Sabtu, 25 Juli 2026

MENDIDIK ANAK SESUAI SYARIAT Panduan Orang Tua dalam Mendidik Anak

 


MENDIDIK ANAK SESUAI SYARIAT

Panduan Orang Tua dalam Mendidik Anak

DAFTAR ISI

Muqaddimah (Pengantar)

Bab 1: Kedudukan Anak dan Tanggung Jawab Orang Tua

Bab 2: Kelembutan Sebagai Landasan Utama Mendidik

Bab 3: Keteladanan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Mengasihi Anak

Bab 4: Kapan dan Bagaimana Orang Tua Boleh Bersikap Tegas?


 

MUQADDIMAH (PENGANTAR)

الْمُقَدِّمَةُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ،

Segala puji hanya milik Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampunan kepada-Nya, dan berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kita serta keburukan amal-amal kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Barang siapa disesatkan oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat. Amma ba'du.

Di antara nikmat Allah yang paling besar setelah nikmat Islam dan iman adalah dikaruniai keturunan yang shalih. Anak merupakan penyejuk mata (qurrata 'ayun), penerus pahala amal saleh setelah kita wafat, sekaligus amanah yang sangat besar yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Banyak orang tua mengaku mencintai anak-anak mereka, namun tidak sedikit yang keliru dalam mengekspresikan rasa cinta tersebut:

Ada yang mendidik dengan Keras: Menganggap mendidik harus selalu dengan bentakan, suara keras, pencelaan, bahkan pukulan karena mengira itulah cara agar anak disiplin.

Ada juga yang membiarkan: Menuruti seluruh keinginan anak atas dalih kasih sayang, sehingga anak tidak memiliki kendali diri dan tumbuh menjadi pribadi yang rusak.

Islam datang membawa petunjuk yang seimbang (wasathiyah). Jika kita membuka sirah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kita mendapati beliau adalah manusia paling lembut, penuh kasih sayang, namun juga tegas pada tempatnya.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا ﴾

Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang sangat baik bagi orang yang mengharap Allah dan hari Akhir serta banyak mengingat Allah (QS. Al-Ahzab[33]: 21).

Sedikit tulisan ini disusun untuk membantu para orang tua memahami kaidah utama pengasuhan Islam: menjadikan kelembutan sebagai pintu utama dan ketegasan sebagai benteng penyelamat.

 

BAB 1: KEDUDUKAN ANAK DAN TANGGUNG JAWAB ORANG TUA

1.   Anak Adalah Amanah Utama

Pendidikan anak bukanlah sekadar tugas sampingan, melainkan kewajiban syar'i untuk menyelamatkan mereka dari kebinasaan dunia dan akhirat. Allah Ta'ala berfirman:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَالَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim[66]: 6).

Penjelasan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu:

عَلِّمُوهُمْ وَأَدِّبُوهُمْ .

Ajarilah mereka ilmu agama dan didiklah mereka dengan adab yang baik.

Qatadah mengatakan bahwa engkau perintahkan mereka untuk taat kepada Allah dan engkau cegah mereka dari perbuatan durhaka terhadap­Nya. Dan hendaklah engkau tegakkan terhadap mereka perintah Allah dan engkau anjurkan mereka untuk mengerjakannya serta engkau bantu mereka untuk mengamalkannya. Dan apabila engkau melihat di kalangan mereka terdapat suatu perbuatan maksiat terhadap Allah, maka engkau harus cegah mereka darinya dan engkau larang mereka melakukannya.(Tafsir Ibnu Katsir, QS. At-Tahrim [66]:6).

2.   Bahaya Mengabaikan Pendidikan Anak

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

فَمن أهمل تَعْلِيم وَلَده مَا يَنْفَعهُ وَتَركه سدى فقد أَسَاءَ إِلَيْهِ غَايَة الْإِسَاءَة وَأكْثر الْأَوْلَاد إِنَّمَا جَاءَ فسادهم من قبل الْآبَاء وإهمالهم لَهُم وَترك تعليمهم فَرَائض الدّين وسننه فأضاعوهم صغَارًا فَلم ينتفعوا بِأَنْفسِهِم وَلم ينفعوا آبَاءَهُم كبارًا كَمَا عَاتب بَعضهم وَلَده على العقوق فَقَالَ يَا أَبَت إِنَّك عققتني صَغِيرا فعققتك كَبِيرا وأضعتني وليدا فأضعتك شَيخا

"Barang siapa mengabaikan pendidikan anaknya dalam perkara yang bermanfaat baginya dan membiarkannya terlantar, maka sungguh ia telah berbuat seburuk-buruk perlakuan terhadap anaknya. Kebanyakan kerusakan yang menimpa anak-anak berasal dari orang tua mereka, karena mereka mengabaikan anak-anaknya, tidak mengajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya. Akibatnya, mereka menyia-nyiakan anak-anak itu sejak kecil. Maka ketika dewasa, anak-anak itu tidak memberikan manfaat bagi diri mereka sendiri dan tidak pula bermanfaat bagi orang tua mereka. Sebagaimana seorang ayah pernah mencela anaknya karena durhaka, lalu sang anak berkata, 'Wahai Ayahku, engkau telah mendurhakaiku ketika aku masih kecil, maka aku pun mendurhakaimu ketika engkau telah tua. Engkau telah menyia-nyiakanku ketika aku masih kecil, maka aku pun menyia-nyiakanmu ketika engkau telah lanjut usia.'" (Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, karya Ibnul Qayyim1/229)

BAB 2

KELEMBUTAN SEBAGAI LANDASAN UTAMA MENDIDIK

Hukum asal dalam pengasuhan menurut Islam adalah kelembutan (ar-rifq). Hati anak-anak diciptakan dalam keadaan lemah dan subur; ia lebih cepat disentuh dengan kasih sayang daripada kekerasan.

Diantara pentingnya orang tua bersikap lemah lembut yaitu:

1.   Kelembutan Adalah Akhlak yang Dicintai Allah

Allah Memuji Kelembutan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

﴿ فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ﴾

Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekelilingmu (QS. Ali 'Imran[3]: 159).

Jika orang dewasa para sahabat saja sebaik-baik generasi perlu diperlakukan dengan lemah lembut, terlebih anak kecil tentu lebih berhak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ.

“Sayangilah orang-orang yang ada di bumi, maka kamu akan di sayangi Dzat yang ada di atas langi.” (HR. Tirmidzi no 1924, Baihaqi no. 17905, Dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Ash Shahihah no. 925).

 

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ، وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ.

Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan. Allah memberikan karena kelembutan sesuatu yang tidak Dia berikan karena kekerasan dan tidak pula karena selainnya (HR. Muslim no. 2593).

Dalam riwayat yang lain dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata:

اسْتَأْذَنَ رَهْطٌ مِنَ الْيَهُودِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالُوا: السَّامُ عَلَيْكَ، فَقُلْتُ: بَلْ عَلَيْكُمُ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ، فَقَالَ: يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ. قُلْتُ: أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟, قَالَ: قَدْ قُلْتُ: وَعَلَيْكُمْ.

"Sekelompok orang Yahudi meminta izin menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu mereka mengucapkan, 'As-samu 'alaika (semoga kematian menimpamu).' Aku pun berkata, 'Bahkan semoga kematian dan laknat menimpa kalian.' Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan.' Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mendengar apa yang mereka ucapkan?' Beliau menjawab, 'Aku telah menjawab mereka dengan mengatakan: Wa 'alaikum (dan atas kalian juga).” (HR. Al-Bukhari no. 6024 dan Muslim no. 2165)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan:

هَذِهِ الْأَحَادِيثِ فَضْلُ الرِّفْقِ وَالْحَثُّ عَلَى التَّخَلُّقِ وَذَمُّ الْعُنْفِ وَالرِّفْقُ سَبَبُ كُلِّ خَيْرٍ.

Hadits ini menjelaskan bahwa kelembutan merupakan sebab datangnya seluruh kebaikan (Syarh Shahih Muslim, 16/145).

2.   Kelembutan Adalah Cara Efektif Menyampaikan Nasihat

Al-Qur'an mengajarkan betapa agungnya pengaruh kelembutan melalui dalil-dalil berikut:

Perintah kepada nabi Musa dan Harun ‘alaihima salam Berkata Lembut kepada Fir'aun:

﴿ فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى ﴾

Maka berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut. Mudah-mudahan ia sadar atau takut (QS. Thaha [20] : 44).

As-Sa'di rahimahullah berkata:

أَيْ سَهْلًا لَطِيفًا، بِرِفْقٍ وَلِينٍ وَأَدَبٍ فِي اللَّفْظِ، مِنْ دُونِ فُحْشٍ وَلَا صَلَفٍ، وَلَا غِلْظَةٍ فِي الْمَقَالِ، وَلَا فَظَاظَةٍ فِي الْأَفْعَالِ.

"Yakni, dengan perkataan yang mudah, lembut, penuh kelembutan, santun, dan beradab dalam ucapan; tanpa kata-kata yang keji, tanpa kesombongan, tanpa kekasaran dalam berbicara, dan tanpa sikap kasar dalam perbuatan." (Tafsir Taisir Al-Karim Ar-Raḥman fī Tafsir Kalam Al-Mannan, QS. Thaha [20] : 44).

Hal ini karena tidaklah setiap jiwa mudah dalam menerima kebenaran, bahkan kebanyakan manusia berat menerima, bagaimana lagi jika dengan cara yang kasar dan kaku tentu lebih sulit lagi demikian pula dengan anak-anak.

3.   Kelembutan Orang Tua Kebaikan Kebaikan Yang Allah Kehendaki.

Allah membukakan kemudahan pengasuhan melalui kelembutan lisan dan sikap yang tidak bisa dicapai dengan ancaman.

Dari Aisyah bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إذاَ أرَادَ الله بأِهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أدْخَلَ عَلَيْهِمُ الرِّفْقَ .

“Jika Allah menghendaki suatu keluarga kebaikan maka Allah memasukkan kepada mereka sikap lemah lembut.” (HR. Al-Baihaqi no. 6140, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami no. 303).

Seseorang akan terhalangi dari kebaikan manakala dia tidak memiliki sifat kelembutan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ .

"Barang siapa dihalangi dari kelembutan, maka ia telah dihalangi dari kebaikan." (HR. Muslim no. 2592, Abu Dawud 4809).

Demikian pentingnya orang tua harus menerapkan di dalam mendidik anaknya dengan cara yang lemah lembut.

BAB 3

KETELADANAN RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM DALAM MENGASIHI ANAK

Sebagian orang mengira bahwa seorang ayah harus selalu berwajah galak agar berwibawa. Namun, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam—pemimpin umat dan panglima perang—justru menampilkan kasih sayang yang besar kepada anak-anak, di antaranya dalil berikut ini:

1.   Menyapa dan Menghargai Perasaan Anak

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu bercerita bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sering bercanda dengan adiknya yang kecil:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ يُخَالِطُنَا، حَتَّى يَقُولَ لِأَخٍ لِي صَغِيرٍ: يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ.؟

Rasulullah sering bergaul dengan kami, hingga beliau pernah bersabda kepada adik kecilku: Wahai Abu 'Umair, bagaimana burung kecilmu? (HR. Al-Bukhari no. 6129, Tirmidzi 1989, Abu Dawud 4969).

Pentingnya orang tua menghibur dan menghargai perasaan anak kecil.

2.   Mengungkapkan Kasih Sayang Secara Fisik

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mencium cucunya Hasan bin Ali. Ketika Al-Aqra' bin Habis merasa heran karena tak pernah mencium 10 anaknya, Nabi bersabda:

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ.

Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi (HR. Al-Bukhari no. 5997, Muslim no. 2318, Tirmidzi no. 1911, Abu Dawud no.  5218).

3.   Memperhatikan Anak Kecil Meskipun Dalam Keadaan Shalat.

Bolehnya menggendong anak kecil meskipun sedang shalat.

Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلِأَبِي الْعَاصِ بْنِ الرَّبِيعِ، فَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا، وَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا.

Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat sambil menggendong Umamah binti Zainab, putri Zainab binti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dari suaminya Abul 'Ash bin Ar-Rabi'. Apabila beliau berdiri, beliau menggendongnya, dan apabila beliau sujud, beliau meletakkannya. (HR. Al-Bukhari no. 516 dan Muslim no. 543, Abu Dawud no. 917)

Memperlama Sujud karena ada anak kecil.

Dari Syaddad bin Al-Had radhiyallahu 'anhu, beliau berkata "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar mengimami kami pada salah satu shalat sore (Ashar atau Isya) sambil menggendong Hasan atau Husain. Beliau meletakkannya, kemudian bertakbir memulai shalat. Di tengah shalat beliau melakukan satu sujud yang sangat lama. Aku mengangkat kepalaku, ternyata anak kecil itu sedang berada di atas punggung Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau sujud. Maka aku kembali bersujud. Setelah shalat selesai, para sahabat berkata, 'Wahai Rasulullah, engkau melakukan satu sujud yang sangat lama.' Beliau bersabda:

كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ، وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي، فَكَرِهْتُ أَنْ أُعْجِلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ.

'Tidaklah demikian. Akan tetapi anakku ini menaiki punggungku, maka aku tidak suka tergesa-gesa menurunkannya hingga ia selesai dengan keinginannya.(HR. Ahmad no. 695, An-Nasa'i no. 731, At-Tabrani 7107 dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud 923).

Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي لَأَقُومُ فِي الصَّلَاةِ أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي، كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ.

"Sesungguhnya aku berdiri dalam shalat dengan maksud ingin memanjangkannya. Lalu aku mendengar tangisan seorang bayi, maka aku meringankan shalatku karena aku tidak ingin memberatkan ibunya."(HR. Al-Bukhari no. 707, Ahmad no. 22602, Abu Dawud no. 789, )

4.   Tidak Diperkenankan Menggunakan Fisik Untuk Melampiaskan Emosi

Aisyah radhiyallahu 'anha menegaskan:

مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً، وَلَا خَادِمًا، إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللهِ .

Rasulullah tidak pernah memukul sesuatu pun dengan tangan beliau, tidak pula seorang perempuan dan tidak pula seorang pembantu, kecuali ketika berjihad di jalan Allah (HR. Muslim no. 2328).

 

BAB 4

KAPAN DAN BAGAIMANA ORANG TUA BOLEH BERSIKAP TEGAS?

Islam adalah agama yang seimbang (wasathiyah). Mendidik tanpa kelembutan melahirkan kekerasan, namun mendidik tanpa ketegasan melahirkan pemanjaan yang merusak, menjadikan anak tidak memiliki rasa tanggung jawab.

Ketegasan bukan kekasaran, melainkan wujud perlindungan dan penegakan batas hukum.

1. Kondisi Orang Tua Wajib dan Boleh Bersikap Tegas

1)  Menyangkut Ibadah Utama (Shalat)

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا، وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ.

Perintahkan anak-anakmu untuk melaksanakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah (dengan pukulan ketegasan/mendidik) mereka karena meninggalkannya ketika mereka berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur di antara mereka (HR. Abu Dawud no. 495, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami’ no. 5868).

Fikih Hadits: Ada jenjang bertahap (tadarruj) selama 3 tahun sebelum tindakan tegas diberlakukan.

2)  Menjaga Anak dari Harta Haram dan Kemungkaran

Saat Hasan bin Ali mengambil sebutir kurma zakat dan memasukkannya ke mulut, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menegurnya dengan tegas seketika:

أَخَذَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ تَمْرَةً مِنْ تَمْرِ الصَّدَقَةِ، فَجَعَلَهَا فِي فِيهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كِخْ كِخْ، ارْمِ بِهَا، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّا لَا نَأْكُلُ الصَّدَقَةَ.؟

Hasan bin Ali mengambil sebutir kurma dari kurma sedekah (zakat) lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (dengan tegas): Kikh! Kikh! (keluarkanlah!), buang kurma itu! Tidakkah engkau tahu bahwa kita (keluarga Nabi) tidak boleh memakan harta sedekah? (HR. Al-Bukhari no. 1491, Muslim no. 1069).

3)  Saat Anak Membangkang atau Rusak Adabnya

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

عَلِّقُوا السَّوْطَ حَيْثُ يَرَاهُ أَهْلُ الْبَيْتِ، فَإِنَّهُ أَدَبٌ لَهُمْ.

Gantungkanlah cambuk di tempat yang dapat dilihat oleh penghuni rumah, karena hal itu merupakan ajaran adab bagi mereka (HR. Ath-Thabrani No. 10669 dihasankan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami’ no. 4022).

Hadits ini adalah simbol kewibawaan dan adanya batasan aturan di rumah.

4)  Saat Perilaku Anak Membahayakan Diri atau Orang Lain

Apa bila anak memegang atau melakukan sesuatu yang dapat membahayakan dirinya atau orang lain hendaknya orang tua bersikap tegas dan menghentikan.

Berdasarkan kaidah fikih:

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ .

Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain (HR. Ibn Majah no. 2340, di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami’ no.7517).

2.   Aturan Syariat dalam Memberikan Hukuman dan Ketegasan

Jika ketegasan membutuhkan bentuk teguran fisik (adh-dharb) atau hukuman disiplin, wajib memenuhi kaidah syariat berikut:

Kaidah-Kaidah Penting dalam Memberikan Hukuman kepada Anak

1. Niat Mendidik (Ta'dīb), Bukan Melampiaskan Emosi

Hukuman yang diberikan kepada anak harus dilandasi niat untuk mendidik, memperbaiki perilaku, dan mengarahkan kepada kebaikan, bukan sebagai pelampiasan kemarahan atau emosi orang tua.

2. Dilakukan Secara Bertahap (At-Tadarruj)

Syariat mengajarkan agar pendidikan dan hukuman dilakukan secara bertahap. Dimulai dengan memberikan nasihat dan penjelasan, kemudian teguran, selanjutnya hajr (mendiamkan apabila bermanfaat), dan apabila diperlukan barulah diberikan hukuman yang ringan sesuai tuntunan syariat.

3. Dilarang Memukul Wajah

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا ضَرَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْتَنِبِ الْوَجْهَ

"Apabila salah seorang di antara kalian memukul, hendaklah ia menghindari wajah." (HR. Ahmad no. 7323).

Hadits ini menunjukkan bahwa wajah merupakan bagian tubuh yang dimuliakan sehingga tidak boleh dijadikan sasaran pukulan.

4. Tidak Boleh Menimbulkan Luka atau Cedera

Apabila syariat membolehkan hukuman fisik dalam kondisi tertentu, maka hukuman tersebut tidak boleh menyebabkan memar, luka, pendarahan, patah tulang, atau bahaya lainnya. Para ulama menyebutnya dengan istilah:

ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ

"Pukulan yang tidak menyakitkan dan tidak menimbulkan cedera."

5. Memperhatikan Batas Usia Anak

Anak yang belum mencapai usia sepuluh tahun tidak boleh diberikan hukuman fisik

Dengan demikian, hukuman fisik bukanlah metode yang diterapkan kepada anak di bawah usia sepuluh tahun. Sebelum usia tersebut, pendidikan hendaknya lebih ditekankan melalui keteladanan, nasihat, pembiasaan, kasih sayang, dan kelembutan.

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

-----000-----

 

Sragen 25-07-2026

Abu Ibrahim Junaedi.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENDIDIK ANAK SESUAI SYARIAT Panduan Orang Tua dalam Mendidik Anak

  MENDIDIK ANAK SESUAI SYARIAT Panduan Orang Tua dalam Mendidik Anak DAFTAR ISI Muqaddimah (Pengantar) Bab 1: Kedudukan Anak dan Tan...