Kamis, 15 Oktober 2026

TASHFIYAH DAN TARBIYAH

 

TASHFIYAH DAN TARBIYAH

Berusaha Mengembalikan Kemurnian Islam

 

Bagi para juru dakwah dan pemerhati sejarah mereka tidak akan mengingkari zaman keemasan Islam di mana Islam mengalami kejayaan.

Seiring berjalannya waktu, jauhnya masa kenabian berbagai ajaran mengkontaminasi (mengotori) Islam menjadikan Islam dan kaum muslimin mengalami kemunduran yang luar biasa.

Oleh karena itu pentingnya kita kembali memurnikan ajaran ini, diantaranya sebagai berikut:

1.   Pengertian tashfiah dan tarbiah.

Tashfiyah (تصفية) diambil dari kata Shafa (صفاء) yang artinya adalah jernih. jadi تصفية maknanya adalah proses pemurnian.

Secara istilah Tashfiah yaitu:

تَصْفِيَةُ الْعُلُومِ الشَّرْعِيَّةِ مِمَّا عَلِقَ بِهَا مِنِ اجْتِهَادَاتٍ مَرْجُوحَةٍ، اعْتَمَدَتْ عَلَى أَدِلَّةٍ غَيْرِ ثَابِتَةٍ، أَوْ دَلَالَاتٍ غَيْرِ ظَاهِرَةٍ.

“Memurnikan ilmu-ilmu syariat dari berbagai ijtihad yang lemah (tidak kuat pendapatnya) yang melekat padanya, yang didasarkan pada dalil-dalil yang tidak sahih atau petunjuk dalil yang tidak jelas. (Al-Manhajus Salafi ‘inda Syaikh Nashiruddin al-Albani, hlm. 207).

 

 

Tarbiyah berasal dari Rabaa-Yarbuu yang artinya berkembang, atau berasal dari kata Rabiya-Yarbaa yang artinya menjadi besar atau dewasa, bisa juga diambil dari kata Rabba-Yarubbu yang artinya mengurusi. (At-Tashfiyah wat Tarbiyah wa Atsaruhuma fit Ta’nafil Hayatil Islamiyyah, karya Ali bin Hasan al-Halabi al-Atsari).

Adapun secara istilah, sebagaimana diungkapkan oleh Amr Abdul Mun’im Salim:

تَهْذِيبُ الْأَخْلَاقِ، وَالتَّمَسُّكُ بِأَخْلَاقِ الشَّرِيعَةِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا فِي الْعِبَادَاتِ وَالْمُعَامَلَاتِ، عَلَى أَصْلٍ أَصِيلٍ، أَلَا وَهُوَ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ.

“Memperbaiki akhlak dan berpegang teguh pada akhlak yang diajarkan oleh syariat, baik secara lahir maupun batin, dalam ibadah dan muamalah, dengan berlandaskan pada landasan yang kokoh, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.”

2.   Pemurnian ajaran Islam dari penyimpangan.

Berbagai ajaran aqidah ibadah dan pemikiran liberal, semua itu  disusupkan kedalam Islam baik hal ini akan diketahui orang-orang yang berpemahaman lurus.

Oleh karena itu harus ada pembersihan dan pemurnian, diantaranya:

1)  Tashfiah Di bidang manhaj (metode memahami agama).

Yang dimaksud dengan manhaj adalah metode dalam beragama. Kesalahan dalam manhaj dapat menjadi sumber kesalahan dalam bidang agama lainnya.

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, serta bantahlah mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl [16]: 125).

2)  Tashfiah di bidang aqidah.

Hal ini di karenakan banyak kaum muslimin mereka masuk kedalam Islam namun masih meyakini ajaran-ajaran di luar Islam, misalnya ajaran Hindu.

Mereka mengagungkan tempat-tempat tertentu seperti punden, pohon keramat, dan lainnya, kemudian mereka memberinya sesaji.

Padahal hal semacam ini merupakan bentuk larangan keras di dalam agama.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ.

“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, Maka Sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim." (QS Yunus[10]:106).

“Dalam sebagian tradisi masyarakat Muslim Jawa bahkan sekarang telah merambat ke berbagai daerah, praktik-praktik yang berkaitan dengan kehamilan, kelahiran, hingga kematian memperlihatkan adanya perpaduan antara ajaran Islam dan tradisi lokal yang dipengaruhi oleh kepercayaan Hindu-Buddha.”

Padahal Allah perintahkan kita agar masuk Islam serara keseluruhan.

Allah ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ .

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam (kedamaian) secara menyeluruh dan janganlah ikuti langkah-langkah setan! Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]:208).

Mereka juga menolak sifat-sifat Allah ta’ala dan menetapkan sebagian kecil saja, sebagian lagi mereka menta’wil sifat-sifat Allah ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.

“Tidak ada yang suatupun yang serupa dengan Allah, dan Dia maha mendengar dan melihat.” (QS. Asy-Syura[42]: 11).

3)  Tashfiah di bidang ibadah.

Kita menyaksikan berbagai macam ibadah yang tidak di ajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Padahal jelas Allah hanya perintahkan kita mengambil dan mengamalkan apa yang diperintahkan Rasululah:

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا.

“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr [59]: 7).

Ibnu Katsir mengatakan: “Yakni apa pun yang diperintahkan oleh Rasul kepada kalian, maka kerjakanlah; dan apa pun yang dilarang olehnya, maka tinggalkanlah. Karena sesungguhnya yang diperintahkan oleh Rasul itu hanyalah kebaikan belaka, dan sesungguhnya yang dilarang olehnya hanyalah keburukan belaka.” (Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Hasyr [59]: 7).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ,  وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ .

“Barang siapa yang membuat perkara baru dalam urusan agama yang tidak ada perintah dari kami maka tertolak.” Dalam riwayat Muslim, “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka tertolak.” (HR. Bukhari 2697, Muslim 1718).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ فَمَنْ؟

“Sungguh, kalian akan mengikuti langkah orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta. Kalaupun mereka menempuh jalur lubang dhabb (binatang sejenis biawak), niscaya kalian akan menempuhnya.” Kami mengatakan, “Ya Rasulullah, apakah jalan orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Bukhari 3456 dan Muslim 2669 dari sahabat Abu Sa’id al- Khudri radhiyallahu ‘anhu)

4)  Tashfiah di bidang Sunnah.

Banyak kaum muslimin mereka mengamalkan hadits-hadits palsu, maudh’u dan tidak ada asal-usulnya.

5)  Tashfiah dibidang fikih.

Banyak kaum muslimin mereka mengambil dalil-dalil yang membolehkan riba, musik dan lainnya.

Hal ini telah di kabarkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam:

 إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ.

“Apabila kalian telah berjual beli dengan cara Al-‘Inah dan kalian telah ridho dengan perkebunan dan kalian telah mengambil ekor-ekor sapi dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian suatu kehinaan yang (Allah) tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud 3462 dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam As-Shahihah 11).

Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:

عَنْ ثَوْبَانَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا، فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ.

“Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti makanan yang di perebutkan di tempatnya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih yang mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa takut dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shallallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 4297 Amad 22397 di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam As-Shahihah 958)

Setelah itu mentarbiah generasi dengan ajaran yang murni .

Imam Malik رحمه الله berkata:

لَنْ يُصْلِحَ آخِرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا.

"Tidak akan dapat memperbaiki umat ini melainkan dengan apa yang telah membuat baik generasi pertama umat ini (Shahabat). "

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

-----000-----

15-10-2026

Abu Ibrahim Junaedi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TASHFIYAH DAN TARBIYAH

  TASHFIYAH DAN TARBIYAH Berusaha Mengembalikan Kemurnian Islam   Bagi para juru dakwah dan pemerhati sejarah mereka tidak akan mengin...