MUJMAL USUL AHLU
SUNNAH WAL JAMA’AH
BAB 2 No. 1
MENYERUPAKAN DAN
MENOLAK SIFAT ALLAH ADALAH KEKUFURAN.
٢- التَّمْثِيلُ وَالتَّعْطِيلُ فِي
أَسْمَاءِ اللَّهِ وَصِفَاتِهِ كُفْرٌ. أَمَّا التَّحْرِيفُ الَّذِي يُسَمِّيهِ
أَهْلُ الْبِدَعِ تَأْوِيلًا فَمِنْهُ مَا هُوَ كُفْرٌ كَتَأْوِيلَاتِ
الْبَاطِنِيَّةِ وَمِنْهُ مَا هُوَ بِدْعَةٌ ضَلَالَةٌ كَتَأْوِيلَاتِ نُفَاةِ
الصِّفَاتِ, وَمِنْهُ مَا يَقَعُ خَطَأً.
2.Menyerupakan
dan meniadakan dalam nama-nama dan
sifat-sifat Allah adalah kekufuran.
Adapun
tahrif (perubahan makna) yang oleh ahli bid‘ah dinamakan ta’wil, maka:
*sebagian
darinya adalah kekufuran, seperti ta’wil-ta’wil kaum bathiniyyah,
* sebagian
lagi merupakan bid‘ah yang sesat, seperti ta’wil-ta’wil orang-orang yang
meniadakan sifat-sifat Allah,
* dan
sebagian lainnya terjadi karena kesalahan (tidak disengaja).
-----000-----
Penjelasan.
1. Pembagian sifat Allah.
Sifat Allah terbagi menjadi
dua:
1) Sifat Tsubutiyah
Sifat Tsubutiyah adalah sifat
yang ditetapkan untuk diri-Nya, seperti Al Hayat, Al Ilmu, Al Qudrah, dan ini
wajib di tetapkan sesuai dengan keagungan Allah.
Allah
maha mengetahui sebagaimana firman Allah ta’ala:
أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ.
“Bukankah telah Aku katakan kepadamu, bahwa Aku mengetahui
rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang
kamu sembunyikan?” (QS. Al-Baqarah[2]:33).
لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا.
“Agar kalian mengetahui sesungguhnya Allah maha kuasa
terhadap segala sesuatu, dan bahwasanya ilmu Allah meliputi segala sesuatu.”
(QS. At-Thalaq [65]: 12)
اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ
الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ
“Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi
terus-menerus mengurus (makhluk-Nya).” (QS. Al-Baqarah [2]:255).
2) Sifat Salbiyah.
Sifat Salbiyah, adalah sifat
yang dinafikan (ditiadakan) dari diri Allah seperti sifat zhalim, mengantuk,
lelah, tidur ataupun lupa.
Allah tidak ditimpa Lelah dan
ngantuk.
Allah ta’ala berfirman:
لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا
نَوْمٌ
“Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula)
oleh tidur..” (QS. Al-Baqarah [2]:255).
2. Pembagian Sifat Tsubutiyah.
Sifat tsubutiyah terbagi
menjadi dua:
1) Tsubutiyah dzatiah.
Tsubutiah dzatiah, adalah sifat
yang senantiasa terus ada pada Allah subhanahu wa ta’ala, seperti Al-Khaliq, Al-Qudrah,
As-Sama’, Al-Bashar.
Allah pencipta segala sesuatu.
وَاللهُ خَلَقَكُمْ وَمَاتَعْمَلُونَ.
“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat
itu.” (QS. As Shafat [37]: 96)
وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah [2]:284)
2) Tsubutiyah fi’liyah.
Tsubutiah
fi’liyah, adalah sifat yang terkait dengan kehendaknya, seperti berbicara,
berbuat, datang, turun, ridha, murka, dan lain-lain kapanpun sesuai kehendak
Allah ta’ala.
Sebagaimana Allah
ta’ala berfirman:
وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى
“..Dan aku bersegera kepada-Mu, Ya Tuhanku, agar Engkau ridha
(kepadaku).” (QS. Thaha[20]: 85).
Contoh
Allah meridhai berupa perbuatan sebagaimana disebutkan hadits Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ اللهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ
يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ
فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا.
“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala meridhai hamba yang
memakan makanan, lalu dia memuji Allah atas makanan yang dimakan. Begitu juga
seorang hamba yang minum minuman, dia memuji Allah atas minuman yang
diminumnya.” (HR. Muslim 2734, Ibnu Abi Syaibah 29566).
Kisah
Abu Thalhah dan Umu Sulaim.
Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
kedatangan tamu dalam keadaan lapar, kemudian Beliau menanyakan kepada
istri-istri beliau namun mereka tidak ada yang memiliki makanan kecuali air,
kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan kepada sahabat,
Maka Abu Thalhah membawa tamu tersebut, sesampainya di rumah beliau bertanya
kepada istrinya, “ adakah makanan di rumah?” istrinya menjawab tidak ada
kecuali jatah anak-anak.” “Kalau begitu berilah mereka minum dan tidurkanlah,
ketika engakau hidangkan berpura-puralah memperbaiki lamu dan padamkanlah, aku
akan pura-pura makan.” Maka istrinya pun
melakukan hal itu, sehingga malam itu keluarga Abu Thalhah dalam keadaan
kelaparan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
لَقَدْ عَجِبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ - أَوْ ضَحِكَ -
مِنْ فُلاَنٍ وَفُلاَنَةَ, فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ
كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ .
Sesungguhnya Allah merasa kagum
atau ridha dengan apa yang telah dilakukan oleh si Fulan dan si Fulanah,
kemudian Allah menurunkan firman-Nya:
وَيُؤْثِرُونَ
عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ.
“Mereka mengutamakan (saudaranya) atas diri mereka meskipun diri
mereka membutuhkan.” ( QS.Al-Hasyr [59]:9).
Setelah di pagi
hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai zaid, Allah
sangatlah bangga dan ridha dengan apa yang telah kamu lakukan semalam.” Maka
beliau pulang mengabarkan kepada istrinya. ( HR. Bukhari 4889).
Ayat yang menunjukkan Allah murka,
yaitu pada firman-Nya:
وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا
فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ
وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا.
"Siapa
yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, balasannya adalah (neraka)
Jahanam. Dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, melaknatnya, dan
menyediakan baginya azab yang sangat besar." (QS An Nisa'[4]: 93).
Allah datang, sebagaimana
firman Allah ta’ala:
وَجَاءَ
رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا.
“Dan datanglah Rabbmu; dan malaikat berbaris-baris.” (QS. Al-Fajr[89]:
22).
Berkata Imam as-Shabuni: “Kami (ahlus sunnah) beriman dengannya Seluruhnya,
sesuai dengan apa yang disebutkan di dalamnya, tanpa bertanya seperti apa, atau
bagaimana. Sebab kalau Allah menghendaki, niscaya Dia akan menjelaskannya
kepada kita bagaimana turun-Nya. Maka kita berhenti pada apa yang telah
disebutkannya secara muhkamat…” (Aqidatus Salaf ashhabul Hadits, Imam
AshShabuni, Tahqiq Nashir bin Abdur Rahman bin Muhammad al-Juda’, hal. 192)
Allah juga berfirman:
هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ يَأْتِيَهُمُ
اللَّهُ فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ وَالْمَلَائِكَةُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَإِلَى
اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ.
“Tidak
ada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat yang
dinaungi awan (pada hari kiamat), dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya
kepada Allah dikembalikan segala urusan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 210).
Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya, “Lalu Allah datang dalam
naungan awan sesudah langit dunia terbelah dan semua malaikat yang ada padanya
turun; kemudian langit kedua, dan langit ketiga hingga langit ketujuh terbelah
pula. Para malaikat penyangga Arasy dan malaikat Karubiyyun turun. Kemudian
Allah Yang Mahaperkasa turun dalam naungan awan dan para malaikat yang
terdengar gemuruh suara tasbih mereka seraya mengucapkan, "Mahasuci Allah
yang mempunyai kerajaan dunia dan kerajaan langit. Mahasuci Allah yang memiliki
segala keagungan dan keperkasaan. Mahasuci Allah Yang Mahahidup dan tak pernah
mati. Mahasuci Allah yang mematikan semua makhluk, sedangkan Dia tidak mati.” (Tafsir
Ibnu Katsir QS. AL-Baqarah[2]:210).
Adakalanya sifat Allah termasuk sifat dzatiah dan juga
sifat fi’liyah, seperti sifat Al Kalam, kehendak.
Misalnya firman Allah ta’ala:
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ
يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ.
“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia
hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.” ( QS. Yasiin
[32]:82).
(Lihat pula
Syarah Lum’atul I’tiqad, Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin).
Dari sini kita mengetahui bahwa
nama Allah sudah mengandung sifat di dalamnya. Tanpa harus menolak,
menyelewengkan, menanyakan ataupun menyerupakan.
3.
Tidak boleh menolak dan menyerupakan.
Menolak dan menyerupakan sifat Allah
adalah kekufuran.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَلَمْ
يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ࣖ.
“Serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (QS,
Al-Ikhlas [112]:4)
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.
“Tidak ada yang suatupun
yang serupa dengan Allah, dan Dia maha mendengar dan melihat.” (QS. Asy-Syura[42]: 11).
4.
Kesesatan orang-orang Jahmiyah.
Jahmiyah dinisbatkan kepada Jahm bin Shafwan (جَهْمُ
بْنُ صَفْوَانَ).
“Di antara kesesatan Jahmiyah yang paling
menonjol adalah ta‘thil (peniadaan) terhadap sifat-sifat Allah Ta‘ala. Mereka
menolak sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah,
karena menurut mereka menetapkan sifat berarti menyerupakan Allah dengan
makhluk. Padahal Ahlus Sunnah menetapkan seluruh nama dan sifat Allah
sebagaimana yang datang dalam wahyu, tanpa tahrif, ta‘thil, takyif, dan
tamtsil.”
Bantahan bagi jahmiyah, seandainya seseorang mensifati
Allah itu ada, kemudian dia berkata: dia tidak bicara, tidak melihat, tidak
mendengar, tidak punya tangan, tidak di atas tidak di bawah, tidak di dalam,
tidak di luar, tidak di kanan tidak di kiri, tidak di depan tidak di belakang
apa bisa hal itu dikatakan ada.
5.
Kesesatan
takwil batiniyyah.
Batiniyyah juga orang-orang thariqat bukan hanya
memalingkan sifat-sifat Allah bahkan mereka juga memalingkan ayat-ayat Al-Qur’an,
misalnya firman Allah ta’ala:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ .
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu
kepastian (kematian).” (Al-Hijr [15]:99).
Mereka memahami tanpa didasari apa yang telah
dijelaskan oleh nash yang lain yang bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam.
Karena yaqin disitu di tafsirkan Rasulullah dengan
kematian.
Demikian juga mereka menta’rif sifat-sifat Allah.
Misalnya:
Allah
ta‘ala berfirman:
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
“Ar-Rahman
ber-istiwa di atas ‘Arsy.” (QS. Ṭaha [20]: 5).
Ahlus Sunnah menetapkan sifat
istiwa’ bagi Allah sebagaimana yang layak bagi-Nya, tanpa menyerupakan Allah
dengan makhluk dan tanpa menanyakan bagaimana hakikatnya.
Adapun
sebagian ahli ta’wil memalingkan makna istiwa’ menjadi istawla, yaitu
“menguasai”.
Memalingkan
makna tersebut tanpa dalil yang benar merupakan bentuk tahrif (penylewengan).
Contoh
kedua: sifat tangan
Allah
Ta‘ala berfirman:
بَلْ
يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ
“Bahkan
kedua tangan-Nya terbuka.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 64).
Ahlus Sunnah menetapkan sifat dua
tangan bagi Allah sebagaimana yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, tanpa
menyerupakan dengan tangan makhluk.
Adapun
orang-orang yang menolak sifat Allah kemudian mentahrif tangan maknanya:
الْيَدُ بِمَعْنَى الْقُدْرَةِ
“Tangan
maksudnya adalah kekuasaan.”
Dan lain
sebagainya.
Kesalahan orang-orang
yang menetapkan Sebagian sifat Allah dan menolak Sebagian sifat lainnya.
Contohnya adalah sebagian kelompok Asy‘ariyyah. Mereka
menetapkan beberapa sifat seperti ilmu, qudrah (kekuasaan), iradah (kehendak),
sam‘a (pendengaran), bashar (penglihatan), kalam (firman), dan hayah
(kehidupan), tetapi menakwil atau tidak menetapkan sebagian sifat yang lain,
seperti istiwa’, wajah, tangan, turun, datang, dan sifat-sifat fi‘liyyah
lainnya.
Kalau seandainya dia menetapkan bahwa penglihatan Allah dan
pendengarannya tidak sama dengan makhluk, kenapa tidak disamakan dengan sifat-sifat
Allah yang telah mereka sebutkan bahwa sifat Allah yang lain juga tidak sama
dengan makhluk.
Semoga bermanfaat.
-----000----
Sragen 26-08-2026
Abu Ibrahim Junaedi Abdullah.