Selasa, 22 September 2026

BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.

 

BAB 7

SOAL 1.

TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.

 

 

س ١ - بِمَاذَا نَتَوَسَّلُ إِلَى اللَّهِ؟

Soal 1 : Dengan apa kita bertawassul kepada Allah?

ج 1 - التَّوَسُّلُ مِنْهُ : جَائِزٌ وَمَمْنُوعٌ

Jawaban: Tawassul ada yang diperbolehkan dan ada yang dilarang.

التَّوَسُّلُ الْجَائِزُ وَالْمَطْلُوبُ هُوَ:

Tawassul yang diperbolehkan dan dianjurkan adalah:

١ التَّوَسُّلُ بِأَسْمَاءِ اللَّهِ وَصِفَاتِهِ

Bertawassul dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah.

٢ وَالتَّوَسُّلُ بِالْعَمَلِ الصَّالِحِ.

Dan bertawassul dengan amal saleh.

قال الله تعالى:

Allah ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا.

 “Dan Allah memiliki nama-nama yang indah, maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama tersebut.” Dalil: QS. Al-A'raf [7]: 180.

وقال تعالى:

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya.” (QS. Al-Ma'idah [5]: 35).

أَي تَقَرَّبُوا إِلَيْهِ بِطَاعَتِهِ وَالْعَمَلِ بِمَا يُرْضِيهِ ذَكَرَهُ ابْنُ كَثِيرٍ نَقْلًا عَنْ قَتَادَةَ.

Maksudnya, mendekatkan diri kepada-Nya dengan menaati-Nya dan melakukan amalan yang Dia ridhai. (Hal ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dengan menukil dari Qatadah).

وقال ﷺ: أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang menjadi milik-Mu.” (Hadis sahih, diriwayatkan oleh Ahmad).

وقال ﷺ لِلصَّحَابِيِّ الَّذِي سَأَلَهُ مُرَافَقَتَهُ الْجَنَّةَ وقال له: أَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seorang sahabat yang meminta agar dapat menemani beliau di surga, beliau bersabda kepadanya: “Bantulah aku untuk dirimu dengan memperbanyak sujud.”

أَيِ الصَّلَاةِ وَهِيَ مِنَ الْعَمَلِ الصَّالِحِ.

Maksudnya adalah shalat, dan shalat termasuk amal saleh. (HR. Muslim).

وَيَجُوزُ التَّوَسُّلُ بِحُبِّنَا وَحُبِّ اللَّهِ لِلرَّسُولِ وَالأَوْلِيَاءِ.

Bertawassul dengan kecintaan kita dan kecintaan Allah kepada Rasul dan para wali diperbolehkan. (Untuk mengetahui lebih banyak perincian dan dalil-dalil mengenai pembahasan ini, silakan merujuk kepada risalah “Tawassul, Hukum-Hukumnya dan Jenis-Jenisnya”, Syaikh al-Albani).

وَكَقِصَّةِ أَصْحَابِ الْغَارِ الَّذِينَ تَوَسَّلُوا بِأَعْمَالِهِمُ الصَّالِحَةِ فَفَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُمْ.

Seperti kisah tiga orang yang terperangkap di dalam gua, yang bertawassul kepada Allah dengan amal-amal saleh mereka, lalu Allah memberikan jalan keluar bagi mereka.

Hadis tentang tiga orang yang masuk ke dalam gua dan tertutup oleh batu besar. Masing-masing berdoa kepada Allah dengan menyebut amal saleh yang pernah dilakukannya, hingga batu tersebut bergeser dan akhirnya mereka dapat keluar. (HR. Bukhari dan Muslim).

التَّوَسُّلُ الْمَمْنُوعُ: وَهُوَ دُعَاءُ الْأَمْوَاتِ، وَطَلَبُ الْحَاجَاتِ مِنْهُمْ كَمَا هُوَ وَاقِعُ الْيَوْمَ، وَهُوَ شِرْكٌ أَكْبَرُ.

Adapun tawassul yang dilarang adalah berdoa kepada orang-orang yang telah meninggal dan meminta berbagai kebutuhan kepada mereka, sebagaimana yang terjadi pada zaman sekarang. Perbuatan tersebut merupakan syirik besar.

لِقَوْلِهِ تَعَالَى:

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ، فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ.

 “Dan janganlah engkau berdoa kepada selain Allah yang tidak dapat memberi manfaat kepadamu dan tidak pula dapat memberi mudarat kepadamu. Jika engkau melakukan hal itu, maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Yunus [10]:106)

Yang dimaksud dengan “orang-orang yang zalim” dalam ayat ini adalah orang-orang musyrik, sebagaimana disebutkan dalam penjelasan yang dikutip dalam teks.

أَمَّا التَّوَسُّلُ بِجَاهِ الرَّسُولِ كَقَوْلِكَ: يَا رَبِّ بِجَاهِ مُحَمَّدٍ اشْفِنِي فَهَذَا بِدْعَةٌ، لِأَنَّ الصَّحَابَةَ لَمْ يَفْعَلُوهُ.

Adapun bertawassul dengan kedudukan Rasul, seperti ucapanmu, “Wahai Rabbku, dengan kedudukan Muhammad, sembuhkanlah aku,” maka ini merupakan bid'ah, karena para sahabat tidak melakukannya.

وَلِأَنَّ عُمَرَ تَوَسَّلَ بِالْعَبَّاسِ حَيًّا بِدُعَائِهِ، وَلَمْ يَتَوَسَّلْ بِالرَّسُولِ ﷺ.

Dan karena Umar bertawassul dengan Al-Abbas ketika beliau masih hidup, yaitu dengan doanya, dan Umar tidak bertawassul dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika terjadi kekeringan, Umar bin Al-Khattab meminta Al-Abbas bin Abdul Muththalib agar berdoa kepada Allah untuk meminta hujan. (HR. Bukhari).

وَهَذَا التَّوَسُّلُ قَدْ يُؤَدِّي لِلشِّرْكِ، وَذَلِكَ إِذَا دَعَاهُ بَعْدَ مَوْتِهِ، وَهُوَ اعْتَقَدَ أَنَّ اللَّهَ مُحْتَاجٌ لِوَاسِطَةِ بَشَرٍ كَالْأَمِيرِ وَالْحَاكِمِ، لِأَنَّهُ شَبَّهَ الْخَالِقَ بِالْمَخْلُوقِ.

Tawassul seperti ini dapat mengantarkan kepada syirik, yaitu apabila seseorang berdoa kepadanya setelah kematiannya, dan ia meyakini bahwa Allah membutuhkan perantara manusia, seperti seorang pemimpin atau penguasa. Sebab, dengan keyakinan tersebut ia menyerupakan Al-Khaliq (Sang Pencipta) dengan makhluk.

-----000-----

Penjelasan:

 

Pengertian tawasul.

Tawassul adalah mengambil sarana (wasilah) agar doa atau ibadahnya dapat diterima dan dikabulkan.

Al-wasilah menurut bahasa berarti segala hal yang dapat menyampaikan dan mendekatkan kepada sesuatu. Bentuk jamaknya adalah wasaa-il. (An-Nihayah fil Gharibil Hadiit wal Atsar, 5: 185, karya Ibnul Atsir).

Menurut istilah syari’at, al-wasilah yang diperintahkan dalam Al-Qur’an adalah segala hal yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah Ta’ala, yaitu berupa amal ketaatan yang disyariatkan. (Tafsir Ath-Thabari, 4: 567 dan Tafsir Ibnu Katsir, 3: 103)

Oleh karena itu Allah ta’ala berfirman:

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan carilah wasilah (sebab) untuk semakin dekat kepadaNya, dan berjihadlah di jalan Allah, agar kalian menjadi orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 35)

Sufyan Ats-Tsauri meriwayatkan dari Thalhah, dari Atha', dari Ibnu 'Abbas, bahwa kata-kata "cara apapun untuk mendekatiNya". (QS. Al-Maidah [5]:35).

Pembagian tawasul.

Tawasul terbagi menjadi 3:

1.   Tawasul yang disyari’atkan.

Adapun tawasul yang disyari’atkan yaitu:

1)  Tawasul dengan nama-nama Allah.

Allah ta’ala berfirman:

وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَا.

“Allah memiliki Asmaulhusna (nama-nama yang terbaik). Maka, bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut  (Asmaulhusna) itu.” (QS. Al-A’raf[7]:180).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ.

"Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan berdiri sendiri, dengan rahmat-Mu aku mohon perlindungan." (HR. Tirmidzi  3254, di dahasankan Syaikh al-Albani di dalam as-Shahih 2457).

أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ.

“(Ya Allah) aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama-Mu, yang Engkau gunakan untuk diri-Mu, atau yang Engkau turunkan di dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan untuk diri-Mu dalam ilmu gaib di sisi-Mu.” (HR. Imam Ahmad 3712, Ibnu Hibban 2372, dishahihkan syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 199).

2)  Tawasul dengan keimanan.

Allah ta’ala berfirman:


رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا ۚ رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا.

Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu), ‘Berimanlah kamu kepada Rabbmu; maka kami pun beriman. Ya Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami.” (Ali Imran [3]: 193).

Dan Firman-Nya,

إِنَّهُ كَانَ فَرِيقٌ مِنْ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا.

Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), ‘Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat’. (Al-Mukminun [23]: 109).

3)  Tawasul dengan amal shalih.

Allah ta’ala berfirman.

وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ ۚ

(Ingatlah) Ayyub ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku) sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” (QS. Al-Anbiya [21]:83).

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوْا المَبِيتَ إِلَى غَارٍ، فَدَخَلُوهُ فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الجَبَلِ، فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الغَارَ، فَقَالُوا: إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلَّا أَنْ تَدْعُوا اللَّهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ: اللَّهُمَّ كَانَ لِي أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ، وَكُنْتُ لاَ أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلًا، وَلاَ مَالًا فَنَأَى بِي فِي طَلَبِ شَيْءٍ يَوْمًا، فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا، فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا، فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ وَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلًا أَوْ مَالًا، فَلَبِثْتُ وَالقَدَحُ عَلَى يَدَيَّ، أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الفَجْرُ، فَاسْتَيْقَظَا، فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ، فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ، فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لاَ يَسْتَطِيعُونَ الخُرُوجَ "، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " وَقَالَ الآخَرُ: اللَّهُمَّ كَانَتْ لِي بِنْتُ عَمٍّ، كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيَّ، فَأَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا، فَامْتَنَعَتْ مِنِّي حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ، فَجَاءَتْنِي، فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمِائَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّيَ بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِهَا، فَفَعَلَتْ حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا، قَالَتْ: لاَ أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الخَاتَمَ إِلَّا بِحَقِّهِ، فَتَحَرَّجْتُ مِنَ الوُقُوعِ عَلَيْهَا، فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهِيَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ، وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِي أَعْطَيْتُهَا، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ، فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ، فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ غَيْرَ أَنَّهُمْ لاَ يَسْتَطِيعُونَ الخُرُوجَ مِنْهَا "، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " وَقَالَ الثَّالِثُ: اللَّهُمَّ إِنِّي اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ، فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذِي لَهُ وَذَهَبَ، فَثَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ الأَمْوَالُ، فَجَاءَنِي بَعْدَ حِينٍ فَقَالَ: يَا عَبْدَ اللَّهِ أَدِّ إِلَيَّ أَجْرِي، فَقُلْتُ لَهُ: كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ مِنَ الإِبِلِ وَالبَقَرِ وَالغَنَمِ وَالرَّقِيقِ، فَقَالَ: يَا عَبْدَ اللَّهِ لاَ تَسْتَهْزِئُ بِي، فَقُلْتُ: إِنِّي لاَ أَسْتَهْزِئُ بِكَ، فَأَخَذَهُ كُلَّهُ، فَاسْتَاقَهُ، فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ، فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ، فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ، فَخَرَجُوا يَمْشُونَ.

“Dahulu ada tiga orang dari umat sebelum kalian melakukan perjalanan. Ketika malam tiba, mereka berteduh di sebuah gua. Mereka pun masuk ke dalamnya. Tiba-tiba sebuah batu besar dari gunung jatuh dan menutup pintu gua sehingga mereka terkurung di dalamnya.

Mereka berkata, ‘Sesungguhnya tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dari batu ini kecuali kalian berdoa kepada Allah dengan menyebut amal-amal shalih kalian.’

Salah seorang dari mereka berkata, ‘Ya Allah, aku memiliki kedua orang tua yang sudah lanjut usia. Aku tidak pernah memberikan minuman kepada keluarga maupun hamba sahayaku sebelum memberikan minuman kepada kedua orang tuaku. Pada suatu hari aku pergi jauh untuk mencari sesuatu. Ketika aku pulang, ternyata keduanya telah tidur. Aku pun memerah susu untuk mereka, tetapi aku mendapati keduanya sedang tidur. Aku tidak suka memberikan minuman kepada keluarga maupun hartaku sebelum mereka. Maka aku tetap menunggu dengan membawa wadah susu di kedua tanganku hingga fajar menyingsing. Kemudian keduanya bangun dan meminum susu tersebut.

Ya Allah, jika aku melakukan hal itu semata-mata untuk mengharapkan wajah-Mu, maka bukakanlah bagi kami jalan keluar dari kesulitan yang kami alami karena batu ini.’

Maka batu itu bergeser sedikit, tetapi mereka belum dapat keluar.

Orang kedua berkata, ‘Ya Allah, aku memiliki seorang putri paman yang sangat aku cintai. Aku menginginkannya, tetapi ia menolak keinginanku. Hingga pada suatu tahun ia mengalami kesulitan hidup, lalu ia datang kepadaku. Aku memberinya 120 dinar dengan syarat ia menyerahkan dirinya kepadaku. Ia menyetujuinya. Ketika aku telah mampu menguasainya, ia berkata, “Aku tidak mengizinkanmu membuka cincin kecuali dengan cara yang benar.” Maka aku merasa takut kepada Allah untuk melakukan perbuatan tersebut. Aku pun meninggalkannya, padahal ia adalah orang yang paling aku cintai. Aku juga meninggalkan emas yang telah kuberikan kepadanya.

Ya Allah, jika aku melakukan hal itu semata-mata untuk mengharapkan wajah-Mu, maka bukakanlah bagi kami jalan keluar dari kesulitan yang kami alami.’

Maka batu itu bergeser lagi, tetapi mereka masih belum dapat keluar.

Orang ketiga berkata, ‘Ya Allah, aku pernah mempekerjakan beberapa orang. Aku telah memberikan upah mereka semua kecuali seorang yang pergi meninggalkan upahnya. Aku kemudian mengembangkan upahnya hingga menjadi harta yang banyak. Setelah beberapa waktu, orang itu datang kepadaku dan berkata, “Wahai hamba Allah, berikanlah kepadaku upahku.”

Aku berkata kepadanya, “Semua yang engkau lihat berupa unta, sapi, kambing, dan para pekerja, semuanya adalah hasil dari upahmu.”

Ia berkata, “Wahai hamba Allah, janganlah engkau mempermainkanku.”

Aku berkata, “Aku tidak mempermainkanmu.”

Kemudian ia mengambil seluruh harta tersebut dan menggiringnya, tanpa meninggalkan sedikit pun.

Ya Allah, jika aku melakukan hal itu semata-mata untuk mengharapkan wajah-Mu, maka bukakanlah bagi kami jalan keluar dari kesulitan yang kami alami.’

Maka batu itu bergeser dan akhirnya mereka dapat keluar dari gua dalam keadaan berjalan.” (HR. Bukhari 2272, Muslim 2743 dengan lafad Bukhari).

4)  Tawasul dengan pengakuan dosa-dosanya.

Taubatnya Nabi Adam dan Hawa.

Allah ta’ala berfirman:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

“Keduanya berkata, ‘Ya Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf [7]: 23).

Nabi Yunus.

Allah ta’ala berfirman:

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ.

“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 87).

Nabi Musa

Allah ta’ala berfirman:

رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي.

“Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku, maka ampunilah aku.” (QS. Al-Qashash [28]: 16).

5)  Tawasul dengan orang shalih.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا.

“Dan sungguh, sekiranya mereka ketika menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’ [4]: 64).
قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ . قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي ۖ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Mereka berkata, ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun untuk dosa-dosa kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’ Dia (Ya‘qub) berkata, ‘Aku akan memohonkan ampun untuk kalian kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Yusuf [12]: 97–98).

“Dari ‘Utsman bin Hunain, bahwa seorang laki-laki yang buta datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia menyembuhkanku.’ Beliau bersabda,

إِنْ شِئْتَ دَعَوْتُ لَكَ، وَإِنْ شِئْتَ صَبَرْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ. قَالَ: فَادْعُهُ, فَأَمَرَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ فَيُحْسِنَ وُضُوءَهُ، وَيُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ، وَيَدْعُوَ بِهَذَا الدُّعَاءِ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، يَا مُحَمَّدُ، إِنِّي تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِي هَذِهِ لِتُقْضَى، اللَّهُمَّ فَشَفِّعْهُ فِيَّ.

 ‘Jika engkau mau, aku akan mendoakanmu; dan jika engkau mau, engkau bersabar, karena itu lebih baik bagimu.’ Orang itu berkata, ‘Doakanlah beliau.’ Maka Nabi memerintahkannya untuk berwudu dan menyempurnakan wudunya, kemudian shalat dua rakaat dan berdoa dengan doa ini: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan perantaraan Nabi-Mu Muhammad, Nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap kepada Rabbku dengan perantaraanmu dalam kebutuhanku ini agar dikabulkan. Ya Allah, terimalah syafaatnya untukku.’” (HR. At-Tirmidzi 17240, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam kitab at-Tawasul 69).

Dari Ibnu Abbas dia berkata:

أَلاَ أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ؟ قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: هَذِهِ المَرْأَةُ السَّوْدَاءُ، أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ، وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي، قَالَ: «إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ» فَقَالَتْ: أَصْبِرُ، فَقَالَتْ: إِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ، فَدَعَا لَهَا.

“Apakah kamu mau aku tunjukkan kepadamu seorang wanita dari penghuni surga?” Aku menjawab, “Ya, tentu.” Ia berkata, “Inilah wanita berkulit hitam tersebut. Ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Sesungguhnya aku terkena penyakit ayan dan ketika kambuh auratku tersingkap. Maka berdoalah kepada Allah untukku.’

Beliau bersabda, ‘Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga. Dan jika engkau mau, aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu.’

Wanita itu berkata, ‘Aku akan bersabar.’ Kemudian ia berkata, ‘Sesungguhnya ketika penyakitku kambuh auratku tersingkap. Maka berdoalah kepada Allah agar auratku tidak tersingkap.’ Maka beliau pun mendoakannya.” (HR. Bukhari 5652, Muslim 2576).

2.   Tawasil yang bid’ah.

Di antara bentuk tawasul yang bid’ah adalah bertawasul kepada Allah dengan kedudukan, kehormatan, atau hak seseorang yang saleh, seperti mengatakan: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan kedudukan Nabi-Mu.” Bentuk tawasul seperti ini tidak terdapat dalil yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat.

Adapun hadits ini adalah hadits palsu . sebagaimana dijelaskan syaikh DR. Shalih bin Faurzan al-Fauzan dalam kitab beliau Kitab Tauhid.

3.   Tawasul yang Syirik.

Yaitu meminta kepada orang yang sudah meninggal baik kepada para Nabi, Wali dan orang-orang shalih.

Allah ta’ala berfirman:

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ

“Mereka yang diseru itu, mereka sendiri mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat, mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 57).

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

-----000-----

Sragen 21-09-2026

Abu Ibrahim Junaedi.

 

 

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.

  BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.     س ١ - بِمَاذَا نَتَوَسَّلُ إِلَى اللَّهِ؟ Soal 1 : Dengan apa kita bertawassul...