Jumat, 11 September 2026

MENJELANG PERANG UHUD

 


MENJELANG PERANG UHUD

 

Persiapan musyrikin Quraisy Untuk Perang Balas Dendam

Mekkah terbakar api amarah terhadap orang-orang Islam atas tragedi kekalahan dan terbunuhnya para tokoh dan bangsawan me reka pada perang Badar. Di sana bergemuruh ambisi balas dendam, bahkan orang-orang Quraisy dilarang menangisi orang-orang mereka yang terbunuh di Badar dan tidak diizinkan bersegera menebus para tawanan perang, supaya orang-orang Islam tidak tahu kedalaman duka dan kesedihan mereka.

Usai perang Badar orang-orang musyrik Quraisy sepakat ber perang habis-habisan melawan orang-orang Islam guna memadamkan kemarahan dan mengobati dendam mereka, maka mereka pun bersiap-siap untuk terjun dalam perang tersebut.

Ikrimah bin Abu Jahal, Shafwan bin Umayyah, Abu Sufyan bin Harb dan Abdullah bin Rabi'ah adalah para pemimpin yang paling berapi-api dan bersemangat untuk terjun dalam peperangan itu.

Hal pertama yang mereka lakukan untuk ini adalah menahan barang dagangan yang berhasil diselamatkan Abu Sufyan dan yang merupakan sebab perang Badar, mereka berkata kepada orang-orang yang memiliki harta di dalam barang dagangan itu, "Wahai orang-orang Quraisy! Sesungguhnya Muhammad telah menghinakan kalian dan membunuh orang-orang terbaik kalian, maka bantulah kami dengan harta benda ini untuk memeranginya, semoga kita dapat membalas dendam kita kepadanya." Mereka pun menyetujui per mintaan itu, dan menjual barang dagangan itu seharga seribu ekor unta, sedang uangnya berjumlah lima puluh ribu dinar, mengenai peristiwa ini Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُعْلَبُونَ

 

"Sesungguhnya orang-orang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah, mereka akan menafkan harta itu kemudian menjadi sesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan." (al-Anfal: 36).

Kemudian mereka membuka pendaftaran sukarelawan untuk mereka yang ingin ambil bagian dalam memerangi orang-orang Islam dari suku Habsy, Kinanah, dan penduduk Tihamah. Untuk merea-lisasikan hal itu mereka mempergunakan beragam sarana provokasi, bahkan Sofwan bin Umayyah membujuk Abu 'Izzah, penyair yang telah ditawan pada Perang Badar dan diberi ampunan oleh Rasu-lullah dengan membebaskannya tanpa tebusan dan memintanya berjanji untuk tidak memusuhi beliau, Sofwan membujuknya untuk memprovokasi para kabilah melawan umat Islam, dan berjanji kepadanya jika ia pulang dari perang dalam keadaan hidup ia akan mencukupinya, dan jika terbunuh, ia akan menanggung putri-putrinya, maka Abu 'Izzah bangkit memprovokasi para kabilah dengan bait-bait syairnya yang membakar dendam mereka. Ikrimah bin Abu Jahal dan kawan-kawan juga memiliki penyair lain, yaitu Musafi' bin Abdi Manaf al-Jumahi, untuk misi yang sama.

Abu Sufyan adalah orang yang paling bersemangat menghasut untuk memerangi umat Islam, setelah ia pulang dari perang sawiq dengan kegagalan tanpa memperoleh apa yang ia harapkan, bahkan ia telah kehilangan perbekalannya dalam jumlah besar pada perang itu.

Dan yang membuat mereka semakin terbakar amarah adalah kerugian besar yang terakhir menimpa mereka pada peristiwa Brigade Zaid bin Haritsah, di mana hal tersebut telah menghancurkan sendi perekonomian mereka serta menambah kesedihan dan kedukaan mereka yang tidak terkira. Karena itu orang-orang Quraisy semakin mempercepat persiapan mereka untuk terjun dalam perang yang sangat menentukan antara mereka dan kaum Muslimin.

KEKUATAN PASUKAN QURAISY DAN KOMANDONYA

Setelah genap satu tahun, kota Mekkah telah menyempurnakan persiapannya, berkumpullah di sana tiga ribu prajurit musyrik yang terdiri dari orang-orang Quraisy, para sekutu mereka dan orang-orang Habsy. Para komandan Quraisy memandang penting keikut-sertaan para wanita bersama mereka, agar hal tersebut lebih mendo-rong kaum pria untuk berperang matia-matian tanpa harus tercoreng kemuliaan dan kehormatan mereka. Jumlah wanita yang ikut serta saat itu adalah lima belas orang.

Kendaraan pengangkut mereka terdiri dari tiga ribu ekor onta, sedangkan kendaraan pasukan kafaleri berjumlah dua ratus ekor kuda( Zadul Ma’ad 2/92 Pendapat inilah yang terkenal, dam dalam Fathul Båriy 100 ekor kuda, VII/346) yang mereka bariskan di sepanjang jalan yang mereka lewati, sedang senjata pertahanan mereka berjumlah tujuh ratus perisai.

Komando pusat dipegang oleh Abu Sufyan bin Harb, komando pasukan kafaleri dipegang oleh Khalid bin al-Walid, dibantu oleh İkrimah bin Abu Jahal. Adapun panji perang dibawa oleh Bani Abdud Daar.

PASUKAN MEKKAH BERGERAK

Setelah pasukan Mekkah melakukan persiapan lengkap, mereka bergerak ke arah Madinah, dendam-dendam lama dan kemarahan yang terpendam menyulut kebencian di hati dan menanti apa yang akan terjadi pada perang yang dahsyat.

INTELEJEN NABI MENANGKAP GERAKAN MUSUH

Al-Abbas bin Abdul Muththalib mengawasi gerakan pasukan Quraisy dan persiapan-persiapan militer mereka, maka tatkala pasukan ini bergerak, al-Abbas mengirim surat kilat kepada Nabi yang menyebutkan secara rinci perihal pasukan Quraisy itu.

Utusan al-Abbas bergegas menyampaikan surat itu dan berja-lan dengan cepat bahkan ia menempuh perjalanan antara Mekkah dan Madinah-yang berjarak lima ratus kilometer- hanya dalam waktu tiga hari, selanjutnya menyampaikan surat itu kepada Nabi yang ketika itu berada di masjid Quba.

MEMBAWA SENJATA.

Sedang di pintu-pintu masuk ke Madinah dan jalan-jalan yang menuju ke sana ada beberapa kelompok orang yang menjaganya karena khawatir jika mereka diserang secara tiba-tiba.

Pasukan kaum Muslimin berpratoli untuk mengetahui pergerakan-pergerakan musuh dengan berkeliling di jalan-jalan yang mungkin mereka lewati untuk menyerang umat Islam.

PASUKAN MEKKAH BERGERAK KE TAPAL BATAS MADINAH

Pasukan Mekkah melanjutkan perjalanannya melalui jalur utama barat yang biasa dilewati, dan ketika tiba di Abwa, Hindun binti Uthbah-istri Abu Sufyan- mengusulkan agar kuburan ibu Rasu-lullah dibongkar, tetapi para komandan pasukan menolak permin-taan itu dan memperingatkan akan akibat-akibat buruk yang akan menimpa mereka jika mereka melakukan hal itu.

Lalu, pasukan Mekkah melanjutkan perjalanannya hingga men-dekati kota Madinah, lalu melintasi lembah al-Aqiq dan selanjutnya berbelok ke arah kanan hingga tiba di dekat gunung Uhud di sebuah tempat bernama Ainain di tanah tandus yang bersambung dengan salah satu saluran yang berada di tepi lembah yang terletak di utara Madinah di samping gunung Uhud, lalu mereka berkemah di sana pada hari Jum'at tanggal enam bulan Syawal tahun 3 H.

MAJLIS PERMUSYAWARATAN UNTUK MENETAPKAN STRATEGI PERTAHANAN

Intelejen Madinah mengirimkan berbagai informasi tentang pasukan Mekkah secara terus menerus, hingga kabar terakhir tentang perkemahan mereka, seketika itu Rasulullah mengadakan majlis permusyawaratan militer tertinggi untuk bertukar pikiran guna menentukan sikap. Beliau memberitahukan kepada mereka tentang mimpi yang telah beliau lihat, beliau berkata, "Demi Allah! Sungguh aku telah mengalami mimpi yang baik, aku bermimpi melihat beberapa ekor sapi disembelih, aku melihat retak di mata pedangku, dan melihat aku memasukkan tanganku ke baju besi yang kuat." Beliau mengartikan bebe-rapa ekor sapi sebagai segolongan sahabat beliau yang akan terbunuh, mengartikan retak di pedang beliau dengan seseorang keluarga beliau yang akan terbunuh dan mengartikan baju besi dengan Madinah.

Kemudian beliau mengemukakan pendapatnya kepada para sahabatnya agar mereka tidak keluar dari kota Madinah, namun bertahan di dalamnya. Jika orang-orang musyrik memilih tinggal di

Surat itu dibacakan kepada Nabi oleh Ubay bin Ka'ab, lalu beliau memintanya merahasiakan isinya, kemudian beliau pulang dengan cepat ke Madinah dan bertukar pikiran dengan para pemuka Muhajirin dan Anshar.

PERSIAPAN PASUKAN ISLAM MENGHADAPI KEADAAN DARURAT

Madinah senantiasa berada dalam kondisi siaga penuh, kaum pria tidak pernah menanggalkan senjata, bahkan ketika mereka sedang shalat, mereka melakukan itu sebagai persiapan menghadapi hal-hal yang tak terduga.

Sekelompok tokoh Anshar -di antara mereka adalah Sa'ad bin Muadz, Usaid bin Khudhair dan Sa'ad bin Ubadah-menjaga Rasu-lullah mereka begadang di depan pintu rumah beliau sambil

perkemahan mereka, berarti mereka tinggal di tempat yang buruk dan tanpa membuahkan hasil, namun jika mereka berani memasuki kota, mereka akan diperangi oleh kaum Muslimin di pintu-pintu gang dan dibantai para wanita dari atas atap-atap rumah. Dan ini merupakan pendapat yang tepat. Yang menyetujui pendapat beliau tersebut adalah Abdullah bin Ubai bin Sallul-gembong orang-orang munafik- ia menghadiri majlis itu selaku salah seorang pemuka suku Khazraj. Tampak bahwa persetujuannya pada pendapat ini bukanlah karena pendapat ini merupakan pilihan yang tepat dari sudut pandang militer, tetapi agar ia dapat menghindari peperangan tanpa diketahui oleh seorang pun. Namun Allah berkehendak membongkar kedoknya dan kedok sahabat-sahabatnya untuk pertama kalinya- di depan umat Islam, dan menyingkap tirai kekufuran dan kemunafikan mereka yang selama ini tersembunyi dibaliknya, serta supaya kaum Muslimin pada saat paling genting mengetahui ular-ular yang ber-gerak di dalam baju dan lengan mereka.

Segolongan tokoh utama sahabat yang tidak turut serta dalam perang Badar maju dan mengusulkan kepada Nabi agar keluar (menyongsong musuh), mereka bersikeras dengan usulan itu, sampai-sampai salah seorang dari mereka berkata, "Wahai Rasulullah! Kami begitu mengharapkan kedatangan hari ini dan kami senantiasa berdoa kepada Allah, hingga Allah menganugerahkannya kepada kami dan keberangkatan menuju peperangan telah dekat, keluarlah menyong-song musuh-musuh kita, supaya mereka tidak menganggap kita pengecut dan tidak mempunyai keberanian menghadapi mereka."

Di barisan depan orang-orang yang bersemangat itu adalah Hamzah bin Abdul Muththalib paman Rasulullah, ia berkata kepada beliau, "Demi Dzat yang menurunkan kitab al-Qur'an kepa-damu, aku tidak akan makan makanan hingga aku membabat mereka dengan pedangku di luar Madinah."( As-Sirah al-Halabiyah, II/14).

Rasulullah membatalkan pedapatnya ketika bertentangan dengan pendapat orang-orang yang bersemangat itu, sehingga kepu-tusan akhir adalah keluar dari Madinah dan berperang di medan terbuka.

PEMBAGIAN PASUKAN ISLAM MENJADI BEBERAPA BATALYON DAN KEBERANGKATAN MEREKA KE MEDAN PERANG.

 

Kemudian Nabi shalat bersama kaum Muslimin pada hari Jum'at, lalu memberikan nasihat dan memerintahkan mereka agar serius dan bersungguh-sungguh, lalu memberitahukan bahwa mereka akan memperoleh kemenangan karena kesabaran mereka, dan meminta mereka bersiap-siap menghadapi musuh. Maka umat Islam bergembira mendengar isi khutbah beliau itu.

Lalu beliau shalat Ashar bersama mereka, sedang mereka telah berkumpul, begitu juga orang-orang yang tinggal di sekitar Madinah, kemudian beliau masuk ke dalam rumahnya dan diikuti oleh dua orang sahabat beliau, Abu Bakar dan Umar, lalu mereka memakaikan sorban dan pakaian beliau, setelah itu beliau memanggul senjatanya dan memakai baju besi rangkap dua lalu mengambil pedang dan keluar menemui pasukan Islam.

Kaum Muslimin telah menunggu-nunggu beliau keluar, semen-tara Sa'ad bin Mu'adz dan Usaid bin Hudhair berkata kepada mereka, "Kalian telah memaksa Rasulullah keluar Madinah, serahkanlah keputusan kepadanya." Mendengar itu mereka semua menyesali perbuatan yang telah mereka lakukan, maka ketika beliau keluar, mereka berkata kepadanya, "Wahai Rasulullah! Kami tidak berniat menentangmu, maka lakukanlah apa yang engkau kehendaki, jika engkau senang tinggal di Madinah lakukanlah." Rasulullah menja-wab, "Tidak seyogyanya bagi seorang nabi jika telah memakai baju besinya lalu menanggalkannya kembali sehingga Allah memutuskan antara dia dan musuhnya.” (HR. Ahmad, III/351, dan Nasa'i, Hakim serta Ibnu Ishaq dan Bukhari menyebutkan dalam tarjamah suatu bab di al-l'tisham).

Selanjutnya Nabi mengelompokkan pasukannya menjadi tiga batalyon:

1. Batalyon Muhajirin, dan beliau menyerahkan panjinya kepada Mush'ab bin Umair al-Abdari.

2. Batalyon suku Aus dari Anshar, dan beliau menyerahkan panjinya kepada Usaid bin Khudhair.

3. Batalyon Khazraj, dan beliau menyerahkan panjinya kepada al-Hubab bin al-Mundzir.

Pasukan kaum Muslimin terdiri dari seribu prajurit, di antara mereka ada seratus prajurit berperisai (Ibnul Qayyim dalam Zádul Ma'ad, II/92 berkata, "Dan limapuluh prajurit berkuda. Ibnu Hajar berkata, "Pendapat ini jelas-jelas salah. Musa bin Uqbah telah menegaskan bahwa dalam perang Uhud tidak ada satu pun kuda yang ikut bersama pasukan Islam, dan menurut al-Waqidi, ikut serta dalam perang tersebut kuda Rasulullah dan kuda Abu Burdah. Fathul Bariy, VII/350).

dan tidak satu pun dari mereka yang berkuda, beliau mengangkat Ibnu Ummi Maktum menjadi imam shalat di Madinah bersama mereka yang tinggal di sana, lalu beliau mengumumkan saat keberangkatan, maka bergeraklah pasukan itu ke arah utara, Sa'ad bin Mu'adz dan Sa'ad bin Ubadah berlari di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengenakan baju besi.

Tatkala beliau telah melewati Tsaniyatul Wada', beliau melihat ada sekelompok pasukan dengan persenjataan lengkap terpisah dari pasukan mana pun, maka beliau bertanya tentang pasukan itu, beliau diberitahukan bahwa mereka adalah orang-orang Yahudi yang merupakan sekutu suku Khazraj, mereka ingin ikut serta dalam perang melawan pasukan musyrikin, beliau bertanya, "Apakah mereka masuk Islam?", para sahabat menjawab, "Tidak." Maka beliau tidak mau minta bantuan pada orang-orang kafir untuk memerangi orang-orang musyrik.

INSPEKSI PASUKAN

Ketika beliau sampai di suatu tempat yang bernama "Asy-Syaikhani", beliau menginspeksi pasukannya, dan menolak mereka yang beliau anggap masih kecil dan belum sanggup berperang. Di antara mereka yang ditolak adalah Abdullah bin Umar bin al-Khaththab, Usamah bin Zaid, Usaid bin Dhuhair, Zaid bin Tsabit, Zaid bin Arqam, 'Arabah bin Aus, 'Amr bin Hazm, Abu Sa'id al-Khudhri, Zaid bin Haritsar al-Anshari dan Sa'ad bin Hibbah, dalam kelompok ini juga disebut nama al-Bara' bin 'Azib, tetapi hadist yang diriwayatkannya dalam al-Bukhari menunjukkan keikutsertaannya dalam peperangan hari itu.

Beliau mengizinkan Rafi' bin Khudaij dan Samurah bin Jundub meski keduanya berusia muda, hal itu karena Rafi' bin Khudaij mahir dalam membidikkan anak panah, maka Rasulullah mengizin-kannya, lantas Samurah berkata, "Aku lebih kuat dari Rafi', aku dapat mengalahkannya," maka ketika Rasulullah diberitahu ten-tang hal itu, beliau memerintahkan mereka berdua berkelahi di depan beliau, maka mereka pun berkelahi dan Samurah berhasil mengalah-kan Rafi', akhirnya beliau pun mengizinkannya juga.

BERMALAM DI TEMPAT ANTARA UHUD DAN MADINAH

Mereka tiba di tempat ini pada waktu senja, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Maghrib lalu shalat Isya' dan bermalam di sana. Kemuidan memilih lima puluh orang untuk menjaga perkemahan dengan

1 Hal itu diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad. Dalam riwayat itu dikatakan bahwa sesungguh-nya mereka berasal dari Bani Qainuqa', II/34. Padahal sebagaimana diketahui, mereka telah diusir pasca perang Badar.

PEMBELOTAN ABDULLAH BIN UBAY DAN SAHABAT-SAHABATNYA

 

Sesaat sebelum fajar menyingsing beliau melanjutkan perjalanan, ketika tiba di Syauth beliau shalat subuh. Pada waktu itu beliau berada dekat sekali dengan musuh, beliau dapat melihat mereka dan mereka dapat melihat beliau. Di sanalah Abdullah bin Ubay sang munafik membelot, ia pulang bersama sekitar sepertiga pasukan -tigaratus prajurit- sambil berkata, "Kami tidak tahu atas dasar apa kami harus membunuh diri kami sendiri?" Sambil memberikan kesan protes atas putusan Rasulullah yang menolak pendapatnya dan menyetujui pendapat orang lain.

Tidak diragukan bahwa sebab pembelotan ini yang sebenarnya bukanlah apa yang ditampakkan oleh si munafik ini, yaitu, peno-lakkan Rasulullah terhadap pendapatnya, karena jika tidak begitu, maka perjalanannya bersama pasukan Nabi ke tempat ini tidak memiliki makna. Bahkan seandainya hal ini adalah penyebabnya, pasti ia telah memisahkan diri dari pasukan sejak pertama, tetapi tujuan utama dari pembelotan ini-di saat dalam kondisi sulit tersebut-adalah membuat kekacauan dan keraguan di dalam tubuh pasukan Islam di hadapan musuh mereka, supaya mayoritas pasukan mening-galkan Nabi sedang pasukan yang masih bertahan bersama beliau akan padam semangat mereka. Sementara musuh akan semakin berani dan semangatnya semakin meningkat karena melihat pemandangan ini, hal itu akan mempercepat pembunuhan atas Nabi dan sahabat-sahabatnya yang ikhlas, setelah itu suasana menjadi tenang karena kepemimpinan kembali ke pangkuan pada si munafik ini dan para sahabatnya.

Si munafik ini hampir saja berhasil merealisasikan sebagian apa yang telah menjadi tujuannya. Dua kelompok, masing-masing Bani Haritsah dari suku Aus dan Bani Salamah dari suku Khazraj telah bertekad untuk mundur, tetapi Allah meneguhkan kedua kelompok itu, maka keduanya menjadi tenang kembali setelah sebelumnya dalam diri keduanya bergemuruh keraguan dan keinginan untuk pulang kembali dan memisahkan diri. Tentang keduanya Allah berfirman,

إِذْ هَمَّت طَائِفَتَانِ مِنكُمْ أَن تَفْشَلَا وَاللَّهُ وَلِيُّهُهَا وَعَلَ اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

"Ketika dua golongan dari kalian ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu, karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang Mukmin bertawakkal." (Ali Imran: 122).

Abdullah bin Haram -ayah Jabir bin Abdullah- berupaya meng-ingatkan orang-orang munafik akan kewajiban mereka pada situasi genting ini, ia mengikuti mereka sambil mencela dan meminta mereka kembali, seraya berkata, "Kembalilah, berperanglah di jalan Allah atau bertahanlah." Mereka menjawab, "Andai kami tahu kalian akan berperang kami tidak akan pulang." Maka Abdullah bin Haram meninggalkan mereka seraya berkata, "Semoga Allah membinasakan kalian wahai musuh-musuh Allah, Allah akan mencukupi Nabi-Nya tanpa bantuan kalian."

Tentang orang-orang munafik ini, Allah Ta'ala berfirman (artinya), "Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik, kepada mereka dikatakan, "Marilah berperang di jalan Allah atau pertahan-kanlah (diri kalian)," mereka berkata, "Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kalian," mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan." (Ali Imran: 16).

SISA PASUKAN ISLAM KE UHUD

Setelah terjadinya pembelotan dan penarikan diri tersebut, Nabi memimpin sisa pasukan yang berjumlah tujuh ratus prajurit untuk melanjutkan perjalanannya menuju arah musuh. Antara lokasi perkemahan pasukan musyrikin dan gunung Uhud terhalang oleh tempat-tempat yang banyak, maka Nabi bertanya, "Siapakah orang yang bisa mengantarkan kami ke pasukan musuh itu melalui jalan yang dekat tanpa harus melewati mereka?", berkata Abu Khaitsamah, "Aku wahai Rasulullah", lalu dia mengambil jalan pintas menuju Uhud dengan melalui tanah lapang dan ladang Bani Haritsah, sedang posisi musuh di kanan mereka.

Dalam perjalanan ini pasukan Islam melewati kebun Marba' bin Qaidhi -seorang munafik yang buta matanya ketika ia merasakan kehadiran ran mereka ia menaburkan debu ke muka kaum Muslimin seraya berkata, "Aku tidak memberimu izin masuk kebunku, jika engkau adalah Rasulullah." Maka pasukan kaum Muslimin bergegas maju untuk membunuhnya, tetapi Nabi berkata, "Janganlah kalian membunuhnya, orang ini buta hati, buta mata."

Rasulullah melanjutkan perjalanannya hingga tiba di jalan

yang ada di gunung Uhud, di tepi sebuah lembah, selanjutnya beliau bersama pasukannya mendirikan perkemahan menghadap Madinah dan membelakangi kaki gunung Uhud, dengan demikian, pasukan musuh menjadi penghalang antara pasukan Islam dan Madinah.

RENCANA PERTAHANAN

Di sana Rasulullah memobilisasi pasukannya, menyiapkan mereka menjadi beberapa barisan untuk berperang dan memilih sekelompok pemanah ulung dari mereka yang jumlahnya lima puluh prajurit dan beliau menyerahkan komandonya kepada Abdullah bin Jubair bin an-Nu'man al-Anshari al-Ausi al-Badri (peserta perang Badar penj.), beliau memerintahkan mereka bertahan di sebuah gunung yang terletak di tepi selatan lembah Qanah -gunung ini nantinya dikenal dengan nama Jabal Rumah (gunung para pemanah -penj.)- sebelah tenggara perkemahan pasukan Islam, sekitar seratus lima puluh meter dari tempat berkumpulnya pasukan Islam.

Tujuan penempatan itu adalah apa yang diungkapkan oleh Rasulullah dalam instruksi yang beliau sampaikan kepada para pemanah itu, di mana beliau telah berkata kepada komandan mereka, "Jauhkanlah kuda-kuda musuh dari kami dengan cara memanahinya, jangan sampai mereka menyerang kami dari belakang, jika kami menang atau kalah tetaplah di tempatmu, supaya kami tidak diserang dari arahmu." Kemu-dian beliau berkata kepada para pemanah itu, "Lindungilah arah belakang kami, jika kalian melihat kami dibunuhi maka janganlah kalian menolong kami, dan jika kalian melihat kami telah mendapatkan rampasan perang maka kalian jangan ikut bersama kami." (Ibnu Hisyam, 1/65-66).

Dan dalam riwayat al-Bukhari, beliau berkata, "Jika kalian melihat kami dikalahkan musuh maka kalian jangan meninggalkan tempat kalian ini hingga aku mengutus utusan kepada kalian, dan apabila kalian melihat kami telah mengalahkan pasukan musuh itu dan mencerai-beraikan mereka, maka janganlah meninggalkan tempat ini, hingga aku mengutus utusan kepada kalian."

Dengan penempatan pasukan pemanah di gunung ditambah perintah-perintah militer yang tegas tersebut, Rasulullah telah menutup celah satu satunya yang mungkin menjadi jalan bagi para prajurit musyrik menyusup ke barisan pasukan Islam lalu melakukan gerakan-gerakan pengepungan dan taktik pemblokiran.

(Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, ath-Thabari, dan al-Hakim dari Ibnu Abbas. Lihat Fatiul Bariy, VII/350).

Adapun posisi sisa pasukan, Rasulullah menempatkan pada sayap kanan al-Mundzir bin Amr dan menempatkan pada sisi kiri az Zubair bin al-Awwam dibantu oleh al-Miqdad bin al-Aswad, kepada az-Zubair dipasrahkan tugas bertahan menghadapi pasukan berkuda Khalid bin Walid, dan beliau menempatkan di bagian depan barisan para prajurit pilihan yang terdiri dari para pemberani pasukan Islam dan tokoh-tokoh mereka yang terkenal dengan kepatriotan dan kebe-ranian, dimana kemampuan mereka sebanding dengan ribuan orang.

Taktik ini adalah taktik yang cerdik dan sangat rapi. Dalam taktik ini tampak kecerdasan kepemimpinan Nabi di bidang militer. Tidak mungkin bagi komandan mana pun meski kecakapan-nya luar biasa, untuk membuat taktik yang lebih cerdik dan lebih matang daripada taktik ini, beliau benar-benar telah menempati posisi paling strategis dari medan peperangan, padahal beliau tiba di sana setelah musuh. Punggung dan sayap kanan pasukan terlindungi oleh tingginya gunung, sayap kanan dan punggungnya- ketika peperangan berkecamuk- terlindungi dengan cara menutup satu-satunya celah yang berada di sisi pasukan Islam. Beliau memilih dataran tinggi untuk perkemahan pasukannya supaya dapat berlindung di sana-jika kekalahan menimpa pasukan Islam- dan tidak melarikan diri, sehingga mereka tidak jatuh dalam genggaman musuh yang mengejar dan tidak pula tertawan bahkan sebaliknya beliau akan menimpakan kerugian yang sangat besar kepada musuh-musuhnya jika mereka berusaha menguasai perkemahan kaum Muslimin dan maju ke sana. Dengan demikian beliau memaksa musuh-musuhnya mengambil posisi di dataran rendah yang sulit sekali bagi mereka untuk mem-peroleh sedikit pun dari manfaat kemenangan, jika nantinya keme-nangan berada di pihak mereka, di samping itu sulit bagi mereka untuk menghindar dari pasukan Islam yang mengejar jika kemenangan di pihak pasukan Islam. Di sisi lain beliau telah menutupi kekurangan jumlah prajurit pada pasukannya dengan memilih sekelompok prajurit pilihan yang terdiri dari para sahabat beliau yang pemberani dan perkasa.

Begitulah, mobilisasi pasukan Nabi dapat diselesaikan pada hari sabtu pagi tanggal tujuh bulan syawwal tahun ketiga Hijriah.

Rasulullah Meniupkan Semangat Patriotik Kepada Pasukan Islam

Rasulullah melarang para prajuritnya memulai serangan sebelum beliau memerintahkan mereka. Beliau memakai dua baju

besi, memotivasi para sahabatnya untuk berperang dan mendorong mereka bersabar dan tegar ketika berhadapan dengan musuh, kemu-dian meniupkan semangat keberanian dan patriotisme kepada para sahabatnya, lalu menghunus sebilah pedang yang sangat tajam dan menyeru sahabat-sahabatnya, "Siapa yang mengambil pedang ini dengan haknya?" Maka beberapa orang maju untuk mengambilnya -di antara mereka adalah Ali bin Abi Thalib, az-Zubair bin al-Awwam dan Umar bin al-Khaththab- hingga akhirnya Abu Dujanah Sammak bin Kharsyah mendekati beliau dan bertanya, "Apa haknya wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Engkau membabat dengan pedang ini wajah-wajah musuh hingga menunduk." Ia berkata, "Akulah yang meng-ambilnya dengan haknya wahai Rasulullah!" Maka beliau memberi-kannya kepadanya.

Abu Dujanah adalah seorang pemberani yang sombong (terhadap musuh) di medan perang, ia mempunyai ikat kepala merah, jika ia telah memakainya orang-orang tahu bahwa ia akan bertempur hingga mati. Maka tatkala dia telah mengambil pedang tersebut dan mengikat kepalanya dengan ikat kepala itu, dia pun berjalan dengan sombongnya di antara dua pasukan, pada saat itu Rasulullah bersabda, "Cara berjalan semacam ini dibenci oleh Allah kecuali di tempat seperti ini."

MOBILISASI PASUKAN MEKKAH

Orang-orang musyrik, memobilisasi pasukan mereka berdasarkan aturan barisan, komando pusat dipegang oleh Abu Sufyan Shakhr bin Harb yang berada di tengah-tengah pasukan, sedang Khalid bin al-Walid- yang ketika itu masih musyrik- di sayap kanan, Ikrimah bin Abu Jahal disayap kiri, dan Sofwan bin Umayyah memimpin pasukan pejalan kaki, sementara Abdullah bin Abi Rabiah memimpin pasukan pemanah.

Panji-panji perang, mereka diserahkan kepada sekelompok orang dari bani Abdud Dar, membawa panji-panji merupakan hak mereka sejak Bani Abdu Manaf membagi-bagi jabatan yang yang mereka warisi dari Qushai bin Kilab-sebagaimana yang telah kami kemukakan di awal buku ini ini-, dan tidak seorang pun yang dapat merebut hal itu dari tangan mereka, karena terikat oleh tradisi-tradisi yang mereka warisi dari generasi ke generasi. Tetapi komandan tertinggi -Abu Sufyan- mengingatkan mereka akan apa yang telah menimpa orang-orang Quraisy pada perang Badar ketika pembawa

(Shabih al-Bukhariy, kitab al-Jihad, 1/426).

panji mereka an-Nadhr bin al-Harits tertawan, ia berkata kepada mereka untuk membangkitkan kemarahan dan membangkitkan fana-tisme mereka, "Wahai Bani Abdud Dar! kalian telah membawa panji-panji kita pada perang Badar, dan telah menimpa kita apa yang telah kalian lihat, sesungguhnya suatu pasukan ditundukkan melalui panji mereka, jika panji hilang maka binasalah mereka, jadi sebaiknya kalian menjaga panji itu untuk kami dengan benar atau serahkan saja kepada kami panji tersebut dan kami akana menjaganya untuk kalian."

Abu Sufyan berhasil mencapai tujuannya, hingga Bani Abdud Dar marah dengan kemarahan yang meluap karena perkataan Abu Sufyan tersebut, mereka marah kepadanya dan mengancamnya, seraya berkata, "Kami memasrahkan panji-panji kami kepadamu? Besok kamu akan tahu ketika kita bertemu musuh bagaimana kami bertindak." Mereka benar-benar teguh ketika peperangan berkeca-muk hingga mereka terbunuh semuanya tanpa sisa.

MANUVER PIHAK QURAISY

Sesaat sebelum perang dimulai, orang-orang Quraisy berusaha menciptakan perpecahan dan perselisihan di tengah-tengah pasukan Islam dimana, Abu Sufyan mengirim seorang utusan kepada kaum Anshar untuk menyampaikan pesan yang berbunyi, "Biarkan apa yang terjadi antara kami dan sepupu kami, kamipun akan pulang meninggalkan kalian, kami tidak ingin memerangi kalian." Tetapi apa artinya upaya ini ketika berhadapan dengan keimanan yang tidak terkalahkan oleh gunung-gunung, orang-orang Anshar menjawab permintaannya itu dengan kata-kata kasar dan memperdengarkan kepadanya ungkapan yang ia benci.

Semakin dekatlah saat peperangan, dan kedua pasukan saling mendekat, orang-orang Quraisy melakukan usaha lain untuk tujuan yang sama. Seorang agen penghianat yang bernama Abu Amir 'si fasik telah pergi menemui mereka, nama aslinya adalah Abdu Amr bin Saifi, dulu ia dijuluki sang Rahib (orang yang taat, penj), lalu Rasulullah menjulukinya si fasik. la dulu adalah pemimpin suku Aus pada zaman Jahiliah, ketika Islam datang ia membencinya dan memusuhi Rasulullah secara terang-terangan, lalu keluar dari Madinah dan pergi menemui orang-orang Quraisy untuk mempro-vokasi mereka agar memusuhi Rasulullah dan menyeru mereka untuk memeranginya. Dia berjanji pada mereka bahwa kaumnya jika melihatnya akan menaatinya dan mengikutinya -Dialah orang yang pertama muncul kepada orang-orang Islam dengan didampingi orang-orang Quraisy dan para sekutunya serta budak-budak penduduk Mekkah, ia memanggil kaumnya dan memperkenalkan dirinya pada mereka, seraya berkata, "Wahai orang-orang Aus! Aku Abu Amir," mereka menjawab, "Allah tidak akan menganugerahimu kemuliaan wahai si fasik!", la berkata, "Setelah kepergianku, keburukan telah menimpa kaumku." Dan tatkala peperangan telah dimulai ia memerangi mereka dengan kejam dan melempari mereka dengan bebatuan.

Begitulah, lagi-lagi orang-orang Quraisy gagal dalam usahanya yang kedua untuk mencerai-beraikan barisan orang-orang beriman Usaha mereka ini menunjukkan bahwa ketakutan mereka pada kaum Muslimin dan rasa segan kepadanya telah menguasai mereka, padahal jumlah mereka lebih banyak dan persiapan mereka lebih unggul.

 

 

-----000-----

 

Disadur buku Arrahiqul makhtum.

Abu Ibrahim Junaedi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENJELANG PERANG UHUD

  MENJELANG PERANG UHUD   Persiapan musyrikin Quraisy Untuk Perang Balas Dendam Mekkah terbakar api amarah terhadap orang-orang Islam ...