Kamis, 23 Juli 2026

SYARAH KITAB TAUHID BAB 16 TENTANG MALAIKAT.

 

SYARAH KITAB TAUHID

 BAB 16 TENTANG MALAIKAT.

Firman Allah Ta'ala:

حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا الْحَقَّ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ.

"Sehingga apabila rasa takut telah dihilangkan dari hati mereka, mereka berkata, 'Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?' Mereka menjawab, 'Kebenaran.' Dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar." (QS. Saba'[34]: 23)

Bab ini tepat apabila diberi judul: "Bab tentang orang yang menggantungkan harapan kepada para malaikat." Sebab, kaum musyrikin dahulu bergantung kepada para malaikat dengan keyakinan bahwa mereka akan memberikan syafaat bagi mereka di sisi Allah.

Kaitan ayat ini dengan tauhid adalah bahwa apabila Allah semata yang memiliki keagungan dan kebesaran yang mutlak, maka hanya Dia yang berhak diibadahi. Karena itu, tidak boleh menjadikan siapa pun sebagai perantara antara hamba dengan Allah, baik malaikat yang paling dekat kepada-Nya maupun nabi yang diutus.

Firman Allah Ta'ala:

﴿حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ﴾

"Hingga apabila telah dihilangkan rasa takut dari hati mereka..." (QS. Saba'[34]: 23)

Rangkaian lengkap ayat tersebut adalah firman Allah Ta'ala:

﴿قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ ۝ وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ ۚ حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا الْحَقَّ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ﴾

"Katakanlah, 'Serulah mereka yang kalian anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Mereka tidak memiliki kekuasaan sebesar zarrah pun di langit maupun di bumi. Mereka juga tidak mempunyai bagian sedikit pun dalam penciptaan keduanya, dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Syafaat di sisi-Nya tidaklah berguna kecuali bagi orang yang telah Dia izinkan. Sehingga apabila rasa takut telah dihilangkan dari hati mereka, mereka berkata, 'Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?' Mereka menjawab, 'Kebenaran.' Dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar." (QS. Saba'[34]: 22–23)

Dalam bab ini terdapat penjelasan mengenai keadaan para malaikat di hadapan Rabb mereka. Mereka dipenuhi rasa takut dan pengagungan kepada Allah. Oleh sebab itu, tidak benar menggantungkan harapan kepada mereka selain kepada Allah dengan alasan mengharapkan syafaat.

Sebagaimana firman Allah Ta'ala tentang para malaikat:

﴿وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۚ بَلْ عِبَادٌ مُّكْرَمُونَ ۝ لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ ۝ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ وَهُمْ مِّنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ ۝ وَمَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَٰهٌ مِّنْ دُونِهِ فَذَٰلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ﴾

"Mereka berkata, 'Yang Maha Pengasih mempunyai anak.' Mahasuci Dia! Sebenarnya mereka (para malaikat) adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka tidak mendahului-Nya dalam berbicara dan mereka hanya mengerjakan apa yang Dia perintahkan. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak memberi syafaat kecuali kepada orang yang diridhai-Nya, dan mereka sendiri selalu diliputi rasa takut kepada-Nya. Barang siapa di antara mereka berkata, 'Sesungguhnya aku adalah tuhan selain Dia,' maka orang itu akan Kami balas dengan Jahanam. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim." (QS. Al-Anbiya'[21]: 26–29)

Firman Allah Ta'ala:

﴿وَمَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَٰهٌ مِّنْ دُونِهِ فَذَٰلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ﴾

"Barang siapa di antara mereka berkata, 'Sesungguhnya aku adalah Tuhan selain Dia,' maka orang itu akan Kami balas dengan Jahanam. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim." (QS. Al-Anbiya'[21]: 29)

Perhatikanlah keterkaitan antara syafaat dan rasa takut (khasy-yah) kepada Allah, niscaya engkau akan melihat kesesuaiannya dengan ayat dan hadis yang disebutkan dalam bab ini. Dengan demikian, akan tampak bagimu maksud penulis dalam membawakan kedua dalil tersebut.

Konteks ayat sebelumnya menunjukkan bahwa tidak ada syafaat kecuali dengan izin Allah Ta'ala. Karena kaum musyrikin meyakini bahwa para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah—Mahasuci Allah dari anggapan tersebut—dan mereka memohon syafaat kepada para malaikat, maka sangat tepat Allah menjelaskan keadaan para malaikat di hadapan-Nya. Hal itu menjadi penjelasan tentang keadaan makhluk yang tidak mampu menciptakan apa pun di hadapan Dzat Yang Maha Pencipta.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menafsirkan Surah An-Najm:

Firman Allah Ta'ala:

﴿وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى﴾

"Betapa banyak malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna, kecuali setelah Allah mengizinkan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridhai." (QS. An-Najm [53]: 26)

Ayat ini semakna dengan firman Allah Ta'ala:

﴿مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ﴾

"Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya?" (QS. Al-Baqarah[2]: 255)

dan firman-Nya:

﴿وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ﴾

"Syafaat di sisi-Nya tidaklah berguna kecuali bagi orang yang telah Dia beri izin." (QS. Saba'[34]: 23)

Jika demikian keadaan para malaikat yang sangat dekat dengan Allah, maka bagaimana mungkin, kalian mengharapkan syafaat dari berhala-berhala dan tandingan-tandingan selain Allah? Padahal Allah tidak pernah mensyariatkan penyembahannya, tidak pula mengizinkannya. Bahkan Allah telah melarangnya melalui lisan seluruh rasul-Nya dan menurunkan seluruh kitab-Nya untuk melarang perbuatan tersebut.

Pingsannya para malaikat ketika Allah Ta'ala mewahyukan suatu perintah menunjukkan betapa dalam pengenalan mereka kepada Allah. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin besar pula rasa takutnya kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

﴿إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ﴾

"Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Fathir[35]: 28)

Firman Allah Ta'ala:

﴿قَالُوا الْحَقَّ﴾

"Mereka menjawab, 'Kebenaran.'

Yang dimaksud dengan "al-haqq" (kebenaran) di sini adalah sifat bagi kalam (firman) Allah Ta'ala, dan kalam Allah terbagi menjadi dua macam.

Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

﴿وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾

"Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu dengan penuh kebenaran dan keadilan. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-An'am[6]: 115)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya:

"Maksudnya, benar dalam seluruh berita yang dikabarkan-Nya, dan adil dalam seluruh perintah serta larangan-Nya."

Namun, ucapan para malaikat:

﴿قَالُوا الْحَقَّ﴾

"Mereka menjawab, 'Kebenaran.'"

bukan berarti mereka tidak saling bertanya tentang apa yang telah Allah firmankan. Hal ini dijelaskan dalam salah satu riwayat:

"Kemudian para malaikat yang berada di dekat para pemikul 'Arsy berkata kepada para pemikul 'Arsy, 'Apakah yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?' Lalu para pemikul 'Arsy mengabarkan kepada mereka apa yang telah Allah firmankan. Setelah itu, para penghuni setiap langit saling bertanya satu sama lain hingga berita tersebut sampai kepada para penghuni langit dunia." (HR. Muslim no. 2229)

Sabda Nabi :

كَسِلْسِلَةٍ عَلَى صَفْوَانٍ

"Seperti rantai yang dijatuhkan di atas batu yang licin."

Yang dimaksud dengan الصفوان (ash-shafwān) adalah batu yang licin dan keras. Apabila rantai dijatuhkan di atasnya, akan terdengar suara yang sangat keras.

Yang dimaksud dalam hadis ini bukanlah menyerupakan suara Allah dengan suara makhluk, tetapi menggambarkan dahsyatnya rasa takut yang memenuhi hati para malaikat ketika mereka mendengar firman Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala:

﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syura [42]: 11)

Karena itu Nabi bersabda:

يَنْفُذُهُمْ ذَلِكَ.

"Suara itu menembus mereka."

Kata النفوذ (an-nufūdz) berarti masuk atau menembus ke dalam sesuatu. Seperti ungkapan: "Anak panah menembus sasaran," yakni masuk ke dalamnya. Maksudnya, suara tersebut sangat dahsyat hingga benar-benar menembus dan memengaruhi hati para malaikat.

Sebagian ulama berpendapat bahwa suara yang dimaksud di sini adalah suara gemuruh langit. Namun, pendapat pertama lebih kuat, yaitu bahwa yang dimaksud adalah suara firman Allah ketika Dia berbicara.

Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata dalam kitab Khalqu Af'al al-'Ibad:

"Sesungguhnya Allah berbicara dengan suara yang dapat didengar oleh yang jauh sebagaimana didengar oleh yang dekat. Sifat seperti ini tidak dimiliki oleh siapa pun selain Allah Yang Mahamulia."

Dalam hal ini terdapat dalil bahwa suara Allah tidak menyerupai suara makhluk. Sebab, suara Allah Yang Mahamulia terdengar oleh yang jauh sebagaimana terdengar oleh yang dekat, dan para malaikat jatuh pingsan karena mendengar suara-Nya.

Imam Al-Bukhari rahimahullah membuat bab dalam kitab Shahih-nya dengan judul:

"Bab firman Allah Ta'ala:

﴿وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ ۚ حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا الْحَقَّ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ﴾

'Syafaat di sisi-Nya tidaklah berguna kecuali bagi orang yang telah Dia izinkan. Sehingga apabila rasa takut telah dihilangkan dari hati mereka, mereka berkata, "Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Kebenaran." Dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.' (QS. Saba'[34]: 23)

Al-Bukhari tidak mengatakan, "Apa yang telah diciptakan oleh Tuhan kalian?" tetapi beliau membawakan lafaz ayat, "Apa yang telah difirmankan oleh Tuhan kalian?" Hal ini menunjukkan penetapan sifat kalam (berbicara) bagi Allah.

Allah Ta'ala juga berfirman:

﴿مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ﴾

"Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya?" (QS. Al-Baqarah[2]: 255)

Masruq meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu:

"Apabila Allah berbicara dengan wahyu, penduduk langit mendengar sesuatu. Setelah rasa takut hilang dari hati mereka dan suara itu telah reda, mereka mengetahui bahwa yang disampaikan itu adalah kebenaran. Lalu mereka saling memanggil, 'Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan kalian?' Mereka menjawab, 'Kebenaran.'"

Diriwayatkan pula dari Jabir, dari Abdullah bin Unais radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Nabi bersabda:

"Allah akan mengumpulkan seluruh hamba, kemudian memanggil mereka dengan suara yang didengar oleh orang yang jauh sebagaimana didengar oleh orang yang dekat: 'Akulah Raja, Akulah Yang Maha Menghisab (Ad-Dayyān).'"

Kāhin (الكاهن) adalah orang yang mengaku mengetahui perkara-perkara gaib di masa depan atau mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati manusia.

Perkataan penulis:

"(Sufyan menggambarkannya dengan telapak tangannya)."

Maksudnya, Sufyan bin 'Uyainah memperagakan bagaimana setan-setan saling bertumpuk, sebagian berada di atas sebagian yang lain, ketika mencuri berita dari langit.

Sufyan yang dimaksud adalah Sufyan bin 'Uyainah Abu Muhammad Al-Hilali Al-Kufi (wafat tahun 198 H).

Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa tujuan penyebutan hadis tersebut adalah menetapkan sifat kalam (berbicara) bagi Allah Ta'ala secara hakiki, sebagai bantahan terhadap golongan Mu'aththilah yang menolak atau menyelewengkan sifat-sifat Allah. Adapun pembahasan lebih rinci tentang masalah ini akan datang pada bab tersendiri, insya Allah.

Penjelasan

Dalam hadis ini terdapat dalil tentang penetapan sifat irādah (kehendak) bagi Allah Ta'ala.

Iradah Allah terbagi menjadi dua:

Iradah syar'iyyah (kehendak syariat).

Iradah kauniyyah (kehendak kauniyah/takdir).

Perbedaan keduanya adalah:

a. Ditinjau dari sisi kecintaan Allah:

Iradah syar'iyyah berkaitan dengan perkara yang dicintai dan diridhai Allah.

Iradah kauniyyah bisa berkaitan dengan sesuatu yang dicintai Allah, dan bisa pula dengan sesuatu yang tidak dicintai-Nya, namun Allah tetap menghendakinya terjadi sebagai bagian dari hikmah-Nya.

b. Ditinjau dari sisi terjadinya:

Iradah syar'iyyah bisa terlaksana dan bisa pula tidak terlaksana, karena manusia diberi pilihan untuk menaati atau mendurhakai.

Iradah kauniyyah pasti terjadi dan tidak mungkin gagal, karena segala sesuatu yang Allah kehendaki secara takdir pasti terjadi.

Kedua macam kehendak tersebut sama-sama mengandung hikmah Allah.

Contoh iradah kauniyyah adalah firman Allah Ta'ala:

﴿فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ﴾

"Dia Maha Berbuat terhadap apa yang Dia kehendaki."

(QS. Al-Buruj: 16)

Iradah kauniyyah sama maknanya dengan masyi'ah (kehendak Allah dalam takdir). Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi.

Contoh iradah syar'iyyah adalah firman Allah Ta'ala:

﴿وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ﴾

"Allah menghendaki untuk menerima tobat kalian."

(QS. An-Nisa': 27)

Bintang-bintang dijadikan sebagai alat untuk melempari setan-setan. Ketika Nabi Muhammad diutus, pelemparan terhadap setan menjadi lebih sering dan lebih dahsyat daripada sebelumnya.

Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata:

Rasulullah sedang duduk bersama beberapa sahabatnya. Tiba-tiba melintas sebuah bintang besar sehingga langit menjadi terang. Beliau bertanya:

"Apa yang biasa kalian katakan pada masa jahiliah ketika melihat kejadian seperti ini?"

Mereka menjawab:

"Kami dahulu mengatakan bahwa seorang tokoh besar telah lahir atau seorang tokoh besar telah meninggal."

Ma'mar bin Rasyid berkata:

Aku bertanya kepada Az-Zuhri, "Apakah pada masa jahiliah juga terjadi pelemparan dengan bintang-bintang?"

Beliau menjawab:

"Ya, tetapi pelemparannya menjadi lebih dahsyat ketika Nabi diutus."

Lalu Rasulullah bersabda:

"Sesungguhnya bintang-bintang itu tidak dilemparkan karena kematian seseorang ataupun karena kelahirannya. Akan tetapi, apabila Rabb kita Tabāraka wa Ta'ālā menetapkan suatu urusan..."

Kemudian beliau menyebutkan hadis tersebut hingga selesai.

Wahyu (الوحي) secara bahasa adalah penyampaian suatu informasi dengan cepat dan secara tersembunyi. Adapun dalam istilah syariat, wahyu adalah pemberitahuan Allah kepada para nabi-Nya dengan cara yang dikehendaki-Nya.

1. Para malaikat memiliki rasa takut kepada Allah Ta'ala.

 

Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

 

> ﴿يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ﴾

 

"Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka, dan mereka melaksanakan apa saja yang diperintahkan kepada mereka."

(QS. An-Nahl: 50)

 

2. Ayat ini menetapkan bahwa para malaikat memiliki hati, dan dengan hati itulah mereka memahami serta menyadari.

3. Ayat ini juga menunjukkan bahwa para malaikat adalah makhluk yang memiliki jasad, bukan sekadar kekuatan atau makna abstrak.

4. Menetapkan sifat kalam (berbicara) bagi Allah Ta'ala, dan bahwa Allah berbicara kapan saja Dia kehendaki.

5. Keputusan Allah terjadi dengan firman-Nya, sebagaimana firman Allah Ta'ala:

> ﴿إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ﴾

"Apabila Dia menetapkan sesuatu, Dia hanya berfirman kepadanya, 'Jadilah!', maka jadilah ia."

(QS. Ali 'Imran: 47)

6. Allah Subhanahu wa Ta'ala membiarkan sebagian jin mencapai langit sebagai ujian dan cobaan bagi manusia. Mereka mencuri sebagian berita dari langit, lalu menyampaikannya kepada para dukun. Allah telah menjelaskan hal ini kepada hamba-hamba-Nya agar mereka tidak tertipu oleh para dukun dan para pendusta yang mengaku mengetahui perkara gaib.

Catatan

 

Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dalam ayat ﴿حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ﴾ adalah orang-orang kafir, bukan para malaikat. Namun pendapat ini tertolak karena bertentangan dengan hadis sahih yang telah disebutkan sebelumnya.

 

Ayat ini juga membantah keyakinan sebagian orang non-Muslim yang menganggap malaikat hanyalah simbol kekuatan kebaikan dalam jiwa atau sekadar makna abstrak. Yang benar, malaikat adalah makhluk Allah yang nyata dan memiliki jasad sesuai dengan hakikat yang Allah ciptakan.

 

Demikian pula ayat ini membantah kelompok Mu'aththilah, yang menolak sifat kalam Allah atau mengatakan bahwa kalam Allah hanyalah makna yang ada dalam diri-Nya, atau bahwa Allah hanya menciptakan ucapan pada makhluk tanpa berbicara secara hakiki. Yang benar adalah bahwa Allah benar-benar berbicara dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupai makhluk.

Allah membiarkan hal tersebut terjadi agar manusia diuji, namun pada saat yang sama Allah juga menjelaskan hakikatnya sehingga tidak timbul kesamaran bagi mereka. Milik Allah-lah hikmah yang sempurna dan mendalam.

Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

 

> ﴿وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَزَيَّنَّاهَا لِلنَّاظِرِينَ ۝ وَحَفِظْنَاهَا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ ۝ إِلَّا مَنِ اسْتَرَقَ السَّمْعَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ مُّبِينٌ﴾

 

"Sungguh, Kami telah menjadikan gugusan-gugusan bintang di langit dan menghiasinya bagi orang-orang yang memandangnya. Dan Kami menjaganya dari setiap setan yang terkutuk. Kecuali setan yang mencuri pendengaran, maka ia dikejar oleh semburan api yang terang."

(QS. Al-Hijr: 16–18)

Nabi juga telah menjelaskan perkara ini dalam banyak hadis. Di antaranya adalah hadis pada bab ini, yaitu sabda beliau:

> "...Maka manusia membenarkan dukun itu karena satu kalimat yang didengarnya dari langit."

Artinya, setan berhasil mencuri satu berita yang benar dari langit, lalu menyampaikannya kepada dukun. Setelah itu dukun mencampurkannya dengan banyak kebohongan. Karena satu berita itu ternyata benar, sebagian orang tertipu lalu membenarkan seluruh perkataan dukun tersebut.

Faedah

1. Menetapkan sifat al-'Uluw (Mahatinggi) bagi Allah Ta'ala, berdasarkan sabda Nabi :

> «إِذَا قَضَى اللَّهُ الْأَمْرَ فِي السَّمَاءِ»

"Apabila Allah menetapkan suatu urusan di langit..."

Hadis ini menunjukkan bahwa Allah Mahatinggi di atas seluruh makhluk-Nya, sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupai makhluk.

2. Menunjukkan besarnya kesungguhan setan dalam menyesatkan manusia. Mereka rela menghadapi berbagai bahaya, bahkan dikejar oleh semburan api (syihab), demi memperoleh sedikit berita yang kemudian digunakan untuk menipu manusia melalui para dukun dan tukang ramal.

 

Catatan: Al-Alusi rahimahullah menjelaskan bahwa penjagaan langit dari pencurian berita gaib merupakan bagian dari hikmah Allah dalam menguji hamba-hamba-Nya. Allah dapat menghalangi setan sama sekali dari naik ke langit, namun Dia menjadikan peristiwa itu sebagai ujian agar tampak siapa yang beriman kepada wahyu dan siapa yang mengikuti para pendusta.

Sekian semoga bermanfaat.

 

-----000-----

 

 

Sumber at-Taudhih ar-Rasyid Abu Abdillah Huldun

 

Dinukil oleh Abu Ibrahim Junaedi dengan beberapa ringkasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SYARAH KITAB TAUHID BAB 16 TENTANG MALAIKAT.

  SYARAH KITAB TAUHID   BAB 16 TENTANG MALAIKAT. Firman Allah Ta'ala: حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ ...