TASHFIYAH DAN TARBIYAH
Berusaha Mengembalikan Kemurnian Islam
Bagi
para juru dakwah dan pemerhati sejarah mereka tidak akan mengingkari zaman
keemasan Islam di mana Islam mengalami kejayaan.
Seiring
berjalannya waktu, jauhnya masa kenabian berbagai ajaran mengkontaminasi (mengotori)
Islam menjadikan Islam dan kaum muslimin mengalami kemunduran yang luar biasa.
Oleh
karena itu pentingnya kita kembali memurnikan ajaran ini, diantaranya sebagai
berikut:
1.
Pengertian tashfiah dan tarbiah.
Tashfiyah
(تصفية)
diambil dari kata Shafa (صفاء)
yang artinya adalah jernih. jadi تصفية maknanya adalah proses pemurnian.
Secara
istilah Tashfiah yaitu:
تَصْفِيَةُ الْعُلُومِ
الشَّرْعِيَّةِ مِمَّا عَلِقَ بِهَا مِنِ اجْتِهَادَاتٍ مَرْجُوحَةٍ، اعْتَمَدَتْ عَلَى
أَدِلَّةٍ غَيْرِ ثَابِتَةٍ، أَوْ دَلَالَاتٍ غَيْرِ ظَاهِرَةٍ.
“Memurnikan ilmu-ilmu syariat dari berbagai ijtihad yang lemah
(tidak kuat pendapatnya) yang melekat padanya, yang didasarkan pada dalil-dalil
yang tidak sahih atau petunjuk dalil yang tidak jelas. (Al-Manhajus Salafi
‘inda Syaikh Nashiruddin al-Albani, hlm. 207).
Tarbiyah
berasal dari Rabaa-Yarbuu yang artinya berkembang, atau berasal dari kata
Rabiya-Yarbaa yang artinya menjadi besar atau dewasa, bisa juga diambil dari
kata Rabba-Yarubbu yang artinya mengurusi. (At-Tashfiyah wat Tarbiyah wa
Atsaruhuma fit Ta’nafil Hayatil Islamiyyah, karya Ali bin Hasan al-Halabi
al-Atsari).
Adapun secara istilah, sebagaimana diungkapkan oleh Amr Abdul
Mun’im Salim:
تَهْذِيبُ الْأَخْلَاقِ،
وَالتَّمَسُّكُ بِأَخْلَاقِ الشَّرِيعَةِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا فِي الْعِبَادَاتِ وَالْمُعَامَلَاتِ،
عَلَى أَصْلٍ أَصِيلٍ، أَلَا وَهُوَ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ.
“Memperbaiki akhlak dan berpegang teguh pada akhlak yang diajarkan
oleh syariat, baik secara lahir maupun batin, dalam ibadah dan muamalah, dengan
berlandaskan pada landasan yang kokoh, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.”
2.
Pemurnian ajaran Islam dari penyimpangan.
Berbagai
ajaran aqidah ibadah dan pemikiran liberal, semua itu disusupkan kedalam Islam baik hal ini akan
diketahui orang-orang yang berpemahaman lurus.
Oleh
karena itu harus ada pembersihan dan pemurnian, diantaranya:
1) Tashfiah Di bidang manhaj (metode
memahami agama).
Yang
dimaksud dengan manhaj adalah metode dalam beragama. Kesalahan dalam manhaj
dapat menjadi sumber kesalahan dalam bidang agama lainnya.
ادْعُ إِلَىٰ
سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي
هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ
بِالْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran
yang baik, serta bantahlah mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya
Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan
Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl [16]:
125).
2) Tashfiah di bidang aqidah.
Hal
ini di karenakan banyak kaum muslimin mereka masuk kedalam Islam namun masih
meyakini ajaran-ajaran di luar Islam, misalnya ajaran Hindu.
Mereka
mengagungkan tempat-tempat tertentu seperti punden, pohon keramat, dan lainnya,
kemudian mereka memberinya sesaji.
Padahal
hal semacam ini merupakan bentuk larangan keras di dalam agama.
Allah
ta’ala berfirman:
وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا
يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ.
“Dan janganlah kamu
menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat
kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, Maka
Sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim." (QS
Yunus[10]:106).
“Dalam sebagian tradisi masyarakat
Muslim Jawa bahkan sekarang telah merambat ke berbagai daerah, praktik-praktik
yang berkaitan dengan kehamilan, kelahiran, hingga kematian memperlihatkan
adanya perpaduan antara ajaran Islam dan tradisi lokal yang dipengaruhi oleh
kepercayaan Hindu-Buddha.”
Padahal Allah perintahkan kita agar
masuk Islam serara keseluruhan.
Allah
ta’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ
كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ
مُّبِيْنٌ .
“Wahai
orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam (kedamaian) secara menyeluruh
dan janganlah ikuti langkah-langkah setan! Sesungguhnya ia musuh yang nyata
bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]:208).
Mereka
juga menolak sifat-sifat Allah ta’ala dan menetapkan sebagian kecil saja,
sebagian lagi mereka menta’wil sifat-sifat Allah ta’ala.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.
“Tidak ada yang suatupun
yang serupa dengan Allah, dan Dia maha mendengar dan melihat.” (QS. Asy-Syura[42]: 11).
3) Tashfiah di bidang ibadah.
Kita menyaksikan berbagai macam ibadah yang
tidak di ajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Padahal jelas Allah hanya perintahkan kita
mengambil dan mengamalkan apa yang diperintahkan Rasululah:
Allah ta’ala berfirman:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا.
“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa
yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr [59]: 7).
Ibnu Katsir mengatakan: “Yakni apa pun yang diperintahkan
oleh Rasul kepada kalian, maka kerjakanlah; dan apa pun yang dilarang olehnya,
maka tinggalkanlah. Karena sesungguhnya yang diperintahkan oleh Rasul itu
hanyalah kebaikan belaka, dan sesungguhnya yang dilarang olehnya hanyalah
keburukan belaka.” (Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Hasyr [59]: 7).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ, وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ
أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ .
“Barang siapa yang membuat perkara baru dalam urusan agama
yang tidak ada perintah dari kami maka tertolak.” Dalam riwayat Muslim,
“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami,
maka tertolak.” (HR. Bukhari 2697, Muslim 1718).
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا
بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا: يَا
رَسُولَ اللهِ، الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ فَمَنْ؟
“Sungguh, kalian akan mengikuti langkah
orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta.
Kalaupun mereka menempuh jalur lubang dhabb (binatang sejenis biawak), niscaya kalian akan menempuhnya.” Kami mengatakan, “Ya
Rasulullah, apakah jalan orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab,
“Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Bukhari 3456 dan
Muslim 2669 dari sahabat Abu Sa’id al- Khudri radhiyallahu ‘anhu)
4) Tashfiah di bidang Sunnah.
Banyak kaum muslimin mereka mengamalkan hadits-hadits
palsu, maudh’u dan tidak ada asal-usulnya.
5) Tashfiah dibidang fikih.
Banyak kaum muslimin mereka mengambil
dalil-dalil yang membolehkan riba, musik dan lainnya.
Hal ini telah di kabarkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi
wa sallam:
إِذَا تَبَايَعْتُمْ
بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ
وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى
تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ.
“Apabila kalian telah berjual beli dengan cara Al-‘Inah dan
kalian telah ridho dengan perkebunan dan kalian telah mengambil ekor-ekor sapi
dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian suatu
kehinaan yang (Allah) tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada agama
kalian.” (HR. Abu Daud 3462 dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam
As-Shahihah 11).
Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:
عَنْ ثَوْبَانَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى
الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا، فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ
يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ
كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ
الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ،
فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا،
وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ.
“Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti makanan yang
di perebutkan di tempatnya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya
jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih yang mengapung.
Dan Allah telah mencabut rasa takut dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan
Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang
bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shallallahu ’alaih wa
sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 4297 Amad
22397 di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam As-Shahihah 958)
Setelah itu mentarbiah generasi dengan ajaran
yang murni .
Imam
Malik رحمه الله berkata:
لَنْ يُصْلِحَ آخِرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا مَا أَصْلَحَ
أَوَّلَهَا.
"Tidak
akan dapat memperbaiki umat ini melainkan dengan apa yang telah membuat baik
generasi pertama umat ini (Shahabat). "
Demikianlah
semoga bermanfaat.
-----000-----
15-10-2026
Abu Ibrahim Junaedi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar