BAB 7
SOAL 3.
MEMINTA
DOA KEPADA ORANG YANG MASIH HIDUP.
س ٣ - هَلْ يَجُوزُ
طَلَبُ الدُّعَاءِ مِنَ الْأَحْيَاءِ؟
soal 3: Apakah diperbolehkan meminta doa kepada orang-orang yang
masih hidup?
ج ٣ - يَجُوزُ طَلَبُ
الدُّعَاءِ مِنَ الْأَحْيَاءِ لَا الْأَمْوَاتِ
Jawaban: Diperbolehkan meminta doa kepada orang-orang yang masih
hidup, bukan kepada orang-orang yang telah meninggal dunia.
قَالَ تَعَالَى
يُخَاطِبُ الرَّسُولَ حَيًّا:
Allah Ta’ala berfirman, ketika berbicara kepada Rasul-Nya semasa
beliau masih hidup:
وَاسْتَغْفِرْ
لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. سُورَةُ مُحَمَّدٍ: ١٩
“Mohonlah ampunan untuk dosamu serta untuk orang-orang mukmin laki-laki
dan perempuan.” (QS. Muhammad [47]: 19)
وَفِي الْحَدِيثِ
الصَّحِيحِ الَّذِي رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ: أَنَّ رَجُلًا ضَرِيرَ الْبَصَرِ أَتَى النَّبِيَّ
ﷺ، فَقَالَ: ادْعُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَنِي.
Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi disebutkan
bahwa seorang laki-laki yang mengalami kebutaan mendatangi Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Berdoalah kepada Allah agar Dia memberikan
kesembuhan kepadaku.”
-----000-----
Penjelasan
1. Bolehnya meminta doa kepada orang yang masih hidup
Meminta doa kepada orang yang masih hidup diperbolehkan dalam
Islam, baik meminta didoakan agar mendapatkan ampunan, kesembuhan, hujan,
maupun kebaikan lainnya, selama perkara yang diminta sesuai dengan syariat. Hal
ini berdasarkan dalil Al-Qur’an, Sunnah, dan amalan para sahabat.
Allah ta’ala berfirman:
وَاسْتَغْفِرْ
لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
“Mohonlah ampunan untuk dosamu serta untuk orang-orang mukmin
laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad [47]: 19)
Ayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam diperintahkan memohonkan ampunan bagi kaum mukminin dan mukminat.
2. Dalil-dalil yang membolehkan hal itu.
1) Anak-anak Nabi Ya’qub meminta agar ayah mereka memohonkan ampunan
kepada Allah atas dosa mereka.
Allah ta’ala berfirman:
قَالُوا يَا أَبَانَا
اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ . قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي إِنَّهُ
هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Mereka berkata, ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampunan bagi
dosa-dosa kami. Sesungguhnya kami benar-benar telah berbuat salah.’ Dia
(Ya’qub) berkata, ‘Aku akan memohonkan ampunan bagi kalian kepada Rabbku.
Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Yusuf [12]:
97–98)
2) Bani Israil meminta Nabi Musa agar berdoa kepada Allah untuk
memperoleh makanan yang mereka inginkan.
Allah ta’ala berfirman:
وَإِذْ قُلْتُمْ
يَا مُوسَىٰ لَنْ نَصْبِرَ عَلَىٰ طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ
لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا
وَبَصَلِهَا.
“Dan ingatlah ketika kalian berkata, ‘Wahai Musa, kami tidak tahan
dengan satu macam makanan saja. Maka berdoalah kepada Tuhanmu untuk kami, agar
Dia mengeluarkan bagi kami apa yang ditumbuhkan bumi, berupa sayur-mayur,
mentimun, gandum, kacang adas, dan bawang merah...” (QS. Al-Baqarah [2]:61).
3) Para pengikut setia Nabi Isa meminta agar beliau berdoa kepada
Allah supaya diturunkan hidangan dari langit.
Allah ta’ala berfirman:
إِذْ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ
يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَنْ يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَائِدَةً
مِنَ السَّمَاءِ
“(Ingatlah) ketika para pengikut setia berkata, ‘Wahai Isa putra
Maryam, sanggupkah Rabbmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?’” (QS.
Al-Ma’idah [5]: 112)
Nabi Isa kemudian berdoa:
اللَّهُمَّ رَبَّنَا
أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا
وَآيَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ.
“Ya Allah, Rabb kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit
yang akan menjadi hari raya bagi kami, bagi orang-orang yang sekarang bersama
kami maupun yang datang setelah kami, dan menjadi tanda dari-Mu. Berilah kami
rezeki, dan Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 114)
4) Seorang laki-laki yang buta meminta Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam berdoa agar Allah memberikan kesembuhan kepadanya.
“Dari ‘Utsman bin Hunain, bahwa seorang laki-laki yang buta datang
kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah,
berdoalah kepada Allah agar Dia menyembuhkanku.’ Beliau bersabda:
إِنْ شِئْتَ دَعَوْتُ لَكَ، وَإِنْ شِئْتَ
صَبَرْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ. قَالَ: فَادْعُهُ, فَأَمَرَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ فَيُحْسِنَ
وُضُوءَهُ، وَيُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ، وَيَدْعُوَ بِهَذَا الدُّعَاءِ: اللَّهُمَّ
إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ
الرَّحْمَةِ، يَا مُحَمَّدُ، إِنِّي تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِي
هَذِهِ لِتُقْضَى، اللَّهُمَّ فَشَفِّعْهُ فِيَّ.
‘Jika engkau mau, aku akan
mendoakanmu; dan jika engkau mau, engkau bersabar, karena itu lebih baik
bagimu.’ Orang itu berkata, ‘Doakanlah beliau.’ Maka Nabi memerintahkannya
untuk berwudu dan menyempurnakan wudunya, kemudian shalat dua rakaat dan berdoa
dengan doa ini: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap
kepada-Mu dengan perantaraan Nabi-Mu Muhammad, Nabi pembawa rahmat. Wahai
Muhammad, sesungguhnya aku menghadap kepada Rabbku dengan perantaraanmu dalam
kebutuhanku ini agar dikabulkan. Ya Allah, terimalah syafaatnya untukku.’” (HR.
Tirmidzi 3578, Ahmad 17240, Nasai 1385, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam shahih
at-Tawasulu anwauhu wa ahkamuhu 75).
5) Umar bin al-Khaththab meminta Uwais al-Qarani agar memohonkan
ampunan kepada Allah untuk dirinya.
Dari Usair bin Jabir, ia berkata, “Dahulu, setiap kali rombongan
orang-orang dari Yaman datang kepada Umar bin al-Khaththab, ia selalu bertanya
kepada mereka:
أَفِيكُمْ
أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ؟ حَتَّى أَتَى عَلَى أُوَيْسٍ فَقَالَ: أَنْتَ أُوَيْسُ
بْنُ عَامِرٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ؟ قَالَ:
نَعَمْ، قَالَ: فَكَانَ بِكَ بَرَصٌ فَبَرَأْتَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ؟
قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: لَكَ وَالِدَةٌ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «يَأْتِي عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ
بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ، مِنْ مُرَادٍ، ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ،
كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ، لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ
بِهَا بَرٌّ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأَبَرَّهُ، فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ
يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ» فَاسْتَغْفِرْ لِي، فَاسْتَغْفَرَ لَهُ
“Apakah di antara kalian ada Uwais bin Amir?” Hingga akhirnya Umar
bertemu dengan Uwais, lalu berkata, “Apakah engkau Uwais bin Amir?” Ia
menjawab, “Ya.”
Umar bertanya, “Apakah engkau berasal dari suku Murad, kemudian
dari Qaran?” Ia menjawab, “Ya.”
Umar bertanya lagi, “Apakah dahulu engkau menderita penyakit
belang, lalu sembuh darinya kecuali sebesar satu dirham?” Ia menjawab, “Ya.”
Umar bertanya, “Apakah engkau masih memiliki ibu?” Ia menjawab,
“Ya.”
Umar kemudian berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Akan datang kepada kalian Uwais bin Amir bersama
rombongan orang-orang dari Yaman. Ia berasal dari suku Murad, kemudian dari
Qaran. Dahulu ia menderita penyakit belang, lalu sembuh darinya kecuali sebesar
satu dirham. Ia memiliki seorang ibu dan sangat berbakti kepadanya. Seandainya
ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan memenuhi sumpahnya. Jika
engkau mampu meminta kepadanya agar memohonkan ampunan kepada Allah untukmu,
maka lakukanlah.’
Maka Umar berkata kepada Uwais, ‘Mohonkanlah ampunan kepada Allah
untukku.’ Lalu Uwais pun memohonkan ampunan kepada Allah untuk Umar.” (HR.
Muslim 2542, al-Bazar 342)
6) Ketika terjadi kekeringan, Umar bin al-Khaththab meminta al-Abbas
bin Abdul Muththalib agar berdoa memohon hujan kepada Allah.
Dari Anas bin Malik, bahwa Umar bin al-Khaththab radhiyallahu
‘anhu, dahulu apabila mereka mengalami kekeringan, ia meminta Abbas bin Abdul
Muththalib agar berdoa memohon hujan. Umar berkata:
اللَّهُمَّ إِنَّا
كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا، وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ
بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا.
