Rabu, 28 Oktober 2026

MUJMAL USUL AHLI SUNNAH BAB 2 NO 7 IMAN KEPADA HARI AKHIR (1) KEMATIAN DAN ALAM BARZAH

 



MUJMAL USUL AHLI SUNNAH WAL JAMA’AH

BAB 2 NO 7

IMAN KEPADA HARI AKHIR

 

٨-  الإِيمَانُ بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَكُلِّ مَا صَحَّ فِيهِ مِنَ الْأَخْبَارِ وَبِمَا يَتَقَدَّمُهُ مِنَ الْعَلَامَاتِ وَالْأَشْرَاطِ.

8.Beriman kepada hari akhir, dan kepada segala berita yang sahih tentangnya, serta tanda-tanda dan peristiwa-peristiwa yang mendahuluinya.

 

-----000-----

 

IMAN KEPADA HARI AKHIR

Iman kepada hari akhir merupakan salah satu rukun iman yang harus di imani setiap mukmin.

Banyak ayat dan hadits yang menjelaskan tentang kehidupan setelah kematian, dan semua itu masuk bagian dari keimanan.

Di antara keutamaan mengimani hari akhir yaitu:

1)  Iman kepada hari akhir merupakan bagian pokok keimanan.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ

“Akan tetapi, kebajikan itu adalah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, para malaikat, kitab-kitab, dan para nabi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 177)

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ.

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi..” (QS. Al Baqarah [2]: 177).

2)  Beriman kepada hari akhir akan mengendalikan seseorang.

Allah ta’ala berfirman:

مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ . فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ.

“Adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at [79]: 40–41).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari 6018, Muslim, 47)

Ayat dan Hadits ini menunjukkan bahwa iman kepada hari akhir memiliki pengaruh yang nyata terhadap perilaku seorang muslim. Ia akan menjaga lisan dan perbuatannya karena mengetahui bahwa setiap perkataan dan perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

3)  Perintah berbekal untuk hari akhir.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr [59]:18).

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا.

“Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan.” (QS. Al-Kahfi [18]: 110).

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْسَنَ فِيمَا بَقِيَ , غُفِرَ لَهُ مَا مَضَى وَمَنْ أَسَاءَ فِيمَا بَقِيَ أُخِذَ بِمَا مَضَى وَمَا بَقِيَ.

“Barang siapa berbuat baik pada sisa umurnya, niscaya akan diampuni (dosa-dosanya) yang telah lalu. Dan barang siapa berbuat buruk pada sisa umurnya, niscaya ia akan disiksa (diambil) karena (dosa-dosanya) yang telah lalu dan yang tersisa.”(HR. Tabrani di dalam al-Mu’jam 6806, hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam as-Shahihah 3389).

Fudhail bin Iyadh rahimahullah menasehati seseorang yang telah terlanjur berumur tua dia berkata:

أَحْسِنْ فِيمَا بَقِيَ, يُغْفَرْ لَكَ مَا مَضَى, فَإِنَّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيمَا بَقِيَ تُعَذَّبْ بِمَا مَضَى وَبِمَا بَقِيَ.

“Engkau berbuat kebaikan (amal shaleh) pada sisa umurmu (yang masih ada), maka Allah akan mengampuni (dosa-dosamu) di masa lalu, karena jika kamu (tetap) berbuat buruk pada sisa umurmu (yang masih ada), kamu akan di siksa (pada hari kiamat) karena (dosa-dosamu) di masa lalu dan (dosa-dosamu) pada sisa umurmu.”(Nukilan dari Jaami’ul ‘uluumi wal hikam hal. 464 dan Latha-iful ma’aarif hal. 108)

4)  Perintah untuk memperbanyak mengingat kematian.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ.

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian).” (HR. Ahmad 7925, Ibnu Majah 4258, Tirmidzi 2307, di hasankan Syaikh al-Albani di dalam Al-Irwa’ 682, AL-Misykah 1607).

Sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ: أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا, قَالَ: فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ.

“Ya Rasulullah siapakah mukmin yang paling utama’’? beliau menjawab, “ yang paling bagus akhlaknya.” Dia berkata: “ Siapakah mukmin yang paling cerdas..? Beliau menjawab, “ yang paling banyak mengingat kematian, dan yang paling baik menyiapkan kehidupan setelahnya, mereka itulah orang yang cerdas.” (HR. Ahmad 11535, Ibnu Majah 6175, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 1384).

Mengingat kematian bukan berarti kita meninggalkan pekerjaan, tidak mengurus keluarga, atau berhenti mencari rezeki yang halal. Justru mengingat kematian seharusnya menjadikan kita lebih baik dalam bekerja, lebih jujur dalam bermuamalah, lebih berhati-hati terhadap harta haram, lebih berbakti kepada orang tua, dan lebih cepat bertaubat ketika melakukan dosa.

5)   Orang sesat dan lalai adalah orang yang tidak beriman kepada hari akhir.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ عَنِ الصِّرَاطِ لَنَاكِبُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat benar-benar menyimpang dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 74).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

أَعْذَرَ اللهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَغَ سِتِّيْنَ سَنَةً.

 

“Allah tidak akan menerima argumen kepada seseorang yang Allah tunda ajalnya hingga mencapai 60 tahun.” (HR. Bukhari 6419).

Iman kepada hari akhir tidak hanya berarti meyakini bahwa kiamat akan terjadi. Iman ini mencakup seluruh perkara yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya tentang kehidupan setelah kematian, di antaranya:

1)   Kematian dan berakhirnya kehidupan dunia.

2)   Fitnah kubur serta pertanyaan dua malaikat.

3)   Nikmat dan azab kubur.

4)   Tanda-tanda kiamat

5)   Tiupan sangkakala.

6)   Kebangkitan manusia dari kubur.

7)   Pengumpulan seluruh manusia di Padang Mahsyar.

8)   Syafaat yang terjadi dengan izin Allah.

9)   Hisab atau perhitungan amal.

10)                    Pembagian catatan amal.

11)                    Mizan atau timbangan amal.

12)                    Telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

13)                    Shirath atau jembatan yang dibentangkan di atas Jahanam.

14)                    Surga dan neraka.

15)                    Melihat Allah di akhirat bagi orang-orang beriman, sebagaimana ditunjukkan oleh dalil-dalil yang sahih.

1. Kematian: Pintu Pertama Menuju Kehidupan Akhirat

Kematian adalah kepastian yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Orang kaya akan mati, orang miskin akan mati, orang yang sehat akan mati, orang yang sakit akan mati, pemimpin akan mati, rakyat akan mati, dan setiap manusia akan meninggalkan dunia ini pada waktu yang telah Allah tetapkan.

Allah ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung, kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Al Imran [3]: 185).

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

“Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, sekalipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An-Nisa' [4]: 78)

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’” (QS. Al-Jumu'ah [62]: 8)

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ .

“Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan.” (QS.Al-A’raf [7]:34), (QS.Yunus [10]:49), (QS. AN Nahl [16]:61)

Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam bersabda:

أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ.

“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70, dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi 3550, Ibnu Majah 4236, di hasankan Syaikh al Albani di dalam ash-Shahihah 757).

Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa manusia Ayat ini mengingatkan kita bahwa kematian bukanlah akhir dari segala sesuatu. Setelah kematian, manusia akan dikembalikan kepada Allah dan diberitahu tentang amal perbuatannya.

1)  Sakaratul maut

Ketika ajal mendekat, manusia akan menghadapi sakaratul maut, yaitu kesulitan dan dahsyatnya keadaan ketika nyawa akan dicabut. Pada saat itu, segala kesibukan dunia tidak lagi menjadi perkara utama. Rumah yang megah, kendaraan yang bagus, tabungan yang banyak, investasi yang selalu menghasilkan dan kedudukan yang tinggi, semua itu tidak dapat menolak datangnya ajal.

Allah berfirman:

وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ.

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.” (QS. Qaf [50]: 19)

Ketika kematian datang, pintu mulai terbuka kenyataan yang selama ini mungkin dilupakan manusia. Kehidupan dunia ternyata singkat, sedangkan perjalanan menuju akhirat sangat panjang.

2)  Keadaan manusia ketika kematian datang

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa ketika seorang hamba beriman menghadapi akhir kehidupannya di dunia, datanglah malaikat yang membawa kabar gembira kepadanya. Adapun orang kafir atau orang yang durhaka, mereka menghadapi keadaan yang mengerikan sesuai dengan ketetapan Allah.

Allah berfirman tentang orang-orang yang teguh di atas tauhid:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, akan turun kepada mereka para malaikat seraya berkata, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah bersedih hati, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fussilat [41]: 30).

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Tuhan kami ialah Allah, " kemudian mereka meneguhkan pendiriannya. (Fushshilat[41]: 30) Abu Bakar mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Fusilat [41]:30).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ.

"Tuntunlah orang yang sedang berada di penghujung ajalnya agar membaca (kalimat), 'laa ilaaha illallah.” (HR. Muslim 1525).

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ.

“Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘laailaha illallah’, maka dia akan masuk surga.” (HR. Abu Daud 3116. Di syahihkan Syaikh al-Albani di dalam Misykatul Mashabih 1621).

Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:

وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ.

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari 6607).

Sebaliknya, manusia yang menghabiskan umurnya untuk bermaksiat, menzalimi orang lain, menyekutukan Allah, atau menolak kebenaran mereka kesulitan untuk mengucapkan kalimat La ila ha illallah.

3)  Beratnya sakaratul maut.

Keadaan orang-orang beriman.

Allah ta’ala mengabarkan kondisi kematian orang mukmin dengan firman-Nya:

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلاَمٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ.

"(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Salamun 'alaikum (keselamatan sejahtera bagimu)", masuklah ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan." (QS. An Nahl [16]: 32).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنْ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنْ الْآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مَلَائِكَةٌ مِنْ السَّمَاءِ بِيضُ الْوُجُوهِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ الشَّمْسُ مَعَهُمْ كَفَنٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ وَحَنُوطٌ مِنْ حَنُوطِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ عَلَيْهِ السَّلَام حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ قَالَ فَتَخْرُجُ تَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِي السِّقَاءِ فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَأْخُذُوهَا فَيَجْعَلُوهَا فِي ذَلِكَ الْكَفَنِ وَفِي ذَلِكَ الْحَنُوطِ وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَطْيَبِ نَفْحَةِ مِسْكٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ.

"Seorang hamba mukmin, jika telah berpisah dengan dunia, menuju akhirat, maka malaikat akan mendatanginya dari langit, dengan wajah yang putih. Rona muka mereka layaknya sinar matahari. Mereka membawa kafan dari surga, serta hanuth (wewangian) dari surga. Mereka duduk di sampingnya sejauh mata memandang. Berikutnya, malaikat maut hadir dan duduk di dekat kepalanya sembari berkata: "Wahai jiwa yang baik –dalam riwayat-jiwa yang tenang keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaannya". Ruhnya keluar bagaikan aliran air dari geriba. Setelah keluar ruhnya, maka malaikat maut mengambilnya. Jika telah diambil, para malaikat lainnya tidak membiarkannya di tangannya (malaikat maut) sejenak saja, untuk mereka ambil dan diletakkan di kafan dan hanuth tadi. Dari jenazah, semerbak aroma misk terwangi yang ada di bumi.." (HR. Ahmad18534, Dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Miskatu Al-Mashabih 1630).

Sebagian orang-orang yang beriman juga merasakan berat.

 

Imam Bukhari meriwayatkan dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata: saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghadapi kematian.

Bahwa di hadapan Rasulullah ada satu bejana kecil dari kulit yang berisi air. Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ ثُمَّ نَصَبَ يَدَهُ فَجَعَلَ يَقُولُ فِي الرَّفِيقِ الْأَعْلَى حَتَّى قُبِضَ وَمَالَتْ.أخرجه البخاري في المغازي باب مرض النبي ووفاته.

"Laa Ilaaha illa Allah. Sesungguhnya kematian memiliki sakaratul maut". Dan beliau menegakkan tangannya dan berkata: "Menuju Rafiqil A'la". Sampai akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangannya melemas" (HR. Bukhari 6510).

Hal itu juga dikisahkan sahabat Amr bin al-Ash.

Dari Awanah bin Al-Hakam, ia berkata: Amr bin al-Ash pernah mengatakan, “Aku heran terhadap orang yang didatangi kematian, sementara akalnya masih bersamanya, mengapa ia tidak menggambarkan keadaan kematian itu?” Ketika kematian menghampirinya, putranya, Abdullah, berkata, “Gambarkanlah kepada kami keadaan kematian, sementara akalmu masih bersamamu.” Amr bin Al-Ash menjawab:

يَا بُنَيَّ، الْمَوْتُ أَجَلُّ مِنْ أَنْ يُوصَفَ، وَلَكِنِّي سَأَصِفُ لَكَ مِنْهُ شَيْئًا أَجِدُنِي كَأَنَّ عَلَى عُنُقِي جِبَالُ رَضْوَى، وَأَجِدُنِي كَأَنَّ فِي جَوْفِي شَوْكُ السِّلَاحِ، وَأَجِدُنِي كَأَنَّ نَفْسِي تَخْرُجُ مِنْ ثَقْبِ إِبْرَةٍ.

“Wahai anakku, kematian terlalu dahsyat untuk digambarkan. Namun, aku akan menggambarkan sedikit tentangnya kepadamu. Aku merasa seolah-olah di atas leherku terdapat Gunung Ridha, aku merasa seolah-olah di dalam tubuhku terdapat duri-duri senjata, dan aku merasa seolah-olah ruhku keluar melalui lubang jarum.”   (HR. al-Hakim Mustadrak ‘ala Shahihain 5915, Ahwalul Muhtadhar 1/84, Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Ahmad Al-Ali).

Orang kafir mereka mendapatkan siksaan para malaikat.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ ۖ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ.

"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (Sambil berkata): "Keluarkan nyawamu" Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatnya." (QS. Al An'am [6]: 93).

وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذْ يَتَوَفَّى ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَٰرَهُمْ وَذُوقُوا۟ عَذَابَ ٱلْحَرِيقِ

“Sekiranya engkau melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang kafir, mereka memukul wajah dan punggung mereka, seraya berkata, ‘Rasakanlah azab yang membakar.” (QS. Al-Anfal [8]: 50)

Rasulullah shalallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنْ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنْ الْآخِرَةِ نَزَلَتْ عَلَيْهِ مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ فَانْتَزَعُوا رُوحَهُ كَمَا يُنْتَزَعُ السَّفُّودُ الْكَثِيرُ الشِّعْبِ مِنْ الصُّوفِ الْمُبْتَلِّ وَتُنْزَعُ نَفْسُهُ مَعَ الْعُرُوقِ.

“Sedangkan bagi orang kafir, saat ia hendak berpisah dengan kehidupan dunia dan akan menemui kehidupan akhirat, maka Malaikat pun akan turun padanya dengan sangat kasar lagi kejam, lalu mencabut ruhnya sebagaimana dicabutnya besi yang banyak taringnya dari kain wool yang lembab, dan dicabutlah jiwanya yang disertai peluh.” (HR. Ahmad 17872 di shahihkan syaikh al-Albani dalam kitab “Ahkamul Janaiz”).

4)  Penyesalan ketika ajal tiba

Allah mengabarkan bahwa sebagian manusia baru menyadari pentingnya amal saleh ketika kematian telah datang. Namun, saat itu kesempatan untuk kembali mengerjakan amal saleh di dunia telah berakhir.

Allah ta’ala berfirman:

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh.’” (QS. Al-Munafiqun [63]: 10).

Ibnu Katsir berkata, “Setiap orang yang melalaikan kewajiban pasti akan merasa menyesal di saat meregang nyawanya, dan meminta agar usianya diperpanjang sekalipun hanya sebentar untuk bertobat dan menyusul semua amal yang dilewatkannya.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Munafiqun [63]:10).

Allah ta’ala dengan kelembutannya juga mengingatkan:

حَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءَ اَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُوْنِ ۙ لَعَلِّيْٓ اَعْمَلُ صَالِحًا فِيْمَا تَرَكْتُ كَلَّا ۗاِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَاۤىِٕلُهَاۗ وَمِنْ وَّرَاۤىِٕهِمْ بَرْزَخٌ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu) hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku dapat beramal saleh yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Di hadapan mereka ada (alam) barzakh513) sampai pada hari mereka dibangkitkan.”(QS. Al-Mu'minun [23]: 99–100).

Orang yang dahulu meremehkan shalat berharap dapat kembali untuk bersujud  meskipun sekali. Orang yang dahulu bahil berharap bisa kembali kedunia agar bisa besedekah, Orang yang dahulu memakan harta haram berharap dapat kembali untuk membersihkan hartanya. Orang yang dahulu menyakiti orang tua berharap dapat kembali untuk bisa berbakti. Orang yang dahulu menzalimi orang lain berharap dapat kembali untuk mengembalikan hak-hak mereka, demikian seterusnya.

Namun, harapan itu hanyalah angan-angan kosong, tidak ada lagi kesempatan untuk mengulang kehidupan dunia lagi.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang:

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ.

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. al-Hakim di dalam Mustadraknya 7846, al-Baihaqi 9767, Syu’abul Iman, an-Nasai 11832, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib 3355).

Kematian mengajarkan satu perkara penting,  kesempatan beramal itu lebih mulia dari segala-galanya, sedangkan setelah ajal tiba, kesempatan itu berakhir.

5)  Kesaksian manusia atas dirinya.

Kesaksian manusia bagi seseorang merupakan tanda bahagia atau celakanya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا فَوَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِى الأَرْضِ.

“Yang kalian puji kebaikannya, maka wajib baginya surga. Dan yang kalian sebutkan kejelekannya, wajib baginya neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.”(HR. Bukhari 1367, Muslim  949).

2. Alam Kubur: Kehidupan Barzakh

Setelah manusia meninggal dunia, ia memasuki alam barzakh. Alam barzakh adalah kehidupan pemisah antara kehidupan dunia dan hari kebangkitan. Kehidupan ini termasuk perkara gaib yang wajib kita imani berdasarkan berita dari Allah dan Rasul-Nya.

Allah ta’ala berfirman:

وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu'minun [23]: 100)

Ayat ini menunjukkan bahwa setelah kematian, manusia berada dalam alam barzakh hingga Allah membangkitkannya kembali pada hari kiamat.

a)   Pertanyaan malaikat di dalam kubur

Di antara perkara yang diberitakan dalam Sunnah adalah adanya pertanyaan malaikat kepada manusia setelah ia dikuburkan. Manusia akan diuji tentang Rabbnya, agamanya, dan nabinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِنَّهُ يَسْمَعُ خَفْقَ نِعَالِ أَصْحَابِهِ إِذَا وَلَّوْا عَنْهُ فَيَأْتِيهِ آتٍ فَيَقُولُ مَنْ رَبُّكَ مَا دِينُكَ مَنْ نَبِيُّكَ فَيَقُولُ رَبِّيَ اللَّهُ وَدِينِيَ الْإِسْلَامُ وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْتَهِرُهُ فَيَقُولُ مَنْ رَبُّكَ مَا دِينُكَ مَنْ نَبِيُّكَ وَهِيَ آخِرُ فِتْنَةٍ تُعْرَضُ عَلَى الْمُؤْمِنِ فَذَلِكَ حِينَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ } فَيَقُولُ رَبِّيَ اللَّهُ وَدِينِيَ الْإِسْلَامُ وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُ لَهُ صَدَقْتَ.

"Sesungguhnya, ia mendengar suara terompah teman-temannya. Dan saat teman-temannya itu pulang, maka Malaikat pun akan mendatanginya seraya bertanya, 'Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa Nabimu? ' maka ia pun menjawab, 'Tuhanku adalah Allah, agamu adalah Islam dan Nabiku adalah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.' Malaikat itu pun membentaknya lagi dan bertanya, 'Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa Nabimu? ' itulah akhir dari fitnah yang ditimpakan atas orang mukmin, yakni saat Allah berfiman: 'Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (QS. Ibrahim[14]: 27).

Maka ia tetap menjawab, “Tuhanku adalah Allah, agamu adalah Islam dan Nabiku adalah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.' Malaikat itu pun berkata, “Kamu telah berkata benar.” (HR. Ahmad 17872 di shahihkan syaikh al-Albani dalam kitab “Ahkamul Janaiz”).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan keadaan orang-orang kafir dan orang-orang munafik:

فَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُولُ: لَا أَدْرِي، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ. فَيَقُولَانِ: لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ. ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَاقٍ مِنْ حَدِيدٍ بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ فَيَسْمَعُهَا مَنْ عَلَيْهَا غَيْرُ الثَّقَلَيْنِ.

“Adapun orang kafir atau munafik, maka kedua malaikat tersebut bertanya kepadanya: “Apa jawabanmu tentang orang ini (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam)?” Dia mengatakan: “Aku tidak tahu. Aku mengatakan apa yang dikatakan orang-orang.” Maka kedua malaikat itu berkata: “Engkau tidak tahu?! Engkau tidak membaca?!” Kemudian ia dipukul dengan palu dari besi, tepat di wajahnya. Dia lalu menjerit dengan jeritan yang sangat keras yang didengar seluruh penduduk bumi, kecuali dua golongan: jin dan manusia.” (HR. Bukhari 1374, Muslim 2870).

b)  Nikmat kubur dan azab kubur

Alam kubur bukanlah alam yang sama dengan kehidupan dunia. Di sana terdapat nikmat dan azab sesuai dengan ketetapan Allah. Kita wajib membenarkan berita tersebut, meskipun hakikatnya tidak dapat dijangkau oleh pancaindra manusia yang masih hidup.

Azab kubur dan nikmat kubur terjadi pada ruh dan juga jasad. hal Ini ditetapkan di dalam Al Qur’an dan Sunnah, sebagaimana ini merupakan bagian aqidah ahlussunnah wal jama’ah.

Imam Bukhari juga membawakan di dalam shahihnya. (Kitab al janaiz, maa jaa a fi ‘adzabil kabri).

Allah berfirman tentang keluarga Fir'aun:

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

“Kepada mereka diperlihatkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat, dikatakan, ‘Masukkanlah keluarga Fir'aun ke dalam azab yang sangat keras.’” (QS. Ghafir [40]: 46)

Ayat ini menunjukkan adanya azab yang dialami Fir'aun dan pengikutnya sebelum datangnya hari kiamat, kemudian setelah kiamat mereka mendapatkan azab yang lebih berat.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوؤُكَ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ، فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ الَّذِي يَجِيءُ بِالشَّرِّ. فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ. فَيَقُولُ: رَبِّ لَا تُقِمِ السَّاعَةَ.

Kemudian datanglah kepadanya seseorang yang jelek wajahnya, jelek pakaiannya, dan busuk baunya. Dia berkata: “Bergembiralah engkau dengan perkara yang akan menyiksamu. Inilah hari yang dahulu engkau dijanjikan dengannya (di dunia).” Maka dia bertanya: “Siapakah engkau? wajahmu adalah wajah yang datang dengan kejelekan.” Dia menjawab: “Aku adalah amalanmu yang jelek.” Maka dia berkata: “Wahai Rabbku, jangan engkau datangkan hari kiamat.” (HR. Ahmad 18534, Abu Daud 4753 dan di shahihkan oleh syaikh al Albani di dalam “Ahkamul Janaiz “).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِى عَلَيْهِمْ.

“Sesungguhnya kuburan-kuburan ini dipenuhi kegelapan bagi para penghuninya, dan sesungguhnya Allah menyinarinya bagi mereka dengan shalatku atas mereka.” (HR. Bukhari 1337, Muslim 956).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَيَضِيقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلاَعُهُ…

Lalu disempitkan kuburnya sampai tulang-tulang rusuknya berhimpitan. (HR. Ahmad 18534, Abu Daud 4754, dishahihkan oleh syaikh al-Albani di dalam Shahihu Al-Jami’ 1675).

Dan masih banyak macam-macam adzab kubur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya agar berlindung kepada Allah dari azab kubur.

Dalam hadits shahih, beliau bersabda:

إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Apabila salah seorang di antara kalian selesai membaca tasyahud, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari empat perkara. Hendaklah ia mengucapkan, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahannam, azab kubur, fitnah kehidupan dan kematian, serta keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.” (HR. Muslim 588 Ahmad 10180).

Doa ini menunjukkan betapa pentingnya memohon keselamatan dari azab kubur. Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkannya sebagai bagian dari doa dalam shalat.

c)   Apa yang bermanfaat bagi orang yang telah meninggal?

Setelah seseorang meninggal, ia tidak lagi dapat menambah amalnya sendiri sebagaimana ketika masih hidup. Namun, terdapat amalan yang manfaatnya tetap sampai kepadanya berdasarkan dalil.

a)   Semua amal shalih yang dilakukan anak.

Baik bacaan Al-Qur’an, shalat, puasa, zakat, serta ibadah yang lain, semua itu orang tua akan turut serta mendapatkan pahalanya.

Dalilnya firman Allah ta’ala berfirman:

أُولَٰئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِّمَّا كَسَبُوا ۚ وَاللهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ.

Mereka itulah yang memperoleh ganjaran dari apa yang telah mereka usahakan, dan Allah Maha Cepat perhitungan-Nya. (QS. Al-Baqarah[2]: 202).

إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلْتُمْ مِنْ كَسْبِكُمْ، وَإِنَّ أَوْلَادَكُمْ مِنْ كَسْبِكُمْ.

“Sebaik-baik rizki adalah yang kalian makan dari usaha (jerih payah) kalian sendiri. Dan sungguh anak-anak kalian itu termasuk dari usaha kalian.” (HR. Tirmidzi 1358, Ahmad 25296, Tirmidzi 1358, Ibnu Majah 2290, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam al-Irwa’ 1626).

Amal shalih yang dilakukan seorang anak, otomatis orang tuanya mendapatkan manfaat dan pahalanya. (sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, seperti syaikh Muhammad Bin Shalih al-Utsaimin dan syaikh al-Albani di dalam kitabnya kitabu Al-Janaiz)

Dari Ibnu Abbas, Ada seorang wanita mengangkat putranya kepada Nabi pada haji Wada’ seraya berkata “Wahai Rasulullah, apakah anak ini akan mendapatkan pahala hajinya ?”. Rasulullah menjawab:

نَعَمْ، وَلَكِ أَجْرٌ.

“Betul, dan engkau juga memperoleh pahala.” ( HR. Muslim 1336, Tirmidzi 924, Abu Dawud 1736).

b)  Amal jariah.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثَةٍ : إِلا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seorang wafat, maka terputuslah amalannya, kecuali tiga hal: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim. 1631, Tirmidzi 1376, Ahmad 8844).

c)   Melunasi hutang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ رَجُلًا قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، ثُمَّ أُحْيِيَ، ثُمَّ قُتِلَ، ثُمَّ أُحْيِيَ، ثُمَّ قُتِلَ، وَعَلَيْهِ دَيْنٌ، مَا دَخَلَ الْجَنَّةَ حَتَّى يُقْضَى دَيْنُهُ .

“Demi yang jiwaku ada ditanganNya, seandainya seorang laki-laki terbunuh di jalan Allah, kemudian dihidupkan lagi, lalu dia terbunuh lagi dua kali, dan dia masih punya hutang, maka dia tidak akan masuk surga sampai hutangnya itu dilunasi.”  (HR. Ahmad 22493, Nasai 4684, Baihaqi 10693 di hasankan oleh Syaikh al-Albani Shahih At-Targhib wa Tarhib 1804)

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ.

“Jiwa seorang mukmin tergantung karena hutangnya, sampai hutang itu dilunaskannya.” ( HR. Abu Dawud 2512 Tirmidzi 1078 di Shahihkan Syaikh al-Albani di dalam al-Miskah 2915)

d)  Menunaikan wasiatnya.

Apabila orang tua berwasiat yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah hendaknya ditunaikan.

Allah ta’ala berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ . فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَمَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ.

“Diwajibkan atasmu, apabila seorang di antara kamu mendapatkan (tanda-tanda) kematian, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. Barangsiapa mengubahnya (wasiat itu), setelah mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya hanya bagi orang yang mengubahnya. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah[2]:180-181).

Dan dari ‘Abdillah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلاَّ وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ.

“Seorang muslim tidak layak memiliki sesuatu yang harus ia wasiatkan, kemudian ia tidur dua malam, kecuali jika wasiat itu tertulis di sampingnya.” (HR. Bukhari 2738, Abu Dawud 2862)

Hendaknya seorang muslim menulis wasiat terlebih dalam perkara yang sifatnya wajib untuk di tunaikan seperti hutang dan lain-lain. Begitupula orang menunaikan wasiat tidak boleh mengganti wasiat trsebut sesuai kehendaknya.

e)  Membayar qada’ puasa wajib orang tua.

Dalil dari pendapat ini adalah hadits ‘Aisyah radiyallahu ‘anha:

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ.

“Barang siapa meninggal masih memiliki kewajiban puasa, maka ahli warisnya menggantikan puasanya.” ( HR. Bukhari 1952, Muslim 1147, Ibnu Hibban 3569)

f)     Membayar qada’ nadzarnya.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أُمِّى مَاتَتْ وَعَلَيْهَا نَذْرٌ

“Sesungguhnya ibuku telah meninggalkan dunia namun dia memiliki nadzar (yang belum ditunaikan).” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan:

اقْضِهِ عَنْهَا.

“Tunaikanlah nadzar ibumu.” ( HR. Bukhari 2761, Abu Dawud 3307)

g)   Menyambung silaturahmi dan persahabatan orang tua dahulu.

Allah ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ.


(Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah (perjanjian) itu diteguhkan, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” ( QS. Al-Baqarah[2]:27)

Abdullah bin ’Amr berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِى إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا.

“Seorang yang menyambung silahturahmi bukanlah seorang yang membalas kebaikan seorang dengan kebaikan semisal. Akan tetapi seorang yang menyambung silahturahmi adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahmi setelah sebelumnya putus” (HR. Bukhari 5991 Abu Dawud 1697)

إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ.


“Sesungguhnya sebaik-baik bentuk berbakti (berbuat baik) adalah seseorang menyambung hubungan dengan keluarga dari orang dekat ayahnya.” (HR. Muslim 2552, Baihaqi 7768)

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam memberi teman-teman Khatijah radiyallahu ‘anha.

وَإِنْ كَانَ لَيَذْبَحُ الشَّاةَ فَيَظَلُّ يَتَتَبَّعُ بِأَعْضَائِهَا صَدَائِقَ خَدِيجَةَ.

"Beliau suatu ketika menyembelih seekor kambing, kemudian beliau potong-potong menjadi beberapa bagian, setelah itu beliau kirimkan kepada teman-teman Khadijah." (HR. Thabrani di dalam Mu’jamul Khabir 15).

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

-----000-----

 

Sragen 20=8-10-2026

Abu Ibrahim Junaedi


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MUJMAL USUL AHLI SUNNAH BAB 2 NO 7 IMAN KEPADA HARI AKHIR (1) KEMATIAN DAN ALAM BARZAH

  MUJMAL USUL AHLI SUNNAH WAL JAMA’AH BAB 2 NO 7 IMAN KEPADA HARI AKHIR   ٨ -   الإِيمَانُ بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَكُلِّ مَا صَحَّ فِ...