KEGIATAN SETELAH
PERANG BADAR.
KORBAN PERANG BADAR KEDUA
BELAH PIHAK
Pertempuran berakhir
dengan kekalahan telak di pihak kaum musyrikin dan kemenangan gemilang di pihak
kaum Muslimin. Pada pertempuran itu, dari pihak kaum Muslimin gugur sebagai
syuhada empat belas orang, enam orang dari Muhajirin dan delapan orang dari Anshar.
Sedangkan pihak kaum
musyrikin, mereka mengalami keru-gian yang amat fatal. Pada pertempuran itu,
tewas 70 orang dan 70 orang lainnya ditawan yang mayoritas mereka adalah para
komandan, pemimpin dan ksatria.
Ketika perang
berakhir, Rasulullah menghampiri para korban (kaum musyrikin) hingga berdiri di
hadapan mereka. Beliau berkata, "Sungguh kalian adalah seburuk-buruk
keluarga dekat terhadap Nabi kalian. Kalian telah mendustakanku sementara
orang-orang malah membenarkanku; kalian menghinakanku sementara orang-orang
menolongku dan kalian mengusirku sementara orang-orang menampungku.' Kemudian
beliau memerintahkan agar diurus semua mayat-mayat tersebut, lalu diseret untuk
dijebloskan kedalam sumur yang terletak di jantung kawasan Badar.
Abu Thalhah
meriwayatkan bahwasanya Nabi memerintah-kan pada hari perang Badar untuk
mengurusi 24 orang dari para ksatria Quraisy, lalu mereka dibuang ke salah satu
sumur batu di Badar yang amat busuk menyengat. Beliau mempunyai kebiasaan bila
mendapatkan kemenangan atas suatu kaum, beliau berdiam di medan perang selama
tiga malam. Maka, tatkala memasuki malam ke-tiga di Badar, beliau minta
kendaraannya dibawa ke hadapan beliau, lalu beliau mengikat tempat barangnya,
kemudian berjalan. Lalu diikuti oleh para sahabatnya hingga beliau berada di
tepi sumur seraya menyeru nama-nama mereka dan bapak-bapak mereka, "Wahai
fulan bin fulan! Wahai fulan bin fulan! senangkah kalian andai kalian dulu
mena'ati Allah dan Rasul-Nya? Sesungguhnya kami telah mendapatkan apa yang
telah dijanjikan Rabb Kami adalah benar, apakah kalian juga telah mendapatkan
apa yang telah dijanjikan oleh Rabb kalian benar?."
"Umar berkata,
"Wahai Rasulullah! Tidakkah engkau berbicara kepada jasad-jasad yang tidak
lagi bernyawa?."
Beliau menjawab,
"Demi Dzat Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kalian tidak lebih
mendengar daripada mereka apa yang aku katakan."
Di dalam riwayat yang
lain beliau berkata, "Kalian tidak lebih mendengar daripada mereka, hanya
saja mereka tidak bisa menjawabnya. ( Muttafaq 'alaih; Misykdh, Op.cit. h.352)
KOTA MEKKAH MENERIMA
BERITA KEKALAHAN
Kaum musyrikin lari
tunggang langgang dari medan perang Badar secara sporadis dan tidak teratur.
Mereka bercerai berai di lembah-lembah dan celah-celah perbukitan. Langkah
mereka menuju kota Mekkah dengan penuh ketakutan, tidak tahu bagaimana harus
memasukinya karena rasa malu.
Ibnu Ishaq berkata,
"Orang pertama yang datang dengan mem-bawa berita Quraisy adalah
al-Haisaman bin 'Abdullah al-Khuza'iy. Lalu mereka bertanya kepadanya,
"Berita apa yang kau bawa?."
Dia menjawab,
'Kematian 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Abu al-Hakam bin Hisyam (Abu
Jahal), Umayyah bin Khalaf "Kemu-dian dia menyebutkan para pemimpin
Quraisy lainnya. Tatkala dia mulai menghitung-hitung para bangsawan Quraisy,
berkatalah Shafwan bin Umayyah yang sedang duduk di Hijr Isma'il, "Demi
Allah, Jika orang ini waras, maka, tanyakanlah kepadanya tentangku!."
Mereka bertanya,
"Apa yang dilakukan oleh Shafwan bin Umayyah?."
Dia menjawab,
"Itu dia sedang duduk di Hijr Ismail. Demi Allah, aku melihat ayah dan
saudaranya saat terbunuh."
aku Abu Rafi' -maula
Rasulullah berkata, “Dahulu adalah budak milik al-'Abbas, kala itu Islam telah
masuk kepada kami, Ahlul Bait. Lalu al-'Abbas masuk Islam pula, demikian juga
halnya dengan Ummu al-Fadhl Istrinya dan diriku. Hanya saja al-Abbas masih menyembunyikan
keislamannya. Ketika itu, Abu Lahab tidak ikut serta dalam perang Badar.
Tatkala berita telah sampai kepadanya, maka Allah pun mempermalukan dan
meng-hinakannya sedangkan kami mendapatkan di dalam diri kami kekuatan dan
'izzah. Aku seorang laki-laki lemah yang bekerja sebagai pembuat anak-anak
panah. Aku biasa (membentuk anak-anak panah tersebut di) sisi Zam-zam. Demi
Allah, sungguh aku sedang duduk di sana sambil membentuk anak-anak panah yang
ada padaku sedangkan di sisiku, duduk pula Ummu al-Fadhl. Kala itu berita
(kemenangan kaum Muslimin) yang sampai kepada kami, membuat kami bersuka cita.
Tiba-tiba Abu Lahab datang menyeret kedua kakinya untuk niat jahat hingga duduk
di sisi sumur zam-zam. Saat itu posisi punggungnya membelakangi punggungku.
Manakala dia duduk-duduk demikian, tiba-tiba orang-orang berkata, "Ini dia
Abu Sufyan bin al-Harits bin 'Abdul Muththalib telah datang."
Lalu Abu Lahab berkata
kepadanya, "Kemarilah, sungguh kamu pasti membawa berita!"
Lalu dia duduk di
dekatnya sementara orang-orang berdiri mengerumuninya. Maka, Abu Lahab berkata
lagi, "Wahai anak sau-daraku (kemenakanku)! Tolong beritakan kepadaku apa
yang telah terjadi terhadap orang-orang (kita)?"
Dia menjawab,
"Yah, begitu kami berjumpa dengan kaum Muslimin, (dengan mudahnya mereka
menghabisi kami seakan) kami menyerahkan pundak-pundak kami untuk mereka bunuhi
sekehen-dak mereka dan menawan kami sekehendak mereka. Demi Allah, sekalipun
demikian aku tidak mencela orang-orang kita. Karena kami dihadang orang-orang
putih penunggang kuda bercak-bercak di antara langit dan bumi. Demi Allah,
tidak ada sesuatupun yang mereka sisakan dan tidak ada sesuatupun yang dapat
menghentikan mereka."
Abu Rafi' melanjutkan,
"Maka aku mengangkat atap bilik sumur zam-zam dengan tanganku, lalu aku
berkata, 'Demi Allah, itu adalah malaikat!'. (mendengar itu) Abu Lahab
mengangkat tangannya lalu menamparkannya ke arah wajahku dengan tamparan yang
keras, maka aku menerkamnya namun dia berhasil menangkap dan memikulku lalu
menghempaskanku ke bumi, kemudian duduk di atasku sambil memukuliku, kala itu
aku, seorang laki-laki yang lemah. (Melihat itu) Ummu al-Fadhl yang ada disitu
pergi ke arah salah satu tiang bilik, lalu dia mencopotnya lantas memukulkannya
kepada Abu Lahab hingga membuat kepalanya luka menganga. Lalu Ummu al-Fadhl
berkata kepadanya, 'Engkau berani menganiayanya manakala tuannya tidak ada di
sisinya." Maka diapun berlalu dalam keadaan terhina dan malu. Demi Allah,
dia hanya bertahan hidup tujuh hari saja setelah itu, selanjutnya Allah
mengirimkan kepadanya penyakit 'Adasah, lalu mengakhiri hidupnya. ('Adasah
adalah bisul yang tumbuh di sekujur badan dan orang Arab menganggapnya penyebab
kesialan) Lalu anak-anaknya membiarkannya hingga tiga hari, tidak didekati
jenazahnya dan tidak ada yang berusaha mengu burkannya. Tatkala mereka khawatir
mendapatkan 'aib karena membiarkannya, merekapun menggali lubang untuknya,
kemudian mendorongnya dengan sebuah ranting kayu pada lubang tersebut, lalu
mereka melemparinya dengan batu dari kejauhan hingga mereka menguburnya).
Demikianlah kota
Mekkah menerima berita kekalahan telak di medan perang Badar. Hal itu telah
menggoreskan dampak yang sangat negatif terhadap psikologis mereka,
sampai-sampai membuat mereka melarang meratapi orang-orang yang sudah mati
tersebut agar kaum Muslimin tidak bergembira atas musibah mereka.
Salah satu kejadian
langka bahwa al-Aswad bin al-Muththalib memiliki tiga orang putra yang gugur
pada perang Badar. Dia sebenarnya ingin meratapi mereka sementara dia sendiri
seorang yang buta. Suatu malam, dia mendengar suara wanita meratap, lalu dia
mengutus budaknya untuk menyelidiki seraya berkata, 'Lihatlah, apakah sudah
dibolehkan meratap? Apakah orang-orang Quraisy telah meratapi orang-orang yang
mati di antara mereka? Semoga saja aku bisa meratapi Abu Hakimah -anaknya-
sebab lubuk hatiku telah terbakar.' Setelah itu, budaknya pun kembali seraya
memberitakan, 'itu hanyalah seorang wanita yang meratapi ontanya yang hilang Mendengar
hal itu, al-Aswad tidak dapat lagi menahan diri, lalu merangkai beberapa
untaian bait sya'ir,
Apakah dia meratap
karena onta yang sesat Dan kegelisahan menahannya 'tuk tidur
Jangan ratapi Bakar
akan tetapi ratapi Badar, karenanya nenek-moyang menjadi berkurang
Pada Badar, pejalan
malam Bani Hashish, Makhzum dan anak-anak Abu al-Walid
Jika engkau hendak
meratap, ratapilah 'Ugail, Ratapilah Harits, si singanya para singa.
KOTA MADINAH MENERIMA
BERITA KEMENANGAN
Tatkala kemenangan
sudah diraih kaum Muslimin sempurna, Rasulullah mengirimkan dua orang untuk
menyampaikan kabar gembira kepada para penduduk madinah sehingga berita gembira
ini cepat tersebar. 'Abdullah bin Rawahah beliau utus untuk menyampaikan kabar
gembira kepada penduduk yang tinggal di dataran tinggi sedangkan Zaid bin
Hâritsah, beliau utus untuk menyampaikan kabar gembira kepada para penduduk
yang tinggal di dataran rendah.
Sementara orang-orang
Yahudi dan kaum munafikin telah menghembuskan isu bohong di Madinah bahkan
mereka sampai menyebarkan berita bahwa Nabi telah terbunuh. Dan tatkala
orang-orang munafik ini melihat Zaid bin Haritsah menunggang al-Qashwa -onta
Rasulullah - berkatalah dia, "Sungguh Muhammad telah terbunuh. Inilah
ontanya yang kita kenal dan ini Zaid datang tidak tahu apa yang harus dikatakan
karena panik dan datang untuk membawa berita kekalahan.
Manakala kedua utusan
itu telah sampai, maka kaum Muslimin pun mengerumuni mereka berdua dan mulai
mendengarkan berita dari keduanya hinga mereka benar-benar yakin bahwa kaum Muslimin
telah meraih kemenangan. Maka keceriaan dan kegembiraan pun melanda semua dan
pekik tahlil dan takbir bergema di seantero kota Madinah. Para pimpinan kaum
Muslimin yang berada di Madinah bergerak menuju jalan ke Badar untuk memberi
ucapan selamat kepada Rasulullah atas kemenangan besar ini.
Usamah bin Zaid
berkata, "Berita kemenangan ini datang tatkala kami selesai mengebumikan
Ruqayyah binti Rasulullah yang merupakan istri 'Utsman bin 'Affan. Ketika
berangkat, Rasulullah menugasiku bersama utsman untuk mengurusinya."
MEMPERSELISIHKAN HARTA
RAMPASAN
Rasulullah menetap di
Badar selama 3 hari setelah berakhir-nya pertempuran dan sebelum beliau
berangkat dari sana terjadi perselisihan di antara pasukan kaum Muslimin
seputar harta rampasan ketika perselisihan semakin memuncak Rasulullah
memerintahkan agar seluruh pasukan mengembalikan semua yang ada pada mereka dan
mereka pun melaksanakan perintah tersebut, kemudian turunlah wahyu yang
memecahkan problem tersebut. Diriwayatkan dari 'Uba-dah bin ash-Shamit, dia
berkata, "Kami pergi bersama Rasulullah, kemudian aku turut serta
bersamanya dalam perang Badar dan (kedua) pasukan bertemu, kemudian Allah
mengalahkan (pasukan) musuh. Selanjutnya satu kelompok pasukan kaum Muslimin
pergi melacak jejak mereka, mengejar dan membunuh. Satu kelompok lagi sibuk
mengurus harta rampasan, menjaga dan mengumpulkannya. Sementara satu kelompok
lagi mengelilingi Rasulullah agar tidak satupun musuh yang dapat menyentuh
beliau. Hingga haripun beranjak malam dan orang-orang kembali ke tempat
masing-masing. Lalu berkatalah para pengumpul harta rampasan, "Kamilah
yang mengumpulkannya dan tidak seorang pun yang memiliki jatah di
dalamnya."
Lantas berkata pula
kelompok yang pergi mengejar musuh, "Kalian tidak lebih berhak dari kami.
Kamilah yang mengusir musuh dan menghancurkannya."
Kemudian berkata pula
kelompok yang telah melindungi Rasulullah,“Kami amat khawatir musuh dapat
menyentuh beliau meski sedikit saja, karenanya kami sibuk dengan hal itu."
Berkenaan dengan
kejadian ini, turunlah firman Allah,
يَسْتَلُونَكَ عَنِ
الْأَنفَالِ قُلِ الْأَنفَالُ لِلَّهِ وَالرَّسُولِ فَاتَّقُوا اللَّهَ
وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِن كُنتُم
مُّؤْمِنِينَ
"Mereka
menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah,
'Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah
kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada
Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang beriman." (al-Anfål: 1).
Maka Rasulullah membagi-bagikannya
di antara kaum Muslimin. (Dieluarkan oleh Ahmad, V/323 324, al-Hakim, Op.cit.,
I/326).
TENTARA (ISLAM) BERGERAK
MENUJU MADINAH
Setelah menetap selama
tiga hari di Badar, Rasulullah bersama tentaranya bergerak menuju Madinah
dengan membawa para tawanan dari kaum musyrikin. Sementara harta rampasan yang
didapat dari mereka juga diangkut dan dipercayakan kepada 'Abdullah bin Ka'b. Tatkala
keluar dari jalan sempit ash-Shafra, beliau singgah di bukit pasir antara jalan
sempit tersebut dan an-Nariziyah. Di sanalah beliau membagi-bagikan harta
rampasan kepada kaum Muslimin dengan jatah yang sama setelah mengambil 1/5
darinya. Dan ketika sampai di ash-Shafra, beliau memerintahkan agar membunuh
an-Nadhar bin al-Harits yang merupakan pembawa panji kaum musyrikin pada perang
Badar. Dia salah seorang penjahat kelas kakap Quraisy dan termasuk orang yang
paling keras di dalam melakukan kelicikan terhadap Islam dan menyakiti
Rasulullah. Dia akhirnya dipenggal lehernya oleh 'Ali bin Abi Thalib.
Tatkala sampai di 'Irq
azh-Zhabyah, beliau memerintahkan lagi agar membunuh 'Uqbah bin Abi Mu'ith. Dan
telah dipaparkan sebelumnya bagaimana dia menyakiti Rasulullah. Dialah orang
yang melemparkan kotoran onta ke arah kepala Rasulullah saat beliau sedang
shalat dan mencekik beliau dengan pakaiannya, bahkan hampir saja membunuh
beliau andaikata Abu Bakar tidak menghalanginya. Manakala beliau memerintahkan
agar membunuhnya, 'Uqbah berkata, "Siapa yang mengurusi anak-anakku, wahai
Muhammad?"
Beliau menjawab,
"Api Neraka."( 1 Hal itu diriwayatkan oleh para pengarang buku-buku
Shihdh; Lihat Sunan Abi Daud beserta anotasinya Aun al-Ma'büd, III/12).
Lalu dia dibunuh oleh
'Ashim bin Tsabit al-Anshari. Ada riwayat yang menyebutkan, dia dibunuh oleh
'Ali bin Abi Thalib.
Berdasarkan sudut
pandang perang, eksekusi terhadap kedua Thaghut ini adalah wajib dilaksanakan
sebab mereka berdua bukan saja hanya sebagai tawanan tetapi termasuk para
penjahat perang menurut terminologi kontemporer.
KONTINGEN PENYAMBUTAN
Tatkala beliau tiba di
ar-Rawha, beberapa pimpinan kaum Muslimin menjumpai beliau. Mereka ini adalah
kaum Muslimin yang keluar untuk memberikan ucapan selamat dan sambutan kepada
beliau ketika mendengar berita gembira perihal kemenangan yang disampaikan oleh
dua orang utusan di atas.
Ketika itu, berkatalah
Salamah bin Sallamah, "Untuk apa kalian mengucapkan selamat untuk kami?
Demi Allah, kami hanya menjumpai orang-orang renta yang botak seperti
onta!"
Mendengar hal itu,
Rasulullah hanya tersenyum, kemudian berkata, "Wahai anak saudaraku!
Mereka itu pemuka kaum!."
Usaid bin Hudhair
berkata, "Wahai Rasulullah! Segala puji bagi Allah yang telah
memenangkanmu dan membuat senang. Demi Allah! Wahai Rasullah, tidaklah aku
ketinggalan ambil bagian ikut ke Badar jika saja aku tahu bahwa engkau akan
menjumpai musuh. Akan tetapi aku mengira yang engkau temui itu hanya kafilah
dagang. Andaikata aku tahu itu musuh, tentu aku akan ikut serta."
Rasulullah berkata,
"Engkau benar!."
Kemudian Rasulullah
memasuki Madinah dengan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan. Setiap musuh
di Madinah dan sekitarnya menjadi gentar terhadap beliau. Bukan itu saja bahkan
banyak sekali penduduk Madinah yang masuk Islam. Dan ketika itulah, Abdullah
bin Ubay dan para rekannya masuk Islam secara lahiriah saja
Para tawanan datang ke
Madinah, sehari setelah beliau sampai lebih dahulu. Lalu beliau membagi-bagikan
mereka kepada para sahabat beliau dan berpesan agar berbuat baik kepada mereka.
Para sahabat hanya memakan kurma sementara para tawanan, mereka sediakan roti
sebagai implementasi dari pesan Rasulullah tersebut.
PROBLEMATIKA SEPUTAR
TAWANAN
Manakala Rasulullah
sampai di Madinah, beliau meminta pendapat para sahabatnya soal para tawanan.
Lalu berkatalah Abu Bakar, "Wahai Rasulullah! Mereka itu adalah anak-anak
paman, keluarga besar dan saudara-saudara kita. Sesungguhnya aku berpen-dapat
agar kita ambil tebusan saja dari mereka sehingga apa yang kita ambil itu
menopang kekuatan buat kita menghadapi kaum Kafir. Semoga saja dengan begitu,
Allah memberikan hidayah kepada mereka sehingga nantinya menjadi penolong
kita."
Maka, Rasulllah
berkata, “Bagaimana pendapatmu, wahai "Umar?."
Dia menjawab,
"Menurutku, demi Allah! Aku tidak sependapat dengan Abu Bakar akan tetapi
menurut pendapatku, engkau berikan mandat kepadaku atas si fulan seorang
kerabat 'Umar- biar aku penggal batang lehernya. Dan engkau berikan mandat
kepada 'Ali atas 'Aqil bin Abi Thalib agar dia memenggal lehernya serta engkau
berikan mandat kepada Hamzah atas si fulan yang merupakan saudaranya agar dia
memenggal lehernya sehingga musuh-musuh Allah mengetahui bahwa di hati kita
tidak ada sikap lunak dan kasih terhadap kaum musyrikin. Dan mereka itu adalah
ksatria mereka, pemimpin dan komandan mereka."("Umar berkata-penj.).
"Maka Rasulullah
lebih cenderung kepada pendapat Abu Bakar, tidak kepada pendapatku. Lalu beliau
mengambil tebusan dari mereka." Maka tatkala keesokan harinya, 'Umar
berkata, "Lalu pagiharinya aku menghadap Nabi dan Abu Bakar sementara
keduanya sedang menangis. Lantas aku bertanya kepada Rasulullah, "Tolong beritahukan
kepadaku, apa yang menyebabkan engkau dan sahabatmu ini menangis?. Bila patut
aku menangis maka aku akan menangis pula, dan jika tidak maka aku akan berusaha
menangis karena tangis kalian berdua."
Lalu Rasulullah
menjawab, "Terhadap hal yang ditawarkan oleh para sahabatmu, yaitu agar
mengambil tebusan. Hal itu telah menawarkan siksaan mereka terhadapku lebih
dekat dari pohon ini yang di dekat beliau-."(Tarikh 'Umar bin
al-Khaththab, Op.cit., h.36)
Lalu Allah menurunkan
firman-Nya, "Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia
dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiah
sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu
dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu
ambil." (al-Anfâl: 67-68)
Ada riwayat yang
menyatakan bahwa yang dimaksud dengan "ketetapan yang telah terdahulu dari
Allah" adalah firman-Nya dalam surat Muhammad ayat 4, yaitu (artinya),
"Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan
sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang
berhenti."
Di dalam ayat
tersebut, terdapat izin agar mengambil tebusan dari para tawanan. Oleh karena
itulah, mereka tidak disiksa tetapi hanya turun teguran karena mereka telah
menawan orang-orang kafir sebelum mereka dapat dilumpuhkan di muka bumi. Versi
riwayat lain menyatakan bahwa ayat tersebut bahkan turun setelah itu dan yang
dimaksud dengan "ketetapan yang telah terdahulu dari Allah" adalah
ilmu Allah yang berkenaan dengan penghalalan harta-harta rampasan bagi umat
ini, atau ampunan dan rahmat bagi para Mujahidin Badar.
Mengingat putusan
sudah mantap untuk mengambil pendapat Abu Bakar ash-Shiddiq, maka beliau
mengambil tebusan tersebut dari mereka. Tebusan itu senilai 1000 dirham, 3000
dirham hingga 4000 dirham. Penduduk Mekkah mayoritasnya bisa baca-tulis
sedangkan penduduk Madinah tidak demikian, maka siapa saja yang tidak mampu
membayar tebusan, maka diserahkan kepadanya 10 orang anak-anak Madinah agar dia
mengajari mereka baca tulis dan bila mereka sudah pandai, maka itulah
tebusannya.
Beberapa di antara
para tawanan tersebut dilepaskan oleh Rasulullah tanpa tebusan apa pun, yaitu
al-Muththalib bin Hanthab Shaifiy bin Abi Rifa'ah, dan Abu 'Izzah al-Jumahiy
-yang kelak dibunuh sebagai tawanan pada perang Uhud dan akan dibicarakan
nanti.
Beliau juga
membebaskan menantu beliau, Abu al-'Ash dengan syarat membiarkan Zainab putri
beliau menentukan jalan hidupnya. Namun sebelumnya, Zainab telah mengirim uang
untuk menebusnya, juga kalungnya yang dulunya milik Khadijah dan diberikannya
untuknya ketika menikah dengan Abu al-'Ash. Tatkala Rasulullah melihatnya,
beliau amat iba sekali dan memohon kepada para saha-batnya agar mengizinkannya
melepaskan Abu al-'Ash, lalu mereka pun mempersilahkan beliau. Kemudian
Rasulullah mengajukan persyaratan kepada Abu al-'Ash agar membiarkan Zainab
menen-tukan jalan hidupnya, lalu dia melakukannya, kemudian Zainab pun ikut
berhijrah. Setelah itu, Rasulullah mengirim Zaid bin Häritsah dan seorang dari
Anshar seraya berkata, "Siagalah di pedalaman Ya jaj hingga Zainab
melintasi kalian berdua lalu kalian menyertainya."
Kemudian keduanya
berangkat hingga akhirnya membawa pulang Zainab. Dan kisah hijrahnya ini amat
panjang dan demikian ironis.
Di dalam tawanan juga
terdapat Suhail bin 'Amr. Dia seorang orator yang menawan. 'Umar berkata,
"Wahai Rasulullah, cabutiah kedua gigi seri Suhail bin 'Amr agar terjulur
lisannya. Dengan begitu, dia tidak lagi berpidato untuk menjelekkanmu selama-lamanya
dalam suasana perang," hanya saja Rasulullah menolak permintaan ini karena
untuk menjaga supaya tidak terjadi penyiksaan fisik dan agar terhindar siksaan
Allah pada hari Kiamat.
Suatu ketika Sa'd bin
an-Nu'man pergi dalam rangka berumrah, namun dia ditahan oleh Abu Sufyan.
Ketika itu, anaknya, 'Amr bin Abi Sufyan termasuk di dalam deretan para
tawanan, lalu mereka (kaum Muslimin) mengirimkannya kepada Abu Sufyan sehingga
Abu Sufyan pun melepaskan Sa'd.
AL-QUR'AN BERBICARA
TENTANG TEMA PERTEMPURAN
Mengenai tema
pertempuran ini turunlah surat al-Anfal. Surat ini dapat dikatakan bila
ungkapan ini dapat dibenarkan-sebagai tanggapan Allah atas pertempuran
tersebut. la amat berbeda dengan tanggapan-tanggapan alias komentar-komentar
yang disuarakan para raja dan para panglima setelah meraih kemenangan.
Sesungguhnya
pertama-tama, Allah Ta'ala mengalihkan perhatian kaum Muslimin akan adanya
beberapa keterbatasan pada mereka di samping akhlaq-akhlaq terpuji yang masih
ada pada diri mereka sebagiannya muncul agar mereka berupaya menyempurna-kan
diri mereka dan menyucikannya melalui pujian-pujian tersebut.
Selanjutnya, Allah
Ta'ala memuji akan adanya dukungan, bantuan dan pertolongan-Nya secara ghaib
terhadap kaum Muslimin dalam kemenangan ini. Dia menyinggung hal itu agar
mereka tidak terkecoh oleh keberanian dan kepahlawanan mereka sehingga
me-nyelinap sifat congkak dan sombong ke dalam diri mereka. Bahkan agar mereka
bertawakal kepada Allah, mena'ati-Nya dan mena'ati Rasul-Nya .
Kemudian Allah
menjelaskan target-target dan tujuan-tujuan mulia yang karenanya Rasulullah
mengarungi pertempuran ber-darah yang mengerikan ini. Demikian pula,
menunjukkan kepada mereka sifat-sifat dan akhlaq yang menjadi sebab kemenangan
di dalam pertempuran-pertempuran.
Demikian juga, Dia
menyeru orang-orang musyrikin, kaum munafikin, kaum Yahudi dan para tawanan
perang serta memberikan nasehat yang demikian menyentuh hati dan membimbing
mereka untuk berserah diri pada kebenaran dan senantiasa berpegang pada-nya.
Selanjutnya, Dia juga
mengajak bicara kaum Muslimin seputar tema harta rampasan, merancang bagi
mereka beberapa prinsip dan dasar-dasar masalah ini.
Kemudian Dia
menjelaskan dan mensyari'atkan bagi mereka beberapa undang-undang perang dan
damai; sesuatu yang memang amat dibutuhkan setelah masuknya dakwah Islamiyyah
pada fase ini, sehingga peperangan-peperangan yang dilakukan oleh kaum Muslimin
memiliki keistimewaan tersendiri dibanding peperangan-peperangan kaum
Jahiliyyah, kaum Muslimin unggul di dalam akhlaq, norma-norma dan suri teladan,
dengan demikian dunia menjadi yakin bahwa Islam bukanlah sekedar sudut pandang
tertentu akan tetapi ia adalah agama yang menggembleng penganutnya secara
praktis atas dasar-dasar dan prinsip-prinsip yang diseru olehnya.
Selanjutnya pula, Dia
menetapkan beberapa poin dari undang-undang 'negara Islam' yang menetapkan
perbedaan antara kaum Muslimin yang tinggal di dalam batas teritorialnya dan
yang tinggal di luarnya.
Pada tahun ke-2 H.
puasa Ramadhan dan zakat fithrah diwajib kan dan dijelaskan juga nishab zakat
yang lain. Diwajibkannya zakat fitri dan perincian nishab zakat yang lain
adalah untuk meringankan kebanyakan dari beban-beban berat yang dihadapi oleh
sebagian besar kaum Muhajirin yang menjadi pengungsi. Mereka itu kaum faqir
yang tidak mampu untuk mencari nafkah.
Merupakan suasana
indah dan suatu kemujuran, bahwa 'ied (hari raya) pertama yang dirayakan oleh
kaum Muslimin semasa hidup mereka adalah 'ied yang terjadi pada bulan syawal
tahun 2 H sehabis kemenangan besar yang mereka raih pada perang Badar. Alangkah
menawannya 'ied bahagia ini yang didatangkan oleh Allah setelah menghiasi
kepala mereka dengan mahkota kemenangan dan kebanggaan diri. Alangkah indahnya
pemandangan shalat tersebut yang mereka lakukan setelah keluar dari rumah-rumah
mereka sambil mengeraskan suara mereka dengan takbir, kalimat tauhid dan
tahmid, sementara hati mereka telah dipenuhi keinginan untuk menuju Allah dan
kerinduan akan rahmat dan keridhaan-Nya setelah mereka dianugerahi berbagai
nikmat dan dibantu dengan kemenangan. Allah Ta'ala mengingatkan mereka akan hal
itu dalam firman-Nya,
وَاذْكُرُوا إِذْ
أَنتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الْأَرْضِ تَخَافُونَ أَن يَتَخَطَّفَكُمُ
النَّاسُ فَتَاوَنَكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ، وَرَزَقَكُم مِّنَ
الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"Dan ingatlah
(hai para muhajirin), ketika kamu masih berjumlah sedikit, Logi tertindas di
bumi (Mekkah), kamu takut orang-orang (Mekkah) akan menculik kamu, maka Allah
memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan
pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezki dari yang baik-baik agar kamu
bersyukur." (al-Anfâl: 26).
Sekian
----000-----
Sumber Ar-rahiqul
makhtum Syaikh Ayafiurrahman al-Mubarakfuri.
Ditulis ulang oleh Abu
Ibrahim Junaedi Abdullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar