Selasa, 07 Juli 2026

SYARAH MUJMAL USUL AHLI SUNNAH WAL JAMA'AH BAB 1 NO 8.

MUJMAL USUL BAB 1 NO 8.



 

٨- الْعِصْمَةُ ثَابِتَةٌ لِلرَّسُولِ وَالْأُمَّةُ فِي مَجْمُوعِهَا مَعْصُومَةٌ مِنَ الِاجْتِمَاعِ عَلَى ضَلَالَةٍ وَأَمَّا آحَادُهَا فَلَا عِصْمَةَ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ. وَمَا اخْتُلِفَ فِيهِ الْأَئِمَّةُ وَغَيْرُهُمْ فَمَرْجِعُهُ إِلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مَعَ الِاعْتِذَارِ لِلْمُخْطِئِ مِنْ مُجْتَهِدِي الْأُمَّةِ.

8.Kemaksuman (terjaga dari kesalahan) ditetapkan bagi Rasul. Adapun umat ini secara keseluruhan terjaga dari kesepakatan di atas kesesatan. Namun individu-individu dari umat ini tidak ada yang ma‘shum(terjaga). Perbedaan pendapat di kalangan para imam dan selain mereka maka kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, disertai sikap memaafkan terhadap pejuang dari umat ini yang keliru.

 

Penjelasan:

1.   Semua Nabi Dan Rasul Mereka Adalah Maksum, Meskipun Mereka Memiliki Kesalahan.

Adapun yang dimaksud maksum yaitu:

1.   Maksum dari kesalahan menyampaikan risalah.

2.   Maksum dari dosa-dosa besar.

3.   Maksum dari dosa-dosa kecil yang dilakukan terus-menerus.

Sebagaimana nabi Adam telah memakan buah di Surga.

Allah ta’ala berfirman:

وَقُلْنَا يٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَاۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ فَاَزَلَّهُمَا الشَّيْطٰنُ عَنْهَا فَاَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيْهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۚ وَلَكُمْ فِى الْاَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَّمَتَاعٌ اِلٰى حِيْنٍ

Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu, dan janganlah kamu dekati pohon ini, sehingga kamu termasuk orang-orang zalim!, Lalu, setan menggelincirkan keduanya darinya sehingga keduanya dikeluarkan dari segala kenikmatan ketika keduanya ada di sana (surga). Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain serta bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Al-Baqarah [2]:35-36).

Allah berfirman tentang nabi Hud:

وَنَادٰى نُوْحٌ رَّبَّهٗ فَقَالَ رَبِّ اِنَّ ابْنِيْ مِنْ اَهْلِيْۚ وَاِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَاَنْتَ اَحْكَمُ الْحٰكِمِيْنَ قَالَ يٰنُوْحُ اِنَّهٗ لَيْسَ مِنْ اَهْلِكَ ۚاِنَّهٗ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْـَٔلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنِّيْٓ اَعِظُكَ اَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ. قَالَ رَبِّ اِنِّيْٓ اَعُوْذُ بِكَ اَنْ اَسْـَٔلَكَ مَا لَيْسَ لِيْ بِهٖ عِلْمٌ ۗوَاِلَّا تَغْفِرْ لِيْ وَتَرْحَمْنِيْٓ اَكُنْ مِّنَ الْخٰسِرِيْنَ

Nuh memohon kepada Tuhannya seraya berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil.” Dia (Allah) berfirman, “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu karena perbuatannya sungguh tidak baik. Oleh karena itu, janganlah engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Sesungguhnya Aku menasihatimu agar engkau tidak termasuk orang-orang bodoh.” (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Hud [11]:45-47).

Allah ta’ala berfirman tentang nabi Musa:

فَوَكَزَهُ مُوسَىٰ فَقَضَىٰ عَلَيْهِ ۖ قَالَ هَٰذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُّبِينٌ ۝ قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي ۖ فَغَفَرَ لَهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Lalu Musa meninjunya, maka matilah orang itu. Musa berkata, 'Ini termasuk perbuatan setan. Sungguh, setan adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata.' Musa berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku, maka ampunilah aku.' Lalu Allah mengampuninya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Qasas[28]: 15–16).

Nabi Yunus alaihi salam.

Allah ta’ala berfirman:

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوتِ إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ.

"Maka bersabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu dan janganlah engkau seperti orang yang berada di dalam ikan (Yunus), ketika ia berdoa sedang ia penuh dengan kesedihan." (QS. Al-Qalam [68]:48).

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ.

"Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia mengira bahwa Kami tidak akan menyempitkan (menguji) dirinya. Kemudian ia berdoa dalam kegelapan, 'Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”(QS. Al-Anbiya [21]:87).

Allah ta’ala juga berfirman tentang Nabi Muhammad:

عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ

"Dia (Nabi Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena seorang tunanetra (Abdullah bin Ummi Maktum) telah datang kepadanya. Tahukah engkau (Nabi Muhammad) boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran sehingga pengajaran itu bermanfaat baginya?.” (QS. ‘Abasa [80]:1-4).

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ ۖ تَبْتَغِي مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

"Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu, karena engkau hendak mencari keridaan istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. At-Tahrim [66]: 1)

Perkataan para ulama.

فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عَصَمَ رُسُلَهُ؛ لِأَنَّهُمْ أُمَنَاءُ وَحْيِهِ إِلَى عِبَادِهِ، وَجَعَلَهُمْ قُدْوَةً لِمَنْ آمَنَ بِهِمْ وَاتَّبَعَهُمْ مِنْ خَلْقِهِ، فَالْحِكْمَةُ تَقْتَضِي أَنْ يَكُونُوا مَعْصُومِينَ،

"Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla telah menjaga para rasul-Nya, karena mereka adalah para pemegang amanah wahyu-Nya yang disampaikan kepada hamba-hamba-Nya. Allah juga menjadikan mereka sebagai teladan bagi siapa saja yang beriman kepada mereka dan mengikuti mereka dari kalangan makhluk-Nya. Hikmah Allah menuntut agar mereka bersifat ma'shum (terjaga). (Lajnatu al-Fatwa bi asy-Syabakah al-Islamiyyah 1/1306).

أَجْمَعَ أَهْلُ الْمِلَلِ وَالشَّرَائِعِ عَلَى عِصْمَةِ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ تَعَمُّدِ الْكَذِبِ فِيمَا دَلَّ عَلَى صِدْقِهِمْ فِيهِ،.

"Seluruh penganut agama-agama dan syariat-syariat telah bersepakat bahwa para nabi ma'shum (terpelihara) dari perbuatan sengaja berdusta dalam perkara-perkara yang menjadi bukti kebenaran mereka." ) Da‘watu ar-Rusuli ‘Alaihimus Salam Ahmad Ahmad Ghulusy 1/545).

2.   Umat Secara Keseluruhan Terjaga Dari Kesalahan.

Allah ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا.

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (para sahabat) umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas kalian.” (QS. Al-Baqarah[2]: 143).

وَمَنْ يُّشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدٰى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهٖ مَا تَوَلّٰى وَنُصْلِهٖ جَهَنَّمَۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًا.

”Siapa yang menentang Rasul (Nabi Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dalam kesesatannya dan akan Kami masukkan ke dalam (neraka) Jahanam. Itu seburuk-buruk tempat kembali.” ( QS. An-Nisa [4]:115).

Imam Syafi’i berkata, menyelisihi jalan kaum mukminin yaitu ijma’ kaum muslimin.

 

 

Dari sahabat Annas radhiyallahu‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ اللَّهَ لَا يَجْمَعُ هَذِهِ الْأُمَّةَ عَلَى ضَلَالَةٍ أَبَدًا.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umat ini di atas kesesatan selamanya.” (HR. Ibnu Majah 3940, al-Hakim 201-202, at- Tirmidzi 2269 dan diShahihkan syaikh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ 1848, al-Misykah 173).

Seperti ijma’nya Allah di atas Arsy, haramnya musik, dan lain-lain.

3.   Tidak Ada Individu Yang Maksum Setelah Para Nabi Dan Rasul.

Adapun orang-orang yang mengeklaim maksum imam mereka yaitu:

1)  Orang-orang syi’ah.

 

Salah satu ajaran utama dalam teologi Syiah Imamiyah adalah keyakinan bahwa para imam dari keturunan Ali bin Abi Thalib memiliki sifat ma’shum, yaitu terjaga dari dosa, kesalahan, dan kekeliruan dalam menyampaikan ajaran agama. Dalam pandangan Syiah, kemaksuman ini tidak hanya dimiliki oleh para nabi, tetapi juga oleh para imam yang mereka.

Maksum (ma’shum) berarti seseorang yang dijaga oleh Allah dari:

·                     dosa besar maupun kecil

·                     kesalahan dalam memahami agama

·                     kekeliruan dalam memimpin umat

Karena dianggap ma’shum, para imam Syi’ah diyakini:

·                     tidak mungkin salah dalam fatwa

·                     tidak mungkin berdosa

·                     selalu benar dalam penafsiran agama

Dengan demikian, perkataan dan perbuatan para imam dianggap memiliki otoritas sangat tinggi dalam ajaran Syiah.

Mereka berdalil dengan firman Allah ta’ala:

اِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًاۚ

“Sesungguhnya Allah hanya hendak menghilangkan dosa darimu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab [33]:33).

Ulama telah membantah hal ini karena ayat ini berkaitan dengan para istri Nabi sebagaimana di permulaan ayat:

وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْاُوْلٰى وَاَقِمْنَ الصَّلٰوةَ وَاٰتِيْنَ الزَّكٰوةَ وَاَطِعْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ.

“Tetaplah (tinggal) di rumah-rumahmu dan janganlah berhias (dan bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu. Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, serta taatilah Allah dan Rasul-Nya. (QS. Al-Ahzab [33]:33).

2)  Orang-orang sufi.

Mereka mengatakan para wali mereka mahfud (terjaga).

Semua ini tidak benar karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi 2499, disahihkan Syaikh al-Albani di dalam al-Targib 3139).

1.   Demikian Pula Orang-Orang Yang Melarang Bermadzhab Lebih Dari Satu

Hal ini sama saja meyakini bahwa kebenaran semua ada di madzhabnya, di mana hal ini tidak mungkin, kalau seandainya mereka berpendapat adakalanya kebenaran itu ada di madzhab lain maka bukankah kita diperintahkan untuk mengikuti kebenaran di manapun berada.

2.   Konsekwensi Pengakuan Kemaksuman Kepada Para Nabi Dan Rasul.

Sebagaimana panutan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Yaitu meneladani beliau.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ

“Dan (Rasulullah) tidak pula berucap berdasarkan hawa nafsu(-nya).  Ia (Al-Qur’an itu) tidak lain, kecuali wahyu yang disampaikan (kepadanya).” (QS. An-Najm [53]: 3-4).

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

 

 


Sragen 07-07-2026

Abu Ibrahim Junaedi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SYARAH MUJMAL USUL AHLI SUNNAH WAL JAMA'AH BAB 1 NO 8.

MUJMAL USUL BAB 1 NO 8.   ٨- الْعِصْمَةُ ثَابِتَةٌ لِلرَّسُولِ وَالْأُمَّةُ فِي مَجْمُوعِهَا مَعْصُومَةٌ مِنَ الِاجْتِمَاعِ عَلَى ضَلَالَ...