Kamis, 16 Agustus 2018

JANGAN KAU BALIK SYUKURMU DENGAN KUFURMU


Mungkin judul ini yang pas untuk keadaan kita sekarang ini, bagaimana tidak, nikmat yang Allah ta’ala berikan kepada kita berupa kemerdekaan, ketengan, ketentraman, sebagaimana yang kita rasakan ini (alhamdulillah), yang hampir semua orang sedang mengaplikasisikan bentuk syukur tersebut diantaranya dengan berbagai lomba, dari yang biasa sampai yang luarbiasa seperti main bola, voli, balap karung dan semua yang di lakukan wanita ini semua merupakan dosa dan maksiat kepada Allah ta’ala. Dan ini bukan bentuk syukur kepada Allah tetapi kufur.
Ada juga yang mensyukuri dengan melakukan pesta musik berjoget, dengan menampakkan aurat-aurat wanita sambil menegak minuman keras, laki-laki dan perempuan, Ini juga maksiat yang bertumpuk-tumpuk, kalau di rinci:
1)             Dosa musik (lihat tafsir Ibnu Katsir QS 31:6)
2)             Dosa menampakkan aurat
3)             Dosa memakai minyak wangi( bagi wanita di luar)
4)             Dosa bercampur baur laki-laki dan perempuan berjoget bersama.
5)             Dosa menegak minuman keras
Yang mana wanita di dalam islam seperti permata yang harus di simpan dan jaga. Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ
Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka !” QS Al-Ahzab[33]:59.
Allah juga berfirman:
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً
Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” Al Ahzab [33]: 33.
Ada juga yang mensyukuri kemerdekaan dengan menanggap pagelaran wayang, yang mana kita ketahui perwayangan ini pengagungan terhadap para dewa, menghanyutkan sajen kelautan atau ke tempat-tempat yang di anggap agung, tentu hal ini sangat jauh dari tuntunan islam, bahkan menjerumuskan pelakunya kepada kesyirikan. Ini bukan lagi syukur tetapi kufur dan pelakunya di sebut musryik.
Allah ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. QS An Nisaa[4]:48,116. Ini bentuk kemaksiatan kepada Allah ta’ala.
Ada juga yang mereka mengungkapkan syukur mereka dengan membawa ambengan (panggang atau bucu) kemudian di doakan, setelah itu di makan bersama-sama, ini semua tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam meskipun beliau menang dalam perang badar, perang khandak, perang yang di lakukan secara umum sehingga jazirah arab takluk, namun Rasulullah tidak mengungkapkan syukur dengan hal itu,
Rasulullah pernah mensyukuri kemenangan nabi Musa dengan puasa Asyura’.
Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah datang ke Madinah. Beliau dapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura (10 Muharam). Kemudian beliau bertanya pada mereka,
مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَهُ ». فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ». فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.
“Hari yang kalian bepuasa ini adalah hari apa?” Orang-orang Yahudi itu menjawab, “Ini adalah hari yang sangat mulia. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya. Ketika itu pula Firaun dan kaumnya ditenggelamkan. Musa berpuasa pada hari ini dalam rangka bersyukur, maka kami pun mengikuti beliau berpuasa pada hari ini”.
Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam lantas berkata, ”Kita seharusnya lebih berhak dan lebih utama mengikuti Musa daripada kalian.”. Lalu setelah itu Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.” HR. Muslim 1130.
Dari sinilah kita menyadari pentingnya seseorang mengetahui ilmu agamanya dengan benar, sehingga untuk mengungkapkan syukur tidak keliru dengan kufur, sehingga harapan mendapatkan keridhaan Allah justru menjadikan kemurkaan Allah ta’ala.

Mensyukuri kemerdekaan hendaknya seseorang mengakui semua nikmat itu datangnya dari Allah ta’ala, di ikrarkan dengan lisannya, dan bersemangat memperbaiki keadaan umat, menanamkan nilai-nilai moral dan akhlaq, sebagaimana yang di ajarkan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam, bukan mempertontokan sesuatu yang tidak pantas untuk geneasi kita, terlebih menyekutukan Allah dengan makhluknya.

Mensyukuri kemerdekaan hendaknya sesorang bersemangat menjadikan negri ini untuk menuju keridhaan Allah di dalam menjalankan syariatnya.

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ.
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka,” QS 13, Ar Raad : 11.

Mensyukuri kemerdekaan hendaknya seseorang senantiasa bertaqwa kepada Allah, sehingga jangan sampai nikmat kemerdekaan, ketentraman ini Allah cabut dari negri kita sebagai mana kita saksikan berapa banyak manusia terusir dari negaranya, begitu pula Allah binasakan tidak lain karena kemaksiatan mereka  kepada Allah ta’ala.

 وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. QS Al A’raf [7]:96.

Demikianlah semoga bermanfaat.

Abu Ibrahim, Junaedi Abdullah.



Rabu, 20 Juni 2018

KESALAHAN-KESALAHAN DI HARI LEBARAN.


Sebagai seorang muslim sudah menjadi kewajiban untuk saling mengingatkan saudaranya, manakala saudaranya keliru, semoga Allah membukakkan hati kita semua untuk menerima kebenaran dari manapun datangnya, karena kebenaran bagi seorang muslim adalah ibarat mutiara yang hilang.
Adapun kesalahan-kesalahan yang terjadi saat hari raya yaitu:
1.              Melakukan ritual kesyirikan.
Hal ini bisa berupa buat sesaji(pancen), kembang setaman yang di letakkan dirumah maupun saat ziarah ke kuburan.
Allah ta’ala melarang keras perbuatan syirik di berbagai ayat di dalam Al Qur’an:
Allah tidak mengapuni orang yang mati dalam keadaan syirik.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ.
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. QS An Nisaa[4]:48 dan juga 116.
Allah ta’ala menghapuskan pahala orang yang berbuat syirik.
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. QS. Az Zumar[39]:65
Pelaku kesyirikan akan kekal selama-lamanya di dalam neraka.
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” QS. Al-Bayyinah[98]: 6.
Adapun ziarah kubur tidak di benarkan dengan mengkhususkan waktunya dan membawa bunga setaman dengan anggapan bisa meringankan siksa penghuni kubur, ini adalah prasangka yang buruk kepada penghuni kubur, bisa jadi dia mendapat nikmat kubur dan tidak membutuhkan itu semua, oleh karena itu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam para sahabatnya tidak melakukan itu.
2.          Bersujud kepada orang tua atau kepada suami.
Banyak kita jumpai jika lebaran tiba seorang anak bersimpuh sujud di bawah kaki orang tua, begitu pula seorang istri, pada dasarnya menghormati orang tua adalah termasuk perintah Allah yang agung, begitu pula menghormati suami, namun meskipun demikian tidak boleh seseorang sampai taraf sujud kepada mereka, adapun yang utama bagi mereka adalah yang menunaikan haqnya setiap saat, rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal ini:
 لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ ِلأَحَدٍ َلأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا.
“Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya.” Hadits hasan shahih: HRTirmidzi 1159 Ibnu Hibban 1291. Di shahihkan syaikh Al Bani di Irwaa ul ghaliil 1998
3.     Berbuat mubadhir.
Banyak para wanita di saat lebaran mereka menghabiskan uang mereka dengan membeli pakaian yang sangat banyak, yang terkadang hanya sekedar iseng dan menghabiskan uangnya, begitu pula makanan, banyak yang di beli dan tak termakan yang pada akhirnya masuk tong sampah, Allah ta’ala melarang hal ini:
وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا . إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا .
Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. QS. Al-Isra[17]: 27.

4.     Berjabat tangan laki-laki dan perempuan yang bukan makhram.
Di dalam Kitab Shahih Bukhari dan Muslim Aisyah radiallahu ‘anha menceritakan bahwa: “Tangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam tidaklah menyentuh tangan perempuan ketika membaiat (mengadakan janji setia)”.
Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad Bin Hambal, semua sepakat tentang haramnya berjabatan tangan laki-laki dan perempuan yang bukan makhram, adapun sekarang masalah ini seakan kabur tidak lagi di ketahui batasan-batasan yang di haramkan Allah, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ
“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” HR. Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
5.    Mengadakan acara khusus halal bi halal.

Pada dasarnya setiap adat(kebiasaan) itu boleh kecuali jika ada dalil yang melarang, begitu sebaliknya, setiap ibadah adalah terlarang kecuali ada dasar perintahNya,
Tidak di ragukan lagi saling memberi maaf telah di ajarkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda:
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ
Tidak halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan (tidak tegur sapa) saudaranya lebih dari tiga hari.” HR. Bukhari 6237 Muslim 2560.
Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:
تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ، وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا
Pintu-pintu surga dibuka setiap hari senin dan kamis. Lalu diampuni selluruh hamba yang tidak berbuat syirik (menyekutukan) Allah dengan sesuatu apapun. Kecuali orang yang sedang ada permusuhan dengan saudaranya. Dikatakan: Tunda amal dua orang ini, sampai keduanya berdamai, tunda amal dua orang ini, sampai keduanya berdamai, tunda amal dua orang ini, sampai keduanya berdamai. HR.Muslim 2565.
Setelah kita mengetahui bagaimana seharusnya yang dilakukan seseorang apa bila terjadi perselisihan terhadap saudaranya, nampaklah dari sini bahwa menunda meminta atau memberi maaf kepada saudaranya apalagi mendiamkan, dan menunggu acara-acara halal-bi halal yang dilakukan setahun sekali bukan hanya tidak pernah di lakukan Rasulullah sallallahu‘alaihi wa sallam para sahabatnya melainkan menyelisihi ayat dan hadis-hadis yang sangat banyak.
Demikianlah semoga bermanfaat. Aamiin.


Sragen 21-06018
Abu Ibrahim, Junaedi Abdullah.

Senin, 30 April 2018

IMAN TERHADAP MALAIKAT.

                IMAN TERHADAP MALAIKAT.
Malaikat adalah salah satu makhluk Allah yang di muliakan, mengimaninya merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang tertuang didalam rukun iman yang ke dua, sebagaimana didalam hadis Jibril ‘alaihi wa sallam.  Allah ta’ala juga menyebutkan di dalam Al Qur’an:
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ
“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan Rasul-Rasul-Nya”. QS. Al-Baqarah[2]: 285.
Penciptaan malaikat.
Malaikat di ciptakan Allah ta’ala dari cahaya sebagaimana di sebutkan didalam hadis Aisyah radiallahu ‘anha:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم خُلِقَتِ المَلٰئِكَةُ مِنْ نُوْرِ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجِ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ اٰدَمَ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ
“Dari Aisyah berkata: Rasulullah saw bersabda,”Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang menyala-nyala dan Adam diciptakan dari Sesutu yang telah disebutkan (ciri-cirinya) untuk kalian.”

Beriman kepada malaikat memuat empat perkara:
Pertama: Mengimani wajud mereka.
Wajib bagi orang beriman percaya akan keberadaan mereka, Yaitu kepercayaan yang pasti tentang keberadaan para malaikat. Tidak seperti yang dipahami oleh sebagian orang bahwa malaikat adalah hanya sebuah ‘kata’ yang bermakna konotasi yang berarti kebaikan atau semacamnya. Allah Ta’ala telah menyatakan keberadaan mereka dalam firman-Nya yang artinya:
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ جَاعِلِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلًا أُوْلِيٓ أَجۡنِحَةٖ مَّثۡنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَۚ يَزِيدُ فِي ٱلۡخَلۡقِ مَا يَشَآءُۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ.
Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. QS Fatir [35]:1
barangsiapa yang tidak beriman kepada mereka dan mengingkari eksistensi(wujud) mereka -seperti yang diyakini oleh sebagian penganut filsafat maka dia telah kafir berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
“Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya”. QS. An-Nisa`[4]: 136.
Kedua: Mengimani nama-nama malaikat yang telah kita ketahui, sedangkan malaikat yang tidak diketahui namanya wajib kita imani secara global.
Yang kita ketahui seperti Jibril, mikail, israfil, malakul maut, dan lain-lain,adapun yang tidak kita ketahui namanya kita imani secara global dan ini sangat banyak jumlahnya.
Di antara dalil yang menunjukkan banyaknya bilangan malaikat dan tidak ada yang dapat menghitungnya kecuali Allah Ta’ala adalah sebuah hadits shahih yang berkaitan dengan baitul makmur.
فَرُفِعَ لِي البَيْتُ المَعْمُورُ، فَسَأَلْتُ جِبْرِيلَ، فَقَالَ: هَذَا البَيْتُ المَعْمُورُ يُصَلِّي فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ، إِذَا خَرَجُوا لَمْ يَعُودُوا إِلَيْهِ آخِرَ مَا عَلَيْهِمْ.
Kemudian ditunjukkan kepadaku baitul ma’mur. Akupun bertanya kepada Jibril, beliau menjawab, ‘Ini Baitul Ma’mur, setiap hari ada 70.000 malaikat yang shalat di dalamnya. Setelah mereka keluar, mereka tidak akan kembali lagi, dan itu menjadi kesempatan terakhir baginya.” HR. Bukhari 3207, Muslim 164.
Ketiga: Mengimani sifat-sifat malaikat yang kita ketahui.
Mengimani sifat-sifat malikat diantaranya:
·         Berwujud, wujud malaikat ini pernah di saksikan para sahabat. Seperti jibril yang di saksikan para sahabat.
·         Malaikat makhluk yang berakal. Sebagaimana kisah dua malaikat yang berdebat untuk membawa ruh orang yang telah membunuh 100 jiwa.
·         Malaikat mampu berbicara.
وَلَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَى قَالُوا سَلَامًا قَالَ سَلَامٌ فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ . فَلَمَّا رَأَى أَيْدِيَهُمْ لَا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لَا تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمِ لُوطٍ
Para malaikat utusan yang datang bertamu kepada Nabi Luth a.s. berkata : “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang di antara kamu yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa adzab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?". QS : Huud[11]: 69-70.

·         Malaikat senantiasa taat.
وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَنْ عِنْدَهُ لا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلا يَسْتَحْسِرُونَ . يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لا يَفْتُرُونَ
Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih.  Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.Al Anbiyaa'[21]: 19-20.

·         Malaikat hidup di alam yang berbeda.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَتَجْتَمِعُ مَلَائِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلَائِكَةُ النَّهَارِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ.
 “Dan para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada shalat fajar (subuh).” HR. Bukhari 137 dan Muslim 632.
·         Malaikat tidak makan dan minum.

وَلَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَى قَالُوا سَلَامًا قَالَ سَلَامٌ فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ . فَلَمَّا رَأَى أَيْدِيَهُمْ لَا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لَا تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمِ لُوطٍ.

Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: "Salaman" (Selamat). Ibrahim menjawab: "Salamun" (Selamatlah), maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.
Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth." QS Hud[11]:69-70.
·         Malaikat diberi kekuatan Allah untuk menunaikan tugasnya.
Seperti misalnya sifat Jibril, dimana Nabi mengabarkan bahwa beliau shallallahu’alaihi wa sallam pernah melihat Jibril dalam sifat yang asli.
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى جِبْرِيلَ لَهُ سِتُّمِائَةِ جَنَاحٍ
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Jibril, dengan 600 sayap.” HR. Bukhari 3232 dan Muslim 174.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” QS At Tahrim[66]:6
فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ فَسَلَّمَ عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا.
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “…Malaikat (penjaga) gunung memanggilku, mengucapkan salam lalu berkata: ‘Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain’.” Yaitu Dua gunung besar di Mekkah, yaitu Gunung Abu Qubais dan Gunung Qu’aiqi’an
Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua”. HR Bukhari dan Imam Muslim.
فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ
“Tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Hud: 82).
Sifat malaikat pemikul Arsy yang berjumlah delapan.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "أُذِنَ لِي أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكٍ مِنْ مَلَائِكَةِ اللَّهِ مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ: أَنَّ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ إِلَى عَاتِقِهِ مَسِيرَةُ سَبْعِمِائَةِ عَامٍ" وصححه الألباني رحمه الله في «صحيح سنن أبي داود» (3953)
dari Jabir yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Telah diizinkan bagiku untuk menceritakan kepada kamu tentang malaikat-malaikat pemikul 'Arasy, bahwa jarak antara daun telinganya sampai ke lehernya sama dengan jarak yang ditempuh burung terbang selama tujuh ratus tahun. HR Abu Daud 3/895 di sahihkan Syaikh Al Bani 3953
  • Malaikat tidak terhitung jumlahnya.
Sifat malaikat yang lain adalah terkadang malaikat itu -dengan kekuasaan Allah- bisa berubah bentuk menjadi manusia, sebagaimana yang terjadi pada Jibril saat Allah mengutusnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengajarkan pada manusia apa itu Islam, Iman dan Ihsan. Demikian juga dengan para malaikat yang diutus oleh Allah kepada Ibrahim dan Luth ‘alaihimassalaam, mereka semua datang dalam bentuk manusia. Para malaikat adalah hamba-hamba Allah yang senantiasa mentaati apa yang diperintahkan oleh Allah dan tidak pernah mendurhakai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ، وَأَسْمَعُ مَا لَا تَسْمَعُونَ أَطَّتِ السَّمَاءُ، وَحُقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلَّا وَمَلَكٌ وَاضِعٌ جَبْهَتَهُ سَاجِدًا لِلَّهِ، وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا
Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kalian lihat, aku mendengar sesuatu yang tidak kalian dengar. Langit merintih… dan layak baginya untuk merintih. Tidak ada satu ruang selebar 4 jari, kecuali di sana ada malaikat yang sedang meletakkan dahinya, bersujud kepada Allah. Demi Allah, andaikan kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan sering menangis…” HR. Ahmad 21516, Turmudzi 2312,
Keempat, mengimani dengan apa yang kita ketahui tentang pekerjaan-pekerjaan mereka
Kita mengimani dengan apa yang kita ketahui tentang pekerjaan-pekerjaan mereka yang mereka tunaikan berdasarkan perintah Allah Ta’ala, seperti bertasbih (mensucikan Allah) dan beribadah kepada-Nya tanpa kenal lelah dan tanpa pernah berhenti. Di antara para malaikat, ada yang memiliki tugas khusus, misalnya:
  1. Jibril alaihissalaam yang ditugasi menyampaikan wahyu dari Allah kepada para Rasul-Nya alaihimussalaam.
  2. Mikail yang ditugasi menurunkan hujan dan menyebarkannya.
  3. Israfil yang ditugasi meniup sangkakala.
  4. Malaikat Maut yang ditugasi mencabut nyawa. Dalam beberapa atsar ada disebutkan bahwa malaikat maut bernama Izrail, namun atsar tersebut tidak shahih. nama yang benar adalah Malaikat Maut sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah ta’ala yang artinya: “Katakanlah: Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu.” QS. As-Sajdah[32]: 11
  5. Yang ditugasi menjaga amal perbuatan hamba dan mencatatnya, perbuatan yang baik maupun yang buruk, mereka adalah para malaikat pencatat yang mulia sebagaimana yang Allah sebutkan di dalam Al Quran Surat Qaaf[50]18. Adapun penamaan malaikat Raqib dan ‘Atid juga tidak memiliki dasar dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka kita menamakan malaikat sesuai dengan apa yang telah Allah namakan bagi mereka.
  6. Yang ditugasi menjaga hamba pada waktu bermukim atau bepergian, waktu tidur atau ketika jaga dan pada semua keadaannya, mereka adalah Al-Mu’aqqibat.
  7. Para malaikat penjaga surga. Ridwan merupakan pemimpin para malaikat di surga
  8. Malaikat Malik yang merupakan pimpinan dari sembilan belas malaikat penjaga neraka (Surat Al-Muddaththir 74:30)
  9. Para malaikat yang diserahi untuk mengatur janin di dalam rahim. Jika seorang hamba telah sempurna empat bulan di dalam perut ibunya, maka Allah ta’ala mengutus seorang malaikat kepadanya dan memerintahkannya untuk menulis rezekinya, ajalnya, amalnya dan sengsara atau bahagianya.
  10. Malaikat Nungkar dan Nangkir, yang diserahi untuk menanyai mayit ketika telah diletakkan di dalam kuburnya. Ketika itu, dua malaikat mendatanginya untuk menanyakan kepadanya tentang Rabb-nya, agamanya dan nabinya.
  11. Malaikat pemikul Arsy yang berjumlah delapan.
Kesalahan-Kesalahan
Terdapat kesalahan-kesalahan yang merusak keimanan kepada malaikat. Bahkan bisa jadi kesalahan itu membawa kepada kekufuran . Oleh karena itulah, kita berlindung kepada Allah agar tidak terjatuh dalam kesalahan tersebut. Beberapa kesalahan diantaranya adalah:
  1. Mengatakan bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah. Sungguh inilah yang juga dikatakan kaum musyrikin. Maha Suci Allah dari anggapan ini. Hal ini terdapat dalam firman-Nya, yang artinya, “Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha Suci Allah, sedang untuk mereka sendiri apa yang mereka sukai.” QS. An-Nahl [16]: 57
  2. Beribadah kepada para malaikat. Padahal jika mereka mau merenungi ayat-ayat Al-Qur’an, akan jelas ditemukan bahwa para malaikat itu sendiri hanya menyembah kepada Allah semata. Walaupun mereka diberi berbagai kelebihan oleh Allah, mereka tetaplah makhluk Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya-lah mereka bersujud.” QS. Al A’raaf [7]: 206
  3. Menamakan para malaikat dengan nama-nama yang tidak ditetapkan oleh Allah ta’ala dalam Al-Qur’an dan tidak disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Seperti misalnya menamakan malaikat maut dengan nama Izroil, malaikat pencatat amal dengan Roqib dan ‘Atid.
  4. Mengatakan bahwa malaikat-malaikat adalah pembantu Allah. Maha Suci Allah dari perkataan seperti ini. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia-lah yang menciptakan para malaikat tersebut. Dan segala makhluk yang diciptakan Allah adalah membutuhkan Allah. Malaikat-malaikat tersebut pun melaksanakan tugas-tugasnya karena diperintah oleh Allah dan diberi kemampuan untuk melaksanakannya. Kesalahan anggapan ini adalah termasuk dari kesalahan pemahaman karena menyamakan Allah dengan mahluk, dalam hal ini adalah menyamakan Allah dengan kondisi para raja yang membutuhkan pembantu-pembantu untuk melaksanakan pekerjaannya. Dan ini termasuk dalam hakikat kesyirikan.
Buah Keimanan Kepada Malaikat
Beriman kepada para malaikat memiliki pengaruh yang agung dalam kehidupan setiap mukmin, di antaranya dapat kita sebutkan:
  1. Mengetahui keagungan, kekuatan serta kesempurnaan kekuasaan-Nya. Sebab keagungan (sesuatu) yang diciptakan (makhluk) menunjukkan keagungan yang menciptakan (al-Khaliq). Dengan demikian akan menambah pengagungan dan pemuliaan seorang mukmin kepada Allah, di mana Allah menciptakan para malaikat dari cahaya dan diberiNya sayap-sayap.
  2. Senantiasa istiqomah (meneguhkan pendirian) dalam menaati Allah ta’ala. Karena barangsiapa beriman bahwa para malaikat itu mencatat semua amal perbuatannya, maka ini menjadikannya semakin takut kepada Allah, sehingga ia tidak akan berbuat maksiat kepada-Nya, baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi.
  3. Bersabar dalam menaati Allah serta merasakan ketenangan dan kedamaian. Karena sebagai seorang mukmin ia yakin bahwa bersamanya dalam alam yang luas ini ada ribuan malaikat yang menaati Allah dengan sebaik-baiknya dan sesempurna-sempurnanya.
  4. Bersyukur kepada Allah atas perlindungan-Nya kepada anak Adam, dimana ia menjadikan sebagian dari para malaikat sebagai penjaga mereka.
  5. Waspada bahwa dunia ini adalah fana dan tidak kekal, yakni ketika ia ingat Malaikat Maut yang suatu ketika akan diperintahkan untuk mencabut nyawanya. Karena itu, ia akan semakin rajin mempersiapkan diri menghadapi hari Akhir dengan beriman dan beramal shalih.
Maraji’:
  1. Pelajaran Tauhid untuk Tingkat Lanjutan. Darul Haq.
  2. Syarah Ushul Atsalatsah. Syaikh Fauzan. (terjemahan)
  3. Syarh Tsalatsatul Ushul. Syaikh Muhammad ibn Sholih Al ‘Utsaimin.

BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.

  BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.     س ١ - بِمَاذَا نَتَوَسَّلُ إِلَى اللَّهِ؟ Soal 1 : Dengan apa kita bertawassul...