Sabtu, 21 Februari 2026

AKHLAK MULIA

 


Mukadimah

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

أَمَّا بَعْدُ

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Tidak diragukan lagi bahwa akhlak yang baik merupakan bagian yang sangat besar di dalam ajaran agama islam, merupakan ciri khas dan makhkotanya seorang muslim, akhlak yang baik merupakan bekal di dalam mengarungi kehidupan ini, terlebih bagi seorang da’i mereka akan mudah untuk membaur dengan masyarakat mendakwahi mereka, mengajak mereka kepada kebaikan dan menjauhi keburukan.

Tidak kita pungkiri sebagian kaum muslimin mereka memiliki pengetahuan tentang agama dan dunia yang begitu mendalam, namun sangat di sayangkan sedikit di antara kaum muslimin yang mau mempelajari akhlak nubuwah ini, sehingga yang terjadi kepincangan yang tidak selaras antara ilmu yang mendalam dengan kenyataan akhlaknya yang buruk, ini realita yang sering terjadi yaitu  krisis di dalam akhlak, hal itu ditandai banyaknya kaum muslimin yang kita dapatkan tersandung berbagai macam masalah, baik para dainya, apalagi dengan orang awamnya, seperti kasus pencabulan, perzinaan, pencurian, penipuan, korupsi, pembunuhan dan lain-lain, semua tidak lain karena lemahnya iman dan jauhnya dari akhlak yang mulia ini.

Begitu pula tanda krisis akhlak pada umat ini, mereka tidak begitu memperhatikan ikatan persaudaraan Islam, hal ini dapat dirasakan apa bila kita bermuamalah dengan salah seorang di antara mereka, saking banyaknya kasus yang terjadi sehingga muncul rasa kuatir dari tipu daya saudaranya, baik ketika kita memberikan amanah atau jabatan, utang piutang, memperbaiki barang, membeli barang, sampai berperkara di pengadilan, betapa sulitnya saat ini untuk mendapatkan orang yang amanah, yang menjadikan kita merasa nyaman dan terwujudnya keadilan.

Padahal kalau kita menyadari Rasulullah dalam mengemban tugas dakwahnya selain memprioritaskan tauhid, beliau menghiasi dakwahnya dengan akhlak yang mulia sebagaimana di bawah nanti.

Dari sinilah saya merasa penting untuk menulis dan mengumpulkan hal-hal yang berkaitan dengan akhlak yang baik sehingga dapat menggugah dan menyadarkan kaum muslimin akan pentingnya memiliki akhlak yang baik, dan tidak lupa sebagiannya saya serertakan contoh-contoh teladan orang-orang shalih dahulu yang memiliki akhlak yang baik, dengan demikian mudah-mudahan hal ini mudah dicerna, kemudian diamalkan oleh kaum muslimin.

Semoga Allah memberkahi seseorang yang mau mengingatkan kesalahan saya, mau mengajak saya untuk selalu menetapi kebaikan dan kesabaran, serta memberi motivasi yang baik sehingga dapat tercapai kebaikan.

Demikianlah sedikit tulisan ini semoga mendapatkan keridhaan Allah ta’ala menjadi amal shalih yang bermanfaat bagi saya, kedua orang tua saya, guru-guru saya dan menjadikan pemberat timbangan saya nanti pada hari kiamat aamiin.

 

Sragen 20-02-2026

Abu Ibrahim, Junaedi Abdullah.

 

 

BAB 1

Akhlak

Tauhid merupakan prioritas dakwah para nabi dan rasul, akan tetapi perlu diketahui, bersamaan dengan hal itu mereka juga mendasari di dalam dakwahnya dengan akhlak yang mulia.

Oleh karena itu orang-orang yang meneladani para Nabi dan para Rasul hendaknya menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia.

 1.   Pengertian akhlak:

Di dalam bahasa Arab kata “akhlak” (أخلاق) adalah bentuk jamak dari kata “khuluk” (خلق), yang berakar dari kata kerja “khalaka” (خلق), yang berarti “menciptakan”. Kata “khuluk” diartikan dengan sikap, tindakan, dan kelakuan.

“Akhlak” di dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan secara sederhana, yaitu “budi pekerti, kelakuan”, disinonimkan dengan kata-kata “tingkah laku, perangai, dan watak.”

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Akhlak sebuah bentuk jiwa yang tertanam kuat, yang darinya lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa memerlukan pertibangan dan pemikiran. (Minhajul Qhasidin, oleh Ibnu Qudamah Al-Maqdisi)

Akhlak terbagi menjadi dua yaitu:

1)   Akhlak yang baik (mahmudah), apabila perbuatan-perbuatan tersebut baik.

2)   Akhlak yang buruk (madzmumah), bila perbuatan-perbuatan tersebut buruk (Minhajul Qhasidin, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi).

Perbedaan antara adab dan akhlak.

Sebagian ulama menganggap hal itu sama, bagaimana beradab kepada Allah ta’ala, atau bagaimana berakhlak kepada Allah ta’ala.

Ada juga yang membedakan, adapun perbedaan antara adab dan akhlak yang paling mudah untuk bisa dipahami yaitu:

1)  Adab adalah sikap seseorang.

Bagaimana seseorang bersikap pada sebuah aturan yang telah diketahui kebaikannya bersama, seperti adab makan, adab minum, adab ke kamar mandi atau adab seseorang kepada gurunya.

2)  Akhlak adalah sifat seseorang.

Sifat atau karakter seseorang yang dihasilkan dari didikan pada dirinya atau berasal dari takbi’at bawaan. Seperti jujur, dermawan, pembrani dan lain sebagainya.

Asal-muasal terjadinya akhlak yang baik.

Akhlak bila ditinjau dari asalnya ada dua yaitu:

1)  Ghariziyyah Atau Jibiliyah (Naluriyah, Bawaan).

Akhlak   gariziyyah   atau   Jibilliyyah 

Maksudnya Allah telah memberikan ke dalam dirinya akhlak yang mulia itu, di mana ia tumbuh dewasa di atasnya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada Asyaj Abdul Qais, beliau bersabda:

إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ: الْحِلْمُ, وَالْأَنَاةُ.

“Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua perkara yang dicintai Allah, yaitu kesabaran dan tidak tergesa-gesa.” (HR. Muslim 17, at-Tirmidzi 2011, Abu Dawud 5225).

2)   Muktasabah (apa yang diusahakan).

Akhlak Muktasabah maksudnya akhlak yang dihasilkan dari usaha dan  latihan disertai permohonan kepada Allah ta’ala agar memberi akhlak yang baik. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ, وَمَنْ يَسْتَغْنِ  يُغْنِهِ اللَّهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ, وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ.

“Barang siapa yang berusaha menjaga dirinya (dari meminta-minta), maka Allah akan menjaganya. Barang siapa yang merasa cukup dengan pemberian Allah, maka Allah akan cukupkan. Barang siapa yang berusaha untuk sabar, maka Allah akan menyabarkan. Tidak ada pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. al-Bukhari 6470, 1469, Abu Dawud 1644).

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Seandainya akhlak tidak bisa bisa dirubah, niscaya nasehat-nasehat tidak akan berarti apapun, bagaimana mungkin seseorang mengingkari bila akhlak bisa dirubah sementara seseorang melihat binatang buas bisa dijinakkan, anjing diajari kapan dia harus makan, kuda dididik bagaimana jalan yang baik dan dikendalikan dengan baik pula, hanya saja harus diakui ada takbiat yang mudah dirubah kepada kebaikan dan ada pula yang sulit.” (Minhajul Qhasidin, Ibnu Qudamah al-Maqdisi).

Pada masa jahiliyah kerusakan akhlaq dan moral merajalela, seperti  perzinaan, meminum khamer, perjudian dan pembunuhan, namun setelah mereka masuk islam dan mendapatkan hidayah mereka menjadi manusia-manusia pilihan, inilah fakta dimana akhlaq bisa berubah.

 

-----000-----

 

BAB 2

Akhlak Rasulullah

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau memiliki akhlak yang mulia, beliau diutus untuk menyempurnakan aklak yang telah ada, oleh karena itu beliau bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ مَكاَرِمَ اْلأَخْلاَقِ.

“Sesungguhnya aku diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. al-Bukhari di dalam Adabul Mufrad 273, dishahihkan syaikh al-Albani dalam Silsilah As-Shahihah 45).

Ketika beliau berdakwah keTha’if, dakwah beliau ditolak dan beliau disakiti, namun beliau tidak membalas hal itu semua, bahkan beliau berharap kebaikan pada mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ فَسَلَّمَ عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا.

“…Malaikat (penjaga) gunung memanggilku, mengucapkan salam lalu berkata: Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsyabain.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun juga.” (HR. al-Bukhari 3231, Muslim 1795).

Pujian Allah subhanahu wa ta’ala kepada Rasul-Nya. Allah ta’ala berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam [68]: 4)

Allah memerintahkan agar kita meneladani Rasul-Nya.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Ayat yang mulia ini merupakan dalil pokok yang paling besar, yang menganjurkan kepada kita agar meniru Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. dalam semua ucapan, perbuatan, dan sepak terjangnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, (QS. Al-Ahzab[33]:21).

Akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah disaksikan kebaikannya baik dari orang yang memusuhi beliau ataupun orang yang dekat dekat beliau.

Diantara Kesaksian Tersebut:

1)    Saat Merenovasi Kakbah.

Mereka berselisih tentang siapa yang berhak meletakkan hajar aswad, hal itu terjadi 4-5 hari, bahkan hampir saja terjadi peperangan, kemudian Abu Umayah bin Mugirah al-Makzumi menawarkan, siapapun yang pertama kali melewati pintu masjid merekalah yang memutuskan, Allah takdirkan Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam melewati pintu tersebut, merekapun berseru, “ Telah datang orang yang amanah (terpercaya).” (Ar-Rahiqul Makhtum, Syaikh Syafiyyurrahman al-Mubarakfury).

2)    Kesaksian Dari Abu Sufyan Di Hadapan Raja Rum, Yang Di Waktu Itu Masih Menjadi Orang Kafir.

Ketika raja Hiraklius bertanya, “Apa yang diperintahkannya kepada kalian?” Abu Sufyan menjawab, “Ia memerintahkan kami agar menyembah Allah saja dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Melarang menyembah Tuhan-Tuhan nenek moyang kami. Memerintahkan shalat, sedekah, menjaga kehormatan diri, memenuhi janji, dan menunaikan amanah.” (Ar-Rahiqul Makhtum, Syaikh Syafiyyurrahman al-Mubarakfury).

3)    Kesaksian Orang-Orang Quraiys

Ketika Rasulullah diperintahkan untuk berdakwah terang-terangan, kemudian belaiu naik kebukit Shafa, beliau memberikan gambaran kepada mereka dengan datangnya musuh, mereka percaya terhadap apa yang di sampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

4)    Kesaksian orang yang dekat dengan Rasullah.

Dari al-Hasan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

سُئِلَتْ عَائِشَةُ عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ : كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ.

Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia menjawab: “Akhlaknya adalah Al-Qur’an.” (HR. Ahmad 25813, Shahih menurut Syaikh Syu’aib Al-Arnauth, dishahihkan syaikh al-Albani di dalam Shahihu Al Jami’ 4811).

Dan masih banyak lagi kesaksian yang menunjukkan kemuliaan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

-----000-----

 

BAB 3

Keutamaan Akhlak Yang Baik.

          Manusia tersusun dari jasad dan ruh, memiliki perasaan, oleh karena itu mensikapinya tidak boleh semena-mena, karena hal itu akan menyakitinya, mereka satu sama lain membutuhkan untuk diperlakukan dengan baik.

Adapun keutamaan memiliki akhlak yang baik sangat banyak sekali, diantaranya:

1)  Menjadikan Kecintaan Allah Ta’ala.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ.

“Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”(QS. An-Nahl[16]:128).

Yakni Allah beserta mereka melalui dukungan-Nya, pertolongan-Nya, bantuan-Nya, petunjuk dan upaya-Nya.(LIhat Tafsir Ibnu Katsir, QS. An-Nahl [16]:128).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ.

“Sayangilah orang-orang yang ada di bumi, maka kamu akan di sayangi Dzat yang ada di atas langi.” (HR. at-Tirmidzi 1924, al-Baihaqi 17905, Dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Ash Shahihah 925).

2)  Menjadikan Rasulullah Cinta.

Orang yang ingin dicintai Rasulullah hendaknya memiliki akhlaK yang baik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi 2018,  dihasankan oleh Syakh al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ 1535, As-Shahihah 791). 

3)  Akan Menjadi Pemberat Timbangan Pada Hari Kiamat.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ. 

"Tidak ada sesuatupun yang lebih berat dalam timbangan (amalan) seorang mukmin pada hari kiamat dibandingkan akhlak yang mulia." (HR. at-Tirmidzi 2002, di hasankan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah 876).

Bagaimana seseorang berkata yang baik, tersenyum, bersabar dan lainnya yang semua ini tanpa di rasa merupakan tumpukan-tumpukan pahala yang sangat besar.

4)  Paling Banyak Memasukkan Manusia Kedalam Surga.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab saat ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke surga sebagaimana disebutkan dalam sebuah atsar:

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ  تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ. وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ  الْفَمُ وَالْفَرْجُ.

Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apa yang paling banyak memasukkan manusia kedalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan bagusnya akhlak.” Dan beliau ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, maka beliau menjawab: “mulut dan kemaluan.” (HR at-Tirmidzi 2004, Abu Dawud 2596, Ibnu Majah 4246. Dihasankan syaikh al-Albani, Lihat As-Shahihah 977).

Bagaimana seseorang bertakwa kepada Allah dan berakhlak yang mulia akan menjadikan kebaikan di dunia ini sehingga semua urusanya menjadi mudah, mendatangkan berkah, dan menjadikan masuk kedalam surga.

Sebaliknya mulut dan kemaluan dapat mendatangkan dosa, adzab, menjauhkan keberkahan dan memasukkan kedalam neraka.

Dia berbuat syirik, bid’ah, menuduh, menggunjing, marah tanpa alasan yang dibenarkan syari’at semua itu dilakukan dengan lisannya.

5)  Menunjukkan Kesempurnaan Dan Kemuliaan Iman Seseorang.

Baiknya akhlak seseorang menunjukkan kesempurnaan imannya, sedangkan orang yang sempurna imannya memiliki keutamaan yang besar, di sisi Allah ta’ala, Rasulullah sallallahu ‘alaaihi wa sallam bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا .

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya, dan yang paling baik di antara kamu sekalian adalah yang paling baik akhlaqnya terhadap isteri-isterinya.” (HR. Ahmad 7402, Tirmidzi 1162, Abu Dawud 4682 dihasan oleh syaikh al-Albani di dalam Ash-Shahihah 284).

Betapa banyak orang yang memiliki hafalan yang banyak, ilmu yang tinggi namun akhlaknya rendah, oleh karena itu hendaknya seseorang mengiringi ilmunya tersebut dengan akhlak yang mulia sehingga dapat menyempurnakan imannya.

6)  Mendatangkan Kecintaan Manusia.

Fitrah manusia akan mencintai orang-orang yang berbuat baik.

Allah ta’ala berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ.

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali-Imran[3]:159).

Ada seseorang yang datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata:

يَا رَسُوْلَ اللهِ ! دُلَّنِـيْ عَلَـىٰ عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ وَأَحَبَّنِيَ النَّاسُ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ, وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ.

“Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku satu amalan yang jika aku mengamalkannya maka aku akan dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya engkau dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang di miliki manusia, niscaya engkau dicintai manusia.” (HR. Ibnu Majah 4102, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 944).

7)  Akhlaq Yang Baik Dapat Memuaskan Hati Manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّكُمْ لَنْ تَسَعُوْا النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ وَلٰكِنْ يَسَعُهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ الوَجْهِ وَحُسْنُ الخُلُقِ.

Sesungguhnya kalian tidak akan dapat memuaskan jiwa manusia dengan harta-harta kalian, akan tetapi yang dapat memuaskan jiwa mereka adalah bermuka manis dan berakhlak yang baik. (HR. at-Tirmidzi 2018, Bazar 8544, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Thargib wa Tharhib 2661).

8) Meluluhkan Hati Musuh.

Allah ta’ala berfirman :

ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ

Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (QS. Fushilat : 34).

Banyak para sahabat dahulu yang memusuhi Rasulullah namun akhirnya mendapatkan hidayah, hal itu tidak lain karena keindahan ajaran islam dan bagusnya akhlak yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

الأَعْمَالُ الصَّالِحَةُ وَالأَخْلَاقُ الفَاضِلَةُ وَالمُعَامَلَاتُ الطَّيِّبَةُ تَفْتَحُ قُلُوبَ الأَعْدَاءِ أَكْثَرَ مِمَّا تَفْتَحُهُ السُّيُوفُ.

“Amal shalih, akhlak yang mulia dan muamalah yang baik lebih banyak membuka hati para musuh dari pada membukanya dengan pedang” (syarh asy-Syafiah al-Kafiyah 1/202).

9)  Akhlak Yang Baik Akan Menjadi Bukti Dan Saksi Bagi Orang Lain.

Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu menuturkan:

مَرُّوا بِجَنَازَةٍ فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَجَبَتْ, ثُمَّ مَرُّوا بِأُخْرَى فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا فَقَالَ: وَجَبَتْ, فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَا وَجَبَتْ قَالَ: هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا فَوَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ.

“Sahabat Anas bin Malik berkata, orang-orang lewat membawa satu jenazah, mereka memujinya dengan kebaikan. Maka Rasulullah bersabda, “Wajabat.” Kemudian lewat lagi orang-orang membawa satu jenazah, mereka mencelanya dengan kejelekan. Maka Rasulullah bersabda, “Wajabat.” Sahabat Umar bin Khathab berkata, “Apa yang wajib, ya Rasul?” Rasulullah bersabda, “Jenazah ini yang kalian puji dengan kebaikan wajib baginya surga. Dan orang ini yang kalian cela dengan kejelekan wajib baginya neraka. Kalian adalah para saksinya Allah di muka bumi.” (HR. al-Bukhari 1367, Abu Dawud 3233).

10) Akhlaq Yang Baik Akan Menentramkan Hati Pelakunya.

Ketika Rasulullah menerima wahyu di permulaan dan berjumpa dengan Jibril sehingga beliau ketakutan dan pulang, meminta istrinya agar menyelimutinya.

Khadijah berkata menentramkan beliau:

كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا؛ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ.

“Demi Allah tidak mungkin! Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Sebab engkau selalu bersilaturrahmi, meringankan beban orang lain, memberi orang lain sesuatu yang tidak mereka dapatkan kecuali pada dirimu, gemar menjamu tamu dan engkau membantu orang lain dalam musibah-musibah.” (HR. Bukhari 3, Muslim160).

Demikianlah akhlaq yang mulia memiliki keutamaan yang sangat banyak, dan masih banyak lagi keutamaan akhlaq lainnya.

 

  

-----000-----

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 4

Pilar-Pilar Akhlak.

 

Ibnu Rajab al-Hambali di dalam kitabnya, Jamiul ‘ulum wal hikam menukil dari Muhammad bin Abi Zaid salah satu imam madzhab Malikiyah di masanya, beliau berkata: adab-adab kebaikan terhimpun dan bersumber dari 4 hadits, yaitu: “ Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata baik atau diam,” hadits “ Salah satu pertanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat,” hadits, “Jangan engkau marah,” dan hadits, “ Seorang muslim mencintai kebaikan untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai kebaikan tersebut bagi dirinya sendiri.” (Jami’ul ‘ulum wal hikam hadits ke 12, Ibnu Rajab al-Hambali).

Jadilah hadits-hadits ini seakan-akan merupakan pilar-pilar akhlak bagi seorang muslim, dengan beberapa tambahan penjelasanya sebagaimana berikut ini.

1.   Menjaga Lisan.

Memiliki lisan merupakan sebuah nikmat yang sangat besar, di mana lisan dapat meninggikan derajat seseorang di surga, namun jika seseorang tidak menggunakan dalam kebaikan niscaya akan menjerumuskannya ke dalam neraka.

Allah membimbing hambanya agar menggunakan di dalam kebaikan sebagaimana firman-Nya:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا.

“Dan ucapkanlah kepada manusia perkataan yang baik.” (QS. Al Baqarah[2]:83).

قَوْلٌ مَّعْرُوْفٌ وَّمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّنْ صَدَقَةٍ يَّتْبَعُهَآ اَذًى.

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf itu lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti.” (QS. Al-Baqarah[2]:263).

وَاحْفَظُوا أَيْمَنَكُمْ.

"...Maka jagalah sumpah-sumpah kalian..." (QS. Al-Ma'idah [5]: 89)

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. al-Bukhari, 6018, Muslim, 47).

Maksudnya adalah menjaga dan menahan lisan dari suatu pembicaraan, kecuali jika di dalamnya mengandung faedah dan kebaikan. Sabda Nabi : “… maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” Di dalamnya mengandung ajakan agar seorang Muslim berpikir terlebih dahulu sebelum mengucapkan sesuatu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ يَنْزِلُ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ.

“Sesungguhnya seorang hamba berkata dengan satu kalimat dengan kalimat itu menjerumuskan dirinya kedalam neraka sejauh antara timur dan barat.” (HR. al-Bukhari 6477, Muslim 2988).

Muadz bin Jabal mengatakan, "Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu 'Alaihi Wasallam pada perang Tabuk, beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الْأَمْرِ وَعَمُودِهِ وَذُرْوَةِ سَنَامِهِ  فَقُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ, وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ , ثُمَّ قَالَ:  أَلَا أُخْبِرُكَ بِمِلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ, فَقُلْتُ لَهُ: بَلَى يَا نَبِيَّ اللهِ, فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ فَقَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ, فَقَالَ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ, وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ قَالَ: عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ.

“Apakah mau aku beritahukan kepadamu pokok segala urusan, tiangnya dan puncaknya..?” Aku menjawab, "Tentu saja mau wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Adapun pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, sedangkan puncaknya adalah jihad." kemudian beliau berkata, “Maukah engkau aku jelaskan mengenai hal yang menjaga itu semua?” Aku menjawab, “Mau wahai Rasulullah.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang lidahnya kemudian bersabda, “Jagalah ini.” Aku berkata, “Wahai Nabiyullah, apakah kita akan disiksa karena apa yang kita katakan?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ibumu kehilanganmu, wahai Mu’adz! bukanlah manusia terjungkir di neraka di atas wajah mereka atau beliau bersabda: di atas hidung mereka  melainkan dengan sebab lisan mereka.” (HR. Ahmad 36/345, at-Tirmidzi 2616, an-Nasai 11330, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami’ 5136).

Dari Sahl bin Sa’id bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الجَنَّةَ

“Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga” (HR. al-Bukhari 6474).

 

Sahl bin Abdullah at-Tustari berkata, “ Barang siapa berkata sesuatu yang tidak bermanfaat sulit baginya untuk berkata jujur.” (Jami’ul ‘Ulum wal hikam, Ibnu Rajab al-Hambali, hadits ke 12).

Barangsiapa yang tidak mampu menjaga lisannya, berarti dia bukan termasuk orang yang berakhlak dengan baik.

 

2.   Meninggalkan Perkara Yang Tidak Bermanfaat.

Allah ta’ala berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr [59]: 18-19).

Rasulullah  shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi 2317 Ibnu Majah 3976. Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dari Abu Hurairah berkata, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلاَمَهُ: فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَكُلُّ سَيِّئَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِمِثْلِهَا.

 

"Apabila seorang dari kalian baik keislamannya, maka dari setiap ke- baikan yang dilakukannya akan ditulis baginya sepuluh (kebaikan) semisalnya hingga tujuh ratus kali lipat, dan setiap satu kejelekan yang dikerjakan akan ditulis satu kejelekan saja yang serupa dengannya hingga ia menemui Allah.” (HR. Bukhari 42, Muslim 129, Ahmad 8217).

Hasan al-Basri berkata, “ Diantara ciri berpalingnya Allah dari seorang hamba Dia membuatnya sibuk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.” (Jami’ul ‘Ulum wal hikam, Ibnu Rajab al-Hambali, hadits ke 12).

 

3.   Tenang Dan Menahan Diri di Saat Marah.

Untuk memiliki akhlak yang baik seseorang harus mampu mengendalikan dirinya, oleh karena itu Rasulullah memberi nasehat demikian itu.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu  bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أَوْصِنِيْ  قَالَ : لَا تَغْضَبْ. فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ : لَا تَغْضَبْ.

“Berilah aku wasiat” Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!”

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ.

“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, sungguh orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. al-Bukhari 6114, Muslim 2609).

Dari Sahl bin Mu’adz bin Anas al-Juhaniy, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يُنَفِّذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الخَلَائِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ فِي أَيِّ الحُورِ شَاءَ.

“Barangsiapa menahan kemarahan, sedangkan dia mampu melampiaskannya, niscaya pada hari kiamat Allah ‘azza wa jalla akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, sehingga Allah memberinya hak memilih di antara bidadari sorga yang dia kehendaki.” (HR. at-Tirmidzi 2021, Abu Dawud 4777, Ibnu Majah 4186, Ahmad 15619, Dihasankan oleh at-Tirmidzi dalam as-Sunan, syaikh al-Albani didalam Shahihul Jami’ 6522 dan Shahih At-Targhib 2753).

Ketika seseorang sedang marah, maka hendaknya dia tidak berbicara atau berbuat apapun. Karena jika hal itu dilakukan,  seringkali ucapan dan perbuatannya akan mengeluarkan seseorang itu dari akhlak yang baik.

Oleh karena itu, disebutkan dalam sebuah ucapan terkait jeleknya marah adalah:

الغَضَبُ أَوَّلُهُ جُنُوْنٌ وَأٰخِرُهُ نَدَمٌ.

“Marah itu awalnya perbuatan kegilaan dan pada akhirnya adalah sebuah penyesalan.”

Hal itu terjadi karena saat marah ucapan dan tindakan yang dilakukan umumnya di luar kontrol. Maka bagi seseorang yang sedang marah, hendaknya memiliki pola dan metode untuk mencegahnya. Semisal yang disarankan Nabi dalam haditsnya, yaitu jika marah dalam keadaan berdiri, maka hendaknya duduk. Jika duduk masih marah hendaknya berbaring, jika berbaring masih marah hendaknya berwudhu, jika masih marah pergi ke masjid, dan dalam riwayat lain ketika sedang marah, hendaknya diam.

 4.   Selamatnya Hati.

Hendaknya seseorang yang memiliki akhlak baik mendasari kecintaan kepada sesama, hendaknya menjauhkan diri dari sifat hasad, iri, dengki, dendam dan juga kebencian tanpa alasan yang dibenarkan syari’at.

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه.

“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” (HR. al-Bukhari 13, Muslim 45).

Hadits ini dijadikan sandaran oleh para ulama dalam bab akhlak, yaitu hendaknya hati seseorang itu selamat dari sifat-sifat yang tidak terpuji, baik berupa hasad, iri, dengki, dan berbagai macam penyakit hati yang lain.

Tidak jarang berbagai macam penyakit muncul pada badan hal itu bermula dari hati yang kotornya yaitu hasad, iri dan dengki tersebut.

Begitu pula seorang muslim hendaknya tidak berburuk sangka kepada saudaranya sesama muslim.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (QS. Al-Hujurat[49]: 12).

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا.

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. al-Bukhari 5143, Muslim 2563).

Inilah hukum asal prasangka buruk terhadap sesama Muslim, yaitu terlarang. Karena kehormatan seorang Muslim pada asalnya terjaga dan mulia.

Orang yang penuh dengan  prasangka dan kecurigaan adalah orang yang tidak memiliki adab dan akhlak yang baik. Karena kecurigaan akan mendorong perbuatan yang tidak bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain, sikap seperti ini telah mengeluarkan seseorang untuk memiliki keistimewaan adab dan akhlak yang baik.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ.

“Maka sesungguhnya darah kalian, harta-harta kalian, kehormatan kalian haram atas sesama kalian.” ( HR. al-Bukhari 105, 1679).

Demikianlah pilar-pilar akhlak ini hendaknya dimiliki setiap kaum muslimin.

 

 

 

-----000-----

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 5

3 Pokok Dasar Utama Akhlak.

         

Hasan al-Basri mengatakan, akhlak yang baik terkumpul dalam tiga ungkapan berikut, Kafful adza (menahan gangguan), badzlun nada (memberikan manfaat), Thalaqatul wajhi (wajah yang berseri-seri). (Begitupula disebutkan Syaikh Muhammad Bin Shalih al-Utsaimin di dalam kitab Syahu Riyadhus Shalihin bab Husnul Khuluk).

Adapun penjelasannya sebagai berikut:

1.       Kafful adza (menahan diri dari mengganggu)

Yaitu dengan tidak mengganggu orang lain baik melalui ucapan maupun perbuatannya.

Mengganggu orang lain dengan lisannya, baik dengan cibiran, cacian, makian, hinaan dan umpatan, hal ini bila dilakukan tanpa alasan termasuk perbuatan dosa dan merupakan bentuk-bentuk gangguan kepada orang lain.

Allah ta’ala berfirman:

وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

“Dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl [16]:90).

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا.

"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat dengan perkataan atau perbuatan tanpa ada kesalahan yang mereka lakukan, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (QS. Al-Ahzab[33]: 58),

قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا.

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti.” (QS. Al-Baqarah [2]:263).

Kemudian Allah ta’ala berfirman:

قَوْلٌ مَعْرُوفٌ

“Perkataan yang baik.” (QS. Al-Baqarah[2]: 263).

Yang dimaksud ialah kalimat yang baik dan doa buat orang muslim.

وَمَغْفِرَةٌ

“Dan pemberian maaf.” (QS. Al-Baqarah[2]: 263).

Yakni memaafkan dan mengampuni perbuatan aniaya yang ditujukan terhadap dirinya, baik berupa ucapan maupun perbuatan.

خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُها أَذىً

lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Baqarah[2]: 263).

Dari Abdullah bin 'Amru dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ.

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. al-Bukhari 10, 6468, Muslim 41).

وَإ ِمَاطَتُكَ الْـحَجَرَ وَالشَّوْكَةَ وَالْعَظْمَ عَنِ الطَّرِيْقِ لَكَ صَدَقَةٌ وَإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِـيْ دَلْوِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ.

“Engkau menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan adalah sedekah, engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu adalah sedekah.” (HR. at-Tirmidzi 1956, Shahih Ibnu Hibban 474, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 572).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ.

 

“Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih, atau enam puluh cabang lebih. Yang paling utama yaitu perkataan La ilaha illallah, dan yang paling ringan yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan, malu itu termasuk bagian dari iman.” (HR. al-Bukhari 9, Muslim 35, Ahmad 9361, Abu Dawud 4676).

 

2.       Badzlu nada (memberikan manfaat dan kebaikan yang dimiliki).

Yaitu memberikan apa yang dimilikinya berupa harta atau ilmu, kedudukan, atau manfaat kebaikan lainnya.

Allah ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ.

Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang hari (secara) sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (QS. Al-Baqarah[2]:274).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نَفَقَةُ الرَّجُلِ عَلَـىٰ أَهْلِهِ صَدَقَةٌ.

“Nafkah seorang suami kepada keluarganya (istrinya) adalah sedekah.” (QS. al-Bukhari 4006, at-Tirmidzi 1965).

أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا.

“Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panas terik. Anjing itu menngelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya tersebut.” (HR. Ahmad 10583, Muslim 2245).

خَيْرُ الناسِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Thabrani al-Mu’jam al-Awasath 6/52, Dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam shahihul jami’ 3289, Ash-Shahihah 427).

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, Dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ

“Semua kebaikan itu adalah sedekah.” (HR. Bukhari 6021, Muslim 1005). 

3.       Thalaqatul wajhi (muka berseri-seri, ramah).

Yaitu dengan cara menampakkan wajah berseri apabila berjumpa dengan sesama. (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 1/457).

Allah ta’ala berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ.

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf[7]:199).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

“Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kau berada, dan hendaknya setelah melakukan kejelekan engkau melakukan kebaikan yang dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad 21354, at-Tirmidzi 1987, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam al-Misykah 16).

تَبَسُّمُكَ فِـيْ وَجْهِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ.

“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah…”(HR. at-Tirmidzi 1956, Shahih Ibnu Hibban 474, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 572).

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ.

“Janganlah engkau menganggap remeh perbuatan baik sedikit pun, meskipun engkau berjumpa saudaramu dengan wajah berseri-seri” (HR. Muslim 2626, Ahmad 20635).

 

 

-----000-----

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 6.

Ikhlas.

         

Dasar-dasar akhlak yang baik diantaranya yaitu:

1.    Ikhlas dan Ittiba’.

Ikhlas merupakan sumber kebaikan di dunia dan di akhirat, dimana seseorang tidak beramal kecuali karena Allah semata demiikian pula hendaknya ittiba’ yaitu mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, karena dengan berpatokan ikhlas dan ittiba’ ini menjadikan seseorang terbimbing.

Allah ta’ala berfirman:

ومَا أُمِرُوْا إِلاَّلِيَعْبُدُاللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…”(QS. Al-Bayyinah[98] : 5).

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ.

“Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar [39]:2).

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا.

“Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS. Alkahfi [18]:110).

Yakni dengan mengerjakan amal yang semata-mata hanya karena Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Demikianlah syarat utama dari amal yang diterima oleh Allah ta’ala, yaitu harus ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan syariat yang telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Kahfi [17]:110).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ, وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.

“Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.” (HR al-Bukhari 1, 6689, Muslim 1907).

Allah tidak melihat harta dan rupa seseorang akan Allah tetapi melihat hati dan amal perbuatan seseorang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلاَ صُوَرِكُـمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ.

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta-harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati-hati kalian dan amal-amal kalian.”(HR. Muslim 2564).

Banyak orang berkata, “Meskipun saya tidak shalat, tidak memakai jilbab yang penting hati kita baik dan tidak mengganggu orang lain.” Maka kita katakan, “ orang seperti ini baik menurut pandangan manusia tapi menurut Allah tidak demikian, karena Allah melihat hati kita dan amal perbuatan kita, seseorang yang tidak taat kepada Allah tidak dianggap baik oleh Allah ta’ala, hendaknya baik menurut manusia juga baik menurut Allah, yaitu mentaati apa yang diperintahkan Allah ta’ala.”

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah mengatakan, “Tidaklah aku mengobati suatu penyakit yang lebih sulit daripada masalah niatku. Karena ia sering berbolak-balik.” (lihat Hilyah thalabul ilmi syaikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid).

Yusuf bin al Husain ar-Razi rahimahullah mengatakan, ”Sesuatu yang paling sulit di dunia ini adalah ikhlas. Betapa sering aku berusaha mengenyahkan riya’ dari dalam hatiku, namun sepertinya ia kembali muncul dengan warna yang lain.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 25).

Diriwayatkan dari Mutharrif bin Abdullah rahimahullah bahwa dia mengatakan, ”Baiknya hati adalah dengan baiknya amalan. Sedangkan baiknya amalan adalah dengan baiknya niat.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 17)

Dari Ibnul Mubarak rahimahullah, dia mengatakan, ”Betapa banyak amal yang kecil menjadi besar gara-gara niat. Dan betapa banyak amal yang besar menjadi kecil gara-gara niat.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 17).

Sahl bin Abdullah  mengatakan: ”Tidak ada sesuatu yang lebih berat bagi jiwa daripada keikhlasan, karena di dalamnya hawa nafsu tidak dapat bagian sama sekali.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 25).

 

-----000----

 


AKHLAK MULIA

  Mukadimah إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَ...