Rabu, 26 Agustus 2026

BAB 2 No. 2 MUJMAL USUL MENYERUPAKAN DAN MENOLAK SIFAT ALLAH ADALAH KEKUFURAN.

 


MUJMAL USUL AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH

BAB 2 No. 1

MENYERUPAKAN DAN MENOLAK SIFAT ALLAH ADALAH KEKUFURAN.

 

٢- التَّمْثِيلُ وَالتَّعْطِيلُ فِي أَسْمَاءِ اللَّهِ وَصِفَاتِهِ كُفْرٌ. أَمَّا التَّحْرِيفُ الَّذِي يُسَمِّيهِ أَهْلُ الْبِدَعِ تَأْوِيلًا فَمِنْهُ مَا هُوَ كُفْرٌ كَتَأْوِيلَاتِ الْبَاطِنِيَّةِ وَمِنْهُ مَا هُوَ بِدْعَةٌ ضَلَالَةٌ كَتَأْوِيلَاتِ نُفَاةِ الصِّفَاتِ, وَمِنْهُ مَا يَقَعُ خَطَأً.

2.Menyerupakan dan meniadakan  dalam nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah kekufuran.

Adapun tahrif (perubahan makna) yang oleh ahli bid‘ah dinamakan ta’wil, maka:

*sebagian darinya adalah kekufuran, seperti ta’wil-ta’wil kaum bathiniyyah,

* sebagian lagi merupakan bid‘ah yang sesat, seperti ta’wil-ta’wil orang-orang yang meniadakan sifat-sifat Allah,

* dan sebagian lainnya terjadi karena kesalahan (tidak disengaja).

 

-----000-----

 

Penjelasan.

1.   Pembagian sifat Allah.

Sifat Allah terbagi menjadi dua:

1)  Sifat Tsubutiyah

Sifat Tsubutiyah adalah sifat yang ditetapkan untuk diri-Nya, seperti Al Hayat, Al Ilmu, Al Qudrah, dan ini wajib di tetapkan sesuai dengan keagungan Allah.

Allah maha mengetahui sebagaimana firman Allah ta’ala:

أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ.

“Bukankah telah Aku katakan kepadamu, bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?” (QS. Al-Baqarah[2]:33).

لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا.

“Agar kalian mengetahui sesungguhnya Allah maha kuasa terhadap segala sesuatu, dan bahwasanya ilmu Allah meliputi segala sesuatu.” (QS. At-Thalaq [65]: 12)

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ

“Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya).” (QS. Al-Baqarah [2]:255).

2)  Sifat Salbiyah.

Sifat Salbiyah, adalah sifat yang dinafikan (ditiadakan) dari diri Allah seperti sifat zhalim, mengantuk, lelah, tidur ataupun lupa.

Allah tidak ditimpa Lelah dan ngantuk.

Allah ta’ala berfirman:

لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌ

“Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur..” (QS. Al-Baqarah [2]:255).

2.   Pembagian Sifat Tsubutiyah.

Sifat tsubutiyah terbagi menjadi dua:

1)  Tsubutiyah dzatiah.

Tsubutiah dzatiah, adalah sifat yang senantiasa terus ada pada Allah subhanahu wa ta’ala, seperti Al-Khaliq, Al-Qudrah, As-Sama’, Al-Bashar.

Allah pencipta segala sesuatu.

وَاللهُ خَلَقَكُمْ وَمَاتَعْمَلُونَ.

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS. As Shafat [37]: 96)

وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah [2]:284)

2)  Tsubutiyah fi’liyah.

Tsubutiah fi’liyah, adalah sifat yang terkait dengan kehendaknya, seperti berbicara, berbuat, datang, turun, ridha, murka, dan lain-lain kapanpun sesuai kehendak Allah ta’ala.

Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:

وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى

“..Dan aku bersegera kepada-Mu, Ya Tuhanku, agar Engkau ridha (kepadaku).” (QS. Thaha[20]: 85).

Contoh Allah meridhai berupa perbuatan sebagaimana disebutkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ اللهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا.

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala meridhai hamba yang memakan makanan, lalu dia memuji Allah atas makanan yang dimakan. Begitu juga seorang hamba yang minum minuman, dia memuji Allah atas minuman yang diminumnya.” (HR. Muslim 2734, Ibnu Abi Syaibah 29566).

Kisah Abu Thalhah dan Umu Sulaim.

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kedatangan tamu dalam keadaan lapar, kemudian Beliau menanyakan kepada istri-istri beliau namun mereka tidak ada yang memiliki makanan kecuali air, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan kepada sahabat, Maka Abu Thalhah membawa tamu tersebut, sesampainya di rumah beliau bertanya kepada istrinya, “ adakah makanan di rumah?” istrinya menjawab tidak ada kecuali jatah anak-anak.” “Kalau begitu berilah mereka minum dan tidurkanlah, ketika engakau hidangkan berpura-puralah memperbaiki lamu dan padamkanlah, aku akan pura-pura makan.”  Maka istrinya pun melakukan hal itu, sehingga malam itu keluarga Abu Thalhah dalam keadaan kelaparan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَقَدْ عَجِبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ - أَوْ ضَحِكَ - مِنْ فُلاَنٍ وَفُلاَنَةَ, فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَيُؤْثِرُونَ عَلَى  أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ .

Sesungguhnya Allah merasa kagum atau ridha dengan apa yang telah dilakukan oleh si Fulan dan si Fulanah, kemudian Allah menurunkan firman-Nya:

وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ.

“Mereka mengutamakan (saudaranya) atas diri mereka meskipun diri mereka membutuhkan.” ( QS.Al-Hasyr [59]:9).

Setelah di pagi hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai zaid, Allah sangatlah bangga dan ridha dengan apa yang telah kamu lakukan semalam.” Maka beliau pulang mengabarkan kepada istrinya. ( HR. Bukhari 4889).

Ayat yang menunjukkan Allah murka, yaitu pada firman-Nya:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا.

"Siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, balasannya adalah (neraka) Jahanam. Dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, melaknatnya, dan menyediakan baginya azab yang sangat besar." (QS An Nisa'[4]: 93).

Allah datang, sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا.

“Dan datanglah Rabbmu; dan malaikat berbaris-baris.” (QS. Al-Fajr[89]: 22).
Berkata Imam as-Shabuni: “Kami (ahlus sunnah) beriman dengannya Seluruhnya, sesuai dengan apa yang disebutkan di dalamnya, tanpa bertanya seperti apa, atau bagaimana. Sebab kalau Allah menghendaki, niscaya Dia akan menjelaskannya kepada kita bagaimana turun-Nya. Maka kita berhenti pada apa yang telah disebutkannya secara muhkamat…” (Aqidatus Salaf ashhabul Hadits, Imam AshShabuni, Tahqiq Nashir bin Abdur Rahman bin Muhammad al-Juda’, hal. 192)

Allah juga berfirman:

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ يَأْتِيَهُمُ اللَّهُ فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ وَالْمَلَائِكَةُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ.

“Tidak ada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat yang dinaungi awan (pada hari kiamat), dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 210).

Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya, “Lalu Allah datang dalam naungan awan sesudah langit dunia terbelah dan semua malaikat yang ada padanya turun; kemudian langit kedua, dan langit ketiga hingga langit ketujuh terbelah pula. Para malaikat penyangga Arasy dan malaikat Karubiyyun turun. Kemudian Allah Yang Mahaperkasa turun dalam naungan awan dan para malaikat yang terdengar gemuruh suara tasbih mereka seraya mengucapkan, "Mahasuci Allah yang mempunyai kerajaan dunia dan kerajaan langit. Mahasuci Allah yang memiliki segala keagungan dan keperkasaan. Mahasuci Allah Yang Mahahidup dan tak pernah mati. Mahasuci Allah yang mematikan semua makhluk, sedangkan Dia tidak mati.” (Tafsir Ibnu Katsir QS. AL-Baqarah[2]:210).

Adakalanya sifat Allah termasuk sifat dzatiah dan juga sifat fi’liyah, seperti sifat Al Kalam, kehendak.

Misalnya firman Allah ta’ala:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ.

“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.” ( QS. Yasiin [32]:82).

 (Lihat pula Syarah Lum’atul I’tiqad, Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin).

Dari sini kita mengetahui bahwa nama Allah sudah mengandung sifat di dalamnya. Tanpa harus menolak, menyelewengkan, menanyakan ataupun menyerupakan.

3.   Tidak boleh menolak dan menyerupakan.

Menolak dan menyerupakan sifat Allah adalah kekufuran.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ࣖ.

“Serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (QS, Al-Ikhlas [112]:4)

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.

“Tidak ada yang suatupun yang serupa dengan Allah, dan Dia maha mendengar dan melihat.” (QS. Asy-Syura[42]: 11).

4.   Kesesatan orang-orang Jahmiyah.

Jahmiyah dinisbatkan kepada Jahm bin Shafwan (جَهْمُ بْنُ صَفْوَانَ).

“Di antara kesesatan Jahmiyah yang paling menonjol adalah ta‘thil (peniadaan) terhadap sifat-sifat Allah Ta‘ala. Mereka menolak sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena menurut mereka menetapkan sifat berarti menyerupakan Allah dengan makhluk. Padahal Ahlus Sunnah menetapkan seluruh nama dan sifat Allah sebagaimana yang datang dalam wahyu, tanpa tahrif, ta‘thil, takyif, dan tamtsil.”

Bantahan bagi jahmiyah, seandainya seseorang mensifati Allah itu ada, kemudian dia berkata: dia tidak bicara, tidak melihat, tidak mendengar, tidak punya tangan, tidak di atas tidak di bawah, tidak di dalam, tidak di luar, tidak di kanan tidak di kiri, tidak di depan tidak di belakang apa bisa hal itu dikatakan ada.

5.   Kesesatan takwil batiniyyah.

Batiniyyah juga orang-orang thariqat bukan hanya memalingkan sifat-sifat Allah bahkan mereka juga memalingkan ayat-ayat Al-Qur’an, misalnya firman Allah ta’ala:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ .

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kepastian (kematian).” (Al-Hijr [15]:99).

Mereka memahami tanpa didasari apa yang telah dijelaskan oleh nash yang lain yang bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena yaqin disitu di tafsirkan Rasulullah dengan kematian.

Demikian juga mereka menta’rif sifat-sifat Allah.

Misalnya:

Allah ta‘ala berfirman:

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

“Ar-Rahman ber-istiwa di atas ‘Arsy.” (QS. Ṭaha [20]: 5).

Ahlus Sunnah menetapkan sifat istiwa’ bagi Allah sebagaimana yang layak bagi-Nya, tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk dan tanpa menanyakan bagaimana hakikatnya.

Adapun sebagian ahli ta’wil memalingkan makna istiwa’ menjadi istawla, yaitu “menguasai”.

Memalingkan makna tersebut tanpa dalil yang benar merupakan bentuk tahrif (penylewengan).

Contoh kedua: sifat tangan

Allah Ta‘ala berfirman:

بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ

“Bahkan kedua tangan-Nya terbuka.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 64).

Ahlus Sunnah menetapkan sifat dua tangan bagi Allah sebagaimana yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, tanpa menyerupakan dengan tangan makhluk.

Adapun orang-orang yang menolak sifat Allah kemudian mentahrif tangan maknanya:

الْيَدُ بِمَعْنَى الْقُدْرَةِ

“Tangan maksudnya adalah kekuasaan.”

Dan lain sebagainya.

Kesalahan orang-orang yang menetapkan Sebagian sifat Allah dan menolak Sebagian sifat lainnya.

Contohnya adalah sebagian kelompok Asy‘ariyyah. Mereka menetapkan beberapa sifat seperti ilmu, qudrah (kekuasaan), iradah (kehendak), sam‘a (pendengaran), bashar (penglihatan), kalam (firman), dan hayah (kehidupan), tetapi menakwil atau tidak menetapkan sebagian sifat yang lain, seperti istiwa’, wajah, tangan, turun, datang, dan sifat-sifat fi‘liyyah lainnya.

Kalau seandainya dia menetapkan bahwa penglihatan Allah dan pendengarannya tidak sama dengan makhluk, kenapa tidak disamakan dengan sifat-sifat Allah yang telah mereka sebutkan bahwa sifat Allah yang lain juga tidak sama dengan makhluk.

Semoga bermanfaat.

 

-----000----

Sragen 26-08-2026

Abu Ibrahim Junaedi Abdullah.


Rabu, 19 Agustus 2026

MUJMAL USUL, BAB 2 NO 1, NAMA DAN SIFAT ALLAH

 

ثَانِيًا :

 

التَّوْحِيدُ الْعِلْمِيُّ الِاعْتِقَادِيُّ

 



Kedua:
Tauhid Ilmiah I‘tiqadi (Keyakinan/Akidah)

 

١ -الْأَصْلُ فِي أَسْمَاءِ اللَّهِ وَصِفَاتِهِ: إِثْبَاتُ مَا أَثْبَتَهُ اللَّهُ لِنَفْسِهِ أَوْ أَثْبَتَهُ لَهُ رَسُولُهُ ﷺ مِنْ غَيْرِ تَمْثِيلٍ وَلَا تَكْيِيفٍ وَنَفْيُ مَا نَفَاهُ اللَّهُ عَنْ نَفْسِهِ أَوْ نَفَاهُ عَنْهُ رَسُولُهُ ﷺ مِنْ غَيْرِ تَحْرِيفٍ وَلَا تَعْطِيلٍ كَمَا قَالَ تَعَالَىٰ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾ مَعَ الْإِيمَانِ بِمَعَانِي أَلْفَاظِ النُّصُوصِ وَمَا دَلَّتْ عَلَيْهِ.

1.Pokok dasar dalam nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah:

Menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, atau yang ditetapkan oleh Rasul-Nya untuk-Nya, tanpa menyerupakan(tamtsil) dan tanpa menanyakan bagaimana hakikatnya (takyif), serta meniadakan apa yang Allah tiadakan dari diri-Nya, atau yang ditiadakan oleh Rasul-Nya dari-Nya,

tanpa merubah makna(tahrif) dan tanpa menolak(ta‘thil), sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.

”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuura [42]: 11).

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura [42]:11).

Dengan tetap beriman kepada makna lafadz-lafadz nash nash dan apa yang ditunjukkannya.

Penjelasan:

Hendaknya kita mengetahui penjelasan nama dan sifat Allah ta’ala, hal ini akan menjadikan seseorang longgar hatinya, tidak putusasa, bersemangat dalam beribadah, dan menguatkan iman seseorang.

Adapun kaedah dalam memahami nama dan sifat Allah sebagai berikut:

Kaidah yang pertama:

Di dalam memahami nama dan sifat Allah hendaknya di perlakukan sebagaimana apa adanya, tanpa di-ta’thil (ditolak), tahrif (diselewengkan), takyif (ditanyakan), tamtsil (diserupakan), karena Allah telah meniadakan segala sesuatu apa pun yang menyerupai dirinya, namun Allah menetapkan nama dan sifat bagi dirinya.

Allah ta’ala berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.

”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuura [42]: 11)

Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ.

Orang-orang Yahudi berkata, "Tangan Allah terbelenggu," Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. (QS. Al Maidah [5]: 64)

قَالَ يَٰإِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَىَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ ٱلْعَالِينَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ . قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ.

Allah berfirman, “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” Iblis berkata, "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Shad [38]: 75-77)

Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa Allah ta’ala memiliki penglihatan dan pendengaran. Aqidah ahlussunnah wal jamaa’ah meyakini apa adanya, tidak menolak, menyelewengkan, menanyakan atau menyerupakan, karena kita mendapatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya mengimani apa adanya.

Orang-orang Jahmiyah mengingkari Allah telah menciptakan Adam dengan tangannya karena mereka menolak sifat-sifat Allah ta’ala.

Termasuk dosa besar apabila seseorang berkata tentang Allah tanpa didasari dengan ilmu.

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ.

"Katakanlah: 'Rabb-ku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia, tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah, dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap (tentang) Allah, apa saja yang tidak kamu ketahui'." (QS. Al A’raaf [7]: 33)

Kaidah yang kedua:

Ketentuan yang berkaitan dengan nama Allah:

Semua nama Allah adalah baik.

Allah ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا.

"Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu..” (QS. Al A’Raf [7]: 180).

Oleh karena itu Ad-Dahru (masa atau waktu dimana manusia hidup di dalamnya) bukan bagian dari nama Allah ta’ala, hanya saja Allah lah yang menghendaki semua yang terjadi dengan masa, oleh karena itu tidak boleh seseorang mencela masa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di dalam hadis Qudsi :

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ.

”Allah ’Azza wa Jalla berfirman, anak Adam menyakitiku. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Bukhari 4826, Muslim 6000).

Apabila seseorang meyakini semata-mata waktu yang berperan menentukan nasib mereka selain Allah, berarti dirinya telah menjadikan sekutu (berbuat syirik) kepada Allah ta’ala.” (Lihat Syarah kitab Tauhid Bab, Man Sabba Ad-Dahra faqad adzallah, Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan).

Nama Allah tidak dibatasi dengan jumlah bilangan tertentu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ.

“(Ya Allah) aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama-Mu, yang Engkau gunakan untuk diri-Mu, atau yang Engkau turunkan di dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan untuk diri-Mu dalam ilmu gaib di sisi-Mu.” (HR. Imam Ahmad 3712, Ibnu Hibban 2372, dishahihkan syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 199).

Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang lain:

إِنَّ للهِ تِسْعَةُ وَ تِسْعِيْنَ اسْمًا مَنْ أحْصَاهَا دَخَلَ الجَنَّة.

“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, barangsiapa menghafalnya akan masuk surga.” (HR. Bukhari 2376, Muslim 2677).

Maknanya bahwa Allah tidak hanya memiliki nama-nama itu saja, akan tetapi bahwa orang yang menghafal sejumlah 99 di antara nama-nama Allah, maka dia akan masuk surga. Kata beliau “Barangsiapa menghafalnya, atau menjaganya” bukan sebagai batasan,  Contohnya seperti perkataan orang yang berkata, “Aku memiliki seratus dirham yang akan ku sedekahkan” perkataan ini bukan berarti orang tersebut hanya memiliki dirham itu saja, bisa jadi dia siapkan untuk sedekah dirham yang lain.” (Lihat Syarah lum’atul I’tiqad, Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin).

Nama Allah tidak boleh ditetapkan dengan akal, harus ditetapkan dengan dalil syar’i.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” (QS. Al Isra’ [17]:36).

Nama Allah menunjukkan kepada dzat Allah, dan juga sifat yang terkandung di dalamnya.

Seperti nama Allah Ar-Rahman, akan sempurna dipahami jika dengan nama itu kita menetapkan dzat Allah, menetapkan sifat rahmat yang terkandung di dalamnya, dan menetapkan pengaruh dari sifat itu bahwa Allah merahmati makhluk-makhluk-NYa.

Kaedah yang ketiga.

Ketentuan yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah.

Semua sifat Allah maha sempurna dan penuh sanjungan.

Oleh karena itu Allah ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ.

“Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An Nahl [16]: 60).

Meskipun Allah membalas orang-orang yang berbuat makar bukan berarti Allah memiliki sifat tercela, akan tetapi sebagai bentuk keadilan Allah kepada sesama hambanya.

Sebagaiman Allah ta’ala berfirman:

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ.

“Dan mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Ali-Imran[3]:54).

وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللهُ وَاللهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ.

“Mereka membuat makar dan Allah membalas makar mereka. Allah adalah sebaik-baik Pembuat makar.” (QS. Al-Anfal [8]: 30)

إِنَّهُمْ يَكِيدُونَ كَيْدًا, وَأَكِيدُ كَيْدًا.

“Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan Akupun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya.” (QS. At Tariq [86]: 15-16)

Sifat Allah terbagi menjadi dua:

Yaitu Sifat Tsubutiyah dan Salbiyah.

Sifat Tsubutiyah adalah sifat yang ditetapkan untuk diri-Nya, sepeti Al Hayat, Al Ilmu, Al Qudrah, dan ini wajib di tetapkan sesuai dengan keagungan Allah.

Adapun sifat Salbiyah, adalah sifat yang dinafikan (ditiadakan) dari diri Allah seperti sifat zhalim, mengantuk, lelah, tidur ataupun lupa.

Oleh karena itu Allah ta’ala berfirman:

وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا.

“Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun juga.” (QS. Al Kahfi [18]:49).

Sifat Tsubutiyah terbagi menjadi dua:

Sifat dzatiah dan fi’liyah.

Tsubutiah dzatiah, adalah sifat yang senantiasa terus ada pada Allah subhanahu wa ta’ala, seperti As-Sama’, Al-Bashar, Al-Qudrah.

Tsubutiah fi’liyah, adalah sifat yang terkait dengan kehendaknya, seperti berbicara, berbuat, datang, turun dan lain-lain kapanpun sesuai kehendak Allah ta’ala.

Adakalanya sifat Allah termasuk sifat dzatiah dan juga sifat fi’liyah, seperti sifat Al Kalam. (Lihat Syarah Lum’atul I’tiqad, Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin).

Dari sini kita mengetahui bahwa nama Allah sudah mengandung sifat di dalamnya. Tanpa harus menolak, menyelewengkan, menanyakan ataupun menyerupakan. (Lihat Syarah Lum’atul I’tiqad, Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin).

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

 

-----000-----

 

Sragen-19-08-2026

Abu Ibrahim Junaedi.


BAB 2 No. 2 MUJMAL USUL MENYERUPAKAN DAN MENOLAK SIFAT ALLAH ADALAH KEKUFURAN.

  MUJMAL USUL AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH BAB 2 No. 1 MENYERUPAKAN DAN MENOLAK SIFAT ALLAH ADALAH KEKUFURAN.   ٢ - التَّمْثِيلُ وَالتَّ...