Rabu, 03 Juni 2026

Mujmal bab 1 no 6, Akal sehat tidak bertentanagn dengan dalil.

 BAB 1 NO 6. AKAL 


 

٦- الْعَقْلُ الصَّرِيحُ مُوَافِقٌ لِلنَّقْلِ الصَّحِيحِ وَلَا يَتَعَارَضُ قَطْعِيَّانِ مِنْهُمَا أَبَدًا وَعِنْدَ تَوَهُّمِ التَّعَارُضِ يُقَدَّمُ النَّقْلُ.

6.Akal yang sehat dan jernih selaras dengan dalil yang sahih, dan dua dalil yang sama-sama bersifat pasti tidak mungkin saling bertentangan sama sekali. Jika terkesan ada pertentangan, maka yang didahulukan adalah dalil naqli.

Penjelasan:

Akal adalah nikmat besar yang Allah berikan kepada manusia. Dengan akal, manusia dapat memahami, membedakan antara yang baik dan yang buruk, serta merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah. Karena itu, Islam sangat memuliakan akal dan berulang 49 kali memerintahkan manusia untuk menggunakannya.

Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (QS. Al-Imran [3]:190).

 

اَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ اَنْفُسَكُمْ وَاَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ.

“Mengapa kamu menyuruh orang lain untuk (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca kitab suci (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-Baqarah[2]:44).

قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ . قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ . فَرَجَعُوا إِلَى أَنْفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الظَّالِمُونَ . ثُمَّ نُكِسُوا عَلَى رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَؤُلَاءِ يَنْطِقُونَ . قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ .أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ .

Mereka bertanya, "Apakah engkau yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?" Dia (Ibrahim) menjawab, "Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka kembali kepada kesadaran mereka dan berkata, "Sesungguhnya kamulah yang menzalimi (diri sendiri)." Kemudian mereka menundukkan kepala (lalu berkata), "Engkau (Ibrahim) pasti tahu bahwa (berhala-berhala) itu tidak dapat berbicara." Dia (Ibrahim) berkata, "Mengapa kamu menyembah tuhan selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun, dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kamu? Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Tidakkah kamu mengerti?" (QS. Al-Anbiya[21]:62-67).

وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ

"Dan Allah menimpakan azab kepada orang-orang yang tidak menggunakan akalnya." (QS. Yunus[10]: 100)

صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ.

"Mereka tuli, bisu, dan buta, maka mereka tidak mengerti (tidak menggunakan akalnya)." (QS. Al-Baqarah[2]: 171)

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

"Dan mereka berkata, 'Sekiranya dahulu kami mendengarkan atau menggunakan akal kami, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.'" (QS. Al-Mulk [67]: 10)

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ.

"Sesungguhnya makhluk bergerak yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang tuli dan bisu, yaitu orang-orang yang tidak mengerti (tidak menggunakan akalnya)." (QS. Al-Anfal[8]: 22).

1.   Syariat Islam diperuntukkan kepada orang-orang yang berakal.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا.

"Janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya harta (mereka yang ada dalam kekuasaan)-mu..." (QS. An-Nisa[4]:5).

Orang-orang yang kurang sempurna akalnya dikenakan hijir (tidak boleh men-tasarruf-kan hartanya). Mereka yang di-hijir ini ada beberapa macam: adakalanya karena usia orang yang bersangkutan masih kecil, adakalanya karena gila. (Tafsir Ibnu Katsir QS. An-Nisa[4]:5).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَفِيْقَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ.

“Cacatan amal diangkat  dari tiga golongan, orang gila sampai ia sadar, orang tidur sampai ia bangun, dan anak kecil sampai ia baligh.” (HR. Abu Dawud 4401, Ibnu Hibban 143, dishahihkan syaikh al-Albani di dalam al-Irwaa’ 5/2).

2.   Akal membutuhkan wahyu tidak berdiri sendiri untuk mengukur kebenaran.

Meskipun kita diperintahkan agar menggunakan akal namun, seorang muslim tidak boleh menjadikan akalnya sebagai satu-satunya ukuran untuk menentukan kebenaran. Sebab akal manusia memiliki keterbatasan. Pengetahuan manusia terbatas, pengalaman manusia berbeda-beda, dan kemampuan berpikir setiap orang tidak sama. Oleh karena itu, akal membutuhkan bimbingan wahyu agar tidak tersesat.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra’ [17]: 85)

وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ

"Mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki."  (QS. Al-Baqarah[2]: 255).

وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

“Di atas setiap orang yang berilmu ada yang lebih berilmu.” (QS. Yusuf[12]:76).

Seandainya akal digunakan tentu akal yang paling utama adalah akal para Nabi dan para Rasul, akal para sahabat.

Akal manusia bekerja berdasarkan informasi yang masuk kepadanya melalui pancaindra, terutama pendengaran dan penglihatan. Sementara itu, pendengaran dan penglihatan manusia memiliki keterbatasan dan berbeda-beda. Jika data yang diterima terbatas atau keliru, maka kesimpulan akal pun bisa keliru.

Sebagai contoh, ketika sebuah tongkat atau pensil dimasukkan ke dalam air, mata melihatnya seolah-olah bengkok, padahal kenyataannya tetap lurus.

Contoh lain, ketika kita melihat matahari terbenam di ufuk barat, seolah-olah matahari yang bergerak mengelilingi bumi. Padahal kenyataannya bumi yang berputar. Apa yang ditangkap oleh mata tidak selalu menggambarkan hakikat yang sebenarnya.

Demikian pula seseorang yang berdiri di tepi rel kereta akan melihat dua rel yang sejajar tampak bertemu di kejauhan, padahal rel tersebut tetap sejajar dan tidak pernah bertemu.

Seseorang berjalan di remang-remang melihat daun pisang yang berdiri dan bergoyang terkadang pandangannya mengelabuhi sehingga akalnya mengira itu hantu, padahal hanya daun pisang.

Contoh lainnya, suara gema di pegunungan atau lembah dapat membuat seseorang mengira ada orang lain yang berbicara, padahal yang terdengar hanyalah pantulan suaranya sendiri.

Bagaimana lagi digunakan untuk mengukur sesuatu yang tidak semuanya dia dapat lihat, seperti Malaikat, Syaitan, dan lain-lain.

Hal semacam ini harus kita imani, sebagaimana hal-hal yang tidak nampak di dunia ini juga benar adanya, seperti listrik, angin, rasa, sakit dan lain-lain.

3.   Akal yang sehat selamanya tidak akan bertentangan dengan dalil yang shahih.

Ahlus Sunnah wal Jama'ah menempatkan akal pada kedudukan yang benar, akal digunakan untuk memahami wahyu, bukan untuk menghakimi wahyu. Akal yang sehat tidak akan bertentangan dengan nash yang sahih.

Allah ta’ala berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا.


"Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur'an? Sekiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, niscaya mereka akan mendapatkan banyak pertentangan di dalamnya." (QS. An-Nisa [4]:82).

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ

“Dan tidak pula berucap (tentang Al-Qur’an dan penjelasannya) berdasarkan hawa nafsu(-nya). Ia (Al-Qur’an itu) tidak lain, kecuali wahyu yang disampaikan (kepadanya).” ( QS. An-Najm [53]:3-4)

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ

"Ketahuilah, sesungguhnya aku telah diberi Al-Qur'an dan yang semisal dengannya bersamanya." (HR. Ahmad 1717, at-Tabrani Musnad as-Syamiyyiin 1061, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam shahih al-Jami’ 2657).

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:

لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلَاهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ - صلى اللهُ عليه وسلَّم - يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ.

“Seandainya agama ini dibangun di atas logika semata, tentu bagian bawah khuf lebih layak diusap daripada bagian atasnya, sungguh aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap atas sepatunya” (HR. Abu Dawud 162, al-Baihaqi Sunan al-Kubra 1386, ad-Daraqutni 783, di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam al-Irwa’ 103)

Perkataan ini menunjukkan bahwa hukum-hukum syariat dibangun di atas wahyu, bukan semata-mata penalaran manusia. Akal yang benar akan mengikuti wahyu dan membenarkan apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya.

Seandainya tampak ada pertentangan, ada dua kemungkinan bisa jadi akal yang bermasalah adalah pemahaman akal manusia yang tidak sampai, atau dalilnya yang tidak shahih.

Para sahabat sendiri sangat berhati-hati dalam memahami agama. Abdullah bin Mas'ud berkata:

كَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

"Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, tetapi tidak mendapatkannya."

 

Tidak setiap orang yang membaca Al-Qur'an dan hadits otomatis memahami maksudnya dengan benar. Oleh karena itu Allah memerintahkan untuk bertanya kepada ahlinya:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ.

"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui." (QS. An-Nahl[16]: 43)

Semoga bemanfaat.

 

-----000----

Sragen 03-06-2026

Abu Ibrahim Junaedi Abdullah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mujmal bab 1 no 6, Akal sehat tidak bertentanagn dengan dalil.

 BAB 1 NO 6. AKAL    ٦ - الْعَقْلُ الصَّرِيحُ مُوَافِقٌ لِلنَّقْلِ الصَّحِيحِ وَلَا يَتَعَارَضُ قَطْعِيَّانِ مِنْهُمَا أَبَدًا وَعِنْدَ ت...