MUJMAL USUL AHLU SUNNAH WA JAMA’AH
BAB 2 NO 7
WAHYU TELAH TERPUTUS SETELAH RASULULLAH.
٧- الإِيمَانُ
بِانْقِطَاعِ الْوَحْيِ بَعْدَ مُحَمَّدٍ ﷺ وَأَنَّهُ خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ
وَالْمُرْسَلِينَ. وَمَنْ اعْتَقَدَ خِلَافَ ذٰلِكَ كَفَرَ.
7.Beriman bahwa wahyu telah
terputus setelah Muhammad ﷺ, dan bahwa beliau
adalah penutup para nabi dan rasul. Barang siapa meyakini selain itu, maka ia
kafir.
-----000----
Penjelasan:
1.
Nabi shallallahu ‘alaihhi wa sallam adalah
utusan Allah yang terakhir.
Ahlus
Sunnah wal Jamaah mengimani bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah
utusan yang terakhir.
Allah
ta’ala berfirman:
Allah ta’ala berfirman:
مَا كَانَ
مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ رِّجَالِكُمْ وَلٰكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَاتَمَ
النَّبِيّٖنَ.
“Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang
di antara kamu, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para nabi. Dan Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab [33]: 40).
قُلْ يَا
أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا.
“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai manusia!
Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kamu semua.’” (QS. Al-A’raf [7]:
158)
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ.
“Dan
tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi
seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya (21): 107).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ بَنِي
إِسْرَائِيلَ كَانَتْ تَسُوسُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ
خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي.
“Sesungguhnya Bani Israil dahulu diatur dan
dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, digantikan oleh
nabi yang lain. Dan sesungguhnya tidak ada nabi setelahku.” (HR. Bukhari 3455,
Muslim 1842).
Dari Abbu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَالَّذِي
نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ
يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي
أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ.
“Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya,
tidaklah seseorang dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, mendengar tentang
aku, kemudian dia meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada risalah yang aku
bawa, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim 153, Ahmad 8609).
2.
Mengimani wahyu telah terputus setelah wafat
Rasulullah.
Allah telah memberikan isyarat bahwa
Rasulullah sebagaimana para nabi dan rasul sebelumnya wafat, beliau juga akan
wafat.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu biasa mengikutsertakanku
dalam majelis bersama para sesepuh Perang Badar. Sebagian dari mereka berkata,
“Mengapa engkau mengikutsertakan anak muda ini bersama kita, padahal kita juga
mempunyai anak-anak yang sebaya dengannya?”
Umar menjawab, “Sesungguhnya dia termasuk orang yang telah kalian
ketahui keutamaannya.”
Ibnu Abbas melanjutkan: Pada suatu hari, Umar mengundang mereka
dan mengundangku bersama mereka. Menurutku, beliau mengundangku pada hari itu
tidak lain untuk memperlihatkan keutamaanku kepada mereka.
Umar kemudian bertanya, “Apa pendapat kalian tentang firman Allah ta’ala:
إِذَا جَاءَ نَصْرُ
اللَّهِ وَالْفَتْحُ . وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ
أَفْوَاجًا . فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ
كَانَ تَوَّابًا.
‘Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau
melihat manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong, maka
bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya
Dia Maha Penerima tobat.’” (QS. An-Nashr [110]: 1–3).
Sebagian dari mereka menjawab, “Kita diperintahkan untuk memuji
Allah dan memohon ampun kepada-Nya apabila kita mendapatkan pertolongan dan
kemenangan.” Sebagian yang lain berkata, “Kami tidak mengetahui jawabannya.”
Atau, sebagian dari mereka tidak mengatakan apa pun. Kemudian Umar berkata
kepadaku, “Wahai Ibnu Abbas, apakah demikian pendapatmu?” Aku menjawab,
“Tidak.” Umar bertanya, “Lalu apa pendapatmu?” Aku menjawab, “Surah tersebut
merupakan pemberitahuan tentang dekatnya ajal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam yang Allah sampaikan kepada beliau. Apabila telah datang pertolongan
Allah dan kemenangan, yaitu kemenangan atas Kota Makkah, maka itulah tanda
dekatnya ajal beliau. Oleh karena itu, Allah memerintahkan beliau untuk
bertasbih dengan memuji-Nya dan memohon ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha
Penerima tobat.”
Umar kemudian berkata, “Aku tidak mengetahui makna surah itu
selain seperti yang engkau ketahui.” (HR. Bukhari 4970).
Allah ta’ala berfirman:
وَمَا مُحَمَّدٌ
إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ
عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ
شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul; sungguh, telah
berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh,
kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, maka ia
tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada
orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 144).
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, para
sahabat diliputi kesedihan yang sangat mendalam. Mereka sangat mencintai
beliau, sehingga sebagian dari mereka pada awalnya sulit menerima kenyataan
bahwa beliau telah wafat.
Bahkan sahabat Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu tidak dapat
menerima kenyataan tersebut. Beliau berdiri dan menyatakan bahwa Rasulullah
belum wafat.
Kemudian Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu datang, masuk
menemui Rasulullah, lalu mencium beliau. Setelah itu, Abu Bakar keluar menemui
orang-orang dan meminta mereka untuk tenang. Beliau kemudian memuji Allah dan
menyampaikan:
“Barang siapa di antara kalian menyembah Muhammad, maka
sesungguhnya Muhammad telah wafat. Namun, barang siapa menyembah Allah,
sesungguhnya Allah Mahahidup dan tidak akan pernah mati.”
Setelah itu, Abu Bakar membacakan Surah Ali ‘Imran ayat 144.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan bahwa seolah-olah
orang-orang belum pernah mengetahui bahwa Allah telah menurunkan ayat tersebut
sebelum Abu Bakar membacakannya. Setelah mendengarnya, mereka pun mulai
mengulang-ulang ayat itu.
Adapun Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa
ketika mendengar Abu Bakar membacakan ayat tersebut, kedua kakinya terasa tidak
mampu menopang tubuhnya hingga ia terjatuh. Saat itulah beliau menyadari bahwa
Rasulullah benar-benar telah wafat.
3.
Akan muncul para pendusta yang mengaku nabi
setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Rasulullah merupakan utusan terakhir, hal ini Sebagaimana
yang difirmankan Allah ta’ala di dalam surat Al-Ahzab [33]:40.
Rasulullah juga mengatakan bahwa akan ada para pendusta
yang mengaku sebagai nabi.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الرِّسَالَةَ
وَالنُّبُوَّةَ قَدِ انْقَطَعَتْ، فَلَا رَسُولَ بَعْدِي وَلَا نَبِيَّ.
“Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah berakhir. Maka, tidak ada rasul
setelahku dan tidak ada nabi.” (HR. Ahmad 13823, Tirmidzi 2272. Dishahihkan Syaikh
al-Albani di dalam al-Irwa’ 2473).
Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّهُ سَيَكُونُ
فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ، كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ، وَأَنَا
خَاتَمُ النَّبِيِّينَ، لَا نَبِيَّ بَعْدِي.
“Sesungguhnya akan muncul di tengah umatku tiga puluh orang pendusta.
Masing-masing dari mereka mengaku bahwa dirinya adalah seorang nabi. Padahal,
aku adalah penutup para nabi, dan tidak ada nabi setelahku.” (HR. Abu Dawud 4252,
Tirmidzi 2219, dan Ibnu Majah 3952, Dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam
ash-Shahihah 1683).
Adapun di antara nabi-nabi palsu tersebut telah ada semenjak Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup sampai pada jaman kita sekarang ini,
dan tidak semuanya kita catat.
1)
Al-Aswad
Al-‘Ansi - Yaman, sekitar 632 M. Mengaku sebagai nabi menjelang wafatnya Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2)
Musailamah
Al-Kadzdzab -Yamamah, Arab, sekitar 631–632 M. Mengaku sebagai nabi dan
memiliki banyak pengikut.
3)
Thulaihah bin
Khuwailid Al-Asadi -Arab, sekitar 632 M. Mengaku sebagai nabi, kemudian
bertobat menurut riwayat sejarah Islam.
4)
Sajah binti
Al-Harits - Jazirah Arab, sekitar 632 M. Mengaku sebagai nabi dan memiliki
pengikut.
5)
Al-Mukhtar
bin Abi ‘Ubaid - Irak, abad ke-7 M. Tokoh politik-keagamaan yang dikaitkan
dengan klaim kenabian dalam sebagian sumber sejarah.
6)
Al-Harits bin
Sa‘id - Syam, sekitar akhir abad ke-7 M. Dilaporkan mengaku sebagai nabi.
7)
Al-Muqanna‘
(Hasyim bin Hakim) - Asia Tengah, abad ke-8 M. Tokoh yang gerakannya dikaitkan
dengan klaim keagamaan luar biasa.
8)
Mirza Ghulam
Ahmad - Qadian, India, akhir abad ke-19. Mengaku sebagai Al-Masih yang
dijanjikan dan Al-Mahdi. Pengikut Ahmadiyah Qadianiyah menerima klaim
kenabiannya menurut pemahaman mereka.
