Sabtu, 15 Agustus 2026

MEMBENTUK KELUARGA HARMONIS (NASEHAT UNTUK SUASMI ISTRI)

 


MEMBENTUK KELUARGA HARMONIS

(NASEHAT UNTUK SUASMI ISTRI)

Setiap keluarga pasti akan berharap rumah tangganya sukses, bahagia, apapun latar belakang orang tersebut.

Namun kesuksesan dan kebahagiaan tersebut tidak akan terwujud apa bila berpaling dari agama Allah, karena hal ini telah disebutkan oleh Allah ta’ala.

Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS.Thaha[20]:124).

Ibnu Katsir mengatakan:

{وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي}

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku.” (QS.Thaha[20]: 124).

Yaitu menentang perintah-Ku dan menentang apa yang Kuturunkan kepada rasul-rasul-Ku, lalu ia berpaling darinya dan melupakannya serta mengambil petunjuk dari selainnya.

{فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا}

“Maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit”. (QS. Thaha[20]: 124).

“Yakni kehidupan yang sempit di dunia. Maka tiada ketenangan baginya dan dadanya tidak lapang, bahkan selalu sempit dan sesak karena kesesatannya; walaupun pada lahiriahnya ia hidup mewah dan memakai pakaian apa saja yang disukainya, memakan makanan apa saja yang disukainya, dan bertempat tinggal di rumah yang disukainya.” (Tafsir Ibnu Katsir QS. Thaha[20]: 124).

Adapun untuk mendapatkan hal itu diantaranya:

 

1.   Suami istri harus bersinergi dalam mengajarkan kebaikan.

Hal ini memcakup masalah aqidah, ibadah, akhlaq dan muamalah, ibarat sedang menanam, in syaa Allah dia akan menuai.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu...” (QS. At-Tahrim[66]:6)

Mengajarkan aqidah.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ.

“Akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi ..” (QS Al Baqarah [2]:177).

Mengajarkan ibadah.

Allah ta’ala berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا.

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. (QS. Thaaha[20] :132).

Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَأَنَا رَاقِدَةٌ مُعْتَرِضَةٌ عَلَى فِرَاشِهِ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُوتِرَ أَيْقَظَنِي فَأَوْتَرْتُ.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat sedangkan aku tidur di atas ranjangnya dengan membentang dihapannya. Ketika akan witir, beliau membangunkan aku hingga aku pun shalat witir.”(HR. Bukhari 512, 997, Muslim 512).

2.   Berkomunikasi sesama pasangan yang baik.

Allah ta’ala berfitraman:

قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى.

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al Baqarah[2]:223).

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ.

“Dan bergaullah mereka (istrimu) dengan secara patut.”(QS. An-Nisa[4]:19).

 كُلٌّ كَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ صَدَقَةٌ. 

“Setiap kata-kata yang baik Itu adalah sedekah. (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad 422. Dishahihkan Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah 576).

Berbicara dengan pasangan kita agar kita menghadapkan wajah kepadanya, pandanglah dengan pandangan tulus, memilih kata yang, sertakan senyuman.

Salah satu contoh bagaimana Rasulullah berkomunikasi yang baik dengan istrinya, sebagaimana diceritakan istri beliau umul mukminin ‘Aisyah radhiyallahu’anha, suatu hari Rasulullah berkata kepadanya:

يَا عَائِشَ، هَذَا جِبْرِيلُ يُقْرِئُكِ السَّلاَمَ.

Wahai ‘Aisy (panggilan kesayangan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha), Malaikat Jibril tadi menyampaikan salam buatmu. (HR. Bukhari 3768, Muslim 2447, Ahmad 24574).

Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ إِذَا ارَادَ بِاهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أَدْخَلَ عَلَيْهِم الرِّفْقَ.

“Sesungguhnya jika Allah menghendaki kebaikan bagi sebuah keluarga maka Allah akan memasukan kelembutan kepada mereka.” (HR Ahmad 2669, Baihaqi di dalam Su’abul iman 6140, dishahikan oleh al-Albani dalam As-Shahihah 523).

3.   Saling memahami hak dan kewajiban masing-masing.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ

“Dan para wanita mempunyai haq yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf, akan tetapi para suami mempunyai tingkatan satu kelebihan dari pada istriya.” (QS. An-Nisa[4]:228)

أَلاَ إِنَّ لَكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ حَقًّا وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقَّا.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kalian memiliki hak atas isteri-isteri kalian dan isteri-isteri kalian juga memiliki hak atas kalian.”(HR. Ibnu Majah 1851, at-Tirmidzi 1173 dihasankan oleh syaikh al-Albani, shahih ibnu Majah 1501).

4.   Menjaga penampilan dan mendatangi pasangannya.

Hendaknya masing-masing pasutri menjaga penampilannya, kebugarannya, agar tubuh tetap ideal, yaitu  dengan cara berolah raga, berpakaian rapi dan berdandan untuk pasangannya.

Allah ta’ala berfirman:

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ.

“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” ( QS. Al-Baqarah[2]:223).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ.

“Hubungan salah satu diantara kalian juga shadaqqah.” (HR. Muslim 1006, Ahmad).

Banyak faedah yang bisa diambil, berapa banyak masalah hilang dengan hal itu, berapa banyak kesehatan dapat dirasakan dengan hal itu, bukan hanya sebatas itu tapi akan menjadikan pahala yang besar dan perekat dalam rumah tangga.

Sebagian orang hanya memperhatikan kebutuhannya sendiri, sementara pasanganya tak pernah dihiraukan.

Oleh karena itu setiap pasangan hendaknya menjaga penampilannya.

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.

"Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain." (HR. Muslim 91, Tirmidzi 1999, Ibnu Majah 59).

Ketika Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam di tanya, Siapakah wanita yang baik itu..?,” beliau menjawab:

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ.

“Yang paling menyenangkan jika dilihat suami, mentaati suami jika suami memerintahkan sesuatu, dan tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci oleh suaminya.” (HR. Ahmad 9658, An-Nasa’i 3231, di hasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Al-Irwa’ 1786).

Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu biasa merapikan dirinya, ketika hal itu di tanyakan, beliau menjawab, “ Sungguh aku suka berhias untuk istriku sebagaimana aku suka melihat istriku berhias untuk diriku.” (Tafsir Al Qurtubi, di nukil dari As-Suluk Al-Ijtima’ fil islam, syaikh Hasan Ayub hal, 183-184)

Hal terlarang apabila seorang istri menolak suaminya. Sebaliknya hendaknya suami juga memikirkan istrinya.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِىءَ لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ.

“Jika seorang pria mengajak istrinya ke ranjang, lantas istri enggan memenuhinya, maka malaikat akan melaknatnya hingga waktu Shubuh” (HR. Bukhari 5193, Muslim 1436).

5.   Memberi nafkah yang halal.

Hendaknya suami memberikan nafkah kepada keluarga yang halal, Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ.

“Wahai manusia, makanlah olehmu dari apa yang ada dibumi ini yang halal dan baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan, sesungguhnya syaitan itu adalah musuhmu yang nyata.” (QS. Al-Baqarah[2]:168)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang telah kami rezkikan kepadamu dan bersukurlah kepada Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya saja.”(QS. Al-Baqarah[2]:172).

Jangan dianggap hilang nafkah yang kita berikan kepada keluarga kita, bahkan itu adalah sedekah yang paling besar.

Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دِينَارٌ أنْفَقْتَهُ في سَبيلِ اللهِ وَدِينار أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ, وَدِينارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ, وَدِينَارٌ أنْفَقْتَهُ عَلَى أهْلِكَ, أعْظَمُهَا أجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أهْلِكَ.

"Dinar yang engkau infakkan dijalan Allah, dinar yang engkau infakkan untuk membebaskan budak, dinar yang engkau sedekahkan untuk orang yang miskin dan dinar yang engkau infakkan untuk keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah yang engkau infakkan untuk keluargamu." (HR. Muslim 995).

Imam Nawawi berkata, “Nafkah kepada keluarga lebih utama dibandingkan sedekah sunnah.”(Syarah Muslim 7:82).

إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ.

“Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah dengan tujuan mengharapkan wajah Allah kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampai pun makanan yang kamuberikan kepada istrimu.” (al-HR. Bukhari 56, An-Nasai 9162).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang hak seorang istri, beliau bersabda:

أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ, وَتَكْسُوهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ, وَلاَ تَضْرِبِ الوَجْهَ, وَلاَ تُقَبِّحْ, وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِي الْبَيْتِ.

“Engkau memberinya makan jika engkau makan, engkau memberinya pakaian jika engkau berpakaian, janganlah memukul wajah dan janganlah menjelek-jelekkannya serta janganlah memisahkannya kecuali tetap dalam rumah.” (HR. Ibnu Majah 1850 Abu Dawud 2142. Dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ 17).

Seorang suami akan berdosa bila tidak mau memberi nafkah kepada keluarganya.

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ.

“Cukuplah seseorang itu berdosa bila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.”(HR. Ahmad 6828, Abu Dawud 1692, dishahihkan Syaikh al-Albani, di dalam Shahihul Jami’ 4481).

Betapa banyak para suami yang mereka tidak memberi nafkah kepada istrinya maka seperti ini adalah dosa besar.

6.   Bermusyawarah dengan pasangannya.

Hal ini sangat sangat di butuhkan, terutama dalam perkara-perkara penting, seperti apa bila ingin buka usaha, infestasi, pinjam dan meminjamkan, berwisata dan lain-lain, karena demikian menjadikan istri merasa tersanjung, dihormati, dianggap, dan bahkan terkadang mampu mengurai masalah dan memberi usulan yang bermanfaat. Allah ta’ala berfirman:

وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

 

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakal kepada Allah.” (QS. Ali-Imran[3]: 159).

Allah ta’ala juga berfirman:

وَاَمْرُهُمْ شُوْرٰى بَيْنَهُمْ.

“Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka.” (QS. Asy-Syura[42]:38)

Dewasa ini masing-masing suami istri tidak lagi menghiraukan hal ini, mereka merasa tak membutuhkan pendapat satu sama lain, padahal kebersamaan dalam langkah, pendapat dan mufakat sangat penting, agar rumah tangga terus seantiasa terjaga keutuhannya.

Ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah, dipermulaan apa yang di putuskan dalam perjanjian tersebut, para sahabat kecewa, ketika beliau memerintahkan mereka, mereka tidak menghiraukan, kemudian Rasulullah masuk menemui istrinya umu Salamah, umu Salamah memberikan masukan kepada Beliau dan Beliau menerima, akhirnya kaum muslimin mengikuti Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam saja menerima masukan istrinya, tentu kita juga demikian, hendakya kita tidak malu untuk menerima kebenaran dari istri, dan merasa menang sendiri. Meskipun begitu istri tidak boleh memata-matai suami, membatasi terhadap orang tuanya, karena dalam islam masing-masing memiliki haq, tidak sepantasnya seorang istri melarang suami untuk memberi harta orang tuanya meskipun tanpa sepengatahuan istri.

Musyawarah menjauhkan sifat otoriter, lebih adil, menjadikan semua terbuka,mengedepankan kebersamaan, yang paling penting seandainya terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, seperti salah langkah sehingga bangkrut, atau berdampak pada ekonomi rumah tangganya, tidak ada yang saling menyalahkan karena telah di sepakati bersama. Demikian dijelaskan oleh para ulama.

7.   Bersyukur kepada pasangannya.

Seorang hamba dapat dikatakan bersyukur apabila memenuhi tiga hal:

 1)   Hatinya mengakui dan meyakini bahwa segala nikmat yang diperoleh itu berasal dari Allah Ta’ala semata.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ..

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”. (Qs. An Nahl [16]: 53).

2)   Lisannya mengucapkan kalimat yang baik dan memuji Allah ta’ala.

 

Hamba yang bersyukur kepada Allah ta’ala ialah hamba yang bersyukur dengan lisannya. Allah sangat senang apabila lisan hambanya memuji nikmat-Nya.

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ.

Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”. (Qs. Adh Dhuha[93]: 11).

 

3)   Menggunakan nikmat-nikmat Allah Ta’ala untuk beramal shalih.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah, “Syukur (yang sebenarnya) adalah dengan hati, lisan dan anggota badan. (Minhajul Qasidin, pasal “ Batasan Dan Syukur Serta Hakekatnya hal terjemahan 515).

Adapun bagaimana supaya menumbuhkan rasa syukur:

Melihat orang dibawah kita.

اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ.

"Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang berikan kepadamu" (HR Bukhari 6490 Muslim 2963).

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ.

“Tidaklah kaya itu diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Akan tetapi yang dikatakan kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari 6446, Muslim 1051).

Tidak kufur terhadap kebaikan suami.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ  قَالَ: يَكْفُرْنَ العَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ.

“Diperlihatkan kepadaku neraka dan aku dapati kebanyakan penghuninya adalah para wanita yang ingkar. Rasul ‘alaihish shalatu wassalam ditanya: “Apakah mereka ingkar kepada Allah ? Nabi bersabda: “Mereka ingkar kepada suaminya dan ingkar kepada kebaikan suaminya. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang mereka (istri-istrimu) selama satu tahun, kemuadia wanita tersebut melihat satu kejelekan darimu, maka ia akan berkata: “Aku tak pernah melihat engkau berbuat baik sedikitpun” (HR. Bukhari 1052, Muslim 907).

8.   Sabar menghadapi rintangan hidup.

Kita sangat prihatin, banyak rumah tangga berantakan karena tidak kuat ketika diuji dengan kekurangan ekonomi, seandainya mereka sabar dan bersyukur, pastilah mereka bisa mudah melalui ujian tersebut.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ.

“Hai orang-orang yang beriman mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah[2]:153)

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا . إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا.

 “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 5-6)

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.

“Alangkah mengagumkan perkara orang yang beriman, sesungguhnya semua perkaranya baik, dan ini hanya ada pada seorang mukmin, jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya” (HR. Muslim 2999, Ibnu Hibban 2895 dishahihkan Syaikh al-Albani, Ash-Shahihah 147).

Ujian berat bagi seorang istri ketika suami terpuruk di dalam ekonomi, oleh karena itu disaat seperti inilah kesetiaan di butuhkan, hendaknya meringankan bukan memberatkan, menjadi spirit bagi suaminya, jauhkan dari berbagai ungkapan kesedihan hati, karena demikian ini akan membekas di dalam hati dan menguatkan jiwanya, jangan sampai dia berlari apalagi pindah kelain hati.

9.   Saling menasehati dan bertaubat dari kesalahan.

Allah ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya.” (QS.At-Tahrim[66]:8).

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ.

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Al-Imran[3]:135).

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah kalian saling menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Mā’idah: 2)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabada:

اسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ … -وَفِي رِوَايَةٍ- الْمَرْأَةُ كَالضِّلَعِ

“Berwasiatlah kalian dengan kebaikan kepada para wanita (para istri), karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk…” Dalam satu riwayat: “Wanita itu seperti tulang rusuk...”(HR. al-Bukhari 3331, Muslim 1468).

10.                     Bersemangat menatap masa depan dan memperbanyak amal shalih.

Allah ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.

"Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik pria maupun wanita dalam keadaan beriman, maka niscaya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri akhir dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl[16]:97).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ.

“Bersungguh-sungguhlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu).” (HR. Muslim 2664, Ahmad 1147).

Demikianlah semoga bermanfaat. Aamiin.

 

-----000-----

 

 

Sragen 16-08-2026

Abu Ibrahim Junaedi.

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MEMBENTUK KELUARGA HARMONIS (NASEHAT UNTUK SUASMI ISTRI)

  MEMBENTUK KELUARGA HARMONIS (NASEHAT UNTUK SUASMI ISTRI) Setiap keluarga pasti akan berharap rumah tangganya sukses, bahagia, apapun l...