Kamis, 26 Februari 2026

ANTARA PUASA DAN DUNIA

 



 

Pernahkah kita merenungkan apa tujuan syari’at atau perintah puasa ini..?

Sebelum kita menjawab pertanyaan di atas kiranya sedikit kita mengetahui sifat diantara sifat-sifat Allah yaitu Ar-Rahman dan Ar-Rahim (maha pengasih dan maha penyayang.

Allah ta’ala berfirman:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (Al-Fatihah[1]:1).

Allah melarang seseorang menganiyaya dirinya sendiri.

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ.

Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.“ (QS. Al Baqarah[2]: 195).

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا.

“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada kalian.” (QS. An-Nisa[4]:29).

Bahkan Allah lebih sayang kepada kita dibandingkan seorang ibu kepada anaknya.

Dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

قَدِمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْيٌ، فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْيِ قَدْ تَحْلُبُ ثَدْيَهَا تَسْقِي، إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ أَخَذَتْهُ، فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ، فَقَالَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَتَرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ. قُلْنَا: لَا، وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لَا تَطْرَحَهُ، فَقَالَ: لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا.

“Didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam para tawanan perang. Tiba-tiba ada seorang wanita dari kalangan tawanan itu yang air susunya memancar (karena mencari anaknya). Setiap kali ia menemukan seorang bayi di antara tawanan, ia mengambilnya, lalu mendekapnya ke perutnya dan menyusuinya.

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada kami:

‘Menurut kalian, apakah wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam neraka?’

Kami menjawab: ‘Tidak, demi Allah, sementara ia mampu untuk tidak melemparkannya.’

Beliau bersabda: ‘Sungguh Allah lebih penyayang kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita ini kepada anaknya.’” (HR. Bukhari 5999, Muslim Muslim 2754).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ، أَنْزَلَ مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالْبَهَائِمِ وَالْهَوَامِّ، فَبِهَا يَتَعَاطَفُونَ، وَبِهَا يَتَرَاحَمُونَ، وَبِهَا تَعْطِفُ الْوَحْشُ عَلَى وَلَدِهَا، وَأَخَّرَ اللَّهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً، يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

“Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Dia menurunkan satu rahmat di antara jin, manusia, binatang dan hewan melata. Dengan rahmat itu mereka saling menyayangi dan saling berkasih sayang. Dengan rahmat itu pula binatang buas menyayangi anaknya. Dan Allah menangguhkan sembilan puluh sembilan rahmat untuk merahmati hamba-hamba-Nya pada hari kiamat.” (HR. Muslim 2752, Ahmad 9609).

Dari sini kita mengetahui bahwa Allah menyeru berpuasa hanya kepada orang beriman saja, karena Allah menyayangi kepada orang beriman.

Allah ta’ala berfirman:

وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا.

“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab[33]: 43)

1.  Kenapa Allah melarang makan, minum jima’ dan lainnya pada saat kita berpusa..?

Jawabanya: Dengan puasa itu Allah menginginkan agar orang beriman tidak menjadi (abdul butun) budak perut.

Allah ta’ala berfirman:

كُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ

“Makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf [7]:31).

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tafsir ayat ini:

قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: جَمَعَ اللَّهُ الطِّبَّ كُلَّهُ فِي نِصْفِ آيَةٍ: وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا.

“Sebagian salaf berkata bahwa Allah telah mengumpulkan semua ilmu kedokteran pada setengah ayat ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-A’raf [7]:31).

 Dari Al-Miqdam bin Ma'dikarib raḍiyallahu 'anhu secara marfu' dia berkata, aku mendengan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ. بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ.

"Tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika memang harus melebihi itu, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya." (HR Tirmidzi 2380 Ibnu Majah 3349, dishahihkan Syaikh al Abani di dalam Ash Shahihah 2265).

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan bahaya kekenyangan karena penuhnya perut dengan makanan, beliau berkata:

مَا شَبِعْتُ مُنْذُ سِتَّ عَشْرَةَ سَنَةً إِلَّا شَبْعَةٌ أَطْرَحُهَا. قَالَ أَبُو مُحَمَّدٍ: يَعْنِي فَطَرَحْتُهَا لِأَنَّ الشِّبَعَ يُثْقِلُ الْبَدَنَ وَيُقَسِّي الْقَلْبَ وَيُزِيلُ الْفِطْنَةَ وَيَجْلِبُ النَّوْمَ، وَيُضْعِفُ صَاحِبَهُ عَنِ الْعِبَادَةَ.

“ Aku tidak pernah kekenyangan semenjak 16 tahun kecuali sekali, aku segera mengosongkannya, Beliau juga berkata: Kekenyangan membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, mengurangi kecerdasan, mudah mengantuk dan lemah untuk beribadah.” (Hilyah Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’, Oleh Abu Nu’aim bin ‘Abdillah).

2.  Kenapa Allah melarang jima’ saat berpuasa ..?

Jawabanya, karena Allah menginginkan orang beriman tidak menjadi budak nafsunya, meskipun di waktu lain hal itu dapat menjadi sarana pahala.

Dalam hadits Qudhsi Allah ta’ala sebutkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي.

“…Ia meninggalkan makanannya, minumannya, dan syahwatnya karena Aku.” (HR. Bukhari 1894, Ahmad 9112, Ibnu Abi Syaibah 8894).

Tidak sebagaimana orang-orang kafir.

Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ.

“Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya hewan ternak; dan neraka adalah tempat tinggal bagi mereka.” (QS. Muhammad [47]:12).

3.  Kenapa Allah melarang orang berpuasa berbuat sia-sia, berbuat jahil dan kerkata berdusta …?

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

ألصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ.

“Puasa adalah tameng janganlah berkata kotor dan jangan berbuat bodoh...” (HR. al-Bukhari 1894).

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ.

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. al-Bukhari 1903).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ.

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah  1690, an-Nasa’i 3236, dishahihkan Syaikh al Albani dalam Shahih at-Targib wa-at Tarhib 1083).

Jawaban pertama: Jika perbuatan sia-sia teriak-teriak berbuat jahil saja tidak boleh lebih dari itu tentu lebih utama untuk dilarang seperti berjudi, berzina, menipu, korupsi, mencuri, membunuh dan lain sebagainya.

Jawaban kedua: Karena Allah menghendaki kebaikan dan keadilan terhadap sesama orang beriman secara khusus dan kepada manusia secara umum sehingga semua bentuk keburukan Allah larang.

Sebaliknya kita diperintahkan Allah agar melakukan berbagai kebaikan kepada manusia.

 Allah ta’ala berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا.

“Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia,” (QS. Al-Baqarah[2]: 83).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

“Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan iringilah perbuatan dosa (kesalahan)  dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik.” (HR. Ahmad 21354, at-Tirmidzi 1987, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam Al-Misykah 5083).

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا.

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya, dan yang paling baik di antara kamu sekalian adalah yang paling baik akhlaqnya terhadap isteri-isterinya.” (HR. Ahmad 7402, at-Tirmidzi 1162, Abu Dawud 4682 dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 284).

Al-Hasan al-Bashri mengatakan bahwa akhlak yang baik terhadap mahluk berputar pada tiga perkara, yaitu:

كَفُّ اْلأَذَى ، وَبَذْلُ النَّدَى، وَطَلاَقَةُ الْوَجْهِ.

Menahan dari gangguan (Kafful Adzzaa), suka membantu, berbuat baik (Badzlun Nada), wajah yang berseri-seri (Thalaqatul Wajh). Syarah Riyadhush Shalihin Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, II/387).

4.  Kenapa Allah membatasi kesenangan orang beriman di dunia ini.

Jawab: Karena Allah mengingatkan orang beriman agar sadar bahwa kehidupan hakiki mereka di akhirat sedangkan dunia ini hanyalah sarana lintasan bukan tujuan.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Al-Imran [3]: 185).

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ.

"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid[57]:20).

قَالَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.

Allah berfirman, "Kalian tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kalian sesungguhnya mengetahui.” (QS. Al-Mukminun[23]:114).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

"Dunia itu adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir."(HR. Muslim 2956)

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ.

"Seandainya dunia ini bernilai di sisi Allah seperti sayap nyamuk, niscaya Dia tidak akan memberikan seteguk air pun kepada orang kafir." (HR. Tirmidzi 2320, Ibnu Majah 4110, dishahihkan syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 940).

Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ.

“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (HR. Al-Bukhari 6416, Tirmidzi 3296).

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا قَدِ ارْتَحَلَتْ مُدْبِرَةً، وَإِنَّ الْآخِرَةَ قَدِ ارْتَحَلَتْ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ، وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابٌ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلٌ

"Dunia akan pergi menjauh, dan akhirat akan mendekat. Masing-masing memiliki anak. Jadilah anak akhirat, jangan menjadi anak dunia. Karena hari ini (dunia) adalah tempat beramal tanpa hisab, sedangkan besok (akhirat) adalah tempat hisab tanpa amal."
(HR. Ahmad 16553, Hakim 7913)

1.  Pembagian manusia dalam menyikapi dunia

1) Orang kafir.

Orang kafir, mereka tidak lagi memperhatikan batasan-batasan dunia, merek mencurahkan seluruh waktunya untuk dunia.

Allah ta’ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ . أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak mem­peroleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS.Hud[11]:15-16).

Allah akan membalas mereka di akhirat dengan neraka.

فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ.

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.” (QS. Attaubah[9]:55).

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ.

“Dan jangan sekali-kali orang-orang kafir itu mengira bahwa tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka lebih baik baginya. Sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka hanyalah agar dosa mereka semakin bertambah; dan mereka akan mendapat azab yang menghinakan.” (QS. Ali-Imran[3]:178).

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ.

“Sungguh, orang-orang yang kafir dan mati dalam kekafiran, tidak akan diterima (tebusan) dari seseorang di antara mereka sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi, sekiranya dia hendak menebus diri dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang pedih dan tidak memperoleh penolong.” (QS. Al Imran[3]:91).

2) Orang islam yang berlebih-lebihan kecintaannya terhadap dunia.

Mereka menyia-nyiakan kewajiban dan memburu dunia sehingga mereka dzalim terhadap dirinya dan orang lain.

Allah ta’ala berfirman:

يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ.

“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (Ghafir[40]:39).

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ.

“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.” ( QS. Al-An’am[6]:44).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ.

”Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan dilihat dari jalur lain).

3) Mereka mengetahui hakekat dunia, dan mengambil secukupnya saja.

Mereka mengejar akhirat namun tidak melupakan dunia.

Allah ta’ala berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا .

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi .”( QS. Al Qashash [28]:77).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi w sallam bersabda:

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ، جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ .

“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan dalam pandangannya, dan dunia tidak datang kecuali apa yang Allah telah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan hatinya merasa cukup, dan dunia akan datang dalam keadaan merendah.(HR. IBnu Majah 4105, dishahihkan Syaikh al-Bani di dalam as-Shahihah 950).

وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ – فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ.

“Demi Allah, tidaklah dunia ini bagi akhirat melainkan seperti jari tangan salah seorang dari kalian yang ini  -Yahya (perowi) mengisyaratkan dengan jari telunjuk- yang dicelupkan ke dalam air laut, maka lihatlah air yang kembali.” (HR. Muslim 7376).

 

Orang berakal mengejar akhirat.

Oleh karena itu banyak para ulama mereka bersikap wara’ dan zuhud, wara’ meninggalkan apa yang berbahaya di alhirat, sedang zuhud meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat di akhirat.

Malik bin Dinar berkata:

لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا مِنْ ذَهَبٍ يَفْنَى ، وَالآخِرَةُ مِنْ خَزَفٍ يَبْقَى لَكَانَ الوَاجِبُ أَنْ يُؤْثِرَ خَزَفٍ يَبْقَى عَلَى ذَهَبٍ يَفْنَى ، فَكَيْفَ وَالآخِرَةُ مِنْ ذَهَبِ يَبْقَى ، وَالدُّنْيَا مِنْ خَزَفٍ يَفْنَى.؟

“Seandainya dunia adalah emas yang akan fana, dan akhirat adalah tembikar yang kekal abadi, maka tentu saja seseorang wajib memilih sesuatu yang kekal abadi (yaitu tembikar) daripada emas yang nanti akan fana. Padahal sejatinya akhirat adalah emas yang kekal abadi dan dunia adalah tembikar yang nantinya fana.” (Lihat Fathul Qodir, Imam Asy-Syaukani, 5:567-568)

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

-----000-----

 

Sragen 27-03-2025

Junaedi Abdullah.



 

Selasa, 24 Februari 2026

INDAHNYA RAHASIA DI BALIK SYARI’AT PUASA

 


INDAHNYA RAHASIA DI BALIK SYARI’AT PUASA

 

Puasa memiliki hikmah dan rahasia yang sangat mendalam, hal ini hanya akan diketahui bagi orang-orang yang memperhatikan dan merenunginya, adapun diantara hikmah dan rahasia yang terkandung di dalam perintah puasa yaitu:

1.  Memisahkan Kemurnian Iman Dan Kefasikan.

Allah ta’ala perintahkan puasa, yang akan menyingkap kemurnian iman dan kefasikannya.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah[2]:183).

Imam Ad-Dzahabi berkata: “Para ulama sepakat menghukumi pelaku orang yang tidak puasa lebih buruk dari pezina dan peminum khamer, karena mereka menyerupai orang-orang zindiq atau munafiq.” (kitab al-Kabaair Imam Adzahabi).

2.  Dengan Puasa Allah Ingin Menumbuhkan Rasa Belas Kasih.

Dunia tidak akan lepas dari kabar suka duka, peperangan dan bencana kelaparan, dengan puasa itu akan merasakan kelaparan, sehingga akan mendorong seseorang membantu satu sama lain, inilah di antara yang dikehendaki Allah terhadap syari’at ini.

Alah ta’ala berfirman:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

 “(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran [3]: 134).

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا.

Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. (QS. Al-Insan [76]: 8)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ.

“Sayangilah penduduk bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR. Tirmidzi 1924, Abu Dawud 4941, dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani di dalam shahihu al-Jami’ 3522).

3.  Dengan Puasa Allah Ingin Memperbaiki Akhlak Hambanya.

Bukanlah perkara mudah mengubah suatu takbi’at (prilaku) seseorang, dari yang buruk menjadi baik, hal itu butuh latihan.

Apabila perut anak Adam lapar niscaya nafsunya kenyang, sebaliknya jika perut anak adam kenyang nafsunya lapar oleh karena itu butuh membiasakan hal-hal yang baik tersebut, dapat tercapai dengan melemahkan nafsu syahwat yang buruk (dengan rasa laparnya puasa) kemudian membiasakan dengan hal-hal yang baik, dengan demikian seseorang akan terbiasa untuk selalu berakhlak mulia dengan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

.Allah ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam [68]: 4).

Demham demikian akhlak yang buruk akan terkikis dengan kebaikan, sebagaimana Allah ta’ala firmankan:

اِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِ.

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik menghapus kesalahan-kesalahan.” (QS. Hud[11]:114).

Bila hal itu dilakukan sungguh-sungguh niscaya akan hilanglah kebiasaan berbohong, tidak sabar, berbuat jahil, perbuatan tanpa guna. Sebagaimana hal ini menjadi konsekuensi orang yang berpuasa.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ.

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. al-Bukhari 1903).

ألصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ،وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ.

“Puasa adalah tameng janganlah berkata kotor dan jangan berbuat bodoh, jika seseorang mengajak berkelahi atau mencelamu maka katakanlah aku sedang puasa dua kali.” (HR. al-Bukhari 1894).

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ.

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah  1690, an-Nasa’i 3236, dishahihkan Syaikh al Albani dalam Shahih at-Targib wa-at Tarhib 1083).

4.  Puasa akan menghilangkan kebiasaan buruk.

Seperti kecanduan nonton film, drama, konsumsi sabu, kokain, narkotika, judi, minum khamer, merokok, dan lainnya.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ.

Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.“ (QS. Al Baqarah[2]: 195).

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا.

“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada kalian.” (QS. An-Nisa[4]:29).

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ , قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا.

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar  (minuman keras) dan judi. Katakanlah,  “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.” (QS. Al-Baqarah[2]:219).

Ibnu Katsir berkata, Allah ta’ala berfirman: “ Pada keduanya ada dosa besar dan manfaat bagi manusia,” “Dosanya menyangkut agama, beberapa manfaat menyangkut keduniaan, seperti jual beli, demikian pula judi, keuntungannya tak sebanding dengan kemudharatannya yang nyata. (Lihat tafsir Ibnu Katsir QS, Al- Baqarah[2]:219)

Ayat di atas menjadi dalil bagi ulama bahwa setiap ada manfaat namun madharatnya lebih besar hal itu terlarang, sebagaimana rokok.

Allah yang maha pemurah telah memberikan anggota badan kita, organ-organ tubuh kita ini sangat mahal harganya. Seperti kepala beserta isinya, jantung, paru, ginjal dan lainnya sudah seharusnya kita menjaganya bukan merusaknya karena semua ini amanah yang harus dijaga.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا.

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’ [17]:36).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Seseorang hamba akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dilakukan oleh anggota-anggota tubuhnya itu pada hari kiamat, dan semua anggota tubuhnya akan ditanyai tentang apa yang dilakukan oleh pemilik­nya.” (LIhat tafsir Ibnu Katsir, QS, Al-Isra’[17]:36).

5.  Puasa Memperbaiki Hubungan Hamba Terhadap Penciptanya.

Berpuasa menorehkan kepribadian yang baik serta ketakwaan,  dengan demikian hubungan hamba dengan pencipta menjadi dekat sehingga mendatangkan kecintaan Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ.

“Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl[16]:128).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke surga, maka beliau bersabda:

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ  تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ. وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ  الْفَمُ وَالْفَرْجُ.

“Taqwa kepada Allah dan bagusnya akhlak.” Dan beliau ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke neraka, maka beliau bersabda: “mulut dan farji (kemaluan).” (HR Tirmidzi 2004, Abu Dawud 2596, Ibnu Majah 4246.

6.  Puasa Memperbaiki Hubungan Sesama Manusia.

Orang yang berpuasa akan senantiasa berkata jujur, penyabar, penyantun dan penyayang, semua ini dibutuhkan di dalam kehidupan sesama manusia yang masih bersih fitrahnya.

Allah ta’ala berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا.

“Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia,” (QS. Al-Baqarah[2]: 83).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

“Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan iringilah perbuatan dosa (kesalahan)  dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik.” (HR. Ahmad 21354, at-Tirmidzi 1987, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam Al-Misykah 5083).

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا.

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya, dan yang paling baik di antara kamu sekalian adalah yang paling baik akhlaqnya terhadap isteri-isterinya.” (HR. Ahmad 7402, at-Tirmidzi 1162, Abu Dawud 4682 dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 284).

Al-Hasan al-Bashri mengatakan bahwa akhlak yang baik terhadap mahluk berputar pada tiga perkara, yaitu:

كَفُّ اْلأَذَى ، وَبَذْلُ النَّدَى، وَطَلاَقَةُ الْوَجْهِ.

Menahan dari gangguan (Kafful Adzzaa), suka membantu, berbuat baik (Badzlun Nada), wajah yang berseri-seri (Thalaqatul Wajh). Syarah Riyadhush Shalihin Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, II/387).

7.  Dengan Puasa Allah Berkehendak Menyehatkan Badan Hamba-Hambanya.

Allah ta’ala berfirman:

كُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ

“Makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”

 

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tafsir ayat ini:

قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: جَمَعَ اللَّهُ الطِّبَّ كُلَّهُ فِي نِصْفِ آيَةٍ: وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا.

“Sebagian salaf berkata bahwa Allah telah mengumpulkan semua ilmu kedokteran pada setengah ayat ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-A’raf [7]:31).

 Dari Al-Miqdam bin Ma'dikarib raḍiyallahu 'anhu secara marfu' dia berkata, aku mendengan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ. بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ.

"Tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika memang harus melebihi itu, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya." (HR Tirmidzi 2380 Ibnu Majah 3349, dishahihkan Syaikh al Abani di dalam Ash Shahihah 2265).

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan bahaya kekenyangan karena penuhnya perut dengan makanan, beliau berkata:

مَا شَبِعْتُ مُنْذُ سِتَّ عَشْرَةَ سَنَةً إِلَّا شَبْعَةٌ أَطْرَحُهَا. قَالَ أَبُو مُحَمَّدٍ: يَعْنِي فَطَرَحْتُهَا لِأَنَّ الشِّبَعَ يُثْقِلُ الْبَدَنَ وَيُقَسِّي الْقَلْبَ وَيُزِيلُ الْفِطْنَةَ وَيَجْلِبُ النَّوْمَ، وَيُضْعِفُ صَاحِبَهُ عَنِ الْعِبَادَةَ.

“ Aku tidak pernah kekenyangan semenjak 16 tahun kecuali sekali, aku segera mengosongkannya, Beliau juga berkata: Kekenyangan membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, mengurangi kecerdasan, mudah mengantuk dan lemah untuk beribadah.” (Hilyah Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’, Oleh Abu Nu’aim bin ‘Abdillah).

 

8.  Puasa akan meninggikan derajat Kelak Pada Hari Kiamat.

Disebutkan dalam sebuah atsar:

عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ، أَنَّ رَجُلَيْنِ مِنْ بَلِيٍّ قَدِمَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَ إِسْلَامُهُمَا جَمِيعًا، فَكَانَ أَحَدُهُمَا أَشَدَّ اجْتِهَادًا مِنَ الْآخَرِ، فَغَزَا الْمُجْتَهِدُ مِنْهُمَا فَاسْتُشْهِدَ، ثُمَّ مَكَثَ الْآخَرُ بَعْدَهُ سَنَةً، ثُمَّ تُوُفِّيَ، قَالَ طَلْحَةُ: فَرَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ: بَيْنَا أَنَا عِنْدَ بَابِ الْجَنَّةِ، إِذَا أَنَا بِهِمَا، فَخَرَجَ خَارِجٌ مِنَ الْجَنَّةِ، فَأَذِنَ لِلَّذِي تُوُفِّيَ الْآخِرَ مِنْهُمَا، ثُمَّ خَرَجَ، فَأَذِنَ لِلَّذِي اسْتُشْهِدَ، ثُمَّ رَجَعَ إِلَيَّ، فَقَالَ: ارْجِعْ، فَإِنَّكَ لَمْ يَأْنِ لَكَ بَعْدُ، فَأَصْبَحَ طَلْحَةُ يُحَدِّثُ بِهِ النَّاسَ، فَعَجِبُوا لِذَلِكَ، فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَحَدَّثُوهُ الْحَدِيثَ، فَقَالَ: مِنْ أَيِّ ذَلِكَ تَعْجَبُونَ؟ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ ‍ هَذَا كَانَ أَشَدَّ الرَّجُلَيْنِ اجْتِهَادًا، ثُمَّ اسْتُشْهِدَ، وَدَخَلَ هَذَا الْآخِرُ الْجَنَّةَ قَبْلَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَلَيْسَ قَدْ مَكَثَ هَذَا بَعْدَهُ سَنَةً؟ قَالُوا: بَلَى، قَالَ: وَأَدْرَكَ رَمَضَانَ فَصَامَ، وَصَلَّى كَذَا وَكَذَا مِنْ سَجْدَةٍ فِي السَّنَةِ؟ قَالُوا: بَلَى، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَمَا بَيْنَهُمَا أَبْعَدُ مِمَّا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ.

Dari Thalhah bin ‘Ubaidillah, bahwa ada dua orang laki-laki dari Bani Baliy yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan keduanya masuk Islam secara bersamaan. Salah seorang dari keduanya lebih bersungguh-sungguh dalam beramal daripada yang lainnya. Orang yang lebih bersungguh-sungguh itu ikut berperang lalu gugur sebagai syahid. Adapun yang lainnya hidup setelahnya selama setahun, kemudian ia pun wafat.

Thalhah berkata: Aku melihat dalam mimpi, ketika aku berada di dekat pintu surga, tiba-tiba aku melihat kedua orang itu. Lalu keluarlah seseorang dari dalam surga, kemudian ia memberi izin masuk kepada orang yang wafat belakangan dari keduanya.

Setelah itu ia keluar lagi dan memberi izin masuk kepada orang yang gugur sebagai syahid. Kemudian ia kembali kepadaku seraya berkata: “Kembalilah, karena belum tiba waktumu.”

Maka pada pagi harinya Thalhah menceritakan hal itu kepada manusia, lalu mereka merasa heran dengan peristiwa tersebut.

 Kemudian hal itu sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka pun menceritakan kisah itu kepada beliau. Maka beliau bersabda: “Apa yang membuat kalian merasa heran dengan hal tersebut?”

Mereka menjawab: Wahai Rasulullah, yang satu ini lebih bersungguh-sungguh dari dua orang itu, lalu ia gugur sebagai syahid, sementara yang ini justru masuk surga lebih dahulu darinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukankah orang yang ini hidup setelahnya selama setahun?” Mereka menjawab: Benar. Beliau bersabda: “Dan bukankah ia mendapatkan Ramadhan lalu ia berpuasa, serta shalat sekian dan sekian kali sujud dalam setahun?”
Mereka menjawab: Benar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka jarak perbedaan derajat di antara keduanya lebih jauh daripada jarak antara langit dan bumi.” (HR. Ibnu Majah 3925, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam at-Ta’liqu Ar-Ragib 1/142-143).

Dari Abdurrahman bin Abu Bakrah, dari bapaknya, bahwa seorang laki-laki berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ  مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ  قَالَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ  مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ 

“Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang terbaik?” Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapakah orang yang terburuk?” Beliau menjawab, “Orang yang berumur panjang dan buruk amalnya”. (HR. Ahmad 20415, Abu Dawud 905, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam al-Misykah 5285).

 

 

 


Sragen 23-03-2026

Abu Ibrahim Junaedi Abdullah.

BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.

  BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.     س ١ - بِمَاذَا نَتَوَسَّلُ إِلَى اللَّهِ؟ Soal 1 : Dengan apa kita bertawassul...