9)
Lia Aminuddin
(Lia Eden) - Jakarta, Indonesia, sejak 1997. Mengaku menerima pesan atau wahyu
melalui Malaikat Jibril.
10)
Ahmad
Mushaddeq - Indonesia, 2006. Mengaku sebagai rasul, kemudian dilaporkan
mencabut pengakuannya.
Dan sebagian tidak di bukukan karena berangkat pengakuan tersebut disebabkan
dari kejahilan.
4. Bimbingan Raulullah,
pujian dan taqrir (pembenaran) ketika beliau masih hidup dan wahyu belum putus.
Para
sahabat selalu dibimbing Rasulullah ketika melakukan satu amalan, baik melalui contoh
beliau, pujian apa yang dilakukan kepada para sahabat, maupun taqrir (pembenaran)
adapun contohnya sebagai berikut:
1)
Bilal selalu
menjalankan shalat setelah wudhu. (HR. al-Bukhari 1149).
2)
Sahabat
yang shalat dengan bacaan “wal hamdulillahi hamdan katsiran tayyiban mubarakan
fiih” (HR. Muslim 600, Abu Dawud 774,
Ibnu Hibban 845).
3)
Sahabat
yang shalat tidak pernah meninggalkan surat Al-Ikhlas. Ada yang mengatakan
bernama Qatadah bin Nu’man. (HR. Bukhari 774, Tirmidzi 2901).
4)
Sahabat
yang meruqyah dengan membaca Al Fatihah. (HR.
Bukhari 5736, Muslim 2201).
5. Bimbingan Rasulullah berupa larangan ketika
masih hidup wahyu belum putus.
1) Tiga sahabat yang mendatangi umul
mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anh dan bertanya tentang ibadah Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari
5063, Muslim 1401).
2)
Larangan
menyembelih Kurban sebelum shalat id. (HR.
Bukhari 7400, Muslim 985).
3)
Larangan
Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam menyerupai suatu kaum. (HR. Abu Dawud no. 4031 di shahihkan Syaikh
al-Albani di dalam Irwa’ul Ghalil 2384).
4)
Nadzar
yang terlarang seperti kesyirikan, menyakiti badan atau hal-hal yang sia-sia. (HR
al-Bukhari 6700).
5)
Larangan
mengkhususkan puasa pada hari jum’at saja.
Dari
abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ia mendengar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لا يَصُومَنَّ
أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ.
“Janganlah
salah seorang di antara kalian berpuasa pada hari Jum’at kecuali jika ia
berpuasa pula pada hari sebelum atau sesudahnya.” (HR. al-Bukhari 1849, Muslim 1929).
6)
Meminta
dibuatkan sesembahan seperti Dzatu anwath, hal ini sebagaimana bani Israil
meminta dibuatkan anak sapi, (QS. Al A’raf [7]: 138).
Ketika
fatkhul Makkah banyak sahabat yang baru masuk Islam, tidak selang beberapa lama
kemudian orang-orang berangkat perang menuju Hunain, kemudian mereka melewati
pohon milik orang kafir sehingga mereka meminta untuk dibuatkan Dzatu Anwath
seperti mereka.
يَا رَسُولَ اللَّهِ
اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ.
فَقَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم سُبْحَانَ اللَّهِ
هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى .
“Ya
Rasulullah, Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath (tempat menggantungkan senjata)
sebagaimana mereka (orang musyrik) memiliki Dzatu Anwath.” Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Subhanallah! ini sebagaimana yang
dikatakan oleh kaum Musa.” (HR. Ahmad 21900, Tirmidzi. 2180, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam
dzilalul Jannah 76. Adapun Dzatu an-wath adalah pohon yang dipakai
menggantungkan pedang orang-orang musyrik).
6.
Bagaimana
mengamalkan wahyu ketika Rasulullah telah wafat dan wahyu telah putus.
Para sahabat adalah manusia pilihan yang hidup dinaungi oleh wahyu, dimana
wahyu turun kepada mereka siang maupun malam yang akan membenarkan atau
meluruskan mereka apabila keliru melalui Rasul-Nya.
Namun ketika Rasulullah telah wafat wahyu telah terputus maka tidak boleh
seseorang berbuat suatu amalan dengan alasan para sahabat juga melakukan, karena
sebagaimana telah dipaparkan di atas ada para sahabat yang dibenarkan adapula
yang dilarang, siapa yang akan meluruskan kesalahannya..? sementara Islam telah
sempurna dengan wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut.
Allah ta’ala berfirman:
اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ
لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ
الْاِسْلَامَ دِيْنًا.
“Pada hari ini
telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan
telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah [5]: 3).
Adapun
dari hadits, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى
الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ.
“Aku tinggalkan
kalian dalam keadaan terang-benderang, siangnya seperti malamnya. Tidak ada
yang berpaling dari keadaan tersebut kecuali ia pasti celaka.” (HR. Ahmad 17142,
Ibnu Majah 43, Thabrani 619, disahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihul
Jami’ 4369).
Dari Salman Radhiyallahu anhu, beliau berkata:
قِيلَ لَهُ: قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ قَالَ: فَقَالَ:
أَجَلْ.
“Orang-orang
musyrik telah bertanya kepada kami, ‘Sesungguhnya Nabi kalian sudah mengajarkan
kalian segala sesuatu sampai (diajarkan pula adab) buang air besar!’ Maka,
Salman radhiyallahu anhu menjawab, ‘Ya’. ” (HR. Muslim 262, Tirmidzi. 16).
7.
Tidak boleh membuat syari’at betapapun tinggi derajat
seseorang.
Hal ini karena pensyari’atan adalah wenamg Allah secara mutlak, siapapun
tidak boleh melakukan hal itu.
Allah ta’ala berfirman:
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ
شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ
“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang menetapkan aturan
agama bagi mereka yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura [42]: 21).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ
أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ. مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ
عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ .
“Barang
siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan bagian darinya,
maka amalan itu tertolak.” “Barangsiapa yang melakukan
suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka tertolak.” (HR. Bukhari 2697, Muslim 1718).
Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata:
مَن اسْتَحْسَنَ فَقَدْ
شَرَعَ.
“Barangsiapa yang menganggap baik sesuatu
(menurut pendapatnya), sesungguhnya ia telah membuat syari’at” (Al-Jami’us
Shahih Lissunnani wal Masanid 5:34, Shuhaib ‘Abdul Jabbar).
8.
Siapapun yang mengaku setelah Rasulullah ada
nabi lagi maka dia bisa kafir.
Barang siapa mengaku menjadi nabi, atau mengakui adanya nabi lagi yang
membawa ajaran baru sama halnya telah mendustakan Al-Qur’an dan Sunnah, wajib
ditegakkan hujah padanya bila menolak dapat menjadikan orang tersebut kafir.
وَمَن يَعْشُ عَن
ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ. وَاِنَّهُمْ لَيَصُدُّوْنَهُمْ عَنِ
السَّبِيْلِ وَيَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ.
“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran
Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang
menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.
Dan sungguh, mereka (setan-setan itu) benar-benar menghalang-halangi mereka
dari jalan yang benar, sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.”
(QS. Az-Zukhruf [35]: 36-37).
Yakni orang ini yang berpaling dari
kebenaran, Kami adakan baginya setan-setan yang menyesatkan dirinya dan
menunjukkan kepadanya jalan ke neraka Jahim.(Tafsir Ibnu Katsir QS Az-Zuhruf
[43]: 36-37).
9.
Tidak boleh bicara agama tanpa didasar ilmu.
Allah
ta‘ala berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ
وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا.
“Janganlah
engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran,
penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS.
Al-Isra’ [17]:36
وَلَا
تَقُولُوا لِمَا
تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ
الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ.
“Janganlah
kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, “Ini
halal dan ini haram,” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.
Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak
akan beruntung. (QS. An-Nahl [16]: 116).
Ayat
ini menjadi peringatan agar tidak menetapkan halal, haram, sunnah, wajib, atau
bentuk ibadah tanpa ilmu. Menghormati ulama tidak berarti menganggap mereka
maksum. Jika terjadi perselisihan, dalil dipelajari dengan adab, ilmu, dan
bimbingan ulama, jangan menjadikan fanatisme kepada tokoh atau kelompok sebagai
pengganti hujah.
10.
Tidak boleh mengikuti kesesatan apabila
telah jelas kesesatannya.
Hal ini sebagaimana para pengikut Fir’aun.
Allah ta’ala berfirman:
فَأَخَذْنَاهُ
وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ.
“Maka Kami menghukum dia (Fir‘aun) beserta bala tentaranya, lalu
Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan
orang-orang zalim.” (QS. Al-Qashash [28]: 40).
Demikian pula siapapun yang mengikuti
para tokoh kesesatan, baik itu orang yang mengaku nabi, wali, maupun lainnya jika
telah jelas permasalahannya maka dia akan turut menanggung dosa-dosannya.
Allah
ta’ala berfirman:
رَبَّنَا إِنَّا
أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا
“Ya
Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan
pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar.”
(QS. Al-Ahzab [33]: 67)
Demikianlah
semoga bermanfaat.
-----000-----
Sragen
21-10-2026
Abu
Ibrahim Junaedi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar