٤- أُصُولُ
الدِّينِ كُلُّهَا قَدْ بَيَّنَهَا النَّبِيُّ ﷺ
وَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يُحْدِثَ شَيْئًا زَاعِمًا أَنَّهُ مِنَ الدِّينِ.
4.Seluruh pokok agama telah
dijelaskan oleh Nabi, dan tidak seorang pun berhak mengada-adakan sesuatu
dengan mengklaimnya sebagai bagian dari agama.
Penjelasan:
1.
Islam
adalah agama yang sudah sempurna.
Semua pokok-pokok agama ini
telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana hal itu
telah dinyatakan di dalam firman Allah ta’ala:
الْيَوْمَ
أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ
الْإِسْلَامَ دِينًا.
“Pada
hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu
ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS.
Al-Ma’idah [5] : 3).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا
كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ.
“Aku tinggalkan kalian dalam keadaan terang-benderang, siangnya seperti
malamnya. Tidak ada yang berpaling dari keadaan tersebut kecuali ia pasti
celaka.” (HR. Ahmad 17142, Ibnu Majah 43, Thabrani 619, disahihkan Syaikh
al-Albani di Shahihul Jami’ 4369).
إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلَّا
كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ
لَهُمْ، وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ.
“Sesungguhnya
tidak ada seorang
nabi pun sebelumku kecuali wajib atasnya menunjukkan kepada umatnya kebaikan
yang ia ketahui dan mengingatkan mereka kejelekan yang ia ketahui.” (HR. Muslim
1844, Ahmad 6793, Sunan Ibnu Majah 3956).
2.
Para
sahabat juga mengakui kesempurnaan Islam.
Dari Abu Dzar radiyallahu’anhu berkata:
تَرَكْنَا رَسُولَ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِي
الْهَوَاءِ إِلَّا وَهُوَ يُذَكِّرُنَا مِنْهُ عِلْمًا قَالَ: فَقَالَ: صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ
ويُبَاعِدُ مِنَ
النَّارِ إِلَّا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ.
“Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat meninggalkan
kami dan tidaklah ada burung yang mengepak-ngepakkan kedua sayapnya di udara
kecuali beliau telah menyebutkan kepada kami ilmunya.” Dia berkata, Rasulullah
sallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak tersisa suatu (amalan) pun yang
dapat mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali sudah
dijelaskan semuanya kepada kalian.”(HR. Ahmad no. 21439, ath-Thabrani dalam al
Mu’jamul Kabir no. 1647, disahihkan Syaikh al-AlBani di dalam ash-Shahihah 1803).
Dari Salman
Radhiyallahu anhu, beliau berkata:
قِيلَ لَهُ: قَدْ
عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى
الْخِرَاءَةَ قَالَ: فَقَالَ: أَجَلْ.
“Orang-orang musyrik telah
bertanya kepada kami, ‘Sesungguhnya Nabi kalian sudah mengajarkan kalian segala
sesuatu sampai (diajarkan pula adab) buang air besar!’ Maka, Salman radhiyallahu
anhu menjawab, ‘Ya’. (HR. Muslim 262, at-Tirmidzi 16).
3.
Larangan berbuat bid’ah di dalam agama.
Dafinisi
bid’ah secara bahasa yaitu: mengadakan satu perkara tanpa ada contoh
sebelumnya. (Al Mu’jam Al Wasith, 1/91).
Hal
ini sebagaimana di sebutkan Allah ta’ala di dalam firman-Nya:
بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ.
“Dialah
Allah Pencipta langit dan bumi.” (Al-Baqarah [2]: 117).
Yakni
menciptakan tanpa contoh sebelumnya.
قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِّنَ الرُّسُلِ.
Katakanlah
(Muhammad), “Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara rasul-rasul.” (QS.
Al-Ahqaf [46]:9).
Maksud
ayat ini, “ AKu bukan bukan pertama membawa risalah kepada hamba-hamba-Nya,
tetapi telah banyak para Rasul yang telah mendahului saya.
Adapun
definisi bid’ah secara istilah yang paling lengkap adalah apa yang tulis oleh
Imam Asy Syatibi dalam kitabnya Al I’tisham. Beliau mengatakan, bid’ah yaitu:
عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي
الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ للهِ
سُبْحَانَهُ.
“Sebuah
ungkapan pada tatacara di dalam beragama yang dibuat-buat menyerupai syari’at
(yang tidak ada dasarnya), dimaksudkan melakukan hal itu untuk berlebih-lebihan
dalam beribadah kepada Allah ta’ala.” (Al-I’tisam hal 31-32, Imam Asy-Syatibi).
Dari
definisi di atas jelaslah, banyak amalan-amalan yang dianggap benar kemudian di
amalkan saudara-saudara kita yang di atas namakan bagian ajaran islam, namun
Rasulullah dan para sahabatnya tidak pernah melakukan hal itu, dan tidak ada
dasarnya di dalam agama ini.
4.
Allah memerintahkan mengikuti dan mentaati Rasul-Nya.
Allah
ta’ala berfirman:
مَنْ يُّطِعِ
الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا ۗ
“Siapa
yang menaati Rasul (Muhammad), maka sungguh telah menaati Allah..(QS. An-Nisa[4]:80).
وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
”Dan barangsiapa mentaati Allah dan
Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS.
Al-Ahzab[33]:71).
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ
تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ.
Katakanlah, "Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah,
ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian,"
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Imran [3]: 31)
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا.
“Apa
yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu
maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr [59]: 7).
Ibnu
Katsir mengatakan: “Yakni apa pun yang diperintahkan oleh Rasul kepada kalian,
maka kerjakanlah; dan apa pun yang dilarang olehnya, maka tinggalkanlah. Karena
sesungguhnya yang diperintahkan oleh Rasul itu hanyalah kebaikan belaka, dan
sesungguhnya yang dilarang olehnya hanyalah keburukan belaka.” (Tafsir Ibnu
Katsir QS. Al-Hasyr [59]: 7).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ, وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ
أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ .
“Barang
siapa yang membuat perkara baru dalam urusan agama yang tidak ada perintah dari
kami maka tertolak.” Dalam riwayat Muslim, “Barangsiapa yang melakukan suatu
amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka tertolak.” (HR. Bukhari 2697,
Muslim 1718).
فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.
“Karena
setiap perkara yang baru (yang diada-adakan dalam perkara agama) adalah bid’ah
dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Ahmad 17144, Ibnu Majah 42, Abu Dawud
4607 dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam as-Shahihah 937).
مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ
فَاجْتَنِبُوهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ.
“Apa yang telah kularang kalian darinya,
maka jauhilah. Dan apa yang kuperintah kepada kalian, maka laksanakanlah
semampu kalian.” (HR. Bukhari 7288, Muslim 1337)
كُلُّ أُمَّتِي
يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ
أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى.
“Setiap umatku akan masuk ke dalam surga kecuali yang enggan.
Mereka para sahabat bertanya, “Siapa yang enggan?” Beliau berkata, “Barangsiapa
mentaatiku dia masuk ke dalam surga, dan barangsiapa bermaksiat padaku maka dia
telah enggan.”(HR. Bukhari 7280, Ahmad 8714).
Abdullah
bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً.
“Setiap
bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Syarah I’tiqad Ahli
Sunnah wal Jama’ah 126. Abul Qasim Al-Lalikai).
5.
Perbuatan bid’ah merugikan pelakunya di dunia
dan akhirat.
Banyak dari saudara kita kaum muslimin yang tidak menyadari bahwa
amalan bid’ah membahayakan agama mereka, menyia-nyiakan harta, tenaga dan waktu
mereka.
Allah
ta’ala berfirman:
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ
أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ
يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا.
“Katakanlah: “Apakah akan Kami
beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”
Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini,
sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (QS. Al Kahfi
[18]: 103-104).
Ali bin Abi Thalib berkata: “Sesungguhnya makna ayat ini bersifat umum mencakup semua
orang yang menyembah Allah bukan melalui jalan yang diridhai. Orang yang
bersangkutan menduga bahwa jalan yang ditempuhnya itu benar dan amalnya
diterima, padahal kenyataannya dia keliru dan amalnya ditolak.” (Tafsir Ibnu
Katsir QS. AL-Kahfi [18]:104).
6.
Pelaku bid’ah
seakan telah mensejajarkan dirinya dengan Tuhan.
Orang yang berbuat bid’ah tidak
menyadari bahwa mereka telah mensejajarkan dengan Tuhan dalam membuat syari’at.
Allah
ta’ala berfirman:
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ
الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ.
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan
selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS.
Asy-Syuura [42] : 21).
أَلَا
لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ.
Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya.
Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam. (QS. AL-A’raf [7]:54).
Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata: “Barangsiapa yang menganggap
baik (suatu bid’ah) maka dia telah membuat syariat.”
مَن اسْتَحْسَنَ
فَقَدْ شَرَعَ
“Barangsiapa yang menganggap baik
sesuatu (menurut pendapatnya), sesungguhnya ia telah membuat syari’at”
(Al-Jami’us Shahih Lissunnani wal Masanid 5:34, Shuhaib ‘Abdul Jabbar).
7.
Bid’ah lebih
dicintai iblis dari pada maksiat.
Allah
ta’ala berfirman:
وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.
"Dan Syetan pun
menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan." (QS.
Al-An'am: 43)
Yaitu kemusyrikan,
keingkaran, dan perbuatan-perbuatan maksiat. (Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-An’am
[6]:43).
وَمَن يَعْشُ عَن
ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ.
وَاِنَّهُمْ لَيَصُدُّوْنَهُمْ عَنِ السَّبِيْلِ وَيَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ
مُّهْتَدُوْنَ.
Barangsiapa yang berpaling dari
pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan
(yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu
menyertainya. Dan sungguh, mereka (setan-setan itu) benar-benar menghalang-halangi
mereka dari jalan yang benar, sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat
petunjuk. (QS. Az-Zukhruf [35]: 36-37).
Yakni orang ini yang
berpaling dari kebenaran, Kami adakan baginya setan-setan yang menyesatkan
dirinya dan menunjukkan kepadanya jalan ke neraka Jahim.(Tafsir Ibnu Katsir QS
Az-Zuhruf [43]: 36-37).
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata:
الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيسَ مِنَ
الْمَعْصِيَةِ، الْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا، وَالْبِدْعَةُ لَا يُتَابُ مِنْهَا.
Bid’ah lebih dicintai oleh Iblis daripada
maksiat. Hal ini karena perbuatan maksiat (pelakunya) bertaubat darinya
sedangkan bid’ah (pelakunya) tidak mau bertaubat (karena tidak merasa
bersalah).
8.
Perkara dunia tidak termasuk bid’ah yang
dimaksud agama.
Di
dalam salah satu kaidah fikih yang di pegang oleh jumhur ulama termasuk
kalangan Syafi’iyah yaitu:
الْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ الْإِبَاحَةَ.
“Hukum
segala sesuatu itu asalnya boleh.” (Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah Wa Tathbiqatuha Fi
Al-Madzhab Asy-Syafi’i, karya Dr. Muhammad Az-Zuhaili, Juz 2, Hlm. 59-62).
الْأَصْلُ فِي الْعِبَادَاتِ الْحَظْرُ وَ الْأَصْلُ فِي الْعَادَاتِ
الْإِبَاحَةُ.
“Pada
dasarnya ibadah itu terlarang, sedangkan adat (kebiasaan yang tidak
bertentangan dengan agama) itu dibolehkan.”
Syaikh
As Sa'di dalam Al Qawa'id wal Ushul Jami'ah halaman 30 menjelaskan bahwa ibadah
adalah semua yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, baik perintah yang
bersifat wajib ataupun sunnah. (Lihat pula Syarah Qawaid Sa'diyyah abdul Muhsin
Az Zamil hlm: 65). (Dinukil dari Al-Qawa’idu Al-Fiqhiyah, Ahmad Sabig bin Abdul
latif Abu Yusuf).
Dari
kaidah di atas para ulama menjelaskan, bahwa tentang kemajuan jaman seperti,
hp, mobil pesawat, motor dan sarana lainnya hal itu di bolehkan, berdasarkan
firman Allah ta’ala:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا.
“Dialah
Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” (QS. Al-Baqarah [2]:
29).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ.
Kamu
lebih mengetahui tentang urusan dunia kamu.” (HR. Muslim 2363).
9.
Pelaku bid’ah
akan di usir dari telaga Rasulullah.
Disebutkan dalam sebuah hadits,
bahwa para pelaku bid’ah nanti mendekat ketelaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam tapi mereka diusir.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
فَأَقُولُ: أَيْ رَبِّ أَصْحَابِي، فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَ تَدْرِي مَا
أَحْدَثُوا بَعْدَكَ.
“... (ketika aku hendak memberi mereka minum, mereka
dijauhkan dariku). Maka aku berkata: ‘Wahai Rabbku, mereka sahabatku.’ Lalu
dikatakan: ‘Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan
setelahmu.’”(Mutafaqun ‘alaih).
10.
Kewajiban berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan
Sunnah.
Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ
كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا .
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah
Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika
kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al
Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar mengimani Allah dan hari
kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik
akibatnya.” (QS. An-nisa [4]: 59)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنِّي قَدْ
تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللَّهِ
وَسُنَّتِي وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ.
“Aku telah tinggalkan pada kalian dua
perkara, kalian tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu)
Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Keduanya tidak akan terpisah sehingga bertemu
denganku di telaga.” (HR. Al-Hakim 319, di dalam “Al-Mustadrak ‘ala Shahihain”
Hadis ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam Sahihul Jami’ 2937).
Demikianlah semoga bermanfaat.
-----000-----
Sragen 13-05-2026
Abu Ibrahim Junaedi