BAB 1 NO 6. AKAL
٦- الْعَقْلُ الصَّرِيحُ مُوَافِقٌ
لِلنَّقْلِ الصَّحِيحِ وَلَا يَتَعَارَضُ قَطْعِيَّانِ مِنْهُمَا أَبَدًا وَعِنْدَ
تَوَهُّمِ التَّعَارُضِ يُقَدَّمُ النَّقْلُ.
6.Akal yang sehat dan jernih selaras dengan
dalil yang sahih, dan dua dalil yang sama-sama bersifat pasti tidak mungkin
saling bertentangan sama sekali. Jika terkesan ada pertentangan, maka yang
didahulukan adalah dalil naqli.
Penjelasan:
Akal adalah nikmat besar yang Allah berikan kepada manusia.
Dengan akal, manusia dapat memahami, membedakan antara yang baik dan yang
buruk, serta merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah. Karena itu, Islam sangat
memuliakan akal dan berulang 49 kali
memerintahkan manusia untuk menggunakannya.
Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:
اِنَّ
فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ
لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ
“Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat
tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (QS. Al-Imran [3]:190).
اَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ
اَنْفُسَكُمْ وَاَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ.
“Mengapa
kamu menyuruh orang lain untuk (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu
melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca kitab suci (Taurat)? Tidakkah
kamu mengerti?” (QS. Al-Baqarah[2]:44).
قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَا
إِبْرَاهِيمُ . قَالَ بَلْ فَعَلَهُ
كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ .
فَرَجَعُوا إِلَى أَنْفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الظَّالِمُونَ . ثُمَّ نُكِسُوا عَلَى رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَؤُلَاءِ
يَنْطِقُونَ . قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ
مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ .أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ
اللَّهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ .
Mereka bertanya, "Apakah engkau yang
melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?" Dia
(Ibrahim) menjawab, "Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya, maka
tanyakanlah kepada mereka, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka
kembali kepada kesadaran mereka dan berkata, "Sesungguhnya kamulah yang
menzalimi (diri sendiri)." Kemudian mereka menundukkan kepala (lalu
berkata), "Engkau (Ibrahim) pasti tahu bahwa (berhala-berhala) itu tidak
dapat berbicara." Dia (Ibrahim) berkata, "Mengapa kamu menyembah
tuhan selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun, dan
tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kamu? Celakalah kamu dan apa yang kamu
sembah selain Allah! Tidakkah kamu mengerti?" (QS. Al-Anbiya[21]:62-67).
وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ
"Dan Allah menimpakan azab kepada orang-orang
yang tidak menggunakan akalnya." (QS. Yunus[10]: 100)
صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ.
"Mereka tuli, bisu, dan buta, maka mereka tidak
mengerti (tidak menggunakan akalnya)." (QS. Al-Baqarah[2]: 171)
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ
السَّعِيرِ
"Dan mereka berkata, 'Sekiranya dahulu kami
mendengarkan atau menggunakan akal kami, niscaya kami tidak termasuk penghuni
neraka yang menyala-nyala.'" (QS. Al-Mulk [67]: 10)
إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا
يَعْقِلُونَ.
"Sesungguhnya makhluk bergerak yang paling buruk
di sisi Allah ialah orang-orang yang tuli dan bisu, yaitu orang-orang yang
tidak mengerti (tidak menggunakan akalnya)." (QS. Al-Anfal[8]: 22).
1.
Syariat Islam diperuntukkan kepada orang-orang
yang berakal.
Allah
ta’ala berfirman:
وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ
قِيَامًا.
"Janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang
belum sempurna akalnya harta (mereka yang ada dalam kekuasaan)-mu..."
(QS. An-Nisa[4]:5).
Orang-orang yang kurang sempurna
akalnya dikenakan hijir (tidak boleh men-tasarruf-kan hartanya). Mereka yang di-hijir ini ada beberapa macam:
adakalanya karena usia orang yang bersangkutan masih kecil, adakalanya karena
gila. (Tafsir Ibnu Katsir QS. An-Nisa[4]:5).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ الْمَجْنُوْنِ
حَتَّى يَفِيْقَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ
حَتَّى يَحْتَلِمَ.
“Cacatan amal
diangkat dari tiga golongan, orang gila sampai ia sadar, orang tidur sampai
ia bangun, dan anak kecil sampai ia baligh.” (HR. Abu Dawud 4401, Ibnu Hibban
143, dishahihkan syaikh al-Albani di dalam al-Irwaa’ 5/2).
2.
Akal membutuhkan wahyu tidak berdiri sendiri untuk
mengukur kebenaran.
Meskipun kita diperintahkan agar menggunakan akal namun,
seorang muslim tidak boleh menjadikan akalnya sebagai satu-satunya ukuran untuk
menentukan kebenaran. Sebab akal manusia memiliki keterbatasan. Pengetahuan
manusia terbatas, pengalaman manusia berbeda-beda, dan kemampuan berpikir
setiap orang tidak sama. Oleh karena itu, akal membutuhkan bimbingan wahyu agar
tidak tersesat.
Allah ta’ala berfirman:
وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan tidaklah kalian diberi
pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra’ [17]: 85)
وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ
"Mereka
tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu-Nya kecuali apa yang Dia
kehendaki." (QS. Al-Baqarah[2]: 255).
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
“Di atas setiap orang yang berilmu ada yang lebih
berilmu.” (QS. Yusuf[12]:76).
Seandainya akal digunakan tentu akal yang paling utama
adalah akal para Nabi dan para Rasul, akal para sahabat.
Akal manusia bekerja berdasarkan informasi yang masuk
kepadanya melalui pancaindra, terutama pendengaran dan penglihatan. Sementara
itu, pendengaran dan penglihatan manusia memiliki keterbatasan dan berbeda-beda.
Jika data yang diterima terbatas atau keliru, maka kesimpulan akal pun bisa
keliru.
Sebagai contoh, ketika sebuah tongkat atau pensil
dimasukkan ke dalam air, mata melihatnya seolah-olah bengkok, padahal
kenyataannya tetap lurus.
Contoh lain, ketika kita melihat matahari terbenam di
ufuk barat, seolah-olah matahari yang bergerak mengelilingi bumi. Padahal
kenyataannya bumi yang berputar. Apa yang ditangkap oleh mata tidak selalu
menggambarkan hakikat yang sebenarnya.
Demikian pula seseorang yang berdiri di tepi rel
kereta akan melihat dua rel yang sejajar tampak bertemu di kejauhan, padahal
rel tersebut tetap sejajar dan tidak pernah bertemu.
Seseorang berjalan di remang-remang melihat daun
pisang yang berdiri dan bergoyang terkadang pandangannya mengelabuhi sehingga akalnya
mengira itu hantu, padahal hanya daun pisang.
Contoh lainnya, suara gema di pegunungan atau lembah
dapat membuat seseorang mengira ada orang lain yang berbicara, padahal yang
terdengar hanyalah pantulan suaranya sendiri.
Bagaimana lagi digunakan untuk mengukur sesuatu yang
tidak semuanya dia dapat lihat, seperti Malaikat, Syaitan, dan lain-lain.
Hal semacam ini harus kita imani, sebagaimana hal-hal
yang tidak nampak di dunia ini juga benar adanya, seperti listrik, angin, rasa,
sakit dan lain-lain.
3.
Akal yang sehat selamanya tidak akan
bertentangan dengan dalil yang shahih.
Ahlus Sunnah wal Jama'ah menempatkan akal pada
kedudukan yang benar, akal digunakan untuk memahami wahyu, bukan untuk
menghakimi wahyu. Akal yang sehat tidak akan bertentangan dengan nash yang
sahih.
Allah ta’ala berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ
لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا.
"Maka tidakkah mereka
mentadabburi Al-Qur'an? Sekiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, niscaya
mereka akan mendapatkan banyak pertentangan di dalamnya." (QS. An-Nisa
[4]:82).
وَمَا يَنْطِقُ
عَنِ الْهَوٰى اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ
“Dan
tidak pula berucap (tentang Al-Qur’an dan penjelasannya) berdasarkan hawa
nafsu(-nya). Ia (Al-Qur’an itu) tidak lain, kecuali wahyu yang disampaikan
(kepadanya).” ( QS. An-Najm [53]:3-4)
Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda:
أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ
"Ketahuilah, sesungguhnya aku telah diberi
Al-Qur'an dan yang semisal dengannya bersamanya." (HR. Ahmad 1717, at-Tabrani
Musnad as-Syamiyyiin 1061, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam shahih al-Jami’
2657).
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:
لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى
بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلَاهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ - صلى اللهُ عليه وسلَّم -
يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ.
“Seandainya agama ini dibangun di atas logika semata,
tentu bagian bawah khuf lebih layak diusap daripada bagian atasnya, sungguh aku
telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap atas sepatunya”
(HR. Abu Dawud 162, al-Baihaqi Sunan al-Kubra 1386, ad-Daraqutni 783, di
shahihkan Syaikh al-Albani di dalam al-Irwa’ 103)
Perkataan ini menunjukkan bahwa hukum-hukum syariat
dibangun di atas wahyu, bukan semata-mata penalaran manusia. Akal yang benar
akan mengikuti wahyu dan membenarkan apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya.
Seandainya tampak ada pertentangan, ada dua
kemungkinan bisa jadi akal yang bermasalah adalah pemahaman akal manusia yang
tidak sampai, atau dalilnya yang tidak shahih.
Para sahabat
sendiri sangat berhati-hati dalam memahami agama. Abdullah bin Mas'ud berkata:
كَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ
"Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan,
tetapi tidak mendapatkannya."
Tidak setiap orang yang membaca Al-Qur'an dan hadits
otomatis memahami maksudnya dengan benar. Oleh karena itu Allah memerintahkan
untuk bertanya kepada ahlinya:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ.
"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai
pengetahuan jika kalian tidak mengetahui." (QS. An-Nahl[16]: 43)
Semoga bemanfaat.
-----000----
Sragen 03-06-2026
Abu Ibrahim Junaedi Abdullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar