BAB 6
Orang Yang
Wajib Puasa Ramadhan.
1. Orang-Orang
Yang Wajib Berpuasa.
1) Muslim.
2) Baligh.
3) Berakal.
4) Sehat.
5) Mukim.
6) Bagi wanita hendaknya bersih dari haid
dan nifas.
Adapun orang-orang yang belum menyatakan
keislamanya atau masih kafir amalan mereka tidak diterima.
Allah
ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ
كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى
إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا.
“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah
laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang
yang dahaga, tetapi bila di datanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu
apapun.” (QS. An-Nur [24]: 39)
وَقَدِمْنَا
إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا.
“Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang
mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang
berterbangan.” (QS. Al Furqan [25]: 23).
Orang gila dan anak-anak belum diwajibkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
رُفِعَ
الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَفِيْقَ، وَعَنِ النَّائِمِ
حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ.
“Cacatan
amal diangkat dari tiga golongan, orang gila sampai ia sadar, orang tidur
hingga ia bangun, dan anak kecil hingga ia baligh.” (HR. Abu Dawud 4401, Ibnu
Hibban 143, dishahihkan syaikh al-Albani di dalam al-Irwaa’ 5/2).
Meskipun anak kecil belum diwajibkan puasa namun
apa bila ikut berpuasa ia akan mendapatkan pahala, begitupula orang tuanya.
Dari Ibnu Abbas radhiallahuma, dia berkata:
رَفَعَتْ
امْرَأَةٌ صَبِيًّا لَهَا فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ , أَلِهَذَا حَجٌّ ؟
قَالَ : نَعَمْ وَلَكِ أَجْرٌ.
"Seorang wanita mengangkat seorang bocah,
lalu berkata, 'Wahai Rasulullah, apakah anak ini dapat berhaji?' Beliau
berkata, "Ya, dan bagimu pahala." (HR. Muslim 1336).
3. Hukum
Puasa Bagi Orang Sakit.
Allah ta’ala berfirman:
أَيَّامًا
مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا.
“Beberapa
hari yang telah ditentukan, barang siapa diantara kalian yang sakit...” (QS.
Al-Baqarah[2]:184).
Beberapa keadaaan orang yang sakit:
1) Orang
Yang Sakit Ringan.
Seperti batuk, pilek, sakit gigi, sakit kepala
ringan, luka ringan, hendaknya tetap berpuasa.
2) Sakit Yang Akan Bertambah Parah Jika
Berpuasa.
Bila seseorang sakit dan semakin parah atau akan
lambat kesembuhannya jika berpuasa, atau penyakit tersebut membuat penderitanya
berat berpuasa. Hanya saja, tidak sampai pada tingkat membahayakan. Dalam
kondisi seperti ini boleh berbuka, namun jika berpuasa, puasanya tetap sah.
3) Sakit
Yang Membahayakan Dan Tidak Memungkinkan Sembuh.
Jika seseorang berpuasa, dengan puasanya itu
membahayakan keselamatannya, hingga dapat mengantarkan kepada kematian, apa
lagi dikuatkan larangan tersebut dari dokter, dalam kondisi seperti ini, tidak
boleh berpuasa bahkan bisa haram hal ini berdasarkan firman Allah ta'ala :
وَلَا
تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا.
"Dan
janganlah kamu membunuh dirimu sendiri sesungguhnya Allah maha penyayang
terhadap kalian." (QS. An-Nisa[4]: 29).
Hal ini karena bisa membahayakan nyawa seseorang.
(Lihat Fikih li Nisa’ Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Syayid Salim).
“Orang yang seperti ini hendaknya membayar
fidyah. Seandainya ada kesembuhan maka tidak ada kewajiban lagi mengganti. Hal
ini yang difatwakan oleh para ulama.” (Syaikh Muhammad al-’Utsaimin dalam
asy-Syarhul Mumti’ 6/333-334, 347-349), al-Wadi’i, Syaikh al-Albani dalam Irwa’
al-Ghalil 4/22), dan Al-Lajnah ad-Da’imah dalam Fatawa al-Lajnah 10/160-161).
4. Orang
Yang Bepergian
Apa bila seseorang berpuasa sedang dalam
berpergian atau perjalanan, hendaknya memperhatikan puasanya.
Allah
ta’ala berfirman:
أَيَّامًا
مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ
أَيَّامٍ أُخَر.
“(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di
antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib
mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang
lain.” (QS. Al-Baqarah[2]:184).
Namun jika ia tetap berpuasa selama dalam
perjalanan, maka puasanya sah. Inilah pendapat mayoritas ulama dari generasi
shahabat, tabi'in, empat imam madzhab dan selain mereka.
Manakah yang lebih utama dalam perjalanan,
berpuasa atau berbuka?
Orang yang safar (bepergian) ada beberapa
keadaan:
1) Jika Safarnya Berat Badanya Lemah,
Tertinggal Dari Berbagai Macam Kebaikan Hendaknya Lebih Baik Berbuka.
2) Jika Safarnya Ringan Tidak Memberatkan
Lebih Baik Tetap Berpuasa.
Dari
Abu Sa’id Al Khudri radiyallahu ‘anhu dia berkata:
كُنَّا نَغْزُو
مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ، فَمِنَّا
الصَّائِمُ وَمِنَّا الْمُفْطِرُ، فَلَا يَجِدُ الصَّائِمُ عَلَى الْمُفْطِرِ،
وَلَا الْمُفْطِرُ عَلَى الصَّائِمِ، يَرَوْنَ أَنَّ مَنْ وَجَدَ قُوَّةً فَصَامَ،
فَإِنَّ ذَلِكَ حَسَنٌ وَيَرَوْنَ أَنَّ مَنْ وَجَدَ ضَعْفًا، فَأَفْطَرَ فَإِنَّ
ذَلِكَ حَسَنٌ.
“Kami pernah
bepergian bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada bulan
Ramadhan, ada diantara kami yang puasa dan ada pula yang berbuka, yang berpuasa
tidak mencela yang berbuka dan yang berbuka tidak tidak mencela yang berpuasa.”
(HR Muslim 1116, Shahih Ibnu Hibban 3558).
3) Jika Safarnya Berat Dan Membahayakan Jiwanya, Hendaknya
Diutamakan Berbuka.
Sebagaimana tercantum dalam hadits Jabir yang
menyatakan bahwa ketika sedang menempuh perjalanan untuk menaklukkan kota
Makkah, Rasulullah terus berjalan hingga sampai daerah Kara' al-Ghumaim. Begitu
pula rombongannya. Kemudian beliau meminta dibawakan sewadah air minum, lalu
mengangkatnya hingga terlihat oleh semua orang dan mulai meminumnya setelah
itu, ada yang melaporkan kepada beliau bahwa beberapa orang tetap berpuasa.
Beliau berkata, "Mereka adalah orang yang durhaka (menyalahiku). Mereka adalah
orang yang durhaka." (HR. Bukhari 1948, Muslim 1114).
Dalam
riwayat yang lain Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَيْسَ
الْبِرَّ أَنْ تَصُومُوا فِي السَّفَرِ.
“Bukanlah
sebuah kebaikan berpuasa ketika bersafar.” (HR. Muslim 1115, Abu Dawud 2407).
5. Keringanan
bagi orang tua, orang hamil dan menyusui.
Orang tua laki-laki maupun perempuan yang
tidak kuat berpuasa dibolehkan meninggalkan puasa selama bulan Ramadhan dan
tidak perlu mengqadhanya. Namun, ia harus memberi makan satu orang miskin
setiap hari sejumlah (puasa) yang ditinggalkannya.
Allah ta’ala
berfirman:
وَعَلَى
الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ.
“Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib
membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah[2]:184).
Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma berkaitan
dengan ayat di atas:
وَعَلَى
الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ…قَالَ كَانَتْ رُخْصَةً
لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ وَالْمَرْأَةِ الْكَبِيرَةِ وَهُمَا يُطِيقَانِ الصِّيَامَ
أَنْ يُفْطِرَا وَيُطْعِمَا مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَالْحُبْلَى
وَالْمُرْضِعُ إِذَا خَافَتَا أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا. وَعَلَى الَّذِيْنَ
يُطِيْقُوْنَهُ فِدْيَة طَعَامُ مِسْكِيْن
“Dan
wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa)
membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (Al-Baqarah[2]: 184).
Beliau berkata, “Ayat ini memberikan keringanan
kepada orang tua renta, baik laki maupun perempuan, apabila merasa berat
berpuasa dia boleh berbuka dan memberi makan satu orang miskin setiap hari
sebanyak yang ditinggalkan. Wanita mengandung dan menyusui kalau keduanya
khawatir juga boleh berbuka dan (sebagai gantinya) memberi makan (orang miskin
setiap hari sejumlah hari yang ditinggalkan).” (HR. Abu Dawud 2318, Al-Muntaqa
Ibnul Jarud 381, al-Baihaqi 1351, lihat Irwa’ syaikh al-Albani, 4/18).
6. Begitu pula bagi orang yang hamil
dan menyusui.
Adapun
orang yang hamil dan menyusui tidak wajib berpuasa dan cukub membayar fidyah,
sebagaimana diterangkan dalil di atas.
Kesimpulannya,
sebab-sebab yang membolehkan tidak puasa ada empat, safar, sakit, haid dan
nifas, kuatir celaka, seperti orang hamil dan menyusui. (Fikih
Muyassar).
|
|
BAB 7
Rukun Puasa
1. Niat
Hendaknya ikhlas di dalam menjalankan puasa.
Allah ta’ala berfirman:
ومَا أُمِرُوْا
إِلاَّلِيَعْبُدُاللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ.
“Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…”(QS. Al-Bayyinah[98] : 5).
فَاعْبُدِ
اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ.
“Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama
kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar [39]:2).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا
نَوَى.
“Sesungguhnya
amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.”
(HR. Bukhari 1, 6689, Muslim 1907).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
:
إِنَّ اللهَ
لاَ يَقْبَلُ مِنَ العَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصاً وَ ابْتُغِيَ بِهِ
وَجْهُهُ.
Sesungguhnya
Allah Azza wa Jalla tidak menerima amal perbuatan, kecuali yang ikhlas dan
dimaksudkan (dengan amal perbuatan itu) mencari wajah Allah. (HR. Nasa’i 3140,
Dihasankan Syaikh Al Albani di dalam ash-Shahihah 52).
Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ لَمْ
يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الفَجْرِ، فَلَا صِيَامَ لَهُ .
“Barangsiapa
yang belum berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR.
at-Tirmidzi 730, Abu Dawud 2454, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam Shahih
Abu Dawud 2118).
Adapun tempat niat di dalam hati.
Imam
An-Nawawi rahmahullah mengatakan:
وَمَحَلُّ
النِّيَّةِ الْقَلْبُ وَلَا يُشْتَرَطُ نُطْقُ اللِّسَانِ بِلَا خِلَافٍ.
“Tempat niat
di dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dengan lisan tanpa ada
perbedaan pendapat di kalangan ulama.” (Al-Majmu’ Syarhul
Muhadzab 6/289).
Beliau juga
mengatakan:
لَا يَصِحُّ الصَّوْمُ إِلَّا بِالنِّيَّةِ،
وَمَحَلُّهَا الْقَلْبُ. وَلَا يُشْتَرَطُ النُّطْقُ بِلَا خِلَافٍ.
“Tidak sah puasa kecuali dengan niat, dan
tempatnya adalah hati. Dan tidak disyaratkan harus diucapkan, tanpa ada
perselisihan ulama…” (Raudhatu at-Thalibin wa ‘Amdatul muftiin, 2/350).
Hal ini bisa kita tanyakan dalam hati kita,
apabila seseorang lupa kemudian makan dan minum hal itu tidak membatalkan
puasanya, sebaliknya meskipun lisannya berkali-kali mengatakan lupa namun
hatinya menyengaja, tetap juga membatalkan puasa, demikianlah tempat niat itu
di dalam hati bukan di lisan.
2. Menahan diri dari apa
yang membatalkan puasa semenjak fajar matahari sampai terbenam matahari.
Allah ta’ala
berfirman:
وَكُلُوْا
وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ
الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِ.
“Makan dan
minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam,
yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. “ (QS.
Al-Baqarah [2]:187).
BAB 8
Adab-Adab
Berpuasa.
Adab-adab
berpuasa yaitu:
1. Makan Sahur
Hendaknya
sahur terlebih dahulu karena ini barakah meskipun seteguk air.
Diriwayatkan
dari Anas Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً.
“Makan
sahurlah kalian karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.”
(HR. al-Bukhari 1923, Muslim 1095, at-Tirmidzi 708, an-Nasai 2470).
Abdullah bin
‘Amr Radhiyallahu anhuma, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
تَسَحَّرُوا وَلَوْ بِجُرْعَةِ مَاءٍ.
“Makan
sahurlah kalian meski hanya dengan seteguk air.” )Shahih Ibni Hibban 884,
dihasankan Syaikh al-Albani di dalam Adz-Dzaifah 1405).
إِنَّ اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ.
Sesungguhnya
Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang makan
sahur. )HR. at-Tabrani al-Mu’jam al-Ausath 6434, Shahih Ibnu Hibban 3467,
dihasankan Syaikh al-Albani at-Ta’liqu ar-Raghib 2/92).
2. Mengakhirkan
sahur.
Hendaknya
mengakhirkan makan sahurnya, karena hal ini termasuk yang disunnahkan.
Dari Anas,
dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
تَسَحَّرْنَا
مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ قَامَ إِلَى
الصَّلَاةِ. قُلْتُ: كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسُّحُورِ؟ قَالَ: قَدْرُ
خَمْسِينَ آيَةً.
“Kami
makan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau
berdiri menuju shalat. Aku bertanya: Berapa jarak waktu antara adzan dan sahur?
Ia menjawab: Sekira-kira jaraknya seperti bacaan lima puluh ayat Al-Qur’an.”
(HR. al-Bukhari 1921, Muslim 1097).
Jika adzan
telah terdengar dan makanan atau minuman masih di tangannya, maka boleh ia
memakan atau meminumnya, berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia
berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَاْلإِنَاءُ
عَلَى يَدِهِ فَلاَ يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ.
“Barangsiapa
di antara kalian yang mendengar adzan (Shubuh) dan bejana (makanan) masih di
tangannya, maka janganlah ia menaruhnya sebelum ia menyelesaikan makannya.”
(HR. Ahmad 9474, Abu Dawud 9474, dihasankan Syaikh
al-Albani di dalam Shahih wa dha’if Sunan Abu Dawud 2350).
3. Meninggalkan Perkataan
Dan Perbuatan Yang Buruk.
Rasulullah sallallahu ‘alaihhi wa sallam
bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت.
“Barang siapa
yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik atau
diam.” (HR. al-Bukhari 6018, Muslim 47).
وَيُنَادِي
مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ.
“Seorang penyeru menyeru, ‘Wahai
yang mengharapkan kebaikan, bersegeralah (kepada ketaatan). Wahai para pelaku
maksiat, berhentilah.” (HR. at-Tirmidzi 682, an-Nasai 2108
dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami’ 5832).
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ.
“Barangsiapa
yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka
Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR.
al-Bukhari 1903).
ألصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ،وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ.
“Puasa adalah tameng janganlah berkata kotor dan
jangan berbuat bodoh, jika seseorang mengajak berkelahi atau mencelamu maka
katakanlah aku sedang puasa dua kali.” (HR. al-Bukhari 1894).
رُبَّ صَائِمٍ
لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ
قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ.
“Betapa
banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut
kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah 1690, an-Nasa’i
3236, dishahihkan Syaikh al Albani dalam Shahih at-Targib wa-at Tarhib 1083).
4. Menyegerakan Berbuka
(Ta’-Jil)
Diriwayatkan
dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
لاَ يَزَالُ النّاَسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا
الْفِطْرَ.
“Umat manusia
akan tetap baik selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” (HR. al-Bukhari
1957, Muslim 1098, at-Tirmidzi 699).
5. Berbuka Puasa Dengan Kurma
Atau Air Putih.
Diriwayatkan
dari Anas, dia berkata:
كَانَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ
يُصَلِّيَ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ
تَمَرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa dengan beberapa
ruthab (kurma segar) sebelum mengerjakan shalat. Jika tidak ada ruthab, maka
beliau berbuka dengan beberapa tamr (kurma kering). Jika tidak ada tamr, beliau
meminum beberapa teguk air. (HR. Ahmad 12676, Abu Dawud 2356, dihasankan
Syaikh al-Albani di dalam al-Irwa’ 922).
6. Berdo’a ketika berbuka puasa
dengan do’a yang terdapat dalam hadits berikut ini
Diriwayatkan
dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Bahwasanya Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berbuka puasa selalu membaca:
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ
وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ.
“Telah hilang
rasa haus dan telah basah urat-urat, serta telah ditetapkan pahala, insya
Allah.” (HR. Abu Dawud 2357, al-Baihaqi 1390, dihasankan Syaikh
al-Albani di dalam al-Irwa’ 920). (Lihat pula kitab al-Wajiz, Syaikh
‘Abdul Azhim bin Badawi al Khalafi).
Bab 9
Pembatal-Pembatal
Puasa.
Pembatal-pembatal
puasa yaitu:
1) Makan.
2) Minum.
Allah ta’ala
berfirman:
وَكُلُوا
وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ
الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ.
“Dan makan minumlah hingga jelas bagi kalian benang
putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai
malam.”(QS. Al-Baqarah[2]:187).
Kecuali keduanya dilakukan dalam keadaan lupa.
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ نَسِيَ
وَهُوَ صَائِمٌ, فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ, فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ, فَإِنَّمَا
أَطْعَمَهُ اَللَّهُ وَسَقَاهُ.
“Barangsiapa
yang lupa sedang ia dalam keadaan puasa lalu ia makan atau minum, maka
hendaklah ia sempurnakan puasanya karena Allah yang memberi ia makan dan
minum.” (HR. al-Bukhari 1933, Muslim 1155).
3) Muntah Dengan
Sengaja.
Apabila
seseorang tidak sengaja muntah hal itu tidaklah membatalkan puasanya.
مَنْ ذَرَعَهُ
قَىْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ.
“Barangsiapa
tidak sengaja muntah sedangkan dia dalam keadaan puasa, maka tidak ada qadha’
baginya. Namun apabila dia muntah (dengan sengaja), maka wajib baginya membayar
qadha’.” (HR. Abu Daud 2380 Ibnu Majah1676; Tirmidzi 720. Syaikh al-Albani
mengatakan bahwa hadits ini shahih).
4) Haid.
Rasulullullah
shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
أَلَيْسَ إِذَا
حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ.
“Bukankah jika
wanita itu haid ia tidak shalat dan tidak puasa?” (HR. al-Bukhari 304 dan
Muslim79).
5) Nifas.
6) Merokok.
7) Menghirup Kokain,
Heroin, Sabu, Narkoba Maupun Sejenisnya.
8) Infuse
Pengganti Makanan.
9) Keluar
Mani Dengan Sengaja.
10) Jima’,
Dengan Membayar Kafarah.
Dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia
berkata:
بَيْنَمَا
نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ
رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ قَالَ مَا لَكَ قَالَ وَقَعْتُ عَلَى
امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا قَالَ لا قَالَ فَهَلْ تَسْتَطِيعُ
أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لا فَقَالَ فَهَلْ تَجِدُ
إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا قَالَ لا قَالَ فَمَكَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ وَالْعَرَقُ الْمِكْتَلُ قَالَ
أَيْنَ السَّائِلُ فَقَالَ أَنَا قَالَ خُذْهَا فَتَصَدَّقْ بِهِ فَقَالَ
الرَّجُلُ أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ
لابَتَيْهَا يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي
فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ
ثُمَّ قَالَ أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ .
"Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seseorang, lalu dia berkata,
'Wahai Rasulullah, celakalah saya.' Beliau berkata, 'Ada apa denganmu?' dia
berkata, 'Aku telah menggauli isteriku dalam keadaan puasa.' Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 'Apakah engkau memiliki budak yang
engkau merdekakan?' Dia berkata, 'Tidak.' Lalu beliau berkata, 'Apakah engkau
mampu berpuasa dua bulan berturut-turut.' Dia berkata, 'Tidak.' Lalu beliau
berkata, 'Apakah engkau dapat memberi makan 60 orang miskin?' Dia berkata,
'Tidak.' Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam dia bebera saat. Ketika kami
adalam keadaan demikian, ada yang membawakan kepada Nabi shallallahu alaihi wa
sallam sekerangjan korma. Lalu dia berkata, 'Mana yang bertanya tadi?' Dia
berkata, 'Saya.' Beliau berkata, 'Ambillah ini dan bersedekahlah dengannya.'
Orang itu berkata, 'Kepada orang yang lebih fakir dariku ya Rasulullah, demi
Allah, tidak ada keluarga di antara dua gunung ini, maksudnya dua perkampungan,
yang lebih miskin dari keluarga saya.' Nabi shallallahu alaihi wa salalm
tertawa hingga tampak gigi gerahamnya. Kemudian beliau berkata, 'Berilah makan
keluargamu." (HR. Bukhari 1936, Muslim 1111).
11) Masuknya
Sesuatu Yang Menetap Di Lambung Dengan Sengaja.
12) Hilang
Ingatan, Baik Pingsan, Disebabkan Bius (Seharian), Atau Tiba-Tiba Gila.
13) Cuci
Darah.
14) Murtad.
15) Sebagian
Ulama Menyebutkan, Niat Berbuka. (Fikih Muyassar).
BAB 10
Hal-hal yang dibolehkan orang berpuasa
1. Berhubungan
Badan Dimalam Hari.
Seperti
bolehnya berhubungan di malam Ramadhan.
Allah ta’ala berfirman:
أُحِلَّ
لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ
وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ
أَنْفُسَكُمْ.
“Dihalalkan bagi kalian pada malam hari puasa
bercampur dengan istri-istri kalian; mereka itu adalah pakaian bagi kalian, dan
kalian pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kalian tidak
dapat menahan nafsu kalian.” (QS. Al-Baqarah[2]:187).
2. Junub
Di Waktu Subuh.
Dari (umul
mukminin) Aisyah dan Ummu Salamah radhiallahu ‘anhuma, mereka menceritakan:
يُدْرِكُهُ
الفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ، وَيَصُومُ.
“Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki waktu subuh, sementara beliau sedang
junub karena berhubungan dengan istrinya. Kemudian beliau mandi dan berpuasa.”
(HR. al-Bukhari 1926 dan at-Tirmudzi 779).
3. Bercumbu
Dengan Pasangannya Selain Bersenggama.
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan:
كان رَسُولُ
اللهِ صلى الله عليه وسلم يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ، وَيُبَاشِرُ وَهُوَ
صَائِمٌ، وَلَكِنَّهُ أَمْلَكُكُمْ لِإِرْبِهِ.
“Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium dan bercumbu dengan istrinya
ketika puasa, namun beliau adalah orang yang paling kuat menahan nafsunya.”
(HR. Muslim 1106, Ahmad 24154).
4. Boleh
Mandi Atau Sekedar Menyiram Kepala Agar Dingin.
Dari Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:
لَقَدْ
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِالْعَرْجِ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ
الْمَاءَ وَهُوَ صَائِمٌ مِنَ الْعَطَشِ أَوْ مِنَ الْحَرِّ.
“Sungguh,
aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Al ‘Aroj mengguyur
kepalanya -karena keadaan yang sangat haus atau sangat terik- dengan air
sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa. ” (HR. Abu Daud 2366, al-Baihaqi 8261,
dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam al-Misykah 2011).
5. Berkumur.
6. Tetes
Mata, Gosok Gigi, Suntik Insulin Dan Lainnya.
7. Donor
Darah Atau Hijamah, Selagi Tidak Menjadikan Lemah.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:
أَنَّ
النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَفْطَرَ الْحَاجِمُ
وَالْمَحْجُومُ أَ .
"Batallah puasa orang yang membekam dan
dibekam." (HR. Abu Dawud 2369, Ahmad 15828, Ibnu Majah 1679, Tirmidzi 774,
dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahih Abu Dawud 2074).
عَنِ ابْنِ
عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ احْتَجَمَ وَهُوَ مُحْرِمٌ، وَاحْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Bahwasanya
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dalam keadaan berihram dan
berpuasa.” (HR. al-Bukhari 1938).
سُئِلَ أَنَسُ
بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَكُنْتُمْ تَكْرَهُونَ الحِجَامَةَ
لِلصَّائِمِ؟ قَالَ: لاَ، إِلَّا مِنْ أَجْلِ الضَّعْفِ.
Anas
bin Malik radhiyallahu ‘anhu ditanya, “Apakah kalian tidak menyukai berbekam
bagi orang yang berpuasa?” Beliau berkata, “Tidak, kecuali jika bisa
menyebabkan lemah.”(HR. al-Bukhari 1940).
Menurut jumhur ulama berbekam tidaklah
membatalkan puasa, meskipun madzhab Hambali mengatakan batal.
8. Mencicipi
Masakan.
9. Makan
Dan Minum Tanpa Sengaja.
10.Muntah Tidak Sengaja.
11.Endoskpi, memasukkan
alat tubuh.
Endoskopi tidak membatalkan
puasa, karena endoskopi tidak membuat benda asing menetap di dalam tubuh.
Demikianlah
uraian ringkas ini, bagi yang menghendaki lebih luas bisa membuka kitab-kitab
fikih, semoga Allah memudahkan kita untuk melaksanakan kebaikan. Aamiin.
AMALAN
YANG DIANJURAN DI BULAN RAMADHAN.
Bab
11
Shalat
Kiyamul Lail Dan Kiyamur Ramadhan (Tarwih).
Asalnya shalat
tarwih adalah kiyamul lail yang dilakukan Rasullah selama tiga malam
berturut-turut, namun beliau kuatir jika hal itu akan di wajibkan bagi umatnya
sehingga beliaupun berhenti.
Ketika masa
kekhalifahan Umar bin khatab kekuatiran itu telah hilang karena wahyu telah
terputus, maka khalifah Umar bin Khatab melakukannya.
Allah ta’ala berfirman:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ
عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا.
“Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat
tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu
mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’ [17]:79).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ
قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ
ذَنْبِهِ.
“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat
tarwih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan
diampuni.” (HR.
Bukhari 37, Muslim 759).
Shalat sunnah
malam hari dan siang hari asalnya satu kali salam setiap dua rakaat.
Berdasarkan keterangan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa
seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah shalat malam itu?” Beliau
menjawab:
مَثْنىَ
مَثْنىَ فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ.
“Dua rakaat-dua rakaat, apabila kamu khawatir
mendapati subuh, maka hendaklah kamu shalat witir satu rakaat.”(HR. Bukhari 1137, Muslim 749).
Dalam hadits
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma yang lain dikatakan:
صَلَاةُ
اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى.
“Shalat malam hari dan siang hari itu dua
rakaat-dua rakaat.” (HR. Ahmad
4791, Ibnu Majah 1319, Abu Dawud 1295, dishahihkan didalam Shahih Abu Dawud
1172).
إِنَّهُ
مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ.
“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia
selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Tirmidzi 806, Ibnu Majah 1327, Nasai
1605, Dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Al Irwa’ 447).
Yang dimaksud
kiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh An
Nawawi. (Syarh Muslim, 3/101).
Yang
dimaksud kiyam Ramadhan adalah menghidupkan malamnya dengan ‘ibadah dan
mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. (ta’liq Musthafa al-Bagha’ pada Shahih
Bukhari 1904-1905).
Bab 12
Dianjurkan memperbanyak sedekah.
Allah
ta’ala berfirman:
مَثَلُ
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ
أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ
يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ.
“Perumpamaan
orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang
menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah
melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas dan Maha
Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah[2]:161).
مَا نَقَصَتْ
صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ.
“Sedekah
tidaklah mengurangi harta.” (HR. Ahmad 7206, Muslim 2588).
Ibnu Abbas
radiyallahu ‘anhuma berkata:
كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ
أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ
يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau bertambah
kedermawanannya di bulan Ramadlan ketika bertemu dengan malaikat Jibril, dan
Jibril menemui beliau di setiap malam bulan Ramadhan untuk mengulang bacaan
Al-Qur’an.” (HR. Al Bukhari 3220, Ahmad 2616).
Memberi buka
orang yang berpuasa memiliki pahala seperti orang yang berpuasa.
Rasulullah
sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، إِلَّا
أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ.
“Barangsiapa yang memberi buka orang puasa, maka
baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang
berpuasa sedikitpun.” (HR. Ahmad 17033, Tirmizi 807, Ibnu Majah, 1746,
dishahihkan syaikh al-Albani di dalam shahih Al-Jami’, 6415).
وَأَنْفِقُوا
مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ
رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ
الصَّالِحِينَ.
“Infakkanlah
sebagian dari apa yang Aku berikan kepada kalian, sebelum kematian mendatangi
kalian, kemudian dia berkata: “Ya Rab, andai Engkau menunda ajalku sedikit
saja, agar aku bisa bersedekah dan aku menjadi orang shaleh.” (QS. Al
Munafiqun[63]: 10).
Allah
ta’ala memerintahkan kepada kita agar bersedekah dengan harta yang kita cintai.
Allah
ta’ala berfirman:
لَنْ تَنَالُوا
الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ.
“Kalian tidak
akan mendapatkan kebaikan, sampai kalian infakkan apa yang kalian
cintai.” (QS. Ali Imran[3]: 92).
مَا مِنْ
يَوْمٍ يُصْبِحُ العِبَادُ فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ، فَيَقُولُ
أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ
أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.
“Setiap datang
waktu pagi, ada dua malaikat yang turun dan keduanya berdoa. Malaikat pertama
memohon kepada Allah, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang memberi
nafkah’, sementara malaikat satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikan kehancuran bagi
orang yang pelit.’ (HR. Bukhari 1442 Muslim 1010).
Sebagian orang-orang shalih dahulu berkata:
“Kalau sekiranya saya mengundang sepuluh dari teman-temanku, kemudian
memberikan makanan yang disukainya. Itu lebih saya sukai dibandingkan dengan
memerdekakan sepuluh budak dari anak Ismail.
Dahulu banyak
dari kalangan Sebagian orang-orang shalih dahulu lebih mendahulukan memberi
buka puasa sementara dia masih dalam kondisi berpuasa. Di antaranya Ibnu Umar
radhiyallahu’anhuma, Dawud At-Thai, Malik bin Dinar dan Ahmad bin Hanbal dan
lainnya. Bahkan Abdullah bin Umar tidak berbuka melainkan bersama orang-orang
yatim dan orang miskin karena mengetahui keluarganya menolak kedatangan mereka.
(Kaifa na’isyu Ramadhan, Syaikh Abdullah As-Shalih).