MEMBANGUN NEGERI DENGAN IMAN DAN TAKWA
Kita partut bersyukur kepada Allah, atas kemerdekaan
yang diberikan kepada kita, kita juga
bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kepada kita negri yang subur ini,
hanya saja negri masih sangat jauh dari yang diharapkan, dan membutuhkan
perjuangan kita semua untuk menjadikan negri makmur.
1.
Membangun negri bukan hanya fasilitas.
Membangun negeri tentu merupakan sesuatu yang
baik. Jalan dibangun, gedung didirikan, ekonomi dikembangkan, serta berbagai
fasilitas diberikan kepada masyarakat.
Namun ada sesuatu yang tidak boleh dilupakan:
Jangan hanya membangun negeri secara fisik, tetapi
bangun juga iman dan takwa masyarakatnya.
Sebab jika pembangunan hanya mengejar kemajuan
dunia, sementara iman dan takwa diabaikan, maka sejarah telah menunjukkan
akibatnya yang berakhir kehancuran
berbagai kaum terdahulu.
Perlu
diketahui hal semacam ini juga dilakukan oleh kaum Aad, Tsamut, Fir’aun.
Allah
ta’ala berfirman:
أَلَمْ تَرَ
كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ . إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ . الَّتِي
لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ . وَثَمُودَ
الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ .
وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ .
“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu
berbuat terhadap kaum 'Ad? (Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai
bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti
itu, di negeri-negeri lain, dan kaum Samud yang memotong batu-batu besar di
lembah dan kaum Fir 'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak)...”
(QS. Al-Fajr [89]:6-10).
2.
Dunia tidak ada nilainya disisi Allah ta’ala.
Jangan kita mengagumi dunia ini apalagi mementingkan dunia
dibandingkan akhirat.
Allah ta’ala berfirman:
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا . وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ
وَأَبْقَى.
"Sedangkan kalian lebih memilih kehidupan dunia,
padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal". (QS. Al-A'la [87]: 16 – 17).
قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ
خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى.
“Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu
lebih baik bagi orang-orang bertakwa". (QS. An-Nisa' [4]: 77).
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ . حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ.
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
(At-Takatsur[102]:1-2).
Yahya bin Mu'adz berkata, "Dunia itu arak setan.
Barangsiapa mabuk karenanya niscaya tidak akan sadar sampai ia berada di antara
orang-orang yang sudah mati, menyesal bersama orang-orang yang merugi."
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ
بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ.
"Seandainya
dunia ini bernilai di sisi Allah seperti sayap nyamuk, niscaya Dia tidak akan
memberikan seteguk air pun kepada orang kafir."
(HR. Tirmidzi No. 2320, Ibnu Majah No. 4110)
Malik bin
Dinar berkata:
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا مِنْ ذَهَبٍ يَفْنَى ، وَالآخِرَةُ
مِنْ خَزَفٍ يَبْقَى لَكَانَ الوَاجِبُ أَنْ يُؤْثِرَ خَزَفٍ يَبْقَى عَلَى ذَهَبٍ
يَفْنَى ، فَكَيْفَ وَالآخِرَةُ مِنْ ذَهَبِ يَبْقَى ، وَالدُّنْيَا مِنْ خَزَفٍ
يَفْنَى؟
“Seandainya dunia adalah emas yang akan fana, dan akhirat
adalah tembikar yang kekal abadi, maka tentu saja seseorang wajib memilih
sesuatu yang kekal abadi (yaitu tembikar) daripada emas yang nanti akan fana.
Padahal sejatinya akhirat adalah emas yang kekal abadi dan dunia adalah
tembikar yang nantinya fana.” (Lihat Fathul Qodir, Imam Asy-Syaukani,
5:567-568)
Oleh karena itu Fir'aun
memiliki kemajuan negrinya, kekuasaan dan kekuatan. Namun semua itu justru
menjadikan sombong, kufur dan berakhir binasa.
Allah ta’ala berfirman:
وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ
فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ.
“Dan
(ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, lalu Kami menyelamatkan kamu dan
Kami tenggelamkan pengikut-pengikut Fir'aun, sedangkan kamu menyaksikan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 50).
3.
Demikian pula negri yang subur hendaknya disertai syukur.
Allah ta’ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ
جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ
بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ.
“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda
(kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun, di sebelah
kanan dan di sebelah kiri, (dikatakan kepada mereka) makanlah olehmu dari
rezeki yang (dianugrahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. Dan
Tuhanmu adalah Tuhan yang maha pengampun” (QS. Saba’[34]: 15)
Kemakmuran negri Saba’ banyak di ceritakan
oleh para ulama salaf diantaranya Qatadah, dia menceritakan ada
seorang ibu berjalan diantara pepohonan yang berbuah itu, masuk ke dalam kebun
tersebut dengan membawa keranjang di atas kepalanya, ketika keluar dari kebun
itu keranjang tersebut akan penuh dengan buah-buahan tanpa harus memetik buah
tersebut. Abdurrahman bin Zaid menambahkan, di sana tidak ditemukan nyamuk,
lalat, serangga. (Tafsir Ibnu Katsir QS Saba’[34]:15).
Akan tetapi mereka tidak bersyukur sehingga
akhirnya mereka binasa.
فَأَعْرَضُوْا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ
العَرِمِ.
“Tetapi mereka berpaling, maka kami datangkan
kepada mereka banjir al-‘arim.” (QS. Saba’[34]: 16)
Sebab
hilangnya nikmat yaitu kufurnya mereka kepada Allah ta’ala.
Allah
juga berfirman:
فَكُلًّا
أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ
مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ
مَنْ أَغْرَقْنَا
“Masing-masing
dari mereka Kami siksa karena dosanya. Di antara mereka ada yang Kami timpakan
kepadanya hujan batu, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang
Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan.” (QS.
Al-'Ankabut [29]: 40).
Mereka tidak binasa karena tidak memiliki
kemampuan duniawi. Mereka binasa karena mendustakan dan berpaling dari Allah
serta melakukan dosa dan kezaliman.
4.
Hakekat membangun negri.
Hakekat membangun negri yaitu bukan hanya
membangun kemajuan negri dengan berbagai fasilitas saja, akan tetapi membangun kualitas
sumber daya manusianya dengan iman dan takwa.
Alah ta’ala berfirman:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا
وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ...
“Sekiranya penduduk negeri-negeri
beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai
keberkahan dari langit dan bumi... “ (QS.Al-Araf [7]:196).
5.
Berjuang bersama membangun negri.
Dari sini kita menyadari bahawa siapapun, apapun
profesi kita, kita bisa membangun negri ini, baik petani, pedagang dan juga
pejabatnya, yanitu dengan didasari iman dan takwa kepada Allah, jujur dan adil yang
nantinya akan menjadikan negri kita negri yang makmur in syaa Allah.
Allah ta’ala berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ
لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan
suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah
menghendaki keburukan terhadap suatu kaum,..”(qs. Ar-Ra’dua [13]:11)
Demikianlah semoga bermanfaat.
-----000----
Sragen 14-08-2026
Abu Ibrahim Junaedi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar