ثَانِيًا :
التَّوْحِيدُ الْعِلْمِيُّ الِاعْتِقَادِيُّ
Kedua:
Tauhid Ilmiah I‘tiqadi (Keyakinan/Akidah)
١ -الْأَصْلُ فِي
أَسْمَاءِ اللَّهِ وَصِفَاتِهِ: إِثْبَاتُ مَا أَثْبَتَهُ اللَّهُ لِنَفْسِهِ أَوْ
أَثْبَتَهُ لَهُ رَسُولُهُ ﷺ مِنْ غَيْرِ تَمْثِيلٍ وَلَا تَكْيِيفٍ وَنَفْيُ
مَا نَفَاهُ اللَّهُ عَنْ نَفْسِهِ أَوْ نَفَاهُ عَنْهُ رَسُولُهُ ﷺ مِنْ غَيْرِ تَحْرِيفٍ
وَلَا تَعْطِيلٍ كَمَا قَالَ تَعَالَىٰ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ
الْبَصِيرُ﴾ مَعَ الْإِيمَانِ بِمَعَانِي أَلْفَاظِ النُّصُوصِ وَمَا دَلَّتْ عَلَيْهِ.
1.Pokok dasar dalam nama-nama dan
sifat-sifat Allah adalah:
Menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi
diri-Nya, atau yang ditetapkan oleh Rasul-Nya untuk-Nya, tanpa menyerupakan(tamtsil)
dan tanpa menanyakan bagaimana hakikatnya (takyif), serta meniadakan apa yang
Allah tiadakan dari diri-Nya, atau yang ditiadakan oleh Rasul-Nya dari-Nya,
tanpa merubah makna(tahrif) dan tanpa menolak(ta‘thil),
sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ
الْبَصِيرُ.
”Tidak ada
sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Melihat.” (QS. Asy Syuura [42]: 11).
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan
Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura [42]:11).
Dengan tetap beriman kepada makna
lafadz-lafadz nash nash dan apa yang ditunjukkannya.
Penjelasan:
Hendaknya kita mengetahui penjelasan nama dan
sifat Allah ta’ala, hal ini akan menjadikan seseorang longgar hatinya, tidak
putusasa, bersemangat dalam beribadah, dan menguatkan iman seseorang.
Adapun kaedah dalam memahami nama dan sifat
Allah sebagai berikut:
Kaidah yang pertama:
Di dalam memahami nama dan sifat Allah
hendaknya di perlakukan sebagaimana apa adanya, tanpa di-ta’thil (ditolak),
tahrif (diselewengkan), takyif (ditanyakan), tamtsil (diserupakan), karena
Allah telah meniadakan segala sesuatu apa pun yang menyerupai dirinya, namun
Allah menetapkan nama dan sifat bagi dirinya.
Allah ta’ala berfirman:
لَيْسَ
كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.
”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan
Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuura [42]:
11)
Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:
وَقَالَتِ
الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا
قَالُوا بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ.
Orang-orang Yahudi berkata, "Tangan
Allah terbelenggu," Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan
merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak
demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana
Dia kehendaki. (QS. Al Maidah [5]: 64)
قَالَ
يَٰإِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَىَّ أَسْتَكْبَرْتَ
أَمْ كُنتَ مِنَ ٱلْعَالِينَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي
مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ .
قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ.
Allah berfirman, “Hai iblis, apakah yang
menghalangi kamu sujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku.
Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang
(lebih) tinggi?” Iblis berkata, "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau
ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Shad
[38]: 75-77)
Ayat-ayat
di atas menunjukkan bahwa Allah ta’ala memiliki penglihatan dan pendengaran.
Aqidah ahlussunnah wal jamaa’ah meyakini apa adanya, tidak menolak,
menyelewengkan, menanyakan atau menyerupakan, karena kita mendapatkan bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya mengimani apa
adanya.
Orang-orang
Jahmiyah mengingkari Allah telah menciptakan Adam dengan tangannya karena
mereka menolak sifat-sifat Allah ta’ala.
Termasuk dosa besar apabila seseorang
berkata tentang Allah tanpa didasari dengan ilmu.
Allah ta’ala berfirman:
قُلْ
إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإثْمَ
وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ
بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ.
"Katakanlah:
'Rabb-ku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang
tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia, tanpa alasan yang
benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah, dengan sesuatu yang Allah tidak
menurunkan hujjah untuk itu, dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap
(tentang) Allah, apa saja yang tidak kamu ketahui'." (QS. Al A’raaf [7]:
33)
Kaidah
yang kedua:
Ketentuan
yang berkaitan dengan nama Allah:
Semua
nama Allah adalah baik.
Allah
ta’ala berfirman:
وَلِلَّهِ
الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا.
"Hanya milik Allah asmaul husna, maka
bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu..” (QS. Al A’Raf [7]:
180).
Oleh karena itu Ad-Dahru (masa atau waktu
dimana manusia hidup di dalamnya) bukan bagian dari nama Allah ta’ala, hanya
saja Allah lah yang menghendaki semua yang terjadi dengan masa, oleh karena itu
tidak boleh seseorang mencela masa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda di dalam hadis Qudsi :
قَالَ
اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا
الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ.
”Allah ’Azza wa Jalla berfirman, anak Adam
menyakitiku. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah
yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Bukhari 4826, Muslim 6000).
Apabila seseorang meyakini semata-mata
waktu yang berperan menentukan nasib mereka selain Allah, berarti dirinya telah
menjadikan sekutu (berbuat syirik) kepada Allah ta’ala.” (Lihat Syarah kitab Tauhid Bab, Man Sabba
Ad-Dahra faqad adzallah, Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan).
Nama Allah tidak dibatasi dengan jumlah
bilangan tertentu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
أَسْأَلُكَ
بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي
كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي
عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ.
“(Ya Allah) aku memohon kepada-Mu dengan
setiap nama-Mu, yang Engkau gunakan untuk diri-Mu, atau yang Engkau turunkan di
dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu,
atau yang Engkau rahasiakan untuk diri-Mu dalam ilmu gaib di sisi-Mu.” (HR.
Imam Ahmad 3712, Ibnu Hibban 2372, dishahihkan syaikh al-Albani di dalam
ash-Shahihah 199).
Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda dalam hadits yang lain:
إِنَّ
للهِ تِسْعَةُ وَ تِسْعِيْنَ اسْمًا مَنْ أحْصَاهَا دَخَلَ الجَنَّة.
“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama,
barangsiapa menghafalnya akan masuk surga.” (HR. Bukhari 2376, Muslim 2677).
Maknanya bahwa Allah tidak hanya memiliki
nama-nama itu saja, akan tetapi bahwa orang yang menghafal sejumlah 99 di
antara nama-nama Allah, maka dia akan masuk surga. Kata beliau “Barangsiapa
menghafalnya, atau menjaganya” bukan sebagai batasan, Contohnya seperti perkataan orang yang
berkata, “Aku memiliki seratus dirham yang akan ku sedekahkan” perkataan ini
bukan berarti orang tersebut hanya memiliki dirham itu saja, bisa jadi dia
siapkan untuk sedekah dirham yang lain.” (Lihat Syarah lum’atul I’tiqad, Syaikh
Muhammad Shalih Al Utsaimin).
Nama Allah tidak boleh ditetapkan dengan
akal, harus ditetapkan dengan dalil syar’i.
Allah ta’ala berfirman:
وَلَا تَقْفُ
مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ
وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا.
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu
tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan
dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” (QS. Al Isra’
[17]:36).
Nama Allah menunjukkan kepada dzat Allah,
dan juga sifat yang terkandung di dalamnya.
Seperti nama Allah Ar-Rahman, akan sempurna
dipahami jika dengan nama itu kita menetapkan dzat Allah, menetapkan sifat
rahmat yang terkandung di dalamnya, dan menetapkan pengaruh dari sifat itu
bahwa Allah merahmati makhluk-makhluk-NYa.
Kaedah
yang ketiga.
Ketentuan yang berkaitan dengan sifat-sifat
Allah.
Semua sifat Allah maha sempurna dan penuh
sanjungan.
Oleh karena itu Allah ta’ala berfirman:
وَلِلَّهِ
الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ.
“Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi;
dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An Nahl [16]: 60).
Meskipun Allah membalas orang-orang yang
berbuat makar bukan berarti Allah memiliki sifat tercela, akan tetapi sebagai
bentuk keadilan Allah kepada sesama hambanya.
Sebagaiman Allah ta’ala berfirman:
وَمَكَرُوا
وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ.
“Dan mereka (orang-orang kafir) membuat
tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas
tipu daya.” (QS. Ali-Imran[3]:54).
وَيَمْكُرُونَ
وَيَمْكُرُ اللهُ وَاللهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ.
“Mereka membuat makar dan Allah membalas
makar mereka. Allah adalah sebaik-baik Pembuat makar.” (QS. Al-Anfal [8]: 30)
إِنَّهُمْ
يَكِيدُونَ كَيْدًا, وَأَكِيدُ كَيْدًا.
“Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan
tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan Akupun membuat rencana (pula)
dengan sebenar-benarnya.” (QS. At Tariq [86]: 15-16)
Sifat
Allah terbagi menjadi dua:
Yaitu
Sifat Tsubutiyah dan Salbiyah.
Sifat Tsubutiyah adalah sifat yang
ditetapkan untuk diri-Nya, sepeti Al Hayat, Al Ilmu, Al Qudrah, dan ini wajib
di tetapkan sesuai dengan keagungan Allah.
Adapun sifat Salbiyah, adalah sifat yang
dinafikan (ditiadakan) dari diri Allah seperti sifat zhalim, mengantuk, lelah,
tidur ataupun lupa.
Oleh karena itu Allah ta’ala berfirman:
وَلَا
يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا.
“Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun
juga.” (QS. Al Kahfi [18]:49).
Sifat Tsubutiyah terbagi menjadi dua:
Sifat dzatiah dan fi’liyah.
Tsubutiah dzatiah, adalah sifat yang
senantiasa terus ada pada Allah subhanahu wa ta’ala, seperti As-Sama’,
Al-Bashar, Al-Qudrah.
Tsubutiah fi’liyah, adalah sifat yang
terkait dengan kehendaknya, seperti berbicara, berbuat, datang, turun dan
lain-lain kapanpun sesuai kehendak Allah ta’ala.
Adakalanya sifat Allah termasuk sifat
dzatiah dan juga sifat fi’liyah, seperti sifat Al Kalam. (Lihat Syarah Lum’atul
I’tiqad, Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin).
Dari sini kita mengetahui bahwa nama Allah
sudah mengandung sifat di dalamnya. Tanpa harus menolak, menyelewengkan,
menanyakan ataupun menyerupakan. (Lihat Syarah Lum’atul I’tiqad, Syaikh
Muhammad Shalih Al Utsaimin).
Demikianlah semoga bermanfaat.
-----000-----
Sragen-19-08-2026
Abu Ibrahim Junaedi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar