Selasa, 01 Agustus 2023

TABARRUK ANTARA YANG DISYARI’ATKAN DAN KESYIRIKAN.

 



 

Jauhnya masa diutusnya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan kaum muslimin banyak yang tidak lagi memperhatikan perkara-perkara pokok di dalam agama ini.

Sampai-sampai pada masalah bahayanya kesyirikan, dimana seseorang tidak lagi bisa membedakan antara tabarruk (mencari berkah) yang dibolehkan maupun yang terlarang.

Fenomena ini ternyata melanda umat-umat di mana-mana, tak terkecuali pada masyarakat kita ini, baik orang awamnya maupun yang dianggap berilmu.

Oleh karena itu kita akan sedikit membahas permasalahan ini secara ringkas in syaa Allah (bi ‘idznillah).

1.   Pengertian berkah.

Menurut bahasa, berkah (بركة), artinya nikmat (Kamus Al-Munawwir).
Sedangkan makna berkah menurut istilah, النَّمَاءُ وَالزِّيَادَةُ tumbuh dan berkembang.(lisanul Arab). Ada juga definisi lain yang disebutkan para ulama.

Dari berbagai makna diatas dapat disimpulkan bahwa keberkahan yaitu, tambahan, kelebihan, ketetapan maupun kekekalan sebuah kebaikan dengan berbagai macam bentuk yang Allah berikan. Wallahu a’lam.

2.   Orang-orang yang tabarruk (mencari berkah).

Hukum tabarruk (mencari berkah) ada tiga macam, yaitu:

Pertama : Sesuai syar’i.

Kedua : bid’ah.

Ketiga : Syirik.

Pertama : Tabarruk (mencari berkah) yang di syari’atkan.

Adapun tabarruk (mencari berkah) yang disyari’atkan ada 2 yaitu:

Pertama : Tabarruk yang berkaitan dengan dzat.

Seperti, Tabarruk dengan air zam-zam, kurma, zaitun, madu, 

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ مَاءٍ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ مَاءُ زَمْزَمَ، فِيْهِ طَعَامُ الطَّعْمِ، وَشِفَاءُ السَّقْمِ.

”Sebaik-baik air yang terdapat di muka bumi adalah zam-zam. Di dalamnya terdapat makanan yang mengenyangkan dan penawar penyakit.” (HR. Thabrani di dalam Mu’jam al-Ausath 3912,di hasankan Syaikh al-Albani di dalam As-Shahihah 1056).

Keberkahan kurma, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ، وَلَا سِحْرٌ.

“ Barangsiapa di pagi hari memakan tujuh butir kurma ajwa, maka ia tidak akan terkena racun dan sihir pada hari itu.”(HR. Bukhari 5779, Muslim 2047).

Adapun tabarruk (mencari barakah) dengan peninggalan Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam ada dua macam yaitu:

1)   Mengamalkan sunnah Beliau.

Tabarruk dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan mengamalkannya. Yang dimaksud dengan sunnah di sini adalah seluruh ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sesungguhnya dalam setiap ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada barakah dan kebaikan yang sangat banyak. Seandainya manusia mau mengamalkannya, akan menjadi keselamatan dan kebaikan yang yang besar.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي.

“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara, kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnahku.” (HR. Al-Hakim di dalam mustadraknya 319, Disahihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam Sahihul Jami’ 2937).

2)   Peninggalan Beliau.

Peninggalan Beliau seperti pakaian Beliau, rambut Beliau, bejana atau tempat minum Beliau dan lain-lain yang masih terkait dengan diri Beliau.

Umu salamah menyimpan rambut Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ditempatkan di bejana yang terbuat dari perak, apabila ada sahabat yang sakit maka rambut tersebut direndam dengan air kemudian diminumkan kepada orang yang sakit kemudian dengan ijin Allah sembuh. (lihat Syarah Riyadhus Shalihin bab Tahrimi Inaaidz dzahabi wa inaail fidhdzati, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin)

Ke dua : Tabarruk (mencari berkah) secara maknawi.

Tabarruk dengan amalan, seperti membaca Al-Qur’an, shalat, membaca Bismillah.

Allah ta’ala berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ .

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Qs. Shaad [38]: 29)

Tabarruk dengan tempat seperti shalat di Masjidil haram, masjid Nabawi, dan masjidil Aqsha, begitu pula Makkah dan Madinah itu sendiri.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ.

“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami.. (QS. Al-Isra’[17]:1).

Tabarruk dengan waktu, malam Lailatul Qadar, I'tikaf di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ.

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.” (Qs. Ad-Dukhan[44] : 3

Semua ini merupakan barakah maknawi, untuk mendapatkan kebarakahnya hendaknya seseorang melakukan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Ke dua : Tabarruk yang bid’ah.

Tabarruk kepada makhluk dengan keyakinan bahwa hal itu dapat mendatangkan pahala karena telah mendekatkan pada Allah, namun dirinya tetap meyakini bahwa pemberian manfaat dan menolak madharat hanya Allah ta’ala bukanlah makhluk tersebut.

Seperti tabarruk yang dilakukan orang jahil dengan mengusap-usap kain ka’bah, dengan menyentuh dinding ka’bah, dengan menyentuh maqam Ibrahim dan hujrah nabawiyah, atau meminum air di suatu tempat dimana di yakini air itu berbeda dengan yang lainnya, ini semua dilakukan dalam rangka meraih berkah dari Allah, tabarruk semacam ini adalah tabarruk yang bid’ah (tidak ada tuntunannya dalam ajaran islam), bahkan bisa menghantarkan kepada kesyirikan.

Adapun terhadap orang shalih hendaknya di rinci, jika mencari barakah kepada mereka dengan mengambil ilmunya, mengamalkan petunjuknya yang benar hal ini dibenarkan, adapun yang dimaksud tabarruk dengan orang shalih dengan dzat mereka seperti keringat mereka, air bekas minum mereka, air wudhu mereka, pakaian mereka, tempat yang mereka singgahi (petilasan), maka hal ini adalah perkara yang tidak benar, sebagaimana hal ini telah dijelaskan banyak para ulama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan, demikian pula para sahabat tidak pernah melakukan hal itu kepada selain Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah sallallahu’alaihiwa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

“Barangsiapa yang menciptakan dalam perkara kami ini apa-apa yang bukan merupakan bagian darinya, maka hal tersebut ditolak.” “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak. (HR. Bukhari 2697, Muslim 1718).


Ke tiga : Tabarruk yang syirik.

Tabarruk yang syirik yaitu mengharapkan keberkahan kepada makhluk seperti kuburan, pohon, batu yang dianggap keramat, maka seperti ini termasuk syirik akbar (syirik besar). Karena perbuatan semacam ini sebagaimana perbuatan orang musyrik dahuulu yang mereka lakukan pada berhala atau sesembahan mereka.

Oleh karena itu syaikh Muhammad bin Abdul Wahab di dalam kitab Tauhid, bab yang ke 9, beliau membawakan firman Allah ta’ala:

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ . وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ . أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَىٰ . تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ  .إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ.

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Lata dan al Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk (menyembah)nya. Mereka hanya mengikuti dugaan, dan apa yang diingini oleh keinginannya. Padahal sungguh, telah datang petunjuk dari Tuhan mereka.(QS. An-Najm [53]: 19-23).

Ayat ini menunjukkan pengingkaran terhadap orang musyrik Qurais dimana mereka mengagungkan Lata, ‘Uzza dan Manat  bahwa berhala tersebut dapat mendatangkan keberkahan.

Latta adalah batu yang diukir, dahulu dia adalah seorang penumbuk gandum yang diberikan kepada orang berhaji.

‘Uzza adalah pohon yang dinaungi tirai, dan takbir yang berada di Thaif.

Adapun Manah terletak di musyalal daerah Qadid antara Makkah dan Madinah. (tafsir Ibnu Katsir QS-An-Najm[53]:10-23).

“Dari Abu Waqid al-Laitsi radhiyallahu’anhu, dia menceritakan:

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحُنَيْنٍ وَنَحْنُ حَدِيثُو عَهْدٍ بِكُفْرٍ فَمَرَرْنَا عَلَى شَجَرَةٍ يَضَعُ الْمُشْرِكُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ يُقَالُ لَهَا: ذَاتُ أَنْوَاطٍ فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ فَقَالَ: " اللَّهُ أَكْبَرُ قُلْتُمْ كَمَا قَالَ أَهْلُ الْكِتَابِ لِمُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ {اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ} [الأعراف: 138] " ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّكُمْ سَتَرْكَبُونَ سَنَنَ مَنْ كَانَ قلَكُمْ.

“Kami keluar bersama Rasulullah sallallhu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain, sedang kami baru saja meningalkan kekafiran, kami melewati sebuah pohon dimana orang-orang musyirik menggantungkan pedang-pedang mereka, pohon tersebut dinamakan, “Dzatu Anwath”, mereka menggelantungkan senjata-senjata mereka pada pohon tersebut. Lalu, kami berkata, “wahai Rasulullah jadikanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.” Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Allahu akbar, kalian telah mengatakan seperti perkataan ahli kitab kepada Musa ‘jadikanlah untuk kami ilah(sembahan) seperti halnya mereka mempunyai ilah(QS. Al-A’raf[7]:138), sesungguhnya kalian akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kalian.” (HR. Abu Dawud 1443, Tirmidzi 2180 di sahihkan Syaikh al-Albani di dalam al-Miyskah 5369).

Dari pelajaran di atas kita mengetahui bahwasanya orang-orang musyrik menjadikan pohon dan batu untuk disembah, dengan menjadikannya wasilah ataupun diambil bearakahnya.

3.   Kekliruan sebagian kaum muslimin.

Kaum muslimin saat ini mereka ikut-ikutan apa yang dilakukan orang-orang jahil, mereka turut mendatangi tempat-tempat yang dianggap mendatangkan barakah apa yang tidak ada dasarnya sama sekali dari Al-Qur’an maupun Hadits.

Diantara bentuk mereka tabarruk (mencari berkah) sebagian kaum muslimin yaitu :

Pada tempat-tempat tertentu seperti: kuburan dimana sekarang banyak dijadikan wisata, Alas purwa (pepohon yang dianggap keramat), punden (batu yang ditata), gunung (seperti gunung kawi, gunung kemukus Merapi dll), pantai selatan, gua atau sumur yang dikeramatkan, patung-patung, sungai tempuran dan lain-lain.

Waktu seperti: kebiasaan orang-orang untuk melakukan ritual dibulan Sura, cuci gaman, kirab kerbau, naik kepuncak gunung, maupun di pantai-pantai, ditempat-tempat dan pada waktu itu dianggab bisa mendatangkan keberkahan.

Pada hewan sepert: dianggap dapat mendatangkan manfaat dan menjauhkan madharat, seperti sapi sebagaimana hal ini terjadi di India, kerbau di Indonesia, burung, ular, kucing, dan lain-lain.

 

Pada benda seperti:  seperti keris, akik, tombak, sabuk, kulit hewan, tulang, taring, batu dan lain-lain, dimana benda-benda ini pada saat tertentu diberi saji berupa minyak wangi ataupun bunga, kemudian diyakini hal itu dapat mendatangkan manfaat dan menolak madharat.

Perbuatan diatas merupakan perbuatan yang menjerumuskan pelakunya di dalam kesyirikan.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ.

“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, Maka Sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Yunus [10]: 106).

4.   Bahaya dan keburukan yang ditimbulkan oleh kesyirikan.

 

1)   Apa bila mati dalam keadaan musyrik, maka pelakunya akan kekal di dalam neraka.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”(QS. An Nisaa [4]: 48)

 

2) Menghapuskan pahala amal kebaikan seseorang.

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

“Dan Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar [39]: 65)

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang Telah mereka kerjakan.” (QS. Al An’am [6]: 88)

3) Kemusyrikan sumber  petaka di dunia dan akhirat.

Sebagaimana banyak di sebutkan bahwa umat-umat terdahulu mereka dihancurkan karena mereka menyukutukan Allah ta’ala, maka demikian pula berbagai bencana saat ini terjadi  tidak lain karena manusia banyak menyekutukan Allah. Allah ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ.

“Jikalau penduduk kota-kota beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raf [7]: 97)

مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ وَقُلْتُ أَنَا وَمَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّة.

Barang siapa mati dalam keadaan menyekutukan Allah dia akan masuk kedalam neraka, barang siapa mati tidak menyekutukan Allah dia akan masuk kedalam surga.” (HR. Bukhari 4227, Muslim 92).

 

5.   Allah mengampuni semua dosa.

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Katakanlah (Nabi Muhammad), "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar[39]:53).

6.   Allah akan mengumpulkan orang beriman dan tidak melakukan kesyirikan di dalam surga bersama keluarga mereka.

Allah ta’ala berfirman:

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ.

“(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya.” (QS. Ar-Ra‘du[13]: 23)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Allah menghimpunkan mereka bersama kekasih-kekasih mereka di dalam surga, yaitu bapak-bapak mereka, keluarga mereka, dan anak-anak mereka yang layak untuk masuk surga dari kalangan kaum mukmin, agar hati mereka senang. Sehingga dalam hal ini Allah mengangkat derajat orang yang berkedudukan rendah ke tingkat kedudukan yang tinggi sebagai anugerah dari-Nya dan kebajikan-Nya, tanpa mengurangi derajat ketinggian seseorang dari kedudukannya. Hal ini sama dengan yang diungkapkan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شِيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ.

“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur[52]: 21),

 

Demikianlah semoga kita dan keluarga kita dijauhkan dari berbagai macam bentuk kesyirikan dan bisa berkumpul bersama keluarga kita di dalam surga-Nya Aamiin.

 

Sragen 02-08-2023.

Junaedi Abdullah.

 

 

Senin, 24 Juli 2023

BAHAYA PERDUKUNAN.

                                   

 

Orang-orang jahiliyah dahulu selalu melibatkan dukun (Kahin) dalam setiap keperluan mereka, seperti mau pernikahan, bepergian dan berbagai masalah lainnya.

Para dukun dan tukang sihir mereka mengelabuhi masyarakat dengan nama-nama yang lain, seperti orang pintar, pengobatan alternatif, para normal, orang tua, tabib, dan lain sebagainya.

Dari sini banyaknya masyarakat yang tertipu dengan nama samaran tadi, sehingga mereka berduyun-duyun rela antri untuk datang, baik yang sehat ataupun yang sakit, miskin ataupun kaya, yang sudah sukses ataupun yang baru buka usaha, orang berpangkat ataupun orang biasa, dari para pejabat sampai rakyat jelata, bahkan orang yang dianggap berilmu sampai yang awamnya.

Mau pangakat naik pergi kedukun, menjaga wibawa pergi kedukun, mau hajatan pergi kedukun, mau buka toko pergi kedukun, kehilangan barang pergi kedukun, bersaing dagang pergi kedukun, pingin rezki lancar kedukun, sampai berselisih dengan keluarga mereka juga kedukun.

Padahal agama ini sangat melarang keras mendatangi dukun, namun karena kejahilan mereka tak menghiraukan hal ini.

Adapun larangan dan keburukan mendatangi dukun dan sejenisnya yaitu:

1.   Tidak diterima shalatnya 40 hari.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً.     

“Barang siapa mendatangi dukun atau peramal, maka tidak diterima shalatnya 40 hari.”  (HR.Muslim 2230, Ahmad 16638, Thabrani, Mu’jam al-Ausath 1453).

 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Al-‘Arraf adalah sebutan bagi kahinmunajjim, dan rammal, serta yang sejenis dengan mereka, yang berbicara dalam hal mengetahui perkara-perkara semacam itu dengan cara-cara semacam ini.” (Kitab Tauhid syaikh Muhammad bin Abdul wahhab ).

2.   Mendatangi dan mempercayai dukun, dapat menjadikan kufur terhadap apa  yang di bawa Rasulullah sallallahu ‘alaihii wa sallam).

Rasulullah sallallahu ‘alaihii wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا، أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ.

 “Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal lalu memercayai apa yang dia katakan, maka dia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.” (HR. Ahamd 9536, Tirmidzi 135, Ibnu Majah 639, Abu Daud 3904, Disahihkan syaikh al-Albani di dalam Ash-Shahihah 3387).

3.   Sihir yang dilakukan para dukun adalah kekufuran yang dapat membinasakan.

Allah ta’ala berfirman:

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ.

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (QS. Al-Baqarah[2]:102).

Setelah setan-setan itu mulai berdusta kepada mereka (para dukun) dan memasukkan hal-hal yang lain ke dalam berita yang dibawanya; mereka menambah tujuh puluh kalimat pada setiap kalimatnya. Lalu orang-orang menca­tat omongan itu ke dalam buku-buku hingga tersiarlah di kalangan Bani Israil bahwa jin mengetahui hal yang gaib.

Kemudian Nabi Sulaiman mengirimkan utusannya kepada semua orang untuk menyita buku-buku itu. Setelah terkumpul, semua buku dimasukkan ke dalam peti, lalu peti itu dikuburnya di bawah kursi singgasananya. Tiada suatu setan pun yang berani mendekat ke kursi tersebut melainkan ia pasti terbakar. Nabi Sulaiman berkata, "Tidak sekali-kali aku mendengar seseorang mengatakan bahwa setan-setan itu mengetahui hal yang gaib melainkan aku pasti menebas batang le­hemya (sebagai hukumannya)."

Setelah Nabi Sulaiman meninggal dunia dan semua ulama yang mengetahui perihal Nabi Sulaiman telah tiada, lalu mereka diganti oleh generasi sesudahnya, maka datanglah setan dalam bentuk se­orang manusia. Setan itu mendatangi segolongan kaum Bani Israil dan berkata kepada mereka, "Maukah kalian aku tunjukkan kepada suatu perbendaharaan yang tidak akan habis kalian makan untuk se­lama-lamanya?" Mereka menjawab, "Tentu saja kami mau." Setan berkata, "Galilah tanah di bawah kursi singgasananya."

Setan pergi bersama mereka dan memperlihatkan tempat tersebut kepada mereka, sedangkan dia sendiri berdiri di salah satu tempat yang agak jauh dari tempat tersebut. Mereka berkata, "Mendekatlah kamu ke sini." Setan menjawab, "Tidak, aku hanya di sini saja dekat dengan kalian. Tetapi jika kalian tidak menemukannya, kalian boleh membunuhku."

Mereka menggali tempat tersebut dan akhimya mereka menjum­pai kitab-kitab itu. Ketika mereka mengeluarkannya, setan berkata ke­pada mereka, "Sesungguhnya Sulaiman dapat menguasai dan me­ngatur manusia, setan-setan, dan burung-burung hanyalah melalui il­mu sihir ini." (lihat Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Baqarah[2]:102).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقَاتِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ اليَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ المُحْصَنَاتِ المُؤْمِنَاتِ الغَافِلاَتِ.

“Jahuilah oleh kalian tujuh perkara yang membinasakan, kami bertanya, “ Ya Rasulullah apa itu..? beliau berkata, “Berbuat syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah melainkan dengan alasan yang benar, memakan harta riba, memakan harta anak yatim, berpaling dari medan perang dan menuduh seorang wanita muslimah yang terhormat dengan tuduan yang keji.” (HR. Bukhari 2766, Muslim 89, Abu Daud 2874).

Tukang sihir dan dukun terkadang mereka satu, mereka bekerja sama dengan syaitan untuk memperdaya manusia.

4.   Para dukun adalah wali-wali syaitan yang suka berdusta.

Meskipun dukun menampakkan pakaian kyai, ustadz ataupun orang shalih lainnya, namun tatacara dan praktek yang dipakai adalah dukun maka mereka adalah dukun, karena hakekatnya itulah yang dihitung.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ . تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ . يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ.

“Maukah Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaithan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta.” (QS. Asy-Syu’araa[26]: 221-223).

Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha berkata, orang-orang bertanya kepada Rasullullah sallallahu ‘alaihii wa sallam tentang perdukunan beliau berkata:

لَيْسَ بِشَيْء, فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَا أَحْيَانًا بِشَيْءٍ فَيَكُونُ حَقًّا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تِلْكَ الكَلِمَةُ مِنَ الحَقِّ، يَخْطَفُهَا مِنَ الجِنِّيِّ، فَيَقُرُّهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ، فَيَخْلِطُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ.

“(para dukun itu) tidak ada apa-apanya, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dukun-dukun itu biasa menuturkan kepada kami lantas kami jumpai bahwa apa yang mereka katakan itu benar.” Maka Nabi menjawab, “Itu adalah ucapan benar yang dicuri dengar oleh jin (syaitan) kemudian dia bisikkan ke telinga walinya (dukun) dan dia pun menambahkan dengan seratus kedustaan di dalamnya.” (HR. Bukhari 5762, Muslim 2228).

Mereka banyak menipu manusia yang sedang mendapat musibah, bahkan sebagian mereka memeras pasiennya dengan mengatasnamakan jasa, jasa pengobatan, pelaris, wibawa, kecantikan, pagar diri, kekuatan, pengasihan, tolak bala dan lain-lain.

5.   Batilnya praktik perdukunan dan orang yang mengklaim mengetahui perkara gaib.

Siapapun yang mengaku mengetahui perkara gaib, baik dukun, tukang ramal, tukang sihir, ataupun kyai, ustadz, orang pintar, bila mereka mengklaim mengetahui perkara yang gaib, semua itu merupakan kebatilan, karena tidak ada yang mengetahui perkara gaib tersebut kecuali hanya Allah semata.

Allah ta’ala berfirman:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (QS. Al-An’am[6]:59).

Allah Ta’ala berfirman,

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ.

Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali hanya Allah.” (QS. An-Naml[27]: 65)

Allah Ta’ala juga berfirman tentang Nabi-Nya,

وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ.

Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-A’raf[7]: 88).

Terkadang Allah menampakkan kegaiban tersebut kepada para rasul yang sesuai yang Allah kehendaki setiap saat.

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداًلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَداً.

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.”  (QS. Al-Jin[72]: 26-27)

6.   Ciri-ciri dukun atau tukang sihir.

 

1)   Menampakkan kekufuran kepada Allah ta’ala, seperti pembakaran dupa, kemenyan, bunga, gambar makhluk bernyawa atau patung yang dipuja.

2)   Meminta syarat-syarat yang tak bisa di nalar tidak pula dibenarkan syari’at, seperti minta bunga 3 macam, ayam hitam mulus, mandi bunga, tengah malam.

3)   Menanyakan sesuatu yang tak ada kaitannya dengan penyakit pasien, seperti kelahiran suami, istri, pakaian, foto, rambut dan lain-lain.

4)   Melakukan ritual penyembuhan tidak mau ditemani dan ditempat sepi, seperti ditengah malam, di kebun, disumur, dikamar sendirian.

5)   Melakukan ritual penyembuhan dengan melakukan perbuatan tidak senonoh, seperti suruh membuka baju, mencabuli, menggauli dan lain-lain.

6)   Menggunakan jimat-jimat, seperti menggoyangkan kerisnya, batu menyerupai manusia, patung ular, patung perwayangan dan lain-lain.

7)   Memanggil-manggil jin (kadamnya) untuk disuruh.

8)   Melakukan tawsul dan meminta-minta kepada orang yang telah mati,  Ya syaikh Fulan…. Aku memohon kepadamu agar kau mintakan kepada Allah…

9)   Menggunakan rapalan doa yang tidak bisa di mengerti dan bukan dari Al-Qur’an dan Sunnah.

10)                     Menggunakan kata-kata keras, kaku, kasar, dan kejam, seperti, sakiti dia,  bunuhlah dia, jangan biarkan hidup.

11)                     Memerintahkan pasien untuk menanam benda-benda yang telah dirajai ditempat usahanya, atau di tempat saingannya.

12)                     Membuat miniatur manusia yang akan disakiti kemudian menusuk-nusuk dengan paku, jarum dan selainnya.

13)                     Menunjukan keanehan pada benda, buah, telur dan lain-lain, karena terkadang diisi oleh sidukun berbagai benda yang kemudian ditunjukkan kepada pasien.

14)                     Menuliskan rajah-rajah di kain mori, kulit, maupun kertas, kemusian disuruh menyimpan.

15)                     Memerintahkan untuk mengambil tanah kuburan dan membuangnya ditempat saingan dagangnya dan lain-lain.

 

7.   Bagaimana kita membentengi diri dari dukun dan tukang sihir.

 

Sebagaimana di dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah[2]:102) dukun dan sihir tidaklah mampu menyakiti seseorang kecuali atas ijin Allah ta’ala.

وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah (QS. Al-Baqarah[2]:102).

Diantara yang harus kita lakukan untuk selamat dari dukun dan sihir yaitu:

1)   Berlindung kepada Allah dari kejahatan sihir dan perdukunan.

2)   Membaca doa dzikir pagi dan petang.

3)   Memakan kurma azwa 7 butir tiap pagi.

4)   Membacakan rumahnya dengan surat Al-Baqarah, karena syaitan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah.

5)   Menjauhkan gambar-gambar dan patung bernyawa dirumah.

6)   Membakar benda yang dicurigai dipakai untuk sarana sihir, seperti buhul-buhul (tali yang dililit-lilit).

7)   Tidak sering melamun, dan menghayal.

8)   Tidak mempraktekan dirumah untuk memanggil jin maupun syaitan.

9)   Tidak melakukan sesajen dirumah, apa yang bisa mengundang jin.

10)                     Tidak melakukan ritual sihir karena bisa mengundang balasan.

 

Demikianlah semoga bermanfaat aamiin.

 

Sragen 24-07-2023

Junaedi Abdullah.


Sabtu, 22 Juli 2023

KEAJAIBAN DOA

  KEAJAIBAN DOA

(Penuh kisah menarik)

Manusia diciptakan penuh dengan kelemahan oleh karena itu adanya syariat berdoa hendaknya manusia bersyukur kepada Allah.
Allah ta’ala berfirman:
وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا.
“Dan manusia diciptakan d  alam keadaan lemah..” (QS. An-Nisa[4]:28)
Ada beberapa penjelasan ulama tentang kelemahan manusia, diantaranya apa yang di sebutkan Ibnu Katsir, beliau menyebutkan riwayat dari thawus dari bapaknya dia berkata:
فِي أَمْرِ النِّسَاءِ.
 “Dalam perkara wanita.” 
وَقَالَ وَكِيعٌ: يَذْهَبُ عَقْلُهُ عِنْدَهُنَّ.
Waki’ berkata, “ Hilang akalnya jika dekat wanita.” (lihat tafsir Ibnu Katsir QS. An-Nisa[4]:28)
Ibnul Qoyyim berkata, “ Yang benar disini mencakup semuanya secara umum, kelemahannya lebih dari hal ini dan lebih banyak, manusia lemah badannya, lemah kekuatannya, lemah kehendaknya, lemah ilmu dan lemah kesabaran.” (Thariqul Hijratain 1/228)
Oleh karena itu Allah ta’ala memerintahkan agar kita berdoa kepada Allah ta’ala, baik doa ibadah (sebagaimana ibadah yang kita lakukan) maupun doa masalah (permintaan) ketika menghadapi masalah, Allah ta’ala suka seandainya seorang hamba berdoa kepada-Nya, Allah ta’ala murka dan mengancam orang-orang yang menyombongkan diri, merasa kuat, merasa cukup dan merasa tidak butuh dengan Allah ta’ala.
Allah ta’ala berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِين.
"Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (QS. Al-Mu'min [40]: 60).
Allah ta’ala juga berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, jawablah bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah[2]: 186).
Allah mengabulkan doa hambanya dengan tiga keadaan, sebagaimana Rasulullah sallallahu ‘alaihih wa sallam bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا " قَالُوا: إِذًا نُكْثِرُ، قَالَ: اللَّهُ أَكْثَرُ.
Tidaklah seorang muslim berdoa yang tidak mengandung dosa dan tidak bertujuan memutuskan silaturahmi, melainkan Allah ta’ala akan mengabulkannya dengan tiga cara; (1). Allah akan mengabulkan doanya segera, (2). Allah akan menyimpan (menjadikannya pahala) baginya di akhirat kelak, (3). Allah akan hindarkan darinya kejelekan yang semisal. Mereka (para sahabat) berkata: “Kalau begitu, kami akan memperbanyak berdoa.” Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata: “Allah akan banyak mengabulkan doa-doa kalian.” (HR. Ahmad 11133 di shahihkan syaikh al-Albani di dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib 1632).

Beberapa kisah keajaiban doa.

1) Terkabulnya doa nabi Zakaria.
Sebagaimana diceritakan Al Qur’an tentang nabi Zakaria, dalam usia yang sudah senja, nabi Zakaria gelisah karena belum juga dikaruniai keturunan. Kendati demikian, beliau tidak berhenti berdoa kepada Allah ta’ala dengan penuh keyakinan. Siang dan malam dia terus berdoa kepada Allah supaya memberinya seorang putra sebagai pewaris keluarganya.
Allah ta’ala berfirman (artinya), “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan telah menyala uban di kepalaku, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku. Dan sungguh aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahkanlah aku seorang putra dari sisi Engkau, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub. Dan jadikan dia, Ya Tuhanku, seorang yang diridai.” (QS Maryam[19]: 4-6).
Allahpun mengabulkan doanya. Padahal, usia Nabi Zakaria saat itu sudah tua, istrinya juga mandul. Tidak ada yang mustahil bagi Allah.

2) Kisah sembuhnya imam Bukhari dari kebutaan.

Imam Bukhari ini Lahir di Bukhara, Uzbekistan, dia adalah ahli hadits termasyhur sepanjang masa. Tetapi, ulama yang hafal puluhan ribu hadis beserta detail sanadnya ini pernah mengalami kebutaan sewaktu kecil.
Hal ini menjadikan ibundanya begitu sedih melihat kondisi Bukhari kecil. Ibunda Imam Bukhari tiada henti berdoa untuk memohon kesembuhan putranya. Allah akhirnya mengabulkan doanya.
Pada suatu malam, ibunda imam Bukhari bermimpi melihat nabi Ibrahim yang berkata, “Hai Fulanah, sungguh Allah telah mengembalikan penglihatan putramu karena seringnya engkau berdoa.” Pagi harinya, ibunda imam Bukhari menyaksikan bahwa penglihatan putranya telah kembali normal. ( Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala )

3) Kisah Dr. Ikhsan seorang ahli bedah dan pesawat yang rusak.

Seorang dokter Ahli Bedah terkenal bernama Dr. Ishan tergesa-gesa menuju airport. Beliau berencana akan menghadiri seminar dunia dalam bidang kedokteran, yang akan membahas penemuan terbesarnya di bidang kedokteran.

Setelah perjalanan pesawat sekitar 1 jam, tiba-tiba diumumkan bahwa pesawat mengalami gangguan dan harus mendarat di airport terdekat. Beliau mendatangi ruangan penerangan dan berkata: “Saya ini dokter spesial, tiap menit nyawa manusia bergantung pada saya, dan sekarang kalian meminta saya menunggu pesawat diperbaiki dalam 16 jam?”

Pegawai menjawab: “Wahai dokter, jika Anda terburu-buru Anda bisa menyewa mobil, tujuan Anda tidak jauh lagi dari sini, kira-kira dengan mobil 3 jam tiba.”

Dr. Ishan setuju dengan usul pegawai tersebut dan menyewa mobil. Baru berjalan 5 menit, tiba-tiba cuaca mendung, disusul dengan hujan besar disertai petir yang mengakibatkan jarak pandang sangat pendek.

Setelah berlalu hampir 2 jam, mereka tersadar mereka tersesat dan terasa kelelahan. Terlihat sebuah rumah kecil tidak jauh dari hadapannya, dihampirilah rumah tersebut dan mengetuk pintunya. Terdengar suara seorang wanita tua: “Silahkan masuk, siapa ya?” Terbukalah pintunya.

Dia masuk dan meminta kepada ibu tersebut untuk istirahat duduk dan mau meminjam teleponnya. Ibu itu tersenyum dan berkata: “Telepon apa Nak? Apa Anda tidak sadar ada di mana? Di sini tidak ada listrik, apalagi telepon. Namun demikian, masuklah silahkan duduk saja dulu istirahat, sebentar saya buatkan teh dan sedikit makanan untuk menyegarkan dan mengembalikan kekuatan Anda.”

Dr. Ishan mengucapkan terima kasih kepada ibu itu, lalu memakan hidangan. Sementara ibu itu sholat dan berdoa serta perlahan-lahan mendekati seorang anak kecil yang terbaring tak bergerak di atas kasur di sisi ibu tersebut, dan dia terlihat gelisah diantara tiap sholat. Ibu tersebut melanjutkan sholatnya dengan do’a yang panjang.

Dokter mendatanginya dan berkata: “Demi Allah, Anda telah membuat saya kagum dengan keramahan Anda dan kemuliaan akhlak Anda, semoga Allah menjawab do’a-do’a Anda.”
Berkata ibu itu: “Nak, Anda ini adalah ibnu sabil yang sudah diwasiatkan Allah untuk dibantu. Sedangkan do’a-do’a saya sudah dijawab Allah semuanya, kecuali satu.”

Bertanya Dr. Ishan: “Apa itu do’anya?” Ibu itu berkata: “Anak ini adalah cucu saya, dia yatim piatu. Dia menderita sakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter dokter yang ada di sini. Mereka berkata kepada saya ada seorang dokter ahli bedah yang akan mampu menyembuhkannya; katanya namanya Dr. Ishan, akan tetapi dia tinggal jauh dari sini, yang tidak memungkinkan saya membawa anak ini ke sana, dan saya khawatir terjadi apa-apa di jalan. Makanya saya berdo’a kepada Allah agar memudahkannya.”
Menangislah Dr. Ishan dan berkata sambil terisak: “Allahu Akbar, laa haula wala quwwata illa billah. Demi Allah, sungguh do’a ibu telah membuat pesawat rusak dan harus diperbaiki lama serta membuat hujan petir dan menyesatkan kami, hanya untuk mengantarkan saya ke ibu secara cepat dan tepat. Saya-lah Dr. Ishan Bu, sungguh Allah subhanahu wa ta'ala telah menciptakan sebab seperti ini kepada hamba-Nya yang mu'min dengan do’a. Ini adalah perintah Allah kepada saya untuk mengobati anak ini.”

Jangan pernah berhenti berdo’a sampai Allah menjawabnya. (Dikutip dari group Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia)

4) Kisah imam Ahmad dan penjual roti. 

Imam Ahmad bin Hanbal ra (murid Imam Syafi'i) dikenal juga sebagai Imam Hanbali. dimasa akhir hidup beliau bercerita, "satu waktu (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tau kenapa ingin sekali menuju ke salah satu kota di Irak,".
Padahal tidak ada janji sama orang dan tidak ada hajat. Akhirnya Imam Ahmad pergi sendiri menuju ke kota Bashrah. Beliau bercerita "saat tiba disana waktu Isya', saya ikut shalat berjamaah isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin istirahat". Begitu selesai shalat dan jamaah bubar, imam Ahmad ingin tidur di masjid, tiba-tiba marbot masjid datang menemui imam Ahmad sambil bertanya "kenapa syaikh, mau ngapain disini?". (kata "syaikh" bisa dipakai untuk tiga panggilan, bisa untuk orang tua, orang kaya ataupun orang yang berilmu. Panggilan Syaikh dikisah ini panggilan sebagai orang tua, karena imam Ahmad kelihatan sebagai orang tua).
Marbot tidak tau kalau beliau adalah Imam Ahmad. Dan Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan siapa dirinya. Di Irak, semua orang kenal siapa imam Ahmad, seorang ulama besar dan ahli hadis, sejuta hadis dihafalnya, sangat shalih dan zuhud. Zaman itu tidak ada foto sehingga orang tidak tahu wajahnya, cuma namanya sudah terkenal. Kata imam Ahmad "saya ingin istirahat, saya musafir". Kata marbot, "tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid. Imam Ahmad melanjutkan bercerita "saya didorong-dorong oleh orang itu disuruh keluar dari masjid, Setelah keluar masjid, maka dikuncilah pintu masjid.
Lalu saya ingin tidur di teras masjid." Ketika sudah berbaring di teras masjid marbotnya datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad. "Mau ngapain lagi syaikh?" Kata marbot. "Mau tidur, saya musafir" kata imam Ahmad. Lalu marbot berkata, "di dalam masjid tidak boleh, di teras masjid juga tidak boleh". Imam Ahmad diusir. Imam Ahmad bercerita " saya didorong-dorong sampai jalanan". Di samping masjid ada penjual roti (rumah kecil sekaligus untuk membuat dan menjual roti). Penjual roti ini sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot tadi. Saat imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh "mari syaikh, anda boleh nginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil".
Kata imam Ahmad "baik". Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk dibelakang penjual roti yang sedang membuat roti (dengan tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir). Penjual roti ini punya perilaku tersendiri, kalau imam Ahmad ngajak ngomong, dijawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil melafalkan istighfar, Astaghfirullah. Saat meletakkan garam astaghfirullah, memecahkan telur astaghfirullah, mencampur gandum astaghfirullah. Selalu mengucap istighfar.
Imam Ahmad memperhatikan terus. Lalu imam Ahmad bertanya "sudah berapa lama kamu lakukan ini?". Orang itu menjawab "sudah lama sekali syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan". Imam Ahmad bertanya : "apa hasil dari perbuatanmu ini?", orang itu menjawab "(lantaran wasilah istighfar) tidak ada hajat yang saya minta , kecuali pasti dikabulkan Allah. semua yang saya minta ya Allah...., langsung diterima". (memang Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :"siapa yang menjaga istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangkanya). Lalu orang itu melanjutkan "semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah kabulkan".
Imam Ahmad penasaran kemudian bertanya "apa itu?". Kata orang itu "saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan imam Ahmad". seketika itu juga imam Ahmad bertakbir, "Allahu Akbar, Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalanan karena istighfarmu"..(penjual roti terperanjat, memuji Allah, ternyata yang di depannya adalah Imam Ahmad).
(Sumber : Manakib imam Ahmad, juga Shifatus Shafwah karangan Ibnu Al-Jauzi)

Dari ayat dan hadits di atas dapat disimpulkan:
1. Doa adalah ibadah yang merupakan perintah dari Allah, melakukan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah merupakan suatu ibadah.
Bahkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan hal itu:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ.
“ Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi 2969, Abu Dawud 1479, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam shahih Ibnu Hibban 890)
2. Doa itu ibadah tidak boleh ditujukan kepada selain Allah. 
Allah ta’ala berfirman:
وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ.
“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah. Sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Yunus [10]: 106)

3. Tidak ada yang dapat mengabulkan doa selain Allah ta’ala.3
Allah ta’ala berfirman:
إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ.
“Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu ; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkankan permintaanmu.” (QS. Fatir[35]:14)

4. Doa merupakan senjata yang digunakan para nabi dan rasul terutama dalam menghadapi situasi-situasi sulit, begitu pula nabi Muhamad sallallahu a’alaihi wa sallam saat perang badar, dan lainnya.
Demikianlah semoga bisa diambil pelajaran dan memberi manfaat, Aamiin.

----------------0000000---------------

 Sragen 08-10-2022.
Junaedi Abdullah.

MENJELANG PERANG UHUD

  MENJELANG PERANG UHUD   Persiapan musyrikin Quraisy Untuk Perang Balas Dendam Mekkah terbakar api amarah terhadap orang-orang Islam ...