MUJMAL USUL
AHLU SUNNAH WA JAMA’AH
BAB 2 NO 6
IMAN KEPADA
PARA NABI DAN RASUL.
٦ -الْإِيمَانُ بِأَنْبِيَاءِ اللَّهِ
وَرُسُلِهِ ـ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ ـ وَأَنَّهُمْ أَفْضَلُ
مِمَّنْ سِوَاهُمْ مِنَ الْبَشَرِ وَمَنْ زَعَمَ غَيْرَ ذٰلِكَ فَقَدْ كَفَرَ.
وَمَا صَحَّ فِيهِ الدَّلِيلُ بِعَيْنِهِ مِنْهُمْ,
وَجَبَ الْإِيمَانُ بِهِ مُعَيَّنًا, وَيَجِبُ الْإِيمَانُ بِسَائِرِهِمْ إِجْمَالًا. وَأَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَفْضَلُهُمْ وَآخِرُهُمْ وَأَنَّ اللَّهَ أَرْسَلَهُ لِلنَّاسِ جَمِيعًا.
6.Beriman kepada para nabi dan rasul Allah —
semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada mereka — dan bahwa mereka lebih
utama daripada seluruh manusia lainnya. Barang siapa menganggap selain mereka
lebih utama, maka ia telah kafir. Nabi dan rasul yang disebutkan secara jelas
oleh dalil yang sahih, maka wajib diimani secara khusus (satu per satu). Adapun
yang lainnya,wajib diimani secara global (ijmali). Dan bahwa Muhammad ﷺ adalah yang paling utama di antara mereka,
dan terakhir, serta Allah mengutus beliau kepada seluruh manusia.
-----000-----
Penjelasan:
Wajib bagi
kaum muslimin beriman kepada para Nabi dan Rasul.
Allah Ta’ala
berfirman:
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ
وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ.
“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang
diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman.
Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan
Rasul-Rasul-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 285).
Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika
ditanya tentang rukun iman beliau bersabda:
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ
وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ
بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.
“Kamu beriman kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir, dan
kamu beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim 8).
Adapun di
antara uraian iman terhadap para nabi dan para rasul sebagai berikut:
1. Pengertian Nabi
dan Rasul.
1)
Menurut
bahasa “nabi” berasal dari kata naba-a yang artinya mengabarkan.
Sedangkan menurut istilah, “nabi”
adalah seorang laki-laki yang diberi kabar (wahyu) oleh Allah ta’ala untuk
meneruskan syariat rasul sebelumnya.
2)
Adapun
“rasul” secara bahasa artinya orang yang diutus untuk menyampaikan sesuatu.
Sedangkan makna “rasul” secara istilah adalah setiap manusia yang diberi wahyu
berupa syariat tertentu dan diperintahkan untuk disampaikan. (Lihat Syarh Ushul
Iman, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin).
Dari sini
kita mengetahui bahwa setiap rasul pasti nabi dan setiap nabi belum tentu
seorang rasul.
2. Kewajiban
beriman kepada para nabi dan rasul.
Syaikh Muhammad ibn
Shalih Al-Utsaimin menyampaikan dalam kitabnya Syarh Tsalatsatul Ushul,
keimanan pada rasul terkandung empat unsur di dalamnya, yaitu:
1) Mengimani Bahwa Allah
Benar-Benar Mengutus Para Nabi dan Rasul.
Allah ta’ala berfirman:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا
رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ
لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ.
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa
bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan
neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (QS. Al Hadid
[57]: 25)
رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ
وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللهِ حُجَّةُ بَعْدَ الرُّسُلِ.
“Mereka para rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan
agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya
rasul-rasul itu.” (QS. An Nisaa [4]: 165).
Orang yang mengingkari (merkipun seorang rasul)
sama saja mengingkari seluruh Rasul.
Allah ta’ala berfirman:
كَذَّبَتْ
قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ
“Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 105).
Walaupun kaum Nuh hanya mendustakan Nabi
Nuh, akan tetapi Allah menjadikan mereka mendustakan seluruh para rasul, dan
menjadikan kekafiran bagi pelakunya.
Allah ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا ءَامِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ
عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَن يَكْفُرْ بِاللهِ
وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ فَقَدْ ضَلَّ
ضَلاَلاً بَعِيدًا.
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah
beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada
Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir
kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasul-Nya, dan hari
kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (QS. An Nisaa[4]:136).
2) Mengimani Nama-Nama Nabi dan
Rasul yang Kita Ketahui dan Mengimani secara Global Nama-Nama Nabi dan Rasul
yang Tidak Kita Ketahui.
Allah ta’ala berfirman:
وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ
إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ.
“Tidak ada satu umat pun, melainkan mereka telah ada yang memberi
peringatan.” (QS. Fathir [35]: 24).
Para nabi dan rasul tersebut ada yang diceritakan kepada kita ada
juga yang tidak.
Allah ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا
رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ
نَقْصُصْ عَلَيْكَ.
“Dan Sesungguhnya Telah kami utus beberapa orang Rasul sebelum
kamu, di antara mereka ada yang kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka
ada (pula) yang tidak kami ceritakan kepadamu.” (QS. Ghafir [40]: 78)
Oleh
karena itu para nabi dan rasul sangat banyak sekali sebagaimana disebutkan di dalam
hadits yang shahih .
Dari
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah bertanya kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam:
يَا رَسُولَ اللهِ كَمِ الْمُرْسَلُونَ؟ قَالَ:
ثَلَاثُمِائَةٍ وَبِضْعَةَ عَشَرَ جَمًّا غَفِيرًا. قَالَ: قُلْتُ آدَمُ نَبِيٌّ
كَانَ؟ قَالَ: نَعَمْ نَبِيُّ مُكَلَّمٌ.
“Wahai
Rasulullah, berapakah jumlah rasul?” Beliau menjawab: “Sekitar tiga ratus belasan orang. Banyak
sekali.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman 129 dan dishahihkan Syaikh al Abani di
dalam Al-Misykah 5669).
Adapun
di dalam riwayat Abu Umamah Abu Dzar bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam: “Berapa jumlah persis para nabi.” Beliau menjawab:
مِائَةُ أَلْفٍ وَأَرْبَعَةٌ وَعِشْرُونَ أَلْفًا
الرُّسُلُ مِنْ ذَلِكَ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَخَمْسَةَ عَشَرَ جَمًّا غَفِيرًا.
“Jumlah
para nabi 124.000 orang, 315 diantara mereka adalah rasul. Banyak sekali.” (HR.
Ahmad 22288, dishahih Syaikh Al Bani di dalam
Al-Misykah 5737).
3) Membenarkan Berita-Berita
yang Sahih dari Para Nabi dan Rasul.
Kita tidak boleh mendustakan para rasul
dan apa yang mereka bawa.
Allah ta’ala berfirman:
وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ
الْمُبِينُ.
“Dan kewajiban Rasul hanyalah menyampaikan dengan jelas.” (QS.
An-Nur [24]: 54).
قَالُوا إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا
وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَٰنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ .قَالُوا
رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ . وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ
الْمُبِينُ.
“Mereka berkata, ‘Kamu hanyalah manusia seperti kami, dan Tuhan
Yang Maha Pengasih tidak menurunkan sesuatu pun. Kamu hanyalah berdusta.’
Mereka (para rasul) berkata, ‘Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami
adalah orang-orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami hanyalah
menyampaikan dengan jelas.’” (QS. Yasin [36]: 15–17)
Allah ta’ala juga berfirman:
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ . إِنْ
هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ.
“Dan tidaklah dia berbicara
menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang
diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm [53]: 3–4).
وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ
. لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ .
ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ . فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ
حَاجِزِينَ.
“Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas
(nama) Kami, pasti Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian Kami potong
urat nadinya. Maka tidak seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi Kami
(untuk menghukumnya).” (QS. Al-Haqqah [69]: 44–47).
4) Mengamalkan Syariat Nabi dan
Rasul yang Diutus kepada Kita.
Para nabi dan rasul mereka memiliki
syari’at berbeda-beda.
Allah ta’ala berfirman:
لِكُلٍّ جَعَلْنَا
مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا..
“Kami telah jadikan masing-masing dari kalian syariat dan juga
cara.” (QS. Al Maidah[5]: 48).
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ
مِنْ عَلَّاتٍ، وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى، وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ، فَلَيْسَ بَيْنَنَا
نَبِيٌّ.
“Para Nabi itu adalah saudara satu bapak, ibu-ibu mereka berbeda,
akan tetapi agama mereka satu.” (HR. Muslim 2365, Ahmad 8258).
Imam Nawawi berkata:
جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ: مَعْنَى الْحَدِيثِ
أَنَّ أَصْلَ إِيمَانِهِمْ وَاحِدٌ، وَشَرَائِعَهُمْ مُخْتَلِفَةٌ؛ فَإِنَّهُمْ
مُتَّفِقُونَ فِي أُصُولِ التَّوْحِيدِ، وَأَمَّا فُرُوعُ الشَّرَائِعِ فَوَقَعَ
فِيهَا الِاخْتِلَافُ.
“Menurut jumhur ulama, makna hadis tersebut adalah bahwa pokok
keimanan para nabi itu satu, sedangkan syariat mereka berbeda-beda. Mereka
sepakat dalam pokok-pokok tauhid. Adapun cabang-cabang syariat, maka terdapat
perbedaan di dalamnya.” (Syarah Muslim Imam Nawawi 15/119)
Setiap
umat wajib mengikuti nabi yang diutus kepada mereka. Setelah diutusnya Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, seluruh manusia wajib mengikuti syariat
beliau.
Allah ta’ala berfirman:
مَا كَانَ
مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ رِّجَالِكُمْ وَلٰكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَاتَمَ
النَّبِيّٖنَ.
“Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang
di antara kamu, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para nabi. Dan Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab [33]: 40).
قُلْ يَا
أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا.
“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah
utusan Allah kepada kamu semua.’” (QS. Al-A’raf [7]: 158)
Allah ta’ala berfirman:
فَلاَ
وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ
لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ
تَسْلِيماً
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman
hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan,
kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap
putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’[4]: 65)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ تَسُوسُهُمُ
الْأَنْبِيَاءُ، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ
بَعْدِي.
“Sesungguhnya Bani Israil dahulu diatur dan dipimpin oleh para
nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, digantikan oleh nabi yang lain. Dan
sesungguhnya tidak ada nabi setelahku.” (HR. Bukhari 3455, Muslim 1842).
Dari Abbu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
وَالَّذِي
نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ
يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي
أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ.
“Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah
seseorang dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, mendengar tentang aku,
kemudian dia meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada risalah yang aku
bawa, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim 153, Ahmad 8609).
3. Dakwah Para Nabi Dan Rasul Mengajak Kepada Tauhid Dan Melarang
Kesyirikan.
Allah ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ
بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا
الطَّاغُوتَ.
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap
umat (untuk menyerukan), "Sembahlah Allah (saja), dan
jauhilah tagut itu.." (QS. An-Nahl[16]: 36).
Ibnul Qayyim menjelaskan:
الطَّاغُوتُ
كُلُّ مَا تَجَاوَزَ بِهِ الْعَبْدُ حَدَّهُ مِنْ مَعْبُودٍ أَوْ مَتْبُوعٍ أَوْ
مُطَاعٍ.
Thaghat adalah segala sesuatu yang dilampaui batas oleh seorang
hamba dalam bentuk disembah, diikuti, atau ditaati. (Majmu’ Fatawa wa Rasail
2/198, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin).
Allah ta’ala juga berfirman:
وَمَا
أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا
إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ.
“Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi
Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain
Aku. Maka, sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’[21]:25).
وَإِنْ مِنْ
أُمَّةٍ إِلا خَلا فِيهَا نَذِيرٌ.
“Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang
pemberi peringatan.” (QS. Fathir[35]: 24).
أَمْ
كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا
تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ
إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ
مُسْلِمُونَ.
“Apakah
kamu (hadir) menjadi saksi menjelang kematian Ya‘qub ketika dia berkata kepada
anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan
menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu: Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu)
Tuhan Yang Maha Esa dan (hanya) kepada-Nya kami berserah diri.” (QS.
Al-Baqarah[2]:133).
وَقَالُوا
كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى تَهْتَدُوا قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا
وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ.
Mereka
berkata, “Jadilah kamu (penganut) Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat
petunjuk.” Katakanlah, “(Tidak.) Akan tetapi, (kami mengikuti) agama Ibrahim
yang lurus dan dia tidak termasuk orang-orang musyrik.”
(QS.Al-Baqarah[2]:135-136).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَالَ: لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ،
وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ، حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ،
وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ .
“Barangsiapa
yang mengucapkan: 'La ilaha illallah', dan mengingkari apa yang disembah selain
Allah, maka terjagalah harta dan darahnya, dan perhitungannya terserah kepada
Allah. (HR. Muslim 23)
4.
Allah Menguatkan Para
Nabi Dan Rasul Dengan Berbagai Mukjizat.
Hal
itu untuk menampakkan kebenaran yang mereka bawa.
Adapun
di antara mukjizat para nabi dan rasul tersebut yaitu:
·
Nabi Shalih alaihis salam
Kaum Tsamut meminta tanda kenabian, maka Allah keluarkan
Unta betina yang besar sebagai tanda dan mukjizat dari Allah.
Allah ta’ala berfirman:
وَيَا قَوْمِ هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي
أَرْضِ اللَّهِ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ.
“Wahai kaumku! Inilah unta betina dari Allah sebagai
tanda bagi kalian. Maka biarkanlah ia makan di bumi Allah dan janganlah kalian
menyentuhnya dengan keburukan, yang menyebabkan kalian ditimpa azab yang
pedih.” (QS. Al-A’raf [7]:73)
Unta tersebut merupakan mukjizat yang Allah berikan
kepada Nabi Shalih alaihis salam sebagai bukti kebenaran risalahnya. Allah
sendiri menyebutnya sebagai “ayat”, yaitu tanda yang nyata.
·
Nabi Ibrahim alaihis salam
Api tidak bisa membakar nabi Ibrahim ‘alaihi salam.
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا
وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ.
“Kami berfirman, ‘Wahai api! Jadilah kamu dingin dan
keselamatan bagi Ibrahim." (QS. Al-Anbiya [21]: 69).
Ketika kaumnya pada puncak kemarahan kepada nabi Ibrahim
alaihis salam kemudian mereka menyuruh mengumpulkan kayu sehingga kayu tekumpul
seperti gunung lalu nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam api dengan manjanik, kemudian
Allah perintahkan api tersebut agar
menjadi dingin dan keselamatan baginya.
·
Nabi Musa alaihis salam
Allah ta’ala memberi nabi Musa alaihis salam beberapa
mukjizat:
Allah ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَىٰ تِسْعَ
آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ.
“Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa
sembilan tanda yang nyata.” (QS. Al-Isra [17]: 101).
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa tanda-tanda
tersebut merupakan bukti nyata atas kebenaran kenabian Musa alaihis salam.
·
Tongkat yang dapat berubah menjadi ular.
فَأَلْقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ
ثُعْبَانٌ مُبِينٌ.
“Lalu dia melemparkan tongkatnya, maka tiba-tiba
tongkat itu menjadi ular yang nyata.” (QS. Al-A'raf [7]: 107).
·
Tangan menjadi putih bercahaya bukan karena penyakit.
Allah ta’ala berfirman:
وَنَزَعَ يَدَهُ فَإِذَا هِيَ
بَيْضَاءُ لِلنَّاظِرِينَ.
“Dan dia mengeluarkan tangannya, maka seketika itu
tangannya menjadi putih bercahaya bagi orang-orang yang melihat.” (QS. Al-A'raf
[7]: 108).
·
Tongkat yang dapat membelah laut.
Allah ta’ala berfirman:
فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ
اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانْفَلَقَ
“Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah laut itu
dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah laut itu.” (QS. Asy-Syu'ara [26]: 63).
· Air yang dapat
keluar dari batu.
Allah ta’ala berfirman:
وَاِذِ اسْتَسْقٰى مُوْسٰى
لِقَوْمِهٖ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْحَجَرَۗ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ
اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۗ قَدْ عَلِمَ كُلُّ اُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ .
“(Ingatlah) ketika Musa memohon (curahan) air untuk
kaumnya. Lalu, Kami berfirman, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!” Maka,
memancarlah darinya (batu itu) dua belas mata air. Setiap suku telah mengetahui
tempat minumnya (masing-masing)..” (QS. Al-Baqarah [2]: 60)
· Tongkat nabi Musa
menelan tali-tali para tukang sihir.
Allah ta’ala berfirman:
فَأَلْقَىٰ مُوسَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا
هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ.
“Maka Musa melemparkan tongkatnya, tiba-tiba tongkat
itu menelan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-A'raf [7]: 117).
· Menghidupkan orang
yang telah meninggal.
Allah ta’ala berfirman:
وَاِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادّٰرَءْتُمْ فِيْهَا ۗ وَاللّٰهُ مُخْرِجٌ مَّا
كُنْتُمْ تَكْتُمُوْنَ ۚ فَقُلْنَا اضْرِبُوْهُ بِبَعْضِهَاۗ كَذٰلِكَ يُحْيِ
اللّٰهُ الْمَوْتٰى وَيُرِيْكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ
“(Ingatlah) ketika kamu membunuh seseorang lalu kamu saling
tuduh tentang itu. Akan tetapi, Allah menyingkapkan apa yang selalu kamu
sembunyikan.” Lalu, Kami berfirman,
“Pukullah (mayat) itu dengan bagian dari (sapi) itu!” Demikianlah Allah
menghidupkan (orang) yang telah mati,..“ (QS. Al-Baqarah [2]:72-73).
Para tukang sihir kemudian mengetahui bahwa yang
dibawa Musa bukanlah sihir, tetapi mukjizat dari Allah, merekapun akhirnya
sujud dan bertaubat. Demikian pula 7 tanda bukti kekuasaan Allah:
Allah ta’ala berfirman:
فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوْفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ
وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ اٰيٰتٍ مُّفَصَّلٰتٍۗ فَاسْتَكْبَرُوْا وَكَانُوْا
قَوْمًا مُّجْرِمِيْن.
“Maka, Kami kirimkan kepada mereka (siksa berupa) banjir besar,
belalang, kutu, katak, dan darah (air minum berubah menjadi darah) sebagai
bukti-bukti yang jelas dan terperinci. Akan tetapi, mereka tetap menyombongkan
diri dan mereka adalah kaum pendurhaka.” (QS. Al-A’raf [7]: 133).
5) Nabi Dawud
alaihis salam
·
Besi dilunakkan untuknya.
وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ
“Dan Kami telah
melunakkan besi untuknya.” (QS. Saba [34]: 10).
Allah memberikan
keistimewaan kepada nabi Dawud alaihis salam sehingga besi menjadi lunak di
tangannya. Dengan itu ia dapat membuat baju-baju besi.
·
Gunung dan burung bertasbih bersamanya.
يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ
وَالطَّيْرَ.
“Wahai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah
berulang-ulang bersama Dawud.” (QS. Saba [34]: 10)
6) Nabi Sulaiman
alaihis salam
·
Angin ditundukkan untuknya
وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ
“Dan Kami tundukkan angin bagi Sulaiman.” (QS. Saba
[34]: 12).
Allah menjadikan angin tunduk kepada perintah Sulaiman
alaihis salam. Allah menyebutkan bahwa perjalanan paginya sama dengan
perjalanan sebulan dan perjalanan sorenya sama dengan perjalanan sebulan.
·
Jin ditundukkan kepada nabi Sulaiman.
Allah ta’ala berfirman:
وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَعْمَلُ
بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ
“Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya
dengan izin Rabbnya.” (QS. Saba [34]: 12).
·
Memahami bahasa binatang.
Allah
ta’ala berfirman:
وَقَالَ
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَاُوْتِيْنَا مِنْ كُلِّ
شَيْءٍۗ اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِيْنُ
Dan dia (Sulaiman) berkata, “Wahai manusia, kami telah
diajari (untuk memahami) bahasa burung dan kami dianugerahi segala sesuatu. “ (QS.
An-Naml [27]: 18).
.حَتّٰىٓ
اِذَآ اَتَوْا عَلٰى وَادِ النَّمْلِۙ قَالَتْ نَمْلَةٌ يّٰٓاَيُّهَا النَّمْلُ
ادْخُلُوْا مَسٰكِنَكُمْۚ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمٰنُ وَجُنُوْدُهٗۙ وَهُمْ
لَا يَشْعُرُوْنَ.
“hingga ketika sampai di lembah semut, ratu semut berkata,
“Wahai para semut, masuklah ke dalam sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh
Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya.” (QS.
An-Naml [27]: 18).
7) Nabi Ayyub
alaihis salam
Setelah Allah uji dengan sakit bertahun-tahun,
hartanya habis, anaknya meninggal dan manusia menjauh darinya, kemudian Allah
kembalikan semua itu kepadanya.
Allah ta’ala berfirman:
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ
أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ
“Dan Ayyub ketika dia berdoa kepada Rabbnya, ‘Sungguh,
aku telah ditimpa penyakit.” (QS. Al-Anbiya [21]: 83)
Kemudian Allah menyembuhkan:
فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ
“Maka
Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya.” (QS. Al-Anbiya [21]: 84)
Dari Abu
hurairah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بَيْنَمَا أَيُّوبُ يَغْتَسِلُ عُرْيَانًا، خَرَّ
عَلَيْهِ رِجْلُ جَرَادٍ مِنْ ذَهَبٍ، فَجَعَلَ يَحْثِي فِي ثَوْبِهِ، فَنَادَاهُ
رَبُّهُ يَا أَيُّوبُ أَلَمْ أَكُنْ أَغْنَيْتُكَ عَمَّا تَرَى، قَالَ بَلَى يَا
رَبِّ، وَلَكِنْ لاَ غِنَى لِي عَنْ بَرَكَتِكَ
“Ketika
Ayyub sedang mandi dalam keadaan telanjang, tiba-tiba jatuh kepadanya sekawanan
belalang dari emas. Ayyub pun mengambilnya dan memasukkannya ke dalam
pakaiannya. Kemudian Rabb-nya memanggilnya, ‘Wahai Ayyub, bukankah Aku telah
mencukupkanmu dari apa yang engkau lihat?’ Ayyub menjawab, ‘Benar, wahai
Rabb-ku, tetapi aku tidak pernah merasa cukup dari keberkahan-Mu.’” (HR.
Bukhari 3391, Ahmad 8159).
8) Nabi Yunus
alaihis salam.
Nabi Yunus diutus kepada 100 ribu orang atau lebih.
Diawal dakwah beliau umatnya mengingkari, kemudian
datanglah tanda-tanda azab turun, melihat hal itu nabi Yunus meninggalkan
kaumnya, maka Allah menegur beliau sedangkan umatnya bertaubat dan Allah
menghilangkan azab tersebut.
وَأَرْسَلْنَاهُ
إِلَىٰ مِائَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيدُونَ . فَآمَنُوا فَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ.
“Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu
mereka beriman, maka Kami beri mereka kenikmatan hidup sampai waktu tertentu.”
(QS. Ash-Shaffat [37]: 147–148)
· Diselamatkan
ke dalam perut ikan
فَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَهُوَ
مُلِيمٌ
“Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan
tercela.” (QS. Ash-Shaffat [37]: 142).
· Kemudian atas
ijin dari Allah dikeluarkan dari perut ikan.
فَنَبَذْنَاهُ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ
سَقِيمٌ.
“Kemudian Kami melemparkannya ke daratan yang tandus
dalam keadaan sakit.” (QS. Ash-Shaffat [37]: 145).
Allah menyelamatkan nabi Yunus alaihis salam setelah
ia berdoa kepada-Nya.
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي
كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Tidak
ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau, sungguh aku
termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 87)
9) Nabi Isa
alaihis salam
Allah menyebutkan beberapa mukjizat nabi Isa alaihis
salam dengan sangat jelas:
·
Membuat bentuk burung dari tanah lalu menjadi burung.
Allah ta’ala berfirman:
أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ
الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ
اللَّهِ
“Sesungguhnya aku membuatkan untuk kalian dari tanah
sesuatu yang berbentuk burung, kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor
burung dengan izin Allah.” (QS. Ali Imran [3]: 49).
·
Menyembuhkan orang yang buta sejak lahir.
Allah ta’ala
berfirman:
وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ بِإِذْنِ
اللَّهِ.
“Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak lahir
dengan izin Allah.” (QS. Ali Imran [3]: 49).
· Menyembuhkan
penyakit kusta.
Allah ta’ala berfirman:
وَالْأَبْرَصَ بِإِذْنِ اللَّهِ
“Dan orang yang berpenyakit kusta dengan izin Allah.” (QS.
Ali Imran [3]: 49).
·
Menghidupkan orang mati.
Allah ta’ala berfirman:
وَأُحْيِي الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِ
اللَّهِ.
“Dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah.”
(QS. Ali Imran [3]: 49)
·
Memberitahukan apa yang dimakan dan disimpan manusia
Allah ta’ala berfirman:
وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ
وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ
“Dan aku memberitahukan kepada kalian apa yang kalian
makan dan apa yang kalian simpan di rumah-rumah kalian.” (QS. Ali Imran [3]:
49).
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
Mukjizat beliau sangat banyak. Di antara yang paling jelas dan memiliki dalil
kuat:
·
Kitab suci Al-Qur’an
Allah ta’ala berfirman:
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ
وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ
بِمِثْلِهِ.
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin
berkumpul untuk membuat yang semisal dengan Al-Qur’an ini, mereka tidak akan
dapat membuat yang semisal dengannya.” (QS. Al-Isra [17]: 88).
Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mukjizat yang terus ada sampai hari kiamat.
·
Bulan terbelah.
Allah ta’ala berfirman:
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ
الْقَمَرُ
“Telah dekat hari Kiamat dan bulan telah terbelah.”
(QS. Al-Qamar [54]: 1)
Peristiwa terbelahnya bulan juga ditegaskan dalam
hadis sahih.
·
Air memancar dari sela-sela jari.
Allah ta’ala berfirman:
فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ إِلَى المَاءِ
يَنْبُعُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِهِ» قَالَ أَنَسٌ: فَحَزَرْتُ مَنْ تَوَضَّأَ، مَا
بَيْنَ السَّبْعِينَ إِلَى الثَّمَانِينَ
“Lalu aku melihat air memancar dari sela-sela jari-jari beliau.”
Anas berkata, “Aku memperkirakan orang-orang yang berwudu ketika itu antara 70
sampai 80 orang.” (HR. Bukhari 200, Muslim 2279).
· Batang kurma
menangis
Allah ta’ala berfirman:
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa
berkhutbah di dekat sebuah batang kurma, kemudian beliau menggunakan mimbar,
batang kurma tersebut menangis. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian
mendatanginya dan memeluknya hingga berhenti menangis.
Ini merupakan mukjizat yang disaksikan oleh para
sahabat dan diriwayatkan dalam hadis-hadis sahih.
·
Makanan menjadi banyak.
Ketika perang khandak nabi diundang salah seorang
sahabat, sahabat ini berpesan agar mengajak beberapa orang saja, namun nabi
mengajak orang banyak, sahabat yang mengundang inipun cemas, kemudian nabi berdoa
kepada Allah, makanan yang sedikit itu menjadi cukup untuk banyak orang setelah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa atau menyentuh makanan tersebut. Ini
termasuk mukjizat yang menunjukkan keberkahan yang Allah berikan kepada beliau.
·
Batu memberi salam kepada beliau
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنِّي لَأَعْرِفُ حَجَرًا بِمَكَّةَ
كَانَ يُسَلِّمُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ أُبْعَثَ
“Sungguh, aku mengetahui sebuah batu di Makkah yang
dahulu memberi salam kepadaku sebelum aku diutus.” (HR. Muslim)
Perlu diperhatikan bahwa setiap mukjizat tersebut
disertai penegasan بِإِذْنِ اللَّهِ,
“dengan izin Allah”. Jadi, semua mukjizat terjadi dengan kekuasaan Allah.
5.
Orang-orang yang
menyelisihi umat-umat dahulu akan dihinakan dan dibinasakan.
Allah
perintahkan setiap umat mentaati nabi dan rasul-yang diutus kepada mereka.
Allah
ta’ala berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ
رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ.
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul
melainkan untuk ditaati dengan izin Allah..” (QS.An-Nisa[4]:64).
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ
فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ.
“Barang siapa mentaati Rasul (Muhammad)
sesungguhnya dia telah mentaati Allah.” (QS. An-Nisa[4]:80).
وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
”Dan barangsiapa mentaati Allah dan
Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS.
Al-Ahzab[33]:71).
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ
الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ
أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ.
"Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka
dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara
mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan kami patuh.’ Mereka itulah orang-orang
yang beruntung.” (QS An-Nur [24]: 51).
Ketika mereka berpaling Allah akan binasakan baik di dunia
maupun nanti di akhirat.
Allah ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ
يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ كُبِتُوا كَمَا كُبِتَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ.
“Sesungguhnya
orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya pasti mendapat kehinaan,
sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan.”(QS.
Al-Mujadilah[58]: ayat 5).
وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ
وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّحُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ
عَذَابٌ مُهِينٌ.
“Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar
batas-batas hukum-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, dia
kekal di dalamnya dan dia akan mendapat azab yang menghinakan.” (QS. An-Nisa
[4]:14)
Demikianlah semoga bermanfaat.
-----000-----
Sragen 30-09-2026
Abu Ibrahim Junaedi