Rabu, 02 September 2026

MUJMAL USUL BAB 2 NO 3. KEFURNYA KEYAKINAN WIHDATUL WUJUD.

 




 MUJMAL USUL AHLU SUNNAH WAL JAMAAH, 

KUFURNYA KEYAKINAN WIHDATUL WUJUD.


٣ -وَحْدَةُ الْوُجُودِ وَاعْتِقَادُ حُلُولِ اللَّهِ تَعَالَىٰ فِي شَيْءٍ مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ أَوِ اتِّحَادِهِ بِهِ كُلُّ ذٰلِكَ كُفْرٌ مُخْرِجٌ مِنَ الْمِلَّةِ.

3.Paham kesatuan wujud, dan yakin bahwa Allah ta‘ala menyatu (hulul) dalam salah satu makhluk-Nya, atau bersatu (ittihad)dengannya, semuanya adalah kekufuran yang mengeluarkan dari agama (Islam).

 

-----000-----

 

Penjelasan:

Beraneka ragam keyakinan yang menyimpang pada masyarakat kita, di antara keyakinan tersebut adalah keyakinan hulul, atau ittihad, hal ini bukan hanya terjadi pada kaum kafir saja bahkan agama-agama samawi juga ada yang meyakini hal itu, misalnya Nasrani dan bahkan sebagian kaum muslimin yang menyimpang.

Sedikit kita urai kesesatan ini sebagai berikut:

1.   Pengertian Wihdatul Wujud.

وَحْدَةُ = kesatuan

الْوُجُودِ = wujud/keberadaan

Adapun yang dimaksud dengan paham wahdatul wujud adalah keyakinan bahwa pada hakikatnya wujud itu satu, yaitu Allah, sedangkan makhluk dianggap sebagai bagian atau penampakan dari wujud tersebut. Dengan demikian, tidak ada perbedaan hakiki antara Allah dan makhluk menurut paham sesat ini.

Demikian pula yang disampaikan dalam kitab Al Firaq:

Wihdatul Wujud adalah keyakinan bahwa Allah ta’ala menyatu dengan alam semesta. Tidak terpisah antara makhluk dan Khaliq (Sang Pencipta). Karena itu, wujud alam semesta ini hakekatnya merupakan wujud Allah sendiri. Sehingga dzat makhluk adalah Dzat Allah itu sendiri. (Al-Firaq al-Mu‘ashirah wa Mauqifu Ahli as-Sunnah Minha, Ghalib bin Ali ‘Awaji)

Hululiyyah: meyakini Allah menitis atau bersemayam ke dalam makhluk.

Ittihadiyyah: meyakini Allah menyatu atau menjadi satu dengan makhluk.

2.   Pencetus dan yang menyebarkan keyakinan Wihdatul Wujud.

Pencetus aqidah ini adalah seorang tokoh sufi bernama Husain bin Manshur, yang lebih dikenal dengan sebutan al-Hallaj. Ia memiliki keyakinan bahwa Allah diibaratkan seperti ruh yang berada dalam setiap benda, serta tidak ada pemisah antara al-Khaliq (Sang Pencipta) dengan makhluk.

Dalam salah satu bait syairnya, al-Hallaj mengatakan:

أَنَا مَنْ أَهْوَى وَمَنْ أَهْوَى أَنَا.

“Aku adalah Dia yang aku cintai, dan Dia yang aku cintai adalah aku.

نَحْنُ رُوحَانِ حَلَلْنَا بَدَنًا

Kami adalah dua ruh yang menyatu dalam satu jasad.

فَإِذَا أَبْصَرْتَنِي أَبْصَرْتَهُ

Apabila engkau melihatku, berarti engkau melihat-Nya.

وَإِذَا أَبْصَرْتَهُ أَبْصَرْتَنِي

Dan apabila engkau melihat-Nya, berarti engkau melihatku.” (Firaq Mu‘ashirah, 3/988)

3.   Kesesatan wihdatul wujud telah ada sebelum Islam.

Selain dalam sebagian ajaran tasawuf yang menyimpang, keyakinan tentang Tuhan yang menjelma atau menyatu dengan makhluk juga ada kemiripan dengan ajaran-ajaran agama lain yang telah dikenal agama sebelum Islam.

“Contohnya adalah di India. Dalam sebagian ajaran Hindu, terdapat keyakinan bahwa Tuhan dapat turun dan menjelma dalam bentuk tertentu di dunia. Salah satu contohnya adalah Kresna (Krishna), yang dalam tradisi Hindu tertentu diyakini sebagai penjelmaan Wisnu.”

“Keyakinan wihdatul wujud juga memiliki kemiripan dengan keyakinan dalam agama Kristen. Dalam ajaran Kristen terdapat keyakinan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan yang menjadi manusia. Keyakinan ini dikenal dengan istilah inkarnasi (Tuhan mengambil bentuk manusia atau menjadi manusia.). Dengan demikian, keyakinan tersebut tidak jauh berbeda dalam sisi tertentu dengan konsep hulul, yaitu keyakinan tentang Tuhan yang hadir atau berada dalam diri makhluk.

