Sabtu, 24 Oktober 2026

15 TELADAN ORANG TUA BAGI ANAK-ANAKNYA.

 



15 TELADAN ORANG TUA BAGI ANAK-ANAKNYA.

 

Pendidikan anak bukan hanya melalui nasihat, teguran, perintah, dan larangan. Pendidikan yang paling membekas dalam jiwa anak adalah keteladanan yang mereka saksikan setiap hari dari ayah dan ibunya. Anak melihat bagaimana kedua orang tuanya beribadah, berbicara, bersikap kepada pasangan, mensikapi dan memperlakukan orang lain, serta menghadapi berbagai macam kesulitan hidup.

Oleh karena itu, orang tua hendaknya menyadari bahwa dirinya adalah teladan bagi anak-anaknya. Apa yang mereka ucapkan dapat didengar oleh anak, tetapi apa yang mereka lakukan sering kali lebih mudah ditiru oleh anak.

Allah ta'ala telah mengingatkan orang-orang beriman agar tidak menyelisihi perkataan mereka dengan perbuatan.

Allah ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ.

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff [61]: 2–3).

Ayat ini mengandung pelajaran penting bagi setiap ayah dan ibu. Jangan sampai orang tua menyuruh anaknya melakukan kebaikan, sementara dirinya sendiri justru meninggalkannya. Jangan sampai orang tua melarang anaknya berdusta, tetapi dirinya terbiasa berdusta. Jangan sampai orang tua memerintahkan anaknya menjaga shalat, tetapi dirinya sendiri meremehkan shalat.

Karena anak kita asalnya ibarat kertas yang masih putih bersih, fitrah dan orang tua yang akan mengisinya.

Rasululah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Tidaklah setiap anak kecuali dia dilahirkan di atas fitrah, maka bapak ibunyalah yang menjadikan dia Yahudi, atau menjadikan dia Nasrani, atau menjadikan dia Majusi.” (HR. Bukhari 1358 dan Muslim 2658).

Berikut ini lima belas poin penting tentang keteladanan ayah dan ibu dalam mendidik anak berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah yang sahih.

1.   Ayah dan ibu hendaknya menjadi teladan dalam bertauhid dan menjauhi kesyirikan

Keteladanan paling mendasar dalam pendidikan anak adalah keteladanan dalam akidah. Orang tua harus mengajarkan bahwa hanya Allah yang berhak diibadahi, hanya kepada-Nya seorang hamba berdoa dalam perkara yang menjadi kekhususan-Nya, dan segala bentuk ibadah harus ditujukan kepada-Nya.

Anak tidak cukup hanya diajari menghafal bahwa Allah adalah Rabb mereka. Mereka perlu melihat bagaimana ayah dan ibunya menggantungkan harapan kepada Allah, berdoa kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya, serta menjauhi segala bentuk kesyirikan.

Allah ta'ala berfirman tentang nasihat Luqman kepada anaknya:

يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman [31]: 13).

Luqman memulai nasihatnya kepada anak dengan perkara tauhid. Ini menunjukkan besarnya perhatian yang harus diberikan orang tua terhadap akidah anak-anaknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan nasihat kepada Abdullah bin Abbas ketika ia masih muda:

يَا غُلَامُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi, 2516; hadis hasan sahih).

Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan tauhid dan tawakal kepada seorang anak muda, maka orang tua hendaknya memberikan pendidikan yang serupa kepada anak-anak mereka. Jangan sampai anak lebih mengenal ketergantungan kepada makhluk daripada ketergantungan kepada Allah.

2.   Ayah Dan Ibu Hendaknya Menjadi Teladan di dalam Mentaati Allah dan Menjaga Shalat.

Hal pertama yang harus ditunjukkan oleh orang tua kepada anak-anaknya adalah keteladanan dalam beribadah dan menaati Allah. Anak perlu melihat bahwa ayah dan ibunya bukan sekadar menyuruh mereka beribadah, melainkan juga berusaha menjadi orang yang taat kepada Allah.

Apabila seorang ayah menjaga shalat berjamaah, membaca Al-Qur'an, berzikir, dan menjauhi kemaksiatan, anak akan menyaksikan langsung bagaimana ketaatan itu dipraktikkan. Demikian pula seorang ibu yang menjaga shalat, menutup aurat sesuai syariat, dan membiasakan lisannya dengan zikir akan memberikan pengaruh yang baik kepada anak-anaknya.

Allah Ta'ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ...

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ulilamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu..” (QS. An-Nisa[4]:59).

Kemudian memerintahkan keluarganya juga untuk menjaga shalatnya.

Allah ta’ala berfirman:

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ

“Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah [2]:43).

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا.

“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha [20]: 132).

Ayat ini salah satu contoh bagaimana orang tua untuk mengajak keluarganya menegakkan shalat dan bersabar dalam menjalankan kewajiban tersebut. Kesabaran diperlukan karena mendidik anak agar istiqamah dalam ibadah membutuhkan waktu yang tidak sedikit, pembiasaan, dan keteladanan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun.” (HR. Abu Dawud, 495; dinilai sahih oleh sejumlah ulama).

Jangan sampai anak-anak tersebut kelak menjadi generasi yang lemah dalam beribadah kepada Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا.

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan” (QS. Maryam[19]:59).

 

Ayat dan Hadits ini menunjukkan pentingnya membiasakan anak melaksanakan shalat sejak dini. Peran orang tua yang paling besar memberikan contoh nyata dalam menjaga shalat dan lainnya, sehingga perintah mereka selaras dengan perbuatan mereka, dan anak-anak jadi generasi yang kuat dan tangguh.

3.   Ayah Dan Ibu Hendaknya Menjadi Teladan Dalam Kejujuran.

Kejujuran merupakan akhlak yang sangat penting dalam pendidikan anak. Anak harus melihat bahwa ayah dan ibunya berkata benar, menepati janji, tidak menipu, dan tidak membiasakan kebohongan meskipun dalam perkara yang dianggap sepele.

Terkadang orang tua melarang anaknya berbohong, tetapi ketika ada seseorang datang ke rumah, orang tua justru menyuruh anak mengatakan bahwa dirinya tidak ada. Perbuatan semacam ini dapat mengajarkan kepada anak bahwa kebohongan boleh dilakukan apabila dianggap menguntungkan.

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah [9]: 119).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ.

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena kejujuran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan akan menuntun ke surga.” (HR. Bukhari al-Adabu al-Mufrad 386, dan Muslim, 2607).

Hadis ini menunjukkan bahwa kejujuran merupakan jalan menuju berbagai kebaikan. Orang tua yang membiasakan kejujuran di dalam rumah sedang menanamkan salah satu fondasi penting bagi kepribadian anak.

4.   Ayah dan ibu hendaknya menjadi teladan dalam kelembutan dan kasih sayang

Anak membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan kelembutan dari kedua orang tuanya. Pendidikan tidak selalu harus disampaikan dengan suara keras, ancaman, atau hukuman. Ada kalanya anak lebih mudah menerima nasihat ketika orang tua menyampaikannya dengan tenang dan penuh kasih sayang.

Allah Ta'ala berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159).

Ayat ini berbicara tentang kelembutan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang-orang di sekitarnya. Orang tua pun hendaknya mengambil pelajaran darinya dalam memperlakukan anak-anak mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari  6013, dan Muslim, 2318).

Orang tua yang ingin anaknya tumbuh dengan hati yang lembut hendaknya membiasakan kelembutan dalam perkataan dan perbuatannya. Tegas dalam mendidik tidak berarti harus kasar, dan menyayangi anak tidak berarti membiarkan semua kesalahannya.

5.   Ayah dan ibu hendaknya menjadi teladan dalam menjaga lisan

Rumah adalah tempat pertama anak belajar berbicara. Dari ayah dan ibunya, anak mempelajari kata-kata yang pantas diucapkan, cara menghormati orang lain, dan bagaimana menyampaikan kemarahan.

Jika anak setiap hari mendengar orang tuanya mencela, mengumpat, menggunjing, atau merendahkan orang lain, ia dapat menganggap perkataan semacam itu sebagai sesuatu yang biasa. Sebaliknya, jika ia terbiasa mendengar perkataan yang baik, ia akan belajar menjaga lisannya.

Allah Ta'ala berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Bertuturkatalah yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah [2]: 83).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari 6018, Muslim 47).

Orang tua hendaknya menghindari ucapan kotor, hinaan, dan makian, terlebih ketika sedang marah kepada anak. Jika melakukan kesalahan dalam berbicara, hendaknya orang tua bersedia meminta maaf dan memperbaiki diri. Dengan demikian, anak belajar bahwa menjaga lisan adalah bagian dari agama.

6.   Ayah Dan Ibu Hendaknya Menjadi Teladan Dalam Kesabaran

Mendidik anak bukan pekerjaan yang hasilnya dapat diperoleh dalam satu atau dua hari. Ada anak yang mudah menerima nasihat, ada pula yang membutuhkan pengulangan berkali-kali. Ada anak yang cepat memahami pelajaran, ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang.

Dalam keadaan seperti ini, orang tua membutuhkan kesabaran. Jangan sampai mereka mengharapkan anak bersikap tenang, sementara mereka sendiri mudah marah. Jangan sampai mereka menyuruh anak bersabar, tetapi mereka sendiri tidak mampu mengendalikan emosi ketika menghadapi kesalahan anak.

Allah Ta'ala berfirman:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Wahai anakku! Laksanakanlah shalat, suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar, serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” (QS. Luqman [31]: 17).

Luqman mengajarkan kesabaran kepada anaknya setelah memerintahkan shalat dan mengajak kepada kebaikan. Ini menunjukkan bahwa kesabaran merupakan bekal penting dalam menjalankan ketaatan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

“Barang siapa berusaha bersabar, Allah akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Bukhari 1469, Muslim 1053).

Orang tua yang bersabar bukan berarti membiarkan kesalahan anak. Mereka tetap memberikan arahan, teguran, dan batasan, tetapi melakukannya dengan pertimbangan yang matang dan tidak dikuasai kemarahan.

7.   Ayah dan ibu hendaknya menjadi teladan dalam menghormati pasangan.

Salah satu pelajaran paling penting yang diperoleh anak di rumah adalah bagaimana seorang suami memperlakukan istrinya dan bagaimana seorang istri memperlakukan suaminya.

Anak yang tumbuh dengan menyaksikan ayah menghormati ibu, berbicara dengan baik kepadanya, dan membantu urusan keluarga akan memperoleh gambaran tentang bagaimana seorang suami seharusnya memperlakukan istrinya. Demikian pula, seorang ibu yang menghormati suaminya dan menjaga kehormatan keluarga memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya.

Allah Ta'ala berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Pergaulilah mereka (istri-istri) dengan cara yang patut.” (QS. An-Nisa' [4]: 19).

Allah juga berfirman:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan mereka (para perempuan) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut.” (QS. Al-Baqarah [2]: 228).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. At-Tirmidzi, 3895; hadis sahih).

Karena itu, jangan sampai ayah merendahkan ibu di hadapan anak, atau ibu meremehkan ayah di hadapan mereka. Perbedaan pendapat hendaknya diselesaikan dengan cara yang baik, bukan dengan penghinaan dan pertengkaran yang terus-menerus.

Ketika anak menyaksikan kedua orang tuanya saling menghormati, ia belajar menghargai orang lain dan memahami bahwa rumah tangga dibangun dengan tanggung jawab, kasih sayang, dan akhlak yang baik.

8.   Ayah Dan Ibu Hendaknya Menjadi Teladan Dalam Amanah Dan Tanggung Jawab

Orang tua memiliki tanggung jawab besar terhadap pendidikan dan penjagaan anak. Mereka tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan makanan, pakaian, tempat tinggal, dan biaya pendidikan. Mereka juga harus memperhatikan agama, akhlak, pergaulan, serta kebiasaan anak-anaknya.

Allah ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim [66]: 6).

Ayat ini menunjukkan kewajiban memperhatikan keselamatan diri dan keluarga dari azab Allah. Orang tua hendaknya mendidik keluarganya dengan iman, ketaatan, dan menjauhi kemaksiatan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari 893, dan Muslim 1829).

Ayah bertanggung jawab atas keluarganya sesuai dengan kewajibannya, dan ibu pun bertanggung jawab atas rumah serta anak-anak yang berada dalam pengasuhannya sesuai dengan kewajibannya.

Jangan sampai orang tua menyerahkan seluruh pendidikan anak kepada sekolah atau guru mengaji, sementara mereka sendiri tidak memberikan perhatian yang memadai di rumah. Guru memang berperan penting, tetapi ayah dan ibu tetap memiliki tanggung jawab yang tidak dapat begitu saja dialihkan kepada orang lain.

9.   Ayah Dan Ibu Hendaknya Menjadi Teladan Dalam Menjauhi Kemaksiatan

Orang tua hendaknya menjaga diri dari perbuatan dosa yang dapat ditiru oleh anak-anaknya. Termasuk di dalamnya berdusta, berkhianat, menipu, mengambil hak orang lain, memakan harta haram, dan meremehkan kewajiban agama.

Anak tidak hanya belajar dari perbuatan yang diperintahkan orang tua kepadanya, tetapi juga dari kebiasaan yang dilihatnya setiap hari. Jika orang tua membiasakan kecurangan demi memperoleh keuntungan, anak dapat menganggap bahwa tujuan yang baik membenarkan cara yang haram.

Allah ta'ala berfirman:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 42).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ، وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

“Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan dadamu dan engkau tidak suka jika orang lain mengetahuinya.” (HR. Bukhari al-adabu al-Mufrad 295, Muslim 2553, Ahmad 17631).

Hadis ini memberikan pelajaran tentang pentingnya akhlak dan kewaspadaan terhadap dosa. Orang tua hendaknya menjaga diri dari perbuatan yang bertentangan dengan syariat dan tidak menanamkan kebiasaan buruk kepada anak.

Jika orang tua pernah melakukan kesalahan, mereka hendaknya segera bertobat dan memperbaikinya. Keteladanan bukan berarti orang tua tidak pernah salah, melainkan mereka berusaha menaati Allah dan bersedia kembali kepada kebenaran ketika terjatuh dalam kesalahan.

10.                     Ayah dan ibu hendaknya menjadi teladan dalam membaca Al-Qur'an dan menuntut ilmu

Rumah yang dihiasi dengan bacaan Al-Qur'an, pembelajaran agama, dan nasihat yang baik akan memberikan suasana yang mendukung pendidikan anak. Sebaliknya, jika anak tidak pernah melihat orang tuanya membaca Al-Qur'an atau mempelajari agama, sementara mereka hanya menuntut anak untuk rajin belajar, pendidikan tersebut dapat terasa kurang menyentuh.

Allah Ta'ala berfirman:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا.

“Dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil (perlahan-lahan, jelas, dan sesuai dengan kaidah bacaannya).” (QS. Al-Muzzammil [73]: 4).

Selain kita membiasakan anak-anak kita umtuk membaca Al-Qur’an, bacaan tersebut akan besar sekali dampaknya di dalam rumah, yaitu mengusir Jin, menjadikan ketentraman, dan pahala yang besar. anak dengan ilmu yang besar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari 5027, Tirmidzi 2907, Abu Dawud 1452).

11.                     Ayah Dan Ibu Hendaknya Menjadi Teladan Dalam Kesederhanaan Dan Rasa Syukur

Anak perlu melihat bahwa kebahagiaan tidak hanya diukur dari banyaknya harta, bagusnya kendaraan, luasnya rumah, atau mahalnya barang yang dimiliki. Akan tetapi kebahagiaan dapat juga diraih dengan kesederhanaan, qanaah, rasa syukur, dan sikap tidak berlebihan di dalam melalui kehidupan mereka sendiri.

Allah Ta'ala berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.’” (QS. Ibrahim [14]: 7).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ.

"Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang berikan kepadamu" (HR Bukhari 6490, Muslim 2963).

Orang tua hendaknya tidak terus-menerus mengeluh di hadapan anak tentang kekurangan harta, membandingkan kehidupannya dengan orang lain, atau menanamkan kebiasaan mengejar kemewahan tanpa batas.

Dengan melihat ayah dan ibunya bersyukur, hidup secukupnya, dan menggunakan nikmat Allah untuk kebaikan, anak akan belajar menghargai rezeki serta tidak mudah meremehkan apa yang telah dimilikinya.

12.                     Ayah Dan Ibu Hendaknya Menjadi Teladan Dalam Berbuat Baik Kepada Orang Lain

Penting bagi anak untuk belajar bagaimana memperlakukan tetangga, kerabat, tamu, orang miskin, dan orang lain yang membutuhkan pertolongan.

Keteladanan dalam hal ini sangat penting. Ketika orang tua membantu tetangga, menghormati tamu, menjaga hubungan kekerabatan, dan tidak menyakiti orang lain, anak akan menyaksikan langsung penerapan akhlak Islam.

Allah ta'ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ

“Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh...” (QS. An-Nisa' [4]: 36).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR. Bukhari 6019, Muslim 47).

Orang tua hendaknya menunjukkan bahwa seorang Muslim tidak hanya baik ketika berada di dalam rumah, tetapi juga menjaga akhlaknya ketika berhubungan dengan masyarakat. Dengan demikian, anak belajar bahwa agama mencakup ibadah kepada Allah sekaligus akhlak yang baik kepada sesama manusia.

13.                     Ayah Dan Ibu Hendaknya Menjadi Teladan Dalam Mengakui Kesalahan Dan Meminta Maaf

Sebagian orang tua merasa bahwa meminta maaf kepada anak akan mengurangi kewibawaannya. Padahal, mengakui kesalahan yang benar-benar dilakukan justru dapat mengajarkan kerendahan hati, kejujuran, dan keberanian untuk memperbaiki diri.

Jika seorang ayah marah secara berlebihan, kemudian menyadari kesalahannya, hendaknya ia meminta maaf dan memperbaiki sikapnya. Demikian pula seorang ibu, apabila melakukan kekeliruan dalam perkataan atau tindakan, hendaknya bersedia mengakuinya.

Allah Ta'ala berfirman:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(Yaitu) orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 134).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ، إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ .

“Tidaklah Allah menambah kemuliaan kepada seorang hamba karena sikap pemaafnya, melainkan Allah akan memuliakannya. Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat (HR. Muslim, 2588, Tirmidzi 2029).

Orang tua yang meminta maaf bukan berarti kehilangan kehormatan. Sebaliknya, ia sedang mengajarkan kepada anak bahwa setiap manusia dapat melakukan kesalahan dan bahwa seorang Muslim hendaknya berani memperbaiki kesalahan tersebut.

14.                     Ayah Dan Ibu Hendaknya Menjadi Teladan Dalam Menjaga Pergaulan Dan Menggunakan Teknologi

Pada zaman sekarang, anak-anak dapat meniru perilaku bukan hanya dari orang tua dan lingkungan sekitar, tetapi juga dari apa yang mereka saksikan melalui telepon genggam, televisi, dan internet. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan kebiasaan digital mereka sendiri sebelum menuntut anak membatasi penggunaan perangkat tersebut.

Jangan sampai orang tua melarang anak menggunakan telepon genggam secara berlebihan, tetapi dirinya sendiri terus-menerus sibuk dengan layar hingga mengabaikan shalat, pekerjaan, dan komunikasi dengan keluarga.

Allah ta'ala berfirman:

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra' [17]: 36).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ.

“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi 2317 Ibnu Majah 3976. Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Orang tua hendaknya menyeleksi tontonan, menjaga perkataan di media sosial, tidak menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, dan mengatur waktu penggunaan perangkat elektronik. Mereka juga perlu mendampingi anak dalam memilih konten yang bermanfaat dan menjauhi hal-hal yang merusak agama serta akhlak.

Keteladanan seperti ini akan mengajarkan bahwa teknologi adalah sarana yang harus digunakan secara bertanggung jawab, bukan sesuatu yang menguasai kehidupan manusia dan memperbudak manusia.

15.                     Ayah dan ibu hendaknya menjadi teladan dalam bertobat dan memperbaiki diri

Tidak ada orang tua yang sempurna. Seorang ayah dapat melakukan kesalahan, seorang ibu dapat memiliki kekurangan, dan keduanya mungkin pernah lalai dalam mendidik anak. Namun, kekurangan tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti memperbaiki diri.

Anak perlu melihat bahwa orang tuanya berusaha meninggalkan dosa, memperbaiki ibadah, meminta ampun kepada Allah, dan terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

Allah ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya.” (QS. At-Tahrim [66]: 8).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ.

“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak melakukan kesalahan adalah orang-orang yang banyak bertobat.” (HR. Ibnu Majah 4251, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam al-Mirykah 2341).

Ketika orang tua memperlihatkan kesungguhan dalam bertobat, anak belajar bahwa seorang Muslim tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Ia juga belajar bahwa kemuliaan bukan terletak pada pura-pura tidak pernah salah, melainkan pada kesediaan mengakui kesalahan, bertobat kepada Allah, dan memperbaiki diri.

Hendaknya kita juga tidak hanya berhenti dalam memberi teladan, tetapi juga selalu mendoakan anak.

Allah Ta'ala berfirman:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berkata, ‘Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-Furqan [25]: 74).

Perhatikanlah, dalam ayat ini orang-orang beriman tidak hanya memohon agar pasangan dan keturunan mereka menjadi penyejuk hati, tetapi juga memohon agar Allah menjadikan mereka teladan bagi orang-orang yang bertakwa.

Semoga Allah Ta'ala memperbaiki keadaan kita, menjadikan kita ayah dan ibu yang saleh, serta menganugerahkan kepada kita keturunan yang saleh dan salehah, yang menegakkan tauhid, menjaga shalat, berakhlak mulia, dan istiqamah di atas Al-Qur'an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman salafus saleh.

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

Semoga bermanfaat.

 

-----000-----

Sragen 23-10-2026.

Abu Ibrahim.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

15 TELADAN ORANG TUA BAGI ANAK-ANAKNYA.

  15 TELADAN ORANG TUA BAGI ANAK-ANAKNYA.   Pendidikan anak bukan hanya melalui nasihat, teguran, perintah, dan larangan. Pendidikan y...