15 TELADAN ORANG TUA BAGI ANAK-ANAKNYA.
Pendidikan anak bukan hanya
melalui nasihat, teguran, perintah, dan larangan. Pendidikan yang paling
membekas dalam jiwa anak adalah keteladanan yang mereka saksikan setiap hari
dari ayah dan ibunya. Anak melihat bagaimana kedua orang tuanya beribadah,
berbicara, bersikap kepada pasangan, mensikapi dan memperlakukan orang lain,
serta menghadapi berbagai macam kesulitan hidup.
Oleh karena itu, orang tua
hendaknya menyadari bahwa dirinya adalah teladan bagi anak-anaknya. Apa yang
mereka ucapkan dapat didengar oleh anak, tetapi apa yang mereka lakukan sering
kali lebih mudah ditiru oleh anak.
Allah ta'ala telah mengingatkan
orang-orang beriman agar tidak menyelisihi perkataan mereka dengan perbuatan.
Allah ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا
لَا تَفْعَلُونَ.
“Wahai orang-orang yang beriman!
Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besarlah
kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
(QS. Ash-Shaff [61]: 2–3).
Ayat ini mengandung pelajaran
penting bagi setiap ayah dan ibu. Jangan sampai orang tua menyuruh anaknya
melakukan kebaikan, sementara dirinya sendiri justru meninggalkannya. Jangan
sampai orang tua melarang anaknya berdusta, tetapi dirinya terbiasa berdusta.
Jangan sampai orang tua memerintahkan anaknya menjaga shalat, tetapi dirinya
sendiri meremehkan shalat.
Karena anak kita asalnya ibarat
kertas yang masih putih bersih, fitrah dan orang tua yang akan mengisinya.
Rasululah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا
مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ
يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Tidaklah setiap anak kecuali dia dilahirkan di atas fitrah, maka
bapak ibunyalah yang menjadikan dia Yahudi, atau menjadikan dia Nasrani, atau
menjadikan dia Majusi.” (HR. Bukhari 1358 dan Muslim 2658).
Berikut
ini lima belas poin penting tentang keteladanan ayah dan ibu dalam mendidik
anak berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah yang sahih.
1. Ayah dan ibu hendaknya menjadi teladan dalam bertauhid dan menjauhi
kesyirikan
Keteladanan paling mendasar dalam
pendidikan anak adalah keteladanan dalam akidah. Orang tua harus mengajarkan
bahwa hanya Allah yang berhak diibadahi, hanya kepada-Nya seorang hamba berdoa
dalam perkara yang menjadi kekhususan-Nya, dan segala bentuk ibadah harus
ditujukan kepada-Nya.
Anak tidak cukup hanya diajari
menghafal bahwa Allah adalah Rabb mereka. Mereka perlu melihat bagaimana ayah
dan ibunya menggantungkan harapan kepada Allah, berdoa kepada-Nya, bertawakal
kepada-Nya, serta menjauhi segala bentuk kesyirikan.
Allah ta'ala berfirman tentang
nasihat Luqman kepada anaknya:
يَا بُنَيَّ لَا
تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Wahai anakku! Janganlah engkau
mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar
kezaliman yang besar.” (QS. Luqman [31]: 13).
Luqman memulai nasihatnya kepada
anak dengan perkara tauhid. Ini menunjukkan besarnya perhatian yang harus
diberikan orang tua terhadap akidah anak-anaknya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah memberikan nasihat kepada Abdullah bin Abbas ketika ia masih
muda:
يَا غُلَامُ، إِنِّي
أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ
فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
“Wahai anak muda, aku akan
mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan
menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika
engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan,
mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi, 2516; hadis hasan sahih).
Jika Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam mengajarkan tauhid dan tawakal kepada seorang anak muda, maka
orang tua hendaknya memberikan pendidikan yang serupa kepada anak-anak mereka.
Jangan sampai anak lebih mengenal ketergantungan kepada makhluk daripada
ketergantungan kepada Allah.
2. Ayah Dan Ibu Hendaknya Menjadi Teladan di dalam Mentaati Allah dan Menjaga Shalat.
Hal pertama yang harus
ditunjukkan oleh orang tua kepada anak-anaknya adalah keteladanan dalam
beribadah dan menaati Allah. Anak perlu melihat bahwa ayah dan ibunya bukan
sekadar menyuruh mereka beribadah, melainkan juga berusaha menjadi orang yang
taat kepada Allah.
Apabila seorang ayah menjaga
shalat berjamaah, membaca Al-Qur'an, berzikir, dan menjauhi kemaksiatan, anak
akan menyaksikan langsung bagaimana ketaatan itu dipraktikkan. Demikian pula
seorang ibu yang menjaga shalat, menutup aurat sesuai syariat, dan membiasakan
lisannya dengan zikir akan memberikan pengaruh yang baik kepada anak-anaknya.
Allah Ta'ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا
اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ...
“Wahai orang-orang yang beriman,
taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ulilamri (pemegang
kekuasaan) di antara kamu..” (QS. An-Nisa[4]:59).
Kemudian memerintahkan
keluarganya juga untuk menjaga shalatnya.
Allah ta’ala berfirman:
وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ
وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ
“Tegakkanlah salat, tunaikanlah
zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah [2]:43).
وَأْمُرْ أَهْلَكَ
بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا.
“Perintahkanlah
keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam
mengerjakannya.” (QS. Thaha [20]: 132).
Ayat
ini salah satu contoh bagaimana orang tua untuk mengajak keluarganya menegakkan
shalat dan bersabar dalam menjalankan kewajiban tersebut. Kesabaran diperlukan
karena mendidik anak agar istiqamah dalam ibadah membutuhkan waktu yang tidak
sedikit, pembiasaan, dan keteladanan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ
بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ
“Perintahkanlah anak-anak kalian
untuk melaksanakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun.” (HR. Abu Dawud,
495; dinilai sahih oleh sejumlah ulama).
Jangan sampai anak-anak tersebut
kelak menjadi generasi yang lemah dalam beribadah kepada Allah ta’ala.
Allah
ta’ala berfirman:
فَخَلَفَ
مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ
يَلْقَوْنَ غَيًّا.
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti
(yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka
mereka kelak akan menemui kesesatan” (QS. Maryam[19]:59).
Ayat dan Hadits ini menunjukkan
pentingnya membiasakan anak melaksanakan shalat sejak dini. Peran orang tua yang
paling besar memberikan contoh nyata dalam menjaga shalat dan lainnya, sehingga
perintah mereka selaras dengan perbuatan mereka, dan anak-anak jadi generasi
yang kuat dan tangguh.
3. Ayah Dan Ibu Hendaknya Menjadi Teladan Dalam Kejujuran.
Kejujuran merupakan akhlak yang
sangat penting dalam pendidikan anak. Anak harus melihat bahwa ayah dan ibunya
berkata benar, menepati janji, tidak menipu, dan tidak membiasakan kebohongan
meskipun dalam perkara yang dianggap sepele.
Terkadang orang tua melarang
anaknya berbohong, tetapi ketika ada seseorang datang ke rumah, orang tua
justru menyuruh anak mengatakan bahwa dirinya tidak ada. Perbuatan semacam ini
dapat mengajarkan kepada anak bahwa kebohongan boleh dilakukan apabila dianggap
menguntungkan.
Allah Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman!
Bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.”
(QS. At-Taubah [9]: 119).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ،
فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ.
“Hendaklah kalian senantiasa
berlaku jujur, karena kejujuran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan
akan menuntun ke surga.” (HR. Bukhari al-Adabu al-Mufrad 386, dan Muslim,
2607).
Hadis ini menunjukkan bahwa
kejujuran merupakan jalan menuju berbagai kebaikan. Orang tua yang membiasakan
kejujuran di dalam rumah sedang menanamkan salah satu fondasi penting bagi
kepribadian anak.
4. Ayah dan ibu hendaknya menjadi teladan dalam kelembutan dan kasih sayang
Anak membutuhkan kasih sayang,
perhatian, dan kelembutan dari kedua orang tuanya. Pendidikan tidak selalu
harus disampaikan dengan suara keras, ancaman, atau hukuman. Ada kalanya anak
lebih mudah menerima nasihat ketika orang tua menyampaikannya dengan tenang dan
penuh kasih sayang.
Allah Ta'ala berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ
مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ
حَوْلِكَ
“Maka berkat rahmat Allah engkau
(Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap
keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS.
Ali ‘Imran [3]: 159).
Ayat ini berbicara tentang
kelembutan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang-orang di
sekitarnya. Orang tua pun hendaknya mengambil pelajaran darinya dalam
memperlakukan anak-anak mereka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
مَنْ لَا يَرْحَمْ
لَا يُرْحَمْ
“Barang siapa tidak menyayangi,
maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari 6013, dan Muslim, 2318).
Orang tua yang ingin anaknya
tumbuh dengan hati yang lembut hendaknya membiasakan kelembutan dalam perkataan
dan perbuatannya. Tegas dalam mendidik tidak berarti harus kasar, dan
menyayangi anak tidak berarti membiarkan semua kesalahannya.
5. Ayah dan ibu hendaknya menjadi teladan dalam menjaga lisan
Rumah adalah tempat pertama anak
belajar berbicara. Dari ayah dan ibunya, anak mempelajari kata-kata yang pantas
diucapkan, cara menghormati orang lain, dan bagaimana menyampaikan kemarahan.
Jika anak setiap hari mendengar
orang tuanya mencela, mengumpat, menggunjing, atau merendahkan orang lain, ia
dapat menganggap perkataan semacam itu sebagai sesuatu yang biasa. Sebaliknya,
jika ia terbiasa mendengar perkataan yang baik, ia akan belajar menjaga
lisannya.
Allah Ta'ala berfirman:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ
حُسْنًا
“Bertuturkatalah yang baik kepada
manusia.” (QS. Al-Baqarah [2]: 83).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ
بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada
Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari
6018, Muslim 47).
Orang tua hendaknya menghindari
ucapan kotor, hinaan, dan makian, terlebih ketika sedang marah kepada anak.
Jika melakukan kesalahan dalam berbicara, hendaknya orang tua bersedia meminta
maaf dan memperbaiki diri. Dengan demikian, anak belajar bahwa menjaga lisan
adalah bagian dari agama.
6. Ayah Dan Ibu Hendaknya Menjadi Teladan Dalam Kesabaran
Mendidik anak bukan pekerjaan
yang hasilnya dapat diperoleh dalam satu atau dua hari. Ada anak yang mudah
menerima nasihat, ada pula yang membutuhkan pengulangan berkali-kali. Ada anak
yang cepat memahami pelajaran, ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang.
Dalam keadaan seperti ini, orang
tua membutuhkan kesabaran. Jangan sampai mereka mengharapkan anak bersikap
tenang, sementara mereka sendiri mudah marah. Jangan sampai mereka menyuruh
anak bersabar, tetapi mereka sendiri tidak mampu mengendalikan emosi ketika
menghadapi kesalahan anak.
Allah Ta'ala berfirman:
يَا بُنَيَّ أَقِمِ
الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا
أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Wahai anakku! Laksanakanlah
shalat, suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang
mungkar, serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang
demikian itu termasuk perkara yang penting.” (QS. Luqman [31]: 17).
Luqman mengajarkan kesabaran
kepada anaknya setelah memerintahkan shalat dan mengajak kepada kebaikan. Ini
menunjukkan bahwa kesabaran merupakan bekal penting dalam menjalankan ketaatan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
وَمَنْ يَتَصَبَّرْ
يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Barang siapa berusaha bersabar,
Allah akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang
lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Bukhari 1469, Muslim 1053).
Orang tua yang bersabar bukan
berarti membiarkan kesalahan anak. Mereka tetap memberikan arahan, teguran, dan
batasan, tetapi melakukannya dengan pertimbangan yang matang dan tidak dikuasai
kemarahan.
7. Ayah dan ibu hendaknya menjadi teladan dalam menghormati pasangan.
Salah satu pelajaran paling
penting yang diperoleh anak di rumah adalah bagaimana seorang suami
memperlakukan istrinya dan bagaimana seorang istri memperlakukan suaminya.
Anak yang tumbuh dengan
menyaksikan ayah menghormati ibu, berbicara dengan baik kepadanya, dan membantu
urusan keluarga akan memperoleh gambaran tentang bagaimana seorang suami
seharusnya memperlakukan istrinya. Demikian pula, seorang ibu yang menghormati
suaminya dan menjaga kehormatan keluarga memberikan contoh yang baik kepada
anak-anaknya.
Allah Ta'ala berfirman:
وَعَاشِرُوهُنَّ
بِالْمَعْرُوفِ
“Pergaulilah mereka (istri-istri)
dengan cara yang patut.” (QS. An-Nisa' [4]: 19).
Allah juga berfirman:
وَلَهُنَّ مِثْلُ
الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan mereka (para perempuan)
mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut.” (QS.
Al-Baqarah [2]: 228).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ
لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah orang
yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik
kepada keluargaku.” (HR. At-Tirmidzi, 3895; hadis sahih).
Karena itu, jangan sampai ayah
merendahkan ibu di hadapan anak, atau ibu meremehkan ayah di hadapan mereka.
Perbedaan pendapat hendaknya diselesaikan dengan cara yang baik, bukan dengan
penghinaan dan pertengkaran yang terus-menerus.
Ketika anak menyaksikan kedua
orang tuanya saling menghormati, ia belajar menghargai orang lain dan memahami
bahwa rumah tangga dibangun dengan tanggung jawab, kasih sayang, dan akhlak
yang baik.
8. Ayah Dan Ibu Hendaknya Menjadi Teladan Dalam Amanah Dan Tanggung Jawab
Orang tua memiliki tanggung jawab
besar terhadap pendidikan dan penjagaan anak. Mereka tidak cukup hanya memenuhi
kebutuhan makanan, pakaian, tempat tinggal, dan biaya pendidikan. Mereka juga
harus memperhatikan agama, akhlak, pergaulan, serta kebiasaan anak-anaknya.
Allah ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman!
Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim [66]: 6).
Ayat ini menunjukkan kewajiban
memperhatikan keselamatan diri dan keluarga dari azab Allah. Orang tua
hendaknya mendidik keluarganya dengan iman, ketaatan, dan menjauhi kemaksiatan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ
وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin,
dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR.
Al-Bukhari 893, dan Muslim 1829).
Ayah bertanggung jawab atas
keluarganya sesuai dengan kewajibannya, dan ibu pun bertanggung jawab atas
rumah serta anak-anak yang berada dalam pengasuhannya sesuai dengan
kewajibannya.
Jangan sampai orang tua
menyerahkan seluruh pendidikan anak kepada sekolah atau guru mengaji, sementara
mereka sendiri tidak memberikan perhatian yang memadai di rumah. Guru memang
berperan penting, tetapi ayah dan ibu tetap memiliki tanggung jawab yang tidak
dapat begitu saja dialihkan kepada orang lain.
9. Ayah Dan Ibu Hendaknya Menjadi Teladan Dalam Menjauhi Kemaksiatan
Orang tua hendaknya menjaga diri
dari perbuatan dosa yang dapat ditiru oleh anak-anaknya. Termasuk di dalamnya
berdusta, berkhianat, menipu, mengambil hak orang lain, memakan harta haram,
dan meremehkan kewajiban agama.
Anak tidak hanya belajar dari
perbuatan yang diperintahkan orang tua kepadanya, tetapi juga dari kebiasaan
yang dilihatnya setiap hari. Jika orang tua membiasakan kecurangan demi
memperoleh keuntungan, anak dapat menganggap bahwa tujuan yang baik membenarkan
cara yang haram.
Allah ta'ala berfirman:
وَلَا تَلْبِسُوا
الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Janganlah kamu campuradukkan
kebenaran dengan kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan
kamu mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 42).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
الْبِرُّ حُسْنُ
الْخُلُقِ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ، وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ
النَّاسُ
“Kebaikan adalah akhlak yang
baik, sedangkan dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan dadamu dan engkau tidak
suka jika orang lain mengetahuinya.” (HR. Bukhari al-adabu al-Mufrad 295, Muslim
2553, Ahmad 17631).
Hadis ini memberikan pelajaran
tentang pentingnya akhlak dan kewaspadaan terhadap dosa. Orang tua hendaknya
menjaga diri dari perbuatan yang bertentangan dengan syariat dan tidak
menanamkan kebiasaan buruk kepada anak.
Jika orang tua pernah melakukan
kesalahan, mereka hendaknya segera bertobat dan memperbaikinya. Keteladanan
bukan berarti orang tua tidak pernah salah, melainkan mereka berusaha menaati
Allah dan bersedia kembali kepada kebenaran ketika terjatuh dalam kesalahan.
10.
Ayah
dan ibu hendaknya menjadi teladan dalam membaca Al-Qur'an dan menuntut ilmu
Rumah yang dihiasi dengan bacaan
Al-Qur'an, pembelajaran agama, dan nasihat yang baik akan memberikan suasana
yang mendukung pendidikan anak. Sebaliknya, jika anak tidak pernah melihat
orang tuanya membaca Al-Qur'an atau mempelajari agama, sementara mereka hanya
menuntut anak untuk rajin belajar, pendidikan tersebut dapat terasa kurang
menyentuh.
Allah Ta'ala berfirman:
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ
تَرْتِيلًا.
“Dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil (perlahan-lahan, jelas, dan
sesuai dengan kaidah bacaannya).” (QS. Al-Muzzammil [73]: 4).
Selain kita membiasakan anak-anak
kita umtuk membaca Al-Qur’an, bacaan tersebut akan besar sekali dampaknya di
dalam rumah, yaitu mengusir Jin, menjadikan ketentraman, dan pahala yang besar.
anak dengan ilmu yang besar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ
تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang
yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari 5027, Tirmidzi
2907, Abu Dawud 1452).
11.
Ayah
Dan Ibu Hendaknya Menjadi Teladan Dalam Kesederhanaan Dan Rasa Syukur
Anak perlu melihat bahwa
kebahagiaan tidak hanya diukur dari banyaknya harta, bagusnya kendaraan,
luasnya rumah, atau mahalnya barang yang dimiliki. Akan tetapi kebahagiaan
dapat juga diraih dengan kesederhanaan, qanaah, rasa syukur, dan sikap tidak
berlebihan di dalam melalui kehidupan mereka sendiri.
Allah Ta'ala berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ
رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu
memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah
(nikmat) kepadamu.’” (QS. Ibrahim [14]: 7).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ
تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا
نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ.
"Lihatlah kepada orang
yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena
yang demikian lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang
berikan kepadamu" (HR Bukhari 6490, Muslim 2963).
Orang tua hendaknya tidak
terus-menerus mengeluh di hadapan anak tentang kekurangan harta, membandingkan
kehidupannya dengan orang lain, atau menanamkan kebiasaan mengejar kemewahan
tanpa batas.
Dengan melihat ayah dan ibunya
bersyukur, hidup secukupnya, dan menggunakan nikmat Allah untuk kebaikan, anak
akan belajar menghargai rezeki serta tidak mudah meremehkan apa yang telah
dimilikinya.
12.
Ayah
Dan Ibu Hendaknya Menjadi Teladan Dalam Berbuat Baik Kepada Orang Lain
Penting bagi anak untuk belajar
bagaimana memperlakukan tetangga, kerabat, tamu, orang miskin, dan orang lain
yang membutuhkan pertolongan.
Keteladanan dalam hal ini sangat
penting. Ketika orang tua membantu tetangga, menghormati tamu, menjaga hubungan
kekerabatan, dan tidak menyakiti orang lain, anak akan menyaksikan langsung
penerapan akhlak Islam.
Allah ta'ala berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ
وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى
وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ
“Beribadahlah kepada Allah dan
janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah
kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga
dekat dan tetangga jauh...” (QS. An-Nisa' [4]: 36).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ
بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ
“Barang siapa beriman kepada
Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR. Bukhari 6019, Muslim
47).
Orang tua hendaknya menunjukkan
bahwa seorang Muslim tidak hanya baik ketika berada di dalam rumah, tetapi juga
menjaga akhlaknya ketika berhubungan dengan masyarakat. Dengan demikian, anak
belajar bahwa agama mencakup ibadah kepada Allah sekaligus akhlak yang baik
kepada sesama manusia.
13.
Ayah
Dan Ibu Hendaknya Menjadi Teladan Dalam Mengakui Kesalahan Dan Meminta Maaf
Sebagian orang tua merasa bahwa
meminta maaf kepada anak akan mengurangi kewibawaannya. Padahal, mengakui
kesalahan yang benar-benar dilakukan justru dapat mengajarkan kerendahan hati,
kejujuran, dan keberanian untuk memperbaiki diri.
Jika seorang ayah marah secara
berlebihan, kemudian menyadari kesalahannya, hendaknya ia meminta maaf dan
memperbaiki sikapnya. Demikian pula seorang ibu, apabila melakukan kekeliruan
dalam perkataan atau tindakan, hendaknya bersedia mengakuinya.
Allah Ta'ala berfirman:
وَالْكَاظِمِينَ
الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(Yaitu) orang-orang yang menahan
amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang
yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 134).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ،
إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ .
“Tidaklah Allah menambah kemuliaan kepada
seorang hamba karena sikap pemaafnya, melainkan Allah akan memuliakannya. Dan
tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan
mengangkat (HR. Muslim, 2588, Tirmidzi 2029).
Orang tua yang meminta maaf bukan
berarti kehilangan kehormatan. Sebaliknya, ia sedang mengajarkan kepada anak
bahwa setiap manusia dapat melakukan kesalahan dan bahwa seorang Muslim
hendaknya berani memperbaiki kesalahan tersebut.
14.
Ayah
Dan Ibu Hendaknya Menjadi Teladan Dalam Menjaga Pergaulan Dan Menggunakan
Teknologi
Pada zaman sekarang, anak-anak
dapat meniru perilaku bukan hanya dari orang tua dan lingkungan sekitar, tetapi
juga dari apa yang mereka saksikan melalui telepon genggam, televisi, dan
internet. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan kebiasaan digital mereka
sendiri sebelum menuntut anak membatasi penggunaan perangkat tersebut.
Jangan sampai orang tua melarang
anak menggunakan telepon genggam secara berlebihan, tetapi dirinya sendiri
terus-menerus sibuk dengan layar hingga mengabaikan shalat, pekerjaan, dan
komunikasi dengan keluarga.
Allah ta'ala berfirman:
إِنَّ السَّمْعَ
وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Sesungguhnya pendengaran,
penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS.
Al-Isra' [17]: 36).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ
الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ.
“Di antara tanda baiknya
keislaman seseorang adalah ia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat
baginya.” (HR. Tirmidzi 2317 Ibnu Majah
3976. Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Orang tua hendaknya menyeleksi
tontonan, menjaga perkataan di media sosial, tidak menyebarkan berita yang
belum jelas kebenarannya, dan mengatur waktu penggunaan perangkat elektronik.
Mereka juga perlu mendampingi anak dalam memilih konten yang bermanfaat dan
menjauhi hal-hal yang merusak agama serta akhlak.
Keteladanan seperti ini akan
mengajarkan bahwa teknologi adalah sarana yang harus digunakan secara
bertanggung jawab, bukan sesuatu yang menguasai kehidupan manusia dan memperbudak
manusia.
15.
Ayah
dan ibu hendaknya menjadi teladan dalam bertobat dan memperbaiki diri
Tidak ada orang tua yang
sempurna. Seorang ayah dapat melakukan kesalahan, seorang ibu dapat memiliki
kekurangan, dan keduanya mungkin pernah lalai dalam mendidik anak. Namun,
kekurangan tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti memperbaiki diri.
Anak perlu melihat bahwa orang
tuanya berusaha meninggalkan dosa, memperbaiki ibadah, meminta ampun kepada
Allah, dan terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik.
Allah ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
“Wahai orang-orang yang beriman!
Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya.” (QS. At-Tahrim
[66]: 8).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ
خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ.
“Setiap anak Adam banyak
melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak melakukan kesalahan
adalah orang-orang yang banyak bertobat.” (HR. Ibnu Majah 4251, dihasankan
Syaikh al-Albani di dalam al-Mirykah 2341).
Ketika orang tua memperlihatkan
kesungguhan dalam bertobat, anak belajar bahwa seorang Muslim tidak boleh
berputus asa dari rahmat Allah. Ia juga belajar bahwa kemuliaan bukan terletak
pada pura-pura tidak pernah salah, melainkan pada kesediaan mengakui kesalahan,
bertobat kepada Allah, dan memperbaiki diri.
Hendaknya kita juga tidak hanya berhenti dalam memberi
teladan, tetapi juga selalu mendoakan anak.
Allah Ta'ala berfirman:
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan orang-orang yang berkata,
‘Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami
sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang
yang bertakwa.’” (QS. Al-Furqan [25]: 74).
Perhatikanlah, dalam ayat ini
orang-orang beriman tidak hanya memohon agar pasangan dan keturunan mereka
menjadi penyejuk hati, tetapi juga memohon agar Allah menjadikan mereka teladan
bagi orang-orang yang bertakwa.
Semoga Allah Ta'ala memperbaiki
keadaan kita, menjadikan kita ayah dan ibu yang saleh, serta menganugerahkan
kepada kita keturunan yang saleh dan salehah, yang menegakkan tauhid, menjaga
shalat, berakhlak mulia, dan istiqamah di atas Al-Qur'an dan Sunnah sesuai
dengan pemahaman salafus saleh.
آمِينَ يَا رَبَّ
الْعَالَمِينَ.
Semoga
bermanfaat.
-----000-----
Sragen
23-10-2026.
Abu
Ibrahim.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar