Senin, 16 September 2024

HAK ALLAH TA’ALA ATAS PARA HAMBANYA. HUD 5


BAB 1.

HAK ALLAH TA’ALA ATAS PARA HAMBANYA.

SOAL 5.

TINGKATAN KETIGA, MEMAHAMI RUKUN IHSAN

 

س ٥  - مَا هُوَ الْإِحْسَانُ فِي الْعِبَادَةِ ؟

Soal 5: Apa yang dimaksud ihsan (berbuat baik) dalam ibadah ?

ج ٥ – الإِحْسَانُ هُوَ مُرَاقَبَةُ اللَّهِ تَعَالَى فِي الْعِبَادَة

Jawab: Berlaku ihsan dalam ibadah adalah selalu merasa diawasi oleh Allah tatkala melakukan ibadah.

قَالَ اللهُ تَعَالَى:

Allah ta’ala telah berfirman:

}الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ . وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ} سورة الشعراء : ۲۱۸-۲۱۹

“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk salat), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.” (QS. As-Syu’ara[26]:118-119).

وَقَالَ :

Rasulullallah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ) رواه مُسْلِمٌ.

“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatNya maka Dia melihat engkau.” (HR. Muslim 8).

 

-----000-----

 

Penjelasan:

1.   Menetapkan sifat melihat bagi Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman:

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ . وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ.

“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.” (QS. Asy-Syu’araa [26]: 217-219).

Melihatnya Allah berbeda dengan melihatnya seorang hamba, Allah maha melihat dengan penglihatan yang sempurna, tidak ada satu makhluk pun yang luput dari penglihatan Allah ta’ala.

Nama Allah Al-bashir disebutkan dalam Al-Quran sebanyak 42 kali.

Diantaranya Allah ta’ala berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. As-Syura[42]:11).

Al Bashir memiliki beberapa makna:

1)  Al Bashir: Allah memiliki penglihatan, dapat melihat segala sesuatu.

Allah melihat langkah semut hitam diatas batu hitam di gelapnya malam. Allah dapat melihat proses pencernaan makanan dalam organ tubuhnya, melihat aliran darah diurat nadinya, Allah melihat segala sesuatu apa yang di bawah tujuh lapis bumi apa yang ada di dalam bumi dan apa yang ada diatas langit.

2)  Al Bashirah: Allah melihat segala hal dengan sempurna.

Allah yang mencipta manusia mengetahui watak, keadaan dan segala perbuatan makhluknya.

Allah ta’ala berfirman:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ.

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS. As-Saffat [37] ayat 96).

وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ .

“Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hadid[57]: 4).

وَهُوَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ.

“Dan dia maha mengetahui apa yang ada di dalam dada.” (QS. Al-Hadid[57]: 6).

(Lihat pula Fiqhu Al-Asma Al-Husna, Syaikh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Badar).

3)  Kesempurnaan penglihatan Allah tanpa adanya cacat.

Hal ini tidak sebagaimana berhala-berhala dan apa yang disembah manusia, Allah ta’ala mengabarkan apa yang dikatakan Ibrahim kepada ayahnya, dimana berhala-berhala yang mereka sembah sangat lemah, tidak dapat melihat, sedangkan Allah ta’ala maha sempurna penglihatannya.

Allah ta’ala berfirman:

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا. 

“(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, "Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?” (QS. Maryam[19]:42).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَيْسَ بِأَعْوَرَ، أَلَا وَإِنَّ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى، كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِئَةٌ.

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak buta sebelah, dan ketahuilah sesungguhnya al-Masih Dajjal adalah picek mata sebelah kanannya. Mata-nya bagaikan anggur yang menonjol.” (HR. Bukhari 7407, Muslim 169).

2.   Keutamaan shalat berjama’ah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةُ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً.

“Shalat berjama’ah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian.” ( HR. Bukhari 645, Ahmad 5332, Baihaqi 4956).

3.   Ihsan dalam beribadah.

Adapun ihsan beribadah kepada kepada Allah ta’ala ada dua tingkatan:

1)  Musyahadah yaitu seakan-akan melihat Allah ta’ala.

Hamba akan beribadah dengan sungguh-sungguh apabila membayangkan dirinya sedang di hadapan Allah ta’ala.

2)  Muraqabah yaitu meyakini Allah melihat hambanya.

Baik dalam keadaan beribadah maupun dalam keadaan muamalah, seakan-akan Allah selalu mengawasi dirinya, orang seperti ini tentu akan takut untuk bermaksiat kepada Allah ta’ala.

Adapun tingkatan yang pertama lebih tinggi dari yang kedua. (Lihat di dalam Syarah Ushul tsalatsah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin).

4.   Ihsan kepada makhluknya.

Adapun ihsan kepada makhluk ada yang sifatnya wajib dan mustahab.

1)  Wajib, apabila sesuatu dilakukan tidak dengan baik menjadikan berdosa, maka hukumnya wajib.

Seperti berbakti kepada orang tua, Allah ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا.

“Dan sembahlahlah Allah dan janganlah kalian menyekutukan dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak.” (QS. An-Nisa[4]:36).

Demikian pula berbuat baik kepada anak istri, tetangga, seperti bekerja atau menjual jasa, apabila dilakukan dengan cara menipu sehingga orang lain dirugikan maka perbuatan seperti ini hukumnya haram, dan wajib berbuat baik dan melakukan sesuai dengan kesepakatan.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ.

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. An-Nahl [16]: 128).

“Diriwayatkan dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘Anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwasannya beliau bersabda:

إنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ.

“Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan berbuat baik dalam segala sesuatu, maka kalau kalian membunuh hendaklah kalian membunuh dengan cara yang baik, kalau kalian menyembelih hendaklah kalian menyembelih dengan cara yang baik. Dan hendaklah seorang diantara kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan binatang sembelihannya.” (HR Muslim 1955, Abu Dawud 2815, Tirmidzi 1409).

Demikian pula, gadai, jual beli hutang piutang, maka wajib dilakukan dengan sebaik-baiknya, tidak boleh menunda-nunda padahal dia mampu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻣَﻄْﻞُ ﺍﻟْﻐَﻨِﻰِّ ﻇُﻠْﻢٌ.

“Penundaan pelunasan hutang oleh orang yang mampu adalah sebuah kezaliman. (HR. Bukhari 2288, Muslim 1564).

Hendaknya bergaul dengan manusia sebagaimana dirinya suka dipergauli seperti itu.

فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ، وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ، فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ.

“Barangsiapa ingin dijauhkan dari neraka dan masuk ke dalam surga, hendaknya ketika ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah, dan hendaknya ia berperilaku kepada orang lain sebagaimana ia senang diperlakukan oleh orang lain.” (HR. Muslim 1844).

2)  Mustahab.

Adapun mustahab seperti seseorang membantu saudaranya tanpa diminta, jika dia tidak melakukan tidak mengapa, demikian pula memberi hadiah kepada orang-orang dekat dan lain-lain.

Dari sini Ihsan (berbuat baik) kepada makhluk bisa dengan harta, kedudukan, ilmu, dan tenaga.

a)  Berbuat baik dengan harta.

Ihsan dengan harta adalah dengan cara mengeluarkan zakat hartanya yang wajib terlebih dahulu, kemudian diiringi dengan sedekah.

Sedekah yang lebih utama adalah nafkah kepada istri, ibu, bapak, anak, saudara, keponakan, paman, bibi, dan kerabat lainnya.

Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دِينَارٌ أنْفَقْتَهُ في سَبيلِ اللهِ، وَدِينار أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أنْفَقْتَهُ عَلَى أهْلِكَ، أعْظَمُهَا أجْرًا

الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أهْلِكَ.

"Dinar yang engkau infakkan dijalan Allah, dinar yang engkau infakkan untuk membebaskan budak, dinar yang engkau sedekahkan untuk orang yang miskin dan dinar yang engkau infakkan untuk keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah yang engkau infakkan untuk keluargamu."(HR. Muslim 995).

Imam Nawawi berkata, “Nafkah kepada keluarga lebih utama dibandingkan sedekah sunnah.” (Syarah Muslim 7:82).

الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ، وَهِيَ عَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَانِ: صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ .

“Bersedekah kepada orang miskin adalah satu (pahala) sedekah, dan kepada kerabat ada dua (pahala), pahala sedekah dan silaturrahim.” (HR. Ahmad 844), Nasa’I 2582, Ibnu Majah dan Hakim, Shahihul Jami’ 3858)

Seorang suami akan berdosa bila tidak mau memberi nafkah kepada keluarganya.

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ.

“Cukuplah seseorang itu berdosa bila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Ahmad 6828, Abu Dawud 1692, dishahihkan Syaikh al-Albani, Shahihul Jami’ 4481).

b)  Ihsan dengan kedudukan atau jabatan.

Yaitu dengan mempermudah orang lain dalam urusan terkait pemerintah di mana seseorang menduduki posisinya tersebut.

Berlaku amanah dan adil, menghentikan kedzaliman orang yang dzalim dan membantu yang lemah, menjahui berbagai macam riswah (suap) karena riswah (suap) ini akan mendatangan laknat dari Allah dan rasul-Nya.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ.

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian lain di antara kamu dengan jalan yang batil.” (QS. Al-Baqarah[2]:188).

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu , ia berkata :

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ.

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaknat yang memberi suap dan yang menerima suap.”(HR Tirmidzi 1337, Ahmad 6532, Abu Dawud 3580, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ 5093).

Hendaknya menyadari bahwa jabatan adalah amanah dan tidak lama akan dilepaskan, tinggalah pertanggung jawaban.

c)   Ihsan dengan ilmu.

Yaitu memberi teladan kebaikan, mengajarkan kebaikan di manapun berada, baik di majelis taklim, saat bekerja sampai pun di warung kopi. Namun, harus dengan hikmah, tidak terus menerus diceramahi agar tidak bosan.

Hendaknya dalam menyampaikan ilmu dengan ikhlas, tidak mengharap-harapkan imbalan, tidak boleh memasang tarif, adapun jika ada orang yang peduli atas waktu, tenaga, dan perjalanannya hal itu tidak mengapa, asal bukan menjadi tujuan utamanya. sebagaimana yang dijelaskan para ulama.

d)  Ihsan dengan tenaga.

Yaitu dengan membantu orang lain, mendorong kendaraan, mengangkat barangnya, menunjukkan jalan bagi orang yang kebingungan.

(lihat pula di dalam Syarah Ushul tsalatsah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin).

5.   Allah tidak bisa dilihat di dunia ini.

Berbagai kejadian di masa lalu di mana Bani Isra’il ingin melihat Allah ta’ala namun mereka tidak mampu, begitu pula nabi Musa alaihi salam.

Allah ta’ala berfirman:

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ لَن نُّؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ

ثُمَّ بَعَثْنَاكُم مِّن بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.

“Dan (ingatlah) ketika kalian berkata, "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang," karena itu kalian disambar halilintar, sedangkan kalian menyaksikannya. Setelah itu Kami bangkitkan kalian sesudah kalian mati, supaya kalian bersyukur.” (QS. Al-Baqarah[2]:55).

 رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ.

"Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau." Tuhan berfirman, "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi melihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala), niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya menampakkan diri pada gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh, dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, "Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau, dan aku orang yangpertama-tama beriman." (QS. Al-A’raf[7]:143).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menegaskan bahwa manusia apapun tidak mungkin melihat Tuhannya di dunia. Beliau bersabda:

تَعَلَّمُوا أَنَّهُ لَنْ يَرَى أَحَدٌ مِنْكُمْ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى يَمُوتَ.

“Kalian mengetahui, bahwa seorangpun diantara kalian tidak akan bisa melihat Tuhannya sampai dia mati.” (HR. Muslim 169, Ahmad 23673, Tirmidzi 2235).

Kaum muslimin sepakat bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa melihat Allah dengan mata kepalanya sendiri, sebagaimana yang ditegaskan oleh Ad-Darimi dalam Ar-Rad Ala Al-Jahmiyah (hlm. 306), Syaikhul Islam dalam Majmu’ Fatawa (6/510), dan Ibn Abil Iz dalam Syarh Aqidah Thahwiyah (1/222).

Adapun ketika Nabi Muhammad Isra’ mi’raj apakah melihat Tuhannya atau tidak ada perbedaan ulama.

1)   Mayoritas Ahlu Sunnah mengatakan Rasulullah melihat.

Diantaranya pendapat Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

2)   Melihat dengan mata hati.

Ibnu Abbas berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَبَّهُ بِفُؤَادِهِ مَرَّتَيْنِ.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Tuhannya dengan hatinya dua kali.” (HR. Muslim 176, Baihaqi 926).

3)   Tidak melihat Allah ta’ala.

Ini merupakan berpendapat Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: مَنْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ أَعْظَمَ، وَلَكِنْ قَدْ رَأَى جِبْرِيلَ فِي صُورَتِهِ وَخَلْقُهُ سَادٌّ مَا بَيْنَ الأُفُقِ.

“Siapa yang meyakini bahwa Muhammad pernah melihat Tuhannya, berarti dia telah membuat kedustaan yang besar atas nama Allah.” (HR. Bukhari 3234, Muslim 177, Turmudzi 3068).

عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ؟ قَالَ: نُورٌ أَنَّى أَرَاهُ .

Abu Dzar, beliau pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah Nabi melihat Allah ketika isra mi’raj? Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Ada cahaya, bagaimana aku melihat-Nya.” (HR. Muslim 178, Turmudzi 3282, Ahmad 21392, Abu Dawud 476).

Sebagian tabi’in, mereka memilih tawakuf (berdiam), tidak membenarkan jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah, juga tidak membantah, diantaranya Sa’id bin Jubair seorang ulama tabi’in.

Adapun Ahlu Sunnah sepakat bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah nanti pada hari kiamat, hal ini disebutkan di dalam Al-Qur’an maupun hadits yang shahih.

Allah ta’ala berfirman:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ . إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ.

“Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat..” (QS. Al Qiyamah[75] : 22-23).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ.

“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan.”(HR. Bukhari 554, Muslim 633, Abu Dawud 4729).

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

-----000-----

Sragen 23-09-2024.

Junaedi Abdullah.




 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rabu, 11 September 2024

MEMAHAMI AL WALA’ WAL BARA’

MEMAHAMI AL WALA’ WAL BARA’

 


Al wala’ wal bara’ merupakan salah satu sendi yang penting di dalam ajaran islam, kosekwensi seseorang terhadap kalimat syahadat yang telah diucapkan dimana salah satu syarat dari kalimat la ila ha illallah, oleh karena itu memahami perkara ini termasuk perkara yang sangat penting di mana banyak diantara kita yang belum paham, oleh karena itu sedikit rincian al-wala’ dan al-bara’ di bawah ini semoga bermanfaat.

1.   Pengertian al-wala’ wal bara’

Al wala’ الْمُوَالاَةُ secara bahasa memiliki arti yaitu: pembela, penolong, pelindung, dekat, lawan dari al ‘adawah الْعَدَوَاةُ permusuhan.

Adapun secara istilah al-Wala’ dapat diartikan seorang hamba mengikuti terhadap apa yang dicintai dan diridhai Allah baik berupa perkataan, perbuatan, kepercayaan, dan orang yang melakukannya.

Al bara’ البراءَةٌ secara bahasa memiliki arti berlepas diri, tidak membenarkan, memusuhi, menjahui.

Adapun secara istilah seorang hamba mengikuti terhadap apa yang dibenci dan dimurkai Allah, baik berupa perkataan, perbuatan, kepercayaan dan orang yang melakukannya. (lihat pula, Prinsip dasar islam, ust. Yazid bin’Abdul Qadir Jawas).


2.   Wajib mencintai Allah dan  Rasul-Nya serta orang-orang beriman.

Orang yang beriman wajib mencintai Allah.

Allah ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ.

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al Baqarah [2]:165).

Mencintai Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ.

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga menjadikan aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia.“  (HR. Bukhari 15,  Muslim 44, Ahmad 12814).

Mencintai orang-orang yang beriman.

Allah ta’ala berfirman:

مُّحَمَّدُ رَّسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ.

“Muhammad adalah Rasul Allah. Dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, namun saling berkasih-sayang diantara sesama mereka.” (QS. Al-Fath[48]:29).

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.” (QS. At-Taubah[9]:71).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه.

“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” (HR. Bukhari 13, Muslim 45). 


3.   Membenci apa yang dibenci Allah dan Rasul-Nya.

Allah membenci kekafiran dan kemusryikan, Allah menyebut mereka adalah seburuk-buruk mahluk di sisi Allah.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah[98]:6).

أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ المُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ.

“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik.(QS. At-Taubah[9]:3).

Dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقَاتِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ اليَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ المُحْصَنَاتِ المُؤْمِنَاتِ الغَافِلاَتِ.

 “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan. Mereka (sahabat) berkata: “Wahai Rasulullah apakah tujuh perkara yang membinasakan itu?” Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan haq, memakan harta anak yatim, memakan riba’, lari dari medan perang (jihad), menuduh berzina wanita baik-baik lagi beriman serta tidak tahu menahu (dengan zina tersebut).” (HR. Bukhari 2766 Muslim 86).

 

4.   Tidak boleh mencintai orang yang dibenci Allah atau membenci orang yang dicintai Allah.

Tidak boleh menjadikan orang kafir pemimpin, teman, atau berloyal kepada mereka.

Allah ta’ala berfirman: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Maidah[5]:51).

Orang-orang munafiq mereka membenci orang-orang beriman apa yang dicintai oleh Allah, sehingga Allah murka kepadanya.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ . يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ .

“Di antara manusia ada yang mengatakan, "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian" padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah[2]8-9).

أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ:الْمُوَالاَةُ فِي اللهِ، وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ، وَالبُغْضُ فِي اللهِ.

“Ikatan iman yang paling kuat adalah loyalitas karena Allah dan permusuhan karena Allah, mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.” (HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir 11537,  Shahihu al-Jami’ 2539).

 

5.   Macam-macam al-wala’ dan al-bara’:

Al-wala’ dan al-bara’ ada beberapa macam bentuknya, diantaranya bisa berupa:

1)   Perkataan, seperti dzikir, membaca Al-Qur’an, dicintai Allah kita pun mencintai, sedangkan mencela memaki dan berkata kotor di benci Allah, maka kita pun wajib membencinya.

2)   Perbuatan, shalat, puasa, zakat menjalankan Sunnah-sunnah Rasulullah menjadikan Allah cinta maka kita pun mencintai, sedangkan tidak shalat, tidak puasa, berzina, meminum khamer, riba, berbuat bid’ah Allah membencinya kita juga wajib membencinya.

3)   Keyakinan, seperti iman, tauhid, dicintai Allah kita juga mencintai, sedangkan kufur, kesyirikan di benci Allah dan kita juga membencinya.

4)   Orangnya (pelakunya), Allah mencintai orang yang mentauhidkan diri-Nya, dan Allah membenci orang yang melakukan kemusyrikan.

 

6.   Manusia diperlakukan al-wala’ al-bara’ ada tiga macam.

1)   Orang yang berhak mendapatkan wala’ (loyalitas) secara mutlak.

 yaitu orang-orang mukmin yang beriman kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mereka melaksanakan kewajiban-kewajiban mereka dalam agama mereka dan meninggalkan larangan-larangan agama dengan ikhlas semata-mata karena Allah Azza wa Jalla.

2)   Orang yang berhak mendapatkan wala’ (loyal) di satu sisi dan berhak mendapatkan bara’ (tidak membenarkan) di sisi lain; yaitu seorang muslim yang melakukan maksiat, yang melalaikan sebagian kewajiban agamanya dan melakukan sebagian perbuatan yang diharamkan Allah namun tidak menyebabkan ia menjadi kufur dengan tingkat kufur besar. Begitu pula orang yang melakukan bid’ah yang tidak sampai pada tingkat kekufuran.

Dahulu ada pelaku dosa besar di jaman Rasulullah, ada sahabat yang melaknatnya, maka Rasulullah Shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَلْعَنُوهُ، فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ إِنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Janganlah kamu mengutuknya, sesungguhnya ia (masih tetap) mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari 6780).

3)   Orang yang berhak mendapatkan bara’ mutlak, yaitu orang musyrik dan kafir, baik dari Yahudi atau Nasrani maupun Majusi dan lainnya. Sedang jika seorang Muslim melakukan perbuatan yang menyebabkan menjadi kafir, maka ia dinyatakan murtad. Misalnya, berdo’a kepada selain Allah, tidak mengkafirkan orang-orang yang dikafirkan Allah dan rasul-Nya. (Nawaqidul islam, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab).

 

7.   Membedakan antara ibadah dengan muamalah.

Kalau dalam perkara muamalah kita diperintahkan agar berbuat baik kepada siapa saja, dan bukan hanya terbatas kepada orang-orang beriman saja, tetapi juga kepada orang kafir.

Kita tidak boleh berbuat dzalim kepada mereka.

Allah ta’ala berfirman:

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا.

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (QS. Al-Maidah [5]:32).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ.

“Sayangilah orang-orang yang ada di bumi, maka orang-orang yang ada di langit akan menyayangimu.” (HR. Tirmidzi 1924, Baihaqi 17905, Dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Ash Shahihah 925).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

 اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

“Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan iringilah sesuatu perbuatan dosa (kesalahan) dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik.” (HR. Tirmidzi 1987, Ahmad 21403  dihasankan syaikh al-Albani di dalam al-Misykah 5083).

Sebagaimana yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda:

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا.

“Siapa yang membunuh orang (kafir) yang terikat perjanjian, maka dia tidak akan mencium bau surga. Sesungguhnya bau surga didapatkan sejauh perjalanan empat puluh tahun.”(HR. Bukhari 3166, Abu Dawud). 

 

8.   Islam telah mengajarkan bagaimana kita harus bertoleransi.

Allah ta’ala berfirman:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ.

“Tidak ada paksaan dalam beragama, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah..” (QS Al-Baqarah[2]: 256).

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ.

"Bagiku agamaku dan bagimu agamamu.” (QS. Al-Kafirun [109]:6).

قُلْ أَتُحَاجُّونَنَا فِي اللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُون.

Katakanlah, "Apakah kalian memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kalian; bagi kami amalan kami, dan bagi kalian amalan kalian, dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati.” (QS. AL-Baqarah [2]:139).

 

9.   Islam agama yang diterima disisi Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ.

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 19).

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

“Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 85).

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اْلإِسْلاَمُ يَعْلُوْ وَلاَ يُعْلَى.

“Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggiannya.” (HR ad-Daraqudni 3620,  Di shahihkan syaikh al-Albani di dalam al-Irwa’ 1268).

10.                     Rusaknya pemahaman liberal.

Orang liberal menganggap semua agama itu baik, benar, dan akan masuk surga, orang-orang jelas-jelas melakukan sesaji kepada pohon, laut, gunung dianggap itu boleh dan merupakan budaya.

Menganggap jilbab adalah budaya arab tidak wajib, menjadikan islam sesuai dengan kemauan mereka seperti islam nusantara.

Pemahaman seperti ini adalah pemahaman rusak, dan mereka tak ubahnya seperti orang-orang munafik yang ingin merusak islam dari dalam, sehingga sangat bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah serta ijma’ kaum muslimin.

Orang-orang seperti mereka tidak akan mendapatkan manisnya iman.

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ، مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ ِللهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ.

“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu:

1)   Hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya.

2)   Apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allah.

3)   Dirinya tidak suka untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagai-mana ia tidak mau untuk dilemparkan ke dalam api.” (HR. Bukhari 16, 21, Ahmad 12002).

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

-----000-----

 

Sragen 12-09-2024

Junaedi Abdullah.

 

 


Selasa, 03 September 2024

TAWAKAL KEPADA ALLAH TA’ALA

 

TAWAKAL KEPADA ALLAH TA'ALA.

 

Tawakal merupakan kebutuhan seorang hamba kepada Rabbnya, dimana seseorang apabila telah bertawakal kepada Allah ta’ala akan menjadi tentramlah hatinya, namun perlu diketahui bagaimana tawakal yang benar itu, sedikit pembahasan ini semoga bermanfaat.

1.   Pengertian tawakal.

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, Hakikat tawakkal adalah benar-benar menyandarkan hati pada Allah untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya. baik dalam urusan dunia maupun akhirat, Menyerahkan semua urusan kepada-Nya, serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata. (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hadists ke 49).

2.   Tawakal yang benar.

Tawakal yang benar yaitu disertai dengan usaha.

Usaha sama sekali tidak bertentangan dengan tawakal, justru apa bila kita melihat syari’at ini kita akan dapatkan perintah usaha terlebih dahulu baru tawakal.

Sebagaimana firman Allah Ta'ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعً

Hai orang-orang yang beriman, ambillah sikap waspada.” (QS. An Nisa [4]: 71).

Usaha dengan anggota badan sebagai sarana dan sebab untuk mendapatkan kemaslahatan baik urusan dunia seperti datangnya rezki, maupun akhirat seperti istiqamah, merupakan ketaatan kepada Allah, sedangkan tawakal dengan hati merupakan keimanan kepada-Nya.

Allah ta’ala berfirman:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang.” (QS. Al Anfaal [8]: 60).

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah” (QS. Al Jumu’ah [62]: 10).

 

Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada Asyaj Abdul Qais, di mana beliau bersama-sama sahabatnya sampai kepada Nabi, Asyaj mengikat ontanya terlebih dahulu, merapikan bajunya melangkah dengan tenang menuju kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari sini Beliau bersabda:

إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ: الْحِلْمُ، وَالْأَنَاةُ.

“Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua perkara yang dicintai Allah, yaitu kesabaran dan tidak tergesa-gesa.” (HR. Muslim 17, Tirmidzi 2011, Abu Dawud 5225).

Demikian pula bagaimana mengatur strategi perang, Beliau tidak hanya serta merta maju begitu saja, tetapi Beliau menggunakan strategi yang sangat luar biasa.

Oleh karena itu, Sahl At Tusturi mengatakan, “Barang siapa mencela usaha (meninggalkan sebab) maka dia telah mencela sunnatullah . Barang siapa mencela tawakal maka dia telah meninggalkan keimanan. (Jami’ul Ulum wal Hikam hadits 49, Ibnu Rajab al-Hambali).

 

3.   Tawakal yang salah.

Banyak orang yang salah di dalam memahami tawakal, mereka bertawakal sementara mereka meninggalkan usaha.

Orang yang ingin istiqamah namun dirinya pasrah tidak mau belajar dan menempuh sebab-sebab istiqamah maka tawakal demikian adalah tawakal yang keliru begitu pula orang yang menghendaki harta namun tidak mau usaha tentu ini adalah tawakal yang keliru.

Orang yang keliru dalam tawakalnya seperti ini apa bila dikatakan “ janganlah makan, nanti kalau ALlah takdirkan kenyang tentu akan kenyang, atau tidak perlu tengak-tengok saat nyebrang jalan, kalau Allah takdirkan selamat tentu akan selamat tentu tidak bisa menerima.

Satu misal Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ .

“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya.” (QS. Al-Isra’[17]: 30).

Allah melapangkan dan menyempitkan rezki kepada siapa yang dikehendaki, namun Allah membuka sebab-sebab seseorang dilapangkan rezkinya.

Seperti:

1)   Mencari harta dengan cara yang benar dan halal.

2)   Bekerja sungguh-sungguh.

3)   Memantau keuangannya.

4)   Tidak berlaku boros.

5)   Banyak bersyukur.

6)   Banyak bersedekah.

7)   Menyambung silaturrahmi.

8)   Memperbanyak istigfar.

9)   Bertaqwa kepada Allah dan menjahui maksiat.

10)                     Berdoa agar diberi kecukupan.

Setelah itu baru seseorang bertawakal kepada Allah ta’ala.

4.   Allah akan mencukupi orang-orang yang bertawakal.

Allah ta’ala brfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan memberi baginya jalan keluar.   Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…”(QS.At Thalaq[65]:2-3).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ ، تَغدُوْ خِمَاصًا ، وتَرُوْحُ بِطَانًا .

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sungguh-sungguh tawakkal kepada-Nya, niscaya kalian akan diberikan rizki oleh Allah sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung. Pagi hari burung tersebut keluar dalam keadaan lapar dan di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR Tirmidzi 2344, Ibnu Majah 4164, lihat Silsilah Al Hadist As Sahihah 310).

Pernahkah kita dapatkan burung yang hanya berdiam diri di sarang, tentu tidak, mereka terbang dari ranting satu ke ranting berikutnya untuk mencari rezki ALlah ta’ala.

5.   Tawakal yang syirik.

Yaitu seseorang tidak mau bertawakal kepada Allah ta’ala, melainkan bertawakal kepada dukun, tempat yang dikeramatkan, atau melakukan ritual kesyirikan untuk membuka usahanya agar laris. Semua itu adalah kesyirikan yang harus di jahui.

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

-----000-----

 

Sragen 02-09-2024

Junaedi Abdullah.

 

 

 

 




BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.

  BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.     س ١ - بِمَاذَا نَتَوَسَّلُ إِلَى اللَّهِ؟ Soal 1 : Dengan apa kita bertawassul...