Jumat, 10 Juli 2026

KEGIATAN SETELAH PERANG BADAR.

 


KEGIATAN SETELAH PERANG BADAR.

 

KORBAN PERANG BADAR KEDUA BELAH PIHAK

Pertempuran berakhir dengan kekalahan telak di pihak kaum musyrikin dan kemenangan gemilang di pihak kaum Muslimin. Pada pertempuran itu, dari pihak kaum Muslimin gugur sebagai syuhada empat belas orang, enam orang dari Muhajirin dan delapan orang dari Anshar.

Sedangkan pihak kaum musyrikin, mereka mengalami keru-gian yang amat fatal. Pada pertempuran itu, tewas 70 orang dan 70 orang lainnya ditawan yang mayoritas mereka adalah para komandan, pemimpin dan ksatria.

Ketika perang berakhir, Rasulullah menghampiri para korban (kaum musyrikin) hingga berdiri di hadapan mereka. Beliau berkata, "Sungguh kalian adalah seburuk-buruk keluarga dekat terhadap Nabi kalian. Kalian telah mendustakanku sementara orang-orang malah membenarkanku; kalian menghinakanku sementara orang-orang menolongku dan kalian mengusirku sementara orang-orang menampungku.' Kemudian beliau memerintahkan agar diurus semua mayat-mayat tersebut, lalu diseret untuk dijebloskan kedalam sumur yang terletak di jantung kawasan Badar.

Abu Thalhah meriwayatkan bahwasanya Nabi memerintah-kan pada hari perang Badar untuk mengurusi 24 orang dari para ksatria Quraisy, lalu mereka dibuang ke salah satu sumur batu di Badar yang amat busuk menyengat. Beliau mempunyai kebiasaan bila mendapatkan kemenangan atas suatu kaum, beliau berdiam di medan perang selama tiga malam. Maka, tatkala memasuki malam ke-tiga di Badar, beliau minta kendaraannya dibawa ke hadapan beliau, lalu beliau mengikat tempat barangnya, kemudian berjalan. Lalu diikuti oleh para sahabatnya hingga beliau berada di tepi sumur seraya menyeru nama-nama mereka dan bapak-bapak mereka, "Wahai fulan bin fulan! Wahai fulan bin fulan! senangkah kalian andai kalian dulu mena'ati Allah dan Rasul-Nya? Sesungguhnya kami telah mendapatkan apa yang telah dijanjikan Rabb Kami adalah benar, apakah kalian juga telah mendapatkan apa yang telah dijanjikan oleh Rabb kalian benar?."

"Umar berkata, "Wahai Rasulullah! Tidakkah engkau berbicara kepada jasad-jasad yang tidak lagi bernyawa?."

Beliau menjawab, "Demi Dzat Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kalian tidak lebih mendengar daripada mereka apa yang aku katakan."

Di dalam riwayat yang lain beliau berkata, "Kalian tidak lebih mendengar daripada mereka, hanya saja mereka tidak bisa menjawabnya. ( Muttafaq 'alaih; Misykdh, Op.cit. h.352)

KOTA MEKKAH MENERIMA BERITA KEKALAHAN

Kaum musyrikin lari tunggang langgang dari medan perang Badar secara sporadis dan tidak teratur. Mereka bercerai berai di lembah-lembah dan celah-celah perbukitan. Langkah mereka menuju kota Mekkah dengan penuh ketakutan, tidak tahu bagaimana harus memasukinya karena rasa malu.

Ibnu Ishaq berkata, "Orang pertama yang datang dengan mem-bawa berita Quraisy adalah al-Haisaman bin 'Abdullah al-Khuza'iy. Lalu mereka bertanya kepadanya, "Berita apa yang kau bawa?."

Dia menjawab, 'Kematian 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Abu al-Hakam bin Hisyam (Abu Jahal), Umayyah bin Khalaf "Kemu-dian dia menyebutkan para pemimpin Quraisy lainnya. Tatkala dia mulai menghitung-hitung para bangsawan Quraisy, berkatalah Shafwan bin Umayyah yang sedang duduk di Hijr Isma'il, "Demi Allah, Jika orang ini waras, maka, tanyakanlah kepadanya tentangku!."

Mereka bertanya, "Apa yang dilakukan oleh Shafwan bin Umayyah?."

Dia menjawab, "Itu dia sedang duduk di Hijr Ismail. Demi Allah, aku melihat ayah dan saudaranya saat terbunuh."

aku Abu Rafi' -maula Rasulullah berkata, “Dahulu adalah budak milik al-'Abbas, kala itu Islam telah masuk kepada kami, Ahlul Bait. Lalu al-'Abbas masuk Islam pula, demikian juga halnya dengan Ummu al-Fadhl Istrinya dan diriku. Hanya saja al-Abbas masih menyembunyikan keislamannya. Ketika itu, Abu Lahab tidak ikut serta dalam perang Badar. Tatkala berita telah sampai kepadanya, maka Allah pun mempermalukan dan meng-hinakannya sedangkan kami mendapatkan di dalam diri kami kekuatan dan 'izzah. Aku seorang laki-laki lemah yang bekerja sebagai pembuat anak-anak panah. Aku biasa (membentuk anak-anak panah tersebut di) sisi Zam-zam. Demi Allah, sungguh aku sedang duduk di sana sambil membentuk anak-anak panah yang ada padaku sedangkan di sisiku, duduk pula Ummu al-Fadhl. Kala itu berita (kemenangan kaum Muslimin) yang sampai kepada kami, membuat kami bersuka cita. Tiba-tiba Abu Lahab datang menyeret kedua kakinya untuk niat jahat hingga duduk di sisi sumur zam-zam. Saat itu posisi punggungnya membelakangi punggungku. Manakala dia duduk-duduk demikian, tiba-tiba orang-orang berkata, "Ini dia Abu Sufyan bin al-Harits bin 'Abdul Muththalib telah datang."

Lalu Abu Lahab berkata kepadanya, "Kemarilah, sungguh kamu pasti membawa berita!"

Lalu dia duduk di dekatnya sementara orang-orang berdiri mengerumuninya. Maka, Abu Lahab berkata lagi, "Wahai anak sau-daraku (kemenakanku)! Tolong beritakan kepadaku apa yang telah terjadi terhadap orang-orang (kita)?"

Dia menjawab, "Yah, begitu kami berjumpa dengan kaum Muslimin, (dengan mudahnya mereka menghabisi kami seakan) kami menyerahkan pundak-pundak kami untuk mereka bunuhi sekehen-dak mereka dan menawan kami sekehendak mereka. Demi Allah, sekalipun demikian aku tidak mencela orang-orang kita. Karena kami dihadang orang-orang putih penunggang kuda bercak-bercak di antara langit dan bumi. Demi Allah, tidak ada sesuatupun yang mereka sisakan dan tidak ada sesuatupun yang dapat menghentikan mereka."

Abu Rafi' melanjutkan, "Maka aku mengangkat atap bilik sumur zam-zam dengan tanganku, lalu aku berkata, 'Demi Allah, itu adalah malaikat!'. (mendengar itu) Abu Lahab mengangkat tangannya lalu menamparkannya ke arah wajahku dengan tamparan yang keras, maka aku menerkamnya namun dia berhasil menangkap dan memikulku lalu menghempaskanku ke bumi, kemudian duduk di atasku sambil memukuliku, kala itu aku, seorang laki-laki yang lemah. (Melihat itu) Ummu al-Fadhl yang ada disitu pergi ke arah salah satu tiang bilik, lalu dia mencopotnya lantas memukulkannya kepada Abu Lahab hingga membuat kepalanya luka menganga. Lalu Ummu al-Fadhl berkata kepadanya, 'Engkau berani menganiayanya manakala tuannya tidak ada di sisinya." Maka diapun berlalu dalam keadaan terhina dan malu. Demi Allah, dia hanya bertahan hidup tujuh hari saja setelah itu, selanjutnya Allah mengirimkan kepadanya penyakit 'Adasah, lalu mengakhiri hidupnya. ('Adasah adalah bisul yang tumbuh di sekujur badan dan orang Arab menganggapnya penyebab kesialan) Lalu anak-anaknya membiarkannya hingga tiga hari, tidak didekati jenazahnya dan tidak ada yang berusaha mengu burkannya. Tatkala mereka khawatir mendapatkan 'aib karena membiarkannya, merekapun menggali lubang untuknya, kemudian mendorongnya dengan sebuah ranting kayu pada lubang tersebut, lalu mereka melemparinya dengan batu dari kejauhan hingga mereka menguburnya).

 

Demikianlah kota Mekkah menerima berita kekalahan telak di medan perang Badar. Hal itu telah menggoreskan dampak yang sangat negatif terhadap psikologis mereka, sampai-sampai membuat mereka melarang meratapi orang-orang yang sudah mati tersebut agar kaum Muslimin tidak bergembira atas musibah mereka.

Salah satu kejadian langka bahwa al-Aswad bin al-Muththalib memiliki tiga orang putra yang gugur pada perang Badar. Dia sebenarnya ingin meratapi mereka sementara dia sendiri seorang yang buta. Suatu malam, dia mendengar suara wanita meratap, lalu dia mengutus budaknya untuk menyelidiki seraya berkata, 'Lihatlah, apakah sudah dibolehkan meratap? Apakah orang-orang Quraisy telah meratapi orang-orang yang mati di antara mereka? Semoga saja aku bisa meratapi Abu Hakimah -anaknya- sebab lubuk hatiku telah terbakar.' Setelah itu, budaknya pun kembali seraya memberitakan, 'itu hanyalah seorang wanita yang meratapi ontanya yang hilang Mendengar hal itu, al-Aswad tidak dapat lagi menahan diri, lalu merangkai beberapa untaian bait sya'ir,

Apakah dia meratap karena onta yang sesat Dan kegelisahan menahannya 'tuk tidur

Jangan ratapi Bakar akan tetapi ratapi Badar, karenanya nenek-moyang menjadi berkurang

Pada Badar, pejalan malam Bani Hashish, Makhzum dan anak-anak Abu al-Walid

Jika engkau hendak meratap, ratapilah 'Ugail, Ratapilah Harits, si singanya para singa.

 

KOTA MADINAH MENERIMA BERITA KEMENANGAN

 

Tatkala kemenangan sudah diraih kaum Muslimin sempurna, Rasulullah mengirimkan dua orang untuk menyampaikan kabar gembira kepada para penduduk madinah sehingga berita gembira ini cepat tersebar. 'Abdullah bin Rawahah beliau utus untuk menyampaikan kabar gembira kepada penduduk yang tinggal di dataran tinggi sedangkan Zaid bin Hâritsah, beliau utus untuk menyampaikan kabar gembira kepada para penduduk yang tinggal di dataran rendah.

Sementara orang-orang Yahudi dan kaum munafikin telah menghembuskan isu bohong di Madinah bahkan mereka sampai menyebarkan berita bahwa Nabi telah terbunuh. Dan tatkala orang-orang munafik ini melihat Zaid bin Haritsah menunggang al-Qashwa -onta Rasulullah - berkatalah dia, "Sungguh Muhammad telah terbunuh. Inilah ontanya yang kita kenal dan ini Zaid datang tidak tahu apa yang harus dikatakan karena panik dan datang untuk membawa berita kekalahan.

Manakala kedua utusan itu telah sampai, maka kaum Muslimin pun mengerumuni mereka berdua dan mulai mendengarkan berita dari keduanya hinga mereka benar-benar yakin bahwa kaum Muslimin telah meraih kemenangan. Maka keceriaan dan kegembiraan pun melanda semua dan pekik tahlil dan takbir bergema di seantero kota Madinah. Para pimpinan kaum Muslimin yang berada di Madinah bergerak menuju jalan ke Badar untuk memberi ucapan selamat kepada Rasulullah atas kemenangan besar ini.

Usamah bin Zaid berkata, "Berita kemenangan ini datang tatkala kami selesai mengebumikan Ruqayyah binti Rasulullah yang merupakan istri 'Utsman bin 'Affan. Ketika berangkat, Rasulullah menugasiku bersama utsman untuk mengurusinya."

MEMPERSELISIHKAN HARTA RAMPASAN

Rasulullah menetap di Badar selama 3 hari setelah berakhir-nya pertempuran dan sebelum beliau berangkat dari sana terjadi perselisihan di antara pasukan kaum Muslimin seputar harta rampasan ketika perselisihan semakin memuncak Rasulullah memerintahkan agar seluruh pasukan mengembalikan semua yang ada pada mereka dan mereka pun melaksanakan perintah tersebut, kemudian turunlah wahyu yang memecahkan problem tersebut. Diriwayatkan dari 'Uba-dah bin ash-Shamit, dia berkata, "Kami pergi bersama Rasulullah, kemudian aku turut serta bersamanya dalam perang Badar dan (kedua) pasukan bertemu, kemudian Allah mengalahkan (pasukan) musuh. Selanjutnya satu kelompok pasukan kaum Muslimin pergi melacak jejak mereka, mengejar dan membunuh. Satu kelompok lagi sibuk mengurus harta rampasan, menjaga dan mengumpulkannya. Sementara satu kelompok lagi mengelilingi Rasulullah agar tidak satupun musuh yang dapat menyentuh beliau. Hingga haripun beranjak malam dan orang-orang kembali ke tempat masing-masing. Lalu berkatalah para pengumpul harta rampasan, "Kamilah yang mengumpulkannya dan tidak seorang pun yang memiliki jatah di dalamnya."

Lantas berkata pula kelompok yang pergi mengejar musuh, "Kalian tidak lebih berhak dari kami. Kamilah yang mengusir musuh dan menghancurkannya."

Kemudian berkata pula kelompok yang telah melindungi Rasulullah,“Kami amat khawatir musuh dapat menyentuh beliau meski sedikit saja, karenanya kami sibuk dengan hal itu."

Berkenaan dengan kejadian ini, turunlah firman Allah,

يَسْتَلُونَكَ عَنِ الْأَنفَالِ قُلِ الْأَنفَالُ لِلَّهِ وَالرَّسُولِ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

"Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah, 'Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang beriman." (al-Anfål: 1).

Maka Rasulullah membagi-bagikannya di antara kaum Muslimin. (Dieluarkan oleh Ahmad, V/323 324, al-Hakim, Op.cit., I/326).

 

TENTARA (ISLAM) BERGERAK MENUJU MADINAH

Setelah menetap selama tiga hari di Badar, Rasulullah bersama tentaranya bergerak menuju Madinah dengan membawa para tawanan dari kaum musyrikin. Sementara harta rampasan yang didapat dari mereka juga diangkut dan dipercayakan kepada 'Abdullah bin Ka'b. Tatkala keluar dari jalan sempit ash-Shafra, beliau singgah di bukit pasir antara jalan sempit tersebut dan an-Nariziyah. Di sanalah beliau membagi-bagikan harta rampasan kepada kaum Muslimin dengan jatah yang sama setelah mengambil 1/5 darinya. Dan ketika sampai di ash-Shafra, beliau memerintahkan agar membunuh an-Nadhar bin al-Harits yang merupakan pembawa panji kaum musyrikin pada perang Badar. Dia salah seorang penjahat kelas kakap Quraisy dan termasuk orang yang paling keras di dalam melakukan kelicikan terhadap Islam dan menyakiti Rasulullah. Dia akhirnya dipenggal lehernya oleh 'Ali bin Abi Thalib.

Tatkala sampai di 'Irq azh-Zhabyah, beliau memerintahkan lagi agar membunuh 'Uqbah bin Abi Mu'ith. Dan telah dipaparkan sebelumnya bagaimana dia menyakiti Rasulullah. Dialah orang yang melemparkan kotoran onta ke arah kepala Rasulullah saat beliau sedang shalat dan mencekik beliau dengan pakaiannya, bahkan hampir saja membunuh beliau andaikata Abu Bakar tidak menghalanginya. Manakala beliau memerintahkan agar membunuhnya, 'Uqbah berkata, "Siapa yang mengurusi anak-anakku, wahai Muhammad?"

Beliau menjawab, "Api Neraka."( 1 Hal itu diriwayatkan oleh para pengarang buku-buku Shihdh; Lihat Sunan Abi Daud beserta anotasinya Aun al-Ma'büd, III/12).

Lalu dia dibunuh oleh 'Ashim bin Tsabit al-Anshari. Ada riwayat yang menyebutkan, dia dibunuh oleh 'Ali bin Abi Thalib.

Berdasarkan sudut pandang perang, eksekusi terhadap kedua Thaghut ini adalah wajib dilaksanakan sebab mereka berdua bukan saja hanya sebagai tawanan tetapi termasuk para penjahat perang menurut terminologi kontemporer.

KONTINGEN PENYAMBUTAN

Tatkala beliau tiba di ar-Rawha, beberapa pimpinan kaum Muslimin menjumpai beliau. Mereka ini adalah kaum Muslimin yang keluar untuk memberikan ucapan selamat dan sambutan kepada beliau ketika mendengar berita gembira perihal kemenangan yang disampaikan oleh dua orang utusan di atas.

Ketika itu, berkatalah Salamah bin Sallamah, "Untuk apa kalian mengucapkan selamat untuk kami? Demi Allah, kami hanya menjumpai orang-orang renta yang botak seperti onta!"

Mendengar hal itu, Rasulullah hanya tersenyum, kemudian berkata, "Wahai anak saudaraku! Mereka itu pemuka kaum!."

Usaid bin Hudhair berkata, "Wahai Rasulullah! Segala puji bagi Allah yang telah memenangkanmu dan membuat senang. Demi Allah! Wahai Rasullah, tidaklah aku ketinggalan ambil bagian ikut ke Badar jika saja aku tahu bahwa engkau akan menjumpai musuh. Akan tetapi aku mengira yang engkau temui itu hanya kafilah dagang. Andaikata aku tahu itu musuh, tentu aku akan ikut serta."

Rasulullah berkata, "Engkau benar!."

Kemudian Rasulullah memasuki Madinah dengan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan. Setiap musuh di Madinah dan sekitarnya menjadi gentar terhadap beliau. Bukan itu saja bahkan banyak sekali penduduk Madinah yang masuk Islam. Dan ketika itulah, Abdullah bin Ubay dan para rekannya masuk Islam secara lahiriah saja

Para tawanan datang ke Madinah, sehari setelah beliau sampai lebih dahulu. Lalu beliau membagi-bagikan mereka kepada para sahabat beliau dan berpesan agar berbuat baik kepada mereka. Para sahabat hanya memakan kurma sementara para tawanan, mereka sediakan roti sebagai implementasi dari pesan Rasulullah tersebut.

 

PROBLEMATIKA SEPUTAR TAWANAN

Manakala Rasulullah sampai di Madinah, beliau meminta pendapat para sahabatnya soal para tawanan. Lalu berkatalah Abu Bakar, "Wahai Rasulullah! Mereka itu adalah anak-anak paman, keluarga besar dan saudara-saudara kita. Sesungguhnya aku berpen-dapat agar kita ambil tebusan saja dari mereka sehingga apa yang kita ambil itu menopang kekuatan buat kita menghadapi kaum Kafir. Semoga saja dengan begitu, Allah memberikan hidayah kepada mereka sehingga nantinya menjadi penolong kita."

Maka, Rasulllah berkata, “Bagaimana pendapatmu, wahai "Umar?."

Dia menjawab, "Menurutku, demi Allah! Aku tidak sependapat dengan Abu Bakar akan tetapi menurut pendapatku, engkau berikan mandat kepadaku atas si fulan seorang kerabat 'Umar- biar aku penggal batang lehernya. Dan engkau berikan mandat kepada 'Ali atas 'Aqil bin Abi Thalib agar dia memenggal lehernya serta engkau berikan mandat kepada Hamzah atas si fulan yang merupakan saudaranya agar dia memenggal lehernya sehingga musuh-musuh Allah mengetahui bahwa di hati kita tidak ada sikap lunak dan kasih terhadap kaum musyrikin. Dan mereka itu adalah ksatria mereka, pemimpin dan komandan mereka."("Umar berkata-penj.).

"Maka Rasulullah lebih cenderung kepada pendapat Abu Bakar, tidak kepada pendapatku. Lalu beliau mengambil tebusan dari mereka." Maka tatkala keesokan harinya, 'Umar berkata, "Lalu pagiharinya aku menghadap Nabi dan Abu Bakar sementara keduanya sedang menangis. Lantas aku bertanya kepada Rasulullah, "Tolong beritahukan kepadaku, apa yang menyebabkan engkau dan sahabatmu ini menangis?. Bila patut aku menangis maka aku akan menangis pula, dan jika tidak maka aku akan berusaha menangis karena tangis kalian berdua."

Lalu Rasulullah menjawab, "Terhadap hal yang ditawarkan oleh para sahabatmu, yaitu agar mengambil tebusan. Hal itu telah menawarkan siksaan mereka terhadapku lebih dekat dari pohon ini yang di dekat beliau-."(Tarikh 'Umar bin al-Khaththab, Op.cit., h.36)

Lalu Allah menurunkan firman-Nya, "Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil." (al-Anfâl: 67-68)

Ada riwayat yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan "ketetapan yang telah terdahulu dari Allah" adalah firman-Nya dalam surat Muhammad ayat 4, yaitu (artinya), "Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti."

Di dalam ayat tersebut, terdapat izin agar mengambil tebusan dari para tawanan. Oleh karena itulah, mereka tidak disiksa tetapi hanya turun teguran karena mereka telah menawan orang-orang kafir sebelum mereka dapat dilumpuhkan di muka bumi. Versi riwayat lain menyatakan bahwa ayat tersebut bahkan turun setelah itu dan yang dimaksud dengan "ketetapan yang telah terdahulu dari Allah" adalah ilmu Allah yang berkenaan dengan penghalalan harta-harta rampasan bagi umat ini, atau ampunan dan rahmat bagi para Mujahidin Badar.

Mengingat putusan sudah mantap untuk mengambil pendapat Abu Bakar ash-Shiddiq, maka beliau mengambil tebusan tersebut dari mereka. Tebusan itu senilai 1000 dirham, 3000 dirham hingga 4000 dirham. Penduduk Mekkah mayoritasnya bisa baca-tulis sedangkan penduduk Madinah tidak demikian, maka siapa saja yang tidak mampu membayar tebusan, maka diserahkan kepadanya 10 orang anak-anak Madinah agar dia mengajari mereka baca tulis dan bila mereka sudah pandai, maka itulah tebusannya.

Beberapa di antara para tawanan tersebut dilepaskan oleh Rasulullah tanpa tebusan apa pun, yaitu al-Muththalib bin Hanthab Shaifiy bin Abi Rifa'ah, dan Abu 'Izzah al-Jumahiy -yang kelak dibunuh sebagai tawanan pada perang Uhud dan akan dibicarakan nanti.

Beliau juga membebaskan menantu beliau, Abu al-'Ash dengan syarat membiarkan Zainab putri beliau menentukan jalan hidupnya. Namun sebelumnya, Zainab telah mengirim uang untuk menebusnya, juga kalungnya yang dulunya milik Khadijah dan diberikannya untuknya ketika menikah dengan Abu al-'Ash. Tatkala Rasulullah melihatnya, beliau amat iba sekali dan memohon kepada para saha-batnya agar mengizinkannya melepaskan Abu al-'Ash, lalu mereka pun mempersilahkan beliau. Kemudian Rasulullah mengajukan persyaratan kepada Abu al-'Ash agar membiarkan Zainab menen-tukan jalan hidupnya, lalu dia melakukannya, kemudian Zainab pun ikut berhijrah. Setelah itu, Rasulullah mengirim Zaid bin Häritsah dan seorang dari Anshar seraya berkata, "Siagalah di pedalaman Ya jaj hingga Zainab melintasi kalian berdua lalu kalian menyertainya."

Kemudian keduanya berangkat hingga akhirnya membawa pulang Zainab. Dan kisah hijrahnya ini amat panjang dan demikian ironis.

Di dalam tawanan juga terdapat Suhail bin 'Amr. Dia seorang orator yang menawan. 'Umar berkata, "Wahai Rasulullah, cabutiah kedua gigi seri Suhail bin 'Amr agar terjulur lisannya. Dengan begitu, dia tidak lagi berpidato untuk menjelekkanmu selama-lamanya dalam suasana perang," hanya saja Rasulullah menolak permintaan ini karena untuk menjaga supaya tidak terjadi penyiksaan fisik dan agar terhindar siksaan Allah pada hari Kiamat.

Suatu ketika Sa'd bin an-Nu'man pergi dalam rangka berumrah, namun dia ditahan oleh Abu Sufyan. Ketika itu, anaknya, 'Amr bin Abi Sufyan termasuk di dalam deretan para tawanan, lalu mereka (kaum Muslimin) mengirimkannya kepada Abu Sufyan sehingga Abu Sufyan pun melepaskan Sa'd.

AL-QUR'AN BERBICARA TENTANG TEMA PERTEMPURAN

Mengenai tema pertempuran ini turunlah surat al-Anfal. Surat ini dapat dikatakan bila ungkapan ini dapat dibenarkan-sebagai tanggapan Allah atas pertempuran tersebut. la amat berbeda dengan tanggapan-tanggapan alias komentar-komentar yang disuarakan para raja dan para panglima setelah meraih kemenangan.

Sesungguhnya pertama-tama, Allah Ta'ala mengalihkan perhatian kaum Muslimin akan adanya beberapa keterbatasan pada mereka di samping akhlaq-akhlaq terpuji yang masih ada pada diri mereka sebagiannya muncul agar mereka berupaya menyempurna-kan diri mereka dan menyucikannya melalui pujian-pujian tersebut.

Selanjutnya, Allah Ta'ala memuji akan adanya dukungan, bantuan dan pertolongan-Nya secara ghaib terhadap kaum Muslimin dalam kemenangan ini. Dia menyinggung hal itu agar mereka tidak terkecoh oleh keberanian dan kepahlawanan mereka sehingga me-nyelinap sifat congkak dan sombong ke dalam diri mereka. Bahkan agar mereka bertawakal kepada Allah, mena'ati-Nya dan mena'ati Rasul-Nya .

Kemudian Allah menjelaskan target-target dan tujuan-tujuan mulia yang karenanya Rasulullah mengarungi pertempuran ber-darah yang mengerikan ini. Demikian pula, menunjukkan kepada mereka sifat-sifat dan akhlaq yang menjadi sebab kemenangan di dalam pertempuran-pertempuran.

Demikian juga, Dia menyeru orang-orang musyrikin, kaum munafikin, kaum Yahudi dan para tawanan perang serta memberikan nasehat yang demikian menyentuh hati dan membimbing mereka untuk berserah diri pada kebenaran dan senantiasa berpegang pada-nya.

Selanjutnya, Dia juga mengajak bicara kaum Muslimin seputar tema harta rampasan, merancang bagi mereka beberapa prinsip dan dasar-dasar masalah ini.

Kemudian Dia menjelaskan dan mensyari'atkan bagi mereka beberapa undang-undang perang dan damai; sesuatu yang memang amat dibutuhkan setelah masuknya dakwah Islamiyyah pada fase ini, sehingga peperangan-peperangan yang dilakukan oleh kaum Muslimin memiliki keistimewaan tersendiri dibanding peperangan-peperangan kaum Jahiliyyah, kaum Muslimin unggul di dalam akhlaq, norma-norma dan suri teladan, dengan demikian dunia menjadi yakin bahwa Islam bukanlah sekedar sudut pandang tertentu akan tetapi ia adalah agama yang menggembleng penganutnya secara praktis atas dasar-dasar dan prinsip-prinsip yang diseru olehnya.

Selanjutnya pula, Dia menetapkan beberapa poin dari undang-undang 'negara Islam' yang menetapkan perbedaan antara kaum Muslimin yang tinggal di dalam batas teritorialnya dan yang tinggal di luarnya.

Pada tahun ke-2 H. puasa Ramadhan dan zakat fithrah diwajib kan dan dijelaskan juga nishab zakat yang lain. Diwajibkannya zakat fitri dan perincian nishab zakat yang lain adalah untuk meringankan kebanyakan dari beban-beban berat yang dihadapi oleh sebagian besar kaum Muhajirin yang menjadi pengungsi. Mereka itu kaum faqir yang tidak mampu untuk mencari nafkah.

Merupakan suasana indah dan suatu kemujuran, bahwa 'ied (hari raya) pertama yang dirayakan oleh kaum Muslimin semasa hidup mereka adalah 'ied yang terjadi pada bulan syawal tahun 2 H sehabis kemenangan besar yang mereka raih pada perang Badar. Alangkah menawannya 'ied bahagia ini yang didatangkan oleh Allah setelah menghiasi kepala mereka dengan mahkota kemenangan dan kebanggaan diri. Alangkah indahnya pemandangan shalat tersebut yang mereka lakukan setelah keluar dari rumah-rumah mereka sambil mengeraskan suara mereka dengan takbir, kalimat tauhid dan tahmid, sementara hati mereka telah dipenuhi keinginan untuk menuju Allah dan kerinduan akan rahmat dan keridhaan-Nya setelah mereka dianugerahi berbagai nikmat dan dibantu dengan kemenangan. Allah Ta'ala mengingatkan mereka akan hal itu dalam firman-Nya,

وَاذْكُرُوا إِذْ أَنتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الْأَرْضِ تَخَافُونَ أَن يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَتَاوَنَكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ، وَرَزَقَكُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"Dan ingatlah (hai para muhajirin), ketika kamu masih berjumlah sedikit, Logi tertindas di bumi (Mekkah), kamu takut orang-orang (Mekkah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur." (al-Anfâl: 26).

Sekian

 

----000-----

 

Sumber Ar-rahiqul makhtum Syaikh Ayafiurrahman al-Mubarakfuri.

 

Ditulis ulang oleh Abu Ibrahim Junaedi Abdullah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEGIATAN SETELAH PERANG BADAR.

  KEGIATAN SETELAH PERANG BADAR.   KORBAN PERANG BADAR KEDUA BELAH PIHAK Pertempuran berakhir dengan kekalahan telak di pihak kaum mus...