Sabtu, 11 Mei 2019

MENYINGKAP HIKMAH DI BALIK PUASA.



Sudah menjadi keketapan kaum muslimin bahwa merupakan kewajiban bagi orang yang telah mendapat beban syari’at untuk melaksanakan ibadah puasa, sebagaimana hal itu di perintahkan oleh Allah ta’ala di dalam kitabNya::
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. QS. Al Baqarah[2]:183.
Dalil dari hadis:
بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ.
“Islam dibangun di atas lima perkara(pondasi): bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, me­ngeluarkan zakat, berhaji ke Rumah Allah, dan berpuasa Ramadhan.” HR.Bukhari 8 Muslim 16.
Ancaman orang yang meninggalkan puasa.
Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
حَتَّى إِذَا كُنْتُ فِى سَوَاءِ الْجَبَلِ إِذَا أَنَا بَأَصْوَاتٍ شَدِيدَةٍ فَقُلْتُ : مَا هَذِهِ الأَصْوَاتُ قَالُوا : هَذَا عُوَاءُ أَهْلِ النَّارِ ، ثُمَّ انْطُلِقَ بِى فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةٌ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا قَالَ قُلْتُ : مَنْ هَؤُلاَءِ قَالَ : هَؤُلاَءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ.
Sehingga ketika sampai dipuncak gunung tiba-tiba terdengar suara yang keras. Aku bertanya, “suara apa ini?”, mereka berkata, “ini adalah teriakan penduduk neraka”. Kemudian keduanya membawaku, ketika itu aku mendapati orang-orang digantung dengan kaki diatas, rahang-rahang mereka robek dan mengalir darah darinya. Aku bertanya, “siapa mereka?”, keduanya menjawab, “mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum halal puasa mereka.” HR. Nasai di  Sunan Al Kubra 3273, di sahihkan imam Ad Dzhabi.
Imam Al Hafidz Ad Dzahabi  berkata: sudah menjadi ketetapan bagi kaum muslimin, barang siapa yang meninggalkan puasa tanpa udzur syar’i maka ia lebih buruk dari pada pezina dan pecandu khamer, bahkan mereka meragukan keislamannya dan menganggapnya zindiq dan menyimpang dari agama. Lihat  Al Kabair Imam Ad Dzahabi ke 6.
Setelah kita melihat adanya perintah dan ancaman bagi orang yang meninggalkan puasa ternyata di sana terdapat hikmah yang sangat besar, hal ini di isyaratkan Allah ta’ala secara ringkas di dalam kitabNya, bahwasanya tujuan di syariatkan puasa agar menjadi taqwa. Adapun hikmah di balik itu, puasa mendidik manusia dengan berbagai macam bentuk pendidikan yang sangat mulia, diantaranya:
1.      Menguatkan keimanannya kepada Allah ta’ala.
Inilah  sumber kebaikan yang paling besar karenannya sering Allah ta’ala menyebutkan rincian takwa dengan berbagai kebaikan yang hendaknya di lakukan seseorang sebagaimana Firman Allah ta’ala:
ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ .الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ . وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ.
Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. QS Al Baqarah[2]:2-3.
Begitu pula firman Allah ta’ala:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ.
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. QS Al Baqarah[2]:177.
Ketika manusia masih lemah di dalam melaksanakan Allah dan RasulNya memberikan kabar keutaman-keutamaannya, sehingga manusia termotivasi untuk melaksanakannya.
Sebagaimana seorang ibu memerintah kepada anaknya, ketika anak memahami kedudukan ibunya dia tidak menanyakan bahkan di laksanakannya dengan senang hati, adapun ada anak-anak yang terkadang akalnya belum tumbuh sehingga orang tua terkadang merangsangnya dengan pemberian sesuatu.
2.      Puasa akan meningkatkan kualitas amal seseorang.
Seseorang yang sedang berpuasa akan lebih ikhlas di dalam beramal dan menjauhkan dari riya’, sum’ah, ujub, takabur dan berbagai macam kerusakan amalan hati lainnya, karena dirinya sedang menjalani ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala sehingga berharap Allah ta’ala menerimanya.
وَعَنْ أَبي هُريْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَقُولُ :قَالَ اللهُ تَعَالَى : أنَا أغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ .رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Dari Abu Hurairah radiallahu‘anhu. yang berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Allah Ta'ala berfirman: Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu, Barangsiapa yang melakukan suatu amalan, di dalamnya ia menyekutukan-Ku dengan selai Aku, maka Aku tinggalkan ia dan sekutunya. HR Muslim 7658 Ibnu Majah 4192.
3.      Puasa akan mendidik akhlaq seseorang.
Pendidikan akhlaq yang paling besar bisa kita rasakan pada saat berpuasa, diantara pendidikan ahklaq yang sangat kita rasakan:
1)      Melatih kejujuran
Bagaimana puasa mendidik dirinya wajib meninggalkan sifat dusta dan senantiasa membiasakan jujur,tak ada yang mengetahui puasa seseorang benar atau tidak, kecuali Allah ta’ala, ketika seseorang tidak bisa meninggalkan dustanya baik terkait di dalam menjalankan puasanya, ataupun berkata dusta yang menjadi kebiasaan setiap hari maka Allah tidak membutuhkan puasa orang tersebut.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ، وَالْعَمَلَ بِهِ، وَالْجَهْلَ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ»
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu  berkata: Rasulullah sallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan palsu dan berbuat dengannya, dan berbuat bodoh maka Allah tidak membutuhkan (puasanya) meskipun meninggalkan makanan dan minuman.” HR  Bukhari 1903 Abu Daud 2015 Tirmidzi 641.
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” HR. Thabrani dalam  Mu’jam Al Kabir berkata syaikh Albani hasan shahih.
2)      melatih akhlaq di dalam kesabaran.
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang yang sedang berpuasa:
فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائمٌ مَرَّتَيْنِ.
Apa bila salah seorang diantara kalian (sedang berpuasa) di cela atau di perangi hendaknya dia berkata:  “ saya sedang berpuasa, “ dua kali.”  HR Bukhari 1904 Muslim 1151.
3)      Melatih sifat dermawanan.
Hal ini telah di contohkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam sebagaimana hadis berikut:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ.
Dari Ibnu Abbas radiallahu ‘anhuma  “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril.” HR. Bukhari 1902 Muslim 2308.
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا.
“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” HR Ibnu Majah 1746 Ahmad 5/192 dan syaikh Al Bani berkata sahih.
Di dalam puasa, juga akan menumbuhkan rasa persaudaraan, kemanusiaan, dan kebersamaan. Karena kabar tidaklah sebagaimana kenyataan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-ustaimin rahimahullah berkata: “Ucapan palsu adalah setiap ucapan yang di haramkan diantaranya: dusta, ghibah, mencela, dan yang lainnya dari ucapan-ucapan yang diharamkan.
Sedangkan perbuatan bodoh seperti: khianat, memukul orang lain, mengambil harta, dan lain sebagainya.
Dan masuk di dalamnya mendengarkan nyanyian-nyanyian, musik-musik, kebodohan tidak lurus didalam ucapan dan perbuatan.
Apabila orang yang puasa berjalan sesuai dengan konsekuensi ayat dan hadis ini, niscaya puasanya akan menjadi mediator untuk mentarbiyah diri pribadi dan mendidik akhlaqnya.  Lihat Fushul fi syiam, wa tarwih, waz  zakat, di terjemahkan “menggapai Syurga di bulan Ramahdan.” Syaikh Muhammad bin Shalil AL Ustaimin, pustaka Al Minhaj.
4.      Menjadikan badan sehat.
Merujuk pendapat Dr. Alexis Karl, seorang doktor ahli bedah dan psikiater asal Amerika, “Puasa memiliki dampak yang jauh lebih berfaedah daripada kelemahan fisik, yaitu menormalkan denyut jantung, membakar lemak yang ada di bawah kulit, memfungsikan cadangan protein, mengurangi intensitas kerja hati, dan melestarikan keseimbangan organ-organ dalam dan kesehatan jantung.”
Muncul pertannyaan “ bagaimana orang kafir yang sehat…?” bisa jadi orang kafir mendapatkan kesehatan dengan bersusah payah, sebagiannya dengan biaya yang besar, itupun sebatas dunia saja sehingga menjadi penyesalan di akhirat nanti, adapun orang islam cukup puasa, selain menyehatkan badannya akan membahagiakan jiwanya, hal inilah yang tidak didapati oleh orang kafir.
Bayangkan apalah jadinya seandainya ibu-ibu tidak pernah menbersihkan pancinya, bapak-bapak tidak pernah mengganti oli motornya, tentu lambat atau cepat akan merusakkannya.
5.      Mengendalikan nafsu birahi.
Inilah yang membedakan manusia dan hewan, manusia mampu mengekang hawa nafsunya berbeda dengan hewan, oleh karena itu orang-orang kafir yang tidak lagi tunduk dan taat kepada Allah ta’ala mereka lebih buruk dari pada hewan, senantiasa memperturutkan hawa nafsunya, hingga berlebih-lebihan  sampai pada satu puncak keburukan, mereka menggauli sesama jenis naudzubillahi min dzalik. Allah ta’ala berfirman:
 وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ.
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. QS Al A’raaf[7]: 179.
Syaikh Shalih Al Munajid berkata: “Perlu di ketahui ketika perut manusia lapar maka nafsu indra yang lain terhalangi (akan melemah), sedangkan ketika perut manusia kenyang nafsu manusia akan menjadi lapar seperti: lisan, mata, tangan, dan kemaluannya.” Lihat “Sab ’un min Masalati Siam” oleh Syaikh Shalih Al Munajid.
Oleh karena itu seorang pemuda dianjurkan untuk berpuasa, sebagaimana Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.
“Wahai para pemuda, siapa yang sudah mampu menafkahi biaya rumah tangga, hendaknya dia menikah. Karena hal itu lebih menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa, karena puasa dapat mengekang syahwatnya.” HR Bukhari 5066 Muslim 1400.
  1. Hikmah yang paling besar di dalam pendidikan puasa, menjadikan seseorang pribadi yang bertaqwa.
Kalau kita perhatikan semua perintah Allah ta’ala baik di ketahui ataupun tidak akan membawa pelakunya kepada ketaqwaan, sebagaimana firman Allah ta’ala:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. QS Al Baqarah[2]:21
Apa yang akan didapat orang yang bertaqwa…?
Banyak sekali janji Allah ta’ala bagi orang yang bisa mewujudkan dirinya menjadi orang yang brtaqwa,
diantaranya:
1)      Taqwa sebab kecintaan Allah kepada hamba.
بَلَى مَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ وَاتَّقَى فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

Bahkan, barang siapa yang menepati janjinya dan bertakwa, maka Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. QS. Al Imraan[3]:76

2)      Allah seantiasa bersama orang-orang yang bertaqwa.
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ.
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. QS. An Nahl[16]: 128.

3)      Allah akan memudahkan urusanya di dunia dan akhirat.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا.
Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.QS. At Talaaq[65]:4

4)      Taqwa adalah sebaik-baik bekal bagi seorang hamba.
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
“Berbekallah, dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa.” QS. Al Baqarah[2]:197
5)      Menjadikan sebab di bukanya barakah dari langit dan bumi.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ .
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” QS. Al ‘Araaf[7]:96

6)    Syurga di wariskan kepada orang yang bertaqwa.
تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَنْ كَانَ تَقِيًّا.
Itulah syurga yang akan kami wariskan kepada hamba-hamba kami yang selalu bertakwa. QS. Maryam[19]: 63.
Lihat Syarah Ar bai’n An Nawawi oleh Nadzim Muhammad Sultan, hadis yang 18.

Demikianlah hikmah puasa dan masih banyak lagi hikmah yang lain yang tidak disebutkan karena keterbatasan waktu dan kemampuan, semoga yang sedikit ini memberi manfaat bagi penulis dan kaum muslimin.  Aamiin


 Disusun oleh: Abu Ibrahim, Junaedi.



Sabtu, 27 April 2019

NILAI SEBUAH KEJUJURAN MENURUT ISLAM

Related image




Dewasa ini sungguh memprihatikan di mana banyak orang yang berilmu, pintar namun krisis orang-orang yang jujur, padahal mayoritas orang-orang itu beragama islam.
Islam sangat sangat memperhatikan tentang sifat jujur dan amanahsehingga Allah dan Rasulnya menekankan hal ini, Allah ta’ala berfirman:
يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ .
 “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang yang jujur.” AT-Taubah[9]: 119.
Tidaklah orang tersebut meninggalkan sifat jujur dan amanah kecuali orang tersebut adalah fasiq.
Dalam sejarah islam kemunculan orang munafiq di tandai dengan sifat khas mereka yaitu biasa berdusta, begitu pula kisah taubatnya sahabat Kaab yang tertinggal di perang tabuk, oleh karena itu Rasulullah sallallahu a’alaihi wa sallam bersabda:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاث إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَ إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda orang munafik itu ada tiga apabila ia berkata dia berdusta, jika membuat janji mengingkari, dan jika dipercayai mengkhianati” HR Bukhari 33 Muslim 59.
Adapun sifat jujur ini termasuk sifat para nabi dan Rasul demikian pula nabi kita Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau di kenal sebagai orang yang sangat jujur sebelum diangkatnya menjadi rasul, saat orang quraisy berselisih menempatkan batu hajar aswat, juga perkataan mereka ketika Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam naik bukit Shafa ketika menyeru islam mereka orang-orang kafir mengakui kejujuran Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam.
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan supaya kita bersikap jujur.
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا
“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” HR. Bukhari 6094 dan Muslim 2607
Agama ini mengharamkan berdusta kecuali dalam tiga keadaan:

لاَ يَحِلُّ الْكَذِبُ إِلاَّ فِي ثَلاَثٍ، يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا، وَالْكَذِبُ فِي الْحَرْبِ، وَالْكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ

“Tidak halal berdusta kecuali pada tiga keadaan; (1) seorang suami berbicara dengan istrinya untuk membuat istrinya ridha (senang), (2) dusta dalam peperangan, dan (3) dusta untuk mendamaikan di antara manusia.” HR. Ahmad 6/459, 461 Tirmidzi 1939, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah 545.
Pentingnya sifat jujur pada masa kini karena sifat jujur sekarang sulit untuk di jumpai.
Adapun sifat jujur akan memberikan manfaat sebagai berikut:
1.      Merupakan ibadah yang memiliki kedudukan yang tinggi karena menjalankan perintah Allah ta’ala dan meneladani Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.
2.      Kejujuran mendatangkan kebahagiaan. Dimana sebuah pasangan suami istri akan bahagia jika mampu mewujudkan kejujuran
3.      Mendatangkan ketentraman, berbeda dengan orang yang berdusta niscaya akan di hantui rasa was-was dan kuatir seandainya kedustaanya diketahui orang lain.
4.      Kejujuran menjadikan seseorang percaya diri, dimana seorang pendusta akan minder karena dia telah berbuat tidak sesuai kenyataannya.
5.      Kejujuran merupakan harta seseorang yang tidak bisa di rampas di mana pelakunya tidak akan silau dengan harta yang sesungguhnya dimana seseorang mendapatkannya dengan cara yang hina.
6.      Kejujuran merupakan kerhormatan seseorang, dimana betapapun tinggi pangkat dan kedudukan seseorang, betapapun banyak harta seseorang akan hina di mata orang yang jujur karena dirinya tidak memiliki kehormatan yang selayaknya di hormati.
7.      Kejujuran akan membawa keselamatan dunia akhirat, tidak sebagaimana ungkapan seseorang jujur hancur, akan tetapi kejujuran akan membawa kemujuran (keberuntungan).
8.      Kejujuran akan menumbuhkan kepercayaan orang lain sedangkan dusta akan menghilangkan kepercayaan
9.      Jujur akan menumbuhkan cinta sedangkan dusta akan menumbuhkan kebencian.
10.  Jujur menumbuhkan kebaikan, sedangkan dusta menumbuhkan keburukan dimana-mana.
Hendaknya kita menjadi satu diantara seribu orang yang masih suka berdusta, dan memiliki rasa tanggung jawab untuk memperbaiki keadaan di sekelilingnya, baik di keluarga, di kantor di pabrik, di pasar dan lain sebagainya
Semoga Allah ringankan kita untuk senantiasa berlaku jujur didalam kehidupan kita sehari-hari dan hingga sampai kita berjumpa dengan Allah ta’ala Aamiin

Abu Ibrahim Junaedi Abdullah.

Selasa, 09 April 2019

ALLAH BERSEMAYAM DI ATAS ARSY


Aqidah Ahlu Sunnah wal jamaah menetapkan bahwa Allah ta’ala berada di atas Arsyinya, sebagaimana hal ini di sebutkan banyak di dalam Al Qur’an dan Sunnah, Allah ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ.
Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia menuju ke langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit, dan Dia maha mengetahui segala sesuatu. QS Al Baqarah[2]:29.
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى.
(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah bersemayam di atas ‘Arsy. QS Taha[20]:5.
هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ.
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”  QS Al Hadid[57]:4
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ.
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan.” QS Yunus[10]:3
إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkan-Nya …. QS Fathir[35]:10.
Istawa ‘ala (اِسْتَوَى عَلَى) dalam bahasa Arab dimana Allah menurunkan wahyu artinya (عَلاَ وَارْتَفَعَ), yaitu berada di atas (tinggi atau di ketinggian). Hal ini adalah kesepakatan salaf dan ahli bahasa. Lihat tafsir At Thabari.
Adapun dalil dari hadis.
Panjang lebar apa yang di sebutkan banyak dari para ulama tentang isra’mi’raj Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam dari masjidil haram dan masjidil Aqsa kemudian naik langit pertama hingga kelangit tuju dan naik lagi ke sidratul muntaha kemudian mendapat wahyu yaitu shalat sehari semalam 5 kali.
Dalam hadist itu Rsulullah naik keatas langit untuk bertemu dengan Allah atas perintah Allah ta’ala.

Mu’awiyyah bin Al-Hakam As-Sulami berkata:
وَكَانَتْ لِي جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِي قِبَلَ أُحُدٍ وَالْجَوَّانِيَّةِ فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ فَإِذَا الذِّيبُ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِي آدَمَ آسَفُ كَمَا يَأْسَفُونَ لَكِنِّي صَكَكْتُهَا صَكَّةً فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُعْتِقُهَا قَالَ ائْتِنِي بِهَا فَأَتَيْتُهُ بِهَا فَقَالَ لَهَا أَيْنَ اللَّهُ قَالَتْ فِي السَّمَاءِ قَالَ مَنْ أَنَا قَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ.
“Dahulu aku memiliki seorang budak wanita yang menggembalakan kambing-kambing milikku di daerah antara Gunung Uhud dan Jawwaniyyah. Suatu hari aku menelitinya. Ternyata ada seekor serigala yang membawa seekor kambing dari kambing-kambing budak wanita itu. Aku adalah manusia biasa. Aku terkadang marah sebagaimana mereka marah. Maka aku menamparnya dengan sangat keras. Kemudian aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau mengatakan hal itu perkara yang besar terhadapku. Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, tidakkah aku merdekakan dia?” Beliau berkata: “Bawa dia kepadaku,” maka aku membawanya menghadap beliau. Beliau bertanya kepadanya: “Di manakah Allah?” Budak wanita itu menjawab: “Di atas langit.” Beliau bertanya lagi: “Siapakah saya?” Budak wanita itu menjawab: “Anda adalah utusan Allah.” Beliau bersabda: “Merdekakan dia, sesungguhnya dia seorang wanita mukminah.” HR Muslim 537.
 Ketika Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam berhaji Haji wada’.

وَأَنْتُمْ مَسْئُولُونَ عَنِّي مَا أَنْتُمْ قَائِلُونَ ؟ فَقَالُوا : نَشْهَدُ إِنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ رِسَالاَتِ رَبِّكَ ، وَنَصَحْتَ لِأُمَّتِكَ ، وَقَضَيْتَ الَّذِي عَلَيْكَ ، فَقَالَ بِأُصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى السَّمَاءِ ، وَيُنَكِّسُهَا إِلَى النَّاسِ اللَّهُمَّ اشْهَدْ ، اللَّهُمَّ اشْهَدْ. 

Ketika Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan haji wada’ manusia berkumpul sangat banyak, maka Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  “Kalian semua nanti akan ditanya tentang aku, maka apakah yang akan kamu katakan?” Semua yang hadir menjawab: "Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan tentang kerasulanmu, engkau telah menunaikan amanah, dan telah memberikan nasehat ... !" Sambil menunjuk ke langit, Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam kemudian bersabda:  ”Yaa Allah, saksikanlah pernyataan kesaksian mereka ini, Yaa Allah, Lihatlah, mereka telah menyatakan itu, Yaa Allah, saksikanlah pernyataan mereka ini, Ya Allah, saksikanlah pernyataan mereka ini." HR. Khuzaimah 4/251.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan:
ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُل يُطِيل السَّفَر أَشْعَث أَغْبَر يَمُدّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاء يَا رَبّ يَا رَبّ.
“Kemudian beliau (Rasulullah) menceritakan tentang seorang laki-laki yang menempuh perjalanan jauh, berambut kusut dan berdebu. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa, ’Ya Rabb, Ya Rabb!’” HR. Muslim 2393.
Terdapat Atsar dari Umul mukminin Aisyah radiallahu‘anha, Beliau Radiallahu ‘anha berkata: “Segala puji bagi Allah yang maha mendengar semua suara, Ada seorang wanita (khaulah binti tsa’labah) yang mengadukan suaminya (Aus Ibnu shamit) kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam tentang suaminya, aku tidak mendengar apa yang mereka bicarakan sedangkan aku disisi ruangan, akan tetapi Allah yang di atas langit mendengar mereka.” Allah ta’ala berfirman:
قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ
Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. QS Al Mujadilah[58]:1.
ini menunjukkan keberadaan Allah di atas yang mendengar semua suara.
Di antaranya perkataan istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Zainab radhiyallahu ‘anha kepada istri-istri Nabi yang lainnya.
زَوَّجَكُنَّ أَهَالِيكُنَّ، وَزَوَّجَنِي اللَّهُ تَعَالَى مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَوَاتٍ
“Kalian semua dinikahkan oleh keluarga kalian. Sedangkan aku dinikahkan oleh Allah dari atas langit yang tujuh.” HR. Bukhari 7420
Adapun banyak saudara-saudara kita yang tergelincir dan mengatakan Allah dimana-mana, Allah menyatu dengan hambanya, Allah tidak bisa di tunjuk dengan arah, sesungguhnya pemahaman ini sangat lemah karena menyelisihi dalil dalil Al Qur’an dan Hadis serta atsar para sahabat.

Anggapan mereka Allah di mana-mana dengan dalil firman Allah ta’ala:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”  QS Al Hadid[57]:4
Ayat yang lain
قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى.
Janganlah kalian takut (wahai Musa dan Harun) sesungguhnya aku bersama kalian berdua, aku mendengar dan aku ta’at.
Kedua ayat ini menjelaskan setelah Allah menyatakan bersama kemudian Allah menjelaskan tentang kebersaanNya tersebut yaitu dengan pendengaranNya dan penglihatanNya.
Angapan Allah dekat dengan makhluk secara zat dengan firman Allah:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ.
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. Qof [50]:16
kedekatan Allah dengan makhluqnya bukanlah kedekatan secara zat, akan tetapi kedekatan yang dimaksud adalah malaikat sebagaimana di sebutkan para ahli tafsir. Lihat Tafsir Ibnu Katsir QS Qof [5]:16.
Oleh karena kelanjutan ayat tersebut memperjelas ayat sebelumnya.

إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ . مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ.
(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.

Kalimat kami (nahnu) sering di gunakan untuk malaikat yang menjalankan tugas Allah ta’ala sebagaimana firman Allah yang lain:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Kamilah yang menurunkan Adzikra (Al Qur’an) dan kamilah yang akan menjaganya. QS Al Hijr[15]:9.

أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ بَلَى وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ.
“Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.” QS. Az Zukhruf: 80
Sungguh aneh orang yang mengingkari keberadaan Allah di atas langit, sementara kalau bicara tentang Allah jari mereka selalu menunjuk keatas, apa bila mereka berdoa tangannya menghadap keatas, justru orang awam yang fitrah mereka masih bersih selalu berucap “ kita serahkan pada Zat yang di atas langit” yaitu Allah ta’ala.

BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.

  BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.     س ١ - بِمَاذَا نَتَوَسَّلُ إِلَى اللَّهِ؟ Soal 1 : Dengan apa kita bertawassul...