٣ -وَحْدَةُ الْوُجُودِ وَاعْتِقَادُ حُلُولِ اللَّهِ
تَعَالَىٰ فِي شَيْءٍ مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ أَوِ اتِّحَادِهِ بِهِ كُلُّ ذٰلِكَ
كُفْرٌ مُخْرِجٌ مِنَ الْمِلَّةِ.
3.Paham kesatuan wujud, dan yakin bahwa Allah
ta‘ala menyatu (hulul) dalam salah satu makhluk-Nya, atau bersatu
(ittihad)dengannya, semuanya adalah kekufuran yang mengeluarkan dari agama
(Islam).
-----000-----
Penjelasan:
Beraneka ragam keyakinan yang menyimpang pada
masyarakat kita, di antara keyakinan tersebut adalah keyakinan hulul, atau
ittihad, hal ini bukan hanya terjadi pada kaum kafir saja bahkan agama-agama samawi
juga ada yang meyakini hal itu, misalnya Nasrani dan bahkan sebagian kaum
muslimin yang menyimpang.
Sedikit kita urai kesesatan ini sebagai berikut:
1.
Pengertian Wihdatul
Wujud.
وَحْدَةُ = kesatuan
الْوُجُودِ = wujud/keberadaan
Adapun yang dimaksud dengan paham wahdatul wujud
adalah keyakinan bahwa pada hakikatnya wujud itu satu, yaitu Allah, sedangkan
makhluk dianggap sebagai bagian atau penampakan dari wujud tersebut. Dengan
demikian, tidak ada perbedaan hakiki antara Allah dan makhluk menurut paham sesat
ini.
Demikian pula yang disampaikan dalam kitab Al
Firaq:
Wihdatul Wujud adalah keyakinan bahwa Allah
ta’ala menyatu dengan alam semesta. Tidak terpisah antara makhluk dan Khaliq
(Sang Pencipta). Karena itu, wujud alam semesta ini hakekatnya merupakan wujud
Allah sendiri. Sehingga dzat makhluk adalah Dzat Allah itu sendiri. (Al-Firaq al-Mu‘ashirah wa Mauqifu Ahli
as-Sunnah Minha, Ghalib bin Ali ‘Awaji)
Hululiyyah: meyakini Allah menitis atau bersemayam ke dalam
makhluk.
Ittihadiyyah: meyakini Allah menyatu atau menjadi satu dengan
makhluk.
2. Pencetus dan yang menyebarkan
keyakinan Wihdatul Wujud.
Pencetus aqidah ini adalah seorang tokoh sufi bernama
Husain bin Manshur, yang lebih dikenal dengan sebutan al-Hallaj. Ia memiliki
keyakinan bahwa Allah diibaratkan seperti ruh yang berada dalam setiap benda,
serta tidak ada pemisah antara al-Khaliq (Sang Pencipta) dengan makhluk.
Dalam salah satu bait syairnya, al-Hallaj mengatakan:
أَنَا مَنْ أَهْوَى وَمَنْ أَهْوَى أَنَا.
“Aku adalah Dia yang aku
cintai, dan Dia yang aku cintai adalah aku.
نَحْنُ رُوحَانِ حَلَلْنَا بَدَنًا
Kami adalah dua ruh yang
menyatu dalam satu jasad.
فَإِذَا أَبْصَرْتَنِي أَبْصَرْتَهُ
Apabila engkau melihatku,
berarti engkau melihat-Nya.
وَإِذَا أَبْصَرْتَهُ أَبْصَرْتَنِي
Dan apabila
engkau melihat-Nya, berarti engkau melihatku.” (Firaq Mu‘ashirah, 3/988)
3. Kesesatan wihdatul wujud telah
ada sebelum Islam.
Selain dalam sebagian ajaran tasawuf yang menyimpang,
keyakinan tentang Tuhan yang menjelma atau menyatu dengan makhluk juga ada
kemiripan dengan ajaran-ajaran agama lain yang telah dikenal agama sebelum
Islam.
“Contohnya adalah
di India. Dalam sebagian ajaran Hindu, terdapat keyakinan bahwa Tuhan dapat
turun dan menjelma dalam bentuk tertentu di dunia. Salah satu contohnya adalah
Kresna (Krishna), yang dalam tradisi Hindu tertentu diyakini sebagai penjelmaan
Wisnu.”
“Keyakinan
wihdatul wujud juga memiliki kemiripan dengan keyakinan dalam agama Kristen.
Dalam ajaran Kristen terdapat keyakinan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan yang
menjadi manusia. Keyakinan ini dikenal dengan istilah inkarnasi (Tuhan
mengambil bentuk manusia atau menjadi manusia.). Dengan demikian, keyakinan
tersebut tidak jauh berbeda dalam sisi tertentu dengan konsep hulul, yaitu
keyakinan tentang Tuhan yang hadir atau berada dalam diri makhluk.
Adapun keyakinan wihdatul wujud yang diyakini
orang-orang sufi mereka lebih sesat, karena mereka meyakini bahwa semua yang
tampak adalah perwujudan dari Tuhan menurut mereka, di antara ucapan yang
diucapkan Ibnu Arabi :
فَيَحْمَدُنِي وَأَحْمَدُهُ، وَيَعْبُدُنِي وَأَعْبُدُهُ
“Maka
Dia memujiku dan aku pun memuji-Nya. Dia menyembahku dan aku pun
menyembah-Nya.” (Dinukil dari al-Futuḥat
al-Makkiyyah, juga Syarah al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah Safar bin ‘Abdurrahman
al-Hawali)
وَمَا الْكَلْبُ وَالْخِنْزِيرُ إِلَّا إِلَهُنَا
“Tidaklah anjing dan babi
kecuali sesembahan kami.
وَمَا اللَّهُ إِلَّا رَاهِبٌ بِكَنِيسَةٍ
dan
tidaklah Allah kecuali seorang pendeta di gereja.” (Judul kitab: Tashih al-Mafahim fi
Janib al-‘Aqidah, Abu Ahmad Muhammad Aman bin Ali Jami Ali wafat tahun 1415 H).
4. Kesesatan wihdatul wujud.
1) Menyamakan antara
khalik (pencipta) dan makhluk (yang dicipta).
Paham ini merupakan keyakinan yang batil karena
mencampurkan antara Al-Khaliq (Pencipta) dengan makhluk. Padahal Allah adalah
Pencipta dan seluruh selain-Nya adalah makhluk.
Allah Ta’ala berfirman:
اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ
“Allah adalah Pencipta segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar[39]:
62)
اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ
“Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia adalah
Pemelihara atas segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar [39]: 62).
2) Menyamakan antara yang disembah
dan yang menyembah.
Allah ta’ala berfirman:
أَفَمَن يَخْلُقُ كَمَن لَّا يَخْلُقُ ۗ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
“Apakah Dzat yang menciptakan itu sama dengan yang
tidak dapat menciptakan? Tidakkah kalian mengambil pelajaran?” (QS. An-Naḥl
[16]: 17)
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا
رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُوْنَ.
“Wahai
manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang
sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]:21).
3) Allah tempat segala sesuatu
bergantung.
Allah ta’ala berfirman:
اللَّهُ الصَّمَدُ
“Allah adalah
Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan.” (QS. Al-Ikhlash[112]: 2).
4) Allah terpisah dengan makhluknya.
Disebutkan di dalam al-Fatawa:
وَمِنْ قَوْلِ أَهْلِ السُّنَّةِ: إِنَّ اللَّهَ بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ،
يَحْتَجِبُ عَنْهُمْ بِالْحُجُبِ.
“Di antara keyakinan Ahlus Sunnah adalah bahwa Allah
berbeda dan terpisah dari makhluk-Nya. Allah tidak menyatu dengan makhluk-Nya
dan tidak berada di dalam makhluk-Nya. Di antara makhluk dan Allah terdapat
hijab (penghalang).” (Syarah al-Fatwa
al-Hamawiyyah, Khalid bin ‘Abdullah bin Muhammad al-Mushlih)
5) Allah tidak membutuhkan hambanya.
Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ
الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Wahai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah.
Adapun Allah, Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.”(QS. Faṭir: 15)
فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya Allah Mahakaya, tidak membutuhkan
seluruh alam.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 97).
وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ
“Allah Mahakaya, sedangkan kalian adalah orang-orang
yang membutuhkan.” (QS. Muhammad [47]: 38).
“Allah Ta‘ala tidak membutuhkan makhluk-Nya sedikit
pun. Justru seluruh makhluklah yang senantiasa membutuhkan Allah. Allah
Mahakaya dan tidak bergantung kepada siapa pun, sedangkan seluruh makhluk
bergantung kepada-Nya.”
5. Kedekatan Allah bukan berarti
menyatu dengan hambanya
Allah ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ
وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖوَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ
الْوَرِيْدِ اِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيٰنِ عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ
قَعِيْدٌ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ
“Sungguh,
Kami benar-benar telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan
oleh dirinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Ingatlah)
ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya). Yang satu duduk di sebelah kanan
dan yang lain di sebelah kiri. Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan
ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf [50]:
16-18).
Dari Abu Hurairah
Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
إِنَّ اللَّهَ قَالَ: مَنْ
عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ
عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ
عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ:
كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ،
وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ
سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ.
”Sesungguhnya
Allah Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku
mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan
sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya.
Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah
hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi
pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia
gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan
menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku
pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti
melindunginya.’” (HR. Bukhari 6502, shahih Ibnu Hibban 347).
Berkata abu Sulaiman al-Khathabi:
هَذِهِ أَمْثَالٌ ضَرَبَهَا،
وَالْمَعْنَى، وَاللَّهُ أَعْلَمُ، تَوْفِيقُهُ فِي الأَعْمَالِ.
“Ini adalah permisalan, maknanya Allahu ‘alam Taufik Allah
(bimbingan Allah) di dalam beramal.” (Syarhu Sunnah al-Imam Albaghawi juz5 hal
19).
Demikianlah bantahan kepada keyakinan Wihdatul Wujud,
semoga bermanfaat.
-----000-----
Sragen 02-09-2026
Abu Ibrahim Junaedi Abdullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar