Selasa, 19 Desember 2023

KRITERIA PEMIMPIN YANG BAIK.

 

Dari jaman kejaman manusia adalah makhluk sosial, mereka saling bahu-membahu dan tolong-menolong, tidak terkecuali mereka juga membutuhkan kepemimpinan di dalam menggerakkan peradaban mereka dan mengatur urusan-urusan baik internal (di dalam) maupun external(di luar).

Semua itu telah diatur di dalam agama ini, diantara kriteria pemimpin yang baik yaitu:

1.   Pemimpin wajib dari orang yang beriman.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ.

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain dari orang-orang mukmin." (QS An Nisa [4]:144).

Tidak boleh pemimpin dari orang kafir, atau berloyal kepada orang kafir.

Allah ta’ala berfirman: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Maidah[5]:51).

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً.

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.” (QS. Ali Imran [3]:28).

2.   Pemimpin wajib laki-laki.

Hendaknya pemimpin dari kalangan laki-laki.

Allah ta’ala berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita). (QS. An-Nisa’[4]:34).

Abu Bakrah berkata:

لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ، قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى، قَالَ: لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً .

“Tatkala ada berita sampai kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bahwa bangsa Persia mengangkat putri Kisro (gelar raja Persia dahulu) menjadi raja, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam lantas bersabda, ” Suatu kaum itu tidak akan bahagia apabila mereka menyerahkan kepemimpinan mereka kepada wanita”. ” (HR. Bukhari 4425)

Dari hadits ini, para ulama bersepakat bahwa syarat al imam al a’zhom (kepala negara atau presiden) haruslah laki-laki. (Lihat Adhwa’ul Bayan, 3/34, Asy Syamilah)

Al Baghawiy mengatakan dalam Syarhus Sunnah (10/77) pada Bab ”Terlarangnya Wanita Sebagai Pemimpin”:

Para ulama sepakat bahwa wanita tidak boleh jadi pemimpin dan juga hakim. Alasannya, karena pemimpin harus memimpin jihad. Begitu juga seorang pemimpin negara haruslah menyelesaikan urusan kaum muslimin.

3.   Seorang calon pemimpin hendaknya tidak haus kekuasaan.

Orang yang menghendaki kekuasaan akan menjadikan urusanya berat.

Dari Abdurrahman bin Samurah dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda kepadaku:

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ لَا تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُوتِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta jabatan! Karena sesungguhnya jika diberikan jabatan itu kepadamu dengan sebab permintaan, pasti jabatan itu (sepenuhnya) akan diserahkan kepadamu (tanpa pertolongan dari Allâh). Dan jika jabatan itu diberikan kepadamu bukan dengan permintaan, pasti kamu akan ditolong (oleh Allâh Azza wa Jalla) dalam melaksanakan jabatan itu.”  (HR. Bukhari 6622, 7146, Muslim 1652, Abu Dawud 2929).

Begitu pula pemimpin tidak memberikan jabatan kepada orang-orang yang memintanya.

Dari Abu Musa Radhiyallahu anhu dia berkata, “Saya masuk menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama dengan dua orang dari kaumku, lalu salah seorang dari kedua orang itu berkata:

أَمِّرْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَقَالَ الآخَرُ مِثْلَهُ، فَقَالَ: إِنَّا لاَ نُوَلِّي هَذَا مَنْ سَأَلَهُ، وَلاَ مَنْ حَرَصَ عَلَيْه.

“Jadikanlah kami sebagai amir (pejabat) wahai Rasulullah!” Kemudian yang seorang lagi juga meminta hal yang sama. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kami tidak akan mengangkat sebagai pejabat orang yang memintanya dan tidak juga orang yang tamak terhadap jabatan itu” (HR. Bukhari 7149).

Ibnu Hajar berkata, “Siapa yang mencari kekuasaan dengan begitu tamaknya, maka ia tidak ditolong oleh Allah.” (Fathul Bari, 13: 124)

Ibnu At Tiin mengatakan, “Larangan meminta kekuasaan ini berlaku secara umum. Namun ada kasus tertentu seperti pada kisah Nabi Yusuf yang beliau meminta kekuasaan sebagaimana disebut dalam ayat:

اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ

Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir).(QS. Yusuf[12]: 55).

Begitu pula terdapat pada Nabi Sulaiman,

وَهَبْ لِي مُلْكًا

Dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan. (QS. Shad[38]: 35).

Ibnu At Tiin berkata bahwa larangan meminta kekuasaan seperti itu berlaku untuk selain Nabi.

 

Dahulu sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang meributkan siapa yang akan memimpin setelah Rasulullah, maka Abu Bakar memilih Umar, namun Umar tidak bersedia dan memilih Abu Bakar sebagai khalifah, orang-orangpun berjanji setia kepada Abu Bakar Ash-Shidiq.

Begitupula dahulu khalifah Umar bin Abdul Aziz mengundang walinya di Irak yang bernama Adi bin Arthah yang ketika itu berada di Damaskus. Beliau berkata "Wahai Adi, pergilah kepada Iyas bin Mu'awiyah Al-Muzanni dan Qasim bin Rabi'ah Al-Haritsi. Ajaklah keduanya membicarakan perihal pengadilan di Bashrah, lalu pilihlah salah satu dari keduanya." dia menjawab: "Saya mendengar dan saya taat wahai Amirul Mukminin.

Adi bin Arthah mempertemukan antara lyas dan Al-Qasim lahu berkata: "Amirul Mukminin semoga Allah memanjangkan umurnya memintaku untuk mengangkat salah satu dari kalian sebagai kepal porngadilan Bashrah. Bagaimana pendapat kalian berdua?”

Masing-masing mengatakan bahwa rekannyalah yang lebih utama (Iyas menganggap Al-Qasim lebih utama sedangkan Al-Qasim memandang bahwa Iyas lebih utama darinya) sambil menyebutkan keutamaan, ilmu dan kefakihannya.

Adi berkata: "Kalian tidak boleh keluar dari sini sebelum kalian memutuskannya."

Iyas berkata: "Wahai Amir, Anda bisa menanyakan tentang diriku dan Al-Qasim kepada dua fuqaha Irak ternama, yaitu Hasan Al-Basri dan Muhammad bin Sirin, karena keduanyalah yang paling mampu membedakan antara kami berdua."

Iyas mengatakan seperti itu karena Al-Qasim adalah murid dari kedua ulama tersebut, sedangkan Iyas sendiri tidak punya hubungan apapun dengan mereka. Al-Qasim menyadari bahwa Iyas akan memojokkannya, sebab kalau pemimpin Irak itu bermusyawarah dengan kedua ulama itu, tentulah mereka akan memilih dia dan bukan Iyas. Maka dia segera menoleh kepada Adi dan berkata: "Wahai Amir, janganlah Anda menanyakan perihalku kepada siapapun. Demi Allah yang tiada ilah selain Dia, Iyas lebih mengerti tentang agama Allah daripada aku dan lebih mampu untuk menjadi hakim. Bila aku bohong dalam sumpahku ini, maka tidak patut Anda memilihku karena itu berarti memberikan jabatan kepada orang yang ada cacatnya. Bila aku jujur, Anda tidak boleh mengutamakan orang yang lebih rendah, sedangkan di sini ada yang lebih utama."

Iyas berpaling kepada amir dan berkata: "Wahai Amir, Anda me- manggil orang untuk dijadikan hakim. Ibaratnya Anda letakkan ia di tepi jahannam, lalu orang itu (maksudnya Al-Qasim) hendak menyelamatkan dirinya dengan sumpah palsu, yang dia bisa meminta ampun Kepada Allah dengan beristighfar kepada-Nya, dan selamatlah ia dari apa yang ditakutinya."

Maka Adi berkata kepada Iyas: "Orang yang berpandangan seperti dirimu inilah yang layak untuk menjadi hakim." lalu diangkatlah Iyas sebagai qadhi di Bashrah. (Mereka Adalah Para Tabi’in, DR. Abdurrahman Ra’fat Basya).

Demikianlah orang-orang terdahulu mereka menolak untuk ditunjuk sebagai hakim atau Pejabat. Sungguh menyedihkan kondisi jaman kita sekarang bagaimana seseorang ingin mendapatkan jabatan mereka rela mengeluarkan harta untuk membeli dan menyuap agar mendapatkan jabatan tersebut.

4.   Pemimpin harus adil.

Keadilan pemimpin akan menjadikan ketenangan, ketentraman dan kedamaian, sebaliknya jika pemimpin tidak bisa adil akan terjadi banyak keresahan, kekacauan dan ketidak puasan pada masyarakat, hukum akan tumpang tindih, tajam ke bawah dan tumpul keatas, tidak ada lagi ketenangan.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, membuatmu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah[5]:8).

Pemimpin harus menegakkan keadilan yang dimulai dari diri sendiri dan keluarganya.

Seorang wanita bangsawan Quraisy telah mencuri, kemudia mereka meminta agar Usamah memintakan keringanan kepada Rasulullah agar tidak memotong tangannya:

فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللهِ؟ ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ، فَقَالَ: أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ، وَايْمُ اللهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا.

Usamah pun berkata (melobi) rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (untuk meringankan atau membebaskan si wanita tersebut dari hukuman potong tangan). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda, ‘Apakah Engkau memberi syafa’at (pertolongan) berkaitan dengan hukum Allah?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdiri dan berkhutbah, ‘Wahai manusia, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang mulia (memiliki kedudukan) di antara mereka yang mencuri, maka mereka biarkan (tidak dihukum), namun jika yang mencuri adalah orang yang lemah (rakyat biasa), maka mereka menegakkan hukum atas orang tersebut. Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya’” (HR. Bukhari 6788, Muslim 1688).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَرِبَا الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعٌ وَأَوَّلُ رِبًا أَضَعُهُ رِبَانَا رِبَا عَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَإِنَّهُ مَوْضُوعٌ كُلُّهُ.

”Riba jahiliyyah telah dihapus. Dan riba yang pertama kali aku hapus adalah riba ‘Abbas bin Abdul Muthallib, Maka riba jahiliyyah dihapus seluruhnya.”  (HR. Abu Dawud 1907, Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani).


Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah berkata, ”Demikianlah hukum. Demikianlah penguasa. Mereka pertama kali menerapkan aturan pada kerabatnya sendiri. Berbeda dengan penguasa pada hari ini, ketika kerabat para penguasa tersebut memiliki kekebalan hukum sehingga dapat berbuat semaunya sendiri.  Akan tetapi, pada masa rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam riba yang dihapuskan pertama kali adalah riba ‘Abbas bin Abdul Muthallib (paman beliau sendiri). Maka riba ‘Abbas dihapus seluruhnya” (Syarh Riyadhus Shalihin, 1/1907, Maktabah Asy-Syamilah).

Dari sini bisa diambil pelajaran seorang pemimpin harus memberi keteladanan di dalam keadilan.

5.   Pemimpin harus berilmu dan kuat.

Ilmu yang utama adalah ilmu agama dan juga dunia, sebagaimana dahulu ada nabi yang di minta umatnya agar memberinya seorang pemimpin Raja, kemudian Nabi tersebut memberitahu bahwasanya Allah telah memilih Talut karena ilmu dan badanya yang kuat.

Allah ta’ala berfirman:

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا قَالُوا أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ.

Dan nabi mereka berkata kepada mereka, "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu." Mereka menjawab, "Bagaimana Thalut memperoleh kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?" (Nabi) menjawab, "Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik." Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui. (QS. Al Baqarah [2]:247).

Ibnu Katsir berkata: “Talut lebih sempurna ilmunya dan lebih kuat tubuhnya daripada kalian. Dari ayat ini dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang raja atau pemimpin hendaknya memiliki ilmu, bentuk, cakap, kuat, serta perkasa tubuh dan jiwanya.” (Tafsir ibnu Katsir QS. Al-Baqarah[2]:247).

Lihatlah pemimpin yang lahir dari kalangan Nabi dan Rasul, Nabi Musa alaihi wa sallam,, Yusa bin Nun seorang panglima yang pembrani, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika perang Hunain, Khalid bin Walid dan lain-lain, Usamah dan lain-lain.

6.   Pemimpin harus amanah (terpercaya).

Hendaknya pemimpin harus amanah, jika pemimpin tidak bisa amanah pasti akan khianat dan tidak memikirkan rakyat, membiarkan rakyatnya menderita, akan sibuk memperkaya diri sendiri, keluarganya serta golongannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً، فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ، إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ.

        “Tiada seorang hamba yang diberi amanah rakyat oleh Allah lalu ia tidak memeliharanya dengan baik, melainkan hamba itu tidak akan mencium baunya surga.” ( HR. Bukhari 7150).

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam juga bersabda:

فَإِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ، قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا؟ قَالَ: إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

"Apabila sifat Amanah sudah hilang, maka tunggulah terjadinya kiamat". Orang itu bertanya, "Bagaimana hilangnya amanah itu?" Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah terjadinya kiamat". (HR. Bukhari 59).

Sebuah kisah, Abdullah bin Umar juga bercerita. Suatu malam, Abdullah selaku anak datang mengetok rumah Umar. Ia ingin berbicara dengan ayahnya yang merupakan seorang pemimpin kaum muslimin. Mendengar ketokan pintu, Umar pun bertanya, “Siapa di luar,” tanya.

Abdullah pun menjawab. “Saya Abdullah bin Umar, anak mu,” katanya. Kemudian  Umar melanjutkan, “Ada keperluan apa, wahai Abdullah,”. “Aku ingin berbicara dengan mu ayah,” jawab Abdullah.

Umar pun mempersilahkan anaknya masuk  rumah. “Kamu ingin berbicara untuk kepentingan pribadi atau masalah negara atau masalah kaum muslimin,” tanya Umar. “Saya ingin mebicarakan masalah pribadi, ayah,” tutur Abdullah.

Mendengar itu, Umar meniup mematikan lampu yang ada di rumahnya. Abdullah heran, akan sikap Umar. “Kenapa kamu matikan wahai amirul mukminin,” tanya Abdulla heran. Umar pun menjelaskan, “Lampu ini merupakan fasilitas negara yang diberikan pada ku, bagaimana mungkin aku mempergunakannya untuk membicarakan kepentingan pribadi keluarga ku, “ tutur Umar. Jadilah keduanya berbicara dalam gelap malam. (Tarikh Khulafa, Imam Jalaludin as-Suyuti).

7.   Pemimpin harus memiliki jiwa lembut dan tegas.

Pemimpin mestilah tegas ! Ketegasan  adalah sesuatu keputusan yang harus diambil secara cepat dan jelas dalam situasi yang tidak mengambang dan berlarut-larut. Sebab, tugas yang paling berarti bagi seorang pemimpin adalah mengambil keputusan yang baik, tepat dan normative, hal ini akan segera mengembalikan keadaan segera stabil.

Ketika orang-orang dipinggir Jazirah Arab mulai murtad setelah Rasulullah meninggal maka Abu Bakar mengirim pasukan untu memerangi mereka, kemudian Umar berkata: “ Apakah engkau akan memerangi orang-orang yang mengucapkan La ila ha illallah,” Kemudian Abu Bakar  berkata, “ Demi Allah aku akan memerangi orang yang dulu pernah menyerahkan sesuatu kepada Rasulullah meskipun seutas tali namun sekarang mereka menahannya.” Kemudian Abu Bakar membawakan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الإِسْلاَمِ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ.

"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan salat, dan menunaikan zakat. Apabila mereka melakukan hal itu, maka mereka terjaga dariku darahnya dan hartanya kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka kembali pada Allah -Ta'ala.” (HR. Bukhari 25, Muslim 22).

Kemudian Umar mengakui kebenaran apa yang dilakukan Abu Bakar.

8.   Pemimpin hendaknya bersikap sederhana.

Seorang pemimpin hendaknya memiliki sifat sederhana, kesederhanaan ini akan menjaga perasaan rakyatnya sehingga akan menumbuhkan rasa saling mencintai antara pemimpin dan rakyatnya.

Pemimpin yang dicintai dan mencintai rakyatnya. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خِيارُ أئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ ويُحِبُّونَكُمْ، ويُصَلُّونَ علَيْكُم وتُصَلُّونَ عليهم، وشِرارُ أئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ ويُبْغِضُونَكُمْ، وتَلْعَنُونَهُمْ ويَلْعَنُونَكُمْ.

"Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian cintai dan mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian benci dan membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian." (HR. Muslim 1855).

Pemimpin yang royal dan boros akan menjadi percontohan yang sangat buruk, menjadikan banyak perkara-perkara yang nantinya akan disia-siakan (mubadir).

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا . إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا.

“Janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros." "Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS. Al-Isra’[17]:26-27).

Dalam hal kesederhanaan bisa mengaca bagaimana sahabat Umar Ibnul Katab.

Anas berkata, “Antara dua bahu dari baju Umar radiyallahu ‘anhu terdapat empat tambalan, dan kainnya ditambal dengan kulit. Pernah ia khutbah di atas mimbar mengenakan kain yang memiliki 12 tambalan. (Sebagaimana yang dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dari jalan-jalan yang sahih bersumber dari riwayat Anas. (Ath- Thabaqat al- Kubra, 3/328).

Pemimpin yang sederhana akan menjauhkan tuduhan-tuduhan miring kepada dirinya, akan tampak benar-benar mensejahterakan rakyatnya bukan menyengsarakan.

Sebagaimana Umar bin Khatab berkeliling dan membantu orang yang lemah, mengangkat makanan dan memberikannya kepada janda wanita dan anak-anaknya.

Dari sini dibutuhkan agar seorang pemimpin memiliki pemikiran untuk berdaulat dari segi sandang, pangan, papan, dan juga alat-alat untuk kekuatan.

Pemimpin akan membuat trobosan-trobosan yang dibutuhkan rakyatnya, menutup apa yang dapat melemahkan ekonomi rakyatnya, bagaimana produk dinegrinya bisa menjalar sampai keluar negri, bukan sebaliknya mematikan dan memasukkan produk luar negri, tatkala terjadi peperngan pastia akan ambruk ekonomi negrinya tersebut karena semua bergantung kepada negri tetangga.

9.   Seorang pemimpin hendaknya mau meminta nasehat atau kritikan.

Seorang pemimpin akan merasa bersyukur dengan orang yang mengingatkan tentang kekurangannya, karena nasehat merupakan bagian dalam ajaran agama ini.

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ.

“Agama itu adalah nasihat”. Kami pun bertanya, “Nasehat untuk siapa?”. Beliau menjawab, “Nasihat untu Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim 55,  Abu Dawud 4944).

Amirul Mukminin Umar Ibnul Khatab radiallahu ‘anhu pernah berkata, “ Semoga Allah merahmati seseorang yang menunjukkan kesalahan kami.”

Suatu kali dia pernah bertanya kepada Salman tentang aib yang pernah dilakukannya. Maka salman menjawab, “ Aku mendengar engkau mengumpulkan dua sayur di meja makanmu dan engkau mengenakan dua pakaian satu untuk siang hari dan satu untuk malam hari.”

Umar berkata, “ Apakah ada selain itu.”

Salman menjawab, “Tidak.”

“ Kalau dua hal itu aku sudah tidak melakukannya lagi.” Jawab Umar ibnul Khatab.

Demikian pula beliau pernah bertanya prihal dirinya kepada sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman yang dijuluki sahabat yang mengetahui perkara orang munafiq.

Penjelasan Ibnul Qudamah, “ Orang salaf (terdahulu) sangat suka jika ada orang yang menunjukkan aib mereka. Sementara kita pada jaman sekarang justru marah besar jika ada yang menunjukkan aib kita.

Ini menunjukkan lemahnya iman. Akhlak buruk itu seperti kalajengking, jika ada seseorang yang memperingatkan dalam bajunya ada kalajengking, maka secepat itu pula kita akan bertindak untuk membunuh kalajengking tersebut. Sementara akhlak yang hina lebih berbahaya dari kalajengking bagi orang yang tidak menyadarinya.

(Minhajul Qashidin, “Tanda-Tanda Sakit Hati…” oleh Ibnu Qudamah)

 

10.                     Pemimpin hendaknya memiliki akhlak yang mulia.

Akhlaq yang mulia akan menjadi percontohan kepada rakyatnya, dia akan menjadi sorotan setiap perkataannya.

Allah memuji ahklaq Rasul-Nya karena memiliki akhlaq yang mulia.

Allah ta’ala berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam [68]: 4)

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ.

“Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl[16]:128).

Seorang pemimpin yang suka berbohong akan menjadikan hilangnya kepercayaan rakyatnya.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ.

Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta. (QS. An-Nahl [16]:105).

Pemimpin hendaknya mengusahakan kedaulatan bagi rakyatnya.

Pemimpin hendaknya berusaha untuk kedaulatan negrinya, baik sandang, pangan, papan, dan juga kekuatan.

Allah ta’ala berfirman:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ.

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-ANfal [8]:60).

Pemimpin akan membuat trobosan-trobosan yang dibutuhkan rakyatnya, menutup apa yang dapat melemahkan ekonomi rakyatnya, bagaimana produk dinegrinya bisa menjalar sampai keluar negri, bukan sebaliknya mematikan dan memasukkan produk luar negri.

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

Sragen 20-12-2023

Junaedi Abdullah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 14 Desember 2023

ADAB SEORANG MUSLIM DALAM BEKERJA.

 


                                             BAB 6


ADAB SEORANG MUSLIM DALAM BEKERJA.

 

Seorang muslim memiliki prinsib dan punya adab yang telah diatur di dalam agamanya, tidak boleh mencari rezki dengan memabi buta tanpa memperhatikan rambu-rambu syari’at islam.

Sesungguhnya Allah ta’ala memerintahkan kepada kita agar memperhatikan di dalam mencari rezki. Diantaranya:

Dalil 1: Perintah memakan yang halal.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ.

“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah[2]:168).

Dalil 2: Perintah memakan yang baik-baik dan bersyukur.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang telah kami rezkikan kepadamu dan bersukurlah kepada Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya saja.”(QS. Al-Baqarah[2]:172)

Dalil 3: Semua rezki telah Allah sediakan.

Allah ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ.

“Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” QS. Al-Baqarah[2]:29).

Dalil 4: Allah menanggung semua rezki makhluk.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرض إِلا عَلَى الله رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ.

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz).” (QS. Hud[11]: 6).

Dalil 5: Allah telah mencatat rezki kita.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ.

 “..Kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan empat kata, rezkinya, ajalnya, celaka atau bahagia…” (HR. Bukhari 3208 Muslim 2643).

Dalil 6: Kewajiban kita berusaha.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ ، تَغدُوْ خِمَاصًا ، وتَرُوْحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sungguh-sungguh tawakkal kepada-Nya, niscaya kalian akan diberikan rizki oleh Allah sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung. Pagi hari burung tersebut keluar dalam keadaan lapar dan di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR Tirmidzi 2344, Ibnu Majah 4164, lihat Silsilah Al Hadist As Sahihah 310).

Dalil 7: Taqwa akan memudahkan rezki kita.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ.

“ Barang siapa bertaqwa kepada Allah, Allah akan memberinya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangka. (QS. At-Thalaq[65]:2-3).

Dalil 8: Rezki akan mendatangi kita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ هَرَبَ مِنْ رِزْقِهِ كَمَا يَهْرُبُ مِنَ الْمَوْتِ لَأَدْرَكَهُ رِزْقُهُ كَمَا يُدْرِكُهُ الْمَوْتُ

Seandainya anak Adam lari dari rezekinya sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan mendatanginya sebagaimana kematian mendatanginya. (HR. Abu Na’im di dalam Hilyah Auliya 7/90 , dishahihkan Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah: 952).

Dalil 9: Allah akan mencukupi orang yang bertawakal.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ.

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, Allah akan mencukupi.” (QS. At-Thalaq [65]:3).

Dalil 10: Adakalanya Allah menguji orang yang beriman.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ.

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. AL-Baqarah[2]:155).

Dalil 11: Kita tidak akan mati kecuali rezki kita telah di sempurnakan.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَأَنَّ الرُّوحَ الْأَمِينَ نَفَثَ فِي رُوعِيَ أَنَّهُ لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا, فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ, وَلَا يَحْمِلَنَّكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ تَطْلُبُوهُ بِمَعَاصِي اللهِ, فَإِنَّهُ لَا يُدْرَكُ مَا عِنْدَ اللهِ إِلَّا بِطَاعَتِهِ.

“Dan sungguh Ar-Ruhul Amin (Malaikat Jibril yang terpercaya) telah menyampaikan kepadaku bahwa tidak akan mati satu jiwa sampai ia menyempurnakan rezekinya, maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari rezki, dan sekali-kali janganlah lambatnya rezeki menjadikan kalian mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah, karena sesungguhnya tidak akan diraih apa yang ada di sisi Allah kecuali dengan menaati-Nya.” (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8/166, Lihat Silsilah Al Hadits As-Sahihah 2866).

 

Dalil 12: Banyak dan sedikitnya harta bukan ukuran kecintaan Allah.

Allah ta’ala berfirman:

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ . وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ.

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku” dan adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku.“ (QS. Al-Fajr [89]:15-16).

 

Dalil 13: Bahaya istidraj (ditarik kedalam kebinasaan tanpa di sadari).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ.

”Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan dilihat dari jalur lain).

 

Dalil 14: Larangan meminta-minta.

 

Rasulullah sallallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى.

“Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.” (HR.Bukhari 1427 Muslim 1033).

Dalil 15: Larangan tidak memperhatikan halal dan haram.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ .

"Akan datang pada manusia suatu  zaman, di mana seseorang tidak lagi memperdulikan dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram." (HR. Bukhari 2083).

 

Dalil 16: Manusia akan ditanya tentang hartanya.

 

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَزُولُ قَدِمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ: عَنْ عُمُرُهِ فِيمَا أَفْنَاهُ؟ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ؟ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ؟ وَعَنْ عَلِمهِ مَاذَا عَمِلَ فِيهِ؟

“Tidak akan bergeser tapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat, sampai ia ditanya tentang empat perkara. (Yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang jasadnya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya darimana ia mendapatkannya dan kemanakah ia meletakkannya, dan tentang ilmunya, apakah yang telah ia amalkan“. (HR. Tirmidzi 2417 Ahmad 1/97 Ibnu Abi Syaibah 3/234 dan di shahihkan syaikh al-Albani).

 

Dalil 17: Bahaya memakan harta haram.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ النَّارُ أَوْلَى بِهِ.

“Sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari harta yang haram. Neraka lebih pantas untuknya.“ (HR Ahmad 14441 Ibnu Hibban 4514 dan dishahihkan al-Albani At-Ta’liqu Ragib 3/350, adz-Dzilal 756).

Diantara mencari dan memakan harta yang haram yaitu:

Menipu, mencuri, korupsi, merampas haq orang lain, bekerja dengan mengurangi waktunya, mengurangi timbangan, menjual barang-barang yang haram, bekerja pada tempat-tempat yang diharamkan dan menerima berbagaimacam suap.

Kesimpulan ayat dan hadits di atas, seorang muslim memiliki adab-adab dalam berkerja yaitu:

 

1)   Meyakini Allah telah menyediakan baginya rezki yang halal.

2)   Memakan yang halal dan yang baik-baik.

3)   Hendaknya bersyukur kepada Allah ta’ala.

4)   Hendaknya menjahui rezki yang haram.

5)   Meyakini Allah telah menanggung rezkinya.

6)   Meyakini Allah telah mencatat rezkinya sebelum dia lahir.

7)   Berusaha untuk mendapatkan.

8)   Tidak berpangku tangan.

9)   Bertaqwa kepada Allah rezki akan dimudahkan.

10)                     Bertawakal kepada Allah, Allah akan mencukupinya.

11)                     Menyadari adakalanya rezki berkurang karena ujian dari Allah.

12)                     Tetap meyakini rezkinya pasti akan disempurnakan Allah.

13)                     Menyadari banyak sedikit harta bukan ukuran kecintaan Allah.

14)                     Mewaspadai istidraj, (ditarik dalam kebinasaan tanpa disadari).

15)                     Memahami rezki seseorang didapat dengan berbagai cara.

16)                     Tidak meminta-minta kepada manusia.

17)                     Hendaknya memperhatikan dari mana hartanya.

18)                     Memahami bahayanya harta haram.

19)                     Memahami harta haram dapat menjerumuskan ke neraka.

20)                  Memahami Harta haram dapat mendatangkan kemurkaan Allah.

21)                     Menyiapkan pertanyaan darimana dan kemana di belanjakan.

22)                     Mencari apa yang dapat mendatangkan ridha Allah ta’ala.

23)                     Tidak membandingkan rezki dirinya dengan orang lain.

24)                     Tidak hasad, iri, dengki dengan harta yang dimiliki orang lain.

25)                     Ikhlas dan ridha dengan segala ketentuan dan pemberian Allah ta’ala, baik didapat dengan cara yang mudah maupun sulit, baik di taqdirkan menjadi kaya ataupun miskin.

Demikianlah sebagai seorang muslim hendaknya memahami adab-adab di dalam mencari rezki.

Semoga bermanfaat. Aamiin.

Sekian.

 

 

-----000-----

 

Sragen 15-12-2023.

Junaedi Abdullah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.

  BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.     س ١ - بِمَاذَا نَتَوَسَّلُ إِلَى اللَّهِ؟ Soal 1 : Dengan apa kita bertawassul...