BIMBINGAN MANHAJ, AQIDAH DAN IBADAH PRIBADI DAN MASYARAKAT (1).
Mukadimah
إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ,
وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ
أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ
لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ
اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ,يَا أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا
اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا , يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
أَمَّا بَعْد
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ,
وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Dewasa ini tak ada perkara yang
lebih mendesak untuk diketahui kaum muslimin dibandingkan perkara bagaimana
memahami manhaj (cara beragama), aqidah dan ibadah yang benar, karena di setiap
saat perkara ini senantiasa diperlukan dan diamalkan.
Allah ta’ala
berfirman:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا
فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ
ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.
“Dan sungguh, inilah jalan-Ku
yang lurus, maka ikutilah! Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain,
karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah
Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am [6]: 153).
Seiring jauhnya zaman dari masa
kenabian, hal yang menyedihkan yaitu kejahilan semakin merajalela,
sehingga apabila dijumpai seseorang yang berkomitmen di dalam beragama
(berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Sunnah) seakan menjadi sesuatu yang
asing. Padahal mereka mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik
dalam manhaj, aqidah dan juga ibadah.
Hal semacam ini telah dikabarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam
sabdanya:
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا
بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ.
“Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing
sebagaimana awalnya. Maka berbahagialah orang-orang yang asing.”[1]
Demikian pula aqidah merupakan perkara yang
wajib diketahui oleh setiap orang yang sudah mendapat beban syariat (mukallaf).
Yang merupakan pondasi bagi sebuah bangunan, akar yang kuatbagi pohon, sehingga
tak ada bangunan yang bisa berdiri dengan kokoh tanpa adanya pondasi, tak ada
pohon yang bisa tegak dengan kuat tanpa adanya akar yang kuat demikian pula
tidak akan diterima betapa pun besar amal seseorang kecuali dengan di dasari
aqidah yang benar.
Allah ta’ala berfirman:
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا
يَعْمَلُونَ.
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka
amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An‘am [6]: 88)
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ
قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ
الْخَاسِرِينَ.
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang
sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan
tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar [39]: 65)
مَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ
أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ لَا
يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلَى شَيْءٍ ذَلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ.
“Perumpamaan orang-orang yang kufur kepada Tuhannya, perbuatan mereka
seperti abu yang ditiup oleh angin kencang pada saat badai. Mereka tidak kuasa
(memperoleh manfaat) sama sekali dari apa yang telah mereka usahakan (di
dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (QS. Ibrahim [14]: 18)
وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ
بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ
شَيْئًا.
“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah
yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila di
datanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.” (QS. An-Nur [24]:
39).
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ
فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا.
“Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan
jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al Furqan [25]: 23)
وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ
وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ.
“Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari
agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang gugur sia-sia
amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka
kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 217)
Ibnu Katsir
rahimahullah dalam tafsirnya berkata:
“Allah
mengabarkan bahwa kaum musyrikin tersebut tidak akan mendapat apapun dari amal
mereka. Mereka mengira bahwa amal itu akan menyelamatkan mereka. Itu karena
mereka kehilangan syarat syar’i untuk diterimanya amal, yaitu ikhlas dan
mengikuti syariat Allah.”[2]
Adapun dalil dari hadits, Ummul Mukminin Aisyah
radhiyallahu ’anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam:
يَا رَسُولَ اللهِ ابْنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي
الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ
قَالَ: لَايَنْفَعُهُ إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا:
رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ .
“Wahai Rasulullah, Ibnu Jud’an itu di masa Jahiliyyah biasa
menyambung silaturrahim, memberi makan orang miskin, apakah itu akan bermanfaat
untuknya?” Rasulullah menjawab, “Tidak wahai Aisyah, karena dia lum pernah
sehari pun mengucapkan, “Tuhanku, ampuni kesalahanku di hari pembalasan.”[3]
Imam An-Nawawi
memberi penjelasan tentang hadits ini dengan menukil perkataan al-Qadhi bin
Iyadh, ia berkata, “Telah terjadi ijmak bahwa amal orang kafir itu tidak
berguna bagi mereka dan mereka tidak diganjar pahala karena kafir, baik berupa
kenikmatan maupun keringanan hukuman. Hanya saja sebagian mereka lebih pedih siksanya dibanding yang lain
tergantung kejahatan yang telah mereka lakukan.”[4]
Semua ayat dan
hadits di atas menunjukkan bahwa mempelajari manhaj, aqidah dan ibadah yang
benar merupakan kewajiban yang sangat mendesak dan perkara yang sangat agung,
sehingga dapat menyelamatkan seseorang dari azab dan kekekalan di neraka.
Semoga apa
yang sedikit ini kelak bisa menjadi pemberat amal kebaikan saya, orang tua
saya, guru-guru saya dan siapapun kaum muslimin yang mengambil manfaat dari
tulisan ini serta orang-orang yang turut menyebarkannya, pada hari segala
sesuatu tidak lagi bermanfaat kecuali iman dan amal shalih. Aamiin ya Rabbal
‘alamiin.
-----000-----
Sragen 10-09-2025.
Abu Ibrahim, Junaedi
Abdullah.
[1] (HR. Muslim no. 145, Ibnu Majah no. 3986, lafad Muslim).
[2] (Tafsir Ibnu Katsir, QS.
Al-Furqan [25]: 23)
[3] (HR. Muslim 214, Ahmad
24621).
[4] (Syarh Shahih Muslim
oleh an-Nawawi 3/87).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar