Selasa, 07 Juli 2026

SYARAH MUJMAL USUL AHLI SUNNAH WAL JAMA'AH BAB 1 NO 8.

MUJMAL USUL BAB 1 NO 8.



 

٨- الْعِصْمَةُ ثَابِتَةٌ لِلرَّسُولِ وَالْأُمَّةُ فِي مَجْمُوعِهَا مَعْصُومَةٌ مِنَ الِاجْتِمَاعِ عَلَى ضَلَالَةٍ وَأَمَّا آحَادُهَا فَلَا عِصْمَةَ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ. وَمَا اخْتُلِفَ فِيهِ الْأَئِمَّةُ وَغَيْرُهُمْ فَمَرْجِعُهُ إِلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مَعَ الِاعْتِذَارِ لِلْمُخْطِئِ مِنْ مُجْتَهِدِي الْأُمَّةِ.

8.Kemaksuman (terjaga dari kesalahan) ditetapkan bagi Rasul. Adapun umat ini secara keseluruhan terjaga dari kesepakatan di atas kesesatan. Namun individu-individu dari umat ini tidak ada yang ma‘shum(terjaga). Perbedaan pendapat di kalangan para imam dan selain mereka maka kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, disertai sikap memaafkan terhadap pejuang dari umat ini yang keliru.

 

Penjelasan:

1.   Semua Nabi Dan Rasul Mereka Adalah Maksum, Meskipun Mereka Memiliki Kesalahan.

Adapun yang dimaksud maksum yaitu:

1.   Maksum dari kesalahan menyampaikan risalah.

2.   Maksum dari dosa-dosa besar.

3.   Maksum dari dosa-dosa kecil yang dilakukan terus-menerus.

Sebagaimana nabi Adam telah memakan buah di Surga.

Allah ta’ala berfirman:

وَقُلْنَا يٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَاۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ فَاَزَلَّهُمَا الشَّيْطٰنُ عَنْهَا فَاَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيْهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۚ وَلَكُمْ فِى الْاَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَّمَتَاعٌ اِلٰى حِيْنٍ

Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu, dan janganlah kamu dekati pohon ini, sehingga kamu termasuk orang-orang zalim!, Lalu, setan menggelincirkan keduanya darinya sehingga keduanya dikeluarkan dari segala kenikmatan ketika keduanya ada di sana (surga). Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain serta bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Al-Baqarah [2]:35-36).

Allah berfirman tentang nabi Hud:

وَنَادٰى نُوْحٌ رَّبَّهٗ فَقَالَ رَبِّ اِنَّ ابْنِيْ مِنْ اَهْلِيْۚ وَاِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَاَنْتَ اَحْكَمُ الْحٰكِمِيْنَ قَالَ يٰنُوْحُ اِنَّهٗ لَيْسَ مِنْ اَهْلِكَ ۚاِنَّهٗ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْـَٔلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنِّيْٓ اَعِظُكَ اَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ. قَالَ رَبِّ اِنِّيْٓ اَعُوْذُ بِكَ اَنْ اَسْـَٔلَكَ مَا لَيْسَ لِيْ بِهٖ عِلْمٌ ۗوَاِلَّا تَغْفِرْ لِيْ وَتَرْحَمْنِيْٓ اَكُنْ مِّنَ الْخٰسِرِيْنَ

Nuh memohon kepada Tuhannya seraya berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil.” Dia (Allah) berfirman, “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu karena perbuatannya sungguh tidak baik. Oleh karena itu, janganlah engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Sesungguhnya Aku menasihatimu agar engkau tidak termasuk orang-orang bodoh.” (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Hud [11]:45-47).

Allah ta’ala berfirman tentang nabi Musa:

فَوَكَزَهُ مُوسَىٰ فَقَضَىٰ عَلَيْهِ ۖ قَالَ هَٰذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُّبِينٌ ۝ قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي ۖ فَغَفَرَ لَهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Lalu Musa meninjunya, maka matilah orang itu. Musa berkata, 'Ini termasuk perbuatan setan. Sungguh, setan adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata.' Musa berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku, maka ampunilah aku.' Lalu Allah mengampuninya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Qasas[28]: 15–16).

Nabi Yunus alaihi salam.

Allah ta’ala berfirman:

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوتِ إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ.

"Maka bersabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu dan janganlah engkau seperti orang yang berada di dalam ikan (Yunus), ketika ia berdoa sedang ia penuh dengan kesedihan." (QS. Al-Qalam [68]:48).

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ.

"Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia mengira bahwa Kami tidak akan menyempitkan (menguji) dirinya. Kemudian ia berdoa dalam kegelapan, 'Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”(QS. Al-Anbiya [21]:87).

Allah ta’ala juga berfirman tentang Nabi Muhammad:

عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ

"Dia (Nabi Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena seorang tunanetra (Abdullah bin Ummi Maktum) telah datang kepadanya. Tahukah engkau (Nabi Muhammad) boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran sehingga pengajaran itu bermanfaat baginya?.” (QS. ‘Abasa [80]:1-4).

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ ۖ تَبْتَغِي مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

"Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu, karena engkau hendak mencari keridaan istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. At-Tahrim [66]: 1)

Perkataan para ulama.

فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عَصَمَ رُسُلَهُ؛ لِأَنَّهُمْ أُمَنَاءُ وَحْيِهِ إِلَى عِبَادِهِ، وَجَعَلَهُمْ قُدْوَةً لِمَنْ آمَنَ بِهِمْ وَاتَّبَعَهُمْ مِنْ خَلْقِهِ، فَالْحِكْمَةُ تَقْتَضِي أَنْ يَكُونُوا مَعْصُومِينَ،

"Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla telah menjaga para rasul-Nya, karena mereka adalah para pemegang amanah wahyu-Nya yang disampaikan kepada hamba-hamba-Nya. Allah juga menjadikan mereka sebagai teladan bagi siapa saja yang beriman kepada mereka dan mengikuti mereka dari kalangan makhluk-Nya. Hikmah Allah menuntut agar mereka bersifat ma'shum (terjaga). (Lajnatu al-Fatwa bi asy-Syabakah al-Islamiyyah 1/1306).

أَجْمَعَ أَهْلُ الْمِلَلِ وَالشَّرَائِعِ عَلَى عِصْمَةِ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ تَعَمُّدِ الْكَذِبِ فِيمَا دَلَّ عَلَى صِدْقِهِمْ فِيهِ،.

"Seluruh penganut agama-agama dan syariat-syariat telah bersepakat bahwa para nabi ma'shum (terpelihara) dari perbuatan sengaja berdusta dalam perkara-perkara yang menjadi bukti kebenaran mereka." ) Da‘watu ar-Rusuli ‘Alaihimus Salam Ahmad Ahmad Ghulusy 1/545).

2.   Umat Secara Keseluruhan Terjaga Dari Kesalahan.

Allah ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا.

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (para sahabat) umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas kalian.” (QS. Al-Baqarah[2]: 143).

وَمَنْ يُّشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدٰى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهٖ مَا تَوَلّٰى وَنُصْلِهٖ جَهَنَّمَۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًا.

”Siapa yang menentang Rasul (Nabi Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dalam kesesatannya dan akan Kami masukkan ke dalam (neraka) Jahanam. Itu seburuk-buruk tempat kembali.” ( QS. An-Nisa [4]:115).

Imam Syafi’i berkata, menyelisihi jalan kaum mukminin yaitu ijma’ kaum muslimin.

 

 

Dari sahabat Annas radhiyallahu‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ اللَّهَ لَا يَجْمَعُ هَذِهِ الْأُمَّةَ عَلَى ضَلَالَةٍ أَبَدًا.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umat ini di atas kesesatan selamanya.” (HR. Ibnu Majah 3940, al-Hakim 201-202, at- Tirmidzi 2269 dan diShahihkan syaikh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ 1848, al-Misykah 173).

Seperti ijma’nya Allah di atas Arsy, haramnya musik, dan lain-lain.

3.   Tidak Ada Individu Yang Maksum Setelah Para Nabi Dan Rasul.

Adapun orang-orang yang mengeklaim maksum imam mereka yaitu:

1)  Orang-orang syi’ah.

 

Salah satu ajaran utama dalam teologi Syiah Imamiyah adalah keyakinan bahwa para imam dari keturunan Ali bin Abi Thalib memiliki sifat ma’shum, yaitu terjaga dari dosa, kesalahan, dan kekeliruan dalam menyampaikan ajaran agama. Dalam pandangan Syiah, kemaksuman ini tidak hanya dimiliki oleh para nabi, tetapi juga oleh para imam yang mereka.

Maksum (ma’shum) berarti seseorang yang dijaga oleh Allah dari:

·                     dosa besar maupun kecil

·                     kesalahan dalam memahami agama

·                     kekeliruan dalam memimpin umat

Karena dianggap ma’shum, para imam Syi’ah diyakini:

·                     tidak mungkin salah dalam fatwa

·                     tidak mungkin berdosa

·                     selalu benar dalam penafsiran agama

Dengan demikian, perkataan dan perbuatan para imam dianggap memiliki otoritas sangat tinggi dalam ajaran Syiah.

Mereka berdalil dengan firman Allah ta’ala:

اِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًاۚ

“Sesungguhnya Allah hanya hendak menghilangkan dosa darimu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab [33]:33).

Ulama telah membantah hal ini karena ayat ini berkaitan dengan para istri Nabi sebagaimana di permulaan ayat:

وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْاُوْلٰى وَاَقِمْنَ الصَّلٰوةَ وَاٰتِيْنَ الزَّكٰوةَ وَاَطِعْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ.

“Tetaplah (tinggal) di rumah-rumahmu dan janganlah berhias (dan bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu. Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, serta taatilah Allah dan Rasul-Nya. (QS. Al-Ahzab [33]:33).

2)  Orang-orang sufi.

Mereka mengatakan para wali mereka mahfud (terjaga).

Semua ini tidak benar karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi 2499, disahihkan Syaikh al-Albani di dalam al-Targib 3139).

1.   Demikian Pula Orang-Orang Yang Melarang Bermadzhab Lebih Dari Satu

Hal ini sama saja meyakini bahwa kebenaran semua ada di madzhabnya, di mana hal ini tidak mungkin, kalau seandainya mereka berpendapat adakalanya kebenaran itu ada di madzhab lain maka bukankah kita diperintahkan untuk mengikuti kebenaran di manapun berada.

2.   Konsekwensi Pengakuan Kemaksuman Kepada Para Nabi Dan Rasul.

Sebagaimana panutan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Yaitu meneladani beliau.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ

“Dan (Rasulullah) tidak pula berucap berdasarkan hawa nafsu(-nya).  Ia (Al-Qur’an itu) tidak lain, kecuali wahyu yang disampaikan (kepadanya).” (QS. An-Najm [53]: 3-4).

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

 

 


Sragen 07-07-2026

Abu Ibrahim Junaedi.


BAB 4 MACAM-MACAM SYIRIK BESAR. SOAL: 19 MENEPIS WAS-WAS SETAN, SIAPA YANG MENCIPTAKAN ALLAH

 

BAB 4

MACAM-MACAM SYIRIK BESAR.

SOAL: 19

MENEPIS WAS-WAS SETAN, SIAPA YANG MENCIPTAKAN ALLAH

 

س ١٩ - كَيْفَ تَرُدُّ سُوَالَ الشَّيْطَانِ : مَنْ خَلَقَ اللَّهُ.

Soal: Bagaimana kita menepis bisikan syetan dengan adanya pertanyaan, "Siapa yang menciptakan Allah?"

ج ١٩ - إِذَا وَسْوَسَ الشَّيْطَانُ لِأَحَدِكُمْ هذَا السُّوَالَ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ.

Jawab: Apabila syetan membisik-bisikkan pertanyaan ini kepada salah seorang di antara kalian, maka berlindunglah kepada Allah (membaca ta'awudz).

قَالَ تَعَالَى: وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ . سورة فصلت : ٣٦

Allah ta’ala telah berfirman: "Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu

gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Surat Fushshilat ayat :36).

وَعَلَّمَنَا الرَّسُوْلُ أَنْ تَرُدُّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ وَتَقُوْلُ :

Nabi telah mengajari kita untuk menepis segala makar setan, agar kita mengucapkan :

آمَنْتُ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ , اللَّهُ أَحَدٌ , اللَّهُ الصَّمَدُ , لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ , وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ, ثُمَّ لْيَثْقُلْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاثًا وَلْيَسْتَعِذْ مِنَ الشَّيْطَانِ , وَلْيَنْتَهِ , فَإِنَّ ذَلِكَ يَذْهَبُ عَنْهُ.

“Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, Allah Yang Maha Esa, Allah tempat bergantung segala makhluk, Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.” Kemudian hendaklah ia meludah ringan ke sebelah kirinya sebanyak tiga kali, memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, dan berhenti dari perbuatan itu, karena sesungguhnya yang demikian itu akan menghilangkan gangguan darinya. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Abu Dawud).

-----000-----

Penjelasan:

1.   Setan Telah Bersumpah Untuk Menyesatkan Manusia.

Allah ta’ala mengabarkan kepada kita dengan firman-Nya:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ . 

(Iblis) menjawab, “Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Shad [38]:82-83).

Setan adalah musuh yang nyata sebagaimana Allah ingatkan kepada kita.

Allah ta’ala berfirman:

وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ اِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوْۤءِ وَالْفَحْشَاۤءِ وَاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ.

“Dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata. Sesungguhnya (setan) hanya menyuruh kamu untuk berbuat jahat dan keji serta mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah[2]:168-169).

 

2.   Setan Mampu Berjalan Di Peredaran Darah Manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersanda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ، وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يُلْقِيَ فِي أَنْفُسِكُمَا شَيْئًا.

“Sesungguhnya setan berjalan dalam diri manusia sebagaimana mengalirnya darah. Dan aku khawatir setan akan melemparkan sesuatu (keraguan atau prasangka buruk) ke dalam hati kalian berdua.” (HR. al-Bukhari 2038, 2174).

 

3.   Setan Selalu Mengoda Manusia Dalam Keadaan Apapun.

Allah ta’ala berfirman:

قَالَ فَبِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ثُمَّ لَاٰتِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَاۤىِٕلِهِمْۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ

Ia (Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian, pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf[7]:16-17).

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:  “Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka mereka.” maksudnya, saya akan meragukan mereka terhadap urusan akhirat mereka. “Dan dari belakang mereka.”  Yaitu saya akan membuat mereka menyukai duniawi mereka. “Dan dari kanan mereka.” Maksudnya, saya akan mengaburkan mereka terhadap urusan agama mereka. “Dan dari kiri mereka.”  Yakni saya akan membuat mereka tergiur kepada kemaksiatan. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-A’raf [7]:16-17).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ لِابْنِ آدَمَ بِأَطْرُقِهِ

“Sesungguhnya setan menghadang anak Adam di setiap jalan-jalannya.” (HR. Ahmad 15958, An-Nasai 3134, At-Tabrani 6558, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahih al-Jami’ 1465).

Dari Jabir radhiallahu anhu dia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الشَّيطَانَ يَحضُرُ أَحَدَكُم عِندَ كُلِّ شَيْءٍ مِن شَأنِهِ.

“Sesungguhnya setan selalu hadir di sisi seseorang dalam setiap urusannya.” (HR. Muslim 2033)

Setan Hadir Dalam Setiap Urusan Manusia.

1)  Setan mendatangi manusia Saat Tidur.

Setan akan mengikat tiga ikatan ikatan, masing masing bertulis malam masih panjang.

عْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ، فَارْقُدْ فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ، انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ.

Setan mengikat pada tengkuk kepala salah seorang dari kalian ketika ia tidur dengan tiga ikatan. Pada setiap ikatan ia memukul dan membisikkan: “Malam masih panjang bagimu, maka tidurlah.” Apabila ia terbangun lalu mengingat Allah, maka terlepaslah satu ikatan. Apabila ia berwudhu, maka terlepaslah satu ikatan. Apabila ia shalat, maka terlepaslah seluruh ikatannya. Maka ia pun memasuki pagi hari dalam keadaan bersemangat, jiwanya baik dan lapang. Namun jika tidak, ia memasuki pagi hari dalam keadaan jiwanya buruk dan malas. (HR. Bukhari 1142, Muslim 776)

2)  Setan Menggoda Saat Beribadah. 

Setan lebih keras menggoda manusia saat manusia shalat dan ibadah lainnya agar manusia lalai.

Oleh karena itu Rasulullah perintahkan untuk berlindung.

أَعُوذُ بِالله السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْخِهِ، وَنَفْثِهِ.

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari gangguan setan yang terkutuk, dari gangguan kerasnya yang menjerumuskan pada kegilaan, dari hembusan kesombongannya, dan dari bisikan-bisikan batilnya berupa syair dan tipu daya.” (HR. Ahmad 11473, at-Tirmidzi 242, Abu Dawud 775, Baihaqi 2349, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Sifat Shalat 94-95).

Dari Utsman bin Abil ‘Ash radhiyallahu’anhu ia berkata:

يا رَسولَ اللهِ، إنَّ الشَّيْطَانَ قدْ حَالَ بَيْنِي وبيْنَ صَلَاتي وَقِرَاءَتي يَلْبِسُهَا عَلَيَّ، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: ذَاكَ شيطَانٌ يُقَالُ له خَنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ باللَّهِ منه، وَاتْفِلْ علَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا قالَ: فَفَعَلْتُ ذلكَ فأذْهَبَهُ اللَّهُ عَنِّي

“Wahai Rasulullah, setan telah menghalangi antara aku dan shalatku serta mengacaukan bacaanku. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “itu adalah setan yang disebut dengan Khanzab. Jika engkau merasakan sesuatu (gangguan) maka bacalah ta’awwudz dan meniuplah ke kiri 3x”. Utsman mengatakan: “aku pun melakukan itu, dan Allah pun menghilangkan was-was setan dariku” (HR. Muslim 2203).

3)  Setan Menggoda Manusia Agar Saling Bermusuhan.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ

“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat” (QS. Al Maidah[5]: 91).

Sulaiman bin Shurad radhiyallahu ‘anhu berkata, “Pada suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam sedang dua orang lelaki sedang saling mengeluarkan kata-kata kotor satu dan lainnya. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ, لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ

“Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya jika sekiranya ia mau membaca, ‘A’udzubillahi minas-syaitani’ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan), niscaya hilang kemarahan yang dialaminya.” (HR. Bukhari 3282, 6048, Muslim 2610).

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ.

 "Sesungguhnya setan sudah putus asa akan disembah oleh orang-orang yang salat di Jazirah Arab, akan tetapi ia masih berharap bisa mengadu domba di antara mereka."  [Sahih Muslim - 2812]

Imam an-Nawawi Rahimahullah berkata: “Maknanya, setan merasa putus asa untuk membuat penduduk jazirah Arab bisa menyembahnya. Akan tetapi dia tetap berusaha untuk mengadu domba di antara mereka dengan berbagai pertikaian, permusuhan, peperangan, fitnah dan yang lainnya.” (Lihat Syarah Shahih Muslim 17/157 dan Kitab Khas 'Ishul' Arab 33-34).

4)  Setan Menggoda Kepada Suami Istri Agar Mereka Bertengkar Dan Bercerai.

Dari Jabir berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ نِعْمَ أَنْتَ. قَالَ الْأَعْمَشُ أُرَاهُ قَالَ فَيَلْتَزِمُهُ.

 “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air lalu mengirim bala tentaranya (untuk menggoda manusia dan menyesatkan mereka). Yang kedudukannya paling dekat dengan Iblis adalah yang paling besar godaannya (dalam menyesatkan manusia). Salah satu di antara mereka datang lalu berkata, ‘Aku telah melakukan ini dan itu,’ (maksudnya menyuruh membunuh, mencuri dan minum khamar, misalnya). Iblis pun menjawab, ‘Kau tidak melakukan apa pun.’ Hingga datanglah salah satu setan dan berkata kepada Iblis, ‘Aku tidak meninggalkan fulan hingga aku memisahkan antara dia dengan istrinya dan menjadikannya menceraikan istrinya.’ Nabi bersabda, “Kemudian iblis mendekatkan setan itu kepada dirinya dan berkata, “Ya, engkau telah melakukannya.” Al A’masy menyebutkan dalam riwayatnya, “Iblis berkata, ‘Tetaplah (menggodanya).” (HR. Muslim2813,  Ahmad 14377).

5)  Setan Menanamkan Keragu-Raguan Dan Was-Was Dalam Keimanannya.

Allah ta’ala berfirman:

قَالَ تَعَالَى: وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ .

"Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Fushshilat [41]:36).

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ.

“Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf [7]: 200).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَنْ يَبْرَحَ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يَقُولُوا: هَذَا اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ.

"Manusia tidak akan berhenti saling bertanya sampai akhirnya mereka berkata, 'Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Lalu siapa yang menciptakan Allah?” (HR. Bukhari 7296).

Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ، فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ.

"Setan akan mendatangi salah seorang di antara kalian, lalu berkata, 'Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?' hingga akhirnya ia berkata, 'Lalu siapa yang menciptakan Tuhanmu?' Jika bisikan itu sampai kepadanya, hendaklah ia meminta perlindungan kepada Allah dan berhenti (tidak meneruskan pikiran tersebut)." (HR. Bukhari 3276, Muslim 134).

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يَأْتِيهِ الشَّيْطَانُ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَكَ؟ فَيَقُولُ: اللَّهُ، فَيَقُولُ: فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ؟ فَإِذَا وَجَدَ ذَلِكَ أَحَدُكُمْ، فَلْيَقْرَأْ: آمَنْتُ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ، فَإِنَّ ذَلِكَ يُذْهِبُ عَنْهُ .

"Sesungguhnya salah seorang di antara kalian akan didatangi oleh setan. Lalu setan berkata, 'Siapakah yang menciptakanmu?' Ia menjawab, 'Allah.' Kemudian setan berkata lagi, 'Lalu siapakah yang menciptakan Allah?' Apabila salah seorang di antara kalian mendapati bisikan seperti itu, hendaklah ia membaca: آمَنْتُ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ 'Aku beriman kepada Allah dan kepada para rasul-Nya.'Karena sesungguhnya bacaan itu akan menghilangkan (bisikan tersebut) darinya." (HR. Ahmad 26203, dishahihkan syaikh al-Albani di dalam as-Shahihah 116).

6)  Setan Memberikan Janji-Janji Dusta.

Allah ta’ala berfirman:

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيْهِمْۗ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطٰنُ اِلَّا غُرُوْرًا.

“Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka..” (QS. An-Nisaa[4]: 120-121).

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ ۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي ۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنفُسَكُم ۖ مَّا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنتُم بِمُصْرِخِيَّ ۖ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ ۗ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ.

"Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diputuskan, 'Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya. Aku tidak mempunyai kekuasaan sedikit pun atasmu, melainkan sekadar aku menyeru kamu, lalu kamu mematuhi seruanku. Maka janganlah kamu mencela aku, tetapi celalah diri kalian sendiri. Aku tidak dapat menolong kalian, dan kalian pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku berlepas diri dari perbuatan kalian yang dahulu mempersekutukan aku (dengan Allah). Sesungguhnya orang-orang zalim mendapat azab yang pedih." (QS. Ibrahim[14]: 22)

7)  Setan Menakut-Nakuti Manusia Dengan Kemiskinan.

Allah ta’ala berfirman:

ٱلشَّيۡطَـٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلۡفَقۡرَ وَيَأۡمُرُكُم بِٱلۡفَحۡشَآءِ ۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغۡفِرَةٗ مِّنۡهُ وَفَضۡلٗا ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ.

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan untukmu ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah[2]: 268).

8)  Setan Menyesatkan Manusia Saat Sakaratul Maut.

Setan tetap berupaya menggoda manusia di detik-detik terakhir kehidupannya (sakaratul maut) agar meninggal dalam keadaan su'ul khatimah.

Abdullah bin Ahmad bin Hambal berkata, ‘Aku menyaksikan wafatnya ayahku; Ahmad. Aku memegang kain untuk mengikat jenggotnya. Dia menyadarinya kemudian dia bangun seraya berkata dengan mengisyaratkan, ‘tidak, sesudah ini, tidak, sesudah ini!!’ Dia melakukan hal itu berkali-kali. Maka aku bertanya kepadanya, ‘Wahai ayahku, apa yang tampak olehmu?’ Beliau berkata, ‘Sesungguhnya setan berdiri di hadapan kakiku dan mengigit jari jemarinya seraya berkata, ‘Wahai Ahmad, engkau telah lari dariku.’ Sedangkan aku berkata, ‘Tidak sesudah ini. Tidak (aku tidak ikut engkau) hingga aku mati.” (At-Tazkirah 30, al-Qurthubi). 

9.   Tahapan Iblis Menjerumuskan Manusia.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata di dalam kitab,  Ighatsat al-Lahfan, Iblis menjerumuskan manusia dengan 7 perkara:

الأُولَى: الشِّرْكُ بِاللَّهِ.

Yang pertama: syirik kepada Allah.

الثَّانِيَةُ: الْبِدْعَةُ.

Yang kedua: bid‘ah.

الثَّالِثَةُ: الْكَبَائِرُ.

Yang ketiga: dosa-dosa besar.

الرَّابِعَةُ: الصَّغَائِرُ.

Yang keempat: dosa-dosa kecil.

الْخَامِسَةُ: أَنْ يَشْغَلَهُ بِالْمُبَاحَاتِ عَمَّا هُوَ أَوْلَى مِنْهَا.

Yang kelima: menyibukkan seorang hamba dengan perkara-perkara mubah sehingga melalaikannya dari yang lebih utama.

السَّادِسَةُ: أَنْ يَشْغَلَهُ بِالْمَفْضُولِ عَنِ الْفَاضِلِ.

Yang keenam: menyibukkan seorang hamba dengan yang kurang utama sehingga meninggalkan yang lebih utama.

السَّابِعَةُ: تَسْلِيطُ جُنُودِهِ مِنَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ.

Yang ketujuh: mengerahkan bala tentaranya dari kalangan manusia dan jin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا غَضِبَ الرَّجُلُ فَقَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ سَكَنَ غَضَبُهُ

Jika seseorang dalam keadaan marah, lantas ia ucapkan, ‘A’udzu billah (Aku meminta perlindungan kepada Allah), maka redamlah marahnya.” (Disebutkan di dalam Al-Jami’us As-Shahih Lis-Sunnani wal Masanid, Suhaib ‘Abdul Jabbar juz 8, hal 467, di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah 1376).

10.                     Sunnah Melawan Syaitan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ عِفْرِيتًا مِنَ الجِنِّ تَفَلَّتَ عَلَيَّ البَارِحَةَ - أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا - لِيَقْطَعَ عَلَيَّ الصَّلاَةَ، فَأَمْكَنَنِي اللَّهُ مِنْهُ، فَأَرَدْتُ أَنْ أَرْبِطَهُ إِلَى سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي المَسْجِدِ حَتَّى تُصْبِحُوا وَتَنْظُرُوا إِلَيْهِ كُلُّكُمْ، فَذَكَرْتُ قَوْلَ أَخِي سُلَيْمَانَ: رَبِّ هَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي "، قَالَ رَوْحٌ: «فَرَدَّهُ خَاسِئًا

“Sesungguhnya seorang ifrit dari kalangan jin mendatangiku tadi malam — atau beliau mengucapkan kalimat yang semakna — dengan tujuan mengganggu dan memutus shalatku. Maka Allah memberiku kemampuan untuk menguasainya. Aku pun berniat mengikatnya pada salah satu tiang masjid agar kalian semua dapat melihatnya pada pagi hari. Namun aku teringat perkataan saudaraku Sulaiman: ‘Wahai Rabb-ku, anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun setelahku. Perawi Ruh berkata: “Maka beliau pun melepaskannya dalam keadaan hina.” (HR. al-Bukhari 461, Ahmad 7965).

Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah bagi orang yang ikhlas dan memiliki ilmu.

Allah ta’ala berfirman:

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ۝ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ.

"Iblis berkata, 'Ya Tuhanku, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, sungguh akan aku jadikan (kemaksiatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan sungguh akan aku sesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu di antara mereka yang ikhlas (dipilih dan dimurnikan oleh-Mu).” (Al-Hijr [15]: 39-40).

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا.

“Karena Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (QS. An Nisaa[4]:76).

Demikianlah semoga kita terlindungi dari bahaya setan aamiin.

 

-----000-----

 

Sragen 07-07-2026

Abu Ibrahim Junaedi Abdullah.


SYARAH MUJMAL USUL AHLI SUNNAH WAL JAMA'AH BAB 1 NO 8.

MUJMAL USUL BAB 1 NO 8.   ٨- الْعِصْمَةُ ثَابِتَةٌ لِلرَّسُولِ وَالْأُمَّةُ فِي مَجْمُوعِهَا مَعْصُومَةٌ مِنَ الِاجْتِمَاعِ عَلَى ضَلَالَ...