Asy Syams[91]: 9-10).
Semua
ini merupakan bekal kelak di akhirat nanti.
-----000-----
BAB
7
Rahasia
perintah puasa.
Puasa
memiliki kandungan rahasia yang sangat mendalam, hal ini hanya akan diketahui
bagi orang-orang yang merenunginya, diantara rahasia yang terkandung di
dalamnya yaitu:
1. Pembentukan akhlaq yang baik pada seseorang.
Membiasakan
hal-hal yang baik ketika berpuasa lama-lama akan menjadikan takbiat ataupun
budi pekerti yang baik bagi seseorang, hal ini akan mendatangkan kecintaan bagi
Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ
اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ.
“Sungguh,
Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. An-Nahl[16]:128).
2. Upaya
menyempurnakan iman.
Salah satu barometer kesempurnaan iman seseorang dapat
dilihat dari akhlaknya sedangkan puasa salah satu cara untuk membentuk akhlak
yang baik.
Rasulullah sallallahu ‘alaaihi wa sallam bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا.
“Orang
mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya, dan yang
paling baik di antara kamu sekalian adalah yang paling baik akhlaqnya terhadap
isteri-isterinya.” (HR. Ahmad 7402, Tirmidzi 1162, Abu Dawud 4682 dihasan oleh
syaikh al-Albani di dalam Ash-Shahihah 284).
3. Memperberat
timbangan kelak pada hari kiamat.
Keberhasilan
seseorang dalam mendidik dirinya memiliki akhlak yang baik pada saat puasa akan
menjadikan pemberat timbangan nanti pada hari kiamat.
Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ.
"Tidak ada sesuatupun yang
lebih berat dalam timbangan (amalan) seorang mukmin pada hari kiamat daripada
akhlaq yang mulia." (HR. Tirmidzi 2002, dihasankan oleh Syaikh al-Albani
di dalam Ash-Shahihah 876).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya
tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke surga, maka beliau
bersabda:
سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ
النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ. وَسُئِلَ
عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ.
“Taqwa
kepada Allah dan bagusnya akhlak.” Dan beliau ditanya tentang apa yang paling
banyak memasukkan manusia ke neraka, maka beliau bersabda: “mulut dan farji
(kemaluan).” (HR Tirmidzi 2004, Abu Dawud 2596, Ibnu Majah 4246. Dihasankan
syaikh al-Albani, Lihat As-Shahihah 977).
4. Memperbaiki hubungan dengan sesama makhluk.
Allah ta’ala berfirman:
وَقُولُوا
لِلنَّاسِ حُسْنًا.
“Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia,” (QS.
Al-Baqarah[2]: 83).
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ،
وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ
حَسَنٍ.
“Bertaqwalah
kepada Allah di mana saja engkau berada dan iringilah sesuatu
perbuatan dosa (kesalahan) dengan kebaikan, pasti akan
menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik.”
(HR. Ahmad 21354, Tirmidzi 1987, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam
Al-Misykah 5083).
Al-Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa akhlaq yang baik
terhadap mahluk berputar pada tiga perkara, yaitu:
كَفُّ
اْلأَذَى ، وَبَذْلُ النَّدَى، وَطَلاَقَةُ الْوَجْهِ.
Menahan
dari gangguan (Kafful Adzzaa), Suka membantu, berbuat baik (Badzlun Nada),
Wajah yang berseri-seri (Thalaqatul Wajh). Syarah Riyadhush
Shalihin Syaikh Muhammad bin Shalih
al-Utsaimin, II/387).
5. Memperbaiki
hubungan antara hamba dengan Allah.
Apabila seseorang mendapatkan
predikat taqwa akan menjadikan Allah cinta kepadanya.
Allah ta’ala berfirman:
بَلَى مَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ
وَاتَّقَى فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ.
“Bahkan barang siapa memenuhi
janjinya dan bertakwa sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.”
(QS. – Al- Imran[3]:76).
-----000-----
BAB
8
Hukum-hukum
yang berkaitan puasa Ramadhan.
1. Orang-orang yang wajib berpuasa.
Orang-orang
yang wajib puasa yaitu:
1) Muslim.
2) Baligh.
3) Berakal.
4) Sehat.
5) Mukim.
6) Bagi wanita hendaknya bersih dari haid dan nifas.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ
عَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَفِيْقَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ،
وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ.
“Cacatan
amal diangkat dari tiga golongan: dari orang gila sampai ia sadar, dari
orang tidur hingga ia bangun, dan dari anak kecil hingga ia baligh.” (HR. Abu
Dawud 4401, Ibnu Hibban 143, dishahihkan syaikh al-Albani di dalam al-Irwaa’
5/2).
Adapun
orang kafir amalan mereka tidak diterima.
Allah
ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ
كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ
يَجِدْهُ شَيْئًا.
“Dan orang-orang kafir amal-amal
mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh
orang-orang yang dahaga, tetapi bila di datanginya air itu dia tidak
mendapatinya sesuatu apapun.” (QS. An-Nur [24]: 39)
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ
عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا.
“Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka
kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”
(QS. Al Furqan [25]: 23).
Meskipun anak kecil belum diwajibkan puasa namun apa
bila ikut berpuasa ia akan mendapatkan pahala, begitupula orang tuanya.
Dari
Ibnu Abbas radhiallahuma, dia berkata:
رَفَعَتْ امْرَأَةٌ صَبِيًّا لَهَا
فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ , أَلِهَذَا حَجٌّ ؟ قَالَ : نَعَمْ وَلَكِ
أَجْرٌ.
"Seorang
wanita mengangkat seorang bocah, lalu berkata, 'Wahai Rasulullah, apakah anak
ini dapat berhaji?' Beliau berkata, "Ya, dan bagimu pahala." ( HR.
Muslim 1336).
2. Hendaknya
berniat di malam hari.
Puasa
yang diwajibkan hendaknya berniat di malam hari.
Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ
قَبْلَ الفَجْرِ، فَلَا صِيَامَ لَهُ .
“Barangsiapa yang belum berniat puasa sebelum fajar,
maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Tirmidzi 730, Abu Dawud 2454 di shahihkan
Syaikh al-Albani di dalam Shahih Abu Dawud 2118).
Adapun
tempat niat di dalam hati.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا
الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.
“Amal
itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.” (HR
Bukhari 1, 6689, Muslim 1907).
Imam An-Nawawi rahmahullah mengatakan:
وَمَحَلُّ
النِّيَّةِ الْقَلْبُ وَلَا يُشْتَرَطُ نُطْقُ اللِّسَانِ بِلَا خِلَافٍ.
“Tempat niat di dalam hati, tidak disyaratkan untuk
diucapkan dengan lisan tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.” (Al-Majmu’
Syarhul Muhadzab 6/289).
Beliau juga mengatakan:
لَا يَصِحُّ الصَّوْمُ إِلَّا بِالنِّيَّةِ،
وَمَحَلُّهَا الْقَلْبُ. وَلَا يُشْتَرَطُ النُّطْقُ بِلَا خِلَافٍ.
“Tidak sah puasa kecuali dengan niat, dan tempatnya
adalah hati. Dan tidak disyaratkan harus diucapkan, tanpa ada perselisihan
ulama…” (Raudhatu at-Thalibin wa ‘Amdatul muftiin, 2/350).
Hal
ini bisa kita tanyakan dalam hati kita, apabila seseorang lupa kemudian makan
dan minum hal itu tidak membatalkan puasanya, sebaliknya meskipun lisannya
berkali-kali mengatakan lupa namun hatinya menyengaja, tetap juga membatalkan
puasa, demikianlah tempat niat itu di dalam hati bukan di lisan.
3. Hukum puasa bagi orang sakit.
Allah
ta’ala berfirman:
أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ
مِنْكُمْ مَرِيضًا.
“Beberapa
hari yang telah ditentukan, barang siapa diantara kalian yang sakit...” (QS.
Al-Baqarah[2]:184).
Beberapa keadaaan orang yang sakit:
1) Orang yang sakit ringan.
Seperti
batuk, pilek, sakit gigi, sakit kepala ringan, luka ringan, hendaknya tetap
berpuasa.
2) Sakit
yang akan bertambah parah jika berpuasa.
Bila
seseorang sakit dan semakin parah atau akan lambat kesembuhannya jika berpuasa,
atau penyakit tersebut membuat penderitanya berat berpuasa. Hanya saja, tidak
sampai pada tingkat membahayakan. Dalam kondisi seperti ini boleh berbuka,
namun jika berpuasa, puasanya tetap sah.
3) Sakit
yang membahayakan dan tidak memungkinkan sembuh.
Jika seseeorang berpuasa, dengan puasanya itu
membahayakan keselamatannya, hingga dapat mengantarkan kepada kematian, apa
lagi dikuatkan larangan tersebut dari dokter, dalam kondisi seperti ini, tidak
boleh berpuasa bahkan bisa haram.
berdasarkan
firman Allah ta'ala :
وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ
اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا.
"Dan
janganlah kamu membunuh dirimu sendiri sesungguhnya Allah maha penyayang
terhadap kalian." (QS. An-Nisa[4]: 29).
Hal
ini karena bisa membahayakan nyawa seseorang. (Lihat Fikih li Nisa’ Syaikh Abu
Malik Kamal bin As-Syayid Salim).
“Orang
yang seperti ini hendaknya membayar fidyah. Seandainya ada kesembuhan maka
tidak ada kewajiban lagi mengganti. Hal ini yang difatwakan oleh para ulama.”
(Syaikh Muhammad al-’Utsaimin dalam asy-Syarhul Mumti’ 6/333-334, 347-349),
al-Wadi’i, Syaikh al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil 4/22), dan Al-Lajnah
ad-Da’imah dalam Fatawa al-Lajnah 10/160-161).
4. Orang yang bepergian
Apa
bila seseorang berpuasa sedang dalam perjalanan, hendaknya memperhatikan
puasanya.
Allah
ta’ala berfirman:
أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ
مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَر.
“(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di
antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib
mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang
lain.” (QS. Al-Baqarah[2]:184).
Namun
jika ia tetap berpuasa selama dalam perjalanan, maka puasanya sah. Inilah
pendapat mayoritas ulama dari generasi shahabat, tabi'in, empat imam madzhab
dan selain mereka.
Manakah
yang lebih utama dalam perjalanan, berpuasa atau berbuka?
Orang
yang safar (bepergian) ada beberapa keadaan:
1) Jika safarnya berat badanya lemah, tertinggal dari
berbagai macam kebaikan hendaknya lebih baik berbuka.
2) Jika safarnya ringan tidak memberatkan lebih baik
tetap berpuasa.
Dari
Abu Sa’id Al Khudri radiyallahu ‘anhu dia berkata:
كُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُولِ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ، فَمِنَّا الصَّائِمُ وَمِنَّا
الْمُفْطِرُ، فَلَا يَجِدُ الصَّائِمُ عَلَى الْمُفْطِرِ، وَلَا الْمُفْطِرُ عَلَى
الصَّائِمِ، يَرَوْنَ أَنَّ مَنْ وَجَدَ قُوَّةً فَصَامَ، فَإِنَّ ذَلِكَ حَسَنٌ
وَيَرَوْنَ أَنَّ مَنْ وَجَدَ ضَعْفًا، فَأَفْطَرَ فَإِنَّ ذَلِكَ حَسَنٌ.
“Kami pernah bepergian bersama
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada bulan Ramadhan, ada diantara
kami yang puasa dan ada pula yang berbuka, yang berpuasa tidak mencela yang
berbuka dan yang berbuka tidak tidak mencela yang berpuasa.” (HR Muslim 1116,
Shahih Ibnu Hibban 3558).
3) Jika safarnya
berat dan membahayakan jiwanya, hendaknya diutamakan berbuka.
Sebagaimana
tercantum dalam hadits Jabir yang menyatakan bahwa ketika sedang menempuh
perjalanan untuk menaklukkan kota Makkah, Rasulullah terus berjalan hingga
sampai daerah Kara' al-Ghumaim. Begitu pula rombongannya. Kemudian beliau
meminta dibawakan sewadah air minum, lalu mengangkatnya hingga terlihat oleh
semua orang dan mulai meminumnya setelah itu, ada yang melaporkan kepada beliau
bahwa beberapa orang tetap berpuasa. Beliau berkata, "Mereka adalah orang
yang durhaka (menyalahiku). Mereka adalah orang yang durhaka." (HR.
Bukhari 1948, Muslim 1114).
Dalam riwayat yang lain Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تَصُومُوا فِي
السَّفَرِ.
“Bukanlah sebuah kebaikan berpuasa ketika bersafar.”
(HR. Muslim 1115, Abu Dawud 2407).
5. Keringanan bagi orang tua, orang hamil dan menyusui.
Orang tua laki-laki maupun perempuan yang tidak
kuat berpuasa dibolehkan meninggalkan puasa selama bulan Ramadhan dan tidak
perlu mengqadhanya. Namun, ia harus memberi makan satu orang miskin setiap hari
sejumlah (puasa) yang ditinggalkannya.
Allah ta’ala berfirman:
وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ
فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ.
“Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib
membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah[2]:184).
Dari
Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma berkaitan dengan ayat di atas:
وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ
فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ…قَالَ كَانَتْ رُخْصَةً لِلشَّيْخِ
الْكَبِيرِ وَالْمَرْأَةِ الْكَبِيرَةِ وَهُمَا يُطِيقَانِ الصِّيَامَ أَنْ
يُفْطِرَا وَيُطْعِمَا مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَالْحُبْلَى
وَالْمُرْضِعُ إِذَا خَافَتَا أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا. وَعَلَى
الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهُ فِدْيَة طَعَامُ مِسْكِيْن
“Dan
wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa)
membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (Al-Baqarah[2]: 184).
Beliau
berkata, “Ayat ini memberikan keringanan kepada orang tua renta, baik laki
maupun perempuan, apabila merasa berat berpuasa dia boleh berbuka dan memberi
makan satu orang miskin setiap hari sebanyak yang ditinggalkan. Wanita
mengandung dan menyusui kalau keduanya khawatir juga boleh berbuka dan (sebagai
gantinya) memberi makan (orang miskin setiap hari sejumlah hari yang
ditinggalkan).” (HR. Abu Dawud 2318, Al-Muntaqa Ibnul Jarud 381, Baihaqi 1351,
lihat Irwa’ syaikh al-Albani, 4/18).
6. Begitu
pula bagi orang yang hamil dan menyusui.
Adapun orang yang hamil dan
menyusui tidak wajib berpuasa dan cukub membayar fidyah, sebagaimana
diterangkan dalil di atas.
Kesimpulannya, sebab-sebab yang
membolehkan tidak puasa ada empat, safar, sakit, haid dan nifas, kuatir celaka,
seperti orang hamil dan menyusui. (Fikih Muyassar).
-----000-----
BAB
9
Pembatal
puasa.
1) Makan.
2) Minum.
Allah ta’ala berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى
يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ
الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ.
“Dan makan minumlah hingga jelas bagi kalian benang
putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai
malam.”(QS. Al-Baqarah[2]:187).
Kecuali
keduanya dilakukan dalam keadaan lupa.
Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ,
فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ, فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ, فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اَللَّهُ
وَسَقَاهُ.
“Barangsiapa
yang lupa sedang ia dalam keadaan puasa lalu ia makan atau minum, maka
hendaklah ia sempurnakan puasanya karena Allah yang memberi ia makan dan
minum.” (HR. Bukhari 1933, Muslim 1155).
3) Muntah dengan sengaja.
Apabila seseorang tidak sengaja muntah hal itu
tidaklah membatalkan puasanya.
مَنْ ذَرَعَهُ قَىْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ
فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ.
“Barangsiapa tidak sengaja muntah sedangkan dia dalam
keadaan puasa, maka tidak ada qadha’ baginya. Namun apabila dia muntah (dengan
sengaja), maka wajib baginya membayar qadha’.” (HR. Abu Daud 2380 Ibnu
Majah1676; Tirmidzi 720. Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
4) Haid.
Rasulullullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ
وَلَمْ تَصُمْ.
“Bukankah jika wanita itu haid ia
tidak shalat dan tidak puasa?” (HR. Bukhari 304 dan Muslim79).
5) Nifas.
6) Merokok.
7) Menghirup
kokain, heroin, sabu, narkoba maupun sejenisnya.
8) Infuse
pengganti makanan.
9) Keluar mani
dengan sengaja.
10) Jima’, dengan membayar kafarah.
Dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia
berkata:
بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا
رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ قَالَ مَا لَكَ قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي وَأَنَا
صَائِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ تَجِدُ
رَقَبَةً تُعْتِقُهَا قَالَ لا قَالَ فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ
مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لا فَقَالَ فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا
قَالَ لا قَالَ فَمَكَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَيْنَا
نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ وَالْعَرَقُ الْمِكْتَلُ قَالَ أَيْنَ السَّائِلُ فَقَالَ
أَنَا قَالَ خُذْهَا فَتَصَدَّقْ بِهِ فَقَالَ الرَّجُلُ أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّي
يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لابَتَيْهَا يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ
أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ .
"Ketika kami sedang duduk
bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seseorang,
lalu dia berkata, 'Wahai Rasulullah, celakalah saya.' Beliau berkata, 'Ada apa
denganmu?' dia berkata, 'Aku telah menggauli isteriku dalam keadaan puasa.'
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 'Apakah engkau memiliki budak
yang engkau merdekakan?' Dia berkata, 'Tidak.' Lalu beliau berkata, 'Apakah
engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut.' Dia berkata, 'Tidak.' Lalu
beliau berkata, 'Apakah engkau dapat memberi makan 60 orang miskin?' Dia
berkata, 'Tidak.' Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam dia bebera saat.
Ketika kami adalam keadaan demikian, ada yang membawakan kepada Nabi
shallallahu alaihi wa sallam sekerangjan korma. Lalu dia berkata, 'Mana yang
bertanya tadi?' Dia berkata, 'Saya.' Beliau berkata, 'Ambillah ini dan
bersedekahlah dengannya.' Orang itu berkata, 'Kepada orang yang lebih fakir
dariku ya Rasulullah, demi Allah, tidak ada keluarga di antara dua gunung ini,
maksudnya dua perkampungan, yang lebih miskin dari keluarga saya.' Nabi
shallallahu alaihi wa salalm tertawa hingga tampak gigi gerahamnya. Kemudian
beliau berkata, 'Berilah makan keluargamu." (HR. Bukhari 1936 dan Muslim
1111).
11) Masuknya sesuatu yang menetap di lambung dengan
sengaja.
12) Hilang ingatan, baik pingsan, disebabkan bius
(seharian), atau tiba-tiba gila.
13) Cuci darah.
14) Murtad.
15) Sebagian ulama menyebutkan, niat berbuka. (Fikih
Muyassar).
-----000-----
BAB 10
Hal-hal yang dibolehkan orang berpuasa
1. berhubungan badan dimalam hari.
Seperti bolehnya berhubungan di malam Ramadhan.
Allah ta’ala berfirman:
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ
الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ
عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ.
“Dihalalkan bagi kalian pada malam hari puasa
bercampur dengan istri-istri kalian; mereka itu adalah pakaian bagi kalian, dan
kalian pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kalian tidak
dapat menahan nafsu kalian.” (QS. Al-Baqarah[2]:187).
2. Junub
di waktu subuh.
Dari
(umul mukminin) Aisyah dan Ummu Salamah radhiallahu ‘anhuma, mereka
menceritakan:
يُدْرِكُهُ الفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ
مِنْ أَهْلِهِ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ، وَيَصُومُ.
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki
waktu subuh, sementara beliau sedang junub karena berhubungan dengan istrinya.
Kemudian beliau mandi dan berpuasa.” (HR. Bukhari 1926 dan Turmudzi 779).
3. Bercumbu dengan pasangannya selain bersenggama.
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan:
كان
رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ، وَيُبَاشِرُ
وَهُوَ صَائِمٌ، وَلَكِنَّهُ أَمْلَكُكُمْ لِإِرْبِهِ.
“Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium dan bercumbu dengan istrinya
ketika puasa, namun beliau adalah orang yang paling kuat menahan nafsunya.”
(HR. Muslim 1106, Ahmad 24154).
4. Boleh
mandi atau sekedar menyiram kepala agar dingin.
Dari Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu
beliau berkata:
لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى
الله عليه وسلم بِالْعَرْجِ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ الْمَاءَ وَهُوَ صَائِمٌ مِنَ
الْعَطَشِ أَوْ مِنَ الْحَرِّ.
“Sungguh,
aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Al ‘Aroj mengguyur
kepalanya -karena keadaan yang sangat haus atau sangat terik- dengan air
sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa. ” (HR. Abu Daud 2366, Baihaqi 8261,
dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam al-Misykah 2011).
5. Berkumur.
6. Tetes mata, gosok gigi, suntik insulin dan lainnya.
7. Donor darah atau hijamah, selagi tidak menjadikan
lemah.
Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ أَ .
"Batallah
puasa orang yang membekam dan dibekam." (HR. Abu Dawud 2369, Ahmad 15828,
Ibnu Majah 1679, Tirmidzi 774, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahih Abu
Dawud 2074).
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْتَجَمَ وَهُوَ
مُحْرِمٌ، وَاحْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ.
Dari
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
berbekam dalam keadaan berihram dan berpuasa.” (HR. Bukhari 1938).
سُئِلَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ: أَكُنْتُمْ تَكْرَهُونَ الحِجَامَةَ لِلصَّائِمِ؟ قَالَ: لاَ،
إِلَّا مِنْ أَجْلِ الضَّعْفِ.
Anas
bin Malik radhiyallahu ‘anhu ditanya, “Apakah kalian tidak menyukai berbekam
bagi orang yang berpuasa?” Beliau berkata, “Tidak, kecuali jika bisa
menyebabkan lemah.”(HR. Bukhari 1940).
Menurut
jumhur ulama berbekam tidaklah membatalkan puasa.
8. Mencicipi masakan.
9. Makan dan minum tanpa sengaja.
10. Muntah tidak sengaja.
11. Endoskpi, memasukkan
alat endoskopi tidak membatalkan puasa, karena endoskopi tidak membuat benda
asing menetap di dalam tubuh.
Demikianlah
uraian ringkas ini, bagi yang menghendaki lebih luas bisa membuka kitab-kitab
fikih, semoga Allah memudahkan kita untuk melaksanakan kebaikan. Aamiin.
-----000-----
AMALAN
YANG DIANJURAN DI BULAN RAMADHAN.
Bab
11
Shalat
Qiyamul lail dan qiyamur Ramadhan (tarwih).
Asalnya
shalat tarwih adalah qiyamul lail yang dilakukan Rasullah selama tiga malam
berturut-turut, namun beliau kuatir jika hal itu akan di wajibkan bagi umatnya
sehingga beliaupun berhenti.
Ketika
masa kekhalifahan Umar bin khatab kekuatiran itu telah hilang karena wahyu
telah terputus, maka khalifah Umar bin Khatab melakukannya.
Allah
ta’ala berfirman:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى
أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا.
“Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud
(sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke
tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’ [17]:79).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا
غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
“Barangsiapa
melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarwih) karena iman dan mencari pahala, maka
dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR.
Bukhari 37, Muslim 759).
Shalat sunnah malam hari dan siang hari asalnya satu
kali salam setiap dua rakaat. Berdasarkan keterangan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa seseorang bertanya, “Wahai
Rasulullah, bagaimanakah shalat malam itu?” Beliau menjawab:
مَثْنىَ
مَثْنىَ فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ
“Dua
rakaat-dua rakaat, apabila kamu khawatir mendapati subuh, maka hendaklah kamu
shalat witir satu rakaat.”(HR. Bukhari
1137, Muslim 749).
Dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma yang
lain dikatakan:
صَلَاةُ
اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى.
“Shalat
malam hari dan siang hari itu dua rakaat-dua rakaat.” (HR. Ahmad 4791, Ibnu Majah 1319, Abu Dawud 1295,
dishahihkan didalam Shahih Abu Dawud 1172).
إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ
حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ.
“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia
selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Tirmidzi 806, Ibnu Majah 1327, Nasai 1605,
Dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Al Irwa’ 447).
Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah
shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh An Nawawi. (Syarh Muslim, 3/101).
Yang
dimaksud qiyam Ramadhan adalah menghidupkan malamnya dengan ‘ibadah dan
mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. (ta’liq Musthafa al-Bagha’ pada Shahih
Bukhari 1904-1905).
-----000-----
Bab 12
Dianjurkan memperbanyak sedekah.
Allah
ta’ala berfirman:
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ
أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ
فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ
وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ.
“Perumpamaan
orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang
menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah
melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas dan Maha
Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah[2]:161).
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ.
“Sedekah tidaklah mengurangi
harta.” (HR. Ahmad 7206, Muslim 2588).
Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma
berkata:
كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ
أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ
يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah
orang yang paling dermawan, dan beliau bertambah kedermawanannya di bulan
Ramadlan ketika bertemu dengan malaikat Jibril, dan Jibril menemui beliau di
setiap malam bulan Ramadhan untuk mengulang bacaan Al-Qur’an.” (HR.
Al Bukhari 3220, Ahmad 2616).
Memberi buka orang yang berpuasa memiliki pahala
seperti orang yang berpuasa.
Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا، كُتِبَ لَهُ
مِثْلُ أَجْرِهِ، إِلَّا أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ.
“Barangsiapa yang memberi buka orang puasa, maka
baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang
berpuasa sedikitpun.” (HR. Ahmad 17033, Tirmizi 807, Ibnu Majah, 1746,
dishahihkan syaikh al-Albani di dalam shahih Al-Jami’, 6415).
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ
مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا
أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ.
“Infakkanlah sebagian dari apa yang
Aku berikan kepada kalian, sebelum kematian mendatangi kalian, kemudian dia
berkata: “Ya Rab, andai Engkau menunda ajalku sedikit saja, agar aku bisa
bersedekah dan aku menjadi orang shaleh.” (QS. Al Munafiqun[63]: 10).
Allah ta’ala memerintahkan kepada
kita agar bersedekah dengan harta yang kita cintai.
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى
تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ.
“Kalian tidak akan mendapatkan
kebaikan, sampai kalian infakkan apa yang kalian cintai.” (QS. Ali
Imran[3]: 92).
مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العِبَادُ
فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ
مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.
“Setiap datang waktu pagi, ada dua
malaikat yang turun dan keduanya berdoa. Malaikat pertama memohon kepada Allah,
‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang memberi nafkah’, sementara malaikat
satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikan kehancuran bagi orang yang pelit.’ (HR.
Bukhari 1442 Muslim 1010).
Sebagian salaf berkata: “Kalau sekiranya saya
mengundang sepuluh dari teman-temanku, kemudian memberikan makanan yang
disukainya. Itu lebih saya sukai dibandingkan dengan memerdekakan sepuluh budak
dari anak Ismail. Dahulu banyak dari kalangan salaf lebih mendahulukan memberi
buka puasa sementara dia masih dalam kondisi berpuasa. Diantaranya Ibnu Umar
radhiallahu’anhuma, Dawud At-Thai, Malik bin Dinar dan Ahmad bin Hanbal dan
lainnya. Bahkan Abdullah bin Umar tidak berbuka melainkan bersama orang-orang yatim
dan orang miskin karena mengetahui keluarganya menolak kedatangan mereka.
(Kaifa na’isyu Ramadhan, Syaikh Abdullah As-Shalih).
-----000-----
BAB 12
Memperbanyak bacaan Al-Qur’an.
Allah
ta’ala berfirman:
الَّذِينَ
يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا
رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ.
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca
kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang
Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu
mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. (QS. Fathir[35]:
29).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
قَالَ
قَتَادَةُ: كَانَ مُطَرف، رَحِمَهُ اللَّهُ، إِذَا قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ
يَقُولُ: هَذِهِ آيَةُ الْقُرَّاءِ .
“Qatadah rahimahullah berkata, “Mutharrif bin Abdullah
(Tabi’in, wafat 95H) jika membaca ayat ini beliau berkata: “Ini adalah ayat
orang-orang yang suka membaca Al Quran” (Tafsir Ibnu Katsir QS. Fatir[34]:29).
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ
جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى
وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ.
“Wahai manusia! Sungguh, telah
datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit
yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS.
Yunus[10]:57).
Manfaat membaca Al Qur’an.
Al-Qur’an akan menentramkan hatinya, mengobati jasmani
maupun rahaninya.
ﻭَﻧُﻨَﺰّﻝُ
ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَﺂﺀٌ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔٌ ﻟّﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻭَﻻَ ﻳَﺰِﻳﺪُ
ﺍﻟﻈّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﺇَﻻّ ﺧَﺴَﺎﺭﺍً.
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang
menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu
tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS.
Al-Israa’ [17]: 82).
Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi rahimahullah
berkata:
“Obat yang mencakup obat bagi
penyakit jiwa dan raga, seperti keraguan, kemunafikan, dan perkara lainnya.
Bisa menjadi obat bagi jasmani jika dilakukan ruqyah kepada orang yang sakit.
Sebagaimana kisah seseorang yang terkena sengatan kalajengking diruqyah dengan
membacakan Al-Fatihah. Ini adalah kisah yang shahih dan masyhur” (HR. Bukhari
dan Muslim) (Tafsir Adhwaul Bayan, QS Al-Isra’ [17]:82).
Adapun Ath-Thabari rahimahullah
mengatakan: “Al-Qur’an obat dari kejahilan dan kesesatan. (Tafsir Ath Thabari,
QS. Al-Isra’[17]:82).
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ
قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ
أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ
وَمِيمٌ حَرْفٌ .
“Siapa yang membaca satu huruf
dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan
dilipatkan menjadi sepuluh kebaikan semisalnya, aku tidak mengatakan alif lam
mim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu
huruf.” (HR. Tirmidzi 2910, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam
kitab Shahih Al Jami’ 6469).
Orang-orang shalih dahulu menyibukkan diri dengan
Al-Qur’an.
Malaikat Jibril memperdengarkan Al-Qur'an kepada
Rasulullah pada bulan Ramadhan. Utsman bin Affan mengkhatamkan Al-Qur'an setiap
hari pada bulan Ramadhan. Sebagian Salafus Shalih mengkhatamkan Al-Qur'an dalam
shalat Tarawih setiap tiga malam sekali. Sebagian lagi setiap tujuh malam
sekali. Sementara sebagian lainnya mengkhatamkannya setiap sepuluh malam
sekali. Mereka selalu membaca Al-Qur'an baik di dalam shalat maupun di luar
shalat. Bahkan Imam asy-Syafi'i dapat mengkhatamkan Al-Qur'an sebanyak enam puluh
kali di luar shalat dalam bulan Ramadhan. Sementara al-Aswad mengkhatamkannya
setiap dua hari sekali. Adapun Qatadah selalu mengkhatamkannya setiap tujuh
hari sekali di luar Ramadhan, sedangkan pada bulan Ramadhan beliau
mengkhatamkannya setiap tiga hari sekali. Dan pada sepuluh terakhir bulan
Ramadhan beliau mengkhatamkannya setiap malam. Pada bulan Ramadhan Imam az
Zuhri menutup majlis-majlis hadits dan majlis-majlis ilmu yang biasa diisinya.
Beliau mengkhususkan diri membaca al-Qur'an dari mushhaf. Demikian pula Imam
ats-Tsauri, beliau meninggalkan ibadah-ibadah lain dan mengkhususkan diri untuk
membaca al-Qur'an.
(Kaifa na’isyu Ramadhan, Syaikh Abdullah As-Shalih).
-----000-----
BAB 13
Tetap duduk dimasjid hingga
matahari terbit agak naik.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى
جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى
رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ
تَامَّةٍ .
“Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah,
kemudian dia duduk di mesjid untuk berzikir kepada Allah sampai matahari
terbit, kemudian dia shalat dua rakaat, maka dia akan mendapatkan (pahala)
seperti pahala haji dan umrah, sempurna sempurna sempurna.“ (HR.
Tirmidzi 586, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu Al-Jami’ 6346).
-----000-----
BAB 14
Mencari malam lailatul Qadhar.
Allah ta’ala berfirman:
لَيْلَةُ
الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ . تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ
وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ . سَلَامٌ هِيَ
حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ.
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya
untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit
fajar.” (QS. Al-Qadr[97]:3-5).
Kapan terjadinya malam lailatul qadar.
Hadits-hadits
ini menunjukkan kapan terjadinya lailatul qadar.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ
الأَوَاخِرِ - يَعْنِى لَيْلَةَ الْقَدْرِ - فَإِنْ
ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ
الْبَوَاقِى .
“Carilah
ia (lailatul qadar) di sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang kalian lemah
atau tidak mampu, maka janganlah ia kalah di tujuh malam terakhir.” (HR.
Bukhari 2021, Muslim 1165).
أَنَّ رِجَالاً مِنْ أَصْحَابِ
النَّبِىِّ-صلى الله عليه وسلم - أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْمَنَامِ فِى
السَّبْعِ الأَوَاخِرِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه
وسلم - أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِى السَّبْعِ الأَوَاخِرِ ،
فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِى السَّبْعِ الأَوَاخِرِ
“Sesungguhnya
sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermimpi lailatul qadar
terjadi pada tujuh hari terakhir (Ramadhan). Maka Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, "Aku melihat mimpi kalian bertemu pada tujuh
malam terakhir, maka barangsiapa yang ingin mencarinya, hendaklah ia mencari
pada tujuh malam terakhir." (HR. Bukhari 2015 Muslim 1165).
وَاللهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا
هُوَ، إِنَّهَا لَفِي رَمَضَانَ، يَحْلِفُ مَا يَسْتَثْنِي، وَوَاللهِ إِنِّي
لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ، هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا، هِيَ لَيْلَةُ
صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ، وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي
صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا.
Ubay
(bin Ka'ab) berkata, "Demi Allah yang tiada tuhan melainkan Dia.
Sesungguhnya ia terjadi di bulan Ramadhan. Dan demi Allah sesungguhnya aku
mengetahui malam itu. Ia adalah malam yang Rasulullah memerintahkan kami untuk
qiyamullail, yaitu malam kedua puluh tujuh. Dan sebagai tandanya adalah pada
pagi harinya matahari terbit dengan cahaya putih yang tidak bersinar-sinar
menyilaukan." (HR. Muslim 762).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ
إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul
qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah
lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari 1901, Ahmad 8576, Nasai 2193).
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
يَا
رَسُولَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ القَدْرِ مَا
أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ: قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ
فَاعْفُ عَنِّي.
“Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam
tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?” Jawab
Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdo’alah: Allahumma innaka ‘afuwwun
tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, Engkau Maha pemberikan Maaf dan Engkau
suka memberikan maaf karenanya maafkanlah aku, yaitu ampunilah aku).” (HR.
Tirmidzi 3513, Ibnu Majah 3850, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Ibnu Majah
3850, Al-Misykah 2019).
------000-----
Bab 14
I’tikaf di masjid.
I’tikaf secara bahasa berarti menetap pada
sesuatu.
Sedangkan secara syar’i, i’tikaf berarti menetap di
masjid dengan tata cara yang khusus disertai dengan niat. Al-Mawsu’ah
Al-Fiqhiyah, 2/1699.
Allah ta’ala berfirman:
وَعَهِدْنَا
إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ
وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ.
“Dan
telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk
orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud.” (QS. Al Baqarah[2]: 125).
Hadits dari Ummu al-Mukminin, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan:
أَنَّ
النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ
رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ
بَعْدِهِ.
“Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan
Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian para istri beliau beri’tikaf sepeninggal
beliau.” (HR. Bukhari 2026, Muslim 1172, Ahmad 24613).
-----000------
Bab 15
Banyak-banyak bertaubat.
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ
يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ
رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
“Katakanlah,
Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri!
Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni
dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun dan Maha
Penyayang.” (QS. Az-Zumar[39]: 53).
تُوبُوا
إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.
“Dan
bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar
kalian beruntung” (QS. An-Nur[24]: 31).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا.
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada
Allah dengan tobat yang semurni-murninya.” (QS.At-Tahrim[66]:8).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ
اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي اليَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً.
“Demi
Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari
lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari 6037).
Demikianlah
sedikit ulasan ini semoga bermanfaat. Aamiin.
-----000-----