Rabu, 19 Agustus 2026

MUJMAL USUL, BAB 2 NO 1, NAMA DAN SIFAT ALLAH

 

ثَانِيًا :

 

التَّوْحِيدُ الْعِلْمِيُّ الِاعْتِقَادِيُّ

 



Kedua:
Tauhid Ilmiah I‘tiqadi (Keyakinan/Akidah)

 

١ -الْأَصْلُ فِي أَسْمَاءِ اللَّهِ وَصِفَاتِهِ: إِثْبَاتُ مَا أَثْبَتَهُ اللَّهُ لِنَفْسِهِ أَوْ أَثْبَتَهُ لَهُ رَسُولُهُ ﷺ مِنْ غَيْرِ تَمْثِيلٍ وَلَا تَكْيِيفٍ وَنَفْيُ مَا نَفَاهُ اللَّهُ عَنْ نَفْسِهِ أَوْ نَفَاهُ عَنْهُ رَسُولُهُ ﷺ مِنْ غَيْرِ تَحْرِيفٍ وَلَا تَعْطِيلٍ كَمَا قَالَ تَعَالَىٰ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾ مَعَ الْإِيمَانِ بِمَعَانِي أَلْفَاظِ النُّصُوصِ وَمَا دَلَّتْ عَلَيْهِ.

1.Pokok dasar dalam nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah:

Menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, atau yang ditetapkan oleh Rasul-Nya untuk-Nya, tanpa menyerupakan(tamtsil) dan tanpa menanyakan bagaimana hakikatnya (takyif), serta meniadakan apa yang Allah tiadakan dari diri-Nya, atau yang ditiadakan oleh Rasul-Nya dari-Nya,

tanpa merubah makna(tahrif) dan tanpa menolak(ta‘thil), sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.

”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuura [42]: 11).

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura [42]:11).

Dengan tetap beriman kepada makna lafadz-lafadz nash nash dan apa yang ditunjukkannya.

Penjelasan:

Hendaknya kita mengetahui penjelasan nama dan sifat Allah ta’ala, hal ini akan menjadikan seseorang longgar hatinya, tidak putusasa, bersemangat dalam beribadah, dan menguatkan iman seseorang.

Adapun kaedah dalam memahami nama dan sifat Allah sebagai berikut:

Kaidah yang pertama:

Di dalam memahami nama dan sifat Allah hendaknya di perlakukan sebagaimana apa adanya, tanpa di-ta’thil (ditolak), tahrif (diselewengkan), takyif (ditanyakan), tamtsil (diserupakan), karena Allah telah meniadakan segala sesuatu apa pun yang menyerupai dirinya, namun Allah menetapkan nama dan sifat bagi dirinya.

Allah ta’ala berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.

”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuura [42]: 11)

Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ.

Orang-orang Yahudi berkata, "Tangan Allah terbelenggu," Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. (QS. Al Maidah [5]: 64)

قَالَ يَٰإِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَىَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ ٱلْعَالِينَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ . قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ.

Allah berfirman, “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” Iblis berkata, "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Shad [38]: 75-77)

Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa Allah ta’ala memiliki penglihatan dan pendengaran. Aqidah ahlussunnah wal jamaa’ah meyakini apa adanya, tidak menolak, menyelewengkan, menanyakan atau menyerupakan, karena kita mendapatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya mengimani apa adanya.

Orang-orang Jahmiyah mengingkari Allah telah menciptakan Adam dengan tangannya karena mereka menolak sifat-sifat Allah ta’ala.

Termasuk dosa besar apabila seseorang berkata tentang Allah tanpa didasari dengan ilmu.

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ.

"Katakanlah: 'Rabb-ku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia, tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah, dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap (tentang) Allah, apa saja yang tidak kamu ketahui'." (QS. Al A’raaf [7]: 33)

Kaidah yang kedua:

Ketentuan yang berkaitan dengan nama Allah:

Semua nama Allah adalah baik.

Allah ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا.

"Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu..” (QS. Al A’Raf [7]: 180).

Oleh karena itu Ad-Dahru (masa atau waktu dimana manusia hidup di dalamnya) bukan bagian dari nama Allah ta’ala, hanya saja Allah lah yang menghendaki semua yang terjadi dengan masa, oleh karena itu tidak boleh seseorang mencela masa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di dalam hadis Qudsi :

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ.

”Allah ’Azza wa Jalla berfirman, anak Adam menyakitiku. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Bukhari 4826, Muslim 6000).

Apabila seseorang meyakini semata-mata waktu yang berperan menentukan nasib mereka selain Allah, berarti dirinya telah menjadikan sekutu (berbuat syirik) kepada Allah ta’ala.” (Lihat Syarah kitab Tauhid Bab, Man Sabba Ad-Dahra faqad adzallah, Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan).

Nama Allah tidak dibatasi dengan jumlah bilangan tertentu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ.

“(Ya Allah) aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama-Mu, yang Engkau gunakan untuk diri-Mu, atau yang Engkau turunkan di dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan untuk diri-Mu dalam ilmu gaib di sisi-Mu.” (HR. Imam Ahmad 3712, Ibnu Hibban 2372, dishahihkan syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 199).

Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang lain:

إِنَّ للهِ تِسْعَةُ وَ تِسْعِيْنَ اسْمًا مَنْ أحْصَاهَا دَخَلَ الجَنَّة.

“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, barangsiapa menghafalnya akan masuk surga.” (HR. Bukhari 2376, Muslim 2677).

Maknanya bahwa Allah tidak hanya memiliki nama-nama itu saja, akan tetapi bahwa orang yang menghafal sejumlah 99 di antara nama-nama Allah, maka dia akan masuk surga. Kata beliau “Barangsiapa menghafalnya, atau menjaganya” bukan sebagai batasan,  Contohnya seperti perkataan orang yang berkata, “Aku memiliki seratus dirham yang akan ku sedekahkan” perkataan ini bukan berarti orang tersebut hanya memiliki dirham itu saja, bisa jadi dia siapkan untuk sedekah dirham yang lain.” (Lihat Syarah lum’atul I’tiqad, Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin).

Nama Allah tidak boleh ditetapkan dengan akal, harus ditetapkan dengan dalil syar’i.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” (QS. Al Isra’ [17]:36).

Nama Allah menunjukkan kepada dzat Allah, dan juga sifat yang terkandung di dalamnya.

Seperti nama Allah Ar-Rahman, akan sempurna dipahami jika dengan nama itu kita menetapkan dzat Allah, menetapkan sifat rahmat yang terkandung di dalamnya, dan menetapkan pengaruh dari sifat itu bahwa Allah merahmati makhluk-makhluk-NYa.

Kaedah yang ketiga.

Ketentuan yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah.

Semua sifat Allah maha sempurna dan penuh sanjungan.

Oleh karena itu Allah ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ.

“Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An Nahl [16]: 60).

Meskipun Allah membalas orang-orang yang berbuat makar bukan berarti Allah memiliki sifat tercela, akan tetapi sebagai bentuk keadilan Allah kepada sesama hambanya.

Sebagaiman Allah ta’ala berfirman:

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ.

“Dan mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Ali-Imran[3]:54).

وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللهُ وَاللهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ.

“Mereka membuat makar dan Allah membalas makar mereka. Allah adalah sebaik-baik Pembuat makar.” (QS. Al-Anfal [8]: 30)

إِنَّهُمْ يَكِيدُونَ كَيْدًا, وَأَكِيدُ كَيْدًا.

“Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan Akupun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya.” (QS. At Tariq [86]: 15-16)

Sifat Allah terbagi menjadi dua:

Yaitu Sifat Tsubutiyah dan Salbiyah.

Sifat Tsubutiyah adalah sifat yang ditetapkan untuk diri-Nya, sepeti Al Hayat, Al Ilmu, Al Qudrah, dan ini wajib di tetapkan sesuai dengan keagungan Allah.

Adapun sifat Salbiyah, adalah sifat yang dinafikan (ditiadakan) dari diri Allah seperti sifat zhalim, mengantuk, lelah, tidur ataupun lupa.

Oleh karena itu Allah ta’ala berfirman:

وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا.

“Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun juga.” (QS. Al Kahfi [18]:49).

Sifat Tsubutiyah terbagi menjadi dua:

Sifat dzatiah dan fi’liyah.

Tsubutiah dzatiah, adalah sifat yang senantiasa terus ada pada Allah subhanahu wa ta’ala, seperti As-Sama’, Al-Bashar, Al-Qudrah.

Tsubutiah fi’liyah, adalah sifat yang terkait dengan kehendaknya, seperti berbicara, berbuat, datang, turun dan lain-lain kapanpun sesuai kehendak Allah ta’ala.

Adakalanya sifat Allah termasuk sifat dzatiah dan juga sifat fi’liyah, seperti sifat Al Kalam. (Lihat Syarah Lum’atul I’tiqad, Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin).

Dari sini kita mengetahui bahwa nama Allah sudah mengandung sifat di dalamnya. Tanpa harus menolak, menyelewengkan, menanyakan ataupun menyerupakan. (Lihat Syarah Lum’atul I’tiqad, Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin).

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

 

-----000-----

 

Sragen-19-08-2026

Abu Ibrahim Junaedi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MUJMAL USUL, BAB 2 NO 1, NAMA DAN SIFAT ALLAH

  ثَانِيًا :   التَّوْحِيدُ الْعِلْمِيُّ الِاعْتِقَادِيُّ   Kedua: Tauhid Ilmiah I‘tiqadi (Keyakinan/Akidah)   ١ - الْأَصْل...