Jumat, 09 Oktober 2026

TERJADINYA PERANG UHUD.

 

TERJADINYA PERANG UHUD.

 

UPAYA PARA WANITA QURAISY DALAM MEMBANGKITKAN SEMANGAT

Para wanita Quraisy menunaikan tugas mereka dalam pepe-rangan di bawah komando Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan. Mereka berkeliling di tengah-tengah barisan memukul rebana, mem-bakar semangat kaum pria, memotivasi mereka untuk berperang, membangkitkan dendam kesumat para pahlawan dan menggerakkan emosi pasukan. Terkadang mereka memotivasi para pembawa panji-panji dengan berkata, "Wahai Bani Abdud Dar, wahai pelindung pasukan belakang, pukullah (lawan) dengan semua senjata tajam." Terkadang pula mereka membakar semangat kaumnya dengan men-dendangkan;

Jika kalian maju kami akan memeluk Dan kami akan bentangkan kasur Jika kalian mundur kami akan berpisah Dengan perpisahan tanpa ada rasa cinta

 

KORBAN PERTAMA PEPERANGAN

 

Kedua pasukan sudah mendekat dan kedua kelompok sudah merapat, tahapan-tahapan perang telah dimulai, pemicu pertempuran pertama adalah pembawa panji orang-orang musyrik, Thalhah bin Abu Thalhah al-Abdari, ia adalah salah seorang prajurit Quraisy yang sangat pemberani, pasukan Islam menjulukinya mesin perang, ia keluar dengan menunggang seokor onta, ia menantang duel, orang-orang tidak mau menghadapinya karena keberaniannya yang luar biasa, tetapi az Zubair maju menghadapinya tanpa memberinya

kesempatan dan langsung menikamnya bagaikan singa, hingga ia berada di atas ontanya kemudian ia menjerembabkan onta itu ke bumi, lalu melemparkannya dari atas onta dan menyembelihnya dengan pedangnya.

Nabi melihat perkelahian yang menarik ini, maka beliau bertakbir dan diikuti oleh pasukan Islam, lalu beliau memuji az-Zubair, dan berkata tentang kedudukannya, "Sesungguhnya setiap Nabi punya Hawari (pengikut setia) dan Hawariku adalah Az Zubair."( 1 Disebut oleh penulis as-Sirah al-Halabiyah, II/18).

Kedahsyatan Perang Di Sekitar Panji Kaum musyrikin Dan Pembantaian Terhadap Para Pembawanya

Kemudian menyalalah api peperangan, pertempuran antara kedua pasukan menghebat di setiap titik medan peperangan, dan kedahsyatan peperangan terkonsentrasi di sekitar panji pasukan musyrikin. Banu Abdud Dar silih berganti membawa panji itu setelah terbunuhnya komandan mereka Thalhah bin Abu Thalhah, panji itu lalu dibawa oleh saudaranya Abu Syaibah Utsman bin Abu Thalhah, lalu maju untuk bertempur sambil berkata,

"Sesungguhnya atas para pembawa panji ada kewajiban untuk menjulangkan pohon atau menumbangkannya."

Hamzah bin Abdul Muththalib langsung menyerangnya dan menebas pundaknya dengan tebasan yang memisahkan tangan dari pundaknya, hingga tebasan itu sampai di pusarnya dan terurailah paru-parunya.

Kemudian panji itu diambil alih oleh Abu Said bin Abu Thalhah, lalu Sa'ad bin Abi Waqqas memanahnya dengan anak panah hingga mengenai tenggorokkannya, maka ia menjulurkan lidahnya dan mati seketika, ada yang mengatakan: Yang benar Abu Sa'ad keluar menan-tang duel, maka Ali bin Abu Thalib maju menantangnya, selanjutnya mereka berdua terlibat dalam perkelahian, hingga akhirnya Ali mem-babatnya dan membunuhnya.

Kemudian panji beralih kepada Musafi' bin Abi Thalhah, Maka ia dipanah oleh Ashim bin Tsabit bin Abu al-Aqlah hingga membuat-nya tewas, setelah itu panji tersebut diambil alih oleh saudaranya Kilab bin Thalhah bin Abu Thalhah, lalu ia diserang oleh az-Zubair bin al-Awwam, diperangai hingga akhirnya dibunuh, lalu panji itu berpindah ke tangan saudara mereka berdua al-Jallas bin Thalhah bin Abu Thalhah, maka ia ditikam oleh Thalhah bin Ubaidillah hingga

membuatnya tewas, namun ada pula yang mengatakan bahwa dia dipanah oleh Ashim bin Tsabit bin Abi al-Aqlah hingga membuatnya tewas.

Keenam orang itu berasal dari satu rumah, rumah Abu Thalhah Abdullah bin Ustman bin Abdud Dar, mereka semua terbunuh di sekitar panji pasukan musyrikin. Selanjutnya panji berpindah tangan kepada Arthah bin Syarahbil dari Bani Abdud Dar, hingga akhirnya ia dibunuh oleh Ali bin Abu Thalib, ada pula yang mengatakan; oleh Hamzah bin Abdul Muththalib, setelah itu panji dibawa oleh Syuraih bin Qaridh, lalu ia juga dibunuh oleh Qazman - seorang munafik yang berperang bersama orang-orang Islam karena masalah kehor-matan bukan karena Islam- lalu ia dipegang oleh Abu Zaid Amr bin Abdu Manaf al-Abdari dan ia juga dibunuh oleh Qazman kemudian ia dibawa oleh anak Syarahbil bin Hasyim al-Abdari dan ia juga dibunuh oleh Qazman.

