Kamis, 06 Juli 2023

MEWUJUDKAN BAHAGIA LAHIR DAN BATIN.

MEWUJUDKAN BAHAGIA LAHIR DAN BATIN.

Bagaimana kita mewujudkan bahagia lahir batin.

Setiap orang menghendaki untuk bahagia lahir batin, namun banyak yang tidak dapat mewujudkannya.

Hendaknya memahami hal-hal berikut ini:

1.                     Memperbaiki perkara internal (dalam rumah).

Dimana hal ini mencakup :

1)                Perbaikan ubudiah (ibadah) kepada Allah.

Seseorang takkan bisa medapatkan kebahagiaan apa bila menyampingkan hal ini.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS.Thaha[20]:124).

Ini mencakup perbaikan aqidah yang benar, ibadah, adab, dan lain-lain.

Begitu pula tidak lepas dari tiga hal:

1.                     Bersyukur ketika mendapatkan nikmat.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka Hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An Nahl [16]:53)

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim [14]:7).

2.                Bersabar ketika mendapatkan ujian.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ.

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah[2]:155).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim 2999).

 

3.                     Bertaubat jika tergelincir di dalam maksiat.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya.” (QS.At-Tahrim[66]:8).

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

“Kecuali mereka yang telah bertaubat, mengadakan perbaikan dan menjelaskan(nya). Mereka itulah yang Aku terima taubatnya, dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”(QS Al-Baqarah[2]: 160).

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ.

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Al-Imran[3]:135).

Jika hal ini tidak dilakukan niscaya akan mengenainya musibah, baik mengenai harta, badan, maupun agama.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ.

”Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan dilihat dari jalur lain).

Allah Ta’ala berfirman,

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُون.

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am [6]: 44)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) .

“Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah “ar raan” yang disebutkan Allah di dalam firman-Nya, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.”(QS. Al-Mutaffifin[83]:14) (HR Tirmidzi 3334, Ibnu Majah 4244,  dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam As-Shahihul Jami’ 1670).

Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa sehingga bisa membuat hati itu gelap dan lama kelamaan pun mati.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, Ibnu Zaid dan selainnya.

Banyak orang yang meremehkan dosa yang mereka selalu mengulur-ulur untuk bertaubat akhirnya mereka mati dalam keadaan su’ul khatimah, sebagaimana firman Allah ta’ala:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ.

“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putusasa. (QS. Al-An’am[5]:44)

2)                    Perbaikan muamalah terhadap sesama anggota keluarga.

Hal ini mencakup komunikasi yang baik, menunaikan hak dan kewajiban setiap anggota keluarga.

أَلاَ إِنَّ لَكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ حَقًّا وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقَّا.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kalian memiliki hak atas isteri-isteri kalian dan isteri-isteri kalian juga memiliki hak atas kalian.” (HR Tirmidzi 1163, dihasankan syaikh al-Albani di dalam Sunan Ibni Majah 1851)

Memberi nasehat yang baik, dan juga memerintahkan untuk berakhlaq yang baik.

Allah ta’ala berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ.

“Sungguh, kamu mempunyai akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam [68]: 4).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ.

“sesungguhnya Allah itu lembut, mencintai kelembutan.” (HR, Bukhari 6927).

Dari Aisyah bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إذاَ أرَادَ الله بأِهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أدْخَلَ عَلَيْهِمُ الرِّفْقَ .

“Jika Allah menghendaki suatu keluarga kebaikan maka Allah memasukkan kepada mereka sikap lemah lembut.” (HR Ahmad 6/71, 104)

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ.

"Tidak ada sesuatupun yang lebih berat dalam timbangan (amalan) seorang mukmin pada hari kiamat dari pada akhlaq yang mulia." (HR. Tirmidzi 2002, di hasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Tirmidzi 2/194)

 

2.                     Meperbaiki perkara external. (Luar rumah).

Selain menunaikan kewajiban kita kepada orang-orang yang memiliki haq, juga berlaku baik dengan yang orang lain.

Diantaranya :

 

1).     Bermuamalah kepada orang lain yang baik.

Allah ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.

“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Nahl[16]:97).

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ.

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu.” Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.” ( QS Al-Baqarah[2]:25).

2).     Bersedekah kepada fakir miskin.

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah[2]:261).

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ.

“Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim 2588).

 


Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.

“Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada orang yang berinfak.” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah.” (HR. Bukhari 1442 Muslim 1010).

3).     Berteman dengan orang-orang yang baik.                                   

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah [9]:119).

 

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.

“Seseorang bisa dilihat dari perilaku beragama sahabatnya. Hendaklah kalian memperhatikan bagaimana sahabatmu dalam beragama.” (HR Ahmad 8417, Tirmidzi 2378, Abu Dawud 4833, di shahhiihkan Syaikh al-Albani di dalam Ash Shahihah 927).

 

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ.

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi.” (HR. Bukhari 5534,  Muslim 2628).

 

4).     Menghadiri tempat-tempat yang dimuliakan .

          5).     Mengunjungi orang-orang yang shalih.

 6).    Memberi maaf dan meminta maaf terhadap kesalahan kita.

Allah ta’ala berfirman:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّـهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ.

“…Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS  Al-Imran[3]: 134).

Demikianlah sedikit tulisan ini untuk mewujudkan kebahagiaan lahir maupun batin. Semoga bermanfaat aamiin ya rabbal ‘alamiin.

 

 

 

Sragen 06-Juli 2023.

 

Junaedi Abdullah.

 

Selasa, 27 Juni 2023

BERLEBARAN MENGIKUTI SAUDI...?SIMAK BERIKUT INI.



Penting .....!!!!
Tidak untuk orang yang fanatik.

Pertanyaan dari jama'ah:
Bagaimana hari raya yang benar mengikuti Saudi atau Indonesia .
Jawab: 
Puasa Arofah mengikuti Saudi dengan rukyah negara Saudi, namun untuk perbedaan negri hendaknya dengan mengikuti ruk'yah negri mereka masing-masing  demikianlah kebanyakan yang difatwakan para ulama. 
Sebagian kaum muslimin menyandarkan perbuatan mereka dengan mengikuti hisab dan persamaan hari lebaran dengan Saudi Arabia tanpa dirinci, kemudian perbuatan itu diklaim telah mengikuti Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam.
Tentu ini adalah subhat yang perlu untuk dijelaskan, karena hal itu sebenarnya bersebrangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah sallallahu alai wa sallam itu sendiri.

Diantaranya:

  1) Mereka memulai dan mengakhiri puasa serta berhari raya dengan mengikuti hisab atau ilmu falaq.

Padahal telah jelas bahi kita, dimana kita diperintahkan Allah ta'ala dan Rasul-Nya dengan melihat hilal (bulan) bukan hisab.
Lihat firman Allah ta'ala:
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan (di negeri tempat tinggalnya), maka hendaklah ia berpuasa pada bulan tersebut.” (QS. Al Baqarah [2]: 185)

Rasulullah sallallahu alaihi wa salam bersabda:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا العِدَّةَ

“Berpuasalah karena melihat hilal, begitu pula berhari rayalah karena melihatnya. Apabila kalian tertutup mendung, genapkanlah bulan tersebut” (Muttafaqun 'alaih).

  2) Bisa jadi mereka lupa jika Allah ta'ala itu memiliki sifat Al-Aliim (maha mengetahui), baik perkara yang sedang terjadi, akan terjadi dan belum terjadi seandainya hal itu terjadi, termasuk ilmu falak (hisab) yang akan diketahui oleh manusia Allah telah tahu, tapi Allah dan Rasul-Nya tetap memeerintahkan untuk memulai dan mengakhiri puasa dengan melihat hilal, lihat penjelasan no 1.

  3) Syariat untuk mengikuti ruyatul hilal ( Melihat bulan) di masing-masing negri telah diamalkan para sahabat dahulu.
Perhatikan kisah berikut ini:

أَخْبَرَنِي كُرَيْبٌ، أَنَّ أُمَّ الفَضْلِ بِنْتَ الحَارِثِ، بَعَثَتْهُ إِلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ قَالَ: فَقَدِمْتُ الشَّامَ، فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا، وَاسْتُهِلَّ عَلَيَّ هِلَالُ رَمَضَانَ وَأَنَا بِالشَّامِ، فَرَأَيْنَا الهِلَالَ لَيْلَةَ الجُمُعَةِ، ثُمَّ قَدِمْتُ المَدِينَةَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ، فَسَأَلَنِي ابْنُ عَبَّاسٍ، ثُمَّ ذَكَرَ الهِلَالَ، فَقَالَ: مَتَى رَأَيْتُمُ الهِلَالَ، فَقُلْتُ رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الجُمُعَةِ، فَقَالَ: أَأَنْتَ رَأَيْتَهُ لَيْلَةَ الجُمُعَةِ؟ فَقُلْتُ: رَآهُ النَّاسُ، وَصَامُوا، وَصَامَ مُعَاوِيَةُ، قَالَ: لَكِنْ رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ، فَلَا نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلَاثِينَ يَوْمًا، أَوْ نَرَاهُ، فَقُلْتُ: أَلَا تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ، قَالَ: لَا، هَكَذَا «أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»

“Dari Kuraib : Sesungguhnya Ummu Fadl binti Al-Haarits telah mengutusnya menemui Mu’awiyah di Syam. Berkata Kuraib, " Lalu aku datang ke Syam, terus aku selesaikan semua keperluannya. Dan tampaklah olehku (bulan) Ramadlan, sedang aku masih di Syam, dan aku melihat hilal (Ramadlan) pada malam Jum’at. Kemudian aku datang ke Madinah pada akhir bulan (Ramadlan), lalu Abdullah bin Abbas bertanya ke padaku (tentang beberapa hal), kemudian ia menyebutkan tentang hilal, lalu ia bertanya ; “Kapan kamu melihat hilal (Ramadlan) ?
Jawabku : “Kami melihatnya pada malam Jum’at”.
Ia bertanya lagi : “Engkau melihatnya (sendiri) ?”
Jawabku : “Ya, Dan orang banyak juga melihatnya, lalu mereka puasa dan Mu’awiyah Puasa”.
Ia berkata : “Tetapi kami melihatnya (di Madinah) pada malam Sabtu, maka senantiasa kami berpuasa sampai kami sempurnakan tiga puluh hari, atau sampai kami melihat hilal (bulan Syawwal) “. Aku bertanya : “Apakah tidak cukup bagimu ru’yah (apa yang dilihat) dan puasanya Mu’awiyah ?
Beliau menjawab : “Tidak, Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah memerintahkan kepada kami.” (HR. Muslim 3/126, Abu Dawud 2332).

Dari sini kita mengetahui perbedaan matla' (tempat munculnya bulan) itu berbeda-beda disetiap negri, dan kita diperintahkan untuk mengikuti matla' masing-masing, hal itu telah dilakukan para sahabat, oleh karena itu mereka mengakui bahwa hal itu merupakan perintah Rasulullah sallallahu alai wa sallam untuk mengikuti matla' di negrinya masing-masing.

  4) Kalau syariat puasa, wukuf Arofah, talaq dan lainya dahulu ditentukan dengan melihat hilal, sekarang juga dengan melihat hilal bukan hisab, ini adalah syariat yang sejak dulu telah diamalkan oleh para sahabat, oleh karena itu tidak boleh menggantikan dengan hisab.

  5) Orang-orang yang menyandarkan hisab dengan firman Allah ta'ala:
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ ذٰلِكَ اِلَّا بِالْحَقِّۗ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ

"Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu)." QS Yunus[10]:5).

Mereka mengawali dan mengakhiri puasa, dan lainya dengan menyandarkan kepada hisab telah melakukan kesalahan yang fatal.
Karena hal ini akan bertabrakan dengan firman Allah ta'ala pada (QS Al-Baqarah [2];185) di atas, Oleh karena itu tak seorangpun dari para ulama ahli tafsir menafsirkan seperti itu, begitu pula takkan kita jumpai di dalam kitab-kitab fikih yang muktabar, dari sini kita akan tahu hanya orang-orang belakangan ini saja yang mengikuti hawa nafsunya untuk memecah belah umat, dia tidak menyadari dengan begitu dia telah menabrakkan ayat satu dengan lainnya, hal yang mustahil bagi Allah jika firman-nya bertabrakan satu dengan yang lain.

  6) Kalau seandainya orang-orang ikut lebaran sekarang hari Rabu (misalnya) dengan alasan Saudi juga hari ini coba tanyakan apakah Indonesia yang dijadikan ikutan atau Saudi, kalau mereka menjawab Saudi taukah anda jika anda shalat sekarang, Saudi belum mulai apa-apa, karena waktu lebih awal 4 jam dengan Indonesia jika dibandingkan dengan Saudi, karena itu jika anda mengikuti hari yang sama justru anda tidak mengikuti Saudi melainkan Saudi seakan mengikuti anda yang di Indonesia (hanya Allah yang bisa memberikan pemahaman terhadap hal ini), oleh karena itu yang benar dalam hal ini mengikuti itu dibelakangnya bukan di depan.

  7) Mentaati pemerintah dalam perkara yang Ma'aruf (benar) diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Allah ta'ala berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisa [4]: 59).

Andaikan setiap organisasi memiliki kehendak untuk berhari raya sendiri-sendiri tentu masyarakat semakin terpecah-belah, sebaliknya jika semua organisasi mengikuti satu seruan yaitu pemerintah tentu suara kaum muslimin akan satu, ini sangat sulit diterima kecuali orang yang diberi Taufiq oleh Allah ta'ala.

Demikianlah semoga bermanfaat, bisa di pahami dan menyadarkan serta menjauhkan kita dari sikap taklid (membebek) kepada setiap pemimpin organisasi.

Sragen 28-Juni 2023.

Junaedi Abdullah.

Sabtu, 24 Juni 2023

ADAB-ADAB MENYEMBELIH.


Sembelihan adalah Perkara penting karena terkait makanan yang di makan, hal itu bisa merubah yang seharusnya halal menjadi haram, tentu ini sangat penting sekali.
Hal-hal yang harus diperhatikan yaitu:

  1) Terkait orang yang menyembelih.
Hendaknya:
  1. Berakal, setidak-tidaknya sudah tamyiz, baik laki-laki maupun perempuan.
  2. Hendaknya yang menyembelih beragama islam atau setidak-tidaknya beragama samawi.
Allah ta'ala berfirman:
وَطَعَامُ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ حِلٌّ لَّكُمْ ۖوَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ.
"Makanan (sembelihan) Ahli Kitab itu halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka." (QS. Al Maidah [5]:5).

Apa bila didalam penyembelihan ahlul kitab diketahui menyebut selain Allah seperti Al masih atau bunda Maria tidak diperbolehkan.
Adapun sembelihan orang beragama hindu, budha, konghucu, atau animisme semua itu tidak halal.

  3. Membaca bismillah.
Allah ta'ala berfirman:
وَلَا تَأْكُلُوْا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللّٰهِ عَلَيْهِ وَاِنَّهٗ لَفِسْقٌۗ 
"Dan janganlah kamu memakan dari apa (daging hewan) yang (ketika disembelih) tidak disebut nama Allah, perbuatan itu benar-benar suatu kefasikan." (QS. Al-An'am[6]:121).

  4. Tidak boleh menyebut kepada selain Allah atau ditujukan kepada selain Allah, atau dengan menyebut Allah dan juga selainnya secara bersamaan.
Misalnya berkata, "Bismillah untuk ngirim leluhur atau penguasa disini."
Allah ta'ala berfirman:
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ.
"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah." (QS. Al-Maidah[5]:3).

  2) Berkaitan dengan alat sembelih.

  1. Hendaknya tajam dan dapat segera memotong atau membunuh baik berupa besi jika darurat bisa kayu, batu dan selainnya.
Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺫَﺑَﺤْﺘُﻢْ ﻓَﺄَﺣْﺴِﻨُﻮﺍ ﺍﻟﺬَّﺑْﺢَ ﻭَﻟْﻴُﺤِﺪَّ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺷَﻔْﺮَﺗَﻪُ ﻓَﻠْﻴُﺮِﺡْ ﺫَﺑِﻴﺤَﺖَ
jika kalian menyembelih maka berbuatlah baik dalam cara menyembelih, dan hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan sembelihannya.( HR. Muslim).

  2. Tidak menyembelih dengan kuku dan gigi.
Karena kuku merupakan kebiasaan orang habasah, sedangkan gigi bagian dari tulang.
Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:
َ مَا أُنْهِرَ اَلدَّمُ, وَذُكِرَ اِسْمُ اَللَّهِ عَلَيْهِ, فَكُلْ لَيْسَ اَلسِّنَّ وَالظُّفْرَ; أَمَّا اَلسِّنُّ; فَعَظْمٌ; وَأَمَّا اَلظُّفُرُ: فَمُدَى اَلْحَبَشِ,  مُتَّفَقٌ عَلَيْه
“Apa yang dapat menumpahkan darah dengan diiringi sebutan nama Allah, makanlah, selain gigi dan kuku, sebab gigi adalah tulang sedang kuku adalah pisau bangsa Habasyah.“ (Muttafaqun Alaihi).

  3) Terkait hewan sembelihan.
Hewan sembelihan disyariatkan beberapa syarat:
  1. Kondisinya hidup, tidak menyembelih hewan yang sudah mati.
  2. Hilangnya nyawa secara jelas, bukan karena tercekik, terpukul, tenggelam atau lainnya.
  3. Jika terkait qurban hendaknya berupa onta, sapi, dan kambing. Ada juga yang memfatwakan bolehnya kerbau.
Adapun selain untuk qurban apa saja hewan yang dihalalkan oleh syariat baik hewan yang bisa terbang maupun yang di daratan.
  4. Bagian yang disembelih yaitu memutuskan saluran pernapasan, saluran makanan dan kedua urat lehernya.
Namun bila binatang itu tiba-tiba liar tidak bisa dikendalikan lagi boleh menggunakan cara yang lain seperti menggunakan anak panah, hal ini juga pernah terjadi pada jaman Rasulullah.

Adab-adab yang harus diperhatikan yang lain:
  1. Menyayangi binatang yang akan disebelih.
  2. Menajamkan pisau.
  3. Tidak menajamkannya di hadapan binatang yang akan disembelih.
  4. Memisahkan antara yang belum disembelih dengan yang disembelih baik dengan kain maupun tembok.
  5. Membaringkan hewan sembelihan.
Adapun menyembelih dengan memenggal sembelihan hingga putus dalam kondisi berdiri hal ini tidak sesuai Sunnah, dimana Rasulullah membaringkan sembelihan.
  6. Menghadapkan kearah kiblat.
  7. Meletakkan kaki di badan penyembelihan.
  8. Jika memungkinkan hendaknya orang yang kuat, karena orang lemah memiliki tekanan yang lemah sehingga hewan tersiksa tidak segera mati.
  9. Penyembelih menyebut nama orang yang berkurban setelah itu menyebut nama Allah.
  10. Memastikan terputusnya keempat urat-urat yang dituju.
 
Demikianlah kebenaran dan kesempurnaan hanyalah milik Allah ta'ala, semoga bermanfaat. Aamiin.

Maroji' : Ensiklopedi amalan Sunnah dibulan Hijriah, dengan beberapa tambahan.

Sragen 24-06-2023.
Junaedi Abdullah.

Minggu, 21 Mei 2023

SEBAB-SEBAB FUTUR. ( MALAS DAN BERHENTI DARI KETAATAN)


Iman seseorang terkadang naik dan terkadang turun, hal ini sudah menjadi konsensus (kesepakatan para ulama ahlu Sunnah wa jama'ah).
Rasa malas yang menghinggapi hati seseorang merupakan kewajaran, hanya saja hal ini sangat membahayakan jika sikap malas dan jemu itu terus berkepanjangan, apalagi sampai taraf meninggalkan ibadah wajib dan sunnah dan banyak meninggalkan ketaatan kepada Allah ta'ala.

Adapun sebab-sebab kemalasan (futur) diantaranya:

  1) Beramal tidak ikhlas karena Allah ta'ala.
Apa bila seseorang beramal tapi karena ingin pujian dari manusia, tatkala hal itu tidak didapatkan timbullah rasa malas.
Oleh karena itu penting beramal ikhlas karena Allah.
Allah ta’ala berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ.
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah[98]:5).

Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وإنما لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنكحها فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
“Sesungguhnya setiap amal itu (tergantung) pada niatnya, dan sesungguhnya sesesorang itu hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya (dinilai) karena Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena harta dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yanga hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu hanyalah kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

  2) Berlebih-lebihan dalam beragama.
Agama ini sebenarnya mudah dan ringan.
Allah ta'ala berfirman:
وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ.
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." ( QS. Al-Hasyr [59]:7).

فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ.
Tidak tersisa suatu (amalan) pun yang dapat mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali sudah dijelaskan semuanya kepada kalian. (HR. Thabrani dalam Al Mu’jamul Kabir 1647, disahihkan Syaikh al-Bani di dalam Silsilah As Sahihah 1803).

تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ.
“Aku tinggalkan kalian dalam keadaan terang-benderang, siangnya seperti malamnya. Tidak ada yang berpaling dari keadaan tersebut kecuali ia pasti celaka.” (HR. Ahmad 4/126 Ibnu Majah 43 dan disahihkan Syaikh al-Bani di Silsilah hadis Shahihah 2/648).
Jika seseorang berlebihan dalam melakukan ketaatan akan memberatkan badanya sehingga lambat laun jadi malas.

  3) Berlebih-lebihan dalam perkara mubah.
Allah ta’ala berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ.
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (QS. Al-A’raf [7]: 31).

Dari Al-Miqdam bin Ma'dikarib raḍiyallahu 'anhu secara marfū' dia berkata, aku mendengan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ. بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ.
"Tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika memang harus melebihi itu, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya." (HR Tirmidzi 2380 Ibnu Majah 3349, di shahihkan Syaikh al Abani di dalam Ash Shahihah 2265).

Berlebih-lebihan dalam hal mubah di sini adalah seperti makan, minum, berpakaian, dan kendaraan, mencintai anak istri dan lainya, karena setiap kali manusia melampaui batas dalam melakukan hal-hal yang mubah, maka sesungguhnya ia telah kehilangan nikmat ketaatan, hatinya selalu bertaut kepadanya inilah sebabnya.
Allah melarang hal itu:
قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ِۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ.
"Katakanlah, Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (QS. At-Taubah [9]: 24).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ رواه البخاري

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga kalian menjadikan aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dalam Kitab Al-Iman, Bab Hubbur Rasul minal Imaan,14)

  4) Tidak segera bertaubat ketika terjerumus dalam perbuatan dosa.
Manusia memang tidak bisa lepas dari kesalahan, namun ketika seseorang terjerumus kedalam dosa hendaknya segera bertaubat.
Allah ta'ala berfirman:
وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui." (QS. Al-Imran[3]:135).

Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.
“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi 2499, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahiih al-Jaami’ As- Shaghiir 4391).
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) .
“Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah “ar raan” yang disebutkan Allah di dalam firman-Nya, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (HR Tirmidzi 3334, Ibnu Majah 4244,  di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam As-Shahihul Jami’ 1670).

Ibnul Qoyyim mengatakan di dalam kitabnya, (secara makna) sebab seseorang malas dan terputus dari ketaatan disebabkan kemaksiatan yang dilakukan.(Ad-Dha Wa Adhawa') (penyakit dan obatnya).
Apabila seseorang tidak segera bertaubat ketika terjerumus kedalam maksiat maka hatinya sedikit demi sedikit akan menghitam dan akhirnya dosanya menutupi hatinya yang menyeret kepada kebinasaan.

    5) Makan dari harta haram.
Memakan dari harta haram bukan hanya diancam dengan neraka tapi juga dapat menjadikan malas dalam ibadah.
Allah ta'ala berfirman:
åيٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
"Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu." (QS. Al-Baqarah [2];168)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ.
“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang telah kami rezkikan kepadamu dan bersukurlah kepada Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya saja.”(QS. Al-Baqarah[2]:172.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ .
"Akan datang pada manusia suatu  zaman, di mana seseorang tidak lagi memperdulikan dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram." (HR. Bukhari 2083).
Seseorang akan malas menuaikan ketaatan karena tubuhnya dipenuhi perkara yang haram.

  6) Teman-teman yang tidak baik. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita agar bersama orang-orang yang shalih.
Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ.
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah [9]:119).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.
“Seseorang bisa dilihat dari perilaku beragama sahabatnya. Hendaklah kalian memperhatikan bagaimana sahabatmu dalam beragama. (HR Ahmad 8417, Tirmidzi 2378, Abu Dawud 4833, di shahhiihkan Syaikh al-Albani di dalam Ash Shahihah 927).

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ.
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. (HR. Bukhari 5534,  Muslim 2628).

Seseorang bisa mencuri takbiat orang lain tanpa dirasa, mengikuti dan mengagumi, oleh karena itu islam menganjurkan memilih teman duduk dari orang-orang shalih.

Orang-orang yang buruk akhlaknya akan mempengaruhi keburukan sebagaimana saat terakhir Abu Thalib terpengaruh disaat-saat menjelang kematiaanya.

  7) Tidak mau bersama jamaah.
Hendaknya menyadari iman kita tidaklah seperti para Nabi ataupun sahabat nabi, sangat rentan dan lemah, hal ini bisa dirasakan betapa mudahnya seseorang terjerumus kedalam kemaksiatan.
Oleh karena itu Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam memerintahkan agar selalu bersama jamaah.
 فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ الذِّئْبَ يَأْكُلُ الْقَاصِيَةَ
"Hendaklah kamu berjamaah. Ketahuilah sesungguhnya serigala itu akan menerkam mangsa yang sendirian." ( Abu Dawud, An Nasa’i dan dihasankan oleh al-Albani.)

  8) Didera fitnah ataupun ujian terus menerus.
Seorang mukmin akan senantiasa mendapatkan ujian, hal ini untuk melihat sejauh mana ilmu amal dan keyakinannya, sedikitnya ilmu dan bekal untuk menghadapi fitnah baik berupa masalah ekonomi, rumah tangga, anak, maupun yang lainnya banyak menjadikan seseorang futur.
Allah ta'ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS, Al-Baqarah [2]:155)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim  2999)

Banyak saudara-saudara kita ketika diuji dengan perkara di atas mereka mereka menjadi futur dan hilang semangatnya.

  9) Hidup dimasyarakat yang rusak.
Masyarakat yang rusak dapat menjadikan lemah agama seseorang, dimana seseorang menyaksikan kemaksiatan, ketaatan ditertawakan hal ini sebagaimana orang yang berada di perantauan negri kafir, atau mayoritas kaum muslimin yang fasiq di tengah-tengah masyarakat yang rusak tersebut ibarat pedang yang tajam dipakai terus-menerus lama-kelamaan menjadi tumpul, jadilah lambat-laun menjadi futur.

  10) Melupakan ilmu yang telah diterima.
Begitu banyak seseorang yang dulu aktif, prestasi, bersemangat namun lambat laun memudar tak lagi nampak ilmunya bahkan hilang dan berganti futur, hal itu dikarenakan tidak mau menjaga apa yang telah Allah karuniakan kepadanya berupa ilmu yang dia dapat, hafalan yang dia miliki, sehingga Allah hukum dirinya dengan disibukkan pada perkara-perkara yang tidak bermanfaat, hingga akhirnya malas melakukan ketaatan.
Hendaknya kita berdoa kepada Allah untuk melindungi kita dari futur atau kemalasan.
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.” (HR. Bukhari 6367 dan Muslim 2706).

Demikianlah semogabermanfaat. Aamiin.


Sragen 22 Mei 2023.

Junaedi Abdullah.

 




Sabtu, 15 April 2023

KHUTBAH IDUL FITRI 2023.

Khutbah idul fitri

Kebaikan yang harus di biasakan.

Khutbah hajad.

Jama’ah shalat Id rahimahullah, ada hal-hal yang harus kita pertahankan selama kita dididik pada bulan Ramadhan, diantaranya:

1.   Istiqamah di dalam kebaikan sebagaimana disaat ramadhan.

Seperti:

1)  Tetap menuntut ilmu.

Allah ta’ala banyak memuji ilmu dan orang-orang berilmu di dalam Al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ.

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang orang yang di beri ilmu dengan beberapa derajat.” ( QS Al-Mujadilah[58]:11)

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ.

“Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar[39:9).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah. Dishahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah  224)

2)  Berakhlaq dengan khlaq yang baik.

Allah ta’ala berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam [68]: 4)

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).

Begitu besar keutamaan akhlaq, diantaranya sebagaimana disebutkan Rasulullah sallallahu ‘alaaihi wa sallam:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا .

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya, dan yang paling baik di antara kamu sekalian adalah yang paling baik akhlaqnya terhadap isteri-isterinya.” (HR. Ahmad 7402, Tirmidzi 1162, Abu Dawud 4682 dihasan oleh syaikh al-Albani di dalam Ash-Shahihah 284).

Akhlaq yang baik merupakan pemberat timbangan kelak pada hari kiamat.

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ. 

"Tidak ada sesuatupun yang lebih berat dalam timbangan (amalan) seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlaq yang mulia." (HR. Tirmidzi 2002, di hasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Ash-Shahihah 876).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke surga, maka beliau bersabda:

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ  تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ. وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ  الْفَمُ وَالْفَرْجُ.

“Taqwa kepada Allah dan bagusnya akhlak.” Dan beliau ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke neraka, maka beliau bersabda: “mulut dan farji (kemaluan).” (HR Tirmidzi 2004, Abu Dawud 2596, Ibnu Majah 4246. Dihasankan syaikh al-Albani, Lihat As-Shahihah 977)

3)  Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ.

“Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi 2318 dan yang lainnya)

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan iringilah sesuatu perbuatan dosa (kesalahan)  dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik.” (HR. Ahmad 21354, Tirmidzi 1987, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam Al-Misykah 5083).

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan bahwa akhlaq yang baik terhadap mahluk berputar pada tiga perkara, yaitu:

كَفُّ اْلأَذَى ، وَبَذْلُ النَّدَى، وَطَلاَقَةُ الْوَجْهِ.

Menahan dari gangguan (Kafful Adzzaa). Suka membantu, berbuat baik (Badzlun Nada). Wajah yang berseri-seri (Thalaqatul Wajh). (Syarah Riyadhush Shalihin Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, II/387).

 2.   Menunaikan haq dan kewajiban.

1)  Haq kepada Allah ta’ala.

 Allah ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ.

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ.

“Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu." (QS. An Nahl [16]: 36).

Allah mengutus 315 rasul dan 124000 para nabi agar mereka menyeru bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ.

“Dan kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku." (QS. Al Anbiyaa’ [21]: 25)

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا مُعَاذُ، أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ؟» قَالَ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «أَنْ يُعْبَدَ اللهُ وَلَا يُشْرَكَ بِهِ شَيْءٌ»، قَالَ: «أَتَدْرِي مَا حَقُّهُمْ عَلَيْهِ إِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ؟» فَقَالَ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: أَنْ لَا يُعَذِّبَهُمْ.

“Wahai Mu’adz, apakah kamu tahu apa hak Allah atas hamba?” Mu’adz menjawab, “Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Yaitu Allah disembah dan tidak disekutukan dengan sesuatu apapun.” Beliau bersabda lagi, “Apakah kamu tahu apa hak hamba atas Allah jika mereka melakukan itu?” Mu’adz menjawab, “Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Allah tidak akan menyiksa mereka.” ( HR. Bukhari Muslim).

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar [39]: 65)

2)  Haq kepada Rasul-Nya.

Membenarkan apa yang dikabarkan, mentaati apa yang diperintahkan, menjahui apa yang dilarang dan tidak beribadah kecuali apa yang diperintahkan.

3)  Haq kepada kedua orang tua.

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا.

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak.” (QS. An Nisaa [4]: 36).

Dalam ayat ini Allah perintahkan kita agar berbakti kepada kedua orang tua. Namun apabila mereka menyuruh untuk berbuat syirik agar tidak ditaati.

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا.

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Lukman [31]: 15)

4)  Haq kepada sanak kerabat.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl [16]: 90)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِى إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

Seorang yang menyambung silahturahmi bukanlah seorang yang membalas kebaikan seorang dengan kebaikan semisal. Akan tetapi seorang yang menyambung silahturahmi adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahmi setelah sebelumnya putus” (HR. Bukhari 5991 Abu Dawud 1697)

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رزقِهِ وَأَنْ يُنْسَأ لَهُ فِي أثَرِه فَلْيَصِلْ رَحِمَه.

“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari 5985 Muslim 2557 Abu Dawud 1693)

Dari Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ, فَيُعْرِضُ هَذَا, وَيُعْرِضُ هَذَا, وَخَيْرُهُمَا اَلَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ .

 “Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam. Mereka bertemu, lalu seseorang berpaling dan lainnya juga berpaling. Yang paling baik di antara keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam.” (HR. Bukhari 6037 dan Muslim 2560 Ahmad 1589 Abu Dawud 4914)

5)  Haq kepada anak.

Allah ta’ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ.

“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” ( QS. Lukman[31]:13)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ.

“Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa karena ia telah menyia-nyiakan orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.” (HR Ahmad 6828, Abu Dawud 1692 An-Nasa’i 1072 di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam shahih Abu Dawud 1485)

يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ.

“Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untaian kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi 2516, di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam shahih Tirmidzi 2043)

6)   Haq kepada istri.

7)   Haq tetangga.

 

3.   Meminta maaf dan memberikan maaf.

Meminta maaf dan memberi maaf kepada semua orang yang telah menyakiti.

 

4.   Melupakan masa silam yang buruk dan mengganti dengan kebaikan.

1)   Bertaubat dari dosa-dosa.

2)   Mengganti dengan amal sahalih.

3)   Optimis menyongsong masa depan

5.   Bertaqwa secara pribadi dan bersama-sama.

1)   Dicintai Allah.

2)   Dimudahkan masalahnya.

3)   Diberkahi dari langit dan bumi.

4)   Sebaik-baik bekal.

5)   Akan mewarisi surga.

 

6.   Berwasiat kepada para wanita.

1)   Bersyukur kepada suaminya.

2)   Mentaati dalam kebaikan.

3)   Qanaah dalam menerima rezki.

4)   Banyaknya wanita masuk neraka karena kufur kepada suami.

 

Penutup.

 

Sragen 16-04-2023.

Abu Ibrahim.


MENJELANG PERANG UHUD

  MENJELANG PERANG UHUD   Persiapan musyrikin Quraisy Untuk Perang Balas Dendam Mekkah terbakar api amarah terhadap orang-orang Islam ...