Senin, 04 Maret 2024

TAKUT (AL-HAUF).

 











Hauf (takut) memiliki hukum yang berbeda-beda, ada yang masyruk’ (disyari’atkan)  ada tabi’i (bawaan) dan dibolehkan, ada yang juga yang diharamkan karena mengandung unsur syirik.

1.   Hauf yang diperintahkan syari’at yaitu hauf kepada Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ.

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fatir[35]:28).

Hauf (takut) kepada Allah harus dibarengi dengan rasa raja’ (berharap) dan cinta (mahabbah) karena bila seseorang hanya takut kepada Allah tanpa dibarengi dengan raja’ (berharap) akan menjadikan seseorang putusasa, sebagaimana orang khuarij yang pada puncaknya mengkafirkan orang-orang islam yang terjerumus di dalam dosa besar.

Apabila seseorang beribadah kepada Allah hanya dengan harap (raja’) saja tanpa adanya rasa takut maka pada puncaknya yang terjadi seperti orang-orang murji’ah, mereka meremehkan dosa dan menganggap orang yang paling ta’at sama dengan orang yang maksiat.

Adapun orang yang beribadah hanya dengan rasa cinta (mahabbah) saja, maka pada puncaknya yang terjadi seperti orang sufi, mereka ibadah tidak mengharapkan balasan, bahkan menganggap orang yang beribadah dengan mengharap surga dianggap ibadahnya para pedagang, padahal Allah sendiri telah mengajarkan kepada kita dengan firman-Nya:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka.” (QS. AL-Baqarah [2]:201).

Bagaimana agar seseorang tumbuh rasa takut kepada Allah ta’ala dan menjadikannya ta’at dan tunduk kepada Allah ta’ala:

1)   Mengingat besarnya nikmat Allah ta’ala, dari indra yang dimiliki seperti mata, telinga, hidung, paru, jantun, ginjal semua itu sangat mahal dan Allah berikan kepada hambanya, dan Allah mempu untuk mengambil pemberiannya itu, baik dengan kerusakannya ataupun dengan kematiannya.

2)   Allah maha keras siksaan-Nya, dan Allah mampu untuk mendatangkan di dunia.

Seperti seseorang membuka usaha, dia membutuhkan pertolongan Allah ta’ala untuk mengabulkan harapannya, dan Allah mampu mengabulkan keinginan hamba tersebut, juga mampu untuk menghentikan harapannya sehingga seseorang akan mengalami kegagalan, kebangkrutan dan kehinaan sehingga menjadikan kesedihan yang luar biasa.

3)   Di akhirat siksa-Nya sangat keras sampai-sampai ketika penduduk neraka meminta minum maka akan dituangkan kepada mereka lelehan besi, timah atau tembaga sehingga akan menjadikan terlepas dan rontok semua daging-daging yang dilewati lelehan tersebut.

 Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا . لِلطَّاغِينَ مَآبًا . لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا . لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا . إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا.

“Sesungguhnya neraka Jahanam itu (padanya) ada tempat pengintai, lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas, mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya, mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah.” ( QS. An-Naba’[78]:21-25).

Abul Aliyah mengatakan, “Yang dimaksud dengan hamim ialah air yang panasnya telah mencapai puncak didihnya; dan yang dimaksud dengan gassaq ialah campuran dari nanah, keringat, air mata, dan yang keluar dari luka-luka ahli neraka, dinginnya tidak terperikan, dan baunya yang busuk tidak tertahankan.” (Tafsir Ibnu Katsir QS. An-Naba’ [78]:25).

As-Sa’di berkata, “Hamim adalah air yang sangat panas, penduduk neraka meminum air ini sampai menyebabkan usus-usus mereka terputus.” (Tafsir As-Sa’di, QS. Shad [38]:57).

2.   Takut yang tabi’i (bawaan).

Seperi seseorang takut kepada binatang buas, seperti singa, harimau, ular dan lainnya.

Takut pada ketinggian, takut pada tentara, takut melihat hantu dan lain sebagainya, hal ini bukanlah tercela, sebagaimana nabi Musa dahulu juga takut terhadap kejaran tentara Fir’aun.

Allah ta’ala berfirman:

فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ.

“Maka keluarlah dia (Musa) dari kota itu dengan rasa takut, waspada (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya), dia berdoa, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.” (QS. Al-Qashas[28]:21).

3.   Takut yang diharamkan.

Pada dasarnya apa takut secara thabi’i tidaklah berdosa, namun apabila bertabrakan dengan perintah Allah harus dilakukan dan haram apabila dia tinggalkan.

Misalkan seseorang takut dengan pedang, takut dengan darah, takut berperang tapi apabila kaum muslimin diserang maka wajib dirinya untuk ikut berperang dan membela kaum muslimin, haram hukumnya dia berdiam diri.

Atau apabila seseorang takut pada hantu, kebetulan tinggal jauh dari masjid, setiap kali adzan Shalat Isa’ dirinya harus tetap melawan ketakutan tersebut, dan tidak boleh shalat di rumah karena alasan takut hantu.

4.   Takut yang menyebabkan dikutuk oleh Allah.

Hal ini sebagaimana takutnya iblis kepada Allah, namun tidak menjadikan dirinya taat dan tunduk, bahkan Kufur iba’ dan istikbar (kekufuran karena enggan dan sombong).

Dia percaya bahwa Allah itu Maha Esa, maha kuat, hal ini karena iblis pernah berdialog langsung dengan Allah. Namun, iblis tidak mau tunduk kepada Allah karena dia bersikap sombong.

Sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ.

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘sujudlah kamu kepada Adam.’ Lalu, mereka sujud kecuali iblis, ia enggan dan sombong, dan ia termasuk orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah[2]:34).

Dari sebab tidak mau tunduk perintah Allah tersebut, akhirnya iblispun mendapat kutukan. Dalam ayat lain Allah ta’ala berfirman:

قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ.

Allah berfirman: "Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk.” (QS. Shad 38]:77).

Pengetahuan iblis terhadap Allah membuatnya sangat takut kepada Allah ta’ala, sebagaimana Allah sebutkan hal itu:

فَلَمَّا تَرَاءَتِ الْفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَى عَقِبَيْهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكُمْ إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ.

“Maka, ketika kedua pasukan itu telah saling melihat (berhadapan), ia (setan) berbalik ke belakang seraya berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, sesungguhnya aku melihat apa (para malaikat) yang tidak kamu lihat. Sesungguhnya aku takut kepada Allah.” Allah sangat keras hukuman-Nya.” ( QS. Al-Anfal[8]: 48).

Maka pasukan kaum muslimin maju menyerang pasukan kaum musyrik. Dan ketika iblis (yang menyerupai Surakah bin Malik pemuka bani Mudlij) melihat malaikat, maka ia berbalik ke belakang dan berkata.” Sesangguhnya aku berlepas diri dari kalian, sesungguhnya aku dapat melihat apa yang tidak dapat kalian lihat." (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Anfal[8]:48).

Dari sinilah iblis dan anak keturunannya menjadi musuh kita, dan telah ada sunnah- melawan iblis dan keturunannya.

Rasulullah pernah  mencekik jin I’frid yang membawa obor untuk menyakiti Rasulullah, ketika itu Beliau sedang shalat. (HR. Bukhari 3423, Muslim 542).

Sahabat Umar beliau pernah bergulat dengan Jin di gang kota Madinah, sahabat Amar juga pernah menghantam hidung jin dengan batu disumur, bahkan sahabat Khalid bin walid pernah membunuh jin ‘Uza yang menampakkan wanita hitam dengan rambut tergerai. (Ar-Rahiqul makhtum, Syaikh Syafurrahman al-Mubarak Furi).

5.   Takut yang syirik.

Yaitu apabila seseorang takut seandainya berhala yang disembah orang-orang itu menimpakan madharat pada dirinya.

Atau dia takut terhadap jin penguasa tempat tertentu dari madharat yang ditimpakan kepada dirinya, sehingga dirinya ijin kepada penguasa yang tidak jelas tersebut.

Allah ta’ala berfirman mengenai hal ini:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا.   

"Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan." ( QS. Al-Jin[72]:6).

Bila mereka berada di sebuah lembah atau suatu tempat yang mengerikan seperti di hutan dan tempat-tempat lainnya yang angker. Sebagaimana yang sudah menjadi kebiasaan orang-orang Arab di masa Jahiliah, mereka meminta perlindungan kepada pemimpin jin di tempat mereka beristirahat agar mereka tidak diganggu olehnya. (Lihat tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Jin[72]:6).

Hal semakna bisa saja terjadi dan memiliki hukum yang sama apabila seseorang melewati jembatan, maupun hutan, orang yang naik kendaraan tersebut menglakson, padahal takada seorangpun disitu, dengan maksud ijin lewat agar tidak diganngu.

Semua ini dilarang di dalam agama. Allahu ‘alam.

                       

                                                               -----000-----      

 

Sragen 25-03-2024.

Junaedi Abdullah.

Sabtu, 02 Maret 2024

SUKSES MEMBINA RUMAH TANGGA.



Siapapun orangnya pasti akan berharap rumah tangganya sukses, bahagia, apapun latar belakang orang tersebut.

Namun kesuksesan dan kebahagiaan tersebut tidak akan terwujud apa bila berpaling dari agama Allah, karena hal ini telah disebutkan oleh Allah ta’ala.

Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS.Thaha[20]:124).

Ibnu Katsir mengatakan:

{وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي}

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku.” (QS.Thaha[20]: 124).

Yaitu menentang perintah-Ku dan menentang apa yang Kuturunkan kepada rasul-rasul-Ku, lalu ia berpaling darinya dan melupakannya serta mengambil petunjuk dari selainnya.

{فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا}

“Maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit”. (QS. Thaha[20]: 124).

“Yakni kehidupan yang sempit di dunia. Maka tiada ketenangan baginya dan dadanya tidak lapang, bahkan selalu sempit dan sesak karena kesesatannya; walaupun pada lahiriahnya ia hidup mewah dan memakai pakaian apa saja yang disukainya, memakan makanan apa saja yang disukainya, dan bertempat tinggal di rumah yang disukainya.” (Tafsir Ibnu Katsir QS. Thaha[20]: 124).

Oleh karena itu sudah semestinya suami istri beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ.

“Akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi ..” (QS Al Baqarah [2]:177).

Keimanan inilah yang nantinya akan menjadi sumber kebahagiaan dunia dan akhirat.

Lantas bagaimana agar kita bisa sukses dan bahagia dunia akhirat..?

1.   Saling memahami haq dan kewajibannya.


أَلاَ إِنَّ لَكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ حَقَّا  وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقَّا.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kalian memiliki hak atas isteri-isteri kalian dan isteri-isteri kalian juga memiliki hak atas kalian.” (HR Tirmidzi 1163, dihasankan syaikh al-Albani di dalam Sunan Ibni Majah 1851)

1)  Bergaul satu sama lain dengan cara yang baik.

Berbuat baik kepada istri, baik dengan ucapan, maupun perbuatan dan hendaknya bersikap bijaksana.

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ.

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS An Nisaa’[4]:19).

Oleh karena itu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا.

“Orang mukminin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya.” (HR Thirmidzi 1162 Ibnu Majah 1987  dishahihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam As-Shahihah 284).

Begitu pula seorang istri hendaknya menghargai suaminya, bersikap sopan santun, ramah, sayang dan pandai menyenangkan suaminya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ ِلأَحَدٍ َلأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا.

“Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi 1159, Ibnu Hibban 1291, di shahihkan syaikh al-Albani di dalam Irwaa’ ul ghaliil 1998)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya wanita seperti apa yang baik, Beliau menjawab:

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ.

“Yang paling menyenangkan jika dilihat suami, mentaati suami jika suami memerintahkan sesuatu, dan tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci oleh suaminya.” (HR. An-Nasa’i 3231, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani).

إِنَّ اللهَ إِذَا ارَادَ بِاهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أَدْخَلَ عَلَيْهِم الرِّفْقَ.

“Sesungguhnya jika Allah menghendaki kebaikan bagi sebuah keluarga maka Allah akan memasukan kelembutan kepada mereka.” (HR Ahmad 2669, Baihaqi di dalam Su’abul iman 6140, dishahikan oleh al-Albani dalam As-Shahihah 523).

2)  Memberi sandang, pangan dan papan.

Allah ta’ala berfirman:

أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ.

“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu..” (QS. At-Thalaq[65]:6).

Rasulullah ketika di tanya tentang hak seorang istri Beliau menjawab:

أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ، وَتَكْسُوهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، وَلاَ تَضْرِبِ الوَجْهَ، وَلاَ تُقَبِّحْ، وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِي الْبَيْتِ.

“Engkau memberinya makan jika engkau makan, engkau memberinya pakaian jika engkau berpakaian, janganlah memukul wajah dan janganlah menjelek-jelekkannya serta janganlah memisahkannya kecuali tetap dalam rumah.” (HR. Abu Dawud 2142, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam As-Shahihah 687).

3)  Memberi nafkah batin.

 

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِىءَ لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ.

“Jika seorang pria mengajak istrinya ke ranjang, lantas istri enggan memenuhinya, maka malaikat akan melaknatnya hingga waktu Shubuh” (HR. Bukhari 5193, Muslim 1436)

ثَلَاثَةٌ لَا تَرْتَفِعُ صَلَاتُهُمْ فَوْقَ رُءُوسِهِمْ شِبْرًا رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ وَأَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ.

“Ada tiga kelompok yang shalatnya tidak terangkat walau hanya sejengkal di atas kepalanya (tidak diterima oleh Allah). Orang yang mengimami sebuah kaum tetapi kaum itu membencinya, istri yang tidur sementara suaminya sedang marah kepadanya, dan dua saudara yang saling mendiamkan (memutuskan hubungan).” (HR. Ibnu Majah 971 dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Misyakatul Mashabih 1128, dengan lafad yang shahih, “saudara yang saling mendiamkan dengan seorang budak yang lari dari tuannya).

وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ.

“Hubungan salah satu diantara kalian juga shadaqqah.” (HR. Muslim 1006, Ahmad).

2.   Saling memberi nasehat apabila ada yang keliru.

Suami istri mereka adalah manusia, bukan malaikat yang tak pernah salah, meskipun sudah berhati-hati, pasti masih punya kekurangan, hendaknya kita menasehati dengan baik.

Syaikh Abdurrahman al- Qar’awi di dalam bukunya (Az-Zauzah fi khaimah As-Sa’adah) suami istri yang akan memasuki gerbang pernikahan harus menyadari merupakan perkara lumrah dan alamiah jika terjadi perselisihan sebatas yang logis.

Allah ta’ala berfirman:

وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا.

Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz(tidak lagi taat), hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya.” (QS. An-Nisa[4]:34).

Nuzuz yakni wanita-wanita yang membangkang terhadap suaminya.

 Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ .

“Berwasiatlah kalian dengan kebaikan kepada para wanita (para istri), karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk…” (HR. Al-Bukhari 3331, Muslim1468).

3.   Menjaga dari fitnah.

Allah ta’ala berfirman:

فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ.

“Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). (QS. An-Nisa[4]:34).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ.

“Apabila seorang isteri mengerjakan shalat yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya (menjaga kehormatannya), dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk Surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya.” (HR. Ahmad 1661, Hibban 1296 Tabrani mu’jam al-Ausath 4596, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ 660).

4.   Hendaknya menjadi keluarga yang bersyukur.

Ibnu Al Qoyyim mengatakan bahwa tanda kebahagiaanseorang hamba itu ada 3 hal. Yaitu bersyukur ketika mendapatkan nikmat, bersabar ketika mendapatkan cobaan dan bertaubat ketika melakukan kesalahan. Beliau mengatakan: sesungguhnya 3 hal ini merupakan tanda kebahagiaan seorang hamba dan tanda keberuntungannya di dunia dan di akhirat. (Al-Wabil Al-Shayib).

Adapun rinciannya sebagai berikut.

1)  Bersyukur apabila mendapatkan nikmat.

Allah ta’ala berfrman:

 لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ.

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim[14]:7).

Cara bersyukur yang benar

Pertama, Hatinya mengakui nikmat yang diperoleh itu berasal dari Allah. 

Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ..

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”. (Qs. An Nahl [16]: 53).

Dari sini Qarun telah keliru, tidak menyandari bahwa nikmat tersebut datangnya dari Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman:

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي.

 

Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku." (QS. Al-Qashas [28]:78).

Kedua Lisannya mengucapkan kalimat yang baik dan memuji Allah ta’ala.

 

Ketiga Menggunakan nikmat-nikmat Allah Ta’ala untuk beramal shalih.

Adapun bagaimana supaya menumbuhkan rasa syukur:

Melihat orang dibawah kita.

اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ.

"Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang berikan kepadamu" (HR Bukhari 6490 Muslim 2963).

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ.

“Tidaklah kaya itu diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Akan tetapi yang dikatakan kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari 6446, Muslim 1051).

Tidak kufur terhadap kebaikan suami.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ  قَالَ: يَكْفُرْنَ العَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ.

“Diperlihatkan kepadaku neraka dan aku dapati kebanyakan penghuninya adalah para wanita yang ingkar. Rasul ‘alaihish shalatu wassalam ditanya: “Apakah mereka ingkar kepada Allah ? Nabi bersabda: “Mereka ingkar kepada suaminya dan ingkar kepada kebaikan suaminya. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang mereka (istri-istrimu) selama satu tahun, kemuadia wanita tersebut melihat satu kejelekan darimu, maka ia akan berkata: “Aku tak pernah melihat engkau berbuat baik sedikitpun” (HR. Bukhari 1052, Muslim 907).

 

2)  Bersabar ketika mendapatkan musibah.

 

Allah ta’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ.

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah[2]:155).

3)  Bertaubat jika melakukan maksiat.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya.” (QS.At-Tahrim[66]:8).

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ.

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Al-Imran[3]:135).

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” ( QS. Az-Zumar[39]:53)

5.   Menjadikan akhirat sebagai tujuan bahtera rumah tangganya.

Hendaknya pasutri menjadikan akhirat sebagai tujuan hidupnya, bila hal ini bisa mewujudkan hatinya akan tentram, tak lagi menghiraukan perkataan orang, bila sudah berada pada jalur yang benar.

Allah ta’ala berfirman:

 قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al An’am[6]:162).  

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam Bersabda,

مَنْ كانت الدنيا هَمَّهُ فَرَّق الله عليه أمرَهُ وجَعَلَ فَقْرَهُ بين عينيه ولم يَأْتِه من الدنيا إلا ما كُتِبَ له، ومن كانت الآخرةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللهُ له أَمْرَهُ وجَعَلَ غِناه في قَلْبِه وأَتَتْهُ الدنيا وهِيَ راغِمَةٌ.

“Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, Allah memporak-perandakan urusannya, menjadikan miskin di dalam pandangannya, tidak mendapatkan dunia kecuali yang telah ditetapkan baginya. Dan barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai niatnya, maka Allah menghimpun urusannya, menjadikan kecukupan ada di dalam hatinya, dan dunia pun menghampirinya sementara ia memandangnya sebagai sesuatu yang hina.” (HR. Ibnu Majah 4105 dan di shahihkan syaikh al-Albani).

Keberhasilan yang sesungguhnya adalah membawa keluarga masuk Syurga.

Allah ta’ala berfirman:

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ.

“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS Al Imran[3]:185).

 Allah ta’ala berfirman:

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ.

“(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya.” (QS. Ar-Ra‘du[13]: 23)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Allah menghimpunkan mereka bersama kekasih-kekasih mereka di dalam surga, yaitu bapak-bapak mereka, keluarga mereka, dan anak-anak mereka yang layak untuk masuk surga dari kalangan kaum mukmin, agar hati mereka senang. Sehingga dalam hal ini Allah mengangkat derajat orang yang berkedudukan rendah ke tingkat kedudukan yang tinggi sebagai anugerah dari-Nya dan kebajikan-Nya, tanpa mengurangi derajat ketinggian seseorang dari kedudukannya. Hal ini sama dengan yang diungkapkan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ.

“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur[52]: 21),

Hendaknya pasangan kita bukan hanya teman hidup kita di dunia saja, tetapi yang akan menemani kita diakhirat kelak selama-lamanya. Aamiin.

 

-----000-----

 

Sragen 02-03-2024.

Junaedi Abdullah.

 

                   

BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.

  BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.     س ١ - بِمَاذَا نَتَوَسَّلُ إِلَى اللَّهِ؟ Soal 1 : Dengan apa kita bertawassul...