Adapun keyakinan wihdatul wujud yang diyakini orang-orang sufi mereka lebih sesat, karena mereka meyakini bahwa semua yang tampak adalah perwujudan dari Tuhan menurut mereka, di antara ucapan yang diucapkan Ibnu Arabi :

فَيَحْمَدُنِي وَأَحْمَدُهُ، وَيَعْبُدُنِي وَأَعْبُدُهُ

“Maka Dia memujiku dan aku pun memuji-Nya. Dia menyembahku dan aku pun menyembah-Nya.” (Dinukil dari al-Futuat al-Makkiyyah, juga Syarah al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah Safar bin ‘Abdurrahman al-Hawali)

وَمَا الْكَلْبُ وَالْخِنْزِيرُ إِلَّا إِلَهُنَا

“Tidaklah anjing dan babi kecuali sesembahan kami.

وَمَا اللَّهُ إِلَّا رَاهِبٌ بِكَنِيسَةٍ

dan tidaklah Allah kecuali seorang pendeta di gereja.”  (Judul kitab: Tashih al-Mafahim fi Janib al-‘Aqidah, Abu Ahmad Muhammad Aman bin Ali Jami Ali wafat tahun 1415 H).

4.   Kesesatan wihdatul wujud.

1)  Menyamakan antara khalik (pencipta) dan makhluk (yang dicipta).

Paham ini merupakan keyakinan yang batil karena mencampurkan antara Al-Khaliq (Pencipta) dengan makhluk. Padahal Allah adalah Pencipta dan seluruh selain-Nya adalah makhluk.

Allah Ta’ala berfirman:

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

“Allah adalah Pencipta segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar[39]: 62)

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

“Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia adalah Pemelihara atas segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar [39]: 62).

2)  Menyamakan antara yang disembah dan yang menyembah.

Allah ta’ala berfirman:

أَفَمَن يَخْلُقُ كَمَن لَّا يَخْلُقُ ۗ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Apakah Dzat yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan? Tidakkah kalian mengambil pelajaran?” (QS. An-Naḥl [16]: 17)

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ.

“Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]:21).

3)  Allah tempat segala sesuatu bergantung.

Allah ta’ala berfirman:

اللَّهُ الصَّمَدُ

“Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan.” (QS. Al-Ikhlash[112]: 2).

4)   Allah terpisah dengan makhluknya.

Disebutkan di dalam al-Fatawa:

وَمِنْ قَوْلِ أَهْلِ السُّنَّةِ: إِنَّ اللَّهَ بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ، يَحْتَجِبُ عَنْهُمْ بِالْحُجُبِ.

“Di antara keyakinan Ahlus Sunnah adalah bahwa Allah berbeda dan terpisah dari makhluk-Nya. Allah tidak menyatu dengan makhluk-Nya dan tidak berada di dalam makhluk-Nya. Di antara makhluk dan Allah terdapat hijab (penghalang).” (Syarah al-Fatwa al-Hamawiyyah, Khalid bin ‘Abdullah bin Muhammad al-Mushlih)

5)  Allah tidak membutuhkan hambanya.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah. Adapun Allah, Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.”(QS. Faṭir: 15)

فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Allah Mahakaya, tidak membutuhkan seluruh alam.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 97).

وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ

“Allah Mahakaya, sedangkan kalian adalah orang-orang yang membutuhkan.” (QS. Muhammad [47]: 38).

“Allah Ta‘ala tidak membutuhkan makhluk-Nya sedikit pun. Justru seluruh makhluklah yang senantiasa membutuhkan Allah. Allah Mahakaya dan tidak bergantung kepada siapa pun, sedangkan seluruh makhluk bergantung kepada-Nya.”

5.   Kedekatan Allah bukan berarti menyatu dengan hambanya

Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖوَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ اِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيٰنِ عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيْدٌ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ

“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh dirinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya). Yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri. Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf [50]: 16-18).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ.

”Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.’” (HR. Bukhari 6502, shahih Ibnu Hibban 347).

Berkata abu Sulaiman al-Khathabi:

هَذِهِ أَمْثَالٌ ضَرَبَهَا، وَالْمَعْنَى، وَاللَّهُ أَعْلَمُ، تَوْفِيقُهُ فِي الأَعْمَالِ.

“Ini adalah permisalan, maknanya Allahu ‘alam Taufik Allah (bimbingan Allah) di dalam beramal.” (Syarhu Sunnah al-Imam Albaghawi juz5 hal 19).

Demikianlah bantahan kepada keyakinan Wihdatul Wujud, semoga bermanfaat.

 

-----000-----

Sragen 02-09-2026

Abu Ibrahim Junaedi Abdullah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MUJMAL USUL BAB 2 NO 3. KEFURNYA KEYAKINAN WIHDATUL WUJUD.

   MUJMAL USUL AHLU SUNNAH WAL JAMAAH,  KUFURNYA KEYAKINAN WIHDATUL WUJUD. ٣ - وَحْدَةُ الْوُجُودِ وَاعْتِقَادُ حُلُولِ اللَّهِ تَعَالَىٰ...