Kamis, 13 Agustus 2026

MEMBANGUN NEGERI DENGAN IMAN DAN TAKWA

 

MEMBANGUN NEGERI DENGAN IMAN DAN TAKWA

Kita partut bersyukur kepada Allah, atas kemerdekaan  yang diberikan kepada kita, kita juga bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kepada kita negri yang subur ini, hanya saja negri masih sangat jauh dari yang diharapkan, dan membutuhkan perjuangan kita semua untuk menjadikan negri makmur.

1.   Membangun negri bukan hanya fasilitas.

Membangun negeri tentu merupakan sesuatu yang baik. Jalan dibangun, gedung didirikan, ekonomi dikembangkan, serta berbagai fasilitas diberikan kepada masyarakat.

Namun ada sesuatu yang tidak boleh dilupakan:

Jangan hanya membangun negeri secara fisik, tetapi bangun juga iman dan takwa masyarakatnya.

Sebab jika pembangunan hanya mengejar kemajuan dunia, sementara iman dan takwa diabaikan, maka sejarah telah menunjukkan akibatnya  yang berakhir kehancuran berbagai kaum terdahulu.

 

Perlu diketahui hal semacam ini juga dilakukan oleh kaum Aad, Tsamut, Fir’aun.

Allah ta’ala berfirman:

 أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ . إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ . الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ . وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ . وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ .

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum 'Ad? (Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, dan kaum Samud yang memotong batu-batu besar di lembah dan kaum Fir 'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak)...” (QS. Al-Fajr [89]:6-10).

 

2.   Dunia tidak ada nilainya disisi Allah ta’ala.

Jangan kita mengagumi dunia ini apalagi mementingkan dunia dibandingkan akhirat.

Allah ta’ala berfirman:

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا . وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى.

"Sedangkan kalian lebih memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal". (QS. Al-A'la [87]: 16 – 17).

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى.

“Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang bertakwa". (QS. An-Nisa' [4]: 77).

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ . حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ.

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (At-Takatsur[102]:1-2).

Yahya bin Mu'adz berkata, "Dunia itu arak setan. Barangsiapa mabuk karenanya niscaya tidak akan sadar sampai ia berada di antara orang-orang yang sudah mati, menyesal bersama orang-orang yang merugi."

لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ.

"Seandainya dunia ini bernilai di sisi Allah seperti sayap nyamuk, niscaya Dia tidak akan memberikan seteguk air pun kepada orang kafir."
(HR. Tirmidzi No. 2320, Ibnu Majah No. 4110)

Malik bin Dinar berkata:

لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا مِنْ ذَهَبٍ يَفْنَى ، وَالآخِرَةُ مِنْ خَزَفٍ يَبْقَى لَكَانَ الوَاجِبُ أَنْ يُؤْثِرَ خَزَفٍ يَبْقَى عَلَى ذَهَبٍ يَفْنَى ، فَكَيْفَ وَالآخِرَةُ مِنْ ذَهَبِ يَبْقَى ، وَالدُّنْيَا مِنْ خَزَفٍ يَفْنَى؟

“Seandainya dunia adalah emas yang akan fana, dan akhirat adalah tembikar yang kekal abadi, maka tentu saja seseorang wajib memilih sesuatu yang kekal abadi (yaitu tembikar) daripada emas yang nanti akan fana. Padahal sejatinya akhirat adalah emas yang kekal abadi dan dunia adalah tembikar yang nantinya fana.” (Lihat Fathul Qodir, Imam Asy-Syaukani, 5:567-568)

Oleh karena itu Fir'aun memiliki kemajuan negrinya, kekuasaan dan kekuatan. Namun semua itu justru menjadikan sombong, kufur dan berakhir binasa.

Allah ta’ala berfirman:

وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ.

“Dan (ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, lalu Kami menyelamatkan kamu dan Kami tenggelamkan pengikut-pengikut Fir'aun, sedangkan kamu menyaksikan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 50).

3.   Demikian pula negri yang subur hendaknya disertai syukur.

Allah ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ.

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun, di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (dikatakan kepada mereka) makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugrahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang  maha pengampun” (QS. Saba’[34]: 15)

Kemakmuran negri Saba’ banyak di ceritakan oleh  para ulama salaf diantaranya Qatadah, dia menceritakan ada seorang ibu berjalan diantara pepohonan yang berbuah itu, masuk ke dalam kebun tersebut dengan membawa keranjang di atas kepalanya, ketika keluar dari kebun itu keranjang tersebut akan penuh dengan buah-buahan tanpa harus memetik buah tersebut. Abdurrahman bin Zaid menambahkan, di sana tidak ditemukan nyamuk, lalat, serangga. (Tafsir Ibnu Katsir QS Saba’[34]:15).

Akan tetapi mereka tidak bersyukur sehingga akhirnya mereka binasa.

فَأَعْرَضُوْا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ العَرِمِ.

“Tetapi mereka berpaling, maka kami datangkan kepada mereka banjir al-‘arim.” (QS. Saba’[34]: 16)

Sebab hilangnya nikmat yaitu kufurnya mereka kepada Allah ta’ala.

Allah juga berfirman:

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا

“Masing-masing dari mereka Kami siksa karena dosanya. Di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan.” (QS. Al-'Ankabut [29]: 40).

Mereka tidak binasa karena tidak memiliki kemampuan duniawi. Mereka binasa karena mendustakan dan berpaling dari Allah serta melakukan dosa dan kezaliman.

4.   Hakekat membangun negri.

Hakekat membangun negri yaitu bukan hanya membangun kemajuan negri dengan berbagai fasilitas saja, akan tetapi membangun kualitas sumber daya manusianya dengan iman dan takwa.

Alah ta’ala berfirman:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ...

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi... “ (QS.Al-Araf [7]:196).

5.   Berjuang bersama membangun negri.

Dari sini kita menyadari bahawa siapapun, apapun profesi kita, kita bisa membangun negri ini, baik petani, pedagang dan juga pejabatnya, yanitu dengan didasari iman dan takwa kepada Allah, jujur dan adil yang nantinya akan menjadikan negri kita negri yang makmur in syaa Allah.

Allah ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ

 

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum,..”(qs. Ar-Ra’dua [13]:11)

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

-----000----

 

Sragen 14-08-2026

Abu Ibrahim Junaedi

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MEMBANGUN NEGERI DENGAN IMAN DAN TAKWA

  MEMBANGUN NEGERI DENGAN IMAN DAN TAKWA Kita partut bersyukur kepada Allah, atas kemerdekaan   yang diberikan kepada kita, kita juga bers...