MENJELANG PERANG UHUD
Persiapan
musyrikin Quraisy Untuk Perang Balas Dendam
Mekkah
terbakar api amarah terhadap orang-orang Islam atas tragedi kekalahan dan
terbunuhnya para tokoh dan bangsawan me reka pada perang Badar. Di sana
bergemuruh ambisi balas dendam, bahkan orang-orang Quraisy dilarang menangisi
orang-orang mereka yang terbunuh di Badar dan tidak diizinkan bersegera menebus
para tawanan perang, supaya orang-orang Islam tidak tahu kedalaman duka dan
kesedihan mereka.
Usai
perang Badar orang-orang musyrik Quraisy sepakat ber perang habis-habisan
melawan orang-orang Islam guna memadamkan kemarahan dan mengobati dendam
mereka, maka mereka pun bersiap-siap untuk terjun dalam perang tersebut.
Ikrimah
bin Abu Jahal, Shafwan bin Umayyah, Abu Sufyan bin Harb dan Abdullah bin
Rabi'ah adalah para pemimpin yang paling berapi-api dan bersemangat untuk
terjun dalam peperangan itu.
Hal
pertama yang mereka lakukan untuk ini adalah menahan barang dagangan yang
berhasil diselamatkan Abu Sufyan dan yang merupakan sebab perang Badar, mereka
berkata kepada orang-orang yang memiliki harta di dalam barang dagangan itu,
"Wahai orang-orang Quraisy! Sesungguhnya Muhammad telah menghinakan kalian
dan membunuh orang-orang terbaik kalian, maka bantulah kami dengan harta benda
ini untuk memeranginya, semoga kita dapat membalas dendam kita kepadanya."
Mereka pun menyetujui per mintaan itu, dan menjual barang dagangan itu seharga
seribu ekor unta, sedang uangnya berjumlah lima puluh ribu dinar, mengenai
peristiwa ini Allah berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ
لِيَصُدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ
حَسْرَةً ثُمَّ يُعْلَبُونَ
"Sesungguhnya
orang-orang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari
jalan Allah, mereka akan menafkan harta itu kemudian menjadi sesalan bagi
mereka dan mereka akan dikalahkan." (al-Anfal: 36).
Kemudian
mereka membuka pendaftaran sukarelawan untuk mereka yang ingin ambil bagian
dalam memerangi orang-orang Islam dari suku Habsy, Kinanah, dan penduduk
Tihamah. Untuk merea-lisasikan hal itu mereka mempergunakan beragam sarana
provokasi, bahkan Sofwan bin Umayyah membujuk Abu 'Izzah, penyair yang telah
ditawan pada Perang Badar dan diberi ampunan oleh Rasu-lullah dengan
membebaskannya tanpa tebusan dan memintanya berjanji untuk tidak memusuhi
beliau, Sofwan membujuknya untuk memprovokasi para kabilah melawan umat Islam,
dan berjanji kepadanya jika ia pulang dari perang dalam keadaan hidup ia akan
mencukupinya, dan jika terbunuh, ia akan menanggung putri-putrinya, maka Abu
'Izzah bangkit memprovokasi para kabilah dengan bait-bait syairnya yang membakar
dendam mereka. Ikrimah bin Abu Jahal dan kawan-kawan juga memiliki penyair
lain, yaitu Musafi' bin Abdi Manaf al-Jumahi, untuk misi yang sama.
Abu
Sufyan adalah orang yang paling bersemangat menghasut untuk memerangi umat
Islam, setelah ia pulang dari perang sawiq dengan kegagalan tanpa memperoleh
apa yang ia harapkan, bahkan ia telah kehilangan perbekalannya dalam jumlah
besar pada perang itu.
Dan
yang membuat mereka semakin terbakar amarah adalah kerugian besar yang terakhir
menimpa mereka pada peristiwa Brigade Zaid bin Haritsah, di mana hal tersebut
telah menghancurkan sendi perekonomian mereka serta menambah kesedihan dan
kedukaan mereka yang tidak terkira. Karena itu orang-orang Quraisy semakin
mempercepat persiapan mereka untuk terjun dalam perang yang sangat menentukan
antara mereka dan kaum Muslimin.
KEKUATAN
PASUKAN QURAISY DAN KOMANDONYA
Setelah
genap satu tahun, kota Mekkah telah menyempurnakan persiapannya, berkumpullah
di sana tiga ribu prajurit musyrik yang terdiri dari orang-orang Quraisy, para
sekutu mereka dan orang-orang Habsy. Para komandan Quraisy memandang penting
keikut-sertaan para wanita bersama mereka, agar hal tersebut lebih mendo-rong
kaum pria untuk berperang matia-matian tanpa harus tercoreng kemuliaan dan
kehormatan mereka. Jumlah wanita yang ikut serta saat itu adalah lima belas
orang.
Kendaraan
pengangkut mereka terdiri dari tiga ribu ekor onta, sedangkan kendaraan pasukan
kafaleri berjumlah dua ratus ekor kuda( Zadul Ma’ad 2/92 Pendapat inilah yang
terkenal, dam dalam Fathul Båriy 100 ekor kuda, VII/346) yang mereka bariskan
di sepanjang jalan yang mereka lewati, sedang senjata pertahanan mereka
berjumlah tujuh ratus perisai.
Komando
pusat dipegang oleh Abu Sufyan bin Harb, komando pasukan kafaleri dipegang oleh
Khalid bin al-Walid, dibantu oleh İkrimah bin Abu Jahal. Adapun panji perang
dibawa oleh Bani Abdud Daar.
PASUKAN
MEKKAH BERGERAK
Setelah
pasukan Mekkah melakukan persiapan lengkap, mereka bergerak ke arah Madinah,
dendam-dendam lama dan kemarahan yang terpendam menyulut kebencian di hati dan
menanti apa yang akan terjadi pada perang yang dahsyat.
INTELEJEN
NABI MENANGKAP GERAKAN MUSUH
Al-Abbas
bin Abdul Muththalib mengawasi gerakan pasukan Quraisy dan persiapan-persiapan
militer mereka, maka tatkala pasukan ini bergerak, al-Abbas mengirim surat
kilat kepada Nabi yang menyebutkan secara rinci perihal pasukan Quraisy itu.
Utusan
al-Abbas bergegas menyampaikan surat itu dan berja-lan dengan cepat bahkan ia
menempuh perjalanan antara Mekkah dan Madinah-yang berjarak lima ratus
kilometer- hanya dalam waktu tiga hari, selanjutnya menyampaikan surat itu
kepada Nabi yang ketika itu berada di masjid Quba.
MEMBAWA
SENJATA.
Sedang
di pintu-pintu masuk ke Madinah dan jalan-jalan yang menuju ke sana ada
beberapa kelompok orang yang menjaganya karena khawatir jika mereka diserang
secara tiba-tiba.
Pasukan
kaum Muslimin berpratoli untuk mengetahui pergerakan-pergerakan musuh dengan
berkeliling di jalan-jalan yang mungkin mereka lewati untuk menyerang umat
Islam.
PASUKAN
MEKKAH BERGERAK KE TAPAL BATAS MADINAH
Pasukan
Mekkah melanjutkan perjalanannya melalui jalur utama barat yang biasa dilewati,
dan ketika tiba di Abwa, Hindun binti Uthbah-istri Abu Sufyan- mengusulkan agar
kuburan ibu Rasu-lullah dibongkar, tetapi para komandan pasukan menolak
permin-taan itu dan memperingatkan akan akibat-akibat buruk yang akan menimpa
mereka jika mereka melakukan hal itu.
Lalu,
pasukan Mekkah melanjutkan perjalanannya hingga men-dekati kota Madinah, lalu
melintasi lembah al-Aqiq dan selanjutnya berbelok ke arah kanan hingga tiba di
dekat gunung Uhud di sebuah tempat bernama Ainain di tanah tandus yang
bersambung dengan salah satu saluran yang berada di tepi lembah yang terletak
di utara Madinah di samping gunung Uhud, lalu mereka berkemah di sana pada hari
Jum'at tanggal enam bulan Syawal tahun 3 H.
MAJLIS
PERMUSYAWARATAN UNTUK MENETAPKAN STRATEGI PERTAHANAN
Intelejen
Madinah mengirimkan berbagai informasi tentang pasukan Mekkah secara terus
menerus, hingga kabar terakhir tentang perkemahan mereka, seketika itu
Rasulullah mengadakan majlis permusyawaratan militer tertinggi untuk bertukar
pikiran guna menentukan sikap. Beliau memberitahukan kepada mereka tentang
mimpi yang telah beliau lihat, beliau berkata, "Demi Allah! Sungguh aku
telah mengalami mimpi yang baik, aku bermimpi melihat beberapa ekor sapi
disembelih, aku melihat retak di mata pedangku, dan melihat aku memasukkan
tanganku ke baju besi yang kuat." Beliau mengartikan bebe-rapa ekor sapi
sebagai segolongan sahabat beliau yang akan terbunuh, mengartikan retak di
pedang beliau dengan seseorang keluarga beliau yang akan terbunuh dan
mengartikan baju besi dengan Madinah.
Kemudian
beliau mengemukakan pendapatnya kepada para sahabatnya agar mereka tidak keluar
dari kota Madinah, namun bertahan di dalamnya. Jika orang-orang musyrik memilih
tinggal di
Surat
itu dibacakan kepada Nabi oleh Ubay bin Ka'ab, lalu beliau memintanya
merahasiakan isinya, kemudian beliau pulang dengan cepat ke Madinah dan
bertukar pikiran dengan para pemuka Muhajirin dan Anshar.
PERSIAPAN
PASUKAN ISLAM MENGHADAPI KEADAAN DARURAT
Madinah
senantiasa berada dalam kondisi siaga penuh, kaum pria tidak pernah
menanggalkan senjata, bahkan ketika mereka sedang shalat, mereka melakukan itu
sebagai persiapan menghadapi hal-hal yang tak terduga.
Sekelompok
tokoh Anshar -di antara mereka adalah Sa'ad bin Muadz, Usaid bin Khudhair dan
Sa'ad bin Ubadah-menjaga Rasu-lullah mereka begadang di depan pintu rumah
beliau sambil
perkemahan
mereka, berarti mereka tinggal di tempat yang buruk dan tanpa membuahkan hasil,
namun jika mereka berani memasuki kota, mereka akan diperangi oleh kaum
Muslimin di pintu-pintu gang dan dibantai para wanita dari atas atap-atap
rumah. Dan ini merupakan pendapat yang tepat. Yang menyetujui pendapat beliau
tersebut adalah Abdullah bin Ubai bin Sallul-gembong orang-orang munafik- ia
menghadiri majlis itu selaku salah seorang pemuka suku Khazraj. Tampak bahwa
persetujuannya pada pendapat ini bukanlah karena pendapat ini merupakan pilihan
yang tepat dari sudut pandang militer, tetapi agar ia dapat menghindari
peperangan tanpa diketahui oleh seorang pun. Namun Allah berkehendak membongkar
kedoknya dan kedok sahabat-sahabatnya untuk pertama kalinya- di depan umat
Islam, dan menyingkap tirai kekufuran dan kemunafikan mereka yang selama ini
tersembunyi dibaliknya, serta supaya kaum Muslimin pada saat paling genting
mengetahui ular-ular yang ber-gerak di dalam baju dan lengan mereka.
Segolongan
tokoh utama sahabat yang tidak turut serta dalam perang Badar maju dan
mengusulkan kepada Nabi agar keluar (menyongsong musuh), mereka bersikeras
dengan usulan itu, sampai-sampai salah seorang dari mereka berkata, "Wahai
Rasulullah! Kami begitu mengharapkan kedatangan hari ini dan kami senantiasa
berdoa kepada Allah, hingga Allah menganugerahkannya kepada kami dan
keberangkatan menuju peperangan telah dekat, keluarlah menyong-song musuh-musuh
kita, supaya mereka tidak menganggap kita pengecut dan tidak mempunyai
keberanian menghadapi mereka."
Di
barisan depan orang-orang yang bersemangat itu adalah Hamzah bin Abdul
Muththalib paman Rasulullah, ia berkata kepada beliau, "Demi Dzat yang
menurunkan kitab al-Qur'an kepa-damu, aku tidak akan makan makanan hingga aku
membabat mereka dengan pedangku di luar Madinah."( As-Sirah al-Halabiyah,
II/14).
Rasulullah
membatalkan pedapatnya ketika bertentangan dengan pendapat orang-orang yang
bersemangat itu, sehingga kepu-tusan akhir adalah keluar dari Madinah dan
berperang di medan terbuka.
PEMBAGIAN
PASUKAN ISLAM MENJADI BEBERAPA BATALYON DAN KEBERANGKATAN MEREKA KE MEDAN
PERANG.
Kemudian
Nabi shalat bersama kaum Muslimin pada hari Jum'at, lalu memberikan nasihat dan
memerintahkan mereka agar serius dan bersungguh-sungguh, lalu memberitahukan
bahwa mereka akan memperoleh kemenangan karena kesabaran mereka, dan meminta
mereka bersiap-siap menghadapi musuh. Maka umat Islam bergembira mendengar isi
khutbah beliau itu.
Lalu
beliau shalat Ashar bersama mereka, sedang mereka telah berkumpul, begitu juga
orang-orang yang tinggal di sekitar Madinah, kemudian beliau masuk ke dalam
rumahnya dan diikuti oleh dua orang sahabat beliau, Abu Bakar dan Umar, lalu
mereka memakaikan sorban dan pakaian beliau, setelah itu beliau memanggul
senjatanya dan memakai baju besi rangkap dua lalu mengambil pedang dan keluar
menemui pasukan Islam.
Kaum
Muslimin telah menunggu-nunggu beliau keluar, semen-tara Sa'ad bin Mu'adz dan
Usaid bin Hudhair berkata kepada mereka, "Kalian telah memaksa Rasulullah
keluar Madinah, serahkanlah keputusan kepadanya." Mendengar itu mereka
semua menyesali perbuatan yang telah mereka lakukan, maka ketika beliau keluar,
mereka berkata kepadanya, "Wahai Rasulullah! Kami tidak berniat
menentangmu, maka lakukanlah apa yang engkau kehendaki, jika engkau senang
tinggal di Madinah lakukanlah." Rasulullah menja-wab, "Tidak seyogyanya
bagi seorang nabi jika telah memakai baju besinya lalu menanggalkannya kembali
sehingga Allah memutuskan antara dia dan musuhnya.” (HR. Ahmad, III/351, dan
Nasa'i, Hakim serta Ibnu Ishaq dan Bukhari menyebutkan dalam tarjamah suatu bab
di al-l'tisham).
Selanjutnya
Nabi mengelompokkan pasukannya menjadi tiga batalyon:
1.
Batalyon Muhajirin, dan beliau menyerahkan panjinya kepada Mush'ab bin Umair
al-Abdari.
2.
Batalyon suku Aus dari Anshar, dan beliau menyerahkan panjinya kepada Usaid bin
Khudhair.
3.
Batalyon Khazraj, dan beliau menyerahkan panjinya kepada al-Hubab bin
al-Mundzir.
Pasukan
kaum Muslimin terdiri dari seribu prajurit, di antara mereka ada seratus
prajurit berperisai (Ibnul Qayyim dalam Zádul Ma'ad, II/92 berkata, "Dan
limapuluh prajurit berkuda. Ibnu Hajar berkata, "Pendapat ini jelas-jelas
salah. Musa bin Uqbah telah menegaskan bahwa dalam perang Uhud tidak ada satu
pun kuda yang ikut bersama pasukan Islam, dan menurut al-Waqidi, ikut serta
dalam perang tersebut kuda Rasulullah dan kuda Abu Burdah. Fathul Bariy,
VII/350).
dan
tidak satu pun dari mereka yang berkuda, beliau mengangkat Ibnu Ummi Maktum
menjadi imam shalat di Madinah bersama mereka yang tinggal di sana, lalu beliau
mengumumkan saat keberangkatan, maka bergeraklah pasukan itu ke arah utara,
Sa'ad bin Mu'adz dan Sa'ad bin Ubadah berlari di hadapan Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dengan mengenakan baju besi.
Tatkala
beliau telah melewati Tsaniyatul Wada', beliau melihat ada sekelompok pasukan
dengan persenjataan lengkap terpisah dari pasukan mana pun, maka beliau
bertanya tentang pasukan itu, beliau diberitahukan bahwa mereka adalah
orang-orang Yahudi yang merupakan sekutu suku Khazraj, mereka ingin ikut serta
dalam perang melawan pasukan musyrikin, beliau bertanya, "Apakah mereka
masuk Islam?", para sahabat menjawab, "Tidak." Maka beliau tidak
mau minta bantuan pada orang-orang kafir untuk memerangi orang-orang musyrik.
INSPEKSI
PASUKAN
Ketika
beliau sampai di suatu tempat yang bernama "Asy-Syaikhani", beliau
menginspeksi pasukannya, dan menolak mereka yang beliau anggap masih kecil dan
belum sanggup berperang. Di antara mereka yang ditolak adalah Abdullah bin Umar
bin al-Khaththab, Usamah bin Zaid, Usaid bin Dhuhair, Zaid bin Tsabit, Zaid bin
Arqam, 'Arabah bin Aus, 'Amr bin Hazm, Abu Sa'id al-Khudhri, Zaid bin Haritsar
al-Anshari dan Sa'ad bin Hibbah, dalam kelompok ini juga disebut nama al-Bara'
bin 'Azib, tetapi hadist yang diriwayatkannya dalam al-Bukhari menunjukkan
keikutsertaannya dalam peperangan hari itu.
Beliau
mengizinkan Rafi' bin Khudaij dan Samurah bin Jundub meski keduanya berusia
muda, hal itu karena Rafi' bin Khudaij mahir dalam membidikkan anak panah, maka
Rasulullah mengizin-kannya, lantas Samurah berkata, "Aku lebih kuat dari
Rafi', aku dapat mengalahkannya," maka ketika Rasulullah diberitahu
ten-tang hal itu, beliau memerintahkan mereka berdua berkelahi di depan beliau,
maka mereka pun berkelahi dan Samurah berhasil mengalah-kan Rafi', akhirnya
beliau pun mengizinkannya juga.
BERMALAM
DI TEMPAT ANTARA UHUD DAN MADINAH
Mereka
tiba di tempat ini pada waktu senja, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat
Maghrib lalu shalat Isya' dan bermalam di sana. Kemuidan memilih lima puluh
orang untuk menjaga perkemahan dengan
1
Hal itu diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad. Dalam riwayat itu dikatakan bahwa
sesungguh-nya mereka berasal dari Bani Qainuqa', II/34. Padahal sebagaimana
diketahui, mereka telah diusir pasca perang Badar.
PEMBELOTAN
ABDULLAH BIN UBAY DAN SAHABAT-SAHABATNYA
Sesaat
sebelum fajar menyingsing beliau melanjutkan perjalanan, ketika tiba di Syauth
beliau shalat subuh. Pada waktu itu beliau berada dekat sekali dengan musuh,
beliau dapat melihat mereka dan mereka dapat melihat beliau. Di sanalah
Abdullah bin Ubay sang munafik membelot, ia pulang bersama sekitar sepertiga
pasukan -tigaratus prajurit- sambil berkata, "Kami tidak tahu atas dasar
apa kami harus membunuh diri kami sendiri?" Sambil memberikan kesan protes
atas putusan Rasulullah yang menolak pendapatnya dan menyetujui pendapat orang
lain.
Tidak
diragukan bahwa sebab pembelotan ini yang sebenarnya bukanlah apa yang
ditampakkan oleh si munafik ini, yaitu, peno-lakkan Rasulullah terhadap
pendapatnya, karena jika tidak begitu, maka perjalanannya bersama pasukan Nabi
ke tempat ini tidak memiliki makna. Bahkan seandainya hal ini adalah
penyebabnya, pasti ia telah memisahkan diri dari pasukan sejak pertama, tetapi
tujuan utama dari pembelotan ini-di saat dalam kondisi sulit tersebut-adalah
membuat kekacauan dan keraguan di dalam tubuh pasukan Islam di hadapan musuh
mereka, supaya mayoritas pasukan mening-galkan Nabi ﷺ
sedang pasukan yang masih bertahan bersama beliau akan padam semangat mereka.
Sementara musuh akan semakin berani dan semangatnya semakin meningkat karena
melihat pemandangan ini, hal itu akan mempercepat pembunuhan atas Nabi dan
sahabat-sahabatnya yang ikhlas, setelah itu suasana menjadi tenang karena
kepemimpinan kembali ke pangkuan pada si munafik ini dan para sahabatnya.
Si
munafik ini hampir saja berhasil merealisasikan sebagian apa yang telah menjadi
tujuannya. Dua kelompok, masing-masing Bani Haritsah dari suku Aus dan Bani
Salamah dari suku Khazraj telah bertekad untuk mundur, tetapi Allah meneguhkan
kedua kelompok itu, maka keduanya menjadi tenang kembali setelah sebelumnya
dalam diri keduanya bergemuruh keraguan dan keinginan untuk pulang kembali dan
memisahkan diri. Tentang keduanya Allah berfirman,
إِذْ هَمَّت طَائِفَتَانِ مِنكُمْ أَن تَفْشَلَا وَاللَّهُ
وَلِيُّهُهَا وَعَلَ اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
"Ketika
dua golongan dari kalian ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah
penolong bagi kedua golongan itu, karena itu hendaklah kepada Allah saja
orang-orang Mukmin bertawakkal." (Ali Imran: 122).
Abdullah
bin Haram -ayah Jabir bin Abdullah- berupaya meng-ingatkan orang-orang munafik
akan kewajiban mereka pada situasi genting ini, ia mengikuti mereka sambil
mencela dan meminta mereka kembali, seraya berkata, "Kembalilah,
berperanglah di jalan Allah atau bertahanlah." Mereka menjawab,
"Andai kami tahu kalian akan berperang kami tidak akan pulang." Maka
Abdullah bin Haram meninggalkan mereka seraya berkata, "Semoga Allah
membinasakan kalian wahai musuh-musuh Allah, Allah akan mencukupi Nabi-Nya
tanpa bantuan kalian."
Tentang
orang-orang munafik ini, Allah Ta'ala berfirman (artinya), "Dan supaya
Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik, kepada mereka dikatakan,
"Marilah berperang di jalan Allah atau pertahan-kanlah (diri
kalian)," mereka berkata, "Sekiranya kami mengetahui akan terjadi
peperangan, tentulah kami mengikuti kalian," mereka pada hari itu lebih
dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa
yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka
sembunyikan." (Ali Imran: 16).
SISA
PASUKAN ISLAM KE UHUD
Setelah
terjadinya pembelotan dan penarikan diri tersebut, Nabi memimpin sisa pasukan
yang berjumlah tujuh ratus prajurit untuk melanjutkan perjalanannya menuju arah
musuh. Antara lokasi perkemahan pasukan musyrikin dan gunung Uhud terhalang
oleh tempat-tempat yang banyak, maka Nabi ﷺ
bertanya, "Siapakah orang yang bisa mengantarkan kami ke pasukan musuh itu
melalui jalan yang dekat tanpa harus melewati mereka?", berkata Abu
Khaitsamah, "Aku wahai Rasulullah", lalu dia mengambil jalan pintas
menuju Uhud dengan melalui tanah lapang dan ladang Bani Haritsah, sedang posisi
musuh di kanan mereka.
Dalam
perjalanan ini pasukan Islam melewati kebun Marba' bin Qaidhi -seorang munafik
yang buta matanya ketika ia merasakan kehadiran ran mereka ia menaburkan debu
ke muka kaum Muslimin seraya berkata, "Aku tidak memberimu izin masuk
kebunku, jika engkau adalah Rasulullah." Maka pasukan kaum Muslimin
bergegas maju untuk membunuhnya, tetapi Nabi ﷺ
berkata, "Janganlah kalian membunuhnya, orang ini buta hati, buta
mata."
Rasulullah
melanjutkan perjalanannya hingga tiba di jalan
yang
ada di gunung Uhud, di tepi sebuah lembah, selanjutnya beliau bersama
pasukannya mendirikan perkemahan menghadap Madinah dan membelakangi kaki gunung
Uhud, dengan demikian, pasukan musuh menjadi penghalang antara pasukan Islam
dan Madinah.
RENCANA
PERTAHANAN
Di
sana Rasulullah memobilisasi pasukannya, menyiapkan mereka menjadi beberapa
barisan untuk berperang dan memilih sekelompok pemanah ulung dari mereka yang
jumlahnya lima puluh prajurit dan beliau menyerahkan komandonya kepada Abdullah
bin Jubair bin an-Nu'man al-Anshari al-Ausi al-Badri (peserta perang Badar
penj.), beliau memerintahkan mereka bertahan di sebuah gunung yang terletak di
tepi selatan lembah Qanah -gunung ini nantinya dikenal dengan nama Jabal Rumah
(gunung para pemanah -penj.)- sebelah tenggara perkemahan pasukan Islam,
sekitar seratus lima puluh meter dari tempat berkumpulnya pasukan Islam.
Tujuan
penempatan itu adalah apa yang diungkapkan oleh Rasulullah dalam instruksi yang
beliau sampaikan kepada para pemanah itu, di mana beliau telah berkata kepada
komandan mereka, "Jauhkanlah kuda-kuda musuh dari kami dengan cara
memanahinya, jangan sampai mereka menyerang kami dari belakang, jika kami
menang atau kalah tetaplah di tempatmu, supaya kami tidak diserang dari
arahmu." Kemu-dian beliau berkata kepada para pemanah itu,
"Lindungilah arah belakang kami, jika kalian melihat kami dibunuhi maka
janganlah kalian menolong kami, dan jika kalian melihat kami telah mendapatkan
rampasan perang maka kalian jangan ikut bersama kami." (Ibnu Hisyam,
1/65-66).
Dan
dalam riwayat al-Bukhari, beliau berkata, "Jika kalian melihat kami
dikalahkan musuh maka kalian jangan meninggalkan tempat kalian ini hingga aku
mengutus utusan kepada kalian, dan apabila kalian melihat kami telah
mengalahkan pasukan musuh itu dan mencerai-beraikan mereka, maka janganlah
meninggalkan tempat ini, hingga aku mengutus utusan kepada kalian."
Dengan
penempatan pasukan pemanah di gunung ditambah perintah-perintah militer yang
tegas tersebut, Rasulullah ﷺ telah menutup celah
satu satunya yang mungkin menjadi jalan bagi para prajurit musyrik menyusup ke
barisan pasukan Islam lalu melakukan gerakan-gerakan pengepungan dan taktik
pemblokiran.
(Hadits
ini diriwayatkan oleh Ahmad, ath-Thabari, dan al-Hakim dari Ibnu Abbas. Lihat
Fatiul Bariy, VII/350).
Adapun
posisi sisa pasukan, Rasulullah menempatkan pada sayap kanan al-Mundzir bin Amr
dan menempatkan pada sisi kiri az Zubair bin al-Awwam dibantu oleh al-Miqdad
bin al-Aswad, kepada az-Zubair dipasrahkan tugas bertahan menghadapi pasukan
berkuda Khalid bin Walid, dan beliau menempatkan di bagian depan barisan para
prajurit pilihan yang terdiri dari para pemberani pasukan Islam dan tokoh-tokoh
mereka yang terkenal dengan kepatriotan dan kebe-ranian, dimana kemampuan
mereka sebanding dengan ribuan orang.
Taktik
ini adalah taktik yang cerdik dan sangat rapi. Dalam taktik ini tampak
kecerdasan kepemimpinan Nabi ﷺ di bidang militer.
Tidak mungkin bagi komandan mana pun meski kecakapan-nya luar biasa, untuk
membuat taktik yang lebih cerdik dan lebih matang daripada taktik ini, beliau
benar-benar telah menempati posisi paling strategis dari medan peperangan,
padahal beliau tiba di sana setelah musuh. Punggung dan sayap kanan pasukan
terlindungi oleh tingginya gunung, sayap kanan dan punggungnya- ketika
peperangan berkecamuk- terlindungi dengan cara menutup satu-satunya celah yang
berada di sisi pasukan Islam. Beliau memilih dataran tinggi untuk perkemahan
pasukannya supaya dapat berlindung di sana-jika kekalahan menimpa pasukan
Islam- dan tidak melarikan diri, sehingga mereka tidak jatuh dalam genggaman
musuh yang mengejar dan tidak pula tertawan bahkan sebaliknya beliau akan
menimpakan kerugian yang sangat besar kepada musuh-musuhnya jika mereka
berusaha menguasai perkemahan kaum Muslimin dan maju ke sana. Dengan demikian
beliau memaksa musuh-musuhnya mengambil posisi di dataran rendah yang sulit
sekali bagi mereka untuk mem-peroleh sedikit pun dari manfaat kemenangan, jika
nantinya keme-nangan berada di pihak mereka, di samping itu sulit bagi mereka
untuk menghindar dari pasukan Islam yang mengejar jika kemenangan di pihak
pasukan Islam. Di sisi lain beliau telah menutupi kekurangan jumlah prajurit
pada pasukannya dengan memilih sekelompok prajurit pilihan yang terdiri dari
para sahabat beliau yang pemberani dan perkasa.
Begitulah,
mobilisasi pasukan Nabi dapat diselesaikan pada hari sabtu pagi tanggal tujuh
bulan syawwal tahun ketiga Hijriah.
Rasulullah
Meniupkan Semangat Patriotik Kepada Pasukan Islam
Rasulullah
melarang para prajuritnya memulai serangan sebelum beliau memerintahkan mereka.
Beliau memakai dua baju
besi,
memotivasi para sahabatnya untuk berperang dan mendorong mereka bersabar dan
tegar ketika berhadapan dengan musuh, kemu-dian meniupkan semangat keberanian
dan patriotisme kepada para sahabatnya, lalu menghunus sebilah pedang yang
sangat tajam dan menyeru sahabat-sahabatnya, "Siapa yang mengambil pedang
ini dengan haknya?" Maka beberapa orang maju untuk mengambilnya -di antara
mereka adalah Ali bin Abi Thalib, az-Zubair bin al-Awwam dan Umar bin
al-Khaththab- hingga akhirnya Abu Dujanah Sammak bin Kharsyah mendekati beliau
dan bertanya, "Apa haknya wahai Rasulullah?" Beliau menjawab,
"Engkau membabat dengan pedang ini wajah-wajah musuh hingga
menunduk." Ia berkata, "Akulah yang meng-ambilnya dengan haknya wahai
Rasulullah!" Maka beliau memberi-kannya kepadanya.
Abu
Dujanah adalah seorang pemberani yang sombong (terhadap musuh) di medan perang,
ia mempunyai ikat kepala merah, jika ia telah memakainya orang-orang tahu bahwa
ia akan bertempur hingga mati. Maka tatkala dia telah mengambil pedang tersebut
dan mengikat kepalanya dengan ikat kepala itu, dia pun berjalan dengan
sombongnya di antara dua pasukan, pada saat itu Rasulullah bersabda, "Cara
berjalan semacam ini dibenci oleh Allah kecuali di tempat seperti ini."
MOBILISASI
PASUKAN MEKKAH
Orang-orang
musyrik, memobilisasi pasukan mereka berdasarkan aturan barisan, komando pusat
dipegang oleh Abu Sufyan Shakhr bin Harb yang berada di tengah-tengah pasukan,
sedang Khalid bin al-Walid- yang ketika itu masih musyrik- di sayap kanan,
Ikrimah bin Abu Jahal disayap kiri, dan Sofwan bin Umayyah memimpin pasukan
pejalan kaki, sementara Abdullah bin Abi Rabiah memimpin pasukan pemanah.
Panji-panji
perang, mereka diserahkan kepada sekelompok orang dari bani Abdud Dar, membawa
panji-panji merupakan hak mereka sejak Bani Abdu Manaf membagi-bagi jabatan
yang yang mereka warisi dari Qushai bin Kilab-sebagaimana yang telah kami
kemukakan di awal buku ini ini-, dan tidak seorang pun yang dapat merebut hal
itu dari tangan mereka, karena terikat oleh tradisi-tradisi yang mereka warisi
dari generasi ke generasi. Tetapi komandan tertinggi -Abu Sufyan- mengingatkan
mereka akan apa yang telah menimpa orang-orang Quraisy pada perang Badar ketika
pembawa
(Shabih
al-Bukhariy, kitab al-Jihad, 1/426).
panji
mereka an-Nadhr bin al-Harits tertawan, ia berkata kepada mereka untuk
membangkitkan kemarahan dan membangkitkan fana-tisme mereka, "Wahai Bani
Abdud Dar! kalian telah membawa panji-panji kita pada perang Badar, dan telah
menimpa kita apa yang telah kalian lihat, sesungguhnya suatu pasukan
ditundukkan melalui panji mereka, jika panji hilang maka binasalah mereka, jadi
sebaiknya kalian menjaga panji itu untuk kami dengan benar atau serahkan saja
kepada kami panji tersebut dan kami akana menjaganya untuk kalian."
Abu
Sufyan berhasil mencapai tujuannya, hingga Bani Abdud Dar marah dengan
kemarahan yang meluap karena perkataan Abu Sufyan tersebut, mereka marah
kepadanya dan mengancamnya, seraya berkata, "Kami memasrahkan panji-panji
kami kepadamu? Besok kamu akan tahu ketika kita bertemu musuh bagaimana kami
bertindak." Mereka benar-benar teguh ketika peperangan berkeca-muk hingga
mereka terbunuh semuanya tanpa sisa.
MANUVER
PIHAK QURAISY
Sesaat
sebelum perang dimulai, orang-orang Quraisy berusaha menciptakan perpecahan dan
perselisihan di tengah-tengah pasukan Islam dimana, Abu Sufyan mengirim seorang
utusan kepada kaum Anshar untuk menyampaikan pesan yang berbunyi, "Biarkan
apa yang terjadi antara kami dan sepupu kami, kamipun akan pulang meninggalkan
kalian, kami tidak ingin memerangi kalian." Tetapi apa artinya upaya ini
ketika berhadapan dengan keimanan yang tidak terkalahkan oleh gunung-gunung,
orang-orang Anshar menjawab permintaannya itu dengan kata-kata kasar dan
memperdengarkan kepadanya ungkapan yang ia benci.
Semakin
dekatlah saat peperangan, dan kedua pasukan saling mendekat, orang-orang
Quraisy melakukan usaha lain untuk tujuan yang sama. Seorang agen penghianat
yang bernama Abu Amir 'si fasik telah pergi menemui mereka, nama aslinya adalah
Abdu Amr bin Saifi, dulu ia dijuluki sang Rahib (orang yang taat, penj), lalu
Rasulullah menjulukinya si fasik. la dulu adalah pemimpin suku Aus pada zaman
Jahiliah, ketika Islam datang ia membencinya dan memusuhi Rasulullah secara
terang-terangan, lalu keluar dari Madinah dan pergi menemui orang-orang Quraisy
untuk mempro-vokasi mereka agar memusuhi Rasulullah dan menyeru mereka untuk
memeranginya. Dia berjanji pada mereka bahwa kaumnya jika melihatnya akan
menaatinya dan mengikutinya -Dialah orang yang pertama muncul kepada
orang-orang Islam dengan didampingi orang-orang Quraisy dan para sekutunya
serta budak-budak penduduk Mekkah, ia memanggil kaumnya dan memperkenalkan
dirinya pada mereka, seraya berkata, "Wahai orang-orang Aus! Aku Abu
Amir," mereka menjawab, "Allah tidak akan menganugerahimu kemuliaan
wahai si fasik!", la berkata, "Setelah kepergianku, keburukan telah
menimpa kaumku." Dan tatkala peperangan telah dimulai ia memerangi mereka
dengan kejam dan melempari mereka dengan bebatuan.
Begitulah,
lagi-lagi orang-orang Quraisy gagal dalam usahanya yang kedua untuk
mencerai-beraikan barisan orang-orang beriman Usaha mereka ini menunjukkan
bahwa ketakutan mereka pada kaum Muslimin dan rasa segan kepadanya telah
menguasai mereka, padahal jumlah mereka lebih banyak dan persiapan mereka lebih
unggul.
-----000-----
Disadur buku Arrahiqul makhtum.
Abu Ibrahim Junaedi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar