Kamis, 27 November 2014

BERBEKAL UNTUK MENUJU AKHIRAT.





1.     MANUSIA AKAN MATI
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. QS.3 Al Imraan:185.
Ibnu Katsir رحم الله  di dalam tafsirnya berkata:
يُخْبِرُ تَعَالَى إِخْبَارًا عَامًّا يَعُمُّ جَمِيعَ الْخَلِيقَةِ بِأَنَّ كُلَّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ، كَقَوْلِهِ: {كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ. وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ} فَهُوَ تَعَالَى وَحْدَهُ هُوَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْإِنْسُ وَالْجِنُّ يَمُوتُونَ، وَكَذَلِكَ الْمَلَائِكَةُ وَحَمَلَةُ الْعَرْشِ…..
Allah I mengabarkan secara umum kepada seluruh makhluknya bawa setiap jiwa akan merasakan kematian sebagaimana firman Allah ta’ala:“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”QS.55 Ar Rahman:26-27. Hanya Dia yang saja satu-satunya yang kekal dan tidak akan mati sedangkan manusia dan jin mereka akan mati, demikian pula malaikat dan yang membawa Arsy....”
Setiap orang pasti akan meyakini bahwa dirinya cepat atau lambat pasti akan mati, baik di cabut nyawanya ataupun yang sudah tidak memiliki harapan dan putus asa dengan dunia ini, seseorang suka ataupun tidak dirinya akan berpisah dari apa yang dia cari, ajal akan tiba setiap saat baik pagi sore siang dan malam, setelah itu semua akan di tinggalkan, hanya saja yang meherankan kita, kebanyakan diantara manusia tidak menyiapkan bekal untuk menuju yang yakin (mati) sedangkan dunia yang dia kejar dengan tak kenal lelah, belum tentu menjamin dirinya bahagia, inilah kebanyakan yang manusia lakukan. 
1)   Banyak mengingat kematian.
أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
“Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (kematian).” (HR. At-Tirmidzi no. 2307,         An-Nasa`i no. 1824, Ibnu Majah no. 4258. Asy-Syaikh Al-Albani رحم الله  berkata tentang hadits ini, “Hasan shahih.”)
hendaknya kita membayangkan apa yang bisa kita lakukan seandainya kita sudah tergeletak di jalan, di rumah sakit, atau dirumah sedang keluarga hanya bisa menangisi.
Ad-Daqaaq berkata, ”Barangsiapa yang memperbanyak mengingat mati akan dimuliakan dengan tiga perkara, yakni segera bertaubat, qana’ah-nya hati, dan rajin dalam beribadah. Sedangkan barangsiapa yang melalaikan kematian niscaya akan ditimpa musibah, yakni menunda taubat, tidak puas dengan apa yang telah didapat dan malas dalam beribadah.”

2)   Hendaknya menyadari umur kita tidak panjang.
     Nabi r bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari sahabat Abu Hurairah t :

أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ
    “Umur-umur umatku antara 60 hingga 70, dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.”(Dihasankan sanadnya oleh Ibnu Hajar t dalam Fathul Bari, 11/240)

Berapa umur kita sekarang???  Apakah sisa itu di jamin akan di berikan semua kepada kita??  ataukah kita hanya menunggu tahun?? Bulan ??  ataukah justru hanya tinggal menggu hari?? Sudahkah kita berbekal? Benarkah kita sudah berbekal??
3)   Menyadari bahwa ajal setiap saat mendatanginya.
Allah Subhana wata’ala  berfirman:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. QS.7 Al A’raaf: 34.  Apakah kita menyadari bahwa Allah mengulang-ulang hal ini?? diantaranya pada QS.16 An Nahl: 61, QS.10 Yunus: 49.
Tidaklah  AllahI mengulang-ulang hal ini kecuali agar manusia memperhatikan, namun berapa banyak orang-orang memperhatikan???.

2.     MENYIAPKAN BEKAL SEBELUM AJAL TIBA
Waktu yang kita lalui lebih mulia dari apapun yang ada di muka bumi ini karena apa yang ada di bumi betapapun mahalnya masih bisa di beli, akan tetapi waktu yang di berikan kepada kita sungguh sangat terbatas dan tidak bisa di beli dengan apapun, hendaknya kita menyadari hal ini dengan cara sebagai berikut:
1)   Menyiapkan bekal sesegera mungkin selagi masih ada kesempatan.
 Allah I berfirman:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
Berbekallah, dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. QS.2 Al Baqarah: 197
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu longgar”. HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihati kepada seseorang dengan mengatakan:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَشَبَابَكَ قَبْلَ   هَرَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa hidupmu sebelum matimu, masa sehatmu sebelum sakitmu, masa senggangmu sebelum masa sibukmu, masa mudamu sebelum tuamu, dan masa kaya/kecukupanmu sebelum fakirmu.” (HR. Al-Hakim dan selainnya. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1077)
Allah I  berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS 62 Al-Hasyr: 18.

Ibnu Katsir رحم الله  berkata: “Hisablah diri kalian sebelum dihisab, perhatikanlah apa yang sudah kalian simpan dari amal shalih untuk hari kebangkitan serta (yang akan) dipaparkan kepada Rabb kalian.” Taisir Al-‘Aliyil Qadir, 4/339
2)   Keberhasilan hanya bisa di raih dengan kesungguhan dan pengorbanan.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. QS.2 Al Baqarah:207.
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami akan tunjuki mereka kepada jalan-jalan Kami dan seungguhnya Allah senantiasa bersama dengan orang yang berbuat baik. QS. 29 Al-Ankabut: 69.
3)   Menyadari bekal yang dia kumpulkan sangat terbatas sedang perjalanan sangat panjang.
Yang mana di mulai dengan ujian kubur, di kumpulkan di maghsyar,  hisab, di timbang amalannya, meniti sirat yang di penuhi dengan kalalip, yang menyambar siapapun yang akan di kehendaki, dia pun akan di qisas, dan lain sebagainya.
3.     MEMANDANG RENDAH DUNIA INI.
Sesungguhnya Allah dan rasulNya sangat merendahkan dunia ini, Allah I berfirman:
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا . وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى .
“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’laa: 16-17).
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِالسُّوقِ، دَاخِلًا مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ، وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ، فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ، فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ، ثُمَّ قَالَ: أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟ فَقَالُوا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ، وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ قَالُوا: وَاللهِ لَوْ كَانَ حَيًّا، كَانَ عَيْبًا فِيهِ، لِأَنَّهُ أَسَكُّ، فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ، مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ،
Dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah saw melintas masuk ke pasar seusai pergi dari tempat-tempat tinggi sementara orang-orang berada disisi beliau. Beliau melintasi bangkai anak kambing dengan telinga kecil(cacat), beliau mengangkat telinganya lalu bersabda: "Siapa diantara kalian yang mau membeli ini seharga satu dirham?" mereka menjawab: "Kami tidak mau memilikinya, dan kami tidak bisa berbuat apa apa kepadanya", Beliau bersabda: "Apa kalian mau (bangkai) ini milik kalian?", mereka menjawab: "Demi Allah, andai masih hidup pun ada cacatnya karena telinganya menempel, lalu bagaimana halnya dalam keadaan sudah mati?", Beliau bersabda: "Demi Allah, dunia lebih hina bagi Allah melebihi (bangkai) ini bagi kalian". (HR. Muslim : 5257)
1)    memandang orang yang lebih rendah dari kita dalam masalah harta, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاء
“Seandainya dunia punya nilai di sisi Allah walau hanya menyamai nilai sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir seteguk airpun.” (HR. At-Tirmidzi no. 2320, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 686)
4.     BERSKAP  ZUHUD DAN WARA’
zuhud adalah meninggalkan semangat untuk meraih hal yang tidak bermanfaat bagi akhirat seperti berlebihan dalam hal-hal yang mubah yang dapat membuat seseorang lalai dari ketaatan kepada Allah
adapun wara’ yang syar’i adalah meninggalkan hal-hal yang dapat membahayakan nasib kita di akhirat, termasuk di dalamnya adalah meninggalkan hal-hal yang haram dan syubhat karena perkara syubhat itu terkadang merupakan hal membahayakan nasib seseorang di akhirat.
Namun perlu diketahui bahwa zuhud dan wara itu adalah sebuah tingkatan yang tidak dicapai oleh semua orang, Ibnul Qayyim dalam Al Fawaid mengatakan:
والقلب المعلق بالشهوات لا يصح له زهد ولا ورع
“hati yang selalu terkait dengan syahwat tidak sah baginya zuhud dan wara'”
Nabi r  bersabda:

لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ
“Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu).” (HR. At-Tirmidzi dari jalan Ibnu Mas’ud z. Lihat Ash-Shahihah, no. 946)

رَوَى الْقُرْطُبِيُّ عَنْ مَالِكِ بْنِ دِينَارٍ قَوْلَهُ: لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا مِنْ ذَهَبٍ يَفْنَى، وَالْآخِرَةُ مِنْ خَزَفٍ يَبْقَى، لَكَانَ الْوَاجِبُ أَنْ يُؤْثَرَ خَزَفٌ يَبْقَى عَلَى ذَهَبٍ يَفْنَى، فَكَيْفَ وَالْآخِرَةُ مَنْ ذَهَبٍ يَبْقَى وَالدُّنْيَا مِنْ خَزَفٍ يَفْنَى؟
 Al Qurtubi meriwayatkan dari Malik Bin Dinar “Seandainya dunia adalah emas yang akan fana, dan akhirat adalah tembikar yang kekal abadi, maka tentu saja seseorang wajib memilih sesuatu yang kekal abadi (yaitu tembikar) daripada emas yang nanti akan fana. Padahal sebenarnya akhirat adalah emas yang kekal abadi dan dunia adalah tembikar nantinya fana.”
( Maktabah Syamilah) “Adwaul Bayaan” Syaikh Muhammad As Sangkiti bab 16 juz 8 halaman 504 ir)
5.     MENJAHUI CARA HIDUP ORANG KAFIR
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ أَنَّ لَهُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لِيَفْتَدُوا بِهِ مِنْ عَذَابِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang dibumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih. QS.5 Al Maidah:36.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
“Barangsiapa dunia menjadi tujuan akhirnya, Allah jadikan semua urusannya tercerai-cerai, kefakiran selalu ada di depan matanya, dan tidak diberikan padanya bagian dari dunia kecuali sebatas apa yang telah ditetapkan Allah baginya. Sedangkan barangsiapa akhirat menjadi tujuan akhirnya, Allah himpun semua urusannya, kekayaan ada dalam hatinya, dan dunia mendatanginya begitu saja dengan tertunduk.” [Al-Jami' Ash-Shaghir]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّه”.
“Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang di atas kalian; sebab hal itu akan mendidik kalian untuk tidak meremehkan nikmat Allah”. HR. Muslim
Suatu ketika Ibnu Mas’ud z melihat Rasulullah n tidur di atas selembar tikar. Ketika bangkit dari tidurnya tikar tersebut meninggalkan bekas pada tubuh beliau. Berkatalah para sahabat yang menyaksikan hal itu, “Wahai Rasulullah, seandainya boleh kami siapkan untukmu kasur yang empuk!” Beliau menjawab:
مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
“Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain kecuali seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon, lalu beristirahat, kemudian meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2377, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (HR. Al-Bukhari no. 6416)
sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam:
“Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril Alaihissalam) membisikkan ke dalam hati sanubariku bahwasanya tidak akan mati suatu jiwa hingga terpenuhi rizki dan ajalnya. Maka bertakwalah kalian kepada Allah, perbaguslah caramu dalam mencari rizki, dan janganlah rizki yang terlambat datangnya itu memaksamu untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah tidak akan dapat diperoleh kecuali dengan mentaati-Nya.” (Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, X/27 dan yang lainnya dari Abu Umamah. Lihat kitab Shahiihul Jaami no. 2085)
Semoga bermanfaat bagi penulis dan kaum muslimin, amin
Abu Ibrahim Junaedi

MEWASPADAI ISTIDRAAJ MENIMPA DIRIKTA. (KESENANGAN YANG MENIPU)



       
Tidaklah sebuah kenikmatan yang mengenai seseorang ataupun segala macam bentuk kesedihan dan kekurangan merupakan ukuran kecintaan dan kebencian Allah -subhanahu wa ta’ala- kepada seseorang, oleh karena itu Allah berfirman:
   فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ . وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ . كَلَّا…..
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku”. Sekali-kali tidak (demikian),…QS,89.Al Fajr:15-17.
Oleh karena itu banyak manusia di uji dengan kesedihan dan petaka mereka sadar dan kembali kepada Allah sedangkan orang-orang yang di uji dengan kenikmatan justru mereka tidak sanggup dan sedikit demi sedikit mereka jauh dan akhirnya benar-benar lupa kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- sehingga berakhir dengan binasa. Rasululah salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَنِ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ: " إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ". ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: )فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ( . رَوَاهُ أَحْمَدُ.
Nabi salallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda: jika kamu melihat Allah subhanahu wa ta‘ala memberi sebagian nikmat kepada seorang hamba sesuai kesukaanya diatas berbagai kemaksiatannya, maka itu hanyalah istidraj (kenikmatan yang menipu) dalam kitab Al Musnad Imam Ahmad (IV/145) Al Hafid Al-‘Iraqi menghasankan di dalam Tahrij al Ihya’(IV/132).   
Kemudian Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam kemudian membacakan firman Allah:
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ44.  Maka Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.
            Hendaknya kita semua mewaspadai hal ini sehingga jangan sampai dirinya binasa karena kelalainnya. Semoga bermanfaat. Amin
Sragen 27-11-2014
                 A.Ibrahim,Junaedi Abdullah.

SUDAH SIAPKAH KITA MATI???





Saat berbicara mati seakan-akan akal kita tak sanggup membayangkan, bagaimana tidak, karena setiap usaha yang di curahkan, baik harta, waktu, tenaga dan pikiran semua akan terputus dan di tinggalkan, bagaimana perjalanan berikutnya rasa-rasannya seakan belum siap menerima,,,,,,namun meskipun setiap hati berat menerima, setiap akal selalu berhayal kematian akan tetap mendatangi seseorang.

Oleh karena itu Rasulullah salallahu 'alahi wa sallam perintahkan agar kita senantiasa mengingat kematian, tentu di dalamnya memiliki banyak hikmah, baik yang di ketahui ataupun tidak di ketahui, setidak-tidaknya menjadi kendali hidup kita di dunia, pemberi semangat ibadah untuk meraih di akhirat, tidak menjadikan seseorang panjang angan-angan, Rasulullah salallahu 'alahi wa sallam bersabda:
أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
“Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (kematian).” (HR. At-Tirmidzi no. 2307, An-Nasa`i no.1824, Ibnu Majah no. 4258. Asy-Syaikh Al-Albani رحم الله  berkata tentang hadits ini, “Hasan shahih.”)

Allah mengingatkan hal ini banyak sekali di dalam Al Qur'an:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. QS.3 Al Imraan:185.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. QS.7 Al A’raaf: 34.  Apakah kita menyadari bahwa Allah mengulang-ulang hal ini?? diantaranya pada QS.16 An Nahl: 61, QS.10 Yunus: 49.
Tidaklah  Allah subhanahu wa ta'ala mengulang-ulang hal ini kecuali agar manusia memperhatikan, namun berapa banyak orang-orang memperhatikan???.

KISAH NYATA DI DAERAHKU SAAT KEMATIAN DATANG

* Seorang gadis jalan-jalan di hari minggu seperti umumnya anak-anak muda sekarang namun rupanya ajal telah tiba tak sengaja tleser (alat pengerat padi) menyambarnya dia pun akhirnya meninggal dunia.

* Seorang tetanggaku masuk ke toilet lama ndak keluar-keluar tahu-tahu dia roboh di dalam, nyawanyapun tak bisa di selamatkan, sehingga akhirnya meninggal.

* seorang laki-laki paruh baya di pagi yang cerah, menyiram tamannya ada sesuatu yang berat di rasa sehingga dia bersandar di tiang rumahnya, tak lama kemudian dirinya roboh dan meninggal.

* Seorang yang tidur pulas berselimut namun tak sadar di malam hari sebuh bus masuk kekamarnya sehingga menyebabkan kematian pada dirinya.

* Seorang yang mengijabkan anaknya, belum lagi selesai apa yang dia katakan dirinyapun tak kuat sehingga harus bersandar dan pada akhirnyapun meninggal, jadilah pesta suka dan berakhir dengan duka.

* Seorang pemuda yang tegar dan sehat namun saat pulang dari bepergian tubuhnya luka karena tabrakan sehingga orang tuannya berat menerima, dan ada beberapa lagi namun saya kira cukup untuk mengingatkan saya sendiri dan juga rekan-rekanku yang saya kasihi karena Allah, tentang hal ini.   semoga bermanfaat.
 
                                                                                                               Abu Ibrahim 

HAL-HAL YANG BERKAITAN DENGAN IMAN KEPADA KITAB ALLAH.




1.    Wajib beriman secara global bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menurunkan kitab kepada nabiNya, dan juga rasulNya, untuk menjelaskan hakekat tauhid dan mendakwahkannya.
Allah subhanahu wa ta’al berfirman:
لقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ .
Sesungguhnya kami Telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan Telah kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.QS.57 Al Hadiid:25
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ
Rasul Telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. QS,2.Al Baqarah:285
2.    Kita mengimani dalam bentuk rinci sebagaimana Allah sebutkan seperti, Zabur,Taurat, injil, dan juga Al Qur’an, dan Al Qur’an adalah yang paling utama dan sebagai penutupan serta ujian atasnya, membenarkan sebelumnya.

3.    Inti dan pokok pada kitab dahulu Allah telah lestarikan di dalam Al Qur’an.

 وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ.
Dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.QS.2. Al Baqarah:83

4.    Injil telah membenarkan Taurat dan senghapus hukumnya, kewajiban pengikutnya mengimani Injil, Al Qur’an membenarkan Injil dan juga telah menghapus hukumNya, kewajiban pengikutNya mengikuti Al Qur’an, barang siapa mengingkarinya maka dia telah kafir.
وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ
Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata." QS.61 As Shaff: 6.
5.    Kitab-kitab dahulu telah dirobah-robah dengan tangan ahlul kitab.

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ.
Maka Kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka Kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan Kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.QS.2. Al Baqarah:79.

6.    Allah senantiasa menjaga Al Qur’an dari pemalsuan.
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya kami pula yg akan menjaganya?. QS. 15. Al Hijr: 9
Bahkan Allah menantang orang-orang yang meragukan Al Qur’an agar membuat semisal Al Qur’an, namun tidaklah ada yang mampu sampai detik ini.

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ . فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ .
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. QS.2.Al Baqarah:23-24.

7.    Kewajiban mempelajari, mengamalkan dan berhukum dengan Al Qur’an.

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ.
Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah, Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. QS.12.Yusuf:40

8.    Tidak boleh membenturkan Al Qur’an dengan Hadis yang shahih, atau hanya mau berpegang kepada Al Qur’an saja,  semua ini adalah kesesatan, karena Hadis adalah yang menjelaskan Al Qur’an, tidak mungkin Rasulullah -salallhu ‘alaihi wa sallam- akan menyelisihi Allah yang telah mengutusnya.
مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى . وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى . إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). QS.53 An Najm:2-4.

9.    Barang siapa berpaling dengan Al Qur’an, Allah siksa  di dunia dan akhiratnya. Sebagaimana diantara tafsir ayat berikut ini:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى . قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, Mengapa Engkau menghimpunkan Aku dalam keadaan buta, padahal Aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" QS.20, Thahaa:124-125.
10.           Hendaknya memahami kitabullah (Al Qur’an) dengan  kaedah-kaedah yang telah di sepakati para ulama.
1)    Seperti menafsirkan Al Qur’an dengan Al Qur’an. Karena Allah lebih tahu maksud ayat tersebut.
2)    Al Qur’an di tafsirkan dengan hadis. Karena Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam orang yang paling tahu sebelum manusia yang lain.
3)    Al Qur’an di tafsirkan sebagaimana apa yang telah di tafsirkan sahabat. Karena Al Qur’an turun pada mereka.
4)    Al Qur’an di tafsirkan sebagaimana tafsir para tabi’in karena mereka murid-murid sahabat dan termasuk generasi yang memiliki keutamaan.
5)    Al Qur’an di pahami dengan bahasa arab, karena Al Q ur’an di turunkan dengan bahasa arab.
Allahu a’lam bissowab, semoga bermanfaat bagi penulis dan kaum muslimin, amiin.

Refrensi:
·       Al Qur’an dan terjemahan Depag.
·       Maktabah Syamillah.
·       Penjelasan Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, Syaikh Bin Baz.
·       Usul Tafsir Syaikh Utsaimin.

Sragen 27-11-2014
Abu Ibrahim.

BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.

  BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.     س ١ - بِمَاذَا نَتَوَسَّلُ إِلَى اللَّهِ؟ Soal 1 : Dengan apa kita bertawassul...