Sabtu, 17 Oktober 2026

ADAB SEORANG MUSLIM DALAM BEKERJA DAN MENCARI REZEKI.

 





ADAB SEORANG MUSLIM DI DALAM BEKERJA.

 

Seorang muslim hendaknya memiliki adab dan prinsip yang baik di dalam bekerja dan mencari rezeki, hendaknya mengikuti bimbingan yang telah diatur di dalam agama ini.

Ratangnya rezeki bukan karena cerdasnya seseorang, karena kuat, karena waktu yang lama, akan tetapi menurut ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala, karena Allahlah yang mengatur rezki tersebut.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا.

“Sesungguhnya Rabbmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 30)

Oleh karena itu jangan sampai seseorang di dalam bekerja mencari rezeki sampai melalaikan Allah ta’ala yang mengatur rezeki tersebut, atau dengan cara yang keliru tanpa memperhatikan halal-haram, karena hal semacam ini dapat memberi dampak yang buruk kepada diri sendiri dan keluarganya.

Adapun di antara adab seorang muslim di dalam bekerja dan mencari rezeki sebagai berikut:

1.   Hendaknya bekerja dan mencari rezeki yang halal dan menjahui yang haram.

Hal ini karena merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ.

“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuhmu yang nyata.” (QS. Al-Baqarah[2]:168).

Allah ta’ala juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang telah kami rezkikan kepadamu dan bersukurlah kepada Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya saja.”(QS. Al-Baqarah[2]:172)

إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ، وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ

“Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas dan perkara yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang samar (syubhat), yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat, berarti dia telah menjaga agama dan kehormatannya. Barang siapa terjatuh ke dalam perkara syubhat, dia akan terjatuh ke dalam perkara haram...” (HR. Bukhari 52, Muslim 1599)

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ...

"Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil..." (QS. Al-Baqarah[2]: 188).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ .

"Akan datang pada manusia suatu  zaman, di mana seseorang tidak lagi memperdulikan dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram." (HR. Bukhari 2083, Ahmad 9620).

2.   Allah telah mencatat rezeki kita sebelum kita lahir.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ..

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu..” (QS. Al-Isra' [17]: 31)

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ.

 “..Kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan empat kata, rezkinya, ajalnya, celaka atau bahagia…” (HR. Bukhari 3208,  Muslim 2643).

Ini menunjukkan kemurahan Allah ta’ala kepada hamba-hamba-Nya, yang telah mencatat dan menetapkan rezeki bagi hambanya sebelum ia dilahirkan ke dunia.

3.   Hendaknya meyakini Allah telah menyediakan rezeki kita dan keluarga kita.

Bahkan Allah memberi rezeki kepada semua makhluk-Nya, baik manusia maupun binatang.

Allah ta’ala berfirman:

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا.

“Dan betapa banyak makhluk bergerak yang tidak dapat mengurus rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya ...” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 60).

Allah ta’ala juga berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرض إِلا عَلَى الله رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ.

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz).” (QS. Hud[11]: 6).

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki duduk di bawah pohon kurma. Kemudian dia terlentang dengan merebahkan punggungnya. Tiba-tiba dia melihat burung pipit yang di mulutnya terdapat buah, terbang dari pohon kurma yang berbuah ke pohon lain yang tidak berbuah. Dia melihat burung tersebut melakukan ini berulang-ulang. Dia pun heran terhadapnya. Dia berkata dalam hati, “Sungguh, saya akan memanjat pohon ini, agar saya tahu apa yang terjadi.” Lalu dia memanjat pohon. Ternyata dia melihat di dalam pelepah pohon kurma ada seekor ular buta yang membuka mulutnya. Sedangkan burung pipit menjatuhkan buah di mulut ular tersebut. Dia pun merasa takjub dengan kejadian ini dan berkata, “Maha Benar Allah yang telah berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرض إِلا عَلَى الله رِزْقُهَا…

“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.” (QS. Hud: 6)

Diceritakan bahwa Ibnu Absyadz an-Nahwi suatu hari sedang berada di atap Masjid Jami Mesir. Dia makan suatu makanan. Di sisinya terdapat banyak orang. Lalu seekor kucing mendatangi mereka. Lantas mereka memberikan sesuap makanan kepada kucing tersebut. Kucing itu pun mengambil dengan mulutnya dan pergi meninggalkan mereka. Kemudian kucing tersebut kembali lagi, lalu mereka melemparkan kepadanya makanan lain. Lantas kucing itu pun melakukan hal yang sama sampai berulang-ulang. Setiap kali mereka melemparkan makanan, kucing itu mengambilnya, lalu pergi, kemudian kembali lagi seketika. Sehingga, mereka merasa heran dengan kucing tersebut. Mereka yakin bahwa makanan semisal itu tidak mungkin dimakan si kucing sendirian karena terlalu banyak.