Kesepuluh orang pembawa panji yang berasal dari Bani Abdud Dar tersebut mati semua, tidak tersisa seorang pun dari mereka yang membawanya, maka budak hitam mereka-bernama Shawab- maju membawa panji itu dengan menampakkan keberanian dan keteguhan yang melebihi keberanian dan keteguhan tuan-tuannya para pembawa panji yang telah terbunuh sebelumnya, ia berperang hingga terpotong tangannya maka ia mengapit panji itu dengan dada dan lehernya, supaya ia tidak jatuh, hingga akhirnya ia terbunuh, ia berkata, "Ya Allah! Apakah Engkau mengampuni?"

Setelah budak ini -Shawab- mati panji itu jatuh ke tanah, dan tidak ada seorang pun yang mengambilnya, sehingga ia tetap tergeletak.

 

PEPERANGAN DI TITIK-TITIK YANG LAIN

 

Ketika kedahsyatan perang berpusat di sekitar panji pasukan musyrikin, Saat itu pertempuran yang mengerikan pun terjadi di seluruh titik-titik peperangan. Ruh iman menyelimuti seluruh pasukan Islam, mereka menyerbu di tengah-tengah pasukan musyrikin laksana Aliran banjir bandang yang menjebol bendungan-bendungan, sambil mereka berkata, "Bunuhlah bunuhlah." Itulah slogan mereka pada waktu perang Uhud.

Abu Dujanah maju dengan pengikat kepalanya yang merah itu, ia membawa pedang Rasulullah bertekad memenuhi haknya, lalu bertempur hingga masuk ke dalam tengah-tengah pasukan, setiap kali ia bertemu orang musyrik pasti ia membunuhnya ia memporak-porandakan barisan lawan. Az-Zubair bin al-Awwam berkata, "Aku

merasakan kekecewaan dalam diriku ketika aku meminta pedang dari Rasulullah namun beliau tidak memberikannya padaku, tapi memberikannya pada Abu Dujanah aku berkata pada diriku sendiri, "Aku adalah putra Shafiyah bibi beliau dan dari suku Quraisy, aku telah menghadap kepadanya, meminta pedang itu darinya sebelum Abu Dujanah memintanya, lalu beliau memberikannya padanya dan meninggalkanku, demi Allah! aku akan melihat apa yang akan diperbuat oleh Abu Dujanah? Lalu aku membuntutinya, ia mengelu-arkan ikat kepalanya yang merah, kemudian mengikatkannya di kepala, orang-orang Anshar berkata, "Abu Dujanah telah menge-luarkan ikat kepala kematian, lalu ia maju sambil berkata,

"Akulah orang yang telah diambil janji oleh kekasihku ketika kami di kaki gunung di bawah pohon korma

Agar untuk selamanya tidak berada di barisan belakang, aku membabat musuh dengan pedang Allah dan Rasul-Nya."

Setelah itu setiap kali berpapasan dengan seseorang ia pasti membunuhnya, kala itu di pasukan musyrikin ada seseorang yang tidak mendapati prajurit kami yang terluka kecuali pasti dibunuh-nya, kemudian Abu Dujanah dan orang musyrik tersebut saling mendekat, aku berdoa pada pada Allah untuk mempertemukan mereka, dan merekapun bertemu, dua sabetan mereka tidak kena sasaran, lalu orang musyrik itu membabat Abu Dujanah dan Abu Dujanah berlindung di perisainya hingga dapat menahan pedangnya lalu giliran Abu Dujanah membabatnya dan berhasil membunuh-nya."

Kemudian Abu Dujanah semakin dalam masuk ketengah-tengah barisan lawan, hingga ia tiba di hadapan komandan kaum wanita Quraisy sedang dia tidak mengetahuinya. Abu Dujanah berkata, "Aku melihat seseorang yang menikami pasukan dengan membabi-buta, maka aku pun mencegatanya, namun ketika aku akan memu-kulkan pedangku, ternyata ia adalah seorang wanita, maka aku memuliakan pedang Rasulullah dengan tidak menebaskannya pada wanita."

Wanita itu tidak lain adalah Hindun binti Uthbah. Az-Zubair bin al-Awwam berkata, "Aku melihat Abu Dujanah telah mengang-kat pedangnya digaris rambut yang ada di kepala Hindun binti Uthbah lalu ia menariknya dari Hindun, maka aku berkata, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui (mengapa dia mengurungkannya,

selangkangannya, ia berjalan ke arahku tetapi ia tersungkur, aku meninggalkannya dan juga tombakku hingga akhirnya dia tewas, lalu aku mendatanginya lagi dan mengambil tombakku kemudian aku kembali ke tenda dan duduk di dalamnya, karena aku tidak punya kepentingan dengan orang lain, aku membunuhnya hanya karena ingin dimerdekakan, maka ketika aku tiba di Mekkah aku dimerdekakan." ( Lihat Fatimal Bariy, VII/346).

PENGUASAAN MEDAN

Meski kerugian besar telah menimpa pasukan Islam karena terbunuhnnya singa Allah dan singa Rasul-Nya Hamzah bin Abdul Muththalib, pasukan Islam tetap menguasai seluruh medan pepe-rangan. Pada hari itu Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, Ali bin Abu Thalib, az-Zubair bin al-Awwam, Mush'ab bin Umair, Thalhah bin Ubaidillah, Abdullah bin Jahsy, Saad bin Mu'adz, Saad bin Ubadah, Sa'ad bin ar-Rabi', Anas bin an-Nadhr dan orang-orang yang semisal mereka menggempur lawan dengan gempuran yang memporak po-randakan keteguhan mereka dan mengobrak-abrik kekuatan mereka.

 

DARI PELUKAN SEORANG WANITA BERPINDAH KE ADU PEDANG DAN PERISAI KULIT

 

Di antara kesatria yang terjun pada hari itu adalah Handhalah -orang yang dimandikan oleh malaikat-, dia adalah Handhalah bin Abu Amir -sedang Abu Amir ini adalah ar-Rahib yang dijuluki si fasik di atas-. Handhalah adalah orang yang baru saja menikah, maka ketika ia mendengar panggilan untuk berperang-padahal ia sedang bersama istrinya- segera ia melepaskan diri dari pelukannya dan langsung bangkit pergi berjihad. Ketika ia bertemu pasukan musyri-kin di medan pertempuran, ia menerobos barisan musuh, hingga sampai di hadapan komandan pasukan musyrikin Abu Sufyan Shahkr bin Harb, ia hampir saja membunuhnya andai saja Allah tidak meng-anugerahkan syahadah kepadanya, ia telah berhasil mengalahkan Abu Sufyan, maka tatkala ia telah berada di atasnya dan menguasai-nya ia terlihat oleh Syaddad bin al Aswad maka ia memukulnya hingga tewas.

 

PERAN PASUKAN PEMANAH DI PEPERANGAN

 

Kelompok yang ditunjuk oleh Rasulullah untuk mengambil posisi di Jabal ar-Rumah (gunung para pemanah, penj) mempunyai

andil besar dalam mengontrol arus serangan untuk kepentingan pasukan Islam. Pasukan berkuda Mekkah di bawah pimpinan Khalid bin al-Walid yang dibantu oleh Abu Amir si fasik telah menyerang tiga kali, untuk mengahancurkan sayap pasukan Islam sebelah kiri, dengan tujuan menyusup ke bagian belakang pasukan Islam, untuk membuat kekacauan dan kebingungan di barisan mereka dan menimpakan atas mereka kekalahan telak, tetapi para pemanah itu menghujani mereka dengan anak panah hingga gagallah ketiga serangan mereka.(Ibnu Hisyam, 1/75).

KEKALAHAN MENIMPA PASUKAN MUSYRIKIN

Begitulah kobaran perang yang sengit itu berlangsung, pasukan Islam yang kecil itu tetap menguasai seluruh medan, hingga melemah-lah keteguhan para kesatria pasukan musyrikin dan barisan mereka mulai bercerai berai dari arah kanan, kiri, depan dan belakang, seolah-olah tiga ribu orang musyrik sedang menghadapi tigapuluh ribu Muslim, bukan melawan beberapa ratus Muslim. Memang pasukan Islam menjelma dalam gambaran keberanian dan keyakinan yang luar biasa.

Setelah pasukan Quraisy mengerahkan semua tenaganya untuk menghadang serangan pasukan Islam, mereka pun merasakan lemah dan frustasi serta hilanglah semangat mereka -hingga tidak satu pun dari mereka yang berani mendekati panji mereka yang telah jatuh setelah terbunuhnya Shawab dan membawanya supaya pertempuran berlangsung di sekitarnya- mereka mulai mundur dan melarikan diri sambil melupakan apa yang mereka ucapkan di dalam diri mereka, berupa balas dendam, menuntut balas dan pengembalian kemuliaan, kehormatan dan kejayaan.

Ibnu Ishaq berkata, "Kemudian Allah menurunkan pertolongan-Nya kepada pasukan Islam, dan memenuhi janji-Nya pada mereka, mereka membabat pasukan musuh dengan pedang-pedang hingga berhasil mengusir mereka dari perkemahan mereka dan kekalahan tidak diragukan lagi. Abdullah bin az-Zubair meriwayatkan dari bapaknya, bahwa ayahnya berkata, "Demi Allah aku telah melihat gelang kaki Hindun binti Uthbah dan teman-teman wanitanya karena berlarian tunggang langgang dan hampir saja mereka tertangkap.( Ibid).

 

KESALAHAN FATAL PARA PEMANAH

Ketika pasukan Islam yang sedikit itu untuk kedua kalinya mencatat kemenangan besar atas Mekkah, suatu kemenangan yang tidak kalah mengesankannya dari pada kemenangan yang mereka peroleh di medan Badar, terjadilah kesalahan fatal dari mayoritas pasukan pemanah, hingga membalikan total keadaan dan menyebab-kan kerugian besar pada pasukan Islam, bahkan hampir saja menjadi penyebab terbunuhnya Nabi. Hal ini benar-benar telah memberi-kan kesan buruk bagi kredibilitas dan kewibawaan yang telah mereka nikmati setelah perang Badar.

Telah kita sebutkan di atas teks perintah-perintah tegas yang Rasulullah berikan kepada pasukan pemanah itu, agar mereka tetap di tempat mereka di gunung dalam situasi apa pun, baik menang atau pun kalah, tetapi, meski ada perintah-perintah yang demikian kerasnya, ketika mereka melihat pasukan Islam sedang mengumpulkan ghanimah (harta rampasan perang musuh), ego mereka yang cinta dunia menang, sebagian berkata kepada yang lain, "Ghanimah, gharimah, para sahabat kalian telah menang, apa lagi yang kalian tunggu?." Adapun komandan mereka Abdullah bin Jubair, ia benar-benar telah mengingatkan mereka akan perintah-perintah Rasulullah, dia berkata, "Apakah kalian lupa pesan Rasulullah kepada kalian?."

Tetapi mayoritas pasukan tidak peduli sama sekali akan peringatan ini, mereka berkata, "Demi Allah, kami akan bergabung dengan mereka, sehingga kami akan memperoleh harta rampasan perang." Kemudian empat puluh prajurit atau lebih dari pasukan pemanah itu meninggalkan posisi mereka di bukit dan bergabung dengan mayoritas pasukan untuk ikut bersama mereka mengumpul-kan ghanimah. Dengan Demikian bagian belakang pasukan Islam tidak terlindungi, karena pasukan pemanah itu tidak tersisa kecuali Ibnu Jubair dan sembilan anak buahnya atau kurang dari itu, mereka

tetap pada posisi mereka, bertekad untuk tetap di sana hingga diizinkan bubar.

 

KHALID BIN AL-WALID MEMBUAT STRATEGI PENGEPUNGAN PASUKAN ISLAM

 

Khalid bin al-Walid memanfaatkan kesempatan emas ini, ia berputar dengan sangat cepat, hingga sampai di belakang pasukan Islam, tidak berapa lama kemudian ia pun membantai Abdullah bin Jubair dan anak buahnya lalu menyerbu pasukan Islam dari arah belakang mereka. Pasukan berkuda nak buah Khalid bin al-Walid berteriak, sehingga pasukan musyrikin yang kalah itu tahu adanya perkembangan baru, maka mereka berbalik ke arah pasukan Islam. Salah seorang wanita mereka Amrah binti Alqamah al-Haritsiyah-berlari dengan cepat dan mengangkat panji pasukan musyrikin yang tergeletak di tanah, sehingga orang-orang musyrik berkumpul di sekelilingnya dan mengerumuninya, sebagian mereka memanggil sebagian yang lain hingga mereka berkumpul untuk menyerang pasukan Islam, dan bersiap tegar menghadapi pertempuran, sehingga pasukan Islam terkepung dari depan dan belakang, terjepit di tengah-tengah medan pertempuran.

 

SIKAP KSATRIA RASULULLAH MENGHADAPI TAKTIK PENGEPUNGAN

 

Pada waktu itu Rasulullah bersama sekelompok kecil, yaitu sembilan orang sahabatnya di bagian belakang pasukan Islam,2 beliau sedang mengawasi mereka yang sedang membunuh dan mengejar pasukan musyrikin, ketika secara tiba-tiba mereka diserang oleh pasukan berkuda Khalid. Di hadapan beliau ada dua pilihan, yang pertama beliau menyelamatkan diri dengan cepat -bersama sembilan sahabatnya ke tempat perlindungan yang aman dan membiarkan pasukannya yang terkepung menuju takdirnya yang tertulis, sedang yang kedua mempertaruhkan nyawanya dan menyeru para sahabatnya agar berkumpul di sekitarnya kemudian bersama mereka membentuk front yang kuat untuk beliau gunakan membuka jalan ke arah bukit-bukit Uhud bagi para pasukannya yang terkepung.

Di sana tampaklah kejeniusan Rasulullah, dan keberanian-nya yang tiada tanding, beliau mengeraskan suaranya memanggil para sahabatnya, "Wahai hamba-hamba Allah." Beliau tahu bahwa

Disebutkan dalam Shahih Muslim, II/107; bahwa Nabi pada perang Uhud berada ber-sama tujah orang Anshar dan dua orang dari Quraisy.

 

Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah (artianya), "Sedang Rasul yang berada di antara kawan-katoenmu yang lain memanggil kamu." (Ali Imran: 153).

orang-orang musyrikin akan mendengar suara beliau sebelum didengar oleh orang-orang Islam, tetapi beliau memanggil dan menyeru mereka dengan mempertaruhkan jiwanya pada situasi yang genting ini.

Benar saja, pasukan musyrikin mengetahui keberadaan beliau, maka mereka pun merangsek ke arahnya, sebelum kaum Muslimin sampai kepada beliau.

 

Perselisihan Pasukan Islam Dalam Bersikap

Keadaan sekelompok pasukan Islam setelah mereka berada dalam pengepungan, menjadi kehilangan akal sehat, mereka tidak memikirkan kecuali diri mereka sendiri, mereka memilih melarikan diri dan meninggalkan medan pertempuran, mereka tidak tahu hikmah apa di balik ini semua. Di antara kelompok ini ada yang lari ke arah Madinah dan masuk ke dalamnya, sebagian lainnya lari ke atas gunung dan sebagian yang lain berlari ke arah pasukan musyrik sehingga mereka bercampur dengan mereka, kedua pasukan berbaur dan tidak dapat dibedakan sehingga terjadilah pembunuhan antar sesama prajurit Islam. Al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah, ia berkata, "Pada perang Uhud pasukan musyrik kalah telak, maka iblis berteriak, "Wahai hamba-hamba Allah, lihatlah ke belakang kalian -wapadalah serangan dari belakang kalian- maka barisan depan pun berbalik ke arah belakang, mereka dan barisan belakang akhirnya saling bunuh, Hudzaifah sadar, ia melihat ia berhadapan dengan bapaknya al-Yaman, maka ia berkata, "Wahai para hamba Allah! Bapakku, bapakku." Aisyah berkata, "Demi Allah mereka tidak mau berhenti hingga akhirnya mereka membunuhnya." Maka Hudzaifah berkata, "Mudah-mudahan Allah mengampuni kalian." Urwah berkata, "Demi Allah! dalam diri Hudzaifah senantiasa ada kebaikan hingga ia menemui Allah.” (Shahih al-Bukhariy, 1/539, Fathul Bariy, VII/351, 362, 363. Selain al-Bukhari menyebutkan bahwa Rasulullah ingin membayar diyah (ganti rugi) atas terbunuhnya bapaknya, Hudzaifah me menjawab, "Aku bersedekah dengan diyahnya untuk orang-orang Islam" hal itu menambah kebaikan Hudzaifah di sisi Nabi. Lihat Mukhtashar Siraturrasul: Syaikh Abdullah An Najdi, h.236).

Dalam kelompok ini terjadi kekalutan yang tidak terpekirakan, mereka dikuasai oleh kekacauan, banyak dari mereka yang bingung, tidak mengetahui ke mana harus bergerak. Ketika mereka dalam situasi seperti itu, tiba-tiba mereka mendengar teriakan seseorang, "Sesungguhnya Muhammad telah terbunuh," maka lenyaplah sisa kesadaran mereka dan runtuhlah semangat juang mereka, atau hampir

runtuh di dalam diri kebanyakan anggota kelompok itu, maka sebagian dari mereka berhenti berperang, melemparkan senjata-senjatanya dengan pasrah, dan sebagian yang lain berpikir untuk menghubungi Abdullah bin Ubay-gembong kaum munafik- agar ia dapat meminta jaminan keamanan untuk mereka kepada Abu Sufyan.

 

Anas bin an-Nadhir melewati mereka dalam keadaan mereka telah melemparkan senjata, ia berkata, "Apa yang kalian tunggu?", Mereka menjawab, "Rasulullah terbunuh." Ia bertanya, "Apa yang akan kalian lakukan sepeninggal beliau?, bangkit dan matilah seperti kematian Rasulullah, kemudian ia berkata, "Ya Allah, aku memohon maaf kepadamu atas apa yang mereka -orang-orang Islam perbuat-aku berlepas diri kepadamu atas apa yang mereka -orang-orang musyrik lakukan-." Kemudian ia maju dan bertemu dengan Sa'ad bin Mu'adz, ia bertanya, "Mau ke mana wahai Abu Amir? Anas men-jawab, "Aku mencium bau surga wahai Sa'ad! Aku mendapatinya ada di balik Uhud." Kemudian ia pergi dan memerangi pasukan musyrikin hingga gugur, ia tidak dikenali kecuali setelah dikenali oleh saudara perempuannya selesai perang- melalui jari jemarinya, sementara di badannya ada delapan puluh lebih luka, baik karena tusukan tombak, sabetan pedang dan hunjaman anak panah.( Záhel Mu'ad, II/93, 96. Shahih al-Bukhariy, 11/579).

Tsabit bin ad-Dahdah menyeru kaumnya dan berkata, "Wahai kaum Anshar! Jika Muhammad telah terbunuh, maka sesungguhnya Allah hidup tidak mati, peranglah demi agama kalian, karena sesungguhnya Allah akan memenangkan dan menolong kalian," maka bangkitlah berapa orang dari kalangan Anshar, lalu ia dan para sahabatnya menyerang pasukan berkuda Khalid, ia terus memerangi mereka hingga akhirnya dibunuh oleh Khalid dengan tombak dan terbunuh pula sahabat-sahabatnya. (As-Sirah al-Halabiyah, 11/22)

Seorang dari kalangan Muhajirin melewati seorang dari kalangan Anshar yang sedang berlumuran darah, ia berkata, "Wahai fulan, apakah engkau merasa bahwa Muhammad telah gugur?" Orang Anshar itu menjawab, "Jika Muhammad telah mati ia telah menyam-paikan risalah, maka berperanglah kalian demi agama kalian."(Zádul Ma'Ad, II/%).

 

 

Dengan jiwa patriotisme dan motivasi seperti ini pulihlah semangat juang para prajurit Islam dan kembalilah kesadaran dan akal sehat mereka, mereka meninggalkan pemikiran tentang menye-rah atau menghubungi Abdullah bin Ubay mereka mengambil lagi

senjata mereka, menyerbu barisan pasukan musyrik dan berupaya menerobos jalan menuju posisi komandan, mereka telah mendengar bahwa berita tentang terbunuhnya Nabi adalah berita bohong dan palsu, hal itu menambah kekuatan yang ada pada diri mereka, mereka pun berhasil lolos dari kepungan dan berhasil berkumpul di seputar tempat yang kokoh setelah bertempur dengan sengit dan berperang dengan keberanian luar biasa.

Di sana ada kelompok ketiga yang tidak mempedulikan apaun kecuali Rasulullah 堀 kelompok ini telah pergi mendekati Rasulullah ketika taktik pengepungan baru saja dilaksanakan, di barisan depan kelompok ini Abu Bakar ash Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, Ali bin Abi Thalib dan lainnya. Mereka sebelumnya ada di barisan depan para penyerang, tetapi ketika merasa bahaya mengancam diri Nabi yang mulia mereka pindah ke barisan depan tentara yang bertahan.

 

KEDAHSYATAN PERTEMPURAN DI SEKITAR RASULULLAH

 

Ketika kelompok-kelompok itu menghadapi taktik pengepungan dan terjepit di tengah-tengah pasukan musyrikin, pertempuran sengit terjadi di sekitar Rasulullah Telah kita sebutkan di atas bahwa pasukan musyrikin ketika memulai taktik pengepungan, tidak ada yang bersama Rasulullah kecuali sembilan orang, maka ketika beliau memanggil orang-orang Islam, "Mendekatlah kemari, aku Rasu-lullah," orang-orang musyrik mendengar suara beliau, maka mereka merangsek ke arah beliau dan menyerangnya dengan segala kekuatan mereka, mereka mengepung beliau sebelum satu pun dari pasukan Islam kembali mendekati beliau, maka terjadilah pertempuran sengit antara orang-orang musyrik dan kesembilan sahabat itu, di dalamnya tampaklah ungkapan cinta, pengorbanan, patriotisme dan kepahla-wanan yang tiada tara.

Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasu-lullah pada perang Uhud terpisah dari pasukan bersama tujuh orang dari kalangan Anshar dan dua orang dari suku Quraisy, maka ketika pasukan musyrik menyerang beliau, beliau berkata, "Siapa yang mau membela kami dari serangan mereka, maka baginya surga? Atau dia menjadi temanku di surga?." Maka majulah salah seorang dari Anshar dan bertempur hingga gugur, kemudian mereka menyerang beliau lagi, beliau berkata, "Siapa yang mau membela kami dari dengan mereka maka baginya surga? Atau dia menjadi temanku di surga?" Maka majulah seorang dari Anshar, selanjutnya bertempur hingga gugur, begitulahseterusnya hingga gugurlah ketujuh orang tersebut, maka Rasulullah berkata kepada kedua sahabatnya-yang dari Quraisy- "Alangkah tulusnya sahabat-sahabat kita."( Shahih Muslim bab Ghazwah Uhud, II/107).

Prajurit terakhir dari ketujuh orang itu adalah Imarah bin Yazid bin as-Sakan, bertempur hingga ia penuh dengan luka dan gugur. (Sesaat kemudian datanglah sekelompok prajurit Islam ke arah Nabi, mereka men-jauhkan orang-orang kafir itu dari dekat Imarah dan mendekatkannya pada Rasulullah beliau membantalinya dengan kakinya, ia pun mati dalam keadaan pipinya di atas kaki Rasulullah Ibnu Hisyam, 1/81. 3 Shahih al-Bukhariy, 1/527; II/571).

 

SAAT-SAAT PALING SULIT DALAM KEHIDUPAN RASULULLAH

 

Setelah gugurnya Ibnu as-Sakan Rasulullah hanya tinggal bersama dua orang Quraisy. Dalam Shahih al-Bukhariy dan Muslim dari Abu Utsman, ia berkata, "Tidak tersisa bersama Nabi ﷺ pada salah satu pertempuran-pertempuran tersebut kecuali Thalhah bin Ubaidillah dan Sa'ad bin Abu Waqqash, itu adalah saat paling sulit dalam kehidupan Rasulullah dan kesempatan emas bagi pasukan musyrikin, mereka tidak menunggu lama untuk memanfaatkan kesem-patan itu, mereka memfokuskan serangan pada Nabi dan sangat berambisi membunuh beliau, beliau dilempar batu oleh Uthbah bin Abu Waqqash dan mengenai lambungnya, gigi seri beliau sebelah kanan bagian bawah juga terkena, dan bibir bawahnya juga terluka, Abdullah bin Syihab az-Zuhri maju ke depan beliau dan melukai beliau di dahinya. Kemudian datanglah prajurit penunggang kuda yang sombong, Abdullah bin Qam'ah, ia membabat pundak Nabi dengan pedang dengan babatan yang keras, karena sabetan itu beliau mengeluh kesakitan lebih dari sebulan, tetapi sabetan itu tidak merobek dua baju besi beliau, lalu ia memukul dengan keras bagian atas pipi beliau seperti pukulan pertama, hingga dua lingkaran gelang topi besi Nabi masuk ke pipi beliau, "Rasakan pukulan ini, aku Ibnu Qam'ah." Rasulullah berkata sambil mengusap darah dari wajahnya, "Semoga Allah menghinakan dirimu."

Dalam Shahih al-Bukhariy disebutkan bahwa gigi seri Nabi ﷺ patah, kepalanya terluka dan darah mengalir darinya, kemudian

beliau berkata, "Bagaimana mungkin suatu kaum akan beruntung sedang mereka melukai wajah Nabi mereka?, dan mematahkan gigi serinya sedang Jia menyeru mereka kepada Allah", maka Allah menurunkan ayat:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٍ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

"Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu, atau Allah menerima taubat mereka atau mengazab mereka, karena sesungguh-mya mereka itu orang-orang yang zhalim." ( Shukh al-Bukhariy 11/582 dan Shahih Muslim, 11/108. (Ali Imran: 128)).

Dalam riwayat ath-Thabarani disebutkan bahwa beliau pada hari itu berkata, "Kemarahan Allah menjadi jadi atas suatu kaum yang membuat berdarah wajah Rasul-Nya, kemudian diam sebentar lalu berkata, "Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui." (FB VII/373)

Dalam Shahih Muslim beliau berkata, "Wahai Tuhanku, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak tahu." (Shahih Muslim bab Gharwah Uhud, II/108).

 Dalam kitab asy-Syifa' karangan al-Qadhi Iyadh, beliau berkata, "Ya Allah, berilah petunjuk pada kaumku karena mereka tidak tahu."

 

Tidak diragukan lagi bahwa pasukan musyrikin ingin meng-habisi Rasulullah hanya saja dua orang Quraisy, Sa'ad bin Abi Waqqash dan Thalhah bin Ubaidillah melakukan sikap kepahla-wanan yang tiada tara, dan bertempur dengan keberanian yang tiada duanya, sehingga mereka tidak memberi peluang bagi pasukan musyrikin untuk merealisasikan tujuannya padahal mereka hanya berdua saja, namun keduanya merupakan pemanah Arab yang ulung, maka keduanya pun memanahi lawan hingga mengusir sekelompok orang-orang musyrik dari dekat Rasulullah

Adapun Sa'ad bin Abi Waqqash, maka Rasulullah ikut membukakan sarung anak panahnya untuknya, dan berkata, "Panahlah, ibu Bapakku." Hal yang menunjukkan kemampuannya yang luar biasa, adalah bahwa Nabi tidak menggabungkan bapak ibunya dengan siapa pun selain Sa'ad.s

Tentang Thalhah bin Ubaidillah, Imam an-Nasa'i telah meriwa-yatkan dari Jabir bin Abdillah kisah pengepungan kaum musyrikin terhadap Nabi yang kala itu bersama sekelompok orang-orang Anshar, berkata Jabir, "Kaum musyrikin berhasil mendekati Rasu- lullah maka beliau berkata, "Siapa yang menghadapi mereka?", Berkata Thalhah, "Aku", kemudian Jabir mengisahkan tentang maju-nya orang-orang Anshar (menghadapi lawan) hingga akhirnya mereka gugur satu persatu, sama seperti yang kita sebutkan di atas dari riwayat Imam Muslim. Tatkala orang-orang Anshar gugur keseluruhan, Thalhah pun maju mengahadapi musuh. Jabir berkata, "Kemudian Thalhah bertempur bagaikan sebelas orang hingga akhirnya tangan-nya terkena bacokan dan jari-jemarinya putus, dia pun berkata, "Aduh!" Maka berkatalah Nabi, "Andai engkau mengatakan bismillah, niscaya para malaikat mengangkatmu dan orang-orang akan melihat." berkata Jabir, "Kemudian Allah mengusir orang-orang musyrik."1 Sedangkan pada riwayat al-Hakim di dalam al-Iklil disebutkan, bahwa Thalhah pada perang Uhud tersebut terluka sebanyak tiga puluh sembilan atau tiga puluh lima tikaman sedang jari-jemarinya putus, yaitu jari telunjuk dan jari tengah. 2

 

Al-Bukhari meriwayatkan dari Qais bin Abi Hazim, ia berkata, "Aku melihat tangan Thalhah terpotong, dengan tangan itu ia melin-dungi Nabi pada perang Uhud. 3

 

At-Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ pada hari itu berkata tentang Thalhah, "Barangsiapa ingin melihat seorang syahid yang berjalan di atas bumi, maka hendaknya melihat Thalhah bin Ubaidillah."4

 

Abu Dawud Ath Thayalisi meriwayatkan dari Aisyah, ia berka-ta, "Abu Bakar jika ingat perang Uhud berkata, "Hari itu semuanya pertempuran Thalhah."s

 

Abu Bakar juga bersenandung tentangnya,

 

"Wahai Thalhah bin Ubaidillah, sungguh engkau berhak masuk surga dan duduk di atas mutiara yang indah."6

 

Dalam situasi mendebarkan dan saat yang sulit itu, Allah me-nurunkan pertolongan-Nya secara ghaib, disebutkan di dalam Shahih al-Bukhariy dan Muslim dari Sa'ad, ia berkata, "Aku melihat Rasulullah pada perang Uhud, ditemani dua orang yang berperang mem-belanya, mereka memakai baju berwarna putih, mereka berperang dengan sangat gagah. Aku tidak pernah melihatnya baik sebelum atau sesudah perang." Dan dalam riwayat lainnya disebutkan, "Mereka adalah Jibril dan Mikail."1

 

Awal Berhimpunnya Para Sahabat Di Sekitar Rasulullah

 

Rentetan peristiwa di atas terjadi dengan sangat cepat dalam waktu yang sangat singkat, terbukti, para sahabat pilihan Nabi-yang berada di barisan depan pasukan Islam ketika peperangan- hampir tidak tahu perkembangan situasi atau mendengar suara beliau sehingga dengan demikian mereka segera mendekat kepada beliau, agar tidak menimpanya apa yang tidak merea kehendaki, mereka baru mencapai posisi beliau ketika beliau telah menderita luka-luka -dan empat orang Anshar telah terbunuh, prajurit ketujuh telah terluka parah sedang Sa'ad dan Thalhah berjuang mati-matian- ketika telah tiba di dekat beliau mereka membuat pagar dari tubuh sedangkan senjata mereka di sekitar beliau, mereka sangat serius dalam melin-dungi beliau dari gempuran musuh dan menangkis serangan mereka. Orang pertama yang kembali ke dekat beliau adalah sahabat setianya, Abu Bakar Ash Shiddiq.

Ibnu Hibban dalam Shahihnya meriwayatkan dari Aisyah, ia berkata, "Abu Bakar Ash Shiddiq berkata, "Ketika terjadi perang Uhud seluruh prajurit lari meninggalkan Nabi, aku adalah orang pertama yang kembali mendekati Nabi aku melihat di depan beliau ada seorang pria yang membela dan melindungi beliau, aku berkata dalam hati, "Semoga engkau Thalhah, bapak dan ibuku menjadi tebusanmu, hal itu aku katakan karena terlewat dariku beberapa peristiwa. Aku berkata dalam hati, "Jika dia adalah pria dari kaumku tentu lebih aku suka)², tidak beberapa lama Abu Ubaidah bin al-Jarrah menyusulku, ia berlari cepat seperti seekor burung, hingga dapat menyusulku, maka kami bergegas ke arah Nabi ternyata di hadapan beliau Thalhah terkapar, Nabi ﷺ bersabda, "Tolonglah saudara kalian, ia berhak mendapatkan surga." Nabi ﷺ telah terkena panah di tulang pipinya hingga dua keping lingkaran topi besinya masuk ke dalamnya. Maka aku pun maju untuk mencabut keduanya dari pipi Nabi. Namun Abu Ubaidah berkata, "Aku me mintamu dengan nama Allah wahai Abu Bakar! Biarkanlah aku yang mengambilnya. Abu Bakar melanjutkan, "Kemudian Abu Ubaidah mengambil dengan mulutnya, lalu ia menggerak-gerakkannya dengan pelan takut menyakiti Rasulullah kemudian ia mencabut anak panahnya dengan mulutnya maka tanggallah gigi seri Abu Ubaidah.

Abu Bakar melanjutkan, "Lalu aku maju kembali untuk mengambil yang satu lagi, tetapi Abu Ubaidah berkata lagi, 'Aku memohon kepadamu dengan nama Allah wahai Abu Bakar biarlah aku yang mencabutnya. Abu Bakar berkata lagi, "Kemudian dia mengambil nya dengan menggerakkannya hingga ia dapat mencabutnya, maka bergeraklah gigi seri Abu Ubaidah yang lain, kemudian Rasulullah bersabda, "Tolonglah saudaramu, ia telah berhak mendapatkan surga." Abu Bakar berkata lagi, "Maka kami mendekati tubuh Thalhah untuk mengobatinya, ia telah terkena belasan tikaman', (ini juga menunjuk-kan sejauh mana kecakapan Thalhah pada hari itu dalam pertempuran dan peperangan).

Pada saat-saat yang genting tersebut di sekitar Nabi telah berkumpul sekelompok orang yang terdiri dari pahlawan Islam, di antara mereka adalah Abu Dujanah, Mush'ab bin Umair, Ali bin Abu Thalib, Sahal bin Hanif, Malik bin Sinan, bapak Abu Said al-Khudri, serta Ummu Ammarah Nasibah binti Ka'ab al-Maziniah, Qatadah bin an-Nu'man, Umar bin al-Khaththab, Hathib bin Abu Balta'ah, dan Abu Thalhah.

 

MENGUATNYA TEKANAN PASUKAN QURAISY

 

Sebagaimana jumlah pasukan musyrik bertambah setiap saat, maka tentu saja menguat pula serangan mereka dan bertambahlah tekanan mereka terhadap pasukan Islam, hingga Rasulullah jatuh di salah satu lubang yang dipergunakan Abu Amin si fasik untuk menjebak beliau dan terkelupaslah lutut beliau maka, Ali menarik beliau dengan tangannya lalu beliau digandeng oleh Thalhah bin Ubaidillah hingga dapat berdiri tegak. Nafi' bin Jubair berkata, "Aku mendengar seorang dari kaum Muhajirin berkata, "Aku terlibat dalam perang Uhud, aku melihat anak panah datang dari berbagai arah, dan Rasulullah ada di tengah medan peperangan, semua anak panah meleset dari beliau. Pada hari itu aku melihat Abdullah bin Syihab ar-Zuhri berkata, "Tunjukkan kepadaku di mana Muhammad. aku tidak selamat jika ia selamat, padahal Rasulullah ada di sam-pangnya, tidak ada seorang pun bersamanya, lalu beliau melewatinya, maka ia pun dicaci oleh Shafwan karena ketidaktahuannya akan keberadaan Rasulullah ia berkata, "Demi Allah, aku tidak melihat-nya, aku bersumpah atas nama Allah bahwa ia benar-benar terlindungi dari incaran kita, kemudian kami berempat pergi berjanji dan sepakat untuk membunuhnya, namun ternyata kami tidak bisa mewujudkannya.

 

-----000-----

Disadur dari Arrahikul makhtum Syaikh Syafiyurrahman al-Mubarak Fury.

Ditulis ulang oleh Abu Ibrahim Junaedi.

 

 

 

TERJADINYA PERANG UHUD.

  TERJADINYA PERANG UHUD.   UPAYA PARA WANITA QURAISY DALAM MEMBANGKITKAN SEMANGAT Para wanita Quraisy menunaikan tugas mereka dalam p...