Kamis, 27 November 2014

BAHAYA RIBA




Sragen 21-11-2014
                                                                             

                                           BAHAYA RIBA

Hiruk-pikuknya dunia serta persaingan antara satu sama lain baik dalam masalah ekonomi maupun usaha menjadikan sebagian orang menghalalkan segala cara, tak terkecuali dalam memutar usaha mereka yaitu dengan riba, demikian pula hanya karena ingin berpenampilan wah mereka harus menjerumuskan kedalam dosa riba.

 

1.   Pengertian riba.

Dalam kamus Lisaanul ‘Arab, kata riba diambil dari kata رَبَا. Jika seseorang berkata رَبَا الشَّيْئُ يَرْبُوْ رَبْوًا وَرَبًا artinya sesuatu itu bertambah dan tumbuh. Jika orang menyatakan أَرْبَيـْتُهُ artinya aku telah menambahnya dan menumbuhkannya.

Secara bahasa riba yaitu bertambah.

Secara istilah yaitu bertambahnya sesuatu dengan cara khusus.pp (Mulakhas Fiqhiyah syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al Fauzan).

Dari sini riba bisa memiliki arti : menambahkan beban kepada pihak yang berhutang ataupun berupa keuntungan lain dengan persyaratan di permulaan. Allahu ‘alam.

Allah ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا.

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah [2]:275-276).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ . فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman  Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.” ( QS. AL-Baqarah[2]278-279).

Syaikh Muhammad al-Utsaimin Rahimahullahu terkait ayat “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah,” maksudnya kehancuran materi (hakiki) dan maknawi.

Dari Abdullah bin Handzalah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

دِرْهَمُ رِبًا يَأكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ, أَشَدُّ مِنْ سِتَّةٍ وَثَلَاثِينَ زَنْيَةً.

“Satu dirham riba yang dimakan oleh seseorang dalam keadaan ia mengetahuinya, lebih buruk dari tiga puluh enam kali berzina.”(HR. Ahmad 21957, Darakutni 2843, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam As-Shahihah 1033).

Diriwayatkan oleh Jabir radhiyallaahu Anhu:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ. وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengutuk orang yang makan harta riba, yang memberikan riba, penulis transaksi riba dan kedua saksi transaksi riba. Mereka semua (berdosa).” (HR. Muslim 1598, Ahmad 660).

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam besabda:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقَاتِ, قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ اليَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ المُحْصَنَاتِ المُؤْمِنَاتِ الغَافِلاَتِ.

"Hendaklah kalian menghindari tujuh dosa yang dapat menyebabkan kebinasaan." Sahabat bertanya, "Apakah ketujuh dosa itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah untuk dibunuh kecuali dengan haq, memakan harta anak yatim, memakan riba, lari dari medan pertempuran, dan menuduh wanita mukminah baik-baik berbuat zina." (HR. Bukhari 6857, Muslim 129).

Riba hukumnya haram baik dalam Al-Qur-an, As-Sunnah maupun ijma’.

2.  Macam-macam riba.

Riba ada dua macam:

1) Riba terkait pinjaman

2) Riba terkait hutangan

3) Riba terkait gadai.

 

A. Riba terkait pinjaman.

Riba terkait pinjaman ada 2 macam:

1) Seseorang meminjam dengan memberikan syarat di awal untuk memberikan tambahan dari pokok semula.

2) Seseorang memberikan pinjaman dengan memberikan syarat agar barang miliknya dijual kepada pemberi pinjaman dengan harga yang lebih murah, bisa juga dengan diharuskan membeli dagangan milik pemberi pinjaman dengan harga yang lebih mahal.

 

B. Riba terkait hutang.

Seseorang berhutang dengan memberikan tempo yang telah disepakati oleh peminjam, ketika jatuh temponya peminjam belum bisa membayar, maka pemberi pinjaman tersebut berkata kepada peminjam, “ Apakah kamu bayar atau kamu tambahi (bayar bunganya).

C.  Riba terkait gadaian.

Seperti seseorang menggadaikan sawahnya, kemudian orang yang menggaidai tersebut menggarap sawah tersebut, setelah itu uang yang di pinjamkan untuk bayar gadai tersebut masih utuh.

Atau juga seperti seseorang menggadaikan sepeda motor, kemudian motor tersebut dipakai untuk ngojek.

(Disalin dari Kitab Al-Buyuu’: Al-Jaa-izu minhaa wa Mamnuu’ Penulis Syaikh ‘Isa bin Ibrahim ad-Duwaisy, dengan beberapa tambahan).

3.  Keburukan riba.

Pada dasarnya islam memberikan cara untuk bermuamalah dengan dua cara.

a)  Murni jual beli, seseorang dibolehkan mencari keuntungan dari hartanya dengan cara ini.

b) Meminjamkan harta kepada orang lain, hal ini merupakan ibadah yang sangat agung.

c)   Bersedekah dengan memberikan sebagian hartanya kepada fakir miskin dan orang yang membutuhkan.

Adapun ketika seseorang mencampuradukkan meminjami dengan maksud mencari keuntungan dunia, hal inilah yang menjadikan Allah murka.

1) Riba merupakan bentuk memakan harta orang lain dengan cara yang kejam, sehingga menumbuhkan sikap saling permusuhan.

2) Riba akan berjalan terus keuntungannya, sementara rezki dari Allah pasang surut.

3) Riba akan menjadikan otak manusia terbebani sehingga melemahkan fikirannya kemudian melemahkan badannya.

4) Menjauhkan keberkahan harta.

 

4.  Ancaman pelaku riba.

1) Diperangi Allah dan Rasul-Nya.

2) Berenang di sungai darah.

3) Tidak diterima doanya.

4) Tidak bisa berdiri di padang mahsyar.

5) Terbakar dineraka.

 

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

Sragen 10-08-2015.

Junaedi Abdullah.

Minggu, 02 November 2014

EMPAT HAL YANG MEMBINASAKAN



foto pemandangan


Ringkasan dari kajjian  di masjid Baitur Rahman Mojo Songo.
Tgl 25Oleh ustad Syafiq Reza Basalamah MA.-10-2014


1. CINTA TERHADAP DUNIA.
Allah merendahkankan dunia diberbagai tempat Allah berfirman:
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.QS 87.Al A’laa:16-17
.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
“Seandainya dunia punya nilai di sisi Allah walau hanya menyamai nilai sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir seteguk airpun.” (HR. At-Tirmidzi no. 2320, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 686)
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ أَنَّ لَهُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لِيَفْتَدُوا بِهِ مِنْ عَذَابِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang dibumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih. QS.5 Al Maidah:36.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
“Barangsiapa dunia menjadi tujuan akhirnya, Allah jadikan semua urusannya tercerai-cerai, kefakiran selalu ada di depan matanya, dan tidak diberikan padanya bagian dari dunia kecuali sebatas apa yang telah ditetapkan Allah baginya. Sedangkan barangsiapa akhirat menjadi tujuan akhirnya, Allah himpun semua urusannya, kekayaan ada dalam hatinya, dan dunia mendatanginya begitu saja dengan tertunduk.” [Al-Jami' Ash-Shaghir]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّه.
“Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang di atas kalian; sebab hal itu akan mendidik kalian untuk tidak meremehkan nikmat Allah”. HR. Muslim
Suatu ketika Ibnu Mas’ud z melihat Rasulullah n tidur di atas selembar tikar. Ketika bangkit dari tidurnya tikar tersebut meninggalkan bekas pada tubuh beliau. Berkatalah para sahabat yang menyaksikan hal itu, “Wahai Rasulullah, seandainya boleh kami siapkan untukmu kasur yang empuk!” Beliau menjawab:
مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
“Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain kecuali seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon, lalu beristirahat, kemudian meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2377, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (HR. Al-Bukhari no. 6416)

2. TAKABUR.
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا . كُلُّ ذَلِكَ كَانَ سَيِّئُهُ عِنْدَ رَبِّكَ مَكْرُوهًا
Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi Ini dengan sombong, Karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Ttuhanmu.QS.17Al Israa: 37-38
Ulama mengatakan ”penyebab kesombongan di karenakan seseorang memiliki kekurangan sehingga dirinya perlu untuk sombong”.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ HR. Muslim no. 91
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ يَغْشَاهُمْ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَيُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ فِي جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُولَسَ تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ يُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِينَةَ الْخَبَالِ
“Pada hari kiamat orang-orang yang sombong akan digiring dan dikumpulkan seperti semut kecil, di dalam bentuk manusia, kehinaan akan meliputi mereka dari berbagai sisi. Mereka akan digiring menuju sebuah penjara di dalam Jahannam yang namanya Bulas. Api neraka yang sangat panas akan membakar mereka. Mereka akan diminumi nanah penduduk neraka, yaitu thinatul khabal (lumpur kebinasaan).” [Riwayat Bukhari di dalam al-Adabul Mufrad, no. 557; Tirmidzi, no. 2492; Ahmad, 2/179

3. HASAD.
Firman Allah Azza wa Jalla:
أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا
Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? QS.4 An Nisa:54
Beberapa sifat hasad yaitu:
• Orang yang menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain akan tetapi tidak mengharuskan nikmat tersebut pindah kepada dirinya.
• Orang yang hasad menginginkan nikmat orang yang di hasati pindah kepada dirinya.
• Orang yang menginginkan nikmat orang lain, tetapi tidak menginginkan nikmat tersebut hilang dari diri orang lain tersebut.
• Ia tidak menghendaki siapapun dapat nikmat meskipun tidak di kenal.
Tanda-tanda hasad:
• Senang dengan kesalahan temannya
• Senang terhadap urusan yang di perebutkan sedang temenya tidak hadir.
• Senang jika temenya di gibah.
• Menjawab pertanyaan orang lain berkaitan dengan temannya dengan sindiran.
• Merasa susah jika temannya mendapat hadiah.
• Tidak mau menyebut keutamaan saudaranya.
Cara mengobati hasad:
• Memberikan pujian kepada temennya ( yang dihasati).
• Hendaknya merendahkan diri ( tawadhu).
• Memberi hadiah kepada teman kita.
• Agar kita membantu teman kita.
• kita membela saat teman kita di cela.
• Kita doakan jika membeli sesuatu.
• Berusaha untuk mencintainya.
• Lebih mengutamakan teman kita.
• Mengajak untuk berbicara.
• Berdoa agar di hilangkan sifat hasad dari hati kita.

4. MARAH.
Marah tidak bisa menyelesaikan masalah.
Marah seperti badai menghancurkan tapi tidak bisa membuka simpulan
Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah” HR. Al Bukhari no. 5763 dan Muslim no. 2609.
Penyebabnya :
• Bergurau dengan berlebihan.
• Berbicara dengan pedas
Terapinya:
• Jika berkaitan dengan Syaitan hendaknya dia berlindung kepada Allah.
• Jika berkaitan dengan manusia hendaknya dia tolah dengan cara yang baik.
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah Telah menjadi teman yang sangat setia. QS. 41 Al Fushshilat:34
• Meninggalkan tempat tersebut.
• Duduk.
• Berbaring
• Berwudhu.
Demikianlah catatan ini semoga bermanfaat bagi kaum muslimin.
NB:
Dalam tulisan ini ada beberapa kekurangan dan juga sedikit perubahan bukan karena kesengajaan akan tetapi ada beberapa penyampaian yang memang tidak jelas bagi ana, semoga bisa di maafkan atas kekuranagan ini, dan kepada Allah ana mohon ampun.

Abu Ibrahim Junaedi Abdullah.

Kamis, 11 September 2014

BAHAYA ZINA


وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا.
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” QS.17. Al Isra’: 32

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا
Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa. QS.25. Al Furqon: 68.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ .
Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu Termasuk orang-orang yang zalim. QS.2 Al-Baqarah: 35

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ ٱلشَّيْطَٰنُ قَالَ يَٰٓـَٔادَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ ٱلْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَى
Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?" QS.21 Taha:121.

Dari ayat di atas kita mengetahui bahwa hikmah larangan mendekati zina tersebut sebagaimana  larangan mendekati buah di syurga, karena mendekati zina  padanya ada pusaran yang akan menyeret  dan  menghanyutkan pelakunya kepada kebinasaan dunia dan akhirat, yang mana pelaku pada awalnya merasa yakin terhadap keyakinannya dan bahkan diantaranya merasa kuat imannya sehingga tak ada rasa kekuatiran, hingga pada suatu kondisi dirinya tidak ada kekuatan untuk melawan nafsu sahwat yang sudah bercokol dan menguasai jiwanya yang pada akhirnya dirinya hanya bisa pasrah dan menyerah tatkala tenggelam kedalam pusaran.

Asy-Syaukani Rahimaullah dalam Fath Al Qadir (3/315) berkata : “ Larangan zina dengan menggunakan mukadimahnya dan larangan ini paling kuat. Sesunggunya segala sesuatu sarana menuju keharam, maka haram pula hukumnya berdasarkan makna eksplisit ungkapan (وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى) itu.

Sebagaimana terjadi pada zaman sekarang di antara praktek mendekati zina ada beberapa pengantar, adapun pengantar bisa berawal dari pandangan mata yang liar dan pikiran atau hati yang kotor, bisa melalui fesbookan, SMSan, kencan, kemudian khalwat, mengumbar aurat yang berakhir pada perzinaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Tidak pernah aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya terhadap kaum pria daripada finah para wanita.”  HR. Al-Bukhari no. 5096 Mulim no. 97
Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah memperingatkan bahaya demikian ini :
 لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا
Janganlah salah seorang diantara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya,.” HR. Ahmad 1/18.

وَعَنْ اِبْنِ مَسْعُودٍ ‏- رضى الله عنه ‏- قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-أَيُّ اَلذَّنْبِ أَعْظَمُ? قَالَ أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا, وَهُوَ خَلَقَكَ.‏ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ? قَالَ ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ.‏ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ? قَالَ ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ  صحيح.‏ رواه البخاري ومسلم .
Dari Ibnu Mas’ud radiallahu ‘anhu dia berkata “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” Beliau bersabda, “Engkau menjadikan bagi Allah tandingan, padahal Dia-lah yang menciptakanmu.” Kemudian ia bertanya lagi, “Terus apa lagi?” Beliau bersabda, “Engkau membunuh anakmu yang dia makan bersamamu.” Kemudian ia bertanya lagi, “Terus apa lagi?” Beliau bersabda, “Kemudian engkau berzina dengan istri tetanggamu. HR. Bukhari no. 7532 dan Muslim no. 86.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ
Tidaklah orang yang berzina itu beriman saat dia melakukan perbuatan zina.HR.Bukhari 2475 Muslim 57.
Adapun diantara keburukan dari zina ini adalah: Akan mendapat adzab yang pedih, berkurangnya iman , menghilangkan sifat malu,  memberikan haq waris kepada orang yang tidak memiliki haq, menjadikan 
permusuhan, tersebarnya penyakit, merusak tatanan masyarakat dan menjadikan kehancuran bagi satu kaum. 

Adapun bagi mereka yang pernah terjerumus dari perkara ini hendaknya bertaubat dengan sebenar-benarnya karena Allah mengampuni segala dosa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
  قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. 39.Az-Zumar: 53

Semoga bermanfaat. 

Sragen 11-09-2014, 
disarikan dari "Al Kabaair" Imam Ad Dzahabi, dan juga beberapa refrensi yang terpercaya 
Abu Ibrahim Junaedi

Senin, 04 Agustus 2014

ADAP-ADAP MENGGUNAKAN HP.




             Pada jaman kita ini hampir tidak kita jumpai orang yang tidak mengenal hp, baik dari kalangan orang tua, remaja, bahkan anak-anak. Namun sangat di sayangkan benda ini tak ubahnya seperti pisau bermata dua, seandainya tidak menggunakan selayaknya sebagaimana mestinya,  niscaya akan menjadi bencana dunia akhirat bagi pemiliknya, dan dampak seperti ini telah banyak terjadi diantaranya meningkatnya kasus perselingkuhan yang berakhir pada perceraian(http://www.tribunnews.com/regional/2013/10/01/perceraian-di-merangin-meningkat-gara-gara-handphone-untuk-selingkuh) meningkatnya kecelakaan. ( http://www.sby.dnet.net.id/dnews/maret-2011/article-kecelakaan-di-jalan-akibat-ponsel-makin-meningkat-20.html)   maraknya penipuan (http://cauchymurtopo.wordpress.com/tag/penipuan-lewat-hp/) dan banya sekali yang tidak mungkin di sebutkan semua. Oleh karena itu membahas permasalahan ini saya pandang penting mengingat hp seakan sudah menjadi bagian dari kebutuhan hampir semua manusia.
Perlu di ketahui hp sebenarnya termasuk nikmat yang Allah berikan kepada hambanya oleh karena itu, hendaknya kita berusaha menggunakan sesuai keridhaan Allah  sehingga dengannya Allah akan memberkahi dan menjadikan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Diantara adab menggunakan hp adalah:
1.    Berusaha untuk menyebut bismillah walaupun  tidak terus menerus pada saat menggunakan.
كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لا يُبْدَأُ فِيهِ بِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ أَقْطَعُ
Setiap perkara yang memiliki kepentingan, tidak diawali dengan “Bismillahirahmanirrahim” maka dia terputus.” H.R. As-Subuky dalam “Thabaqat Asy-Syafi’iyah Al-Kubra” (6/1) Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany berkata: “lemah”  Irwa’ Al-Ghalil: (1/29-30). Meskipun dha’if dalam rangka untuk mencari berkah kepada Allah dan memohon pertolongan kepada Allah dalam aktifitasnya hal ini tidak mengapa sebagaimana menurut beberapa ulama.
  1. Tidak menelfon kecuali dalam keadaan benar-benar penting. Terkadang penerima berada pada permasalahan yang rumit( njlimet)  dan juga tegang, seperti memecahkan permasalahan, sedang mengendarai kendaraan di jalan raya, sedang istirahat, tidak enak badan atau sedang tidak mau di ganggu .



  1. Mengucapkan salam kecuali kepada orang yang telah jelas identitasnya bukan orang muslim atau orang yang tidak suka dengan islam .
فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ.
Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkah lagi baik. Demikianlah Allah me njelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya. QS.24. An Nur 61.
حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيْلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَشَمِّتْهُ، وإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ
“Hak seorang muslim terhadap muslim yang lainnya ada enam.” Ditanyakan kepada beliau: “Apa saja itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Jika berjumpa ucapkan salam kepadanya, jika dia mengundangmu penuhilah undangannya, jika dia meminta nasihat kepadamu nasihatilah dia, jika dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah maka ucapkan yarhamukallah, jika dia sakit jenguklah dia, jika dia meninggal maka iringilah jenazahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1183, Muslim no. 2162, lafadz Muslim.)
  1. Tidak menggunakan nada-nada yang terlarang dalam islam seperti music yang terlarang dalam islam, ataupun ayat-ayat Al Qur’an dikarenakan panggilan setiap saat terjadi, terkadang seseorang berada di tempat yang tidak layak di lantunkan ayat-ayat dari Al Qur’an demikian pula terkadang mengangkat hp sementara ayat tersebut belum memiliki arti yang komplit.

  1. Menyebutkan identitas diri sehingga tidak menimbulkan salah paham dan menjahui nama samaran atau yang memiliki makna ganda.

  1. Menggunakan kalimat yang ringkas jelas dan mudah dipahami agar terhindar dari Kesalah pahaman, baik dikarenakan pemahaman orang yang di ajak bicara dangkal atau karena ucapan penelfon yang bertele-tele.
  2. Menggunakan waktu sesingkat mungkin dan tidak banyak  mengulang kata-kata agar tidak memakan waktu lama sehingga menjadikan pemborosan biaya, begitu pula waktu yang lama terkadang menjenuhkan penerima, oleh karena itu tidak mengapa bertanya keadaan penerima, apakah waktunya longgar atau tidak, demikian ini jika bermaksud berbicara panjang lebar.

  1. Berbaik sangka terhadap penerima adakalanya penerima sibuk, atau memang tidak memiliki pulsa untuk member balasan, begitu pula jika penerima memberi jawaban singkat, kita harus berbaik sangka, seorang suami atau istri juga harus saling berbaik sangka, jangan sampai kalimat yang ada di hp di terima mentah-mentah tanpa minta penjelasan terlebih dahulu sampai permasalahan jelas,  sehingga tidak menjadikan rumah tangga berantakan, sebab ada kalanya rekan suami atau istri membuat kalimat yang memancing emosi suami istri tersebut, baik dengan niat bercanda ataupun dengan niat jahat.


  1. Adanya keterbukaan masalah hp antara suami istri, tidak saling tertutup demikian ini agar tidak menumbuhkan saling curiga.

  1. Tidak menyinggung hati penerima, kecuali jika memang ada kebutuhan dan kebaikan di dalamnya terutama untuk maslahat pribadi seseorang yang terdzolimi  ataupun kepentingan umum.


  1. Jangan menggunakan hp di saat mengendarai kendaraan terutama membalas sms, akan tetapi tunggulah sesaat atau berhenti dahulu, karena bencana ini tidak sedikit, bukan hanya mengancam diri sendiri tapi juga nyawa orang lain.

  1. Tidak menggunakan untuk hal-hal yang terlarang seperti mengakses situs-situs porno, menyimpan gambar porno terlebih menyebarkannya, merusak rumah tangga orang seperti selingkuh, menteror orang lain, menipu, judi online, menyimpan lagu dan music, merekam pembicaraan orang lain dengan niat jahat dan lain sebagainya.

  1. Mematikan ponsel atau mengaktifkan tanpa nada (mode silent diam, getar) saat memasuki masjid, majelis, rapat dan lain-lain karena sangat mengganggu yang lain dan juga pembicaranya. Namun jika terlanjur hendaknya segera di matikan.

  1. Mengambilkan untuk suami jika ada panggilan terlebih hp tersebut miliknya, kecuali memang jelas dari kerabat atau seorang perempuan yang merupakan teman istrinya mengingat laki-laki pemimpin bagi wanita.

  1. Tidak memutuskan perkara-perkara yang besar dengan sendiri di kuatirkan jika sekiranya suami atau istri tahu tidak mengijinkan sebaiknya bermusyawarah terlebih dahulu, begitu pula dalam  menanggapi undian, kuis berhadiah, atau kejutan-kejutan yang menjadikan penerima lupa diri, yang pada umumnya hanya dikirimkan orang-orang yang suka membual dan menipu.

  1. Tidak memberikan nomor kepada sembarangan orang tanpa ada tujuan yang jelas.

  1. Tidak memberikan kesempatan bagi orang yang tidak layak atau belum cukup umur untuk menggunakan hp, terlebih di masa kini yang bisa di sambungkan ke internet dan di akses kemana-mana sehingga bisa merusak masa depan anak-anak itu sendiri.

  1. Bagi seorang kepala keluarga atau yang semisalnya hendaknya sesekali mengecek hp milik istri, anak, ataupun orang yang di amanahkan untuk di bimbing, agar terhindar dari penyalahgunaan hp.

  1. Tidak menutup hp di saat berlangsung pembicaraan meskipun dirinya merupakan atasan dari penerimanya tersebut,
 baik karena jengkel, karena malas, kecuali karena alasan yang tidak bisa ditawar seperti sinyal hilang, batrai habis, atau memberikan dampak negatif  demikian pula jika ada yang sangat mendesak dan lebih penting dari sekedar telfon tersebut hal ini tidak mengapa, karena memutuskan tanpa adanya sebab akan menyakiti orang yang di ajak bicara, jika memang karena suatu hal hendaknya mengemukakan alasan dengan baik setelah urusanya selesai agar menetramkan hati penerima tersebut.

  1.  Menyudahi dengan ucapan yang menyenangkan, baik itu salam, doa khusus, atau harapan untuk kebaikan bersama.

Demikianlah secara ringkas adab menggunakan hp semoga bermanfaat.


                                                                                                            Di susun oleh Abu Ibrahm.

BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.

  BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.     س ١ - بِمَاذَا نَتَوَسَّلُ إِلَى اللَّهِ؟ Soal 1 : Dengan apa kita bertawassul...