Ketika mereka penasaran dengan kejadian tersebut, maka mereka mengikuti kucing. Ternyata mereka mendapatinya naik ke atas dinding di atap Masjid Jami, kemudian ia turun ke tempat yang searah dengannya di antara reruntuhan. Ternyata di dalamnya terdapat kucing lain yang buta. Semua makanan yang diambil si kucing dibawa kepada kucing yang buta tersebut dan diletakkan di hadapannya, lalu kucing buta memakannya. (Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1).

4.   Kewajiban kita bersungguh-sungguh dalam berusaha.

Allah ta’ala berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ.

“Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah.” (QS. Al-Jumu'ah [62]: 10).

Kebanyakan ahli tafsir di antaranya As-Sadi, megatakan, “carilah karunia Allah.” yaitu “carilah rezeki.” (Tafsir As-Sa’di, QS. Al-Jum’ah [62]:10).

Allah ta’ala berfirman:

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا. وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا.

“Dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian (waktu istirahat). Dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS. An-Naba’ [78]: 10–11).

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا.

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qasas [28]: 77)

Maksudnya, gunakanlah harta yang berlimpah dan nikmat yang bergelimang sebagai karunia Allah kepadamu ini untuk bekal ketaatan kepada Tuhanmu dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengerjakan berbagai amal pendekatan diri kepada-Nya, yang dengannya kamu akan memperoleh pahala di dunia dan akhirat.

{وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا}

Dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. (Al-Qashash [28]: 77)

Yakni yang dihalalkan oleh Allah berupa makanan, minuman, pakaian, rumah dan perkawinan. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Qashas [28]:77).

Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa seorang muslim hendaknya senantiasa menjaga ibadahnya kepada Allah, sekaligus tetap berusaha mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di dunia.

Oleh karena itu Rasulullah melarang meminta-minta dan memerintahkan berusaha meskipun harus menjual kayu bakar.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ.

"Sungguh, jika salah seorang di antara kalian membawa seikat kayu bakar di punggungnya (untuk dijual), itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada seseorang, yang bisa jadi orang itu memberinya atau menolaknya." (HR. Bukhari 2074, Muslim 1042).

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Bersungguh-sungguhlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau merasa lemah. Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau mengatakan, ‘Seandainya dahulu aku melakukan ini, tentu akan terjadi begini dan begitu.’ Akan tetapi, katakanlah, ‘Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki, pasti Dia lakukan.’ Sesungguhnya, ucapan ‘seandainya’ membuka pintu perbuatan setan.”.” (HR. Muslim 2664, Ahmad 1147, Ibnu Majah 79, dengan lafad Muslim).

5.   Bertakwa memudahkan seseorang di dalam mencari rezki, bermaksiat dapat menghalangi rezeki.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ.

“Barang siapa bertaqwa kepada Allah, Allah akan memberinya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangka. (QS. At-Thalaq[65]:2-3).

Sebaliknya kemaksiatan dapat menghalangi rezeki seseorang.

Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ.

“Sesungguhnya seseorang benar-benar dapat terhalang dari rezekinya karena dosa yang dilakukannya.” (HR. Ahmad 22386, Ibnu Hibban 872,  dihasankan Syaikh al-Albani di dalam as-Shahihah 154).

Kemaksiatan tersebut bisa terjadi pada seorang kuli, karyawan, bengkel, pengusaha, pedagang, pemborong, pegawai, hingga pejabat.

Apabila mereka tidak jujur, tidak amanah, suka berbohong, berhianat, menipu, mencuri, korupsi, selain hal itu tidak akan menjadikan barakah pada harta, setiap saat bisa saja Allah akan menghentikan rezkeki tersebut, sebagaimana hadits di atas.

6.   Allah akan mencukupi kepada orang-orang yang bertawakal.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ.

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Thalaq [65]:3).

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)

Akan tetapi tawakal yang benar dilakukan setelah seseorang berusaha.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ ، تَغدُوْ خِمَاصًا. وتَرُوْحُ بِطَانًا .

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sungguh-sungguh tawakkal kepada-Nya, niscaya kalian akan diberikan rizki oleh Allah sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung. Pagi hari burung tersebut keluar dalam keadaan lapar dan di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR Ahmad 205, Tirmidzi 2344, Ibnu Majah 4164, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Silsilah Al Hadist As Sahihah 310).

Dahulu Rasulullah dan para sahabat juga berusaha, ada yang berdagang, bercocok tanam dan lainya.

7.   Meyakini bahwasanya rezeki akan mendatangi pemiliknya.

Sebagian orang dengan adanya persaingan menganggap rezekinya pindah kepada orang lain, padahal semua itu tidak lain bagian dari taqdir baik menjadi bertambah maupun berkurang rezeki tersebut.

Allah ta’ala berfirman:

وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ.

“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 22).

Kebanyakan ahli tafsir mengatakan yaitu “air hujan” (Tafsir ath-Thabari, Ibnu Katsir, al-Qurtubi, QS. Adz-Dzariyat [51]: 22).

Allah yang berada di atas langit yang mengatur rezeki tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ هَرَبَ مِنْ رِزْقِهِ كَمَا يَهْرُبُ مِنَ الْمَوْتِ لَأَدْرَكَهُ رِزْقُهُ كَمَا يُدْرِكُهُ الْمَوْتُ

 “Seandainya anak Adam lari dari rezekinya sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan mendatanginya sebagaimana kematian mendatanginya.” (HR. Abu Na’im di dalam Hilyah Auliya 7/90 , dishahihkan Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah: 952).

Hendaknya seseorang menjadi tentram hatinya dengan ayat dan hadits di atas.

8.   Banyak sedikitnya rezeki bukan ukuran kecintaan Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman:

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ . وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ. كَلَّا…

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku” dan adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku, Sekali-kali tidak!...“ (QS. Al-Fajr [89]:15-17).

Allah ta’ala juga berfirman:

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ.

“Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Teliti terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya, Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura [42]: 27)

Ibnu Katsir rahimahulah berkata:

Yakni Allah memberi mereka sebagian dari rezeki yang dikehendaki-Nya untuk kebaikan mereka sendiri, Dia Maha Mengetahui tentang hal tersebut. Untuk itu Dia menjadikan kaya orang yang berhak menjadi kaya, dan menjadikan fakir orang yang berhak menjadi fakir.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Asy-Syura [42]:27).

Oleh karena itu Allah ta’ala berfirman:

وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216).

Rasullullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, justru mengkuatirkan apabila dunia dibuka bagi umatnya, Beliau bersabda:

مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنِّي أَخْشَى أنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُم.

“Bukan kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian, melainkan aku khawatir dunia dibentangkan kepada kalian, sebagaimana dibentangkan terhadap orang-orang yang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba meraihnya. Kemudian dunia itu membinasakan kalian sebagaimana dia telah membinasakan mereka.” (HR. Bukhari 4015 Muslim 2961).

9.   Banyak dan sedikitnya harta adalah ujian dari Allah ta’ala.

Hendaknya seseorang memahami bahwasanya rezeki banyak maupun sedikit adalah ujian dari Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ.

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah[2]:155).

Bahkan apabila harta yang banyak tidak digunakan di dalam ketaatan bisa jadi hal itu adalah istidraj dari Allah, (yaitu ditarik kedalam kebinasaan ranpa di sadari).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ.

”Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Di dhahihkan Syaikh al-Albani di dalam as-shahihah 414).

10.                     Seseorang tidak akan mati kecuali rezekinya telah di sempurnakan.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَأَنَّ الرُّوحَ الْأَمِينَ نَفَثَ فِي رُوعِيَ أَنَّهُ لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا, فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ, وَلَا يَحْمِلَنَّكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ تَطْلُبُوهُ بِمَعَاصِي اللهِ, فَإِنَّهُ لَا يُدْرَكُ مَا عِنْدَ اللهِ إِلَّا بِطَاعَتِهِ.

“Dan sungguh Ar-Ruhul Amin (Malaikat Jibril yang terpercaya) telah menyampaikan kepadaku bahwa tidak akan mati satu jiwa sampai ia menyempurnakan rezekinya, maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari rezki, dan sekali-kali janganlah lambatnya rezeki menjadikan kalian mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah, karena sesungguhnya tidak akan diraih apa yang ada di sisi Allah kecuali dengan menaati-Nya.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8/166, Baihaqi 9891, Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami’ 2085).

Dari Salamah bin Sulaiman berkata:

Ada seorang laki-laki datang kepada Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah, lalu memohon agar beliau melunasi utang yang menjadi tanggungannya. Abdullah bin al-Mubarak kemudian menulis surat kepada pegawainya.

Ketika surat itu sampai kepada pegawainya, ia bertanya kepada laki-laki tersebut, “Berapa jumlah utang yang engkau minta kepada Abdullah agar beliau melunasinya untukmu?”

Laki-laki itu menjawab, “Tujuh ratus dirham.”

Pegawai tersebut kemudian menulis surat kepada Abdullah bin al-Mubarak, “Sesungguhnya laki-laki ini meminta kepadamu agar engkau melunasi utangnya sebesar tujuh ratus dirham, tetapi engkau menulis surat kepadaku agar memberikan tujuh ribu dirham kepadanya. Padahal, hasil usaha kita telah habis.”

Abdullah bin al-Mubarak lalu membalas surat tersebut:

“Jika hasil usaha kita telah habis, sesungguhnya umur pun telah habis. Maka laksanakanlah untuknya apa yang telah ditetapkan oleh penaku.”  (Siyar A‘lam an-Nubala’, biografi Abdullah bin al-Mubarak 7/369, Imam Adz-Dzahabi).

Demikianlah semoga bermanfaat, aamiin.

 

-----000-----

 

Sragen 17-10-2026.

Junaedi Abdullah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Kamis, 15 Oktober 2026

TASHFIYAH DAN TARBIYAH

 

TASHFIYAH DAN TARBIYAH

Berusaha Mengembalikan Kemurnian Islam

 

Bagi para juru dakwah dan pemerhati sejarah mereka tidak akan mengingkari zaman keemasan Islam di mana Islam mengalami kejayaan.

Seiring berjalannya waktu, jauhnya masa kenabian berbagai ajaran mengkontaminasi (mengotori) Islam menjadikan Islam dan kaum muslimin mengalami kemunduran yang luar biasa.

Oleh karena itu pentingnya kita kembali memurnikan ajaran ini, diantaranya sebagai berikut:

1.   Pengertian tashfiah dan tarbiah.

Tashfiyah (تصفية) diambil dari kata Shafa (صفاء) yang artinya adalah jernih. jadi تصفية maknanya adalah proses pemurnian.

Secara istilah Tashfiah yaitu:

تَصْفِيَةُ الْعُلُومِ الشَّرْعِيَّةِ مِمَّا عَلِقَ بِهَا مِنِ اجْتِهَادَاتٍ مَرْجُوحَةٍ، اعْتَمَدَتْ عَلَى أَدِلَّةٍ غَيْرِ ثَابِتَةٍ، أَوْ دَلَالَاتٍ غَيْرِ ظَاهِرَةٍ.

“Memurnikan ilmu-ilmu syariat dari berbagai ijtihad yang lemah (tidak kuat pendapatnya) yang melekat padanya, yang didasarkan pada dalil-dalil yang tidak sahih atau petunjuk dalil yang tidak jelas. (Al-Manhajus Salafi ‘inda Syaikh Nashiruddin al-Albani, hlm. 207).

 

 

Tarbiyah berasal dari Rabaa-Yarbuu yang artinya berkembang, atau berasal dari kata Rabiya-Yarbaa yang artinya menjadi besar atau dewasa, bisa juga diambil dari kata Rabba-Yarubbu yang artinya mengurusi. (At-Tashfiyah wat Tarbiyah wa Atsaruhuma fit Ta’nafil Hayatil Islamiyyah, karya Ali bin Hasan al-Halabi al-Atsari).

Adapun secara istilah, sebagaimana diungkapkan oleh Amr Abdul Mun’im Salim:

تَهْذِيبُ الْأَخْلَاقِ، وَالتَّمَسُّكُ بِأَخْلَاقِ الشَّرِيعَةِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا فِي الْعِبَادَاتِ وَالْمُعَامَلَاتِ، عَلَى أَصْلٍ أَصِيلٍ، أَلَا وَهُوَ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ.

“Memperbaiki akhlak dan berpegang teguh pada akhlak yang diajarkan oleh syariat, baik secara lahir maupun batin, dalam ibadah dan muamalah, dengan berlandaskan pada landasan yang kokoh, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.”

2.   Pemurnian ajaran Islam dari penyimpangan.

Berbagai ajaran aqidah ibadah dan pemikiran liberal, semua itu  disusupkan kedalam Islam baik hal ini akan diketahui orang-orang yang berpemahaman lurus.

Oleh karena itu harus ada pembersihan dan pemurnian, diantaranya:

1)  Tashfiah Di bidang manhaj (metode memahami agama).

Yang dimaksud dengan manhaj adalah metode dalam beragama. Kesalahan dalam manhaj dapat menjadi sumber kesalahan dalam bidang agama lainnya.

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, serta bantahlah mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl [16]: 125).

2)  Tashfiah di bidang aqidah.

Hal ini di karenakan banyak kaum muslimin mereka masuk kedalam Islam namun masih meyakini ajaran-ajaran di luar Islam, misalnya ajaran Hindu.

Mereka mengagungkan tempat-tempat tertentu seperti punden, pohon keramat, dan lainnya, kemudian mereka memberinya sesaji.

Padahal hal semacam ini merupakan bentuk larangan keras di dalam agama.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ.

“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, Maka Sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim." (QS Yunus[10]:106).

“Dalam sebagian tradisi masyarakat Muslim Jawa bahkan sekarang telah merambat ke berbagai daerah, praktik-praktik yang berkaitan dengan kehamilan, kelahiran, hingga kematian memperlihatkan adanya perpaduan antara ajaran Islam dan tradisi lokal yang dipengaruhi oleh kepercayaan Hindu-Buddha.”

Padahal Allah perintahkan kita agar masuk Islam serara keseluruhan.

Allah ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ .

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam (kedamaian) secara menyeluruh dan janganlah ikuti langkah-langkah setan! Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]:208).

Mereka juga menolak sifat-sifat Allah ta’ala dan menetapkan sebagian kecil saja, sebagian lagi mereka menta’wil sifat-sifat Allah ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.

“Tidak ada yang suatupun yang serupa dengan Allah, dan Dia maha mendengar dan melihat.” (QS. Asy-Syura[42]: 11).

3)  Tashfiah di bidang ibadah.

Kita menyaksikan berbagai macam ibadah yang tidak di ajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Padahal jelas Allah hanya perintahkan kita mengambil dan mengamalkan apa yang diperintahkan Rasululah:

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا.

“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr [59]: 7).

Ibnu Katsir mengatakan: “Yakni apa pun yang diperintahkan oleh Rasul kepada kalian, maka kerjakanlah; dan apa pun yang dilarang olehnya, maka tinggalkanlah. Karena sesungguhnya yang diperintahkan oleh Rasul itu hanyalah kebaikan belaka, dan sesungguhnya yang dilarang olehnya hanyalah keburukan belaka.” (Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Hasyr [59]: 7).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ,  وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ .

“Barang siapa yang membuat perkara baru dalam urusan agama yang tidak ada perintah dari kami maka tertolak.” Dalam riwayat Muslim, “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka tertolak.” (HR. Bukhari 2697, Muslim 1718).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ فَمَنْ؟

“Sungguh, kalian akan mengikuti langkah orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta. Kalaupun mereka menempuh jalur lubang dhabb (binatang sejenis biawak), niscaya kalian akan menempuhnya.” Kami mengatakan, “Ya Rasulullah, apakah jalan orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Bukhari 3456 dan Muslim 2669 dari sahabat Abu Sa’id al- Khudri radhiyallahu ‘anhu)

4)  Tashfiah di bidang Sunnah.

Banyak kaum muslimin mereka mengamalkan hadits-hadits palsu, maudh’u dan tidak ada asal-usulnya.

5)  Tashfiah dibidang fikih.

Banyak kaum muslimin mereka mengambil dalil-dalil yang membolehkan riba, musik dan lainnya.

Hal ini telah di kabarkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam:

 إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ.

“Apabila kalian telah berjual beli dengan cara Al-‘Inah dan kalian telah ridho dengan perkebunan dan kalian telah mengambil ekor-ekor sapi dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian suatu kehinaan yang (Allah) tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud 3462 dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam As-Shahihah 11).

Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:

عَنْ ثَوْبَانَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا، فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ.

“Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti makanan yang di perebutkan di tempatnya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih yang mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa takut dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shallallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 4297 Amad 22397 di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam As-Shahihah 958)

Setelah itu mentarbiah generasi dengan ajaran yang murni .

Imam Malik رحمه الله berkata:

لَنْ يُصْلِحَ آخِرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا.

"Tidak akan dapat memperbaiki umat ini melainkan dengan apa yang telah membuat baik generasi pertama umat ini (Shahabat). "

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

-----000-----

15-10-2026

Abu Ibrahim Junaedi

ADAB SEORANG MUSLIM DALAM BEKERJA DAN MENCARI REZEKI.

  ADAB SEORANG MUSLIM DI DALAM BEKERJA.   Seorang muslim hendaknya memiliki adab dan prinsip yang baik di dalam bekerja dan mencari rezeki...