“Ya Allah, dahulu kami bertawasul kepada-Mu dengan Nabi kami, lalu
Engkau menurunkan hujan kepada kami. Sekarang kami bertawasul kepada-Mu dengan
paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami.” Anas berkata, “Maka
mereka pun diberi hujan.” (HR. Bukhari 1010,
al-Bagawi 1165).
3. Bolehnya meminta doa kepada orang yang lebih utama atau tidak
lebih utama.
Sebagaimana hadits Umar yang mendatangi Uwais.
4. Larangan keras meminta doa kepada orang yang telah meninggal.
Larangan keras ini mencakup siapapun, baik kuburan para nabi,
wali, atau kyai.
Allah ta’ala berfirman:
إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ
الْمَوْتَىٰ.
“Sesungguhnya engkau tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati
mendengar...” (QS. An-Naml [27]: 80).
وَمَا أَنْتَ
بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ.
“Dan engkau tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang berada
di dalam kubur dapat mendengar.” (QS. Fatir [35]: 22).
إِنْ تَدْعُوهُمْ
لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ
“Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu, dan
sekiranya mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu.”
(QS. Fatir [35]: 14).
Dari Atha’ bin Yasar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
اللَّهُمَّ لَا
تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ. اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ
مَسَاجِدَ.
“Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan kuburanku sebagai
sesembahan selain Allah yang disembah. Sungguh, sangat keras kemurkaan Allah
terhadap kaum yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid (tempat
ibadah).” (HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ 750,
dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam al-Misykah 62).
Hal semacam ini bisa menjadikan seseorang terjerumus kedalam
syirik besar.
5. Tidak diperkenankan memintakan doa atau mendoakan dalam perkara
dosa dan maksiat.
Meskipun kita dibolehkan meminta doa atau pertolongan kepada orang
lain, namun tidak di perbolehkan meminta atau mendoakan di dalam perkara doa
atau maksiat.
Allah ta’ala berfirman:
وَتَعَاوَنُوا
عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan
takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS.
Al-Ma’idah [5]: 2).
Ketika fatkhul Makkah banyak sahabat yang baru masuk Islam, tidak
selang beberapa lama kemudian orang-orang berangkat perang menuju Hunain,
kemudian mereka melewati pohon milik orang kafir sehingga mereka meminta untuk
dibuatkan Dzatu Anwath seperti mereka.
يَا رَسُولَ اللَّهِ
اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ.
فَقَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم سُبْحَانَ اللَّهِ
هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى .
“Ya Rasulullah, Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath (tempat
menggantungkan senjata) sebagaimana mereka (orang musyrik) memiliki Dzatu
Anwath.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Subhanallah! ini
sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Musa.”
(HR. Ahmad 21900, Tirmidzi 2180, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam dzilalul
Jannah 76. Adapun Dzatu an-wath adalah pohon yang dipakai menggantungkan pedang
orang-orang musyrik).
Misalnya seseorang meminta agar di beri zimat kekebalan, menghendaki
istri atau suami orang lain, menghendaki harta orang lain pindah kepadanya,
kehamilan seeorang pindah kepada dirinya, menghendaki kematian seseorang dan
lain sebagainya.
6. Keutamaan mendoakan sesama muslim di luar sepengetahuannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
دَعْوَةُ
الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ
رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ
الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ .
“Doa seorang muslim untuk saudaranya sesama muslim tanpa
sepengetahuannya mustajab (dikabulkan). Di dekat kepalanya ada malaikat yang
ditugaskan. Setiap kali ia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat yang
ditugaskan itu berkata, ‘Aamiin, dan semoga engkau mendapatkan yang semisalnya.”(HR.
Bukhari al-Adabu al-Mufrad 625, Muslim 2733,
Ahmad 27559).
Hadits ini menunjukkan keutamaan mendoakan saudara sesama muslim
tanpa sepengetahunnya, karena itu hendaknya kita tidak hanya memintanya didoakan,
tetapi juga mendoakan orang lain.
7. Mana yang lebih utama: meminta
doa kepada orang lain atau berdoa sendiri?
Pada dasarnya, meminta orang yang masih hidup agar
mendoakan kita diperbolehkan. Namun, membiasakan diri berdoa langsung kepada
Allah, menyandarkan hati kepada-Nya, dan tidak bergantung kepada doa orang lain
merupakan sikap yang lebih sempurna dalam tawakal.
Di antara dalilnya sebagai berikut:
1) Banyak ayat dan hadits yang
memerintahkan agar langsung berdoa kepada Allah ta’ala.
Oleh Allah Ta’ala berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Rabb kalian berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya
Aku akan mengabulkan doa kalian.” (QS. Ghafir [40]: 60).
وَإِذَا سَأَلَكَ
عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا
لِي..
“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku,
sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila
dia berdoa kepada-Ku...” (QS. Al-Baqarah [2]: 186)
Rasulullah sallallahu
‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada anak paman beliau yaitu Ibnu Abbas.
يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ،
احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا
اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ.
“Nak, aku ajarkan kepadamu
beberapa untaian kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu.
Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau
hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau
hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.” (HR.
Tirmidzi 2516, di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam shahih Tirmidzi 2043).
2) Orang yang berdoa langsung
kepada Allah lebih mencocoki kebutuhan dirinya.
Allah ta’ala berfirman:
ادْعُوا رَبَّكُمْ
تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ.
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang
lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS.
Al-A’raf [7]: 55)
Allah juga berfirman:
أَمَّنْ يُجِيبُ
الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ...
“Siapakah yang memperkenankan doa orang yang berada dalam
kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, menghilangkan kesusahan...” (QS.
An-Naml [27]: 62).
Dengan seseorang berdoa langsung kepada Allah akan lebih
tepat apa yang dibutuhkan.
Ayat ini mendorong setiap muslim untuk berdoa langsung
kepada Allah. Meminta doa kepada orang lain tidak dilarang, tetapi jangan
sampai seseorang lebih mengandalkan doa orang lain daripada berdoa sendiri.
3) Para sahabat yang berbaiat
untuk tidak meminta-minta kepada manusia.
Meminta kepada orang lain bisa berupa materi maupun doa.
Dari Auf bin Malik al-Asyja‘i, beliau berkata, “Kami
berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berjumlah sembilan,
delapan, atau tujuh orang. Beliau bersabda, ‘Tidakkah kalian berbaiat kepada
Rasulullah?’ Kami mengulurkan tangan dan berkata, ‘Kami telah berbaiat
kepadamu, wahai Rasulullah. Lalu, untuk apa kami berbaiat lagi?’ Beliau
bersabda:
عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَالصَّلَوَاتِ
الْخَمْسِ، وَتُطِيعُوا - وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً - وَلَا تَسْأَلُوا
النَّاسَ شَيْئًا» فَلَقَدْ رَأَيْتُ بَعْضَ أُولَئِكَ النَّفَرِ يَسْقُطُ سَوْطُ
أَحَدِهِمْ، فَمَا يَسْأَلُ أَحَدًا يُنَاوِلُهُ إِيَّاهُ
Beliau menjawab, ‘Agar kalian beribadah kepada Allah dan tidak
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, menegakkan salat lima waktu,
menaati (Allah dan Rasul-Nya)’, kemudian beliau mengucapkan suatu kalimat
dengan suara pelan, ‘dan tidak meminta sesuatu pun kepada manusia.’
Sungguh, aku pernah melihat sebagian orang dari rombongan
tersebut. Ketika cambuk salah seorang dari mereka jatuh, ia tidak meminta siapa
pun untuk mengambilkan dan menyerahkannya kepadanya.”(HR. Muslim 1043,
Abu Dawud 1642, Ibnu Majah 2867).
Hadits ini menunjukkan keutamaan menjaga kehormatan
diri tidak meminta-minta dan membiasakan diri bergantung kepada Allah ta’ala.
4) Keutamaan orang yang bertawakal
dan tidak meminta ruqyah kepada orang lain
Dari Imran bin
Hushain radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ, قَالُوا: وَمَنْ هُمْ يَا
رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: هُمُ الَّذِينَ لَا يَكْتَوُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ،
وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Ada
70.000 orang dari umatku yang akan masuk surga tanpa hisab.” Para sahabat
bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka adalah
orang-orang yang tidak berobat dengan kay (besi panas), tidak meminta ruqyah,
dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (HR. Bukhari 6472
Muslim 218 lafad Muslim).
5) Berdoa adalah
ibadah yang agung.
Memperbanyak
doa kepada Allah akan menjadikan Allah mencintainya.
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ
الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ
دَاخِرِيْنَ ࣖ
“Tuhanmu
berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang
kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau
beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS.
Ghafir [40]:60).
Bahkan Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan hal itu:
الدُّعَاءُ
هُوَ الْعِبَادَةُ.
“Doa adalah ibadah.”
(HR. Tirmidzi 2969, Abu Dawud 1479, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam
shahih Ibnu Hibban 890)
Apabila seseorang
sering berdoa bebrarti dia sering beribadah dan mendekat kepada Allah, hal ini
tidak tidak didapatkan bilamana yang berdoa orang lain.
Demikianlah semoga
bermanfaat.
-----000-----
Sragen 26-10-2026
Abu Ibrahim Junaedi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar