KEUTAMAAN SAHABAT YANG BAIK DAN BAHAYA SAHABAT YANG BURUK.
Persahabatan memiliki
pengaruh yang besar di dalam kehidupan kita, oleh karena itu Allah ta’ala
memerintahkan agar kita senantiasa bersahabat yang baik, karena hal itu bukan
hanya berdampak di dunia namun juga berdampak kelak di akhirat sebagaimana
penjelasan berikut ini:
Perintah Allah agar bersahabat dengan orang-orang yang
baik.
Allah ta’ala berfirman:
وَاصْبِرْ
نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ
يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ
الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا.
“Bersabarlah
engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan
petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling
dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia...” (QS. Al-Kahfi
[18]:28).
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ
أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.
“Seseorang itu mengikuti agama teman dekatnya. Oleh
karena itu, hendaknya seseorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dia
jadikan teman dekat.” (HR. Abu Dawud 4833, Tirmidzi 2378. Dihasankan oleh
Syaikh al-Albani di dalam Shahihu Al-Jami’ 3545).
Adapun keutamaan teman yang baik.
1. Bersahabat orang shalih bentuk ketaatan
kepada Allah.
Tidaklah seseorang mentaati Allah kecuali akan
beruntung.
Allah ta’ala berfirman:
وَمَنْ
يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Barang
siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah memperoleh
kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab [33]: 71)
Sedangkan Allah ta’ala memerintahkan kepada kita agar
bersama orang-orang yang baik.
Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ
الصَّادِقِينَ.
“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada
Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (QS.
At-Taubah[9]:119).
2. Sahabat yang baik akan mengajak
kepada kebaikan dan mengingatkan dari keburukan.
Allah ta’ala berfirman:
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ
يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ...
“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan
perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka
menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar.” (QS. At-Taubah [9]:
71).
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ
“Dan
tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah kalian
tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 2).
Ketika Abu Bakar masuk Islam beliau bersemangat dalam mengajak orang-orang
kedalam Islam, di antara yang masuk Islam lantaran Abu Bakar yaitu Utsman bin
Affwan, az-Zubair bin al-Awam, Abdurrahman bin Auf, Sa’at bin Abi Waqas,
Thalhah bin Ubaidillah, 8 orang ini yang kelak menjadi tokoh-tokoh Islam. (Arrahiqul
Makhtum, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri).
3. Sahabat yang baik tidak akan mengolok-olok dan selalu menjaga
kehormatannya.
Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا
يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ
.
“Janganlah sebuah kaum menghina kaum yang
lain, bisa jadi yang dihina lebih baik dari mereka (yang menghina).” (QS.
Al-Hujurat[49]: 11).
Nabi shallallahu’alaihi
wasallam juga bersabda:
إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ.
“….Sesungguhnya
darah, harta, dan kehormatan kalian haram.(HR. Bukhari 67, Muslim 1218, Ahmad
18966, Abu Dawud 1905).
بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ
الْمُسْلِمَ.
“Cukuplah
seseorang dikatakan buruk tatkala dia merendahkan (menghina) sesama muslim.”
(HR Muslim 2564, Ahmad 8103, Abu Dawud 4882).
4. Sahabat yang baik tidak akan menggunjing di belakangnya.
Allah ta’ala
berfirman:
وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ
أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ.
“Janganlah kalian saling mencari-cari
kesalahan diantara kalian dan janganlah saling mengghibah diantara kalian,
adakah salah seorang di antara kalian mau memakan daging saudaranya yang telah
mati, tentulah jijik kepadanya.” (QS. Al-Hujurat[49]: 12).
Dari
shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
أَتَدْرُونَ
مَا اَلْغِيبَةُ قَالُوا: اَللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ
بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ: أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ
اِغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَقَدْ بَهَتَّهُ.
“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para
shahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Rasulullāh
shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Engkau menyebutkan tentang saudaramu
apa yang tidak dia sukai untuk disebutkan.” Maka dikatakan kepada Nabi: “Seandainya
yang aku ucapkan tentang sadaraku itu benar adanya, bagaimana menurut engkau,
wahai Rasulullāh?” Kata Rasulullah: “Kalau apa yang engkau ucapkan tentang
saudaramu itu benar maka itulah ghibah, kalau ternyata yang engkau ucapkan itu
tidak benar maka engkau telah berdusta atas dirinya.” (HR Muslim 2589).
5. Sahabat baik tidak akan berprangsangka yang buruk kepada
sahabatnya.
Allah
ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan
berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa
dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (QS.
Al-Hujurat[49]: 12).
Nabi shallallahu’alaihi
wasallam juga bersabda:
إِيَّاكُمْ
وَالظَّنَّ فَإنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ
“Jauhilah prasangka, karena prasangka itu adalah perkataan
yang paling dusta” (HR. Bukhari 5143, Muslim 2563).
6. Sahabat yang baik akan memberi manfaat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَثَلُ
الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ،
فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ،
وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ
يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
“Perumpamaan teman duduk yang baik dan
teman duduk yang buruk adalah seperti pembawa minyak wangi dan pandai besi.
Pembawa minyak wangi bisa jadi memberimu minyak wangi, atau kamu membeli
darinya, atau kamu mendapatkan aroma yang harum darinya. Sedangkan pandai besi,
bisa jadi ia membakar pakaianmu, atau kamu mendapatkan bau yang tidak sedap
darinya.” (HR. Bukhari 5534, Muslim 2628).
7. Sahabat yang baik akan menjadikan menentramkan hati.
Ibrahim al-Khawwash rahimahullah berkata:
دَوَاءُ الْقَلْبِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ،
وَخَلَاءُ الْبَطْنِ، وَقِيَامُ اللَّيْلِ، وَالتَّضَرُّعُ عِنْدَ السَّحَرِ،
وَمُجَالَسَةُ الصَّالِحِيْنَ.
“Penawar hati itu ada lima: membaca al-Qur’an dengan
tadabbur (perenungan), kosongnya perut, qiyamul lail (shalat malam), berdoa di
waktu sahar (waktu akhir malam sebelum Shubuh), dan duduk bersama orang-orang
shalih.” (Al-Adzkar karya Al-Imam an-Nawawi, hal. 107, Tahqiq: Syu’aib
al-Arnauth).
Ibnul Qayyim berkata prihal gurunya Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyyah:
وَعَلِمَ اللَّهُ مَا رَأَيْت أَحَدًا
أَطْيَبُ عَيْشًا مِنْهُ قَطُّ مَعَ مَا كَانَ فِيهِ مِنْ ضِيقِ الْعَيْشِ
وَخَلَاقِ الرَّفَاهِيَةِ وَالنَّعِيمِ بَلْ ضِدِّهَا مَعَ مَا كَانَ فِيهِ مِنْ
الْحَبْسِ وَالتَّهْدِيدِ وَالْإِرْجَافِ وَهُوَ مَعَ ذَلِكَ أَطْيَبُ النَّاسِ
عَيْشًا وَأَشْرَحُهُمْ صَدْرًا، وَأَقْوَاهُمْ قَلْبًا وَأَسَرُّهُمْ نَفْسًا
تَلُوحُ نَضِرَةُ النَّعِيمِ عَلَى وَجْهِهِ قَالَ: وَكُنَّا إذَا اشْتَدَّ بِنَا
الْخَوْفُ وَسَاءَتْ مِنَّا الظُّنُونُ وَضَاقَتْ بِنَا الْأَرْضُ أَتَيْنَاهُ
فَمَا هُوَ إلَّا أَنْ نَرَاهُ وَنَسْمَعَ كَلَامَهُ فَيَذْهَبَ ذَلِكَ كُلُّهُ،
وَيَنْقَلِبَ انْشِرَاحًا وَقُوَّةً وَيَقِينًا وَطُمَأْنِينَةً
“Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang pun yang
lebih baik kehidupannya daripada beliau, meskipun beliau berada dalam
kesempitan hidup, jauh dari kemewahan dan kenikmatan, bahkan sebaliknya. Beliau
juga mengalami penjara, ancaman dan berbagai tekanan. Namun demikian, beliau
termasuk orang yang paling baik kehidupannya, paling lapang dadanya, paling
kuat hatinya dan paling bahagia jiwanya. Terpancar dari wajahnya cahaya
kenikmatan.
Dan apabila kami diliputi rasa takut, muncul
prasangka-prasangka buruk pada diri kami, dan bumi terasa sempit bagi kami,
kami mendatanginya. Begitu kami melihat beliau dan mendengar perkataannya,
semua kegelisahan itu pun hilang dan berubah menjadi kelapangan, kekuatan,
keyakinan dan ketenteraman.” (Al-Wabilush Shayyib 1/48, Ibnul Qayyim al-Jauziyyah).
8.
Sahabat yang baik tidak akan mencelakainya.
Hal ini karena mengetahui
besarnya dosa membunuh maupun mencelakai sahabatnya.
Allah ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا
فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ
وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا.
“Barang
siapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam,
dia kekal di dalamnya, Allah murka kepadanya, melaknatnya, dan menyediakan azab
yang besar baginya.” (QS. An-Nisa [4]: 93)
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ : لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى
اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ
“Hilangnya
dunia lebih ringan bagi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim.” (HR.
At-Tirmidzi 1395, An-Nasa’i 3987, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu
al-Jami’ 5077).
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
سِبَابُ
المُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ.
“Mencela seorang muslim adalah
kefasikan (dosa besar), dan memerangi mereka adalah kekafiran.” (HR.
Bukhari 48, Muslim 64, Abu Dawud 256, Tirmidzi 2636).
9.
Sahabat yang baik berusaha membantu kesulitan
yang di hadapi.
Dari
sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ
الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ،
وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا
وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا
وَالْآخِرَةِ، وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ
أَخِيهِ.
“Barang
siapa menghilangkan satu kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan
dunia, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan dari berbagai
kesulitan pada hari Kiamat. Barang siapa memudahkan orang yang sedang mengalami
kesulitan, niscaya Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Barang siapa
menutupi aib seorang Muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan
akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong
saudaranya.” (HR. Muslim 2699, Ahmad 7427, Tirmidzi 1425).
10. Sahabat
yang baik akan mendoakan kebaikan dan memintakan syafaat di akhirat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ
بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ، كُلَّمَا
دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ، وَلَكَ
بِمِثْلٍ.
“Doa
seorang Muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah doa yang
mustajab. Di sisi kepalanya terdapat malaikat yang ditugaskan. Setiap kali dia
mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat yang ditugaskan itu berkata:
‘Amin, dan bagimu juga seperti itu.” (HR. Muslim 2733, Ahmad 27559)
قَالَ
لْحَارِثَ بْنَ سُرَيْجٍ النَّقَّالَ
يَقُولُ: سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ يَقُولُ: أَنَا أَدْعُو اللَّهَ
لِلشَّافِعِيِّ أَخُصُّهُ بِهِ.
Al Harits bin Suraij berkata, aku
mendengar Yahya bis Sa’id berkata, “Aku senatiasa berdo’a pada Allah untuk Imam
Syafi’i, aku khususkan do’a untuknya.”(Ma’rifatu As-Sunan wal Atsar 372).
Ahmad bin Hambal berkata:
"Sungguh aku mendoakan untuk Syafi'i dalam salatku selama 40 tahun. (Minhaj
al-Muhahadzdzitsin fil Qur’an, ‘Ali ‘Abdul Basith Mazid 1/238).
Sahabat
akan memohonkan syafaat bagi sahabatnya.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَإِذَا رَأَوْا أَنَّهُمْ نَجَوْا فِي
إِخْوَانِهِمْ، يَقُولُونَ: رَبَّنَا إِخْوَانُنَا، كَانُوا يُصَلُّونَ مَعَنَا،
وَيَصُومُونَ مَعَنَا، وَيَعْمَلُونَ مَعَنَا، فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى:
اذْهَبُوا، فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ دِينَارٍ مِنْ إِيمَانٍ
فَأَخْرِجُوهُ.
“Ketika
mereka melihat bahwa mereka telah selamat, mereka berkata tentang
saudara-saudara mereka: ‘Wahai Rabb kami, saudara-saudara kami dahulu shalat
bersama kami, berpuasa bersama kami, dan beramal bersama kami.’ Maka Allah
Ta'ala berfirman: ‘Pergilah kalian. Barang siapa yang kalian dapati di dalam
hatinya keimanan seberat satu dinar, keluarkanlah dia.” (HR. Bukhari 7439, Ahmad 11898, Ibnu Majah 60).
Adapun
di antara bahaya berteman dengan orang yang buruk agamanya:
1.
Bersahabat dengan orang yang buruk agamanya bermaksiat
kepada Allah dan Rasul-Nya.
Allah
ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا
الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ.
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu
menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain dari orang-orang mukmin...(QS.
An-Nisa [4]:144).
إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
كُبِتُوا كَمَا كُبِتَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ.
“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya akan
mendapat kehinaan, sebagaimana orang-orang sebelum mereka telah mendapat
kehinaan..” (QS. Al-Mujadilah [58]: 5)
إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
أُولَٰئِكَ فِي الْأَذَلِّينَ.
“Sesungguhnya
orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang
yang hina.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 20).
2.
Sahabat buruk akan mengajak kepada keburukan.
Allah
ta’ala berfirman:
الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ
مِنْ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ.
“Orang-orang
munafik laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah dari sebagian yang
lain. Mereka menyuruh kepada kemungkaran dan mencegah dari yang makruf...” (QS.
At-Taubah [9]: 67)
3. Sahabat yang
buruk agamanya akan mengolok-olok.
Terkadang mereka
mengolok olok agama kita.
Allah ta’ala
berfirman:
وَلَئِنْ
سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ
وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ
“Dan
jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya
kami hanya bersenda gurau dan bermain-main.’ Katakanlah, ‘Apakah terhadap
Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?’” (QS.
At-Taubah [9]: 65)
لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ
إِيمَانِكُمْ...
“Janganlah kalian meminta maaf, sungguh kalian telah kafir setelah
beriman...” (QS. At-Taubah [9]: 66).
4. Sahabat yang buruk akan menggunjing di belakang.
5. Sahabat yang buruk akan berprasangka yang buruk.
6. Sahabat yang buruk akan
meberikan madharat.
7. Sahabat yang suka menyakitkan hati.
8. Sahabat yang buruk dapat mencelakai.
Sebagaimana banyak terjadi.
9. Sahabat yang buruk suka mempersulit urusan.
10. Sahabat
yang buruk jadi penyesalan kelak diakhirat.
Lihatlah bagaimana Abu Thalib masuk ke neraka salah satu sebabnya
beesahabat dengan Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayah.
لَمَّا
حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ، وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ
أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ المُغِيرَةِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لِأَبِي طَالِبٍ: " يَا عَمِّ، قُلْ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ،
كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ " فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ،
وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ: يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ
مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ؟ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ، وَيَعُودَانِ بِتِلْكَ المَقَالَةِ حَتَّى قَالَ
أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ: هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ،
وَأَبَى أَنْ يَقُولَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ.
“Ketika
kematian mendatangi Abu Thalib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang
kepadanya. Beliau mendapati di sisi Abu Thalib Abu Jahal bin Hisyam dan
Abdullah bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Thalib, ‘Wahai pamanku,
ucapkanlah: Laa ilaaha illallah, sebuah kalimat yang dengannya aku akan
bersaksi untukmu di hadapan Allah.’
Abu
Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata, ‘Wahai Abu Thalib, apakah engkau
akan meninggalkan agama Abdul Muthalib?’
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menawarkan kalimat tersebut kepadanya,
sedangkan keduanya terus mengulangi perkataan itu, hingga ucapan terakhir Abu
Thalib kepada mereka adalah, ‘Dia tetap berada di atas agama Abdul Muthalib.’
Dan ia menolak mengucapkan: Laa ilaaha illallah.” (HR. Bukhari 1360, Muslim 24,
Ahmad 23674).
الْأَخِلَّاءُ
يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ.
“Orang-orang
yang saling mencintai pada hari itu sebagian mereka menjadi musuh bagi sebagian
yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 67)
Demikianlah semoga bermanfaat.
-----000-----
Sragen
26-9-2026.
Abu
Ibrahim Junaedi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar