Selasa, 20 Oktober 2026

MUJMAL USUL BAB 2 NO 7 WAHYU TELAH TERPUTUS SETELAH RASULULLAH.

 

MUJMAL USUL AHLU SUNNAH WA JAMA’AH

BAB 2 NO 7

WAHYU TELAH TERPUTUS SETELAH RASULULLAH.

 

٧- الإِيمَانُ بِانْقِطَاعِ الْوَحْيِ بَعْدَ مُحَمَّدٍ ﷺ وَأَنَّهُ خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ. وَمَنْ اعْتَقَدَ خِلَافَ ذٰلِكَ كَفَرَ.

7.Beriman bahwa wahyu telah terputus setelah Muhammad ﷺ, dan bahwa beliau adalah penutup para nabi dan rasul. Barang siapa meyakini selain itu, maka ia kafir.

 

-----000----

 

Penjelasan:

 

1.   Nabi shallallahu ‘alaihhi wa sallam adalah utusan Allah yang terakhir.

Ahlus Sunnah wal Jamaah mengimani bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan yang terakhir.

Allah ta’ala berfirman:

Allah ta’ala berfirman:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ رِّجَالِكُمْ وَلٰكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَاتَمَ النَّبِيّٖنَ.

“Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab [33]: 40).

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا.

“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kamu semua.’” (QS. Al-A’raf [7]: 158)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ.

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya (21): 107).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ تَسُوسُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي.

“Sesungguhnya Bani Israil dahulu diatur dan dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, digantikan oleh nabi yang lain. Dan sesungguhnya tidak ada nabi setelahku.” (HR. Bukhari 3455, Muslim 1842).

Dari Abbu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ.

“Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, mendengar tentang aku, kemudian dia meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada risalah yang aku bawa, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim 153, Ahmad 8609).

2.   Mengimani wahyu telah terputus setelah wafat Rasulullah.

Allah telah memberikan isyarat bahwa Rasulullah sebagaimana para nabi dan rasul sebelumnya wafat, beliau juga akan wafat.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu biasa mengikutsertakanku dalam majelis bersama para sesepuh Perang Badar. Sebagian dari mereka berkata, “Mengapa engkau mengikutsertakan anak muda ini bersama kita, padahal kita juga mempunyai anak-anak yang sebaya dengannya?”

Umar menjawab, “Sesungguhnya dia termasuk orang yang telah kalian ketahui keutamaannya.”

Ibnu Abbas melanjutkan: Pada suatu hari, Umar mengundang mereka dan mengundangku bersama mereka. Menurutku, beliau mengundangku pada hari itu tidak lain untuk memperlihatkan keutamaanku kepada mereka.

Umar kemudian bertanya, “Apa pendapat kalian tentang firman Allah ta’ala:

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ . وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا . فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا.

‘Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.’” (QS. An-Nashr [110]: 1–3).

Sebagian dari mereka menjawab, “Kita diperintahkan untuk memuji Allah dan memohon ampun kepada-Nya apabila kita mendapatkan pertolongan dan kemenangan.” Sebagian yang lain berkata, “Kami tidak mengetahui jawabannya.” Atau, sebagian dari mereka tidak mengatakan apa pun. Kemudian Umar berkata kepadaku, “Wahai Ibnu Abbas, apakah demikian pendapatmu?” Aku menjawab, “Tidak.” Umar bertanya, “Lalu apa pendapatmu?” Aku menjawab, “Surah tersebut merupakan pemberitahuan tentang dekatnya ajal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang Allah sampaikan kepada beliau. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, yaitu kemenangan atas Kota Makkah, maka itulah tanda dekatnya ajal beliau. Oleh karena itu, Allah memerintahkan beliau untuk bertasbih dengan memuji-Nya dan memohon ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.”

Umar kemudian berkata, “Aku tidak mengetahui makna surah itu selain seperti yang engkau ketahui.” (HR. Bukhari 4970).

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul; sungguh, telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 144).

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, para sahabat diliputi kesedihan yang sangat mendalam. Mereka sangat mencintai beliau, sehingga sebagian dari mereka pada awalnya sulit menerima kenyataan bahwa beliau telah wafat.

Bahkan sahabat Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu tidak dapat menerima kenyataan tersebut. Beliau berdiri dan menyatakan bahwa Rasulullah belum wafat.

Kemudian Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu datang, masuk menemui Rasulullah, lalu mencium beliau. Setelah itu, Abu Bakar keluar menemui orang-orang dan meminta mereka untuk tenang. Beliau kemudian memuji Allah dan menyampaikan:

“Barang siapa di antara kalian menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Namun, barang siapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah Mahahidup dan tidak akan pernah mati.”

Setelah itu, Abu Bakar membacakan Surah Ali ‘Imran ayat 144.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan bahwa seolah-olah orang-orang belum pernah mengetahui bahwa Allah telah menurunkan ayat tersebut sebelum Abu Bakar membacakannya. Setelah mendengarnya, mereka pun mulai mengulang-ulang ayat itu.

Adapun Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa ketika mendengar Abu Bakar membacakan ayat tersebut, kedua kakinya terasa tidak mampu menopang tubuhnya hingga ia terjatuh. Saat itulah beliau menyadari bahwa Rasulullah benar-benar telah wafat.

3.   Akan muncul para pendusta yang mengaku nabi setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah merupakan utusan terakhir, hal ini Sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala di dalam surat Al-Ahzab [33]:40.

Rasulullah juga mengatakan bahwa akan ada para pendusta yang mengaku sebagai nabi.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدِ انْقَطَعَتْ، فَلَا رَسُولَ بَعْدِي وَلَا نَبِيَّ.

“Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah berakhir. Maka, tidak ada rasul setelahku dan tidak ada nabi.” (HR. Ahmad 13823, Tirmidzi 2272. Dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam al-Irwa’ 2473).

Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ، كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ، وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ، لَا نَبِيَّ بَعْدِي.

“Sesungguhnya akan muncul di tengah umatku tiga puluh orang pendusta. Masing-masing dari mereka mengaku bahwa dirinya adalah seorang nabi. Padahal, aku adalah penutup para nabi, dan tidak ada nabi setelahku.” (HR. Abu Dawud 4252, Tirmidzi 2219, dan Ibnu Majah 3952, Dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 1683).

Adapun di antara nabi-nabi palsu tersebut telah ada semenjak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup sampai pada jaman kita sekarang ini, dan tidak semuanya kita catat.

1)   Al-Aswad Al-‘Ansi - Yaman, sekitar 632 M. Mengaku sebagai nabi menjelang wafatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2)   Musailamah Al-Kadzdzab -Yamamah, Arab, sekitar 631–632 M. Mengaku sebagai nabi dan memiliki banyak pengikut.

3)   Thulaihah bin Khuwailid Al-Asadi -Arab, sekitar 632 M. Mengaku sebagai nabi, kemudian bertobat menurut riwayat sejarah Islam.

4)   Sajah binti Al-Harits - Jazirah Arab, sekitar 632 M. Mengaku sebagai nabi dan memiliki pengikut.

5)   Al-Mukhtar bin Abi ‘Ubaid - Irak, abad ke-7 M. Tokoh politik-keagamaan yang dikaitkan dengan klaim kenabian dalam sebagian sumber sejarah.

6)   Al-Harits bin Sa‘id - Syam, sekitar akhir abad ke-7 M. Dilaporkan mengaku sebagai nabi.

7)   Al-Muqanna‘ (Hasyim bin Hakim) - Asia Tengah, abad ke-8 M. Tokoh yang gerakannya dikaitkan dengan klaim keagamaan luar biasa.

8)   Mirza Ghulam Ahmad - Qadian, India, akhir abad ke-19. Mengaku sebagai Al-Masih yang dijanjikan dan Al-Mahdi. Pengikut Ahmadiyah Qadianiyah menerima klaim kenabiannya menurut pemahaman mereka.

9)   Lia Aminuddin (Lia Eden) - Jakarta, Indonesia, sejak 1997. Mengaku menerima pesan atau wahyu melalui Malaikat Jibril.

10)                    Ahmad Mushaddeq - Indonesia, 2006. Mengaku sebagai rasul, kemudian dilaporkan mencabut pengakuannya.

Dan sebagian tidak di bukukan karena berangkat pengakuan tersebut disebabkan dari kejahilan.

4.   Bimbingan Raulullah, pujian dan taqrir (pembenaran) ketika beliau masih hidup dan wahyu belum putus.

Para sahabat selalu dibimbing Rasulullah ketika melakukan satu amalan, baik melalui contoh beliau, pujian apa yang dilakukan kepada para sahabat, maupun taqrir (pembenaran) adapun contohnya sebagai berikut:

1)   Bilal selalu menjalankan shalat setelah wudhu. (HR. al-Bukhari 1149).

2)   Sahabat yang shalat dengan bacaan “wal hamdulillahi hamdan katsiran tayyiban mubarakan fiih” (HR. Muslim 600, Abu Dawud 774, Ibnu Hibban 845).

3)   Sahabat yang shalat tidak pernah meninggalkan surat Al-Ikhlas. Ada yang mengatakan bernama Qatadah bin Nu’man. (HR. Bukhari 774, Tirmidzi 2901).

4)   Sahabat yang meruqyah dengan membaca Al Fatihah. (HR. Bukhari 5736, Muslim 2201).

5.   Bimbingan Rasulullah berupa larangan ketika masih hidup wahyu belum putus.

1)   Tiga sahabat yang mendatangi umul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anh dan bertanya tentang ibadah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari 5063, Muslim 1401).

2)   Larangan menyembelih Kurban sebelum shalat id. (HR. Bukhari 7400, Muslim 985).

3)   Larangan Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam menyerupai suatu kaum. (HR. Abu Dawud no. 4031 di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam Irwa’ul Ghalil 2384).

4)   Nadzar yang terlarang seperti kesyirikan, menyakiti badan atau hal-hal yang sia-sia. (HR al-Bukhari 6700).

5)   Larangan mengkhususkan puasa pada hari jum’at saja.

Dari abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ.

“Janganlah salah seorang di antara kalian berpuasa pada hari Jum’at kecuali jika ia berpuasa pula pada hari sebelum atau sesudahnya.” (HR. al-Bukhari 1849, Muslim 1929).

6)   Meminta dibuatkan sesembahan seperti Dzatu anwath, hal ini sebagaimana bani Israil meminta dibuatkan anak sapi, (QS. Al A’raf [7]: 138).

Ketika fatkhul Makkah banyak sahabat yang baru masuk Islam, tidak selang beberapa lama kemudian orang-orang berangkat perang menuju Hunain, kemudian mereka melewati pohon milik orang kafir sehingga mereka meminta untuk dibuatkan Dzatu Anwath seperti mereka.

يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ. فَقَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى .

“Ya Rasulullah, Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka (orang musyrik) memiliki Dzatu Anwath.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Subhanallah! ini sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Musa.” (HR. Ahmad 21900, Tirmidzi. 2180, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam dzilalul Jannah 76. Adapun Dzatu an-wath adalah pohon yang dipakai menggantungkan pedang orang-orang musyrik).

 

6.   Bagaimana mengamalkan wahyu ketika Rasulullah telah wafat dan wahyu telah putus.

Para sahabat adalah manusia pilihan yang hidup dinaungi oleh wahyu, dimana wahyu turun kepada mereka siang maupun malam yang akan membenarkan atau meluruskan mereka apabila keliru melalui Rasul-Nya.

Namun ketika Rasulullah telah wafat wahyu telah terputus maka tidak boleh seseorang berbuat suatu amalan dengan alasan para sahabat juga melakukan, karena sebagaimana telah dipaparkan di atas ada para sahabat yang dibenarkan adapula yang dilarang, siapa yang akan meluruskan kesalahannya..? sementara Islam telah sempurna dengan wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut.

Allah ta’ala berfirman:

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًا.

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah [5]: 3).

Adapun dari hadits, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ.

“Aku tinggalkan kalian dalam keadaan terang-benderang, siangnya seperti malamnya. Tidak ada yang berpaling dari keadaan tersebut kecuali ia pasti celaka.” (HR. Ahmad 17142, Ibnu Majah 43, Thabrani 619, disahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ 4369).

Dari Salman Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

قِيلَ لَهُ: قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ قَالَ: فَقَالَ: أَجَلْ.

“Orang-orang musyrik telah bertanya kepada kami, ‘Sesungguhnya Nabi kalian sudah mengajarkan kalian segala sesuatu sampai (diajarkan pula adab) buang air besar!’ Maka, Salman radhiyallahu anhu menjawab, ‘Ya’. ” (HR. Muslim 262, Tirmidzi. 16).

7.   Tidak boleh membuat syari’at betapapun tinggi derajat seseorang.

Hal ini karena pensyari’atan adalah wenamg Allah secara mutlak, siapapun tidak boleh melakukan hal itu.

Allah ta’ala berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang menetapkan aturan agama bagi mereka yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura [42]: 21).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ. مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ .

“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan bagian darinya, maka amalan itu tertolak.” “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka tertolak.” (HR. Bukhari 2697, Muslim 1718).

Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata:

مَن اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ.

“Barangsiapa yang menganggap baik sesuatu (menurut pendapatnya), sesungguhnya ia telah membuat syari’at” (Al-Jami’us Shahih Lissunnani wal Masanid 5:34, Shuhaib ‘Abdul Jabbar).

8.   Siapapun yang mengaku setelah Rasulullah ada nabi lagi maka dia bisa kafir.

Barang siapa mengaku menjadi nabi, atau mengakui adanya nabi lagi yang membawa ajaran baru sama halnya telah mendustakan Al-Qur’an dan Sunnah, wajib ditegakkan hujah padanya bila menolak dapat menjadikan orang tersebut kafir.

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ. وَاِنَّهُمْ لَيَصُدُّوْنَهُمْ عَنِ السَّبِيْلِ وَيَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ.

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sungguh, mereka (setan-setan itu) benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar, sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (QS. Az-Zukhruf [35]: 36-37).

Yakni orang ini yang berpaling dari kebenaran, Kami adakan baginya setan-setan yang menyesatkan dirinya dan menunjukkan kepadanya jalan ke neraka Jahim.(Tafsir Ibnu Katsir QS Az-Zuhruf [43]: 36-37).

9.   Tidak boleh bicara agama tanpa didasar ilmu.

Allah ta‘ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا.

“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’ [17]:36

 

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ.

“Janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, “Ini halal dan ini haram,” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung. (QS. An-Nahl [16]: 116).

 

Ayat ini menjadi peringatan agar tidak menetapkan halal, haram, sunnah, wajib, atau bentuk ibadah tanpa ilmu. Menghormati ulama tidak berarti menganggap mereka maksum. Jika terjadi perselisihan, dalil dipelajari dengan adab, ilmu, dan bimbingan ulama, jangan menjadikan fanatisme kepada tokoh atau kelompok sebagai pengganti hujah.

10.                     Tidak boleh mengikuti kesesatan apabila telah jelas kesesatannya.

Hal ini sebagaimana para pengikut Fir’aun.

Allah ta’ala berfirman:

فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ.

“Maka Kami menghukum dia (Fir‘aun) beserta bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang zalim.” (QS. Al-Qashash [28]: 40).

Demikian pula siapapun yang mengikuti para tokoh kesesatan, baik itu orang yang mengaku nabi, wali, maupun lainnya jika telah jelas permasalahannya maka dia akan turut menanggung dosa-dosannya.

Allah ta’ala berfirman:

رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar.” (QS. Al-Ahzab [33]: 67)

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

-----000-----

 

Sragen 21-10-2026

Abu Ibrahim Junaedi

 

Sabtu, 17 Oktober 2026

ADAB SEORANG MUSLIM DALAM BEKERJA DAN MENCARI REZEKI.

 





ADAB SEORANG MUSLIM DI DALAM BEKERJA.

 

Seorang muslim hendaknya memiliki adab dan prinsip yang baik di dalam bekerja dan mencari rezeki, hendaknya mengikuti bimbingan yang telah diatur di dalam agama ini.

Ratangnya rezeki bukan karena cerdasnya seseorang, karena kuat, karena waktu yang lama, akan tetapi menurut ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala, karena Allahlah yang mengatur rezki tersebut.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا.

“Sesungguhnya Rabbmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 30)

Oleh karena itu jangan sampai seseorang di dalam bekerja mencari rezeki sampai melalaikan Allah ta’ala yang mengatur rezeki tersebut, atau dengan cara yang keliru tanpa memperhatikan halal-haram, karena hal semacam ini dapat memberi dampak yang buruk kepada diri sendiri dan keluarganya.

Adapun di antara adab seorang muslim di dalam bekerja dan mencari rezeki sebagai berikut:

1.   Hendaknya bekerja dan mencari rezeki yang halal dan menjahui yang haram.

Hal ini karena merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ.

“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuhmu yang nyata.” (QS. Al-Baqarah[2]:168).

Allah ta’ala juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang telah kami rezkikan kepadamu dan bersukurlah kepada Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya saja.”(QS. Al-Baqarah[2]:172)

إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ، وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ

“Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas dan perkara yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang samar (syubhat), yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat, berarti dia telah menjaga agama dan kehormatannya. Barang siapa terjatuh ke dalam perkara syubhat, dia akan terjatuh ke dalam perkara haram...” (HR. Bukhari 52, Muslim 1599)

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ...

"Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil..." (QS. Al-Baqarah[2]: 188).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ .

"Akan datang pada manusia suatu  zaman, di mana seseorang tidak lagi memperdulikan dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram." (HR. Bukhari 2083, Ahmad 9620).

2.   Allah telah mencatat rezeki kita sebelum kita lahir.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ..

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu..” (QS. Al-Isra' [17]: 31)

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ.

 “..Kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan empat kata, rezkinya, ajalnya, celaka atau bahagia…” (HR. Bukhari 3208,  Muslim 2643).

Ini menunjukkan kemurahan Allah ta’ala kepada hamba-hamba-Nya, yang telah mencatat dan menetapkan rezeki bagi hambanya sebelum ia dilahirkan ke dunia.

3.   Hendaknya meyakini Allah telah menyediakan rezeki kita dan keluarga kita.

Bahkan Allah memberi rezeki kepada semua makhluk-Nya, baik manusia maupun binatang.

Allah ta’ala berfirman:

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا.

“Dan betapa banyak makhluk bergerak yang tidak dapat mengurus rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya ...” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 60).

Allah ta’ala juga berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرض إِلا عَلَى الله رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ.

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz).” (QS. Hud[11]: 6).

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki duduk di bawah pohon kurma. Kemudian dia terlentang dengan merebahkan punggungnya. Tiba-tiba dia melihat burung pipit yang di mulutnya terdapat buah, terbang dari pohon kurma yang berbuah ke pohon lain yang tidak berbuah. Dia melihat burung tersebut melakukan ini berulang-ulang. Dia pun heran terhadapnya. Dia berkata dalam hati, “Sungguh, saya akan memanjat pohon ini, agar saya tahu apa yang terjadi.” Lalu dia memanjat pohon. Ternyata dia melihat di dalam pelepah pohon kurma ada seekor ular buta yang membuka mulutnya. Sedangkan burung pipit menjatuhkan buah di mulut ular tersebut. Dia pun merasa takjub dengan kejadian ini dan berkata, “Maha Benar Allah yang telah berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرض إِلا عَلَى الله رِزْقُهَا…

“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.” (QS. Hud: 6)

Diceritakan bahwa Ibnu Absyadz an-Nahwi suatu hari sedang berada di atap Masjid Jami Mesir. Dia makan suatu makanan. Di sisinya terdapat banyak orang. Lalu seekor kucing mendatangi mereka. Lantas mereka memberikan sesuap makanan kepada kucing tersebut. Kucing itu pun mengambil dengan mulutnya dan pergi meninggalkan mereka. Kemudian kucing tersebut kembali lagi, lalu mereka melemparkan kepadanya makanan lain. Lantas kucing itu pun melakukan hal yang sama sampai berulang-ulang. Setiap kali mereka melemparkan makanan, kucing itu mengambilnya, lalu pergi, kemudian kembali lagi seketika. Sehingga, mereka merasa heran dengan kucing tersebut. Mereka yakin bahwa makanan semisal itu tidak mungkin dimakan si kucing sendirian karena terlalu banyak.

Ketika mereka penasaran dengan kejadian tersebut, maka mereka mengikuti kucing. Ternyata mereka mendapatinya naik ke atas dinding di atap Masjid Jami, kemudian ia turun ke tempat yang searah dengannya di antara reruntuhan. Ternyata di dalamnya terdapat kucing lain yang buta. Semua makanan yang diambil si kucing dibawa kepada kucing yang buta tersebut dan diletakkan di hadapannya, lalu kucing buta memakannya. (Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1).

4.   Kewajiban kita bersungguh-sungguh dalam berusaha.

Allah ta’ala berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ.

“Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah.” (QS. Al-Jumu'ah [62]: 10).

Kebanyakan ahli tafsir di antaranya As-Sadi, megatakan, “carilah karunia Allah.” yaitu “carilah rezeki.” (Tafsir As-Sa’di, QS. Al-Jum’ah [62]:10).

Allah ta’ala berfirman:

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا. وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا.

“Dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian (waktu istirahat). Dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS. An-Naba’ [78]: 10–11).

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا.

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qasas [28]: 77)

Maksudnya, gunakanlah harta yang berlimpah dan nikmat yang bergelimang sebagai karunia Allah kepadamu ini untuk bekal ketaatan kepada Tuhanmu dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengerjakan berbagai amal pendekatan diri kepada-Nya, yang dengannya kamu akan memperoleh pahala di dunia dan akhirat.

{وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا}

Dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. (Al-Qashash [28]: 77)

Yakni yang dihalalkan oleh Allah berupa makanan, minuman, pakaian, rumah dan perkawinan. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Qashas [28]:77).

Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa seorang muslim hendaknya senantiasa menjaga ibadahnya kepada Allah, sekaligus tetap berusaha mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di dunia.

Oleh karena itu Rasulullah melarang meminta-minta dan memerintahkan berusaha meskipun harus menjual kayu bakar.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ.

"Sungguh, jika salah seorang di antara kalian membawa seikat kayu bakar di punggungnya (untuk dijual), itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada seseorang, yang bisa jadi orang itu memberinya atau menolaknya." (HR. Bukhari 2074, Muslim 1042).

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Bersungguh-sungguhlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau merasa lemah. Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau mengatakan, ‘Seandainya dahulu aku melakukan ini, tentu akan terjadi begini dan begitu.’ Akan tetapi, katakanlah, ‘Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki, pasti Dia lakukan.’ Sesungguhnya, ucapan ‘seandainya’ membuka pintu perbuatan setan.”.” (HR. Muslim 2664, Ahmad 1147, Ibnu Majah 79, dengan lafad Muslim).

5.   Bertakwa memudahkan seseorang di dalam mencari rezki, bermaksiat dapat menghalangi rezeki.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ.

“Barang siapa bertaqwa kepada Allah, Allah akan memberinya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangka. (QS. At-Thalaq[65]:2-3).

Sebaliknya kemaksiatan dapat menghalangi rezeki seseorang.

Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ.

“Sesungguhnya seseorang benar-benar dapat terhalang dari rezekinya karena dosa yang dilakukannya.” (HR. Ahmad 22386, Ibnu Hibban 872,  dihasankan Syaikh al-Albani di dalam as-Shahihah 154).

Kemaksiatan tersebut bisa terjadi pada seorang kuli, karyawan, bengkel, pengusaha, pedagang, pemborong, pegawai, hingga pejabat.

Apabila mereka tidak jujur, tidak amanah, suka berbohong, berhianat, menipu, mencuri, korupsi, selain hal itu tidak akan menjadikan barakah pada harta, setiap saat bisa saja Allah akan menghentikan rezkeki tersebut, sebagaimana hadits di atas.

6.   Allah akan mencukupi kepada orang-orang yang bertawakal.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ.

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Thalaq [65]:3).

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)

Akan tetapi tawakal yang benar dilakukan setelah seseorang berusaha.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ ، تَغدُوْ خِمَاصًا. وتَرُوْحُ بِطَانًا .

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sungguh-sungguh tawakkal kepada-Nya, niscaya kalian akan diberikan rizki oleh Allah sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung. Pagi hari burung tersebut keluar dalam keadaan lapar dan di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR Ahmad 205, Tirmidzi 2344, Ibnu Majah 4164, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Silsilah Al Hadist As Sahihah 310).

Dahulu Rasulullah dan para sahabat juga berusaha, ada yang berdagang, bercocok tanam dan lainya.

7.   Meyakini bahwasanya rezeki akan mendatangi pemiliknya.

Sebagian orang dengan adanya persaingan menganggap rezekinya pindah kepada orang lain, padahal semua itu tidak lain bagian dari taqdir baik menjadi bertambah maupun berkurang rezeki tersebut.

Allah ta’ala berfirman:

وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ.

“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 22).

Kebanyakan ahli tafsir mengatakan yaitu “air hujan” (Tafsir ath-Thabari, Ibnu Katsir, al-Qurtubi, QS. Adz-Dzariyat [51]: 22).

Allah yang berada di atas langit yang mengatur rezeki tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ هَرَبَ مِنْ رِزْقِهِ كَمَا يَهْرُبُ مِنَ الْمَوْتِ لَأَدْرَكَهُ رِزْقُهُ كَمَا يُدْرِكُهُ الْمَوْتُ

 “Seandainya anak Adam lari dari rezekinya sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan mendatanginya sebagaimana kematian mendatanginya.” (HR. Abu Na’im di dalam Hilyah Auliya 7/90 , dishahihkan Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah: 952).

Hendaknya seseorang menjadi tentram hatinya dengan ayat dan hadits di atas.

8.   Banyak sedikitnya rezeki bukan ukuran kecintaan Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman:

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ . وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ. كَلَّا…

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku” dan adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku, Sekali-kali tidak!...“ (QS. Al-Fajr [89]:15-17).

Allah ta’ala juga berfirman:

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ.

“Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Teliti terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya, Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura [42]: 27)

Ibnu Katsir rahimahulah berkata:

Yakni Allah memberi mereka sebagian dari rezeki yang dikehendaki-Nya untuk kebaikan mereka sendiri, Dia Maha Mengetahui tentang hal tersebut. Untuk itu Dia menjadikan kaya orang yang berhak menjadi kaya, dan menjadikan fakir orang yang berhak menjadi fakir.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Asy-Syura [42]:27).

Oleh karena itu Allah ta’ala berfirman:

وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216).

Rasullullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, justru mengkuatirkan apabila dunia dibuka bagi umatnya, Beliau bersabda:

مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنِّي أَخْشَى أنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُم.

“Bukan kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian, melainkan aku khawatir dunia dibentangkan kepada kalian, sebagaimana dibentangkan terhadap orang-orang yang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba meraihnya. Kemudian dunia itu membinasakan kalian sebagaimana dia telah membinasakan mereka.” (HR. Bukhari 4015 Muslim 2961).

9.   Banyak dan sedikitnya harta adalah ujian dari Allah ta’ala.

Hendaknya seseorang memahami bahwasanya rezeki banyak maupun sedikit adalah ujian dari Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ.

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah[2]:155).

Bahkan apabila harta yang banyak tidak digunakan di dalam ketaatan bisa jadi hal itu adalah istidraj dari Allah, (yaitu ditarik kedalam kebinasaan ranpa di sadari).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ.

”Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Di dhahihkan Syaikh al-Albani di dalam as-shahihah 414).

10.                     Seseorang tidak akan mati kecuali rezekinya telah di sempurnakan.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَأَنَّ الرُّوحَ الْأَمِينَ نَفَثَ فِي رُوعِيَ أَنَّهُ لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا, فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ, وَلَا يَحْمِلَنَّكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ تَطْلُبُوهُ بِمَعَاصِي اللهِ, فَإِنَّهُ لَا يُدْرَكُ مَا عِنْدَ اللهِ إِلَّا بِطَاعَتِهِ.

“Dan sungguh Ar-Ruhul Amin (Malaikat Jibril yang terpercaya) telah menyampaikan kepadaku bahwa tidak akan mati satu jiwa sampai ia menyempurnakan rezekinya, maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari rezki, dan sekali-kali janganlah lambatnya rezeki menjadikan kalian mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah, karena sesungguhnya tidak akan diraih apa yang ada di sisi Allah kecuali dengan menaati-Nya.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8/166, Baihaqi 9891, Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami’ 2085).

Dari Salamah bin Sulaiman berkata:

Ada seorang laki-laki datang kepada Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah, lalu memohon agar beliau melunasi utang yang menjadi tanggungannya. Abdullah bin al-Mubarak kemudian menulis surat kepada pegawainya.

Ketika surat itu sampai kepada pegawainya, ia bertanya kepada laki-laki tersebut, “Berapa jumlah utang yang engkau minta kepada Abdullah agar beliau melunasinya untukmu?”

Laki-laki itu menjawab, “Tujuh ratus dirham.”

Pegawai tersebut kemudian menulis surat kepada Abdullah bin al-Mubarak, “Sesungguhnya laki-laki ini meminta kepadamu agar engkau melunasi utangnya sebesar tujuh ratus dirham, tetapi engkau menulis surat kepadaku agar memberikan tujuh ribu dirham kepadanya. Padahal, hasil usaha kita telah habis.”

Abdullah bin al-Mubarak lalu membalas surat tersebut:

“Jika hasil usaha kita telah habis, sesungguhnya umur pun telah habis. Maka laksanakanlah untuknya apa yang telah ditetapkan oleh penaku.”  (Siyar A‘lam an-Nubala’, biografi Abdullah bin al-Mubarak 7/369, Imam Adz-Dzahabi).

Demikianlah semoga bermanfaat, aamiin.

 

-----000-----

 

Sragen 17-10-2026.

Junaedi Abdullah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


MUJMAL USUL BAB 2 NO 7 WAHYU TELAH TERPUTUS SETELAH RASULULLAH.

  MUJMAL USUL AHLU SUNNAH WA JAMA’AH BAB 2 NO 7 WAHYU TELAH TERPUTUS SETELAH RASULULLAH.   ٧ - الإِيمَانُ بِانْقِطَاعِ الْوَحْيِ بَ...