MENGENALI BAHAYA BID’AH DALAM AGAMA.
Bid’ah di dalam agama tak ubahnya penyakit ganas yang
menyerang pada organ tubuh seseorang, demikian pula bid’ah menjadikan kerusakan
pada agama seseorang.
Allah ta’ala berfirman:
الَّذِي خَلَقَ
الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Yang
menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih
baik amalnya. Dan.” (QS. Al-Mulk [67]: 2).
Yakni yang terbaik
amalnya, seperti yang dikatakan oleh Muhammad ibnu Ajlan, bahwa dalam hal ini
Allah tidak mengungkapkannya dengan kalimat lebih banyak amalnya.
(Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Mulk [67]:2).
Dari
Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasululullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda:
مَا بَقِيَ شَيْءٌ
يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلَّا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ.
“Tidak ada sesuatu pun yang dapat mendekatkan ke surga dan
menjauhkan dari neraka, melainkan semuanya telah dijelaskan kepada kalian.” (HR.
Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir 1647,Syaikh Al-Albani menilai sanadnya sahih
dalam ash-Shahihah 1803).
Wajib bagi kita mengenali penyakit ganas bid’ah yang dapat merusak
agama kita.
1.
Pengertian bid’ah.
Dafinisi
bid’ah secara bahasa yaitu: mengadakan satu perkara tanpa ada contoh
sebelumnya. (Al Mu’jam Al Wasith, 1/91).
Hal
ini sebagaimana di sebutkan Allah ta’ala di dalam firman-Nya:
بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ.
“Dialah
Allah Pencipta langit dan bumi.” (Al-Baqarah [2]: 117).
Adapun
definisi bid’ah secara istilah apa yang tulis oleh Imam Asy Syatibi dalam
kitabnya Al I’tisham. Beliau mengatakan, bid’ah yaitu:
عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ
تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي
التَّعَبُدِ للهِ سُبْحَانَهُ.
“Sebuah
ungkapan pada tatacara di dalam beragama yang dibuat-buat menyerupai syari’at
(yang tidak ada dasarnya), dimaksudkan melakukan hal itu untuk berlebih-lebihan
dalam beribadah kepada Allah ta’ala.” (Al-I’tisam hal 31-32, Imam Asy-Syatibi).
2. Bid’ah ditinjau dari asalnya.
Bid’ah
ditinjau dari asalnya ada dua:
1) Bid’ah hakikiah. Yaitu perbuatan (amalan) yang tidak memiliki
sandaran dalil syar'i sama sekali, baik dari Al-Qur’an, Sunnah maupun ijma’,
secara global maupun secara terperinci.
Disebut
bid'ah hakikiyah, sebab perkara tersebut adalah perkara (amalan) yang baru sama
sekali tanpa ada contoh sebelumnya.
2) Bid'ah idhafiyah. ialah bid'ah yang mempunyai dalil, tetapi
dalil tersebut tidak bisa dijadikan sandaran.
Dilihat
dari adanya dalil, bid'ah itu seperti layaknya Sunnah, karena sama-sama
mempunyai dalil. Akan tetapi, karena dalil tersebut tidak bisa dijadikan
sandaran maka ia sama dengan bid'ah hakikiyah yang bersandar kepada syubhat
bukan kepada dalil, atau bahkan tidak bersandar kepada sesuatu apapun.
(Al-I’tisam, Imam Asy-Syatibi).
3. Bahaya bid’ah.
Apa saja bahayanya bid’ah tersebut.
1) Tidak memenuhi syarat diterimanya amal.
Syarat
diterimanya amal ada 2:
Pertama Ikhlas.
Allah ta’ala berfirman:
ومَا أُمِرُوْا
إِلاَّلِيَعْبُدُاللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ.
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali
supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama yang lurus…”(QS. Al-Bayyinah[98] : 5).
فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا
لَهُ الدِّينَ.
“Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama
kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar [39]:2).
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو
لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ
أَحَدًا.
“Barang siapa
mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal
yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada
Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi[18]:110).
Kedua Ittiba’ (mengikuti sunnah Rasulullah)
Allah ta’ala berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ
تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun,
Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 31).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَعَلَيْكُمْ
بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا،
وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ.
“Hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah
Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan
gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Dawud, 4607;
At-Tirmidzi, 2676. Hadis ini dinilai sahih).
2) Bid’ah Adalah Bentuk Penentangan Kepada Allah Dan Rasul-Nya.
Allah dan Rasul-Nya memerintahkan agar berpegang kepada Al-Qur’an
dan Sunnah, akan tetapi para pelaku bid’ah tidak mau mentaati.
Allah ta’ala
berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ
وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ.
“
Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi
Muhammad) serta ululamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. “ (QS. An-Nisa’[4]:59).
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ
فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا.
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu
maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS.
Al-Hasyr [59]: 7).
Dari
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
مَا نَهَيْتُكُمْ
عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ،
فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلَافُهُمْ
عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ.
“Apa
yang aku larang kalian darinya, maka jauhilah. Dan apa yang aku perintahkan
kepada kalian, maka lakukanlah semampu kalian. Sesungguhnya yang membinasakan
orang-orang sebelum kalian adalah banyaknya pertanyaan mereka dan perselisihan
mereka terhadap nabi-nabi mereka.” (HR. Bukhari 7288 dan Muslim 1337)
3) Memalsukan Ajaran Atau Amalan Selain Islam Kedalam Ajaran Islam.
Sehingga ajaran atau amalan ini tertolak.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ, وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ
أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ .
“Barang siapa yang membuat perkara baru dalam urusan agama
yang tidak ada perintah dari kami maka tertolak.” Dalam riwayat Muslim,
“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami,
maka tertolak.” (HR. Bukhari 2697, Muslim 1718).
4) Ahli Bid’ah Kelak
Akan di Jauhkan Dari Telaga Rasulullah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الحَوْضِ، وَلَيُرْفَعَنَّ مَعِي
رِجَالٌ مِنْكُمْ ثُمَّ لَيُخْتَلَجُنَّ دُونِي، فَأَقُولُ: يَا رَبِّ أَصْحَابِي،
فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ.
“Aku
menunggu kalian di telaga. Sungguh ditampakkan kepadaku beberapa orang diantara
kalian, kemudian dia singkirkan dariku. Lalu aku mengatakan, “Ya Rabbi, itu adalah
sahabatku.” Kemudian dikatakan kepadaku, “Kamu tidak tahu apa yang mereka
perbuat setelah kamu meninggal.” (HR. Bukhari 6576, Muslim 2297).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, rasulullah
mengadukan hal itu:
إِنَّهُمْ مِنِّى . فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا
بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى.
“(Wahai Tuhanku) Mereka betul-betul pengikutku. Lalu Allah
berfirman, ‘Sebenarnya engkau tidak mengetahui bahwa mereka telah mengganti
ajaranmu setelahmu.” Kemudian aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)
mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku
sesudahku.” (HR. Bukhari 7051).
5) Ahli Bid’ah
telah menolak kesempurnaan Islam.
Allah ta’ala berfirman:
اَلْيَوْمَ
اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ
لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ..
“Pada
hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku
bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu...” (QS. Al-Maidah [5]:3).
6) Ahli Bid’ah tak
ubahnya menganggap Rasulullah berhianat kerasulannya.
Allah ta’ala
berfirman:
فَإِنْ
عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ.
“Jika mereka mendurhakaimu maka
katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang
kamu kerjakan.” (QS. As-Syu’ara [26]:216).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
إِنَّهُ لَمْ
يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ
عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ، وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ.
“Sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun sebelumku
kecuali wajib atasnya menunjukkan kepada umatnya kebaikan yang ia ketahui dan
mengingatkan mereka kejelekan yang ia ketahui.” (HR. Muslim 1844, Ahmad 6793,
Sunan Ibnu Majah 3956).
Al-Imam Malik rahimahullah berkata:
مَنِ ابْتَدَعَ فِي الْإِسْلَامِ
بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً، زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ خَانَ الرِّسَالَةَ، لِأَنَّ اللَّهَ يَقُولُ: {الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ
لَكُمْ دِينَكُمْ} [المائدة: 3]، فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِينًا، فَلَا
يَكُونُ الْيَوْمَ دِينًا.
“Barangsiapa berbuat bid’ah dalam
Islam yang ia anggap sebagai bid’ah hasanah, maka ia telah menuduh Rasulullah
shallallahu’alaihi wa sallam telah mengkhianati tugas kerasulan, karena Allah
ta’ala berfirman, “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu…”
(Al-Maidah[5]:3). Sehingga apa yang hari itu bukan ajaran agama, maka pada hari
ini juga bukan ajaran agama.” (Al-I’tisham lisy Syaathibi rahimahullah,
1/65-66).
7) Ahli bid’ah
telah rugi di dunia dan di akhirat.
Amalan bid’ah hakekatnya merupakan tipu daya iblis yang ingin memeras
umur (waktu), harta, tenaga dan pikiran mereka, bahkan sampai-sampai terkadang
harus menjual sesuatu yang mereka cintai
agar mereka selamat dari gunjingan orang lain.
Allah ta’ala berfirman:
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ
أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ
يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا.
“Katakanlah:
“Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi
perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam
kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat
sebaik-baiknya” (QS. Al Kahfi [18]: 103-104).
8) Bid’ah lebih dicintai iblis
dari pada maksiat.
Allah ta’ala berfirman:
وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.
"Dan Syetan pun menampakkan kepada mereka kebagusan
apa yang selalu mereka kerjakan." (QS. Al-An'am: 43)
Yaitu kemusyrikan,
keingkaran, dan perbuatan-perbuatan maksiat. (Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-An’am
[6]:43).
وَمَن يَعْشُ عَن
ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ.
وَاِنَّهُمْ لَيَصُدُّوْنَهُمْ عَنِ السَّبِيْلِ وَيَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ
مُّهْتَدُوْنَ.
Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah
(Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah
yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sungguh, mereka (setan-setan
itu) benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar, sedang mereka
menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (QS. Az-Zukhruf [35]: 36-37).
Yakni orang ini yang berpaling dari kebenaran, Kami adakan
baginya setan-setan yang menyesatkan dirinya dan menunjukkan kepadanya jalan ke
neraka Jahim.(Tafsir Ibnu Katsir QS Az-Zuhruf [43]: 36-37).
9) Ahli bid’ah Pelaku bid’ah seakan telah mensejajarkan
dirinya dengan Tuhan.
Pelaku bid’ah seharusnya taat dan tunduk kepada Allah dengan
mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun justru
sebaliknya mereka membuat-buat ajaran baru dalam agama ini, menbuat
dzikir-dzikir baru, shalawat baru, dan ibadah-ibadah yang baru dengan
mengatasnamakan agama, seakan dirinya sejajar dengan Tuhan.
Allah ta’ala berfirman:
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ
الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ.
“Apakah
mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka
agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syuura [42] : 21).
Imam
Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata: “Barangsiapa yang menganggap
baik (suatu bid’ah) maka dia telah membuat syariat.”
مَن اسْتَحْسَنَ فَقَدْ
شَرَعَ
“Barangsiapa yang menganggap baik sesuatu (menurut pendapatnya),
sesungguhnya ia telah membuat syari’at” (Al-Jami’us Shahih Lissunnani wal
Masanid 5:34, Shuhaib ‘Abdul Jabbar).
10)
Bid’ah Adalah Kesesatan Yang
Pelakunya Sulit Untuk Bertaubat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.
“Karena setiap perkara yang baru (yang diada-adakan dalam
perkara agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Ahmad 17144,
Ibnu Majah 42, Abu Dawud 4607 dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam as-Shahihah
937).
Dahulu ada orang yang berkumpul bertasbih, bertahmid, bertakbir,
bertahlil dan dipimpin satu orang kemudian Ibnu Mas’ide mendatangi orang
tersebut, maka mereka berkata, “kami tidak menghendaki kecuali kebaikan,”
kemudian Ibnu Mas’ud berkata:
كَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ
"Betapa banyak orang yang menginginkan
kebaikan, tetapi tidak mendapatkannya."
Oleh karena itu Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata:
الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيسَ مِنَ
الْمَعْصِيَةِ، الْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا، وَالْبِدْعَةُ لَا يُتَابُ مِنْهَا.
Bid’ah lebih dicintai oleh Iblis daripada
maksiat. Hal ini karena perbuatan maksiat (pelakunya) bertaubat darinya
sedangkan bid’ah (pelakunya) tidak mau bertaubat (karena tidak merasa
bersalah). (Syu’abul Iman 9009, Baihaqi).
4. Contoh-contoh bid’ah
Bid’ah dalam agama sangat banyak sekali jumlahnya, diantaranya:
Ritual anak sebelum kelahirannya (mitoni), ritual kematian,
perayaan-perayaan seperti maulid dll, tahun baru islam, menghidupkan malam
nisfi Sa’ban dll, shalawatan yang dilakukan bersama-sama dan yang tidak ada
dasarnya seperti barjanji dll, dzikir-dzikir yang tidak ada dasarnya dan
dilakukan beramai-ramai, beribadah sambil berjoget, dan masih banyak lagi.
5. Sebab sebab munculnya bid’ah.
1) Jahil terhadap agama.
2) Mengikuti hawa nafsu.
Demikianlah semoga bermanfaat.
------000-----
Sragen 23-10-2026
Abu Ibrahim Junaedi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar