Jumat, 09 Desember 2022

OBAT HATI ADA LIMA.

 

obat hati ada lima

قال ابي زكريا يحي بن شريف النووي رحمه الله ، و قال ابراهيم الخواص:

دَوَاءُ الْقَلْبِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ:

-  قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ،

 - وَخَلَاءُ الْبَطْنِ ،

 - وَقِيَامُ اللَّيْلِ ،

 - وَالتَّضَرُّعُ عِنْدَ السَّحَرِ،

 - وَمُجَالَسَةُ الصَّالِحِينَ.

Berkata Imam Abu Zakariya Yahya bin Syarif An-Nawawy rahimahullah (dalam Kitab At-Tibyan fi Adabil Hamalatil Qur'an), berkata Imam Ibrahim Al Khawas:

Obat hati itu ada lima:

1)    Membaca Al Qur'an dengan mentadabburi.

2)    Membiasakan puasa.

3)    Shalat malam.

4)    Berdoa dengan kesungguhan di waktu sahur.

5)    Berkumpul dengan orang shalih.

 

1.    Membaca Al Qur'an dengan mentadabburi (قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ).

  Taddabbur yaitu membaca, memikirkan, menghayati, dan mendalami pesan-pesan yang terdapat di dalam Al-Quran.

1)    Hendaknya kita mengimani Al Qur'an.

Sebagaimana yang di sebutkan Allah ta’ala :

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ.

“Rasul Telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah [2]: 285).

2)    Hendaknya membaca dan berusaha mempelajarinya.

Allah ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ.

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. (QS. Fathir[35]: 29).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

قَالَ قَتَادَةُ: كَانَ مُطَرف، رَحِمَهُ اللَّهُ، إِذَا قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ يَقُولُ: هَذِهِ آيَةُ الْقُرَّاءِ .

“Qatadah rahimahullah berkata, “Mutharrif bin Abdullah (Tabi’in, wafat 95H) jika membaca ayat ini beliau berkata: “Ini adalah ayat orang-orang yang suka membaca Al Quran” (Tafsir Ibnu Katsir QS. Fatir[35]:29).

3)    Besarnya pahala membaca Al Qur’an.

“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ .

 Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kebaikan semisalnya, aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi 2910, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’ 6469).

4)    Manfaat membaca Al Qur’an.

Al-Qur’an sebagai obat. 

ﻭَﻧُﻨَﺰّﻝُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَﺂﺀٌ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔٌ ﻟّﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻭَﻻَ ﻳَﺰِﻳﺪُ ﺍﻟﻈّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﺇَﻻّ ﺧَﺴَﺎﺭﺍً.

Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al-Israa’ [17]: 82).

Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi rahimahullah berkata:

 “Obat yang mencakup obat bagi penyakit jiwa dan raga, seperti keraguan, kemunafikan, dan perkara lainnya. Bisa menjadi obat bagi jasmani jika dilakukan ruqyah kepada orang yang sakit. Sebagaimana kisah seseorang yang terkena sengatan kalajengking diruqyah dengan membacakan Al-Fatihah. Ini adalah kisah yang shahih dan masyhur” (HR. Bukhari dan Muslim) (Tafsir Adhwaul Bayan, QS Al-Isra’ [17]:82).

Adapun Ath-Thabari rahimahullah mengatakan: Al-Qur’an Obat dari kejahilan dan kesesatan. (Tafsir Ath Thabari, QS. Al –Isra’[17]:82).

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ.

“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus[10]:57)

5)    Al-Qur’an menjadi penentram hati.

Orang-orang beriman selalu berdzkir, baik dengan lisan maupun dengan membaca Al Qur’an.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ.

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d[13]:28)

Demikianlah Al-Qur’an merupakan obat, petunjuk dan penentram hati, adakah obat itu bisa memberikan efek jika tidak di minum…? Adakah petunjuk memberi manfaat jika tidak di buka…? Meminum dan membukanya yaitu dengan mengamalkan.

Hendaknya mengamalkan hukumnya, terkait masalah  Aqidah, Ibadah, Muamalah dan juga akhlak. Misalnya, supaya kita menyembah hanya kepada Allah ta’ala, menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meneladani beliau di dalam ibadah dan juga akhlaq, berbakti kepada kedua orang tua, karena Allah memerintahkan hal itu.

Hendaknya kita tunduk dan taat kepada Allah serta menerima semua ketentuannya, mengamalkan hukum-Nya, seperti yang berkaitan dengan hukum warisan, apa yang di perintahkan kepada para wanita agar memakai pakaian syar’i, memakai jilbab yang benar, menetapi di rumah-rumah mereka kecuali apa yang di bolehkan, semua tidak lain karena belas kasih Allah ta’ala terhadap hamba-hambanya.

Demikan juga agar kita hendaknya meninggalkan riba, tidak menyuap, tidak minum khamer, tidak berjudi, tidak berzina, dan lain sebagainya, yang semua itu dilarang di dalam Al Qur’an.

Dengan kita taat kepada Allah, menjalankan perintahnya dan menjahui larangannya merupakan bukti kita mengimani dan mengamalkakan apa yang tertuang di dalam Al Qur’an ini.

----------00000----------

 

2.    Membiasakan puasa (وَخَلَاءُ الْبَطْنِ)

Mengosongkan perut sangat penting dilakukan bagi orang yang hendak menetramkan hati, dari tidak makan berlebihan, puasa wajib maupun puasa sunnah.

Allah ta’ala berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ.

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (QS. Al-A’raf [7]: 31)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tafsir ayat ini,

قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: جَمَعَ اللَّهُ الطِّبَّ كُلَّهُ فِي نِصْفِ آيَةٍ: وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا.

“Sebagian salaf berkata bahwa Allah telah mengumpulkan semua ilmu kedokteran pada setengah ayat ini.”

Dari Al-Miqdam bin Ma'dikarib raḍiyallahu 'anhu secara marfū' dia berkata, aku mendengan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ. بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ.

"Tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika memang harus melebihi itu, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya." (HR Tirmidzi 2380 Ibnu Majah 3349, di shahihkan Syaikh al Abani di dalam Ash Shahihah 2265).

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan bahaya kekenyangan karena penuhnya perut dengan makanan, beliau berkata:

مَا شَبِعْتُ مُنْذُ سِتَّ عَشْرَةَ سَنَةً إِلَّا شَبْعَةٌ أَطْرَحُهَا. قَالَ أَبُو مُحَمَّدٍ: يَعْنِي فَطَرَحْتُهَا لِأَنَّ الشِّبَعَ يُثْقِلُ الْبَدَنَ وَيُقَسِّي الْقَلْبَ وَيُزِيلُ الْفِطْنَةَ وَيَجْلِبُ النَّوْمَ، وَيُضْعِفُ صَاحِبَهُ عَنِ الْعِبَادَةَ

“ Aku tidak pernah kekenyangan semenjak 16 tahun kecuali sekali, aku segera mengosongkannya, Beliau juga berkata: Kekenyangan membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, mengurangi kecerdasan, mudah mengantuk dan lemah untuk beribadah.” (Hilyah Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’, Oleh Abu Nu’aim bin ‘Abdillah).

Kondisi kaum muslimin kebanyakan sekarang banyak yang berkecukupan mereka tidak mampu menahan lapar, akibatnya mereka sulit mengendalikan untuk tidak makan sehingga berat melakukan kebaikan.

Salah seorang ulama mengatakan, “Perut kenyang akan menjadikan indra seseorang lapar, sebaliknya perut seseorang lapar akan menjadikan indra seseorang kenyang.”

Demikianlah seharusnya yang dilakukan seseorang untuk menentramkan hatinya hendaknya sering mengosongkan perutnya.

 

----------00000----------

 

3.    Shalat malam (وَقِيَامُ اللَّيْلِ)

Shalat malam adalah kebiasaan orang-orang shalih dahulu.

Allah ta’ala berfirman:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا.

 “Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” ( QS Al-Isra’ [17]:79).

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا.

“Lambung-lambung mereka jauh dari pembaringan, karena mereka berdoa kepada Rabb mereka dalam keadaan takut dan berharap kepada-Nya.” (QS. As-Sajadah[32] : 16)

كَانُوا قَلِيلاً مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ. وَبِالأَسْحَارِهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ.

“Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam..” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 17)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ.

“Seutama-utama puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram, dan seutama-utama sholat sesudah sholat wajib adalah sholat malam.” (HR. Ahmad 8534, Muslim 1163)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

”Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari 1145, 7494, Muslim 758)

Shalat malam menghibur hati seseorang, untuk mengadukan seluruh masalah yang dihadapi, bermunajat kepada Allah ta’ala, melupakan sejenak hiruk pikuk dunia dan gemerlapnya, muhasabah diri dari selama ini jauh dari Allah ta’ala.

Umar bin khatab radhiyallahu ‘anhu berkata:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا.

Bermuhasabahlah kalian pada diri kalian sebelum amal kalian dihisab, timbanglah amal diri kalian sebelum kalian ditimbang.” (HR. Ahmad di Zuhud, hal. 120. Abu Nu’aim di Hilyah 1/52. Dilemahkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah Adh-Dhaifah 1201)

Orang-orang dahulu bersedih hati seandainya luput dan tidak bisa shalat Qiyamul lail, oleh karena itu hendaknya orang-orang yang menghendaki hatinya tentram membiasakan qiyamul-lail.

----------00000----------

4.    Berdoa di waktu sahur(وَالتَّضَرُّعُ عِنْدَ السَّحَرِ) .

Hendaknya mengobati hatinya dengan memperbanyak, do’a, dzikir, dan memohon

ampun kepada Allah ta’ala terutama di waktu sahur.

« ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ « اللَّهُ أَكْثَرُ »

Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad 3/18, dari Abu Sa’id; derajat hasan)

Allah ta’ala berfirman:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ.

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-A’raf [7]: 55)

وَبِالأَسْحَارِهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ.

“Dan selalu memohon ampunan di waktu sahur (menjelang fajar).” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 18).

فَأَمَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَعَسَى أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُفْلِحِين.

“Maka adapun orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mudah-mudahan dia termasuk orang yang beruntung.” (QS Al-Qashas[28]: 67)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي اليَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً.

“Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari 6037)

Demikianlah waktu-waktu yang sangat utama ini banyak manusia yang melupakannya.

----------00000----------

 

5.    Berkumpul dengan orang shalih  ( وَمُجَالَسَةُ الصَّالِحِينَ).

Orang-orang shalih akan membawa kepada kebaikan kepada siapapun dimanapun dan kapanpun, sehingga dia mampu mempengarui orang-orang di sekelilingnya untuk bersama-sama melakukan kebaikan, dan membawa kebaikan, oleh karena itu Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita bersama orang-orang yang shalih.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah [9]:119).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.

“Seseorang bisa dilihat dari perilaku beragama sahabatnya. Hendaklah kalian memperhatikan bagaimana sahabatmu dalam beragama. (HR Ahmad 8417, Tirmidzi 2378, Abu Dawud 4833, di shahhiihkan Syaikh al-Albani di dalam Ash Shahihah 927).

 

Seseorang bisa mencuri takbiat orang lain tanpa dirasa, mengikuti dan mengagumi, oleh karena itu islam menganjurkan memilih duduk dari orang-orang shalih.

Orang-orang yang buruk akhlaknya akan mempengaruhi keburukan sebagaimana saat saat terakhir Abu Thalib menjelang kematiaanya.

Begit pula orang fasiq akan berkata tanpa menghiraukan orang didepannya sehingga demikian ini bisa menjadikan hati seseorang sakit atau memacu dalam perkara yang tidak bermanfaat.

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

Sragen 10-Des 2022

Junaedi Abdullah.

----------00000----------

Kamis, 08 Desember 2022

SEBAB-SEBAB DATANGNYA MUSIBAH


Dunia yang semakin tua, serta manusia yang semakin jauh dari bimbingan agama mengakibatkan terbentuknya pola pikir yang senantiasa berorientasi kepada dunia semata. Akibatnya berbagai bencana dan musibah yang terjadi diangnggap fenomena alam biasa, seperti gempa bumi disebabkan lempengan kerak bumi yang retak atau bergeser,  sedikitpun tidak mengaitkan dengan prilaku manusia yang banyak menyimpang serta adzab Allah karena dosa-dosa manusia.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ.

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS. Asy Syura [42]: 30).

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS.Ar-Rum[30]:41)

قَالَتْ زَيْنَبُ بِنْتُ جَحْشٍ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ: أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الخَبَثُ.

Apakah kami akan binasa sementara orang-orang shalih masih ada di antara kami?” Beliau menjawab, “Betul, ketika kemaksiatan merajalela.” (HR Bukhari 3346, Muslim 2880)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ.

“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87)

Adapun dosa-dosa yang menyebabkan datangnya musibah yaitu:

1.    Dosa kesyirikan.

Dosa kesyirikan masih merajalela di bumi pertiwi, saat mereka punya hajat, tasyakuran bersama ketika mendapatkan nikmat seperti melarung saji kelaut, melempar saji ke gunung, upacara sajen di tempat yang dianggap keramat.

Padahal Allah ta’ala melarang keras kesyirikan tersebut.

وَّاَنَّ الْمَسٰجِدَ لِلّٰهِ فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللّٰهِ اَحَدًا.

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain Allah.” (QS. Al-Jin[72]18)

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۚفَاِنْ فَعَلْتَ فَاِنَّكَ اِذًا مِّنَ الظّٰلِمِيْنَ

“Dan jangan engkau menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi bencana kepadamu selain Allah, sebab jika engkau lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim.”(QS. Yunus[10]106)

Umat-umat dahulu dibinasakan karena kesyirikan ini, begitu pula kondisi sekarang selain yang kita sebutkan di atas, mereka juga berlebih-lebihan terhadap kuburan orang shalih.

2.    Kebid’ahan.

Bagaimana kebid’ahan merajalela dimana-mana, saking banyaknya sampai-sampai orang yang mengamalkan sunnah terasa asing dan dianggap aneh.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim 145).

Padahal Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari 20)

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim 1718)

3.    Tersebarnya berbagai macam maksiat.

Perzinaan, perselingkuhan, LGBT, music, nyayian, perjudian miras dan lain sebagainya.

Sebagaimana kita saksikan apa yang di umumkan salah seorang bupati dimana ditempatnya banyak terjadi kawin kontrak, kemudian dibuatlah larangan berupa perda.

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ.

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami azab karena dosa-dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan. Allah sama sekali tidak hendak menzalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” (QS.Al-Ankabut[29]:40)

Apa yang harus kita lakukan..?

1.    Bertaubat istigfar kepada Allah ta’ala.

وَمَا كَانَ اللّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ.

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS: Al Anfal [8]: 33).

2.    Memerintahkan manusia agar bertaqwa dan mentauhidkan Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ.

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al A’raf [7]:96).

3.    Memerintahkan amal ma’ruf nahi mungkar.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ.

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’du [13]: 11)

Dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri beliau berkata, rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ.

 “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim 49)

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوْشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْ عِنْدِهِ ثُمَّ لَتَدْعُنَّهُ فَلاَ يَسْتَجِيْبُ لَكُمْ

“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, hendaknya kalian betul-betul melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar atau (jika kalian tidak melaksanakan hal itu) maka sungguh Allah akan mengirim kepada kalian siksa dari-Nya kemudian kalian berdoa kepada-Nya (agar supaya dihindarkan dari siksa tersebut) akan tetapi Allah Azza wa Jalla tidak mengabulkan do’a kalian. (HR Ahmad 23301, Tirmidzi 2168, dihasankan oleh syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ 7070)

Adapun hikmahnya Allah ta’ala berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ. لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Demikianlah semoga kita semua dijauhkan dari berbagai bencana dan musibah, oleh karena itu marilan kita saling mengingatkan di dalam kebaikan dan kesabaran.

Semoga bermanfaat.

 

Sragen 9 Des 2022

Junaedi Abdullah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.

  BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.     س ١ - بِمَاذَا نَتَوَسَّلُ إِلَى اللَّهِ؟ Soal 1 : Dengan apa kita bertawassul...