MUJMAL USUL BAB1 No. 11.
BERSIKAP PERTENGAHAN DALAM MEMBANTAH
- يَجِبُ الِالْتِزَامُ بِمَنْهَجِ
الْوَحْيِ فِي الرَّدِّ كَمَا يَجِبُ فِي الِاعْتِقَادِ وَالتَّقْرِيرِ فَلَا
تُرَدُّ الْبِدْعَةُ بِبِدْعَةٍ وَلَا يُقَابَلُ التَّفْرِيطُ بِالْغُلُوِّ وَلَا
الْعَكْسُ.
11.Wajib berpegang pada manhaj wahyu dalam
melakukan bantahan, sebagaimana wajib berpegang padanya dalam berakidah dan
menetap
kan prinsip. Maka tidak boleh membantah bid‘ah
dengan bid‘ah, dan tidak boleh menghadapi sikap meremehkan (tafrith) dengan
sikap berlebih-lebihan (ghuluw), dan sebaliknya.
-----000-----
Penjelasan:
1.
Wajib adanya orang-orang
yang amal-ma’ruf nahi mungkar.
1) Pentingnya berdakwah.
Allah ta’ala berfirman:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ
بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ.
“Dan
hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka
itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. AL-Imran[3]:104).
مَنْ
رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ, فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ
فَبِلِسَانِهِ, فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ, وَذَلِكَ أَضْعَفُ
الْإِيمَانِ.
“Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaklah
dia mencegah dengan tangannya, sekiranya dia tidak mampu, maka dengan lisannya,
dan sekiranya dia tidak mampu (juga), maka dengan hatinya. Yang demikian itu
adalah selemah-lemah keimanan.” (HR Muslim 49, Ahmad 11876, Ibnu Majah
4013).
2) Ancaman apa bila tidak ada yang berdakwah dan yang beramal
makruf nahi mungkar.
Allah ta’ala berfirman:
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً.
“Dan takutlah fitnah(bencana) yang tidak
hanya menimpa orang-orang yang zalim diantara kalian saja secara
khusus.” (QS.Al-Anfal [8]:25).
Abu Bakar berkata : “Hai
manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini, tetapi kalian menempatkan
pengertiannya bukan pada tempat yang sebenarnya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ.
“Hai orang-orang yang beriman, jagalah
diri kalian, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepada kalian
apabila kalian telah mendapat petunjuk..” (QS Al-Amaidah[5]:105).
Dan sesungguhnya aku (Abu Bakar radiallahu
‘anhu) pernah mendengar Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda: “Sesungguhnya manusia itu apabila melihat perkara
munkar; lalu mereka tidak mencegahnya, maka dalam waktu yang dekat Allah ta’ala
akan menurunkan siksa-Nya kepada mereka semua.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS.
Al-Maidah[5]:105).
Zainab bnti Jahsyi bertanya kepada
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam:
يَا رَسُولَ اللَّهِ:
أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ, قَالَ: نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الخَبَثُ.
“Apakah kami akan binasa sementara
orang-orang shalih masih ada di antara kami?” Beliau menjawab, “Benar, apabila
kemaksiatan telah merajalela.” (HR Bukhari 3346, Muslim 2880).
3) Keutamaan berdakwah dan amal makruf nahi mungkar.
Dari sahl
bin Sa’id radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
فَوَاللهِ لَأَنْ
يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ.
"Demi
Allah, jika Allah memberi hidayah kepada satu orang melalui dirimu, maka itu
lebih baik bagimu daripada unta merah (harta paling berharga saat
itu)." (HR. Bukhari 4210, Muslim 2406).
مَنْ سَنَّ فِي
الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا
بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ.
"Barang
siapa mencontohkan dalam Islam satu sunnah (tuntunan) yang baik, maka ia akan
mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya,
tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun..." (HR. Muslim 1017,
Ahmad 19156).
2. Pentingnya memahami
manhaj yang benar dalam berdakwah dan mengingkari kemungkaran.
Allah ta’ala berfirman:
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا
وَمَنِ اتَّبَعَنِي
"Katakanlah: Inilah jalanku. Aku mengajak (manusia)
kepada Allah di atas bashirah (ilmu yang nyata), aku dan orang-orang yang
mengikutiku." (QS. Yusuf [12]: 108)
Ibnu Katsir rahimahullah
berkata: “Dan aku menyeru kepada Allah dengan hujah yang nyata, keyakinan dan
bukti akan kebenaran seruan ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Yusuf
[12]:108).
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ
وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ.
“Kamu
(umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu)
menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman
kepada Allah.”(QS. Al-Imran [3]:110).
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus Mu’adz Radhiyallahu anhu ke Yaman
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّكَ سَتَأْتِيْ قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَىْهِ
شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلٰـهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ– وَفِيْ
رِوَايَةٍ – : إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللهَ – فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لَكَ بِذٰلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ
خَـمْسَ صَلَوَاتٍ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لَكَ بِذٰلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ
صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ......
Sesungguhnya
engkau akan mendatangi satu kaum Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), maka
hendaklah pertama kali yang kamu sampaikan kepada mereka ialah syahadat La
Ilaha Illallah wa anna Muhammadar Rasalullah -dalam riwayat lain disebutkan,
‘Sampai mereka mentauhidkan Allah.’- Jika mereka telah mentaatimu dalam hal
itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah Azza wa Jalla mewajibkan
kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah mentaati hal
itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka zakat
yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka untuk diberikan kepada
orang-orang fakir... (HR. Bukhari 1395, Muslim 19).
رَتَّبَ ذَلِكَ فِي
الدُّعَاءِ إِلَى الْإِسْلَامِ وَبَدَأَ بِالْأَهَمِّ فَالْأَهَمِّ أَلَا تَرَاهُ
بَدَأَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالصَّلَاةِ قَبْلَ الزَّكَاةِ...
"Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menyusun tahapan
dalam berdakwah kepada Islam dengan mendahulukan perkara yang paling penting
kemudian yang lebih penting setelahnya. Tidakkah engkau melihat bahwa beliau
memulai dengan (kewajiban) shalat sebelum zakat?" (Syarah Muslim Imam Nawawi
hadits No. 19)
Syaikhul
islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
فَلَا بُدَّ مِنْ هَذِهِ
الثَّلَاثَةِ: الْعِلْمُ؛ وَالرِّفْقُ؛ وَالصَّبْرُ؛ الْعِلْمُ قَبْلَ الْأَمْرِ
وَالنَّهْيُ؛ وَالرِّفْقُ مَعَهُ وَالصَّبْرُ بَعْدَهُ.
“Hendaknya
(orang yang amal ma’ruf nahi mungkar) harus ada tiga hal ini:
Ilmu,
Kelembutan dan kesabaran. Ilmu sebelum melakukan amar ma’ruf nahi munkar,
kelembutan saat melakukannya, dan kesabaran setelahnya." (Majmu’ Fatawa
28/137).
3. Tidak boleh membalas kesyirikan dengan kesyirikan.
Seperti seseorang
yang terkena guna-guna (sihir) kemudian dia meminta dukun (tukang sihir) dengan
sarana kesyirikan menghilangkan guna-guna tersebut, padahal kita tahu mereka
bekerja sama dengan Setan, dan tidaklah setan melakukan kecuali minta imbalan.
Allah ta’ala berfirman:
وَاتَّبَعُوا
مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ
وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ.
“Dan mereka
mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan
mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak
kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir
(mengerjakan sihir).” (QS. Al-Baqarah[2]:102).
Larangan mendatangi
dukun.
Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَتَى
عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ
لَيْلَةً.
“Barang siapa mendatangi dukun atau peramal, maka tidak
diterima shalatnya 40 hari.” (HR.Muslim
2230, Ahmad 16638, Thabrani, Mu’jam al-Ausath 1453).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,
“Al-‘Arraf adalah
sebutan bagi kahin, munajjim, dan rammal,
serta yang sejenis dengan mereka, yang berbicara dalam hal mengetahui
perkara-perkara semacam itu dengan cara-cara semacam ini.” (Kitab
Tauhid syaikh Muhammad bin Abdul wahhab ).
Mendatangi dan mempercayai dukun dapat
menjadikan kufur.
Rasulullah sallallahu ‘alaihii wa sallam bersabda:
مَنْ أَتَى كَاهِنًا، أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا
يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ.
“Barangsiapa
mendatangi dukun atau peramal lalu memercayai apa yang dia katakana, maka dia
telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu alaihi wa
sallam.” (HR. Ahamd 9536, Tirmidzi 135, Ibnu Majah 639, Abu Daud 3904,
Disahihkan syaikh al-Albani di dalam Ash-Shahihah 3387).
4.
Tidak boleh menghilangkan bid’ah dengan
kebid’ahan serupa.
Misalnya menghilangkan perayaan maulid nabi dengan
berkumpul dan melakukan acara perlombaan islam.
Merayakan tahun baru masehi di hilangkan dan diganti
perayaan tahun baru hijriah.
Menghilangkan
perayaan malam Nisfu Sya'ban dengan membuat acara shalat malam berjamaah secara
khusus malam itu.
Di antara bid’ah yang
biasa dilakukan oleh banyak orang ialah bid’ah mengadakan upacara peringatan
malam Nisfu Sya’ban dan mengkhususkan pada hari tersebut dengan puasa tertentu.
Padahal tidak ada satupun dalil yang dapat dijadikan sandaran, ada hadist-hadits
tentang fadhilah malam tersebut tetapi hadits-hadits tersebut dlaif sehingga
tidak dapat dijadikan landasan. Adapun hadits-hadits yang berkenaan dengan
keutamaan shalat pada hari itu adalah maudhu’.
Qadariyyah berlebihan dengan meyakini bahwa manusia
menentukan sendiri seluruh perbuatannya tanpa campur tangan kehendak Allah.
Sebaliknya, Jabariyyah beranggapan bahwa manusia tidak memiliki kehendak sama
sekali, melainkan seperti kapas yang ditiup angin. Adapun Ahlus Sunnah wal
Jama'ah bersikap pertengahan, manusia memiliki kehendak dan kemampuan, namun kehendak
manusia berada di bawah kehendak Allah ta'ala.
Allah ta’ala berfirman:
لِمَنْ
شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗ وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ
اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ
“(yaitu)
bagi siapa di antaramu yang hendak menempuh jalan yang lurus. Kamu tidak dapat
berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir
[ 81]:28-29).
Khawarij mengkafirkan pelaku dosa besar dan menghukuminya
kekal di neraka. Sebaliknya, Murji'ah menganggap maksiat tidak memengaruhi
iman, sehingga menyamakan orang yang taat dengan pelaku maksiat dalam keimanan.
Adapun Ahlus Sunnah berada di tengah-tengah; pelaku dosa besar tidak kafir,
tetapi imannya berkurang dan berada di bawah kehendak Allah.
Allah
ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ
وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ.
“Sesungguhnya
Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang
selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.(QS. An
Nisaa[4]:48, 116).
5.
Tidak boleh menghilangkan kemaksiatan dengan
kemaksiatan serupa.
1)
Menghilangkan
orang yang baca komik dengan baca
2)
Tidak
boleh seorang istri membalas kemaksiatan suami dengan kemaksiatan serupa.
3)
Menghilangkan kemungkaran minuman keras dengan
membunuh pelakunya tanpa hak.
4)
Menghilangkan perjudian dengan praktik perjudian yang
lain.
Misalnya melarang judi kartu, tetapi menggantinya dengan togel atau bentuk
perjudian lainnya.
5)
Menghilangkan nyanyian yang haram dengan menggantinya
kepada nasyid atau lagu-lagu religi yang tetap diiringi alat musik yang
diharamkan dan melalaikan.
6)
Menghilangkan riba bank konvensional dengan riba bank
islami.
7)
Menghilangkan lagu-lagu cabul dengan menggantinya kepada lagu-lagu yang
dianggap islami yang tetap diiringi musik haram dan melalaikan.
6.
Tidak boleh menghilangkan sifat gulu dengan
meremehkan.
1)
Bersikap ghuluw terhadap para nabi dan orang-orang
saleh dengan mengangkat mereka hingga derajat ketuhanan, atau sebaliknya
bersikap meremehkan dengan tidak menghormati dan tidak menunaikan hak-hak
mereka.
2)
Bersikap ghuluw dalam mengkafirkan pelaku dosa besar,
atau sebaliknya bersikap meremehkan dengan menganggap maksiat tidak memengaruhi
iman sama sekali.
3)
Bersikap ghuluw dalam beribadah hingga memberatkan
diri, atau sebaliknya bersikap meremehkan dengan meninggalkan kewajiban dan
meremehkan ibadah.
4)
Bersikap ghuluw dalam mencintai Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam dengan melakukan amalan-amalan yang tidak disyariatkan, atau
sebaliknya bersikap meremehkan dengan mengabaikan Sunnah beliau dan enggan
bershalawat kepadanya.
5)
Bersikap ghuluw dalam zuhud dengan mengharamkan
perkara-perkara yang Allah halalkan, atau sebaliknya bersikap meremehkan dengan
tenggelam dalam syahwat dan kemewahan.
Demikianlah semoga bermanfaat.
-----000-----
Sragen
03-08-2026
Abu
Ibrahim, Junaedi Abdullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar