BAB 1
MENGENAL MANHAJ YANG BENAR
(Metode Memahami Agama Islam Yang Benar)
1. Meyakini Agama Islam Telah Sempurna.
Agama islam adalah agama yang telah sempurna, di mana
di dalamnya telah diajarkan bagaimana tata cara beribadah kepada Allah ta’ala,
bermuamalah sesama manusia, menjahui apa yang terlarang dan membahayakan
manusia baik di dunia dan akhirat, begitu pula mengajarkan berbagai macam hal
dari apa yang menjadi hajad hidup manusia, Allah ta’ala telah menjelaskan
kesempurnaan agama islam ini di dalam firman-Nya:
الْيَوْمَ
أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ
الْإِسْلَامَ دِينًا.
“Pada
hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” (QS. Al-Maidah
[5]: 3).
Dari Thariq bin Syihab, ia berkata, “Ada seorang
Yahudi yang datang kepada ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu, lalu berkata,
“Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya kalian membaca sebuah ayat dalam kitab
kalian. Jika ayat tersebut diturunkan kepada kami, orang-orang Yahudi, niscaya
kami akan menjadikan hari itu (hari turunnya ayat itu) sebagai hari raya.”
‘Umar radhiyallahu 'anhu bertanya, “Ayat yang mana?”. Orang Yahudi itu berkata,
“Yaitu firman-Nya”:
الْيَوْمَ
أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ
الْإِسْلَامَ دِينًا.
“Pada
hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” (QS.
Al-Maidah[5]: 3).
Maka ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya
aku telah mengetahui hari dan tempat ketika ayat itu turun kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Ayat itu diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, di ‘Arafah pada hari Jum’at.”[1]
Ini menunjukkan bahwasanya orang Yahudi saja mereka
memahami hal itu, sungguh mengherankan banyak kaum muslimin yang tidak memahami
hal ini (kesempurnaan Islam).
Allah ta’ala berfirman:
وَتَمَّتْ
كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ
السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
“Telah
sempurnalah kalimat Tuhanmu sebagai kalimat yang benar dan adil.” (Al-An'am
[6]: 115).
Firman Allah: “wa tammat kalimatu Rabbika shidqaw wa
‘adlan.” “Telah sempurna kalimat dari Rabbmu, sebagai kalimat yang benar dan
adil.” Qatadah berkata: “Yaitu benar dalam firman-Nya, dan adil dalam putusan
Nya.”
Laa mubaddila likalimaatihi “Tidak ada yang dapat
merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya.” “Maksudnya, tidak ada seorang pun yang
dapat menolak putusan Allah ta’ala, di dunia maupun di akhirat.”[2]
Adapun dari hadits, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa
sallam bersabda:
قَدْ
تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا
بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ.
“Aku
tinggalkan kalian dalam keadaan terang-benderang, siangnya seperti malamnya.
Tidak ada yang berpaling dari keadaan tersebut kecuali ia pasti celaka.”[3]
Dari Abu Dzar radiyallahu’anhu berkata:
تَرَكْنَا
رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ
جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ إِلَّا وَهُوَ يُذَكِّرُنَا مِنْهُ عِلْمًا قَالَ:
فَقَالَ: صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ
الْجَنَّةِ ويُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلَّا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ.
“Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat meninggalkan kami dan tidaklah ada
burung yang mengepak-ngepakkan kedua sayapnya di udara kecuali beliau telah
menyebutkan kepada kami ilmunya.” Dia berkata, Rasulullah sallalahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Tidak tersisa suatu (amalan) pun yang dapat mendekatkan
kepada surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali sudah dijelaskan semuanya
kepada kalian.” [4]
Dari Salman Radhiyallahu anhu, beliau berkata:
قِيلَ
لَهُ: قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ شَيْءٍ
حَتَّى الْخِرَاءَةَ قَالَ: فَقَالَ: أَجَلْ.
“Orang-orang
musyrik telah bertanya kepada kami, ‘Sesungguhnya Nabi kalian sudah mengajarkan
kalian segala sesuatu sampai (diajarkan pula adab) buang air besar!’ Maka,
Salman radhiyallahu anhu menjawab, ‘Ya’. ” [5]
Dari ayat dan hadis tersebut
telah kita maklumi, islam adalah agama yang sempurna, mengajarkan segala
sesuatu yang akan membawa kebaikan dunia dan akhirat sehingga tidak memerlukan
tambahan dalam perkara-perkara agama ini, Oleh karena itu Allah ta’ala telah
mewahyukan kepada Rasul-Nya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
menyampaikan kepada kita, kewajiban kita menerima, mengimani dan
mengamalkannya, tanpa menambahi dan menguranginnya.
2. Wajibnya Berpegang Teguh Dengan Al-Qur’an Dan Sunnah.
Allah ta’ala berfirman:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي
الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ
وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَٰلِكَ
خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا.
“Hai
orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil
amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,
maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu
benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih
utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisaa [4]: 59).
Menurut Mujahid rahimahullah dan juga lainnya, beliau
mengatakan: “Segala sesuatu yang diperselisihkan di antara manusia menyangkut
masalah pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, hendaknya perselisihan mengenai
hal itu dikembalikan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.” [6]
وَمَا
أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ.
“Dan
Kami tidak mengutus seorang rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah..”
(QS.An-Nisa[4]:64).
فَلَا
وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ
لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
“Maka
demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad)
sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian
tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau
berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS.An-Nisa[4]:65).
إِنَّمَا
كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ
بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ.
"Sesungguhnya
jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya
agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar
dan kami patuh.’ Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS An-Nur [24]: 51).
مَنْ
يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ.
“Barang
siapa mentaati Rasul (Muhammad) sesungguhnya dia telah mentaati Allah.” (QS.
An-Nisa[4]:80).
وَمَن
يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيمًا.
”Dan
barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat
kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab[33]:71).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنِّي
قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللَّهِ
وَسُنَّتِي وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ.
“Aku
telah tinggalkan pada kamu dua perkara, kamu tidak akan sesat selama berpegang
kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya sampai kalian bertemu
denganku di telaga.”[7]
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan
Rasul-Nya, tidak mau taat kepada Allah dan rasul-Nya, akan menemui kehinaan di
dunia dan kelak akhirat.
وَمَنْ
يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّحُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا
فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ.
“Dan
barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar batas-batas
hukum-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, dia kekal di
dalamnya dan dia akan mendapat azab yang menghinakan.” (QS. An-Nisa [4]:14)
إِنَّ
الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ كُبِتُوا كَمَا كُبِتَ الَّذِينَ مِنْ
قَبْلِهِمْ.
“Sesungguhnya orang-orang yang
menentang Allah dan Rasul-Nya pasti mendapat kehinaan, sebagaimana orang-orang
yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan.”(QS. Al-Mujadilah[58]: ayat 5).
3. Memahami Besarnya Keutamaan Para
Sahabat.
Sesungguhnya Allah ta’ala menjadikan para sahabat layaknya
Bintang-bintang dilangit, mereka adalah manusia-manusia yang terbaik yang
menemani Rasul-Nya, dan sebagai manusia yang akan diikuti generasi setelahnya.
Kita bisa membaca bagaimana sejarah mencatat
manusia-manusia yang sangat mulia ini.
4. Ketabahan Para Sahabat Dalam Mempertahankan Aqidah.
Ketika Rasulullah mendakwahkan
Islam secara terang-terangan sebagian mereka orang-orang yang lemah menerima
seruan Islam sehingga mereka menghadapi berbagai cobaan dan siksaan dari
orang-orang kafir, ada yang dicambuk, diseret di padang pasir, di rendam di
dalam air, ditindih batu dan bahkan ditombak hingga meninggal dunia. Namun
mereka tidak goyah dalam memegang aqidah mereka, kekejaman orang-orang kafir
terhadap para sahabat sampai membekaskan luka-luka di tubuh-tubuh mereka.
5. Hijrah Para Sahabat untuk Menyelamatkan Agamanya.
Beratnya tekanan orang-orang kafir tersebut membawa
mereka rela meninggalkan kampung halaman yang mereka cintai dan berjalan
menyusuri lembah, menyebrang lautan hingga menempuh ribuan kilo meter dengan
kendaraan yang sederhana menuju negri Habasyah (Ethiopia) yang belum tahu
bagaimana keadaan di sana. Semua dilakukan karena untuk menyelamatkan
aqidahnya.
Hijrah pertama tahun ke-5 dari kenabian menuju ke
Habasyah. Rombongan ini terdiri dari 12 orang laki-laki dan 4 orang wanita.
Kemudian hijrah kedua terdiri dari 83 muhajirin dan 19 muhajirah (kaum wanita).[8] Begitu pula Suhaib ar-Rumy, rela memberikan
hartanya ketika orang-orang musyrik menghadang saat hijrahnya, semua itu tidak
lain ingin menyelamatkan aqidahnya kemudian Allah menurunkan firman-Nya:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ
رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ.
“Di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya
untuk mencari rida Allah. Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS.
Al-Baqarah[2]:207).
Menurut
Ibnu Abbas, Anas, Sa'id ibnu al- Musayyab, Abu Usman an-Nahdi, Ikrimah, dan
sejumlah ulama lainnya, ayat ini diturunkan berkenaan dengan Suhaib ibnu Sinan ar-Rumi.
[9]
Demikianlah mereka lebih mencintai aqidah mereka
meskipun harus kehilangan harta.
6. Kecintaan Para Sahabat Kepada Rasulullah.
Para sahabat sangat mencintai Rasulullah sallallahu
‘alaihi wa sallam.
Kecintaan Abu Bakar Shidiq. Beliau sampai meneteskan air
mata bahagia ketika diminta menemani hijrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, Allah ta’ala menyebutkan hal itu:
إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا
ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ
إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا.
"Jika
kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sungguh Allah telah menolongnya ketika
orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah) sedang dia salah satu dari dua
orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya:
'Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita'." (QS.
At-Taubah[9]: 40).
Kecintaan Umar
bin Khatab kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari ‘Abdullah bin
Hisyam berkata, Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
memegang tangan Umar bin Khaṭṭab, lalu ‘Umar berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا مِنْ
نَفْسِي,
فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ
حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ, فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: فَإِنَّهُ الْآنَ وَاللَّهِ
لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي, فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
الْآنَ يَا عُمَرُ.
“Wahai
Rasulullah, engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku
sendiri.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak begitu
(wahai Umar), demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah sempurna
imanmu sampai aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Umar berkata: “Demi
Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Maka Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sekarang (sempurnalah imanmu), wahai
‘Umar.”[10]
Kecintaan
Utsman bin Afwan, beliau sampai
menikahi dua putri Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum.
Kecintaan Ali bin Abi Thalib.
Dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
لَأُعْطِيَنَّ
هَذِهِ الرَّايَةَ رَجُلًا يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ يَفْتَحُ اللهُ عَلَى يَدَيْهِ, قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ:
مَا أَحْبَبْتُ الْإِمَارَةَ إِلَّا يَوْمَئِذٍ, قَالَ فَتَسَاوَرْتُ لَهَا رَجَاءَ أَنْ أُدْعَى
لَهَا, قَالَ فَدَعَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيَّ بْنَ
أَبِي طَالِبٍ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهَا.
"Sungguh,
aku akan memberikan panji ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan
Rasul-Nya. Allah akan memberi kemenangan melalui tangannya." Umar bin
Khaṭṭab raḍiyallahu 'anhu berkata, "Tidak pernah aku menginginkan
sebuah kepemimpinan kecuali pada hari itu. Sehingga aku pun menampakkan wajahku
dengan harapan agar aku dipanggil untuk menerima panji itu." Ternyata
Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam memanggil Ali bin Abi Talib. [11]
Mus’ab
bin Umair, Khubaib bin Adi, Usamah bin Zaid dan semua para sahabat.
7. Keberanian Para Sahabat.
Keberanian para sahabat dapat dilihat kisahnya pada
perang Badar yang diawali dengan perang tanding.
Ketika dua pasukan bertemu pasukan kaum Muslimin dan
orang-orang kafir mereka berseru lantang untuk mengajak perang tanding.
Seorang laki-laki sombong dari Bani Makhzum bernama
al-Aswad bin ‘Abdul Asad. Ia dikenal keras kepala, bengis, dan pembenci Islam.
Saat itu, dengan penuh kesombongan ia bersumpah:
“Aku bersumpah kepada Allah, aku akan meminum air
telaga (sumur) kaum Muslimin itu, atau aku akan merusaknya, atau aku akan mati
di sekitarnya!”
Sebelum ia sampai, Hamzah menebasnya dan akhirnya terbunuh
di dekat telaga.
Kemudian tiga orang tokoh-tokoh Quraisy maju ke tengah
gelanggang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bangkitlah wahai Hamzah!, Bangkitlah wahai ‘Ali!, Bangkitlah, wahai ‘Ubaidah
bin al-Ḥarith!”
Hamzah bin ‘Abdul Muththalib paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Ali bin Abi Ṭalib sepupu dan
menantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ubaidah bin al-Ḥarith.
Pertarungan sengitpun terjadi, Hamzah melawan Syaibah,
tidak lama Hamzah menebas Syaibah hingga tewas. Ali melawan al-Walid, Ali
berhasil membunuh al-Walid dengan mudah, Ubaidah melawan ‘Utbah keduanya
bertarung sengit, saling melukai. Kemudian Hamzah dan Ali menyongsong Utbah dan
membunuhnya dan menggendong Ubaidah.
Juga
kisah dua pemuda belia ketika terjadi perang Badar, mereka adalah Muadz bin Amr
bin Jamuh dan Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhuma.
Abdurrahman bin 'Auf mengisahkan:
"Aku berada di dalam barisan pasukan saat perang
Badar berkecamuk. Tiba-tiba di sebelah kanan dan kiriku ada dua anak muda yang
masih belia. Seakan aku tidak percaya atas keberadaan mereka di situ. Lalu
salah seorang di antara keduanya berkata secara rahasia kepadaku agar tidak
diketahui oleh temannya, 'Wahai paman! Tunjukkan padaku, mana Abu Jahal!."
Lalu aku berkata, 'Wahai anak saudaraku! Apa yang akan
kamu lakukan?' Dia menjawab, “Aku diberitahu bahwa dia mencaci-maki Rasulullah,
Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika aku melihatnya, maka dia tidak
akan luput dari incaranku hingga ada yang mati terlebih dahulu di antara kami.”
Akhirnya keduannya membunuh Abu
Jahal tersebut. [12]
8. Kedermawanan Para Sahabat.
Seperti kisah Abu Bakar, Umar,
Utsman bin Affan saat kaum muslimin membutuhkan sumur, yang di waktu itu
dimiliki oleh orang Yahudi, sehingga sahabat Utsman bin Affan membeli
sumur Raumah milik Yahudi.
أَنَّ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حِينَ حُوصِرَ أَشْرَفَ عَلَيْهِمْ
وَقَالَ: أَنْشُدُكُمُ اللَّهَ وَلَا أَنْشُدُ إِلَّا أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, أَلَسْتُمْ تَعْلَمُونَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ: مَنْ حَفَرَ رُومَةَ فَلَهُ الْجَنَّةُ, فَحَفَرْتُهَا أَلَسْتُمْ تَعْلَمُونَ أَنَّهُ قَالَ:
مَنْ جَهَّزَ جَيْشَ الْعُسْرَةِ فَلَهُ الْجَنَّةُ فَجَهَّزْتُهُمْ.
“Ketika Utsman
radhiyallahu ‘anhu dikepung, beliau menghadap kepada mereka dan berkata, ‘Aku
meminta kalian bersumpah demi Allah, dan aku tidak meminta kecuali kepada para
sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukankah kalian mengetahui bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa membeli sumur
Rumah, maka baginya surga”? Maka akulah yang membelinya. Bukankah kalian
mengetahui bahwa beliau bersabda, “Barang siapa mempersiapkan Jaisyul ‘Usrah,
maka baginya surga”? Maka akulah yang mempersiapkan mereka.”[13]
Dari
‘abdurrahman bin Samrah dia berkata:
جَاءَ عُثْمَانُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَلْفِ
دِينَارٍ حِينَ جَهَّزَ جَيْشَ الْعُسْرَةِ, فَفَرَّغَهَا عُثْمَانُ فِي حِجْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ,
فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَلِّبُهَا وَيَقُولُ: مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ
بَعْدَ هَذَا الْيَوْمِ قَالَهَا مِرَارًا.
“Utsman datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam membawa seribu dinar ketika beliau mempersiapkan Jaisyul ‘Usrah. Utsman
menuangkannya ke pangkuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam kemudian membolak-balikkan uang tersebut seraya bersabda,
‘Tidak akan membahayakan Utsman apa yang dia lakukan setelah hari ini.’” Beliau
mengucapkannya berulang kali. [14]
Abu Bakar,
Umar, Ustman, dan sahabat lainnya terutama menjelang perang tabuk dan masih
banyak sekali kisah-kisah yang mengharukan tentang kedermawanan mereka.
9. Kemuliaan Akhlak Para Sahabat.
Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan hal ini dengan
firman-Nya:
كَمَآ
اَرْسَلْنَا فِيْكُمْ رَسُوْلًا مِّنْكُمْ يَتْلُوْا عَلَيْكُمْ اٰيٰتِنَا
وَيُزَكِّيْكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَّا
لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَۗ
“Sebagaimana
Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Nabi Muhammad) dari (kalangan) kamu
yang membacakan kepadamu ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan
kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (sunnah), serta mengajarkan apa yang
belum kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah[2]:151).
Setelah mereka mendapat
pengajaran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka memiliki akhlak yang sangat mulia.
Begitu mengharukan kisah persaudaraan orang-orang Muhajirin
dengan orang-orang Anshar, kisah mereka ketika mendapatkan sedekah dan
membagikan kepada saudara-saudaranya, kisah orang anshar yang disebut Allah
ta’ala di dalam (Surat Al Hasyr [59]: 9).
وَيُؤْثِرُوْنَ
عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ
نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ .
“Mereka mengutamakan(saudaranya Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai
keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran itulah
orang-orang yang beruntung.” (QS. Al Hasyr [59]: 9).
Demikian pula kisah pada perang Yarmuk, al-Harits bin
Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amr, di mana akhir kehidupan
mereka lebih mementingkan saudaranya dari pada diri mereka sendiri.
10.
Para Sahabat Adalah Orang-Orang
Yang Adil.
Keadilan para sahabat ini Allah sebutkan di dalam
firman-Nya:
وَكَذَلِكَ
جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ
الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا.
“Dan
demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (para sahabat) umat yang adil dan
pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasul
(Muhammad) menjadi saksi atas kalian.” (QS. Al-Baqarah[2]: 143).
Umat ini kelak akan menjadi saksi bagi
umat yang lain sebagaimana disebutkan dalam
hadits shahih dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu beliau
berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يُدْعَى نُوحٌ يَوْمَ
القِيَامَةِ فَيَقُولُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ: هَلْ
بَلَّغْتَ ,فَيَقُولُ:
نَعَمْ, فَيُقَالُ لِأُمَّتِهِ: هَلْ بَلَّغَكُمْ ,فَيَقُولُونَ: مَا أَتَانَا مِنْ
نَذِيرٍ, فَيَقُولُ: مَنْ يَشْهَدُ لَكَ, فَيَقُولُ: مُحَمَّدٌ وَأُمَّتُهُ, فَتَشْهَدُونَ أَنَّهُ قَدْ بَلَّغَ:
وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا, فَذَلِكَ قَوْلُهُ جَلَّ ذِكْرُهُ: وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ
أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ
عَلَيْكُمْ شَهِيدًا, وَالوَسَطُ: العَدْلُ.
Pada hari
kiamat nanti, Nabi Nuh dipanggil oleh Allah. Lalu Nabi Nuh menjawab: “Aku
datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah.” Allah bertanya: “Apakah engkau sudah menyampaikan
risalah kepada kaummu?”
Nabi Nuh menjawab: “Sudah.” Kemudian
Allah bertanya kepada kaumnya: “Apakah Nuh sudah menyampaikan risalah kepada
kalian?” Mereka menjawab: “Tidak, tidak ada yang memberi peringatan kepada
kami.” Allah berkata kepada Nuh: “Siapa yang bisa menjadi saksi untukmu?” Nuh
menjawab: “Muhammad dan umatnya.” Maka umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wa sallam akan bersaksi bahwa Nabi Nuh benar-benar sudah menyampaikan risalah.
Inilah maksud firman Allah dalam Al-Qur’an:
"Agar
kalian (umat Islam) menjadi saksi atas manusia, dan Rasul (Muhammad) menjadi
saksi atas kalian." (QS. Al-Baqarah [2]: 143). Lalu Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam menjelaskan: “Yang dimaksud umat pertengahan (wasath) itu
adalah umat yang adil.”[15]
Para sahabat dikenal manusia yang sangat adil, jujur,
dan penyayang.
11.
Larangan Mencela Para Sahabat.
Larangan keras mencela para sahabat. Abu Sa’id Al
Khudri radiyallahu’anhu berkata, Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ
تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا
بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ.
“Jangan
kalian mencela para sahabatku, seandainya salah seorang kalian menginfakkan
emas sebesar Uhud tidak akan bisa menyamai satu mud-nya mereka tidak juga
setengahnya.” [16]
12.
Pujian Allah kepada para
sahabat.
Banyak sekali ayat yang memuji para sahabat di dalam
Al Qur’an.
Allah ta’ala firman:
كُنتُمْ
خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ
عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّه.
“Kamu
adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali
Imran [3] : 110).
فَإِنْ
آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا
فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ ۖ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ
الْعَلِيمُ.
“Maka jika mereka beriman
kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat
petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam
permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan
Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah [2]: 137).
Berkata Ibnu Katsir
rahimahullah menafsirkan ayat ini dalam kitab tafsirnya , “Maka jika mereka
beriman”, yaitu orang-orang kafir dari Ahlul Kitab dan selain mereka, “seperti
apa yang kalian telah beriman kepadanya”, wahai kaum mukminin, dengan keimanan kepada
seluruh kitab Allah dan Rasul-Nya tanpa membedakan seorang pun dari mereka,
“sungguh mereka telah mendapat petunjuk”, yakni mereka telah berada tepat di
atas kebenaran dan mendapatkan petunjuk kepadanya.” [17]
لَقَدْ
رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ
فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ
عَلَيْهِمْ
وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا.
“Sungguh, Allah telah meridhai
orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah
pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan
ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat.” (QS.
Al Fath [48]: 18)
Dari Jabir bin Abdullah
Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا
يَدْخُلُ النَّارَ أَحَدٌ مِمَّنْ بَايَعَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ.
“Tidak
akan masuk neraka orang-orang yang berbaiat di bawah pohon.” [18]
Dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُ
النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ.
“Sebaik-baik
generasi adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka, kemudian setelah
mereka lagi.” [19]
13.
Mendoakan Para Sahabat.
Allah ta’ala mengajarkan kepada kita bagaimana kita
bersikap dengan para sahabat.
Allah ta’ala
berfirman:
وَالَّذِينَ
جَآءُوا مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا
ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا
لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ
“Dan orang-orang yang datang setelah mereka (para
sahabat), mereka berdoa: ‘Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami
yang telah lebih dahulu beriman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami
kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami,
sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Al-Ḥasyr [59]: 10).
Tidak diragukan lagi pujian di
dalam ayat dan hadits di atas tidak lain adalah untuk para sahabat Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang merupakan khitab (yang diajak bicara) dalam
ayat tersebut, karena orang yang beriman di waktu itu belum ada yang lain
selain para sahabat.
14.
Kewajiban Mengikuti Para
Sahabat.
Setelah kita mengetahui
keutamaan para sahabat, pujian Allah kepada mereka, maka kewajiban kita beragama
sebagaimana cara beragamanya para sahabat tersebut, (inilah yang dikenal dengan
manhaj), karena ini merupakan perintahkan Allah dan juga Rasul-Nya.
Allah ta’ala berfirman:
وَالسَّابِقُونَ
الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم
بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ
تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ
الْعَظِيمُ.
“Orang-orang
yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin
dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka (dalam melaksanakan)
kebaikan, Allah ridha kepada mereka; dan Allah menyediakan bagi mereka
surga-surga yang di dalamnya terdapat sungai-sungai yang mengalir. Mereka kekal
di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah [9]:
100).
Ayat ini membagi generasi yang baik hanya menjadi dua
generasi:
Generasi pertama yaitu dari generasi para sahabat, Muhajirin
dan Anshar, yang mana hal ini tidak mungkin bisa kita capai.
Generasi kedua adalah orang-orang setelahnya yang
mengikuti mereka para sahabat dengan sebaik-baiknya, kita memohon kepada Allah
agar memasukkan kita termasuk pengikut Rasulullah dan para sahabat dengan sebaik-baiknya sebagaimana ayat di atas.
Adapun dalil dari hadits yang mewajibkan mengikuti
para sahabat sebagai berikut:
Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu
‘anhu, ia berkata:
وَعَظَنَا
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظًةً وَجِلَتْ
مِنْهَا القُلُوْبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا العُيُوْنُ فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ
كَأَنَّهَا مَوْعِظَةً مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا قَالَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ
عَزَّ وَ جَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَي اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ
بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا
عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ
بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang membuat hati
menjadi bergetar dan mata kami menangis, maka kami berkata, “Wahai Rasulullah,
sepertinya ini adalah wasiat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah
wasiat kepada kami.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku
berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun
kalian dipimpin seorang budak. Sungguh, orang yang hidup di antara kalian
sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, wajib
atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin
al-mahdiyyin (yang lurus dan mendapatkan petunjuk). Gigitlah sunnah tersebut
dengan gigi geraham kalian, jauhilah setiap perkara yang diada-adakan, karena
setiap bid’ah adalah sesat.” [20]
15.
Jalan Kebenaran Hanya Satu.
Dari ibnu Mas’ud radiallahu
‘anhu beliau berkata:
خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ
ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ
و عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ, وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا
فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ.
“Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu
bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau membuat garis lain pada
sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan
(yang banyak). Pada setiap jalan ada setan yang mengajak kepada jalan itu,’
kemudian beliau membaca:
وَأَنَّ
هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ
فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ.
“Dan
bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia
dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu
mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya” (QS. Al-An’am[6]:153) [21]
Dari ‘Auf bin Malik, ia berkata: “Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
افْتَرَقَتِ
الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ
وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ
فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ
وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي
النَّارِ قِيلَ: يَا رَسُولَ
اللَّهِ
مَنْ هُمْ قَالَ: الْجَمَاعَةُ.
“Orang-orang Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan,
satu (golongan) masuk Surga dan tujuh puluh di Neraka. Dan Nasrani terpecah
menjadi tujuh puluh dua golongan, yang tujuh puluh satu golongan di Neraka dan
yang satu di Surga. Dan demi Yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, ummatku
benar-benar akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, yang satu di
Surga, dan yang tujuh puluh dua golongan di Neraka,’ Ditanyakan kepada beliau,
‘Siapakah mereka (satu golongan yang masuk Surga itu) wahai Rasulullah?’ Beliau
menjawab, ‘Al-Jama’ah’.” [22]
Dalam
riwayat yang lain Beliau ditanya:
قَالُوا:
وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي.
“Siapakah
yang selamat itu ya Rasulullah..?” Beliau menjawab, “Apa yang aku dan para
sahabatku berjalan di atasnya” [23]
Pada ayat dan hadits di atas
merupakan dalil tentang wajibnya umat ini mengikuti Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam dan juga para sahabatnya, begitu pula jalan kebenaran hanyalah
satu.
16.
Ancaman Bagi Orang-Orang Yang Menyelisishi
Para Sahabat.
Allah akan mengadzab orang-orang yang meninggalkan
cara beragamanya para sahabat dengan Neraka.
Allah ta’ala berfirman:
وَمَنْ
يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ
سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ
جَهَنَّمَ
وَسَاءَتْ مَصِيرًا.
“Dan
barang siapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan
mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam
kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam
neraka Jahanam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa
[4]: 115).
Para sahabat Secara individu (person) bukanlah manusia
yang maksum (bebas dari salah), akan tetapi apa yang telah ditaqrir (didiamkan
dan disetujui) Rasulullah shallallahu a’laihi wa sallam terhadap sahabat
merupakan dalil kebenaran yang harus diikuti, begitu pula apa yang telah
menjadi kesepakatan para sahabat (ijma’ mereka) adalah merupakan kebenaran.
Dari sahabat Annas radhiyallahu‘anhu Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إنَّ
اللَّهَ لَا يَجْمَعُ هَذِهِ الْأُمَّةَ عَلَى ضَلَالَةٍ أَبَدًا.
“Sesungguhnya
Allah tidak akan mengumpulkan umat ini di atas kesesatan selamanya.” [24]
Oleh karena itu ijtihad para sahabat, ada yang
dibenarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ada yang dilarang.
Sehingga pandangan orang-orang tentang bolehnya seseorang membuat revisi,
kreasi, inovasi, ataupun tatacara baru di dalam agama Islam dengan dalih para
sahabat juga melakukannya, kemudian dibenarkan Rasulullah sallallahu ‘alaih wa
sallam, pandangan seperti ini hendaknya di luruskan dan ditempatkan secara proporsional agar kita bisa bersikap adil dalam menilai
suatu perkara.
Anggapan ini didasari oleh beberapa kisah dari apa
yang dilakukan para sahabat di antaranya:
Bilal selalu
menjalankan shalat setelah wudhu.[25]
Sahabat yang shalat dengan bacaan “wal
hamdulillahi hamdan katsiran tayyiban mubarakan fiih”[26]
Sahabat yang shalat tidak pernah meninggalkan surat Al-Ikhlas.
Ada yang mengatakan bernama Qatadah bin Nu’man. [27]
Sahabat yang meruqyah dengan membaca Al Fatihah.[28]
Sebagaimana Rasulullah mentaqrir (mendiamkan dan
menyetujui) para sahabat, namun beliau juga
meluruskan dan bahkan melarang mereka yang keliru.
Oleh karena itu hendaknya seseorang berbuat adil,
tidak mengikuti hawa nafsunya dengan hanya menukil dari apa yang didiamkan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa allam saja, tapi hendaknya juga menukil apa
yang diluruskan dan bahkan dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
Kisah para sahabat yang diluruskan bahkan dilarang
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut:
Tiga sahabat
yang mendatangi umul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anh dan bertanya tentang
ibadah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.[29]
Larangan
menyembelih Kurban sebelum shalat id.[30] Larangan Rasulullah sallallahu ’alaihi wa
sallam menyerupai suatu kaum.[31]
Nadzar yang
terlarang seperti kesyirikan, menyakiti badan atau hal-hal yang sia-sia. [32]
Larangan mengkhususkan puasa pada hari jum’at saja.
Dari abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ia
mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لا
يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ.
“Janganlah
salah seorang di antara kalian berpuasa pada hari Jum’at kecuali jika ia
berpuasa pula pada hari sebelum atau sesudahnya.” [33]
Meminta dibuatkan sesembahan seperti Dzatu anwath, hal
ini sebagaimana bani Israil meminta dibuatkan anak sapi, (QS. Al A’raf [7]:
138).
Ketika fatkhul Makkah banyak sahabat yang baru masuk Islam,
tidak selang beberapa lama kemudian orang-orang berangkat perang menuju Hunain,
kemudian mereka melewati pohon milik orang kafir sehingga mereka meminta untuk
dibuatkan Dzatu Anwath seperti mereka.
يَا
رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ. فَقَالَ النَّبِىُّ صلى
الله عليه وسلم سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ
مُوسَى .
“Ya
Rasulullah, Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath (tempat menggantungkan senjata)
sebagaimana mereka (orang musyrik) memiliki Dzatu Anwath.” Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Subhanallah! ini sebagaimana yang
dikatakan oleh kaum Musa.”[34]
Para sahabat adalah manusia pilihan yang hidup
dinaungi oleh wahyu, dimana wahyu turun kepada mereka siang maupun malam yang
akan membenarkan atau meluruskan mereka apabila keliru melalui Rasul-Nya.
Dari ayat dan hadits di atas jelas menunjukkan bahwa
tidak ada yang dapat menjamin keselamatan agama seseorang menuju kepada Allah
ta’ala kecuali mengikuti Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan juga para
sahabatnya radhiyallahu ‘ahum ajma’iin.
[1] (Tafsir Ibnu
Katsir (QS. Al Maidah[5]: 3).
[2]
(Tafsir Ibnu Katsir (QS. Al-An’am [6]: 115).
[3] (HR. Ahmad no. 17142 Ibnu Majah no. 43,
ath-Thabrani no. 619 dan disahihkan Syaikh al-Albani di Shahihul Jami’ no. 4369).
[4] (HR. Ahmad no. 21439, ath-Thabrani dalam al
Mu’jamul Kabir no. 1647, disahihkan Syaikh al-AlBani di dalam ash-Shahihah no. 1803).
[5] (HR. Muslim no. 262, at-Tirmidzi no. 16).
[6] (Tafsir Ibnu Katsir, QS. An-Nisa[4]:59).
[7] (HR. al-Hakim di dalam mustadraknya no. 319,
disahihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam Sahihul Jami’ no. 2937).
[8] (Ar-Rahiqul Makhtum, Syaikh
Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, terbitan Darul Haq).
[9] (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Baqarah
[2]:207)
[10] (HR. al-Bukhari No. 6632, Ahmad No. 22503, ath-Tabrani No. 317)
[11] (HR. al-Bukhari
4210, Muslim 2405).
[12] (Diringkas dari Ar-Rahiqul Makhtum, Syaikh
Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, terbitan Darul Haq).
[13] (HR. al-Bukhari no 2778, at-Tirmidzi no 3703).
[14] (HR. al-Hakim no. 4553, at-Tirmidzi no. 3701, dihasankan Syaikh al-Albani di
dalam al-Misykah no. 6964).
[15] (HR.
al-Bukhari no. 4487(.
[16] (HR. al-Bukhari no. 3673, Muslim no. 2540).
[17] (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al Baqarah [2]:
137).
[18] (HR. Abu Dawud no. 4653, at-Tirmidzi no. 3860,
beliau berkata: hasan shahih. Syaikh al-Albani menshahihkan dalam Shahihul
Jami’ no. 7680).
[19] (HR. al-Bukhari no. 2652, Muslim no. 2533.
Dengan lafald dari al-Bukhari).
[20] (HR. Abu Dawud no. 4607, at-Tirmidzi no. 2676.
Disahihkan syaikh al-Albani dalam sahihul jami’ no. 2549).
[21] (HR. Ahmad no. 4142, Abu Dawud no. 241,
dihasankan syaikh al-Albani di dalam Adh-Dhilal no. 16-17).
[22]
(HR. Ibnu majah No. 3992, Abu Dawud No. 4956, ath-Thabrani di dalam al-Mu’jam
al-Kabir No. 129, di hasankan Syaikh al-Albani di dalam Shahih Ibnu Majah No. 3992,
di shahihkan di dalam as-Shahihah No. 1492).
[23] (HR. at-Tirmidzi No. 2641, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam
ash-Shahihah No. 1348, al-Misykah No. 171).
[24] (HR. Ibnu Majah no. 3940, al-Hakim no. 201-202,
at- Tirmidzi no. 2269 dan diShahihkan syaikh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no.
1848, al-Misykah no. 173).
[25] (HR. al-Bukhari no. 1149).
[26] (HR. Muslim no.
600, Abu Dawud no. 774, Ibnu Hibban no. 845).
[27] (HR. al-Bukhari no. 774, at-Tirmidzi no.
2901).
[28] (HR. al-Bukhari no. 5736, Muslim no.
2201).
[29] (HR. al-Bukhari no. 5063, Muslim no.
1401).
[30] (HR. al-Bukhari no. 7400, Muslim no. 985).
[31] (HR. Abu Dawud no. 4031 di shahihkan
Syaikh al-Albani di dalam Irwa’ul Ghalil no. 2384).
[32] (HR al-Bukhari no. 6700).
[33] (HR. al-Bukhari no. 1849, Muslim no.
1929).
[34] (HR. Ahmad no. 21900, at-Tirmidzi no. 2180, dishahihkan
Syaikh al-Albani di dalam dzilalul Jannah no. 76. Adapun Dzatu an-wath adalah
pohon yang dipakai
menggantungkan pedang orang-orang musyrik).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar