Minggu, 08 Maret 2026

PUASA MELATIH ZUHUD TERHADAP DUNIA



PUASA MELATIH ZUHUD TERHADAP DUNIA

Allah subhanahu wa ta’ala dengan kelembutannya memperbaiki keadaan kita, urusan kita, jasmani maupun rahani, demikian pula dengan puasa Allah melatih kita zuhud.

Puasa melatih kita meninggalkan dari apa yang kita miliki, kita kuasai, baik berupa makanan, minuman, syahwat dan lainnya.

Hal itu tidak lain agar manusia tidak menghamba terhadap perutnya.

Allah ta’ala berfirman:

كُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ

“Makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf [7]:31).

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tafsir ayat ini:

قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: جَمَعَ اللَّهُ الطِّبَّ كُلَّهُ فِي نِصْفِ آيَةٍ: وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا.

“Sebagian salaf berkata bahwa Allah telah mengumpulkan semua ilmu kedokteran pada setengah ayat ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-A’raf [7]:31).

 Dari Al-Miqdam bin Ma'dikarib raḍiyallahu 'anhu secara marfu' dia berkata, aku mendengan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ. بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ.

"Tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika memang harus melebihi itu, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya." (HR Tirmidzi 2380 Ibnu Majah 3349, dishahihkan Syaikh al Abani di dalam Ash Shahihah 2265).

Tidak sebagaimana orang-orang kafir.

Allah ta’ala menggambarkan dengan berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ.

“Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya hewan ternak; dan neraka adalah tempat tinggal bagi mereka.” (QS. Muhammad [47]:12).

Dari ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ، وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ.

“Orang mukmin makan dengan satu usus (lambung), sedangkan orang kafir makan dengan tujuh usus (lambung).(HR. Bukhari 5397, Muslim 2061).

Allah ta’ala juga melarang kita berbuat mubadzir:

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا . إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا.

“Janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros." "Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS. Al-Isra’[17]:26-27).

Agar manusia meninggalkan berbagai perkataan kotor, keji, dusta yang dengan keburukan tersebut manusia saling menipu, memakan harta diantara mereka dengan cara yang batil, mengejar pangkat sehingga satu sama lain saling menjatuhkan.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan cara yang batil, kecuali dengan perdagangan yang terjadi atas dasar saling ridha di antara kalian.” (QS. An-Nisa’[4]:29).

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang batil, dan janganlah kalian menyuapkannya kepada para hakim agar kalian dapat memakan sebagian harta orang lain dengan dosa, padahal kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah[2]: 188)

Puasa juga mengendalikan dari perbudakan nafsu seksualnya.

Berapa banyak manusia yang mereka terfitnah dengan wanita, demikian pula wanita yang terfitnah dengan laki-laki.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ.

“Aku tidak meninggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.” (HR. Bukhari 5096, Muslim 2740).

Semua ini Allah kumpulkan dalam satu ayat yang jelas, dengan firman-Nya:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran[3]: 14).

 

Banyak sekali ayat dan hadits mengingatkan kita akan dunia yang fana ini, demikian pula ucapan para ulama:

1.  Dunia Ini Hanya Sebentar.

Allah ta’ala berfirman:

قَالَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.

Allah berfirman, "Kalian tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kalian sesungguhnya mengetahui.” (QS. Al-Mukminun[23]:114).

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا

“Pada hari mereka melihat hari kiamat itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) kecuali hanya pada waktu sore atau pagi hari saja.” (QS. An-Nazi’at [79]:49)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً، ثُمَّ يُقَالُ: يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ؟ فَيَقُولُ: لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ . وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ، فَيُقَالُ لَهُ: يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ؟ فَيَقُولُ: لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ، مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ.

“Pada hari kiamat didatangkan orang yang paling hidup mewah di dunia dari kalangan penghuni neraka, lalu ia dicelupkan sekali ke dalam neraka. Kemudian dikatakan kepadanya:

‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah melihat kebaikan sama sekali? Apakah pernah engkau merasakan kenikmatan?’

Ia menjawab: ‘Tidak, demi Allah wahai Rabbku, aku tidak pernah merasakan kenikmatan sama sekali.’

Kemudian didatangkan orang yang paling sengsara hidupnya di dunia dari kalangan penghuni surga, lalu ia dicelupkan sekali ke dalam surga. Lalu dikatakan kepadanya:

‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kesengsaraan? Apakah pernah engkau mengalami kesulitan?’

Ia menjawab: ‘Tidak, demi Allah wahai Rabbku, aku tidak pernah merasakan kesengsaraan sama sekali dan tidak pernah melihat kesulitan.” (HR. Muslim 2807, Ahmad 13112).

2.  Dunia Hanyalah Sedikit Jika Dibandingkan Akhirat.

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى.

“Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang bertakwa". (QS. An-Nisa' [4]: 77).

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ.

"Seandainya dunia ini bernilai di sisi Allah seperti sayap nyamuk, niscaya Dia tidak akan memberikan seteguk air pun kepada orang kafir." (HR. Tirmidzi 2320, Ibnu Majah 4110, dishahihkan syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 940).

وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ – فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ.

“Demi Allah, tidaklah dunia ini bagi akhirat melainkan seperti jari tangan salah seorang dari kalian yang ini  -Yahya (perowi) mengisyaratkan dengan jari telunjuk- yang dicelupkan ke dalam air laut, maka lihatlah air yang kembali.” (HR. Muslim 7376).

3.  Dunia Hanyalah Kesenangan Yang Melalaikan.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Al-Imran [3]: 185).

4.  Dunia Penjara Bagi Orang Beriman.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

"Dunia itu adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir."(HR. Muslim 2956)

5.  Rendahnya Dunia Di Sisi Allah ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ .

“Dunia itu terlaknat dan segala yang terkandung di dalamnya pun terlaknat, kecuali orang yang berdzikir kepada Allah, yang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang ‘alim atau penuntut ilmu syar’i.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah. Dalam Shahihul Jami’, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan).

6.  Dunia Akan Segera Sirna.

Allah ta’ala berfirman:

 

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ.

Telah dekat hari kiamat, dan bulan pun telah terbelah.” (QS. Al-Qamar [54]:1).

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍۖ

“Semua yang ada di atasnya (bumi) itu akan binasa.” (QS. Ar-Rahman [55]:26).

Ayat ini memberikan gambaran jelas tentang kefanaan kehidupan dunia, di mana segala sesuatu yang kita lihat, rasakan, dan miliki saat ini hanyalah sementara.

7.  Larangan Mencintai Dunia Dan Menjadikannya Tujuan.

Allah juga menyebutkan bagaimana keadaan orang-orang kafir yang mereka lebih mementingkan dunia daripada akhirat Allah ta’ala berfirman:

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا . وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى.

"Sedangkan kalian lebih memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal". (QS. Al-A'la [87]: 16 – 17).

Sedangkan orang-orang beriman banyak sekali yang mengikuti pola fikir orang-orang kafir di dalam hidupnya.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi w sallam bersabda:

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ، جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ .

“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan dalam pandangannya, dan dunia tidak datang kecuali apa yang Allah telah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan hatinya merasa cukup, dan dunia akan datang dalam keadaan merendah.(HR. Ibnu Majah 4105, dishahihkan Syaikh al-Bani di dalam as-Shahihah 950).

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

مُحِبُّ الدُّنْيَا لَا يَنْفَكُّ مِنْ ثَلَاثٍ : هَمٌّ لَازِمٌ ، وَتَعَبٌ دَائِمٌ ، وَحَسْرَةٌ لَا تَنْقَضِى.

Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal : kesedihan (kegelisahan) yang terus-menerus; kecapekan (keletihan) yang berkelanjutan; dan penyesalan yang tidak pernah berhenti.

8.  Anjuran Agar Zuhud Terhadap Dunia.

Zuhud bukan berarti meninggalkan harta kekayaan dan hidup miskin tidak, tetapi zuhud adalah meniggalkan apa yang tidak memberi manfaat di akhirat.

Pengertian Zuhud terhadap Dunia Menurut Para Salaf

Zuhud terhadap sesuatu maknanya berpaling darinya karena keremehan dan kehinaannya, serta tidak ada ambisi untuk mendapatkannya. Sebagaimana perkataan syai'un zahid, artinya sesuatu yang nilainya sedikit lagi hina.

Yunus bin Maisarah berkata, "Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan juga menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah engkau begitu yakin terhadap apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. (mukhtasar Jami’ul Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab al-Hambali).

Allah menyebut ucapan orang shalih yang menghasung akhirat.

Allah ta’ala berfirman:

يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ.

“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (Ghafir[40]:39).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  juga bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ.

“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (HR. Al-Bukhari 6416, Tirmidzi 3296).

Dari Sahl bin Sa'ad As-Sa'idi, ia menuturkan, "Seseorang mendatangi Rasulullah, dan berkata:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللَّهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ ، فَقَالَ  اِزْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ

"Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku kerjakan, Allah dan manusia akan mencintaiku." Maka beliau bersabda, "Zuhudlah terhadap dunia, maka engkau akan dicintai Allah, dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia maka engkau akan dicintai manusia." (An-Nawawi berkata, "Hadits ini hasan", diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya dengan sanad hasan)(HR. Ibnu Majah no. 4102, at-Thabrani no. 5972, Hakim IV: 313, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 944).

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا قَدِ ارْتَحَلَتْ مُدْبِرَةً، وَإِنَّ الْآخِرَةَ قَدِ ارْتَحَلَتْ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ، وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابٌ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلٌ

"Dunia akan pergi menjauh, dan akhirat akan mendekat. Masing-masing memiliki anak. Jadilah anak akhirat, jangan menjadi anak dunia. Karena hari ini (dunia) adalah tempat beramal tanpa hisab, sedangkan besok (akhirat) adalah tempat hisab tanpa amal."
(HR. Ahmad 16553, Hakim 7913)

Malik bin Dinar berkata:

لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا مِنْ ذَهَبٍ يَفْنَى ، وَالآخِرَةُ مِنْ خَزَفٍ يَبْقَى لَكَانَ الوَاجِبُ أَنْ يُؤْثِرَ خَزَفٍ يَبْقَى عَلَى ذَهَبٍ يَفْنَى ، فَكَيْفَ وَالآخِرَةُ مِنْ ذَهَبِ يَبْقَى ، وَالدُّنْيَا مِنْ خَزَفٍ يَفْنَى.؟

“Seandainya dunia adalah emas yang akan fana, dan akhirat adalah tembikar yang kekal abadi, maka tentu saja seseorang wajib memilih sesuatu yang kekal abadi (yaitu tembikar) daripada emas yang nanti akan fana. Padahal sejatinya akhirat adalah emas yang kekal abadi dan dunia adalah tembikar yang nantinya fana.” (Lihat Fathul Qodir, Imam Asy-Syaukani, 5:567-568)

Ibnu Mas'ud pernah berkata kepada sebagian sahabatnya, "Kalian lebih banyak berpuasa, mengerjakan shalat, dan lebih banyak berjihad dibandingkan para sahabat Rasulullah, tapi mereka lebih baik (lebih utama di sisi Allah) daripada kalian." Ada yang bertanya, "Kenapa bisa begitu, wahal Abu Abdirrahman?" Ibnu Mas'ud berkata, "Karena mereka lebih zuhud dalam (kehidupan) dunia dan lebih cinta kepada akhirat dibanding kalian." (mukhtasar Jami’ul Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab al-Hambali).

9.  Meskipun Demikian Larangan Seseorang Meminta-Minta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ

“Barang siapa meminta harta manusia untuk memperbanyak (harta) maka sebenarnya ia meminta bara api, maka silakan ia meminta sedikit atau memperbanyaknya.” ( HR.

Abul ‘Abbas As Siroj, ia berkata bahwa ia mendengar Ibrahim bin Basyar, ia berkata bahwa ‘Ali bin Fudhail berkata, ia berkata bahwa ayahnya (Fudhail bin ‘Iyadh) berkata pada Ibnul Mubarok,

أَنْتَ تَأْمُرُنَا بِالزُّهْدِ وَالتَّقَلُّلِ وَالْبُلْغَةِ، وَنَرَاكَ تَأْتِي بِالْبَضَائِعِ، كَيْفَ ذَا؟

“Engkau memerintahkan kami untuk zuhud, sederhana dalam harta, hidup yang sepadan (tidak kurang tidak lebih). Namun kami melihat engkau memiliki banyak harta. Mengapa bisa begitu?”

Ibnul Mubarak mengatakan:

يَا أَبَا عَلِيٍّ، إِنَّمَا أَفْعَلُ ذَا لِأَصُونَ وَجْهِي، وَأُكْرِمَ عِرْضِي، وَأَسْتَعِينَ بِهِ عَلَى طَاعَةِ رَبِّي.

“Wahai Abu ‘Ali (yaitu Fudhail bin ‘Iyadh). Sesungguhnya hidupku seperti ini hanya untuk menjaga wajahku dari ‘aib (meminta-minta). Juga aku bekerja untuk memuliakan kehormatanku. Aku pun bekerja agar bisa membantuku untuk taat pada Rabbku”. (Siyar A’lam An Nubala, Adz Dzahabi, 8/387, Mawqi’ Ya’sub).

 

10.                   Kemurahan Allah Ta’ala Menjamin  Hambanya.

Allah memiliki sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim (maha pengasih dan maha penyayang.

Allah melarang kita membinasakan diri kita dengan dunia ini dan meninggalkan akhirat yang penuh kenikmatan.

Allah melarang seseorang menganiyaya dirinya sendiri.

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ.

Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.“ (QS. Al Baqarah[2]: 195).

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا.

“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada kalian.” (QS. An-Nisa[4]:29).

Bahkan Allah lebih sayang kepada kita dibandingkan seorang ibu kepada anaknya.

Dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

قَدِمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْيٌ، فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْيِ قَدْ تَحْلُبُ ثَدْيَهَا تَسْقِي، إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ أَخَذَتْهُ، فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ، فَقَالَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَتَرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ. قُلْنَا: لَا، وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لَا تَطْرَحَهُ، فَقَالَ: لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا.

“Didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam para tawanan perang. Tiba-tiba ada seorang wanita dari kalangan tawanan itu yang air susunya memancar (karena mencari anaknya). Setiap kali ia menemukan seorang bayi di antara tawanan, ia mengambilnya, lalu mendekapnya ke perutnya dan menyusuinya.

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada kami:

‘Menurut kalian, apakah wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam neraka?’

Kami menjawab: ‘Tidak, demi Allah, sementara ia mampu untuk tidak melemparkannya.’

Beliau bersabda: ‘Sungguh Allah lebih penyayang kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita ini kepada anaknya.’” (HR. Bukhari 5999, Muslim Muslim 2754).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ، أَنْزَلَ مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالْبَهَائِمِ وَالْهَوَامِّ، فَبِهَا يَتَعَاطَفُونَ، وَبِهَا يَتَرَاحَمُونَ، وَبِهَا تَعْطِفُ الْوَحْشُ عَلَى وَلَدِهَا، وَأَخَّرَ اللَّهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً، يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

“Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Dia menurunkan satu rahmat di antara jin, manusia, binatang dan hewan melata. Dengan rahmat itu mereka saling menyayangi dan saling berkasih sayang. Dengan rahmat itu pula binatang buas menyayangi anaknya. Dan Allah menangguhkan sembilan puluh sembilan rahmat untuk merahmati hamba-hamba-Nya pada hari kiamat.” (HR. Muslim 2752, Ahmad 9609).

Dari sini kita mengetahui bahwa Allah menyeru berpuasa hanya kepada orang beriman saja, karena Allah menyayangi kepada orang beriman.

Allah ta’ala berfirman:

وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا.

“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”(QS. Al-Ahzab[33]: 43)


demikianlah sekelumit tulisan ini semoga bermanfaat.

 

-----000-----

 

Sragen 08-03-2026.

Abu Ibrahim Junaedi.

 

 


Jumat, 06 Maret 2026

TUNAIKAN HAKMU SAAT HARI RAYA KEGEMBIRAANMU

 


TUNAIKAN HAKMU SAAT HARI RAYA KEGEMBIRAANMU

Puasa akan akan membawa kepada ketakwaan, orang yang bertakwa menunaikan perintah Allah dan menjahui larangannya.

Menjelang hari kebahagiaan kita tunaikan hal-hak yang memiliki hak dengan kita.

Di antaranya:

1.   Hak Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ.

“Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar beribadah kepadaku.”(QS. Adz-Dzariyat[51]:56).

Allah pencipta.

إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ.

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy..” (QS. Al A’raaf [7]: 54).

 هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا.

“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian.” (QS. Al-Baqarah[2]:29).

Allah pemberi rezki.

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ.

“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya.” (QS. Al Isra’ [17]: 30)

 

Allah yang wajib di sembah.

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا.

“Dan hendaklah kamu beribadah hanya kepada Allah dan janganlah mempersekutukan dengan sesuatu apapun juga dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibu bapak,” (QS. An Nisaa’ [4]: 36)

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata, “Aku pernah dibonceng oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas keledai yang diberi nama ‘Ufair. Beliau bertanya:

يَا مُعَاذُ تَدْرِى مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ. قَالَ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.

قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا. قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ أُبَشِّرُ النَّاسَ قَالَ  لاَ تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا .

“Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah yang wajib ditunaikan oleh hamba dan apa hak hamba yang akan Allah tunaikan?” Mu’adz berkata, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah yang wajib ditunaikan oleh hamba, hendaklah ia menyembah Allah dan tidak berbuat syirik pada-Nya dengan sesuatu apa pun. Sedangkan hak hamba yang akan Allah tunaikan yaitu Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik kepada-Nya dengan sesuatu apa pun.” Mu’adz berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku boleh memberitahukan kabar gembira tersebut pada yang lain?” Beliau menjawab, “Jangan kabari mereka. Nanti malah mereka malas beramal.” (HR. al-Bukhari 5967, 6500, Muslim 30).

Tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.(QS. An Nisa[4]:48).

 

2.   Hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah ta’ala berfirman:

اَلنَّبِيُّ اَوْلٰى بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ اَنْفُسِهِمْ. 

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri“. (QS. Al-Ahzab[33]:6).

"Dari Anas, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ.

“Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman, menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka." (HR. al-Bukhari 16, Muslim 43).

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ.

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga menjadikan aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia.“ ( HR. al-Bukhari 15, Muslim 45, Ahmad 12814).

1.    Mengamalkan Konsekuensinya.

Adapun konsekuensinya yaitu:

تَصْدِيقُهُ فِيمَا أَخْبَرَ.

1)   Membenarkan apa yang beliau beritakan.

طَاعَتُهُ فِيمَا أَمَرَ.

2)   Mentaati apa yang beliau perintahkan.

اجْتِنَابُ مَا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ.

3)   Menjahui apa yang dicegah beliau dan dilarang.

وَأَنْ لاَ يُعْبَدَ اللهُ إِلاَّ بِمَا شَرَعَ.

4)   Dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang beliau syariatkan.

(Syarah Tsalatsatil Ushul, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, kitab Tauhid Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan).

3.   Hak orang tua.

Allah ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا.

“Dan hendaklah kamu beribadah hanya kepada Allah dan janganlah mempersekutukan dengan sesuatu apapun juga dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibu bapak,” (QS. An Nisaa’ [4]: 36)

أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ، قَالَ: الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ، قَالَ: ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ، قَالَ: ثُمَّ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ.

“Amalan apakah yang di cintai Allah?” Beliau bersabda: “Shalat pada waktunya” “Kemudian apa” “Berbakti kepada orang tua” “Kemudian apa” “Jihad di jalan Allah.” (HR. Ahmad 3998 Muslim 85).

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Lukman [31]:14).

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al Israa’ [17]: 23).

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan.” (QS. Al-Isra’ [17]:24).

Dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رَغِمَ اَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ اَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ اَنْفُ قِيْلَ : مَنْ يَارَسُوْلَ اللَّهِ، قَالَ : مَنْ اَدْرَكَ اَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِاَحَدُهُمَااَوْكِلَيْهِمَافَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ.

Celaka, celaka, Dia celaka, Lalu beliau ditanya orang, Siapakah yang celaka, ya Rasulullah? Jawab Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, Siapa yang mendapati kedua orang tuanya (dalam usia lanjut), atau salah satu dari keduanya, tetapi dia tidak memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Muslim 2551).

Hendaknya mendoakan orang karena Allah ta’ala mengajarkan demikian.

وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا.          

“Katakanlah, “Ya Tuhanku kasihanilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka mengasihi aku di waktu kecil.” (QS. Al-Israa’[17]:24).

Bentuk-bentuk kedurhakaan kepada orang tua di antaranya:

1) Wajah ceberut, manyun dan membelalakkan mata.

2) Berkata dan berbuat kasar, seperti:

Berani memukul orang tua, membentak atau ucapan, “Ah, hee, hus, bodoh, tuli, tua bangka, bengak, kolot, crewet, rewel, keras kepala, bahu tanah, buta, pikun atau menyebut anggota badan seperti: telinga, mata, mulut, hidung.

3) Membiarkan orang tua di dalam kekafiran atau kemusyrikan.

4) Tidak mentaatinya meskipun di dalam kebaikan.

5) Tidak menghiraukan orang tua yang berada dalam kesusuahan.

6) Mengusir orang tua.

7) Tidak mengakui orang tuannya.

8) Tidak mau mengunjungi orang tua dan kerabatnya.

9) Mementingkan istri dan anak-anaknya.

10)               Membebani orang tua dengan permintaan yang tidak di sanggupi.

 

4.   Hak anak.

Allah ta’ala berfirman:

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ . يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ,أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ.

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An-Nahl[16]:58-59).

       Dari ‘Uqbah bin ‘Amir dia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ، وَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ، وَكَسَاهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ، كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ.

“Barangsiapa memiliki tiga orang anak perempuan, lalu dia bersabar dalam menghadapinya serta memberikan pakaian kepadanya dari hasil usahanya, maka anak-anak itu akan menjadi dinding pemisah baginya dari siksa Neraka.” (HR. al-Bukhari dalam kitab al-Adaabul Mufrad 76, Tirmidzi 1916, Ahmad 8425 dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Ash-Shahihah 294, 1027).

Allah ta’ala berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا.

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mengerjakan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.“ (QS. Thaha [20]: 132)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Rulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ،

وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ.

“Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan shalat), dan pisahkanlah tempat tidur mereka (antara anak laki-laki dan anak perempuan). (HR. Abu Dawud 495, Ahmad 6756, dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Shahih wa dha’if Sunan Abu Dawud 495).

5.   Hak kerabat dan silaturrahmi.

Allah ta’ala berfirman:

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ.

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, dan juga kepada orang miskin.” (QS. Al-Isra’[17]:26).

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ

لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl [16]: 90).

Dari Anas bin Malik radiallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.

”Barangsiapa ingin dilapangkan baginya rezkinya dan dipanjangkan untuknya umurnya hendaknya ia melakukan silaturahim.” (HR. al-Bukhari 5986, Muslim 2557).

 

Bahaya memutus silaturrahmi.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ يَعْنِي قَاطِعَ رَحِمٍ.

“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan, yaitu memutuskan silaturahmi.” (HR. al-Bukhari 5984 Muslim 2556).

Demikianlah semoga bermanfaat.

Sragen 06-03-2026

Abu Ibrahim Junaedi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.

  BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.     س ١ - بِمَاذَا نَتَوَسَّلُ إِلَى اللَّهِ؟ Soal 1 : Dengan apa kita bertawassul...