Selasa, 12 Maret 2024

MENGAPA RUKYATUL HILAL BERBEDA-BEDA.

 


 

Kenapa kita harus mengikuti negri kita masing-masing.

Hadits berikut ini semoga bisa menjadi jawaban bagi orang-orang yang menghendaki dalil, dan merindukan kebenaran.

Telah menceritakan kepadaku Muhammad (yakni Ibnu abi Harmalah) dari Kuraib dia berkata:

أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ بَعَثَتْهُ إِلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ، قَالَ: فَقَدِمْتُ الشَّامَ، فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا، وَاسْتَهَلَّ عَلَيَّ رَمَضَانُ وَأَنَا بِالشَّامِ، فَرَأَيْنَا الْهِلالَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ، فَسَأَلَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ، ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلَالَ، فَقَالَ: مَتَى رَأَيْتُمُ الْهِلَالَ؟ فَقُلْتُ: رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ. فَقَالَ: أَنْتَ رَأَيْتَهُ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوا، وَصَامَ مُعَاوِيَةُ. فَقَالَ: لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ، فَلَا نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكَمِّلَ ثَلَاثِينَ أَوْ نَرَاهُ. فَقُلْتُ: أَوَلَا تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ؟ فَقَالَ: «لَا، هَكَذَا أَمَرَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

“Sesungguhnya Ummu Fadl binti Al-Haarits telah mengutusnya menemui Mu’awiyah di Syam (dalam satu keperluan). Berkata Kuraib : Lalu aku datang ke Syam, kemudian aku selesaikan semua keperluannya. Dan tampaklah olehku bulan (hilal) Ramadhan, sedang aku masih di Syam, dan aku melihat hilal (Ramadhan) pada malam Jum’at. Kemudian aku datang ke Madinah pada akhir bulan (Ramadhan), lalu Abdullah bin Abbas bertanya ke padaku ia menyebutkan tentang hilal, ia bertanya: “Kapan kamu melihat hilal (Ramadlan) ?.”

Jawabku : “Kami melihatnya pada malam Jum’at.”

Ia bertanya lagi : “Engkau melihatnya (sendiri) ?”

Jawabku : “Ya,  Dan orang banyak juga melihatnya, lalu mereka berpuasa dan Mu’awiyah juga berpuasa.”

Ia berkata : “Tetapi kami melihatnya (di Madinah) pada malam Sabtu, maka kami akan terus berpuasa sampai kami sempurnakan tiga puluh hari, atau sampai kami melihat hilal (bulan Syawwal).“ Aku bertanya : “Apakah tidak cukup bagimu ru’yah (apa yang di lihat penduduk Syam) dan puasanya Mu’awiyah ?

Jawabnya : “Tidak ! Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah memerintahkan kepada kami.” ( HR. Muslim 1087, Ahmad 2789, Tirmidzi 693, Baihaqi 8205, Darukuthni 2211).

Hadits ini tidak diragukan lagi keshahihannya oleh pakar hadits.

 

Imam Muslim membuat Bab.

باب بيان أن لكل بلد رؤيتهم وأنهم إذا رأوا الهلال ببلد لا يثبت حكمه لما بعد عنهم.

Berkata penulis rahimahullah ta’ala, Bab “Penjelasan setiap negri mereka memiliki rukyah, apa bila mereka melihat hilal pada satu negri, tidak berlaku hukumnya bagi negri yang jauh dari mereka,”

Maksudnya negri yang jauh dari mereka tidak diwajibkan dengan mengikuti rukyahnya.”

يقول الإمام النووي رحمه الله: (حديث كريب وابن عباس ظاهر الدلالة للترجمة، يعني: أن لكل بلد رؤيتهم، وأنهم إذا رأوا الهلال ببلد لا يثبت حكمه لما بعد عنهم) وأنا أؤكد على قوله: (لما بعد عنهم)؛ لأن المذهب الراجح الذي يترجح لدينا: هو أن أهل بلد إذا رأوا الهلال لا يثبت حكمه لمن اختلفوا معهم في الليل والنهار.

قال: (والصحيح عند أصحابنا -أي: عند الشافعية- أن الرؤية لا تعم الناس) يعني: المذهب الراجح عند الشافعية أن الرؤية لا تعم الناس، بل تختص بمن قرب.

Berkata imam Nawawi rahimahullah, “ Hadits Kuraib dan Ibnu Abbas ini, Nampak dalil penjelasannya, yaitu, bahwasanya setiap negri mereka memiliki rukyah, bahwasanya apa bila mereka melihat hilal pada satu negri tidak mengharuskan negri lain mengikuti hukumnya bila jauh dari mereka.”

Abul Asybal Hasan Az-zhuhairi (pensyarah hadits ini) berkata:

Aku menguatkan perkataanya, “ negri yang jauh dari mereka” karena pendapat yang kuat yang kami pegangi bahwasanya penduduk negri apabila mereka telah melihat hilal, tidak berlaku hukumnya bila telah berbeda siang dan malamnya.”

Beliau berkata, “yang benar menurut sahabat-sahabat kami, (menurut pengikut imam Syafi’i), bahwa rukyah tidak untuk seluruh manusia.

Maksudnya  pendapat yang rajih menurut pengikut imam Syafi’i bahwasanya rukyah tidak untuk manusia seluruhnya secara umum, akan tetapi khusus bagi yang dekat.” (Syarah Imam Muslim, Abul Asybal Hasan Az-zhuhair).

Diantara penjelasan yang bisa kita ambil dari hadits ini:

1.   Perkataan Ibnu Abbas, “Tetapi kami melihatnya pada malam sabtu.” Maksudnya, penduduk Madinah melihat hilal Ramadhan pada malam Sabtu, sehari sesudah penduduk Syam yang melihatnya pada malam Jum’at.

Maka Ibnu Abbas berkata, “Senantiasa kami akan berpuasa sampai kami sempurnakan tiga puluh hari”, maksudnya : Kami terus berpuasa, jika hilal tertutup awan dan tidak terlihat oleh kami hilal Syawwal, sehingga kami sempurnakan bilangan Ramadhan menjadi tiga puluh hari, hal ini sebagaimana diperintahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

فَصُومُوا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ ثَلَاثِينَ.

“Apabila kamu melihat hilal (Ramadhan) maka puasalah, dan apabila kamu melihat hilal (yang mendai masuknya bulan Syawwal) maka berbukalah, tetapi jika awan menutup kalian, maka berpuasalah tiga puluh hari.” (HR. Muslim 1080, Ahmad 10451).

2.   Perkatan Kuraib “Apakah tidak cukup bagimu ru’yah (apa yang di lihat penduduk Syam) dan puasanya Mu’awiyah ? pertanyaan Kuraib ini sebagaimana pertanyaan umat saat ini, apakah tidak cukup dengan Rukyahnya (melihat hilalnya) salah satu negri yang sudah melihat hilal, atau Saudi yang sudah melihat hilal.

 

3.   Ibnu Abbas menjawab: “Tidak ! Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah memerintahkan kepada kami.”

Ini menunjukkan Sunnah ini datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, adapun orang yang meninggalkan rukyah dan tidak menerima perbedaan mathla’ mereka menuduh Ibnu Abbas ini berdusta dan mengalihkannya dengan anggapan ijtiad beliau, tentu pendapat seperti ini tidak benar, karena beliau adalah ulama umat ini.

Adapun pendapat imam As-Syaukani (rahimahullah) di dalam Nailul Autar, itu ijtihad beliau, yang mengatakan, Ibnu Abbas telah berijtiad, telah dijelaskan para ulama bahwa itu tidak benar.

 

Dari jarak Indonesia dengan Arab Saudi tentu lebih bisa dimaklumi adanya perbedaan, yang perlu diketahui bahwa permulaan tangal atau hari dimulai dari matahari terbenam, sehingga Indonesia waktunya lebih dulu dari Saudi dengan selisih hampir 5 jam, seandainya kita samakan harinya justru kita telah mendahului mereka. Oleh karena mengikuti mereka yaitu berada dibelakang waktu mereka. Allahu ‘alam bis shawab.

 

 

-----000-----

 

 

 

Sragen 13-03-2023

Junaedi Abdullah.

 

 

 

 

Jumat, 08 Maret 2024

BAGAIMANA KITA MENGHIDUPKAN BULAN RAMADHAN.

 


Banyak orang yang tidak memahami bahwa bulan Ramadhan adalah bulan mulia, di mana pahala melimpah ruah bagi orang-orang yang beramal.

Oleh karena itu hendaknya kita menghidupkan bulan Ramadhan.

Bagaimana cara kita menghidupkan bulan Ramadhan..?

1.   Puasa.

Hendaknya berpuasa dan mengetahui hukum seputar puasa.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah[2]:183).

Dari Abu ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ.

Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah; menunaikan shalat; menunaikan zakat; menunaikan haji ke Baitullah; dan berpuasa Ramadhan.” (HR. Bukhari 8, Muslim 5).

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR. Bukhari 38, Muslim 760)

Adapun hukum seputar puasa seperti wajibnya niat dimalam hari di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الفَجْرِ، فَلَا صِيَامَ لَهُ .

“Barangsiapa yang belum berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Tirmidzi 730, Abu Dawud 2454 dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahih Abu Dawud 2118).

Beliau juga mengatakan:

لَا يَصِحُّ الصَّوْمُ إِلَّا بِالنِّيَّةِ، وَمَحَلُّهَا الْقَلْبُ. وَلَا يُشْتَرَطُ النُّطْقُ بِلَا خِلَافٍ.

“Tidak sah puasa kecuali dengan niat, dan tempatnya adalah hati. Dan tidak disyaratkan harus diucapkan, tanpa ada perselisihan ulama…” (Raudhatu at-Thalibin wa ‘Amdatul muftiin, 2/350).

Tidak merusak puasa dengan perbuatan buruk, seperti berdusta, berbicara kotor dan perbuatan keji.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari 1903). 

 

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ.

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh al Albani berkata shahih di dalam Shohih At Targib wa At Tarhib  1082).

 

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ.

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah, Nasa’i 3236, di shahihkan Syaikh al Albani dalam Shahih At Targib wa At Tarhib 1083)

Termasuk mengetahui perkara-perkara yang tidak membatalkan puasa.

Seperti :

Makan karena lupa, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersbda:

مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ, فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ, فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ, فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اَللَّهُ وَسَقَاهُ.

“Barangsiapa yang lupa sedang ia dalam keadaan puasa lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan puasanya karena kala itu Allah yang memberi ia makan dan minum.” (HR. Bukhari 1933, Muslim 1155).

Mengetahui orang-orang yang mendapat keringanan.

Allah ta’ala berfirman:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ.

“Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah[2]:184).

Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma berkaitan dengan ayat di atas:

 

قَالَ كَانَتْ رُخْصَةً لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ وَالْمَرْأَةِ الْكَبِيرَةِ وَهُمَا يُطِيقَانِ الصِّيَامَ أَنْ يُفْطِرَا وَيُطْعِمَا مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَالْحُبْلَى وَالْمُرْضِعُ إِذَا خَافَتَا أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا. وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهُ فِدْيَة طَعَامُ مِسْكِيْن.

Beliau berkata, “Ayat ini memberikan keringanan kepada orang tua renta, baik laki maupun  perempuan, apabila merasa berat berpuasa dia boleh berbuka dan memberi makan satu orang miskin untuk sehari yang ditinggalkan. Wanita mengandung dan menyusui kalau keduanya khawatir juga boleh berbuka dan (sebagai gantinya) memberi makan (orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan).” (HR. Abu Dawud 2318, Al-Muntaqa Ibnul Jarud 381, Baihaqi 1351, lihat Irwa’ syaikh al-Albani, 4/18).

Kesimpulannya, sebab-sebab yang membolehkan tidak puasa ada empat, safar, sakit, haid dan nifas, kuatir celaka, seperti orang hamil dan menyusui. (Fikih Muyassar).

2.   Shalat Qiyamul lail dan qiyamur Ramadhan (tarwih).

Asalnya shalat tarwih adalah qiyamul lail yang dilakukan Rasullah selama tiga malam berturut-turut, namun beliau kuatir jika hal itu akan menjadikan wajib sehingga beliau berhenti.

Ketika masa kekhalifahan Umar bin khatab kekuatiran itu telah hilang karena wahyu telah terputus, maka khalifah Umar bin Khatab melakukannya.

Allah ta’ala berfirman:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا.

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” ( QS Al-Isra’ [17]:79).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarwih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari 37, Muslim 759).

Shalat sunnah malam hari dan siang hari asalnya satu kali salam setiap dua rakaat. Berdasarkan keterangan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah shalat malam itu?” Beliau menjawab:

مَثْنىَ مَثْنىَ فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ

“Dua rakaat, dua rakaat. Apabila kamu khawatir mendapati subuh, maka hendaklah kamu shalat witir satu rakaat.”(HR. Bukhari 1137, Muslim 749 ).

Dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu yang lain dikatakan:

صَلاَةُ اللَّيْلِ وَ لنَّهَارِ رَكْعَتَانِ رَكْعَتَانِ

“Shalat malam hari dan siang hari itu dua rakaat – dua rakaat.” (HR Ibn Abi Syaibah) (At-Tamhiid, 5/251; Al-Hawadits, 140-143; Fathul Bari’ 4/250; Al-Muntaqo 4/49-51).

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ.

“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Al Irwa’ 447). 

Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh An Nawawi. (Syarh Muslim, 3/101)

Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah menghidupkan malamnya dengan ‘ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. (ta’liq Musthafa al-Bagha’ pada Shahih Bukhari 1904-1905).

 

3.   Dianjurkan memperbanyak sedekah.

Allah ta’ala berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ.

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas dan Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah[2]:161).

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ.

“Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Ahmad 7206, Muslim 2588).

Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau bertambah kedermawanannya di bulan Ramadlan ketika bertemu dengan malaikat Jibril, dan Jibril menemui beliau di setiap malam bulan Ramadlan untuk mudarosah (mempelajari) Al Qur’an” (HR. Ahmad 2616, Al Bukhari 3220).

Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

 

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، إِلَّا أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ.

“Barangsiapa yang memberi buka orang puasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun.” (HR. Ahmad 17033, Tirmizi 807, Ibnu Majah, 1746, dishahihkan syaikh al-Albani di dalam shahih Al-Jami’, 6415).

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ.

“Infakkanlah sebagian dari apa yang Aku berikan kepada kalian, sebelum kematian mendatangi kalian, kemudian dia berkata: “Ya Rab, andai Engkau menunda ajalku sedikit saja, agar aku bisa bersedekah dan aku menjadi orang shaleh.” (QS. Al Munafiqun[63]: 10).

Allah ta’ala memerintahkan kepada kita agar bersedekah dengan harta yang kita cintai.

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ.

“Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan, sampai kalian infakkan apa yang kalian cintai.” (QS. Ali Imran[3]: 92).

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العِبَادُ فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.

“Setiap datang waktu pagi, ada dua malaikat yang turun dan keduanya berdoa. Malaikat pertama memohon kepada Allah, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang memberi nafkah’, sementara malaikat satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikan kehancuran bagi orang yang pelit.’ (HR. Bukhari 1442 Muslim 1010).

 Sebagian salaf berkata: “Kalau sekiranya saya mengundang sepuluh dari teman-temanku, kemudian memberikan makanan yang disukainya. Itu lebih saya sukai dibandingkan dengan memerdekakan sepuluh budak dari anak Ismail. Dahulu banyak dari kalangan salaf lebih mendahulukan memberi buka puasa sementara dia masih dalam kondisi berpuasa. Diantaranya Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, Dawud At-Thai, Malik bin Dinar dan Ahmad bin Hanbal dan lainnya. Bahkan Abdullah bin Umar tidak berbuka melainkan bersama orang-orang yatim dan orang miskin karena mengetahui keluarganya menolak kedatangan mereka. (Kaifa na’isyu Ramadhan, Syaikh Abdullah As-Shalih).


4.   Memperbanyak bacaan Al-Qur’an.

Allah ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ.

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. (QS. Fathir[35]: 29).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

قَالَ قَتَادَةُ: كَانَ مُطَرف، رَحِمَهُ اللَّهُ، إِذَا قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ يَقُولُ: هَذِهِ آيَةُ الْقُرَّاءِ .

“Qatadah rahimahullah berkata, “Mutharrif bin Abdullah (Tabi’in, wafat 95H) jika membaca ayat ini beliau berkata: “Ini adalah ayat orang-orang yang suka membaca Al Quran” (Tafsir Ibnu Katsir QS. Fatir[34]:29).

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ.

“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus[10]:57)

Manfaat membaca Al Qur’an.

Al-Qur’an akan menentramkan hatinya, mengobati jasmani maupun rahaninya.

ﻭَﻧُﻨَﺰّﻝُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَﺂﺀٌ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔٌ ﻟّﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻭَﻻَ ﻳَﺰِﻳﺪُ ﺍﻟﻈّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﺇَﻻّ ﺧَﺴَﺎﺭﺍً.

Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al-Israa’ [17]: 82).

Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi rahimahullah berkata:

 “Obat yang mencakup obat bagi penyakit jiwa dan raga, seperti keraguan, kemunafikan, dan perkara lainnya. Bisa menjadi obat bagi jasmani jika dilakukan ruqyah kepada orang yang sakit. Sebagaimana kisah seseorang yang terkena sengatan kalajengking diruqyah dengan membacakan Al-Fatihah. Ini adalah kisah yang shahih dan masyhur” (HR. Bukhari dan Muslim) (Tafsir Adhwaul Bayan, QS Al-Isra’ [17]:82).

Adapun Ath-Thabari rahimahullah mengatakan: Al-Qur’an Obat dari kejahilan dan kesesatan. (Tafsir Ath Thabari, QS. Al –Isra’[17]:82).

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ .

 Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kebaikan semisalnya, aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi 2910, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’ 6469).

Orang-orang shalih dahulu menyibukkan diri dengan Al-Qur’an.

Malaikat Jibril memperdengarkan Al-Qur'an kepada Rasulullah pada bulan Ramadhan. Utsman bin Affan mengkhatamkan Al-Qur'an setiap hari pada bulan Ramadhan. Sebagian Salafus Shalih mengkhatamkan Al-Qur'an dalam shalat Tarawih setiap tiga malam sekali. Sebagian lagi setiap tujuh malam sekali. Sementara sebagian lainnya mengkhatamkannya setiap sepuluh malam sekali. Mereka selalu membaca Al-Qur'an baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Bahkan Imam asy-Syafi'i dapat mengkhatamkan Al-Qur'an sebanyak enam puluh kali di luar shalat dalam bulan Ramadhan. Sementara al-Aswad mengkhatamkannya setiap dua hari sekali. Adapun Qatadah selalu mengkhatamkannya setiap tujuh hari sekali di luar Ramadhan, sedangkan pada bulan Ramadhan beliau mengkhatamkannya setiap tiga hari sekali. Dan pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan beliau mengkhatamkannya setiap malam. Pada bulan Ramadhan Imam az Zuhri menutup majlis-majlis hadits dan majlis-majlis ilmu yang biasa diisinya. Beliau mengkhususkan diri membaca al-Qur'an dari mushhaf. Demikian pula Imam ats-Tsauri, beliau meninggalkan ibadah-ibadah lain dan mengkhususkan diri untuk membaca al-Qur'an.

(Kaifa na’isyu Ramadhan, Syaikh Abdullah As-Shalih).

5.   Tetap duduk dimasjid hingga matahari terbit agak naik.


Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ .

Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian dia duduk di mesjid untuk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian dia shalat dua rakaat, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna sempurna sempurna.“ (HR. Tirmidzi 586, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu-Al Jami’ 6346).

 

6.   Mencari malam lailatul Qadhar.

Allah ta’ala berfirman:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ . تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ . سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ.

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr[97]:3-5).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

 

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari 1901, Ahmad 8576, Nasai 2193).

 

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ القَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ: قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdo’alah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, Engkau Maha pemberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf karenanya maafkanlah aku, yaitu ampunilah aku).” (HR. Tirmidzi 3513, Ibnu Majah 3850 dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Al- Misykah 2019).

 

7.   I’tikaf di masjid.

Itikaf secara bahasa yaitu:

 

حَبْسُ النَّفْسِ عَنْ التَّصَرُّفَاتِ الْعَادِيَّةِ

“Menahan diri dari berbagai kegiatan yang rutin dikerjakan”
Allah ta’ala berfirman:

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ.

“Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud.” (QS. Al Baqarah[2]: 125).


Hadits dari Ummu al-Mukminin, ‘Aisyah radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian para istri beliau beri’tikaf sepeninggal beliau.” (HR. Bukhari 2026, Muslim 1172, Ahmad 24613).

 

8.   Banyak-banyak bertaubat.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang” (QS. Az-Zumar: 53).

تُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung” (QS. An-Nur: 31).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya.” (QS.At-Tahrim[66]:8).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي اليَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً.

“Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari 6037).

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apa yang aku baca bila aku menjumpai malam lailatul qadar?” beliau menjawab, “Berdo’alah ”:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى.

“Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf karena itu maafkanlah aku.” (HR. Ahmad 25496, Tirmidzi 3513, Ibnu Majah 3850 dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam As-Shahihah 1011-1012).

 

 

-----000-----

 

 

Sragen 08-03-2024

Junaedi Abdullah

BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.

  BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.     س ١ - بِمَاذَا نَتَوَسَّلُ إِلَى اللَّهِ؟ Soal 1 : Dengan apa kita bertawassul...